Archive for the ‘Kaset’ Category

Tertegun Melihat Kaset Marillion di RM Padang Jaya

October 21, 2014

Andria Sonhedi

image

Hari selasa 21 Oktober ini saya mendapat tugas ke kanwil saya di Semarang. Walau harus nyetir sendiri (rekan saya tak bisa), berangkat jam 6 pagi diselingi kepala masih sakit krn kurang istirahat berangkatlah saya. Yang membuat saya senang kali ini karena sdh ada tujuan lain selain acara kantor saya, mengunjungi RM Padang Jaya di jl Agus Salim. Saya tahu di situ mmg mahal namun saya berharap dapat kaset the best of America (yg isinya Kaset Air Supply) dan kl bisa menemukan kembali kaset Michael Frank. Ternyata pak Hippe mau juga kaset MF ini.
Perjalanan saya benar-benar 4 jam kurang sedikit sampai di kantor kanwil Semarang. Seperti yang saya duga konfirmasi yang dibutuhkan rekan kami di Kanwil hanya 30 menit :D  tak sebanding dengan perjalanan pulang perginya. Akhirnya untuk obat lelah pergi jauh-jauh kami ngobrol sampai jam 11.30 tentang rekan-rekan kami yang pindah Semarang. Kebetulan bidang yang mengundang saya ada alumnus Blora juga yang dipindahkan kesana sehingga malah jadi obrolan nostalgia.
Sebenarnya saya kl di RM Padang Jaya jadi tak lapar karena sdh  ngebet mencari kaset, tapi karena rekan saya butuh makan siang maka saya pun menemani makan. Untungnya rekan saya tadi mau saya ajak makan di sana. Kaset-kaset di sana masih seperti saya ke sana, artinya cuma ditata bertumpuk-tumpuk dgn ikatan karet per 10 kaset. Saya sampai sakit kaki karena harus jongkok milih-milih kaset. Sayangnya kok hanya kaset2 pop yang saya temukan. Seandainya ada kaset rock & metal semua sudah saya punya. Akhirnya saya setelah hampir 1 jam mencari tak menemukan juga Michael Frank atau America. Dapatnya malah cuma John Denver, Fleetwood Mac, the William Brothers & Bon Jovi. Saat akan saya akhiri pencarian saya dapat OST Street of Fire, dulu kakak saya seneng theme songnya Nowhere Fast dari Fire Inc. Tentu saja kaset itu saya ambil sekalian. Karena kepala saya mulai senut-senut dan dengan tangan mulai risi karena kena debu akhirnya saya sudahi juga pencariannya. Saya bilang pad Om pemilik RM untuk datang lagi bila pas nginep di Semarang, siapa tahu waktu bisa lebih lama. Sebenarnya kl rumah saya dekat situ pasti akan saya bantu menata kaset-kasetnya karena gemes melihat susunannya :D
Di sekeliling kasir dipenuhi kaset2 Indonesia dan biasanya hanya ala kadarnya saya lihat. Lha kok pas di dekat tangan kiri saya terselip kaset Marillion – Misplaced Childhood terbitan a Prifate Collection. Saya lumayan tertegun (dan tentu saja langsung mengamankannya) kok bisa ada kaset Marillion terlewatkan di tempat itu? Saat dicoba memang benar kasetnya, pas lagu Kayleigh. Dibanding kaset OST Streets of Fire yang sampulnya sdh lengket di dalam maka kaset Marillion ini terbilang mulus tanpa jamur & tanpa coretan.
Sayangnya mobil yang kami pakai tak ada tapenya, cuma cd player, akhirnya selama perjalanan tak bisa saya coba. Rekan saya, yg usianya berbeda jauh dgn saya, awalnya cuma ikutan nonton kaset. Kaset Indonesia tentu saja. Entah kenapa pas pulang kok dia  ikutan beli kaset. Dia dapat 2 kaset dan yg saya ingat cuma Padhayangan 6, itu lagu parodi dari sempalan kelompok komedi TV jaman dulu yg akhirnya jadi Project Pop. Ternyata dia masih punya tape dan sudah lama nyari album itu di internet dan belum pernah ketemu. Wah ternyata ajakan saya ke sana memberi berkah ke dia juga.


