Archive for the ‘Uncategorized’ Category

IQ “Headlong” – an interpretation of song elements

May 1, 2013

Sejak membaca komentar mas Ekho Pratama tentang IQ terutama kesannya terhadap lagu Headlong dari album kedua The Wake, saya merasa tercerahkan dan sumringah karena gembira-ria mendapat teman baru satu aliran yang menyukai IQ utamanya lagu Headlong ini. Saya sangat setuju dengan pendapatnya terhadap segmen indah yg dimulai dengan lirik “From the moment ….“. Memang di segmen ini kita harus berhati -hati mendengarkan lagu ini karena kalau kita merasa sebagai makhluk manusia normal yang berarti memiliki nurani, justru dikhawatirkan kita bisa kejlungup nyosor lantai dengan lambe nyonyor dan hati hancur lebur berantakan seperti pecahan kaca mobil. Kenapa? Karena melodinya nunjek ulu ati tuwenan jek!

Sejak baca komentar mas Ekho itulah saya merasa ada pertemuan dua hati (biyuh kok dadi romantis to?! Ha ha ha …) ya karena satu lagu bertajuk Headlong yg benar-benar dahsyat itu. Sudah puluhab tahun saya suka lagu ini dan sudah puluhan teman sesama penggemar IQ telah berhasil saya kenali dan bina pertemanan dengan baik. Bahkan tahun lalu kami berkumpul beberapa kali menonton dvd konser IQ “Frequency” di Subtitles, Dharmawangsa Square. Senang sekali kita bersuka cita menonton dvd keren ini sambil mbengok-mbengok sak dobole menirukan permainan indah personil IQ. Namun …. tak satupun temen saya itu yg punya kesan KHUSUS terhadap Headlong. Mangkanya ….saya suweneng mas Ekho bisa berselera sama bahkan memiliki cita rasa sama terhadap lagu ini. Whooooooaaaa…….!! Suweneng tenan aku!

Bagi yg belum kenal IQ, musik Headlong tergolong sederhana alias tidak kompleks. Kekuatan lagu ini justru dalam hal penciptaan melodi yang jelas nunjek ulu ati sampe berdarah-darah dan juga harmoni dan instrumentalisasi aransemen musik yang begitu kreatif dan terasa penuh saling mengisi terutama dalam hal gitar dan kibor. Ini tentunya masih ditambah dengan vokalisasi yang terasa elegan meski terkesan melankolis bahkan gembeng. Kebayang gak sih? Makanya kalau gak kebayang buruan beli kasetnya atau paling sial CDnya. Muantabz tenan jek!

Lagu ini dibuka dengan kombinasi lengkingan vokal memelas gembeng ala Peter Nichols dengan lirik yang sungguh indah untuk dilantunkan sambil menikmati lagunya:

I am here. The ragged burden come to nothing, comfort go….” wadouw ……baru intro aja udah mbrabak menikmati lekukan vokal dikombinasi suara kibor yang menambah marak suasana hati. Bohong kalau Anda kenal lagu ini gak spontan ikut nyanyi. Kecuali …bila Anda tak memiliki nurani.

Siksaan hati baru dimulai dan Anda harus menghadapi lagi segmen selanjutnya yg juga sangat indah:

Hovering above me like a net, I’m terrified to look beyond the threat, I kill ambition while I can.”

Yungalah …..aduh biyuuuung ….Gusti Alloh nyuwun ngapunten …..! Ini lekukan melodi dan vokalisasi Nichols begitu merasuk hati hingga tembus ke sumsum tulang belakang. Uwediyaaan ….indaaaah bangettzz….

Stumbling, we go blindly marching on, Bursting like a dream and now all gone, In time I know we’ll fly again.

Setelah itu ada perpindahan nuansa yang terkesan horor namun hanya sejenak karena kembali ke melankolis saat liriknya ini:

Frail as ever, still the most severe, Haven’t I surrendered everything now? Naked in my cruellest waking fear From the rages of the weightless sleep.”

