Archive for the ‘Kaset’ Category

Demam Gary Wright

October 30, 2014

Gatot Widayanto

Gara2 mas Andria, mas Hendrik, dibumbui mas Rizki dan mas Khalil akhirnya nama Gary Wright tiba2 meroket menjadi trending topic di blog paling gemblung di dunia ini. Trending topicnya bahkan mendekati berita gemparnya bakal ada DPR Perjuangan (jadi, selama ini memang DPR gak berjuang ya buat rakyat?) yang lagi meroket di medsos. Untungnya si GW ini hanya meroket di kalangan wong gemblung, jadi ya masih terkontrol lah ….ha ha ha …. Lha gimana gak gemblung ya, di sini tak hanya prog aja yang tumbuh subur namun metal dan pop pun juga punya porsi. Ha ha ha …. Pokoke sing penting musik untuk kehidupan ….he he …

Lha , malam ini saya balik ke rumah dari rumah ibu saya sambil gowes kok ya menikmati playlist yang ada dua lagunya GW yakni Dream Weaver dan Blind Feeling. Whoooaaaa …. Suasana gowes jadi marak. Dan pada saat melintas di depan rumah mas Rizki rasanya saya mau gedor pintu rumahnya sambil pamer bahwa di iPod saya sedang playing Dream Weaver yang terkoneksi ke Voombox . Ini fotonya:

image

Terus saya melaju santai dan setelah Hair of the Dog nya Nazareth lha kok nyambung ke Blind Feeling nya GW. Opo ra tambah nyamleng suromenggolo ki nartosabdo mangku wanito udo? Nikmaaadz pol ….. Trus sampek rumah tak golèki itu kaset Styx rekaman Nirwana dan dapet. Ini dia fotonya:

image

-

image

-
Dan ternyata masing2 dapat porsi sama yakni 30 menit baik Styx maupun GW. Whoooaaaa … Kaset ini sungguh nuansamatik kemlitik zonder rheumatik pol bagi saya. Rasanya mau menangis teringat masa itu saat beli kaset ini ….jauh jauh ke Pasar Turi hanya mampu beli satu buah kaset; itupun uang hasil dikasih kakak sepupu saya, mbak Aniek yang baik hati. Ludeslah uang rp. 700 saat itu buat beli kaset ini. Duh …merindhink disko nih kalau ingat masa lalu. Miskin dan indah. Poverty is beautiful!

Nah … Ruang di bawah ini akan kemudian diisi foto2 kaset GW koleksi mas Rizki dan mas Hendrik:

-

(Intentionally left blank for upcoming pictures)

-

Salam,
G

“Sweet Rock 1″ by Perina Saturn

October 28, 2014

Hendrik Worotikan

image

-

image

Sontak seketika setelah komen di tret ‘The Greatest Prambors Slow Rock’ yg diposting oleh Mas Andria, keinginan untuk mendengarkan lagu lagu dengan nuansa melodi rock yang manis pun muncul.

Rekaman kaset Perina ‘Sweet Rock 1′ yang covernya sudah mulai memudar menjadi santapan saya siang ini sambil menikmati mie Banyumas.

Kapan dan dimana saya mendapatkan kaset nuansamatik ini ? Sayangnya… saya sudah lupa. Kemungkinan besar saya dapati di Jatinegara, seputaran Jl. Urip Sumoharjo, yang dulunya menjadi salah satu tempat belanja kaset bekas.

Lagu dan sederet nama band/penyanyi yang populer adalah alasan saya memiliki kaset ‘Sweet Rock 1′ ini.

Tadi saya mendengarnya mulai dari Side B.
Diawali dengan ‘The Wall’ (Kansas) yang intronya diisi petikan gitar dan dilatarbelakangi dgn suara organ, rasanya sudah membuat takjub untuk terus kita dengarkan.
Disusul dengan ‘Hard Luck Woman’ (KISS), ‘More Than A Feeling’ (Boston) serta lagu dari Queen ‘Let Us Cling Together’, sebuah komposisi musik yg indah yg diawali dengan suara dentingan piano yang smooth dan kemudian masuklah samar samar suara sang vokalis Freddy Mercury.
Solo album dari David Coverdale ‘Blind Man’ pun menghiasi rekaman ini. Rasanya wajar saja kalo mendengar lagu ini, seolah kita pun sedang mendengar musik Deep Purple.
Gary Wright ‘Time Machine’ menjadi lagu penutup pada Side B rekaman kaset ‘Sweet Rock 1′.

