Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Yes Goes Pop

June 19, 2014

Hippienov

image

Tulisan ini merupakan usahaku menjawab “tantangan” sedulurku Pak Dokter Spesialis Paru van Suroboyo untuk mencoba membuat kompilasi lagu-lagu Yes yang tidak atau kurang nuansamatik. Namun akhirnya aku putuskan untuk menghindari menghujat Yes dengan tidak membuat kompilasi dengan tendensi seperti niat awalku kemudian menamai kompilasi ini “the bad of Yes”. Karena bisa jadi lagu-lagu Yes yang menurutku “jelek” bagi sebagian orang adalah favorite mereka. Takutnya ini bisa jadi pemicu ketegangan antar penggemar Yes nantinya. Lagipula se-kurang “prog” bagaimanapun karya Yes dan walaupun aku tidak menyukainya, aku akan selalu menaruh hormat dan simpati pada band yang pernah menjadi salah satu raksasa prog-rock era 70an ini. Rasanya aku tidak akan pernah mengenal musik “nirwana” prog-rock kalo gak ada kaset “tales from topographic oceans” (Yess Records) yang dipinjamkan teman kuliahku dulu (setelah Genesis “selling england by the pound”). Atas dasar alasan ini maka aku lebih nyaman untuk membuat kompilasi lagu-lagu Yes yang cenderung nge-pop dan menamai kompilasi ini “Yes Goes Pop”. Tidak ada salahnya sebuah band prog mencoba nge-pop apapun dasar alasannya, Genesis, E.L.P, P.F.M, Gentle Giant, Marillion pun melakukannya.

Lebih lanjut, untuk menghargai karya-karya klasik Yes mulai dari album Yes sampai Drama maka kompilasi ini hanya memuat lagu-lagu Yes dari era 80an (90125) dan selanjutnya. Namun tentu saja dikarenakan keterbatasan daya tampung blank cd yang hanya cukup 80 menit maka kompilasi ini hanya bisa memberikan sekelumit gambaran umum tentang karya-karya “pop” Yes. Sebanyak 16 lagu Yes tersaring masuk dalam kompilasi dengan total durasi sekitar 79 menit 43 detik. Sebenarnya durasi 16 lagu ini kalau dijumlahkan akan lebih dari 80 menit, dan karenanya 2 lagu terakhir terpaksa aku edit tanpa mengurangi esensi dan keindahan lagunya, “big generator” aku edit sedikit di bagian intro dan “dangerous” pada bagian intro serta outro. Kerennya seperti “radio edit” atau “single edit” tapi ini versi gemblungnya Hippienov, hahaha… Mengapa 2 lagu ini yang di-edit? Karena setelah aku screening keseluruhan 16 lagu, 2 lagu ini yang paling mungkin di-edit dan masih terdengar bagus meski sudah melalui editing, sedangkan lagu-lagu yang lain akan terkesan maksa jika di-edit.

Satu hal yang mengkhawatirkan adalah setelah cd ini selesai di-burn dan aku spin beberapa kali kok aku seperti “jatuh cinta” dengan lagu-lagu yang ada di dalamnya ya? Lah ini sangat membahayakan karena aku tidak mau nantinya dikelompokkan ke dalam fans Yes kategori “generator” (seperti istilah Koh Win), padahal selama ini aku dengan yakin menyebut diri Yes “trooper”. Berikut adalah songlist nya:

1. Rhythm of love, 2. The calling, 3. Lightning strikes, 4. Owner of a lonely heart, 5. Teakbois, 6. Almost like love, 7. It can happen, 8. To be alive (hep yadda), 9. Open your eyes, 10. State of play, 11. Hold on, 12. Love will find a way, 13. Love shine, 14. Holy lamb, 15. Big generator, 16. Dangerous.

Semoga saja lagu-lagu tersebut betul-betul bernuansa pop tapi kalau masih ada yang nyerempet-nyerempet nge-prog mohon dimaafkan, hehehe…

Demikian sharing ku tentang kompilasi Yes Goes Pop ini, semoga berkenan dan mohon dimaafkan atas kekurangan yang ada. As always, many great thanks to Mas G untuk waktu serta kesempatan yang diberikan and also untuk rekan-rekan gemblungers yang sudah sudi mampir membaca.

