Archive for the ‘Kaset’ Category

Thrash Generation

April 16, 2014

Andria Sonhedi

image

sebenarnya kaset kopian, apalagi kopian sendiri tak pernah saya komentari. tapi karena beberapa rekan di blog ini pernah cerita (terutama pak Cosmic) ttg kaset Thrash Generation maka saya tampilkan juga di sini.

kaset Thrash Generation sebenarnya tak cocok disebut kompilasi thrash karena setelah saya dengarkan tidak ada lagu2 yang bercorak thrash di dalamnya. judul kaset ini sesungguhnya adalah “Grindcrusher II an Ultimate Earache” yang merupakan kompilasi 24 lagu dari grup2 yang bernaung di Earache Records di tahun 1991. mungkin karena genre grindcore & death metal belum dikenal luas maka dipilih genre yang dianggap terkenal karena ada Metallica, Slayer, Anthrax & Megadeth.

Earache Records adalah perusahaan rekaman dari Nothingham, Inggris yang termasuk mempelopori munculnya para pionir grind core & death metal baik di Amerika maupun Inggris. cukup dengan satu kaset anda bisa mendapatkan Morbid Angel, Godflesh, Terrorizer, Naked City, Napalm Death, Entombed, Nocturnus, Bolt thrower dan grup2 bernama aneh lainnya :) dan suara berisik tentunya :D

utk kaset ini mungkin pak Gatot cukup memberi satu komentar “ra mutu blas” :D

John Mayall “Selection” – TriStar

April 16, 2014

image

Selagi mas Kukuh dan mas Erick membahas bluuuuuuuues …. maka tret ini saya buka. Meski fotonya sudah lama di android saya dengan rencana mau membuat tret kaset ini,  namun kok waktunya belum sempet aja buat upload. Gara2 baca tret Blue Label saya jadi teringat kembali kaset rekaman TriStar ini. Nama perekamnya aja unik to? Makanya kaset ini saya beli karena faktor perekamnya,  faktor pita maxell nya dan juga karena John Mayall yang ngeblues itu …. Jangan2 kaset ini juga barang langka ya? Ha ha ha …. embuhlah …yang penting perasaan saya saat beli kaset ini di Blok M square perasaan saya terasa adem dan mak kemlenyes liat kaset inj ….so sexy and so nice …..the look is really great. Makanya saya sikat aja .. Andaikan perekamnya abal2 toh pitanya Maxell gitu loh! Pa lagi harganya super duper bersahabat tak lebih dari lima belas rebek. Mungkin juga cemban …saya lupa karena cukup bersahabat.

image

Lha kok jebulnya isi kasetnya juga mantab harapan jaya tenan ….baik dari musiknya maupun rekamannya. Musiknya kan tenti sudah pada tahulah ….John Mayall gitu loh …. setidak-enaknya lagu Mayall sekurangnya jauh lebih enak dari lagunya Cicha Koeswoyo “Heli …guk guk guk …kemari …guk guk guk …” ha ha ha ….jadul kumadul tenan …ha ha ha …..
Kebanyakan lagunya versi live dan memang mengasyikkan sekali … Pernah punya kaset Yess yang John Mayall “Jazz – Blues Fusion”? Ada lagu yang diambil dari kaset live tersebut,  bertajuk Mess Around. Memang John Mayall ini musisi blues yang handal dan konsisten mainnya. Solo harmonica disertai desahan vokalnya sungguh menawan. Makanya saya kerasan memutar kaset ini side A dan B secara penuh. Selain rekamannya bagus,  kualitas pitanya prima gama ray tenan …..! Wis …pokoke menderita kepuasan paripurna mendengarkan kaset ini. Dijamin njungkel kejlungup setelah menikmati kaset ini ….. JrèNg!