Enam lagu berikutnya terdapat pada Side A rekaman ini. Diawali dengan ‘Catch The Winds’ (Sammy Hagar) yg juga menjadi cover album ‘Sweet Rock 1′ ini.
Berikutnya ‘Wise Man (Uriah Heep), lagu yang kerap saya dengar dahulu kala. Dan dilanjutkan dengan KGB, band yang namanya tidak terlalu bergaung ditanah air. Mungkin juga karena umur mereka yang sangat singkat untuk menjadi sebuah ukuran supergrup dunia. Padahal, nama-nama musisinya cukup diakui diblantika musik.
Seperti Mike Bloomfield, seorang gitaris blues terkenal di Amerika. Rick Grech ex Blind Faith dan Traffic, Carmine Appice, dan lain-lain. Lagunya ‘My Serene Coleen’ rasanya asyik juga untuk dinikmati.
Sentuhan lain datang dari Procol Harum. Tidak seperti ‘A Whiter Shade of Pale’ atau ‘Homburg’, kali ini ‘Something Magic’ cukup menghentak dengan beat-beat irama musiknya.
Vokalis legendaris Ian Gillan tampil dengan mempesona lewat sebuah lagunya ‘Five Moons’. Tiupan flute diawal lagu yang disambut dengan dentingan piano menambah cantik komposisi ini.
Kelompok Styx menutup kumpulan kompilasi ‘Sweet Rock 1′ ini dengan lagunya yang menjadi andalan saat lalu yaitu ‘Suite Madame Blue’.

Panas yang terik rasanya menjadi sedikit adem dengan berkumandangnya dua belas lagu dalam balutan melodi ‘Sweet Rock 1′ rekaman jadul Perina ini.

BBM nya Mendiang Jack Bruce

October 27, 2014

Andria Sonhedi

gw-bbm

-
gw-bbm_2
BBM adalah power trio beranggotakan Jack Bruce (bass), Gary Moore (gitar) dan Ginger Baker (drum) yang didirikan tahun 1993. Dari huruf awal nama belakang ketiga musisi tadi sepertinya nama proyek ini berasal. Komposisi grup ini mirip Cream, dengan Gary Moore sebagai pengganti Eric Clapton.
Bagi saya sih awalnya musiknya tidak terlalu mengena, maklum tak biasa mendengarkan blues. Gara-gara ada Gary Moore aja saya beli kaset ini.  Para penggemar Moore era bluesnya pasti tetap suka album ini, krn saya bukan penggemar Cream jadinya ya tak bisa membandingkan  :)
Saat itu kaset BBM banyak terdapat di lapak seken Bringharjo namun memang sulit laku. Album ini adalah satu-satunya yg pernah dikeluarkan BBM, tahun 1994 proyek ini berakhir karena tak ada kesepahaman antara Ginger Baker & Jack Bruce.

Katanya sih model sampul album BBM ini adalah Ginger Baker

Jack Bruce kemarin tanggal 25 Oktober 2014 meninggal.

“There was a time when Jack Bruce was synonymous with the bass guitar in rock history, when he was widely revered as the best there was on four strings” ( the Daily Telegraph, Neil McCormick )

