Archive for the ‘Kaset’ Category

Paradise Lost “Gothic”

July 5, 2014

Andria Sonhedi

GW_paradise

Album dari grup dgn cara nyanyi muntah kolak  ini disebut-sebut merupakan pionir gothic metal. Dirilis tahun 1990, album Gothic adalah album ke-2 dari grup death metal Inggris bernama Paradise Lost. Di album ini Paradise Lostmemasukkan elemen orkestrasi dan vokal wanita (bukan yg mirip Angela Gossow ex Arch Enemy) yang saat itu tak pernah dilibatkan dalam pembuatan musik bergenre death metal.

     Saat pertama kali saya dengarkan kasetnya saya cukup terkesan juga dengan perpaduan suara geraman dgn vokal jernih wanita dengan atmosfir musik yang kelam (yg kelam2 gini biasanya mas Kukuh tahu, kita tunggu habis ramadhan nanti) . Perpaduan suara “Beauty & the Beast” tadi kemudian menjadi tren & pakem utk mereka yang mengkhususkan diri di genre gothic metal, utk contohnya grup Theater of Tragedy dari Norwegia. Ada juga grup yang lebih mengedepankan sisi symphonic-nya , tetap dengan suara jernih wanita, contohnya Tristania dan Within Temptation. Belakangan grup gothic metal selalu diidentikkan untuk grup dengan vokalis utama wanita, walau sebenarnya tidak selalu begitu
     Kembali ke Paradise Lost,meski dianggap sebagai pionir gothic metal namun mereka tak pernah menyebut sebagai grup gothic. Dalam perjalanan karir mereka bahkan pernah mencoba dengan synthesizer yang membuat musiknya malah seperti grup electronic berbalut irama hard rock. Ada pengamat musik yang dengan sarkastik menyatakan satu-satunya yang selalu ada dalam musik Paradise Lost adalah  “change” karena seringnya mereka bereksperimen dalam tiap album.
Pemain:
Nick Holmes – vokal
Matthew Archer – drum
Stephen Edmondson – bass
Aaron Aedy – gitar
Gregor Mackintosh – gitar
musisi tamu:
The Raptured Symphony Orchestra – orchestral sections
Sarah Marrion – backing vocals

King Crimson “Larks’ Tongue in Aspic” – Perina Aquarius

July 4, 2014

image

Saya baru tahu bahwa kaset ini pernah ada dan saya salut bahwa saat itu Aquarius berani merilis album bagus dari KC ini. Saya menemukan foto ini dari FB dan tertegun sejenak,  membayangkan kalau saja Yess saat itu merekam juga album ini. Memang saya punya tapi sifatnya rekaman khusus atas budi baik Ian Arliandy. Tapi Yess tak merilis secara massal dalan produksi.

Mas Yuddi punya kaset versi ini? Kalau punya,  wajib dilestarikan mas …. Semoga pitanya Maxell,  bukan Trusonic yang mbelgedhez itu.

Salam,
G

TFK: The Fabulous Koh Win

June 11, 2014

Khalil Logomotif

Beberapa hari yang lalu, sore sore, sepulang nongkrong minum kapucino di warung donut yg baru buka dikota, saya mendapat kejutan! Paket kiriman! Isinya Walkman! Siapa lagi kalau bukan TFK, the fabulous Koh Win, yang sangat dermawan, telah membagikan saya walkman….untuk yg kedua kalinya. Karena yang pertama sekali, sudah pernah dikirimkan oleh TFK, tetapi ternyata walkman malfungsi…ngga mau muter!

E ehhh….ternyata sebulanan kemudian, saya dikirimin lagi yg lain…dan pastilah bisa muter. Terima kasih Koh Win..the TFK!

image

Bunyi “DHENG” di “Firth of Fifth” itu lho!

June 8, 2014

Gatot Widayanto

Firth of Fifth

Ini sebenernya kelanjutan dari obrolan di mini progring di Surabaya. Jumat malam itu yang pertama kali datang ke hotel Elmi ya mas Edi dan putra sulungnya, Bintang. Sebenarnya memang saat itu saya agak panik karena baru keluar dari kantor Pelindo 3 di kawasan Tanjung Perak sekitar jam 18:00 ba’da magrib di masjid Baitul Hakam nan indah. Maghrib di Surabaya memang jauh lebih awal darpada di Jakarta yakni sekitar jam 17:30 begitu. Begitu dalam perjalanan menuju hotel saya telpon mas Edi karena saya takut beliau sudah nyampe di hotel sementara saya masih di jalan. Alhamdulillah mas Edi nyampe di Surabaya setelah nyetir dari Jombang, namun masih di pondokan Bintang di kawasan Juanda. Saya lega dan sekaligus memberi tahu mas Edi bila sudah sampe di hotel tolong SMS saya aja.

