Archive for the ‘Counting Out Time’ Category

The 40-Year ProgGraphy (8 of 40)

November 21, 2014

Gatot Widayanto

Dekade I : Ribut Ritchie Blackmore Keluar

Ini memang masih periode yang campur-aduk antara prog dan rock standar karena memang kala itu bahasa umum yang dipakai di kawula muda Madiun untuk musik rock ya Deep Purple, Led Zeppelin, Black Sabbath, Bad Company dan sejenisnya. Masih jarang anak muda membahas Yes, ELP atau Genesis. Termasuk ketika suatu hari di tahun 1974 juga saya terima rekaman kaset terbaru dari album Deep Purple paling gres dengan dua pemain baru yakni David Coverdale dan Glenn Hughes. Biyuh …kala itu bahasan di Aktuil begitu gencar terkait dua orang manusia ini, dimana paling santer ya masalah Coverdale menggantikan Gillan. Di kalangan pencinta musik, Deep Purple adalah Gillan dan Blackmore sehingga kalau salah satunya pergi, maka bukan lagi Deep Purple namanya. Bagi saya yang suka musik Deep Purple karena ngerocknya, saya sih kagak ambil pusing blas. Bahkan ketika kaset rekaman mas Henky bertajuk Deep Purple “Burn” saya langsung jatuh hati,

Sailaway

Anehnya, lagu yang membuat saya suka banget sama album Burn kok malah sebuah lagu cemen bernada slow dengan tajuk Sailaway. Kok ya pas ya, hari ini pas saya gowes ke tempat kerja di speaker Divoom VoomBox saya kok mengalun “Sailaway” nya Deep Purple ini. What a coincidence! Aduh biyung …lagu ini bagi saya saat itu sungguh damai sekali karena temponya yang pelan namun riff gitarnya huwenak pol. Belum lagi gebukan drums Ian Paice dan kibor solo Jon Lord. wah …sempurna banget dah lagu ini. Jadi, kaset ini lebih sering posisi putarnya justru pada lagu Sailaway ini. Memang saya faham, tak ada penggemar DP yang menyukai lagu ini karena memang gak top blas. Tapi ya itu ….bagi saya musik sangat personal, jadi saya gak peduli orang lain suka atau tidak.

Setelah itu saya baru menyukai beberapa lagu lainnya seperti “You Fool No One” yang drums nya sungguh dahzyat dan akhirnya baru bener2 suka “Burn” yang memang secara musikal menurut saya top banget ini lagu, tak hanya ngerock tapi juga komposisinya maut! Tak lama kemudian di Madiun sontak dengan lagu mehek2 “Soldier of Fortune” yang memang syahdu dan bagi saya jadi nuansamatik karena kaset saya rekamannya bagus sekali sehingga dentingan gitar akustiknya begitu indah masuk di telinga saya. Memang lagunya njelehi pol. Namun karena ngetop saat itu, saya jadi terpaksa ikut demi pergaulan. Padahal dari album “Stormbringer” ini saya justru paling suka lagu Stormbringer dan Lady Double Dealer. Anehnya ….beberapa saat kemudian saya suka banget sama lagu “You Can Can’t Do It Right” bahkan hingga kini. Bagus sekali groove nya lagu ini. Memang gak top sih …namun nohok banget groove nya. Apalagi kocokan gitar dan gebukan drums nya …manteb jek!

Hiruk Pikuk Ritchie

Berita paling heboh adalah ketika Aktuil mengabarkan Ritchie Blackmore hengkang dari Deep Purple. Sontak segala macam opini bertebaran di majalah Aktuil tersebut. Ingat, saat itu belum ada mbah Google sehingga opini di Aktuil begitu besar pengaruhnya. Opini yang banyak muncul adalah pengakuan bahwa tanpa Ritchie maka DP akan terpuruk karena yang mendefinisikan musik DP itu Ritchie dan Gillan. Namun masalah Gillan sudah sedikit banyak dilupakan orang mengingat Burn dan Sormbrnger bukstinya sukses, terutama Burn. Kepergian Ritchie ini heboh banget kayaknya lebih penting daripada lengsernya Presiden saja karena memang setiap hidung kawula muda saat itu pemujaan terhadap Ritchie begitu tinggi. Banyak yang mutung gak mau lagi dengerin DP setelah Ritchie cabut.

Akhirnya muncullah “Come Taste The Band” dimana pertama kali DP menggunakan gitaris BUKAN Blackmore lagi namun gitaris yang pernah kontribusi di album Billy Cobham “Spectrum” bernama Tommy Bolin. Dari album Spectrum itulah Glenn Hughes menemukan talenta Tommy Bolin sehingga diajak jam session selama 4 jam dengan DP, cocok, dan kemudian direkrut sebagai pengganti Ritchie Blackmore. Sebagai wong Mediun tulen, saya dan anak muda Madiun, hanya plonga-plongo saja ndak tahu siapa itu Tommy Bolin. Saya hanya tahu via Aktuil saja. Mas Henky tak merekamkan kaset untuk saya dari album anyar ini sehingga saya beli sendiri, kalau gak salah rekaman BASR.

Jujur dikata, saya kok malah takjub dengan album Come Taste The Band ini. Kenapa? Musiknya beda dengan tipikal musik DP selama ini dan permainan gitarnya tipis dan unik, tak menonjol seperti Ritchie, Lagu yang membuat saya bener2 JLENG jatuh hati sama album ini justru yang juga ndak terkenal: “Getting Tighter”. kenapa? Kocokan gitarnya itu lho …..!!! Mauuuuuuuuuuuuuut … JRENG TEK JRENG TENG TENG JRENG “CEK E CEK CEK E CEK” (waduh! bikin semaput jek!). Memang saya sering terkesima lagu justru dari segmen sebentar seperti:

Ngggggggg….thuing (Roundabout nya Yes)

Cek e cek cek e cek …(kocokan gitar Bolin di Getting Tighter)

Blekhuthuk blekhuthuk JRENG …(Sound Chaser nya Yes)

Blekthuk blekuthuk ….(Toccata nya ELP)

Ha ha ha ha …seru ya …seneng lagu kok gara2 CEK E CEK …CEK E CEK ….ha ha ha ha … Wis yo ben! Sing penting aku seneng!

Ternyata dari Come Taste The Band saya justru terpikat dengan sosok Bolin dan mencoba membeli kaset2 dimana dia terlibat seperti Spectrum nya Billy Cobham, atau saat di di James Gang bahkan solo albumnya “Teaser” dan “Private Eyes”. memang musiknya rada funky, tapi saya suka main gitarnya tipis.

Gak Prog Blas

Lha memang saat itu saya belum bisa mendefinisikan musik rock standar dengan yang keriting sehingga sering campur aduk dalam menikmati musik, yang penting ada rock nya meski saya juga mendengarkan lagu disko seperti BT Express (lagunya “Do It” ngetop banget dulu) atau Atlantis dengan “Friends” nya yang asik banget itu. Namun harus saya akui meski GPB (gak prog blas) musik seperti Deep Purple, led Zeppelin, Black Sabbath itu turut mewarnai jiwa prog saya saat itu. Seringkali play list saya campur aduk antara DP, Yes, ELP dan Genesis yang penting ada rock nya.

Salah satu yang membuat tahun 1975 itu “sesuatu” banget ya karena Deep Purple manggung di Jakarta. Sayang, saya gak punya duit atau sponsor yang bisa membawa saya ke Jakarta. Namun saya baca berita hebohnya melalui Aktuil. Hebat banget dah Aktuil saat itu bisa membawa DP ke Jakarta. Apalagi DP memiliki roh baru karena 7 dari 9 lagu di Come Taste The Band itu kontribusi dari Tommy Bolin termasuk “Owed to G” yang keren nyambung dengan “This Time Around”. saking sukanya saya dengan album Come Taste The Band, saya kasih empat bintang lho album ini di review saya. Salut dah buat Bolin!

Kaset saya Come Taste The Band yang rekaman BASR itu ketika kemudian saya masuk SMA termasuk kaset paling laris dipinjam teman2 saya bahkan akhirnya itu kaset raib gak tahu kemana. Hampir semua lagunya saya suka termasuk Drifter, I Need Love, You Keep on Moving. Bahkan ketika saya gowes Jakarta Bandung (2010) tema yang saya pakai adalah terinspirasi lagu DP ini “Gowes Keep on Moving” dan lagu tersebut termasuk salah satu yang saya pasang di playlist dua-jaman (setiap dua jam saya paksa istirahat, makanya playlistnya masing2 diua jam).

