Archive for the ‘Counting Out Time’ Category

Bertemu The Police di Yogya

September 11, 2014

Andria Sonhedi

Bertemu the Police di Yogya

Hari Rabu – Kamis , 3-4 September 2013 kmarin saya dapat tugas ke Yogya. Yang jelas untuk ke sana tak perlu naik kereta atau pesawat, cukup naik mobil. Kali ini pun saya nginap di rumah masa kecil saya yang cuma di barat Malioboro krn kebetulan acara diklat saya di hotel Garuda,Malioboro. Saya sempat juga melihat seberang hotel, toko kaset Kota Mas sdh tampak bekasnya. Dahulu saya sering parkir di depan hotel Garuda ini untuk kemudian menyeberang ke toko Kota Mas. 

Sayangnya pula kali ini saya tidak bisa ketemu pak Priyo saat mencarinya di Pasar Bringharjo. Entah sdg tak jualan atau memang sudah berhenti jualan. Praktis perburuan saya untuk kaset seken berakhir, soalnya saya belum nemu tempat selain di situ.Masih belum cukup sempurna kesialannya, saat saya ke Ambarukmo Plaza (anak2 muda nyebutnya Amplas) toko cd resmi satu-satunya di Yogya (toko Popeye & Bowsound tak saya hitung) juga baru saja tutup September ini. Nantinya toko yg ada di lantai 3 itu akan jadi gerai kuliner Fish & Chips.
Tapi bagaimana pun saya tetap harus bersyukur, sebelum jelalatan nyari toko cd saya sempat mampir Gramedia di lantai 2. Kebetulan ada diskon untuk buku-buku hard cover luar negeri. Kebanyakan memang buku-buku desain, taman, foto, dst. Buku musik tak ada yang didiskon, namun di sela-sela buku-buku tadi saya lihat ada satu buku berjudul I’ll be Watching You: Inside The Police 1980-1983. Saya ingat beberapa tahun yang lalu saya pernah melihat buku ini. Untunglah saat itu tak saya beli, selain saya bukan fans the Police harganya juga mahal. Entah nggak laku-laku atau memang tak ada yang kenal the Police malam itu buku tadi didiskon paling besar, yang tadinya 270 ribu dengan harga baru berubah menjadi Rp 80 ribu. Saya jadi ingat buku tentang Queen, John Bonham atau karangan Dave Eleffson yang di banting harganya jadi Rp 10.000.
 Akhirnya, di antara lalu lalang orang berbelanja baju, jeans, roti breadtalk dan sebangsanya terselip seseorang yang malah menenteng buku seberat 1,25 kg di Ambarukmo Plaza :D
Buku tadi cetakan penerbit Taschen Jerman tahun 2007. Ternyata penyusun & juru fotonya tak lain tak bukan adalah Andy Summers sang gitaris the Police. Isinya memang foto-foto selama tour mereka di tahun 1980-1983. Bahasanya ada 3: Inggris, Jerman & Perancis dengan foto-foto hitam putih (yg ini tdk dibuat 3 macam). Bahkan saat John Lennon ditembak di Dakota tak lupa Andy memotret koran yang memberitakannya. Sementara ini bukunya belum saya baca semuanya dan mbukanya pun hati-hati sekali :)

image

-

image

Saya memang tak terlalu beruntung karena tidak ketemu pak Edi Apple krn  pas tak dolan Yogya, juga pak Herwin/KohWin yang sdh ada jadwal ke Wonogiri. Tapi kl utk KohWin tentu saja kisah tdk bertemunya bisa Anda baca di halaman lain blog ini :)


evil has no boundaries

My Walkman Is Back!

