Archive for the ‘Thoughts’ Category

Reinventing the Future

May 8, 2013

Halo temen2ku yang suka ngonbrol santai ngalor-ngidul, ngetann-ngulon, di blog gemblung ini …

Beberapa hari ini saya refleksi terhadap apa yang selama ini kita lakukan dalam kaitan dengan musik yang merupakan kegemaran kita semua khususnya begitu kita tiba-tiba merasa secara emosional terikat ketika ada salah satu temen kita membahas hal-hal terkait kaset utamanya yang bajakan. Gak tahu kenapa begitu kaset dibahas seolah ada daya magnet kuat yang “nyirep” kita buat mencoba menyelami aspek artistik dan nostalgik terkait kaset. Betapa bisa dilepas dari masalah artistik sebuah kaset rekamana jadul yang penampilannya sungguh sangat beragam kayak jemuran karena warna-warni. Saya merasakan hal ini sendiri karena setiap pulang kerja rasanya hati ini tenteram bila telah melihat rak kaset dari rekaman apapun. Ada beberapa perekam yang akhirnya mencoba menampilkan desain kaset yang sama seragam atau per tema musik: rock, pop atau jazz. Di sisi lainnya tentu aspek nostalgiknya dimana sebagian besar dari kita ini mengenal bahkan menikmati musik dari kaset yang informasinya suka acak adul namun anehnya justru kita menikmati.

Kemudian saya bertanya: apa sih yang kita cari dari musik jadul dan media yang merekamnya? Apakah kita ini pengen kembali ke masa silam yang menurut sebagian dari kita merupakan masa indah, meski bagi saya juga ada pahitnya. Gimana gak pahit, wong beli kaset aja musti nabung berbulan-bulan atau sementara “ijol-ijolan” kaset dengan temen sealiran seperti dengan Bagus Sudaryanto, Didik Rudiono, Eko Bayu Sasmito (Bolek) atau mendapat hibah dari kakak saya mas Henky, mas Jokky atau mas Boedi. Bahkan dulu ada rumus tak tertulis: kalau salah satu temen sudah punya kaset tersebut, sebaiknya kita beli kaset yang lain biar gak dobel. Edan juga …masih kecil saja pikiran kita sudanh “holding company” sampe konsep kita masa kecil diadopsi lho sama industri pupuk Indonesia yang akhirnya menjadi PT Pupuk Indonesia. Ha ha ha ha … Jik cilik methisil tapi akeh idene, amargo kepekso … ra nduwe duwik soale! Ha ha ha ha ha …

Hebat ya kita ini, masih kecil saja sudah berpikir tentang “asset acquisition” dimana masing2 individu yang membeli kaset tetap pengakuan asset nya oleh individu dan boleh di thok (stempel) dengan nama yang sangar: “Property of GWH – the famous rocker” … Famous apane? Wong mung kolektor kaset wae kok! Ha ha ha ha ha…. atau stempel: “Milik Bolek – Dilarang Pinjem!” ….atau …”Milik Bagus – Not for Sale” … Wis jiyaaannn enek2 wae cah-cah cilik mbiyen.

Mengenai pembatasan beli kaset agar tak dobel atau istilahnya McKinsey (perusahaan konsultan paling top di dunia setelah ValueQuest…) adalah “co-sharing” adalah kaset berikut ini:

  • Band cewek The Runaways, saya ndak boleh beli karena Didik sudah punya rekaman Nirwana
  • SNAFU, saya ndak boleh beli karena Didik sudah punya rekaman Orient
  • Status Quo / Alex Harvey Band saya ndak boleh beli karena Bagus sdh punya rekaman BASR (untungnya salah satu kaset empat rak yang akan diamanahkan ke saya oleh mas Pri ada juga kaset ini …horeeeeee!!!)
  • Led Zeppelin ‘The Song Remains The Same’ saya ndak boleh beli karena Bagus sudah punya rekaman Perina
  • Temen saya lainnya ndak boleh beli Mahogany Rush “Strange Universe” karena saya sudah punya Nirwana LP Series
  • Heavy Metal Kids, Didik sudah punya, saya ndak boleh beli.
  • Temen saya ndak boleh beli Triumvirat “Spartacus” rekaman Perina Aquarius hitam-putih, side B nya The Nice – karena saya sudah punya…..

Dan masih banyak lagi lho. Herrraaaan … Kok saya masih hafal ya? Padahal itu kan kejadian 35 tahun lebih yang lalu? Apa gerangan begitu bercokol di kepala saya menjadi ingatan menahun? Itulah hebatnya daya magnet yang diciptakan dari kotak kecil yang namanya kaset. The design and the packaging were so captivating for most of us – so it has STICKED deeply into our minds ….

Itu semua di atas saya uraikan hanya dari satu perspektif: penikmat musik. Bagimana dari perspektif pemusiknya sendiri?

