Archive for the ‘From Mailing List’ Category

Triumvirat “Spartacus”

October 26, 2009

Ini saya posting apa adanya dari bro Adi Prakoso yang post tret ini di milis i-Rock! Kenapa saya post di sini karena ada embahnya Triumvirat di sini …Pak Alfie. Saya ndak berani mendahulu takut kuwalat nanti. Monggo pak Alfie, dijawab ini …

Triumvirat Spartacus album cover

—-

Gara-gara teknologi digital alias mp3, lagu-lagu di komputer jd ada saja yg kurang tereksplor. Siang ini setelah agak jenuh dengerin Behind the Lines-nya Genesis (salah sendiri lagu yg sama di-spin sampe belasan kali hihihi ….) sambil menjelajah belantara mp3 di external hardisk lha kok ujung-ujung ketemu dgn yg namanya Triumvirat, kalo gak salah dulu hasil donlod di progarchives (waktu itu website msh mengijinkan donlod). Berhubung penasaran dan sayup-sayup teringat bahwa dedengkot prog rock di milis ini yaitu Oom G, pernah menulis ttg grup ini entah di mana, saya pasanglah satu-satunya lagu Triumvirat yg ada di hardisk yaitu Spartacus. Ternyata efeknya memang mengejutkan, bener-bener yahut top markotop pokoke, meminjam ungkapan Oom G, hamba menderita kepuasan paripurna. Begitulah sambil dengerin sambil iseng tengok wikipedia, jebulnya album ini memang album Triumvirat yg paling sakses, utamanya di ngAmerika sono, dan konon vokalis sekaligus bassist-nya Helmut Kollen meninggal dlm usia 27 thn gara-gara keracunan karbon monoksida. Kesian banget ya?
Oya, tolong dong Oom G merepiu grup ini biar mangkin terbuka wawasan hamba soal grup yahud ini. Monggo Oom …. :)

Salam

Adi

n.p. Paula Abdul – Forever Your Girl (lho kok?)

Kisah Bocah Yang Suka Rock

January 31, 2009

Ini postingan dari milis i-rockmusik@googlegroups.com dari salah satu anggotanya yang saya kenal: Kai Dvil. Postingan ini layak disebar-luaskan karena gokil abis, ngerock abisz! Membacanya begitu nikmat, seperti membaca perjalanan hidup saya dengan musik rock. Nuansanya keren abisz! Silakan baca …. KipOnRokin’ …!!!

————

Semua di awali dengan sebuah rasa yang begitu indah, ketika seorang
anak kecil yang berumur 10 tahun memulai sebuah rasa akan keindahan
dari berbagai lagu yang melintas di telinganya, lagu demi lagu berlalu
tanpa jeda memasuki sanubari dengan indah, lagu – lagu oriental yang
di suarakan di sebuah tape tua merek JVC itu begitu mempesona, ketika
orang tuanya mendengarkan lagu – lagu tersebut, sang anakpun mau tak
mau ikut mendengarkan berbagai melodi yang merasuk di relung hati. Si
anakpun tersentak secara tiba-tiba, merasakan sebuah getaran yang
begitu menyiksa hatinya jika melodi itu senyap. Namun tiba-tiba
datanglah keponakan dari orang tua si anak itu yang mulai memasang
berbagai macam kaset yang isinya merupakan lagu – lagu asal negara-
negara barat sana. Berbagai artis maupun band awal 70an mulai
terdengar di telinga, sebuah musik yang sangat asing di telinga, namun
sang anak tak menyerah, diapun terus mendengar dan mendengar, alunan
suara dan melodi yang juga begitu gila mengalun, suara dari sang
maestro ABBA, Boney M, Rod Stewart, Aphrodite Child, Bee Gees dan
masih banyak lagi mulai sedikit demi sedikit merasuk kedalam belahan
jiwa sang anak itu. Dan sang anakpun memberi respon dengan baik, lagu
- lagu tersebut di dengar berulang – ulang walau dia tidak mengerti
apa yang di katakan di dalam lirik oleh sang artis. Namun tetap saja
di dengarkan  dengan baik.

Semua lagu di dengarkan dengan seksama, semua begitu indah terdengar.
Lama kelamaan musik menjadi sebuah santapan sehari hari yang tidak
bisa tidak harus ada di hadapan sang anak. Musimpun berganti si anak
mulai mencari sesuatu yang baru untuk di perdengarkan, kehausan akan
melodi baru begitu membuatnya menderita, seketika juga dia mulai
menyentuh sebuah tombol di tape tua itu untuk mendengarkan siaran
radio di sebuah jalur bernama mw, dan sebuah babak baru di mulai,
ketika lagu – lagu berirama dansa patah mulai terdengar. Bam bam bam
sebuah rasa menyentakkan hatinya irama berirama stabil dengan suara
bas yang begitu menyentak mulai terdengar. Tak puas dengan suara di
radio tersebut, dia mulai mengajak kakaknya untuk mengunjungi sebuah
toko kaset di dekat rumahnya, dan semuanya pun di mulai, sebuah toko
yang begitu banyak berisikan musik musik gila mulai di lihat di kornea
matanya. Dan dia meminta sang kakak untuk mencarikan sebuah kaset yang
berisikan lagu-lagu dansa patah, dan akhirnya cita-citanya tercapai
sebuah kaset yang berisikan berbagai band super edan bermain di arena
musik beat – beat bulat mulai di dengar, band seperti Firefox,
Nucleus, Jean Michel Jarre dengan Zoo Look, Chris Taylor dengan
reckless nya mulai membahana di udara rumahnya. Walau tak bisa
berdansa namun musiklah yang di carinya, dengan berbagai cara dia
mulai merasakan energi yang begitu hebat dari lagu – lagu yang ada di
kaset tersebut.

Perjalanan panjang pun dimulai, kali ini dengan teman temannya di
sekolahan, dia mulai menanyakan musik apa yang di dengarkan oleh
mereka di rumah, banyak temannya yang bercerita namun hampir semuanya
sama dengan yang di dengarnya, namun ada seorang temannya yang agak
berbeda dengan yang lain, dia bercerita tentang sebuah musik gila nan
indah yang bernama Metalllllllllllllllll. Sang teman kemudian berjanji
untuk membawakan sebuah kaset metal bagi sang anak. Dan janjinya
memang di tepati, sebuah kaset dengan label rockshotpun ada di
genggamannya, sebuah band yang bernama sangat aneh terbaca di bagian
bawah kaset tersebut, Iron Maiden – number of the beast. Si anak
kemudian bertanya kepada temannya kaset apaan nih, Dan sang teman
berkata dengarkan saja dululah baru tahu rasanya. Dengan hati yang
begitu penasaran sang anak kemudian pulang kerumahnya dengan membawa
kaset tersebut. Langsung di setel di tape tuanya. …….It is a human
number and the number is six hundred and sixty six………i leftIron MaidenThe Number Of The Beast album cover
alone, my mind was blank…..mulai di dengar di panca inderanya.
Hatinya begitu terusik dengan lagu yang di dengarnya, tanpa terasa
waktu berlalu dan kasetpun habis di dengarnya dengan seksama. Dan
akhirnya……kaset tersebut kembali di putar balik, terus sampai dia
merasa dapat mencerna isi lagu lagu di kaset tersebut, hal ini
dilakukan sampai tiga hari berturut turut, hingga akhirnya sebuah rasa
mulai timbul di hatinya, ahhhhhhh musik yang begitu bergelora seperti
api yang menjilati matahari.

Dan dimulailah kegilaan, hampir setiap hari dia mendengarkan berbagai
kaset yang merupakan pinjaman dari sang teman, sampai akhirnya semua
kaset sang teman habis di lalapnya dengan kegilaan yang begitu
bergelora. Tak puas dengan hal tersebut mulailah sang anak mendatangi
toko kaset itu lagi, hanya sekarang musik yang berbeda yang di
carinya, hingga mulailah sebuah babak baru di mulai di hatinya. Hampir
setiap minggu sang anak mendatangi toko tersebut untuk bertanya
rilisan baru dari musik metal yang tersedia, Tyrant, Vampyr, Castle
Blak, Helloween. Namun sang anak tak juga puas dengan hal ini. Walau
setiap minggu dia mendatangi toko tersebut namun tetap hati masih
kehausan, berbagai cara dia lakukan untuk dapat mendengar lagu, sampai
akhirnya dia menemukan sebuah harta yang tersimpan di sebuah rumah
yang merupakan rumah seorang paman dari temannya. Sang paman yang
begitu menyukai musikpun diperkenalkan oleh teman sang anak. Pertemuan
tersebut begitu membekas di hatinya, ketika sang paman mulai membuka
berbagai rak yang ada di kamarnya, dan sang anak mulai terkagum kagum
melihat berbagai macam kaset dari berbagai artis yang tersimpan rapi
di rak tersebut, dan satu namapun tak di kenalnya. Sang anak melihat
kaset Led Zeppelin, Deep Purple, Cream, Blind Faith, Pink Floyd, The
Stooges, Gentle Giant dan banyak banyak lagi. Dengan mata yang
berbinar sang anak mulai merayu sang paman untuk meminjamkan kasetnya
barang satu atau dua buah. Dan rupanya sang paman adalah orang yang
Deep PurpleMachine Head album coversungguh baik, di pinjamkan 2 buah kaset kepada sang anak, Led Zeppelin
Iv dan Deep Purple – machine head. Dengan hati yang gembira sang anak
kemudian pulang kerumahnya. Dan mulailah kaset Led di masukkan ketape
tua orang tuanya. Kemudian….kemudian… it’s been a long time gotta
rock n roll….. let me get back let me get back. Ah hati sang anak
kembali berdegup keras, sebuah rasa yang berbeda di hatinya mulai
terasa, bagaimana sebuah musik yang lain terdengar di di telinganya,
dengan kesederhanaan melodi serta suara dapat menghasilkan sebuah lagu
yang begitu hebat dan eduan. Setelah habis satu kaset kemudian di
lanjutkan dengan kaset Deep P, sampai kemudian terdengar……. i am a
highway star……Sebuah lagu super edan yang patut di beri bintang 20
buah.

