Archive for the ‘Event’ Category

Blok M Square Bagi Saya (2)

May 18, 2014

Di halamannya mas DananG Suryono pada sebuah media sosial, mbak Ella Suud (m-claro) menanyakan ke saya jargon paling pas buat Blok M Square. Ini jawaban saya, copas langsung saja:

mbak Ella Su’ud ….saya sendiri sudah menancapkan di benak saya suatu istilah yang mungkin gak umum bagi banyak orang karena kesannya jadul banget dan orang sekarang kagak mudeng. Ini juga terkait karena pengalaman saya kalau ke Blok M Square, saya bisa mendapatkan apa saja yang saya mau. Namun kebutuhan saya kan ndak sama dengan orang lain yang cucoknya ke Grand Indonesia atau PP (yang jualan Lamborghini dan jelas bukan level saya …wakakakakakak …..). Istilah yang paling cocok bagi Blok M Square untuk saya adalah: TOSERBASONIC ….ha ha ha ha ….pasti bingung karepe opo ..

 

Di Bolk M Square saya bisa mendapatkan semuanya: buku super murah (seken yo ben! wong sing penting iso diwaca), kopi enak murah, kaset mblakrak rekaman apa aja, menjahit batik, memperpanjang SIM dan STNK, kuliner, donat kentang buatan si Ibu langganan saya, dua area parkir sepeda, lesehan, kebutuhan bersepeda termasuk celana training buat naik sepeda, shalat berjamaah di awal waktu (BMW) di imami pak Marbot Tisna, teman diskusi (Oman, Ari dkk …), termasuk teman meningkatkan iman dan taqwa, tempat kerja (Corelli) sambil menikmati lagu2 Pink Floyd yang sering disetel lapak Udinesse …. Apa yang gak ada sih bagi saya? Oh ya …satu lagi …saya kan suka pake metode Six Thinking Hats nya Edward de Bono kalau lagi workshop dengan klien . Saya mendapatkan ratusan topi warna putih, merah, hitam, kuning , hijau dan biru juga di seputar Blok M Square ….di kios nya mas Supri orang Kebumen. Maka nikmat Tuhanmu yang mana yang engkau dustakan? Ini memang tempat dimana “apa lu mau gua ada” ….makanya saya puas dan dalam pikiran saya menjuluki tempat ini sebagai TOSERBASONIC aja … Toko Serba Ada Supersonic ….seperti kaset jaman dulu …. ha ha ha ha ha ha ha… Wis embuh ngawur sak enak udele mbahe Sangkil … Gitu mbak Ella Su’ud …

Dari kanan ke kiri (seperti baca Al Quran): mas DananG, bli Rikon (kolektor kelas kakap), mbak Ella dan MenKeu mas DananG. Numpang posting di sini fotonya ya mas DananG....maaf tanpa ijin. Kalau keberatan ya saya turunkan ... he he he ... Suwun. Bravo Blok M Square!

Dari kanan ke kiri (seperti baca Al Quran): mas DananG, bli Rikon (kolektor kelas kakap), mbak Ella dan MenKeu mas DananG. Numpang posting di sini fotonya ya mas DananG….maaf tanpa ijin. Kalau keberatan ya saya turunkan … he he he … Suwun. Bravo Blok M Square!

-

Jujur saja …saya kangen sekali ke Blok M Square karena sudah lebih dari dua minggu absen lantara pontang panting banyak gawean, termasuk workshop yang padat minggu depan ….

 

Salam prog!

 

-

“Unofficial” Progring bersama Mas Fadhil Discus

May 10, 2014

Gatot Widayanto

image

Tadi malam sempat progring dengan mas Fadhil dan mas Purwanto Setiadhi. Sudah cukup lama saya gak jumpa mas Fadhil dan sepertinya sudah lebih dari lima tahun. Dalam kurun tersebut saya memang melihat mas Fadhil dalam pertunjukan di sebuah acara Tribute to Kansas,  namun gak sempat ngobrol dekat bernilai-muka. Pertemuan ini bisa dianggap sebagai menyambung kembali tali silaturahim.

Asik juga ngobrolnya mulai dari yang santai hingga yang berat seperti proses song writing yang ternyata cukup sulit dan kompleks apalagi terkait dengan sebuah band misalnya seperti Discus. Yang juga menarik adalah pembahasan terkait musik Kansas karena mas Fadhil ini adalah ambassador nya Kansas untuk Asia,  sehingga ia menguasai betul. Bahkan lagu yang kemarin disinggung Koh Win yakni Dust In The Wind juga dimaknai oleh mas Fadhil sebagai suatu ekspresi Kansas terkait makna lagu yakni setinggi apapun kita naik ke atas dalm hal apapun kita tetap saja masih dibawah kekuasaan Tuhan. Juga lagu The Wall serta The Pinnacle yang merupakan kesukaan saya dibahas juga. The Wall ternyata berkisah tentang tembok batas antara dunia kehidupan dan dunia kematian.

Selain Kansas juga dibahas mengenai koleksi kaset yang dimiliki mas Fadhil yang mencapai enam ribu buah namun sudah tak didengarkan lagi dan saat ini berada di rumah orang tua nya di Grogol. Dari ribuan kaset itu hanya dua kelompok yang yak menjadi koleksinya yaitu Rolling Stones dan The Beatles. Ia mengakui bahwa The Beatles memang jenius terutama John Lennon yang hebat dari segi songwriting,  apa aja bisa jadi lagu. Pada waktu masih kecil dan belum kenal banyak musik ia diberi hibah dua PH yakni Led Zeppelin live dan Rolling Stones. Ia terpesona dengan Moby Dick dan makanya suka sekali drums. Setelah mendengarkan Led Zeppelin,  musik Rolling Stones jadi gak terasa asik.