JRENG!
-
Pagi ini dapet kiriman berita dari mas Koni terkait konser Deep Purple di Jakarta tahun 1975 lalu:
image

-

 

 

The 40-Year ProgGraphy (7 of 40)

November 15, 2014

Gatot Widayanto

Dekade I : Kaset Kompilasi Made-in Mas Henky

Ini masih berkisar dekade pertama yakni antara 1974 sampai 1984. Yang saya mau ceritakan adalah saat mas Henky kuliah di UGM jurusan Ekonomi Perusahaan di tahun 1973 sampai kalau gak salah 1978 dimana saat itu rumah madiun terasa sepi karena hanya saya dan ibu saja di rumah besar tersebut. Padahal saat mas Henky sekolah SMA negeri 1 Madiun, hampir tiap malam rumah kami dipakai sebagai pos begadang temen2 nya mas Henky. mereka bener2 begadang karena sampe pagi dan bahkan ada sebagian yang tidur di kamar depan yang memang kamar mas Henky. Senang juga ketika mereka kumpul kadang terdengar suara musik rock diputar dan saya merasa nikmat bisa mendenarkan samar-samar dari kamar tengah dimana saya menemani ibu tidur. Biyuh …itu kamar berisiknya bukan main kalau sudah kumpul karena bisa puluhan orang yang datang. Di sebalah kanan rumah kami adalah kantor polisi, jadi ya aman-aman saja rasanya. Kadang mereka main gitar membawakan lagu-lagu yang saya kadang gak paham …dan akhirnya saya tahu bahwa yang dimainkan adalah “Mood For a Day” atau “The Clap” nya Yes. Atau kadang “Stairway To Heaven”. Namun setelah mas Henky kuliah pun kalau liburan, tempat kami tetep buat ngepos temen2 mas Henky itu. Yang paling jago main gitar namanya mas Kandar (fotonya pernah saya posting di blog ini).

Yang jadi topik sekarang adalah saat mas Henky kuliah tersebut. Ini paling menarik karena saat itu setiap liburan mas Henky selalu membawa satu atu dua kaset yeng merupakan kompilasi lagu-lagu yang direkam dari PH nya radio Geronimo. Banyak sekali koleksi kaset kompilasi saya saat itu dan sungguh selalu saja lagu-lagunya menarik dan menjadi perkenalan saya pada musik-musik atau band tertentu. Pertama kali saya dengar ‘Stairway To Heaven’ ya dari kaset kompilasi dan bahkan saya tak tahu itu dari album LZ ke berapa. Kalau ditanya ada berapa kaset kompilasi, jelas saya lupa. Gak semuanya kaset kompilasi sih, kadang album tertentu dari sebuah band. Namun akan saya uraikan beberapa lagu atau band yang saya ingat sekali.

  1. “I am A Man” – Chicago Transit Authority. Ini merupakan kali pertama saya kenal ada band namanya Chicago karena memang lagu ini keren banget. Satu hal yang membuat saya kepincut dengan lagu ini ya karena di tengah lagu atau interlude nya ada “kothekan” bebunyian perkusi dan drums solo yang keren banget. Kebetulan di kompilasi tersebut lagu ini merupakan yang pertama, jadi ya bolak balik saya setel karena memang keren. sampe sekarang saya masih suka lagu ini.
  2. “Smiling Faces Sometime” – Rare Earth. Lagu ini lucu pol karena ada narasi dan ketawa ketiwi yang unik sekali di bagian awalnya. Musiknya jan claro pol ….Nikmat sekali. Ini saya sambil pasang lagu ini via youtube. Lucu dah lagunya ….bikin ketawa sendiri kalau denger.
  3. “Hold Your Head Up” – Argent. Wah ini juga lagu nuansamatik pol. Sebenarnya ada beberapa lagunya yang enak dan direkam mas Henky. tapi saya gak ingat judulnya.
  4. “Nutbush City Limits” – Ike & Tina Turner. Ini lagu rock kecimpringan yang sebenernya biasa saja. namun karena nama Ike & Tina Turner sering disebut di Aktuil, maka saya ikut2an seneng juga … ha ha ha ha ..padahal jauh dari prog pol …
  5. “Woman” – Barrabas. Sebenernya saya gak faham band ini namun sering banget mas Henky merekam lagunya; saya hanya ikut2-an seneng aja, buat godeg2 ajah …
  6. “Live 73″ – Uriah Heep. Whooooaaaaa…ini kaset kesayangan terutama di lagu Gypsy dimana panjang banget dan ada solo drums dan solo kibor nan keren pol!!! Uwediyan kaset ini dulu tiap hari saya setel kuwenceng …terutama dibagia awal saat nyetem gitar dan Byron bilang “Uriah Heep …” JRENG! thak dung dung JRENG ….”Sunrise ….” whoooaaaa…menhjunjam kalbu tuwenan!!! Uwediyaaaaaannn!!!
  7. “Journey to The Center of The Earth” – Rick Wakeman. kalau ini jelas prog dan saya juga awalnya gak tahu bahwa ini adalah Wakeman karena kasetnya telanjang tanpa bungkus dan dicorekin bendera Inggris pake spidol Artline 70 …wakakakakak … saya njumbul terkesima dengan kaset ini karena kok lucu banyak ngomong selain nyanyi dan musik nguing nguing ….biyuh biyuh ….musik kok ngguwajak tenan! Saya gak nyadar ini musik siapa yang jelas tiap hari juga saya setel karena aneh dan gak lurus seperti musik rock biasanya. Gagah sekali musiknya. saya gak peduli saat itu ini musiknya siapa …pokoke paling keren ya pembukaannya yang orkestra penuh. Juga ketika narator bilang “They call the street …THE HANSBACH!!!” …JRENG!!! Biyuh biyuh …ngguwajak temenan musike!!! Bayangin …saat itu saya bocah clondo ingusan yang masih SMP klas 3 tapi disuguhi musik berkualitas prima dari wakeman. Apa gak paling nggantheng saya saat itu se Madiun? Lha mana ada cah mediun menikmati Rick Wakeman kala itu??!!! Pow gak visioner to saya? Ha ha ha ha ha ha …. Saya tuh baru ngeh ini Wakeman ketika kakak saya lainnya, mas Jokky, yang tinggal di Jakarta berlibur ke Madiun bawa kaset Prambors Hits dan ada tulisan: Journey – Rick Wakeman. Wooooooooo …..!!! Gitu to? pantesan musike nggajak tenan!
  8. “Fragile” – Yes dan “Brain salad Surgery” – ELP. Ini sudah saya ceritakan di 5 of 40.
  9. Kompilasi Shirley Basey dan Roberta Flack (lupa lagunya apa aja …tapi termsuk Never never Never … Going Going Gone ) …hahahahaha …pop pol!
  10. Osibisa yang ada lagu terlarang TNT itu …saya juga direkamin satu album penuh … “Allahu Akbar ..Bismillah …ala ala …”. tapi lagu ini dilarang karena melawan syahadtain. Astaghfirullah …saat itu saya ndak tahu dan hafal liriknya karena memang lagunya enak banget.
  11. “Yessongs” – Yes. Ini kaset keren dan direkam di pita TDK; kalau gak salah dua kaset direkamin mas Henky. mantab jaya!
  12. “Man of Miracles” – Styx. Keren nih kaset, direkam di pita Maxell dan saya langsung suka “Evil Eyes”, “A Song For Suzanne”, “Christopher Mr Christopher” …. Wah nuansamatik banget kaset ini. Untung sudah dapet versi Billboard nya dari mas Andria.

Sebenarnya masih banyak lagi kaset kompilasi tanpa judul, namun saya sudah lupa. Yang jelas semuanya merupakan perkenalan saya dengan beberapa kelompok musik. menikmati musik kompilasi itu enaknya banyak variasi dan sering gak tahu ini lagunya siapa. Hari-hari saya semakin berbunga dengan adanya kaset-kaset made-in mas Henky ini. Oh ya …selain itu mas Henky juga membawa kaset2 rekaman yang dijual di Yogyakarta saat itu:

  1. “No Earthly Connection” rekaman Pop Discotic. Opo tumon?
  2. “Flowers” Rolling Stones rekaman Aquarius hitam putih
  3. “Teaser” Tommy Bolin rekaman Aquarius hitam putih
  4. “Wish You Were Here” Pink Floyd rekaman Aquarius hitam putih
  5. “Black and Blue” Rolling Stones rekaman Perina Aquarius kuning. Mas henky seneng banget dengan lagu “Memory Motel” sedangkan saya “Fool To Cry”
  6. “Nursery Cryme” Genesis (side B nya Kayak II) rekaman Pop Discotic kuno
  7. “Six Wives of Henry VIII” Rick wakeman rekaman Aquarius hitam putih
  8. “Captain Fantastic and the Brown Dirt Cowboy” Elton John rekaman Aquarius hitam putih (ini album terbaik Elton John, menurut saya)
  9. ….lupa yang lainnya …

memang jaman normal itu indah sekali …. JRENG!