Musik kemudian masuk indah disertai solo kibor oleh Martin Orford yang sederhana namun sungguh membuat ati ini klepek2 gak tahan …. Belum lagi sayatan gitar dahzyat dari Mike Holmes. Wis ….pokoke nggajak tuwenan….!

Kemudian musik ujug ujug mak gedandut berhenti disertai indahnya vokalisasi ini:

“Who will catch him falling?” called the wind

“I will claim him,” volunteered the grave

“Marry me forever,” cried the bride, Said the orphan, “Who’ll remember me? Anyone at all? Are you coming back?”

Terus nyambung raungan gitar ala Mike Holmes yang sungguh ngeprog pitung-puluhan banget! Merindhink dah kalau mendengarkan segmen ini.

Almaaaaak ……!!! Lagu kok begitu indah ya? Ini mereka berlima saat membuat lagu ini lagi mabuk apa ya? Kok indaaàaaah banget mengalunnya.

Akhirnya sampailah pada the final musical orgasm yang siapapun mendengarnya pasti bakal speechless alias ndlongop atau melongo terheran-heran kok ada musik seindah ini gitu lho ….!!!

“From the moment we were torn, Thrown into the tunnel, we withdrew, Whiter colours then untied, Don’t desert me now I’m coming through ….”

(Pas Nichols mengucapkan “through” …bunyinya huwenaaaak tuwenaaan!)

I fought the memory of beautiful things, Imaginings, The only strength I got from wanting you

All the love I’ve been needing, The hunger is feeding on me, Spirit, bear me away to the place of birth (Madiun tentunya!)”

WHOOOOOOAAAA…… nggulung koming ping kopang kaping tenaaaan …..!!!

Sik yo …..aku tak semaput disik yo ……

The Best of Octopus by AR

April 24, 2013

By: Hippienov

Apa khabar mas G dan rekan-rekan yang aku kagumi serta hormati? Cukup lama aku tidak mengisi tret di blog nuansamatik ini, gemblung tapi sungguh nuansamatik dan gak mungkin terlupakan.

Siapa bilang kaset loak atau jadul sekarang harganya mahal? Lebih mahal daripada sisa-sisa kaset lisensi yang masih tersisa di beberapa toko kaset/cd? Kaset ini salah satu buktinya. Beberapa waktu lalu aku membawa dvd player yang rusak ke sebuah tempat servis elektronik. Ternyata ada pelanggan yang menitipkan koleksi kaset-kaset jadulnya untuk dijual di tempat itu dengan harga yang ditawarkan hanya Seribu perak (Rp 1.000,-) per piece nya. Kaset Octopus ini salah satu dari beberapa kaset yang aku “bungkus” waktu itu.
Seperti yang terlihat dalam gambar, foto cover depan sudah lusuh dan blur. Memang saat aku beli foto tersebut sebagian sudah nempel di kotak luar kaset sehingga sebagian gambar tertinggal menempel saat aku cabut. Setelah dibersihkan, sampul depan aku “laminating” dengan cellotape transaparan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut. Tapi meskipun tampilan luarnya tidak menarik, kualitas pita dan suaranya masih terbilang baik. Suara tidak pecah, gak mendem, pita gak kotor berjamur. Sedikit bersih sana-sini langsung bisa stel…jreng… (pinjam istilah mas G) asik bernostalgia.

Octopus keliatannya kurang bergaung namanya ya?… Aku dulu pernah dengar band ini dan liat kasetnya di Duta Suara Sabang semasa SD dulu (sometime in the 80s) tapi selalu gak jadi beli karena mungkin kalah menarik dibanding kaset The Beatles, Rolling Stones, Led Zeppelin, Deep Purple, etc. yang masa itu paling sering aku koleksi kasetnya.