Obrolan malam yang asik dan menjadi renungan sambil gowes saat pulang ke rumah. Tadi malam mau tidur malah nyetel Yes Close To The Edge karena memang obrolan dengan mas Pur dan mas Fadhil memang fokus pada prog. Selain itu juga ada mas Agung Pratomo,  temen mas Fadhil yang berprofesi sebagai arsitek dan ada juga istri mas Fadhil.

Tambah semangat buat ngeprog ….dan mau nulis review album IQ terbaru di ProgArchives ….sambil nunggu orderan CD nya yang versi dua disc. Keep on proggin’ …!!

Anti Download Music Festival – Blok M Square

May 7, 2014

Gatot Widayanto

Dapat kabar ini dari Andi Twins … Seru juga acara ini…, mulai tanggal 9 sampai dengan 11 Mei 2014 di Blok M Square. Hayo, siapa hadir?

'anti download' blokM square 91011-5-2014

-

Menanti “Jakarta Prog Festival”

May 3, 2014

Budi Putra

image

Seperti Hammersonic, Java Rock in Land, serta sejumlah konser/festival rock-metal lainnya, baik yang dilaksanakan ditingkat lokal maupun nasional seolah menunjukkan kembali kebangkitan industri musik rock-metal di tanah air. Untuk itu kita patut berbangga dan bersuka-cita bahwa ternyata musik rock terus bergema walau di tengah-tengah kelesuan-kebangkrutan industri musik rekaman.

Tidak tanggung-tanggung bukan hanya band lokal yang ditampilkan juga band skala internasional pun turut meramaikan perhelatan tersebut. Seperti Hammersonic yang menampilkan band thrash metal era 80an Kreator, Morbid Angel, serta band lokal berkelas lainnya yang tengah digemari seperti Burgerkill, Seringai, Siksakubur, dll. Perhelatan ini menjadi bukti juga ajang berkerumunnya pasukan metalhead yang tidak hanya datang dari Jakarta tetapi juga dari kota-kota lainnya, turut memadati lapangan Istora Senayan. Sebelumnya, di Kalimantan juga digelar Kukar Rockin Festival yang tidak hanya diramaikan band gaek asal Surabaya, Power Metal. Namun kali ini dedengkot thrash metal jebolan Bay Area Testament, turut memanaskan festival musik tingkat lokal tersebut. Bahkan di kota Solo, Jawa Tengah sudah memiliki agenda musik metal tahunan. Persis seperti Hammersonic atau Kukar Rockin, dalam perhelatan ini panitia juga mendatangkan band skala global seperti Death Angel, Lamb of God, dll. Nampaknya geliat rock-metal tidak hanya mencuat di tingkat nasional tapi sudah merambah ke lingkup kota-kota lainnya di Indonesia. Tentu saja hal ini merupakan perkembangan yang positif bagi musik rock-metal kedepannya. Karena penyebarannya/perkembangannya bukan hanya didominasi oleh kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, tapi juga Solo serta Kalimantan dan mungkin kota-kota lainnya.

Tak bisa dipungkiri perhelatan rock utamanya metal kini berada di puncak kejayaannya. Di mana-mana gemuruh musik inilah yang mampu mendatangkan ribuan massa seperti pada konser Metallica di GBK beberapa waktu yang lalu. Jubelan massa/penonton seperti ini hanya bisa disamakan rekornya dengan sepak bola ketika Timnas main di GBK pada ajang AFF atau Sea Games tahun-tahun lalu (padahal kalah) atau kampanye parpol papan atas—itu juga kalo angpaunya lancar…hehehe. Memang ada sejumlah konser dari jenis musik lainnya seperti Jakjazz, Jakblues, atau konser-konser band indies, tapi tentu tak seheboh perhelatan metal yang tengah naik daun pada saat ini, bukan? Yang lainnya sepertinya adem-adem aja tuh…hehehe. Sori bro, itu menurut informasi dan pendapat pribadi saya aja. Dan memang musik metal selalu mendatangkan kegairahan dan semangat yang tidak bisa disamakan dengan jenis musik lainnya sesuai dengan pakemnya masing-masing—musik klasik yang tenang, jazz yang cukup menggoyangkan kaki dan sesekali tepuk tangan, blues yang menyayat hati, pop yang bikin kita tersedu-sedu, atau dangdut yang cukup goyang jempol sudah asik…tapi metal semua bergerak bro, dari kepala (headbanger), tangan (kibas kiri kanan) hingga kaki (nendang kiri dan kanan hingga jump)…apalagi bila moshing pit!

Namun bagi pecinta musik rock progresif atau lebih tepatnya progrock mungkin perlu bersabar diri (atau mungkin sekedar impian) agar bisa menyaksikan deretan band-band prog ternama seperti Yes, Marillion, IQ, dll, bisa tampil bersama dalam sebuah konser. Saya ngebayanginnya konser itu bertema “Jakarta Prog Festival” (untuk awalan di Jakarta dulu ya) atau memakai tajuk seperti yang tertera di pada poster itu…”Cruise to the Edge” diganti “Jakarta to the Edge”…keren gak? Atau ada usul tema lainnya?

