Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Yes Tinggal Sejarah: Tanggapan terhadap Review “Heaven & Earth”

August 24, 2014

Herwinto

Miris saya membaca review album baru Yes Heaven & Earth di progarchives, hanya mendapat 2 bintang, turun satu bintang

image

dibanding Fly From Here…punah sudah impian dan harapan saya akan mendengarkan album yang bagus dari band ini, memang saya belum mendengarkan sendiri lagu lagunya, namun membaca reviewnya saja saya sudah lemes dan gak punya semangat lagi untuk mencobanya…terus terang saya memang fans berat band ini, sulit bagi saya menerima kenyataan ini….maafkan saya Mr Howe…mungkin saya bukan fans yang loyal lagi…namun loyal dan kesetiaan saya harus saya berikan karena apa lagi? bukankah karena karya karya emas yang selama ini saya kagumi….kadang saya juga merenung apakah saya terlalu egois?? sehingga memaksa maksa Yes untuk berkarya seperti tahun tahun keemasannya..bukankah mereka bukan lagi anak anak muda tahun 70 an, bukankah mereka telah mencurahkan segenap kekuatan fisik dan fikiran mereka untuk mentorehkan maha karya yang akan dikenang sepanjang jaman? bukankah mereka telah mempersembahkan Close To The Edge dan Gates Of Delirium yang tak tertandingi lagi….yah…akhirnya saya hanya bisa menghibur diri saya sendiri….mereka lebih tahu apa yang bisa mereka lakukan…mereka telah berupaya..mereka telah berusaha….berusaha memberikan yang bisa mereka kerjakan….walhasil semua terserah kepada yang menilai….satu yang membanggakan adalah cover album mereka setidaknya memberi warna progresif yang tulen…Yes tinggal sejarah…..jadi tidak perlu kita paksa untuk berkarya sesuai keinginan kita,….toh live live mereka juga mengusung nomor nomor lama mereka….bagi saya musik mereka telah reinkarnasi ke grup grup baru semacam The Flower Kings, Spock’s Beard, Transatlantic dan seterusnya…merekalah penerus estafetnya!!!

Bagaimana Musik Bisa Menolong Saya?

August 22, 2014

Gatot Widayanto

Tiba-tiba saya ingat dengan tret selengekan yang pernah saya tulis bulan lalu namun tak saya posting di blog gemblung ini. Saya jadi merasa perlu reblog di sini karena kisah ini menggelikan namun pada saat bersamaan juga ada keterkaitan antara musik dengan kehidupan profesi. Kok ya pas sekali, hari Rabu lalu saya diundang oleh calon klien dimana saya memang sebelumnya saya sudah kenal. Satu namanya pak Yos yang dulu pernah bekerja sebagai konsultan dan bareng2 tinggal di Purwakarta selama sekitar dua bulan karena tugas sebagai konsultan. Saya dengan pak Yos sama2 penggemar prog dan saat di Purwakarta kami menikmati album TFK “Adam & Eve” bareng2 di Guest House klien kami (PT South Pacific Viscose). Satu lagi adalah Pak Nanang yang tak lain adalah kera ngalaM dan sahabatnya Noldy (gitaris prog nan top) dan juga Anung (temen saya dulu di Citibank). Pada saat kami berbicara mengenai potensi pekerjaan dimana saya bisa atau mungkin berkontribusi, tiba2 pak Nanang menyebut kalimat “…not just numbers”. Kontan saya sela: “Sudah denger belum lagu bertajuk Numbers dari album TFK?”. Kontan kami meledak tawa karena di tengah dunia profesi kok membahas musik prog —- huopo tumon? Ha ha ha ha ….

Selepas diskusi di pagi hari, saya ditraktir makan siang oleh pak Yos dan Pak Nanang makan Sate Senayan di Emporium Mall, Pluit. Makan siang itu pembicaraannya ya fokus pada musik saja. Termasuk pak Nanang ini membicarakan konser Indonesia Mahardhika di Grand Indonesia tgl 21 Agustus. sayang saya gak bisa hadir. Namun trus pak Nanang ini membahas tulisan saya bertajuk: “Bagaimana Saya Bisa Melupakan Tanggal 22 Juli?” yang menurut dia kocak pol dan sering dia bahas dengan teman2 komunitas ngalaM yang suka prog (mana ada anak Malang gak suka prog? Mas Kukuh kan bukan kera ngalaM, tapi kera nDhiwek ….ha ha ha ha …). Akhirnya kami bertiga nguwakak pol dengan tulisan yang saya buat tersebut. Bagaimanakah bunyi tulisan tersebut? Berikut ini saya COPAS aja ya tulisan yang aslinya saya tulis tanggal 14 Juli 2014 yang lalu. Ini dia:

Bagaimana Saya Bisa Melupakan Tanggal 22 Juli?

