Archive for the ‘Music’ Category

Panjang Umur Paul McCartney!

June 19, 2013

Oleh: Noviar Hidayat

 

Hari ini tanggal 18 juni 2013, Paul McCartney genap berusia tujuh puluh satu tahun. Paul adalah satu dari sedikit musisi yang masih eksis di usianya yang sudah lanjut. Tahun ini pun Paul McCartney masih konser di beberapa negara, seperti di Brazil. Kapan ya ke Indonesia? Hehehe….

Sudah sekian lama saya menjadi penggemar The Beatles, awalnya saya kurang tertarik dengan proyek solo masing-masing personelnya. Tak banyak lagu yang saya kenal dari solo karier John Lennon, Paul McCartney, George Harrison, maupun Ringo Star.

Setelah mengoleksi seratusan lebih kaset The Beatles, saya mulai mengumpulkan juga kaset-kaset album solo personel The Beatles. Dari beberapa kaset Paul McCartney yang saya punya, kaset The Best Of Paul McCartney produk AQUARISU-lah yang membuat saya suka dengan solo albumnya Paul. Menurut penglihatan telinga saya Paul lebih progressive dari pada John ataupun George.

Paul Mc

 

Kaset ini saya dapat akhir tahun kemarin waktu saya ngantar ‘mantan pacar’ saya ke Bandung. Saat istri saya sedang ada acara diklat saya jalan-jalan keliling Bandung naik angkutan umum. Saat sampai di Dago saya lihat ada persewaan sepeda yang murah-meriah, Cuma 3000 perak per jam. Tanpa pikir panjang saya langsung sewa dengan jaminan KTP. Dari dago saya gowes keliling Bandung menuju Cihapit. Saya belum pernah kesana sebelumnya. Dengan bekal mulut, saya tanya sana-sini akhirnya ketemu juga pasar loak di daerah Cihapit. Ada beberapa lapak kaset disana, tapi gak terlalu banyak. Ada beberapa yang jual CD dan PH juga. Setelah tengok sana tengok sini saya cuma ambil beberapa kaset The Beatles dan satu kaset Paul McCartney ini.

Kaset ini saya beli hanya 5000 rupiah, tapi isinya top-markotop.

 

Track List:

A

Goodnight Tonight

Waterfall

London Town

Band On The Run

Another Day

Uncle Albert/Admiral Halsey

Venus and Mars

B

Coming Up

Silly Love Songs

Live And Let Die

My Love

Mull Of Kyntire

Listen To What The Man Said

Mrs. Vanderbilt

 

Dibuka dengan Goodnight Tonight, lagu ini agak nge-pop  isinya kurang lebih seperti party-party atau semacamnya, dengar lagu  ini saya malah jadi ingat lagu Teak Boys-nya ABWH….  Lagu berikutnya Waterfall, suara Paul manis banget diiringi petikan gitar akustik bercerita tentang orang yang hampir putus asa dan bunuh diri di air terjun gerojogan sewu…hehehe… London Town lagu cerita tentang suasana Kota London jadi ingat lagu Penny Lane dari album Magical Mistery Tour ciptaan Paul juga…

Band On The Run, wah lagu ini paling nge-prog menurut saya, dibuka dengan petikan gitar maut beberapa bar, disusul dengan vokal Paul yang lembut berlanjut dengan irama-irama yang berubah-ubah. Menurut saya gak beda jauh dengan Bohemian Raphsody nya Queen.

Selanjutnya lagu yang nge-prog (menurut saya lagi) yaitu Uncle Albert/Admiral Halsey.

Lagu ini mengingatkan saya dengan lagunya Genesis, “Back In N.Y.C.” di reff terakhir suara vokal Paul berubah karakter seperti Peter Gabriel saat menyanyikan, “If I couldn’t porcupine….“ di lagu ini juga ada suara efek hujan…. cocok banget disetel pas musim hujan begini.

Live And Let Die, ini lagu juga bikin mbrebes mili kalo lihat video-nya di Youtube saat Paul konser membawakan lagu ini. Dengan efek suara ledakan-ledakan yang menggelegar, bikin adrenalin muncrat kemana-mana. Ya jelas, ini kan lagu OST James Bond tahin 1973. Coba bandingkan dengan yang dibawakan GNR, mana yang lebih nge-rock?

Lagu terakhir yang saya suka yaitu Mrs. Vanderbilt. Reff lagu ini “ Ho, hey ho” adalah kebalikan dari “Oh yeh, oh” yang bertebaran di lagu-lagu The Beatles.