Biar adil kan perlu juga di fasilitasi bagi para pecinta prog dengan konser sejenis dan kenapa harus kalah dengan metal? Hehehe…Siapa tahu dari sini ada promotor gemblung yang mau menggagas acara tersebut. Gak usah ikut-ikutan di kapal pesiar cukup di Ancol atau Istora Senayan…bagaimana, ok gak?

Mini Progring bersama Bro Lutfi

April 30, 2014

Gatot Widayanto

Janjiannya mendadak kemarin sore namun alhamdulillah pagi ini bisa bersilaturahim (penuh keberkahan) dengan bro Lutfi yang sudah lama sekali saya gak jumpa. Asik lho …sama2 gowes dari arah berbeda namun menuju satu titik: saudagar Kopi dan membahas satu hal: IQ “The Road of Bones”.

Yang motret tanya: "Genesis itu apa?" - hello ......!!!

Yang motret tanya: “Genesis itu apa?” – hello ……!!!

-

Mejeng disamping sepeda masing-masing ...

Mejeng disamping sepeda masing-masing …

-

 

 

 

Berkah Record Sore Day di Solo

April 22, 2014

Andria Sonhedi

seperti yg saya ceritakan sebelumnya bahwa tanggal 20 April kmarin saya mengunjungi Record Store Day di Lokananta Solo. tadinya saya cukup puas cuma beli cd saja, maklum harga kaset2 seken baik yg non royalty atau royalty kemahalan utk saya.

kl dibandingkan dengan hasil perburuan saya di pasar Magetan beberapa minggu sebelumnya harganya jelas sangat jauh. kemarin dulu 7 kaset itu beragam jenis cuma sekitar 55 ribu. termasuk juga Gino Vanelli yg sering2 disebut pak gatot bisa membuat ngguweblak itu.

saat bolak-balik mencari “harta terpendam” dari masing2 lapak di Lokananta saya lihat di tempat pak Catur ada orang yg sedang melihat-lihat kaset Led Zeppelin-Remasters dan Rush – Chronicle. yang membuat saya tertarik sekali lagi adalah harganya :D masing2 cuma dibandrol Rp. 15.000. setelah orang yg megang2 kaset pergi segera saya lihat kasetnya.
sebelumnya di jaman dahulu kala, saya pernah dapat LZ Remasters cuma kaset 2. yang kaset 1 nya entah kok tdk dijual mungkin karena lagunya bagus2 utk selera umum. untungnya saya dapat juga suatu saat cd LZ Remasters shg saya merasa tak bersedih cuma punya kset separo saja.
Saya juga pernah dapat kaset Rush-Chronicle kaset 1 di Bringharjo, mgkn tahun lalu.  kebalikan dgn LZ utk kaset 1 malah lagu2 awal Rush yang memang saya sukai. cuma khusus utk Rush saya saat itu masih ragu2 apa saya sudah punya apa belum. maklum saat2 ini saya suka lupa kaset2 yang saya beli gara2 cuma untuk mengkoleksi aja :) tapi kl yang LZ saya sudah yuakin kl yg dijual di pak Catur mmg belum punya. akhirnya langsung saya bayar, ditawar juga tak mungkin, lalu setelah itu saya baru ingat kl tadi sebenarnya mau ngajak makan pak Win dan anaknya :D demikianlah sihir kaset bisa melupakan tamu agung yg harusnya saya ajak nongkrong utk bernostalgia grup2 masa lalu.
selama perjalanan saya ganti kaset the best Gino Vanelli yg pas saya berangkat saya bawa, bersama kaset Yngwie & OST Spawn. saat saya nyetel Rush saya berdoa supaya kaset ini benar2 belum punya. saya baru sampai rumah Magetan pas maghrib. setelah mandi dan shalat saya segera mencari kaset Rush- Chronicle dan mmg benar kaset ini kaset yang saya cari. Alhamdulillah  :)
gw-lz
-
gw-mgt
-

 

The Only Thing I Need …

April 2, 2014

Rizki Hasan

UK1

Artikel ini saya tulis sebagai wujud kekaguman saya yang terus menerus terhadap super group UK dan juga sebagai lanjutan dari artikel yang saya pernah tulis di tahun 2012 (“Dream Comes True”) dan pertengahan tahun 2013 (“Tale of Two Drummers”).

LONG AWAITED REUNION

Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, UK merupakan salah satu band yang paling ditunggu reuninya oleh para penggemar musik progressive. Sejak tahun 2011, Eddie Jobson berhasil mengajak beberapa rekannya di UK untuk mewujudkan tur konser reuni yang berlanjut hingga sekarang.

Yang menarik dari tur konser ini adalah penggunaan musisi yang berbeda beda, dengan pengecualian Eddie Jobson dan John Wetton. Pada tur yang pertama, UK menggunakan dua musisi luar yaitu gitaris Alex Machacek dan drummer Marco Minneman. Kedua musisi tersebut sebelumnya sudah pernah bermain dengan Eddie di band UKZ dan proyek musik Ultimate Zero. Mereka merupakan musisi-musisi generasi baru yang sering terlibat dalam berbagai proyek musik jazz rock and progressive. Konser ditahun 2011 tersebut diberi judul UK Reunion dan berlangsung dibeberapa kota di Amerika Serikat dan Jepang. Sebagian besar lagu-lagu yang dimainkan berasal dari album pertama dan sisanya sekitar lima lagu dari album Danger Money ditambah dua lagu milik King Crimson.