Beberapa tahun lalu saat siaran di radio Trijaya FM dalam program “Saturday Night Rock” saya mewawancara mas Keenan Nasution. Saat itu saya begitu anthusias bertemu dengan beliau dan begitu kagumnya saya terhadap lagunya bertajuk “Negriku Cintaku” sampai akhirnya saya bilang begini: “Mas Keenan … saya sebagai penikmat musik bener2 gak habis pikir, kalian ini sebagai musisi waktu menciptakan lagu Negriku Cintaku itu sedang mabuk apa sih ? Kok bisa bikin lagu super dahzyat begitu?”. Saya bertanya dengan penuh anthusias saat itu. Tahukah jawaban dia apa? “Ya, kita santai aja coba sana, coba sini sampai akhirnya jadi lagu” , jawabnya enteng tak bersemangat. WHOOOAAAA!!! Ini gimana yah .. kok terjadi kesenjangan luar biasa: di satu sisi si penikmat mengagumi, sementara itu si musisi menganggap enteng saja … Wah! Ndak adil nih …!!! Kita ini terlalu lebay ya kali??? Ha ha ha ha …

 

Reinventing the Future

Jadi kisah panjang lebar di atas, jelas sekali bahwa sebenernya kita semua tak ingin kembali ke masa lalu. Kita menyukai musi masa lalu dan nuansanya semata karena satu hal: menyemangati diri kita sendiri atau bahasa Jowonya mencoba “Reinventing the Future”. Opo maneh iki? Wis to ora usah bingung. Intine mung siji: mengenang musik jadul buat merajut masa depan gemilang. Yo pow ra? Meskipun kita menikmati musik dengan santai lho ya … pasti in some ways menyemangati kita buat kerja dan berkarya. Itupun saya buktikan saat menulis ini sebenernya saya sedang menulis laporan dari kajian saya terhadap pengembangan organisasi beberapa lembaga riset di negeri ini. Lha … saya kok semangat sambil ditemani kaset jadul seperti Heavy SLow 2, 7 dan 11 dari Yess, juga Super Slow Selection (Pop Discotic). Rasanya nuansamatik kemlithik jadulsonic pol! Suwemangaaaattttzzz!!!

Lantas apa kaitannya dengan perspektif musisi saat saya cerita tentang mas Keenan? Intinya, mereka memang berkarya buat musik yang indah. Namun yang membuat hidup bergairah sebenernya ya kita ini, kaum penikmat musik. Kalau kita ndak keranjingan sama Negriku Cintaku, Swara Maharddika, Choppin Larunk dsb. maka musisi mungkin juga tak kan bersemangat menciptakan lagu. Bener gak sih? Artinya, peran kita sangat vital meski kita ini dari wacana dunia musik adalah pasif adanya – tak mencipta, hanya menikmati atau misuhi (kalau musike elek mbelgedhes). Makanya, jangan remehkan peran sentral kita dalam kancah permusikan nasional maupun dunia – …halah iki opo maneh…kok nggeladrah!

JRENG!

Sebagian kaset mas Pri yang insya Allah diamanahkan ke saya untuk merawatnya. Alhamdulillah tak ada Yess karena saya sudah punya. Kaset-kaset ini telah BERJASA membuat saya TUMBUH BERKEMBANG sepertti sekarang ini karena saat remaja saya mendengarkan kaset-kaset ini melalui pemancar amatir mas Pri: Dji Sam Soe

Sebagian kaset mas Pri yang insya Allah diamanahkan ke saya untuk merawatnya. Alhamdulillah tak ada Yess karena saya sudah punya. Kaset-kaset ini telah BERJASA membuat saya TUMBUH BERKEMBANG sepertti sekarang ini karena saat remaja saya mendengarkan kaset-kaset ini melalui pemancar amatir mas Pri: Dji Sam Soe

 

Ini juga termasuk dalam paket ...

Ini juga termasuk dalam paket …

 

Menangis saya melihat kaset ini ...karena dulu sering diputer di radio Dji Sam Soe, dan saya gak boleh beli kasetnya karena Bagus sudah punya ....

Menangis saya melihat kaset ini …karena dulu sering diputer di radio Dji Sam Soe, dan saya gak boleh beli kasetnya karena Bagus sudah punya ….

 

 

Musik Yang Sangat Berpengaruh dalam Hidup Saya

April 7, 2013

By: Herwinto

 