The Greatest Prambors Slow Rock dari Team Record

October 27, 2014

Andria Sonhedi

SRprambors1

-
SRprambors2

Setelah terlecut tulisan pak Hendrik jaman dahulu di blog ini tentang seri kaset Prambors saya kok jadi ingat sat-satunya kaset Prambors yang saya punya. Kaset saya judulnya The Greatest Prambors Slow Rock.  Berbeda dengan milik pak Hendrik milik saya ini terbitan Team Record dan memakai pita C-90. Saat kaset non royalty masih ada saya juga pernah lihat iklan kaset ini di brosur yang dikeluarkan oleh Team Record. Saya sebenarnya jarang beli kaset seken kompilasi namun kebetulan susunan lagunya cukup bagus (untuk saya) seperti yg ada di gambar di bawah ini.
Kebetulan saat itu saya baru punya kaset Europe, Queen, Freddie Mercury, Twisted Sister & Bon Jovi sehingga tahu lagunya namun lagu-lagu lainnya hanya saya kenal lewat radio dan tidak punya kasetnya.   Kasetnya tak banyak coretannya kecuali tanda ballpoint di beberapa lagu yang entah terbagus atau malah paling tak disukai pemilik lamanya. Saya paling suka side-A karena ada lagu2 slow yang enak dikuping & saya tak punya kasetnya: Amanda -Boston, Man Against the World – Survivor, Through the Barricades – Spandau Ballet dan In to Deep – Genesis.
Selama ini saya cuma tahu kl Genesis – Invisible Touch cuma terkenal dgn laguInvisible Touch & Land of Confussion terutama krn sering diputer di radio, ternyata ada juga lagu keren lainnya. Lagu di side B saya anggap memang menarik tapi tak terlalu istimewa. Lagu Man Against the World – Survivor benar2 membuat saya terharu saat pertama mendengarnya. Teman saya pernah beli kaset Through the Barricades – Spandau Ballet dan sangat menyukai lagu dengan judul sama. Setelah saya ikut mendengar di kaset ini saya pun setuju dengan lagu pilihannya itu. 
Jaman belum ada internet & mp3,  satu-satunya jalan untuk mendengarkan lagu yang jarang diputar radio adalah ndengarkan di toko kaset :D

     Kaset ini kl tak salah saya dapatkan di lapak kaset kecil di Purworejo, bercampur dengan kaset Indonesia modern & kaset bajakan ala kadarnya. Kl tak salah juga saya dapat bareng kaset the Very Best Pink Floyd yang C-90 terbitan Aquarius.

Tertegun Melihat Kaset Marillion di RM Padang Jaya

October 21, 2014

Andria Sonhedi

image

Hari selasa 21 Oktober ini saya mendapat tugas ke kanwil saya di Semarang. Walau harus nyetir sendiri (rekan saya tak bisa), berangkat jam 6 pagi diselingi kepala masih sakit krn kurang istirahat berangkatlah saya. Yang membuat saya senang kali ini karena sdh ada tujuan lain selain acara kantor saya, mengunjungi RM Padang Jaya di jl Agus Salim. Saya tahu di situ mmg mahal namun saya berharap dapat kaset the best of America (yg isinya Kaset Air Supply) dan kl bisa menemukan kembali kaset Michael Frank. Ternyata pak Hippe mau juga kaset MF ini.
Perjalanan saya benar-benar 4 jam kurang sedikit sampai di kantor kanwil Semarang. Seperti yang saya duga konfirmasi yang dibutuhkan rekan kami di Kanwil hanya 30 menit :D  tak sebanding dengan perjalanan pulang perginya. Akhirnya untuk obat lelah pergi jauh-jauh kami ngobrol sampai jam 11.30 tentang rekan-rekan kami yang pindah Semarang. Kebetulan bidang yang mengundang saya ada alumnus Blora juga yang dipindahkan kesana sehingga malah jadi obrolan nostalgia.
Sebenarnya saya kl di RM Padang Jaya jadi tak lapar karena sdh  ngebet mencari kaset, tapi karena rekan saya butuh makan siang maka saya pun menemani makan. Untungnya rekan saya tadi mau saya ajak makan di sana. Kaset-kaset di sana masih seperti saya ke sana, artinya cuma ditata bertumpuk-tumpuk dgn ikatan karet per 10 kaset. Saya sampai sakit kaki karena harus jongkok milih-milih kaset. Sayangnya kok hanya kaset2 pop yang saya temukan. Seandainya ada kaset rock & metal semua sudah saya punya. Akhirnya saya setelah hampir 1 jam mencari tak menemukan juga Michael Frank atau America. Dapatnya malah cuma John Denver, Fleetwood Mac, the William Brothers & Bon Jovi. Saat akan saya akhiri pencarian saya dapat OST Street of Fire, dulu kakak saya seneng theme songnya Nowhere Fast dari Fire Inc. Tentu saja kaset itu saya ambil sekalian. Karena kepala saya mulai senut-senut dan dengan tangan mulai risi karena kena debu akhirnya saya sudahi juga pencariannya. Saya bilang pad Om pemilik RM untuk datang lagi bila pas nginep di Semarang, siapa tahu waktu bisa lebih lama. Sebenarnya kl rumah saya dekat situ pasti akan saya bantu menata kaset-kasetnya karena gemes melihat susunannya :D
Di sekeliling kasir dipenuhi kaset2 Indonesia dan biasanya hanya ala kadarnya saya lihat. Lha kok pas di dekat tangan kiri saya terselip kaset Marillion – Misplaced Childhood terbitan a Prifate Collection. Saya lumayan tertegun (dan tentu saja langsung mengamankannya) kok bisa ada kaset Marillion terlewatkan di tempat itu? Saat dicoba memang benar kasetnya, pas lagu Kayleigh. Dibanding kaset OST Streets of Fire yang sampulnya sdh lengket di dalam maka kaset Marillion ini terbilang mulus tanpa jamur & tanpa coretan.
Sayangnya mobil yang kami pakai tak ada tapenya, cuma cd player, akhirnya selama perjalanan tak bisa saya coba. Rekan saya, yg usianya berbeda jauh dgn saya, awalnya cuma ikutan nonton kaset. Kaset Indonesia tentu saja. Entah kenapa pas pulang kok dia  ikutan beli kaset. Dia dapat 2 kaset dan yg saya ingat cuma Padhayangan 6, itu lagu parodi dari sempalan kelompok komedi TV jaman dulu yg akhirnya jadi Project Pop. Ternyata dia masih punya tape dan sudah lama nyari album itu di internet dan belum pernah ketemu. Wah ternyata ajakan saya ke sana memberi berkah ke dia juga.