Kaset ini juga melengkapi koleksi saya. Sebelumnya saya sudah punya The Best George Harrison  versi AQUARIUS  seperti ini juga.

George H

 

Tinggal mencari The Best-nya John Lennon dan The Best-nya Ringo Starr yang seperti ini biar komplet empat kaset solo personel The Beatles. Ada gak ya?

At Last,

Happy Birthday Sir James Paul McCartney!!!

Singaraja Bali, 18 Juni 2013.

NB:

Kaset-kaset TheBeatles koleksi saya akan saya ulas, insyaAllah mulai setelah lebaran sepulang saya dari Singaraja ke Tegal.

Aula Simfonia Jakarta

June 7, 2013

By: Herman

Menikmati akustik ruang konser

Awal Kenal Aula Simfonia

Melalui browsing di internet tentang Teater kira2 sebulan yang lalu saya dapatkan 2 informasi baru bagi saya. Yang pertama, Teater Kecil Taman Ismail Marzuki telah direnovasi menjadi teater modern.

Kedua, ada teater baru bagi saya: Aula Simfonia Jakarta (ASJ), padahal sudah dibuka sejak 2009.

ASJ merupakan teater untuk pertunjukan music klasik secara teratur, setidaknya dua bulan sekali, dan dirancang dengan akustik ruangan untuk pertunjukan tanpa sound system. Terdorong keinginan menikmati akustik ruangan ASJ, melalui informasi website ASJ telah membawa saya nonton pergelaran di ASJ, tanggal 26 Mei 2013 dari pukul 17.00 sd 19.30.

Setelah beli tiket dengan pelayanan yang baik kita masuk ruang pergelaran pukul 16.45.

Kesan pertama interior ASJ adalah klasik karena adanya patung2 yang ada dinding. Di arah ujung dari pintu masuk tampak seperti ornament interior berbentuk garis berderet merupakan deretan pipa2 organ yang konon ada3000-an pipa dengan berat total kurang lebih 10.000Kg.

Di dalam aula sudah banyak penonton yang kebanyakan sedang mengagumi suasana interior dan ber foto-foto. Ada yang motret gedungnya ada juga yang berfoto dengan latar belakang suasana interior gedung yang mengesankan tersebut. (Selama pertunjukan berjalan tidak diperbolehkan motret) Lantai, dinding, ruangan semua berlapis kayu, sampai tempat dudukpun dari kayu dengan bantalan tipis. Pencahayaan-nya fixie, artinya ya seperti itu dari awal baik sebelum pertunjukan maupun selama pertunjukan sampai selesai.

image

Menikmati Akustik Ruangan

Tepat pukul 17.00 pertunjukan dimulai dengan nomor pembuka solo piano karya Chopin dimainkan oleh Gloria Teo (18 tahun).

Mengalunlah denting piano dengan bening melalui permainan yang piawai…Saya merasakan akustik ruangan yang bagus …. suara piano itu begitu bening dan nyata, dari denting yang lembut sampai yang menyentak …. saya ingin mengatakan ini seperti mendengarkan music piano dari sound system yang terbaik….saat itu logika saya berkata :jadi sound system yang baik itu adalah musik live dengan akustik yang prima tanpa sound system….hahaha…..

Kalau dalam pertunjukan music salah satu tolok ukur kepuasan adalah dari sound system maka di Aula Simfonia kepuasan adalah pada akustiknya yang membuat semua suara dapat didengar dengan baik.

Nomor ke dua adalah masih solo piano yang enak didengar, kesannya lucu..sesuai judulnya : The Cat and The Mouse.

Nomor ke 3 adalah Piano Cocerto, permainan piano oleh Indah Lestari diiringi orchestra lengkap. Nomor ini terdiri dari 3 Bagian : Allegro-Andante-Allegro dengan total durasi 19 menit. Dari awal music berbunyi saya pejamkan mata, saya ingin merasakan saat masuknya piano. Saya tidak kenal lagu ini tetapi begitu mendengarkan permainan piano masuk dengan bening serta melodinya indah wah.. benar2 menusuk kalbu…. melodinya rada ngeprog setidaknya penggemar musik prog pasti mudah familiar dengan melodi seperti itu ….disini akustik ruangan lebih terasa kehebatannya…semua suara dapat terdengar dengan nyata . Bagian pertama musiknya dinamis dan ekspresiv sepanjang kurang lebih 7 menit. Kemudian dilanjutkan bagian kedua yang lembut romantic sepanjang kira kira 6 menit dan diakhiri bagian ke 3 kembali dinamis sekitar 5 menit. Terasa sekali nikmatnya akustik ruanngan ASJ, semua warna suara alat music bisa kita dengar dan rasakan . Suara string ( biola), Cello, kontra Bass yang kadang dibetot kadang di gesek , clarinet, tympani maupun crash semuanya terdengar jelas dan natural. Dari sisi musiknya, piano Concerto ini menurut saya adalah lagu paling enak dinikmati sepanjang pertunjukan hari itu. Lagu ini mengingatkan saya kepada Musik Rick Wakeman, klasik tapi tidak kalah ekspresif dari music RW yang sudah Progclaro.