Pengaruh Lennon-Mc Cartney

Saya tidak ingat secara persis kapan saya mulai mengenal musik, namun sekitar usia 5 tahun lagu Obladi Oblada sudah akrab di telinga saya disamping lagu Kolam Susu dan lagu Balonku Ada Lima tentunya…berawal dari abang sulung saya sebagai penggemar Beatles maka otomatis setiap hari telinga ini di biasakan dengan lagu lagu ringan berdurasi pendek yang manis itu. Sekitar tahun 80 an banyak sekali lagu lagu yang masuk ke telinga saya mulai dari lagu lagu wajib sekolah seperti Garuda Pancasila, lagu anak anak Balonku Ada Lima dan lagu lagu masa itu macam Madu dan Racun yang masih melekat di telinga hingga sekarang dan masih fasih kita lafalkan dari mulut kita. Melekat namun seperti dipaksakan dan bukan sebagai sebuah pilihan, entah mengapa justru bukan lagu lagu ini yang membuat saya mulai menjalin hubungan mesra dengan musik bahkan sampai pada taraf ketergantungan seperti candu terhadap musik. Lalu siapa????  Saya sangat yakin bahwa yang memulai saya mencintai musik adalah Lennon-Mc Cartney….Berawal dari ikut ikutan mendengar abang sulung saya memutar Beatles maka saya pelan namun pasti mulai ketagihan dengan irama irama Beatles yang ringan dan mudah dicerna ini. Apalagi begitu saya sering menyimak lagu lagu Beatles dari album album eksperimental dari radio yang seminggu sekali mengulas Beatles, saya jadi menikmati sekali musiknya yang penuh lenggak lenggok irama yang semakin rumit dan kaya elemen elemen psychedelic dengan beragam penggunaan alat alat musik yang complek, analisa ini tentunya saya simpulkan baru saat ini, sambil mengingat ingat mengapa komposisi Lennon-Mc Cartney ini membuat saya  mulai menyukai musik sebagai hobby, bukan lagi sekedar lewat, atau sesuatu yang terpaksa didengarkan di sekolah atau di lingkungan pergaulan, musik menjadi sesuatu yang harus dicari,disiapkan dan dinikmati. Sebelumnya musik lebih merupakan sesuatu yang secara fisik terdengar maka terpaksa didengarkan tanpa harus sengaja menutup telinga, atau sesuatu yang terpaksa harus dinyanyikan semisal di sekolah maka dinyanyikan  tanpa harus sengaja menutup mulut, nah tiba tiba musik menjadi sebuah pilihan dengan penuh kesadaran, dan pelan pelan secara meningkat bertahun tahun, menjadi sebuah acara ‘ritual’ bukan hanya ritual dalam pengertian dipersiapkan dan dilaksanakan secara khusus, rutin dan kontinyu tetapi juga menjadi sebuah kejadian yang menenangkan jiwa. Musik menjadi sebuah peristiwa yang tidak hanya mengguncang rasa dan fikiran kita namun juga menyeruak dan menyusup kedalam relung relung jiwa yang mendalam, tiada berbeda dengan perenungan spiritual dalam upacara keagamaan. Dan itu semua berawal dari Lennon-Mc Cartney….. Berawal saat itu dengan menggunakan tape player milik abang saya, saya mulai intens menikmati musik musik The Beatles dengan suasana yang yang saya siapkan, artinya saya bersiap untuk menikmati musik dengan konsentrasi tidak sekedar sebagai pendukung kegiatan belajar, makan ataupun pengantar istirahat, meskipun masih jauh dari kata ketergantungan. Saya mendengarkan sendirian di kamar dengan menutup rapat pintu kamar ato jika malam saya mendengarkan musik musik Beatles dalam kegelapan kamar. Begitulah saya mulai  mendengarkan musik secara rutin dan ‘sengaja’, terasa sudah nikmatnya meski sekali lagi masih jauh dari ketergantungan, dan seperti kebanyakan pemula, musik musik lain mulai masuk juga terutama yang tak mungkin dihindari adalah masuknya Led Zeppelin, Queen dan Deep Purple, namun Beatles masih belum tergeserkan saat itu. Album Beatles yang menjadi santapan kekaguman saya adalah Revolver, Sgt Pepper, Magical Mistery Tour dan White Album saat itu. Musik yang lain tak lebih dari sekedar intermeso saja.