September 2, 2014

Hippienov

 

Woaw!… Seneng banget setelah kira-kira dua tahun walkman “djadoel” merek Aiwa ku terbaring kaku tak berfungsi di dalam lemari, akhirnya hari Sabtu sore lalu (30 Agustus 2014) roda-roda walkman ini kembali berputar dan melantunkan lagu-lagu djadoel kegemaranku… Thank God…
 
Ceritanya suatu hari walkman satu-satunya yang aku punya tiba-tiba rusak gak mau memutar kaset lagi, sebelumnya gelaja aiwaini sudah sering muncul tiap aku mau nyetel kaset. Harus aku “keplak-keplak” (pukul-pukul ringan) dulu untuk memancing roda pemutar walkman agar berputar tapi akhirnya cara primitif ini gak mempan lagi, walkman ku berhenti total gak mau memutar kaset lagi. Sedih bukan kepayang, pernah terpikir untuk beli yang baru tap ternyata nyaris gak ada lagi yang jual… Lah wong sing jual mp3 player saja sudah mulai jarang, aku malah nyari yang jual walkman? Aku juga mencoba membawa walkman ini ke beberapa servisan elektronik tapi jawaban yang aku dapat selalu sama, mereka gaka bisa atau sebenarnya gak mau membetulkannya. Sekedar mencobanyapun gak mau, malah menyentuh walkmanku saja sepertinya ogah. Mereka semua bilang “wah sudah sparepart nya, lagian udah gak jaman sekarang pake walkman… Ada malah yang menyarankan untuk “membarang loakkan” alias mebuang walkman ini   ” Asem rek!… Sebel, kesel campur sedih tiap kali dengar kata-kata itu, tapi aku coba untuk sabar dan mencoba berpikir realistis bahwa yang mereka ucapkan ada benarnya juga, mungkin aku yang terlalu “old-fashioned” dan mungkin saatnya move on to newer things…
 
Singkat cerita akupun mulai mencoba menerima kenyataan bahwa walkman ini gak pernah bisa hidup lagi dan sekarang hanya jadi bagian dari kenangan hidupku. Aku juga mulai menggunakan file mp3 di hape (out of fashion) ku untuk mendengarkan musik saat di kantor atau di jalan. O ya, dulu saat walkmanku masih berfungsi aku suka mendengarkan lagu lewat walkman saat mengendarai motor. Walkman nya aku masukkan saku jaket yang kebetulan ada zipper nya jadi aman gak bakal jatuh, kalo satu side habis ya aku berhenti sebentar buat membalik kasetnya ke side berikutnya, atau kalo mau ganti kaset.. Tapi kalo pas kena macet atau sedang ngebut ya harus sabar dulu samapi dapat tempat yang aman dan nayamn untuk berhenti dan membalik/ganti kaset. Saat kebanyakan orang menggunakan hape, ipod atau mp3 player yang ringkes, ringan dan gak repot aku masih setia dengan teknologi djadoel yang lumayan ribet dan perlu waktu khusus untuk sekedar membalik side atau ganti kaset.
 
Walau sudah “mencoba” beralih ke teknologi kekinian yang gak ketinggalan jaman namun tetap saja ada saatnya aku kembali kangen dengan walkmanku dengan segala keribetannya. Aku suka membuka lemari dan mengambil walkman itu lalu aku elus-elus sampai timbul rasa sedih dalam hati.. Saat melakukannya beraneka kenangan masa lampau yang pernah aku lalui mucul kembali, serasa aku going back to the those moments termasuk saat aku pergi bersama adik perempuanku membeli walkman ini di Mall Cimanggis more than 10 years ago. Namun apa daya walkman ini sekarang rusak…
Biasanya kalau sudah terlalu sentimental maka aku akan cepat-cepat simpan lagi walkman nya di tempat semula, takut malah jadi nangis beneran…
 
Nah beberapa bulan lalu papa ku secara gak sengaja menemukan tempat servisan elektronik yang “progressive” karena secara tak terduga bisa membetulkan stereo set dan compo adik-adikku yang sudah lama rusak. Dan… “kriiiiingggg”, ring a bell… Aku langsung teringat walkman ku yang ada di lemari, jangan-jangan bisa dibetulkan juga nih.
Langsung aku minta tolong untuk dibawa ke tempat servisan itu tapi papa ku sepertinya gak sama semangatnya dengan aku, beliau hanya bilang “dulu kan udah pernah dibawa ke tempat lain dan gak bisa dibenerin, paling yang ini juga sama…” Atau paling top beliau akan bilang “ya udah nanti papa bawa” tapi selama itu pula gak pernah dibawa dan walkman ku pun kembali masuk lemari… Peristiwa ini terulang beberapa kali dan aku pun mulai pesimis sampai tiba-tiba Mas G brought back my good old memories of that walkman lewat sebuah tret, dan semangatku kembali menggebu untuk mencoba membetulkan walkman tua ku itu…
 