Dan akhirnya sang anakpun mempunyai jadwal yang padat untuk
mendengarkan lagu baru yang di dapat dari membeli kaset di toko dan
berbagai macam kaset yang di pinjam dari sang paman. Hari harinya
begitu padat mendengarkan musik, tiada hari tanpa musik nan keren,
cadas, keras, kasar dan yang pasti gila. Sampai pada suatu hari sang
pemilik toko yang baik tersebut bertanya kepada sang anak, “bagaimana
kalau kamu kerja di toko ini setiap malam minggu?”. Sang anak tak bisa
menjawab dengan langsung. Dia membawa pulang pesan itu kerumah untuk
meminta ijin kepada orang tuanya. Dengan merengek akhirnya ijinpun di
berikan sang mama kepada anak tersebut. Dan akhirnya di mulailah
sebuah babak baru lagi dalam hidup sang anak, dimana di toko tersebut
dia dengan bebas dapat mendengarkan musik apa saja yang terdengar oleh
telingannya. Dia melengkapi hidupnya dengan berbagai musik, dangdut,
qasidah, jazz, pop, new wave, new age, classics, ….sampai wayang
golek atau apapun jenis musiknya dia dengar dengan lahapnya. Hingga
musik apapun yang dia dengarkan akan di beri penghargaan dengan baik,
walau tetap terpatri metal adalah segalanya, namun mendengar musik
lain akan memberikan sebuah nuansa yang lain. Dengan berbagai lagu
yang di dengarnya maka apapun musik yang di tawarkan maka pasti di
dengarnya, tanpa sebuah makian, ejekan, benci atau apapun. Karena yang
di rasakan musik di buat oleh manusia untuk manusia, hingga seperti
hati untuk hati.

Terima kasih akan di lanjutkan mungkin >>>>>
Hati ini sedikit lega dengan menulis tulisan ini.
Karena musik adalah hati, darah dan jiwa.
Hingga menjelekkan musik adalah juga membenci sebuah hati, setetes
darah dan sebuah jiwa.

Hailz
Kai

RIP: Rawe Rontek’s Frontman

January 22, 2009

Dari postingan di milis:

dapat kabar dr teman, Bahtiar, frontman Rawerontek telah meninggal
dunia, pd tgl 21 Jan 2009 di Bandung.
semoga amal ibadah nya di terima Allah SWT.

St.Bahtiar Taher (1951-2009)

The Dear Hunter

June 3, 2008

Postingan saya di i-rockmusik@googlegroups.com pagi ini, saya posting juga ah di blog gendhenk ini, biar banyak orang tahu bahwa band ini asik banget …!!! (GW)

————–

JRENG! tak dhuk dhuk tak trathak … JRENG!!!!

Pagi ini, sesuai jadwal, gw ngonthel sepedah ke kantor. Seperti biasanya, gw selalu BIKE TO PROG dan kali ini gw pasang album debut GALAHAD “Nothing Is Written”. Walah … di kuping pasang Galahad, tapi kok di hati gw senandung musik2 dari epic nya The Dear Hunter (bukan DEER HUNTER ye, jangan salah!). Jujur aja, udah sebulan ini gw keblinger kayak abis makan mblenger burger ama grup yang baru menelorkan dua album ini:
Act I  : The Lake South, The River North (EP, hanya 39 menit)
Act II :  The Meaning Of, & All Things Regarding Ms. Leading

Ini band memang telah meracuni pikiran gw karena untaian frase indah dari setiap penggalan musik yang disajikan, merupakan kombinasi notasi dan kord yang indah mengalun sepanjang epic menebarkan suara ke haribaan telinga gw. Komentar gw sih sederhana aja: UWEDIYAAANNN!!! Kok ada ya humanbeing bisa bikin musik indah begini? Ini bukan masalah prog atau rock atau metal atau apalah … karena memang musiknya mengalun campur aduk ndak karuan tapi penuh harmoni indah yang sedikit demi sedikit menggerogoti lubuk sanubari paling dalam (opo kuwi? Ngomong gak karuan tanpa arti! Gak mutu ah!).

Sebetulnya, bisa dikatakan musik The Dear Hunter ini adalah seperti kabaret atau rock opera gitu. Memang dari penggalan segmen musiknya tiada yang membunyikan heavy riffs ala progressive metal, namun tereakan vokalnya kadang mengingatkan ke musik ala The Mars Volta.  Kalo bisa gw rumuskan, musik The Dear Hunter ini adalah seperti adonan The Mars Volta + A.C.T (grup rock kocak dari Swedia, keren abis cing!) + Rage Against The Machine + Queen + The Beatles + Supertramp + Swing Jazz … wis pokoke sembarang kalir aliran musik kumplit ada! Bingung kan? Anggep aja subgenre baru lah … : “Hard to Define” gitu ajah .. biar mudah .. daripada seharian mikirin kategori musiknya …!!!

Sejarah band ini cukup unik karena awalnya ini adalah proyek sampingan dari Casey Crescenzo yang merupakan anggota band post hardcore The Receiving Ends of Sirens (TREOS). Pada saat sibuk dengan TREOS, Casey iseng membuat demo Ms Leading (2005) dan dibuat CDR nya untuk 10 temennya. Dari situlah merebak virus baru proyek sampingan ini. Karena respons positif, Casey nekat bikin EP secara komersil dengan memanfaatkan saudaranya main drums dan ibunya main backing vokal dalam Act I: The Lake South, The River North (2006) yang merupakan masterpiece EP dan mencengangkan musiknya bila didengarkan secara menyeluruh, bukan lagu per lagu. Bener2 indah. Album selanjutnya Act II :  The Meaning Of, & All Things Regarding Ms. Leading yang semakin mengukuhkan The Dear Hunter sebagai band yang inovatif dan masuk kategori progressive rock.

Mungkin kalo baru disimak sekali atau dua kali, band ini tidak langsung menarik. Begitu sudah putaran ke 3, gw yakin pasti Anda bakalan kelojotan menikmati alunan musik indah nya .. Uwediyann!!! Sebuah etalasi musik prog yang sangat menarik untuk disimak. Bila suka The Mars Volta, hampir bisa dipastikan Anda akan nggeblak dengan band ini. Mike Portnoy nya DT aja kagum lho sama band baru ini.

Kalo mau baca revie lengkap gw, silakan klik:

Act I:

http://www.progarchives.com/Review.asp?id=172786
atau

http://gwmusic.wordpress.com/2008/06/01/the-dear-hunter-act-i-the-lake-south-the-river-north/

Act II:

http://www.progarchives.com/Review.asp?id=172838

Salam,
G

Paramedis “Keangkuhan”

May 31, 2008

JRENG!

Pagi ini buka milis i-Rock! ada postingan ini:

Met siang irockersss …
Alhamdulillah Web TPS akhirnya jadi juga meskipun masih banyak kekurangan..
kunjungidan kasih komentar yahhh

oh ya sekarang TPS sudah punya 3 radio partner jadi misi TPS untuk memetalkan Tasikmalaya sudah hampir terwujud hehe he

klik disini yah
http://www.tasikprog.co.nr/

makasih


——————————

——————————–
Oyok Nuryadin Arafat
Tasik Progressive Society (TPS)
www.tasikprog.co.nr
www.friendster.com/tasikprog
Tanpa pikir panjang saya langsung nginguk (mengunjungi – red.) website tersebut. Saya coba klik PARAMEDIS “Keangkuhan” yang ada di play list nya situs ini. Waduh! Subhanallah .. ini lagu karya anak bangsa yang top markotop banget!!! Saya gak mau komentar, mendingan ANda KLIK aja deh … baru kita liat apakah selera ANda sama dengan saya. Andaikan gak sama, saya tetep bilang lagu ini maha dahzyat. ini udah saya setel yang ke tiga kalinya dengan koneksi 3.5G Broad Band nya Indosat IM2. Top markotop! Nggeblak!!!!
Salam,
G

Nggeblak Nonton YES Manggung …!!!

May 29, 2008

Ini pengalaman nuansamatik tanggal 25 September 2003 di Negeri Singa yang bukan berarti Raja Singa. Sempat saya posting di milis pada tanggal 30 September 2003. Kenangan yang gak bisa dilupakan ….nostalgik kemlitik memorable pol …!!!

————

Berbekal nekad, saya, Lita, Bowo dan Yani berangkat bersama satu pesawat hari kamis, 25 Sept jam 13:05 dg GIA. Bowo ini orang Garuda, temen kuliah saya di Bandung yang (alhamdulillah) masih setia dengan musik prog rock, terutama Yes & Genesis. Kalau Yani ini arek malang, pemilik gallery di bilangan Kemang, juga temen lama sekali yang dulu, 23 tahun lalu pernah ngebantu nempelin stiker PPN di kaset Yess bandung dan dapet upah seorang satu kaset. Siang itu kita berkumpul bersama di bandara dan terheran-heran “betapa musik bener2 bisa menyatukan orang”. Bukan apa-2, saya dan Yani ini udah bertahun-tahun gak ketemuan, meski sama2 di Jkt. Kita hanya komunikasi via sms, termasuk sms racun untuk ngipasin dia supaya mengobati kekecewaan tgl 23 gak bisa nonton, tapi diganti 25. Racun berhasil. Ternasuk ke Bowo.

Keduanya klepek-klepek …..

Sebelum kami berempat, pagi harinya, juga ada rombongan lain: Teguh and his Indosat gang of 4 gentlemen (mas Aji dkk) juga berangkat via hang nadim, batam. Juga ada boss FedEx yang ngeprog pol, Hardiansyah Rizal, yang juga nyebrang lewat Batam dan sempet saya kenalkan dg Teguh melalui SMS. Wis pokoke bener2 nokia lah, connecting rock people tenan!

Juga ada mas Benny Suyudono (temen yang saya kenal di konser RW Februari tahun lalu, yang ternyata adalah kakak kandung sobat saya kuliah dulu yang kebetulan gak ngeprog blas, bahkan gak ngerok blas. Kalah ama kakaknya). Mas Benny terbang dg pesawat yang lebih pagi, jam 9. Mas Benny ini lawyer handal di Jkt, lulusan harvard, tergolong manusia langka. Beliau pernah nonton konser the Beatles tahun ’66 di Philippines. Dia juga adik kelas bang AJ di UI.

Saya sendiri hari itu terhitung beruntung karena mulai hari Senin pagi sampai Kamis pagi saya masih di Bontang Kaltim karena lagi memfasilitasi workshop balanced scorecard untuk klien.Pesawat capung dari Bontang ke Blkpapan delay 30mnt, atiku sempet dag-dig-dug krn tiket Blkppn-Jkt saya udah OK jam 9 wita. Berbekal doa dan harapan positif …. akhirnya saya nyampe juga di bandara jam 10. Gak pulang, bau jigong, saya nunggu the rest of the gank dateng di bandara satu per satu: Lita, Bowo, Yani …. Di ruang tunggu Bowo memberi laporan bhw sewaktu di toilet, orang yang berbaju kaos item itu (sambil menunjuk pake mata) tadi juga bersenandung “And You and I” di toilet. Wah …. nuansamatik tenan pakde! Jangan2 org satu peswat cuman mau nonton paklik Anderson berkicau malamnya.