Burn dan I Talk To The Wind

Kedua abang saya saat itu memiliki perbedaan aliran musik, abang sulung saya adalah penganut Rhytm and Blues serta Rock and Roll yang kuat dan pemuja blues kulit hitam sementara abang tengah saya adalah penganut progresif rock sub genre symponi rock beliau pemuja Genesis dan Moody Blues, nah jika abang sulung saya tidak peduli dengan upaya pencerahan, maka abang tengah saya sungguh sangat memperhatikan perkembangan minat musik saya, saat itu saya dengan uang saku yang saya kumpulkan telah mulai bisa membeli kaset Beatles lisensi dalam rangka memuaskan dahaga musik saya, rupanya abang tengah saya melihat ini semua membuat beliau perlu segera mengambil tindakan darurat dengan melakukan langkah langkah praktis untuk menyelamatkan saya dengan memaksa saya masuk kedalam ranah musiknya yang katanya lebih elegant dan lebih megah.  Maka ketika saya sering main ke Jakarta kerumah beliau, diboncengkanlah saya menuju Taman Puring atau Jatinegara sekedar mengarahkan saya agar membeli kaset sesuai arahannya. Mulailah saya mendengarkan King Krimson, I Talk To The Wind yang kata abang tengah saya ini adalah lagu slow rock, beliau sengaja mengenalkan slow rock bukan melalui Scorpions dengan Still Loving You atau Always Somewhere tetapi lewat lagu aneh I Talk To The Wind, rupanya beliau ingin saya mendengarkan flute yang indah di lagu ini yang sebenarnya adalah indoktrinasi awal atas musik progresif dan yang kedua adalah lagu Deep Purple, Burn, saat itu saya tengah tergila gila dengan gitar dan menganggap bahwa kekuatan musik rock ada pada gitar, rupanya abang tengah saya ini ingin menunjukkan ke saya dahsyatnya hammond organ yang bisa bertarung melawan gitar dan ini ditunjukkan di Burn, dan jujur inilah awal mula saya mengenal alat musik keyboard dan teman temannya sebangsa melotron, synthesizer dan seterusnya betul betul dahsyat. Saya merasa kedua lagu inilah sebagai pintu gerbang menuju musik progresif sebab saya lebih cocok ketimbang mendengarkan Queen, Love of My Life yang monoton apa Angie nya Rolling Stones yang biasa biasa aja. Belakangan saya malah sudah jauh meninggalkan abang saya dalam hal menjelajah musik aneh itu, nama nama seperti Rush, Camel, Saga, Gentle Giant, Pink Floyd, Jethro Tull sudah masuk dalam daftar musik yang mulai saya dengarkan meskipun bukan dalam taraf mengoleksi, semakin luas dan jauh penjelajahan semakin besar peluang untuk menyempal keluar dari ajaran utama yang diajarkan abang saya. Masuknya ELP masih bisa ditolelir, namun begitu nama YES masuk dalam daftar musik yang saya dengarkan maka saya telah menjadi murid liar yang tak bisa dikendalikan lagi, rupanya abang tengah saya  mencoba memaksa saya menjadi pemuja Genesis dan Pink Floyd. Album Topographic Ocean yang oleh abang saya diminta mencari untuk di analisa oleh abang saya, secara tidak sengaja saya dengarkan telah menjadikan saya sebagai pengagum karya ini dan saya jadikan acuan musik yang saya tuju. Dan YES telah dipilih oleh hati saya untuk tinggal dan menempati hati saya yang paling dalam. Berawal dari Genesis yang mendapat tempat di hati saya terlebih dahulu dengan album The Lamb Lies Down dan Wind And Wuthering sebagai album pertama mata kuliah progresif dari sang abang yang saya telan tanpa banyak kesulitan, album The Lamb jelas merupakan contoh konkret dari apa yang disebut musik progresif yang kaya dengan elemen elemen art rock yang menawan baik dari segi komposisi musik, jalinan cerita yang terbangun rapi serta lirik yang bernilai sastra tingkat tinggi dan sudah sangat jarang bahkan tidak akan ditemukan lagi karya semacam itu…selanjutnya saya mengenal  Yes yang masih aktif berkarya dengan menggelar tour tour keliling dunia lewat album gila Topographic Ocean, terdengar lebih menghantam dengan hentakan hentakan rock yang sarat dengan kombinasi instrumen yang rumit namun juga terdengar sangat klasik, bahkan dalam tour Magnification Yes diperkuat dengan dukungan orkestra lengkap. Yes juga terkenal bisa memainkan gubahannya dengan instrumen akustik dan terdengar tetap sangat memukau, bahkan salah satu nomor terkenalnya Owner of Lonely Heart yang aslinya menggebrak bising dengan peralatan elektronik lengkap tetap cantik dimainkan secara akustik. DVD Yes Acoustik merupakan salah satu lambang pemujaan terhadap Yes. Lirik lagu Yes bercerita tentang alam,persahabatan dan cinta yang tidak diwujudkan secara cengeng, sebagian berkisar pencarian atas makna kehidupan maupun sekedar sebagai puisi yang sulit diterjemahkan maknanya selain sebagai menghadirkan keindahan dari kehidupan. Album Yes sangat banyak karena juga masih aktif dan berkarya terus, namun diakui juga banyak album Yes yang gagal baik secara idealisme maupun secara komersial, semacam Talk dan Open Your Eyes, namun rentang waktu yang lama mencintai Yes membuat saya tidak sekedar menggemarinya namun juga harus menerima segala naik turunnya, kelebihan dan kekurangannya, juga harus siap dicemooh oleh mereka yang tidak suka Yes juga. Bagi saya pribadi tiada hari tanpa musik Yes, tetap nikmat meski itu adalah Big Generator sekalipun, sekali Yes tetap Yes….

Foto0399

Indoktrinasi Blues vs Progresif

Rupanya abang sulung saya tahu bahwa saya telah menjadi pemuja Wakeman dkk, nampaknya dia ingin juga menanamkan pengaruhnya pada diri saya, mulailah abang sulung saya menanamkan doktrin doktrin musik blues yang maut dan hampir saja saya terperosok jatuh dalam kubangan musik blues, dimulai dengan menonjolkan Peter Green sang jawara gitar dari eks Bluesbreakers nya John Mayall yang membentuk Fletwoodmac, abang saya bilang bahwa Pink Floyd hanya besar karena faktor panggung dan teknologi namun jika urusan skill gitar jauh dari kehebatan Peter Green, abang sulung saya juga mulai intens mengirimi saya dvd blues blues kulit hitam macam Muddy Waters, Albert King, BB King dll, intinya adalah musik berdurasi pendek penuh dengan rhytem gitar, dan bass tidak begitu berperan, drum ada tapi tidak menggemuruh, synthesizer jelas tak ada. Saya masih ingat suatu malam abang tengah saya mengirim sms karena melihat intens saya dengan musik blues, sms beliau masih saya ingat sekali begini….Mendengarkan Comfortable Numb, Echoes, Careful with That Axe Eugene, Time dan Braind Damage utamanya di malam hari begini sungguh akan menyelamatkan kita dari godaan rhytem and blues…..woaaaahhh ini sms yang sarat indoktrinasi terhadap musik progresif….Namun jiwa saya telah kokoh dengan bentukan musik musik yang progresif jadi sangat kecil kemungkinan untuk berpindah haluan. Dan sebagai penutup demikianlah perjalanan saya mengenal musik yang akhirnya saya terjerumus kedalam musik yang sangat indah yang kata orang namanya musik progresif, dan akhirnya dua nama besar yang menancap di hati saya dan sangat berpengaruh pada kehidupan saya adalah musik milik  YES dan GENESIS yang mungkin tidak akan pernah ada tandingannya lagi. Salam!!!!