Setelah jeda 15 menit pertunjukan selanjutnya adalah Symphony karya Felix Mendelssohn. Ada 2 nomor : The Hebrides Overture dan Symphony No 4 in A Major Op 90. 2 Nomor ini cukup panjang, total durasi kurang lebih 30 menit. Sesi music Symphony ini saya nikmati dengan mengikuti gerakan conductor Dr. Stephen Tong yang juga perancang ASJ ini. Sebagai conductor Dr. Stephen Tong sangat menghayati semua detil musik yang dimainkan sehingga gerakannya mengalir menyatu dengan irama musik yang dimainkan. Setiap gerakan pas dengan ketukan. Yang saya suka pada saat musik :Jreng! Gerakan tangannya seperti meninju dengan kepalan terbuka…..dan selalu pas. Musik yang begitu panjang saja sang dirigen hafal…saya fikir musik apapun mudah bagi beliau untuk memahaminya, termasuk progclaro…Tetapi musik yang panjang ini bisa menjebak kita untuk mengantuk, apalagi bagian2 yang terlalu lembut….Dulu saya suka mengantuk pada bagian2 yang lembut…tetapi kemarin di ASJ sepertinya ada saja yng bisa diperhatikan sehingga terhindarlah dari acara mengantuk…hehehe…memamng musik klasik apalagi Symphony yang panjang lebih baik kita nonton yang lagunya kita kenal dan yang iramanya yang agak rancak…..Sebagai informasi Agenda ASJ bulan July mendatang ada konser dengan salah satu nomor yang dimainkan karya Smetana ( Ma Vlast Modau) yang mungkin sudah banyak yang kenal, karena ada di kaset Yess albumnya Ekseption “Back to the Classic” side A nomor 1.

Selama di Jakarta seingat saya pernah beberapa kali nonton pertunjukan music klasik salah satunya pada tanggal 31 Agustus 1995 di ruang pertemuan balai Sidang Jakarta. Rasa puas mengiringi perjalanan pulang hari itu ….ada rasa bangga juga karena Jakarta akhirnya punya fasilitas sebagus itu, bisa mensejajarkan dengan kota besar negara2 lain.

Mudah 2an ASJ juga menghidupkan kembali Radio FM klasik yang dulu pernah ada di Jakarta sehingga semakin memberi pilihan bagi penikmat music baik melalui pertunjukan maupun melalui radio ….

Salam,…Herman.

aula simfonia acara juli 2013

aula simfonia acara juli 2013

 

 

aula simfonia cover booklet

aula simfonia cover booklet

 

 

Grafiti Lagi

April 1, 2013

Meski bukan penggemar aliran grunge atau ada yang biasa menyebut dengan Seattle sound, saya sangat terkesan dengan grafiti ini sampai saya berhenti gowes sekedar untuk memotretnya. Kelihatan membuatnya bukan sembarangan dan pasti cukup lama bikinnya. Salut!

Itu foto saya ambil sekitar sebulan lalu. Minggu lalu saya lewat sini lagi, saya liat separuh tulisan di bagian kanan sudah ditimpa aquaproof (boco boco …!!!) warna abu2 tua. Kemungkinan ditimpa oleh pemilik ruko yang tak suka dindingnya dicoreng-moreng.

Namun ya dasar anak muda ….bagian yg sudah di aquaproof itu dicoreng lagi meski gak menggunakan font yg sama dan kelihatan sekali semprot pylox. Saya yakin suatu hari tulisan seperti foto ini akan kembali lagi ….ha ha ha …. Bahkan kayaknya bakal jauh lebih ramai lagi.

Ha ha ha ….

grafiti yang keren banget. sayang dihapus sebagian sekarang ....

grafiti yang keren banget. sayang dihapus sebagian sekarang ….