Cinderella “Night Songs”

April 15, 2014

Budi Putra

image

Cinderella salah satu band glam rock era 80-an yang albumnya sempat saya miliki. Hal ini berkat bujuk rayu seorang teman semasa sekolah dulu. Dia memperkenalkan sekaligus meminjamkan album Night Songs pada saya. Teman saya ini, Imam namanya, memang fans berat band-band glam rock seperti, Bon Jovi, Poison, Europe, Britny Fox, bahkan Heart pun juga dia sukai. Tapi herannya dia enggak suka dengan Motley Crue. Entah mengapa?

Bagi saya yang waktu itu lebih gandrung pada band claro era 70-an, sebenarnya kurang begitu tertarik dengan tempo musik band glam rock yang menurut saya biasa-biasa saja. Namun untuk menghargai teman kali ini saya coba mendengarkan album Night Songs ini. Setelah saya putar via mini compo saya agak terkejut dengan karakter vokalnya yang berat dan serak serta irama musiknya yang condong ke hard rock. Lagu “Nobody’s Fool” tentu yang paling memikat saya karena lagu ini dilantunkan dengan sebuah power ballad yang terbilang megah. Saya merasa seperti ada yang berbeda pada lagu ini dimana karakter vokalnya terasa berbeda bila dibandingkan dengan band glam rock lainnya yang cenderung cempreng atau melengking. Lagu-lagu lainnya yang saya dengarkan seperti “Night Songs” dan “Shake Me” merupakan lagu yang sangat menarik untuk didengarkan.

Menengok kiprah Cinderella yang sebelumnya bernama Saints in Hell. Namun karena tak kunjung menuai hasil, Carl Thomas Keifer (vokal, gitar) dan Eric Brittingham (bass) memilih nama Cinderella sebagai nama baru band mereka. Rupanya nama baru ini mulai menuai hasil. Suatu hari di tahun 1985, Cinderella bermain di Empire Rock Club, sebuah club di Philadelphia yang menjadi tempat penting bagi perkembangan musik hair metal di East Coast pada tahun 80-an. Aksi panggung mereka disaksikan Jon Bon Jovi yang terkesima dengan permainan Cinderella terutama gaya bermain gitar Keifer yang ngeblues. Alhasil, Jon merekomendasikan Cinderella pada Derek Shulman, A&R PolyGram Record. Setelah mendengarkan Cinderella bermain, Derek setuju untuk merekrut mereka. Cinderella lantas teken kontrak di label Mercury/PolyGram Record.

Mereke mulai merekam album debut Night Songs. Di tengah pengerjaan album ini, drummer Jody Cortez keluar dan digantikan oleh Fred Coury, mantan drummer dari band hair metal bernama London. Album debut yang dirilis pada 1986 ini membuat Cinderella menjadi salah satu best new comer dalam scene hair metal di Amerika, dan albumnya terjual hingga beberapa juta kopi. Tidak hanya itu, album ini juga mencapai peringkat 3 dalam Chart Billboard pada Februari 1987.

Kesuksesan Night Songs diikuti dengan tur pertama Cinderella. Saat itu tahun 1986, Cinderella melakukan tur dengan Poison, salah satu band hair metal legendaris. Dua band itu membuka konser Loudness, band heavy metal asal Jepang. Lantas pada tahun 1987 Cinderella tur selama 5 bulan untuk membuka konser David Lee Roth.

Songs~

Side A
Nigth Songs
Shake Me
Nobody’s Fool
Nothin’ For Nothin’
Once Around The Ride

Side B
Hell On Wheels
Somebody Save Me In
From The Outside
Push, Push Back Home Again

Bands~
Tom Keifer: Lead vocals, Guitar, Piano
Eric Brittingham: Bass, Vocals
Jeff LaBar: Guitar, Vocals
Fred Coury: Drums

Kemana Raibnya Kaset Yess?

April 14, 2014

Budi Putra

image

Sabtu (12/4) kemarin, bersama istri dan anak saya niatkan untuk mengunjungi Jalan Surabaya (jalsur). Tujuan utamanya yang saya sampaikan juga ke istri (menkeu), ingin membeli kaset seken di tempat itu. Apalagi kalau bukan membeli kaset seken rekaman Yess yang termashyur itu. Namun apa hasil, setelah menjajaki beberapa kios ternyata tak satupun kaset Yess saya jumpai. Sebagian besar hanya kaset-kaset rekaman standar dan lisensi saja. Penjual bilang kaset-kaset Yess sudah habis diborong. Nah loh!