 

Grafiti Lagi

April 1, 2013

Meski bukan penggemar aliran grunge atau ada yang biasa menyebut dengan Seattle sound, saya sangat terkesan dengan grafiti ini sampai saya berhenti gowes sekedar untuk memotretnya. Kelihatan membuatnya bukan sembarangan dan pasti cukup lama bikinnya. Salut!

Itu foto saya ambil sekitar sebulan lalu. Minggu lalu saya lewat sini lagi, saya liat separuh tulisan di bagian kanan sudah ditimpa aquaproof (boco boco …!!!) warna abu2 tua. Kemungkinan ditimpa oleh pemilik ruko yang tak suka dindingnya dicoreng-moreng.

Namun ya dasar anak muda ….bagian yg sudah di aquaproof itu dicoreng lagi meski gak menggunakan font yg sama dan kelihatan sekali semprot pylox. Saya yakin suatu hari tulisan seperti foto ini akan kembali lagi ….ha ha ha …. Bahkan kayaknya bakal jauh lebih ramai lagi.

Ha ha ha ….

grafiti yang keren banget. sayang dihapus sebagian sekarang ....

grafiti yang keren banget. sayang dihapus sebagian sekarang ….

Rock n’ Roll Book

January 31, 2013

By: Yuddi Kustiadi

 

Ketika belum adanya internet dan mungkin sampai sekarang ,melengkapi kaset, LP atau CD  akan lebih afdol dan majas lagi jika disertai dengan membaca buku-buku Rock n’ Roll dan ensiklopedia nya. 

Pada kesempatan ini saya sampaikan sekelumit  bahan bacaan dimaksud, yang tentunya kawan-kawan pasti  juga mempunyai jauuh lebih lengkap dan banyaak. Dan mohon dapat di up-load juga yach !

Foto 1

Foto 1

 

Foto 2

Foto 2

 

 

 

 

Psssst … Ada yang “Excited” dengan Gemblungers!

January 10, 2013

Pagi ini terima kiriman wordless email dari pak Gatot Triyono yang mengaplikasikan filosofi “Picture says thousand words” yang hanya berisi foto ini thok! Silakan diuraikan sendiri “visual meaning” dari foto ini …. (aku ora melok-melok wis … ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha…)

"Hmm ...what a great merchandise!"

“Hmm …what a great merchandise!”

 

 

 

Visual Meaning of the New Blog Header

January 9, 2013

By: Khalil Logomotif

Jangan tanya alasan knapa saya bikin! Sangat personal dan saya malu rasanya bila harus mengungkapkannya.
Idenya muncul di warung kopi tempat saya ngapucino, iseng buka flipboard..eh kliat logo prog annual award…saya pikir, ini bisa dijadiin bahan logo untuk blog mas Gatot. Saya curi tipograpi..saya bikin ulang hurufnya.

photo-5

1. Setelah tipo yg serifnya dispiral selesai, saya gabung kaki kanan huruf M dengan tiang huruf L, karena blog gemblung ini telah menghubungkan kehidupan (masa lalu dan kini) dgn musik dan sbaliknya..get konekted..dari ngga kenal jadi kenal, gara gara musik progrock. Saya kasi warna biru keijoan…kbetulan memang salah satu warna unt tahun ini juga karena paling sering dipakai di cover album cd kompilasi progrock, adalah warna kehidupan dan menenangkan. Saya kasi outline dgn warna coklat tua, warna tanah, untuk nunjukin doun to erth, solid dan berdasar.

2. Kaki kiri huruf M, batang bawah huruf L dan dalam lingkar huruf O saya spiralin, spy jadi jangkar ke kata progrock (spy terkonotasi huruf P logo majalah prog). Ada sedikit alasan personal, batang bawah huruf L saya panjangin melewati IFE, membentuk gelombang..karena kaset saya hilang semua disapu glombang tsunami. Untuk symbol The Gemblungers huruf T nya juga saya pake in spiral..supaya spik wan word lah…

3. Supaya seru, saya tambahin Welcome my friends….nya ELP, untuk nunjukin nilai ingklusif..terbuka untuk siapa saja..tua muda…laki perempuan…dan ngga akan berakhir.

4. Sayap capung, gara gara mas Gatot nambahin Dean (roger dean) di nama saya. Dalam bahasa aceh, dhen dhen artinya capung. Logo kaset Yess adalah logonya RD, moorglader..yg hasil curian dari rancangan Da Vinci…pesawat capung. Saya ambil sayapnya sebagai alat untuk terbang..terbang ke masa lalu.

5. Lingkaran jam, untuk menunjukkan waktu..masa lalu, mangkanya angkanya saya balik urutannya…jadi jamnya bergerak mundur..kemasa lalu. Lingkaran ini saya tujukan sebagai tempat kita memencet kalau mau kembali ke home nya blog.