Selanjutnya tur kedua dilakukan di tahun berikutnya dan diberi judul Night After Night 2012. Konser ini berlangsung di tempat yang lebih banyak lagi meliputi kota-kota di Amerika Serikat, Canada, Jepang dan Eropa. Khusus untuk di Amerika dan Jepang, Eddie dan John bermain bersama drummer Terry Bozzio dan konser ini merupakan konser reuni musisi orisinil album Danger Money. Sesuai dengan formasi ini lagu-lagu yang dimainkan terutama berasal dari album Danger Money dan Night After Night ditambah lagu Thirty Years dari album pertama dan lagu Fallen Angel milik King Crimson. Di Eropa, formasi berubah kembali menjadi berempat dengan menggunakan kembali Alex Machacek dan masuknya drummer asal Inggris – mantan band Level 42, Gary Husband.

Tur ketiga yaitu di tahun 2013 menampilkan kembali formasi album Danger Money ditambah dengan gitaris Alex Machacek. Tur ini diberi judul Azure Seas Tour berlangsung di tiga tempat, yang pertama adalah diatas kapal pesiar sebagai bagian dari acara festival musik progressive yang dikenal sebagai festival musik Cruise To The Edge (menampilkan band/artist musik seperti YES, Steve Hackett, Carl Palmer Legacy Band), dan yang kedua dilakukan di kota Miami dan terakhir di kota Panama City.

Tur ini kemudian langsung dilanjutkan ke beberapa kota di kawasan timur Amerika Serikat serta Canada dan diberi judul yang beda yaitu East Cost Tour. Formasi bandnya juga berbeda karena untuk posisi drummer diisi oleh drummer terkenal lainnya, Virgil Donati (Planet X/session),

Masih ditahun yang sama, menjelang akhir tahun Eddie dan John bergabung lagi dengan Alex dan Marco dan mengadakan satu konser spesial di Jepang dimana mereka memainkan lagu lagu dari ketiga album UK secara lengkap ditambah satu lagu yang belum pernah dikeluarkan secara resmi.

Dalam beberapa hari lagi di tahun 2014 ini, dengan formasi John, Eddie, Alex dan Virgil, UK akan kembali beraksi di festival musik progressive Cruise to The Edge 2014 bersama artist/band legendaris lainnya seperti YES, Marillion, Steve Hackett, Queensryche, Tangerine Dream, PFM, Patrick Moraz, SAGA, dan juga band baru seperti Stick Men.

 

SECOND CHANCE

Saya sangat beruntung dan bersyukur dapat menonton UK untuk kedua kalinya yaitu ketika band tersebut tur di tahun 2013 di kota Miami.

Beberapa hal yang telah mendorong saya untuk menempuh perjalanan jauh sekali lagi, antara lain pertama karena rasa penasaran ingin melihat lagu-lagu UK dimainkan dengan formasi empat orang, kedua adalah karena termakan berita bahwa tur tersebut kemungkinan besar akan merupakan yang terakhir untuk formasi musisi orisinil album Danger Money, dan ketiga rasa kuatir bahwa reuni tidak akan terjadi lagi mengingat masing-masing musisinya mempunyai karir lain yang lumayan sibuk. Seperti diketahui, John aktif tur keliling dunia dengan band Asia disamping solo karirnya sendiri. Terry juga sama, aktif melakukan klinik drum/konser solo drum, menjadi host website Drum Channel dan terkadang menjadi drummer untuk proyek artis musik lain.

 

Terus terang ketika mengetahui formasi berempat ini, saya belum dapat menggambarkan lagu lagu yang akan dibawakan, apakah lebih banyak lagu dari album pertama yang memang dimainkan secara kwartet atau bahkan lagu lagu lain diluar album UK seperti lagu-lagu dari band UKZ ataupun lagu dari proyek Terry bersama Alex di band Outtrio dan BPM (Bozzio Preinfalk Machacek). Semuanya masih serba mistery, namun apapun yang nanti akan dimainkan, pasti akan membuat saya terpesona … I can feel magic is in the air.

 

Menurut saya, dalam hal konser UK mempunyai beberapa kelebihan. Pertama adalah terkait dengan usia bandnya yang singkat yaitu sekitar dua tahun dimana jumlah lagu yang hanya tujuh belas. Hal ini memberikan peluang yang lebih besar buat UK untuk dapat memainkan semua lagunya ketika konser. Sebagai perbandingan, bayangkan band lain seperti YES dan Genesis yang memiliki ratusan lagu namun hanya bisa memainkan sebagian kecil saja, bahkan seringkali beberapa lagu terpaksa dimainkan secara medley.  Terbatas jumlah lagu tersebut juga membuat para musisi serta penonton mudah untuk menghafal lagu-lagunya. Selain itu, jumlah lagu yang terbatas memberikan kesempatan untuk dapat memainkan lagu-lagu tambahan yang bisa menjadi elemen surprise seperti yang pernah dilakukan dikonser tahun sebelumnya dimana mereka memainkan lagu Fallen Angel milik King Crimson. Kelebihan lainnya adalah penonton yang datang bukan hanya penggemar band ini, tetapi juga penggemar dari para musisinya yang masing-masing mempunyai karir sukses.

 

Pertunjukan berlangsung tanggal 29 Maret 2013 di gedung Grand Central yang sebelumnya merupakan bekas stasiun kereta api. Melihat luasnya, saya perkirakan gedung ini dapat memuat sekitar 500 orang lebih, meskipun untuk konser UK, jumlah kursi yang disediakan hanya untuk sekitar 100-150 orang.