Sirkus Barock “Anak Angin”

February 11, 2013
Buat teman2,yg ingin memiliki CD Sirkus Barock ”Anak Angin” + Kaos,bisa pesan ke saya,harga 150 ribu (sudah termasuk Ongkos Kirim ).
Uangnya bisa ditrasnfer ke Rek BCA a/n Vicktor Ekaputra no Rek 7000369998. dan nama lengkap,alamat pengirimananya serta ukuran kaosnya di sms ke 0812 8500 261.
Wass
Gatot Triyono
Kaos & CD R

Rick Wakeman Bagi Saya (4 of 38)

January 24, 2013

The Six Wives Yang Gak Enak Blaszz!

Itulah kesan saya pertama kali nyetel kaset Perina Aquarius hitam-putih “Six Wives of Henry VIII” punya kakak saya Henky yang saat itu pulang liburan smesteran dari kuliahnya di Yogya. Sungguh saat itu saya gak bisa menikmati musik tanpa lagu (‘gak ada yang nyanyi’ – red.). Ha ha ha ha … Lucu ya, mosok musik dinilai dari ada atau tidaknya yang nyanyi. Lha gimana lagi saat itu yang ngetop kan bangsanya Led Zeppelin, Grand Funk, Uriah Heep, Deep Purple, Genesis, Yes, King Crimson yang semuanya “ada laguunya”. Lha kok ujug2 ada album yang musiknya ruwet cuman isi suara kibor ndak karu-karuan. Saya ingat sekali kaset tersebut karena memang covernya, meski hitam-putih, namun menampakkan Rick dengan tumpukan peralatan kibornya; yang kemudian saya tahu bahwa itu merupakan foto di bagian belakang cover PH atau CDnya yang gambarnya seperti ini:

RW Six Wives

Dengan side B nya adalah “Concerto for Group and Orchestra” – Deep Purple. Opo ora tambah mumet? Semua side A dan B tanpa lagu?

Tapi ya karena saya begitu tertarik dengan prejengan Rick di tumpukan kibor tersebut maka saya putar juga kaset tersebut meski jujur aja saya ndak ngerti apa yang dia mainkan. Saya putar tiga kali kok ya tetep ndak ngerti musik gak karuan gini – padahal saya suka Yes. Alasannya ya satu itu: ada lagunya kalau Yes. Opo ora ndesit blas? Lha kok …jebulnya lama-lama suka bahkan ketagihan apalagi setelah mendengarkan solo kibor Rick di album Yessongs. Selebihnya ….sejarah berbicara karena saya benar-benar amat sangat ultra dynamic dbx dolby stereo system menyukai album ini pol! Wis jiyan …lebay bombastic pol ya? Ha ha ha ha … Begitulah indahnya memaknai musik progressive rock karena speechless buat berkomentar sesuai dengan lagu ini yang memang speechless at all.

Berselancar menikmati The Six Wives …

Setiap saat saya menikmati album ini perasaan saya selalu campur aduk antara mesin pemutar waktu yang tiba-tiba membawa saya ke alam remaja dimana saya pertama kali bingung menikmati album ini hingga menyukainya. Bahkan di saat saya bersepeda ke toko kaset Miraco atau Duta Irama di Madiun, atau sedang ke sekolah, saya sering bersenandung lagu2 di album ini seperti “Jane Seymour” yang banyak bunyi organ menyayat sukma dan suara synthesizer yang eksperimental itu. Saking asiknya bersenandung sampai saya lupa bahwa onthelan sepeda harus saya sudahi karena tanpa terasa saya sudah sampai di tempat tujuan saya. Agak gelo, wong senandung belum habis kok udah nyampe! Huh! Kesel banget…! (ha ha ha ha …wong cumak senandung aja kok sampe kesel ya?).

Selain itu pikiran saya menerawang ke sebuah gang sempit (yang hanya bisa dilalui satu motor dan kalau papasan musti salah satu mengalah dulu, saking sempitnya) di kelurahan Kubangsari, kawasan Sekeloa, Bandung. Saat itu saya sedang menimba ilmu perkasetan di kota Bandung….ha ha ha …kok yang diingat malah kasetnya buka text book nya apa ya? Dasar! Tiap hari yang dipikir memang kaset muluk saat itu, mana ada waktu mikirin kuliah karena ndak penting itu. Ngaset lebih utamalah .. ha ha ha ha …. Ya… di sebuah kamar berukuran 3×3 meter di rumah nomer 28 setiap hari selalu mengalun musik prog dengan volume super duper kenceng tak mempedulikan tetangga. Iya, soalnya yang salah tetangganya, kok mau bertetangga sama progrocker? Salah tetanggalah, bukan salah saya! Wis pokoknya di kamar tersebut selalu hiruk pikuk suara musik dari tape deck Fisher, ampli NAD 3030 dan speaker AR 18. The Six Wives ini termasuk yang selalu setia menemani saya. Saya lupa saat itu apa saya masih menggunakan yang rekama Aquarius atau bukan. yang jelas pada bulan Pebruari 1986 saya membeli lagi kaset ini rekaman Monalisa karena Yess tak pernah mengeluarkan album ini sebagai judul kaset, adanya di side B. Wah ya ndak seru, wong album dahzyat kok cuman di B-side ….wah penghinaan itu. Makanya saya beli lagi kaset Monalisa ini.