Ojok ngguyu yo ...ini foto jadul saat saya hari ketiga bidhuren (makany tembem): Saya, Ibu, mas Henky. Di belakang ada TV item putih merek Sierra ...ha ha ha ha ...tooobz!!!

Ojok ngguyu yo …ini foto jadul saat saya hari ketiga bidhuren alias alergi karena makan udang air tawar (makanya tembem): Saya, Ibu, mas Henky. Di belakang ada TV item putih merek Sierra …ha ha ha ha …tooobz!!! Ini sekitar tahun 1976 atau 1977.

-

 

 

The 40-Year ProgGraphy (6 of 40)

November 13, 2014

Gatot Widayanto

Dekade I: Berdoa Agar Ada Yang Mondhok

Ini sebenarnya tak cerita musik secara langsung namun sangat terkait dengan musik pada akhirnya. Ceritanya, saya hanya hidup berdua dengan ibunda saya di rumah Madiun yang ukurannya buwesar pol …luas tanahnya aja 1000 meter persegi dan di belakangnya ada bekas lapangan tennis dan garasi mobil yang bangunannya terpisah dengan rumah utama. Memang ini rumah peninggalan jaman Belanda sehingga tuan2 londo itu dulu kalau main tennis cukup di rumah jalan Sumatera 26 (sekarang 28) ini. Halaman depan maupun belakang sama2 luasnya, bahkan lebih luas belakang. Di halaman belakang ada dua buah pohon mangga yang besar sekali dan selalu berbuah banyak. Salah satunya mangga Golek dan satunya lagi mangga Gadung. Setiap panen mangga, ibu memanggil pak Darmo yang tinggal di Desa mBagi (8 KM ke arah utara Madiun). Kalau panen mangga bener2 banyak sekali sampe berkarung-karung. Kemudian mangga tersebut diekspor ke Jakarta, ke kakak saya yang dua orang tinggal di Jakarta dan juga ke ota lain, saudara2 kita semua. tentu tanpa bayar. Bahkan ongkir ditanggung kami. Saya kebagian ngirim ke EMKA (ekspedisi muatan kereta api) atau Elteha. Ha ha ha …dua nama ini sudah jarang kita dengar lagi ya.

Meski rumahnya besar, namun kamar tidurnya hanya tiga namun ukuran raksasa semuanya…sepertinya 8 x 8 M (lupa tepatnya) dan plafonnya amat sangat tinggi pol sehingga tak ada kata “kepanasan” atau sumuk di rumah kami padahal Madiun panas bukan main. Ruang tamunya juga raksasa ada 2 ruang tamu ukurannya ya 8×8 juga. Edan lah pokoknya. Kebayang bukan, setiap hari saya ngepel lantai rumah tersebut sebelum berangkat sekolah? Dengkek tenan rek! Untung ada musik rock. Kalau ngepel saya sering ditemani In My Time of Dying nya Led Zeppelin. Gak prog tapi semangat tuh lagu. Ngerocknya bukan kepalang. Belum lagi kalau sore hari jam 4 saya musti siram2 alias menyirami tanaman bunga sedap malam, bougenville, kuping gajah yang ditanam di halaman depan dan di pot-pot ukuran raksasa di ruang tamu depan. Singkat kata, magrong2 tenan itu rumah ….bikin capek merawatnya.

Karena kelebihan space oddity di rumah kami, maka ada kalanya dua kamar kita sewakan ke orang lain . Saat itu ibu saya jeli juga membidik pasar karena targetting justru ke mereka yang sudah kerja dan hanya sementara saja tinggal di Madiun. Siapakah mereka? Mereka adalah para akuntan dari STAN yang sedang mengaudit Perhutani atau PNKA kala itu. Sekali bidik bisa dapat enam orang pada periode audit yang bisa berkisar 3 sampai 4 bulan, saya lupa. Yang jelas, mereka itu tajir2 dan gampang keluarin duit sehingga kalau ada yang kost (mondhok) saya mendadak kaya. Lho? Iya …definisi kaya bagi saya adalah bila dalam satu bulan bisa beli lebih dari satu kaset.

Suatu ketika , nilai sekolah saya lumayan bagus dan ibu senang melihatnya. Kemudian beliau nazar ke saya: “Tot….nanti kalau om2 auditor STAN itu datang, ibu akan kasih kamu hadiah enam buah kaset”. WOWWWWWWW!!! Njumbul saya! Pertama kali dalam usia remaja saya merasa “akan” mendadak kaya bila om om auditor itu ke Madiun. Horeeeee…!!! Cihuyyyyy …!!! Huraaaaaaaaaaaa….!!! Wis ..pokoke saya bungah …suweneng ngantek sikil gedruk-gedruk …. Tiap kali saya bersepeda keliling Madiun pake sepeda jengki Forever warna hijau tentara, saya selalu senandung musik prog rock …ya Roundaout ..ya Perpetual Change …ya The Return of Giant Hogweed ..pokoknya riang gembira nyanyi sekenanya, sak enak udele mbahe Sangkil pokoke ….Dibilang wong edan – yo ben. Wong gemblung – yo ben. Sing penting di benak saya adalah bayangan ENAM (sekali lagi kawan …ENAM!) buah kaset untuk saya!!! JRENG!!!

Namun …memang Tuhan itu selalu saja memberikan cobaan terlebih dahulu sebelum datangnya kebahagiaan …. Lha itu Om Om Auditor kok gak kunjung hadir di Madiun??? Kapan rek? Kapan??? Sikilku wis abuh kabeh kokehan gedruk gedruk bungah iki …. Sementara itu saya sengaja puasa mengunjungi toko kaset Miraco karena takut air liur menetes kothos kothos namun gak punya duwik buat ngebayarin. Kadang kalau sepedahan di sekitar Alun2 Madiun, saya paksakan mampir masjid Agung sambil memohon doa agar om2 itu segera hadir di Madiun demi enam buah kaset. Astaghfirullah !! Kala itu doa saya begitu “transaksional” ya? Karena ada maunya …bukan dilandasi keikhlasan … tapi ya namanya cah cilik, remaja belia …ya tahunya cumak minta ….minta …dan minta!

Jadi …memang yang paling berat ya masa penantian panjang itu …hadewwww …mana kowat saya nunggu tanpa kepastian sama sekali….. Ya Allah …kapan enam buah kaset itu kau turunkan ke bumi Madiun? Kapan??? Kapan??? Sampai akhirnya kabar baik itu datang melalui bus surat yang ada di depan rumah kami dimana Om2 itu menyatakan rencana kedatangan ke kota Madiun. Ya ….Allah …rasanya PLOOOOOOOOOONG banget! Enam buah kaset akan turun dari langit nih buat saya!!! Grupnya apa, saya gak peduli …yang penting ENAM!!!! Yeeeeeeeeeeeaaah!!

Meang ibu saya adalah orang yang paling sayang sama saya di dunia ini ….. Begitu hari “H” itu tiba, ibu langsung mengeluarkan uang Rp. 3.000,- sambil dawuh :” Iki lho leeee…ibu rak wis janji arep nukokno kaset enem …iki duwike yo ….”. Ya ampuuuuuuuun … Ini kasih sayang tulus ibu yang hidup pas2an sebagai tukang jahit memenuhi nazarnya meski duit kos2an dar Om2 belum ia terima. Masya Allah …mbrebes mili saya nulis ini, inget cinta kasih ibunda saya …Masya Allah. Alhamdulillah ya Allah ….

Langsung siang itu saya nyengklak sepeda menuju Miraco dan Duta Irama di daerah Tugu Madiun. Saya langsung beli enam kaset tersebut. Yang jelas saya ingat, salah satunya adalah Black Sabbath “Sabotage” dengan side B nya Kansas. Itulah kali pertama saya kenal Kansas terutama lagu Incomudro yang membuat saya mbrabak teringat masa lalu …. Kaset itu masih ada hingga kini dan pernah saya posting di blog gemblung.

