Archive for the ‘FM Radio’ Category

Merindukan Radio

February 27, 2014

Budi Putra

Semenjak dulu dan sekarang keberadaan radio seolah telah memiliki tempat tersendiri bagi para pendengarnya. Kehadirannya semata-mata bukan hanya sebagai media untuk memperoleh informasi dan hiburan tapi lebih dari itu. Bagi sebagian orang kehadiran stasiun radio telah memberikan suatu nuansa dan memori tersendiri yang tak terlupakan.

Soal ini yang juga dialami rekan-rekan para penghuni blog gemblung. Barang tentu radio yang diminati rekan-rekan di blog ini bukanlah sekedar radio yang pada umumnya hanya menyiarkan informasi dan acara hiburan konvensional yang ngepop ala kebutuhan industrial semata. Tapi radio yang lebih spesifik yang bisa berkolerasi dengan minat terkait musik rock (all about rock and progressive rock) merupakan pilihan yang sulit semenjak kejayaan M97 FM berlalu.

Menemukan radio komersil yang memiliki sajian segmentatif seperti halnya radio M97 suatu hal yang tidak mungkin. teslaDi tengah persaingan sengit bisnis penyiaran ditambah gempuran teknologi melalui perangkat internet dan fasilitas musik lainnya yang dapat diperoleh dengan mudah. Saat ini bila orang ingin mencari lagu favorit cukup mengunduh via mp3 atau perangkat lainnya. Bisa diputar nonstop tanpa harus menunggu jeda iklan dan kicau penyiarnya melalui perangkat bernama smartphone. Tidak heran untuk saat ini jarang ditemui warung rokok, nasi, mie rebus, yang kedapatan memutar lagu lewat  radio. Abang atau akang juga mbak penjual lebih asik mensengarkan musik via smartphone. Telinganya sibuk dijejali perangkat handset/walkman/headphone dari smartphonenya. Kadang sambil bengong dan ada juga yang bersiul. Pembeli pun tak dihiraukan lagi. Kalo ditanya ini apa dan berapa harganya kepalanya cuma manggut-manggut saja…hahaha…

Pada tahun 80-an saat saya masih tinggal di kampung (Kereo, Ciledug) pernah ada  stasiun radio amatiran—disebutnya pemancar—Radio ini dikelola secara swadaya oleh anak-anak muda setempat. Menara atau tiang pemancar terbuat dari bambu yang dipancang/diikat dipohon yang paling tinggi. Tujuannya agar daya tangkap siarannya bisa lebih bagus dan terjangkau hingga ke kampung seberang. Untuk kabelnya disambungkan dari satu bambu ke bambu lainnya. Untuk ruang siaran pun hanya dibuat satu ruangan yang ukurannya terbatas yang hanya cukup untuk satu orang penyiar dan ruang tamu yang cukup untuk lima orang. Jadi bila ada tamu atau kunjungan dari pendengar maka bergantian sekedar untuk melihat penyiar yang sedang cuap-cuap didepan mikropon: “buat bang Udin yang lagi nongkrong diwarung mpok imeh…” demikian kicau sang penyiar bergaya. Bahkan tak jarang beberapa beberapa pemancar menempati kamar di rumah teman atau kerabat yang bisa digunakan. Untuk
pendanaan/operasional melalui swadaya (patungan) atau bisa juga melalui iuran dan sumbangan dari para pendengar/fans. Juga dibuat peraturan bagi yang berminat untuk mengisi acara diluar acara yang sudah dikenakan biaya. Saya pernah minta satu sesi acara musik rock dengan membayar uang sebesar lima ribu rupiah. Karena saat itu belum ada perangkat komputer apalagi CD atau mp3, maka saya bawa semua kaset-kaset milik saya. Repotnya kalo ada request dari pendengar maka saya akan puter kaset dengan pulpen atau jari tepat dilubang kaset agar lagu yang diminta bisa saya dapat. Hasilnya lagu menjadi tidak pas awal dan akhirnya…hehehe. Tapi seneng juga bisa jadi penyiar acara musik rock walaupun level amatiran.

Kehadiran pemancar di kampung kami (walaupun berada di gelombang SW) tetap menjadi kebanggaan warga setempat. Nama pemancarnya yang dipilih biasanya mewakili kampung setempat. Misal pemancar di kampung Cipadu namanya Racitra singkatan dari Radio Cipadu Putra, dan ada juga di kampung tetangga dengan kampungnya Gaga Radio (kalo Queen, Radio Gaga), dan  lainnya. Untuk penyiar dipilih dari anak-anak muda setempat yang biasanya hobi musik (suara nomer sekian yang penting pinter cuap-cuap). Kebanyakan pilihan musiknya pada dangdut, pop, dan rock…gado-gado lah. Keberadaan pemancar di kampung membuat suasana kala itu serasa nuansamatik. Di setiap rumah dan warung-warung terdengar alunan suara penyiar dan iringan lagu versi radio dua band yang suaranya gemerisik itu. Sayangnya menjelang tahun 90an pemancar tersebut sudah tidak mengudara karena berbagai sebab seperti pendanaan, kesibukan, dan tren perkembangan radio yang ada saat itu.