Senang sekali ketika pada sekitar 19:30 saya menjumpai mas Edi dengan seragam kebanggaannya dari album yang disukainya: Steven Wilson “The Raven That Refused To Sing and Other Stories”. Saya senang sekali mas Edi menggunakan kaos ini karena saya salut kepada orang yang menggunakan kaos sesuai dengan selera musiknya, gak seperti saya yang suka IQ namun kadang pake kaos Helloween (ora nyambung blas!) lantaran adanya kaos ya itu karena dulu pernah jadi MC saat konser di Jakarta. Namun hari Jumat malam itu saya juga menyambut kehadiran mas Edi dengan mempersiapkan diri menggunakan kaos dari album yang saya suka dan dari band yang saya cintai : IQ album “The Road of Bones”. Kaos IQ saya ini bener2 GRESS karena memang baru saya pakai pertama kali dan belum dicuci dari hand carry temen baik saya yang rela membelikan saya dari konser IQ tanggal 3 Mei lalu di Islington Assembly Hall, London. Pokoknya …demi penampilan yang baik karena bertemu dengan Pendekar Prog asli nJombang, saya harus jatahkan “pemakaian kaos IQ” ini pada saat pertemuan dengannya. Alhamdulillah kelakon!

Bintang malam itu menggunakan baju kotak-kotak ala anak muda dengan gaya bicara yang kalem seperti Steve Hackett. Tanpa ba bi bu, kami segera bicara nunjek ulu ati tentang ..,, apa lagi kalau bukan hobi yang sama2 kita sukai …ha ha ha ha ha …. Pembicaraan dimulai dengan kesan-kesan Bintang maupun mas Edi tentang dahzyatnya band prog dari Yogya bernama I Know You Well Miss Clara. Pokoke yang namanya Bintang ini adalah penggemar seta band dari Yogya ini dan sudah puluhan kali menonton konsernya baik di Yogya maupun di Jakarta saat tampil di Rock Lingers. Saya malah kagum dengan bagaimana Bintang dan mas Edi mengapresiasi musik Miss Clara ini. Tak lama kemudian pembicaraan nyelempang ke Pelangi (nama adiknya Bintang yang sedang kuliah di UGM) yang gandrung dengan musik metal. Pokoknya Pelangi ini everything is metal, begitulah ceritanya. Namun yang menarik adalah ketika Bintang cerita mengenai band bernama ZOO dari Yogya yang basisnya metal namun ngeprog. Saya cumak ndomblong mendengarkan cerita dari ayah-anak yang sama2 suka musik ini. Dan ….tentu saja saya menikmati obrolan mereka ini. Luar biasa dah!

Oh ya .. kami juga membahas tentang kelompok Radiohead yang menurut bintang mengawali karirnya dengan lagu pop melalui album Pablo Honey, misalnya. Namun mereka akhirnya ngeprog juga di album OK Computer. Whoooaaaaa …. saya jadi ingat lagu mereka bertajuk “Paranoid Android” yang tak ada hubungannya dengan Black Sabbath maupun samsung Galaxy. meski lagu ini diciptakan sesudah lagu Paranoid nya Sabbath, namun musiknya tak berhubungan sama sekali sama Sabbath dan juga lagu ini lahir sebelum Samsung Android lahir. jangan-jangan teknologi Android terpengaruh Radiohead? Ha ha ha ha …. Tapi saya memang suka lagu ini dan juga lagu pop Karma Police.