Sebuah peristiwa yang sepertinya biasa namun sangat dahzyat bagi saya ….!!

miraco-1972

(ditulis di Corelli, tanpa kopi Corelli karena mesinnya rusak, pake kopi tubruk sebelahnya)

The 40-Year ProgGraphy (5 of 40)

November 12, 2014

Gatot Widayanto

Dekade I: “Mak Jedhandhut” Njumbul nGgumun Jumpa Musik Prog

Ini sebenarnya kisah yang tadinya sederhana sekali dimana dimulai dari pembicaraan dua orang murid SMP Negeri 1 Madiun yang saat itu menginjak kelas 2, tepatnya pada tahun 1974. Seorang teman saya yang ndhugal (nakal – red,) bernama Tjahaja Utama (apnggilannya Yayak) di sekolah memberi tahu saya bahwa ada band namanya ELP dengan lagu berjudul “Yes”. Kontan setelah sampai di rumah jalan Sumatra 26 (sekaang nomer 28 – red.) Madiun saya mengambil secarik kertas untuk menulis surat kepada kakak saya, mas Henky, yang saat itu kuliah di Fakultas Ekonomi UGM dan ngekos di Gowongan Kidul (kalau gak salah nomer 56). Isi suratnya ringkas padat, intinya saya minta direkamin lagu berjudul “Yes” dari kelompok yang menamakan dirinya ELP. Blas! Saat itu saya belum tahu makna ELP itu apa dan juga lagu berjudul “Yes” itu seperti apa.

Pas mas Henky liburan ke Madiun, benar saja dia membawakan saya sebuah kaset dengan pita Maxell “Low Noise” yang seri lama dan belum ada istilah “UD” yang isinya justru nama band YES dan lagu pertamanya “Roundabout” sedangkan side B nya band namanya ELP dengan album yang saya tak tahu apa yang jelas ada lagu yang kayak “banyu umup” (blekuthuk2 musiknya kayak air mendidih gitu ….) yang akhirnya kita semua tahu album Brain Sallad Surgery. Karena penasaran dengan lagu bertajuk “Yes” tentu saya setel band YES dulu.

Dan,,,,……bener2 “mak jedhandhut!” saya njumbul abis2an mendengarkan lagu pembuka bertajuk “Roundabout”. Biyuuuuuuuuuuh ……!!!! Musik kok ciamik cemampik kemplik cuwanntik tenan …. Mana saya pernah nyangka ada musik indah yang dimulai dengan suara “……ngggggTHING” yang khas itu. Abis itu petikan gitar akustiknya juga menawan dengan suara dawai yang sengau namun menyemburatkan ketegasan. Sungguh saya kagum dengan intronya dan belum tahu siapa saja musisi yang main, lha wong baru pertama kali denger nama Yes. Saat itu pemain gitar yang saya tahu ya cumak Ritchie Blackmore, Rory Galagher dan Marc Bolan. Dua nama yang saya sebutkan hanya saya tahu dari Aktuil, tak pernah denger musiknya kayak apa. belakangan saya tahu Marc Bolan itu gitaris dodol kecimpringan ora huwenak blasssss … ha ha ha ha … Tak hanya intronya saja dari Roundabout ini yang berhasil menohok ulu ati saya, struktur musiknya pun gak standar plus sering gonta-ganti style dan tempo. Selain gitar yang menjadi perhatian saya adalah kibor yang banyak tukikan maut dan kemudian dibalut dengan suara snare drums yang sungguh beda dari umumnya musik rock. JRENG dah! Sejak itu hatiku tertambat kepada band yang namanya YES ini. Uwediyaaaaaan ….! Bahkan Roundabout ini selalu saya senandungkan ketika berangkat atau pulang sekloah sambil jalan kaki. Ingat, jaman itu mendengarkan musik hanya bisa di rumah karena Walkman belum ditemukan, apalagi iPod.

Prejengan saya ketika lulus SMP. bayangin bocah ndesit muka kampung gini jaman dulu sudah bisa menikmati YES "Fragile" dan ELP "Brain Sallad Surgery" ... Huopppo tumoooon???!!! Cah Mediyun sisan rek! Nduwesit pol!

Prejengan saya ketika lulus SMP. bayangin bocah ndesit muka kampung gini jaman dulu sudah bisa menikmati YES “Fragile” dan ELP “Brain Sallad Surgery” … Huopppo tumoooon???!!! Cah Mediyun sisan rek! Nduwesit pol!

-

Ha ha ha ha ...mas Edi kreatip tenan ...mosok dibandingkan sama John McLaughlin ... ha ha ha ha .... (edited 13 Nov 2014, based on dab Edi Apple comment)

Ha ha ha ha …mas Edi kreatip tenan …mosok dibandingkan sama John McLaughlin … ha ha ha ha …. (edited 13 Nov 2014, based on dab Edi Apple comment)


-
image

Selain Roundabout, saya juga suka dengan Southside of The Sky yang musiknya miris banget dan terasa sangat tematik banget tuh lagu. Di bagian awal yang ada angin ribut dan kemudian drums masuk itu rasanya nuansamatik kemlitik tenan. Melodi lagunya sungguh nunjek ulu ati apalagi pas dibagian menjelang chorus dan terutama chorusnya. Wah menggelepar tenan saya dibuatnya oleh lagu aneh ini. Dalam hati saya mbatin “Hebat juga ya mas Henky tahu aja ada musik ajaib kayak gini. Apa karena dia jadi penyiar radio ya? Ah …nikmat juga kalau jadi penyiar ya, bisa setiap saat mendengarkan musik selama 24 jam dan paling duluan dapet PH nya … Ah mau jadi penyiar radio aja ah …!”. Sungguh, Yes telah nyirep saya menjadi melupakan jenis musik lainnya apapun yang ada di muka bumi. Lagunya Deep Purple kayak Woman From Tokyo atau Strange Kind of Woman atau Fools yang dulu saya gandrungi terasa seperti musik pop gak ada tantangannya blas, karena cumak lurus2 aja, tambah gitar solo, kibor solo …trus selesai. Lha? kapan musical orgasm nya? Kalau di Yes (yang baru beberapa tahun kemudian saya tahu bahwa nama albumnya “Fragile”) di setiap menit selalu ada orgasmnya lha wong nikung terus, sehingga di akhir lagu kita lempoh (loyo – red.) menderita kepuasan paripurna.

Sekolah saya semakin semangat sejak mengenal YES sehingga di kelas saya selalu mendapatkan ranking paling tidak nomer 3. Lha, apa hubungannya YES dengan prestasi sekolah? Bagi saya ya jelas ad to, lha wong kalau belajar saya selalu mendengarkan musik. Ketika dapat musik yang “menggairahkan” seperti Fragile ini, birahi saya buat beajar makin meningkat karena adrenalin dipacu terus buat selalu belajar dan belajar. Saya mulai kenal kopi tubruk di masa ini meski hanya konsumsi saat mendekati ulangan saja. Masih ingat saya, bu guru bahasa Inggris saya yang cantik sekali, namanya ibu Herawati (almarhum dan semoga beliau masuk surga – amiin …), selalu menunjuk saya untuk PR yang sulit dikerjakan oleh siswa lain. Gak rugi mendengarkan Yes karena nilai bahasa Inggris saya tergolong moncer kala itu. Ya jelas aja wong masih tarafnya dulu “This is a car. This is a comb” masih belum menyentuh Past Participle yang rumit itu … ha ha ha ha ha … Ilmu Ukur saya nilainya juga bagus dan dipuji sama Pak Bagio (alamarhum juga, semoga masuk surga. Aamiin). Aljabar? Jangan tanya …saya sempat disayang Bu Salbiyah (alhamdulillah beliau masih sehat di Madiun, usia 91 tahun, dan pernah saya ulas di artikel di sini). Wis to …pokoke prestasi sekolah gemilang gara2 prog … Gak percaya? Rugi nek ra percoyo mbek aku.

Sebenarnya, jujur saja, otak saya itu gak encer bahkan lambat von lemot kalau belajar. Namun semangat saya untuk menjadi juara sangat membara apalagi dengan kompor sumbu 48 yakni musik prog ala YES dan ELP. Wah …saya giras banget belajar dan semboyan saya adalah (gaya ya, masih kecil sudah punya visi meski ecek2 …) “ketekunan demi kesuksesan”. Kalau orang lain bisa menyerap persamaan Aljabar dalam waktu 15 menit, untuk saya perlu waktu satu jam. Artinya, saya lemot alias lemah otak. Namun alhamdulillah ada musik prog indah yang tinggal saya bolak balik saja kasetnya ping kopang kaping sampek bodhol sehingga “endurance” saya dalam belajar bisa lama sekali. Sejak SMP saya sdh biasa tidur tengah malam. Lucunya, saya belajar kalau maunya sendiri. Kalau disuruh belajar sama ibu, saya malah nonton tv karena mangkel …gak suka disuruh-suruh.

