Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Grass Rock: “Yes Asal Surabaya”

April 20, 2014

Budi Putra

image

Pada tahun 80-an setidaknya menjadi tonggak sejarah kebangkitan musik rock tanah air. Hal ini tidak lepas dari peran Log Zhelebour, promotor musik asal Surabaya yang menggelar pentas Djarum Super Rock Festival. Dari pentas ini sejumlah grup band bermunculan. Sebut saja Elpamas, Rudal, Power Metal, Roxx, Kaisar, Boomerang, dll. Di antara band yang muncul dari ajang ini, Grass Rock, merupakan band yang cukup menarik perhatian penggemar musik rock di tanah air.

Grass Rock dibentuk di Surabaya pada tahun 1984. Band ini diperkuat oleh Hari (vokal), Mando (kibor), Harto (gitar), Yudhie (bas), dan Rere (drum). Awalnya, band ini bila manggung kerap mengusung lagu-lagu milik Yes, sehingga sering dijuluki sebagai Yes-nya Indonesia. Di tahun yang sama terbentuknya band mereka kemudian mengikuti festival rock tapi gagal menjadi juara. Lantas, pada 1985 Grass Rock kembali mengikuti Djarum Super Rock Festival, kali ini mereka beruntung memperoleh juara ketiga dan Rere memperoleh gelar The Best Drumer. Pada tahun 1986 Grass Rock kembali mengikuti Djarum Super Rock Festival, dengan Zulkarnaen sebagai vokalis, dan kali ini mereka berhasil menyabet Juara pertama. Sedangkan Rere kembali memperoleh gelar The Best Drumer. Tak hanya sampai disitu pada 1987 mereka ikut festival lagi dan kembali memperoleh Juara pertama dan The Best Drumer, ditambah Mando memperoleh gelar The Best Keyboard. Buah dari perhelatan itu Grass Rock memperoleh kesempatan dari Log Zhelebour untuk mengikuti tur 10 kota menjadi band pembuka God Bless.

Berangkat dari kesuksesan itu Grass Rock semakin dikenal publik musik rock tanah air, dan tawaran show pun makin berdatangan sehingga mereka tidak lagi mengikuti festival-festival. Kerjasama dengan Log Zhelebour pun berakhir pada tahun 1988. Karena merasa jam terbang sudah banyak mereka pun terpikir untuk membuat album. Lalu mulailah mereka membuat komposisi lagu-lagu sendiri.

Berdasarkan catatan karir bermusik yang telah mereka jalani Grass Rock sudah merilis empat album yakni Anak Rembulan (1990), Bulan Sabit (1992), Grass Rock (1994), Menembus Zaman (1999), dan satu single Rock Kemanusiaan “Prasangka”. Setelah ditinggal Dayan yang meninggal pada 1999, Grass Rock tinggal Mando (kibor), Edi Kemput (gitar), Yudi (bas), dan Rere (drum). Pada 90-an lagu yang populer dari Grass Rock adalah “Peterson” (Anak Rembulan), “Bersamamu”, dan “Gadis Tersesat”.

Grass Rock pada awal 2009 bergerak kembali. Dua personel muda mereka gandeng, Hans Sinjal dan Ersta Strya Nugraha. Hans menggantikan Dayan, sedangkan Ersta menjadi pemain bas karena Yudhi dalam kondisi kesehatan yang tidak memungkinkannya untuk bermain musik. Namun kemunculan Grass Rock memang tidaklah mudah karena saat itu nama mereka juga mulai redup. Di samping itu perkembangan industri musik tanah air semakin pesat dengan banyak bermunculan artis/band baru yang lebih menjanjikan dan layak jual.

Kini, setelah ditinggalkan Yudhi yang meninggal karena sakit yang dideritanya, Grass Rock masih digawangi oleh Hans Sinjal (vokal), Edi Kemput (gitar), Rere Reza (drum), Mando (keyboard) dan Ersta Satrya Nugraha (bas). Untuk saat ini tak terdengar lagi kiprah mereka dipentas musik rock tanah air baik dalam pentas panggung rock maupun album rekaman.

Demikian tulisan ringkas ini semoga bisa menghibur rekan-rekan blog gemblung semua, dan untuk mas Gatot terimakasih sudah mempostingnya.

Scale The Summit “The Migration”

April 3, 2014

Andria Sonhedi

image

sore ini habis bubaran kantor saya melanjutkan BdK (Bekerja di Kantor). maklum utk kota Blora yang ada di tengah hutan tak ada tempat utk dolan sebaik kantor saya sendiri, terutama ruangan saya :D seperti biasa saya membuka internet sambil bekerja yg kebetulan butuh internet juga utk menyampaikan laporan online. tak lupa saya nyetel mp3 dgn playlist asal2an ambil 1 folder multi album dari beberapa genre yg pernah saya donlot. kadang2 saya tinggal ke luar ruangan utk ngobrol sejenak dgn teman yg kebetulan blm balik kos juga, makanya playlist tak pernah saya buat serius. pas baru balik sesaat saya melirik tulisan di winamp Rainbow live ini Rockpalast, lalu saya bekerja lagi, lagu tak terasa ganti Satyricon. eh kok pas baru mulai ngetik ada musik instrument yang panjang banget & mirip Dream Theater. setelah saya lihat playlist ternyata grup Scale the Summit. Terus terang saya termasuk tak terlalu memberi perhatian kepada musisi rock/metal Amerika yang baru terutama. bagi saya musik2 metal Eropa lebih menyenangkan & variatif. Saya ingat kl saya donlot Scale the Summit terutama karena melihat covernya yg unik, gambar pohon yg menyerupai dinosaurus yg berjalan. cocok dgn judul albumnya: the Migration. grup prog metal dari Texas ini sdh ada sejak 2004, album awal di 2007 & sampai sekarang sdh punya 4 album. the Migration adalah album di tahun 2013. ada yg menggolongkan musik mereka begenre Djent. saya menyadari kl gitarannya mirip dengan bunyi di album2 solo para gitaris era Joe Satriani, Chris Poland dan sebangsanya namun tetap saja saya anggap menghibur. apalagi bassnya pun terdengar sama variatifnya & tetap kedengaran, harmonis mengiring gitarnya. rasanya perlu saat yang tepat utk mendengarkan musik2 yg dimainkan Scale the Summit, maklum ini total instrumental dan jelas lumayan keras. kali ini saya memberi pengecualian utk musisi Amerika baru :)