Dua hari sebelumnya, Mr. Tatan “Zepp” Taufik & istri juga udah berada di sebuah hotel di Scotts Rd nunggu hari H.

Saya, Lita dan Yani (juga mas Benny) kebetulan tinggal satu hotel yang jaraknya 10 menit dari venue. Bowo agak jauhan, di downtown, maklum boss eksekutif, nginepnya harus hotel bintang tujuh (emangnya balsem?). Motto saya dateng ke kota singa cuman satu: “Biar mbambung asal nonton Yes!” Syukur-2 kalo bisa dpt tanda tangan personil mereka, siapa saja. Sialnya roadiest nya pun boleh lah. Cover KTA 1 udah siap di ranselku. Perilaku siap kampungan, yo ben, sing penting Yes! Udah 29 tahun gw nunggu bisa liat grup ini “live” beneran, gak lewat video.

Kita bertiga dengan Yani sebagai pemandu utama diarak jalan kaki menuju venue. Gerimis sore itu. saya berharap banyak banner indah menyambut konser akbar ini. We lakadalah .. jebulnya … hanya ada tulisan kecil aja bhw di lantai 6 ada konser Yes. Mangkel tenan aku. sampe di hall nya pun ternyata cuman kita bertiga plus satu orang bule berransel yang datang di ticket box yang belum buka; jam 6:30 padahal. Ada penerima tamu londo yang mau ngajak ngobrol saya. Dia terheran-heran kita baru datang dari Jakarta. Kacel, kita turun di foodcourt cari makan. nasi lemak, gak enak tapi nambah, biar ngirit, sing penting wareg dan tahan 3 jam nonton topographic team live! Di foodcourt bertemulah kita dg mas tatan “zepp” dengan tshirt led zepp convention nya dan mas didik rahmadi and the gank of 3 rockers.

Sekitar 10 mnt sebelum konser, tumplek bleg lah manusia2 jakarta di pintu masuk. Seperti wong ndeso, kita rame2 jepret sana jepret sini. Setiap ada dinding yang ada tulisan Yes (cuman 2 dinding aja, kecil) kita tembak jepretan. Muanteb lah. Suasana hall mengharu biru, dg sekitar 15an orang indonesia dan lainnya bule2 tuwek. gak ada singaporean, sedikit sekali lah pokoknya.

JON YANG MBAMBUNGAN

Suasana panggung biasa saja, tidak ada kemewahan. Yang cukup mentereng adalah drum setnya Alan yang dipasang tinggi ada logo YES nya. Gagah banget. Ada musik samar2 diputer tapi suasananya hening tertib sekali. Dimana2 orang bule keliaran. Saya yang kebagian t4 duduk cukup enak, sempet pusing karena kursinya gak ada. Disitulah seorang pria menghampiri dan berkomunikasi dg saya yang akhirnya, setelah dijelaskan mas Benny, ternyata orang top 70an mas Triawan Munaf. Waduh, ayam sori mas … aku gak ngeh bisa ketemu Anda yang top. Duduk di deretan mas Benny ada Harry sabar. Saya dan Lita duduk sederetan dg mas Triawan. Rizal kirim sms “wis ngacxng aku mas”, sebelum acara dimulai.

Kenangan tak terlupakan ...

Lagi asiknya menunggu, saya liat ada 5 atau 7 orang gitu berkerumun di deket panggung. “Lho, itu kan paklik Jon!” saya bilang ke Lita dan secara refleks langsung ngacir ke depan siapa tahu dapet rejeki nomplok bisa salaman dg beliau. Bener juga! Pas saya mendekat, pas dia berjalan menuju ke arah kanan panggung, langsung saya tubruk “Jon, saya datang dari Indonesia khusus untuk pertunjukan yang kamu cancel di Jakarta” sambil ‘mak cles’ tangan saya berjabat erat dengan paklik Jon dan beliau menimpali “Oh sorry for our friends in Indonesia ……”. Kami bertatap mata sejenak dan “jepret” ternyata Lita saya udah siap dengan kameranya mengabadikan peristiwa penting ini . Nyleszzzzzz ……….. Tentrem atiku rek! salah satu cita2ku tercapai ….. he he he … kampungan pol, yoben lah sing penting salaman …

Gak nyangka saya, ternyata, seperti dalam ABWH live, Jon menyusup di tengah2penonton. Penampilannya yang mbambungan ini membuat saya terkecoh sempet gak perhatiin.

MEGAH

Beberapa menit kemudian “JRENG!” Firebird Suite – masuk mak nyesz ke “Siberian Khatru”. Waduh, luar biasa ternyata nonton live grup ini. Suara bersih menggelegar, mainnya rapi kompak. Hampir bisa dibilang tanpa cacat dah, bening kompak. Sesekali ada sih distorsi di gitar howe tapi minor banget lah. yang saya heran, dentuman drum alan menggelegar dan suara bass squire juga bulet bening. Sulit dilukiskan dengan kata-kata.

Sepanjang lagu, seperti biasa, ndesit, tangan saya menggebuk drum sambil tereak nyanyi. Kiri Lita, kanan

gang, tapi saya gak peduli dengan orang di sebelah kanan gang yang keherranan meliat pola tingkah saya. Kampungan. NAmanya ya orang ndeso gak pernah nonton band. tapi di dua baris depan saya juga ada cewek chinese, 35 tahunan, yang juga histeris ikut nyanyi2. Klop lah.

Setelah Siberian usai, Jon nyangklong gitar masif, kecil lucu dan jreng “magnification” dibawaian agak ngerok dikocokan gitar Howe nya. Apik banget. Akhir lagu ini nyambung ke “Don’t Kill The Whale” dengan versi beda yang saya belum pernah denger sebelumnya. Yang unik adalah transisinya yang begitu mulusnya sampai kita gak nyangka bahwa kita udah berada di lagu yang berbeda, “Dont Kill The Whale”. Saya sangat terkesan sekali dengan lagu ini karena juga menyukai versi studio lagu ini. Di penggalan terakhir lagu, disispin melodinya “Rejoice” meski hanya sebentar. Indah sekali.

Setelah The Whale usai, Jon berdialog dengan penonton. Beberapa penonton mulai meneriakkan “Close to The Edge”, “Starship Trooper”. Yang terjadi adalah …kicauan Jon “Deeper than every ocean / Deeper than every river / That’s what your presence brings to me ..” yang merupakan lirik awal dari “In The Presence of” dari album Magnification. Lagu menday-ndayu ini membawa kita ke alam lain yang damai.

MEMBANGUN NUANSA 70AN

Kemudian Jon berdialog lagi, cerita bahwa dia mau bawain lagu yang beberapa tahun lalu ditulis saat ELP lagi istirahat merekam album di studio yang sama di tahun 72 saat Fragile sessions. Dia masuk ke ruangan khusus dan membawakan lagu ini. Nuansamatik banget cerita beliau ini. Saya jadi ingat waktu kecil dulu kenal Yes karena temen saya bilang ada lagu berjudul “Yes” yang dibawakan grup ELP. Ha ha ha … lucu … Trus … “We Have Heaven” mengumandang dengan apik dan kompak. Seperti versi studio, lagu ini diakhiri dengan bunyi “ketiplak ketiplak ketiplak …” bunyi sepatu orang lagi jalan …. Terus … “Southside of The Sky” jreng masuk.

A river a mountain to be crossed

The sunshine in mountains sometimes lost

………….

Di sini lah penonton melihat stage act Chris begitu menawan. Dia memetik dawai bas satu tangan dengan tangan kiri tanpa pegang fret gitar dengan kaki bergaya ke kanan ke kiri dan ekspresi wajah membanyol. Wuuuiiiihhh … nggajag pol pakde! Kerrreeeeeeenn uabisssssssszzzz!!!!!!

Lagu ini dibawakan the topographic team dengan khusus: lebih ngerok (terutama dibagian yang liriknya “Were we ever colder on that day / a million miles away / It seemed from all of eternity…”) dan interludenya di bagian akhir lagu dibuat panjang memberikan ruang pada wakey dan howe saut-sautan dengan aksentuasi musik pada dentuman dawai bass chris dan rofel indah alan yang menggelegar. Terasa banget bahwa melalui lagu ini kita sedang menonton musik rock 70an beneran!

Puas dengan Southside, Howe memetik intro “And You And I”. Usai lagu ini, Jon menyilakan Howe bersolo:

- To Be Over (asik)

- The Clap

- abis the clap tiba2 menyeruak pemain gitar lain (akustik, singaporean) dan penyanyi berjambul pelangi, membawakan lagu “Rainbow”. Garing lah pokoknya, gak claro blas! Tidak “bahas”-able, makanya saya gak mau komen.

Setelah itu Jon’s solo. Nyanyi diiringi gitar masif lucu yang tadi saya sebutin. Asik. Mendayu-ndayu merdu. “Show Me” mengumandang. Saya berharap dia bawain “Time and A Word” tapi gak juga. Ya udah lah, sing penting wis salaman …

Seperti standar live nya Yes sejak Yessongs, solo Jon diikuti dengan solo wakey dg “Excerpts from Six Wives …”. Meski berkali udah denger, tetap indah. Pada show kali ini rambut RW udah panjang seperti Yessongs dulu, kerutan hilang, mungkin udah dioperasi. Kebetulan t4 duduk saya di sayap RW / CS dan keliatan deket banget.

Repertoir selanjutnya adalah “Heart of The Sunrise” dengan menonjolkan Chris dan Wakey, nyambung ke Long Distance-The Fish. Kemudian, atraksi jam session Chris dan alan terjadi begitu menawan. Saya sempet melantunkan Tempus Fugit tapi ternyata Chris hanya memainkan penggalan bass yang menonjol dan “berjalan dinamis” di lagu Tempus Fugit dari Drama ini. Gebugan drum Alan membuat aksentuasi solo Chis menjadi terpola dengan apik, seolah memainkan repertoire beneran secara utuh. Di sela-sela solo bass nya, Chris juga memainkan penggalan “On A Silent Wing of Freedom” dari Tormato. Ciamik pol!

Setelah solo bass … masuklah “Awaken” yang sangat saya suka ini. Bagus sekali. Di bagian interlude akhir yang solo organ wakey mendayu-ndayu itu, dibawakan dengan jernih sempurna, termasuk ketukan triangle jon yang kencring kencring itu ….. Megah sekali lagu ini ….