Singkat kata , bagi saya pribadi, pengaruh musik dalam kehidupan saya sangat besar sekali …makanya memang dari dulu saya sudah menerapkan “music for life” …. Bagi saya musik adalah semangat yang membara an bisa meletupkan api di dalam diri untuk meraih yang terbaik, paling tidak bagi diri saya sendiri, bukan dibandingkan dengan orang lain. Bukti nyatanya selama kelas 2 dan kelas 3 SMP saya selalu masuk dalam kelas “khusus” (kalau istilah sekarang ya akselerasi) padahal saya lemot …

Sejak Fragile, saya memburu semua hal terkait YES, termasuk Yessongs (terpesona dengan “Perpetual Change”), Relayer, Tales dan juga Rick Wakeman “Journey to the Center of The Earth”. Yang mempesona dari Perpetual Change itu kocokan gitarnya sungguh membahana jiwa (opo kuwi?). Saya rasa Perpetual Change itu judul lagu yang visioner sekali dan terbukti EMPAT PULUH TAHUN kemudian saya menjadi Change Management consultant ….he he he … Makanya “Change before you have to!” JRENG!

Salam prog,

G

No music as great as PROG

And you have to believe it, or …die!

-

Slide2

-

Bertemu The Police di Yogya

September 11, 2014

Andria Sonhedi

Bertemu the Police di Yogya

Hari Rabu – Kamis , 3-4 September 2013 kmarin saya dapat tugas ke Yogya. Yang jelas untuk ke sana tak perlu naik kereta atau pesawat, cukup naik mobil. Kali ini pun saya nginap di rumah masa kecil saya yang cuma di barat Malioboro krn kebetulan acara diklat saya di hotel Garuda,Malioboro. Saya sempat juga melihat seberang hotel, toko kaset Kota Mas sdh tampak bekasnya. Dahulu saya sering parkir di depan hotel Garuda ini untuk kemudian menyeberang ke toko Kota Mas. 

Sayangnya pula kali ini saya tidak bisa ketemu pak Priyo saat mencarinya di Pasar Bringharjo. Entah sdg tak jualan atau memang sudah berhenti jualan. Praktis perburuan saya untuk kaset seken berakhir, soalnya saya belum nemu tempat selain di situ.Masih belum cukup sempurna kesialannya, saat saya ke Ambarukmo Plaza (anak2 muda nyebutnya Amplas) toko cd resmi satu-satunya di Yogya (toko Popeye & Bowsound tak saya hitung) juga baru saja tutup September ini. Nantinya toko yg ada di lantai 3 itu akan jadi gerai kuliner Fish & Chips.
Tapi bagaimana pun saya tetap harus bersyukur, sebelum jelalatan nyari toko cd saya sempat mampir Gramedia di lantai 2. Kebetulan ada diskon untuk buku-buku hard cover luar negeri. Kebanyakan memang buku-buku desain, taman, foto, dst. Buku musik tak ada yang didiskon, namun di sela-sela buku-buku tadi saya lihat ada satu buku berjudul I’ll be Watching You: Inside The Police 1980-1983. Saya ingat beberapa tahun yang lalu saya pernah melihat buku ini. Untunglah saat itu tak saya beli, selain saya bukan fans the Police harganya juga mahal. Entah nggak laku-laku atau memang tak ada yang kenal the Police malam itu buku tadi didiskon paling besar, yang tadinya 270 ribu dengan harga baru berubah menjadi Rp 80 ribu. Saya jadi ingat buku tentang Queen, John Bonham atau karangan Dave Eleffson yang di banting harganya jadi Rp 10.000.
 Akhirnya, di antara lalu lalang orang berbelanja baju, jeans, roti breadtalk dan sebangsanya terselip seseorang yang malah menenteng buku seberat 1,25 kg di Ambarukmo Plaza :D
Buku tadi cetakan penerbit Taschen Jerman tahun 2007. Ternyata penyusun & juru fotonya tak lain tak bukan adalah Andy Summers sang gitaris the Police. Isinya memang foto-foto selama tour mereka di tahun 1980-1983. Bahasanya ada 3: Inggris, Jerman & Perancis dengan foto-foto hitam putih (yg ini tdk dibuat 3 macam). Bahkan saat John Lennon ditembak di Dakota tak lupa Andy memotret koran yang memberitakannya. Sementara ini bukunya belum saya baca semuanya dan mbukanya pun hati-hati sekali :)

image

-

image

Saya memang tak terlalu beruntung karena tidak ketemu pak Edi Apple krn  pas tak dolan Yogya, juga pak Herwin/KohWin yang sdh ada jadwal ke Wonogiri. Tapi kl utk KohWin tentu saja kisah tdk bertemunya bisa Anda baca di halaman lain blog ini :)


evil has no boundaries

My Walkman Is Back!

September 2, 2014

Hippienov

 

Woaw!… Seneng banget setelah kira-kira dua tahun walkman “djadoel” merek Aiwa ku terbaring kaku tak berfungsi di dalam lemari, akhirnya hari Sabtu sore lalu (30 Agustus 2014) roda-roda walkman ini kembali berputar dan melantunkan lagu-lagu djadoel kegemaranku… Thank God…
 
Ceritanya suatu hari walkman satu-satunya yang aku punya tiba-tiba rusak gak mau memutar kaset lagi, sebelumnya gelaja aiwaini sudah sering muncul tiap aku mau nyetel kaset. Harus aku “keplak-keplak” (pukul-pukul ringan) dulu untuk memancing roda pemutar walkman agar berputar tapi akhirnya cara primitif ini gak mempan lagi, walkman ku berhenti total gak mau memutar kaset lagi. Sedih bukan kepayang, pernah terpikir untuk beli yang baru tap ternyata nyaris gak ada lagi yang jual… Lah wong sing jual mp3 player saja sudah mulai jarang, aku malah nyari yang jual walkman? Aku juga mencoba membawa walkman ini ke beberapa servisan elektronik tapi jawaban yang aku dapat selalu sama, mereka gaka bisa atau sebenarnya gak mau membetulkannya. Sekedar mencobanyapun gak mau, malah menyentuh walkmanku saja sepertinya ogah. Mereka semua bilang “wah sudah sparepart nya, lagian udah gak jaman sekarang pake walkman… Ada malah yang menyarankan untuk “membarang loakkan” alias mebuang walkman ini   ” Asem rek!… Sebel, kesel campur sedih tiap kali dengar kata-kata itu, tapi aku coba untuk sabar dan mencoba berpikir realistis bahwa yang mereka ucapkan ada benarnya juga, mungkin aku yang terlalu “old-fashioned” dan mungkin saatnya move on to newer things…
 
Singkat cerita akupun mulai mencoba menerima kenyataan bahwa walkman ini gak pernah bisa hidup lagi dan sekarang hanya jadi bagian dari kenangan hidupku. Aku juga mulai menggunakan file mp3 di hape (out of fashion) ku untuk mendengarkan musik saat di kantor atau di jalan. O ya, dulu saat walkmanku masih berfungsi aku suka mendengarkan lagu lewat walkman saat mengendarai motor. Walkman nya aku masukkan saku jaket yang kebetulan ada zipper nya jadi aman gak bakal jatuh, kalo satu side habis ya aku berhenti sebentar buat membalik kasetnya ke side berikutnya, atau kalo mau ganti kaset.. Tapi kalo pas kena macet atau sedang ngebut ya harus sabar dulu samapi dapat tempat yang aman dan nayamn untuk berhenti dan membalik/ganti kaset. Saat kebanyakan orang menggunakan hape, ipod atau mp3 player yang ringkes, ringan dan gak repot aku masih setia dengan teknologi djadoel yang lumayan ribet dan perlu waktu khusus untuk sekedar membalik side atau ganti kaset.
 
