Archive for the ‘Kaset’ Category

Sejenak di Kota Lama Semarang

September 19, 2014

Andria Sonhedi

Hari kamis, 18 September 2014 ini saya ada tugas ke Semarang. Acaranya jam 8 pagi jadi saya harus berangkat jam 4.30 pagi dgn anak buah saya. Kebetulan acaranya di dekat Kantor Pos Besar Semarang. Kami datang jam 8.15 karena macetnya jalanan di jl. Demak-Semarang. Saya sudah takut tak ada tempat parkir tapi nyatanya halaman depan Kantor Pos sepi, malah ada panggung & beberapa tenda putih. Belakangan saya baru tahu kl nanti sore ada acara Rock di Kota Lama bersama Ian Antono & Achmad Albar, bukan Godbless seperti yg saya infokan pada mas Kukuh & pak Edi. Pantesan parkiran kosong soalnya jam 16.00 jalan ke luar perkantoran situ akan ditutup.
Begitu rampung acara jam 16 saya segera balik hotel, sayangnya hotel Metro di sebelah panggung konser sdh penuh oleh para wakil rakyat dari Tegal yg berpiknik cukup jauh hingga Semarang :) Hotel saya agak jauh dari lokasi konser maka saya berusaha beristirahat dulu, maklum sejak kemarin saya nyopir terus utk jarak jauh.
Singkat cerita saya malah bangun jam 19.30 dlm keadaan kelaparan. Sebelum ke tempat konser saya cari makan dulu & ingat cerita mas DananG kl di dekat Kota Lama ada rumah makan padang yang jual kaset. Ternyata tak sulit mencari RM Padang Jaya, selain di pojokan Jl. Agus Salim ada spanduknya kl juga jualan kaset. Untuk awalnya saya beli makan dulu, tapi ternyata saya benar2 tak sabar memeriksa tumpukan kaset di RM itu :) Benar sekali kl mas DananG kmarin tak sempat memeriksa, soalnya memang antara kaset lama dan baru dicampur. Saya sampai sakit mata milih-milih. Dari jam 20.00 akhirnya terpaksa saya akhiri jam 22.00 :D dgn mata pedih kemungkinan karena saya juga kelelahan karena kurang istirahat. Harga2 kaset 18 ribuan, termasuk mahal tapi karena sdh telanjur ya sdh tetap saya ambil 13 buah beragam jenis dari yg lama hingga yg royalty. Bagi penggemar kaset kompilasi lama macam Prambors pasti bahagia karena di sana masih banyak serinya. Seandainya harganya murah pasti saya bersedia ngambil  utk para gemblunger di sini.

image

-

image

-

image

-

image

Kembali ke acara Rock Kota Lama yang tak sempat saya saksikan karena berkorban melihat kaset tadi ada kiriman foto dari rekan saya di Semarang yang sempat nonton.

image


evil has no boundaries

Visioner!

August 27, 2014

Gatot Widayanto

Meski blog abal2, gemblungers di sini bisa dikategorikan visioner. Buktinya, sebelum sutradara Guardians of The Galaxy menggarap film nya, kami di komunitas kecil gemblungers ini sudah membahas dahzyatnya efek magis nuansamatix dari kaset yang lubangnya dua dan casingnya tebel itu …. 

Film ini jadi buah bibir pengunjung BF kemarin dan utamanya bukan membahas plot cerita film tapi kenyataan bahwa KASET dan Tape Deck ternyata masih digunakan di pesawat ruang angkasa dengan lagu2 yang nyenggol ke claro (meski ngepop ya) seperti 10 CC “I am Not In Love” dan juga David Bowie dan Rupert Holmes. Dampak dari film ini ada dua:

  1. Orang mulai melihat lagi koleksi kaset dan berburu di BF baik itu medianya (kaset) maupun sarana pemutarnya seperti walkman dan tape deck. Kemarin di BF saya ketemu temen baru (ex wartawan musik tabloid Bintang dulunya) yang asik banget ngubek2 kaset di lapak Gun. Bahkan beliau ini berencana mencari walkman. Kalau saja Koh Win denger, pasti akan dimintain alamat dan akan ada Walkman terbang. Lha wong ke Aceh aja bisa kok masak cumak Jakarta ndak bisa nerbangin? Ini jelas berdampak pada seretnya GerakanHargaKasetTakLebihDariJigo yang baru kita sepakati sebagai Piagam Kaset Jadulsonic.
  2. Band-band era 70an akan semakin marak karena teman baru yang saya kenal ini tadi malam kaset-kaset yang dipilih mencakup AC DC, The Beatles, The Doors, namun juga Yes.Saya senang melihat semangatnya berburu grup2 lawas ini. Ketima saya tanya apa selama ini biasa koleksi kaset jadul, beliau bilang tidak. “Buat ngeracuni anak saya pak …biar gak JKT 48 yang dia denger” … ha ha .. Saya malah gak tahu tuh JKT 48 kuwi opo.

Syukurlah kaset hidup lagi dan tambah semarak. Namun gaya gak butuh harus tetap dipertahankan agar gak terjadi harganya melambung tinggi ….

Sayang belum nemu ulasan mas Hippie terkait walkman beberapa tahun lalu ….

10635752_10152683767203809_4039554270060211514_n

-

 

Koleksi 234: Fleetwood Mac “Tusk”

August 15, 2014

image


Akhirnya kaset koleksi radio Djie Sam Soe (234) Madiun ini saya putar juga setelah saya evakuasi dari Malang akhir tahun lalu. Sungguh, saya sangat kagum dengan kualitas suara yang masih prima dari segi bass, treble dan mid ….sangat mantab di telinga. Yang patut disesalkan adalah ternyata kuping saya tak merasa nyaman menikmati musik Fleetwood Mac. Padahal, saya ngakunya sebagai generasi penggemar musik claro . Entahlah mengapa saya kok mendengarkan album ini hambar baik dari segi melodi maupun komposisi. Dari dulu sejak orang2 bilang bahwa band ini legenda dunia, saya kok gak pernah bisa SREG dengan musiknya. Apa sih hebatnya musik kayak gini? Wong pop biyanget …gak ada rock nya blas!

Ada temen-temen yang punya pendapat lain?

Mendengarkan Musik dengan Media yang “Pas”

August 12, 2014

JRENG!

Setelah cukup lama absen mendengarkan musik dari kaset, beberapa hari ini saya kalau bekerja di rumah malah memutar kaset. Saya mulai dengan Eric Burdon (best) rekaman Yess dengan lagu2 legendaris seperti House of The Rising Sun, Tobbaco Road, See See Rider . Kemudian saya lanjut dengan ELP “Trilogy” rekaman Scorpio item putih nan legendaris itu. Wah saya terbawa hanyut dengan album Trilogy yang telah lama sekali tak saya dengarkan lagi. Inipun saya dengarkan ya karena medianya kaset aja. Nyetel CD nya udah males …paling MP3. Itupun udah lama banget gak saya setel. Bahkan sudah tahunan kali gak saya puter album ini.

Yang juga nuansamatik adalah kaset Osibisa dan Grand Funk “Shine On” rekaman Orient milik radio Dji sam Soe (234) Madiun yang diamanahkan ke saya untuk merawatnya.Melalui kaset inilah saya terkesima dengan musik Grand Funk yang ternyata bagi telinga saya paling pas bila didengarkan via kaset, bukan media lain karena terasa banget nuansa claro nya. Bayangkan ….saya punya semua album GFR dalam format CD dalam boxed set nya yang keren warna hijau itu. Namun ….boxed set ini jarang banget saya setal karena formatnya CD, format yang jaman dulu tak saya kenal. Begitu menikmati kaset rekaman Orient ini kok langsung MAK JEGAGIK bunyi audionya kok terasa “pas” banget dengan musiknya. Rasanya saya kok bisa “relate” gitu lho …setelah menikmati kasetnya. Saat nyetel CD kok saya gak mendapatkan nuansa ini. Sebenarnya nuansa apa sih yang saya dapatkan dari rekaman kaset yang sudah bulukan ini?

