Archive for the ‘Counting Out Time’ Category

Brosur Billboard Charts dari toko kaset Kotamas Yogya

August 20, 2014

Andria Sonhedi

image

Jaman kaset non royalty para produsen kaset punya cara mempromosikan kaset-kasetnya. Ada yang membuat iklan di majalah hiburan film & musik seperti Vista atau di majalah remaja Hai. Ada lagi yang mencetak brosur bulanan untuk memampangkan produk2 baru mereka serta tangga lagu/charts barat yang tentu saja dapat didengar lagu-lagunya lewat kaset2 produksi mereka juga.
Saya ingat kl Team Record paling lux brosurnya, full color dgn kertas glosy agak tebal. Aquarius memakai kertas biasa dengan warna biru. Billboard juga dgn dominasi merah muda. saya pernah dapat dari Atlantic yg luc (cover muka Madonna yg bawa penghargaan AMA) cuma sayangnya terbit sekali. AM record malah hanya gambar2 kaset tanpa ada resensinya, begitu juga Hins Collection.
Biasanya brosur-brosur tadi didistribusikan ke toko-toko kaset & gratis utk yang mau ambil. Sayangnya brosur2 saya (lumayan banyak jenisnya) hilang entah ke mana saat gempa Yogya, maklum barangnya saya tinggal di Yogya karena saya pikir lebih aman. Saya cuma nemu satu dari Billboard, itupun gara-gara saya pakai nyampuli buku tulis SMA saya :)
Kl yg brosur Billboard ini juga menuliskan radio-radio mana yang menyiarkan Billboard Top 50. Di Yogya saya selalu mendengarkan tiap hari Sabtu sore, apalagi saat itu saya sdg menunggu grup kesayangan saya Queen menembus peringkat #1 di tangga lagu.
Brosur yg saya tampilkan ini saya daptkan di toko kaset legendaris Kotamas Yogya, stikernya ada di pojok atas. Kotamas memakai logo Hins Collection mungkin karena di sana terbanyak menjual kaset terbitan Hins terutama yang Rockshots.


evil has no boundaries

Koleksi 234: Suzi Quatro / Alvin Stardust by Empire

August 19, 2014

Gatot Widayanto

image

Sebenarnya saya kurang tertarik menutar kaset ini karena band nya kelihatan cukup standar straight rock saja tanpa lekukan prog. Namun rekaman Empire cukup jarang saya dengar atau mungkin luoa, maka iseng aja saya putar. Ternyata kualitas rekaman dan pitanya masih prima sehingga musikbyang dihasilkan menjadi enak dinikmati sepanjang kaset diputar mulai dari side A. Memang Suzi Quatro ini rocker tulen karena di side A dia cukup ngerock dan lagu2nya pun jadi enak.

Side B nya malah Alvin Stardust yang saya kurang dengar selama ini atau mungkin saya kurang perhatian, musiknya juga gak ada yang istimewa. Namun saya putar juga karena biar pita kaset ini masih berfungsi.

Ah jadi terbiasa dan keenakan denger suara kaset aja belakangan ini.

image

-

Koleksi 234: Fleetwood Mac “Tusk”

August 15, 2014

image


Akhirnya kaset koleksi radio Djie Sam Soe (234) Madiun ini saya putar juga setelah saya evakuasi dari Malang akhir tahun lalu. Sungguh, saya sangat kagum dengan kualitas suara yang masih prima dari segi bass, treble dan mid ….sangat mantab di telinga. Yang patut disesalkan adalah ternyata kuping saya tak merasa nyaman menikmati musik Fleetwood Mac. Padahal, saya ngakunya sebagai generasi penggemar musik claro . Entahlah mengapa saya kok mendengarkan album ini hambar baik dari segi melodi maupun komposisi. Dari dulu sejak orang2 bilang bahwa band ini legenda dunia, saya kok gak pernah bisa SREG dengan musiknya. Apa sih hebatnya musik kayak gini? Wong pop biyanget …gak ada rock nya blas!

Ada temen-temen yang punya pendapat lain?

