Jreng!
Jiyan huwebat tuwenaaaan Dokter Paru yang satu ini. Tuoooobbbzzzz!!! Adalah sebuah kehormatan blog ini dihuni oleh jawara kolektor seperti Bro Apec ini. Saluuuuuuuut!!!
Pada suatu ketika di tahun 1972 Rick sedang sibuk-sibuknya dengan profesinya sebagai pemain kibor dan piano, termasuk di the Strawbs. Dia sudah selama tiga hari tiga malam tidak pulang dan jadwal tidurnya sungguh kacau hingga malam ke empat dia pulang ke rumah dan pengen leyeh-leyeh santai dan nggeblas tidur. Lagi asiknya tidur, bahkan mungkin sampai mendengkur, dia secara samar mendengar ada suara telpon berdering dan istrinya sedang menjawabnya. Ternyata itu telpon untuk Rick dan dengan enggannya dia mengangkat gagang telpon. Ingat! Tahun 1972 satu-satunya jenis telpon ya fixed-line, belum ada hand phone jaman itu.
Suara Seberang (SS) : “Halo…ini Chris Squire dari Yes. Aapa kabar?”
RW : “Apa kabar? Jam 3 dini hari kamu tanya apa kabar?”
SS : “Iya ..kita baru saja balik dari tur Amerika yang sukses. Kita berpikir mengajak kamu bergabung di Yes”
RW: GUBRAK! Telpon langsung ditutup dan dia molor lagi …
Ya jelas aja…siapa yang mau bicara di jam 3 pagi? Pasti muwales pol!
Adalah Brian Lane yang saat itu Manajer Yes yang beberapa hari kemudian bilang ke RW: “Kenapa kamu gak coba saja ikut rehearsal mereka?”. Semudah itulah akhirnya RW mengikuti rehearsal untuk album yang rencananya digarap selama lima minggu bertajuk “Fragile”. Saat itu Rick bermain di studio dengan lagu “Heart of The Sunrise” dan “Roundabout” yang merupakan materi awal untuk Fragile. Semuanya berlangsung biasa saja tanpa banyak ngomong dan mengalir saja. Di akhir rehearsal hari pertama Rick nawarin Steve Howe yang gak bisa nyetir mobil (mungkin masih kere, ra nduwe libom …) untuk bareng pulangnya karena rumahnya terlewati jalur Rick pulang. Setelah ngedrop Steve, Rick nawarin esoknya jemput Steve buat berangkat bareng ke studio.
Yah …begitulah …. selebihnya adalah sejarah.
Kisah ini tak penting karena bagi saya yang penting adalah pembelajarannya:
Salam,
G
Tau dong Uriah Heep ? Band yang banyak menelorkan lagu-lagu hit dari puluhan album yang sudah mereka rilis.
Tapi jangan lupa, dibalik ketenaran yang diraih Uriah Heep ada seorang Gary Thain.
Dialah yang memainkan bass dan juga andil dalam menulis lagu.
Gary Thain (selanjutnya sy singkat GT aja, biar inisialnya sama dengan mas Gatot Triyono. Hihihi) bergabung bersama UH sejak 1972, setelah GT hengkang dari Keef Hartley Band yang dimasukinya ditahun 1969 hingga 1971.
Beruntung saya masih menyimpan beberapa koleksi album Heep (The Magician’s Birthday, Sweet Freedom, Wonderworld) dimana GT masih bergabung didalamnya, dan 1 album ’72nd Brave’ milik Keef Hartley Band yg terdapat juga lagu ciptaan GT ‘You Say You’re Together Now’ sekaligus dia pula yang menyanyikannya.
Tidak dapat dipungkiri, kepiawaian GT mencabik bass punya peranan penting bagi Heep & KHB.
Coba dengar dan simak ‘Wonderworld’, ‘Suicidal Man’, ‘So Tired’, ‘I Don’t Mind’, ‘We Got We’, ‘Dreamer’, ‘One day’, ‘Sweet Freedom’, ‘Pilgrim’, ‘Dreams’, ‘Spider Woman’, ‘Blind Eye’, ‘Echoes In The Dark’, ‘Sweet Lorraine’, dan banyak lagi lainnya.
Belum lagi, kalau dengar permainannya saat masih bersama KHB.
Dari album yang dirilis thn 1972, 72nd Brave ada ‘Hard Pill To Swallow’, ‘Always Thingking Of You’, dan bagian akhir ‘You Say You’re Together Now’.