  • Bunyi midrangenya terasa “bindeng” kayak kualitas suara orang nyanyi yang hidungnya dipencet sehingga suaranya agak tertahan namun malah nikmat
  • Treble yang pelit – keluar namun ndak obral kemreces kayak suara CD atau MP3 yang biasanya treble menjadi tak ada harganya lagi karena tumpah ruah begitu banyak …ces tek eces tek eces …. Namun kalau rekaman kaset treble nya gak ngobral suara “s” jadi agak tertekan dengan konsonan “k”. Jadi kalau CES di CD …maka di kaset jadi CEZK …agak pelit keluarin “s”. Whoooooaaaa ….justru suara kayak gini ini yang seksi ….ha ha ha ha ha ha …. Coba deh bandingin suara CD sama kaset …. Beda banget treble nya.
  • Suara bass yang gaungnya agak panjang dan pulen (saya ndak tahu bahasa Indonesianya “pulen” ini apa …wis pokoke dibayangkan aja dan percaya omongan saya aja … ha ha ha ha ha ha ha ….). Bass nya kaset memang tak memiliki bidang dinamika atau frequency range yang rendah seperti PH …namun enak banget di telinga.
  • Bunyi desis kaset yang “khas” banget namun konstan. Coba bandingkan dengan bunyi PH yang kadang KEMROSOK ….kemudiang dibagian tertentu malah KEMROTHOK dan bagkan kadand “DHOK DHOK” menyebalkan …. Kalau kaset menawarkan bunyi desis yang stabil dan “part of the deal” …. Kalau mau dengerin kaset ya kudu siap sama desis.
Paling muwantab menikmati album2 di atas ya pake kaset !

Paling muwantab menikmati album2 di atas ya pake kaset !

-

Tracklist

Tracklist

-

Osibisa kok dibarengin sama Grand Funk Railroad ...huopo tumooon?

Osibisa kok dibarengin sama Grand Funk Railroad …huopo tumooon?

-

Nuansamatik tenan ini!

Nuansamatik tenan ini!

-

Harta karun nih dapet kaset paling mengesankan ...pertama kali denger Rainbow ya dari kaset ini.

Harta karun nih dapet kaset paling mengesankan …pertama kali denger Rainbow ya dari kaset ini.

-

Ciri khas Perina Aquarius ... ngirit kertas... ha ha ha ...

Ciri khas Perina Aquarius … ngirit kertas… ha ha ha …

 

Kemudian saya puter Ritchie Blackmore’s Raindow rekaman Perina Aquarius item putih. Wah …jiyan mbrebes mili pol saya sama kaset satu ini. Saya memang pertama kali denger album ini ya dari kaset rekaman Perina milik kakak saya, mas Jokky. Saat itu tahun 75 saya main ke Jakarta, tiap hari dia puter The Temple of The Kings terus2an. Wah …edan …nuansamatik. Lha pas dia berangkat kerja, saya setel kaset ini sampek entek bolak balik …kok semua lagunya saya suka termasuk side B yang Madfred Mann’s Earth Band. wah edan kaset ini …udah keren rekamannya …nuansamatik pula. Semua lagunya, termasuk yang gak top seperti Snake Charmer aja saya suka banget. Apalagi Still I’m Sad …sebuah instrumental nan dahzyat. Wah …saya senang banget dapet kaset nuansamatik ini.

Kesimpulan saya:

Music has something to do with media!

Kalau kita mendengarkan musik dengan media yang “pas” maka dijamin jiwa melayang dan tubuh kita njungkel menderita kepuasan paripurna. Contohnya ya Grand Funk dan Rainbow album pertama ini. Kalau didengarkan dengan media lain memang musiknya masih OK. Namun “soul” nya hilang karena gak nuansamatik lagi. Musik claro ya cocoknya media kaset bukan digital atau PH! ELP “Trilogy” ya enaknya pake kaset …. Cobalah alau ndak percaya. Kalau Anda berpendapat beda, berarti Anda masih terlalu muda … ha ha ha ha ha ha ….

Oh ya …beberapa hari lalu Trey Gunn posting status di FB nya bilang gini: “Listening to music has nothing to do with media” sambil dia posting foto kaset nya Peter Gabriel. Whoooaaaa …. keren banget! Saya gak setuju dengan konsepnya dia …namun saya setuju dengan fotonya …yaitu KASET!