 

Berikut ini adalah ulasan ringkas mengenai konsernya yang saya bagi menjadi empat bagian:

Part 1 – Meet & Greet

Saya bersama istri datang lebih awal ke gedung pertunjukan karena ingin mengikuti acara soundcheck/meet and greet yang dijadwalkan jam lima tiga puluh. Acara seperti ini memberikan kenikmatan tersendiri karena dapat menyaksikan mereka berlatih, bertemu dan berbincang-bincang, berfoto dan juga berkenalan dengan sesama penggemar band ini. Ketika sampai di gedung tersebut sekitar jam lima, suasana diluar terlihat masih sepi dan pintu gedung belum dibuka. Guna menghindari teriknya panas matahari dijam tersebut, saya dan istri berdiri menunggu dibawah bayangan gedung dekat salah satu pintu keluar bersama beberapa orang lain.  Secara samar samar terdengar suara musik yang sangat saya kenal dari dalam gedung, tanda band sudah ada dan sedang berlatih.

 

Ketika masih menunggu tersebut, secara tidak disangka sangka, Alex Machacek keluar gedung dekat pintu saya berdiri.  Wow … benar-benar suatu keajaiban, tidak salah kalau kota Miami memang dijuluki Magic City. Tanpa ragu saya menghampirinya dan memperkenalkan diri.  Saya pertama kali mendengar gitaris jazz rock ini melalui album Delete and Roll milik band BPM ditahun 2002.   Berbadan tinggi, Alex adalah sosok yang ramah dan menyenangkan. Ketika saya menanyakan bagaimana konser UK ketika bermain di kapal pesiar, dia berkelakar bahwa mereka bermain parah dan malam ini sepertinya akan lebih parah lagi.  Saya pun tertawa karena tahu bahwa itu tidak benar dan bahkan saya yakin apa yang mereka mainkan nanti pasti akan tetap memukau.

 

Tidak lama kemudian terlihat mulai banyak orang yang berdatangan, oleh karenanya saya dan istri bergegas menuju luarnya pintu masuk untuk membentuk antrian. Waktu terus berlanjut dan terlihat antrian semakin panjang.  Matahari masih bersinar terang, dan meskipun sudah lewat jam enam, pintu masuk belum dibuka juga, padahal acara Meet and Greet seharusnya dimulai jam lima tigapuluh. Karena masih harus menunggu, para pengunjung yang saya perkirakan berusia disekitar 30-40an terlihat saling berkenalan dan berbagi pengalaman. Salah satu pengunjung yang sudah lama tinggal di Miami bercerita bahwa dahulu daerah tempat konser ini merupakan tempat yang rawan. Dia juga bilang keterlambatan merupakan hal yang sudah biasa di Miami.  Terdapat juga pengunjung yang mempunyai kesibukan sendiri, salah satunya yang membuat saya tersenyum adalah seorang guru Inggris yang datang membawa pekerjaannya.  Sambil menunggu, dia mengeluarkan kertas kertas yang ternyata adalah hasil karangan murid-muridnya untuk diperiksa.  Diantara para pengunjung tersebut, terlihat beberapa orang saya kenal sebagai penggemar setia Eddie (dikenal sebagai Zealots) yang hampir selalu menonton konsernya dimana saja.

UK2

Gambar 1: Grand Central – Day and Night View

Sekitar jam enam tiga puluh, akhirnya waktu yang ditunggu tiba dan pintu masuk pun dibuka.  Meskipun lega akhirnya bisa masuk, yang sempat menjadi pikiran saya adalah menjadi pendeknya waktu Meet and Greet karena keterlambatan tersebut.  Berdasarkan jadwal di tiket, konser akan dimulai jam tujuh, jadi waktu pertemuan ini hanya akan berlangsung tiga puluh menit saja.

UK3

Gambar 2: Keyboard and Drums Set Up

Memasuki ruangan tersebut, langsung terlihat pemandangan John dan Terry sedang warm up sekaligus berlatih diatas panggung dengan alat musiknya masing-masing.  Suara bass John terdengar mantap dan sangat sesuai untuk jenis musik rock, sementara Terry menampilkan groove yang enak didengar.

 

Tidak lama kemudian Eddie dan Alex bergabung dengan mereka dan berlatih bersama, memainkan potongan dari beberapa lagu, antara lain In The Dead of Night, Caesar’s Palace Blues dan Carrying No Cross.  Seperti konser reuni tahun sebelumnya, peralatan keyboard Eddie terlihat sederhana, hanya berupa dua keyboard yang didukung dengan tiga komputer Apple.  Sementara Terry menggunakan set drum yang hampir memenuhi panggung karena terdapat empat bass drums dan cymbal yang banyak serta gong besar.  Perlu dicatat bahwa set-up drum ini tergolong kecil dibandingkan yang biasa digunakan untuk solo konsernya.

