Archive for the ‘Counting Out Time’ Category

The 40-Year ProgGraphy (2 of 40)

February 21, 2014

Periode Lima Tahun Pra-Prog 

The 40-Year ProgGraphy Pra-Prog 2 of 40

-

Pada periode sebelum saya mengenal musik yang kemudien populer dengan sebutan prog, selera musik saya sangatlah biasa dan seperti umumnya orang lain. Namun bila dibandingkan dengan temen-temen saya sebaya saat itu saya lebih gila dalam menyukai musik. Saat itu memang saya selalu menandai hari-hari saya dengan mendengarkan musik, terutama dari radio karena memang saya belum kenal kaset atau pemutarnya. Di Madiun ada dua radio swasta resmi yakni Moderato dan Gabriel plus RRI. Saya menikmati musik ya dari radio listrik merek GE yang kemudian diupgrade ke radio “transistor” merek Ralin. Hebat juga tuh kalau dari segi ukuran terjadi perubahan drastis karena radio GE besar sekali plus “salon” (loudspeake) yang ukurannya besar seperti koper besar. Sedangkan radio Ralin hanya berukuran sebesar batu bata merah. Ciri khas siaran radio saat itu adalah saling kirim lagu dan selalu dengan tagline “Dengan ucapan ….” …ha ha ha ha …jadulsonik nostalgik tenan!

Radio yang saya sering setel adalah Moderato dimana radio ini pulalh yang akhirnya sering memasang intro Child In Time di saat menjelang relay siaran berita dari Radio Republik Indonesia. Dari radio ini pula saya mengenal Koes Plus, Koes Bersaudara, Panbers, NoKoes dan sebagainya. Lagu yang saya suka saat itu “Kelelawar” yang karangan almarhum Murry. Saya suka karena drums nya kayak kotekan “Dhuk tak dhuk …Kelelawar sayapnya hitam!” ….

Musik dan Sepeda Jengki

Saya lupa tepatnya tahun berapa gitu, pokoknya saat saya sering ikut Pramuka setiap hari Minggu, ibu saya dengan baik hati membelikan sepeda jengki laki-laki merek Forever warna hijauDSC_0018tentara. Waduh edan! Saya suwenengnya setengah modar mendapat hadiah sepeda dari ibu saya ini. Rasanya masih kelas 5 SD saat itu. Di Madiun saat itu memang lagi ngetren sepeda mini. Sebenarnya saya minta sepeda mini karena sexy: sadelnya panjang terus di belakangnya ada sandaran. Jadi, bisa buat boncengan seperti orang naik motor. Keren deh! Namun ibu saya secara bijak menolak halus dengan pertimbangan bahwa kalau sepeda mini itu gak akan lama kepake dengan beranjaknya saya menjadi lebih dewasa. Saya kuciwa, tapi sebenarnya ibu benar sih. Sebenarnya sepeda jengki juga ngetren di tahun sebelumnya karena saat itu sebenernya sepeda yang dikenal orang hanya sepeda unta (di madiun disebutnya sepeda “Cap Tank”) dan ibu sebenarnya sudah punya peninggalan dulu merek Gazelle yang buatan Belanda. Tapi saya gengsi pake Gazelle karena kesannya tua gitu…ha ha ha ha … [Kisah mengenai permintaan saya ke ibu terkait sepeda mini, silakan baca disini ]

Saya senang sekali dibelikan sepeda jengki Forever ini dan saya merasa gagah kalau sedang mengonthelnya. Saat itu memang yang tren sepeda jengki merek Phoenix, Asia Bike atau Sim King. Bagi yang naik sepeda jengki, rasanya punya kelas beda, begitu kira2 … ha ha ha … Sedangkan yang pake sepeda Fongers, Gazelle atau lainnya dianggap kuno alias ketinggalan jaman …. Dengan sepeda jengki itulah saya sering melanglang buana seputar Madiun bahkan pernah sampai Nganjuk (jarak 50 KM dari Madiun). Yang lebih senang lagi, saya selalu semangat karena sambil gowes sambil nyanyi atau senandung Bunga Di Tepi Jalan, Kelelawar, Diana, Main Belakang, Nusantara, bahkan beberapa lagu “barat” seperti The Cats dan The Beatles sebangsa Hey Jude dan Don’t Let Me Down (cocok sekali ya …sambil gowes nyanyi lagu ini ….serasa semakin lengket dengan sadel sepeda)….

Pada era yang sama itu pula saya sering nangkring nebeng baca buku di undak-undakan rumah paviliun di Jl Sumatra 26, Madiun. Ya, rumah kami ada Paviliunnya dan ditempati oleh keluarga Paklik Djajadi (purnawirawan) yang memiliki lima orang anak, semuanya putri. Waktu itu saya terbilang dekat dengan mbak Wati (kira2 dua tahun di atas saya) yang merupakan anak kedua dari Paklik / Bulik Djajadi. Nah, keluarga ini paling suka koleksi buku2 komik wayang karya RA Kosasih, yaitu Mahabarata, Barata Yudha dan Parikesit. Saya rutin membaca komik-komik tersebut terutama Mahabarata dan Barata Yudha yang kisahnya sangat menyentuh hati dan membekas sampe sekarang. Lucunya selagi baca, saya sering senandung lagunya The Cats “Lea” dan “I’ve Got To Know What’s Going On” sambil menghayati alur cerita Mahabarata. Saya tak perlu uraikan panjang lebar karena pernah saya ulas di blog gemblung ini.