evil has no boundaries

Terkenang “Coming Home”-nya Scorpions

October 10, 2014

Andria Sonhedi

Every morning when I wake up yawning
I’m still far away
Trucks still rolling through the early morning
To the place we play
Boy you’re home, you’re dreaming, don’t you know
The tour’s still far away

Gara-gara pak Hippie nulis ttg kompilasi Scorpions-nya saya kok jadi ingat lagu Scorpions berjudul Coming Home. Sebenarnya ada di album Blackout namun saya pertamakali dengar lagu Coming Home pas beli kaset World Wide Live. Kaset ini saat itu jadi andalan saya karena isinya saya anggap lengkap daripada kaset very best yang ada di pasaran saat itu.
Lagu ini di kaset tadi ada di side A nomor 3 setelah lagu Countdown yang instrumental. Lagu enerjik ini cuma dinyanyikan setengah aja namun justru itu yang esensial bagi saya. Beberapa bulan setelah beli kaset ini muncullah album baru Scorpions, Savage Amusement, saya beli yg terbitan Aquarius karena bonus side B yang lebih bagus termasuk ada Coming Home juga.

gw - scorp

-

gw - scorp_2

Semula saya kira lagu Coming Home adalah berisi kerinduan sang penulis lagu untuk pulang kampung, ketemu keluarga. Maklum saat itu kaset live sangat jarang yang disisipi lirik lagu. Baru dari album Savage Amusement saya baca lirik lengkapnya (sesuai kuping bagian penulis teks lirik di Aquarius). Ternyata Coming Home malah menceritakan kerinduan utk manggung, saat berjumpa dengan fans yang berteriak-teriak di lapangan rasanya mirip pulang ke rumah ketemu sanak saudara.

Year after year out on the road
It’s great to be here to rock you all
I know, for me it is like
Coming home

Catatan tambahan, Savage Amusement adalah album pertama Scorpions yang saya saksikan kemunculannya di Indonesia. Maklum saya baru benar-benar menyukai Scorpions setelah beli World Wide Live itu. Sayangnya ekspektasi saya yang mengira lagu-lagu di Savage Amusement akan seenerjik seperti lagu2 lama Scorpions di WWL tak terbukti.