Seusai Awaken, mereka pamitan. Tapi saya rasa ini bo’ongan karena standar nya Yes itu selalu “encore” nya “Roundabout”. Penonton keplok-keplok terus sambil tereak “more! more!”. Bener aja … mereka muncul lagi membawakan “I’ve Seen All Good People” dan apalagi kalau bukan “Roundabout”. Seperti memahami situasi bahwa kalau “roundabout” udah dimainkan maka pertanda usai, begitu “I’ve Seen Good People” orang pada menyerbu ke dekat panggung sambil tereak “Starship Trooper” “Close to The Edge” …..

Abis itu saya koit menderita kepuasan …. dan capek ngetiknya ….

Kapan dan Kenapa Anda Tertarik pada Musik Rock?

May 24, 2008

Pengantar: Ini adalah postingan Bang Ijal di milis i-rockmusik@googlegroups.com yang saya ceplokin di blog ini tanpa ijin YBS. Gampang .. kalo YBS gak berkenan di publish di blog gendeng ini, tinggal saya coplok aja to? Lucu ya boso Jowo nyampur bahasa Betawai … “ceplokin” dan “coplok” .. ha ha ha ha … Tapi saya yakin, Bang Ijal ndak keberatan? Kenapa? Karena beliau ini PROG WARRIOR ….he he he he he . Saya sudah baca tulisan ini dan menarik pol, makanya saya ceplokin aja dah .. Monggo disantap dan dikomentari. Disediakan space cukup besar (1 GB) kok buat komentar wong2 gendhenk di blog super duper gendhenk ini … kuak kak kak kak kak kak kak kak kak kak

—————-

Dear i-rockers,
Pertanyaan yang termaktub di subject e-mail ini sebenarnya bersifat cukup pribadi dan sederhana. Kalau

dsc00315.jpg

diingat-ingat kadang saya suka tertawa sendiri, kapan dan kenapa saya menjadi penggila musik rock, khususnya progressive rock. Ceritanya begini. Dulu waktu saya kelas 2 SD, sekitar tahun 73an, saya disuruh les piano oleh orang tua saya. Tentunya, tidak seperti les di jaman modern ini, les piano di jaman normal harus dimulai dengan mempelajari musik klasik. Sedari kecil, sebenarnya saya sudah kagum dengan musik klasik karena komposisinya yang relatif rumit (dibandingkan dengan lagu Bintang Kecil, Si Kancil, atau Naik Delman yang merupakan lagu wajib murid2 Sekolah Dasar di jaman listrik 110V atau dengan Nusantaranya Koes Plus), tetapi enak di dengar. Dengan belajar les piano dan membaca not balok, perlahan saya mulai paham kalau musik klasik itu dimainkan dalam tempo yang berbeda-beda.

Akan tetapppiiiiiiiiii (ada tapinya nih), guru piano saya ini guwaaaallaaaakknnya minta ampun. Sampe hari ini aku ndak pernah lupa sama cubitannya yang duahhhssyuuaattt. Tangan menjepit paha bagian atas, kulit ditarik, terus diputar 180 derajat. Wuiiiihhhhh….. kalo jari-jari tangan tidak bergerak sesuai ajaran tante Luis Hutahuruk (demikian nama guru les piano saya) atau notasi not balok, pulang les piano paha bisa biru-biru jo…. Karena sebel dengan suwadisnya sang guru, lama2 aku ngambek gak mau ikutan les piano… Cuman harus diakui secara jujur, tante Luis ini semakin menanamkan kecintaan musik klasik pada diri Rizal kecil. Singkat kata, mungkin karena saya sudah gak mood, orang tua akhirnya mengakhiri les piano klasik saya. Naaahhh, karena orang tua tidak terlalu doyan musik klasik, koleksi kaset klasik dirumah bisa dihitung dengan jari. Ya lama-lama bosan juga muter kaset The best of Mozart, Bach, atawa Beethoven.

Saya nggak ingat kapan persisnya, tapi waktu itu saya lagi libur caturwulan kedua kelas 3 SD, tahun 74an. Tiba2 tetangga diatas (saya tinggal di rumah susun, flat istilah kerennya, di daerah Kebayoran Baru), sekitar jam 8 pagian, muter lagu dari Kenwood turntablenya. Kak Robby (demikian saya memanggilnya, waktu itu beliau sudah kuliah di Usakti) memutar suatu lagu yang dibuka dengan intro piano yang unik. Saya tahu itu bukan musik klasik, tetapi mengambil dasar musik klasik. Penasaran dengan lagu tadi, aku tunggu kak Robby turun kebawah. Sekitar jam 9 atau 10an, aku liat kak Robby udah mulai menyurung Vespanya untuk pergi kuliah, dan kesempatan itu aku gunakan untuk bertanya: “Kak, tadi jam 8an muter lagu apa ya? Kok, pianonya bagus sekali” Aku masih ingat muka kak Robby berubah menjadi rada serius, kemudian tersenyum sambil berkata: “Jal, kamu nanti jam 4 sore ada di rumah? Kalo ada di rumah maen aja keatas, kakak mau kuliah dulu nih”

5 atau 6 jam kemudian, saya bertemu dengan kak Robby. Dia mengeluarkan sebuah PH dengan gambar yang sangat aneh (aneh sekali kalo dibandingkan dengan gambar cover kaset Koes Plus jaman duit 5 perak bisa beli permen karet)… Ada semacam gang yang ditanami semacam pohon di kiri kanannya dan didepan gang itu ada orang tidur diatas kursi. Dibagian atas gambar tadi ada tulisan ndak terlalu besar dan ndak terlaluGenesisSelling England By The Pound album cover kecil… Tulisannya adalah “Genesis”. Sementara dibagian bawahnya ada tulisan “Selling England by the Pound”. Ditaruhnya side A, dan diletakkannya stylus PHnya di track ke 3……. Dan terdengarlah alunan nada-nada piano yang sangat indah. Belum hilang rasa takjub saya, kak Robby menunjukkan judul lagu tadi… “Firth of Fifth”… “Kamu suka?”, tanya kak Robby. Aku ndak menjawab hanya mengangguk sambil memandang jarum decibel ampli Teac nya kak Robby bergerak kiri kanan mengikuti amplitudo Firth of Fifth…

From that day, I think I gradually converted into a prog rock fan. Mungkin kalo tante Luis adalah guru les piano yang baik hati dan kak Robby tidak pernah memutar lagu Firth of Fifth, aku rasa aku ndak pernah menjadi penggemar musik progressive rock…. Nah, boleh deh rekan2 sharing disini gimana awal mulanya tertarik dengan musik rock. BTW, kak Robby adalah orang pertama yang memperkenalkan aku dengan Yes melalui album Relayer, serta memperkenalkan aku dengan Deep Purple melalui album Made in Japan. Gak tanggung2, dengan seijin ortuku, aku diajak nonton Deep Purple Live di Senayan bulan Desember 75 sama kak Robby (padahal waktu itu udah deket ulangan kenaikan kelas 4 ke kelas 5).

Salam,
Rizal B. Prasetijo

Flower Power in Rock

May 19, 2008
Temen2 .. ternyata .. Pak Alfie ini jago nulis dan pengetahuannya top markotop. Ini saya cut and paste dari milis i-rockmusik@googlegroups.com yang diposting oleh Harris:
Ini adalah tulisan tentang band rock tahun 70-an yang berasal bandung, ditulis oleh pak Alfie, salah satu anggota KPMI. Tulisannya asik. Baru tau gw kalo dulu Deddy Dores sering disebut sebagai Edgar Winter-nya Indonesia…hehehe…gak kebayang sama sekali soalnya… :)   (Harris Hadinata)
Category: Music
Genre: Rock
Artist: Band Bandung era 70an
FLOWER POWER IN ROCK
( Sebuah Kenangan Akan Era Keemasan Anak Anak Bandung)

Oleh : MH Alfie Syahrine
Pada era tahun 1970′an di Bandung merupakan pusat seni dan mode di tanah air, para anak muda dan anak band berlomba berambut panjang sampai melebihi panjangnya rambut perempuan seperti Remy Silado, Deddy Dores, Benny Soebardja, Triawan Munaf dll atau yang model kribo seperti Deddy Stanza atau Gito Rollies . Sempat juga rambut panjang tersebut dilarang pihak yang berwajib yang acapkali melancarkan razia rambut gondrong waktu itu Kokamtib ikut ikut pula memberangus rambut gondrong bahkan di TVRI ada aturan aturan memiliki rambut bagi penyanyi atau pemain band pria.