[Kisah terkait Mahabarata dan musik 70an ini saya pernah ulas disini dan juga disini ]

Disunat dan Kenal Uriah Heep 

Pada saat saya libur sekolah di kelas 6 SD saya mengunjungi Jakarta ke rumah tante saya di Tebet Barat dimana kakak saya mas nDoet dan mas Jokky tinggal. Yang membuat saya terkesan adalah 220px-Deep_Purple_-_Fireballadanya kaset rekaman Remaco bertajuk Deep Purple yang ternyata album Fireballs. Saya hanya inget ada satu lagu yang nunjek ulu ati dan saya suka sekali lagu tersebut yakni “Fools”. Gila ….lagu ini keren banget. Ngerock abis! Saya suka bagian interlude dimana hanya ada suara Hammond dan gebukan drums nan indah. Wis ….rasane gagah tenan! Itulah kali pertama saya njegrak rambut terpesona dan kepincut dengan musik rock. Keren banget dah lagunya … apalagi di segmen yang ada tereakan Gillan : “There can be bad blood in all and I can see. It’s in my brain…” dinyanyikan dengan penuh aksentuasi. Kerrreeennn …..!  Apa lagi bagian ini: “Man is not my brotherhood” ….WHOOOOAAAAAA….. serasa tuob tenaaannn!!!

Selain itu juga saya senang lagu “I Can Feel Him In The Morning” dari Grand Funk Railroad yang GrandFunkSurvivalpertamanya saya suka karena ada dua anak kecil berdialog dan suaranya terpisah speaker kanan dan kiri. Memang saat itu sedang tren teknologi STEREO. Edan tenan …saya suka lagi ini meski gak ngerock amat. Saya rasa dua lagu inilah yang membawa saya ke ranah musik hingar bingar.

Pada saat kelas 1 SMP saya disunat sama Mantri sunat paling top di Madiun, namanya Pak Djoremi. Biyuh …saya takut …lha manuk nggo dalan uyuh kok dikethok (dipotong – red.) kulite …. Tapi seneng juga karena hasil akhirnya nanti bentuknya bagusan, ada helem-nya dibandingkan bentuk kuncup yang suka sulit membersihkan kalau abis pipis …ha ha ha ha ha … Saya ke rumah pak Djoremi pagi hari jam 6:00 diantarkan oleh mobil kuno milik pak Parto yang tinggal di seberang rumah kami di Madiun. Selain itu juga ada pak Sudjio. Rumah pak Djoremi di depan terminal bus Madiun, terusan jalan Thamrin. Alhamdulillah sesi pemotongan kulit manuk berjalan lancar.

Sorenya saya mendapatkan kunjungan dari kolega ibu saya dan tentu ada angpo nya. Ternyata semua angpo terkumpul sekitar Rp. 23.000,- (dua puluh tiga ribu rupiah). Tanpa pikir panjang, besoknya dengan diantar kakak saya, mas Henky dan Ibu, uang tersebut kami belanjakan sebuah Tape Recorder (automatic stop) merek National Panasonic, warna abu2. Waduh! Hati saya melonjak girang! Masalahnya kemudian: apa yang mau diputar, wong belum punya kaset? Ha ha ha ha ha ha ha ….. Untungnya mas Henky berbaik hati memilihkan enam kaset buat tape recorder kami yang baru. Enam kaset tersebut semuanya dibeli di Toko Miraco, termasuk :

  • Uriah Heep “Demons and Wizards” rekaman Starlite dan side B nya Khan “Space Shanty” dua lagu dan ditambah dua lagu dari Lucifer’s Friend “Where The Groupies Killed The Blues” dimana ada lagu berjudul Hobo nan nuansamatik kemlitik tenan.
  • Deep Purple “Who Do We Think We Are?” rekaman Nirwana dengan lagunya yang top “Woman from Tokyo”
  • Santana (lupa album apa, yang jelas ada lagu “No One to Depend On” ….. I got nobody JRENG! That I can depend on …dhuk dhuk jreng!!!!
  • Koes Plus “Bunga Di Tepi Jalan”
  • The Gembel’s (side B nya The Mercy’s)
  • Satu lagi lupa kaset apa …mungkin El Chicano.