Sesuai penanggalan pembelian di dalamnya, kaset ini saya beli 14 Februari 1986 di Bandung.

Sesuai penanggalan pembelian di dalamnya, kaset ini saya beli 14 Februari 1986 di Bandung.

Di gang sempit tersebutlah saya menikmati musik dari album ini dengan seksama sambil nyambi ngerjain tugas kuliah. Seringkali saya bolak-balik cover kasetnya sambil dipandang keindahan cover meski tak ada informasi apa-apa selain judul lagu thok. Mana saya tahu saat itu bahwa ada Bill Bruford dan anggota Yes lainnya main di album fenomenal ini. Memang saya curiga saat mendengarkan suara drums yang dinamis khas Bruford. Tapi saya baru tahu setelah ada internet dan punya CD-nya. Suasana malam hari di Kubangsari begitu dingin dan sepi mencekam, sehingga desiran suara kibor dan organ Rick Wakeman dicampur sama piano mengawali Chaterine of Aragon terasa langsung MAK DHEGH nunjek ulu ati-rempelo sampai nggeblak jiwa ini ….uwediyaaannnn!!! Kok bisa bikin lagu indah gini ya? Belum lagi tiba2 musiknya sunyi dan suara synthesizer yang eksperimental mengisi jeda dengan sangat sempurna…whuah! Hebat.

“Anne of Cleves” bener2 guwendheng karena dimulai dengan suara kibor repetitif diikuti JRENG beberapa kasli sambil suara kibor repetitif tersebut menjadi altar trus ujug2 pindah dengan masuknya permainan drums penuh dinamika dan girah dari Bruford. Guwendhenk tenan iki lagu! Pas bagian solo kibor dimana drums nya menjadi dominan seperti solo tepatnya mulai menit 1:30 seterusnya ….wah edaaannnnn gak tahan saya menikmati musiknya yang mengalun dinamis dan paling enak kalau ini digedein volumenya …. Bener2 gagah nih lagu! Bener2 rocking pol! Tanpa harus memakai guitar riff toh setiap orang yang mendengarkan lagu ini pasti bilang bahwa ini musik rock. Belum lagi permainan bassnya yang bermain dinamis seperti tiker digulung cepat …biyuh muantab jaya!!!! Sik yo aku tak muncratno adrenalin disik ya …. Bener2 ultimate musical orgasm! Gak percaya? Coba dah pasang sendiri album ini. Pasti setuju dengan saya!

‘Catherine Howard’ diawali dengan sentuhan piano yang mengalun syahdu. Namun ternyata itu tipuan belaka karena setelahnya ujug-ujug mak gedandut ada hentakan musik meski terus akhirnya disambung dengan musik mengalun. Yang nuansamatik adalah di tengah lagu ini ada demonstrasi kibor eksperimental dan sering digunakan Rick saat live hingga sekarang karena memang nuansamatik dan sangat amat Rick banget. Intro “Jane Seymour” juga bikin hati tersayat sembilu saking halusnya. Namun asik banget tonjokan bunyi kibor mengalun sebelum suara organ mengalun menampar sukma. Wah ndak bisa diungkapkan dengan kata dah …. bunyi drums saja agak disembunyikan untuk menimbulkan dampak yang langsung nunjek ke ati paling dalam. Dua lagu lainnya “Anne Boleyn” dan “Catherine Parr” juga memiliki dampak dahzyat kepada sanubari saking indahnya komposisi terutama perpindahan antar segmen yang terasa dinamis sepanjang lagu. Wis to ..pokoke dijamin nggeblak! JRENG!

 

Psssst … Ada yang “Excited” dengan Gemblungers!

January 10, 2013

Pagi ini terima kiriman wordless email dari pak Gatot Triyono yang mengaplikasikan filosofi “Picture says thousand words” yang hanya berisi foto ini thok! Silakan diuraikan sendiri “visual meaning” dari foto ini …. (aku ora melok-melok wis … ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha…)

"Hmm ...what a great merchandise!"