Sejenak di Kota Lama – The Warning

September 21, 2014

Kemarin krn gambarnya sdh terlalu banyak maka apa yang saya dapat baru saya tampilkan di sini.
Kelompok pertama adalah kaset-kaset produksi lama.

zz1

  1. Air Supply adalah satu dari sedikit grup pop yang saya sukai, dulu kakak saya yang mengenalkan & lagu-lagu mereka jarang saya dengar di radio (kecuali saya muter gelombang yg salah atau salah waktu mendengarkan). Kebetulan kemarin dalam satu bundel ada banyak Air Supply produksi baru dan 3 yang lama. Karena beda judul album maka saya ambil semua & pertama kali saya memegang sampul yang sebenarnya bukan cuma di layar komputer via internet.
  2. Suzi Quatro rekaman Gold Fingers, saya punya SQ tapi yang ini mumpung ada aja.
  3. Weird Al Yankovic adalah musisi parodi, di Indonesia jaman dulu ada P Project yang mirip. Sebelum dikenal dgn memparodikan lagu Nirvana-Smells Like nirvana kaset-kaset awalnya sdh banyak beredar di jaman non royalty. Ada1 lagu lengkap yang diparodikan ada pula potongan2 lagu yang disatukan. Lagu Sledgehammer-nya Peter Gabriel sepotong dinyanyikan dgn irama ceria semacam Looney Tunes :)
  4. Rick Springfield adalah penyanyi AOR idola para remaja tahun 80-an, setahu saya Rick aktif lagi sekarang tentu saja dengan penggemar yang berbeda. Album Live ini C-90 yang direkam oleh Billboard. Lagu awalnya malah mengingatkan lagu Valkyrie dari Asia di album Gravitas.
  5. Kaset Roger Hodgson yang bersolo karir ini adalah yang paling sering saya lihat jaman dulu, Tambahan di side B ada Steve Hackett 3 lagu :)

Untuk kelompok kaset royalty sebenarnya tak istimewa:

zz2

  1. Enya-Amarantine, masih tersegel shg dijual hampir sma harga asli. Enya saya sukai karena musik & suaranya unik.
  2. the Chieftains juga musisi unik dari Irlandia, saya pernah punya tapi dihilangkan adik saya.Makanya kali ini saya beli untuk mengembalikan kenangannya.
  3. Aerosmith – Get a Grip adalah era Aerosmith menuju kesuksesan tahap II & dikenal lebih banyak orang. Sayangnya sampul dan kasetnya sdh tidak mulus.
  4. the Best White Lion adalah kaset terakhir grup si suami terakhir Ayu Azhari sebelum bubar. Sang gitaris, Vito Brata, sudah tak ingin lagi berreuni walau dibujuk dengan fasilitas apapun.
  5. Dulu saya pernah nonton film Wayne’s World, konon gara2 mereka Bohemian Rhapsody-nya Queen jadi terkenal lagi. Soundtrack ini berisi lagu-lagu hard rock yang digunakan di film mereka.
  6. album Strait Up adalah album tribute untuk vokalis grup Snot, band alternative rock. Beberapa hari yang lalu saya lihat di internet dan kok kebetulan ada kasetnya di sana. Sebenarnya saya beli karena ingin tahu saja.

Memang perburuan kaset lama sangat mengasyikkan, terutama bila nemu kaset2 yang kita idam-idamkan. Bagi saya harga tetap jadi pertimbangan, apalagi kl cuma ingin dengar lagunya masih bisa didapat dari mp3 yg bisa dicari via internet. Dari penemuan kembali kaset-kaset lama ini ada beberapa peringatan yang perlu saya bagikan pada Anda semua, bila berminat.