6. Tangan, saya pakai untuk ngambarin aktifitas ngeblog…kembali kemasa lalu jas a klik ewai.

7. Nah ini yg makan waktu lama..saya harus ngliat kembali sluruh band apa aja yg paling sering jadi bahasan dari awal blog dimulai sampai sekarang…referensi paforit empunya blog…dan sdikit beberapa yg bernilai personal bagi saya. Gambar koran di Tik as e brik untk nunujukin aktifitas bloging, King Crimson bilang uwedhaaan tenan, rik wekeman, TFK bank of eden yg jadi pengiring saya dari awal proses perancangan, frame kosong yg bisa kita isi di Picture at eksibision ELP, Salaman persahabatan the gemblungers di Pink Floid, Marillion, Pompei nya Triumvirat adalah lagu yg saya denger dari kaset sebelum tsunami, Close to the edge ada diujung kanan atas, anak kecil DT menunjukkan awal kenal progrock sejak belia bahkan kanak kanak, dan diakhiri dengan Nyepeda nya Arena. Sluruhnya ada 33 cover album yang saya pakai…sbagian ngga kliatan.

Seluruh bahan visual adalah hasil jarahan dari lapak lapak gambar sana sini. Digarap dengan Corel 14 kurang lebih 2 mingguan lebih. Selama perancangan, saya disupport abis oleh Mas Herman…senior saya. Ai Teng Yu mas.

Demikian sekilas cerita gemblung dibalik rancangan gemblung yang saya kerjakan untuk blog gemblung. Masih sangat jauh dari sempurna…tetapi saat ini, baru segitu yang bisa saya kerjakan…mohon dipersori kalau ngga ngenakin mata….

Kip on gemblunk as yusual

Terima kasih. Salam.

Khalil Logomotif

Khalil

Penampakan Baru Blog-nya Gemblungers

January 9, 2013

JRENG!

Yen ora ngene ora gemblung! Yen ora gemblung dudu prog!

An Appreciation for Mr. Khalil “Dean” Logomotif

Temen2 sekalian,

Mulai hari ini blog kita ini memiliki penampakan baru yang menurut saya super duper ultra dynamic dolby system stereo super-sonic kuwerrreeen mukewren pol! There is no blog like us really …!!! (sambil ndhreddhegh nulisnya karena haru biru menyentuh sukma dan qolbu …) …. he he he he ….

Ini semua atas kebaikan hati mas Khalil yang dengan sukarela tanpa paksaan dan instruksi meski beliau sendiri minta dicincang. Ha ha ha ha …. Logo baru ini memiliki makna yang dalam dan saya persilakan mas Khalil nanti membeberkan sendiri apakah makna tersebut. Yang jelas, pasti ini SESUATU banget dah!

Saya dan teman-teman di blog gemblung ini mengucapkan I THANK YOU ….!!! (pake gayanya Ian Gillan) atas kebaikan hati dak usaha keras mas Khalil dengan maha karya nya ini ….. LUAR BIASA!!!

Semoga dengan logo baru ini kita semakin bersemangat ngeprog, ngemetal dan ngerock bareng .. ha ha ha ha …

JRENG!

Salam,

G

—-

Maaf pas kebetulan padet gawean … Tapi ini ada aplikasi logo baru dalam Merchandise Music for Life:

Desain mas Khalil "Dean" Logomotif memang top buat diapakai di segala jenis merchandise ....

Desain mas Khalil “Dean” Logomotif memang top buat dipakai di segala jenis merchandise ….

 

Selain itu, mas Khalil juga telah mendesai alternatif logo yang sangat menarik:

Foto 1

Foto 1

 

Foto 2

Foto 2

 

Foto 3

Foto 3

 

Untuk header blog ada beberapa alterntif termasuk ini:

Foto 4

Foto 4

 

 

 

Referensi Musik

January 8, 2013

By: Yuddi Kustiadi

Adalah sangat sulit mencari referensi  ttg grup-grup musik  akhir ‘60an -‘70an terutama utk referensi album2  lama (back catalog) grup yg  macam kaset2 terbitan Yess. Yang biasa dipakai adalah bertanya ke teman (kalau ada yg satu aliran) , buka majalah musik lama (utamanya Aktuil) atau terpaksa sediakan cukup waktu utk coba dengar di toko kaset  (dgn  sedikit tebal muka).

Pd tahun ’85 terbukalah semua informasi ini dengan dibukanya perpustakaan USIS  yg dikelola kedubes AS di ged. Metropolitan II jl. Sudirman Jakarta. Yg sungguh2 bermanfaat dan membuka  informasi yg selama ini dicari-cari  adalah adanya ensiklopedi  ttg musik  terbitan  Rolling Stone edisi.1  (edisi.2 nya sempat di jual di Jakarta)  dan ada satu ensiklopedi  lagi yg  sangat lengkap  (dari Beatles, Rolling  Stones sampai  Gentle Giant, Van Den Graff Generator) berisi riwayat  per artis/ per grup, personal yg terlibat album per album,  album solo yg terbit dan rating album2nya.  Sayang buku tsb tdk bisa dipinjam jadi terpaksa foto-kopi  halaman  grup-grup yg menarik saja.

Dengan informasi detail ini jika ke toko kaset  sudah menguasai benar informasi album2  lama yg kita cari (biasanya terbitan Yess atau Monalisa) , dan bisa sedikit ‘nerocos  sok teu’  jika kebetulan di toko bertemu manusia yg satu genus. Sayang informasi  ini hanya bermanfaat sekali sampai dengan pertengahan ’89.

Berikut adalah contoh kopian halaman mengenai Jethro Tull :

Yuddi 1

 

Yuddi 2

Demikian mas G dan kawan2 kisah mengenai  salah satu referensi yg saya gunakan sebelum nongolnya internet.

