Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Fake Plastic Love: Incomplete Story Of RADIOHEAD

September 15, 2014

Hippienov

Bagiku Radiohead adalah band rock yang suram, murung dan kelam baik musik maupun liriknya. Band asal Inggris ini lahir pada era britpop/alternative rock/grunge di dekade 90an dan pada awalnya mereka mendompleng britpop/alternative untuk bisa diterima oleh publik, namun pada perkembangannya mereka berevolusi menampilkan musik “Radiohead” yang sesungguhnya dengan menggabungkan genre-genre musik lain dan tidak terpaku pada satu aliran musik, sehingga rasanya band ini tidak lagi ada di jalur britpop. Seperti halnya The Police saat pertama muncul mengekor musik punk yang saat itu sedang mewabah namun pelan-pelan mulai menunjukkan musik aslinya seperti yang ingin mereka sampaikan di album “regatta de blanc” atau terjemahan gemblungnya kira-kira berarti “reggae bule”.

Debut album Radiohead “pablo honey” adalah point of entry mereka di blantika musik dunia dengan hit single “creep” yang begitu sukses dan membuat nama mereka dikenal seantero dunia. Album kedua “the bends” mulai menunjukkan progresivitas Radiohead dengan tidak hanya memainkan musik yang sama dengan “pablo honey”.
Adalah album ketiga bertajuk “ok computer” yang makin menunjukkan keseriusan Radiohead untuk makin menjauh dari “gelar” britpop dengan membuat sebuah album yang menurutku sangat murung dan kelam melebihi apa yang aku dapatkan di “the bends”. Bahkan untuk membuat album “ok computer” semakin terdengar suram mereka secara khusus mencari sebuah mellotron tua yang sudah rusak kemudian merevitalisasi/memperbaikinya untuk digunakan dalam proses rekaman album ini. Mungkin karena faktor “mellotron” inilah Radiohead saat itu sempat disebut-sebut akan berubah total jadi sebuah band progrock.
Album “ok computer” juga merupakan album Radiohead yang paling aku suka dan paling sering aku dengarkan sampai saat ini. Tiap kali aku merasa “down” atau sedih maka album ini ada pada urutan pertama yang akan kudengarkan. Mungkin ini hanya sugesti namun rasanya semua perasaan sedih, gundah, kecewa yang aku rasakan seperti tertarik keluar dan diserap oleh semua lagu di album “ok computer” yang aku dengarkan.. A bit creepy but it’s true…

Namun Radiohead tidak berhenti sampai disitu, mereka terus berevolusi dan kali ini musik elektronika yang menjadi daya tarik band ini. Album “kid a” dan “amnesiac” merupakan ladang eksperimental mereka bermain musik rock elektronika yang dicampur dengan krautrock dan elemen jazz dan membuat musik Radiohead semakin sulit untuk dimengerti. Di titik ini aku mulai menginggalkan Radiohead, alasan utamanya karena musiknya yang kian aneh dan aku kecewa karena sekarang Radiohead menggunakan banyak samples “musik elektronik/computerized music” yang kurang menarik buatku. Aku baru mencoba kembali ke Radiohead di album “hail to the thief” namun album ini tidak bisa membuatku kembali menikmati musik Radiohead, dan akhirnya pelan-pelan “melupakan” Radiohead untuk waktu yang cukup lama sampai album “in rainbows” yang jadi pemberitaan karena dijual secara online dengan harga suka-suka. Namun aku tidak sepenuh hati dan tidak terlalu berharap banyak dengan album ini karena sudah cukup lama tidak mengikuti perkembangan musik Radiohead sehingga aku hanya membeli cd bajakannya di lapak Mangga Dua. Album ini cukup bagus dan bisa sedikit mengobati kekecewaanku karena nyaris tidak kudengar bunyi-bunyian samples “elektronika” tapi tetap tidak sedahsyat album “ok computer” ataupun “the bends” menurutku.

Nah, minggu lalu saat aku ber-sms-an ria dengan Mbak Indah soal musik tiba-tiba nama Radiohead pun ikut disebut. Aku jadi kembali teringat dengan band yang pernah begitu aku suka ini dan seperti biasa hal ini mendorongku untuk membuat sebuah kompilasi tentang Radiohead.
Mulailah libur weekend kemarin aku pilah-pilih lagu-lagu Radiohead dari file mp3 yang aku punya dan setelah cukup materinya kemudian aku burn dalam format audio. Kompilasi ini kuberi judul “Fake Plastic Love: Incomplete Story of Radiohead”. Kenapa incomplete? Karena gak semua album atau hits mereka yang bisa aku compile, paling gak ada 4 lagu Radiohead yang aku suka namun tidak termasuk yaitu: bones, just, the bends serta planet telex. Kenapa gak diikutkan dalam kompilasi? Karena aku gak punya file mp3 nya… Kasian…

Akhirnya, beginilah hasil jadi kompilasi gemblung ini:
FAKE PLASTIC LOVE: INCOMPLETE STORY OF RADIOHEAD.