Walau sudah “mencoba” beralih ke teknologi kekinian yang gak ketinggalan jaman namun tetap saja ada saatnya aku kembali kangen dengan walkmanku dengan segala keribetannya. Aku suka membuka lemari dan mengambil walkman itu lalu aku elus-elus sampai timbul rasa sedih dalam hati.. Saat melakukannya beraneka kenangan masa lampau yang pernah aku lalui mucul kembali, serasa aku going back to the those moments termasuk saat aku pergi bersama adik perempuanku membeli walkman ini di Mall Cimanggis more than 10 years ago. Namun apa daya walkman ini sekarang rusak…
Biasanya kalau sudah terlalu sentimental maka aku akan cepat-cepat simpan lagi walkman nya di tempat semula, takut malah jadi nangis beneran…
 
Nah beberapa bulan lalu papa ku secara gak sengaja menemukan tempat servisan elektronik yang “progressive” karena secara tak terduga bisa membetulkan stereo set dan compo adik-adikku yang sudah lama rusak. Dan… “kriiiiingggg”, ring a bell… Aku langsung teringat walkman ku yang ada di lemari, jangan-jangan bisa dibetulkan juga nih.
Langsung aku minta tolong untuk dibawa ke tempat servisan itu tapi papa ku sepertinya gak sama semangatnya dengan aku, beliau hanya bilang “dulu kan udah pernah dibawa ke tempat lain dan gak bisa dibenerin, paling yang ini juga sama…” Atau paling top beliau akan bilang “ya udah nanti papa bawa” tapi selama itu pula gak pernah dibawa dan walkman ku pun kembali masuk lemari… Peristiwa ini terulang beberapa kali dan aku pun mulai pesimis sampai tiba-tiba Mas G brought back my good old memories of that walkman lewat sebuah tret, dan semangatku kembali menggebu untuk mencoba membetulkan walkman tua ku itu…
 
The long awaited moment finally came… Sabtu kemarin papaku mengajak untuk membawa walkman ku ke tempat servisan elektronik yang ngeprog itu dan langsung aku sambut dengan gembira. Kita berduapun meluncur ke tempat yang dimaksud namun ada keraguan dalam hati dan aku pasrah jika ternyata si Bapak servis juga angkat tangan. Sampai di tempat yang dimaksud dengan sikap yang dingin walkman ku langsung di kutak-katik serius tanpa mempedulikan keberadaa kami berdua. Akhirnya kami memilih untuk pulang karena sepertinya ini akan terlalu lama jika ditunggu.
 
Sekitar jam 14.00 atau 14.30 WIB saat aku sedang pergi ke tempat lain papaku sms dan memberi info kalau walkman sudah selesai diservis dan bisa diambil. WOAW… Sueneng pool!…. Aku langsung meluncur tapi ternyata tempatnya tutup. Duh… tertunda nih celebration nya, padahal sudah gak sabar mau nyobain denger kaset via walkman.
Sore hari akhirnya walkman nya diambil oleh papaku yang kebetulan ada arah ke tempat servisan dan begitu sampai di rumah langsung aku sound test dengan Michael Franks “Jazz Vocal” rilisan Aquarius, wuih… ajib…. Ini pertama kali aku dengar musik via walkman setelah sekian lama absent. Seneng banget tak dapat dilukiskan dengan kata-kata, ternyata pengharapan, keinginan kuat dan usahaku pantang menyerah untuk membetulkan walkman penuh kenangan ini terbayar sudah…
 
Hari ini, untuk pertama kali setelah 2 tahun aku kembali bawa walkman ke kantor dengan beberapa kaset djadoel untuk menemaniku kerja, asik…
Walaupun ini berarti menambah beban tas yang harus aku bawa tapi gak mengapa, demi sebuah nuansa djadoel yang kian hari memudar aku rela membawa beban berat di tas…
 
Matursuwun Mas G untuk waktu dan kesempatan yang diberikan dan tak lupa untuk rekan-rekan yang sudi membaca tulisanku ini. Mohon maaf atas kekurangan yang ada dalam penulisan.
 
 Just an old fashioned hippie with his old fashioned walkman playing some old fashioned rock songs…
hippienov  

 

Pengalaman Hippienov Tur Manca Negara dengan membawa Walkman

August 27, 2014

Mas Hippie dan gemblungers … Setelah berjuang lama akhirnya saya temukan (atas bantuan mas Hippie memberikan ke saya kata kunci nya) kisah pengalaman unik mas Hippie yang ia ceritakan di blog gemblung ini pada tanggal 25 Mei 2011 yang lalu. Saya posting menjadi TRET karena ceritanya sungguh indah dibaca dan penting bagi kita, kumpulan orang gak penting ini … he he he … Saya copas apa adanya, saya kasih warna beda terkait komentar mas Hippie ya, biar tuntas.

———–

Hippienov Says:
May 25, 2011 at 12:03 am | Reply edit
Mlm mas G n mas Kris,maaf baru gabung ngeprog lagi setelah 1 mingguan lenyap :-D
Ceritanya aku baru pulang liburan gratis dari kantor,he2.. Gak tau ada angin apa tiba2 kantor ngasih bonus liburan + uang jajan u/ karyawan-nya yg telah 4+ tahun kerja termasuk staf rendahan kayak aku yg pas hoki 4 th jadi kuli mereka.
Singkat kata liburannya seru karena jujur ini kali pertama aku keluar negri, numpak pesawat n jauh pula,he2..
Karena masih amatir, aku tergolong ringkes banget dalam hal brg bawaan,cuma 1 tas ukuran sedang plus tas slempang u/ nyimpen hape n paspor n uang receh :-D
Sangking ringkesnya praktis dari 23 peserta cuma aku yg gak ada bagasi,peserta lain semua bawa 2-3 tas/koper lumayan besar,sampei tour guide n temen2 takjub kenapa aku cuma bawa 1 tas.. (yg mrk gak tau kalo aku ud gak tau apa yg mau dibawa jadinya ya cuma tas itu aja,he2)
O ya,gak ketinggalan walkman djadoel koe n half-dozen kaset progclaro gak lupa aku bawa juga,he2..
Di pesawat ternyata aku bisa nonton tv ato denger musik pilihan kita sendiri n i was surprised ternyata mrk ada koleksi pink floyd, king crimson, mike oldfield, cream, led zeppelin, frank zappa, queen, beatles, stones, purple, rush, etc.. Wow..bagai anak kecil yg baru nemu mainan,ak sibuk gonta-ganti koleksi sementara tmn2 kiri kanan pules tidur (maklum ndesit,katro banget,ha3)

Sayangnya aku gak punya kesempatan nyari cd progrock sampei pas pulang transit di bandara dubai ak niat nyari toko yg jual cd. Niatku adalah nemu n beli cd progclaro yg langka di jakarta tp murah (dasar turis kere..he2..) n ternyata susah nyarinya sampei final moment aku nemu 2 album MOODY BLUES (days of future passed n in search of the lost chord) dalam 1 kemasan n compact price alias murah cuuy :-D walau bukan itu target utamaku tp ak beli juga :-D
O ya aku juga beli album clapton waktu di derek & the dominos “layla”. Ak pikir ini cukup jarang ak nemu di jkt jadinya ak beli.tp album ini kurang greget in my opinion,ringan gak seperti waktu clapton di cream ato blind faith..
Yah begitulah sekelumit crita liburanku ke rumah nenek :-D ato kerennya a journye of a prog freak into a strange land..
Walah nglantur,wara-wiri rana rene :-D

Ok back 2 the subject..
Ulasan mas Kris markotop,bak pinang dibelah 2 dgn reviews mas G,komplit,dalem tp jg catchy :-D
Ak cuma punya 1 kaset Pallas album the sentinel rilisan yess no. 514. Mungkin kaset ini sama dgn kaset punya mas Kris yg hilang dipinjem kebablasan.. :-D
Di album the sentinel menurutkupallas mirip2 saga (kompilasi “made in canada” rilisan yess).
Sejauh ini cm 1 album itu koleksi pallas ku,makanya jadi penasaran sm album anyar mrk. Mas Kris aku ti2p tuku pallas anyar..byr tempo iso ra? :-D

Anyway,glad 2 b back again w/ all my senior proggers :-D n thx 4 reading this silly story..
Suwun..

Kristanto Says:
May 25, 2011 at 1:21 pm | Reply edit
Hahaha, bisa aja mas Hippienov, saya tuh cuma bisa nulis tp minim analisa & apresiasi, hehehe …
Wah asik bener tuh jalan2nya mas, kalau Rick Wakeman ada “Journey to the center of the Earth” nah travelnya sampeyan “Departure” – “Escape” – “Arrival” & “Look in to the Future” nya grup ameriko JOURNEY , hahaha …

Gatot Widayanto Says:
May 25, 2011 at 9:01 am | Reply edit
WELCOME HOME MY FRIEND TO THE BLOG THAT NEVER ENDS …. hua ha ha ha ha ha ha ha ……

Mas Hippienov …seneng sekali melihat Anda balik lagi ke blog gemblunk tanpa arah ini (lha ngapain diarahin wong musik prog aja tak ada arahnya kok kita bikin terarah. Kalau mau terarah ya musik pop aja … ha ha ha ha ha …).