track listnya adalah sebagai berikut:
1. Odyssey 5:13
2. Atlas Novus 5:07
3. the Olive Tree 5:08
4. Narrow Salient 3:35
5. Oracle 5:31
6. Evergreen 1:41
7. The Dark Horse 4:12
8. Willow 5:07
9. Sabrosa 0:32
10.The Traveler 6:05

–evil has no boundaries

Queensryche “Operation: Mindcrime”

March 31, 2014

Budi Putra

image

Brainwashed Ala Queensrÿche

Berhubung ada pesan dari suhu blog gemblung, mas Gatot, agar saya mereview kaset-kaset yang saya beli pada progring kemarin. Maka, sebagai awalan saya coba untuk mereview album “Operation: Mindcrime” dari band bergenre progheavymetal era 80-an, Queensrÿche. Sebelumnya album ini pernah direview oleh mas Hippie dengan apik. Jadi saat ini saya tinggal melengkapinya saja.

Queensrÿche, nama yang agak ribet diucap berdiri di Bellevue, Washington, Amerika pada tahun 1981. Secara karir bermusik band ini telah merilis sebelas album studio dan beberapa EP, DVD dan terus tur dan rekaman. Dari sejumlah album yang sudah ditelurkan “Operation: Mindcrime”, menuai sukses baik dari segi kritik dan juga komersil. Album konsep ini kerap disandingkan bersama album berkonsep lainnya seperti masterpiece “The Wall” Pink Floyd, “Scenes From a Memory” Dream Theater, dan “Tommy’s The Who.

Awal melihat cover album ini saya menduga ini cerita tentang era perang dingin dimana tahanan yang di cuci otaknya (brainwashed) untuk kepentingan persenjataan. Tapi secara singkat narasi dalam album ini bercerita tentang seorang pecandu (Nikki) yang dicuci otaknya untuk melakukan pembunuhan bagi kepentingan gerakan bawah tanah. Namun Nikki ternyata membelot dari misi awalnya, sebab mencintai seorang pelacur (Mary) yang berpaling menjadi biarawati, bertemu dengannya pada saat dia menjadi seorang pembunuh bayaran.

Side one:

I Remember Now” (1:17) Track pembuka mengantarkan kita pada alur cerita pada album ini

Anarchy-X (1:27) Melanjut track sebelumnya intrumen dengan raungan gitar dan drum yg padu samar-samar terdengar pidato agitatif menyemangati kumpulan massa

Revolution Calling (4:39) Di buka dengan nada lambat kemudian sedang namun ditingkahi vokal Geoff yang powerfull seperti menyemangati panggilan revolusi…:”revolution calling!, revolution calling”!

Operation:Mindcrime (4:40) Intro gitar ditempel dentuman bas membuka track ini. Terdengar vocal Geoff Tate yang melengking dan berpower ini menyela permainan gitar dan bass yang saling menyambut sehingga menghasilkan sound ala heavy metal band yang terdengar garang namun begitu padu

Speak (3:47) Ada aroma kental ala Judas Priest di track ini dengan kecepatan ritem gitar Wilton untuk mengimbangi lengkingan vocal Geoff

Spreading the Disease (4:07) Gebukan drum ala “Among The Living” (Anthrax) dengan kecepatan powerfull seolah menambahi semangat track sebelumnya

The Mission (5:47) Intro ala film thriller disusul vokal lembut Geoff diiringi akustik gitar dan…blam! bas berdentum bersamaan dengan ritem gitar yang patah-patah

Side Two:

Suite Sister Mary (10:41) Di buka dengan prolog singkat dan diringi petikan gitar berlatar koor vokal. Nada sedang vokal Geoff meninggi kemudian. Pada track ini kentara nuansa progmet didalamnya, selain durasi yang lumayan panjang tentunya

The Needle Lies (3:08) Lagi nomor cepat dengan model akurasi ritem dan melodi bergaya heavy metal namun menjadi asik didengarkan, tentu sambil berheadbanger ria

Electric Requem (1:32) “Don’t leave me, don’t leave me!…sebuah track penegas tokoh “Nikki” terhadap “Mary”

Breaking the Silence (4:34) Nada memecah kesunyian seperti dengerin singel-singel ala White Snake

I Don’t Believe in Love (4:23) Nampaknya yang ini melengkapi track sebelumnya dengan petikan melodi gitar yang klop dengan judul tracknya

Waiting For 22 (1:05) Petikan gitar dan sisipan melodi yang meninggi seperti curahan hati sang tokoh di album ini

My Empty Room (1:29) “Empty room today…lazimnya sosok yang sedang galau tepat sekali dilantunkan Geoff

Eyes of a Stranger (6:39) Loh kok ada melodi mirip “Somewhere in Time” Iron Maiden? Tapi menjadi berwarna karena ada nada sedang dan kencang di track ini khas Queensrÿche…coba dengerin aja sendiri.