Dokumentasi Yang Terlupakan

August 15, 2014

Wahyu Triantono

Saya adalah generasi muda pertengahan 80 an yang bisa dikatakan beruntung karena sempat dan kebetulan bisa melihat penampilan group band rock indonesia era 70 an dan 80 an yang pada waktu itu masih rame2 nya membawakan lagu2 dari group band dari luar..saya sampai sekarang masih terkesan dengan SAS yang begitu fasihnya memainkan starway to heaven ledzep, Godbless dengan carry on my wayward son kansas hingga hello america def leppard atau Makara dengan lagu2 saga dll..itu merupakan kenangan masa lalu dan kenangan itu ingin saya lihat lagi seperti dulu tapi apa mau dikata keinginan itu hanya tinggal kenangan karena tidak ada media yang merekam penampilan mereka seperti halnya jaman sekarang..DOKUMENTASI itulah kelemahan kita..betapa irinya kita melihat The Beatles ketika masih belum ngetop (waktu masih ngamen di Jerman) sudah ada film dokumentasinya..dan ketika The Beatles menjadi band paling terkenal di jagad raya maka dokumentasi mereka dicari cari oleh para kolektor..seandainya band2 rock indonesia era 70 an ada dokumentasi berupa film seperti halnya the beatles maka betapa mahalnya harga dokumentasi tsb..majalah aktuil aja sekarang diburu kolektor apalagi media visual..sempat saya baca kemarau 75 (kalo salah mohon maaf) pernah di buat film oleh sutradara wim umboh? ( sekali lagi mohon maaf kalo salah) tapi dimana keberadaan film itu? Mungkin satu2 nya dokumentasi Godbless tahun 70 an hanya di film ambisi itupun hanya cuplikan saja tidak full..demikian juga dengan KOES PLUS tahun 70 an sama sekali tidak ada film dokumenternya ketika in action di panggung..dengan adanya dokumentasi berupa gambar bergerak maka kita bisa melihat perjalanan sejarah musik rock di Indonesia dan ini bisa menambah wawasan musisi muda sekarang..seandainya ada film dokumenter AKA wow !! Saya terus terang kepingin lihat bagaimana edannya Ucok di panggung..karena selama ini hanya melihat foto ucok di majalah aktuil hehe..Rock Never Say Die..

Old Days

August 3, 2014

Gatot Widayanto

Lagu dari Chicago VIII ini tiba2 menyeruak dalam playlist saya di iPod yang saya colokin di mobil. Saya ndak tahu berapa banyak orang yang suka lagu ini karena rasanya gak ngetop banget kala saya mendengar lagu ini pertama kali saat saya masih kelas satu SMA Negeri 1 Madiun melalui kaset rekaman Orient yang saya beli tgl 12 Januari 1976 ini. Begitu mendengar lagunya saya langsung mak JEDHUG menyukainya. Mungkin karena sederhana, pendek dan penuh semangat dan banyak staccato dari brass section nya. Gak salah kalau aransemennya seperti ini karena ditulis oleh James Pankow, trombonis dari Chicago.

Dari segi komposisi memang lagu ini rancak pol; dimulai dengan gebukan drum solo dari Danny Seraphine yang mengundag gairah untuk bersemangat terutama di pagi hari atau lagi nyetir; terus musiknya mak JRENG GENJRENG GEDEBAK GEDEBUK …. TET ,….TEEEER ….TEEET ….. GEDEBAK GEDEBUK …. bersemangat sekali … trus DHUK CEK DUK CEK …Trus vocal Peter Cetera masuk dengan gagah namun cara nyanyinya memelas (piye to? gagah kok gembeng! Embuh!) “Old days …..Good times I remember” ….wuiiihhh …!!! Ngguwajak tenan rek! Musiknya bertempo relatif cepat dan puncaknya justru pada saat brass section nya bersolo di menit ke 1:09 …. Whoooaaaa …nggeblak jaya!

Terlepas dari komposisi, lagu ini bermakna dalam yakni tentang nuansamatiknya jaman dulu yang digambarkan oleh James Pankow, Peter Cetera dan Terry Kath sebagai jaman indah ketika nonton pelem pake drive-in, celana blue jeans dan sebagainya. Walah! Kita saat itu tahun 1975 (album ini dirilis Maret 1975) justru remaja saat itu suka blue jeans dan celana cutbrai serta sepatu Exotic (hak tinggi, 7 cm)…ha ha ha … Lha kok Chicago bilang itu “old days” padahal di Indonesia melalui majalah Aktuil saat itu yang ngetren ya Jeans (Amco, Tira, Raphael, Levi’s dsb). Ini menunjukkan bahwa kala itu ada JEDA antara apa yang terjadi di negeri sono dengan di negeri kita. Sehingga fashion pun ada waktunya buat sampai di Indonesia, apalagi ke kota kecil Madiun dimana saya dibesarkan. Kalau yang nonton pelem pake drive-in jelas bukan dunia saya lha wong punyanya sepeda jengki merek Forever warna hijau tua kok …. Mobil? Terbayangpun tidak!

Makna selanjutnya dari lagu ini sangat cucok kita angkat sekarang karena bukankah dengan adanya internet dan media sosial begitu banyaknya acara reuni yang mencoba “nglumpukno balung pisah” (mengumpulkan kembali tulang belulang yang berpisah) puluhan tahun. Ini memang sudah menjadi tren sejak socmed seperti blog,  FB dan Twitter mulai menggejala dekade belakangan ini. Ada beberapa orang bahkan ingin menghidupkan kembali masa lalu yang lewat itu …..seperti tereakan di Old Days ini:

Please take me back
To the world gone away
Memories
Seem like yesterday

Old Days …..

Namun …masa lalu merupakan hal yang jauh dan gak bisa kembali. Life must move on ….seperti kata pepatah …

Yesterday is history. Tomorrow is a mistery.
Today is a gift …..that’s why it’s also called as PRESENT.

Tetap semangat!!!!!