Marillion_heartoflothian

Mustahil saya bisa melupakan tanggal tersebut karena begitu pentingnya dalam perjalanan hidup saya secara pribadi. Semuanya diawali dengan kunjungan dua orang teman saya Djarot dan Heru yang sudi datang ke rumah ibu saya di Tebet. Sebenarnya dua nama yang saya sebut tersebut bukan saya kenal dengan baik sebelumnya . Namun atas kebaikan mereka berdua dan tentu ijin dari Allah Tabaroka Wa Ta’ala akhirnya mereka berdua mendatangi saya yang ketika itu tinggal bersama ibu di Tebet. Tujuannya satu: mengingatkan saya agar memenuhi panggilan wawancara dari PT McDermott Indonesia yang berkantor di Menteng, Jakarta ketika itu.Saat itu saya sebenarmya wegah (gak mau – red.) karena udah menikmati enam bulan jadi Salesman nya PT Metro Data Indonesia, ngejual Wang computer (sekarang brand ini udah qoit). Tapi akhirnya saya ikuti wawancara di Menteng tersebut dilanjut ke Pulau Batam.

Ya, ini adalah awal karir saya di PT McDermott Indonesia, Pulau Batam pada dua puluh sembilan tahun yang lalu, tepatnya pada tahun seribu sembilan ratus delapan puluh lima. Itulah kali pertama saya naik montor mabur (pesawat – red.) dan pertama kali saya ngomong boso Londo (bahasa Inggris – red.) dengan orang Londo beneran yaitu Chief Divisional Engineer yang bernama George Stapleton, orang Amerika.

Tentu saya senang sekali dapat tiket gratis naik montor mabur yang sampai lulus kuliah pun baru terbayang saja statusnya bagi saya. Alhamdulillah, pikir saya …kapan lagi iso numpak montor mabur. Wawancara nya dengan George ndak penting ….sing penting isok numpak montor mabur. Biyuh …saking ndesitnya saya saat pramugari mendemonstrasikan life vest under your seat, saya clingukan liat pelampung itu di bawah kursi saya dan hampir saja saya ambil. Jiyan …norak pol!!!!

Trus …saat wawancara dengan George, saya gak faham bahasa londo selain apal liriknya Marillion “Misplaced Childhood” yang saat itu saya gandrungi dan semua liriknya saya hafal luar kepala hampir semua lagu. Jadi, saya masuk ke ruangan George dengan semangat “I was born with the Heart of Lothian” artinya opo aku ora ngerti …sing penting maksudku saya mau bilang bahwa saya punya kepercayaan diri untuk bekerja. Soale aku iki wong Mediun, kidule Lothian kambek lore Mylo ..wakakakakak …. Wawancaranya menyeramkan karena sembilan puluh persen yang dikatakan George saya ndak mudeng blas. Ketika ditanya harapan gaji dari saya berapa (mungkin karena dia lihat saya udah pengalaman kerja meski 6 bulan ya), jawaban saya pun tegas:

“Just leave me alone with my thought ….”

Dia manggut2 kirain bahasa Inggris saya mantab kali. Padahal itu kan hanya liriknya Marillion aja … ha ha ha ha ha ….Untung gak saya tambahin ini:

“Oh …just run away …”(dhuk dhuk dhuk thak ,,,suara drums Ian Mosley)
“Oh …run away ….!!!!”

Kalau penggalan lirik ini saya nyanyikan juga pasti George makin bingung. Saya haqul yaqin dia gak tahu Marillion karena selera musik wong Amerika kuwi rak ndesit ..senengane muk Bruce Tin Tin wae …ora prog blasz ….wakakakakakakakak …(mugo2 koncoku sing londo Amerika ora moco iki …ben aku ora di unfriend..wakakakakak)

Singkat cerita, saya akhirnya diterima di PT McDermott Indonesia, Batam Island dan tanggal masuk kerja saya adalah: 22 Juli 1985.