Progger goes pop… hippienov

Dahzyatnya The Flower Kings (8 of 15)

June 6, 2014

Herwinto

image

Sudah lama saya mendapat informasi bahwa Paradox Hotel adalah album TFK yang berat, sulit dicerna, karena itu saya sungguh mempersiapkan diri untuk mendengarkannya, konon album ini seperti Topographic nya Yes..berbeda dengan Banks Of Eden yang karena katanya bagus banget, sehingga saya sangat ‘pede’ untuk mendengar, namun justru gak nyambung, namun Paradox Hotel ini malah langsung nyambung mungkin karena faktor ketakutan itu, justru hati saya malah sangat siap…

Album ini adalah album konsep terdiri dari dua disk, terdiri dari dua cerita yakni Room 111 pada CD1 dan Room 222 pada CD 2, musiknya memang tidak dinamis layaknya album TFK yang lain, mungkin inilah faktor mereka yang menyukai musik rock yang dinamis menjadi kesulitan menerimanya karena musik di album ini cenderung merayap…agak mirip mirip Pink Floyd lama lah…mungkin istilah tepatnya begitu kuat unsur psikedelic nya. Bahkan bebunyian piano nya juga lumayan kental. Sangat tepat dan nikmat bila didengarkan di malam hari yang sunyi….mas Gatot bahkan baru bisa ‘kena’ setelah spin yang ke 11…he he he apalagi penyuka ”musik logam” gak sabar lah….

Dirilis tahun 2006, dengan drummer baru Marcus Liliequist, dengan track list Room 111 : Check in, Monsters and Men, Jealousy, Hit Me With A hit, Pioneers Of Aviation, Lucy Had A Dream, Bavarian Skies, Self Consuming Fire, Mommy Leave The Light On, End On A High Note. Room 222 : Minor Giant Steps, Touch My Heaven, The Unortodox Dancing Lesson, Man Of The World, Life Will Kill You, The Way The Waters Are Moving, What If God Alone, Paradox Hotel, Blue Planet.

Lagu yang sangat keren menurut saya adalah Monsters And Men 21.21, Self Consuming Fire 5.49 dan Blue Planet 9.42 saya sangat menyukai track ini…adem hati ini mendengarkannya, drum nya Marcus juga tob banget, bebunyian kibor nya juga indah sekali…mendengar album ini memang butuh ketenangan hati dan pikiran, seperti ketika mendengar Lamb Lies Down nya Genesis penuh lika liku warna warni, What If God Is Alone adalah nomor favorit sahabat saya di Aceh mas Khalil, semoga Beliau membaca tret ini dan berkenan mengomentari What If God Is Alone….kata beliau lagu ini membahas ketuhanan dengan sangat apik…membuat siapa saja yang mendengarnya pingin masuk surga….tuobz….singkat kata album ini seperti kata mas Gatot ”Great Music, Great Musicianship”..Salam!!!

Skid Row s/t

June 3, 2014

Andria Sonhedi

image

saya baca pertama grup Skid Row di majalah Hai di halaman Musik Hai. jaman dulu itu panduan beli kaset (wl tak 100% akurat). makanya saat ada yg jual di lapak Bringharjo saya coba beli. ternyata lagu2nya lebih keras dari Bon Jovi. saat itu lagu 18 and Life, Youth Gone Wild & I Remember You belum terkenal, baru mulai dikenal perlahan oleh publik. sampul album yg hitam putih dgn logo Skid Row warna merah agak beda dgn artwork album2 hair metal saat itu. Jon Bon Jovi adalah yang musisi yang membawa Skid Row ke gerbang kesusksesan walau dgn perjanjian pembagian royalty atas penjualan album2 Skid Row. sampai saat ini kabarnya perjanjian itu selalu disesali Dave Sabo sang sahabat Bon Jovi. sebenarnya musik Skid Row lebih asik lagi kl didengarkan sambil melihat live mereka (kl videoklipnya sih biasa). pembajak glodog kl tak salah pernah mengeluarkan 2 video bootleg Skid Row, atau resmi tapi tak berkualitas tinggi. kita bisa melihat Sebastian Bach (aslinya bernama Sebastian Bierk) sang vokalis krempeng nyanyi sambil berjalan kian kemari. personil Skid Row pada album ini adalah Dave Sabo : bass Rob Affuso: drum Rachel Bolan: gitar Scotti Hill: gitar Sebastian Bach: vokalis beberapa kali saya bawa kaset Skid Row ini nyetir jarak jauh dan semua lagu di album ini bagus semua (utk kuping saya) utk nemani perjalanan. durasi lagu2nya pendek tapi pas. 1. “Big Guns”3:36 2. “Sweet Little Sister” 3:10 3. “Can′t Stand the Heartache” 3:24 4. “Piece of Me” 2:48 5. “18 and Life” 3:50 6. “Rattlesnake Shake” 3:07 7. “Youth Gone Wild” 3:18 8. “Here I Am” 3:10 9. “Makin′ a Mess” 3:38 10. “I Remember You” 5:10 11. “Midnight / Tornado” 4:17