# Ini kaset Chicago VIII yang saya beli tahun 1976 masih ada di saya dan saya simpan dengan baik. Kualitas suaranya masih prima karena direkam dengan Maxell UD. Rekaman Orient memang terkenal dengan trebel yang serba KEMRECES ……muwantab sekaleee…….#

Chicago VIII

 

Artikel Majalah Aktuil : The Sensational Alex Harvey Band

July 2, 2014

Herman

 

Aktuil  Alex harvey Band  IMG_8096 low

Ketika buka – buka majalah Aktuil lawas di rumah Kediri kemarin saya nemu artikel Alex Harvey Band (AHB). Saya langsung inget Mas GW yang pernah mengulas Alex Harvey Band….. saya pikir ini sebagai oleh2 saya dari Kediri untuk Mas GW…..

Saya sengaja beri judul tulisan ini Artikel Majalah Aktuil : Alex Harvey Band dengan pertimbangan teknis  supaya kalau ada yang search “Majalah Aktuil” atau “Alex Harvey Band” baik di Google atau di Blog MFL maka tulisan ini bisa ikut muncul ….ben payu Mas ( biar laku Mas)…hehehe ….Maka saya urungkan niat untuk menuliskan judul “Oleh – oleh dari Kediri”…mohon dimaklumi….

Di artikel tersebut diceritakan bahwa  AHB  didirikan oleh Alex Harvey musisi asal Glasgow, Scotlandia  yang usianya sudah  38 tahun  waktu itu,  dan sudah malang melintang di dunia musik sejak usia 20 tahun. Alex membentuk AHB bersama konco2nya yang sebelumnya tergabung dalam band The Tear Gas asal Glasgow. Usia konco2nya tersebut rata – rata 10 tahun lebih muda sehingga Pak Alex ini dianggap Bapak oleh konco2nya tersebut.

Di majalah Aktuil ini musik AHB disebut sebagai perpaduan Climax Chicago dan Status Quo. Entah pas apa enggak sebutan seperti itu saya kurang paham, karena saya belum tau musiknya Climax Chicago. tetapi kalau dikatakan mirip Status Quo sepertinya kok tidak terlalu mirip…tapi Mas Yuddi mungkin lebih mafhum pas tidaknya kemiripan dengan musik  AHB dengan Status Quo.

Sayangnya dalam artikel ini belum menyebutkan lagu andalan AHB yang berjudul Next yang asik itu. Mungkin selengkapnya bisa dibaca langsung pada foto yang ada, kalau di klik sepertinya masih bisa kebaca tulisan aslinya.

Maaf sekali karena lupa memotret majalahnya sehingga lupa nomer dan tanggal terbitnya.

Ya… itu sekedar oleh oleh van Kediri Mas. Salam,Herman.

Sorry Friends, Disini Banyak Stonesnya

June 23, 2014

Budi Putra

image

Mengenang masa sekolah (SMP/SMA) memang menyenangkan. Sebab dimasa itu pulalah gelagat kebandelan mulai nampak dan dengan sok-sokan suka dicicipinya. Mulai dari nyetun sembunyi-sembunyi sampai bolos sekolah bareng-bareng hanya untuk bisa nonton konser musik rock. Dus dimasa itu pula cinta monyet mulai bersemi…kecuali mas Kukuh…hehehe…just kidding! Tapi yang paling mengasyikan dan mengharu biru tatkala kita mulai mengenal musik dan jatuh cinta pada grup band kesukaan. Dari sinilah ihwal ketertarikan dan perburuan segala sesuatu terkait band kesukaan dimulai yang kemudian terus terbawa hingga kini.

Selagi saya sekolah SMP (tahun 80an) sedang boomingnya The Beatles. Tapi juga dibayangi ketat oleh ketenaran The Rolling Stones. Temen saya bilang anak baik-baik lebih memilih Beatles tapi yang urakan gak bisa diatur mesti lari ke Stones…hehehe. Terus terang, saya awalnya Beatles maniac tapi seiring pergaulan yang ikut dilakoni dan berkat pendekatan teman sekelas maka saya mulai berpaling ke Stones. Gak keliru karena beberapa lagunya memang langsung nyantol dihati. Teman saya bilang kalo Beatles punya “Anna”, Stones ada “Angie”. Penasaran saya pinjem kasetnya dan saya dengerin…weihh, asyik juga nih. Petikan gitar dan permainan pianonya lebih nendang. Sebab lagu “Angie” lantas keingin-tahuan saya semakin dalam dan menjadi-jadi. Untuk itu, selain dipinjamkan kasetnya saya juga berupaya beli kaset Stones di Aquarius, Aldiron Blok M. Kaset pertama yang saya beli album Let it Bleed dan The Best The Rolling Stones. Sejumlah posternya pun mulai menempel disisi poster-poster Beatles. Di sekolah saya mulai rajin ngomongin Stones, selain mulai hobi corat coret didinding dan bikin grafiti “lidah melet” yang kesohor itu. Bukan hanya lagu-lagunya namun sampai penampilan/gaya mereka saya katakan pada teman-teman lebih cocok dan asyik dipandang. Dan sepertinya saran saya ini mengena. Karena selang beberapa waktu kemudian mereka mulai suka bersiul beberapa tembang populer dari Stones. Nah. mulai kena nih…gumam saya. Waktu itu juga sedang ngetrennya bikin gank. Maka tak mau ketinggalan kami pun bersepakat membentuk gank yang namanya kami comot dari salah satu lagu Stones: Sister Morphine—namanya aja yang serem padahal gak tau juga tuh arti sebenarnya…apalagi ikut-ikutan jadi morpinis…gak deh. Pilihan nama ini biar dibilang keren, sangar dan nyetun aja.