evil has no boundaries

Terkenang “Coming Home”-nya Scorpions

October 10, 2014

Andria Sonhedi

Every morning when I wake up yawning
I’m still far away
Trucks still rolling through the early morning
To the place we play
Boy you’re home, you’re dreaming, don’t you know
The tour’s still far away

Gara-gara pak Hippie nulis ttg kompilasi Scorpions-nya saya kok jadi ingat lagu Scorpions berjudul Coming Home. Sebenarnya ada di album Blackout namun saya pertamakali dengar lagu Coming Home pas beli kaset World Wide Live. Kaset ini saat itu jadi andalan saya karena isinya saya anggap lengkap daripada kaset very best yang ada di pasaran saat itu.
Lagu ini di kaset tadi ada di side A nomor 3 setelah lagu Countdown yang instrumental. Lagu enerjik ini cuma dinyanyikan setengah aja namun justru itu yang esensial bagi saya. Beberapa bulan setelah beli kaset ini muncullah album baru Scorpions, Savage Amusement, saya beli yg terbitan Aquarius karena bonus side B yang lebih bagus termasuk ada Coming Home juga.

gw - scorp

-

gw - scorp_2

Semula saya kira lagu Coming Home adalah berisi kerinduan sang penulis lagu untuk pulang kampung, ketemu keluarga. Maklum saat itu kaset live sangat jarang yang disisipi lirik lagu. Baru dari album Savage Amusement saya baca lirik lengkapnya (sesuai kuping bagian penulis teks lirik di Aquarius). Ternyata Coming Home malah menceritakan kerinduan utk manggung, saat berjumpa dengan fans yang berteriak-teriak di lapangan rasanya mirip pulang ke rumah ketemu sanak saudara.

Year after year out on the road
It’s great to be here to rock you all
I know, for me it is like
Coming home

Catatan tambahan, Savage Amusement adalah album pertama Scorpions yang saya saksikan kemunculannya di Indonesia. Maklum saya baru benar-benar menyukai Scorpions setelah beli World Wide Live itu. Sayangnya ekspektasi saya yang mengira lagu-lagu di Savage Amusement akan seenerjik seperti lagu2 lama Scorpions di WWL tak terbukti.

Sejenak di Kota Lama – The Warning

September 21, 2014

Kemarin krn gambarnya sdh terlalu banyak maka apa yang saya dapat baru saya tampilkan di sini.
Kelompok pertama adalah kaset-kaset produksi lama.

zz1

  1. Air Supply adalah satu dari sedikit grup pop yang saya sukai, dulu kakak saya yang mengenalkan & lagu-lagu mereka jarang saya dengar di radio (kecuali saya muter gelombang yg salah atau salah waktu mendengarkan). Kebetulan kemarin dalam satu bundel ada banyak Air Supply produksi baru dan 3 yang lama. Karena beda judul album maka saya ambil semua & pertama kali saya memegang sampul yang sebenarnya bukan cuma di layar komputer via internet.
  2. Suzi Quatro rekaman Gold Fingers, saya punya SQ tapi yang ini mumpung ada aja.
  3. Weird Al Yankovic adalah musisi parodi, di Indonesia jaman dulu ada P Project yang mirip. Sebelum dikenal dgn memparodikan lagu Nirvana-Smells Like nirvana kaset-kaset awalnya sdh banyak beredar di jaman non royalty. Ada1 lagu lengkap yang diparodikan ada pula potongan2 lagu yang disatukan. Lagu Sledgehammer-nya Peter Gabriel sepotong dinyanyikan dgn irama ceria semacam Looney Tunes :)
  4. Rick Springfield adalah penyanyi AOR idola para remaja tahun 80-an, setahu saya Rick aktif lagi sekarang tentu saja dengan penggemar yang berbeda. Album Live ini C-90 yang direkam oleh Billboard. Lagu awalnya malah mengingatkan lagu Valkyrie dari Asia di album Gravitas.
  5. Kaset Roger Hodgson yang bersolo karir ini adalah yang paling sering saya lihat jaman dulu, Tambahan di side B ada Steve Hackett 3 lagu :)