Musician:

Geoff Tate – Vokal, keyboard, Saksofon (1981-sekarang)
Michael Wilton – Lead, ritem gitar akustik &, backing vocals (1981-sekarang)
Eddie Jackson – Bass, backing vocals (1981-sekarang)
Scott Rockenfield – Drum, perkusi, keyboard (1981-sekarang)

The Amazing Debut Album #3: Cream “Fresh Cream”

February 28, 2014

By: cosmic_eargasm

Pada era 60an dunia industri musik mulai berkembang pesat dari berbagai genre mulai pop, rock, blues sampai progressive. Dan pasti semua sudah pada paham kalau hal tersebut dimulai oleh Elvis Presley sebagai soloist dan The Beatles mewakili format band. Dalam dunia rock bisa disebut Cream sebagai salah satu pelopornya. Dengan merilis “Fresh Cream” sebagai debut albumnya mereka banyak disebut sebagai inspirator untuk format ‘Super Group’ dalam dunia rock yang kelak banyak bermunculan super grup-super grup lain yang dahsyat dan populer pada dekade 70an. Selain itu Cream juga terkenal menginspirasi untuk sebuah band berformat Power-Trio yang memaksimalkan kemampuan bermain musik pada setiap individunya. Seperti yang kita tahu, Cream digawangi oleh: *Eric Clapton: guitar, vocals *Jack Bruce: lead vocal, bass, piano *Ginger Baker: drums, vocals

image

-

image

11 nomor yang berada di album yang dirilis pada tahun 1966 ini memang terasa fresh dengan menawarkan konsep musik yang lain dari kebanyakan band pada era tersebut. Mereka memainkan Blues-Rock yang digabungkan dengan musik Rock yang lebih agresif yang kelak dikenal dengan sebutan Hard Rock. Ditambah balutan Psychedelic Pop pada aransemennya dan jarang sekali dimainkan oleh band-band pada masa itu. Permainan ke 3 punggawa Cream begitu istimewa dengan skill mereka yang di atas rata-rata dengan permainan dahsyat dari gitar Eric Clapton yang blues-oriented, Jack Bruce dengan basic be-bop & blues serta Ginger Baker yang mempunyai akar Jazz yang dituangkan di:

1. I Feel Free(2:51) merupakan single hits yang asyik dengan style a capella pada intronya. Selanjutnya feel rock pun mengalir dengan vokal yang terasa melodik dan harmonis.

2. N.S.U.(2:43) menarik dengan perpaduan antara gitar dan drums yang terasa up to date ditambah vokal yang impresif.

3. Sleepy Time Time(5:20) sangat istimewa dengan sentuhan blues tradisional.

4. Dreaming(1:58) nomor ballad yang nostalgik dengan selimut psychedelic pop yang asyik dengan duet vokal Bruce & Clapton dan merupakan nomor favorit saya hingga kini.

5. Sweet Wine(3:17) nomor catchy dengan aransemen pop rock yang berakar pada bubblegum-pop yang memang cukup ngetrend pada era 60an. Asyik dengan melodi gitar Clapton yang bluesy.

6. Spoonful(6:30) adalah karya dari Willie Dixon yang sangat dahsyat diaransemen ulang ala blues-jamming oleh Cream.

7. Cat’s Squirrel(3:04) merupakan lagu instrumental tradisional yang dimainkan dengan apik oleh Power Trio ini. Makin menarik dengan permainan harmonika dipadu dengan gitar yang beratmosfer bluesy.

8. Four Until Late(2:07) adalah karya Robert Johnson dengan aransemen yang lebih ringan. Kali ini Clapton bertindak sebagai penyanyi utamanya.

9. Rollin’ and Tumblin’(4:42) nomor dari Muddy Waters ini kelak juga banyak dibawakan oleh band/musisi pada era selanjutnya dan masih tetap populer hingga kini.

10. I’m so Glad(3:58) nomor lawas karya Skip James ini sangat terasa istimewa dibawakan oleh Cream dengan kombinasi permainan rhytm gitar dengan riff-riff yang cukup kompleks, bas yang funky, drums yang jazzy masih dihiasi oleh melodi gitar yang beraroma blues-rock dan harmoni vokal yang cukup melodik.

11. Toad(5:09) nomor instrumental yang cocok sekali sebagai penutup dengan permainan solo drums yang dahsyat dan istimewa sekali oleh Baker dan kelak diikuti oleh John Bonham dan banyak drummer-drummer lain pada era 70an yang terinspirasi oleh permainan Baker.

Penikmat dan penggemar musik Rock jangan pernah sekali-kali melewatkan debut album dahsyat yang paling bersejarah dalam perkembangan musik Rock ini. Karena musik Rock tidak bisa seperti sekarang kalau tidak ada album yang dirilis pada tahun 1966 ini sebagai pre-cursornya.