Band-band rock Bandung yang saat itu bermunculan sangat banyak jumlahnya, misalnya Savoy Rhythm, Provist (Progressive Student), Diablo Band, The Players, Happiness, Thippiest, Comets, DD (Djogo Dolok), Jack C’llons, C’Blues, Memphis (yang kemudian menjadi Man Face), Delimas, Rhapsodia, Batu Karang, The Peels, Shark Move Red&White, Topics&Company, The Rollies, Philosophy Gang Of Harry Roesli, Giant Step, Paramour, Finishing Touch, Freedom ,Lizard, Big Brothers dan masih banyak lagi.
Banyak dari mereka yang sukses bahkan bertahan namun tidak sedikit yang bertumbangan ditengah jalan dan ada pula para vokalisnya yang dapat bertahan tetapi berganti genre musiknya bahkan ke Dangdhut!.
RHAPSODIA
Mnurut Ali Gunawan,Rhapsodia, band ini sering bongkar pasang personil, atau retak sehingga pernah ada tiga nama Rhapsodia, atau dengan embel-embel kata Rhapsodia. Seperti :Rhapsodia, Freedom Of Rhapsodia atau Giant Step Of Rhapsodia..
Rhapsodia mula pertama terdiri dari Ute (bas), Alfred (gitar), Ibung (drum), Sondang (keyboard), dan Alam (vokal). Gaya Alam di panggung cukup unik karena bertingkah seperti seekor gorila. Kemudia pada generasi keduanya formasi Rhapsodia terdiri dari : Deddy Dores(vokal&guitar) Dave Tahuhey (saxofon&vokal) Johanes Sarwono (keyboard,sekarang Pengacara) Kikky ( drum) Utte (bass) dan Soleh Sugiarto ex C’Blues (vokal, sekarang anggota DPRD Jabar).
Rhapsodia (1969-1972) yang pada tahun 1971 melempar album pertamanya “Hilangnya Seorang Gadis” dari album ini mereka secara komersial meraih sukses besar dan melejitkan nama Deddy Dores. Order manggungpun sangat padat karena di Rhapsodia ini Deddy Dores saat itu disebut sebut sebagai Edger Winter-nya Indonesia karena gaya permainannya dan senangnya dia menyanyikan lagu lagu Edger Winter seperti Southern Woman, Free Ride dll adalah motor penggerak hidupnya aksi panggung disamping kelincahan lead vokalnya Soleh Sugiarto yang saat itu disebut sebut sebagai Alice Cooper-nya Indonesia. Ada lima album yang mereka hasilkan sebelum dan sepeninggal Deddy Dores.
Ada dua lagu berbahasa Inggris yang sempat top dari Rhapsodia yaitu I Hear Someone dan Free To Love Another Girl namun band ini setelah melepas satu album sepeninggal Deddy Dores (yang ditarik Iyek ke Godbless) praktis vakum dan setelah itu bubar!.
THE ROLLIES
The Rollies diawali ketika Deddy Sutansyah bertemu dengan Iwan Krisnawan dan Teuku Zulian Iskandar Madian dari grup Delimars serta Delly Djoko Alipin dari grup Genta Istana. Deddy mengajak mereka bergabung dalam sebuah grup yang diberi nama Rollies pada bulan April 1967. Orangtua Deddy yang pengusaha hotel menjadi penyandang dana dan menyediakan semua peralatan musik yang diperlukan. Rollies mulai malang melintang di negeri sendiri dengan membawakan lagu-lagu The Beatles, Bee Gees, Hollies, Marbles, Beach Boys, Herman Hermits, juga lagu populer dari Tom Jones dan Englebert Humperdink.
Ketika awal grup ini terbentuk, Deddy Stanzah dan kawan- kawan senantiasa berusaha berinovasi, antara lain dengan mengajak pemusik “sekolahan” Benny Likumahuwa yang mahir membaca not balok dan menulis aransemen. Menambah orkestrasi dalam pertunjukan dan ketika mendampingi grup asal Amerika, No Sweat, di Istora Senayan tahun 1974, mereka menambah aransemen musiknya dengan tabuhan gamelan yang dimainkan anggota Rollies sendiri. Seperti yang mereka lakukan dipesta musik ala woodstock “Summer 28,1973″ di Ragunan Instruktur gamelannya tidak lain Benny Likumahuwa. Sampai sekarang Rollies tidak pernah bubar meskipun anggota yang tersisa tinggal Gito, Benny, Utje, Jimmy, Didit, dan Iskandar.
Dengan formasi ini The Rollies semakin kokoh bahkan menjadi band pembuka konser Bee Gees 2 April 1972 di Istora Senayan serta Shocking Blue 23 Juli 1972 di Taman Ria Monas dan grup asal Amerika, No Sweat, di Istora Senayan tahun 1974 pengakuan bahwa Rollies adalah Chicago van Bandung karena hampir semua lagu populer grup asal Amerika itu mereka bawakan di atas panggung: Saturday in The Park, Just You and Me, Old Days, Wishing You were Here, Harry Truman, Call on Me, di samping lagu-lagu Blood Sweat and Tears, Spinning Wheel, Hi Di Ho, serta lagu-lagu grup Yes, Fire Bird, James Brown It’s A Man’s Man’s World, atau Getsemane dari soundtrack film Jesus Christ Superstar, yang diproduksi tahun 1973 dan diangkat dari drama musikal populer di Broadway.
Meski sering cekcok di belakang panggung, jika sudah berhadapan dengan penonton, mereka menjadi sebuah grup yang tampil sangat kompak dan hampir selalu tampil dengan pakaian rapi. Perancangnya tiada lain adalah Deddy Stanzah. Mereka juga dikenal royal dan suka melemparkan pakaian yang dikenakan kepada penonton.
Kebesaran nama Rollies diakui Jimmy Manoppo dan Utje F Tekol yang menyatakan pada awalnya bertanya-tanya apa betul mereka sudah menjadi anggota Rollies. Ketika pertama kali tampil, keduanya bahkan gemetaran dan keringatan. Untuk menjadi anggota Rollies, mereka harus menyingkirkan puluhan pelamar lainnya.
Sepanjang perjalanannya, Rollies menghasilkan 15 PH/album rekaman. Tahun 1971 di Philips dan EMI, dua PH dan satu PH mengiringi Aida Mustafa. 1972-1975 di Remaco tiga PH (masuk masa kaset) yang antara lain melahirkan lagu Salam Terakhir karya Iwan Krisnawan dan Setangkai Bunga (Iskandar). Tahun 1976-1979 di Musica Studio’s lima album yang menelurkan lagu-lagu Keadilan, Hari Hari, dan Kemarau. Lagu Kemarau yang sama sekali tidak diperhitungkan baru dikeluarkan dari “peti es” tahun 1979 meskipun selesai dikerjakan tahun 1977 serta ada beberapa lagu berbahasa Inggeris yang tambah melambungkan nama The Rollies antara lain : Sign Of Love dan The Love Of A woman bahkan Gone are the Song of Yesterday sampai masuk Top Ten di radio Australia diawal tahun 70′an sedangkan Gito menyanyikan; It’s a Man’s Man’s World, I Feel Good dll yang kemudian memang sering dibawakan Rollies dan masterpiece dari Rollies, berjudul Kemarau, karya pemetik gitar basnya, Utje F Tekol, yang berdarah Manado, Ambon, Jawa, dan Belgia, tapi bangga sebagai warga Bandung serta perilakunya juga sangat sunda sekali. Lagu ini memperoleh penghargaan Kalpataru dari Menteri Lingkungan Hidup Emil Salim tahun 1979. Lagu Rollies populer lainnya adalah Salam Terakhir, Hari Hari, Astuti, dan Setangkai Bunga
Selain Kemarau dan Hari Hari, yang lainnya diambil dari Titiek Puspa, Bimbi atau Anto. Kau Yang Kusayangi, Keadilan.Melihat kenyataan itu, pada akhirnya Benny memutuskan mundur dan meninggalkan Rollies. Padahal, sebagai penata musik, Benny sudah memperlihatkan kebolehannya dalam Salam Terakhir dan Setangkai Bunga. Setelah Benny menarik diri, Rollies masih menghasilkan empat album: Dunia Dalam Berita (1983), Astuti (1984), Problema (1985), dan Iya kan? (1990).
Waktu terus berjalan, walaupun menyandang julukan grup brass-rock nomor satu, ketika menggarap lima album rekaman di Musica Studio’s, Rollies mengalami masa stagnasi. Nyaris tidak terlihat usaha mereka untuk menghasilkan lagu-lagu yang baik dan musik yang mereka kerjakan terkesan dibuat tidak seserius sebagaimana menyiapkan diri untuk tampil dalam sebuah pertunjukan. Sementara grup musik baru bermunculan seperti Krakatau, Halmahera, dan Karimata dengan kualitas musik yang mengagumkan ternyata tidak menggugah personel Rollies. nampaknya The Rollies-pun mulai letih mereka terkesan terkena penyakit post-power sindrom.
Tahun demi tahun berlalu, selain memiliki sebuah butik dan peralatan musik, Rollies juga sempat punya sebuah panggung berjalan yang mereka gunakan dalam perjalanan pertunjukan turnya di sejumlah kota. Semuanya habis begitu saja. Begitu juga penghasilan yang termasuk sangat besar nominalnya yang diperoleh anggota Rollies nyaris tidak berbekas. Benny Likumahuwa, yang sekarang berusia 58 tahun, mengaku rumah yang didiaminya sekarang justru dia peroleh dengan bermain musik jazz.
Gito menyatakan hal yang sama. Apa yang dia peroleh sekarang adalah hasil sebagai pemain sinetron dan bersolo karier sebagai penyanyi. Pria kelahiran Biak, Irian Jaya, 3 November 1946, ini sekarang aktif sebagai pembawa ceramah rohani untuk kaum muda dalam usahanya menyadarkan mereka akan bahaya narkoba.
THE PEELS
The Peels merupakan salah satu band bandung yang sukses walaupun aktivitas bermusik “The Peels” tidaklah panjang,namun demikian group ini telah menjadi bagian penting perkembangan musik Indonesia yang mampu menembus negeri tetangga, yaitu Singapura dan Malaysia. “The Peels” pertama kali didirikan tahun 1966 oleh Benny Soebardja( yang saat itu disebut sebut sebagai Alvin Lee-nya Indonesia) bersama Gumilang Kentjana Putra, Budhi Sukma Garna (Buce) dan Dedy Budhiman Garna. Keahlian bermusik mereka diekspresikan dari panggung ke panggung dikawasan Jawa Barat.
Sementara itu, kiprah mereka di negara tetangga Singapura bermula ketika para personil “The Peels” berlibur di negeri Singa itu pada tahun 1967. Dalam masa liburan itu mereka diundang tampil dalam pertunjukkan musik bertajuk “Panggung Negara”. Penampilannya yang menawan memikat penonton di Singapura, sehingga mereka tidak saja tampil di pertunjukkan “Panggung Negara”, tetapi tampil pula di ajang lain diantaranya di Wisma House, National Theatre, “Hotel Singapura Intercontinental”, bahkan tampil di TV dan Radio Singapura.
Karena kesuksesan pertunjukkannya itu, “The Peels” pun ditawari untuk rekaman, maka meluncurlah sebuah album dengan bintang tamu “Karliana Kartasa G” berjudul The Peels By Public Demand in Singapore. Album yang direkam dalam format piringan hitam itu, kini menjadi salah satu bukti bahwa jaman dulupun group Indonesia telah berkiprah di luar negeri atau istilahnya Go International. Sangat disayangkan untuk saat ini melacak keberadaan album tersebut di Indonesia sangat sulit, kalaupun ada tentunya hanya beberapa orang kolektor saja yang memiliki album itu.
Di tahun 1967, seorang personil masuk menambah formasi The Peels, yaitu “Soman Loebis”. Masuknya dia telah membawa warna baru bagi The Peels dengan bertambahnya genre musik yang dibawakan, tidak hanya pop tetapi juga rock dan Psychedelic. Dengan formasi terbarunya yang menjadi 5 orang ini, The Peels dikontrak secara permanen oleh management restoran Sea Dragon sebuah floating restoran (restoran terapung/diatas kapal). Lagu-lagu yang dibawakan pada saat mengisi acara di restoran itu adalah lagu-lagu milik The Beatles, John Mayall and Bluesbreaker, Jimi Hendrix serta lagu milik group-group psychedelic. Aktivitas bermusik The Peels juga merambah Kualalumpur, Malaysia. Di Hotel Eldorado Night Club mereka sempat melakukan pertunjukkan, namun tidak lama karena ada pertikaian rasial saat itu sehingga memaksa The Peels hengkang dari negara itu dan kembali lagi ke Singapura.
Jenuh dengan petualangan di negeri seberang, tahun 1968 The Peels pulang ke tanah air dan melakukan sejumlah konser di beberapa kota besar seperti Makasar, Palembang, Semarang, Yogyakarta, Surabaya dan tentunya Bandung. Lagu-lagu cover version milik group luar masih sering dibawakan dalam setiap pertunjukkannya. Namun sayang,The Peels pun bubar pada tahun 1969 tanpa dapat mengorek keterangan yang jelas, namun manajemen yang buruk dan telalu banyak ikut campur tangannya Reny Asmara sang Boss, ikut pula sebagai penyumbang masuk kuburnya The Peels .
SHARK MOVE
Benny Soebardja yang masih sangat fit saat itu selepas dari The Peels, segera dia membentuk “Shark Move” yang terdiri dari :Benny Soebardja (vokal, gitar,pengusaha furniture yg sukses)Soman Loebis(keyboard,almarhum),”Bhagu Ramchand” (vokal,almarhum), “Sammy Zakaria” (drum, sekarang Ustadz di Lampung) dan “Janto Diablo” (bass). Setahun kemudian (1970) direlease album perdana “Ghede Chokras”. Corak musik Sharkmove adalah musik rock dengan sentuhan progressive yang kental. Warna musik progressive mereka sangat kentara di lagu “My Life”. Lagu berdurasi 9 menit ini kaya dengan chord-chord yang menawan. Lagu My Life tidak saja lagu terbaik di album Sharkmove Ghede Chokras, tetapi juga salah satu lagu rock Indonesia terbaik hingga saat .Namun sayang. lagi lagi band yang berkualitas ini pun bubar juga karena perbedaan visi dan prinsif serta manajemen yang tidak jelas.
Anehnya dibulan Maret tahun 2007 yang lalu , Shark Move go Internasional (dari hasil usaha fan fanatiknya Benny Soebardja bernegosiasi dengan fihak produser luar merilis ulang dengan perbaikan kualitas suaranya)dan albumnya diedarkan oleh Shadocks Jerman yang didalam resensinya Shark Move disebut sebut sebagai “As pure & Complex as British Prog Rock Band during the beginning of 70′s” .
GIANT STEP
Bubarnya Sharkmove tidak membuat hasrat seorang Benny Soebardja bermusik surut, tetapi justru memicunya untuk membuat group baru bernama “Giant Step” dengan membawa seorang personil ex-Sharkmove yaitu Sammy Zakaria di tahun 1973. Adapun formasi pertama Giant Step adalah Benny Soebardja (gitar), Deddy Sutansyah (bass), Sammy Zakaria (drum) dan Yongkie atau Jocky Soerjoprayogoyang baru saja cabut dari Godbless (keyboard). Nama Giant Step sendiri, menurut Benny, diambil dari sebuah stiker yang menempel di bungkus gitar milik Remy Sylado. Ceritanya, Benny, Yockie Soeryoprayogo, Deddy Stanzah (mantan Rollies), dan Sammy Zakaria (mantan drummer Shark Move) pada tahun 1973 hendak manggung di kampus ITB. Namun, ketika itu belum ada nama untuk band mereka.
Lalu Benny yang melihat stiker itu langsung mengusulkan nama Giant Step. Dan sejak itu Giant Step, yang dimanajeri Gandjar Suwargani (pemilik Radio OZ Bandung), secara resmi diproklamasikan.
Di awal kariernya Giant Step lebih banyak membawakan lagu-lagu milik Emerson Lake and Palmer (ELP). Ketika Giant Step berusaha eksis dengan formasi perdananya, tetapi tidak lama kemudian pada tahun 1974 dengan tidak disangka-sangka, Yockie, Sammy Zakaria dan Deddy Stanzah keluar dari Giant Step maka formasi Giant Step mengalami perubahan karena Yockie hengkang dan bermigrasi ke Malang membuat group band Double Zero, maka kedudukannya diganti oleh Deddy Dores yang pulang kampung selepas dari Godbless, begitu juga dengan Deddy Sutansyah diapun cabut dari Giant Step dan digantikan oleh Adhy Haryadi dari Menstreal Medan.
kemudian posisi Sammy Zakaria digantikan oleh Janto Sudjono ex Drummer Harry Rusli,.Janto bisa di katagorikan sejajar dengan Fuad Hassan dari kehebatan permainannya namun rovel rovelnya lebih rapih dan terarah sebagaimana puji Martha Burhan dari majalah musik TOP . Dengan formasi barunya, Giant Step masih membawakan lagu-lagu milik orang tetapi tidak Emerson Lake and Palmer saja, melainkan mulai merambah membawakan lagu-lagu Deep Purple dan pengaruh Gentle Giant mulai terasa.
Formasi ini diuji coba pada peringatan 100 hari meninggal Soman Lubis dan Fuad Hassan di Istora Senayan pada tahun 1974, pada saat itu yang tampil adalah Godbless formasi baru dan Giant Step. AKA yang direncanakan datang absent saat itu. Penulis sendiri menyaksikan acara itu.
Pada tahun 1975 Giant Step memulai era bermusiknya dengan menampilkan double guitarist dengan masuknya “Albert Warnerin” gitaris dari Gang Of Harry Rusli”.
Dengan formasi ketiga ini, Giant Step mulai aktif menciptakan lagu dan konser-konser di berbagai kota. Album pertama Giant Step dirilis dipenghujung tahun 1975 dengan judul “Giant Step Mark-1″ dibawah label Lucky Record. Lewat album perdananya, Giant Step mampu mengukuhkan namanya menjadi salah satu supergroup band Indonesia yang sejajar dengan Godbless, AKA atau SAS seperti pendapat Martha Burhan yang sangat mengagumi Giant Step saat itu!.
Giant Step Mark I menciptakan lagu lagunya sendiri dengan karakter khusus, lagu lagu mereka antara lain : Childhood And The Seabird,keep a smile, Far Away, Forfunate Paradise, My Life, dll dengan selipan beberapa lagu yang mellow yang dipersiapkan oleh Deddy Dores sebagai pakarnya..
Giant Step baru melahirkan komposisi yang sungguh-sungguh bernuansa musik rock progresif pada album kedua, ketiga, dan keempat, yaitu Giant On The Move! (1976), Kukuh Nan Teguh (1977), dan Persada Tercinta (1978). Semua lagu, baik lirik maupun musiknya, yang terdapat dalam ketiga album itu tergolong berani. Pasalnya, mereka sama sekali tidak berkompromi dengan selera pasar yang ketika itu masih didominasi lagu-lagu pop cinta remaja ala The Mercy’s dan Favourites Group.
Lagu-lagu yang terdapat di album Giant On The Move! bahkan semua liriknya ditulis dalam bahasa Inggris. Mereka mengangkat tema-tema sosial dan politik serta lingkungan, seperti Liar, Decisions, Waste Time, dan Air Pollution.
Di album ini formasi Giant Step mengalami perubahan, di mana posisi Deddy Dores (yang keluar karena membentuk Superkid dengan Jelly Tobing dan Deddy Sutansyah) digantikan oleh Triawan Munaf dan posisi Yanto Sudjono digantikan oleh Haddy Arief. Triawan dan Haddy adalah mantan anggota Lizard, salah satu band rock Bandung yang pernah mendukung proyek solo Benny dalam album Benny Soebardja & Lizard (1975).
Masih dengan formasi yang sama, pada tahun 1977 Giant Step merilis album Kukuh Nan Teguh yang, berbeda dengan album sebelumnya, berisi 11 lagu berlirik Indonesia. Di album ini pula untuk pertama kalinya mereka memasukkan unsur lagu tradisional dan dua lagu instrumental (Dialog Tanya dan Dialog Jawab), yang sekaligus menunjukkan kepiawaian para personelnya, khususnya raungan gitar Albert, menurut Riza Sihbudi permainan keyboard Triawan yang untuk masa itu bisa dibilang luar biasa.
Kendati sangat dipengaruhi band-band progresif luar, musik Giant Step sesungguhnya lebih orisinal. Itu setidaknya jika dibandingkan dengan God Bless, yang sempat mengambil potongan lagu Firth Of Fifth karya Genesis di lagu Huma Di Atas Bukit.
Nama Giant Step memang tidak sefenomenal dan melegenda seperti halnya God Bless. Namun, grup era 1970-an Band yang satu ini bisa dikatakan sebagai satu-satunya band rock Indonesia pada masa itu yang paling tidak suka membawakan lagu-lagu orang lain.
Dengan kata lain Giant Step merupakan band rock yang berani “melawan arus” pada masa itu. Ketika band-band rock pribumi lain gemar membawakan lagu-lagu karya The Beatles, Rolling Stones, Led Zeppelin, Deep Purple, Black Sabbath, atau Grand Funk Railroad, Giant Step justru lebih bangga membawakan lagu-lagu karya mereka sendiri.
“Saat itu membawakan lagu sendiri dianggap aneh,” kata Triawan Munaf, mantan pemain keyboard Giant Step, yang juga sepupu Fariz RM dan ayah kandung penyanyi remaja Sherina. Namun, itulah kelebihan dan sekaligus trademark Giant Step.
Mereka juga termasuk band rock yang lumayan produktif. Setidaknya ada tujuh album yang dihasilkan dalam kurun waktu 1975-1985. Tentu bukan hanya itu, Giant Step pun termasuk dari sedikit band rock pribumi yang berkiblat pada jenis musik progresif (yang pada masa itu lebih sering disebut sebagai art rock) yang diusung grup-grup Inggris, seperti King Crimson, Jethro Tull, Pink Floyd, Gentle Giant, Yes, Genesis, dan ELP (Emerson, Lake, and Palmer).
JIKA The Beatles memiliki “dwitunggal” Paul McCartney dan John Lennon, Stones dengan Mick Jagger dan Keith Richards, atau Zeppelin dengan Robert Plant dan Jimmy Page, Giant Step pun memiliki “dwitunggal” yang bisa dianggap sebagai roh atau nyawa bagi grupnya, yaitu Benny Soebardja dan Albert Warnerin. Benny dan Albert dikenal sebagai pemain gitar dan penulis lagu yang produktif Sebagaimana Benny, Albert yang disebut sebut sebagai Jeff Back nya Indonesia termasuk salah seorang musisi andal asal Kota Kembang itu yang kemampuannya dapat disejajarkan dengan Ian Antono dan Sunatha Tanjung. Di samping gitar, ia juga menguasai beberapa alat musik lainnya, antara lain flute. Albert juga banyak terlibat dalam solo album Benny Soebardja, Superkid dan Iin Parlina.
Setelah mengalami pasang surut ,gonta ganti pemain dan vakum yang lumayan lama pada tahun 1983 mereka bangkit kembali dan manggung dengan band band rock lainnya di panggung musik majalah VISTA di Taman Ria Remaja Senayan dengan formasi : Benny Soebardja, Uce F Tekol, Albert Warnerin, Triawan Munaf, Erwin Badudu dan Jelly Tobing dan dua tahun kemudian pada bulan Juni mereka merilis album Geregetan (1985).
Di album ini Giant Step tidak lagi sepenuhnya menyajikan warna musik progressive era 1970-an. Apalagi, kata Triawan, “Produsernya minta agar kita memasukkan sebuah lagu unggulan yang komersial.” Toh, waktu itu mereka sempat tampil di TVRI membawakan lagu Geregetan dan Panggilan Jiwa.
Perjalanan Giant Step berakhir setelah mereka ikut tampil di acara demo solo drum Jelly Tobing pada tahun 1992. Berbagai upaya baik itu dari para fan yang cinta pada GS maupun para personilnya untuk menyatukan kembali mereka,namun tak kunjung berhasil.Berita angin mengatakan adanya perselisihan pribadi yang sulit didamaikan antara mantan “dwitunggal” Benny dan Albert Warnerin adalah sebagai salah satu penyebab terjadinya perpecahan ini .
Rupanya, fenomena dua tokoh kunci dalam satu band rock yang sulit disatukan kembali, tidak hanya dimonopoli grup-grup dunia seperti Lennon berkonfrontasi dengan McCartney (The Beatles), Roger Waters kontra David Gilmour (Pink Floyd), atau Ian Gillan melawan Ritchie Blackmore (Deep Purple).
Ada berita terbaru (25 April 2007) dari Ali Gunawan, sang raja diraja kolektor dari KPMI bahwa album Giant Step Mark I dan Giant On The Move akan di release di Jerman oleh Shadocks juga.
TRIO SUPERKID
Deddy Dores setelah hengkang dari Giant Step bersama Deddy Sutansyah yang kemudian merubah namanya menjadi Deddy Stanzah yang telah keluar dari Rollies serta Jelly Tobing yang urung menggantikan posisi Teddy Sujaya sebagai drummer di God Bless membentuk Superkid dengan Denny Sabri sebagai dokter bedah dan manajernya (ini adalah debut pertama bagi Denny Sabri sebagai manajer sebuah supergroup lokal)
Superkid mendulang sukses yang luar biasa kalau tidak mau dikatakan fenomenal. Demam Superkid terjadi dimana-mana terutama para penggemar musik rock di Jawa Barat mulai dari Bandung hingga pelosok-pelosok desa demam Superkid ini semua berkat strategi promosi yang sangat profesional dari Denny Sabri dengan majalah Aktuilnya bahkan wartawan Sondang Napitupulu almarhum karena saking salutnya ketika menyaksikan pagelaran Superkid Pertama di TIM terutama ketika permainan Jelly Tobing pada lagu How (hingga stick drum-nya patah!)dia sampai berteriak “Hidup Superkid! , Hidup Batak!”(karena Jelly Tobing Batak !) Album-albumnya yang yang banyak menggunakakan bahasa Inggris yaitu : Trouble Maker dan Dezember Break .Superkid memiliki lagu-lagu andalan yang sering mereka nyanyikan dipanggung antara lain: Trouble Maker, Sixty Years On, How, Blue Light City , I Saw Her Standing There dll keunggulan Superkid ini terletak dari gaya panggung Deddy Stanzah yang memikat disamping accent Inggrisnya yang nyaris seperti bule.
Tapi seperti istilah Bens Leo katakan ; Superkid akhirnya tewas juga !, pada tahun 1978, setelah menghasilkan lagu hit ‘Gadis Bergelang Emas’ karena salah atur/mismanajemen atau mungkin Denny Sabri sudah lebih konsentrasi dalam menggarap penyanyi-penyanyi solo baru.
PHILOSOPHY GANG OF HARRY RUSLI
Harry Roesli bernama lengkap Djauhar Zaharsyah Fachrudin Roesli, adalah tokoh dikenal melahirkan budaya musik kontemporer yang berbeda, komunikatif dan konsisten memancarkan kritik sosial. Karya- karyanya konsisten memunculkan kritik sosial secara lugas dalam watak musik teater lenong. Harry berpenampilan khas, berkumis, bercambang, berjanggut lebat, berambut gondrong dan berpakaian serba hitam. Lahir di Bandung, 10 September 1951, Pada awal 1970-an, namanya sudah mulai melambung. Saat membentuk kelompok musik Gang of Harry Roesli bersama Albert Warnerin, Indra Rivai, Harry Pochan, Janto Sudjono dan Janto Diablo mereka sempat membuat album yang penomenal diawal tahun 70′an yang lagu lagu terkenalnya terdiri antara lain “Peacock Dog, “Don’t Talk About Freedom” malaria, “Borobudur” dll.
Di tengah kesibukannya bermain band, dia pun mendirikan kelompok teater Ken Arok, 1973. Setelah melakukan beberapa kali pementasan, antara lain, Opera Ken Arok di TIM Jakarta pada Agustus 1975, grup teater ini kemudian bubar, karena Harry mendapat beasiswa dari Ministerie Cultuur, Recreatie en Maatschapelijk Werk (CRM), belajar ke Rotterdam Conservatorium, Belanda.
Menurut penuturan Theodore KS, selama belajar di negeri kincir angin itu, Harry juga aktif bermain piano di restoran-restoran Indonesia dan main band dengan anak-anak keturunan Ambon di sana. Selain untuk menyalurkan talenta musiknya sekaligus untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya yang tidak mencukupi dari beasiswa.
Gelar Doktor Musik diraihnya pada tahun 1981, kemudian selain tetap berkreasi melahirkan karya-karya musik dan teater, juga aktif mengajar di Jurusan Seni Musik di beberapa perguruan tinggi seperti Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung dan Universitas Pasundan Bandung.
Dia ini juga kerap membuat aransemen musik untuk teater, sinetron dan film, di antaranya untuk kelompok Teater Mandiri dan Teater Koma. Juga menjadi pembicara dalam seminar-seminar di berbagai kota di Indonesia dan luar negeri, serta aktif menulis di berbagai media, salah satunya sebagai kolumnis Kompas Minggu.