Sebastian Bach dipecat ditahun 1996, setelah itu Skid Row wl tak secara resmi bubar tapi tak ada kabar beritanya. barulah tahun 1999 Skid Row bangkit lagi namun tanpa Bach & Rob Afuso (drum). sampai saat ini tak ada pernyataan resmi Skid Row yang asli akan bereuni.

Yes “Malam Sunyi”

May 28, 2014

Herwinto

image

Jika mas Hippie telah membuat kompilasi Yes ” Ballad ” maka saya juga mempunyai kompilasi Yes yang saya beri judul ” Malam Sunyi “. Ini sebenarnya adalah kumpulan lagu lagu Yes yang ada di playlist saya yang sering saya putar di keheningan malam. Lagu lagunya adalah kesukaan saya yang asyik diputar di saat malam telah beranjak larut….ini adalah hasil penggalian semua lagu lagu Yes dari semua versi yang pernah ada.

01. Dear Father (early version 2)

02. Harold Land (Yes 1969, studio)

03. Survival (Yes 1969, studio)

04. Looking Around (Yes 1969, studio)

05. Everyday (single version)

06. Soon (single edit)

07. Vevey (Going For The One, bonus)

08. Turn Of The Century (rehearsal)

09. Abilene (Tormato, bonus)

10. You Can Be Saved (Tormato, bonus)

11. In To The Lens (single version)

12. Tempus Fugit (unissued)

13. Changes (90125, studio)

14. Love Will Find A Way (edited version)

15. Vultures In The City (ABWH, bonus)

16. Angkor Wat (Union, studio)

17. The Endless Dream (Talk, studio)

18. Time Is Time (Live From Tsongas)

19. Crockscrew (Live From Lyon)

20. Children Of Light (KTA 2, studio)

21. Sign Language (KTA 2, studio)

Lagu lagu tersebut saya pilih karena nuansa yang saya sukai, sebagai contoh Turn Of The Century, versi rehearsal nya bikin ngguweblak karena melodinya nunjek banget dan masih pakai gitar elektrik coba deh….kuereen….demikian juga Dear Father yang early version….wah nangis deh…..hammond nya bikin rindu dengan almarhum ayah….Crockscrew… hadeeeeh

kalau denger sekali kurang, pasti pingin nambah….Haroldland didengerin pas malam sangat sunyi uwediyaaaan indah sekali…….semoga rekan rekan mau mencoba….Salam!!

Mini Progring di Klaten

May 25, 2014

Andria Sonhedi

image

hari ini saya dikarunia Tuhan beberapa kebahagiaan. yang pertama adalah musibah kecelakaan 2 minggu lalu yg menimpa saya bisa dibereskan dengan damai (tanpa melibatkan “yang berwajib”). keluarga besar yang kena musibah (dan Alhamdulillah sdh berangsur sembuh) malah mengajak kami makan bareng trah mereka yg kebetulan hari ini berkumpul di klaten.

kebahagiaan kedua adalah bertemu kembali dengan pak Herwinto/Koh Win yang sampai 3 x gagal saya temui di kediaman beliau. kali ini saya bisa langsung bertemu beliau dikediamannya di kelurahan gayamprit, Klaten. walau cukup singkat karena saya & keluarga juga masih ada urusan ke Solo sorenya namun setidaknya peristiwa ini menghasilkan foto seperti yg saya pasang ini, 3 insan berbadan subur (termasuk anak saya). kami malah nggak sempat ngobrol ttg musik prog (yg bagi saya cuma sebagian dari musik kesukaan saya) tapi semoga lain waktu kami masih bisa bersua karena pak Herwin mengoleh-olehi saya 1 paket cd kopian IQ beserta beberapa cd grup lawas lainnya (termasuk Rick Wagiman) dgn harapan tentunya agar kita bisa membicarakannya di lain waktu.