Saat liat kaset ini di tumpukan kaset loak 1000 perakan langsung aku ambil, selain penasaran pengin tahu gimana sebenarnya musik Octopus, aku juga jadi teringat masa kecil dulu  waktu jalan sama pamanku ke Duta Suara Sabang naik bajaj atau bus dari rumah oma di Kresna-Tanah Tinggi. Jadi kaset ini aku beli karena musiknya dan juga karena memori masa lalunya.
O ya, musik Octopus menurutku sealiran dengan The Cats, Classic Illustrations, Bread dan band pop 70an lainnya. Padahal namanya cukup berkesan “prog” ya? Sayang mereka gak memilih progrock jadi kiblat musiknya.

For my comrades rekan-rekan reseller kaset jadul out there, I know you guys are watching… Semoga ulasan singkat ini bisa menaikkan “level” kaset Octopus, The Cats, Bread, etc jadi selevel dengan kaset band progrock/classic rock yang  nuansamatik, hehehehe…. Peace brothers…

Sing a song of love and peace….
hippienov

Tape Bakar dan Kopi Medan

April 22, 2013

image

Rock Style by AR

April 20, 2013

By: Domme
 
Kaset kompilasi adalah jenis album yang sepertinya kurang mendapat perhatian. Kita memang lebih asyik kalau sedang melihat cover sambil menikmati album-album satu grup favorit. Tapi kali ini aku ingin mengulas sedikit tentang salah satu kompilasi terbaik, menurut aku, yang pernah ada. Nama kompilasi ini Rock Style keluaran AR. Aku dulu membelinya sekitar Tahun 1985. Ketika itu aku termasuk rajin mengoleksi kompilasi rock, seperti Rock in Memory ROCKSHOTS, Slow Rock Memory HINS COLLECTONS, dan lain-lain, termasuk Golden Slow Rock rekaman GL yang merupakan kompilasi rock pertama aku beli dan cikal bakal aku mengenal grup-grup rock.
 
Kembali ke Rock Style. Kaset ini menurut aku, memang lumayan komplit. Dan khusus untuk aku, di album ini aku mendengar grup dan lagu-lagu yang baru pertma aku dengar. Berisi grup rock, progressif, serta grup rock yang sedikit memasukkan unsur jazz, dalam hal ini Deep Purple dengan Gettin’ Tighter dan Ian Gillan Band dengan Clear Air Turbulence. Lalu ada opera rock dari Queen.
 
Album dibuka dengan lagu pertama More Than a Feeling dari Boston. Ini kali pertama aku mendengar grup ini, yang langsung membuat aku terkesima dengan komposisi lagu dan musik serta lengkingan vokalisnya yang lumayan dahsyat. Sesudah dengan lagu ini, tak lama aku pun langsung beli The Best Boston. Lalu dilanjutkan dengan The Hanging Tree dari Uriah Heep. Grup ini memang sudah akrab di telinga aku saat itu. Namun lagu Hanging Tree juga baru itu kali aku dengar. Lagu yang mantap. Berlanjut ke Gettin’ Tighter dari Deep Purple, yang menurut aku agak asing dari lagu Purple yang aku dengar pada umumnya. Pengaruh Bolin membuat lagu ini memperkaya konsep Purple. Lagu selanjutnya Carry On May Way Ward Son dai Kansas juga baru ini aku dengar. Sebelumnya aku hanya kenal Kansas dari Dust in the Wind. Dan lagu ini juga yang membuat aku tergerak membeli kaset Kansas. Lalu ada lagi Blacksheep of the Family Rainbow dilanjutkan She’s A Woman yang menghentak. Lalu ditutup lagu Clear Air Turbulence, yang membuat wawasan aku saat itu makin berkembang dalam mengharungi dunia rock.
 