Saya kurang tau persis apakah raibnya kaset-kaset Yess akibat dari liputan di majalah Tempo yang lalu? Sehingga sekarang banyak mata kini tertuju pada rekaman yang satu ini dengan segala macam kepentingannya: entah dia sebagai kolektor kelas kakap sehingga berkepentingan memborong habis kaset Yess. Atau ada upaya segelintir orang—istilahnya mas Kukuh, kartel—yang melakukan penimbunan agar kelak bisa dijual dengan harga menjulang (permainan pasar)? —kayak BBM aja, hahaha. Mungkin juga karena barang yang satu ini memang sudah langka dipasaran karena tingginya permintaan? Wah, pikiran saya saat itu jadi berduga-prasangka. Akibatnya, saya jadi enggak fokus nyari kaset karena pikiran saya yang melayang-layang kayak layang-layang yang dihempas angin. Untuk menghibur hati yang gundah gulana karena enggak nemuin kaset Yess, saya putuskan hanya membeli 2 buah kaset lisensi Queensryche (Promise Land) dan Gorky Park, dengan harga yang terbilang murah. Dan belakangan Gorky Park saya reviews di blog gemblung tercinta ini.

Berikutnya, penasaran karena belum juga mendapatkan kaset Yess, esoknya bersama istri dan anak mengunjungi Blok M Square. Kali ini selain ingin membeli kaset juga ingin membeli buku-buku bacaan untuk anak-anak mulai dari buku dongeng, seri teknologi untuk anak-anak dan buku permainan (puzel), dan mewarnai. Sampai di Blok M Square, ternyata sudah mendekati jam 12.00 Wib. Saya lihat cafe Corelli nampak lengang tanpa pengunjung—wah saya jadi inget wajah-wajah para penghuni blog gemblung. Saya bilang ke istri kalo pertemuan (progring) kemarin diadakan di cafe ini. Dan yang paling menggelisahkan saat saya tengok sebagian kios kaset seken nampak masih banyak yang tutup. Padahal hari sudah menjelang siang. Untung saja kios bang Oman dan Legend sudah mulai buka. Jadi di kios bang Oman saya menjelajahi rak-raknya tapi lagi-lagi saya tidak menemukan kaset yang saya inginkan. Di rak depan hanya ada 2 buah kaset Yess dari album Genesis “Wind and Wuthering” dan “Live and Studio” yang tempelan fotonya (cover) sudah enggak jelas, sehingga saya tidak minat sama sekali untuk membelinya. Lagi pula ini kaset pada saat progring juga sudah ada dan rupanya tidak ada peminatnya. Bang Oman bilang stok kaset masih belum berubah dari yang kemarin (pas progring). Kios Ary juga belum buka jadi saya mampir saja ke kios Legend yang saya amati stoknya juga gak banyak berubah, bahkan tidak ada satupun kaset Yess di kios ini. Akhirnya, karena tidak ingin membuang waktu saya ambil 4 buah kaset era lisensi dengan bonus 1 buah poster Jimi Hendrix yang saya pilih sendiri. Akhirnya untuk yang kedua kali saya menjumpai kekecewaan. Setelah makan dan rehat sejenak di A&W, kami beranjak pulang diiringi gerimis yang enggak diundang.

Alhasil akhir minggu ini serasa kelabu bagi saya karena kaset rekaman Yess yang saya inginkan belum bisa tergapai. Album-album dari band prog papan atas macam King Crimson, Yes, Pink Floyd, Genesis, Marillion, dan lainnya masih sebatas impian. Satu-satunya oleh-oleh yang menghibur saya pada kunjungan di Blok M Square kali ini ialah poster Jimi Hendrix (Woodstock, Live) yang lumayan keren ini.