Sakjane suarane piringan hitam kuwi koyok opo to?” (sebenernya suara piringan hitam itu seperti apa sih?), begitulah kira-kira mas Edi memulai pembicaraan menyenangkan selanjutnya. Kok ya jawaban saya spontan: “Begini lho mas … pernah gak sampean perhatikan bahwa di interludenya lagu Firth of Fifth saat Steve Hackett solo tiba-tiba ada bunyi DHENG …sekitar satu atau dua detik namun sungguh mematikan dan membuat lagu yang sudah indah ini menjadi super duper nunjek ulu ati? Ya begitulah bunyi pelat mas ….suaranya lebar menggelegar seperti mau mendekap kita …”. Mas Edi terus mengiyakan dan ternyata beliau juga suka dan memperhatikan bagian DHENG tersebut … Lantas? kami bertiga ketawa nguwakak pol sampe semua orang yang duduk di lobi ELMI liat kami bertiga kayak orang gila aja … HUA HA HA HA HA HA HA HA ….

Ya memang begitulah menurut saya suara piringan hitam yang diputar di turntable. saya sendiri sangat jarang menikmati PH karena memang bukan kelas saya yang cukup puas dengan kaset rekaman Yess aja. Namun saat saya kuliah dulu pernah dapet pinjaman PH Chick Corea “The Mad Hatter” dan memang suaranya luas banget …. bidang dinamika (istilahnya Tjandra Gozali) lebar sehingga membuat telinga ini nyaman mendengarkannya. Memang asik menikmati suara PH.

Bunyi DHENG itu …

Masalah utama yang bener2 penting dibahas karena memang strategic ya itu : bunyi DHENG nan indah nuansamatik kemlitik zonder rheumatik. Jujur saja, salah satu kenikmatan mendengarkan Firth of Fifth versi studio selain memang musiknya indah diawali dengan intro yang klasikal, juga bunyi DHENG yang terjadi di interlude. Bunyi ini begitu indah di telinga setelah mengarungi flute solo dan guitar solo nan indah. Rasanya begitu DHENG keluar langsung dah puncak orgasme tercapai dan di situ rasanya kenikmatan paripurna tercapai …. WHOOOAAAAA …..!!!!

Kalau kenikmatan lagu ini versi “Seconds Out” ada di lima not terakhir dari gitar solo Hackett meski bunyi DHENG nya hilang …..

Begitulah nuansamatiknya sebuah musik yang terkadanga hanya sekedar injakan satu not taurus pedal saja membuat hati ini terasa tenteram ….

Salam hari Ahad!

Manifestasi Bunyi “DHENG” ….

 

Tadinya saya akan buat tret lagi terkait hal ini. namun sekalian ajalah saya tulis di bawahnya karena nyambung. Hari sabtu kemarin saya dijemput pak Dokter di Hotel tempat saya menginap untuk diantarkan oleh beliau ke bandara Juanda. Saya sungguh tersanjung dengan budi baik pak dokter ini karena sudi mengantarkan saya ke bandara. Ini jelas pertemanan yang guyub luar biasa! Matur nuwun sekali lagi, pak Dokter Arief Apec Bakhtiar …

Tepat jam 10 sesuai janji beliau sudah berada di lobi. Akhirnya dengan dikemudikan pangsung oleh pak Dokter, saya diajak menuju bandar. Namun karena rumah beliau di sekitar Juanda, maka saya ditawari mampir ke rumahnya. Tentu saya sambut dengan suka cita riang gembira lunjak-lunjak plus gedhruk gedhruk bungah diajak mampir ke rumah kolektor kelas wahid!

Namun …

Tunggu dulu ….sabaaaaar ….. Sebelum sampai rumahnya saya diajak mampir ke warung kuliner Lontong Balapan dan Es Degan. tentu saya ogah menolak alias langsung akur dengan ajakannya! Kapan lagi kulineran Suroboyan oleh seorang dokter yang juga kolektor musik. Akhirnya kami mampir lah di warung kuliner Lontong balap Cak Budi ini dan order lontong balap, es degan plus sate kerang …Muantabz jaya …

Lontong Balap dan Es Degan

Lontong Balap dan Es Degan

-

Penampilan warung Lontong balap Mas Budi

Penampilan warung Lontong balap Cak Budi

Setelah itu saya diajak menuju rumahnya di kawasan Tropodo yang lokasinya tak jauh dari warung Lontong balap. Kebetulan mbak Anik (istrinya bro Apec) dana putra putrinya sedang ke rumah neneknya yang tak jauh dari rumah pak dokter sehingga kami hanya berdua saja di rumah pak dokter.