“Hmm …what a great merchandise!”

 

 

 

Referensi Musik

January 8, 2013

By: Yuddi Kustiadi

Adalah sangat sulit mencari referensi  ttg grup-grup musik  akhir ‘60an -‘70an terutama utk referensi album2  lama (back catalog) grup yg  macam kaset2 terbitan Yess. Yang biasa dipakai adalah bertanya ke teman (kalau ada yg satu aliran) , buka majalah musik lama (utamanya Aktuil) atau terpaksa sediakan cukup waktu utk coba dengar di toko kaset  (dgn  sedikit tebal muka).

Pd tahun ’85 terbukalah semua informasi ini dengan dibukanya perpustakaan USIS  yg dikelola kedubes AS di ged. Metropolitan II jl. Sudirman Jakarta. Yg sungguh2 bermanfaat dan membuka  informasi yg selama ini dicari-cari  adalah adanya ensiklopedi  ttg musik  terbitan  Rolling Stone edisi.1  (edisi.2 nya sempat di jual di Jakarta)  dan ada satu ensiklopedi  lagi yg  sangat lengkap  (dari Beatles, Rolling  Stones sampai  Gentle Giant, Van Den Graff Generator) berisi riwayat  per artis/ per grup, personal yg terlibat album per album,  album solo yg terbit dan rating album2nya.  Sayang buku tsb tdk bisa dipinjam jadi terpaksa foto-kopi  halaman  grup-grup yg menarik saja.

Dengan informasi detail ini jika ke toko kaset  sudah menguasai benar informasi album2  lama yg kita cari (biasanya terbitan Yess atau Monalisa) , dan bisa sedikit ‘nerocos  sok teu’  jika kebetulan di toko bertemu manusia yg satu genus. Sayang informasi  ini hanya bermanfaat sekali sampai dengan pertengahan ’89.

Berikut adalah contoh kopian halaman mengenai Jethro Tull :

Yuddi 1

 

Yuddi 2

Demikian mas G dan kawan2 kisah mengenai  salah satu referensi yg saya gunakan sebelum nongolnya internet.

Terima kasih.

Rick Wakeman Bagi Saya (2 of 38)

December 19, 2012

Awalnya Biasa Saja …

Bila ditinjau dari kapan pertama kali saya mendengarkan permainan Rick Wakeman ya tentu dari kaset Yes “Fragile” yang merupakan rekaman dari PH, bikinan kakak saya, dari koleksinya Radio Geronimo, Yogya. Inipun lucu banget kisahnya. Suatu hari temen saya SMP Negeri 1 Madiun yang namanya Yaya’ (Cahaya Utama) memberi tahu ke saya bahwa ada lagu enak dari kelompok namanya ELP berjudul “Yes”. Langsung saya kirim surat (tahun 1974 belum ada internet coy!) ke kakak saya, Henky, di Yogya minta tolong dicarikan kaset berisi lagu tersebut. Mungkin kakak saya mesem waktu baca surat saya tersebut karena dipikirnya adiknya o’on banget, mana ada lagu tersebut. Supaya memuaskan saya maka direkamlah oleh dia dua kaset: ELP “Brain Salad Surgery” dan Yes “Fragile”. Saya kecewa, mana kok ELP gak membawakan lagu berjudul “Yes”? Inget …jaman segitu belum ada mbah Google …. Singkat cerita saya langsung suka kedua kaset tersebut.

Terkait permainan Rick di Fragile sebenernya saya tak terkesima banget karena justru yang membuat saya tergila-gila adalah keindahan dan dinamika musik dari lagu “Roundabout”. Dari segi musisi yang saya kagui pertama adalah pemain gitar nya karena unik banget intronya yang akustik kemudian pindah ke elektrik. Setlah itu baru bass dan drum nya yang unik. Praktis, saya kurang terkesan dengan organ atau kibor nya. Semuanya “biasa saja ….” kayak Nuansa Bening nya Keenan gitu kira-kira ekspresi saya saat itu. memang sih ada tukikan indah di Roundabout dalam permainan Rick – namun saya ndak tahu siapa pemainnya.