Cacophony “Speed Metal Symphony”

April 13, 2014

Andria Sonhedi

image

Cacophony ‘Speed Metal Symphony” adalah album awal dari proyek duo gitaris Jason Becker & Marty Friedman. Saya dulu tahu pertama masih buatan RoadRunner Singapore, tabloid Citra Musik yang mengulasnya di bagian resensi kaset (juga utk kaset Racer X). Saat itu Marty belum jadi anggota Megadeth dan Jason juga blm ikutan Dave Lee Roth band. Yang membuat saya saat itu males beli, wl sdh dikeluarkan label Indonesia, karena ini bukan 100% album instrumental. hanya ada 2 yg benar2 instrumental yaitu Copncerto & Speed Metal Symphony (dan kebetulan saya juga suka). sesuai judulnya mmg album ini cukup speed, sayangnya bagian vokal & penulisan lirik tak mendukung. Atma Anur sdh pas jadi drumer tapi Peter Marino sbg vokalis kok tdk memberi tambahan poin positif utk album ini. banyak orang yg bilang harusnya ini adalah album instrumental saja. Cacophony masih mengeluarkan 1 album lagi: Go Off, sebelum bubar

ini daftar lagunya:
1 Savage 5:50
2 Where My Fortune Lies 4:33
3 The Ninja 7:25
4 Concerto 4:37
5 Burn the Ground
6:51 6 Desert Island 6:25
7 Speed Metal Symphony 9:37

2 gitaris ini masih juga aktif , walau dgn cara berbeda. Marty tinggal di Jepang & ikut scene J-Rock sedang Jason, walau lumpuh kena ALS, tapi masih bersemangat tinggi utk mencipta lagu instrumental gitar dgn bantuan komputer yg merespon gerak bola matanya.

–evil has no boundaries

Peter Gabriel Diam Satu Bar di “Carpet Crawlers”

April 12, 2014

Herman

Kali ini saya ingin mengajak bernostalgia dengan sebuah lagu Genesis ‘old song’, yang sudah tidak asing lagi : Carpet Crawlers. Kalau kita dengarkan musik Genesis Carpet Crawlers tersebut saya kira semua warga Blog ini pasti punya pengalaman dan sudut pandang sendiri2. Tulisan ini merupakan pengalaman saya dan juga sudut pandang saya. Waktu awal kenal lagu ini sudah agak lupa bagaimana persisnya tetapi kira – kira waktu itu denger lagu ini di kamar kos2an di Jogja. Saya dibuat penasaran kok pengen dengerin lagi . Lagu Genesis ini slow dan melodinya diulang –ulang tapi enak di dengar. Saya penasaran untuk mencari tau apa yang bikin enak di dengar?

image

Dulu saya belum tau musik repetitive yang melodinya berulang dari bait ke bait . Musik repetitive memerlukan kepiawaian dalam menyiasati agar lagu berulang ini tidak membosankan dan enak didenagar.

Untuk dapat menjawab penasaran saya maka Carpet Crawlers saya putar berulang – ulang, sampai saya agak takut kasetnya jadi ngombak pas bagian itu, sambil saya buat catatan dari bait ke bait .

Ini sekedar catatan orang awam yang mungkin istilah2 yang digunakan juga belum tentu benar.

Bait ke 1 : musik : Piano

Bait ke 1 ini merupakan intro di mana Vocal peter Gabriel diiringi dengan musik yang minim hanya permainan piano (+ gitar?).

Diakhir intro ini, ketika vocal sampai kata …to avoid…..masuk Bas Gitar: dheeengg….. entah yang bener bagaimana nulisnya…? Mungkin di negaranya Peter Gabriel lain lagi cara nulisnya….Yang penting kira kira begitu bunyinya,…. versi gemblung2an aja …. Selanjutnya masuk bait ke 2

Bait Ke 2 : Musik Piano + Bas

dengan masuknya Bas ikut meiringi bersama Piano, terasa ada peingkatan pada musiknya, menjadi lebih berisi. Diakhir bait ke 2 saat vocal Gabriel sampai : We’ve got to get in…. to get ooouut ….saat itu Drum masuk: Dhug! ..tak dhug dhug…. terasa sekali meningkatnya musik dengan adanya hentakan drum masuk ke bait 3

Bait ke 3 : Musikpiano : + Bas + drum + elektrik gitar

Musik terasa bentuknya, terdiri dari piano + Bas Gitar+ Drum + elektrik gitar. Masuknya drum semakin menggerakkan emosi pendengarnya ditambah lengkingan gitar yang lembut dan harmonis membuat kita semakin asik mendengarnya.