  1. Bila Anda menemukan kaset-kaset lama jangan jadi euphoria.
    Saya termasuk di dalamnya, wl sdh berpengalaman tetap saja kesenengen kl sdh nemu tempat seperti RM Minang Jaya. Euphoria membuat kita tak waspada. Saya kemarin tdk mengecek kaset Air Supply- Lost in Love produksi Contessa karena percaya 100% isinya benar. Ternyata isinya malah the best of America yg sdh tercetak di rumah kaset sbg ciri khas Saturn. Walau di kaset AS terbitan Hins ada separo album Lost in Love sbg side b tapi sayang juga. Kesalahan yang fatal.
    Kondisi pita juga perlu diperhatikan, gulungan pita karena pernah kriting atau terlipat akan kelihatan kendor. Ada beda pita kendor karena di-rewind dengan karena rusak. kaset Get a Grip termasuk ketidak telitian saya, ada bagian pita yang melipat & sebenarnya sdh dapat diduga dari penampakan gulungan pitanya.
    Penampakan fisik cover & rumah kaset juga perlu dilihat, bila terlalu mulus untuk kaset2 langka malah bisa dicurigai sebagai bajakan Bandung atau Malang
  2. Bila memang disediakan tape untuk mencoba, cobalah dahulu
    Setelah penampakan fisik tadi silakan mencoba kasetnya. Penjualnya biasanya cukup sabar melayani percobaan tadi. Bahkan orang2 pro macam pak Priyo tak mengenal semua lagu, Bisa saja rumah kasetnya sama tapi isinya lain, apalagi kalau rumah kasetnya benar-benar lain. Hal ini juga bisa mendeteksi apakah ini kaset bajakan atau orisinil.
  3. Bila memungkinkan untuk ditawar tawarlah
    Tidak ada salahnya kita menawar jualan yang ditawarkan. Biasanya kl beli banyak harga bisa turun, bahkan seandainya harga sdh termasuk murah :) Kaset-kaset saya kemarin dikategorikan jadi 3 harga tapi saya tawar untuk sama harganya ditolak. Anehnya saat saya tawar saat harga fix malah bisa lebih murah dari yang saya tawar sebelumnya tadi :)

Semoga rekan-rekan gemblunger lain tak perlu mengulangi kesalahan-kesalahan saya tadi dengan sedikit catatan tambahan ini.

Sejenak di Kota Lama Semarang

September 19, 2014

Andria Sonhedi

Hari kamis, 18 September 2014 ini saya ada tugas ke Semarang. Acaranya jam 8 pagi jadi saya harus berangkat jam 4.30 pagi dgn anak buah saya. Kebetulan acaranya di dekat Kantor Pos Besar Semarang. Kami datang jam 8.15 karena macetnya jalanan di jl. Demak-Semarang. Saya sudah takut tak ada tempat parkir tapi nyatanya halaman depan Kantor Pos sepi, malah ada panggung & beberapa tenda putih. Belakangan saya baru tahu kl nanti sore ada acara Rock di Kota Lama bersama Ian Antono & Achmad Albar, bukan Godbless seperti yg saya infokan pada mas Kukuh & pak Edi. Pantesan parkiran kosong soalnya jam 16.00 jalan ke luar perkantoran situ akan ditutup.
Begitu rampung acara jam 16 saya segera balik hotel, sayangnya hotel Metro di sebelah panggung konser sdh penuh oleh para wakil rakyat dari Tegal yg berpiknik cukup jauh hingga Semarang :) Hotel saya agak jauh dari lokasi konser maka saya berusaha beristirahat dulu, maklum sejak kemarin saya nyopir terus utk jarak jauh.
Singkat cerita saya malah bangun jam 19.30 dlm keadaan kelaparan. Sebelum ke tempat konser saya cari makan dulu & ingat cerita mas DananG kl di dekat Kota Lama ada rumah makan padang yang jual kaset. Ternyata tak sulit mencari RM Padang Jaya, selain di pojokan Jl. Agus Salim ada spanduknya kl juga jualan kaset. Untuk awalnya saya beli makan dulu, tapi ternyata saya benar2 tak sabar memeriksa tumpukan kaset di RM itu :) Benar sekali kl mas DananG kmarin tak sempat memeriksa, soalnya memang antara kaset lama dan baru dicampur. Saya sampai sakit mata milih-milih. Dari jam 20.00 akhirnya terpaksa saya akhiri jam 22.00 :D dgn mata pedih kemungkinan karena saya juga kelelahan karena kurang istirahat. Harga2 kaset 18 ribuan, termasuk mahal tapi karena sdh telanjur ya sdh tetap saya ambil 13 buah beragam jenis dari yg lama hingga yg royalty. Bagi penggemar kaset kompilasi lama macam Prambors pasti bahagia karena di sana masih banyak serinya. Seandainya harganya murah pasti saya bersedia ngambil  utk para gemblunger di sini.