Keberadaan radio kelas amatiran ini sebenarnya memiliki nilai positif. Persaudaraan sesama warga pendengar terjalin erat. Anak-anak muda jadi lebih kreatif dan mau memacu dirinya untuk lebih mau tahu tentang musik. Selain itu keberadaan radio ini bisa menjadi media komunikasi dan informasi antar warga. Biasanya selain request lagu warga  juga bisa mengirimkan informasi. Misalkan, dari ajakan siskamling, info lowongan kerja, undangan hajatan, pengajian, dan lainnya.

Pada  dasawarsa 90-an keberadaan radio lokal muncul kembali dalam bentuk radio komunitas yang digagas kalangan LSM dan aktivis. Keberadaan radio komunitas ini tersebar diberbagai kota seperti di Jakarta, Yogyakarta, Bogor, dan lainnya. Di Jombang sendiri sampai saat ini masih berdiri radio komunitas yang dikhususkan untuk kalangan pekerja/buruh. Dan siapa tau bisa juga digagas radio komunitas penggemar classic rock dan progressive rock…!

Belakangan saya mencoba untuk menelusuri situs  radion via internet. Hasilnya tentu banyak sekali situs radio baik lokal dan internasional. Ada radio  Hard Rock FM, Rock Line, i-music, Classic Rock FM, dan banyak lainnya. Namun dari sekian konten yang saya coba tidak jarang banyak yang tak sesuai harapan. Mulai proses loading yang lemot hingga yang enggak update berita dan list lagu dan bandnya. Setelah beberapa kali coba kemudian saya tertarik dengan konten radio Sky FM. Pilihan ini pertama karena konten ini free alias gratis, disamping pilihan musiknya yang cukup beragam. Mulai dari  pop, rock, blues, reggae, classic guitar, piano, instrumental, latin, Indies, tradisional, jazz, new age, dan lainnya. Yang menarik konten musik rock jumlahnya lebih banyak dan terbagi dalam berbagai genre dan era: Classic Rock, Soft Rock, Indie, Alternative Rock, Hard Rock, Metal, Rock Hit ’80, Rock Hit ’90, Rock ’60, hingga Tribute The Beatles—sayangnya tidak ada
konten progressive rock.

Namun fasilitas dunia maya ini mesti memiliki kelebihan dan kekurangan. Hal ini juga berlaku untuk SKY FM. Namun kekurangan dari SKY FM masih lebih baik dibandingkan konten-konten yang sebelumnya saya coba. Sky FM memiliki kelebihan diantaranya: Banyak pilihan jenis musik yang terbagi dalam berbagai genre dan sub genre. Tidak ada sisipan iklan, gratis didengar lagu-lagunya (untuk yang berbayar bisa diunduh versi premium). Admin tidak mumet alias simple (kita hanya diminta mengisi nama dan email).  Kekurangannya: Kendala sinyal kadang mengganggu. Tidak ada penyiar, hanya sesekali diselingi jingke Sky FM—padahal suara penyiar diperlukan untuk memperoleh informasi mengenai lagu atau grup yang baru kita ketahui.

Pilihan alternatif ini tentu ini hanya salah satu pilihan dari sekian banyak pilihan yang tersedia. Dengan segala keterbatasan yang ada, semalam saya bisa menikmati tembang dari Styx, The Doors, Procol Harum, dan baru tau ada band bernama The Fox yang membawakan lagu Madame Magical yang iramanya mirip-mirip dengan Deep Purple, via radio internet Sky FM.

Salam rock di udara!

Nopia, Kopi dan Rock On!

February 16, 2013

JrèNG!

Hola…!! Pagi ini saya mulai buka laptop dengan nuansa yang bener2 saya suka dan memang saya desain sedemikian rupa supaya saya riang gembira, kecuali satu hal: cuaca mendung karena Allah subhanahu wa ta’ala …. Selebihnya I take full control of it , bukan seperti Heavy Metal Kids bilang: “situation out of control …..” …..he he he ….

Apa saja itu desain yang saya maksud?

1. Kue nopia von Purwokerto yang sekarang sdh mudah bisa dieroleh di minimart terdekat. Whoaaa …saya suka sekali nopia gak pake kolovaking ini ….mengingatkan saat masih kecil naik kereta Gaya Baru Madiun – Jakarta pas di Purwokerto banyak pedagang menawarkan kue in ” nopia ….nopia …nopia …hayo yang manis …yang manis ….murah kemawon …”

2. Kopi kapulaga tubruk panas tanpa gula – ngombe kopi kok nganggo gulo! Ilang rasa kopine no! Kopi sejati kuw tanpa gulo cak! Yen nganggo gulo yo jenenge “kola” (kopi gula)!
Kopi ini kiriman dari Solo oleh dulurku yang sregep ngirimi kopi kapulaga nunjek sukma ini …. Koh Win. Suwun yo koh …. Gusti Alloh sing mbales!!!!

3. Kaset kompilasi Prambors ROCK ON yang ternyata rekamannya masih kemrincing, meski dalam proses detox menggunakan walkman, nyambung ke active speaker Altec …. Biyuh masih jozzz!!!

What a life …!!!!

Opo tumon?

Opo tumon?

 

Memenuhi rikues mas Kris, ini lho track list nya. Lagu2nya sih rock cemen semua sih .. Dulu tak pernah saya lirik musik seperti ini ...he he he he .... Kaset ini INCL Lyrics ....