Yessongs dan Journey

Kakak saya kemudian merekamkan saya kaset Yes bertajuk Yessongs dimana di dalamnya ada solo kibor yang bener2 rockin’ yaitu di lagu “Excerpts from Six Wives” tapi tetep gak tahu siapa pemain kibornya. Selain itu juga ada kaset telanjang tanpa info yang kemudian ternyata itu adalah “Journey to The Centre of The Earth”.  Saya baru tahu pemain kibornya setelah tahu di kompilasi Prambors Hits ada lagu bertajuk “Journey” oleh Rick Wakeman. Oooooooo namanya Rick to! Sampai di situ saya juga gak tahu kalau Rick ini yang main di Yes sampai suatu ketika saya baca di majalah Aktuil bahwa Rick adalah anggota Yes. Wah…langsung tambah cinta saya sama tiga kaset tersebut: Fragile, Journey dan Yessongs.

Gak tahu kenapa ya, kalau menikmati solo kibor RW di Yessongs itu kok perasaan saya begitu bersemangat. Rasanya, solo kibor dia itu gahar dan memberikan nuansa konser yang keren apalagi membayangkan dia menggunakan jubah di konsernya, sesuai artikel di Aktuil. Setiap nyetel kaset Yessongs, saya selalu pengen cepet nyampe ke bagian solo kibor tersebut. It’s so rockin’ …!

Dua album dahzyat

Dua album dahzyat

Melalui Yessongs saya terpikat dengan "Excerpts from Six Wives"

Melalui Yessongs saya terpikat dengan “Excerpts from Six Wives”

Yes "Fragile" rekaman Aquarius milik mas Eddy Irawan

Yes “Fragile” rekaman Aquarius milik mas Eddy Irawan

Setelah kenal RW dari tiga album tersebut, kemudian saya melihat kakak saya membewa kaset “The Six Wives of Henry VIII” rekaman Aquarius hitam-putih dan side B nya adalah Concerto for Group and Orchestra (Deep Purple). Saya semakin jatuh hati sama orang yang namanya Rick Wakeman ini.

Etalase Prog

December 17, 2012

Di tengah hiruk-pikuk dunia perkasetan yang begitu membahana merangsek sukma, malam ini tadi saya justru menikmati CD tanpa sedikitpun memutar kaset. Tanya kenapa? (Niru gaya nulisnya mas Hendrik…) ….

Pasalnya CD Player saya NAD yang jadul itu baru saya pasang lagi setelah minggu lalu usai diservis (ganti mata laser) dari bengkel. Jujur aja saya males banget masangnya karena sudah ada cassette deck Tandberg nan dahzyat. Namun karena CD Rick Wakeman “Journey” terbaru belum pernah diputer di CD player, akhirnya terpaksa saya pasang tuh di setereo set saya yag minimalis itu. Ternyata keseluruhan malam saya gunakan buat memutar musik2 prog jadul dan setengah jadul hingga sekitar jam 23:00 baru saya sudah aktivitas ini. Puwas ….! Seperti penggemar GNR baru nonton konser di MEIS aja rasanya ….

CD Rick Wakeman benar-benar saya nikmati tekun, track by track, dari narasi pembuka nan elegan oleh Peter Egan hingga penutupan orkestra nan megah membahana di track 27 “Mounth Etna” ….wah …edaaannn memuaskan dahaga prog jadul dengan kualitas rekaman modern, fully digital. Pas mulai track track 16 (Raft) dan masuk track 17 “The Battle” emosi saya teraduk gak karuan menikmati keindahan komposisi dan permainan kibor Rick yang dahzyat itu. Asik banget. Mengingat begitu indahnya musik Rick dan begitu besarnya makna musiknya bagi saya, suatu saat saya akan memuat tulisan berseri tentang Rick wakeman …. Mudah2an ada waktu …

Setelah itu saya menikmati beberapa CD Marillion mulai dari Fugazi terutama track “Emerald Lies”, “She Chameleon” dan “Fugazi”. Sempat juga Marillion “Misplaced Childhood” dan mencoba “Grendel” versi disc 2 nya Script.

Puas sekali menikmati etalase prog jadul (Wakeman) dan setengah jadul (Marillion) ….

Salam,

G

 

 

 

Perjalanan Musikal Nuansamatik Noviar Hidayat

December 8, 2012

Sudah beberapa tahun saya mengikuti blognya Om Gatot yang progressive nan nuansamatik dan gemblung ini. Ingin rasanya saya berbagi seperti teman-teman yang lain bagaimana ceritanya kenal dengan musik rock-progressive.

Pertama saya kenal dengan musik rock barat adalah lewat TheBEATLES. Waktu itu sekitar tahun ’98-99 saya masih duduk di bangku SMA. Seminggu sekali saya mengikuti pengajian taklim di rumah tetangga. Yang mengisi pengajian taklim rutin sekaligus tuan rumah adalah Mas Herwinto (saya lebih akrab memanggilnya Koh Win). Saat musim hujan, setelah pengajian selesai saya dan beberapa teman sering terjebak hujan dan tak bisa pulang. Akhirnya saya menginap di rumah Koh Win.