Thanks mas GW yang pastinya juga menyimpan album legendaris ini :-)

::: Vive Le Rock! :::

Motley Crue s/t 1994

February 24, 2014

Andria Sonhedi

image

sehabis membaca kiriman mas Khalil yg kegirangan dapat solo album Vince Neil saya lalu ingin melanjutkan cerita Motley Crue pasca Vince

setelah melewati sukses puncak melalui album Dr. Feelgood tensi perseteruan di dalam grup Motley Crue memuncak dengan hengkangnya (atau dipecatnya) Vince Neil sebagai vokalis. para bad boys dari LA ini segera mencari pengganti utk tetap menjalankan mesin glam metal mereka tanpa kehadiran Vince Neil. akhirnya terpilih John Corabi (vokalis the Scream) utk membuat album baru yang akhirnya diberi judul yg sama dengan nama Motley Crue. tahun1994 merupakan tahun berat utk hair metal, wabah grunge yang membuat seolah orang tak perlu berdandan & berambut gondrong utk bisa membentuk grup band. bahkan nyanyi fals pun diperbolehkan sekalian tak perlu lagi bersolo gitar secepat kereta peluru Jepang. Motley Crue pun akhirnya menyesuaikan diri, lagu-lagu di album ini benar-benar lain dari album2 sebelumnya yang menampilkan citra Crue sebagai brandalan. sebegitu berubahnya sampai-sampai logo MC juga cuma pakai fonts biasa aja, sangat berbeda dgn logo di album Dr.Feelgood. John Corabi jelas lebih piawai nyanyinya dibanding Vince & bisa nggitar pula (saya pernah lihat iklan di GuitarWorld dia dan Mick Mars mengiklankan sebuah produk alat musik). lagu Power of the Music sebagai nomor pembuka memberi petunjuk begitulah nanti musik2 yg akan Anda nikmati. tak ada lagi suara cempreng Vince digantikan vokal John yg maaf saja lebih hard rock dibanding Vince. lagu-lagunya cukup bervariasi dengan sound gitar yg lebih modern, bahkan bisa jadi Tommy Lee (drummer) bisa melebarkan wawasannya membentuk Method of Mayhem dimulai dari sini. di lagu Misunderstood bahkan Glen Hughes jadi backing vokal. sayangnya ketidaksempurnaan malah sering jadi pilihan para fans, album ini cuma sukses sesaat lalu mulai menurun popularitasnya krn para fans ingin Motley Crue kembali bersama Vince Neil. John Corabi cuma bisa pasrah krn manajemen MC lebih memilih meminta Vice kembali. menurut wawancara dgn John sebenarnya sisa anggota MC lebih memilih dia. saya paling suka dgn lagu slow Driftaway yg ada diakhir album, alunan gitar solonya sangat enak didengar. “I closed my eyes and slowly driftaway”

–evil has no boundaries

Suffocation “Effigy of the Forgotten”

February 21, 2014

Andria Sonhedi

image

-

image

ini album yg pernah disebut-sebut pak cosmic kemarin, saya bawa juga nyetir mobil magetan-blora. sebelum mendengarkan saya sempat geli melihat foto personilnya seperti kl orang foto bersama mempelai di pernikahan. kl tidak melihat kaosnya tentu tak ada yg menganggap ini adalah grup brutal death metal.

sayangnya saya mmg tak bisa menangkap geraman sang vokalis atau mendapatkan riff yg melodik di album ini. malah sepertinya yg bisa dinikmati adalah gebukan drumnya.

tapi kali ini mungkin pak cosmic malah bisa menjelentrehkan lebih lanjut :)

teman saya bilang kl Suffocation pernah mampir ke Indonesia di tahun 2005-an atau setelah itu. –evil has no boundaries

Dokken “One Live Night”

February 21, 2014

Andria Sonhedi

image

sambil nunggu teman saya hardi.dokken menuliskan memori nuansamatiknya ttg Dokken mungkin saya perlu memancing kenangan tentang Dokken

anggota asli Dokken adalah Don Dokken (vokal), Mick Brown (drum), Jeff Pilson (Bass) dan George Lynch(gitar). konser unplugged ini adalah reuni Dokken setelah berselisih di akhir era 80. Dokken bersolo karir dgn memakai namanya sendiri, Jeff Pilson membuat grup War & Peace sedang George Lynch membentuk Lynch’ Mob. tahun 1995 Dokken bergabung kembali dengan album Dysfunctional. 2 lagu dari album ini ikut ditampilkan di sini: the Maze & Nothing Left to Say. di album ini kecuali Lynch, semua ikut menyanyi. ke-4 musisi ini mungkin sedang dalam kondisi gembira krn reuni ini shg terasa suasana keakraban di antara mereka. Sepertinya dulu sumber keretakan Dokken adalah ketidakakuran antara Don dgn George

tak semua lagu hits dibawakan namun untung pilihan lagu-lagu lama Dokken cukup mewakili diantaranya adalah Alone Again, It’s Not Love, Tooth and Nail dan in My Dreams. ada juga lagu dari the Beatles: Nowhereman dan dari ELP: From the Beginning. lagu solo instrumental I Will Remember dari George Lynch turut disertakan.

saya terkesan dgn cara George Lynch menerima pilihan pekerjaan anak laki2nya yg menjadi manager toko es krim (yg saya baca dari majalah lama Metal Edge). Padahal katanya anaknya jago main gitar mirip dia. “seandainya saya mengikuti saran ayah saya sekarang ini saya jadi tukang mereparasi AC” kata George mengomentari pilihan anaknya. –evil has no boundaries