Nah …inilah tonggak bersejarah bagi kehidupan saya menyukai musik rock secara utuh. Sejak 220px-Demons_and_Wizardssunatan itulah tiap hari saya dan mas Henky nyetel kaset Uriah Heep tersebut. Biyuh! Musiknya sungguh indah membahana dimulai dengan petikan gitar akustik Mick Box dan alunan vokal jernih David Byron …”He Was the wizard of the thousand kings ….” mak JUEGLERRRRRR ….hati saya langsung kesedak setiap mendengar intro dan bagian ini …hingga kini choy! So damn powerful this song is! Apalagi di bagian ketika drum mulai masuk DHUK DHUK DHUK …THAK DHUK DHUK JRENG! Whooooaaaaaa……nggulung koming tenan aku!

Yang juga saya suka, satu album semua lagunya enak dan urutannya sangat mematikan dan kami jadi apal urutan lagunya. Setiap nyetel kaset ini, selalu sampe abis kasetnya …ngentek pok tanpa ada interupsi di tengah kaset. Sungguh nikmat sekali. Karena saking seringnya nyetel kaset ini, ibu kami pun kenal band ini dan sering bilang kalau suatu hari saya mau nyetel tape: “Uriah Heep Tot …”, pesan beliau ….

(insya Allah bersambung)

Saya tambahkan lagi…

Pada periode ini pula saya mulai suka membawa tape recorder berpindah tempat dan sekaligus membawa kasetnya. Yang jelas, sejak punya National Panasonic saya jarang nyetel radio karena sedang keranjingan dengan Uriah Heep, Deep Purple, Santana, Koes Plus, Gembels, The Mercy’s dan juga El Chicano. Kaset Starlite berisi Uriah Heep itu sudah menjadi menu harian dan saya sangat suka sekali petikan gitar akustik Mick Box mengawali The Wizards nan nuansamatik tenan itu. Saya juga sering menirukan gaya nyanyi lagu2 Uriah Heep misalnya dengan Traveller In Time yang ditengahnya ada gebrakan suara drums, saya tirukan seolah saya ini Lee Kerslake. Wuih! Keren tenan! Selain itu ibu saya suka dengan Circle of Hands yang organnya menyayat hati itu ….

AKTUIL The Legend Sudah Terbit?

December 29, 2013

Sekitar beberapa tahun lalu yang tepatnya saya juga lupa,  saya pernah mengirimkan artikel amat panjang terkait kenangan pribadi terhadap majalah Aktuil. Saat itu saya kirimkan atas permintaan pak Odang,  salah satu pegiat Aktuil di saat jayanya dulu. Bahkan saya dan pak Alfie N Syahrine pernah kopdar dengan pak Odang di Blok M Plaza.

Pembicaraan saat itu cukup seru karena ada rencana menerbitkan buku atau majalah luks tentang Aktuil di masa jaya pitungpuluhan. Selain dengan pak Odang,  saya juga sering komunikasi dengan pak Buyunk yang juga sebagai owner dari grup ATL ( Aktuil The Legend) di Facebook. Mas Yuddi bahkan lebih intens lagi berhubungan dengan pak Buyunk Aktuil.

Beberapa hari lalu saya mendapat pesan dari Mas Hengky Malang Bernyanyi yang menyatakan ada artikel saya yang dimuat juga di ATL. Saya sendri kurang paham apakah majalah nya atau bukunya sudah terbit atau belum. Mungkin mas Yuddi lebih tahu. Mungkin juga karena keterbatasan ruang,  tulisan panjang saya akhirnya diedit ( baca: potong – red.) sehingga pendek sekali.

image

Mas Yuddi,  apa benar buku / majalah tentang Aktuil telah terbit?

As a matter of record …

July 16, 2013

image

Jangan kaget kalau saya posting kaset yg beberapa bulan lalu saya beli dengan sengaja dari Uninnesse karena kaset ini, selain New Wave nya Aquarius, menandai tahun kritis perkembangan musik prog yang hampir mencapai titik nadirnya. Coba liat kaset ini dibeli oleh pemilik sebelumnya yang bernama Lanemey Dewiane alias Ike T di bulan Januari 1983 alias tepat dua bulan sebelum Fish mendesahkan “So here I am once more THèNG!” nan fenomenal itu …. Artinya, kaset ini menunjukkan dahzyatnya punk dan new wave mengguncang industri musik saat itu yg berakibat runtuhnya dinasti progrock yg telah dirintis sejak 1969. Kalau gak ada Fish dan Marillionnya gak tahu lagi prog bakal nyungsep kemana. Selain itu …ini adalah bukti bahwa kaset bertahan selama 30 tahun bahkan lebih. Meski rekaman Hins ini dengan pita BASF namun masih kemrincing nikmadz bunyinya …. Lagunya lucu2 lho …. lihat aja ini:

image

That’s Very Old Cassette …

July 14, 2013

By: Domme

Aku mengenal dunia kaset sejak masih SD, tentunya dari bapakku. Beliau dulunya (tahun 1970-an) memiliki amplifier Sansui 6600, deck Akai, dan speakers Techncis. Beberapa belakangan kemudian dia tambah dengan eq Akai… Selera bapakku adalah lagu-lagu yang untuk ukuranku sangat tua, seperti Pat Boone, Jim Reves, dan lain-lain. Tapi pengaruh Beatles juga merambah ke rumah karena aku ingat, bapakku punya juga kaset Beatles, di samping grup lain Rolling Stones, Hollies, Marmalades, Everly Bros, dll (entah kemana kaset itu sekarang). Selain itu Beliau menyukai Ebiet G Ade.