Whooooa… mantap, lebih tereksplorasi, hingga komposisi musiknya terasa semakin asyik.
Asyik menikmati permainan bass GT, tidaklah asyik melihat gaya hidupnya yang bergantung pada obat-obatan.
Dan itu pula yang membuat hidupnya pun berakhir.
Gary Thain meninggal karena overdosis pada 1975.
Thanks to Mas G
Salam
Hendrik Worotikan
Tambahan foto dari mas Yuddi Kustiadi (19 Mar 2013)
Seorang tokoh legendaris dan gitaris classic rock telah meninggalkan kita. Sayang beritanya gak bisa di copas, jadi monggo aja KLIK.
Setelah saya posting ini, mas Yuddi Kustiadi ternyata juga kirim email:
Lha…malam ini, 7 Maret, saya malah mendapati berita bahwa Alvin Lee telah tiada.
Waaahh, apa ini bukan kebetulan namanya ?
Alvin Lee yang lahir pada 1944, memulai karir musiknya bersama kelompok ‘Jay Birds’ (1961).
Lantas, bersama Ric Lee (drum), Chick Churchill (keyboard), Leo Lyons (bass), Alvin Lee membentuk ‘Ten Years After’ (November 1966).
Cukup lama TYA berkiprah di dunia musik. Sampai pada Maret 1974 akhirnya mereka pun menyatakan bubar.
Tidak betah berlama lama vakum dari industri musik, Alvin Lee pun membentuk band baru, yakni : ‘Alvin Lee & Co’ (Maret 1974 – Juli 1976).
Pada Februari 1978 hingga Mei 1980, muncul pula ‘Ten Years Later’ (bukan After). Tidak sampai disitu saja, Juni 1980 hingga Oktober 1981, Lee memproklamirkan band barunya, ‘Alvin Lee Band’.
Dan setelah itu nama band dihapus, tinggallah Alvin Lee saja.
Seperti halnya dengan grup-grup musik lainnya, setelah lama berpisah, rupanya rasa kangen untuk bermain musik bersama pun muncul.
Inilah yang dibuktikan mereka (Ten Years After), dengan dirilisnya album ‘About Time’ pada 1989.
Selamat jalan Alvin Lee.
Terima kasih Mas G.
Sebagai pelengkap saja postingan yg telah ada.
Salam
Hendrik Worotikan
Baiklah kawan …karena pada sibuk nyambut gawe, maka perkenankanlah saya menulis sebuah ulasan provokatip yang pasti mengundang banyak perdebatan karena judulnya yang memang membuat orang marah dan kalau gak marah berarti dia tetap manusia cuman gak punya jiwa prog blas ….
Gak marah? Gak prog dan gak usah lanjut lagi bacanya, dan segera tinggalkan blog ini ….disatru wae! Ha ha ha ha ha ha ha …. Kalau Anda marah, bagus! berarti ngerti yang saya maksud karena judul ini bermakna marah tapi juga bermakna lainnya …ibaratnya seperti YIN and YANG gitulah ….
Siapa orangnya yang tak kenal dengan kibordis Yes dan ELP? Dan siapa gak marah bila penyebutannya kebolak-balik? Koyok wong guwoblok aja nulis nama orang wolak-walik ndak karuan. Justru bila Anda marah, saya malah memberikan apresiasi kepada Anda – apalagi kalau marahnya sambil melempar layar komputer Anda dengan tomat busuk sambil sumpah serampah “Dasar tormato!!!” ….ha ha ha ha ha …berarti memang Anda berjiwa prog dan layak diapresiasi….Ya nggak? (sambil alis mata naik turun 3 x saat bilang “ya nggak?”).