JRENG!

DISCLAIMER: Tulisan ini berdasarkan pengalaman pribadi yang boleh jadi berbeda dengan apa yang dialami pembaca. Namun penulis haqul yakin bahwa bila pembaca memiliki pendapat yang beda, maka ia termasuk pada golongan yang merugi karena ia dibesarkan pada keluarga The Have yang mampu membeli PH kala itu dan sekarang pasti kecewa karena koleksi PH nya jadi KEMRODHOK suaranya kayak bunyi tong pengkong; atau karena ia dilahirkan telat sekali sehingga tak pernah mengenyam indahnya ‘cezk tek e cezk’ bunyi trebel kaset karena eranya sudah digital. Menurut penelitian, telinga manusia ini analog, jadi kalau mendengarkan binary numbers dari ranah digital pasti suatu hari ia akan ‘kopoken’ karena tak sehatnya sinkronisasi gelombang digital. Wis embuh aku ra weruh ngomong opo iki lha wong aku mung nggrundhel wae kok …ora ngomong. Gaya wae nganggo istilah “Disclaimer’ ben ketoke nggajak.

Yang juga tak kalah pentingnya, tulisan ini bukan dimaksud untuk menggelembungkan (baca: “menggoreng”) harga kaset hingga seperti di Facebook yang sekarang ini berlaku harga kaset Yess sampe Rp. 50 ribu sampai dengan Rp. 100 ribu segala ;padahal covernya penuh dengan urek-urek ra karuan …  Pedagang spekulan seperti ini jelas tak memiliki jiwa klaro dan mencoba memenfaatkan situasi melodramatis yang dialami pencinta musik di negeri ini gara2 suka mampir di blog gemblung tanpa tujuan ini … Masiyo tanpa tujuan, tapi blog ini gak mendukung spekulan atau tengkulak atau penimbun. Harga kaset Yess yang wajar ya antara Rp. 15 ribu sampe Rp. 25 ribu (silakan cek di Blok M Square). Di atas itu sudah sinthink dan mendingan DOWNLOAD gratis ajah! Ya nggak ? (alis mata naik turun 3 x). Ora usah percoyo maneh LANGKA lah … Gak diproduksi lagi .. LEGEND lah …wis babah! Wong matek yo ora iso nggowo kaset kok!

Wis ngono wae …. percoyo kambek aku yo sukur. Yen ra percoyo yo salahmu dewe mampir blog gemblung ra karuan iki … Masiyo gemblung tapi pencinta musik sejati …dudu spekulan….. WEK! (ilat melet sambil mripat mlilik  ….)

 

 

Paradise Lost “Gothic”

July 5, 2014

Andria Sonhedi

GW_paradise

Album dari grup dgn cara nyanyi muntah kolak  ini disebut-sebut merupakan pionir gothic metal. Dirilis tahun 1990, album Gothic adalah album ke-2 dari grup death metal Inggris bernama Paradise Lost. Di album ini Paradise Lostmemasukkan elemen orkestrasi dan vokal wanita (bukan yg mirip Angela Gossow ex Arch Enemy) yang saat itu tak pernah dilibatkan dalam pembuatan musik bergenre death metal.

     Saat pertama kali saya dengarkan kasetnya saya cukup terkesan juga dengan perpaduan suara geraman dgn vokal jernih wanita dengan atmosfir musik yang kelam (yg kelam2 gini biasanya mas Kukuh tahu, kita tunggu habis ramadhan nanti) . Perpaduan suara “Beauty & the Beast” tadi kemudian menjadi tren & pakem utk mereka yang mengkhususkan diri di genre gothic metal, utk contohnya grup Theater of Tragedy dari Norwegia. Ada juga grup yang lebih mengedepankan sisi symphonic-nya , tetap dengan suara jernih wanita, contohnya Tristania dan Within Temptation. Belakangan grup gothic metal selalu diidentikkan untuk grup dengan vokalis utama wanita, walau sebenarnya tidak selalu begitu
     Kembali ke Paradise Lost,meski dianggap sebagai pionir gothic metal namun mereka tak pernah menyebut sebagai grup gothic. Dalam perjalanan karir mereka bahkan pernah mencoba dengan synthesizer yang membuat musiknya malah seperti grup electronic berbalut irama hard rock. Ada pengamat musik yang dengan sarkastik menyatakan satu-satunya yang selalu ada dalam musik Paradise Lost adalah  “change” karena seringnya mereka bereksperimen dalam tiap album.
Pemain:
Nick Holmes – vokal
Matthew Archer – drum
Stephen Edmondson – bass
Aaron Aedy – gitar
Gregor Mackintosh – gitar
musisi tamu:
The Raptured Symphony Orchestra – orchestral sections
Sarah Marrion – backing vocals