House of The Rising Prog Star - tampak luar

House of The Rising Prog Star – tampak luar

Whoooaaaaa…rumah yang luas dan dua tingkat ini cukup egois karena dipenuhi dengan koleksi musik yang banyak: PH, CD, DVD dan tentu saja kaset. Turntable aja ada tiga buah. Wis pokoknya kumplit semuanya. Di lantai bawah banyak PH dan di lantai atas banyak kaset dan CD plus beberapa PH. saya lebih senang di lantai 2 karena ada ruang dengar khusus dan saya minta diputar PH saja sekaligus membuktikan omongan saya ke mas Edi terkait bunyi mak “DHENG” yang saya tulis di atas. Dan Alhamdulilah ada PH Yes Live in Switzerland yang terdiri dari tiga keping (udah kayak Yessongs aja).  Memang benar yang saya katakan ke mas Edi banhwa menikmati suara PH adalah ibarat bunyi DHENG di Firth of Fifth nya Genesis.

Koleksi PH (sebagian kecil) di lantai bawah

Koleksi PH (sebagian kecil)

Akhirnya mak jeglek jarum PH diturunkan dan mengalunlah suara Jon Anderson yang seakan brada di depan hidung saya dan siap merangkul saya lantaran kualitas suara PH yang indah …. (pssssttt … Koh Win dilarang cembokay ya …ha ha ha ha ha ha ha …. Maap Koh Win …saya mendengarkan suara Jon pake PH lho ….bukan CD ….ha ha ha ha ha …silakan misuh2 ….!!!)

Kapan lagi bisa menikmati Yes via PH?

Kapan lagi bisa menikmati Yes via PH?

Salah satu kenikmatan mendengarkan PH ya melihat piringan besar lebar yang berputar konsisten .... Biyuh!

Salah satu kenikmatan mendengarkan PH ya melihat piringan besar lebar yang berputar konsisten …. Biyuh!

Memang ruang dengar bro Apec ini keren banget dan sangatlah cucok buat suatu hari kita menggelar progring di sini …Mungkin kalau nanti kita diundang di pernikahan nina A? (GR ya …kayak kita2 ini diundang aja! ha ha ha ha ha ha …). Kalau perlu kita nginep ndelosor di ruang dengar ini. Bro Apec menawarkan ke kita buat nginep di rumahnya lho … Ketimbang nginep di hotel dapetnya lagu pop tembang lawas dan gak prog, ya mendingan menginap di Tropodo Palace ini … Gimana? hayo dirancang acaranya!!!.

Salah satu dindingnya penuh dengan ribuan kaset berbagai rekaman dan di dinding depannya juga begitu ditambah koleksi CD. Tak kalah pentingnya ada Herman’s Corner di ruangan ini berisi artwork karya mas Herman. Saya jadi malu melihatnya karena saya sendiri belum membuat pigura karena terbatasnya tembok. Namun Herman’s Corner ini bener2 indah dan nuansamatik sekaleee…

Puluhan ribu kaset memenuhi dinding ...

Puluhan ribu kaset memenuhi dinding …

The Herman's Corner

The Herman’s Corner

Greater details of Herman's Corner ...

Greater details of Herman’s Corner …

Posters

Posters

Dinding lainnya ...

Dinding lainnya …

Monalisa nya banyak dan lengkap ...

Monalisa nya banyak dan lengkap …

Sayang saya kemudian harus ke bandara buat terbang kembali ke Jakarta. Next time kita ketemuan di rumah bro Apec …pasti nyamleng suromenggolo tenan ….!!!

Salam Ahad!

 

 

Van Halen “Diver Down”

June 7, 2014

Andria Sonhedi

image

(more…)

W.A.S.P. “Live at the Lyceum” – Scorpio

May 30, 2014

Andria Sonhedi

gw - wasp_1

Scorpio adalah perusahaan rekaman masa  non royalty yg mengkhususkan diri menerbitkan versi live artis. Mereka mengkonversi dari video ke format kaset shg mutu suaranya memang tak terlalu bagus. tapi tentu saja untuk para penggemar grup2 yg kasetnya mereka rilis hal itu tak jadi masalah, yang penting punya & bisa membuat iri teman  :)