 

Setelah latihan, keseluruhan musisi UK, kecuali Terry yang masuk ke dressing room, turun panggung menghampiri dan menyapa para pengunjung yang menyambut mereka dengan penuh antusias. Suasana pertemuan ini terasa akrab, mereka memberikan kesempatan kepada para pengemarnya untuk berfoto, mendapatkan tanda tangan, dan berbincang-bincang.  Eddie  terlihat yang paling bersemangat berdiskusi dan meladeni satu persatu pertanyaan yang diajukan.  Dia juga sering berkelakar, seperti ketika melihat beberapa orang menangis terharu ketika menonton pertunjukan UK di kapal pesiar, Eddie bilang bahwa sebenarnya mereka menangis lebih karena harga tiket yang mahal, ditambah cuaca panas dan makanan yang mungkin tidak sesuai. Dia juga berkelakar bahwa dirinya sering dianggap sebagai spesialis pemain pengganti, seperti kita dia ditawari menggantikan posisi Jean Luc Ponty di band Frank Zappa, Brian Eno di Roxy Music dan juga posisi Rick Wakeman dan Tony Kaye di YES.

 

Acara meet and greet ternyata berlangsung lumayan lama, tidak terasa waktupun sudah jauh melewati jadwal konser semula.  Sekitar jam delapan kurang, para musisi masuk ke dressing room, dan para penonton kembali ke kursi masing-masing, menunggu sambil berharap persiapan di dressing room tersebut tidak akan berlangsung lama.  Saya dan istri beruntung mendapat tempat duduk paling depan dan diposisi tengah.

 

Part 2 – Opening and the longs

Jam delapan lewat, sebagian lampu padam dan langsung disambut dengan sorakan penonton yang meriah. Mulai terdengar suara dentuman berulang-ulang mirip suara bass yang sepertinya dihasilkan dari komputer/keyboard. Dengan iringan suara tersebut, terlihat keempat musisi yang semuanya berpakaian warna hitam naik ke atas panggung secara bergilir  dari samping kanan dan kemudian menempati posisinya masing-masing.  Suara dentuman tersebut menjadi semakin jelas dan tidak lama beralih ke suara bass yang ternyata merupakan intro dari lagu In the Dead of Night.  Berbeda dengan konser tahun sebelumnya yang memakai lagu Alaska sebagai lagu pembuka, lagu ini dipilih mungkin karena ingin langsung menampilkan permainan Alex Machacek.  Lagu ini dimainkan dengan penuh energi dan langsung menghentak membuka suasana malam tersebut.  Keempat musisi terlihat sangat gagah dengan masing-masing instrumentnya.

 

Seperti di albumnya, lagu ini langsung disambung dengan lagu By the light of Day yang dimainkan secara bertiga (Alex menghilang ke balik panggung) dan menampilkan solo Eddie dengan biola berwarna biru (Eddie memiliki beberapa biola dengan warna yang berbeda dan ditampilkan secara bergantian di konser ini). Masih bagian dari In the Dead of Night, lagu berikutnya, Presto Vivace Reprise, kembali dimainkan secara berempat.

 

Selanjutnya adalah lagu Nevermore.  Lagu ini termasuk lagu yang paling saya tunggu, karena selain duet solo gitar dan keyboard yang memang menjadi highlight dari lagu tersebut, saya tertarik sekali mendengar bagaimana lagu ini akan dibawakan oleh Terry. Sepengetahuan saya, lagu ini belum pernah dimainkan Terry. Saya sangat suka bagaimana Terry dapat membuat lagu lagu yang dulu dimainkan oleh Bill Bruford menjadi lebih menarik dan mantap didengar – apalagi ditambah dengan beberapa ciri khasnya seperti penggunaan double bass drums dan permainan cymbal yang lebih bervariasi.

 

Sesuai harapan,  duet  solo keyboard dan gitar dibawakan secara mempesona oleh Eddie dan Alex. Seolah olah mereka sedang berperang dengan solo yang saling sahut menyahut.  Penampilan dan gaya permainan Alex mirip dengan Alan Holdsworth – bermain tenang namun solonya memukau dan terasa pas sekali untuk  lagu ini.  Dari sisi permainan drum, Terry membawa lagu ini menjadi  terasa lebih rock – tetap enak dan tidak berlebihan.

 

Lagu berikutnya adalah Thirty Years yang seperti dua lagu sebelumnya berasal dari album pertama. Dimulai dengan John bernyanyi secara pelan diiringi suara keyboard dan gitar yang sayup-sayup serta bunyi bell dari Terry. Melodi lagu ini terasa mencekam  dibagian awal, dan kemudian berlanjut menjadi lebih keras dan kompleks.  Disini, suara bass John sangat terasa seperti dentuman.  Pada bagian-bagian tertentu terutama yang tidak ada bagian gitarnya, Alex terlihat lucu karena sempat-sempatnya dia jongkok sambil menunggu bagiannya muncul.

 

Carrying No Cross menjadi pilihan lagu berikutnya. Lagu ini sebenarnya sudah dibuat sebelum album ke dua sebagai tambahan lagu ketika UK mengadakan konser masih dengan formasi Allan Holdsworth dan Bill Bruford (versi ini  dapat didengar maaf di beberapa rekaman bootleg).  Dengan melody yang juga mencekam dibagian awal, lagu ini dimainkan secara bertiga sesuai versi di album Danger Money – Alex kembali menghilang ke balik panggung.  Lagu ini mempunya durasi paling panjang dan saya rasa menjadi favorit banyak penggemar musik progressive karena menampilkan solo keyboard tingkat tinggi disertai dengan permainan drum yang aggressive dan mendukung.

 

Part 3 – The solos, the shorts and the surprise

Setelah mendengar lagu-lagu UK yang masing-masing berdurasi lebih dari delapan menit, tiba saatnya untuk mendengarkan pertunjukan solo dari Terry dan Eddie. Dimulai dengan solo drum Terry yang berdurasi selama kurang lebih sepuluh menit. Terry mempunyai solo yang berbeda dengan drummer lain karena berbentuk seperti suatu komposisi lagu yang utuh dan menampilkan banyak teknik ostinato serta dimainkan pada hampir semua bagian dari set-drumnya yang besar tersebut.