The long awaited moment finally came… Sabtu kemarin papaku mengajak untuk membawa walkman ku ke tempat servisan elektronik yang ngeprog itu dan langsung aku sambut dengan gembira. Kita berduapun meluncur ke tempat yang dimaksud namun ada keraguan dalam hati dan aku pasrah jika ternyata si Bapak servis juga angkat tangan. Sampai di tempat yang dimaksud dengan sikap yang dingin walkman ku langsung di kutak-katik serius tanpa mempedulikan keberadaa kami berdua. Akhirnya kami memilih untuk pulang karena sepertinya ini akan terlalu lama jika ditunggu.
 
Sekitar jam 14.00 atau 14.30 WIB saat aku sedang pergi ke tempat lain papaku sms dan memberi info kalau walkman sudah selesai diservis dan bisa diambil. WOAW… Sueneng pool!…. Aku langsung meluncur tapi ternyata tempatnya tutup. Duh… tertunda nih celebration nya, padahal sudah gak sabar mau nyobain denger kaset via walkman.
Sore hari akhirnya walkman nya diambil oleh papaku yang kebetulan ada arah ke tempat servisan dan begitu sampai di rumah langsung aku sound test dengan Michael Franks “Jazz Vocal” rilisan Aquarius, wuih… ajib…. Ini pertama kali aku dengar musik via walkman setelah sekian lama absent. Seneng banget tak dapat dilukiskan dengan kata-kata, ternyata pengharapan, keinginan kuat dan usahaku pantang menyerah untuk membetulkan walkman penuh kenangan ini terbayar sudah…
 
Hari ini, untuk pertama kali setelah 2 tahun aku kembali bawa walkman ke kantor dengan beberapa kaset djadoel untuk menemaniku kerja, asik…
Walaupun ini berarti menambah beban tas yang harus aku bawa tapi gak mengapa, demi sebuah nuansa djadoel yang kian hari memudar aku rela membawa beban berat di tas…
 
Matursuwun Mas G untuk waktu dan kesempatan yang diberikan dan tak lupa untuk rekan-rekan yang sudi membaca tulisanku ini. Mohon maaf atas kekurangan yang ada dalam penulisan.
 
 Just an old fashioned hippie with his old fashioned walkman playing some old fashioned rock songs…
hippienov  

 

Pengalaman Hippienov Tur Manca Negara dengan membawa Walkman

August 27, 2014

Mas Hippie dan gemblungers … Setelah berjuang lama akhirnya saya temukan (atas bantuan mas Hippie memberikan ke saya kata kunci nya) kisah pengalaman unik mas Hippie yang ia ceritakan di blog gemblung ini pada tanggal 25 Mei 2011 yang lalu. Saya posting menjadi TRET karena ceritanya sungguh indah dibaca dan penting bagi kita, kumpulan orang gak penting ini … he he he … Saya copas apa adanya, saya kasih warna beda terkait komentar mas Hippie ya, biar tuntas.

———–

Hippienov Says:
May 25, 2011 at 12:03 am | Reply edit
Mlm mas G n mas Kris,maaf baru gabung ngeprog lagi setelah 1 mingguan lenyap :-D
Ceritanya aku baru pulang liburan gratis dari kantor,he2.. Gak tau ada angin apa tiba2 kantor ngasih bonus liburan + uang jajan u/ karyawan-nya yg telah 4+ tahun kerja termasuk staf rendahan kayak aku yg pas hoki 4 th jadi kuli mereka.
Singkat kata liburannya seru karena jujur ini kali pertama aku keluar negri, numpak pesawat n jauh pula,he2..
Karena masih amatir, aku tergolong ringkes banget dalam hal brg bawaan,cuma 1 tas ukuran sedang plus tas slempang u/ nyimpen hape n paspor n uang receh :-D
Sangking ringkesnya praktis dari 23 peserta cuma aku yg gak ada bagasi,peserta lain semua bawa 2-3 tas/koper lumayan besar,sampei tour guide n temen2 takjub kenapa aku cuma bawa 1 tas.. (yg mrk gak tau kalo aku ud gak tau apa yg mau dibawa jadinya ya cuma tas itu aja,he2)
O ya,gak ketinggalan walkman djadoel koe n half-dozen kaset progclaro gak lupa aku bawa juga,he2..
Di pesawat ternyata aku bisa nonton tv ato denger musik pilihan kita sendiri n i was surprised ternyata mrk ada koleksi pink floyd, king crimson, mike oldfield, cream, led zeppelin, frank zappa, queen, beatles, stones, purple, rush, etc.. Wow..bagai anak kecil yg baru nemu mainan,ak sibuk gonta-ganti koleksi sementara tmn2 kiri kanan pules tidur (maklum ndesit,katro banget,ha3)