Aku bahkan mengenal nuansa rock dari kompilasi milik bapakku, Sweet And Sentimental 2 rekaman Tops, di mana lagu pertamanya adalah Always Somewhere Scorpions. Di kaset ini juga ada lagu Hollies berjudul When I’m Yours, yang hanya pernah saya temukan di kaset ini. Di kaset lain, baik kompilasi maupun the best Hollies, aku nggak pernah nemu.

Dulunya aku kurang paham soal rekaman-rekaman apa yang sering dibeli bapakku. Mulai SMP barulah aku mulai mengenal fisik kaset itu. Saat itu kebetulan mulai pemunculan kaset dengan cover yang lebih modern tanpa foto tempel dan juga mulai kemunculan pita basf yang era itu sangat digandrungi, namun di masa ini kurang diminati karena masalah daya tahan.

Seiring dengan tahap pengenalanku pada fisik kaset…, aku pun membeli kaset pertamaku yaitu The Best Of ABBA Kings Record (kalau nggak salah tahun 1982). Lalu diikuti kaset demi kaset. Dan pengaruh rock mempengaruhiku saat aku membeli Golden Slow Rock rekaman GL yang berisikan Scorpions (Always Somewhere/Fly People Fly), Nazareth (Love Hurts/I Don’t Want To Go On Without You), Deep Purple (Soldier Of Fortune/When A Blindman Cries), Rollong Stones (Angie/I Got The Blues), Rainbow (Temple Of The King/Catch The Rainbow), Bad company (Love Me Somebody/The Way I Choose), Queen (Love Of My Life/Bohemian Rhapsody). Masing-masing grup dua lagu…, satu di sisi A dan satu di sisi B. Kaset ini kemudian menjadi favorit aku saat itu dan menjembatani aku membeli kaset-kaset grup yang ada di dalamnya dan mempengaruhi selera musikku hingga saat ini. Sayang, kaset ini sudah tak ada lagi.

Era kaset di mana aku mulai membeli pun mempengaruhi selera dalam hal fisik kaset. Aku sama sekali tidak suka yang foto tempel, karena menurut aku itu kaset jadul dan nggak modern. Ternyata terbawa hingga aku juga nggak suka Yess, Monalisa, Golden Bridge, dan lain-lain yang pake foto tempel. Apalagi yang pake foto tempel itu, selain, menurut aku, covernya monoton, juga tidak punya lirik.

Waktu berlalu hingga era lisensi, di mana aku sempat juga beli beberapa waktu, namun terasa ada yang nggak pas. Banyak perbedaan, mulai cover yang menurutku tak menarik hingga kualitas pita dan rekaman. Belum lagu suasana nuansamatik yang tak terasa sama sekali…

Lalu mulailah merambah ke lapak-lapak kaset bekas yang saat itu masih banyak beredar di Medan. Kembali aku menemukan sesuatu yang hilang saat kaset-kaset era bajakan resmi yang nuansamatik full teronggok di lapak. Dan lagi-lagi, tetap saja pengaruh lama membuat aku tak menyentuh kaset berfoto tempel. Namun seiring waktu, karena desakan keberadaan album-album tertentu yang kadang hanya dikeluarkan perekam tertentu dan karena kaset nuansamatik juga makin susah didapat, maka rekaman Yess, Golden Bridge, dan Monalisa pun mulai masuk rak kaset. Namun belum untuk kaset-kaset yang menurutku terlalu jadul, seperti Lolita, Starlite, dan lain-lain, termasuk yang dikenal dengan kaset hitam putih.

Hingga kemudian aku gabung dengan blog super gemblung ini. Beberapa teman kemudian membahas album demi album nuansamatik dan banyak di antaranya adalah dari kaset super jadul itu. Hampir bersamaan aku juga mulai merambah dunia maya mencari kaset, mulai dari toko online hingga facebook. Ketika kaset super jadul diulas di blog ini, maka kemunculan kaset-kaset super jadul di toko online dan facebook mulai menarik perhatian. Ditambah makin banyaknya album yang aku tau aku belum punya, dan hanya ada di kaset super jadul itu, maka aku pun mulai tertarik membelinya, hingga akhirnya malah suka, walau belum seperti kegandrunganku pada rekaman Team. Dan akhirnya, walau belum banyak, aku kini sudah mengoleksi kaset-kaset super jadul.