 

Selanjutnya giliran Eddie, pertama dia memainkan lagu Nostalgia (dari album Zinc – Green Album) dengan biola. Suasana ruangan dibuat gelap hanya bersinar lampu dari bawah yang menerangi dan menimbulkan warna terang hijau pada biola yang dimainkannya. Kemudian Eddie berimprovisasi menampilkan berbagai cara bermain biola, yaitu mengesek dan memetik senar, serta mengetok badan biola, yang semuanya menimbulkan beberapa suara yang unik. Setelah biola, Eddie menyambung dengan bermain beberapa lagu di keyboard, diantaranya yang saya ingat adalah lagu dari album solonya Theme of Secret. Solo spot Eddie juga berlangsung sekitar sepuluh menit.

 

Lagu Alaska membuka set lagu-lagu pendek. Mirip dengan konser tahun sebelumnya, lagu ini kemudian disambung dengan lagu Night After Night (bukan dengan Time to Kill seperti pada rekaman di albumnya).

 

Lagu berikutnya adalah Caesar’s Palace Blues yang bertempo cepat dan sekali lagi menampilkan kemahiran Eddie bermain biola.

 

UK mengakhiri set ini dengan lagu Forever Until Sunday yang merupakan salah satu lagu dari album One of a kind milik Bruford.  Saya pernah baca di media dulu bahwa lagu tersebut sebenarnya merupakan lagu yang dibuat semasa Bill Bruford masih bersama UK dan bahkan pernah dimainkan sebagai lagu tambahan ketika konser promosi album pertama UK. Saya tidak menyangka kalau lagu tersebut yang dipilih sebagai lagu surprise. Dibagian awal lagu ini, Eddie tampil dengan biola berwarna biru dan memainkan melody yang menawan dan sungguh enak didengar.  Pada bagian keras lagu ini, John bermain dengan gaya slap diiringi dengan solo menarik dari Alex. Benar-benar lagu yang indah dan kini menjadi favorit istri saya.

 

Part 4 – The Encore

Sambutan penonton sangat luar biasa. Disuasana lampu gelap, terdengar teriakan “encore” dan “UK” dari penonton yang semakin lama semakin keras (mirip dengan teriakan pada pembukaan album Night After Night). Akhirnya munculah Eddie, John dan Terry yang kemudian memainkan lagu Rendez-vous 6:02. Suara John terasa indah sekali dan mirip sekali dengan suaranya di album Danger Money.

 

Lagu The Only Thing She Needs menjadi lagu terakhir malam ini, dimulai dengan intro drum yang khas dari Terry dan dilanjutkan dengan vokal dan permainan instrumen lainnya yang membuat penonton semakin kagum. Walaupun John, Eddie dan Terry sudah berusia diatas enam puluh, mereka terlihat masih gagah dan dapat bermain dengan energi yang luar biasa. Lagu ini menjadi tambah asik karena Alex ikut bermain.

Tidak terasa waktu sekitar dua jam telah berlangsung. Penonton benar-benar bergembira dan pada akhir lagu terakhir memberikan standing ovation yang meriah. Tampak juga wajah gembira dari keempat musisi UK ketika mereka kedepan panggung dan menyampaikan terima kasih serta pamit kepada penonton. Suasana akhir konser terasa masih akrab dan meriah antara sesama penonton, dan kegembiraan saya kian bertambah ketika salah seorang kru memberikan salah satu bekas drums stick yang dimainkan Terry … Sungguh suatu pertunjukan yang sangat berkesan buat saya.

UK4

Gambar 3: UK 2013 memorabilia

CLOSING

UK is surely one of the best progressive bands of all times. Short lived, but heavy impact, memorable and full of surprises!

Note:

Daftar lagu yang dimainkan dapat juga dilihat di:

http://www.setlist.fm/setlist/uk/2013/grand-central-miami-fl-1bd885fc.html

TRS: Kafe Claro di Citos

April 2, 2014

Hari Senin ada extended progring dengan Tuan dan Nyonya Khalil LogoMotif. Bukan progringnya yang ingin saya bahas di sini tapi kafe dimana kami duduk dari jam 13:00 sampe dengan 21:30…ha ha …luwama bangeeeeet ….! Tapi gak terasa.

Nama kafenya adalah TRS dimana ternyata singkatannya apa boleh jadi adalah The Rock n Roll Station atau singkatan lain seperti diuraikan di buku menunya. Yang membuat saya klik adalah ketika saya mendengar sayup2 sebuah lagu yang tak asing lagi namun sudah begitu lama tak saya putar: Stairway to Heaven. Whoooaaaa ….!!! Adrenalin langsung muncrat! Suweneng rasanya ada kafe di Citos yang mau nyetel lagu ini. Memang saya sudah tiga kali ke TRS dan selama ini saya hanya deneger The Beatles aja yang diputar. Kali ini Led Zeppelin pun ada. Bahkan di saat kemudian ada Whole Lotta Love segala…. Wah, tuoooobzzz !!!!

-

IMG-20140331-07707

-

Dinding yang paling menarik perhatian saya .... Bukan karena BK nya tapi ada poster Pink Floyd di bagian bawah. Darah prog ku langsung muncratttzzzz ...!!