The Best of Rainbow – Aquarius

February 18, 2014

Andria Sonhedi

image

saya pernah lihat kaset ini kok ada yg versi C-90, mungkin saya salah lihat atau ada penerbit lain yg pakai gambar yg sama.

saya dapat kaset ini di lapak alm. pak Budi yg legendaris di sebelah barat pasar bringharjo Yogya. pak Budi dgn bangganya bahwa ini koleksi pribadi shg dijamin tak ada yg rusak pitanya. untungnya benar wl bukan berarti itu punya pak Budi beneran :)

Man on the Silver Mountain, Temple of the King dan Catch the rainbow adalah harta karun yg diberikan Ritchie Blackmore bersama dgn Elf (Dio dkk) lewat album Ritchie Blackmore’s Rainbow. Mungkin sekarang Ritchie juga teringat masa itu saat lagu2 bertema fantasi berbalut musik neoclassicnya menyihir kita. saat ini Ritchie &isterinya membentuk Blackmore -Night memainkan musik2 abad pertengahan tanpa banyak ditambah instrumen elektrik.

album Rising diwakili lagu Starstuck, Tarot Woman & Stargazer (dicover Dream Theater juga). Sayangnya album Long Live Rock n’ Roll hanya diwakili Kill the king & Rainbow Eyes.

sayangnya lagi pak Grahham Bonnet malah dipilihkan lagu Makin’ Love bukan All Night Long atau Since You Been Gone dari album Down to earth. mungkin maksudnya Down to Earth ini krn Rainbow mulai masuk ke Adult Oriented Rock bukan mendongeng ttg istana dan kastil.

–evil has no boundaries

Biografi Donny Fattah: 40 Tahun Bersama Godbless

February 18, 2014

Budi Putra

image

“Kenapa tadi pindah-pindah melulu, Yan?” “Ini, tadi di samping kok kayaknya panggung agak miring, Don. Terus gue pindah kebelakang, lha kok masih miring juga. Pas gue liat, ternyata hak (sepatu) gue copot sebelah,”

Sederet cerita lucu dan kisah sedih tertuang dalam buku biografi Donny Fattah 40 Tahun Dalam Godbless, Bersama Godbless, Untuk Godbless. Perjalanan Donny Fattah bukan hanya sebagai musisi, tetapi sebagai seorang suami. Sebagai seorang ayah. Sebagai seorang sahabat. Sebagai insan dengan jalan hidupnya yang penuh warna dan berliku.

Buku biografi yang ditulis oleh Asriat Ginting, secara detail memotret kisah hidup sang bassis dari tahun ke tahun melalui tutur bahasa penulisan yang sederhana namun enak untuk dibaca. Buku setebal 207 halaman ini juga dilampirkan foto-foto Donny Fattah saat bersama Godbless serta orang-orang terdekatnya.

Donny Fattah lahir di Makassar, tepatnya di rumah sakit Goa, dengan nama Giddon Patta Onoa Gagola. Sebagai anaka pertama dari delapan bersaudara. Ayahnya adalah seorang anggota ABRI (sekarang TNI), yang kerap pindah tugas. Walaupun dari keluarga militer darah seni rupanya mengalir pada keluarga ini. Donny sendiri menguasai gitar, piano, akordeon, flute, yang dipelajarinya secara otodidak. Menurut Donny walaupun ayahnya mendidik dengan disiplin tinggi, tapi ayahnya juga memperhatikan kesukaan anak-anaknya pada musik. Bahkan band keluarga (IYAMBA) yang terdiri dari anggota keluarga, Donny, Rudy, dan sepupunya, Yanto adalah berkat dorongan sang ayah. Bahkan untuk nama band (IYAMBA) berasal dari usulan ayahnya. Setelah IYAMBA, Donny kemudian membentuk Venus yang memainkan lagu-lagu The Beatles yang jadi tren pada masa itu.

image

Perjalanan bermusik Donny selanjutnya pada saat bergabung dengan Fancy yang memainkan lagu-lagu Led Zeppelin. Mereka rajin manggung di acara-acara perpisahan SMA, pesta ulang tahun, pernikahan, dan mulai mendapat honor yang sebagian dia gunakan untuk membantu ibunya. Melalui Fancy Donny berkenalan dengan Fuad Hasan yang sudah lebih dulu terkenal. Namun di Fancy inilah secara tidak sadar Donny mulai bersentuhan dengan morfin, LSD, dan obat-obatan lainnya. Menurut Donny, penggunaan barang-barang terlarang itu sebab pengaruh popularitas dari band-band dunia seperti The Beatles, Rolling Stones, Led Zeppelin dan lain-lain.

Pasca Fancy, Donny bersama Yockie Suryo Prayogo membentuk Zonk yang biasa memainkan lagu-lagu Procol Harum, Spooky Tooth dan sejenisnya. Setelah periode ini Donny sering diajak Fuad Hasan untuk ngeband bersama. Kadang bersama Enteng Tanamal, Idris Sardi, Jopie Item, Rully Johan dan lainnya antara tahun 1971-1972. Pada periode inilah melalui Fuad, Donny kenal dengan Ahmad Albar (Iyek) yang baru pulang dari Belanda. Saat itu Iyek datang bersama temannya, Ludwig Lemans seorang gitaris. Di Belanda Iyek sudah punya band bernama Clover Leaf dan sempat mempunyai satu album.