Bait Ke 4 : Musik : piano + Bas Gitar+ Drum + elektrik gitar

Vocal : mencuri ketukan

Di awal bait 4 ini vocal peter Gabriel mencuri ketukan, dan ini menimbulkan hentakan yang memancing emosi kita….awal mendengarkan “pencurian” yang dilakukan vocal peter Gabriel ini saya senang sekali…bagus sekali dalam menyiasati agar bait ke 4 ini ada sesuatu yang baru dari bait sebelumnya….. Perubahan vocal ini membuat adanya eskalasi yang semakin mengoyak emosi yaitu sejak Gabriel mengcapkan “Mild mannered supermen…. Terasa sekali adanya eskalasi di Bait Ke 4 ini.

Bait Ke 5 : musik : piano + Bas Gitar+ Drum + elektrik gitar

Vocal : mencuri ketukan + diam 1 bar

Vocal Peter Gabriel waktu mengucapkan “The porcelain manikin…. terasa menimbulkan hentakan yang lebih lagi dibandingkan bait ke 4. Bait ke 5 ini menjadi klimaks lagu…. ketukan vocal sama dengan bait ke 4….Nah ketika sampai baris ke 5 ternyata vocalnya diam satu baris ( satu bar) …..woaaaa ini dia, seneng sekali rasanya ketika menemukan ini….meskipun ini disebabkan syairnya memang hanya 4 baris tetapi saya merasakan ada sensasi ketika mendengarkan baris ke 5 tanpa vocal….. top markotop….apapun sebabnya sensasi dengan diam satu baris ini luar biasa……hahaha….wis embuhlah pokoknya waktu itu suweneng menemukan lagu kok ada satu baris yang diam ……batin saya maksudnya apa ya pakai diam 1 bar…..ternyata lha memang syairnya memang nggak ada. Coba kalau dipaksain didisi vocal dengan lalala…lalala…….atau ooooo…oooooo….apa jadinya… hahaha…enggak ini buat lucu2an saja…Nggak mungkinlah Genesis seperti itu……

Lengkaplah bahwa 5 bait itu memang masing – masing berbeda satu sama lain yang tapa terasa membuat kita keasikan mendengarnya. Di samping perbedaan tadi dari bait ke bait juga ada eskalasi yang menggerakkan emosi pendengarnya dan mencapai klimaksnya pada bait ke 5. Dan yang istimewa adalah,itu tadi, pakai diam satu bar itu tadi…

image

Setelah denger lagu ini jadi menambah semangat saya untuk memperhtikan musik khususnya aransemennya.

Musikus yang secara terbuka mengklaim musiknya repetitive adalah Phillip Glass. Lagunya Mike Oldfield juga banyak juga yang repetitive. Kalau musik New Age, lagunya Yanni “Nightingale” bagus dalam menyiasati musik repetitive menjadi enak di dengar dengan mengatur eskalasi musiknya dan juga mengatur kapan suatu alat musik dimainkan serta dipadu dengan alat musik apa. Ternyata disco, house music termasuk musik repetitive juga, tapi minat saya kurang terhadap musik disco. Dulu pernah denger teman sebelah kamar yang suka lagu2 disco, dan sekarang kalau denger musik disco timbul kenangan masa indekos. Mudah2 an tulisan ini cukup membawa nostalgia dengan lagu Carpet Crawlers dan mungkin juga album The Lamb Lies down On Broadway apalagi kalau kasetnya rekaman Yess. Siapa tau jadi ingin denger Peter Gabriel diam 1 bar.