Memenuhi rikues mas Kris, ini lho track list nya. Lagu2nya sih rock cemen semua sih .. Dulu tak pernah saya lirik musik seperti ini …he he he he …. Kaset ini INCL Lyrics ….

 

The Aceh Invasion

January 14, 2013

By: Eddy Irawan

Invasi ke Depok

Akhirnya kesampaian juga niat niat mau ke lapaknya bang David di Depok. Berbekal direction clue dari mas Hippie, sang penguasa Depok, dari bandara soetta langsung ke margonda raya.

Perjalanan ke depok lumayan lama, walaupun hari minggu. Mirip lama perjalanan aceh-jkt. Nyampe kios bang David, pas turun hujan. Pertanda rezeki.

Begitu masuk, langsung disambut ramah bang David. Tanpa lama berbasa basi, langsung saya skip rak kasetnya. Sambil ngacak2 kaset, bang David cerita ttg ‘perjalanan karirnya’, dari mulai sbg pemusik, pedagang alat musik, smpai saat ini sbg kolekdol (nitip istilah mas Apec).

Lebih kurang 90 menit memuaskan diri dgn kaset2 bang David, tujuan berikutnya: lantai basemen Detos! Begitu say goodbye, bang David langsung nutup kiosnya. Kesampaian juga niat utk ‘nutup’ lapaknya bang David (malam ini). Hahahahaha…

Gk sulit nyari lapak kaset jadul di Detos yg letaknya pas di pintu masuk basemen. Tapi koleksian kasetnya kurang banyak. Lagian dh hampir jam 9 malam, kiosnya juga dh mau nutup. So, saya langsung nyari makan. Gk terasa, ternyata udah 5 jam lebih, perut gk diisi. Ternyata lagi, konsumsi mata pada visual kaset2 jadul terdistribusi ke perut shg lapar pun gk dirasa. Dasar edan!

Gambar2 berikut adalah 25 kaset hasil invasi ke Depok 13 Januari 13.
Thanks Mas G atas pemuatan berita invasi ini. (e)

Nostalgia M97 FM

December 4, 2012

By: Dani Juliansyah

 

Dear mas Gatot,

Sambil nunggu pesawat berangkat ke Surabaya, saya mau share sedikit cerita tentang radio M97 FM di Jakarta yang mana mayoritas musik yang disajikan adalah Totally Prog Rock di era 90an.

Pertama kali kenalan dengan M 97 FM pada saat itu sedang dalam tahapan ujicoba. Siaran nya saya tangkap di Ancol bertepatan dengan konser Phil Collins di Indonesia dalam rangka “Both Side Of The stories tour”.

Pertama kenal meski cuma siaran uji coba sudah jatuh cinta. Deretan lagu-lagu lawas sesuai panggilan jiwa seperti Yes, Genesis, The Police, Marillion terus menerus menggempur dari sound system mobil yang ala kadarnya. Sampai dengan kuliah, dan bekerja di era akhir 90 an, M 97 FM seolah tidak pernah berubah dari pantauan radio. Meski teman, kawan, saudara dan pacar protes keras minta supaya diganti, dengan egois tingkat dewa M 97 FM selalu menemani kemana saya berjalan saat itu.

Penyiar radio favorit saya adalah Ifet, yang selalu siaran pagi hari, ditambah dengan Kang Denny Sakrie yang membawakan acara Collector’s Time membawa malam rabu menjadi waktu wajib begadang hingga pukul 00:00.

M 97 FM saat itu tampil berbeda dengan radio-radio lainnya. Segmen musik Progresive Rock seolah mendapat tempat sendiri bagi kaum minoritas di jagad musik ini. Saat itu King Crimson, James Gang, Gentle Giant hanya berbunyi di M 97 FM. Sungguh masa-masa indah. Saat itu semua koleksi lagu langka saya dijamin aman tidak terpakai.

M 97 FM berakhir di era 2000 awal saya lupa persisnya kapan. Saat terjadi perubahan frekwensi modul Radio, M 97 FM menghilang. Tidak ada lagi Genesis dengan “Selling England By The Ponds” di waktu sore hari, atau “Getting Old” nya James Gang di penghujung malam.

Mungkinkah ada diantara para penghuni Blog Mas G yang berniat menghidupkan lagi Radio Ga Ga M 97 FM sebagai corong musik Progresive Rock terakhir sebelum kita semua menghadap yang Maha Kuasa ?

Mungkinkah ?

Saturday Night Rock 1 Mar 08

March 6, 2008

JRENG!

Phew!! .. baru lega nih bisa ngeblog lagi gara2 kemaren disibukkan dengan kerjaan dan kecopetan handphone .. (hiks). Ini sebetulnya cerita tentang hari Sabtu tanggal 1 Maret 2008 yang lalu, utamanya menyiapkan materi siaran Saturday Night Rock di Trijaya. Cukup sibuk juga memanfaatkan waktu yang padat setelah sibuk hingar-bingar konser Helloween minggu sebelumnya. Syukur Alhamdulillah setelah Helloween masih sempet bikin kompilasi buat nyiapin acara Sabtu tersebut. Sebetulnya udah cukup lama saya gak siaran, tapi karena nara sumber nya dua-duanya orang top dan sama2 “kontak” nya melalui saya, jadi ya mosok saya serahkan ke temen2 i-Rock! lainnya? Yo ora elok lah.