Selain itu juga membina para seniman jalanan dan kaum pemulung di Bandung lewat Depot Kreasi Seni Bandung (DKSB) yang didirikannya. Rumahnya di Jl WR Supratman 57 Bandung dijadikan markas DKSB. Rumah inilah yang pada tahun 1998 menjadi pusat aktivitas relawan Suara Ibu Peduli di Bandung. Rumah ini ramai dengan kegiatan para seniman jalanan dan tempat berdiskusi para aktivis mahasiswa. Dimana kerap lahir karya-karya yang sarat kritik sosial dan bahkan bernuansa pemberontakan terhadap kekuasaan Orde Baru. Bersama DKSB dan Komite Mahasiswa Unpar, Harry Roesli mementaskan pemutaran perdana film dokumenter Tragedi Trisakti dan panggung seni dalam acara “Gelora Reformasi” di Universitas Parahyangan [1]. Dalam acara ini kembali dinyanyikan lagu Jangan Menangis Indonesia dari album LTO (Lima Tahun Oposisi), Musica Studio, 1978.
Setelah reformasi, saat pemerintahan BJ Habibie, salah satu karyanya yang dikemas 24 jam nonstop juga nyaris tidak bisa dipentaskan. Juga pada awal pemerintahan Megawati,lagi lagi Harry buat ulah, dia sempat diperiksa Polda Metro Jaya gara-gara memelesetkan lagu wajib Garuda Pancasila.