Side B dimulai oleh Robert Plant dengan Pledge In. Lalu ada The Grand Illusion dari STYX, yang membuat aku merasa ketinggalan, karena di kaset STYX yang aku beli sebelumnya karena pengaruh lagu Babe, lagu bagus ini kok nggak ada. Selanjutnya masuklah ke nuansa progressif yang makin dalam. Aku sendiri saat itu nggak ngerti kalau inilah namanya progressif. Hanya saja aku memang agak merasa aneh waktu mendengar lagu Journey of a Fallen Angel dari Triumvirat ini. Ada bagian lagu yang sulit aku cerna, namun ada yang aku nikmati. Setelah berulang-ulang kaset ini aku putar, akhirnya aku bisa menikmati lagu itu secara utuh. Selanjutnya The Prophet’s Song dari Queen dengan rock opera kental, menurut aku bahkan mengimbangi Boheiman Rhapsody. Selanjutnya ada Nektar dengan Train From Nowhere dan ditutup dengan Jethro Tull dengan Teacher.
 
Dalam perjalanannya, kaset aku itu kemudian lenyap entah kemana puluhan tahun lalu. Makanya ketika dua minggu lalu aku menemukannya kembali lewat belanja online, nuansa jadul sangat terasa… Serasa kembali ke Tahun 1985…
 
Mungkin benar apa kata-kata teman dalam postingan terdahulu, apa yang pertama kita dengar akan mempengaruhi selera kita kemudian. Dan mungkin, andai aku lebih dahulu mendengarkan kompilasi ini, barangkali saja aku akan lebih menyukai progresiff. Masalahnya, aku sudah terlanjur lekat dengan rock dan blues, sebelum nemu kompilasi bagus ini. Tapi tetap saja memberi pengaruh, karena Triumvirat lebih aku suka dari Genesis, apalagi dari ELP….
 
Horas…

Dua Agen Bertukar Data Analog

March 27, 2013

By: Domme

Pagi itu Agen Domme bangun dan segera menyiapkan ‘data analog lawas’ untuk ditukarkan dengan Agen Eddy yang sudah menunggu di lokasi pertukaran. Dua ‘data analog lawas’ sesuai MoU via handphone segera masuk tas, berikut beberapa ‘data analog lawas’ lagi sebagai persiapan, mana tau ada pertukaran dadakan.
 
Dengan mengendarai sepeda motor, Agen Domme pun meluncur ke lokasi pertukaran. Lokasinya di depan kantor yang mengatur terang benderangnya Kota Medan, yang merupakan markas sementara Agen Eddy. Karena ini pertukaran rahasia dan Agen Eddy pun nggak bisa keluar sembarangan dari markasnya, maka Agen Domme pun menunggu di bawah pohon rindang.
 
Setelah melakukan komunikasi sejenak, Agen Eddy pun memberitahu lokasi penukaran yang lebih aman dan Agen Domme pun segera bergeser ke lokasi dimaksud. Tak lama kemudian, dengan agak terburu-buru sambil lihat-lihat situasi sekitar, Agen Eddy tampak keluar dari markas sementaranya, menenteng bungkusan kecil dan langsung menghampiri Agen Domme.
 
Tanpa banyak pembahasan lagi, masing-masing ‘data analog lawas’ dikeluarkan sesuai MoU. Agen Eddy mengeluarkan ‘data analog lawas’ yang dibawanya, masing-masing The Best Whitesnake TEAM, The Best Iron Butterfly TEAM, The Best James Brown TEAM, dan The Best Blues Brothers TEAM. Lalu Agen Domme mengeluarkan The Best Rush YESS C90 dan Gong 1977 APPLE.
 
Acara berlanjut ke pertukaran di luar MoU. Agen Eddy menunjukkan Cliff Richard ‘Rock’n Roll Forever’ TEAM, Eddie and the Tide ‘Go Out And get It’ TEAM, serta The Very Best Of Madonna TEAM. Dari beberapa rekaman YESS yang ditunjukkan Agen Domme, Agen Eddy mengambil Trumvirat dan The Best STYX II.
 
Selanjutnya, tanpa banyak lagi pembahasan, masing-masing segera meluncur ke markas. Agen Eddy ke Kantor PLN dan Agen Domme kembali ke daerah Simpang Limun Medan.