1. Creep.
2. Amnesiac.
3. Nice Dream.
4. No Surprises.
5. Fake Plastic Trees.
6. Paranoid Android.
7. Exit Music (for a film).
8. My Iron Lung.
9. Thinking About You.
10. The National Anthem.
11. How Can You Be Sure.
12. Subterranean Homesick Alien.
13. Let Down.
14. Where I End You Begin.
15. Airbag.
16. Karma Police.
17. Myxomatosis.
18. Idiotique.
radiohead2

Banyak materi dari album “ok computer” termasuk disini dan lainnya aku ambil dari “the bends” kemudian “pablo honey” serta “kid a” dan “amnesiac” yang dulu sempat ogah aku dengarkan.
Album ini sama sekali bukan album “the best” atau “hits” Radiohead, aku lebih senang menyebutnya sebagai album tribute untuk sebuah band yang pernah begitu sering aku dengarkan dan aku suka.

Semoga tulisan gemblung ini bisa berkenan dan menghibur rekan-rekan disela-sela kesibukan pekerjaan. Mohon maaf atas kekurangan yang ada dalam penulisan dan seperti biasa matursuwun sanget Mas G untuk waktu serta kesempatan yang diberikan…

If I could be who you wanted… all the time…
hippienov.

The 40-Year ProgGraphy (4 of 40)

September 13, 2014

Gatot Widayanto

Aktuil dan Nursery Cryme: Ora Mudeng Blas

 

Photo: Courtesy of Aktuil The Legend (Pak Buyunk) without permission and ready to be taken down if Pak Buyunk is not happy with this ...

Photo: Courtesy of Aktuil The Legend (Pak Buyunk) without permission and ready to be taken down if Pak Buyunk is not happy with this …

Periode ini sebenarnya sudah mendekati pengenalan lebih dalam ke musik yang kemudian disebut sebagai progrock. Yang jelas, tahunnya pasti sebelum 1974 atau bisa jadi awal 1974.

Syahdan…

Suatu hari seperti hari-hari sebelumnya karena merupakan rutinitas saya saat masih kelas 1 SMP, saya duduk di ruang tamu dimana terdapat dua buah loudspeaker besar yang dulu biasa disebut dengan “salon” berisi speaker dengan diameter 10 inchi dan tweeter. Sepasang loudspeaker ini disambungkan ke tape deck dan ampli yang diletakkan di kamar tidur tengah, atau disebutnya ruang tidur ibu saya. Saya lupa saat itu apa saya sedang nyetel musiknya Panbers, Gembell’s, The Mercy’s atau bahkan bisa jadi kaset Deep Purple. Yang jelas memang saya sedang duduk santai menikmati musik setelah pulang dari sekolah, ya sekitar jam 1 atau jam 2 siang gitu.

Tiba-tiba kakak saya nomer dua, mas Henky, datang menghampiri saya sambil membawa kaset dan sebuah majalah. Tepatnya belau bilang begini:

“Kamu dengarkan kaset ini sambil baca artikel ini!”

Kaset yang saya terima adalah Genesis rekaman Pop Discotic namun fotonya adalah artwork album Kayak II. Memang di daftar lagunya ada tertera Side A: Genesis (tanpa judul album) dan Side B: Kayak. Saya ndelongop plonga plongo gak ngerti apa-apa saat disodori kaset dan majalah (yang ternyata Aktuil) ini. Saya baca ulasannya memang tentang band yang namanya Genesis dan itulah kali pertama saya mengenal band ini. Saya ingat sekali bahwa dalam ulasan panjang lebar tentang Genesis ini nama Peter Gabriel disebutkan beberapa kali dan lagu The Musical Box diulas panjang lebar. Kontan saya puter kaset tersebut (yang ternyata dari album “Nursery Cryme”) dan ….sumpah matek, saya gak mudeng blas dengan musiknya. Ya kebayang aja, biasa mendengarkan yang lurus-lurus seperti Child In Time, Fools, Whole Lotta Love, I Can Feel Him In The Morning dan sebagainya trus ujug2 disuruh dengerin The Musical Box yang mellow pol dan lama sekali lagunya masuk …. ha ha ha …karena awalnya hanya Peter Gabriel nyanyi diiringi petikan gitar. Pun ketika musiknya mulai gedumbrangan, saya juga masih belum JLEB! memaknai musiknya dengan baik.

Lucunya, saya malah lebih cepet bisa menerima lagu Harold The Barrel dan kemudian The Return of the Giant Hogweed. Menurut saya dua lagu ini cukup bagus buat side A dan saya sering mengulang dua lagu ini. Sedangkan The Musical Box saya malah kurang suka karena pelan banget … ha ha ha ha … Namun karena Aktuil membahasnya heboh, saya paksakan juga untuk memutar kaset ini beberapa kali meski masih tetep aja menyuai hanya Harold The Barrel dan The Return of The Giant Hogweed.

Nursery

Anehnya, justru Side B yang menjadi favorit saya karena musiknya lebih renyah dan minimum tikungan-tikungan maut sehingga kuping saya lebih cepat menerimanya. Salah satu lagu yang kemudian menjadi favorit saya adalah Woe and Allas. Wah …ini lagu keren abis bahkan hingga sekarang saya masih juga menyukainya. Melodinya ciamik dan groove nya juga kena banget bagi saya sehingga saya praktis sering REWIND bolak-balik di lagu Woe and Allas dari Kayak ini.

Begitulah awal perkenalan saya dengan Genesis yang pada saat itu tidak saya kagumi sama sekali karena terlalu pelan musiknya sehingga saya bisa dikatakan sangat jarang nyetel kaset rekaman Pop Discotic ini. Wah …kalau ingat kaset ini rasanya saya pengen memilikinya lagi. Adakah teman2 yang memilikinya? Kalau ada teman yang memiliki saya mohon mau melepasnya. Tapi kalau ada lapak kaset yang memiliki dan menawarkan harga di atas jigo, saya persilakan beliau untuk ngunthal sendiri kaset itu … ha ha ha ha ….