Setelah Anda marah, coba Anda pikirkan lebih dalam lagi makna dari kesalahan yang insya Allah disengaja ini. Bila kita sepakat bahwa judul ini salah, dan memang disengaja salah pasti ada batu dibalik udang, ada nopia dibalik kapulaga …sudah pasti itu….. Ya! Tepat sekali …kesalahan ini justru ingin menunjukkan kekaguman kepada kedua maestro ini karena memang dua-duanya perlu diacungi jempol sebagai kibordis yang handal. Lha …pasti pada protes, mengapa hanya dua orang ini? Tunggu dulu ….. Dua orang ini dipilih karena: 1.) Keduanya bermain kibor dengan lincah sekali dan terkadang rumit dan sulit dimengerti namun lama-kelamaan enak di kuping (contoh: Toccata yang ada bunyi air mendidih blekuthuk-blekuthuk; Karn Evil 9 yang mainnya sungguh super duper lincah pada kasus ELP; Close To The Edge ada bunyi semacam gemericik air, Don’t Kill The Whale yang pertama kali denger lagunya ndak enak blas namun begitu terbiasa jadi ketagihan – pada kasus Yes). 2.) Keduanya juga cukup lama berkontribusi di kelompok masing-masing bahkan dalam kasus ELP gak pernah kibordisnya ganti, paling2 yang ganti ya drummernya) 3.) Masing-masin juga bikin solo album di luar band nya. 4.) Keduanya juga selalu main papan-kunci dan bukan instrumen lainnya (dalam hal ini Kerry Minear yang main kibornya juga yahud gak masuk karena dia multi-instrumentalist karena bisa main cello dan vibraphone). Mengapa Tony Banks tak masuk? Karena tak masuk kriteria nomer 1 karena permainan Tony Banks sebagian besar melodik, jarang yang jumpalitan meski di medley In The Cage dia main atraktif.
Nah, kalau Anda disuruh milih antara kibordisnya Yes sama ELP mana yang Anda pilih? Kalau saya …sepanjang mereka dibandingkan dalam kontribusinya di band nya masing-masing: Yes dan ELP tentu gak bisa dipilih salah satu karena memang dua-duanya doahzyat dah ! (sambil membayangkan suatu hari Emerson tukeran sama Wakeman: Wakeman membawakan Karn Evil 9 terus Emerson membawakan Don’t Kill The Whale – koyok opo dadine yo? Pasti bumi gonjang-ganjing pring reketeg gunung gamping ambrol tenaaannn!!!). Siapa tahu suatu hari ELP menggelar “An Evening of Yes Music Plus” sedangkan Yes menggelar “A Tribute to Welcome Back My Friends To The Show that Never Ends…” WHOOOOAAAAA…..!! Melayang tuwenan jek!
Namun …
Bila liat kapasitas di luar band nya, tentu pol saya milih Mas Wakeman … Bayangkan mas Wakeman ini bisa merealisasikan album gila dari khayalan gilanya yang tak pernah terbayangkan bisa dibuat oleh Yes: Journey To The Center of The Earth atau No Earthly Connection atau The Myths and Legend of King Arthur ….Wow …kebayang gak sih akalu album2 tersebut digarap bareng Yes? Mungkin gak bakalan keluar album2 maha hebat dan lagu semacam “You shal hang said the Judge!” (The Prisoner) atau “King Arthur” atau “Journey” …. Bener gak sih? Bagi saya album2 Wakeman tersebut tak kalah bila disandingkan Close The Edge sekalipun! Ini bagi saya lho ya … Mungkin bagi Anda tidak …. Ya ndak pa pa … Wong prog harus bisa menerima perbedaan … Lagian judul tret ini kan “Rick Wakeman Bagi Saya” …tinggal ngganti aja “saya”nya itu siapa …
Sedangkan Mas Emerson gak memiliki talenta dalam menggarap album solo. Bisa jadi beliau ini adalah an excellent team player dimana adrenalinnya baru muncrat kalau kerja bareng temen2nya di ELP. Suruh bikin sendiri album solo? Walah ….ora nggenah masiyo album Nihgthawks saya suka ya ….
Piye? Menurut Anda? Bebas berpendapat … Monggo dibahas ….
Jreng!
Response by Eddy Irawan (23 Feb 2013)
Saya setuju, bahwa Keith Emerson sangat ganas dan hebat jika main dalam grup. Bahkan menurut saya, permainan Keith di ELP lebih hebat dibandingkan Rick di Yes.
Permainan solo Keith di album ‘inferno’ yg merupakan soundtrack film akan bikin kita merinding ngeri, seolah ikut terlibat dlm film tsb. Bandingkan dgn Lisztomania yg juga merupakan sebuah sountrack film, yg ‘hanya pantas’ dinikmati, bahkan sambil baca koran.