Terima kasih.

Souvenirs from ProgRing #7 – 2012

December 29, 2012

A short and personal review by Hippienov

Date : 29.12.2012
Time : 11.00 – 15.00
Event : ProgRing 2012

“pada akhir acara aku hampir tidak bisa lagi menahan hasrat untuk buang hajat kecil sehingga terburu-buru aku ke toilet..namun saat aku kembali lagi rekan-rekan sudah pergi tanpa aku sempat mengucapkan terima kasih dan berpamitan dengan mereka…”

Postingan ini sekedar cerita singkat dan simple dari seorang hippienov tentang acara nuansamatik ProgRing di penghujung tahun 2012 ini. Semoga bisa menghibur rekan-rekan sekalian, full report yang komplit dan dalam kita tunggu dari mas G.

Dari jadwal acara dimulai jam 11 pagi aku datang 1 jam lebih lambat, yaitu jam 12 siang. Setelah parkir motor di P1 aku langsung meluncur ke lantai basement tempat gathering diadakan. Gak terlampau sulit menemukan tempat ProgRing dan yang tokoh pertama yang temui adalah mas G yang tengah melihat-lihat deretan buku yang ada. Bahkan beliau terlebih dulu mengenaliku dan menyapa, padahal ini kali pertama kita berjumpa, mungkin karena t-shirt yang aku pakai ya? Atau karena rambutku yang agak gondrong mirip “hippies”? Hahaha..
Selanjutnya aku diperkenalkan dengan rekan-rekan lain yang mayoritas jauh lebih senior dan more experienced. Dari semua yang hadir mungkin hanya mas Herman dan aku yang baru kali ini hadir di ProgRing.. Untuk mas Herman, matursuwun atas gift nya nan nuansamatik. Hanya 4 bulan di kalendar ini tapi aku yakin ini punya maksud dan tujuan, tebakanku sebelum kalendar berakhir di bulan April akan diadakan lagi ProgRing pertama di 2013 dengan welcome gift lanjutan kalendar nuansamatik bulan Mei-Agustus atau Mei-Desember 2013, hahaha.. Bercanda loch mas Herman dan mas G.

Dari undangan yang hadir terdapat pula generasi muda pecinta progclaro yaitu bro Rully, bro Lodi dan bro Qodri. Tadinya aku pikir bro Apec dan aku generasi yang paling junior di blog ini, ternyata takjub ada rekan-rekan yang jauh lebih fresh juga penikmat/penggemar progclaro, malah pengetahuannya luar biasa, bahkan aku jadi minder..
Obrolan sudah pasti seputar musik, seru dan beragam. Gak sekedar progclaro yang jadi topik tapi juga Sex Pistols, U2, Ultravox, OMD, Metallica, Krakatau, dan banyak lagi tak ketinggalan disebut di tengah-tengah obrolan.

Rekan-rekan senior pun punya cerita dan ciri masing-masing. Dari pengalaman nonton konser Opeth dan UK sampai dengan list kaset rilisan Yesst lengkap dari serie 001 – terakhir dari mas Eddy. Bro Rully dengan HDD external 2 Tb yang khusus dibeli hanya untuk menyimpan donlodan repertoire progclaro sampai bro Lodi yang penggemar Van der Graff, luar biasa.. Aku sendiri jujur gak begitu kenal dengan band ini. Tuobz bro..
Ada pula mas Yuddi yang punya koleksi Aktuil dan Pak Alfie yang masih berusaha untuk me-remaster semua edisi majalah Aktuil sampah bro Qodri dengan Opeth nya. Masih banyak lagi topik yang muncul mengalir dengan sendirinya tanpa skenario, betul-betul natural.
Disela-sela obrolan mas G menyodorkan beberapa kaset Yess beliau yang hendak dihibahkan karena punya double, hebatnya semua adalah kaset Genesis (bro Apec dan mas Kris pasti nyesel gak datang..dapet Yess Genesis loch.. Koleksi pribadi mas G pula, hahaha).
Matursuwun mas G, kaset ini akan kurawat baik-baik.

Di penghujung acara aku pergi ke toilet karena gak tahan lagi untuk buang hajat kecil, saat aku kembali rekan-rekan sudah pergi. Sedih juga gak sempat say “see u later guys”.
Ada niat untuk menyusul tapi aku sempatkan dulu berkeliling menyambangi kios-kios kaset jadul yang ada. Lah dalah ternyata bertemu Mas Eddy, ngobrol lagi kita sambil tukar nomor hape. Kita mampir di kios Bang Oman, mas Ed menemukan lagi harta karun disana sedang aku akhirnya pamit dan berpisah karena hendak lanjut keliling.
Di kios berikutnya aku dapat kaset “the best of scorpions” dari Saturn. Wah manteb, aku seneng banget sudah lama pengin kaset ini. Aku punya cd nya tapi tetap saja lebih asik denger kasetnya, beda rasanya.