OldCassettes1

OldCassettes2

OldCassettes3

OldCassettes4

OldCassettes5

OldCassettes6

OldCassettes7

OldCassettes8

OldCassettes9

OldCassettes10

OldCassettes11

Untuk urusan pita, memang kaset super jadul kebetulan rata-rata berpita maxell atau TDK, sehingga daya tahan sangat teruji. Namun untuk kualitas rekaman, bisa dikatakan tidak merata. Apakah karena pengaruh usia atau teknologi saat itu, kaset-kaset super jadul kadang ada yang kualitas suaranya prima, namun ada juga yang tidak begitu prima. Tapi kadang justeru di situ salah satu daya tariknya. Karena dengan suara yang agak kasar, kalau dengar lagu blues malah seperti terbawa ke masa lalu dengan nuansa suara seperti tadi. Kita seperti duduk di sebuah bar tempo dulu yang sedang memutar lagu-lagu blues dengan sound seadanya. Sungguh nuansa yang tak akan ada ditemukan di mana pun… Tapi aku pikir, tentu kurang enak didengar kalau untuk lagu-lagu hard rock yang butuh suara keras atau prog yang butuh suara yang lebih ‘open’ dan detail. Itu sebabnya, untuk kaset super jadul itu, aku lebih memilih untuk album-album blues…

Horas…!

Long Live Rock And Blues…

Sahur Dibangunkan John Barleycorn

July 14, 2013

Tadi malam tidur agak telat, menjelang jam 2 tapi bisa bangun sahur. Kali ini rasanya bangun sahur bahagia banget dan tentunya bersemangat karena sebelum bangun mimpi John Barleycorn (Must Die). Gak tahu ceritanya bagaimana, yang jelas dalam mimpi tersebut saya sedang hadir dalam sebuah acara. Terus di dalam acara tersebut ada seorang bule yang agak berumur menyanyikan lagu Traffic paling nuansamatik sepanjang masa dan tak lekang dimakan waktu: John Barleycorn (Must Die). Asik banget tuh si bule nyanyiinnya. Rasanya kagak pake musik, hanya acapella aja sambil tepuk tangan. Tapi nuansa yang dia ciptakan sungguh sangat bersemangat. Sehingga saat bangun, saya masih terasa seolah sedang ikut bernyanyi sama dia sambil tepuk tangan mengikuti tempo lagu. Begitu sadar bahwa ini sekedar mimpi, tangan saya langsung nyamber HP di sebelah tempat tidur dan langsung memasang lagu ini melalui HP. Duh ….indah sekaliiiiiiii …. Bener2 tak terlukiskan dengan kata2 indahnya ….

Ada yang belum tahu lagu ini? Yah …kalau belum tahu, kemana saja engkau habiskan waktu dalam hidupmu? Kalau buat sepenuhnya beribadah kepada Yang Maha Kuasa ya bolehlah terampuni … Tapi kalau ngaku penggemar musik namun tak tahu lagu ini, mending ke laut aja lah … Melihat burung camar terbang dan nelayan berbondong-bondong kelaut sambil menikmati lagu Leo Kristi yang liriknya seperti itu ….he he he he …. Tapi sejujurnya, engkau ini termasuk kelompok orang yang merugi bila belum pernah mendengarkan lagu ini. Sumprit! Huwenak tuwenaaaaaaaan lagune rek! Tak hanya itu ….ini full nuansamatik kemlitik nostalgik memorablik tenan…..

Pertama kali saya kenal lagu ini tak sengaja dari kaset kompilasi FOLK SONGS Vol. 2 rekaman Perina Aquarius hitam-putih dengan cover cewek bule main gitar (kayaknya Melanie, artis jadul). Tadinya saya gak suka kaset ini karena jelas bukan rock. Namun kadang kala kalau capek ngerock saya setel juga kaset punya mas Henky ini. Lagu pembukanya yang saya ingat adalah Please Mister Please (Olivia Newton John). Di dalamnya ada juga lagu Five Hundred Miles. Kalau gak salah, John Barleycorn Must Die ini ada di side B lagu kedua dari akhir. Jadi termasuk lagu yang tak diandalkan. Namun …hati saya TERSAYAT-SAYAT bak sembilu dibelah sepuluh …opo kuwi? Embuh! Yang jelas itu lagu nunjek ulu ati banget! Mulai dari petikan gitar di awal lagu hingga vokal nan bersih dari Steve Winwood …”There were three men …” wadouw biyoung ……huwenak tenan …!!!! Ngguweblak!. Trus alunan flute dari Chris Wood sungguh menambah sayatan sembilu menjadi lebih tajem lagi. Lagu ini mesti tergolog PROG soalnya pake flute lho … ha ha ha ha ha ….. Setiap lekukan segmen di lagu ini semuanya indah bahkan sulit menemukan segmen yang tak enak, semuanya nunjek ulu ati melodinya. Apalagi pas Winwood nyanyi lirik ini: “And little Sir John …..” WHOOOOAAAAAAAAAAAAAAAA….!! Ngguweblag!

Wis pokoke rungokno dewe! Iki lho versi live :

Piye? enak to? Yen ora enak, yo wis …ora usah melu2 dadi penghuni blog gemblung iki … wong lagu enak kok dipungkiri! Maka nikmat Tuhanmu yang mana yang kau dustakan.