Sayangnya aku gak punya kesempatan nyari cd progrock sampei pas pulang transit di bandara dubai ak niat nyari toko yg jual cd. Niatku adalah nemu n beli cd progclaro yg langka di jakarta tp murah (dasar turis kere..he2..) n ternyata susah nyarinya sampei final moment aku nemu 2 album MOODY BLUES (days of future passed n in search of the lost chord) dalam 1 kemasan n compact price alias murah cuuy :-D walau bukan itu target utamaku tp ak beli juga :-D
O ya aku juga beli album clapton waktu di derek & the dominos “layla”. Ak pikir ini cukup jarang ak nemu di jkt jadinya ak beli.tp album ini kurang greget in my opinion,ringan gak seperti waktu clapton di cream ato blind faith..
Yah begitulah sekelumit crita liburanku ke rumah nenek :-D ato kerennya a journye of a prog freak into a strange land..
Walah nglantur,wara-wiri rana rene :-D

Ok back 2 the subject..
Ulasan mas Kris markotop,bak pinang dibelah 2 dgn reviews mas G,komplit,dalem tp jg catchy :-D
Ak cuma punya 1 kaset Pallas album the sentinel rilisan yess no. 514. Mungkin kaset ini sama dgn kaset punya mas Kris yg hilang dipinjem kebablasan.. :-D
Di album the sentinel menurutkupallas mirip2 saga (kompilasi “made in canada” rilisan yess).
Sejauh ini cm 1 album itu koleksi pallas ku,makanya jadi penasaran sm album anyar mrk. Mas Kris aku ti2p tuku pallas anyar..byr tempo iso ra? :-D

Anyway,glad 2 b back again w/ all my senior proggers :-D n thx 4 reading this silly story..
Suwun..

Kristanto Says:
May 25, 2011 at 1:21 pm | Reply edit
Hahaha, bisa aja mas Hippienov, saya tuh cuma bisa nulis tp minim analisa & apresiasi, hehehe …
Wah asik bener tuh jalan2nya mas, kalau Rick Wakeman ada “Journey to the center of the Earth” nah travelnya sampeyan “Departure” – “Escape” – “Arrival” & “Look in to the Future” nya grup ameriko JOURNEY , hahaha …

Gatot Widayanto Says:
May 25, 2011 at 9:01 am | Reply edit
WELCOME HOME MY FRIEND TO THE BLOG THAT NEVER ENDS …. hua ha ha ha ha ha ha ha ……

Mas Hippienov …seneng sekali melihat Anda balik lagi ke blog gemblunk tanpa arah ini (lha ngapain diarahin wong musik prog aja tak ada arahnya kok kita bikin terarah. Kalau mau terarah ya musik pop aja … ha ha ha ha ha …).

Saya baca kisah mas Hippienov ini sampe dua kali saking enjoy banget bacanya. Enak pol …serasa menikmati kaset Marillion keluaran Yess ….hue heheheheh…..