Selamat siang semua,
Dalam keheningan yang sejenak beberapa saat sebelum saya berangkat ke jakarta untuk menghadiri National Congress Music For Life IX 2013 di Blok M Convention centre sebelah lapak kaset, saya berpikir apa yang bisa saya sumbangkan untuk ikut berbagi kebahagiaan karena bertemu rekan2 semua. Tiba-tiba saya terpaku pada buku karangan Alberthine Endah bertajuk The last Words of Chrisye. saya berpikir buku ini sangat menarik dibaca (bagi saya khususnya) karena selain menceritakan titik pandang salah seorang vokalis yang saya sukai,juga berisi bagaimana cara mensikapi hidup selama diri kita sakit ( dan ini dapat saya jadikan semacam contoh maupun pegangan apabila saya menghadapi pasien-pasien saya yg bernasib sama dengan penyakit yg diderita Chrisye yg kebetulan juga menderita Kanker paru stadium 4. Dalam buku ini juga dibeberkan sisi religius dari seorang Chrisye.
Namun, sikap seperti yang ditunjukkan Chrisye saya rasa bukan hanya kita lakukan saat kita sakit saja, namun juga sebaiknya juga kita lakukan disaat kita sehat walafiat tahes komes.. Sikap dan pemikiran apa saja sih yang dilakukan seorang Chrisye?? Silahkan baca buku ini, karena buku ini akan saya hibahkan buat yg beruntung di Prog Ring IX nanti,..(tapi hanya 1 buku saja,he..he..)
Oh iya, dalam buku ini juga dikisahkan mengenai syahdunya dan merindingnya batin Chrisye saat akan rekaman lagu Ketika Tangan dan Kaki Berkata (pernah diulas di Blog ini) juga rekaman terakhir Chrisye yg menyanyikan lagu Thalaal Badru Alaina dan Shalawat Badar (gambar kasetnya saya sertakan juga,karena kebetulan saya punya dan mohon maaf bila kaset yg ditampilkan tidak prog dan juga tidak Jadul). Setelah membaca buku ini dan mendengar Chrisye menyanyikan lagu ini, tak terasa melu mbrebess mili.. Lek gak percoyo, silahkan buktikan.. Jika tetep gakmbrebes mili, saya yakin bukan manusia, ha..ha…
salam
Selamat malam para Fellowships of The Blog,
lama gak ikut posting, kali ini saya coba kita sedikit ber-Obituari dengan Dewa Sitar, Ravi Shankar. Ya, Shankar meninggal tepat satu hari sebelum dunia dinyatakan kiamat oleh bangsa Maya, yaitu tgl 11 Desember 2012 kemarin dalam usia yg cukup tua, yakni 92 tahun akibat gangguan pernapasan..( ya memang ya,kalo sampai lupa bernapas, pasti kita akan meninggal,ha..ha..). Shankar membuka mata dunia barat akan indahnya musik dari Timur dan disebut-sebut banyak mempengaruhi gaya Psichedelic di dunia luar, padahal dia sendiri sempat kecewa dgn gaya Flower Generation, apalagi saat dia ikut Woodstock, melihat gaya permainan Jimi Hendrik yg sampai beraksi membakar gitar. menurut Shankar, alat musik adalah sama seperti bagian dari ciptaan Tuhan, sehingga tdk layak untuk dibanting dan dibakar diatas panggung. Permainan Shankar bahkan menarik minat George harrison untuk belajar padanya. Anak Shankar pun juga berprofesi musisi yg diakui dunia, yaitu Norah Jones dan Anouskha Shankar yg juga sebagai pemain sitar dunia.
Nah, dalam dunia gemblunk kita, sangat sulit menemui album-album Shankar versi kaset. beberapa yg sempat saya temui adalah Ragas, Homeage to Mahatma Gandhi,Live at Woodstok (kaset bule), dan Shankar Family versi Yess ( benarkah ini album Ravi shankar?? soalnya tdk terdapat nama musisi dalam sleeve-nya). Selain itu, tentu saja terdapat album Shakti bersama John McLaughlin yg banyak beredar versi Yess-nya.
mendengarkan musik yg dimainkan Ravi Shankar, pikiran jadi ikut melayang karena terbawa hawa meditasi…. gak percaya?? Coba anda nikmati di Album ragas, yang hanya berisi 4 lagu panjang..
Selamat menikmati dan Jika menemukan kasetnya di lapak langganan njenengan semua,jangan ragu untuk menyambernya, kalo perlu dirampas, ha..ha…
Pagi ini terima kiriman wordless email dari pak Gatot Triyono yang mengaplikasikan filosofi “Picture says thousand words” yang hanya berisi foto ini thok! Silakan diuraikan sendiri “visual meaning” dari foto ini …. (aku ora melok-melok wis … ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha…)