Sejak itulah mereka mulai berlatih bersama dengan materi lagu-lagu Focus, James Gank, Edgar Winter, Rare Earth, Frank Zappa, Led Zeppelin dan sebagainya. Personilnya terdiri dari Iyek (vocal), Donny (bass), Fuad Hasan (drum), Ludwig (gitar) dan Deddy Dores (keyboard). Namun karena kesibukan Deddy sebagai personil Rhapsodia posisinya kemudian digantikan Yockie Suryo Prayogo.

Terbentuknya Godbless

Awalnya mereka menamai band mereka Crazy Wheels kemudian berubah menjadi Godbless. Ide nama Godbless didapat dari selembar kartu natal yang bertuliskan “God bless you.” Itu terjadi pada saat Donny, Fuad, Mia (Camelia Malik)—Iyek sedang dikamar mandi—saat bertandang kerumah Ahmad Albar. “Udah deh kita ganti aja namanya jadi God Bless,” demikian ucap Fuad saat itu. Maka sejak hari itu, nama Crazy Wheels resmi berubah menjadi Godbless. Show pertama Godbless adalah di Taman Ismail Marzuki, pada tanggal 5 Mei 1973, dengan formasi Ahmad Albar (vocal), Ludwig Lemans (gitar), Fuad Hasan (drum), Yocky (keyboard), dan Donny (bass). Tak lama setelah itu, tepatnya pada tanggal 16 Agustus 1973, Godbless kembali naik panggung dalam acara musik SUMMER ’28 yang merupakan akronim dari Suasana Meriah Menjelang HUT Kemerdekaan RI ke 28. Acara yang mirip Woodstock ini digelar di Ragunan, menampilkan band-band papan atas Indonesia seperti Koes Plus, Panbers, Rollies, Gank Of Harry Roesli, AKA dan banyak lagi lainnya.

Sayangnya Yockie tidak lama bergabung dengan Godbless karena keterlibatannya dengan narkotik, sehingga posisi keyboard kembali diisi oleh Deddy Dores. Padahal saat itu sempat membuat album rekaman dibawah bendera The Road. Maka jadilah Godbless rekaman lagu-lagu pop dibawah bendera The Road (minus Iyek). Walaupun tak ada satu pun lagunya yang nge-rock namun itu menjadi pengalaman yang berharga buat Godbless. Cerita lucunya, ada satu lagu berirama keroncong dalam rekaman The Road tersebut, yang berjudul Cinta Pelarian. Dalam lagu tersebut, yang memainkan gitar bukan Ludwig karena ia tidak bisa ‘sentilan keroncong’ kata Donny, lucu juga kalau mengingat Lugwig, yang di Belanda sering disejajarkan bersama George Kooymans (Golden Earring) maupun Jan Akkerman, kebingungan saat disodori lagu keroncong.

Bersama Deddy, Godbless sempat juga tampil dalam film Ambisi, membawakan dua lagu Free Ride (Edgar Winter),dan Persembahanku (saduran dari lagu milik The Beatles) berjudul I Will yang diberi lirik bahasa Indonesia. Satu kelebihan Godbless saat itu selain skill individu yang baik, penampilan kostum menjadi daya tarik tersendiri. Padahal pada peralihan Orde Lama ke Orde Baru, penampilan rambut gondrong, celana cutbray, kemeja ketat, masih belum terbiasa bagi kalangan generasi tua termasuk anggota ABRI. Rambut gondrong masih dianggap bajingan (cross boy) akibatnya sering terjadi razia pada anak-anak muda yang bernampilan nyentrik tersebut. Celana di gunting, rambut dipotong asal-asalan sampai pitak, sepatu diambil, disuruh pulang jalan kaki. Hal-hal itu terjadi sampai tahun 1972.

Di penghujung tahun 1973, cobaan pertama datang menerpa Godbless. Permohonan visa Ludwig Lemans ditolak, karena sebelumnya ia telah memperpanjang sebanyak dua kali. Padahal saat bersamaan tawaran manggung untuk Godbless mulai berdatangan. Deddy Dores kemudian menggantikan posisi Ludwig pada gitar dan untuk posisi keyboard digantikan Soman Lubis yang saat itu masih kuliah di ITB. Sebelumnya Soman sudah lebih dulu dikenal bersama The Peels dan Shark Move. Gaya permainannya mirip Keith Emerson (ELP). Bersama Soman Godbless melangkah pasti sampai terjadinya tragedi itu…

Pada saat persiapan latihan di Pegangsaan motor yang ditumpangi Fuad Hasan dan Soman mengalami kecelakaan di Pancoran. Motor yang dikendarainya menabrak truk tronton. Fuad tewas dilokasi kecelakaan dan menyusul Soman meninggal malamnya di rumah sakit Pelni. Peristiwa kecelakaan ini digambarkan Donny dengan sangat menyayat hati.

Kehilangan Fuad dan Soman dan kepergian Ludwig jelas sangat memukul Godbless, sementara Godbless vakum latihan karena masih dalam suasana berduka. Iyek sibuk mengurus pemakaman Fuad Hasan, yang kebetulan masih ada hubungan saudara dengannya. Padalah saat itu Godbless sedang ada kontrak dua kota di Jawa Timur, yang terpaksa dibatalkan. Barulah setelah suasana duka mereda Gobless mulai aktif kembali dengan bantuan Nasution Bersaudara, Keenan, Odink, Debby, hingga bergabungnya Ian Antono dan Teddy Sujaya (Bentoel Band) mengisi posisi gitar dan drum. Formasi inilah menurut Donny yang paling solid sampai tersiar kabar Deep Purple akan show di Indonesia pada akhir 1975.