–evil has no boundaries

Led Zeppelin “Stairway To Heaven”

May 23, 2014

Budi Putra

Pagi ini sambil sarapan bubur dan menonton Editor Media Indonesia di Metro tv yang liputan beritanya masih seputar korupsi, pilpres dan pernak-perniknya. Namun yang menarik di ujung tayangan diputar klip video “Stairway To Heaven” dari Led Zeppelin. Weih, spontan berkat klip tersebut saya jadi tergerak ingin mengulas sekilas tentang band legendaris ini.

Mengulas Led Zeppelin kenangan masa-lalu kembali menyeruak. Awal mula saya mengenal band ini berkat teman sekampung, Simon, namanya. Teman saya ini faseh sekali mengumandangkan lagu-lagu dari Led Zeppelin. Saya dan teman-teman lainnya seneng sekali bila Simon datang bawa gitar disaat kami sedang nongkrong bareng. Biasanya lagu pembuka yang menjadi langganan dimainkan ialah “Stairway To Heaven”. Intro petikan gitar yang magis serasa syahdu dimainkannya. Biasanya ketika intro terdengar kami semua terdiam menikmati keindahan nada tersebut. Memang ini lagu wajib bagi kami selain “Tangerine”, “Black Dog”…tapi teman saya Agus, lebih seneng dengan lagu “Since I’ve Been Loving You” yang ngeblues itu. Rupanya teman saya Simon bukan hanya faseh lagu-lagu Led Zeppelin tapi juga dia mengoleksi semua hal terkait band pelopor heavy metal ini: kaset, buku, kaos, kliping, dan segala pernak-pernik lainnya. Di kamarnya dipenuhi poster-poster, kliping majalah dan koran yang ia lekatkan di dinding kamarnya. Teman saya ini juga pandai bercerita tentang sejarah band dan kehidupan para personilnya. Dia pernah bilang bila Led Zeppelin memiliki kapal jet pribadi yang digunakannya untuk menjelajahi tempat-tempat konsernya. Katanya juga sewaktu konser uang hasil penjualan tiket hilang dicuri namun para personil Led Zeppelin tenang-tenang saja. Ada cerita lucu yang pernah diceritakan Simon terkait Jagger dan Keith selagi mabok di hotel tiba-tiba Keith bilang ke Jagger: “Aku dapet nada bagus nih…coba kau dengarkan”, ujar Keith sambil memetik gitar. “Keith, nada keren ini…besok kita rekam!”, ujar Jagger. Namun selang beberapa lama mereka berdua baru engeh (sadar) bila petikan gitar yang dimainkan Keith adalah intro “Stairway To Heaven”.

image

Salah satu alasan yang membuat saya suka dengan Led Zeppelin, selain musiknya tentu, juga persaudaraan yang kuat sesama personil. Mungkin kita tahu, setelah sang penabuh drum John Bonham ditemukan tewas akibat over dosis pada tahun 1980. Ketiga anggota band lain memutuskan untuk membubarkan Led Zeppelin. Walaupun ada sejumlah musisi (kabarnya Phil Collins) yang menawarkan diri untuk menggantikan posisi Bonham tapi anggota lainnya bergeming. Sepertinya mereka berikrar sehidup semati dalam band. Padahal saat itu Led Zeppelin tengah berada di puncak karir bermusik. Kisah itu terus saya perbincangkan sesama teman sekampung yang sama-sama suka dengan band ini. Menurut saya selain Led Zeppelin sepertinya setahu saya hanya The Beatles, The Doors (kabarnya Michael Bolton menawarkan diri menggantikan Jim Morrison) yang mengambil keputusan serupa. Tentu bukan sebuah keputusan yang sepele di tengah limpahan popularitas, harta dan wanita. Bila kita saksikan tampilan Led Zeppelin di konser-konser mereka memang sangat menarik sekali, bukan hanya atraksi gitar yang dimainkan Jimmy Page tapi gebukan drum Bonham sangat menonjol sekali setara dengan keseimbangan bass gitar yang dimainkan John Paul Jones. Sementara vokal tinggi Robert Plant menyeruak diantara nada nada yang dimainkan ketiga rekannya. Menurut saya musik dan kualitas personil sungguh perpaduan yang sempurna bagi sebuah grup band.