Versi studia dari lagu ini ya dari album John Barleycorn Must Die tahun 1970 dengan line up:

- Jim Capaldi / drums, percussion, vocals
- Steve Winwood / guitar, organ, piano, percussion, vocals
- Chris Wood / saxophone, flute, organ, electric saxophone, percussion

Sayangnya …saya hanya memiliki CD nya dari album ini sehingga saya yakin hal ini tidak nuansamatik blas. Akan sangat nunjek ulu ati bila saya mendapatkan kaset Aquarius FOLK SONGS 2 karena dari situlah awalnya saya kenal lagu ini dan awal kenal Traffic juga meski sebelumnya kenal dari kaset mas Boedi, kakak sulung saya, saat saya dulu main ke Jakarta.  Tapi rasanya masih belum ada lagu John Barleycorn nya. Waktu liat kaset Traffic nya Bro Domme, saya berharap lagu ini ada di kaset tersebut karena memang masterpiecenya Traffic. Tolong ya Koh Win atau mas Danang atau Predator lainnya bila nemu kaset ini, tolong sikat aja, ntar saya ganti. Peliiiiisssss …..
Ini lho liriknya ….. Sungguh nunjek ulu ati tenan ….

There were three men came out of the west, their fortunes for to try
And these three men made a solemn vow
John Barleycorn must die
They’ve ploughed, they’ve sown, they’ve harrowed him in
Threw clods upon his head
And these three men made a solemn vow
John Barleycorn was dead
They’ve let him lie for a very long time, ’til the rains from heaven did fall
And little Sir John sprung up his head and so amazed them all
They’ve let him stand ’til Midsummer’s Day ’til he looked both pale and wan
And little Sir John’s grown a long long beard and so become a man
They’ve hired men with their scythes so sharp to cut him off at the knee
They’ve rolled him and tied him by the waist serving him most barbarously
They’ve hired men with their sharp pitchforks who’ve pricked him to the heart
And the loader he has served him worse than that
For he’s bound him to the cart
They’ve wheeled him around and around a field ’til they came unto a barn

And there they made a solemn oath on poor John Barleycorn
They’ve hired men with their crabtree sticks to cut him skin from bone
And the miller he has served him worse than that
For he’s ground him between two stones

And little Sir John and the nut brown bowl and his brandy in the glass
And little Sir John and the nut brown bowl proved the strongest man at last
The huntsman he can’t hunt the fox nor so loudly to blow his horn
And the tinker he can’t mend kettle or pots without a little barleycorn

Salam
G

Jimmy & Wes “Further Adventures” & “The Dynamic Duo”

July 7, 2013

Kaset kedua yang saya nikmati hari ini adalah kolaborasi antara pemain Hammond B3 yang konon menjadi guru atau sekurangnya mempengaruhi Jon Lord, Jimmy Smith, dan pemain gitar yang banyak berpengaruh kepada musisi kelas dunia seperti Pat Metheny maupun Steve Howe yakni Wes Montgomery. Uniknya kaset ini saya beli tak sengaja dan karena hasil peracunan yang diberikan oleh Bang Oman bahwa ini permainannya luar biasa, baik gitar maupun Hammond nya. Jujur saja saat saya melihat kasetnya, saya gak kenal nama dua orang ini. Bang oMan kemudian nyetel kaset ini dan saya sambil manggut-manggut karena memang musiknya keren. Gak salah kalau Jon Lord terpengaruh dan juga Steve Howe. Gak tahu bagaimana, ceritanya kaset ini akhirnya menjadi “bonus” bagi saya karena membeli kaset cukup banyak ke Bang Oman, beberapa bulan lalu. Namun karena memang tadinya saya memang naksir juga, saya akhirnya bayarin juga sebagai tanda keseriusan saya.

Sebenernya alasan saya membeli kaset ini sederhana sekali: rekamannya bener2 jadul karena masih jaman daftar lagu diketik di kertas tipis (lihat foto) dan covernya sekedar direprodksi hitam-putih yang saya rasa ini menjadi cikal bakal rekaman Aquarius. Jangan-jangan ini memang perekamnya Aquarius jaman dulu. Mengingat album ini keluaran akhir 60an maka bisa dipastikan kaset ini berusia sekurangnya 43 tahun kalau direkamnya di Losari pada tahum 1970. Sebuah kurun waktu yang amat sangat lama. Makanya saya tertarik mengkoleksinya.

Kesederhanaan yang penuh nuansa jadul

Kesederhanaan yang penuh nuansa jadul

Nama artis di samping kaset pun diketik lho ....

Nama artis di samping kaset pun diketik lho ….

Ini paling antik dari semuanya: daftar lagu diketik di kertas khusus buat ngetik jaman dulu (tipis) maksudnya biar nembus kalau diketik pake karbon .. Maklum teknologi foto copy belum ada saat itu ...