Dinding yang paling menarik perhatian saya …. Bukan karena BK nya tapi ada poster Pink Floyd di bagian bawah. Darah prog ku langsung muncratttzzzz …!!

-

Lapsing Gala ProgRing 29 Mar 2014

March 29, 2014

Alhamdulillah …Gala ProgRing yang merupakan progring ke 15 telah terselenggara dengan lancar penuh kekeluargaan. Memang bener2 galanya gala karena memang yang hadir segalanya …. Luar biasa!

Foto-foto akan saya upload bertahap ya… kata mas Khalil “picture says thousand words” …

image

-

image

-

image

-

image

-
image

-

-

-

Laskar terakhir yang culuuun abiszzz!

Laskar terakhir yang culuuun abiszzz!

-
image

 

-

 

Ketawa lepas karena bahagia berjumpa dengan sesama wong gemblung ...

Ketawa lepas karena bahagia berjumpa dengan sesama wong gemblung …

-

 

Ini pasti gara2 adanya guyon dari orang yang mengaku setengah manusia dan setengah iblis ...ha ha ha ha ...

Ini pasti gara2 adanya guyon dari orang yang mengaku setengah manusia dan setengah iblis …ha ha ha ha …

-

Pak Dokter kita memang alim ya ...

Pak Dokter kita memang alim ya …

-

Keluarga sakinah, mawadah, warrahmah ...warrocker ...

Keluarga sakinah, mawadah, warrahmah …warrocker …

-

Mamak Jon Lord dan pak Alfie ...

Mamak Jon Lord dan pak Alfie …

-

Suit suit ...yang paling muda ....!

Suit suit …yang paling muda ….!

-

IMG-20140329-07682

Pak Alfie sedang ngajarin Mamak bagaimana menikmati musik prog yang benar …. “Gini lho mas Mamak …..”

-

So convincing when he explains about visual identity ... Without logo life would be a mistake maaaannnn!!!!

So convincing when he explains about visual identity … Without logo life would be a mistake maaaannnn!!!!

-

Blusukan di Rumah pak Roi

March 28, 2014

Herman

Yth. Mas GW, di bawah ini saya kirimkan tulisan yang mungkin pernah dikomunikasikan Pak GT kepada Mas GW, tapi berhubung baru ready sekarang maka dengan permohonan maaf baik kepada Pak GT maupun Mas GW maka baru terkirim sekarang. (Herman)

—-
Atas undangan Pak GT beberapa waktu yang lalu saya berkunjung ke rumah Pak Roi. Sore itu saya bertemu Pak GT, Pak Alfie dan Mas Nast dan tentu saja Pak Roi. Seperti sudah kita ketahui bersama rumah Pak Roi fotonya sudah pernah ditayangkan di Blog gemblung ini. Pak Roi adalah seorang arsitek yang hobi mengkoleksi musik dalam segala bentuk dan segala pernak perniknya seperti piringan hitam, CD, majalah, poster, buku, patung kecil grup Band atau artis musik sampai Dart yang bergambar sebuah grup band. Dengan keahliannya sebagai seorang arsitek maka koleksi yang jumlahnya cukup banyak di tata si di seantero rumah tinggalnnya. Tak ada sudut ruangan yang bebas dari benda artefak yang berkaitan dengan musik tersebut. Saya berkeyakinan benda benda tersebut terkumpul secara bertahap. Hal ini memberi kesempatan terbangunnya ikatan emosional Pak Roi dengan benda2 tersebut sehingga semua benda artefak tersebut merupakan benda2 istimewa bagi Pak Roi. Hal ini membuat Pak Roi menata benda2 tersebut dengan totalitas segala kecintaannya. Hasilnya adalah sebuah komposisi display artefak2 dipadukan dengan tata cahaya yang luar biasa, enak di mata dan semua benda mendapat porsi untuk diperhatikan. Suasananya perpaduan antara kafe dengan museum yang modern. Ruang tamu, ruang makan, ruang keluarga, tangga ke lantai 2, mezanin ( di rumah tinggal ) semua full display benda benda musik. Juga, di rumah sebelahnya yang semua lantai 2nya dijadikan ruang koleksi….. wah dahsyat….

IMG_7208 edit low

IMG_7223  edit low

sampul album Jethro Tull Aqualung ini berisi PH dan CD 4 keping IMG_7227

-
Benda2nya sendiri membuat kita berdecak kagum, seperti poster antic personil The Beatles, poster majalah Pop Foto, sampai majalah Aktuil lengkap dari tahun ke tahun, lebih lebih album PH , Box Set. Ada yang sempet saya buka bersama Pak GT yaitu Box Set Jethro Tull berupa paket CD dan PH … speechless –lah. Dan …ini….sound systemnya …. menggelegar suaranya .…singkat kata rumah Pak Roi ini memanjakan baik mata maupun telinga kita… dan menurut saya layak untuk dijadikan obyek wisata dan saya sudah menjadi wisatawan yang dipersilahkan untuk blusukan memasuki semua ruangan…..
Hari itu kita juga sempet ketemu dengan Jelly Tobing, Pak Didiek (Ketua KPMI),. Keenan Nasution juga sempat datang bersama istri Ida Royani serta tak ketinggalan Bang Oman.
Pak GT sudah membisiki saya bahwa sudah ada rencana untuk mengusulkan Prog Ring teman – teman Blog Gemblung di rumah Pak Roi.
Begitulah cerita hasil blusukan.
Salam Jreng.
Herman.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 145 other followers