Kayak II

Singkat kata, pada periode ini saya udah nyerempet masuk ke ranah prog secara intens namun belum memiliki kehendak yang menggebu-gebu meski pada akhirnya saya memang menyukai album Nursery Cryme di kemudian hari setelah kenal prog lebih dalam lagi ….

Mini ProgRing @ Klaten

September 1, 2014

Gatot Widayanto

The “life” side of the blog

Biyuh pagi ini suweneng numpak sepur Madiun Jaya (ManJa) dari Madiun menuju Yogya turun di Klaten dengan satu tujuan: mini progring sekaligus silaturahim dengan master of The Flower Kings, The Koh Win. Kereta ManJa ternyata nyaman sekali dan tepat waktu. Senang sekali saya naik kereta ini karena murni buatan Madiun oleh INKA dan melayani rute untuk profesional, mereka yang bekerja di Yogya dan juga masyarakat pada umumnya, tentunya. Sepanjang perjalanan saya menikmati lagu2  progclaro via iPod sambil menikmati pemandangan alam pedesaan di rute KA. Sayapun menggunakan google maps utk memantau kapan saya akan landing di Klaten. Alhamdulillah GPS nya google memuaskan sekali sehingga setiap saat saya ndak perlu tanya orang kereta sudah sampe mana. Terima kasih Eyang Google ….

Slide1

1. Eksterior kereta ManJa, 2. Interior kereta ManJa, 3. Pemandangan hijau di seberang rel kereta, 4. Stasiun Klaten.

 

Alhamdulillah tepat pukul 08:30 sudah mendarat di stasiun Klaten dan langsung saya jalan2 di Jl. Pramuka depan stasiun Klaten sekalian menghangatkan badan setelah kedinginan selama 3 jam lebih di dalam kereta. Sungguh, saya sangat menikmati aktivitas ini karena memang saya selalu penasaran dengan kota orang lain, apalagi baru kali ini saya menginjakkan kaki di tanah Klaten. Bagi saya yang sumpek dengan kehidupan kota besar yang serba dusel-duselan, berjalan di Jl. Pramuka, dan kemudian Jl. Pemuda, merupakan suatu kenikmatan tersendiri. Sambil mbopong ransel, saya nikmati suara langkah kaki saya dan sepinya jalan yang saya lalui sambil tengok kanan kiri lihat ada warung atau kegiatan apa di pinggir jalan. Suatu hal yang sungguh menyenangkan bagi saya dan yang penting: menyegarkan jiwa raga …..

Tugu ciri khas Klaten di depan SPBU

Tugu ciri khas Klaten di depan SPBU

Kopi angkringan dan kacang oncek

Kopi angkringan dan kacang oncek

-
Setelah jalan sekitar beberapa ratus meter Koh Win menyapa saya di suatu perempatan, tepatnya perempatan Polsek, dimana ada warung kambing pak Codot. Seru banget namanya …codot ….ha ha ha ….

(Belum selesai nulisnya nih ….ntar mau menikmati ketan srikaya masakan Nyonya Herwinto ….mak nyus).

Koh Win ternyata akan menjemput putri bungsunya yg sekolah TK dan saya lanjut jalan menyisir jalan Pemuda. Saya nikmati setiap langkah saya menuju nowhere sambil jeprat jepret kamera HP buat capture beberapa spot yang menarik saya; dan akhirnya nangkring di warung angkringan sambil menikmati kopi tubruk tanpa gula tanpa susu. Nikmat duduk sendiri kethap kethip sambil menikmati kesibukan Klaten. Ini jelas merupakan suatu hal yang jarang saya lakukan di kota sibuk seperti Jakarta. Meski Jl Pemuda ini sibuk, namun tetep nuansa kesibukannya lain dan memang enak buat dinikmati.

 

-
Beberapa menit kemudian Koh Win nyamperin saya di angkringan dan mini progring tahap 1 digelar sambil menikmati kacang dan gorpis. Sebenernya kami tak lama berada di kopi angkringan ini namun karena masih ada sisa kacang oncek yang belum selesai dimakan dan juga kopi saya masih kemedhul maka obrolan kami mulai dengan cerita Koh Win yang sedang menikmati King Crimson era 90an, album live. Obrolan tentang KC pun mengalir renyah sampe akhirnya kami putuskan pindah tempat ke kuliner lain. Memang sejak dari Madiun saya sengaja gak sarapan biar mantab kulineran di Klaten. Akhirnya kami pindah ke Soto Mbok Giyem yang memang manteb njegreg rasanya. Meski sambil nyoto, kami ngobrol ngalor ngidul termasuk sejarah ngeprognya Koh Win plus riwayat singkat Pelita Harapan – The most promising learning centre for Klaten future generation ….Sebenarnya gak hanya buat Klaten aja sih PH nya Koh Win ini karena ini merupakan strategi bisnis Koh Win aja untuk menyikapi persaingan ketat dengan nama-nama yang sudah “branded” . Kalau istilahnya pakar pemasaran Philip Kotler, strategi yang diterapkan Koh Win ini disebut “flanking strategy” yakni menyerang kompetisi dari sayap dulu sambil memperkuat brand image melalui daerah di sayap2 Solo: Klaten, Boyolali, Sukoharjo dan ….(lupa saya). Nanti kalau sudah kokoh di sayap, sedikit demi sedikit menyerang jantung kota dan meluluh-lantakkan pesaing yang saat ini mendominasi. Strategi yang jitu! Koh Win gitu loh! he he he …. Memang bener sih …kalau PH ini di awal2 sudah head-to-head dengan pemain yang lama dengan brand yang sudah kuat ya bakal capek ditengah, kurang kuat …dan bisa loyo tak bertenaga. Namun PH dengan flanking strategy nya kelihatannya sudah cukup kokoh di empat daerah tumpuan tersebut dimana Klaten sebagai pusat kendali utama.