Semenjak itu kemana pun kami berada selalu setiap dengan gitar akustik dan nongkrong bareng diringi lagu-lagu Stones. Ada beberapa lagu favorit yang biasa kami nyanyiin seperti “Under the Broadwalk” “Tell Me”, “Out of Time” “Angie”, “Heart of Stones”, “Spider and the Fly”, “Rubby Tuesday”, “As Tears Go By”, “Jumpin Jack Flash”, “Honky Tonk Woman”, dan lagu-lagu lainnya. Asyik, sambil nyanyi sesekali belajar ngisep filter…sekali dua kali ngisep batuk kemudian…hehehe. Ini lah salah satu dampal negatif Stones…hahaha. Bila ada konser yang guest starnya Cikini Stones Complex atau Acid Speed…dimanapun mereka berada (manggung) akan kami kejar. Walau kantong cekak alias dana pas-pasan.

Soal ini juga kami bawa ke tempat favorit kami apalagi kalo bukan belakang kantin sekolah. Setiap kelas punya tongkrongan favoritnya. Misal anak kelas A didepan kantin, anak kelas B, disamping kiri kantin, dan anak kelas C disamping kanan kantin. Maka kelas kami, kelas C, berada dibelakang kantin deket kandang ayam pemiliki kantin. Agar tempat favorit kami tambah disegani maka ditembok belakang kantin kami tulis dengan pilox: “Sorry friends, disini banyak Stonesnya” plus gambar lidah melet persis berada dibawahnya. Kami pikir dengan dibuat Stones area seperti itu gak akan ada anak kelas lain yang macem-macem nongkrong ditempat ini apalagi coba-coba bawa gitar lantas mainin lagu selain punyanya Stones…hehehe.

Kultur pemberontakan yang dibawa para personil Stones kiranya pas dengan suasana hati kami pada saat itu. Jujur saja sebagian dari kami yang bersekolah pada saat itu kurang merasa nyaman dengan sistem pengajaran yang diberikan para guru yang cenderung membosankan, menjenuhkan, dan membuat kami selalu merasa tertekan dengan metode pengajaran yang mereka, para guru, berikan kepada kami anak didiknya. Setelah kuliah saya baru memahami metode/sistem pendidikan dimasa Orba melalui buku-buku yang saya dapatkan dari teman-teman di Jogyakarta. Seperti buku “Pendidikan Kaum Tertndas” (Paulo Freire), “Sekolah itu Candu” (Roem TM), dan sejumlah buku lain terkait masalah pendidikan. Melalui buku-buku inilah saya jadimemahami rupa dari sistem pendidikan yang diterapkan di sekolah. Sebuah sistem yang malah membelenggu alias tak membebaskan anak didiknya dalam mengenyam setiap pelajaran yang diberikan. Soal ini juga yang dikritik Pink Floyd dalam mahakarya The Wall. PF mengkritik habis-habisan sistem pendidikan yang berlaku di sekolah.

Kembali ke Stones. Jiwa pemberontakan, anti kemapanan, dan menolak terhadap perang sepertinya menjadi oase bagi kami pada saat itu. Bukan hanya bagi kami sisi urakan Stones juga merembes kekalangan lumpen (masyarakat miskin kota) dengan lakon pemberontakannya. Tidak mengherankan bila dikantong-kantong area miskin kota banyak pemudanya yang gandrung dengan Stones. Menurut saya inilah simbol pemberontakan dan penolakan atas kemapanan dan ketidakadilan yang mereka rasakan. Bahkan dengan menggemari Stones boleh dikatakan sebagai tempat pelarian bagi sebagian anak-anak muda dari kondisi sosial yang ada pada saat itu dan mungkin juga sekarang: menganggur dan masa depan yang mengawang-ngawang.

Rolling Stones nyatanya bukan hanya sekedar tipikal sebuah grup band. Namun kehadirannya telah menjadi inspirasi baik secara positif juga negatif bagi sebagian besar anak-anak muda diberbagai belahan dunia dengan sudut pandang/spektrum yang berbeda-beda. Namun Stones serasa mewakili gairah dan juga kegundahan mereka akan pranata dunia yang hiruk pikuk dan timpang ini.

Miraco Tempo Dulu …

May 17, 2014

SubhanAllah!

Temen2 gemblungers …Pagi ini saya dikejutkan dengan tampilnya sebuah foto nuansamatik kemlitik yang tak nyangka saya bisa mendapatkannya. Foto ini beredar di media sosial dan saya terkesima dengan foto ini. Kenapa? Sebagian dari Anda tentu tahu bahwa saya merintis prog dari benih sampe numbuh subur di hati ya mulai dari Madiun dan tepatnya dari toko atau photo studio Miraco inilah saya mulai mengenal kelompok-kelompok musik rock jaman dulu baik Uriah Heep, Deep Purple, Mahogany Rush, Chicago, Pink Floyd dsb. Tentu …setelah saya baca di Aktuil. Sebenarnya Miraco ini paling terkenal untuk urusan pas foto hitam-putih yang sering digunakan buat raport maupun ijazah. Namun toko ini juga menjual kaset dalam jumlah yang lumayan besar terutama Nirwana dan Starlite. Rasanya tak ada toko lain yang jualan rekaman ini, sehingga bisa dikatakan ini adalah “sole distributor” rekaman Nirwana dan Starlite. Rasanya kadang juga ada rekaman BASR atau Orient, tapi ndak banyak.