Bagian pertama (jam 19:30 – 21:00) memang sudah direncanakan jauh hari karena merupakan sambungan (Part 2) dari program The Religious Side of Progressive Rock yang sebelumnya disiarkan pada 5 Januari 2008. Narsumnya orang paling sibuk di dunia profesional, karena waktunya lebih banyak berada di luar negeri atau di luar Jakarta. Beliau adalah Rizal B. Prasetijo, Managing Director JP Morgan. Jabatannya sih gak ada hubungannya dengan Prog Rock, apalagi Al Quran; saya cuman mau menggambarkan bagaimana dia itu sibuk kerja selain ngeprog. Lha kalo saya memang kerjaannya kan ngeprog dan nge-metal, jadi ya sibuknya ya ngeprog, ngerock atau nge-metal aja. Lha kalo Bang Ijal (Rizal) ini memang super duper sibuk. Makanya sejak beliau confirmed bisa tanggal 1 Maret, ya saya harus bisa to, lha beliau yang lebih sibuk.

Bagian kedua (jam 21:00 – 23:00) dipicu oleh SMS saya yang memuji abis2an lagu Sang Penghibur (gak prog, gak metal, tapi ada rock nya) dari Padi yang saya suka dan kagum sekali dengan musik maupun olah vokal Fadly, kepada mas Piyu sekitar pertengahan Januari yl. Saya cukup kenal baik dengan mas Piyu Padi ini ya gara2 mas Sen Sen (Trans TV) yang bilang bahwa mas Piyu ini mengidolakan Black Sabbath dan Ozzy (terutama Randy Rhoads). Singkat cerita, akhirnya mas Piyu jadi narsum saya di Saturday Night Rock membahas Black Sabbath, tahun lalu. Kemudian, mas Piyu (dengan bandnya CRAZY TRAIN) juga menjadi salah satu performer di acara ONE LOUD NITE yang merupakan ultah i-Rock! pertama di Mario’s Place. Lha terus mas Piyu kirim sms balik yang menanyakan kapan siaran lagi di Trijaya. Begitulah .. akhirnya JRENG disepakati tanggal 1 Maret 08 bisa siaran, membawah album solo Ozzy Osbourne. Dan .. saya salut bahwa mas Piyu tetep dengan komitmen nya siaran, meski bookin waktu dilakukan sebulan lebih sebelumnya (akhir Januari kami “deal” buat on air tanggal 1 Maret). saya seneng sekali dengan musisi seperti mas Piyu ini, tepat janji dan tepat waktu. Salut mas!

Persiapan Materi

Sebetulnya mengenai materi siaran, saya gak perlu khawatir lha wong Bang Ijal udah membedah semua lirik lagu yang kita pilih buat analisa ntar saat siaran. Setlist memamng kita tetapkan berdua, namun ada yang murni datengnya dari Bang Ijal seperti “Freewill” nya Rush, “Hollow Stones” nya Khan, “Burning Rope”nya Genesis dan “Repentance” nya Dream Theater. “Watcher of The Skies” sebetulnya diusulkan dari anggota SMS Blast nya Bang Ijal, mas Iren. Saya menambahkan “What Colour is God?” nya Fish. Sempat kepikir juga memasukkan Fugazi nya Marillion, tapi waktu ndakcukup. Kalau Pink Floyd “Time” sebetulnya masuk di Part 1 tapi waktu itu gak sempet mengudara.

Saya memiliki kebiasaan membawa semua koleksi ke studio bila siaran. Bukan apa2, saya ingin membangun “nuansa” yang pas banget dengan tema siaran. Maka dari itu saya siapkan semua hal terkait dengan materi siaran, mulai dari membuat CD kompilasi, mencari kaset2 jadoel yang merekam lagu2 tersebut, termasuk Pink Flod “Dark Side of The Moon” yang rekaman Perina Aquarius, masih mulus kayak tahu mentah yang warnanya putih bersih itu …. Saya juga cari semua referensi buku terkait dengan materi siaran. Saya bawa buku “The Saucerful of Secret” yang bercerita tentang pernik sejarah Pink Floyd, dan buku “Inside Out” nya Nick Mason (drummer Pink Floyd). Dua buku ini koleksi berharga saya. Untuk urusan Ozzy, saya bawa buku yang udah saya baca: Ozzy & Sharon Osbourne “Ordinary People” dan “Bang Your Head with Heavy Metal” yang mengulas sejarah Black Sabbath.

Ah bukan hanya itu, saya juga setel (puter) kaset (bukan CD) album legendaris Pink Floyd tersebut sambil nyetir di mobil. Nuansamatik bener rasanya. Bahkan sengaja pake kaset biar nuansa saat awal pertama kali saya denger Dark Side of The Moon bisa terbangun dan menambah perasaan pe-de saya. Pokoknya hari itu jan JRENG semangat pol lantaran semua nuansa udah saya bangun seolah saya hidup di tahun 70an yang lalu.

Perjalanan ke Studio

Perjalanan ke studio saya isi dengan memutar kaset rekaman jadul supaya terasa nuansa pitungpuluhan nya, terus setelah itu saya mainkan CD kompilasi “The Religious Side of Prog Rock – Part 2″ sambil nyanyi2 sendiri kayak wong edan. Gak papa lah sing penting prog gitu loh! Selama di perjalanan, komunikasi terus lewat sms dengan bang Ijal.