Note:
Artikel ini ditulis sebelum Kang Denny Sabri, Kang Deddy Stanzah, Kang Delly, Kang Bonny dan Kang Gito wafat.
Thanks to:
Mr Riza Sihbudi
Mr Ali Gunawan
Mr Theodore KS
Mr Bens Leo
Karena tulisan–tulisan beliau-beliau diatas tersebut saya dapat menyusun sejarah yang sangat berharga akan kiprah musik rock anak-anak Bandung di jaman kejayaannya dulu itu.

“Negriku Cintaku” by Keenan Nasution

May 18, 2008

Pengantar : Pada tanggal 10 November 2004 saya pernah menulis kekaguman saya terhadap lagu NEGRIKU CINTAKU karya Debby Nasution yang dibawakan oleh Keenan Nasution dalam album “Di Batas ANgan-Angan”. Ini lagu kesukaan saya yang bersama “Proclamation” nya Gentle Giant selalu saya puter pada tanggal 17 Agustus pagi hari .. jam upacara …. he he he he ….

————————————————————-

Lagu indah maha dahsyat ini dibuka dengan solo organ / kibor yang menggema dengan sentuhan musik klasik yang sangat kental tanpa ada instrumen lain. Dari intro nya saja sudah memberikan kesan kuat
Keenan Nasution - Di Batas Angan-angan terhadap atmosfir lagu secara keseluruhan. Alunan melodi yang dihasilkan sangat gagah dan menciptakan nuansa heroik. Sesekali bebunyian organ ini disertai jeda sebentar yang menambah suasana khidmat. Ini mengingatkanku akan permainan Keith Emerson dari kelompok ELP namun dengan sentuhan yang lembut. Mungkin lebih mirip gaya Jurgen Fritz dari kelompok Triumvirat. Setidaknya, itulah yang kurasakan. Sedikit kemungkinan kita tidak ikut bergaya seolah kita yang menekan tuts organ pada bagian ini karena begitu elegan nya. Bagian intro ini. Pada sekitar menit ke 1:20 instrumen lain, bass gitar disertai dram, sudah mulai masuk dan tiba-tiba bunyi organ yang menggema kini diganti dengan alunan kontinyu musik dengan kibor sebagai kendali melodi dan bass gitar lincah menari memberi aksen pada musik.

Pada menit ke 2:17 nada musik meninggi dan komposisi musik menjadi lebih dinamis dengan dominasi organ disertai sentuhan simfonik yang kental, diiringi dengan bunyi melotron. Kesan heroik lebih terasa saat musik mengandung suasana penabuhan genderang bak pasukan akan berangkat perang. Hal ini kentara sekali dari cara dram ditabuh. Sangat nuansamatik. Kemudian vokal masuk dengan indah dan perkasa dengan kualitas vokal Keenan yang sangat prima: “Bersatulah resahmu resahku dalam simfoni ….” Wow ….!!! Betapa megahnya musik ini. Luar biasa.

Pada menit ke 5:15 ditandai dengan tereakan ngerock dari Keenan “ … merana! Woowww!!!” diikuti dengan interlude maha indah dengan solo kibor. Kemudian disertai bunyi kibor dan gitar saling sahut menyahut. Bener-bener menakjubkan bagian interlude ini. Aku bangga sekali memiliki musisi Indonesia sekaliber Keenan & Debby Nasution yang bisa menciptakan maha karya ini. Masterpiece!

