Sejak membaca komentar mas Ekho Pratama tentang IQ terutama kesannya terhadap lagu Headlong dari album kedua The Wake, saya merasa tercerahkan dan sumringah karena gembira-ria mendapat teman baru satu aliran yang menyukai IQ utamanya lagu Headlong ini. Saya sangat setuju dengan pendapatnya terhadap segmen indah yg dimulai dengan lirik “From the moment ….“. Memang di segmen ini kita harus berhati -hati mendengarkan lagu ini karena kalau kita merasa sebagai makhluk manusia normal yang berarti memiliki nurani, justru dikhawatirkan kita bisa kejlungup nyosor lantai dengan lambe nyonyor dan hati hancur lebur berantakan seperti pecahan kaca mobil. Kenapa? Karena melodinya nunjek ulu ati tuwenan jek!
Sejak baca komentar mas Ekho itulah saya merasa ada pertemuan dua hati (biyuh kok dadi romantis to?! Ha ha ha …) ya karena satu lagu bertajuk Headlong yg benar-benar dahsyat itu. Sudah puluhab tahun saya suka lagu ini dan sudah puluhan teman sesama penggemar IQ telah berhasil saya kenali dan bina pertemanan dengan baik. Bahkan tahun lalu kami berkumpul beberapa kali menonton dvd konser IQ “Frequency” di Subtitles, Dharmawangsa Square. Senang sekali kita bersuka cita menonton dvd keren ini sambil mbengok-mbengok sak dobole menirukan permainan indah personil IQ. Namun …. tak satupun temen saya itu yg punya kesan KHUSUS terhadap Headlong. Mangkanya ….saya suweneng mas Ekho bisa berselera sama bahkan memiliki cita rasa sama terhadap lagu ini. Whooooooaaaa…….!! Suweneng tenan aku!
Bagi yg belum kenal IQ, musik Headlong tergolong sederhana alias tidak kompleks. Kekuatan lagu ini justru dalam hal penciptaan melodi yang jelas nunjek ulu ati sampe berdarah-darah dan juga harmoni dan instrumentalisasi aransemen musik yang begitu kreatif dan terasa penuh saling mengisi terutama dalam hal gitar dan kibor. Ini tentunya masih ditambah dengan vokalisasi yang terasa elegan meski terkesan melankolis bahkan gembeng. Kebayang gak sih? Makanya kalau gak kebayang buruan beli kasetnya atau paling sial CDnya. Muantabz tenan jek!
Lagu ini dibuka dengan kombinasi lengkingan vokal memelas gembeng ala Peter Nichols dengan lirik yang sungguh indah untuk dilantunkan sambil menikmati lagunya:
“I am here. The ragged burden come to nothing, comfort go….” wadouw ……baru intro aja udah mbrabak menikmati lekukan vokal dikombinasi suara kibor yang menambah marak suasana hati. Bohong kalau Anda kenal lagu ini gak spontan ikut nyanyi. Kecuali …bila Anda tak memiliki nurani.
Siksaan hati baru dimulai dan Anda harus menghadapi lagi segmen selanjutnya yg juga sangat indah:
“Hovering above me like a net, I’m terrified to look beyond the threat, I kill ambition while I can.”
Yungalah …..aduh biyuuuung ….Gusti Alloh nyuwun ngapunten …..! Ini lekukan melodi dan vokalisasi Nichols begitu merasuk hati hingga tembus ke sumsum tulang belakang. Uwediyaaan ….indaaaah bangettzz….
“Stumbling, we go blindly marching on, Bursting like a dream and now all gone, In time I know we’ll fly again. “
Setelah itu ada perpindahan nuansa yang terkesan horor namun hanya sejenak karena kembali ke melankolis saat liriknya ini:
“Frail as ever, still the most severe, Haven’t I surrendered everything now? Naked in my cruellest waking fear From the rages of the weightless sleep.”
Musik kemudian masuk indah disertai solo kibor oleh Martin Orford yang sederhana namun sungguh membuat ati ini klepek2 gak tahan …. Belum lagi sayatan gitar dahzyat dari Mike Holmes. Wis ….pokoke nggajak tuwenan….!
Kemudian musik ujug ujug mak gedandut berhenti disertai indahnya vokalisasi ini:
“Who will catch him falling?” called the wind
“I will claim him,” volunteered the grave
“Marry me forever,” cried the bride, Said the orphan, “Who’ll remember me? Anyone at all? Are you coming back?”
Terus nyambung raungan gitar ala Mike Holmes yang sungguh ngeprog pitung-puluhan banget! Merindhink dah kalau mendengarkan segmen ini.
Almaaaaak ……!!! Lagu kok begitu indah ya? Ini mereka berlima saat membuat lagu ini lagi mabuk apa ya? Kok indaaàaaah banget mengalunnya.
Akhirnya sampailah pada the final musical orgasm yang siapapun mendengarnya pasti bakal speechless alias ndlongop atau melongo terheran-heran kok ada musik seindah ini gitu lho ….!!!
“From the moment we were torn, Thrown into the tunnel, we withdrew, Whiter colours then untied, Don’t desert me now I’m coming through ….”
(Pas Nichols mengucapkan “through” …bunyinya huwenaaaak tuwenaaan!)
“I fought the memory of beautiful things, Imaginings, The only strength I got from wanting you
All the love I’ve been needing, The hunger is feeding on me, Spirit, bear me away to the place of birth (Madiun tentunya!)”
WHOOOOOOAAAA…… nggulung koming ping kopang kaping tenaaaan …..!!!
Sik yo …..aku tak semaput disik yo ……