King Crimson “Larks’ Tongue in Aspic” – Perina Aquarius

July 4, 2014

image

Saya baru tahu bahwa kaset ini pernah ada dan saya salut bahwa saat itu Aquarius berani merilis album bagus dari KC ini. Saya menemukan foto ini dari FB dan tertegun sejenak,  membayangkan kalau saja Yess saat itu merekam juga album ini. Memang saya punya tapi sifatnya rekaman khusus atas budi baik Ian Arliandy. Tapi Yess tak merilis secara massal dalan produksi.

Mas Yuddi punya kaset versi ini? Kalau punya,  wajib dilestarikan mas …. Semoga pitanya Maxell,  bukan Trusonic yang mbelgedhez itu.

Salam,
G

TFK: The Fabulous Koh Win

June 11, 2014

Khalil Logomotif

Beberapa hari yang lalu, sore sore, sepulang nongkrong minum kapucino di warung donut yg baru buka dikota, saya mendapat kejutan! Paket kiriman! Isinya Walkman! Siapa lagi kalau bukan TFK, the fabulous Koh Win, yang sangat dermawan, telah membagikan saya walkman….untuk yg kedua kalinya. Karena yang pertama sekali, sudah pernah dikirimkan oleh TFK, tetapi ternyata walkman malfungsi…ngga mau muter!

E ehhh….ternyata sebulanan kemudian, saya dikirimin lagi yg lain…dan pastilah bisa muter. Terima kasih Koh Win..the TFK!

image

Bunyi “DHENG” di “Firth of Fifth” itu lho!

June 8, 2014

Gatot Widayanto

Firth of Fifth

Ini sebenernya kelanjutan dari obrolan di mini progring di Surabaya. Jumat malam itu yang pertama kali datang ke hotel Elmi ya mas Edi dan putra sulungnya, Bintang. Sebenarnya memang saat itu saya agak panik karena baru keluar dari kantor Pelindo 3 di kawasan Tanjung Perak sekitar jam 18:00 ba’da magrib di masjid Baitul Hakam nan indah. Maghrib di Surabaya memang jauh lebih awal darpada di Jakarta yakni sekitar jam 17:30 begitu. Begitu dalam perjalanan menuju hotel saya telpon mas Edi karena saya takut beliau sudah nyampe di hotel sementara saya masih di jalan. Alhamdulillah mas Edi nyampe di Surabaya setelah nyetir dari Jombang, namun masih di pondokan Bintang di kawasan Juanda. Saya lega dan sekaligus memberi tahu mas Edi bila sudah sampe di hotel tolong SMS saya aja.

Senang sekali ketika pada sekitar 19:30 saya menjumpai mas Edi dengan seragam kebanggaannya dari album yang disukainya: Steven Wilson “The Raven That Refused To Sing and Other Stories”. Saya senang sekali mas Edi menggunakan kaos ini karena saya salut kepada orang yang menggunakan kaos sesuai dengan selera musiknya, gak seperti saya yang suka IQ namun kadang pake kaos Helloween (ora nyambung blas!) lantaran adanya kaos ya itu karena dulu pernah jadi MC saat konser di Jakarta. Namun hari Jumat malam itu saya juga menyambut kehadiran mas Edi dengan mempersiapkan diri menggunakan kaos dari album yang saya suka dan dari band yang saya cintai : IQ album “The Road of Bones”. Kaos IQ saya ini bener2 GRESS karena memang baru saya pakai pertama kali dan belum dicuci dari hand carry temen baik saya yang rela membelikan saya dari konser IQ tanggal 3 Mei lalu di Islington Assembly Hall, London. Pokoknya …demi penampilan yang baik karena bertemu dengan Pendekar Prog asli nJombang, saya harus jatahkan “pemakaian kaos IQ” ini pada saat pertemuan dengannya. Alhamdulillah kelakon!