W.A.S.P. live at the Lyceum begitu juga, di katalog grup yang resmi hanya ada dalam bentuk video dan durasinya pendek. makanya di kaset cuma ada di side A.  Side B adalah dari sebagian album pertamanya dan masih bersama drumer awal Tony Richards. di album live ini masuklah drumer Steve Riley yang nantinya akan menjadi drumer di grup L.A. Guns
W.A.S.P di kaset ini memadukan gaya tatrikal Alice Cooper dengan hard rock yang lebih agresif. mungkin WASP memang termasuk metal awal, bukan seperti Poison yang lebih ke glam & tata rambut atraktif. selain lagu2 agresif seperti I Wanna be Somebody atau Hellion ada juga lagu balada berjudul Sleeping (in the Fire). kl lihat coverya dulu saya cukup ngeri juga,ada tengkorak, rantai dan api. :)

Kitaro by Yess

May 20, 2014

Nano Nono

IMG00670-20140520-1024

Kitaro….
Siapa yg gak kenal kitaro, musisi dr negeri matahari terbit ini.
Dari sabang sampe merauke, barat sampe timur, utara sampe selatan, bahkan seluruh penjuru dunia, baik yg suka maupun gak suka, sy yakin tau dg nama besar seorang kitaro. Opo maneh diblog gemblunk ini. Klo gak tau lha kok kebacut tenan. (Ya nggak.. ya nggak.. ya nggak.. sambil alis mata naik turun 3x. Njiplak omongane masG.) Hehe..
Tp sy gak akan mengulas panjang lebar ttg kitaro, krn pengetahuan sy ttg kitaro sangatlah minim, saya rasa diblok gemblunk ini penghuninya lbh paham dan tau betul ttg kitaro. Monggo utk para penghuni blog ini yg ingin mengulas kitaro..

Tony Macalpine “Freedom to Fly”

May 6, 2014

Andria Sonhedi

gw_macalpinefree

saya kok jadi ingat juga dgn pak cosmic yg sering mengirim grup2 tak lazim atau proyek para gitaris  utk memancing kemunculannya lagi saya coba kirim tulisan ttg Tony Macalpine. satu dari maestro gitar dunia yang saat ini (harusnya) sdh lebih banyak yang tahu dibandingkan dulu saat saya beli kasetnya. pada awalnya Tony malah main keyboards di album Vinnie Moore (Mind’s Eye, 1986) and Joey Tafolla mungkin karena baru mulai debutnya sbg solo gitaris. di proyek M.A.R.S. (Macalpine, Aldridge, Rock, Sarzo) – Project: Driver seperti yg pernah saya kirim beberapa edisi lalu, Tony menyumbangkan kemampuan gitarnya wl hasilnya biasa-biasa aja.  

Freedom to Fly (FtF) adalah album ke-4 Tony di tahun 1992. album ke-2 nya Maximum Security pernah diterbitkan Team records jaman kaset non royalty dulu & sampai sekarang menjadi target burauan saya. kembali ke album FtF, ini adalah album instrumental murni yg menegaskan kembalinya Tony ke selera asalnya setelah gagal mencoba lagu yg ngepop di album Eyes of the World. Di sini Tony tidak berusaha seperti Vinnie Moore atau Yngwie lagi namun sdh memakai ciri dia sendiri. lagu di side B berjudul Stream Dream adalah lagu kesukaann saya. mungkin di sini saya ngguweblak mendengarkannya.
tak mau melupakan kesukaannya pada piano maka ada cover Chopin Etude #2 Opus #25 yang dimainkan pakai keyboard. sayangnya tak ada improvisasi apa pun, terlalu sempurna.
semoga dgn Tony Macalpine mengudara ini pak Cosmic bisa muncul lagi dari pertapaannya :)

 

Rockline! KISS Complete Series …

May 4, 2014

Nelwin Aldriansyah

Jaman kaset bajakan dulu, Saturn records, (setelah merger dilanjutkan oleh Team Records), banyak menerbitkan seri kaset ‘complete series’..