Untuk kelompok kaset royalty sebenarnya tak istimewa:

zz2

  1. Enya-Amarantine, masih tersegel shg dijual hampir sma harga asli. Enya saya sukai karena musik & suaranya unik.
  2. the Chieftains juga musisi unik dari Irlandia, saya pernah punya tapi dihilangkan adik saya.Makanya kali ini saya beli untuk mengembalikan kenangannya.
  3. Aerosmith – Get a Grip adalah era Aerosmith menuju kesuksesan tahap II & dikenal lebih banyak orang. Sayangnya sampul dan kasetnya sdh tidak mulus.
  4. the Best White Lion adalah kaset terakhir grup si suami terakhir Ayu Azhari sebelum bubar. Sang gitaris, Vito Brata, sudah tak ingin lagi berreuni walau dibujuk dengan fasilitas apapun.
  5. Dulu saya pernah nonton film Wayne’s World, konon gara2 mereka Bohemian Rhapsody-nya Queen jadi terkenal lagi. Soundtrack ini berisi lagu-lagu hard rock yang digunakan di film mereka.
  6. album Strait Up adalah album tribute untuk vokalis grup Snot, band alternative rock. Beberapa hari yang lalu saya lihat di internet dan kok kebetulan ada kasetnya di sana. Sebenarnya saya beli karena ingin tahu saja.

Memang perburuan kaset lama sangat mengasyikkan, terutama bila nemu kaset2 yang kita idam-idamkan. Bagi saya harga tetap jadi pertimbangan, apalagi kl cuma ingin dengar lagunya masih bisa didapat dari mp3 yg bisa dicari via internet. Dari penemuan kembali kaset-kaset lama ini ada beberapa peringatan yang perlu saya bagikan pada Anda semua, bila berminat.

  1. Bila Anda menemukan kaset-kaset lama jangan jadi euphoria.
    Saya termasuk di dalamnya, wl sdh berpengalaman tetap saja kesenengen kl sdh nemu tempat seperti RM Minang Jaya. Euphoria membuat kita tak waspada. Saya kemarin tdk mengecek kaset Air Supply- Lost in Love produksi Contessa karena percaya 100% isinya benar. Ternyata isinya malah the best of America yg sdh tercetak di rumah kaset sbg ciri khas Saturn. Walau di kaset AS terbitan Hins ada separo album Lost in Love sbg side b tapi sayang juga. Kesalahan yang fatal.
    Kondisi pita juga perlu diperhatikan, gulungan pita karena pernah kriting atau terlipat akan kelihatan kendor. Ada beda pita kendor karena di-rewind dengan karena rusak. kaset Get a Grip termasuk ketidak telitian saya, ada bagian pita yang melipat & sebenarnya sdh dapat diduga dari penampakan gulungan pitanya.
    Penampakan fisik cover & rumah kaset juga perlu dilihat, bila terlalu mulus untuk kaset2 langka malah bisa dicurigai sebagai bajakan Bandung atau Malang
  2. Bila memang disediakan tape untuk mencoba, cobalah dahulu
    Setelah penampakan fisik tadi silakan mencoba kasetnya. Penjualnya biasanya cukup sabar melayani percobaan tadi. Bahkan orang2 pro macam pak Priyo tak mengenal semua lagu, Bisa saja rumah kasetnya sama tapi isinya lain, apalagi kalau rumah kasetnya benar-benar lain. Hal ini juga bisa mendeteksi apakah ini kaset bajakan atau orisinil.
  3. Bila memungkinkan untuk ditawar tawarlah
    Tidak ada salahnya kita menawar jualan yang ditawarkan. Biasanya kl beli banyak harga bisa turun, bahkan seandainya harga sdh termasuk murah :) Kaset-kaset saya kemarin dikategorikan jadi 3 harga tapi saya tawar untuk sama harganya ditolak. Anehnya saat saya tawar saat harga fix malah bisa lebih murah dari yang saya tawar sebelumnya tadi :)