Miraco (1972) - koleksi Achdar Riyanto

Miraco (1972) – koleksi Achdar Riyanto

Foto ini menurut pengakuan mas Achdar Riyanto yang memilikinya dijepret pada tahun 1972. Sebenarnya tahun tersebut saya masih jarang mengunjungi toko ini selain urusan pas foto. Saya mulai aktif ya sekitar 1973 hingga 1979. Bisa dibilang saya istiqomah mengunjungi Miraco ini dengan sepeda jengki Forever warna hijau tentara yang dibelikan ibu saya karena lulus SD. Benar juga rasanya kalau ini tahun 1972 karena layoutnya pada tahun 1973 atau 1974 sudah memanjang dan jualan kaset di samping kiri.

Selama periode tersebut seingat saya membeli kaset-kaset ini di Miraco:

  1. Deep Purple “Who Do We Think We Are?” – Nirwana
  2. Uriah Heep “Demons and Wizards” – Starlite, side B: Khan “Space Shanty” dan Lucifer’s Friend “Where The Groupies Killed The Blues”
  3. Santana yang ada lagu “No One To Depend On” – Nirwana
  4. GodBless “Huma Di Atas Bukit” – Pramaqua
  5. Mahogany Rush “Strange Universe” – Nirwana
  6. Bad Company dan Queen yang ada “Tenement Funster” – Starlite (saya pernah posting)
  7. Pink Floyd “Wish You Were Here” – Nirwana yang kemudian saya tukar dengan Chicago karena rekamannya kusut (padahal itu akhir lagu Welcome To The Machine … ha ha ha ha …)
  8. The Runaways ; tapi ini saya mengantarkan temen saya Didik Rudiono, jadi bukan kaset saya
  9. Yes “Relayer” – Nirwana
  10. Beberapa kaset Indonesia seperti Koes Plus, Panbers, Golden Wing, The Mercy’s dan the Gembel’s, NoKoes, De Hands…

Melihat foto ini saya mbrebes mili terutama liat halaman depan tempat saya memarkir sepeda jengki Forever warna hijau tentara dan dikunci di situ. Betapa nikmatnya saat itu , begitu kaset dibeli (hanya satu biji setelah liat banyak kaset), sepeda langsung digowes kenceng pulang ke rumah di Jl. Sumatra melalui Jl. Pahlawan (dulu masih dua arah, sekarang searah). sampe rumah langsung saya setel di tape deck Teac A-36 yang mungil itu …. Guobyosz, kemringet trus nyetel lagu rock …opo ra enak kuwi????

#Lha dari dulu kok ndak ada kemajuan tingkat kehidupan ya …udah 40 tahun kok kendaraan tetep roda dua, tenaga betis pulak! Rapopo …urip kudu “dinikmati” … yo pow ra? Wis ..kokehan alasan …kokehan cangkem yo …. #

In The Beginning: Didahului dengan “Goodbye”, bukan “Welcome”

April 28, 2014

Arief Apec Bakhtiar

 

Asslammualaikum,wr,wb
Selamat pagi, siang,petang dan malam buat sejawat gemblunger..
Terkait dengan Prog-Graphy Om GW dan pemberitaan Tempo mengenai sejarah Yess sebagai kaset rumahan (bukan murahan) disamping Monalisa, Apple dan rekaman Hidayat, kali ini saya sedikit mengisahkan awal-awal perjumpaan saya dengan sebuah kotak bertajuk kaset rilisan Yess. Tentu saja perkenalan dengan Yess tidak akan terjadi bila saya belum mengenal sebongkah kotak plastik berpita bernama Kaset yang diperkenalkan di dunia oleh perusahaan Phillips tsb.
Alkisah……Pada kisaran tahun 1992 saat saya masih sekolah bercelana pendek biru kelas dua Negeri 9 Surabaya,tanpa diduga ibu saya membeli tape compo mini Panasonic di Pasar Kapas Krampung Sby seharga 125 ribu sekaligus dua buah kaset, yakni The Greates memory 2 ( berwarna dasar hijau bergambar orang berboncengan naik sepeda rilisan EMI) dan sebuah kaset kompilasi oldies Indonesia dan barat berwarna dasar putih ( saya lupa rilisan mana). Bila sebelumnya saya sering menikmati lagu2 populer saat itu via TV, maka sejak adanya mini compo, Lagu-lagu lama seperti Only You , Nobody’s Child, Rain and Tears, Walk Away, House for Sale, Kupu-Kupu Malam, Ayah (mercy’s), Widuri mulai sering mengisi hari-hari melalui tape Panasonic mini compo tadi. Apabila teman2 seangkatan masih berkutat dengan NKOTB, Tommy Page dan Debby Gibson, maka saya sudah bisa ngomong The Platters, Matt Monroe, Aphrodite’s Child….namun ya itu, nggak ada lagu rock, opomaneh Prog ..tapi ora masalah, sing penting iso gaya karena berbeda dengan selera teman meskipun di cap selera tua.