Bila kita simak hampir semua album yang ditelurkan Led Zeppelin masing-masing memiliki hits yang populer sepanjang masa. Setelah 25 tahun bubar, Led Zeppelin tetap disanjung penggemar musik berkat pencapaian artistik, kesuksesan komersial, dan pengaruhnya yang luas di kalangan musisi rock.

Shrapnell Years

May 13, 2014

Andria Sonhedi

shrapnell years

mengingat masa2 kejayaan toko kaset Kota Mas yogyakarta saya selalu ingat jajaran kaset2 impor seri gitaris yg ada di sisi kiri pintu masuk showroom kaset royalty. tiap datang ke toko tadi mula2 mula saya lihat deret kaset2 baru yang ada di sisi kanan baru setelah berkeliling (& nggak pernah beli selain yg obral) sebelum keluar saya selalu berhenti dan mengagumi kaset-kaset seri gitaris tadi. harganya hampir 2x lipat kaset royalty dari Indonesia, makanya tak pernah saya beli. pada awalnya tak ada yang menjual seken kaset2 tadi tapi lama-kelamaan ada juga yang mulai muncul di lapak pasar Bringharjo. Kita harus berterima kasih pada Mike Varney dgn Shrapnell Records yang mewadahi para calon gitaris kondang tadi untuk menunjukkan kebolehannya.
kaset seri gitaris yang pertama saya beli adalah Marty Friedman  - Dragon’s Kiss, walau rumah kasetnya agak pecah tapi yang penting punya :) ada juga yang saya dapatkan masih segelan yaitu Jason Becker & Electrifying Rock. sayangnya pitanya kok jelek, saya pernah menyaksikan kaset Marty Friedman – Scene milik temannya teman saya yg mendadak kusut saat disetel.
tak semua kaset2 seri ini full instrumental, contohnya Richi Kotzen – Fever Dream dengan Richie sebagai vokalis, Pat Travers, atau Howe II. Yang jelas tak semua gitaris tadi bisa meninggalkan jejak yang cukup lama di belantara gitaris dunia.
Hampir semua yang saya lihat di etalase toko Kota Mas sudah saya miliki walau butuh waktu lama ngumpulkannya. ada juga satu kaset David T Chastain yang saya belum pernah melihat sekennya dijual.
pak Cosmic masih juga belum muncul, padahal sdh dipancing

 

HR Giger Meninggal Dunia

May 13, 2014

Andria Sonhedi

elp brain

yang kenal dengan album Emerson, Lake & Palmer: Brain Salad Surgery (1973) pasti ingat cover album yang beda dengan artwork ELP lainnya. covernya bergambar surealis dengan dominasi warna abu-abu. pada tanggal 12 Mei kemarin sang desainer album tadi yaitu seniman Swiss H.R Giger meninggal. bahkan logo ELP yg seperti kunci itu desain Giger juga. sayangnya menurut Giger utk desian album itu dia tak dibayar ELP. Padahal Emerson sendiri cukup puas dgn desain tadi yang menurut dia”pushed album cover art to its extreme”
Giger juga dikenal sebagai desainer monster di film Alien. Micstand milik Jonathan Davis (Korn) yg aneh itu juga buatan Giger.

karya HR Giger lain yang dijadikan cover album antara lain:
Celtic Frost: To Mega Therion
Magma: Attahk
Emerson, Lake & Palmer: Brain Salad Surgery (1973)
Steve Stevens’ Atomic Playboys
Carcass: Heartwork
Danzig: Danzig III: How the Gods Kill
Dead Kennedys’ album Frankenchrist
Atrocity – Hallucinations
Triptykon:Eparistera Daimones & Melana Chasmata (proyek dari vokalis Celtic Frost)

Selamat Bulan Mei 2014

May 1, 2014

Selamat pagi temen2 gemblungers …

Tanpa terasa kita sudah memasuki bulan kelima di tahun 2014 ini. Karena sudah punya kalender MfL maka saya tampilkan juga kalender bulan ini, siapa tahu ada rencana buat temen2 saling bernilai-muka lagi di bulan yang penuh dengan tanggalan merah ini. Dulu ada wacana bulan ini bakalan ngadain progring di luar kota. Namun sayang sekali saya banyak kerjaan di luar kota selama bulan ini, jadi ya sulit buat merealisasikannya … Kalau mau progring, sepertinya tanggal 10 Mei hari sabtu, OK punya tuh …. Bagaimana? Monggo dipikirkan dan kasih komentar di bawah ini …

kalender mei 2014 2521

 