Saat menginap disana sambil ngobrol sana-sini, Koh Win memutar koleksi kasetnya. Kaset yang dia pamerkan adalah  TheBEATLES yang dia tempatkan di kaset yang bisa muter itu.  Empat belas album versi lisensi EMI komplit, ditambah beberapa kompilasi serta beberapa rekaman Aquarius.

Awalnya saya kurang tertarik dengan musik barat. Ketika diputar beberapa lagu, saya dengar dan saya merasa tidak asing. Sudah sering saya mendengar beberapa lagu TheBEATLESitu waktu kecil. Lagu-lagu yang sudah akrab di telinga saya antara lain: Love Me Do, Please-Please Me, Anna (Go To Him), Twist And Shout, All My Loving, Yesteday, Obladi Oblada, The Ballad of John and Yoko, Come Together, Let It Be.

 Karena sudah tak asing dengan lagu-lagu itu saya jadi pengen mendengar lagu-lagu yang lain. Dan setiap selesai pengajian saya selalu menginap di rumah Koh Win, meski tidak hujan, demi untuk mendengarkan lagu-lagu TheBEATLES . Beberapa minggu kemudian saya sudah katam dengan lagu-lagu TheBEATLES. Setelah katam dengan TheBEATLES , Koh Win mulai meracuni saya dengan musik progressive.

Ketika sudah cukup malam Koh Win memadamkan lampu dan mutar kaset Genesis Foxtrot. Waktu itu saya kurang tertarik dengan musik selain TheBEATLES, tapi saya gak bisa protes Koh Win muter kaset apa karena dia tuan rumah yang punya tape dan semua koleksi kaset itu. Beberapa album yang pertama saya (terpaksa) dengar dari Koh Win adalah Genesis-Foxtrot kaset produk Yess. Serta 3 kaset hasil copy dari CD original grup Yes album Classic, Relayer, Topographic Ocean. Juga beberapa album kaset Kitaro produk Yess di antaranya ada album Toward The West.

KITARO

Kitaro – Toward The West produk Yess sampai saat ini belum saya dapat, tapi saya masih sedikit ingat isinya. Album itu berisi konser-konser Kitaro di beberapa negara Asia termasuk Malaysia. Ada satu komposisi (bukan lagu, karena tidak ada vokalisnya) yang judulnya Dawn In Malaysia (Getaran Jiwa).

Setelah sekian tahun berburu kaset kesana-kemari saya dapat beberapa album Kitaro produk Aquarius Private-Collection Rock Series, bukan produk Yess.

 Kitaro

Lima kaset itu cukup buat tombo kangen dengerin Kitaro. Di Aquarius tidak ada album Toward The West, yang ada Live in Asia. Ternyata isinya sama, karena ada Getaran Jiwa yang saya ingat.

Waktu itu saya pikir tahun 1980 Kitaro sengaja membuat aransement dengan judul memakai Bahasa Melayu (Malaysia) spesial untuk konsernya di Malaysia. Ternyata dugaan saya salah. Akhir-akhir ini saya baru tahu bahwa lagu Getaran Jiwa itu lagu Malaysia ciptaan A.Ramle. Dan Kitaro membawakan lagu itu versi instrument khas musik Kitaro.

Ohya, menurut saya kaset Kitaro perlu dikoleksi karena beberapa sebab. Pertama, Yess mengeluarkan beberapa album Kitaro. Ingat pasal pertama: “Apapun musiknya, kalo labelnya Yess sikat aja!”, begitu kata master kita, Om Gatot W. , yang punya blog ini. Hehehehehe.  Kedua, Jon Anderson sang vokalis Yes pernah berkolaborasi dengan Kitaro di beberapa lagu, satu yang saya ingat “Lady of Dream”.

Terima kasih Om Gatot. Kiranya cukup itu dulu yang bisa saya bagikan. Semoga nanti saya bisa berbagi cerita lagi di blog gemblung nan suwung ini.

Terima kasih juga buat Koh Win, barangkali dia juga baca ini. (saya masih terus komunikasi dengan Koh Win, dia cerita kalo dia juga ngikuti blog-nya Om Gatot ini).

Salam prog! Salam kenal buat teman-teman semua!

-Noviar Hidayat-

Email: kaosproud@gmail.com


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 72 other followers