Mengenai Iklan
Nah .. ini topik yang paling “mengerikan” buat dibahas. Mengapa? Ini seperti dua sisi dalam mata uang. Sisi pertama, dengan iklan kita berharap dapat dana segar untuk membiayai operasional radio sehari-hari. Sisi lain, iklan sangat mengganggu “khidmat”nya menikmati musik indah seperti “Gates of Delirium” nya Yes atau “Supper’s Ready” nya Genesis. Begitu iklan masuk, langsung deh il-feel (ilang feeling) .. males lagi dengerin “Hey my baby .. don’t you know our love is true ….“. Langsung kesedek gitulah rasanya. Suebel pol! Iklan juga sekaligus mengganggu kenikmatan intelektual dalam menyimak musik berkualitasm sehingga patut dihindari. Belum lagi faktor waktu. Biasanya pada saat prime time, yang namanya iklan bener2 gemruduh nyerbu di jam tersebut sehingga porsi musiknya jadi di squeeze abisz dah. Kasihan musisi ya .. udah kerja keras bikin untaian nada indah dan meraciknya dalam komposisi yang mantab, eh .. ujug2 mak gedandhut diganggu iklan. Lha kan sia2 to. Apalagi kalo yang sedang diputer adalah concept album kayak Dream Theater “Scenes From a Memory“, Marillion “Misplaced Childhood“, Genesis “The Lamb Lies Down on Broadway” atau Green Carnation “Light of Day, Day of Darkness” (satu lagu aja selama 1 jam), atau The Flower Kings “Paradox Hotel” gitu … wah langsung mutung dah kalo kena iklan. Iklan memang harus dimusnahkan!
Lha, mana mungkin radio hidup tanpa iklan?
Gimana temen2? Mungkin gak sih radio hidup tanpa iklan? Sekali lagoi, menurut temen saya yang pakar dalam radiologi (eh salah ya? ini kan istilah kedokteran! – tapi maksud saya satu: ilmu radio. Lha itu biologi itu kan “ilmu” yang mempelajari makhluk hidup. Jadi radiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang radio. Gitu ajalah! Enak aja tuh kedokteran ikut2 istilah radiologi!). Menurut radiolog temen saya itu, “gak mungkin” radio bisa hidup tanpa iklan. Wah … cilaka tigabelas … Gimana dong?
Dasar rocker gendhenk, kalo kepepet tembok, ya ada aj ide-2 gila yang bisa keluar. Ya ndak? Gini aja dah kita buat alternatif pemecahan menjadi dua hal:
1. Memanfaatkan teknologi cellular dan phone-banking.
Maksud saya begini… Pendengar kita minta daftar menjadi pendengar setia kita (basisnya komunitas)yang bisa request lagu (harus rock, sesuai dengan acara yang digelar) dimana kalo lagunya diputar maka akan didebit Rp. 200,- (dua ratus perak cing!) dan namanya disebut “on air” dari rekening cellularnya yang connected ke M-banking. Konon, di saat ada radio M-97 (classic rock) penggemar segmen music classic rock ini di Jakarta saja ada 150.000 orang. Radio Trijaya bekerjasama dengan i-Rock! menggelar acara Saturday Night Rock dan pendengarnya 65.000 orang.
Baik, kita konservatif saja, kita ambil angkanya Trijaya aja yang 65.000 orang. Kita asumsikan saja setiap hari ada 10% dari angka tersebut yang “sudi” kirim SMS request lagu, berarti ada 6.500 x Rp. 200,- = Rp. 1.3 juta pendapatan “kotor” dari program ini. Dalam sebulan akan ada Rp. 39 juta “kotor” buat menghidupi pemancar FM tersayang ini.
Mosok to dengan Rp 39 juta ndak cukup buat nutup ongkos operasional? Mestinya bisa. Caranya? Gampang … gak usah gaji penyiar! Kenapa? Di milis i-Rock! banyak banget yang suka siaran tanpa harus dibayar. Buktinya? Saya, Jo Rustam, mas Eric siaran di Trijaya ndak minta bayaran apa2 waktu siaran di Trijaya – memang sih dari awal radio ini udah bilang “gak ada bujet” (kasiyan ye musik rock selalu disepelekan. ya ndak?). Kita seneng kalo musik ROCK kembali mengudara dengan tegar di negara ini! Padahal kita musti berkorban “ijin” dari acara keluarga lho. Belum lagi nyiapin play list yang pernah dihitung sama mas Eric bahwa setiap siaran dia perlu waktu (average) 20 jam buat persiapan. Saya percaya itu. Pasti lah, temen2 di i-Rock! banyak yang suka jadi penyiar. Ya ndak?
So dengan Rp. 39 juta, paling kita keluar ongkos buat PLN, beli martabak buat penyiar (mosok udah gratisan ndak disuguhi martabak atau klepon gitu?), bayar pajak, bayar tea boy dan semua tetek bengek .. katakanlah Rp. 25juta. Lho, kok gedhe? Iya toh kan musti bayar sewa tempat segala lah .. mosok gratis sih? Sisanya berapa? Rp. 14juta cing! Buat beli CD dong ….!!! Radio kita kan harus nambah wawasan terus .. jadi musti beli CD .. sori, gak main MP3 ye … Emangnya radio bajakan! Gengsi dong …
Nah .. kalo alternatif ini yang diambil, maka nama radionya akan saya usulkan bernama: O-Box Rock Station. Lho? kok aneh namanya. Yo ben, sing penting ono makna ne to? Apa maknanya? “Out of the Box” – maksudnya, radio yang lahir dari pemikiran di luar kotak (out of the box thinking) sehingga menjadi kenyataan. Kalo ini terjadi .. HOREEEEEE…!!!!
2. Memmbuat Radio Internet.
Alternatif ini, konon, yang paling mudah dilakukan – setidaknya kata mas Budi Rahardjo dan temen2 nya yang ahli di bidang internet. Pernah saya bertandang di markas mas Budi dan saya ditantang: “Ayo dong, pikirin content nya – kita buatkan infrastrukturnya!”. Wah mati aku … piye iki?? Saya masih punya keraguan besar terhadap radio internet karena untuk menikmati siaran kudu lewat komputer. Atau saya kuper ya? Wah .. saya gak berani bahas alternatif ini. Saya serahkan ke mas Budi Rahardjo aja deh ….
Bagaimana temen2? Ada masukan lain ndak? Please …
Artikel sebelumnya yang terkait:
Andaikan Saya Punya Radio (1 of 4)
Andaikan Saya Punya Radio (2 of 4)