Ada yang menggelitik buat saya, terlepas masalah musik. Ini tentang tempat kerja mas Hippienov. Kalau benar mas Hippienov ini karyawan rendahan, rasanya baru kali ini denger ada perusahaan yang menerbangkan 24 karyawannya ke luar negeri selama seminggu dibayarin penuh oleh kantor. WHOOOOAAAAA…. Ini keajaiban dunia. Apalagi, menurut mas Hippienov, ini adalah perusahaan keluarga. Lebih MASYGOEL lagi saya. Wong karyawan baru bekerja 4 tahun aja kok udah bisa NGLENCER dibayarin kantor. Opo tumon???? Berarti perusahaan ini gak main2 dan berskala besar serta profesional pengelolaannya. Emang untuk menjadi profesional musti perusahaan NON keluarga? Gak juga toh? Salut buat tempat kerja mas Hippienov yang menurut saya SANGAT BAIK. Gak usah mikir keluar lah mas …apalagi boleh nyetel prog di kantor …. Di NIKMATI ajalah mas …

Kemungkinan lain, mas Hippienov ini hanya “ngaku” aja sebagai karyawan rendahan padahal sebenernya boss besar dan diberi fasilitas mak nyus oleh kantor. Kalau ini lebih masuk akal karena mas Hippienov layak buat di”tour”kan ke LN atas biaya kantor karena kontribusi departemen yang dipimpin mas Hippienov ini udah menghasilkan profit puluhan bahkan ratusan milyar ….

Back to music now ….

1. Salut di jaman digital gini mas Hippienov masih ‘keukeuh’ bawa musik analog dalam bentuk kaset beserta walkman nya. Apalagi dengan tas kecil, lha itu puluhan kaset proclaro aja apa ndak udah boros tempat to mas? AKu nggumun lho mas. Hebat dah masih konsisten dengan kaset! Salut pol aku! Saya sendiri jarang bepergian dengan walkman karena saya mendingan KOMPROMI menikmati musik dari MP3 karena praktis dan bisa muat banyak musik. Tapi kenyataannya memang tak semua musik di iPod itu kesetel juga …ha ha ha ha …jadi sebenernya bawa kaset lebih tepat dan fokus. Selain itu nuansamatik pol.

2. Pallas sejak album “The Wedge” dengan vokalis baru Alan Reed memiliki warna musik yang beda dari The Sentinel, mas Hippienov. Jadi, yang ANda denganr dari kaset Yess Anda itu belum mewakili musik Pallas dewasa ini. Setelah album The Wedge (1986) Pallas kemudian tidur puwanjaaaaaaaaang pol selama 12 (dua belas) tahun hingga membuat gebrakan baru dengan album “Beat The Drum” (1998).Wha ini album huwenak tenaaaaan … Apalagi ada atraksi drumsolo di lagu bertajuk “Beat The Drum”. Sejak itu album Pallas selalu keren. Sayang, saya belum beli yang XXV nih … he he he he …ngiler aja denger crita mas Kris … ha ha ha ha ha …

3. Ada yang mengatakan bahwa cikal bakal PROG itu dari Moody Blues “Days Future Passed” (1967) karena sudah dipakainya orkestra di album ini. Namun banyak yang mematahkan pandangan tersebut karena di situ unsur mellotron belum ada sehingga akhirnya ditetapkan King Crimson “In The Court of the Crimson King” sebagai awal dari lahirnya PROG meskipun ada yang nyebut juga The Beatles “Sgt Peppers Lonely Hearts Club Band”. Tapi apapun sing penting PROG huwenak dinikmati ….

Eh..mas Hippienov kemana sih? US? Kalau di Amrik memang sulit cari prog. Kalau ke UK…lha itu dia gudangnya mas …. He he he he …

Salam,
G

Kristanto Says:
May 25, 2011 at 1:26 pm | Reply edit
Walkman diangkut karena yg dibawa kan kaset2 rekaman Yess, jadi selain nuansa-nya juga sekalian promosi siapa tau ketemu Geldof kan bisa ditunjukin kalau yg bajakan-pun bisa keren & ekslusif, hahaha …

Hippienov Says:
May 25, 2011 at 11:17 am | Reply edit
Met pg mas G,
Ha3..trims feedback comment nya mas. Jujur aku cuma staf biasa mas,posisiku itu senior staff purchasing :-D n aku belum memberi kontribusi apa2 u/ kantor,malah kayaknya ngerugiin mas,he2..

