Halo temen2ku yang suka ngonbrol santai ngalor-ngidul, ngetann-ngulon, di blog gemblung ini …
Beberapa hari ini saya refleksi terhadap apa yang selama ini kita lakukan dalam kaitan dengan musik yang merupakan kegemaran kita semua khususnya begitu kita tiba-tiba merasa secara emosional terikat ketika ada salah satu temen kita membahas hal-hal terkait kaset utamanya yang bajakan. Gak tahu kenapa begitu kaset dibahas seolah ada daya magnet kuat yang “nyirep” kita buat mencoba menyelami aspek artistik dan nostalgik terkait kaset. Betapa bisa dilepas dari masalah artistik sebuah kaset rekamana jadul yang penampilannya sungguh sangat beragam kayak jemuran karena warna-warni. Saya merasakan hal ini sendiri karena setiap pulang kerja rasanya hati ini tenteram bila telah melihat rak kaset dari rekaman apapun. Ada beberapa perekam yang akhirnya mencoba menampilkan desain kaset yang sama seragam atau per tema musik: rock, pop atau jazz. Di sisi lainnya tentu aspek nostalgiknya dimana sebagian besar dari kita ini mengenal bahkan menikmati musik dari kaset yang informasinya suka acak adul namun anehnya justru kita menikmati.
Kemudian saya bertanya: apa sih yang kita cari dari musik jadul dan media yang merekamnya? Apakah kita ini pengen kembali ke masa silam yang menurut sebagian dari kita merupakan masa indah, meski bagi saya juga ada pahitnya. Gimana gak pahit, wong beli kaset aja musti nabung berbulan-bulan atau sementara “ijol-ijolan” kaset dengan temen sealiran seperti dengan Bagus Sudaryanto, Didik Rudiono, Eko Bayu Sasmito (Bolek) atau mendapat hibah dari kakak saya mas Henky, mas Jokky atau mas Boedi. Bahkan dulu ada rumus tak tertulis: kalau salah satu temen sudah punya kaset tersebut, sebaiknya kita beli kaset yang lain biar gak dobel. Edan juga …masih kecil saja pikiran kita sudanh “holding company” sampe konsep kita masa kecil diadopsi lho sama industri pupuk Indonesia yang akhirnya menjadi PT Pupuk Indonesia. Ha ha ha ha … Jik cilik methisil tapi akeh idene, amargo kepekso … ra nduwe duwik soale! Ha ha ha ha ha …
Hebat ya kita ini, masih kecil saja sudah berpikir tentang “asset acquisition” dimana masing2 individu yang membeli kaset tetap pengakuan asset nya oleh individu dan boleh di thok (stempel) dengan nama yang sangar: “Property of GWH – the famous rocker” … Famous apane? Wong mung kolektor kaset wae kok! Ha ha ha ha ha…. atau stempel: “Milik Bolek – Dilarang Pinjem!” ….atau …”Milik Bagus – Not for Sale” … Wis jiyaaannn enek2 wae cah-cah cilik mbiyen.
Mengenai pembatasan beli kaset agar tak dobel atau istilahnya McKinsey (perusahaan konsultan paling top di dunia setelah ValueQuest…) adalah “co-sharing” adalah kaset berikut ini:
- Band cewek The Runaways, saya ndak boleh beli karena Didik sudah punya rekaman Nirwana
- SNAFU, saya ndak boleh beli karena Didik sudah punya rekaman Orient
- Status Quo / Alex Harvey Band saya ndak boleh beli karena Bagus sdh punya rekaman BASR (untungnya salah satu kaset empat rak yang akan diamanahkan ke saya oleh mas Pri ada juga kaset ini …horeeeeee!!!)
- Led Zeppelin ‘The Song Remains The Same’ saya ndak boleh beli karena Bagus sudah punya rekaman Perina
- Temen saya lainnya ndak boleh beli Mahogany Rush “Strange Universe” karena saya sudah punya Nirwana LP Series
- Heavy Metal Kids, Didik sudah punya, saya ndak boleh beli.
- Temen saya ndak boleh beli Triumvirat “Spartacus” rekaman Perina Aquarius hitam-putih, side B nya The Nice – karena saya sudah punya…..