Salam Jreng ! Herman.

Rekaman Blue Label

April 12, 2014

Erick S

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih buat Om Gatot yang telah memposting tulisan ini, semoga blog super hebat ini terus maju dan makin banyak yang share seputar music dan kaset.

Jreeng (“pijem ya om :D”)

Beberapa hari lalu di FB ada seler yang posting kaset Whitesnake 84 dan juga white heat, dengan sigap lalu saya bilang “Hold!!! Mas” hihihi, kenapa saya langsung hold? ?? Karena saya lihat fotonya kaset tersebut label rekamanya cukup antik dan membuat hati saya tertarik, Blue Label record.

Buat saya label ini sangat jarang ditemukan di FB atau juga lapak online bahkan lapak pinggir jalan “atau mungkin saya yang kurang update ya hehehehe” ya mohon di maklumi karena masih junior dan awam pengetahuan soal kasetnya.

Setelah saya transfer kemudian saya minta selernya untuk menitipkan kaset tersebut dilapak mas ariyanto blok m square dan selasa sore lalu saya ambil kasetnya sambil blusukan di blok m square, tapi dari blusukan kali ini saya tidak mendapatkan kaset lain untuk yang menarik hati saya, segera saya pulang saja mumpung waktu masih belum terlalu malam. Sesampainya di rumah tanpa banyak cakap langsung saya buka dan putar kasetnya ternyata suara masih mantap walaupun sound tidak sejernih rec yess hehehehe

Oo iya mungkin dari para senior dan pakar-pakar penghuni blog super hebat ini ada yang punya pengalaman atau cerita seputar rec Blue Label ini dan group-group apa saja yang pernah dirilis di label tersebut

Sekian dulu dari saya

Salam Jreeng…..

+++++++++

Terima kasih ya om

Wassalam

-

image

-

image

-

image

-

image

-

Yesstory Membenamkan Rolling Stone

April 9, 2014

Budi Putra

Pemilu kali ini benar-benar tidak menarik minat saya untuk turut berpartisipasi. Apa pasal, menengok rekam jejak para “wakil rakyat” sebelumnya yang sungguh mengecewakan: alih-alih membuktikan janji malah korupsi yang mereka perbuat. Makanya, saat ini bertepatan dengan nyoblos, saya memilih berdiam dirumah sambil membaca dua majalah (Rolling Stone dan Tempo) yang saya beli kemarin dengan hati yang riang gembira.

Jujur saja baru kali ini saya membeli Tempo kembali sebelumnya saya hanya membeli majalah ini pada jaman-jaman mahasiswa dan awal bekerja dahulu. Untuk kali ini bukan tanpa alasan saya membelinya sebab, ulasan tentang kisah Yess—yang sebelumnya diinformasikan rekan-rekan blog gemblung—menarik minat saya. Ajibnya, berita-berita lain di majalah ini yang saya baca kemudian hanya saya baca secara sekilas saja. Apalagi terkait politik dan pemilu, enggak mutu blas!…hahaha. Berbeda dengan ulasan tentang “Kisah Yess & Idealisme Kaset Rumahan” yang termuat di rubrik Intermezo tak ayal saya baca hingga beberapa kali tanpa bosan—saya pandangi foto Ian Arliandy sedang berada di toko kasetnya dengan back ground ph-ph yang terjejer rapi dirak. Nampak ph King Crimson yang unik itu.