Salam,

G

Grass Rock: “Yes Asal Surabaya”

April 20, 2014

Budi Putra

image

Pada tahun 80-an setidaknya menjadi tonggak sejarah kebangkitan musik rock tanah air. Hal ini tidak lepas dari peran Log Zhelebour, promotor musik asal Surabaya yang menggelar pentas Djarum Super Rock Festival. Dari pentas ini sejumlah grup band bermunculan. Sebut saja Elpamas, Rudal, Power Metal, Roxx, Kaisar, Boomerang, dll. Di antara band yang muncul dari ajang ini, Grass Rock, merupakan band yang cukup menarik perhatian penggemar musik rock di tanah air.

Grass Rock dibentuk di Surabaya pada tahun 1984. Band ini diperkuat oleh Hari (vokal), Mando (kibor), Harto (gitar), Yudhie (bas), dan Rere (drum). Awalnya, band ini bila manggung kerap mengusung lagu-lagu milik Yes, sehingga sering dijuluki sebagai Yes-nya Indonesia. Di tahun yang sama terbentuknya band mereka kemudian mengikuti festival rock tapi gagal menjadi juara. Lantas, pada 1985 Grass Rock kembali mengikuti Djarum Super Rock Festival, kali ini mereka beruntung memperoleh juara ketiga dan Rere memperoleh gelar The Best Drumer. Pada tahun 1986 Grass Rock kembali mengikuti Djarum Super Rock Festival, dengan Zulkarnaen sebagai vokalis, dan kali ini mereka berhasil menyabet Juara pertama. Sedangkan Rere kembali memperoleh gelar The Best Drumer. Tak hanya sampai disitu pada 1987 mereka ikut festival lagi dan kembali memperoleh Juara pertama dan The Best Drumer, ditambah Mando memperoleh gelar The Best Keyboard. Buah dari perhelatan itu Grass Rock memperoleh kesempatan dari Log Zhelebour untuk mengikuti tur 10 kota menjadi band pembuka God Bless.

Berangkat dari kesuksesan itu Grass Rock semakin dikenal publik musik rock tanah air, dan tawaran show pun makin berdatangan sehingga mereka tidak lagi mengikuti festival-festival. Kerjasama dengan Log Zhelebour pun berakhir pada tahun 1988. Karena merasa jam terbang sudah banyak mereka pun terpikir untuk membuat album. Lalu mulailah mereka membuat komposisi lagu-lagu sendiri.

Berdasarkan catatan karir bermusik yang telah mereka jalani Grass Rock sudah merilis empat album yakni Anak Rembulan (1990), Bulan Sabit (1992), Grass Rock (1994), Menembus Zaman (1999), dan satu single Rock Kemanusiaan “Prasangka”. Setelah ditinggal Dayan yang meninggal pada 1999, Grass Rock tinggal Mando (kibor), Edi Kemput (gitar), Yudi (bas), dan Rere (drum). Pada 90-an lagu yang populer dari Grass Rock adalah “Peterson” (Anak Rembulan), “Bersamamu”, dan “Gadis Tersesat”.

Grass Rock pada awal 2009 bergerak kembali. Dua personel muda mereka gandeng, Hans Sinjal dan Ersta Strya Nugraha. Hans menggantikan Dayan, sedangkan Ersta menjadi pemain bas karena Yudhi dalam kondisi kesehatan yang tidak memungkinkannya untuk bermain musik. Namun kemunculan Grass Rock memang tidaklah mudah karena saat itu nama mereka juga mulai redup. Di samping itu perkembangan industri musik tanah air semakin pesat dengan banyak bermunculan artis/band baru yang lebih menjanjikan dan layak jual.

Kini, setelah ditinggalkan Yudhi yang meninggal karena sakit yang dideritanya, Grass Rock masih digawangi oleh Hans Sinjal (vokal), Edi Kemput (gitar), Rere Reza (drum), Mando (keyboard) dan Ersta Satrya Nugraha (bas). Untuk saat ini tak terdengar lagi kiprah mereka dipentas musik rock tanah air baik dalam pentas panggung rock maupun album rekaman.

Demikian tulisan ringkas ini semoga bisa menghibur rekan-rekan blog gemblung semua, dan untuk mas Gatot terimakasih sudah mempostingnya.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 141 other followers