Pada menit ke 6:40 ditandai dengan tereakan berupa ajakan pada generasi muda: “Hei kau pemuda masa kini. Kita berantaslah korupsi. Jangan kau biarkan mereka. Menganiaya hati kita ….” musik meninggi lagi dan bernuansa lebih simfonik lagi.

Klimaks dari lagu ini mengingatkanku akan klimaks lagu “Close To The Edge” dari kelompok Yes namun dengan komposisi dan melodi yang berbeda. Sangat orisinil

karya Keenan: “Semoga Tuhan memberkahi kita semua ….” Waduh pas bagian ini begitu megahnya lagu ini dan sangat menyentuh hati. Mbrebes mili jadinya.

Lagu berdurasi 8:53 ini beraliran progressive rock, setiap musisi berkontribusi maksimal memperkuat komposisi. Selain kibor / organ yang lincah, permainan bass gitar juga sangat dinamis, dram yang variatif dan juga gitar. Pesan yang disampaikan sangat tematikdengan ajakan anti korupsi yang ternyata sampai saat ini (27 tahun kemudian) masih sangat relevan. Begitu banyaknya kebobrokan korupsi di negara kita tercinta ini. Akankah 27 tahun kemudian kondisi yang sama akan berlaku? Wallahu’alam. Kita doakan presiden SBY mampu memberantasnya.

Kenangan

Lagu ini aku nikmati saat aku duduk di bangku SMA, jaman-jamannya memburu cewek bermodal motor bebek pretelan.. Pada saat itu yang nge-top justru bukan lagu ini, namun “Nuansa Bening” yang merupakan trek pembuka album ini dan berirama balada romantis. Tentu saja lirik dan iramanya banyak disukai anak-anak SMA saat itu. Kenanganku akan “Negriku Cintaku” sangat kuat karena ini lagu yang selalu menemaniku saat menempuh pelajaran sekolah (selalu aku senandungkan, meski dalam hati). Pada saat mulai belajar di malam hari untuk ulangan, aku selalu memutar lagu ini sebagai pembuka semangat. Sangat nuansamatik sekaleee ….

Dampak

Meski sudah 27 tahun berlalu, lagu ini tetap memberi dampak sangat positif bagiku. Sampai saat ini aku masih sering memutarnya terutama saat akhir pekan, pagi hari, dengan volume setengah ampli. Keras sekali. Megah! Keenan harus bangga bahwa karyanya sangat berguna, setidaknya bagiku dan juga beberapa teman baikku yang kutahu pasti mencintai lagu ini: Agung Surjoatmodjo dan Rahmat Herry.

Paling cocok lagu ini aku gunakan saat aku sedang memikirkan suatu perubahan. Menuju yang lebih baik, tentunya. Bila diteruskan dengan membaca buku “Thinking for a Change” karya John C Maxwell sudah pasti lebih nyamleng dan … menggerakkan jiwa! Bravo Keenan & Debby!

Salam,

G

The Killing Riffs

May 16, 2008

Phew …!!!

Tadi malem lumayan capek setelah secara marathon memfasilitasi workshop selama tiga hari berturut-turut .. sendirian pulak .. gara2 temen berhalangan … lumayan pegel tuh dengkul limo lindri …(“capek bener di dengkul” – red.). Abis shalat Isya di masjid sebelah, gw balas dendam mau nyetel CD dengan volume setengah ampli biar budheg sekalian .. ha ha ha ha ha … Getahu kenapa .. kok malah yang gw puter lagu2 ini yah ….

The Prisoner of Your Eyes (Judas Priest “Scream for Vengeance”)
Beli remaster CD ini dulu gara2 dengerin di radio m-97.. trus gw tanya ke penyiarnya lagu siapa dan dari album mana … langsung gw beli CD nya di DS, Rp. 95 rebek. Gak tahu lagu lainnya enak gak, tapi justru gw suka puter bonus track ini. Biyuh .. ini lagu sebenernya “menyek-menyek” (pinjem istilah mbak Didy …) karena liriknya mehek-mehek … Tapi jujur aja, gw suka biyanget .,… melodinya indah .. dan yang bikin gw nggeblak nggulung koming ping kopang kaping nganti gunung gamping ajur berkeping-keping nabrak pohon emping (ini di dramatisir lho .. bukan karena biar gak one liner .. lha wong crita gw ini jelas gak bisa di one line kan .. perjalanan penderitaan kepuasan kok .. mana mungkin one line? iya ndak? …..) ternyata adalah that damn killing riffs pada saat chorus line yang liriknya mulai dengan “Love is blind ” .. trus gitar nya ngeong-ngeong jan puenak tenan .. juangkrik …!! Nggeblak tenan aku …!!! Gusti Alloh Nyuwun Ngapuro …. Atiku ajur tenan denger permainan riffs yang mendayu indah ini … tobatsszzzzz .. nuikmat cuuuuuuukkk ….!!! Gak perlu seorang rocker buat menikmati lagu manis mehek-mehek ini …..ha ha ha ha ….
Tak terasa .. gw spin lagu ini bolak balik 3 X nganti budheg kopoken ….. tapi menderita kepuasan man!

Beyond The Realms of Death (Judas Priest “Stained Class”)
Kalo ini dulu adalah lagu yang ada di SIDE B nya kaset Lucifer’s Friend gambar paha cewek rekaman Atlantic Records yang gw beli di toko kaset pojokan jalan Kolonel Mahardi, Madiun The Prog City. Malahan gw jarang nyetel side A nya, karena side B nya ada lagu nyamlenk ini. Biyuh … petikan gitarnya di awal lagu .. bener2 menghanyutkan sukma, menohok kalbu, nunjek ulu ati tanpa rempelo … untung empedu gak ikut ketunjek …. Ampun deh ini lagu melodinya bikin miris …vokalnya tinggi melengking .. musiknya ada pelan dan kencengnya kek Stairway To Heaven .. dan that damnk killing riffs that made me stunned man ..!!! Uediyaaannn … Aaaarrrgghhhh ….. Subhanallah .. indah banget komposisinya .. dan bloody energetic pol!
Heran … meski CD nya ndak remaster, kok gw lebih suka ya ketimbang yang remaster. Cilaka tuh yang namanya CD remaster .. treble nya ditambahin, suaranya jadi ndak natural …enakan CD asli tanpa remaster .. agak bindeng mid-range nya .. dan nuansamatik sound nya .. rada vintage gitulah …
Lagu ini gw spin 2 x

Sailaway (Deep Purple “Burn”)
Wadouww … rasanya adem banget dengerin lagu rada slow dari DP yang gw denger pertama kali dari kaset rekaman kakak gw yang dulu penyiar radio Geronimo Yogya. Saat itu AKtuil gempar dengan berita adanya dua anggota baru DP: Glenn Hughes dan David Coverdale. Wah .. gw penasaran.. Untuk kakak gw, mas Henky, pas liburan semester bawa tuh kaset .. Aduh biyung .. lagu SAILAWAY langsung nunjek ulu ati gw. Lagi2 .. karena riffnya yang uediyan tenaaaannn!!!!


Flight of Icarus (Iron Maiden “Piece of Mind”)
Ini juga korban gara2 dengerin siaran M97 .. dan itulah saat pertama kali gw tahu musiknya Iron Maiden … hiks .. kesiyan deh .. tahun 2000 baru denger IrMa ….. ya maklum dong gw kan basically wong PROG .. jadi gw gak pernah mau melirik musik IrMa yang sampul nya serem dan menurut gw saat itu ndak akademis blaszzz .. ha ha ha ha .. ojo nesu yo .. itu kan dulu .. sekarang gw punya semua CD IrMa kumplit .. bahkan Laser Disc Live After Death aja gw punya lho …. Ini lagu IrMa yang langsung nunjek ati sampek udel gw nyembul saking asiknya … Meski riffnya asik, ternyata yang paling asik dari lagu ini adalah chorus nya .. heroik banget gitu lho .. kalo nyanyi sambil tangan mengepal keknya cocok banget ….”Fly on your way like an eagle / Fly as high as the sun / On your wings like an eagle /
Fly and touch the sun …”
aduuuhhhhhhhhhh .. uwediyaaaaaaaaaaannnn!!!

Within Yourself (DC Cooper, 1999)
Wah lagu ini asik banget. Sebetulnya mungkin bukan riff yang dihasilkan dari gitar melulu yang asik, tapi perpaduan dengan bebubyian drumnya itu yang membuat megah banget .. dan .. semangat ….!!! Yang juga keren adalah tereakan DC Cooper di bagian akhir “within youSEEELLFF!!!!” biyuh muanteb kemreteb pring reketeg gunung gamping ambrol !!!
Karena suka album ini in its entirety .,… akhirnya gw puter mulai dari track awal sampe track 5 (lagu ini).

The Lemon Song (Led Zeppelin II)
Wah .. kalo yang ini jangan tanya deh … memang dari sononya lagu ini keren abis .. gak hanya the killing riffs di awal lagu, tapi dentuman permainan bass John Paul Jones dan gebrakan drums si Bonzo bener2 meuantabsz!!!

The Battle Rages On (Deep Purple, 1993)
WHOAAAA…. ini lagu keren abis dan that damn killing riffs has really made me ngguweblak man!!! The combined energetic rhythm section and solid guitar riffs is truly perfect and nggeblakable man! Apalagi chorus nya … “Annihilation kill them all!!” (biyuh si Gillan pas nyanyi bagian ini jan gagah meskipun gak sampek menggagahi .. ). Lucunya .. gw nyetel lagu ini gara2 pas nonton Sharkmove kemaren kok lagu “Decisin” by Giant Step, riff nya kok mirip sama “The Battle Rages ON”.. padahal Giant Step membuat lagunya di tahun 74, Deep Purple tahun 93 .. apakah Ritchie Blackmore nyontek Benny Soebardja? Sapa nyana ….

Sebenenrnya mau lanjut dengan Stranglehold (Ted Nugent), Pull Me Under (Dream Theater), dst .. namun kuping udah mulyono budheg kopoken .. ya udah di sudahi ….

Abis itu istighfar ,,…. terus ngaji .. terus nggeblak tidur nganti subuh …… Pagi ini SEMANGAT seperti anaknya pak SUPANGKAT saking semangatnya …….!!!! Rock music ruleszzz!!!!

Salam,
G
Np. nothing .. tapi senandung “The Prisoner of Your Eyes” …..nuikmatszzzz ….

(Ditulis 15 Mei 2008)


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 72 other followers