Alhamdulillah ….

Yes Goes Pop

June 19, 2014

Hippienov

image

Tulisan ini merupakan usahaku menjawab “tantangan” sedulurku Pak Dokter Spesialis Paru van Suroboyo untuk mencoba membuat kompilasi lagu-lagu Yes yang tidak atau kurang nuansamatik. Namun akhirnya aku putuskan untuk menghindari menghujat Yes dengan tidak membuat kompilasi dengan tendensi seperti niat awalku kemudian menamai kompilasi ini “the bad of Yes”. Karena bisa jadi lagu-lagu Yes yang menurutku “jelek” bagi sebagian orang adalah favorite mereka. Takutnya ini bisa jadi pemicu ketegangan antar penggemar Yes nantinya. Lagipula se-kurang “prog” bagaimanapun karya Yes dan walaupun aku tidak menyukainya, aku akan selalu menaruh hormat dan simpati pada band yang pernah menjadi salah satu raksasa prog-rock era 70an ini. Rasanya aku tidak akan pernah mengenal musik “nirwana” prog-rock kalo gak ada kaset “tales from topographic oceans” (Yess Records) yang dipinjamkan teman kuliahku dulu (setelah Genesis “selling england by the pound”). Atas dasar alasan ini maka aku lebih nyaman untuk membuat kompilasi lagu-lagu Yes yang cenderung nge-pop dan menamai kompilasi ini “Yes Goes Pop”. Tidak ada salahnya sebuah band prog mencoba nge-pop apapun dasar alasannya, Genesis, E.L.P, P.F.M, Gentle Giant, Marillion pun melakukannya.

Lebih lanjut, untuk menghargai karya-karya klasik Yes mulai dari album Yes sampai Drama maka kompilasi ini hanya memuat lagu-lagu Yes dari era 80an (90125) dan selanjutnya. Namun tentu saja dikarenakan keterbatasan daya tampung blank cd yang hanya cukup 80 menit maka kompilasi ini hanya bisa memberikan sekelumit gambaran umum tentang karya-karya “pop” Yes. Sebanyak 16 lagu Yes tersaring masuk dalam kompilasi dengan total durasi sekitar 79 menit 43 detik. Sebenarnya durasi 16 lagu ini kalau dijumlahkan akan lebih dari 80 menit, dan karenanya 2 lagu terakhir terpaksa aku edit tanpa mengurangi esensi dan keindahan lagunya, “big generator” aku edit sedikit di bagian intro dan “dangerous” pada bagian intro serta outro. Kerennya seperti “radio edit” atau “single edit” tapi ini versi gemblungnya Hippienov, hahaha… Mengapa 2 lagu ini yang di-edit? Karena setelah aku screening keseluruhan 16 lagu, 2 lagu ini yang paling mungkin di-edit dan masih terdengar bagus meski sudah melalui editing, sedangkan lagu-lagu yang lain akan terkesan maksa jika di-edit.

Satu hal yang mengkhawatirkan adalah setelah cd ini selesai di-burn dan aku spin beberapa kali kok aku seperti “jatuh cinta” dengan lagu-lagu yang ada di dalamnya ya? Lah ini sangat membahayakan karena aku tidak mau nantinya dikelompokkan ke dalam fans Yes kategori “generator” (seperti istilah Koh Win), padahal selama ini aku dengan yakin menyebut diri Yes “trooper”. Berikut adalah songlist nya:

1. Rhythm of love, 2. The calling, 3. Lightning strikes, 4. Owner of a lonely heart, 5. Teakbois, 6. Almost like love, 7. It can happen, 8. To be alive (hep yadda), 9. Open your eyes, 10. State of play, 11. Hold on, 12. Love will find a way, 13. Love shine, 14. Holy lamb, 15. Big generator, 16. Dangerous.

Semoga saja lagu-lagu tersebut betul-betul bernuansa pop tapi kalau masih ada yang nyerempet-nyerempet nge-prog mohon dimaafkan, hehehe…

Demikian sharing ku tentang kompilasi Yes Goes Pop ini, semoga berkenan dan mohon dimaafkan atas kekurangan yang ada. As always, many great thanks to Mas G untuk waktu serta kesempatan yang diberikan and also untuk rekan-rekan gemblungers yang sudah sudi mampir membaca.