sebut aja seri kaset The Beatles, Deep Purple, The Rolling Stones, Genesis, Pink Floyd, Yes, Led Zeppelin, Queen.. Seri kaset Led Zeppelin dan Queen ini baru muncul setelah era Team records, dengan ciri khas logo RockLine! dan grafis kuning-abu2-hitam di cover nya..
Gw malah pernah lihat seri RockLine! band Rainbow yang terdiri dari 8 kaset di salah satu lapak Jatinegara.. padahal dulu jaman kaset bajakan rasanya nggak pernah liat seri Rainbow tersebut.. Eh.. ternyata setelah ngobrol2 dengan beberapa pedagang kaset di Blok M Square, kabarnya seri RockLine! Rainbow tersebut bikinan orang Malang.. alias barang bajakan masa kini.. :D
 Terinspirasi dari semangat DIY anak Malang tersebut, gw iseng2 bikin disain ‘complete series’ untuk KISS dengan style RockLine!.. setelah di coba print laser color, loh.. keliatan mirip.. akhirnya gw bikin deh cover J-cards untuk 15 album Studio KISS.. setelah di print, kemudian di potong2 dan di masukkan ke kotak kaset.. trus difoto..
front
-
side
Abis itu iseng gw aplot fotonya ke FB gw, dan juga ke 2 grup bbm kolektor2 musik rock.. gak disangka ternyata banyak yang penasaran, mengira itu kaset asli dari jaman bajakan dulu.. padahal sengaja gw ikutin album Hot In The Shade (rilis 1989) yang secara logika gak mungkin ada produk RockLine! nya.. kan sejak 1988 udah gak boleh kaset bajakan di Indonesia :D
banyak yang komen, japri.. malah ada yang nanya dijual apa nggak.. hehehe.. apa sekalian aja ya dicetak untuk ‘kalangan terbatas’?
wkwkwkwk.

 

Ke Bringharjo Yogya lagi

May 4, 2014

Andria Sonhedi

brh

setelah kepastian bertemu dgn Koh Win di Klaten gagal saya pikir kegiatan di Yogya tanggal 2 mei lalu bakal standar saja. saya sempat mampir ke toko Popeye tapi tak ada apa2 (yg bagus & murah), satu-satunya harapan adalah ketemu pak Priyo di pasar Bringharjo.
pagi hari saya ada urusan di kelurahan, kecamatan & beberaoa instansi, sayangnya karena hari jumat shg saya juga tak bisa langsung melanjutkan jalan2 ke pasar Bringharjo. apalagi sehabis jumatan saya sdh ada acara dengan bapak & ibu saya.
ternyata kegiatan saya baru rampung jam 14.40, saya merasa pupus sudah harapan melihat kaset seken. namun demikian saya tetap ke pasar utk sekedar ngecek, maklum biasanya para pedagang jam 14.00 sdh mulai bersiap2 pulang tak terkecuali pak Priyo.
ternyata mmg benar sdh tak ada pak Priyo, lapaknya aja yg tersisa sdh dalam kondisi tertutup. namun demikian kok masih ada juga 1 lapak kecil yg buka. saya ingat kl penjualnya (tangannya cacat shg saya langsung ingat) yg pernah jual kaset Lethal-Programmed yg pernah saya ulas di sini. kebetulan kaset2 yg dia jual sekarang bertolak belakang dgn yg dulu pernah dia jual. saat itu harga paling murah 15.000 utk yang tak terkenal, lainnya 20 ribuan utk yg sdh bernama.
kaset2 kali ini sdh banyak yang jelek sampulnya, satu-satunya yang jarang muncul adalah kompilasi Metal Bible. kaset ini jaman dulu pun tak banyak yg suka, maklum kompilasinya bukan selera penggemar kaset saat itu. pernah ada reviewnya di tabloid Citra Musik jaman itu. akhirnya daripada pulang dgn tangan hampa saya tanyakan juga harganya. eh ternyata kok cuma 10 ribu. tadinya saya sdh tak berminat karena dia tadi ngobrol dgn temannya tentang harga kaset seken Indonesia yang mahal2. semua kaset dihargai 10 ribu kali ini. akhirnya saya pilih 7 kaset :
1.metal bible
2. paul gilbert – burning organ
3. Def Leppard – Adrenalized
4. Filter – the amalgamut
5.Ugly kid joe – american Least wanted
6. Boston – third stage (billboard)
7. Elo – the best of ELO (aquarius)
mumpung harganya murah :)
akhirnya sorenya saya balik Magetan tdk dengan tangan kosong & sepanjang perjalanan bisa saya pakai utk mengisi waktu. maklum saya nyetir sendiri.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 141 other followers