Semoga rekan-rekan gemblunger lain tak perlu mengulangi kesalahan-kesalahan saya tadi dengan sedikit catatan tambahan ini.

Sejenak di Kota Lama Semarang

September 19, 2014

Andria Sonhedi

Hari kamis, 18 September 2014 ini saya ada tugas ke Semarang. Acaranya jam 8 pagi jadi saya harus berangkat jam 4.30 pagi dgn anak buah saya. Kebetulan acaranya di dekat Kantor Pos Besar Semarang. Kami datang jam 8.15 karena macetnya jalanan di jl. Demak-Semarang. Saya sudah takut tak ada tempat parkir tapi nyatanya halaman depan Kantor Pos sepi, malah ada panggung & beberapa tenda putih. Belakangan saya baru tahu kl nanti sore ada acara Rock di Kota Lama bersama Ian Antono & Achmad Albar, bukan Godbless seperti yg saya infokan pada mas Kukuh & pak Edi. Pantesan parkiran kosong soalnya jam 16.00 jalan ke luar perkantoran situ akan ditutup.
Begitu rampung acara jam 16 saya segera balik hotel, sayangnya hotel Metro di sebelah panggung konser sdh penuh oleh para wakil rakyat dari Tegal yg berpiknik cukup jauh hingga Semarang :) Hotel saya agak jauh dari lokasi konser maka saya berusaha beristirahat dulu, maklum sejak kemarin saya nyopir terus utk jarak jauh.
Singkat cerita saya malah bangun jam 19.30 dlm keadaan kelaparan. Sebelum ke tempat konser saya cari makan dulu & ingat cerita mas DananG kl di dekat Kota Lama ada rumah makan padang yang jual kaset. Ternyata tak sulit mencari RM Padang Jaya, selain di pojokan Jl. Agus Salim ada spanduknya kl juga jualan kaset. Untuk awalnya saya beli makan dulu, tapi ternyata saya benar2 tak sabar memeriksa tumpukan kaset di RM itu :) Benar sekali kl mas DananG kmarin tak sempat memeriksa, soalnya memang antara kaset lama dan baru dicampur. Saya sampai sakit mata milih-milih. Dari jam 20.00 akhirnya terpaksa saya akhiri jam 22.00 :D dgn mata pedih kemungkinan karena saya juga kelelahan karena kurang istirahat. Harga2 kaset 18 ribuan, termasuk mahal tapi karena sdh telanjur ya sdh tetap saya ambil 13 buah beragam jenis dari yg lama hingga yg royalty. Bagi penggemar kaset kompilasi lama macam Prambors pasti bahagia karena di sana masih banyak serinya. Seandainya harganya murah pasti saya bersedia ngambil  utk para gemblunger di sini.

image

-

image

-

image

-

image

Kembali ke acara Rock Kota Lama yang tak sempat saya saksikan karena berkorban melihat kaset tadi ada kiriman foto dari rekan saya di Semarang yang sempat nonton.

image


evil has no boundaries

Visioner!

August 27, 2014

Gatot Widayanto

Meski blog abal2, gemblungers di sini bisa dikategorikan visioner. Buktinya, sebelum sutradara Guardians of The Galaxy menggarap film nya, kami di komunitas kecil gemblungers ini sudah membahas dahzyatnya efek magis nuansamatix dari kaset yang lubangnya dua dan casingnya tebel itu …. 