Wuih terasa semangat sekali lho .. nyetir sambil membawa semua CD dan kaset, ditambah buku2, terkait dengan materi siaran. Semuanya menjadi indah sekali karena saya memang “menikmati” banget sore hari itu. Sampe di studio sekitar 19:10 dan saya liat di parkiran udah ada BMW nya Bang Ijal di parkir di sebelah gedung Trijaya di Menara Kebonsirih. Wis pokoke awak iki jan semangat sekali buat siaran.

Dan …. JRENG! terus siaran pas jam 19:35 …

Bang Ijal menyiapkan diri buat membahas aspek religius:

dsc00313.jpg

Ini udah “on air” …

dsc00315.jpg

Martabak dan Prog Rock .. (liat dong kaset Pink Floyd nya ..)

dsc00320.jpg

Kalo ini Piyu Padi sedang membahas Randy Rhoads, gitaris ajaib yang di “hire” Ozzy:

dsc00316.jpg

Materi siaran Ozzy:

dsc00323.jpg

Mas Aldi Norman (Trijaya’s host):

dsc00326.jpg

Berpose dengan seleb: (heavy METAAAAAALLLL!!!!)

dsc00328.jpg

Aldi Norman dan Piyu:

dsc00329.jpg

Salam,

G

Merajut Makna Melalui Prog Rock (14 of 99)

March 6, 2008

The Religious Side of Prog Rock (Part 2)

Minggu lalu, tepatnya tanggal 1 Maret 2008, kerjasama i-Rock! dan Trijaya Network berhasil mengudarakan The Religious Side of Prog Rock (part 2) di jaringan radio Trijaya di seluruh nusantara dalam acara rutin Saturday Night Rock. Seperti biasa, menelusuri lagu2 prog rock melalui makna-makna mendalam lirik yang dikandungnya selalu menarik saya untuk merenung dan memaknai hidup ini. Seperti Part 1, siaran bagian kedua minggu lalu juga menampilkan nara sumber yang memang sudah mendalami agama dengan baik, yaitu temen baik saya Rizal B. Prasetijo. Tulisan di bawah merupakan ulasan lengkap dari “content” yang disajikan pada malam hari tersebut, ditulis sendiri oleh Bang Ijal (Rizal B. Prasetijo). Silakan membaca sendiri … Wass, G

——————-

dsc00315.jpgBy definition, the progressive rock is a complicated form of the rock music, lacking of a single and steady beat and less concerned with danceability of its composition. Thus, it requires a certain level of emotional intelligence to understand and appreciate its complicated, yet beautiful, unstructured beats and rhythms. This is why I like the genre so much. In an attempt to further elevate our appreciation on this musical branch, my prog friend, Gatot “Top Markotop” Hidayat Widayanto has challenged me over the past couple of months by asking a simple, but mind boggling, question: “Is there any relationship between these polyrhythm, polytempo, and dissonance notes with our belief on God from the perspective of Islam?” The answer is yes and we did present our findings in the Saturday Night Rock (SNR, a radio musical program drawn from the collaboration between i-Rock and Trijaya Radio network) on January 5, 2008 (see Part 1 for further details).That said, I was somewhat aghast (and honor) when Mas Gatot asked me whether I would be willing to talk about the subject for the second time in a SNR program, scheduled to be aired on Saturday, March 1, 2008. I was somewhat anxious as, given my limited musical acquaintance, whether I would be able to draw a proper set list. Squeezed by my hectic daily schedule as an investment banker, I was finally able to put following set list:
Watcher of the Skies
From the musical perspective, the 1972 song (taken from Genesis’ fourth studio album, Foxtrot) marked the beginning of theGenesisFoxtrot album cover usage of Mellotron Mark 2 in the progressive rock arena. Indeed, the composition opens up with Tony Banks’ liners on the equipment for roughly two minutes. Cross fading into main ensemble section, where you could sometime hear Michael Rutherford’s syncopated and dissonance, bass beats, the composition beautifully put forward the tonal strength of Mellotron Mark2. The song essentially questions the ability of human being in sustaining their life. Here Messrs. Bank and Rutherford put their wild imaginations—what would happen if the empty earth is visited by aliens. Will all of us survive? “

Do you judge God by his creatures when they are dead?“, Peter Gabriel asked cynically. From the religious perspective, I definitely say yes. The Al-Qur’an guarantees that mankind will be able to sustain his life. This is what Allaah SWT told the angels when He created us: “Inni jaa’ilun fiil ardhi khaliifah” Verily, I am going to place (mankind) as khalifah on earth. The angels initially protested: “Ataj’alu fiihaa may yufsidu fiiha wa yasfikud dimaa” Will you place therein those who will make mischief therein and shed blood. Allaah SWT replied: “Inni a’lamu maalaa ta’lamuun” I know that which you do not know (S Al-Baqarah 2:30).