Generasi Muda Penikmat Musik, Post-Rock dan Mono

March 25, 2013

By: Rully Resa

Tulisan saya kali ini khusus dipersembahkan untuk blog ini sebagai bentuk rasa terima kasih karena sudah memberikan berbagai informasi yang tidak ternilai harganya. Saya merasa seperti’berhutang’ pengetahuan-tentang banyak hal-pada blog gemblunk garapan Om Gatot ini. Mungkin saat yang tepat untuk mulai bertukar cerita. Saya akan mencoba menjabarkan penggalan kejadian yang sedang berlangsung saat ini dikalangan penikmat musik muda. Akan terjalin sebuah simbiosis saling menguntungkan antara saya dan seluruh pengunjung blog ini, antara generasi yang lebih sepuh dan generasi penerusnya. Simbiosis musikalisme. Hehe

Prakata.

Mungkin sebagian besar penikmat musik muda jaman ini tidak begitu mafhum dengan karya-karya dari Camel, Renaissance, Yes, dll tapi apabila disinggung soal musik “post-rock”, mereka akan sangat antusias membahasnya karena tidak bisa dipungkiri genre tersebut cukup familiar dikalangan mereka. Berbicara tentang post-rock, secara etimologis maksud dari musik “post-rock” adalah memainkan musik rock, tetapi dengan kemasan yang berbeda dari biasanya. Singkatnya memainkan ‘rock’ tidak secara ‘rock’. Menurut beberapa pengamat musik, antara Rock Progressif dan post-rock terdapat benang merah yang mengikat diantaranya. Unsur-unsur yang biasa menjadi formula dalam ‘Rock Progresif’, sering kali digunakan juga dalam musik ‘post-rock’. Banyak juga yang berpendapat beberapa grup Post-rock sangat terinflunce oleh ‘Krautrock Scene’.

Kalau saya amati pribadi, Post-rock sendiri mulai tenar dikalangan muda Jakarta-Bandung dan kota-kota besar lainnya sekitar tahun 2007 silam. Sebenarnya genre tersebut muncul di akhir tahun 80an, dan telah mengalami berbagai macam perubahan style karena dipengaruhi oleh genre musik lain (seperti heavy metal elektronik, dll) dalam perkembangannya. Hingga akhirnya post-rock yang dikenal banyak oleh para generasi muda penikmat musik adalah post-rock yang kental unsur musik klasiknya, seperti grup ‘Sigur Ros’ yang berasal Island. Grup ‘Sigur ros’ berhasil merebut hati para pemuda di Indonesia lewat lagu ‘Hoppípolla’ (berikut linknya: http://www.youtube.com/watch?v=4L_DQKCDgeM) yang banyak dijadikan soundtrack dalam film ataupun acara TV. ‘Sigur Ros’ juga rencananya akan mengadakan konser di jakarta tanggal 15 Mei 2013 nanti.

Review Album.

Tetapi yang ingin saya angkat disini bukan grup ‘Sigur Ros’, tetapi satu lagi punggawa yang turut membesarkan ‘Post-rock’. Grup tersebut berasal dari Jepang, sudah dua kali tampil di Jakarta, bernama ‘Mono’. ‘Mono’ sendiri digawangi oleh Takaakira Goto (gitar), Hideki Suematsu (gitar), Tamaki Kunishi (bass) dan Yasunori Takada (drum). Beberapa tahun lalu Mono menelurkan album dahsyat berjudul “Hymn to The Immortal Wind”, berisi 7 lagu yang dikemas secara ekspersif, memadukan antara kemegahan bebunyian orkestra, kebisingan efek distorsi dan manisnya susunan lagu Pop. Album ini full musik, tidak ada vokal, yang memang jadi ciri khas mono. Jadi teringat show mereka di Jakarta, mereka tidak sekalipun menyapa penonton, ataupun sesi perkenalan personil, karena memang tidak ada microphone diatas panggung.