Bintang malam itu menggunakan baju kotak-kotak ala anak muda dengan gaya bicara yang kalem seperti Steve Hackett. Tanpa ba bi bu, kami segera bicara nunjek ulu ati tentang ..,, apa lagi kalau bukan hobi yang sama2 kita sukai …ha ha ha ha ha …. Pembicaraan dimulai dengan kesan-kesan Bintang maupun mas Edi tentang dahzyatnya band prog dari Yogya bernama I Know You Well Miss Clara. Pokoke yang namanya Bintang ini adalah penggemar seta band dari Yogya ini dan sudah puluhan kali menonton konsernya baik di Yogya maupun di Jakarta saat tampil di Rock Lingers. Saya malah kagum dengan bagaimana Bintang dan mas Edi mengapresiasi musik Miss Clara ini. Tak lama kemudian pembicaraan nyelempang ke Pelangi (nama adiknya Bintang yang sedang kuliah di UGM) yang gandrung dengan musik metal. Pokoknya Pelangi ini everything is metal, begitulah ceritanya. Namun yang menarik adalah ketika Bintang cerita mengenai band bernama ZOO dari Yogya yang basisnya metal namun ngeprog. Saya cumak ndomblong mendengarkan cerita dari ayah-anak yang sama2 suka musik ini. Dan ….tentu saja saya menikmati obrolan mereka ini. Luar biasa dah!

Oh ya .. kami juga membahas tentang kelompok Radiohead yang menurut bintang mengawali karirnya dengan lagu pop melalui album Pablo Honey, misalnya. Namun mereka akhirnya ngeprog juga di album OK Computer. Whoooaaaaa …. saya jadi ingat lagu mereka bertajuk “Paranoid Android” yang tak ada hubungannya dengan Black Sabbath maupun samsung Galaxy. meski lagu ini diciptakan sesudah lagu Paranoid nya Sabbath, namun musiknya tak berhubungan sama sekali sama Sabbath dan juga lagu ini lahir sebelum Samsung Android lahir. jangan-jangan teknologi Android terpengaruh Radiohead? Ha ha ha ha …. Tapi saya memang suka lagu ini dan juga lagu pop Karma Police.

Sakjane suarane piringan hitam kuwi koyok opo to?” (sebenernya suara piringan hitam itu seperti apa sih?), begitulah kira-kira mas Edi memulai pembicaraan menyenangkan selanjutnya. Kok ya jawaban saya spontan: “Begini lho mas … pernah gak sampean perhatikan bahwa di interludenya lagu Firth of Fifth saat Steve Hackett solo tiba-tiba ada bunyi DHENG …sekitar satu atau dua detik namun sungguh mematikan dan membuat lagu yang sudah indah ini menjadi super duper nunjek ulu ati? Ya begitulah bunyi pelat mas ….suaranya lebar menggelegar seperti mau mendekap kita …”. Mas Edi terus mengiyakan dan ternyata beliau juga suka dan memperhatikan bagian DHENG tersebut … Lantas? kami bertiga ketawa nguwakak pol sampe semua orang yang duduk di lobi ELMI liat kami bertiga kayak orang gila aja … HUA HA HA HA HA HA HA HA ….

Ya memang begitulah menurut saya suara piringan hitam yang diputar di turntable. saya sendiri sangat jarang menikmati PH karena memang bukan kelas saya yang cukup puas dengan kaset rekaman Yess aja. Namun saat saya kuliah dulu pernah dapet pinjaman PH Chick Corea “The Mad Hatter” dan memang suaranya luas banget …. bidang dinamika (istilahnya Tjandra Gozali) lebar sehingga membuat telinga ini nyaman mendengarkannya. Memang asik menikmati suara PH.