Oh ya .. Soto Mbok Giyem ini mengingatkan saya akan Soto Pak Djan di depan kolam renang Purboyo di Madiun jaman saya masih SMA dulu. Jangan tanya enaknya, namun tanyalah lauk apa saja yang disediakan menemani santapan soto. Banyak sekali ragamnya namun yang paling cucok bagi saya ya tempe. Dan untuk semangkuk soto, saya memerlukan nguntal tiga buah tempe. Ha ha ha ha … mantab jaya suprana tenan! Meski dilatarbelakangi lagu non progclaro, tetap aja progring di sini mantab….Barulah kemudian kami menuju rumah Koh Win yang sekaligus merupakan markas besar Pelita Harapan.

Soto Mbok Giyem and  its associated accessories ... Muwanteb njegreg pol!

Soto Mbok Giyem and its associated accessories … Muwanteb njegreg pol!

Tempatnya strategis dan di depan Pelita Harapan ada kafe yang sayangnya buka hanya sore hingga malam hari, sehingga kami tak bisa menikmati kopi di situ. Komplek PH ini menempati areal tanah cukup luas sekitar 1000 M2 dengan empat kelas belajar. Masing-masing kelas berisi kapasitas sekitar 20 orang kecuali ada satu kelas yang besar, bisa muat lebih banyak lagi. Meja kerja Koh Win berada diantara empat ruang belajar tersebut dengan meja yang lengkap fasilitas desk top komputer serta blog gemblung MfL yang terpampang di layarnya. Ha ha ha …seru juga, kerja sambil ngeblog. Rumah Koh Win dan keluarga ada di bangunan paling belakang dari komplek ini. Yang paling asik, di belakang bangunan permanen ada hutan kecil berisi pohon jati plus beberapa ayam peliharaan Koh Win. Saya berada di rumah Koh Win dan Komplek PH ini cukup lama atau sekitar 3 jam lebih hingga sekitar pukul 14:00. Selama progring kedua buah hati Koh Win juga ikut: Fajar (kelas 4 SD) dan Ifah (usia TK). Hidangan mak nyus berupa ketan srikaya buatan Ny. Herwinto menemani obrolan kami sambil ngopi tubruk menggunakan mug karya mas Andria bernuansa IQ. Koh Win juga dapat kiriman mug dari mas Andria lewat saya yang ternyata isinya Iron Maiden. Kami sempat heran …kok Koh Win suka IrMa ya? Rupanya salah kirim …bukan salah alamat lho! Ha ha ha ha …

Koh Win di Pusat Kerajaan Bisnisnya - the "spectacular" Pelita Harapan ....

Koh Win di Pusat Kerajaan Bisnisnya – the “spectacular” Pelita Harapan ….

-

2014901105733

-

Koh Win dengan si Bungsu berpose di dalam salah satu raung belajar ber AC.

Koh Win dengan si Bungsu berpose di dalam salah satu raung belajar ber AC.

Meja kerja Koh Win dengan desk top computer yang layarnya adalah Music for Life ...

Meja kerja Koh Win dengan desk top computer yang layarnya adalah Music for Life …

Kudapan ketan srikaya dengan aroma duren, made by Ny. Herwinto

Kudapan ketan srikaya dengan aroma duren, made by Ny. Herwinto

Progring santai di markas Pelita Harapan

Progring santai di markas Pelita Harapan

Dalam perjalanan Klaten – Solo (bandara) diantar Koh Win, kami sempat mampir di kuliner mantab yakni sate tengkleng Mbok Galak yang kata Koh Win “klasik” banget tempat ini. Namanya aja sudah galak, apalagi rasanya …pasti guwalak pol! ha ha ha ha ha ……

Whoooaaaa… makan lagi …makan lagi … Kami nyantap tongseng dan sate, termasuk sate buntel. Sambil menyantap kuliner Mbok Galak kami ngobrol lagi ngalor ngidul sembarang kalir. Singkat cerita, progring @ Klaten berakhir pukul 17:00 ketika saya diantar Koh Win ke bandara Adi Soemarmo. Terima kasih Koh Win atas kesempatan luar biasa untuk mini progring di Kota Klaten dan Solo. Suiiiipppp!!! Terima kasih atas persahabatan yang dimulai dari dunia maya ….

Sate dan tongseng Mbok Galak

Sate dan tongseng Mbok Galak

 

Siap disantap ...