Satu lagi ciri khas mono adalah permainan dari kedua gitarisnya, yang kerap kali memainkan gitarnya memakai teknik fast picking. Didalam track ‘Pure As Snow’, Mono berhasil dengan apik merangkai komposisi yang sangat tenang diawal, mengajak mendengar untuk lebih dalam menikmati secara detail setiap instrumen yang dimainkan. Pada akhir lagu ada sebuah kebisingan yang muncul menjadi klimaks yang sengaja dihadirkan sebagai penutup perjalanan selama kurang lebih 11 menit. Album “Hymn to The Immortal Wind” ditutup dengan sebuah keindahan permainan piano yang iringi oleh string section, lagu tersebut berjudul ‘Everlasting Light’.

Konser Mono dijakarta tahun 2011 (di Nusa Indah Theater Balai Kartini) lalu bisa dibilang salah konser terbaik yang pernah saya hadiri sampai saat ini walaupun nyatanya tidak full orkestra. Masih teringat jelas bagaimana dengan sound prima yang terdengar keluar dari perangkat pengeras suara, masuk kedalam telinga, lalu dibawa kedalam hati, membelai dan menyentuh sanubari.

Oh ya satu hal lagi yang saya tidak bisa lupa, lagu pembuka sebelum akhirnya Mono hadir diatas panggung ketika itu adalah penggalan ‘Symphony No. 3′ karya ‘Henryk Mikołaj Górecki’. Penonton dipaksa menunggu selama kurang lebih 25 menit sampai musik tersebut benar-benar selesai diputar, baru kemudian seluruh band mengisi panggung. Luar biasa!

Tahun ini mono kembali akan tampil di Indonesia, tapi kali ini di Bandung pada tanggal 6 April 2013.

Penutup

Saya tidak sepenuhnya setuju jika dikatakan Rock Progresif telah usang ditelah jaman, buktinya Rock Progresif bukan terlupakan tetapi hanya bertransformasi menjadi bentuk lain.

Badfinger

March 15, 2013

By: Hendrik Worotikan

Entah mengapa hari-hari belakangan ini, saya kerap mendengarkan musik dari era 70-an. Sebut saja, The Hollies, Sherbet, 10 CC, Ten Years After, Badfinger sampai Koes Plus.
Dari beberapa grup musik ini, akhirnya saya terpesona dengan Badfinger yg di gawangi oleh Peter Ham (gitar), Mike Gibbins (drum), Tom Evans (bas) dan Joey Molland (gitar).

Berawal dari sebuah demo-tape yg dikirim ke Beatles Company (Apple Records) oleh Peter Ham dan Tom Evans, yang kala itu masih bergabung dengan grup The Iveys, yang membuat Paul Mc. Cartney kepincut dan akhirnya memberikan kontrak rekaman.

Sejak saat itulah, The Iveys yg memang kurang sukses di industri musik, lantas berganti nama menjadi Badfinger, Desember 1969.

Secara personal hubungan mereka sangatlah akrab dengan anggota The Beatles lainnya. Tidak saja pada Paul yg memang membuat lagu dan sekaligus memproduserinya ( Come and Get It ), tapi juga John Lennon, dimana Badfinger membantu pembuatan ‘Imagine’ LP.
Mereka juga ikut tampil mengiringi George Harrison pada ‘All Things Must Pass’, triple-album, bahkan tampil bareng di ‘Concert For Bangla Desh’. Tidak itu saja, Harrison pun tampil menjadi salah satu produser di album ‘Straight Up’ milik Badfinger. 
Bersama Ringo Star, Badfinger ikut andil pada pembuatan single ‘It Don’t Come Easy’, yang terbilang sukses itu.

Ketenaran segera mereka raih dengan lagu-lagu hitsnya. Antara lain : ‘Come and Get It’, ‘Maybe Tomorrow’, ‘Baby Blue’, ‘Without You’, ‘No Matter What’, ‘Day After Day’, dll.

Khusus untuk lagu ‘Without You’, yang ditulis oleh Tom Evans dan Peter Ham, barangkali ada yg masih ingat, kalo lagu itu pernah dinyanyikan oleh Harry Nilsson. Kemudian direkam ulang oleh penyanyi Mariah Carey dan berhasil mendulang sukses (lagi).