Progger goes pop… hippienov

Dahzyatnya The Flower Kings (8 of 15)

June 6, 2014

Herwinto

image

Sudah lama saya mendapat informasi bahwa Paradox Hotel adalah album TFK yang berat, sulit dicerna, karena itu saya sungguh mempersiapkan diri untuk mendengarkannya, konon album ini seperti Topographic nya Yes..berbeda dengan Banks Of Eden yang karena katanya bagus banget, sehingga saya sangat ‘pede’ untuk mendengar, namun justru gak nyambung, namun Paradox Hotel ini malah langsung nyambung mungkin karena faktor ketakutan itu, justru hati saya malah sangat siap…

Album ini adalah album konsep terdiri dari dua disk, terdiri dari dua cerita yakni Room 111 pada CD1 dan Room 222 pada CD 2, musiknya memang tidak dinamis layaknya album TFK yang lain, mungkin inilah faktor mereka yang menyukai musik rock yang dinamis menjadi kesulitan menerimanya karena musik di album ini cenderung merayap…agak mirip mirip Pink Floyd lama lah…mungkin istilah tepatnya begitu kuat unsur psikedelic nya. Bahkan bebunyian piano nya juga lumayan kental. Sangat tepat dan nikmat bila didengarkan di malam hari yang sunyi….mas Gatot bahkan baru bisa ‘kena’ setelah spin yang ke 11…he he he apalagi penyuka ”musik logam” gak sabar lah….

Dirilis tahun 2006, dengan drummer baru Marcus Liliequist, dengan track list Room 111 : Check in, Monsters and Men, Jealousy, Hit Me With A hit, Pioneers Of Aviation, Lucy Had A Dream, Bavarian Skies, Self Consuming Fire, Mommy Leave The Light On, End On A High Note. Room 222 : Minor Giant Steps, Touch My Heaven, The Unortodox Dancing Lesson, Man Of The World, Life Will Kill You, The Way The Waters Are Moving, What If God Alone, Paradox Hotel, Blue Planet.

Lagu yang sangat keren menurut saya adalah Monsters And Men 21.21, Self Consuming Fire 5.49 dan Blue Planet 9.42 saya sangat menyukai track ini…adem hati ini mendengarkannya, drum nya Marcus juga tob banget, bebunyian kibor nya juga indah sekali…mendengar album ini memang butuh ketenangan hati dan pikiran, seperti ketika mendengar Lamb Lies Down nya Genesis penuh lika liku warna warni, What If God Is Alone adalah nomor favorit sahabat saya di Aceh mas Khalil, semoga Beliau membaca tret ini dan berkenan mengomentari What If God Is Alone….kata beliau lagu ini membahas ketuhanan dengan sangat apik…membuat siapa saja yang mendengarnya pingin masuk surga….tuobz….singkat kata album ini seperti kata mas Gatot ”Great Music, Great Musicianship”..Salam!!!

Skid Row s/t

June 3, 2014

Andria Sonhedi

image

saya baca pertama grup Skid Row di majalah Hai di halaman Musik Hai. jaman dulu itu panduan beli kaset (wl tak 100% akurat). makanya saat ada yg jual di lapak Bringharjo saya coba beli. ternyata lagu2nya lebih keras dari Bon Jovi. saat itu lagu 18 and Life, Youth Gone Wild & I Remember You belum terkenal, baru mulai dikenal perlahan oleh publik. sampul album yg hitam putih dgn logo Skid Row warna merah agak beda dgn artwork album2 hair metal saat itu. Jon Bon Jovi adalah yang musisi yang membawa Skid Row ke gerbang kesusksesan walau dgn perjanjian pembagian royalty atas penjualan album2 Skid Row. sampai saat ini kabarnya perjanjian itu selalu disesali Dave Sabo sang sahabat Bon Jovi. sebenarnya musik Skid Row lebih asik lagi kl didengarkan sambil melihat live mereka (kl videoklipnya sih biasa). pembajak glodog kl tak salah pernah mengeluarkan 2 video bootleg Skid Row, atau resmi tapi tak berkualitas tinggi. kita bisa melihat Sebastian Bach (aslinya bernama Sebastian Bierk) sang vokalis krempeng nyanyi sambil berjalan kian kemari. personil Skid Row pada album ini adalah Dave Sabo : bass Rob Affuso: drum Rachel Bolan: gitar Scotti Hill: gitar Sebastian Bach: vokalis beberapa kali saya bawa kaset Skid Row ini nyetir jarak jauh dan semua lagu di album ini bagus semua (utk kuping saya) utk nemani perjalanan. durasi lagu2nya pendek tapi pas. 1. “Big Guns”3:36 2. “Sweet Little Sister” 3:10 3. “Can′t Stand the Heartache” 3:24 4. “Piece of Me” 2:48 5. “18 and Life” 3:50 6. “Rattlesnake Shake” 3:07 7. “Youth Gone Wild” 3:18 8. “Here I Am” 3:10 9. “Makin′ a Mess” 3:38 10. “I Remember You” 5:10 11. “Midnight / Tornado” 4:17