Siap disantap …

-

Yes Tinggal Sejarah: Tanggapan terhadap Review “Heaven & Earth”

August 24, 2014

Herwinto

Miris saya membaca review album baru Yes Heaven & Earth di progarchives, hanya mendapat 2 bintang, turun satu bintang

image

dibanding Fly From Here…punah sudah impian dan harapan saya akan mendengarkan album yang bagus dari band ini, memang saya belum mendengarkan sendiri lagu lagunya, namun membaca reviewnya saja saya sudah lemes dan gak punya semangat lagi untuk mencobanya…terus terang saya memang fans berat band ini, sulit bagi saya menerima kenyataan ini….maafkan saya Mr Howe…mungkin saya bukan fans yang loyal lagi…namun loyal dan kesetiaan saya harus saya berikan karena apa lagi? bukankah karena karya karya emas yang selama ini saya kagumi….kadang saya juga merenung apakah saya terlalu egois?? sehingga memaksa maksa Yes untuk berkarya seperti tahun tahun keemasannya..bukankah mereka bukan lagi anak anak muda tahun 70 an, bukankah mereka telah mencurahkan segenap kekuatan fisik dan fikiran mereka untuk mentorehkan maha karya yang akan dikenang sepanjang jaman? bukankah mereka telah mempersembahkan Close To The Edge dan Gates Of Delirium yang tak tertandingi lagi….yah…akhirnya saya hanya bisa menghibur diri saya sendiri….mereka lebih tahu apa yang bisa mereka lakukan…mereka telah berupaya..mereka telah berusaha….berusaha memberikan yang bisa mereka kerjakan….walhasil semua terserah kepada yang menilai….satu yang membanggakan adalah cover album mereka setidaknya memberi warna progresif yang tulen…Yes tinggal sejarah…..jadi tidak perlu kita paksa untuk berkarya sesuai keinginan kita,….toh live live mereka juga mengusung nomor nomor lama mereka….bagi saya musik mereka telah reinkarnasi ke grup grup baru semacam The Flower Kings, Spock’s Beard, Transatlantic dan seterusnya…merekalah penerus estafetnya!!!

Bagaimana Musik Bisa Menolong Saya?

August 22, 2014

Gatot Widayanto

Tiba-tiba saya ingat dengan tret selengekan yang pernah saya tulis bulan lalu namun tak saya posting di blog gemblung ini. Saya jadi merasa perlu reblog di sini karena kisah ini menggelikan namun pada saat bersamaan juga ada keterkaitan antara musik dengan kehidupan profesi. Kok ya pas sekali, hari Rabu lalu saya diundang oleh calon klien dimana saya memang sebelumnya saya sudah kenal. Satu namanya pak Yos yang dulu pernah bekerja sebagai konsultan dan bareng2 tinggal di Purwakarta selama sekitar dua bulan karena tugas sebagai konsultan. Saya dengan pak Yos sama2 penggemar prog dan saat di Purwakarta kami menikmati album TFK “Adam & Eve” bareng2 di Guest House klien kami (PT South Pacific Viscose). Satu lagi adalah Pak Nanang yang tak lain adalah kera ngalaM dan sahabatnya Noldy (gitaris prog nan top) dan juga Anung (temen saya dulu di Citibank). Pada saat kami berbicara mengenai potensi pekerjaan dimana saya bisa atau mungkin berkontribusi, tiba2 pak Nanang menyebut kalimat “…not just numbers”. Kontan saya sela: “Sudah denger belum lagu bertajuk Numbers dari album TFK?”. Kontan kami meledak tawa karena di tengah dunia profesi kok membahas musik prog —- huopo tumon? Ha ha ha ha ….

Selepas diskusi di pagi hari, saya ditraktir makan siang oleh pak Yos dan Pak Nanang makan Sate Senayan di Emporium Mall, Pluit. Makan siang itu pembicaraannya ya fokus pada musik saja. Termasuk pak Nanang ini membicarakan konser Indonesia Mahardhika di Grand Indonesia tgl 21 Agustus. sayang saya gak bisa hadir. Namun trus pak Nanang ini membahas tulisan saya bertajuk: “Bagaimana Saya Bisa Melupakan Tanggal 22 Juli?” yang menurut dia kocak pol dan sering dia bahas dengan teman2 komunitas ngalaM yang suka prog (mana ada anak Malang gak suka prog? Mas Kukuh kan bukan kera ngalaM, tapi kera nDhiwek ….ha ha ha ha …). Akhirnya kami bertiga nguwakak pol dengan tulisan yang saya buat tersebut. Bagaimanakah bunyi tulisan tersebut? Berikut ini saya COPAS aja ya tulisan yang aslinya saya tulis tanggal 14 Juli 2014 yang lalu. Ini dia:

Bagaimana Saya Bisa Melupakan Tanggal 22 Juli?

Marillion_heartoflothian

Mustahil saya bisa melupakan tanggal tersebut karena begitu pentingnya dalam perjalanan hidup saya secara pribadi. Semuanya diawali dengan kunjungan dua orang teman saya Djarot dan Heru yang sudi datang ke rumah ibu saya di Tebet. Sebenarnya dua nama yang saya sebut tersebut bukan saya kenal dengan baik sebelumnya . Namun atas kebaikan mereka berdua dan tentu ijin dari Allah Tabaroka Wa Ta’ala akhirnya mereka berdua mendatangi saya yang ketika itu tinggal bersama ibu di Tebet. Tujuannya satu: mengingatkan saya agar memenuhi panggilan wawancara dari PT McDermott Indonesia yang berkantor di Menteng, Jakarta ketika itu.Saat itu saya sebenarmya wegah (gak mau – red.) karena udah menikmati enam bulan jadi Salesman nya PT Metro Data Indonesia, ngejual Wang computer (sekarang brand ini udah qoit). Tapi akhirnya saya ikuti wawancara di Menteng tersebut dilanjut ke Pulau Batam.