Menurut Donny, kehadiran Deep Purple telah membawa revolusi dalam pentas musik rock di Indonesia. Godbless juga mempelajari kesempatan emas itu untuk mempelajari segala teknis dan manajemen bermusik, mulai dari mengeset peralatan musik, dan sampai pada settingan panggung. Walau ada harga untuk semua itu, honor yang diterima Godbless tidak pernah utuh karena digunakan untuk kebutuhan menyewa lighting, sound system dan lain-lain. Namun hal itu sebagai upaya Godbless untuk menjadi band rock nomer satu di Indonesia.

Album Godbless

Menurut Donny, ide untuk merilis pertama kali tercetus dari Fuad Hasan. Ia sangat ingin punya sebuah band yang memiliki identitas, bukan hanya sebagai band pengiring di mana sebelumnya ia bermain, seperti Zainal Combo. The Pro’s dan lain-lain. Namun saat itu belum terkumpul materi untuk sebuah album. Namun keinginan untuk memiliki album mulai nampak ketika Ian Antono dan Teddy Sujaya dan Yockie bergabung di Godbless untuk menempati posisi yang ditinggalkan Nasution Bersaudara.

Bermula dari tawaran untuk membuat lagu soundtrack film seperti, Huma Di Atas Bukit dan Sesat untuk film Laela Majenun, lalu Setan Tertawa untuk film Semalam Di Malaysia, yang semua liriknya dibuat oleh almarhum Sumandjaja. Atas usulan Pak Suryoko pemilik Aquarius, jadilah ketiga lagu itu masuk kedalam album perdana Godbless. Sisanya adalah Rock Di Udara dan She Passed Away dikerjakan Donny bersama Iyek. Lalu Gadis Binal yang diciptakan Ian Antono. Keenam lagu ini muncul dalam bentuk piringan hitam album perdana Godbless. Sedangkan untuk versi kasetnya, ada tambahan dua lagu cover version dari The Beatles (Eleanor Rigby), dan Easy Beats (Friday On My Mind). Walaupun banyak kendala menyertai rekaman album perdana Godbless yang direkam di studio Tri Angkasa di Jalan Hang Lekir, Kebayoran rampung juga. Setelahnya Godbless kembali disibukkan dengan jadwal show yang padat sehingga secara otomotis tak ada lagi masuk dapur rekaman.

Setelah album perdana Godbless kemudian melalui Teddy Sujaya mendapat tawaran dari JC Records untuk menggarap album kedua, Cermin. Studio pun segera disiapkan. Waktu itu bila tidak salah adalah studio Gelora Seni yang letaknya disamping duta Merlin. Bebrapa lagu yang disiapkan diantaranya yang diciptakan Donny seperti Anak Adam, yang merupakan komposisi terumit dalam album ini. Anak Adam sudah dibuat Donny sejak 1978. Lagu kedua yang diciptakan Donny adalah Ingat, yang bernuansa religi.Setelah itu, lagu berikutnya adalah Cermin. Sedangkan Ian menyumbang lagu Selamat Pagi Indonesia, Balada Sejuta Wajah dan Sodom Gomorah, dan Abadi Soesman menciptakan Insan Sesat. Namun materi lagu yang terkumpul masih kurang dua lagu lagi. Lagu Tuan Tanah yang bernuansa acapella diciptakan Ian. Sedangkan satu lagi yang diciptakan Donny ialah Musisi.

Saat album Cermin dirilis oleh JC Record pada 1979 (rilis ulang tahun 1984 oleh label berbeda yaitu Billboard), animo penikmat musik Indonesia seperti kurang antusias menyambutnya, alias album Cermin tidak laku. Mungkin karena yang sedang booming saat itu adalah pop kreatif, sedangkan music yang ditawarkan Godbless cenderung ke progressive rock yang kurang bersahabat di telinga mereka. Barulah 20 setelah beredar, album ini diburu, bahkan di Malaysia album Cermin malah lebih bisa diterima penikmat musik disana.

Why Did You Runaway, Donny?

Kebesaran Godbless tidak lantas membuat Donny teguh mengarungi kehidupan di jalur musik. Keraguan menghinggapi apakah sebagai musisi dirinya bisa menghidupi keluarganya. Di tengah keraguan itu kemudian Donny memutuskan untuk bekerja di Departemen Luar Negeri sebagai local staff di KJRI Houston (Texas) yang baru saja diresmikan—kebetulan saat itu ayah Rinny (mertua Donny) bekerja di Departemen Luar Negeri. Perubahan gaya hidup dari seorang musisi menjadi seorang diplomat membuat dirinya merasa tertekan. Untuk menghilangkan rasa itu pada saat selesai pulang kantor Donny keluyuran di bar-bar yang menyajikan musik rock. Di bar-bar itulah Donny berkenalan dengan musisi-musisi rock seperti Van Halen, Ratt, Quiet Riot, dan lain-lain yang saat itu baru mulai berkarir.