Film ini jadi buah bibir pengunjung BF kemarin dan utamanya bukan membahas plot cerita film tapi kenyataan bahwa KASET dan Tape Deck ternyata masih digunakan di pesawat ruang angkasa dengan lagu2 yang nyenggol ke claro (meski ngepop ya) seperti 10 CC “I am Not In Love” dan juga David Bowie dan Rupert Holmes. Dampak dari film ini ada dua:

  1. Orang mulai melihat lagi koleksi kaset dan berburu di BF baik itu medianya (kaset) maupun sarana pemutarnya seperti walkman dan tape deck. Kemarin di BF saya ketemu temen baru (ex wartawan musik tabloid Bintang dulunya) yang asik banget ngubek2 kaset di lapak Gun. Bahkan beliau ini berencana mencari walkman. Kalau saja Koh Win denger, pasti akan dimintain alamat dan akan ada Walkman terbang. Lha wong ke Aceh aja bisa kok masak cumak Jakarta ndak bisa nerbangin? Ini jelas berdampak pada seretnya GerakanHargaKasetTakLebihDariJigo yang baru kita sepakati sebagai Piagam Kaset Jadulsonic.
  2. Band-band era 70an akan semakin marak karena teman baru yang saya kenal ini tadi malam kaset-kaset yang dipilih mencakup AC DC, The Beatles, The Doors, namun juga Yes.Saya senang melihat semangatnya berburu grup2 lawas ini. Ketima saya tanya apa selama ini biasa koleksi kaset jadul, beliau bilang tidak. “Buat ngeracuni anak saya pak …biar gak JKT 48 yang dia denger” … ha ha .. Saya malah gak tahu tuh JKT 48 kuwi opo.

Syukurlah kaset hidup lagi dan tambah semarak. Namun gaya gak butuh harus tetap dipertahankan agar gak terjadi harganya melambung tinggi ….

Sayang belum nemu ulasan mas Hippie terkait walkman beberapa tahun lalu ….

10635752_10152683767203809_4039554270060211514_n

-

 

Koleksi 234: Fleetwood Mac “Tusk”

August 15, 2014

image


Akhirnya kaset koleksi radio Djie Sam Soe (234) Madiun ini saya putar juga setelah saya evakuasi dari Malang akhir tahun lalu. Sungguh, saya sangat kagum dengan kualitas suara yang masih prima dari segi bass, treble dan mid ….sangat mantab di telinga. Yang patut disesalkan adalah ternyata kuping saya tak merasa nyaman menikmati musik Fleetwood Mac. Padahal, saya ngakunya sebagai generasi penggemar musik claro . Entahlah mengapa saya kok mendengarkan album ini hambar baik dari segi melodi maupun komposisi. Dari dulu sejak orang2 bilang bahwa band ini legenda dunia, saya kok gak pernah bisa SREG dengan musiknya. Apa sih hebatnya musik kayak gini? Wong pop biyanget …gak ada rock nya blas!

Ada temen-temen yang punya pendapat lain?

Mendengarkan Musik dengan Media yang “Pas”

August 12, 2014

JRENG!

Setelah cukup lama absen mendengarkan musik dari kaset, beberapa hari ini saya kalau bekerja di rumah malah memutar kaset. Saya mulai dengan Eric Burdon (best) rekaman Yess dengan lagu2 legendaris seperti House of The Rising Sun, Tobbaco Road, See See Rider . Kemudian saya lanjut dengan ELP “Trilogy” rekaman Scorpio item putih nan legendaris itu. Wah saya terbawa hanyut dengan album Trilogy yang telah lama sekali tak saya dengarkan lagi. Inipun saya dengarkan ya karena medianya kaset aja. Nyetel CD nya udah males …paling MP3. Itupun udah lama banget gak saya setel. Bahkan sudah tahunan kali gak saya puter album ini.