image

-

image

-

image

-

image

Kembali ke acara Rock Kota Lama yang tak sempat saya saksikan karena berkorban melihat kaset tadi ada kiriman foto dari rekan saya di Semarang yang sempat nonton.

image


evil has no boundaries

Visioner!

August 27, 2014

Gatot Widayanto

Meski blog abal2, gemblungers di sini bisa dikategorikan visioner. Buktinya, sebelum sutradara Guardians of The Galaxy menggarap film nya, kami di komunitas kecil gemblungers ini sudah membahas dahzyatnya efek magis nuansamatix dari kaset yang lubangnya dua dan casingnya tebel itu …. 

Film ini jadi buah bibir pengunjung BF kemarin dan utamanya bukan membahas plot cerita film tapi kenyataan bahwa KASET dan Tape Deck ternyata masih digunakan di pesawat ruang angkasa dengan lagu2 yang nyenggol ke claro (meski ngepop ya) seperti 10 CC “I am Not In Love” dan juga David Bowie dan Rupert Holmes. Dampak dari film ini ada dua:

  1. Orang mulai melihat lagi koleksi kaset dan berburu di BF baik itu medianya (kaset) maupun sarana pemutarnya seperti walkman dan tape deck. Kemarin di BF saya ketemu temen baru (ex wartawan musik tabloid Bintang dulunya) yang asik banget ngubek2 kaset di lapak Gun. Bahkan beliau ini berencana mencari walkman. Kalau saja Koh Win denger, pasti akan dimintain alamat dan akan ada Walkman terbang. Lha wong ke Aceh aja bisa kok masak cumak Jakarta ndak bisa nerbangin? Ini jelas berdampak pada seretnya GerakanHargaKasetTakLebihDariJigo yang baru kita sepakati sebagai Piagam Kaset Jadulsonic.
  2. Band-band era 70an akan semakin marak karena teman baru yang saya kenal ini tadi malam kaset-kaset yang dipilih mencakup AC DC, The Beatles, The Doors, namun juga Yes.Saya senang melihat semangatnya berburu grup2 lawas ini. Ketima saya tanya apa selama ini biasa koleksi kaset jadul, beliau bilang tidak. “Buat ngeracuni anak saya pak …biar gak JKT 48 yang dia denger” … ha ha .. Saya malah gak tahu tuh JKT 48 kuwi opo.

Syukurlah kaset hidup lagi dan tambah semarak. Namun gaya gak butuh harus tetap dipertahankan agar gak terjadi harganya melambung tinggi ….

Sayang belum nemu ulasan mas Hippie terkait walkman beberapa tahun lalu ….

10635752_10152683767203809_4039554270060211514_n

-

 

Koleksi 234: Fleetwood Mac “Tusk”

August 15, 2014

image


Akhirnya kaset koleksi radio Djie Sam Soe (234) Madiun ini saya putar juga setelah saya evakuasi dari Malang akhir tahun lalu. Sungguh, saya sangat kagum dengan kualitas suara yang masih prima dari segi bass, treble dan mid ….sangat mantab di telinga. Yang patut disesalkan adalah ternyata kuping saya tak merasa nyaman menikmati musik Fleetwood Mac. Padahal, saya ngakunya sebagai generasi penggemar musik claro . Entahlah mengapa saya kok mendengarkan album ini hambar baik dari segi melodi maupun komposisi. Dari dulu sejak orang2 bilang bahwa band ini legenda dunia, saya kok gak pernah bisa SREG dengan musiknya. Apa sih hebatnya musik kayak gini? Wong pop biyanget …gak ada rock nya blas!

Ada temen-temen yang punya pendapat lain?


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 151 other followers