Dengan visa A2 yang dimiliki Donny mendapat prioritas dan kebebasan yang tidak bisa diperoleh visa biasa. Akses inilah yang kemudian dimanfaatkan Donny untuk lebih jauh berkenalan dengan musisi besar yang dulu diidolakannya seperti Paul McCartney, Geddy Lee (Rush), Chris Square (Yes) dan Mike Rutherford (Genesis). Di Amerika, Donny banyak bergaul dengan musisi dan perkenalannya para musisi tersebut membuka mata betapa kerasnya persaingan sesama musisi disana. Bahkan band sekelas Van Halen pernah makan roti dibagi empat. Itu terjadi saat mereka baru saja meniti karir. Beberapa tahun setelah itu mereka merambat naik menjadi salah satu super grup internasional.

Dalam kesempatan lain band Autograph sempat menawari Donny untuk menjadi bassis mereka namun karena posisinya sebagai staf KJRI maka tawaran itu tidak berlanjut apalagi manajer band meminta Donny untuk total bermusik. Perkenalan yang paling berkesan dan tak terlupakan bagi Donny adalah saat bertemu dengan Geddy Lee (Rush). Di rumah Geddy Lee, ia banyak mendapat pelajaran berharga sebagai seorang musisi. Dalam perjumpaan dengan Geddy Lee, Donny menggambarkannya sebagai berikut:

“Di malam kedua aku menginap, Geddy memanggilku lalu memutarkan salah satu album Rush. Di album tersebut ada sebuah lagu yang menurutku sangat aneh, yang ia putarkan sampai 8 kali. Aku sempat terheran melihat ulahnya. “Ngapain nih lagu diulang-ulang terus?” tanyaku dalam hati. Namun pada saat Donny menunjukkan kalau itu adalah piringan hitam music Jaipongan. “This is your music, man,” ucap Geddy. Aku benar-benar malu!

Ada satu lagi yang begitu tertanam dalam benak Donny, yaitu saat memperlihatkan kliping berisi show-nya bersama Godbless. Saat itulah Geddy baru mengetahui kalau Donny juga adalah bassis dari sebuah supergrup, walau cuma di Indonesia. Geddy nampak begitu serius melihat foto-foto itu bersama Godbless dan mendengar kisah-kisah yang dituturkan. Sampai kemudian Geddy berucap “Why did you runaway, Donny?” bagai disambar geledek Donny mendengarnya. Pertanyaan itulah yang kelak berulangkali Donny renungkan, sampai akhirnya membuka mata hatinya bila yang tengah dijalaninya bukanlah dunianya. Bukan lah kata hatinya. Bahwa dirinya terlahir untuk menjadi seorang musisi.

Pada akhirnya Donny memutuskan untuk kembali menekuni profesinya sebagai seorang musisi dan kembali bergabung dengan Godbless pada saat ia kembali ke Indonesia dalam rangka cuti kerj.

Keputusan yang diambil Donny untuk kembali ke jalur musik bukanlah tanpa konsekuensi. Berbagai aral menghadang ditengah perjalanan, hingga membawanya pada satu peristiwa yang menurut Donny sebagai titik balik kehidupanya ketika ia mengalami serangan jantung.

Pada akhirnya buku ini ditutup dengan kesaksian sahabat-sahabat dekat Donny seperti Ahmad Albar, Ian Antono, Teddy Sujaya, Yockie Suryo Prayogo, Eet Sjahranie, dan buah hatinya, Iman Fattah.

Alhasil Donny Fattah tetaplah seorang musisi legendaris yang mengabdikan dirinya bersama Godbless dalam kancah permusikkan (rock) di Indonesia dari masa ke masa yang tak pupus di gerus peradaban. Donny Fattah adalah inspirasi bagi kita semua karena sejatinya hidup adalah sebuah pilihan yang harus dilakoni dan diperjuangkan secara sadar dan bersama.

I’m So Happy

February 15, 2014

Domme

Judul di atas, memang mengutip judul lagu Three Dog Night. Tapi hanya untuk judulnya saja, menggambarkan perasaan bahagia. Bahagia, karena aku kedatangan paket 7 (tujuh) keping CD dari Koh Win… Semuanya adalah album-album IQ mulai dari Tales from the Lush Attic, The Wake, Ever, The Seventh House, Dark Matter, hingga Frequency.

Benar-benar I’m so Happy…

Dan aku pun (akan) mulai menjajal satu-persatu CD berisi album-album yang lagi hangat dibahas di blog kita ini. Saat mengetikkan postingan ini…, aku lagi menjajal album Tales from the Lush Attic. Aku belum bisa menuliskan apa yang aku rasakan dengan album ini, selain ingin mengatakan, aku mulai “melayang”.

Sebelum ini, atas usul Bos Koh Win, aku terlebih dahulu menjajal album Ever… Aku juga belum bisa menuangkan perasaanku. Sepertinya aku harus mendengarkan sekali lagi. Sama seperti album Tales from the Lush Attic, perasaanku saat mendengar album Ever juga masih hanya bisa aku katakan, ‘aku entah di mana’.

Ini petualangan baru… Thanks berat Bos Koh Win atas hadiahnya… (atau racun barangkali…?) Tapi…, andai pun ini racun, maka ini adalah sejenis racun yang wajib ‘dicicipi’ semua penggemar music.

Waduhh… Sorry. Aku belum bisa melanjutkan tulisan ini lagi. Sayatan guitar Mike Holmes ini mengganggu konsentrasi menulisku…

Horas… Long Live Rock, Blues, and Prog…


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 131 other followers