Bunyi DHENG itu …

Masalah utama yang bener2 penting dibahas karena memang strategic ya itu : bunyi DHENG nan indah nuansamatik kemlitik zonder rheumatik. Jujur saja, salah satu kenikmatan mendengarkan Firth of Fifth versi studio selain memang musiknya indah diawali dengan intro yang klasikal, juga bunyi DHENG yang terjadi di interlude. Bunyi ini begitu indah di telinga setelah mengarungi flute solo dan guitar solo nan indah. Rasanya begitu DHENG keluar langsung dah puncak orgasme tercapai dan di situ rasanya kenikmatan paripurna tercapai …. WHOOOAAAAA …..!!!!

Kalau kenikmatan lagu ini versi “Seconds Out” ada di lima not terakhir dari gitar solo Hackett meski bunyi DHENG nya hilang …..

Begitulah nuansamatiknya sebuah musik yang terkadanga hanya sekedar injakan satu not taurus pedal saja membuat hati ini terasa tenteram ….

Salam hari Ahad!

Manifestasi Bunyi “DHENG” ….

 

Tadinya saya akan buat tret lagi terkait hal ini. namun sekalian ajalah saya tulis di bawahnya karena nyambung. Hari sabtu kemarin saya dijemput pak Dokter di Hotel tempat saya menginap untuk diantarkan oleh beliau ke bandara Juanda. Saya sungguh tersanjung dengan budi baik pak dokter ini karena sudi mengantarkan saya ke bandara. Ini jelas pertemanan yang guyub luar biasa! Matur nuwun sekali lagi, pak Dokter Arief Apec Bakhtiar …

Tepat jam 10 sesuai janji beliau sudah berada di lobi. Akhirnya dengan dikemudikan pangsung oleh pak Dokter, saya diajak menuju bandar. Namun karena rumah beliau di sekitar Juanda, maka saya ditawari mampir ke rumahnya. Tentu saya sambut dengan suka cita riang gembira lunjak-lunjak plus gedhruk gedhruk bungah diajak mampir ke rumah kolektor kelas wahid!

Namun …

Tunggu dulu ….sabaaaaar ….. Sebelum sampai rumahnya saya diajak mampir ke warung kuliner Lontong Balapan dan Es Degan. tentu saya ogah menolak alias langsung akur dengan ajakannya! Kapan lagi kulineran Suroboyan oleh seorang dokter yang juga kolektor musik. Akhirnya kami mampir lah di warung kuliner Lontong balap Cak Budi ini dan order lontong balap, es degan plus sate kerang …Muantabz jaya …

Lontong Balap dan Es Degan

Lontong Balap dan Es Degan

-

Penampilan warung Lontong balap Mas Budi

Penampilan warung Lontong balap Cak Budi

Setelah itu saya diajak menuju rumahnya di kawasan Tropodo yang lokasinya tak jauh dari warung Lontong balap. Kebetulan mbak Anik (istrinya bro Apec) dana putra putrinya sedang ke rumah neneknya yang tak jauh dari rumah pak dokter sehingga kami hanya berdua saja di rumah pak dokter.

House of The Rising Prog Star - tampak luar

House of The Rising Prog Star – tampak luar

Whoooaaaaa…rumah yang luas dan dua tingkat ini cukup egois karena dipenuhi dengan koleksi musik yang banyak: PH, CD, DVD dan tentu saja kaset. Turntable aja ada tiga buah. Wis pokoknya kumplit semuanya. Di lantai bawah banyak PH dan di lantai atas banyak kaset dan CD plus beberapa PH. saya lebih senang di lantai 2 karena ada ruang dengar khusus dan saya minta diputar PH saja sekaligus membuktikan omongan saya ke mas Edi terkait bunyi mak “DHENG” yang saya tulis di atas. Dan Alhamdulilah ada PH Yes Live in Switzerland yang terdiri dari tiga keping (udah kayak Yessongs aja).  Memang benar yang saya katakan ke mas Edi banhwa menikmati suara PH adalah ibarat bunyi DHENG di Firth of Fifth nya Genesis.