Apec 1
Gambar 1. Tape mini compo semacam ini yg dibeli ibu saya (hasil searching)..Tape yg asli sdh rusak saat ini ,namun msh tersimpan di rumah Paklek Hadi di Lampung

Sampai selama dua tahun, ya hanya dua kaset tadi yang kami miliki,lha karena memang tidak ada anggaran. Namun selama 2 tahun itu, bapak saya berbaik hati dengan ‘memaksakan’ diri untuk dapat berlangganan majalah Ananda dari seorang loper majalah yg masih bertetangga. Enaknya adalah pembayarannya tidak mesti harus tepat, bahkan bisa sampe telat 2 minggu menunggu uang lebih ( lebih tepatnya si tetangga tadi memang punya belas kasihan pada saya,he..he..lha piye maneh, pancen ora duwe duit lebih). Dari majalah Ananda tersebut saya mengetahui kiprah artis asing saat itu dan bukan hanya musik, tapi juga film, seperti Richard Dean Anderson (MacGyver), David Hasselhoff (Knight Rider) , dan Jon Bon Jovi yg menurut saya saat itu sangat ngerock musiknya padahal belum pernah sekalipun mendengar lagunya..
…just hanya lihat gambar posternya only saja. (dialah musisi rock asing yg pertama kali saya kenal).
Dan dari majalah tersebut pula saya mendapatkan banyak koleksi poster yang saya tempel di dinding hampir memenuhi tiga sisi kamar.
Istilah kamar sebenarnya menurut saya kurang tepat, karena tempat tidur, ruang makan tempat kumpul keluarga adalah menjadi satu. Dalam benak saya, jika ada pelajaran Bhs Inggris dan saya diminta untuk menceritakan kegiatan sehari-hari pasti akan dinilai salah oleh guru, sebab saya akan menuliskan sebagai berikut: I am sleeping in the living room (bukan Bed room), I am eating in the living room ( bukan Dining room), I am watching TV in the living room juga..jadi semua kegiatan dilakukan di living room, tentunya kecuali untuk mandi
…hingga suatu waktu kisaran bulan Agustus-Oktober 1993, disaat lagu Goodbye milik Air Supply meledak. Wis jan, lagu itu sangat enak di telinga saya waktu itu (sampai sekarang juga sih) sehingga membuat saya lebih sering memelototi TV untuk menunggu klip Goodbye diputar setiap menjelang pergantian acara di SCTV ( waktu itu TV non-TVRI di Surabaya yg ada seingat saya hanya TPI dan SCTV)… Nah, yang bikin ke-BENAR-an (lebih dari sekedar ke-BETUL-an), pada saat itu saya bersama teman- teman sebaya di kampung Sidotopo menjalankan suatu arisan anak-anak, senilai 200 rupiah perminggu dan jika narik arisan sebulan sekali,kami akan mendapat uang sebesar 6000 rupiah. Sebagai gambaran, saat itu uang saku saya 200 rupiah perhari dan uang saku rata2 teman di kelas adalah 500 rupiah. Saking minimnya, sampe kadang2 teman sebelah bangku saat itu memberikan penganan baik yg dibeli olehnya atau dibawakan dari rumah.. Tentu saja uang Rp. 6000 teramat berarti bagi saya dan teman2 sebaya. Nah, bertepatan dengan meledaknya Goodbye, saya pas dapat tarikan arisan ala anak2 tersebut…berlabuhlah uang Rp 6000 tadi ke tangan saya.
Masih nyantol kuat di ingatan saya, pada hari tersebut di sekolah, seorang teman sebangku bernama Ayu menunjukkan kaset Air Supply album The Vanishing Race berwarna dasar biru dan ungu bergambar orang Indian naik kuda dimana di dalamnya termaktub lagu ciptaan David Foster berjudul Goodbye..Wuahhhhh, langsung ngiler melihat barang tersebut…Entah mengapa, pokoknya saat itu saya merasakan detak jantung berdetak lebih kencang dari biasanya. Gak sabar menunggu bel pulang sekolah..Oh ya, sekolah Negeri 9 tersebut saya anggap berpikiran progresif, sebab bel pulang sekolah adalah nada dari lagu Romance d’ Amor, sedangkan bel masuk sekolah adalah nada lagu Fur Elise..(tapi saya baru mengetahui judul nada tersebut belakangan setelah saya kuliah, sebab saat itu tidak mengenal judul lagu musik klasik)..
Nah..setelah Romance d’amor berkumandang, saya langsung engkol itu sepeda BMX pulang sendirian dengan setengah ngebut..Biasanya sehari-hari saya pulang bersama dengan 8 orang teman..saat itu tidak…tancap gas mendahului dengan harapan bisa segera ganti baju untuk menuju toko kaset Pasar Kapas Krampung. Sebenarnya lokasi Pasar tersebut dekat dengan sekolah, namun saya harus pulang dulu…wajib!!.. Bukan karena apa, namun perlu minta tambahan uang seribu rupiah dulu ke Paklek Hadi yang saat itu tinggal serumah dengan kami. Harga kaset Barat saat itu Rp 7000 dan itu saya ketahui dari teman saya yang menunjukkan kaset Airsupply tadi..
Begitu sampe rumah kisaran pukul 13.00, langsung menodong paklek untuk dapat tambahan seribu rupiah…dan tanpa makan siang terlebih dahulu, werrrrrr……langsung cengklak sepeda menuju Kapas Krampung yang berjarak 4 km dari rumah..Sesampainya disana, sepeda langsung saya arahkan ke depan toko kaset. Ada sekitar 3 toko kaset saat itu berjejeran. Toko pertama saya datangi dan, “ Mas, ada kaset Goodbye AirSupply?” tanya saya..” Oh, ada dik..”, sambil tangan mas penjaga toko mengambil salah satu kaset di dalam display..Diambilnya kaset bercover putih dengan tulisan Goodbye mencolok di tengah2nya..lha kok beda dengan yang ditunjukkan teman saya..Saya tanya lagi, “ Mas, yang saya cari yang gambarnya orang Indian berjudul Vanishing Race.” Dan ternyata dijawab tidak ada. Demikian juga dengan 2 toko di sebelahnya. Kok ya untung pagi hari sebelumnya saya ditunjukkan teman saya (bukan Nona R lo) kaset aslinya, kalo ndak, pasti kebluwuk (terjebak).. Belakangan saya tahu ternyata kaset berwarna putih tadi adalah memang berisi lagu Barat campuran dan GoodBye salah satunya namun penyanyinya ndak asli, cover version..
Begitu ndak mendapatkan apa yang saya cari, langsung cengklak BMX lagi mengarahkan ke THR Surabaya Mall yang berjarak sekitar 3 km arah barat dari Pasar Kapas Krampung. Toko kaset disana terletak di dalam Ramayana dan ……… jrenggg!!! itulah awal saya memasuki toko kaset asli..Di display New Release, kaset Vanishing Race terpampang dengan jelas…”Nahhh, ini baru benerrr,” batin saya saat itu..Tanpa tedeng aling-aling, saya ambil satu kaset yang masih bersegel plastik dan barang tersebut segera bertukar tangan bersamaan dengan uang 7000 rupiah saya berikan ke mbak penjaga toko. Segera ke parkiran, ambil itu yg namanya BMX hitam pemberian bos ayah saya dan langsung cengklak (gowes) pulang ke rumah..Sudah gak sabar ingin merobek plastik segel pembungkus kaset.
Setiba di rumah, dengan tergesa-gesa, saya buka pembungkus kaset, cabut kasetnya dan masukkan kaset bertuliskan Vanishing Race itu dalam Player Tape Panasonic yang sudah berumur dua tahun itu..Mengalunlah lagu Its Never too late yang merupakan lagu pertama side A di kaset tersebut..ternyata lagu Goodbye diletakkan di urutan terakhir side A..Alhasil, karena hanya Goodbye yg saya tahu, maka langsung dipercepat menuju lagu terakhir..Dan, mengalunlah Denting Piano intro Goodbye yg didahului bunyi Jrengggg!!! ( bunyinya memang Jrenggg, coba anda tamatkan lagu tsb, pasti bunyi Jrengg di awal lagu sangat terasa)