image

Mengapa rubrik ini demikian menarik minat saya? Mungkin ini penilaian dangkal saya. Pertama, ditengah maraknya media audio visual dalam bentuk non fisik yang menjamuri dunia musik saat ini Tempo, berani melawan arus mainstream dengan menampilkan kisah kaset rumahan Yes, Monalisa, Apple, Hidayat, dengan sangat nuansamatik sekali. Kedua, memunculkan tokoh-tokoh dibalik produksi kaset rumahan tersebut membuat pembaca menjadi mengetahui sejarah/asal-usul pembuatannya yang penuh kisah-kisah lucu dan mengharu biru pembacanya. Yang ketiga, Tempo mampu memotret keberadaan kaset Yess, Monalisa, Apple, pada kondisi terkini yang telah menjadi barang langka namun masih diburu para kolektor juga para penikmat kaset-kaset jadul lainnya. Runutan ulasan ini menurut saya menarik sekali dibanding (maaf) majalah Rollling Stone yang juga saya beli dan memang banyak memuat ulasan musik namun tak ayal keberadaan rubriknya bila disandingkan satu rubrik Tempo tersebut menjadi tak berarti apa-apa. Edan! Hanya dengan satu rubrik Tempo mampu membenamkan rubrik-rubrik di Majalah Rolling Stone, tentu dihadapan saya sebagai pembaca kedua majalah ini.

Bagi saya sosok Ian Arliandy, tokoh dibalik Yess, merupakan seorang yang berpikir melampaui jamannya yang berani melawan arus ditengah kepungan record besar macam Aquarius atau Billboard dalam dunia perkasetan. Bagaimana tidak, memilih musik yang tidak lazim dan minoritas penikmatnya pada masa itu rock progresif, merupakan suatu keputusan besar dengan pertaruhan yang terbilang beresiko besar pula: faktor modal dan pemasaran. Namun berkat kejelian yang berangkat dari kesukaan terhadap genre musik Ian, memutuskan untuk merekam hanya band-band yang masuk dalam genre rock progressif seperti Yes, King Crimson, Pink Floyd, Genesis, dan lainnya, kaset Yess justru menjadi trademark (jaminan) mutu sebuah record rumahan dibanding record-record lainnya. Hingga kini Yess masih tetap memancarkan aura kaset rumahan dengan sisi idealisme dan kualitas audio dus level band/album yang direkammya yang malah makin moncer karena diburu para kolektor kaset. Coba saja tengok di lapak-lapak kaset seken dibilangan Blok M square atau tempat-tempat lainnya. Mesti kaset Yess, Monalisa, Apple, yang paling dicari dan diburu para kolektor terutama untuk album-album yang terbilang langka. Harganya pun perlahan tapi pasti menanjak naik seiring dengan adanya permintaan—seperti rumus ekonomi pada umumnya, supply and demand. Barang tentu bagi kolektor kelas wahid, harga sepertinya bukan masalah asal kaset/album kesukaannya bisa dimiliki…hehehe…

Bagi saya yang pernah dan kini mengoleksi kembali kaset-kaset Yess memiliki penilaian tersendiri terhadap kaset rumahan tersebut. Sebelumnya, saya tidak terlalu memperdulikan Yess karena bagi saya yang lahir di era-era yang tidak mengalami langsung record tersebut lebih memilih kaset keluaran Aquarius atau Team Record. Hal ini berangkat dari sisi subjektif saya semata-mata karena melihat tampilan/cover kaset-kaset produksi record itu yang terbilang lebih mengena (ngepop, mungkin istilahnya) dibanding Yess yang terkesan serius dan minimalis pada tampilan/covernya. Apalagi untuk edisi Aquarius untuk album-album tertentu yang disisipi chord lagu beserta foto-foto yang hitam putih. Untuk Team record selain album-album yang terbilang gress, covernya juga memikat hati saya pada saat itu.

Namun seiring perjalanan waktu dan pergulatan batin (weiss, keren!), dalam menikmati musik dus ditambah racun yang disuntikkan para penghuni blog gemblung ini maka Yess, menjadi pilihan utama saya saat ini untuk mengoleksinya. Tentu, sesuai dengan kemampuan finansial dan harga yang ditawarkan lapakers. Sedangkan kaset-kaset lain yang lisensi (era royalty) hanya sekedar membangkitkan dan menggairahkan memori saya pada masa-masa remaja dahulu. Akhir kata saya jadi teringat akan pesan Bung Karno: Jasmerah, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Dan Yess, adalah bagian dari sejarah (perkasetan) bangsa ini yang ikut berperan mendidik pendengar musik melalui karya-karya yang mumpuni yakni rock progresif.