Koleksi PH (sebagian kecil) di lantai bawah

Koleksi PH (sebagian kecil)

Akhirnya mak jeglek jarum PH diturunkan dan mengalunlah suara Jon Anderson yang seakan brada di depan hidung saya dan siap merangkul saya lantaran kualitas suara PH yang indah …. (pssssttt … Koh Win dilarang cembokay ya …ha ha ha ha ha ha ha …. Maap Koh Win …saya mendengarkan suara Jon pake PH lho ….bukan CD ….ha ha ha ha ha …silakan misuh2 ….!!!)

Kapan lagi bisa menikmati Yes via PH?

Kapan lagi bisa menikmati Yes via PH?

Salah satu kenikmatan mendengarkan PH ya melihat piringan besar lebar yang berputar konsisten .... Biyuh!

Salah satu kenikmatan mendengarkan PH ya melihat piringan besar lebar yang berputar konsisten …. Biyuh!

Memang ruang dengar bro Apec ini keren banget dan sangatlah cucok buat suatu hari kita menggelar progring di sini …Mungkin kalau nanti kita diundang di pernikahan nina A? (GR ya …kayak kita2 ini diundang aja! ha ha ha ha ha ha …). Kalau perlu kita nginep ndelosor di ruang dengar ini. Bro Apec menawarkan ke kita buat nginep di rumahnya lho … Ketimbang nginep di hotel dapetnya lagu pop tembang lawas dan gak prog, ya mendingan menginap di Tropodo Palace ini … Gimana? hayo dirancang acaranya!!!.

Salah satu dindingnya penuh dengan ribuan kaset berbagai rekaman dan di dinding depannya juga begitu ditambah koleksi CD. Tak kalah pentingnya ada Herman’s Corner di ruangan ini berisi artwork karya mas Herman. Saya jadi malu melihatnya karena saya sendiri belum membuat pigura karena terbatasnya tembok. Namun Herman’s Corner ini bener2 indah dan nuansamatik sekaleee…

Puluhan ribu kaset memenuhi dinding ...

Puluhan ribu kaset memenuhi dinding …

The Herman's Corner

The Herman’s Corner

Greater details of Herman's Corner ...

Greater details of Herman’s Corner …

Posters

Posters

Dinding lainnya ...

Dinding lainnya …

Monalisa nya banyak dan lengkap ...

Monalisa nya banyak dan lengkap …

Sayang saya kemudian harus ke bandara buat terbang kembali ke Jakarta. Next time kita ketemuan di rumah bro Apec …pasti nyamleng suromenggolo tenan ….!!!

Salam Ahad!

 

 

Van Halen “Diver Down”

June 7, 2014

Andria Sonhedi

image

(more…)

W.A.S.P. “Live at the Lyceum” – Scorpio

May 30, 2014

Andria Sonhedi

gw - wasp_1

Scorpio adalah perusahaan rekaman masa  non royalty yg mengkhususkan diri menerbitkan versi live artis. Mereka mengkonversi dari video ke format kaset shg mutu suaranya memang tak terlalu bagus. tapi tentu saja untuk para penggemar grup2 yg kasetnya mereka rilis hal itu tak jadi masalah, yang penting punya & bisa membuat iri teman  :)

W.A.S.P. live at the Lyceum begitu juga, di katalog grup yang resmi hanya ada dalam bentuk video dan durasinya pendek. makanya di kaset cuma ada di side A.  Side B adalah dari sebagian album pertamanya dan masih bersama drumer awal Tony Richards. di album live ini masuklah drumer Steve Riley yang nantinya akan menjadi drumer di grup L.A. Guns
W.A.S.P di kaset ini memadukan gaya tatrikal Alice Cooper dengan hard rock yang lebih agresif. mungkin WASP memang termasuk metal awal, bukan seperti Poison yang lebih ke glam & tata rambut atraktif. selain lagu2 agresif seperti I Wanna be Somebody atau Hellion ada juga lagu balada berjudul Sleeping (in the Fire). kl lihat coverya dulu saya cukup ngeri juga,ada tengkorak, rantai dan api. :)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 145 other followers