Ini paling antik dari semuanya: daftar lagu diketik di kertas khusus buat ngetik jaman dulu (tipis) maksudnya biar nembus kalau diketik pake karbon .. Maklum teknologi foto copy belum ada saat itu …

Dan ternyata sodara-sodara sesama kaum gemblung (di jaman digital kok balik ke analog …kaset pulak!) ….kualitas rekamannya sungguh prima tak ada sedikitpun cacat! Direkamnya juga di pita Maxell yang masih kuno sebelum ada versi UD itu. Wah ..bener2 antik nih kaset. Masih ingat saat itu saya posting kaset Joe Tex yang rekamannya hampir sama dengan ini? Saya menganggapnya dua kaset ini barang berharga, peninggalan budaya 70an yang musti dilestarikan. Ini saya ngetik posting ini sambil manggut2 menikmati alunan musiknya nan indah melalui Walkman tersambung ke speaker aktif Altec di komputer desktop rumah. Wah …sungguh tenteram jiwa ini menikmati musik jadul dengan permainan Hammond B3 yang khas dibalut dengan permainan gitar khas yang biasa saya dengar melalui permainan Howe dan ternyata ini adalah “embah guru”nya Howe …. Biyuh biyuhhhhhhhh …..

Kaset ini sebetulnya berisi rekaman album Future Adventures dan sisanya diisi dengan album lainnya dari kolaborasi yang sama yaitu “The Dynamic Duo”. Lucunya, yang dipake sampul kaset justru artwork dari album The Dynamic Duo yang merupakan side B sisa belaka. Sedangkan album Future Adventures itu artwork nya ini:

Further Adventures - Smith and Wes

Tapi sungguh ….seluruh kaset ini berisi musik jazz berkualitas tinggi dengan talenta permainan Jimmy Smith dan Wes Montgomery yang memang bener-bener dahzyat … Musiknya banyak tukikan maut namun dimainkan dengan gaya santai menyentak. Wis pokoke nuikmat tenan rek ….Matur suwun kagem bang Oman yang menawarkan saya kaset nuansamatik ini …

Bener-benr asik ….. Memang menikmati musik via kaset bener-bener luar biasa indahnya …..

Salam,

G

Stomu Yamash’ta’s Red Buddha Theater by Yess

July 6, 2013

image

Ah …gara-gara kegilaan temen2 di blog ini kepada barang mungil seksi yang namanya kaset, siang ini begitu pulang dari workshop saya langsung nyetel kaset Yess seri #247 ini. Jujur saja kaset ini sejak memilikinya di bulan April 1982, atau 31 tahun lalu, hingga kini saya jarang banget nyetel. Menang saya akui musiknya asik. Namun saat itu kok saya lebih suka nyetel Genesis, Yes, Pink Floyd atau Gentle Giant mengingat sepertinya lebih ngeprog sedangkan Stomu lebih avant garde atau bagian dari genre prog. Mak jeglerrrrr …edaaan …. musiknya keren dan rekamannya bener2 prima lebih indah dari yang saya bayangkan karena memang bass nya solid dan treble nya tak kasar. Semua lagu di side A bisa tergolong sangat mudah dicerna dan memang indah, dibuka dengan Sunrise dan My Little Friend. Permainan perkusi Stomu memang layak dipuji. Saya mendapatkan suasana musik dari timur tengah namun dengan kemasan musik modern. Wah bener2 nikmat.

image

Berita dari Kawan

July 5, 2013

Halo temen2 sesama gemblungers …
Maaf ya belakangan ini rada jarang komen lantaran seminggu ini jadwal penuh banget. Sekarang aja sedang berada di Aryaduta untuk Change Management workshop. Maksude berubah dari digital kembali ke analog ….kaset pulak! Ha ha ha …..

Sore ini saya terhenyak dengan sebuah email yang mengesankan dari seorang kawan lama yang ketemu gara2 belanja cd di Aquarius. Namanya bro Adrian. Beliau ini juga kolektor PH. Yang saya kaget ternyata beliau shift ke kaset! Edaaaaaannnn  …. !!!

Makanya …. saya post aja emailnya di sini biar kita makin semangat ngingoni kaset ….he he he ….

————

Pak gatot..how’s life ? Masih kenal saya kan adrian yang 6 tahunan lalu kita ketemu di aquarius pondok indah..maaaaf banget,hp saya hilang,seluruh contact,bbm,hilang semua..

Pak gatot,boleh tau pin bb dan no telp bapak ?

Oia,bagaimana ya pak cara men-post di gwmusic.wordpress ? Khususnya mengenai kaset2 jadulmatiknya..hehe..saya mau share melalui blog bapak saya shift dari cd ke kaset..hahaha..sudah gak ada cd satupun sekarang..maaf ya pak,saya baru mulai belajar blog..makasiiih pak gatot..

Keep rocking!!!