Everlasting RockShots

April 9, 2014

Hardiyana Sakir

image

Semua Cantik. Tapi bila membandingkan sampul album kaset lisensi (KL) dengan kaset”bajakan” di jaman normal, tidak salah bila Rockshots lebih cantik nan indah. Produsen{rekaman) rockshots dlm hal ini adalah Hins Colection memang tidak mencipta atau mendesain cover album sebuah group band. Hins collection hanya menyempurnakan cover album yang sdh ada. Mencipta sebuah karya jauh lebih sulit tapi menyempunakan sebuah karya hasilnya bisa jauh lebih baik, Hins collection sdh membuktikannya Menilai sebuah karya adalah subyektif. Berhubung saya “maniak” Rockshots, sy membandingkan Secara apple to apple dari sudut manapun menurut saya ternyata Rockshot lebih cantik nan indah dibanding kaset lisensi dg album yg sama.

Untuk menjaga artefak langka nan indah ini maka kedudukan KL menjadi back up Rockshots. Contohnya bila mau dengerin Exodus album pleasure of the Flesh, KL yg saya setel, ketika Si Steve Souza, Gary Holt dkk mulai beraksi sy pegang tuh Exodus versi Rockshots sambil nglihatin gambarnya

Pada waktu sy mulai mengoleksi kaset album rock, prioritasnya rockshots. Dulu pd awal munculnya KL Mendapatkan rockshot tidak terlalu sulit, pun harganya lebih murah. Bisa dibilang tiap bulan ada tambahan koleksi. Lucunya sekarang kaset lisensi lebih murah dibandingkan kaset Rockshot dg catatan album dan groupnya sama. Belum lama ini di kios jati negara sy mau beli kaset rockshot, group spandau Ballet, penjualnya minta 40.000,- padahal versi KL nya gak lebih dari 10.000,- “stelen dewe kasetmu” (stel sendiri aja kasetmu)kata sy dlm hati. Harga yang gak rasional.

Seiring berjalannya waktu Rockshots susah didapatkan. Faktanya dari hunting kaset tahun 2012 s/d april 2014 saya tak ada tambahan koleksi Rockshots. Nah daripada hunting kaset gak dapat hasil , maka dibelilah kaset lisensi buat ‘oleh – oleh’ daripada pulang dg tangan hampa. Toh kaset lisensi juga bisa menambah khasanah perkasetan disamping bisa jadi back up. Nah KL group Exodus, Def Leppard dan Victory adalah sebagian oleh2 itu. Silakan bandingkan sendiri dan beri penilaian mana yg lebih indah. Teriimakasih.

Salam tiga jari Hardi

Death Angel “Act III”

April 9, 2014

Andria Sonhedi

image

Death Angel – Act III adalah satu-satunya kaset Death Angel yg masuk Indonesia. Walau secara musikal mereka main thrash metal dgn baik namun banyak yg lebih suka lagu separo balada: a Room with a View. saya pu demikian :) nggak tahu apakah lagu2 mereka wl keras tapi tak ada yg enak didengar secara khusus atau memang lagu a Room with a View punya kelas sendiri. setidaknya majalah GuitarWorld pernah memasukkan lagu ini di 10 lagu2 akustik terbaik versi mereka, bareng dengan lagu No Love dari Exodus. Act III adalah album ke-3 & masuk label besar Geffen. Sayangnya album ini adalah album terakhir mereka karena setelah itu mereka terpaksa bubar karena drumernya menderita luka parah karena tabrakan.

tampang mereka benar2 mirip boys band asia :D maklum mereka walau dari Bay Area San Fransisco tapi keturunan Filipina. tahun 2004 Death Angel bereuni dan menggarap album baru, sayangnya Gus Pepa sang gitaris tak ikut krn sdh pindah dari Amerika. saat ini Death Angel sdh eksis lagi.
image

–evil has no boundaries


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 131 other followers