apec 2

Gambar 2. Kaset AirSupply yang masih tersimpan hingga detik ini. Kertas cover sdh lecek di bagian lipatan,karena sering dibuka-tutup untuk baca liriknya.

Sejak saat itu, saya sangat menikmati yg namanya mempercepat dan merewind kaset hingga menemui lagu pilihan ( di belakangan hari saya baru menyadari, bahwa tindakan ini mempercepat derajat kerusakan pita kaset)..Hingga kini kaset tersebut masih tersimpan,meskipun cover kertasnya sdh kucel karena dulu sering dibuka untuk membaca liriknya..
Itulah fase awal perkenalan saya dengan kaset….meskipun didahului dengan GoodBye, bukan dengan Welcome….

The 40-Year ProgGraphy (3 of 40)

April 18, 2014

Gatot Widayanto

Satria Bergitar Sapu Ijuk

Ini sebenarnya masih masuk dalam periode pra Prog bahkan bisa dibilang saya belum secara pasti mengukuhkan diri sebagai penggemar musik rock meski kecenderungan ke situ memang lebih kuat dibandingkan ke kecenderungan jenis musik lain seperti funky atau disco. Musik jazz masih belum masuk dalam hitungan saya karena bagi saya terlalu tuwek kalau mendengarkan musik sejenis jazz. Sedangkan jiwa muda kan penuh gelora berapi-api seperti novel Api di Bukit Menoreh ..halah! Kok jadi ngomongin Agung Sedayu dan Alap-alap Jalatunda. Tapi emang masa itu saya rajin juga baca novel ini selain Nogososro Sabuk Inten. Pokoknya nuansamatik tenan lah. Kadang memang saat membaca novel dimana ada pertarungan malam hari di tengah hutan, saya memang kadang senandung lagu-lagu jadul seperti dari the Bee Gees, the Cats, the Casuals …sambil membayangkan bagaimana pertarungan berlangsung seperti yang dituturkan di novel.