What Colour is God?
FishSunsets On Empire album coverTaken from Derek William Dick aka Fish’s fifth solo studio album, released in 1997, the song attempts to describe the physical existence of the God, of course in his musical interpretation. “What colour is God? Why can’t you tell me, can’t you tell me?“, Fish asked these question couple of times in a rather pop progressive rock nuance. Of course, from the religious point of view, we will never be able to answer the question. “Wa lam yakul lahu kufuwaan ahad” And there is none co-equal or comparable unto Him, written in Al-Qur’an (S. Al-Ikhlas 112:4). The history, as told by the Al-Qur’an, also shows what happened to the Jews when they asked Moses AS to bring Allaah SWT in front of them: “Faqad saaluu Muusaa akbara min dzalika fa qaaluu arinaal laaha jahratan fa akha dzat humush shaa’iqatu bithulmihim” Indeed they asked Moses for even greater than that, when they said “Show us Allaah in public”, but they were struck with thunder-clap and lightning for their wickedness (S An-Nisaa 4:153).

dsc00321.jpg
Freewill
The Rush’s polytempo song (the time signature alternates 6/4, 7/4, 6/4, 7/4, 6/4, and 8/4) with short awesome fierce Geddy Lee’s bass in the middle of the composition, declares that human being is free to do whatever they want in this life. Neil Peart wrote poetically: “
There are those who think that life is nothing left to change, a host of holy horrors to direct our aimlessRushPermanent Waves album cover dance“. Indeed, mankind is given a freedom to choose his way of life. Even Allaah SWT has taught us either to be a good guy or a bad guy. “Fa alhamahaa fujuurahaa wa taqwaahaa” Then He showed him what is wrong for him and what is right for him. The question is which direction we will choose? “Qad aflaha man zakkaahaa” Indeed he succeeds who purifies his own self (by obeying what Allaah SWT has ordered). “Wa qad jaaba man dassaaha” And indeed he fails who corrupts his ownself (by rejecting what Allaah SWT has ordered) (S Ash-Shams 91:8-10).
Hollow Stone
The final track of the Khan’s, a well known Canterbury band, only album (Space Shanty, 1972) is a really compassion touching composition. Built on multi interludes of soft jazz, jazz rock, and rock, Steve Hillage personifies human being as a hollow stone.
KhanSpace Shanty album coverThus, setting aside all of our strength, conceit, and superciliousness as individuals, we are really nothing relative to the gigantic scale, momentum, and energy possessed by the universe. “After all, you are only a molecule drifting, an atom afloat, as you fall into space from your lonely shell of fear” Mr. Hillage wrote. He also believes that our physical and emotional belongings are impermanent and are always in a constant change—”No use asking what you are or what you’ll be a millisecond after. As you plunge back into laughter now, dancing and calling out your name“. Indeed, the Al-Qur’an mentions that everything owned by mankind (his emotion, wealth, provisions, health, family, and others) is provisional. What will remain eternal is only his good deeds. “Maa ‘indakum yanfadu wa maa ‘indaal laahi baaqi“. Whatever is with you, will be exhausted, and whatever with Allaah will remain (S An-Nahl 16:96).
Time
Taken from one of the best progressive rock conceptual albums (Pink Floyd’s the Dark Side of the Moon, 1973) and known for its long introductory passage of clocks chiming and alarms ringing recorded separately by Alan Parsons in an antiques store, the song is a reminder for us not wasting and controlling our time firmly. Roger Waters sent a clear message—life is not about
Pink FloydDark Side Of The Moon album cover preparing yourself for what happens next, but about grabbing control of your own destiny. “Every year is getting shorter. Never seem to find the time. Plans that either come to naught or half a page of scribbled lines. Hanging on in quiet desperation is the English way. The time is gone, the song is over“. Indeed, we often regret on missed opportunities of the past. And as the clock is ticking and our age is getting shorter, we could be a big loser if we are not careful. “Waal ‘ashr. Innaal insaana lafii khusr. Illaal ladziina aamanuu wa ‘amiluush shaalihaat wa tawaa shaubil haq, wa tawaa shaubish shabr“. “By the time. Verily! Man is in loss. Except those who believe and do righteous good deeds, recommend one another to the truth, and recommend one another to patience” (S Al-Asr 103:1-3).
Burning Rope
Although Genesis began to loose some of its “trade mark” musical identities (its composition is getting shorter, easier, and
GenesisAnd Then There Were Three...  album covermoving into standard verse-chorus-bridge format) in the “And Then There Were Three” album (1978 due to the departure of its guitarists, Steve Hackett), there is no doubt that Burning Rope is still painted using the old Genesis music colors. Opened up by uplifting melodies led by Tony Bank’s piano, the 7:10 song reminds us not to be an avaricious and voracious person. “You must blaze a trail of your own, unknown, alone. But keep in mind, don’t live today for tomorrow like you were immortal. The only survivors on this world of ours are“, Messrs. Banks, Collins, and Rutherford wrote in their musical languages. What we do in the current life will be accounted and examined in the Judgement Day. Indeed, the Al-Qur’an warned us “Kullu nafsum bimaa kasabat rahiinah” Every person is a pledge for what he has earned (S Al-Muddaththir 74: 38).
Repentance
Our program is closed by Dream Theater’s fifth track in Systematic Chaos (its ninth studio album, 2007). The slow and mellow progressive metal song is actually part of the twelve steps of the alcoholic anonymous program written by Mike Portnoy.
Dream TheaterSystematic Chaos album coverSometimes you’ve got to be wrong, learn the hard way. Sometimes you’ve got to be strong, when you think it’s too late“. The confession of 12 leading rock musicians (narrated by Steve Vai, Joe Satriani, Daniel Gildenlöw, and others) further strengthen the composition ambiance that it is never late to confess your mistake, repent, and amend it. We also dedicate this song to Bangun Soegito aka Gito Rollies, who passed away on February 28, 2008. One day ten years ago, Gito asked me whether all his past mistakes would be forgiven and I quoted him a verse from the Holy Qur’an: “Innamaat taubatu ‘alaal laahi lilladziina ya’maluunnas su’a bijahaalatin tsumma yatuubuuna min qariibin” Allaah accepts only the repentance of those who do evil in ignorance and foolishness and repent soon afterwards. (S An-Nisaa 4:17).
Insya Allaah, this SNR program will encourage us to obey what Allaah SWT has ordered us and firmly follow the path which has been shown by Rasulullaah SAW in our daily life.