Ya, ini adalah awal karir saya di PT McDermott Indonesia, Pulau Batam pada dua puluh sembilan tahun yang lalu, tepatnya pada tahun seribu sembilan ratus delapan puluh lima. Itulah kali pertama saya naik montor mabur (pesawat – red.) dan pertama kali saya ngomong boso Londo (bahasa Inggris – red.) dengan orang Londo beneran yaitu Chief Divisional Engineer yang bernama George Stapleton, orang Amerika.

Tentu saya senang sekali dapat tiket gratis naik montor mabur yang sampai lulus kuliah pun baru terbayang saja statusnya bagi saya. Alhamdulillah, pikir saya …kapan lagi iso numpak montor mabur. Wawancara nya dengan George ndak penting ….sing penting isok numpak montor mabur. Biyuh …saking ndesitnya saya saat pramugari mendemonstrasikan life vest under your seat, saya clingukan liat pelampung itu di bawah kursi saya dan hampir saja saya ambil. Jiyan …norak pol!!!!

Trus …saat wawancara dengan George, saya gak faham bahasa londo selain apal liriknya Marillion “Misplaced Childhood” yang saat itu saya gandrungi dan semua liriknya saya hafal luar kepala hampir semua lagu. Jadi, saya masuk ke ruangan George dengan semangat “I was born with the Heart of Lothian” artinya opo aku ora ngerti …sing penting maksudku saya mau bilang bahwa saya punya kepercayaan diri untuk bekerja. Soale aku iki wong Mediun, kidule Lothian kambek lore Mylo ..wakakakakak …. Wawancaranya menyeramkan karena sembilan puluh persen yang dikatakan George saya ndak mudeng blas. Ketika ditanya harapan gaji dari saya berapa (mungkin karena dia lihat saya udah pengalaman kerja meski 6 bulan ya), jawaban saya pun tegas:

“Just leave me alone with my thought ….”

Dia manggut2 kirain bahasa Inggris saya mantab kali. Padahal itu kan hanya liriknya Marillion aja … ha ha ha ha ha ….Untung gak saya tambahin ini:

“Oh …just run away …”(dhuk dhuk dhuk thak ,,,suara drums Ian Mosley)
“Oh …run away ….!!!!”

Kalau penggalan lirik ini saya nyanyikan juga pasti George makin bingung. Saya haqul yaqin dia gak tahu Marillion karena selera musik wong Amerika kuwi rak ndesit ..senengane muk Bruce Tin Tin wae …ora prog blasz ….wakakakakakakakak …(mugo2 koncoku sing londo Amerika ora moco iki …ben aku ora di unfriend..wakakakakak)

Singkat cerita, saya akhirnya diterima di PT McDermott Indonesia, Batam Island dan tanggal masuk kerja saya adalah: 22 Juli 1985.

Alhamdulillah ….

Yes Goes Pop

June 19, 2014

Hippienov

image

Tulisan ini merupakan usahaku menjawab “tantangan” sedulurku Pak Dokter Spesialis Paru van Suroboyo untuk mencoba membuat kompilasi lagu-lagu Yes yang tidak atau kurang nuansamatik. Namun akhirnya aku putuskan untuk menghindari menghujat Yes dengan tidak membuat kompilasi dengan tendensi seperti niat awalku kemudian menamai kompilasi ini “the bad of Yes”. Karena bisa jadi lagu-lagu Yes yang menurutku “jelek” bagi sebagian orang adalah favorite mereka. Takutnya ini bisa jadi pemicu ketegangan antar penggemar Yes nantinya. Lagipula se-kurang “prog” bagaimanapun karya Yes dan walaupun aku tidak menyukainya, aku akan selalu menaruh hormat dan simpati pada band yang pernah menjadi salah satu raksasa prog-rock era 70an ini. Rasanya aku tidak akan pernah mengenal musik “nirwana” prog-rock kalo gak ada kaset “tales from topographic oceans” (Yess Records) yang dipinjamkan teman kuliahku dulu (setelah Genesis “selling england by the pound”). Atas dasar alasan ini maka aku lebih nyaman untuk membuat kompilasi lagu-lagu Yes yang cenderung nge-pop dan menamai kompilasi ini “Yes Goes Pop”. Tidak ada salahnya sebuah band prog mencoba nge-pop apapun dasar alasannya, Genesis, E.L.P, P.F.M, Gentle Giant, Marillion pun melakukannya.

Lebih lanjut, untuk menghargai karya-karya klasik Yes mulai dari album Yes sampai Drama maka kompilasi ini hanya memuat lagu-lagu Yes dari era 80an (90125) dan selanjutnya. Namun tentu saja dikarenakan keterbatasan daya tampung blank cd yang hanya cukup 80 menit maka kompilasi ini hanya bisa memberikan sekelumit gambaran umum tentang karya-karya “pop” Yes. Sebanyak 16 lagu Yes tersaring masuk dalam kompilasi dengan total durasi sekitar 79 menit 43 detik. Sebenarnya durasi 16 lagu ini kalau dijumlahkan akan lebih dari 80 menit, dan karenanya 2 lagu terakhir terpaksa aku edit tanpa mengurangi esensi dan keindahan lagunya, “big generator” aku edit sedikit di bagian intro dan “dangerous” pada bagian intro serta outro. Kerennya seperti “radio edit” atau “single edit” tapi ini versi gemblungnya Hippienov, hahaha… Mengapa 2 lagu ini yang di-edit? Karena setelah aku screening keseluruhan 16 lagu, 2 lagu ini yang paling mungkin di-edit dan masih terdengar bagus meski sudah melalui editing, sedangkan lagu-lagu yang lain akan terkesan maksa jika di-edit.