Sebastian Bach dipecat ditahun 1996, setelah itu Skid Row wl tak secara resmi bubar tapi tak ada kabar beritanya. barulah tahun 1999 Skid Row bangkit lagi namun tanpa Bach & Rob Afuso (drum). sampai saat ini tak ada pernyataan resmi Skid Row yang asli akan bereuni.

Yes “Malam Sunyi”

May 28, 2014

Herwinto

image

Jika mas Hippie telah membuat kompilasi Yes ” Ballad ” maka saya juga mempunyai kompilasi Yes yang saya beri judul ” Malam Sunyi “. Ini sebenarnya adalah kumpulan lagu lagu Yes yang ada di playlist saya yang sering saya putar di keheningan malam. Lagu lagunya adalah kesukaan saya yang asyik diputar di saat malam telah beranjak larut….ini adalah hasil penggalian semua lagu lagu Yes dari semua versi yang pernah ada.

01. Dear Father (early version 2)

02. Harold Land (Yes 1969, studio)

03. Survival (Yes 1969, studio)

04. Looking Around (Yes 1969, studio)

05. Everyday (single version)

06. Soon (single edit)

07. Vevey (Going For The One, bonus)

08. Turn Of The Century (rehearsal)

09. Abilene (Tormato, bonus)

10. You Can Be Saved (Tormato, bonus)

11. In To The Lens (single version)

12. Tempus Fugit (unissued)

13. Changes (90125, studio)

14. Love Will Find A Way (edited version)

15. Vultures In The City (ABWH, bonus)

16. Angkor Wat (Union, studio)

17. The Endless Dream (Talk, studio)

18. Time Is Time (Live From Tsongas)

19. Crockscrew (Live From Lyon)

20. Children Of Light (KTA 2, studio)

21. Sign Language (KTA 2, studio)

Lagu lagu tersebut saya pilih karena nuansa yang saya sukai, sebagai contoh Turn Of The Century, versi rehearsal nya bikin ngguweblak karena melodinya nunjek banget dan masih pakai gitar elektrik coba deh….kuereen….demikian juga Dear Father yang early version….wah nangis deh…..hammond nya bikin rindu dengan almarhum ayah….Crockscrew… hadeeeeh

kalau denger sekali kurang, pasti pingin nambah….Haroldland didengerin pas malam sangat sunyi uwediyaaaan indah sekali…….semoga rekan rekan mau mencoba….Salam!!

Mini Progring di Klaten

May 25, 2014

Andria Sonhedi

image

hari ini saya dikarunia Tuhan beberapa kebahagiaan. yang pertama adalah musibah kecelakaan 2 minggu lalu yg menimpa saya bisa dibereskan dengan damai (tanpa melibatkan “yang berwajib”). keluarga besar yang kena musibah (dan Alhamdulillah sdh berangsur sembuh) malah mengajak kami makan bareng trah mereka yg kebetulan hari ini berkumpul di klaten.

kebahagiaan kedua adalah bertemu kembali dengan pak Herwinto/Koh Win yang sampai 3 x gagal saya temui di kediaman beliau. kali ini saya bisa langsung bertemu beliau dikediamannya di kelurahan gayamprit, Klaten. walau cukup singkat karena saya & keluarga juga masih ada urusan ke Solo sorenya namun setidaknya peristiwa ini menghasilkan foto seperti yg saya pasang ini, 3 insan berbadan subur (termasuk anak saya). kami malah nggak sempat ngobrol ttg musik prog (yg bagi saya cuma sebagian dari musik kesukaan saya) tapi semoga lain waktu kami masih bisa bersua karena pak Herwin mengoleh-olehi saya 1 paket cd kopian IQ beserta beberapa cd grup lawas lainnya (termasuk Rick Wagiman) dgn harapan tentunya agar kita bisa membicarakannya di lain waktu.