Adrian

Saya Harus Berterima Kasih Kepada Blog Ini

June 8, 2013

By: Herwinto

Sejak bergabung dengan blog ini setengah tahun yang lalu saya telah menemukan kembali kebahagiaan saya yang pernah hilang, yakni kebahagiaan hidup bersanding dengan kaset kaset rekaman Yess. Memang saya telah memiliki CD import secara lengkap untuk group favorit saya YES dan GENESIS, namun semua itu terasa kering dan ketika berjumpa dengan blog tercinta ini maka naluri berburu saya hidup lagi, dan meskipun perlu kesabaran akhirnya dua band kesayangan ini telah saya dapatkan rekaman yess nya meskipun belum kelar, mohon doa kawan kawan saya agar koleksi ini segera lengkap…..kegemaran saya akan kaset semakin hari semakin mantab karena ternyata menurut uji coba dari beberapa kawan, usia hidup CD belum bisa lebih dari 20 tahun, sebab CD usia 10 tahun saja kadang udah gak bisa baca, padahal kaset yess kita usianya udah 30 tahunan….mantab puol….Salam!!!

image

image

Heavy Slow by Rover

May 17, 2013

By: Hendrik Worotikan

Rupanya, kaset dengan titel ‘Heavy Slow’, bukan saja pernah dirilis oleh Yess dan Atlantic Records (AR), tapi ada juga yang lainnya – rilisan Rover.

Kaset dengan ciri cover berwarna coklat dan biru ini, sangat menjadi perhatian saya ketika pertama kali nya saya liat di lapak kaset milik pak Zamzani di pasar Beringharjo, Yogya, minggu lalu.
Ditambah lagi ini adalah kaset kompilasi Heavy Slow. Sebab itulah kaset ini menjadi prioritas untuk saya miliki.
Lagi pula, selama ini saya belum pernah memiliki kaset yang diproduksi Rover. Namun sejak minggu lalu, saya sudah mengoleksi paling tidak 2 kaset Rover, yakni Bee Gees In Sesame Street Fever dan HS ini.

Terdapat 14 lagu yang terekam dalam kompilasi ini. Sebagian lagunya sudah saya miliki atau saya dengar sebelumnya melalui kaset lain.

Lagu pertama di side A, diawali oleh band Highway (Stranger). Terdengar tidak terlalu istimewa, tapi lumayan lah sebagai awal dari sebuah album kompilasi. Toh…masih banyak grup-grup berikutnya. 

Band Natural Gas, berikutnya. Kalo kita simak, lagu-lagu nya kerap menghiasi beberapa kaset kompilasi. Salah satunya adalah ‘Once Again A Love Song’, tapi di kaset Rover ini mereka tampil lewat lagu ‘I Believe It’s Love’.
Kemudian, TollHouse (Goodbye). 
Hadeeeh…ini termasuk lagu yang saya suka sejak lama. Pertama kali dengar lagu ini melalui pita kaset Prambors Billboard III yang cover nya berwarna putih dan biru donker. Lagunya nge-hitz berbarengan dengan Ypsilon (Corner of My Life), Rainbow (Rainbow Eyes) juga Commodores (Three Time a Lady ), dll. Berlanjut dengan John Miles (No Hard Feelings). Nah…diingatkan bagi siapa pun yang ngga kuat hati nya…harap berhati-hati, karena hatinya bakal bisa menjadi butiran butiran debu, sangking terhanyut dalam melodi lagu nya. Hihihi.
Lagu ini pun ada juga di kaset Sweet Rock 4 produksi Perina, yang pertama kali saya dengar.

Setelah The Baby’s ( A Piece of The Action), side A di akhiri oleh The Marshall Tucker Band, yang terus terang saja baru kali ini saya dengar.

Side B – Heavy Slow rilisan Rover ini dibuka dengan sebuah lagu yang bisa membuat kita jatuh cinta.
Tampilnya Scorpion (Born To Tough Your Feelings) dengan aransemen musiknya yang menawan, diimbangi vokal yang sempurna ditambah lagi dengan adanya narasi suara perempuan berbahasa Jepang semakin menambah nilai lebih buat grup ini. 

Diawali dengan raungan gitar, Robin Trower muncul dengan ‘Long Misty Days’. Instrument gitar elektrik mendominasi sepanjang lagu.
Masih dengan instrumen gitar, yang juga mengawali intro di lagu Popol Ace ( Music Box). Ngga perlu banyak komentar karena lagu ini memang asyik.

Kayak (Where Do We Go From Here), merupakan lagu pamungkas pada side B, setelah sebelumnya ada Partner (City Light), Eddie Money (Save a Little Room Your Heart For Me) dan Journey (Winds of March).

Sesuai dengan namanya Heavy Slow, secara keseluruhan lagu-lagunya tidaklah terdengar lembut. Namun dengan suara dan aransemen musik dari grup-grup rock yang berjaya di tahun 70-an ini mampu menyihir dan menyentuh sanubari bagi siapapun yang mendengarnya.

Mas G yang baik, terima kasih.

Salam

Hendrik Worotikan 


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 129 other followers