Satu hal yang mengkhawatirkan adalah setelah cd ini selesai di-burn dan aku spin beberapa kali kok aku seperti “jatuh cinta” dengan lagu-lagu yang ada di dalamnya ya? Lah ini sangat membahayakan karena aku tidak mau nantinya dikelompokkan ke dalam fans Yes kategori “generator” (seperti istilah Koh Win), padahal selama ini aku dengan yakin menyebut diri Yes “trooper”. Berikut adalah songlist nya:

1. Rhythm of love, 2. The calling, 3. Lightning strikes, 4. Owner of a lonely heart, 5. Teakbois, 6. Almost like love, 7. It can happen, 8. To be alive (hep yadda), 9. Open your eyes, 10. State of play, 11. Hold on, 12. Love will find a way, 13. Love shine, 14. Holy lamb, 15. Big generator, 16. Dangerous.

Semoga saja lagu-lagu tersebut betul-betul bernuansa pop tapi kalau masih ada yang nyerempet-nyerempet nge-prog mohon dimaafkan, hehehe…

Demikian sharing ku tentang kompilasi Yes Goes Pop ini, semoga berkenan dan mohon dimaafkan atas kekurangan yang ada. As always, many great thanks to Mas G untuk waktu serta kesempatan yang diberikan and also untuk rekan-rekan gemblungers yang sudah sudi mampir membaca.

Progger goes pop… hippienov

Dahzyatnya The Flower Kings (8 of 15)

June 6, 2014

Herwinto

image

Sudah lama saya mendapat informasi bahwa Paradox Hotel adalah album TFK yang berat, sulit dicerna, karena itu saya sungguh mempersiapkan diri untuk mendengarkannya, konon album ini seperti Topographic nya Yes..berbeda dengan Banks Of Eden yang karena katanya bagus banget, sehingga saya sangat ‘pede’ untuk mendengar, namun justru gak nyambung, namun Paradox Hotel ini malah langsung nyambung mungkin karena faktor ketakutan itu, justru hati saya malah sangat siap…

Album ini adalah album konsep terdiri dari dua disk, terdiri dari dua cerita yakni Room 111 pada CD1 dan Room 222 pada CD 2, musiknya memang tidak dinamis layaknya album TFK yang lain, mungkin inilah faktor mereka yang menyukai musik rock yang dinamis menjadi kesulitan menerimanya karena musik di album ini cenderung merayap…agak mirip mirip Pink Floyd lama lah…mungkin istilah tepatnya begitu kuat unsur psikedelic nya. Bahkan bebunyian piano nya juga lumayan kental. Sangat tepat dan nikmat bila didengarkan di malam hari yang sunyi….mas Gatot bahkan baru bisa ‘kena’ setelah spin yang ke 11…he he he apalagi penyuka ”musik logam” gak sabar lah….

Dirilis tahun 2006, dengan drummer baru Marcus Liliequist, dengan track list Room 111 : Check in, Monsters and Men, Jealousy, Hit Me With A hit, Pioneers Of Aviation, Lucy Had A Dream, Bavarian Skies, Self Consuming Fire, Mommy Leave The Light On, End On A High Note. Room 222 : Minor Giant Steps, Touch My Heaven, The Unortodox Dancing Lesson, Man Of The World, Life Will Kill You, The Way The Waters Are Moving, What If God Alone, Paradox Hotel, Blue Planet.

Lagu yang sangat keren menurut saya adalah Monsters And Men 21.21, Self Consuming Fire 5.49 dan Blue Planet 9.42 saya sangat menyukai track ini…adem hati ini mendengarkannya, drum nya Marcus juga tob banget, bebunyian kibor nya juga indah sekali…mendengar album ini memang butuh ketenangan hati dan pikiran, seperti ketika mendengar Lamb Lies Down nya Genesis penuh lika liku warna warni, What If God Is Alone adalah nomor favorit sahabat saya di Aceh mas Khalil, semoga Beliau membaca tret ini dan berkenan mengomentari What If God Is Alone….kata beliau lagu ini membahas ketuhanan dengan sangat apik…membuat siapa saja yang mendengarnya pingin masuk surga….tuobz….singkat kata album ini seperti kata mas Gatot ”Great Music, Great Musicianship”..Salam!!!