Yang juga nuansamatik adalah kaset Osibisa dan Grand Funk “Shine On” rekaman Orient milik radio Dji sam Soe (234) Madiun yang diamanahkan ke saya untuk merawatnya.Melalui kaset inilah saya terkesima dengan musik Grand Funk yang ternyata bagi telinga saya paling pas bila didengarkan via kaset, bukan media lain karena terasa banget nuansa claro nya. Bayangkan ….saya punya semua album GFR dalam format CD dalam boxed set nya yang keren warna hijau itu. Namun ….boxed set ini jarang banget saya setal karena formatnya CD, format yang jaman dulu tak saya kenal. Begitu menikmati kaset rekaman Orient ini kok langsung MAK JEGAGIK bunyi audionya kok terasa “pas” banget dengan musiknya. Rasanya saya kok bisa “relate” gitu lho …setelah menikmati kasetnya. Saat nyetel CD kok saya gak mendapatkan nuansa ini. Sebenarnya nuansa apa sih yang saya dapatkan dari rekaman kaset yang sudah bulukan ini?

  • Bunyi midrangenya terasa “bindeng” kayak kualitas suara orang nyanyi yang hidungnya dipencet sehingga suaranya agak tertahan namun malah nikmat
  • Treble yang pelit – keluar namun ndak obral kemreces kayak suara CD atau MP3 yang biasanya treble menjadi tak ada harganya lagi karena tumpah ruah begitu banyak …ces tek eces tek eces …. Namun kalau rekaman kaset treble nya gak ngobral suara “s” jadi agak tertekan dengan konsonan “k”. Jadi kalau CES di CD …maka di kaset jadi CEZK …agak pelit keluarin “s”. Whoooooaaaa ….justru suara kayak gini ini yang seksi ….ha ha ha ha ha ha …. Coba deh bandingin suara CD sama kaset …. Beda banget treble nya.
  • Suara bass yang gaungnya agak panjang dan pulen (saya ndak tahu bahasa Indonesianya “pulen” ini apa …wis pokoke dibayangkan aja dan percaya omongan saya aja … ha ha ha ha ha ha ha ….). Bass nya kaset memang tak memiliki bidang dinamika atau frequency range yang rendah seperti PH …namun enak banget di telinga.
  • Bunyi desis kaset yang “khas” banget namun konstan. Coba bandingkan dengan bunyi PH yang kadang KEMROSOK ….kemudiang dibagian tertentu malah KEMROTHOK dan bagkan kadand “DHOK DHOK” menyebalkan …. Kalau kaset menawarkan bunyi desis yang stabil dan “part of the deal” …. Kalau mau dengerin kaset ya kudu siap sama desis.
Paling muwantab menikmati album2 di atas ya pake kaset !

Paling muwantab menikmati album2 di atas ya pake kaset !

-

Tracklist

Tracklist

-

Osibisa kok dibarengin sama Grand Funk Railroad ...huopo tumooon?

Osibisa kok dibarengin sama Grand Funk Railroad …huopo tumooon?

-

Nuansamatik tenan ini!

Nuansamatik tenan ini!

-

Harta karun nih dapet kaset paling mengesankan ...pertama kali denger Rainbow ya dari kaset ini.

Harta karun nih dapet kaset paling mengesankan …pertama kali denger Rainbow ya dari kaset ini.

-

Ciri khas Perina Aquarius ... ngirit kertas... ha ha ha ...