–evil has no boundaries

Led Zeppelin “Stairway To Heaven”

May 23, 2014

Budi Putra

Pagi ini sambil sarapan bubur dan menonton Editor Media Indonesia di Metro tv yang liputan beritanya masih seputar korupsi, pilpres dan pernak-perniknya. Namun yang menarik di ujung tayangan diputar klip video “Stairway To Heaven” dari Led Zeppelin. Weih, spontan berkat klip tersebut saya jadi tergerak ingin mengulas sekilas tentang band legendaris ini.

Mengulas Led Zeppelin kenangan masa-lalu kembali menyeruak. Awal mula saya mengenal band ini berkat teman sekampung, Simon, namanya. Teman saya ini faseh sekali mengumandangkan lagu-lagu dari Led Zeppelin. Saya dan teman-teman lainnya seneng sekali bila Simon datang bawa gitar disaat kami sedang nongkrong bareng. Biasanya lagu pembuka yang menjadi langganan dimainkan ialah “Stairway To Heaven”. Intro petikan gitar yang magis serasa syahdu dimainkannya. Biasanya ketika intro terdengar kami semua terdiam menikmati keindahan nada tersebut. Memang ini lagu wajib bagi kami selain “Tangerine”, “Black Dog”…tapi teman saya Agus, lebih seneng dengan lagu “Since I’ve Been Loving You” yang ngeblues itu. Rupanya teman saya Simon bukan hanya faseh lagu-lagu Led Zeppelin tapi juga dia mengoleksi semua hal terkait band pelopor heavy metal ini: kaset, buku, kaos, kliping, dan segala pernak-pernik lainnya. Di kamarnya dipenuhi poster-poster, kliping majalah dan koran yang ia lekatkan di dinding kamarnya. Teman saya ini juga pandai bercerita tentang sejarah band dan kehidupan para personilnya. Dia pernah bilang bila Led Zeppelin memiliki kapal jet pribadi yang digunakannya untuk menjelajahi tempat-tempat konsernya. Katanya juga sewaktu konser uang hasil penjualan tiket hilang dicuri namun para personil Led Zeppelin tenang-tenang saja. Ada cerita lucu yang pernah diceritakan Simon terkait Jagger dan Keith selagi mabok di hotel tiba-tiba Keith bilang ke Jagger: “Aku dapet nada bagus nih…coba kau dengarkan”, ujar Keith sambil memetik gitar. “Keith, nada keren ini…besok kita rekam!”, ujar Jagger. Namun selang beberapa lama mereka berdua baru engeh (sadar) bila petikan gitar yang dimainkan Keith adalah intro “Stairway To Heaven”.

image

Salah satu alasan yang membuat saya suka dengan Led Zeppelin, selain musiknya tentu, juga persaudaraan yang kuat sesama personil. Mungkin kita tahu, setelah sang penabuh drum John Bonham ditemukan tewas akibat over dosis pada tahun 1980. Ketiga anggota band lain memutuskan untuk membubarkan Led Zeppelin. Walaupun ada sejumlah musisi (kabarnya Phil Collins) yang menawarkan diri untuk menggantikan posisi Bonham tapi anggota lainnya bergeming. Sepertinya mereka berikrar sehidup semati dalam band. Padahal saat itu Led Zeppelin tengah berada di puncak karir bermusik. Kisah itu terus saya perbincangkan sesama teman sekampung yang sama-sama suka dengan band ini. Menurut saya selain Led Zeppelin sepertinya setahu saya hanya The Beatles, The Doors (kabarnya Michael Bolton menawarkan diri menggantikan Jim Morrison) yang mengambil keputusan serupa. Tentu bukan sebuah keputusan yang sepele di tengah limpahan popularitas, harta dan wanita. Bila kita saksikan tampilan Led Zeppelin di konser-konser mereka memang sangat menarik sekali, bukan hanya atraksi gitar yang dimainkan Jimmy Page tapi gebukan drum Bonham sangat menonjol sekali setara dengan keseimbangan bass gitar yang dimainkan John Paul Jones. Sementara vokal tinggi Robert Plant menyeruak diantara nada nada yang dimainkan ketiga rekannya. Menurut saya musik dan kualitas personil sungguh perpaduan yang sempurna bagi sebuah grup band.