Skid Row s/t

June 3, 2014

Andria Sonhedi

image

saya baca pertama grup Skid Row di majalah Hai di halaman Musik Hai. jaman dulu itu panduan beli kaset (wl tak 100% akurat). makanya saat ada yg jual di lapak Bringharjo saya coba beli. ternyata lagu2nya lebih keras dari Bon Jovi. saat itu lagu 18 and Life, Youth Gone Wild & I Remember You belum terkenal, baru mulai dikenal perlahan oleh publik. sampul album yg hitam putih dgn logo Skid Row warna merah agak beda dgn artwork album2 hair metal saat itu. Jon Bon Jovi adalah yang musisi yang membawa Skid Row ke gerbang kesusksesan walau dgn perjanjian pembagian royalty atas penjualan album2 Skid Row. sampai saat ini kabarnya perjanjian itu selalu disesali Dave Sabo sang sahabat Bon Jovi. sebenarnya musik Skid Row lebih asik lagi kl didengarkan sambil melihat live mereka (kl videoklipnya sih biasa). pembajak glodog kl tak salah pernah mengeluarkan 2 video bootleg Skid Row, atau resmi tapi tak berkualitas tinggi. kita bisa melihat Sebastian Bach (aslinya bernama Sebastian Bierk) sang vokalis krempeng nyanyi sambil berjalan kian kemari. personil Skid Row pada album ini adalah Dave Sabo : bass Rob Affuso: drum Rachel Bolan: gitar Scotti Hill: gitar Sebastian Bach: vokalis beberapa kali saya bawa kaset Skid Row ini nyetir jarak jauh dan semua lagu di album ini bagus semua (utk kuping saya) utk nemani perjalanan. durasi lagu2nya pendek tapi pas. 1. “Big Guns”3:36 2. “Sweet Little Sister” 3:10 3. “Can′t Stand the Heartache” 3:24 4. “Piece of Me” 2:48 5. “18 and Life” 3:50 6. “Rattlesnake Shake” 3:07 7. “Youth Gone Wild” 3:18 8. “Here I Am” 3:10 9. “Makin′ a Mess” 3:38 10. “I Remember You” 5:10 11. “Midnight / Tornado” 4:17

Sebastian Bach dipecat ditahun 1996, setelah itu Skid Row wl tak secara resmi bubar tapi tak ada kabar beritanya. barulah tahun 1999 Skid Row bangkit lagi namun tanpa Bach & Rob Afuso (drum). sampai saat ini tak ada pernyataan resmi Skid Row yang asli akan bereuni.

Yes “Malam Sunyi”

May 28, 2014

Herwinto

image

Jika mas Hippie telah membuat kompilasi Yes ” Ballad ” maka saya juga mempunyai kompilasi Yes yang saya beri judul ” Malam Sunyi “. Ini sebenarnya adalah kumpulan lagu lagu Yes yang ada di playlist saya yang sering saya putar di keheningan malam. Lagu lagunya adalah kesukaan saya yang asyik diputar di saat malam telah beranjak larut….ini adalah hasil penggalian semua lagu lagu Yes dari semua versi yang pernah ada.

01. Dear Father (early version 2)

02. Harold Land (Yes 1969, studio)

03. Survival (Yes 1969, studio)

04. Looking Around (Yes 1969, studio)

05. Everyday (single version)

06. Soon (single edit)

07. Vevey (Going For The One, bonus)

08. Turn Of The Century (rehearsal)

09. Abilene (Tormato, bonus)

10. You Can Be Saved (Tormato, bonus)

11. In To The Lens (single version)

12. Tempus Fugit (unissued)

13. Changes (90125, studio)

14. Love Will Find A Way (edited version)

15. Vultures In The City (ABWH, bonus)

16. Angkor Wat (Union, studio)

17. The Endless Dream (Talk, studio)

18. Time Is Time (Live From Tsongas)

19. Crockscrew (Live From Lyon)

20. Children Of Light (KTA 2, studio)

21. Sign Language (KTA 2, studio)

Lagu lagu tersebut saya pilih karena nuansa yang saya sukai, sebagai contoh Turn Of The Century, versi rehearsal nya bikin ngguweblak karena melodinya nunjek banget dan masih pakai gitar elektrik coba deh….kuereen….demikian juga Dear Father yang early version….wah nangis deh…..hammond nya bikin rindu dengan almarhum ayah….Crockscrew… hadeeeeh

kalau denger sekali kurang, pasti pingin nambah….Haroldland didengerin pas malam sangat sunyi uwediyaaaan indah sekali…….semoga rekan rekan mau mencoba….Salam!!

Mini Progring di Klaten

May 25, 2014

Andria Sonhedi

image

hari ini saya dikarunia Tuhan beberapa kebahagiaan. yang pertama adalah musibah kecelakaan 2 minggu lalu yg menimpa saya bisa dibereskan dengan damai (tanpa melibatkan “yang berwajib”). keluarga besar yang kena musibah (dan Alhamdulillah sdh berangsur sembuh) malah mengajak kami makan bareng trah mereka yg kebetulan hari ini berkumpul di klaten.

kebahagiaan kedua adalah bertemu kembali dengan pak Herwinto/Koh Win yang sampai 3 x gagal saya temui di kediaman beliau. kali ini saya bisa langsung bertemu beliau dikediamannya di kelurahan gayamprit, Klaten. walau cukup singkat karena saya & keluarga juga masih ada urusan ke Solo sorenya namun setidaknya peristiwa ini menghasilkan foto seperti yg saya pasang ini, 3 insan berbadan subur (termasuk anak saya). kami malah nggak sempat ngobrol ttg musik prog (yg bagi saya cuma sebagian dari musik kesukaan saya) tapi semoga lain waktu kami masih bisa bersua karena pak Herwin mengoleh-olehi saya 1 paket cd kopian IQ beserta beberapa cd grup lawas lainnya (termasuk Rick Wagiman) dgn harapan tentunya agar kita bisa membicarakannya di lain waktu.

–evil has no boundaries


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 145 other followers