Ciri khas Perina Aquarius … ngirit kertas… ha ha ha …

 

Kemudian saya puter Ritchie Blackmore’s Raindow rekaman Perina Aquarius item putih. Wah …jiyan mbrebes mili pol saya sama kaset satu ini. Saya memang pertama kali denger album ini ya dari kaset rekaman Perina milik kakak saya, mas Jokky. Saat itu tahun 75 saya main ke Jakarta, tiap hari dia puter The Temple of The Kings terus2an. Wah …edan …nuansamatik. Lha pas dia berangkat kerja, saya setel kaset ini sampek entek bolak balik …kok semua lagunya saya suka termasuk side B yang Madfred Mann’s Earth Band. wah edan kaset ini …udah keren rekamannya …nuansamatik pula. Semua lagunya, termasuk yang gak top seperti Snake Charmer aja saya suka banget. Apalagi Still I’m Sad …sebuah instrumental nan dahzyat. Wah …saya senang banget dapet kaset nuansamatik ini.

Kesimpulan saya:

Music has something to do with media!

Kalau kita mendengarkan musik dengan media yang “pas” maka dijamin jiwa melayang dan tubuh kita njungkel menderita kepuasan paripurna. Contohnya ya Grand Funk dan Rainbow album pertama ini. Kalau didengarkan dengan media lain memang musiknya masih OK. Namun “soul” nya hilang karena gak nuansamatik lagi. Musik claro ya cocoknya media kaset bukan digital atau PH! ELP “Trilogy” ya enaknya pake kaset …. Cobalah alau ndak percaya. Kalau Anda berpendapat beda, berarti Anda masih terlalu muda … ha ha ha ha ha ha ….

Oh ya …beberapa hari lalu Trey Gunn posting status di FB nya bilang gini: “Listening to music has nothing to do with media” sambil dia posting foto kaset nya Peter Gabriel. Whoooaaaa …. keren banget! Saya gak setuju dengan konsepnya dia …namun saya setuju dengan fotonya …yaitu KASET!

JRENG!

DISCLAIMER: Tulisan ini berdasarkan pengalaman pribadi yang boleh jadi berbeda dengan apa yang dialami pembaca. Namun penulis haqul yakin bahwa bila pembaca memiliki pendapat yang beda, maka ia termasuk pada golongan yang merugi karena ia dibesarkan pada keluarga The Have yang mampu membeli PH kala itu dan sekarang pasti kecewa karena koleksi PH nya jadi KEMRODHOK suaranya kayak bunyi tong pengkong; atau karena ia dilahirkan telat sekali sehingga tak pernah mengenyam indahnya ‘cezk tek e cezk’ bunyi trebel kaset karena eranya sudah digital. Menurut penelitian, telinga manusia ini analog, jadi kalau mendengarkan binary numbers dari ranah digital pasti suatu hari ia akan ‘kopoken’ karena tak sehatnya sinkronisasi gelombang digital. Wis embuh aku ra weruh ngomong opo iki lha wong aku mung nggrundhel wae kok …ora ngomong. Gaya wae nganggo istilah “Disclaimer’ ben ketoke nggajak.

Yang juga tak kalah pentingnya, tulisan ini bukan dimaksud untuk menggelembungkan (baca: “menggoreng”) harga kaset hingga seperti di Facebook yang sekarang ini berlaku harga kaset Yess sampe Rp. 50 ribu sampai dengan Rp. 100 ribu segala ;padahal covernya penuh dengan urek-urek ra karuan …  Pedagang spekulan seperti ini jelas tak memiliki jiwa klaro dan mencoba memenfaatkan situasi melodramatis yang dialami pencinta musik di negeri ini gara2 suka mampir di blog gemblung tanpa tujuan ini … Masiyo tanpa tujuan, tapi blog ini gak mendukung spekulan atau tengkulak atau penimbun. Harga kaset Yess yang wajar ya antara Rp. 15 ribu sampe Rp. 25 ribu (silakan cek di Blok M Square). Di atas itu sudah sinthink dan mendingan DOWNLOAD gratis ajah! Ya nggak ? (alis mata naik turun 3 x). Ora usah percoyo maneh LANGKA lah … Gak diproduksi lagi .. LEGEND lah …wis babah! Wong matek yo ora iso nggowo kaset kok!