Best regards,
Rizal B. Prasetijo

Piyu Padi Mengupas Ozzy Osbourne di Trijaya FM besok …!

February 29, 2008

JRENG!

Tahun lalu saya sempat mengundang mas Piyu (Padi) menjadi nara sumber di Saturday Night Rock (kerjasama antara i-Rock! dan Trijaya Network) membahas Black Sabbath. Dalm ulasannya, mas Piyu ini keliatan banget menggandrungi permainan gitar Randy Rhoads yang memang dahzyat itu. Beberapa bulan kemudian mas piyu dan band nya CRAZY TRAIN main di Ulang Tahun 1 i-Rock! di Mario’s Place membawakan lagu2 Black Sabbath dan Ozzy Osbourne. Wah keren abiszz bok! Ternyata mas Piyu ini gak cuman piawai dengan musik manis ala Padi tapi sangat gahar dalam musik heavy metal!!! Top dah!

Nah kali ini .. tepatnya besok malem jam 21:00 sd 23:00 .. mas Piyu kembali hadir di studio Trijaya buat melanjutkan bahasan menyangkut Ozzy dan terutama Randy Rhoads di Trijaya Network (kalo di Jakarta ya FM 104.6).

So .. jangan lewatkan ye!!!!

oln-crazy-train-2.jpg

Salam,

G

The Religious Side of Prog Rock (Pt. 2) on Trijaya FM tomorrow …

February 29, 2008

I was somewhat aghast (and honor) when Mas Gatot “Top Markotop” Hidayat Widayanto asked me whether I would be willing to talk about thebang-ijal.jpg mentioned title in one of SNR programs four weeks ago. Yes, we did the part 1 together on January 5, 2008, but I was still nervous whether I could find another progressive rock songs related to the mentioned subject in my limited music dictionary. Squeezed by my hectic daily schedule as an investment banker, I manage to find following set list for the March 1, 2008 gig:

1. Watcher of the Skies (from Genesis’ Foxtrot album)
The unintentional song written by Tony Banks and Michael Rutherford, based on their wild imaginations—-what would happen if the empty earth is visited by aliens, is a mind boggling for me. Banks’ heavy mellotron, Rutherford’s syncopated, sometimes dissonance, bass beats, and Gabriel’s unique singing style blended well in questioning the ability of human being in sustaining their life. “Do you judge God by his creatures when they are dead?”, Gabriel asked cynically.

2. Hollow Stone (from Khan’s the Space Shanty album)
The final track of Khan’s the Space Shanty describes the nihilism in the Canterbury setting. “No use asking what you are or what you’ll be a millisecond after. As you plunge back into laughter now, dancing and calling out your name“, Hillage depicted our emotion, which constantly changes over the time.

3. Time (from Pink Floyd’s the Dark Side of the Moon album)
The essential progressive rock song, known for its long introductory passage of clocks chiming and alarms ringing, is a reminder for us not wasting and controlling our time firmly. Roger Waters sent a clear message–life is not about preparing yourself for what happens next, but about grabbing control of your own destiny. “Every year is getting shorter. Never seem to find the time. Plans that either come to naught or half a page of scribbled lines. Hanging on in quiet desperation is the English way. The time is gone, the song is over“.

4. Burning Rope (from Genesis’ And Then There Were Three album)
While the band began to loose some of its “trade mark” musical identities (its composition is getting shorter, easier, and radio friendly) in this era, there is no doubt that Burning Rope is still painted using the old Genesis music colors. “You must blaze a trail of your own, unknown, alone. But keep in mind, don’t live today for tomorrow like you were immortal. The only survivors on this world of ours are“, Messrs. Banks, Collins, and Rutherford reminded us not to be an avaricious and voracious person in their musical languages.

5. Freewill (from Rush’ Permanent Waves album)
Hidden behind the complicated time signatures and Geddy Lee’s fierce bi-amping stereo bass sound is Neil Peart’s beautiful message that life is about choice. “There are those who think that life is nothing left to change, a host of holy horrors to direct our aimless dance“, he wrote poetically.

6. What Colour is God? (from Fish’s Sunsets of Empire album)
As suggested by its title, Derek William Dick aka Fish attempts to describe the physical existence of the God, of course in his musical interpretation.

7. Repentance (from Dream Theater’s Systematic Chaos album)
I salute Mike Portnoy for being honest and making a confession that he made mistakes in the past. Repentance is actually part of the twelve steps of an alcoholic anonymous program written by him. “Sometimes you’ve got to be wrong, learn the hard way. Sometimes you’ve got to be strong, when you think it’s too late“. The confession of 12 leading rock musicians (narrated by Steve Vai, Joe Satriani, Daniel Gildenlöw, and others) further strengthen the Repentance’s musical ambiance. Never be late to confess your mistake and amend it.