Bila kita simak hampir semua album yang ditelurkan Led Zeppelin masing-masing memiliki hits yang populer sepanjang masa. Setelah 25 tahun bubar, Led Zeppelin tetap disanjung penggemar musik berkat pencapaian artistik, kesuksesan komersial, dan pengaruhnya yang luas di kalangan musisi rock.

Shrapnell Years

May 13, 2014

Andria Sonhedi

shrapnell years

mengingat masa2 kejayaan toko kaset Kota Mas yogyakarta saya selalu ingat jajaran kaset2 impor seri gitaris yg ada di sisi kiri pintu masuk showroom kaset royalty. tiap datang ke toko tadi mula2 mula saya lihat deret kaset2 baru yang ada di sisi kanan baru setelah berkeliling (& nggak pernah beli selain yg obral) sebelum keluar saya selalu berhenti dan mengagumi kaset-kaset seri gitaris tadi. harganya hampir 2x lipat kaset royalty dari Indonesia, makanya tak pernah saya beli. pada awalnya tak ada yang menjual seken kaset2 tadi tapi lama-kelamaan ada juga yang mulai muncul di lapak pasar Bringharjo. Kita harus berterima kasih pada Mike Varney dgn Shrapnell Records yang mewadahi para calon gitaris kondang tadi untuk menunjukkan kebolehannya.
kaset seri gitaris yang pertama saya beli adalah Marty Friedman  – Dragon’s Kiss, walau rumah kasetnya agak pecah tapi yang penting punya :) ada juga yang saya dapatkan masih segelan yaitu Jason Becker & Electrifying Rock. sayangnya pitanya kok jelek, saya pernah menyaksikan kaset Marty Friedman – Scene milik temannya teman saya yg mendadak kusut saat disetel.
tak semua kaset2 seri ini full instrumental, contohnya Richi Kotzen – Fever Dream dengan Richie sebagai vokalis, Pat Travers, atau Howe II. Yang jelas tak semua gitaris tadi bisa meninggalkan jejak yang cukup lama di belantara gitaris dunia.
Hampir semua yang saya lihat di etalase toko Kota Mas sudah saya miliki walau butuh waktu lama ngumpulkannya. ada juga satu kaset David T Chastain yang saya belum pernah melihat sekennya dijual.
pak Cosmic masih juga belum muncul, padahal sdh dipancing

 

HR Giger Meninggal Dunia

May 13, 2014

Andria Sonhedi

elp brain

yang kenal dengan album Emerson, Lake & Palmer: Brain Salad Surgery (1973) pasti ingat cover album yang beda dengan artwork ELP lainnya. covernya bergambar surealis dengan dominasi warna abu-abu. pada tanggal 12 Mei kemarin sang desainer album tadi yaitu seniman Swiss H.R Giger meninggal. bahkan logo ELP yg seperti kunci itu desain Giger juga. sayangnya menurut Giger utk desian album itu dia tak dibayar ELP. Padahal Emerson sendiri cukup puas dgn desain tadi yang menurut dia”pushed album cover art to its extreme”
Giger juga dikenal sebagai desainer monster di film Alien. Micstand milik Jonathan Davis (Korn) yg aneh itu juga buatan Giger.

karya HR Giger lain yang dijadikan cover album antara lain:
Celtic Frost: To Mega Therion
Magma: Attahk
Emerson, Lake & Palmer: Brain Salad Surgery (1973)
Steve Stevens’ Atomic Playboys
Carcass: Heartwork
Danzig: Danzig III: How the Gods Kill
Dead Kennedys’ album Frankenchrist
Atrocity – Hallucinations
Triptykon:Eparistera Daimones & Melana Chasmata (proyek dari vokalis Celtic Frost)


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 144 other followers