Peter Ham yang sukses dengan Badfinger dan lagu-lagu ciptaannya, tidak serta merta membuat hidupnya bahagia.
Pada 23 April 1975, dunia musik dikejutkan dengan peristiwa meninggalnya Peter Ham. Dia menyudahi hidupnya dengan cara menggantungkan diri.

Sepeninggalan Peter, grup musik yang banyak memainkan pop dan rock ini pun bubar. Namun tidak lama kemudian, pada 1978, Badfinger berreinkarnasi untuk beberapa waktu.

18 November 1983, rupa nya menjadi hari yang terburuk bagi sejarah Badfinger. Delapan tahun setelah Peter Ham wafat, Tom Evans pun mengakhiri hidupnya dengan cara yang sama seperti rekannya. Bunuh diri.

Tragis !

Mas G, Terima kasih.

Salam hangat
Hendrik Worotikan

RIP Clive Burr – ex Iron Maiden Drummer

March 14, 2013

By: Yuddi Kustiadi

Kembali dunia rock dikejutkan dgn berpulangnya  Clive Burr eks drummer Iron Maiden pd 12 Maret 2013 akibat penyakit menahunnya (mutiple sclerosis) . Album yg diterbitkan bersama Iron Maiden ; “Iron Maiden”, “Killer” dan “Number of The Beast”. Clive Burr terpaksa meninggalkan Iron Maiden ketika grup ini mulai meraih sukses dgn “Number of the Beast” krn alasan kesehatan – yg kemudian diketahui mengindap mutiple sclerosis.
Pd gambar : Steve Harris (Bass), Clive Burr (Drums), Bruce Dickinson (Vocal), Dave Murray (Guitar), Andrian Smith (Guitar). 

The Flying Pralon …

March 9, 2013

By: Herwinto

Hari ini saya tidak bisa ikut progring #9 karena harus mengisi seminar di kota Boyolali dan Klaten dalam 1 hari, sore jam 17.00 baru kelar…capek juga….tapi begitu masuk rumah di meja kerja sudah tergeletak sebuah pralon yang merupakan kemasan paket yang ‘khas’ dari blog gemblung….waduuuuuhhhh……capek saya langsung sembuh begitu liat isi pralon…..sebuah kalender music for life….ternyata ini kiriman dari beliau yang terhormat Mas Herman……..gemeteran dengkul ini saking bahagianya……maturnuwun mas Herman….Gusti Alloh sing bales ya……Terimakasih buat mas G juga yang sudah ngasih alamat saya ke mas Herman…..byuuuuh byuuuuuh……..ternyata blog ini menjadikan kita seperti saudara sendiri……

Yes “9012 Live – The Solos” by Team Records

March 3, 2013

By Hippienov

Mas G, maaf mohon ijin untuk kirim foto plus sedikit kata-kata, kiranya berkenan untuk rekan-rekan blog semua. Matursuwun..

Postingan ini sekiranya hanya sebagai tambahan atau pelengkap saja dari tret nuansamatik Yes (especially part 10) yang ditulis oleh mas Herwinto. Mungkin bisa lebih seru kalo kaset ini diposting juga sebagai “footnote” saja, he3..

Ini adalah kaset Yes dari era 90125 yang pertama aku beli. Dari dulu aku rasanya enggan menyimak dan beli album 90125 termasuk live-the solos nya. Baru belum lama ini aku beli kaset ini di bang David karena tertarik dengan team records nya, he3.. Tapi malah setelah didengarkan lumayan asik juga. Meski beda tipikal teknik dengan Howe tapi Rabin (yang tadinya seumur hidupnya gak pernah tau atau denger musik Yes..how rude ya guys?) membawa warna baru dalam musik Yes yang sayangnya makin jauh dari prog.
Singkat kata meski bukan termasuk album Yes favorite tapi layak pula untuk dikoleksi, apalagi kalo rekaman Yess.. (apa Yess merilis album ini juga ya?)

Worldwide Prog..
hippienov


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 69 other followers