Wis ngono wae …. percoyo kambek aku yo sukur. Yen ra percoyo yo salahmu dewe mampir blog gemblung ra karuan iki … Masiyo gemblung tapi pencinta musik sejati …dudu spekulan….. WEK! (ilat melet sambil mripat mlilik  ….)

 

 

Paradise Lost “Gothic”

July 5, 2014

Andria Sonhedi

GW_paradise

Album dari grup dgn cara nyanyi muntah kolak  ini disebut-sebut merupakan pionir gothic metal. Dirilis tahun 1990, album Gothic adalah album ke-2 dari grup death metal Inggris bernama Paradise Lost. Di album ini Paradise Lostmemasukkan elemen orkestrasi dan vokal wanita (bukan yg mirip Angela Gossow ex Arch Enemy) yang saat itu tak pernah dilibatkan dalam pembuatan musik bergenre death metal.

     Saat pertama kali saya dengarkan kasetnya saya cukup terkesan juga dengan perpaduan suara geraman dgn vokal jernih wanita dengan atmosfir musik yang kelam (yg kelam2 gini biasanya mas Kukuh tahu, kita tunggu habis ramadhan nanti) . Perpaduan suara “Beauty & the Beast” tadi kemudian menjadi tren & pakem utk mereka yang mengkhususkan diri di genre gothic metal, utk contohnya grup Theater of Tragedy dari Norwegia. Ada juga grup yang lebih mengedepankan sisi symphonic-nya , tetap dengan suara jernih wanita, contohnya Tristania dan Within Temptation. Belakangan grup gothic metal selalu diidentikkan untuk grup dengan vokalis utama wanita, walau sebenarnya tidak selalu begitu
     Kembali ke Paradise Lost,meski dianggap sebagai pionir gothic metal namun mereka tak pernah menyebut sebagai grup gothic. Dalam perjalanan karir mereka bahkan pernah mencoba dengan synthesizer yang membuat musiknya malah seperti grup electronic berbalut irama hard rock. Ada pengamat musik yang dengan sarkastik menyatakan satu-satunya yang selalu ada dalam musik Paradise Lost adalah  “change” karena seringnya mereka bereksperimen dalam tiap album.
Pemain:
Nick Holmes – vokal
Matthew Archer – drum
Stephen Edmondson – bass
Aaron Aedy – gitar
Gregor Mackintosh – gitar
musisi tamu:
The Raptured Symphony Orchestra – orchestral sections
Sarah Marrion – backing vocals

King Crimson “Larks’ Tongue in Aspic” – Perina Aquarius

July 4, 2014

image

Saya baru tahu bahwa kaset ini pernah ada dan saya salut bahwa saat itu Aquarius berani merilis album bagus dari KC ini. Saya menemukan foto ini dari FB dan tertegun sejenak,  membayangkan kalau saja Yess saat itu merekam juga album ini. Memang saya punya tapi sifatnya rekaman khusus atas budi baik Ian Arliandy. Tapi Yess tak merilis secara massal dalan produksi.

Mas Yuddi punya kaset versi ini? Kalau punya,  wajib dilestarikan mas …. Semoga pitanya Maxell,  bukan Trusonic yang mbelgedhez itu.

Salam,
G

TFK: The Fabulous Koh Win

June 11, 2014

Khalil Logomotif

Beberapa hari yang lalu, sore sore, sepulang nongkrong minum kapucino di warung donut yg baru buka dikota, saya mendapat kejutan! Paket kiriman! Isinya Walkman! Siapa lagi kalau bukan TFK, the fabulous Koh Win, yang sangat dermawan, telah membagikan saya walkman….untuk yg kedua kalinya. Karena yang pertama sekali, sudah pernah dikirimkan oleh TFK, tetapi ternyata walkman malfungsi…ngga mau muter!

E ehhh….ternyata sebulanan kemudian, saya dikirimin lagi yg lain…dan pastilah bisa muter. Terima kasih Koh Win..the TFK!

image


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 150 other followers