Saya masih ingat bahwa di rumah Madiun mas Henky punya kaset the Bee Gees rekaman Nirwana dan saya juga suka lagu yang ada senandung “pi pi pi pi pi ….pi pi pi pi …pi pi …” yang merupakan bagian dari lagu bertajuk “Holidays” (semoga tak salah judulnya). Saya juga suka lagu bertajuk “Words”. Saya lupa lagu lainnya, yang jelas kaset the best tersebut bagus semuanya, kalau gak salah ada yang “First of May”. Tentu juga ada The Cats yang terkenal dengan “Lea” , “I’ve got to Know What’s Going On”, “Scarlet Ribbons”, dll. Yang syahdu itu lagunya The Casuals bertajuk “Jesamine” … What am I supposed to do with the girl like Jesamine …. WHOAAAAAAA …ini lagu kuwerrrreeeen tenan! Lagu pop nan ngguwajak!

DP in rockHal lain yang mempengaruhi saya adalah radio Moderato yang pada setiap jam selalu mengumandangkan intro lagu Child In Time sebelum masuk relai siaran berita dari RRI Pusat. Lagu ini menjadi memiliki makna tersendiri bagi saya karena saking sering denger meski hanya intronya saja. Yang membuat saya terbelalak justru ketika suatu hari lagu ini diputar full, tak hanya intronya saja. Naun saya menjadi lebih suka lagi ketika ada lagu lain lagi yang saya tak tahu judulnya namun bener2 penuh semangat dan temponya cepat meski lagunya pendek. Barulah kemudian saya tahu bahwa itu lagu dari Led Zeppelin bertajuk “Immigrant Song”. Edan tuh tereakan vokal di awal lagu “Aaaa …a … Aaaa …a!” duk thak duk jes …..Edaaaaaannnn …. Ini baru lagu. Kegemaran saya jadi memuncak ketika denger lagu yang tereakannya ini ..”You need uleeee …..” theng teng theng teng jreng thak ejek thak ejek ….theng teng theng teng jreng thak ejek thak ejek …. Tahulah tentunya lagu beken dari Led Zeppelin II ini … Muantab jek!

Gara-gara “Whole Lotta Love” inilah saya langsung membayangkan menjadi sosok pemain gitar rock dan sering pethakilan menirukan gaya seorang pemain gitar rock yang sedang manggung. Dan lucunya …saya pake sapu ijuk dibalik seolah itu adalah gitar listrik beneran. Padahal saat itu saya belum tahuLZ IIbahwa yang main gitar namanya Jimmy Page. Saya juga belum tahu orangnya seperti apa. Tapi ya udahlah yang penting pethakilan, loncat-loncat seperti pemain gitar sedang beraksi. Rasanya kalau sudah pegang sapu begini saya menjadi rang paling gagah dan serasa rocker sejati. Padahal perbendaharaan lagu-lagu rock ya sebatas Uriah Heep, Grand Funk, Deep Purple dan Led Zeppelin ini. Sayangnya pula, saya gak punya album Led Zeppelin II ini, alias belum mampu beli kasetnya, kecuali dari radio aja saat itu dan jarang sekali diputar. Akhirnya ya sering bersenandung sendiri tanpa tahu kesudahannya giman. Rapopo …sing penting ngerock to ya?

Kalau inget periode ini, saya ingin senyum sendiri. Apalagi periode inipun saya juga rajin nonton pertunjukan wayang orang di gedung Ajen bersama Pak Rebo. Pada setiap hari tertentu, kalau gak salah Selasa malam, saya nonton wayang orang gratis karena saya kenal pak Sudjio yang anggota TNI karena gedung Ajen tersebut adalah milik TNI. Oh ya .. Pak Rebo ini sebenernya “rencang” (pembantu rumah tangga) nya pak Sudjio yang merupakan tetangga kami di Jl. Sumatra, Madiun. keluarga kami dekat sekali dengan keluarga Pak Djio (panggilan pak Sudjio) yang menempati sebuah kamar di Losmen Sumatra (tepat di depan rumah kami di Jl. Sumatra 26). Saya sudah dianggap anak oleh Bu Djio ini. Ibu saya hampir tiap hari berkomunikasi dengan Ibu Djio ini. Kalau nonton wayang orang biasanya saya naik becak dengan Pak Rebo (dipanggil Pak Bo) ini. Nuansamatik kemlitik tenan …bahkan segmen kehidupan ini saya kok malah jarang cerita dimana-mana ya? Padahal saat indah itu …karena kalau nonton wayang orang saya terbebas dari kewajiban belajar … ha ha ha ha …. Saya rasa saat itu masih sebelum SMP, jadi ya sekitar 1969 – 1972 gitu. What a wonderful segment of my life!

Lha opo tumon, ….suka ngerock tapi nonton Wrekudoro Sakti (pertunjukan wayang orang) ….?!!! Ngerock nya dimana coba? Ha ha ha ha ha ….


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 144 other followers