Hope you enjoy our show on March 1, 2008 at 1930-2100 in Trijaya 104.6FM.

Best regards,
Rizal B. Prasetijo

“All That Rock!” & “And Then There Were Four” di Trijaya FM

January 18, 2008

Jreng!

 

i-Rock! and Trijaya Network present:

Saturday Night Rock vol. 43
19January 2008

 

 

Jangan lewatkan acara malem minggu ini dengan menyimak langsung Saturday Night Rock:

 

Sesi I    : All That Rock!

Sesi II   : Genesis: And Then There Were Four

 

Bagi yang pernah hidup di tahun 80an, siapa yang gak kenal dengan kaset kompilasi ALL THAT ROCK yang salah satunya gw kenal banget ada gambar Rocky Ramboo dan lagu terkenalnya yang berjudul “Eye of The Tiger”? Nah … Sesi I SNR kali ini membahas topik nuansamatik ini. Nara sumber nya gak tanggung2 .. arek 80an pol … Bli Nengah Rikon!!! Beliau ini sudah bener2 pakarnya lah dalam hal ALL THAT ROCK bahkan punya inisiatif membuat CD berisi lagu2 tersebut. Top markotop tenaaannn …!!!! Bli Rikon juga akan ditemani Cak Joga Wisaksono yang sudah tidak asing laging dalam tema claro ….!!!

 

Di Sesi II akan diangkat topik khusus … yaitu Genesis era berempat !! Makanya Cak Joga dengan kreatifnya membuat temanya “And Then There Were 4″ … ha ha ha ha .. jan kreatip tenaaaann. Era ini cukup unk karena hanya ada mereka berempat: Phil Collins, Steve Hackett, Mike Rutherford, dan Tony Banks serta menghasilkan dua album dahsyat: “A pTrick of The Tail” dan “Wind and Wuthering”. Bagaimana mereka berempat bertahan setelah Gabriel cabut? Resep apa yang mereka racik dalam meramu komposisi indah seperti “Eleventh Earl of Mar” atau “One For The Vine” atau “Squonk”???? Sang nara sumber beken Erlangga Arfan (just married) yang baru balik ke tanah air setlah bertahun-tahun tinggal di negeri Nightwish, Finlandia, akan mengupas abiszzzz .. sampek ngelonthok! Tentu Cak Joga tetap menemani dalam bahasan ini ….

 

Pokoke, JRENG! lah malem mingguan besok. Simak aja deh …!!!!

Telpon Interaktif : 021- 391-2252
SMS : 0812-1111046

Radio Network :

1. Jakarta – Trijaya 104.6 FM
2. Bandung – Trijaya 91.3 FM
3. Jogjakarta – Bandung 97.0 FM
5. Medan – Prapanca 95.1 FM
6. Dumai – Trijaya 100.5 FM
7. Pontianak – Manusa 97.5 FM
8. Madiun – Pandawa 106.0 FM
9. Palembang – Trijaya 87.6 FM
10. Kendari – Gema 92.4 FM
11. Manado – Trijaya 95.3 FM
12. Semarang – Trijaya 89.8 FM
13. Indovision Channel 201

Salam,
G

Heboh Legend at 9 : MARILLION

August 5, 2007

Phew ….!!! Puwaszzz … akhirnya Marillion masuk di Legend at 9 tadi malem pada acara Saturday Night Rock vol 24 (4 Agustus 2007) radio Trijaya FM. Memang, waktu 2 jam tidaklah cukup buat membahas grup legendaris yang merupakan “hero” musik progressive rock. Bayangkan, kalo gak ada Marillion mungkin musik prog sudah mati ditelan gelombang baru (new wave) yang sudah menggerus band prog kawakan seperti Genesis yang ikut2an ngepop di “abacab” dan Yes juga di “90125”.

Marillion tiba menggelegar dengan “So here I am once more…. In a playground of a brokenheart …” ……..Biyuuuuuuuuuuuuuuuhhhh .. nikmat sekali ….”Script For A Jester’s Tear”….

Yang jelas,  siaran tadi malem bener2 HEBOH karena saya membawa satu kopor sebagian besar dari koleksi CD (official, bootleg dan official bootleg), LP, Laser Disc, DVD, buku… wis pokoke sembarang kalir yang berkaitan dengan Marillion.

marillion-snr-4aug07.png

Tanggapan dari pendengar Trijaya juga luar biasa. Yang asik adalah komentar dari pendengar di Semarang (Denny) yang berprofesi sebagai lawyer:

Kalo ada lawyer yang gak suka FUGAZI, masa depannya suram ..!!” Hua ha ha ha ha ha ha … saya dan mas Aldi yang siaran tadi malam nguakak abis dengan komentar ini …!!! Ha ha ha ha ha ha … Top Markotop!!!! (NB: Mas Denny ini berprofesi sebagai LAWYER dan menyukai Marillion abiszzz!!).

Kalo komentar pak Agung (yang saya kenal gara2 MARILLION juga) lain lagi:

Album Script itu saya putar berkali-kali sampe kasetnya bodol dan saya beli album ini sampe 3 kali …” ha ha ha ha ha ha ha ha ….

Itulah kegilaan terhadap Marillion ….


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 144 other followers