Saya baca kisah mas Hippienov ini sampe dua kali saking enjoy banget bacanya. Enak pol …serasa menikmati kaset Marillion keluaran Yess ….hue heheheheh…..

Ada yang menggelitik buat saya, terlepas masalah musik. Ini tentang tempat kerja mas Hippienov. Kalau benar mas Hippienov ini karyawan rendahan, rasanya baru kali ini denger ada perusahaan yang menerbangkan 24 karyawannya ke luar negeri selama seminggu dibayarin penuh oleh kantor. WHOOOOAAAAA…. Ini keajaiban dunia. Apalagi, menurut mas Hippienov, ini adalah perusahaan keluarga. Lebih MASYGOEL lagi saya. Wong karyawan baru bekerja 4 tahun aja kok udah bisa NGLENCER dibayarin kantor. Opo tumon???? Berarti perusahaan ini gak main2 dan berskala besar serta profesional pengelolaannya. Emang untuk menjadi profesional musti perusahaan NON keluarga? Gak juga toh? Salut buat tempat kerja mas Hippienov yang menurut saya SANGAT BAIK. Gak usah mikir keluar lah mas …apalagi boleh nyetel prog di kantor …. Di NIKMATI ajalah mas …

Kemungkinan lain, mas Hippienov ini hanya “ngaku” aja sebagai karyawan rendahan padahal sebenernya boss besar dan diberi fasilitas mak nyus oleh kantor. Kalau ini lebih masuk akal karena mas Hippienov layak buat di”tour”kan ke LN atas biaya kantor karena kontribusi departemen yang dipimpin mas Hippienov ini udah menghasilkan profit puluhan bahkan ratusan milyar ….

Back to music now ….

1. Salut di jaman digital gini mas Hippienov masih ‘keukeuh’ bawa musik analog dalam bentuk kaset beserta walkman nya. Apalagi dengan tas kecil, lha itu puluhan kaset proclaro aja apa ndak udah boros tempat to mas? AKu nggumun lho mas. Hebat dah masih konsisten dengan kaset! Salut pol aku! Saya sendiri jarang bepergian dengan walkman karena saya mendingan KOMPROMI menikmati musik dari MP3 karena praktis dan bisa muat banyak musik. Tapi kenyataannya memang tak semua musik di iPod itu kesetel juga …ha ha ha ha …jadi sebenernya bawa kaset lebih tepat dan fokus. Selain itu nuansamatik pol.

2. Pallas sejak album “The Wedge” dengan vokalis baru Alan Reed memiliki warna musik yang beda dari The Sentinel, mas Hippienov. Jadi, yang ANda denganr dari kaset Yess Anda itu belum mewakili musik Pallas dewasa ini. Setelah album The Wedge (1986) Pallas kemudian tidur puwanjaaaaaaaaang pol selama 12 (dua belas) tahun hingga membuat gebrakan baru dengan album “Beat The Drum” (1998).Wha ini album huwenak tenaaaaan … Apalagi ada atraksi drumsolo di lagu bertajuk “Beat The Drum”. Sejak itu album Pallas selalu keren. Sayang, saya belum beli yang XXV nih … he he he he …ngiler aja denger crita mas Kris … ha ha ha ha ha …

3. Ada yang mengatakan bahwa cikal bakal PROG itu dari Moody Blues “Days Future Passed” (1967) karena sudah dipakainya orkestra di album ini. Namun banyak yang mematahkan pandangan tersebut karena di situ unsur mellotron belum ada sehingga akhirnya ditetapkan King Crimson “In The Court of the Crimson King” sebagai awal dari lahirnya PROG meskipun ada yang nyebut juga The Beatles “Sgt Peppers Lonely Hearts Club Band”. Tapi apapun sing penting PROG huwenak dinikmati ….

Eh..mas Hippienov kemana sih? US? Kalau di Amrik memang sulit cari prog. Kalau ke UK…lha itu dia gudangnya mas …. He he he he …

Salam,
G

Kristanto Says:
May 25, 2011 at 1:26 pm | Reply edit
Walkman diangkut karena yg dibawa kan kaset2 rekaman Yess, jadi selain nuansa-nya juga sekalian promosi siapa tau ketemu Geldof kan bisa ditunjukin kalau yg bajakan-pun bisa keren & ekslusif, hahaha …

Hippienov Says:
May 25, 2011 at 11:17 am | Reply edit
Met pg mas G,
Ha3..trims feedback comment nya mas. Jujur aku cuma staf biasa mas,posisiku itu senior staff purchasing :-D n aku belum memberi kontribusi apa2 u/ kantor,malah kayaknya ngerugiin mas,he2..

Dalam group ku kemarin ada yg memang punya jabatan relatif penting sampai staf biasa seperti aku,malah temen kerjaku yg driver juga ikut. Dari sini sptnya keliatan management bener2 peduli dgn karyawan n gak pilih kasih ya mas, n betul aku akui itu tp tak ada gading yg tak retak,ada juga yg kurang (ya spt yg aku crita wkt itu mas). Tp u/ kasus jalan2 ini aku bener2 salute n angkat topi u/ kntrku.
Sebenarnya jujur aku juga agak ragu u/ pindah mas,paling gak aku ud cukup tau sikon n “medan perang” di kantorku ini n kalo pindah berarti hrs meraba2 lagi n mulai dari nol,tapi tuntutan n tekanan ekonomi yg buat aku terus berpikir u/ pindah n find a better one mostly dlm hal financial n kedua karir mas. Karir ak ndak gitu ambisius,go w/ the flow aja tp faktor gaji yg jadi main trigger nya mas.. Selama karirku belum pernah 1x pun aku bergaji s/d nominal 3,slalu dibawahnya, bahkan yg skrg ak jalani gak sampei menyentuh 2.5 totalnya..
Aku slalu usaha cari lewat koran,i-net ato via tmn2 n kolega2 yg aku kenal tp mungkin Tuhan bilang saatnya blm tiba u/ aku..
Hal ini gak buat aku kecil hati mas,malah berbesar hati krn msh bnyk saudara2 kita yg jauh lbh sulit kondisinya tp perjuanganku te2p berjalan,the search is not over yet til my last breath :-D

Walah jadi curhat,isin ak..nglantur wara wiri.. :-D

Back 2 music,
Bener mas di album days of future passed orkestra dpt porsi bnyk n sygnya mellotron gak kedengeran,tp kyknya ada konsep yg mau ditampilin moody blues krn ada bagian2 aransemen yg mirip2 di beberapa lagu,contohnya aku bisa denger sdkt aransemen nights in white satin dr lagu awal album ini.
O ya,mellotron terdengar jelas di in search of..jd lbh seru mas..

Aku termasuk yg kurang paham pallas mas tp album sentinel aja ud bs bikin aku suka mrk,apalg album2 lainnya spt mas G blg,mgkn bs bikin aku makin klepek2 jumpalitan..ha3..

O ya,kemarin kantor ksh liburan kita ke kaw. middle east mas :-D ada yg ke madina,mekkah, riyadh, n groupku kebetulan kebagian ke yordania,palestina n jerusalem :-D

Walah panjang bener ak ngoceh..thx 4 taking time reading it.
Long live progrock!
Suwun

Hippienov Says:
May 25, 2011 at 11:25 am | Reply edit
O ya lupa, bener kata mas G,keputusanku bw walkman n kaset2 progclaro bener2 makan tempat di tas ku,gak ada tempat kosong lagi u/ oleh2,ha3..
Tp ak rela2in beli oleh2 parfum u/ istri tersyg di dubai mas. Lagi2 brg promo 1 price for 3 bottles,murah meriah mas,ha3 :-D
Suwun..