Foto 1

Foto 1

 

 

Foto 2

Foto 2

Mampir di kios lain aku lihat ada Keenan Nasution “42nd street” yang dibanderol Rp 100rb, wah..tak taro meneh, ngeri aku.
Yang mengejutkan aku ketemu kaset Guruh Gipsy dan Jurang Pemisah di kios “djadoel” dalam kondisi mulus. Kali ini aku gak berani nanya harga takut terjungkal kaget, kebetulan juga sang empunya kios lagi gak ditempat.
Akhirnya aku balik lagi ke kios bang Oman dan ditawari kaset George Harrison “cloud nine” dan the best of george harrison.. Ditambah Sarah Vaughan “songs of the beatles” sebagai pelengkap.

Akhir kata sungguh pengalaman luar biasa dan menyenangkan bisa hadir di ProgRing 2012, bertemu muka dengan rekan-rekan yang selama ini aku kenal lewat komentar serta tretnya. Aku tunggu ProgRing selanjutnya mas G..
Suwun.

Can you tell me where my country lies..
hippienov

Rick Wakeman Bagi Saya (1 of 38)

December 18, 2012

rick Wakeman on stage with cape

JRENG!

Gara-gara kenikmatan mendengarkan album Journey To The Centre of The Earth (disingkat Journey) mahakarya Rick Wakeman tadi malam, saya sambil kethap-kethip (merem-melek – red.) membayangkan betapa besar jasa orang satu ini dalam hidup saya melalui karya-karyanya. Meski saya kenal dia dan dia tak kenal saya, saya merasa bahwa hasil karyanya telah banyak menemani perjalanan hidup saya sejak saya mengenalnya sekitar tahun 1974. Tadinya saya memang tak banyak menaruh decak kagum pada permainannya sejak saya mendapatkan rekaman kaset Yes “Fragile” dari kakak saya, Henky. Namun sejak saya kenal album Journey, decak kagum saya mulai saya rasakan.

Ditengah kegirangan saya menikmati track demi track yang berjumlah 27, termasuk narasinya, kok pikiran saya menerawang ke depan untuk membuat tulisan berseri ala komik silat Koo Ping Ho terkait orang satu ini menurut versi saya. Ini perlu ditekankan karena kalau hanya sekedar mengikuti perjalanan Rick, saya rasa mbah Wiki atau sumber lain di mbah google udah banyak membahasnya. Fokusnya di sini kepada apa yang saya alami terkait musik RW ini – bisa aja sangat subyektif lha wong judulnya saja sudah saya “jlentreh”kan dengan jelas “Rick Wakeman Bagi Saya”. Jadi, komponen “bagi saya” itu pasti personal banget. Sebenernya saya pernah menulis tret sejenis yakni tentang Kansas Bagi Saya. Untuk itu, gak tanggung-tanggung saya menetapkan akan membuat tulisan ini berseri sejumlah tiga-puluh-delapan (38) tulisan pendek (mungkin juga panjang, tergantung nuansa yang saya bahas di setiap tulisan).

Mengapa 38?

Jawabnya gampang, karena bukan 10 atau 100. Ha ha ha ha ha …. O’on banget yo? Yo pancen blog gemblunk, ngomongnya yo sak enak udele mbah Sangkil. But there must be story behind every single story that makes up into 38. Ini semua ya karena daya magis “lampu dimatiin” menurut ilmu nya Koh Win saat mengajari prog ke bro Noviar 19 tahun lalu. memang itulah nuansa tadi malem …turn the light off …ngantek ngguweblak! Angka 38 sebenernya sekedar menghitung berapa tahun saya telah mengenal RW sejak usia kelas dua SMP hingga kini usia saya Suddenly 52 … Maka selisihnya ya 38. Itung-itung tiap tahun saya bikin satu tulisan terkait Rick Wakeman.

Mengapa Rick Wakeman?

Ya karena tadi malam saya merasakan banget bahwa sentuhan kibornya beliau ini begitu menusuk hati sanubari sehingga mengirim sinyal ke otak supaya memerintahkan mulut saya mesam-mesem dan hati saya berbunga-bunga penuh rasa bahagia. Ternyata banyak sekali segmen musik kreasi RW yang membuat saya berdecak kagum dan notasinya sekan menembus hati saya sehingga saya terkapar menderita kepuasan paripurna. Banyak sekali sayatan indah notasi karya RW, misalnya di intro dari The Battle yang sungguh njenggit hati ini. Biyuh! Itu baru bicara pada sayatan notasi ya, yang hanya pada ranah detil. Padahal, dalam perspektif big-picture thinking, komposisi yang dihasilkan RW ini sering kali terasa tak terduga dan menyegarkan pikiran, membuat adrenalin terpompa dua kali lebih kenceng dan motivasi kerja meningkat tajam. Lihatlah keterpaduan komposisi di album Journey, The Six Wives of Henry VIII, The Myths and Legens of King Arthur, No Earthly Connection dan sebagainya. Rasanya setiap lagu di dalam album-album tersebut membentuk suatu keterpaduan yang elegan secara keseluruhan. Belum lagi ada beberapa lagu yang menjadi favorit misalnya “The Prisoner”, “King ARthur”, “The Battle”, “Merlin The Magician”, “The Forest” dan masih banyak lagi.

Sambil saya menulis, silakan temen2 berkomentar ya….

Maka dengan demikian, serial tulisan Rick Wakeman Bagi Saya secara resmi saya buka: DHUNG ….DHUNG ….. DHUNG (ethok2e bunyi gong).

And the journey from Hamburg to Iceland begins!

JRENG!!!

Salam,

G


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 69 other followers