Dan masih banyak lagi lho. Herrraaaan … Kok saya masih hafal ya? Padahal itu kan kejadian 35 tahun lebih yang lalu? Apa gerangan begitu bercokol di kepala saya menjadi ingatan menahun? Itulah hebatnya daya magnet yang diciptakan dari kotak kecil yang namanya kaset. The design and the packaging were so captivating for most of us – so it has STICKED deeply into our minds ….
Itu semua di atas saya uraikan hanya dari satu perspektif: penikmat musik. Bagimana dari perspektif pemusiknya sendiri?
Beberapa tahun lalu saat siaran di radio Trijaya FM dalam program “Saturday Night Rock” saya mewawancara mas Keenan Nasution. Saat itu saya begitu anthusias bertemu dengan beliau dan begitu kagumnya saya terhadap lagunya bertajuk “Negriku Cintaku” sampai akhirnya saya bilang begini: “Mas Keenan … saya sebagai penikmat musik bener2 gak habis pikir, kalian ini sebagai musisi waktu menciptakan lagu Negriku Cintaku itu sedang mabuk apa sih ? Kok bisa bikin lagu super dahzyat begitu?”. Saya bertanya dengan penuh anthusias saat itu. Tahukah jawaban dia apa? “Ya, kita santai aja coba sana, coba sini sampai akhirnya jadi lagu” , jawabnya enteng tak bersemangat. WHOOOAAAA!!! Ini gimana yah .. kok terjadi kesenjangan luar biasa: di satu sisi si penikmat mengagumi, sementara itu si musisi menganggap enteng saja … Wah! Ndak adil nih …!!! Kita ini terlalu lebay ya kali??? Ha ha ha ha …
Reinventing the Future
Jadi kisah panjang lebar di atas, jelas sekali bahwa sebenernya kita semua tak ingin kembali ke masa lalu. Kita menyukai musi masa lalu dan nuansanya semata karena satu hal: menyemangati diri kita sendiri atau bahasa Jowonya mencoba “Reinventing the Future”. Opo maneh iki? Wis to ora usah bingung. Intine mung siji: mengenang musik jadul buat merajut masa depan gemilang. Yo pow ra? Meskipun kita menikmati musik dengan santai lho ya … pasti in some ways menyemangati kita buat kerja dan berkarya. Itupun saya buktikan saat menulis ini sebenernya saya sedang menulis laporan dari kajian saya terhadap pengembangan organisasi beberapa lembaga riset di negeri ini. Lha … saya kok semangat sambil ditemani kaset jadul seperti Heavy SLow 2, 7 dan 11 dari Yess, juga Super Slow Selection (Pop Discotic). Rasanya nuansamatik kemlithik jadulsonic pol! Suwemangaaaattttzzz!!!
Lantas apa kaitannya dengan perspektif musisi saat saya cerita tentang mas Keenan? Intinya, mereka memang berkarya buat musik yang indah. Namun yang membuat hidup bergairah sebenernya ya kita ini, kaum penikmat musik. Kalau kita ndak keranjingan sama Negriku Cintaku, Swara Maharddika, Choppin Larunk dsb. maka musisi mungkin juga tak kan bersemangat menciptakan lagu. Bener gak sih? Artinya, peran kita sangat vital meski kita ini dari wacana dunia musik adalah pasif adanya – tak mencipta, hanya menikmati atau misuhi (kalau musike elek mbelgedhes). Makanya, jangan remehkan peran sentral kita dalam kancah permusikan nasional maupun dunia – …halah iki opo maneh…kok nggeladrah!
JRENG!

Sebagian kaset mas Pri yang insya Allah diamanahkan ke saya untuk merawatnya. Alhamdulillah tak ada Yess karena saya sudah punya. Kaset-kaset ini telah BERJASA membuat saya TUMBUH BERKEMBANG sepertti sekarang ini karena saat remaja saya mendengarkan kaset-kaset ini melalui pemancar amatir mas Pri: Dji Sam Soe

Menangis saya melihat kaset ini …karena dulu sering diputer di radio Dji Sam Soe, dan saya gak boleh beli kasetnya karena Bagus sudah punya ….
