Hippienov Says:
May 25, 2011 at 3:55 pm | Reply edit
Sore mas Kris,
Ha3..bener loch review pallas mas Kris bikin ak ngebet dngr album anyar mrk ditmbh lagi masukan mas G wah ak makin mules kebelet nyari album2 pallas :-D

Sayang ak ndak bw kaset purple wkt itu,lagu woman from tokyo pas jg didenger waktu terbang “…flying to the rising sun…” walau ak bukan ke tokyo tp masih crita2 terbang jg kan,ha3..maksa bgt d :-D
Yg lucu mas,ak perhatiin kayaknya cm ak yg bw n dngr kaset pake walkman,orang2 lain pke mp3 ato ipod..walah ak keliatan djadoel pol..seperti “stranger in a strange land” aja plus repotnya kalo side a hbs hrs pindah manual ke side b apalagi pas mau ganti kaset kudu buka-tu2p walkman,ha3 :-D
Tp biarlah,pura2 pe-de aja padahal sedikit kikuk juga,ha3..

Suwun mas :-D

Gatot Widayanto Says:
May 25, 2011 at 4:44 pm | Reply edit
Wakakakakakak …..seru banget baca postingan mas Kris dan mas Hippienov ini …ha ha ha …dari tadi aku kerja sambil mesam-mesem baca komen2 di sini …hua ha ha ha …..

Aku gak kebayang tuh mas Hippienov buka tutup walkman buat bolak-balik side A dan B ….seru banget. Apalagi membayangkan yg duduk di sebelahnya pake iPod dan gak pernah buka tutup “sesuatu” karena musiknya virtual, tak perlu space fisik. Sementara mas Hippienov masih jadoel-kumadoel boeka toetoep …ha ha ha ha ha ….betapa ribetnya mempertahankan gaya hidup nuansamatik ya mas? Ha ha ha …. Seru banget jadinya ….

Kenikmatan mendengarkan musik dg kaset kita dipaksa mendengarkan full album atau sekurangnya satu sisi sampek pok ….kalau gak, kasetnya akan terkena jamur dan di bagian tengahnya babaliyut ….

Jadul pancen oye!!!!

apec Says:
May 25, 2011 at 5:28 pm | Reply edit
Wah,seru juga baca pengalaman mas Hippienov..
Omong2 tentang Pallas, musik mereka memang lumayan dan harus masuk daftar kuping Prog. Baru saja, sekitar 3 jam lalu saya akhirnya dapet Kaset Pallas The Wedge, rekaman Aquarius, masih kinyis-kinyis. Jadi sekarang punya 2 album Pallas versi kaset,Sentinel dan the Wedge…
He..he…,jaman segini kok kaset masih tetep dibanggakan, padahal dg CD sdh banyak harusnya album yg didapat..

Kristanto Says:
May 26, 2011 at 9:06 am | Reply edit
Bro Apec, “The Wedge” keren tuh … Omong2 itu kaset rekaman
Yess kah ? Skrg ini saya kepikiran mau cari rekaman Yess jadul,
ada reference tempat2 yg bs dijambangi ?

Kristanto Says:
May 26, 2011 at 9:11 am | Reply edit
Sorry, baca gak teliti, ternyata rekaman Aquarius.
Hehehe, rekaman aquarius yg tersisa di koleksi saya cuma
Pink Floyd “Dark side of the Moon” …

Hippienov Says:
May 26, 2011 at 10:09 am | Reply edit
Pg mas G,
Bener bgt mas,perlu perjuangan extra n lots of pe-de u/ mempertahankan gaya hidup :-D

O ya ak lupa crita kalo waktu pergi aku gak lupa bawa kaos2 bergambar/logo band progclaro,ada pink floyd,stones, zeppelin,ac/dc n kaos dgn lambang “peace” plus celana panjang yg aku modif jadi cutbray n juga jaket yg aku tempel emblem tulisan n logo besar “toyota” di belakang.
Jd saat berangkat aku denger kaset pake walkman dgn kaos ac/dc, celana panjang cutbray plus rambutku yg agak gondrong,topi gunung n gak lupa sendal gunung bata :-D jd kayak hippies 70an gitu,ha3.. Hippies woodstock yg nyasar,ha3..
Alhasil dari semua peserta,yg paling nyeleneh amburadul ya cuma 1,hippienov.. :-D yg lain relatif rapi tp aku bener2 apa adanya :-D

So that’s the story,kind a silly but it’s true :-D
Suwun

Hippienov Says:
May 26, 2011 at 10:20 am | Reply edit
Pg mas Kris,
Sekedar sekilas info kalo mas cari kaset loak terutama yess selain di jatinegara mungkin bisa juga di depok mas.di jalan margonda ada toko musik namanya “dav music” yg jual alat2 musik plus loakan kaset.mrk ada jg koleksi yess.ak dpt beberapa kaset gentle giant (yess) di tmpt itu :-D
Monggo dicoba jika berkenan,happy hunting :-D
Suwun

Brosur Billboard Charts dari toko kaset Kotamas Yogya

August 20, 2014

Andria Sonhedi

image

Jaman kaset non royalty para produsen kaset punya cara mempromosikan kaset-kasetnya. Ada yang membuat iklan di majalah hiburan film & musik seperti Vista atau di majalah remaja Hai. Ada lagi yang mencetak brosur bulanan untuk memampangkan produk2 baru mereka serta tangga lagu/charts barat yang tentu saja dapat didengar lagu-lagunya lewat kaset2 produksi mereka juga.
Saya ingat kl Team Record paling lux brosurnya, full color dgn kertas glosy agak tebal. Aquarius memakai kertas biasa dengan warna biru. Billboard juga dgn dominasi merah muda. saya pernah dapat dari Atlantic yg luc (cover muka Madonna yg bawa penghargaan AMA) cuma sayangnya terbit sekali. AM record malah hanya gambar2 kaset tanpa ada resensinya, begitu juga Hins Collection.
Biasanya brosur-brosur tadi didistribusikan ke toko-toko kaset & gratis utk yang mau ambil. Sayangnya brosur2 saya (lumayan banyak jenisnya) hilang entah ke mana saat gempa Yogya, maklum barangnya saya tinggal di Yogya karena saya pikir lebih aman. Saya cuma nemu satu dari Billboard, itupun gara-gara saya pakai nyampuli buku tulis SMA saya :)
Kl yg brosur Billboard ini juga menuliskan radio-radio mana yang menyiarkan Billboard Top 50. Di Yogya saya selalu mendengarkan tiap hari Sabtu sore, apalagi saat itu saya sdg menunggu grup kesayangan saya Queen menembus peringkat #1 di tangga lagu.
Brosur yg saya tampilkan ini saya daptkan di toko kaset legendaris Kotamas Yogya, stikernya ada di pojok atas. Kotamas memakai logo Hins Collection mungkin karena di sana terbanyak menjual kaset terbitan Hins terutama yang Rockshots.


evil has no boundaries

Koleksi 234: Suzi Quatro / Alvin Stardust by Empire

August 19, 2014

Gatot Widayanto

image

Sebenarnya saya kurang tertarik menutar kaset ini karena band nya kelihatan cukup standar straight rock saja tanpa lekukan prog. Namun rekaman Empire cukup jarang saya dengar atau mungkin luoa, maka iseng aja saya putar. Ternyata kualitas rekaman dan pitanya masih prima sehingga musikbyang dihasilkan menjadi enak dinikmati sepanjang kaset diputar mulai dari side A. Memang Suzi Quatro ini rocker tulen karena di side A dia cukup ngerock dan lagu2nya pun jadi enak.

Side B nya malah Alvin Stardust yang saya kurang dengar selama ini atau mungkin saya kurang perhatian, musiknya juga gak ada yang istimewa. Namun saya putar juga karena biar pita kaset ini masih berfungsi.

Ah jadi terbiasa dan keenakan denger suara kaset aja belakangan ini.

image

-

Koleksi 234: Fleetwood Mac “Tusk”

August 15, 2014

image


Akhirnya kaset koleksi radio Djie Sam Soe (234) Madiun ini saya putar juga setelah saya evakuasi dari Malang akhir tahun lalu. Sungguh, saya sangat kagum dengan kualitas suara yang masih prima dari segi bass, treble dan mid ….sangat mantab di telinga. Yang patut disesalkan adalah ternyata kuping saya tak merasa nyaman menikmati musik Fleetwood Mac. Padahal, saya ngakunya sebagai generasi penggemar musik claro . Entahlah mengapa saya kok mendengarkan album ini hambar baik dari segi melodi maupun komposisi. Dari dulu sejak orang2 bilang bahwa band ini legenda dunia, saya kok gak pernah bisa SREG dengan musiknya. Apa sih hebatnya musik kayak gini? Wong pop biyanget …gak ada rock nya blas!

Ada temen-temen yang punya pendapat lain?


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 151 other followers