Dalam group ku kemarin ada yg memang punya jabatan relatif penting sampai staf biasa seperti aku,malah temen kerjaku yg driver juga ikut. Dari sini sptnya keliatan management bener2 peduli dgn karyawan n gak pilih kasih ya mas, n betul aku akui itu tp tak ada gading yg tak retak,ada juga yg kurang (ya spt yg aku crita wkt itu mas). Tp u/ kasus jalan2 ini aku bener2 salute n angkat topi u/ kntrku.
Sebenarnya jujur aku juga agak ragu u/ pindah mas,paling gak aku ud cukup tau sikon n “medan perang” di kantorku ini n kalo pindah berarti hrs meraba2 lagi n mulai dari nol,tapi tuntutan n tekanan ekonomi yg buat aku terus berpikir u/ pindah n find a better one mostly dlm hal financial n kedua karir mas. Karir ak ndak gitu ambisius,go w/ the flow aja tp faktor gaji yg jadi main trigger nya mas.. Selama karirku belum pernah 1x pun aku bergaji s/d nominal 3,slalu dibawahnya, bahkan yg skrg ak jalani gak sampei menyentuh 2.5 totalnya..
Aku slalu usaha cari lewat koran,i-net ato via tmn2 n kolega2 yg aku kenal tp mungkin Tuhan bilang saatnya blm tiba u/ aku..
Hal ini gak buat aku kecil hati mas,malah berbesar hati krn msh bnyk saudara2 kita yg jauh lbh sulit kondisinya tp perjuanganku te2p berjalan,the search is not over yet til my last breath :-D

Walah jadi curhat,isin ak..nglantur wara wiri.. :-D

Back 2 music,
Bener mas di album days of future passed orkestra dpt porsi bnyk n sygnya mellotron gak kedengeran,tp kyknya ada konsep yg mau ditampilin moody blues krn ada bagian2 aransemen yg mirip2 di beberapa lagu,contohnya aku bisa denger sdkt aransemen nights in white satin dr lagu awal album ini.
O ya,mellotron terdengar jelas di in search of..jd lbh seru mas..

Aku termasuk yg kurang paham pallas mas tp album sentinel aja ud bs bikin aku suka mrk,apalg album2 lainnya spt mas G blg,mgkn bs bikin aku makin klepek2 jumpalitan..ha3..

O ya,kemarin kantor ksh liburan kita ke kaw. middle east mas :-D ada yg ke madina,mekkah, riyadh, n groupku kebetulan kebagian ke yordania,palestina n jerusalem :-D

Walah panjang bener ak ngoceh..thx 4 taking time reading it.
Long live progrock!
Suwun

Hippienov Says:
May 25, 2011 at 11:25 am | Reply edit
O ya lupa, bener kata mas G,keputusanku bw walkman n kaset2 progclaro bener2 makan tempat di tas ku,gak ada tempat kosong lagi u/ oleh2,ha3..
Tp ak rela2in beli oleh2 parfum u/ istri tersyg di dubai mas. Lagi2 brg promo 1 price for 3 bottles,murah meriah mas,ha3 :-D
Suwun..

Hippienov Says:
May 25, 2011 at 3:55 pm | Reply edit
Sore mas Kris,
Ha3..bener loch review pallas mas Kris bikin ak ngebet dngr album anyar mrk ditmbh lagi masukan mas G wah ak makin mules kebelet nyari album2 pallas :-D

Sayang ak ndak bw kaset purple wkt itu,lagu woman from tokyo pas jg didenger waktu terbang “…flying to the rising sun…” walau ak bukan ke tokyo tp masih crita2 terbang jg kan,ha3..maksa bgt d :-D
Yg lucu mas,ak perhatiin kayaknya cm ak yg bw n dngr kaset pake walkman,orang2 lain pke mp3 ato ipod..walah ak keliatan djadoel pol..seperti “stranger in a strange land” aja plus repotnya kalo side a hbs hrs pindah manual ke side b apalagi pas mau ganti kaset kudu buka-tu2p walkman,ha3 :-D
Tp biarlah,pura2 pe-de aja padahal sedikit kikuk juga,ha3..

Suwun mas :-D

Gatot Widayanto Says:
May 25, 2011 at 4:44 pm | Reply edit
Wakakakakakak …..seru banget baca postingan mas Kris dan mas Hippienov ini …ha ha ha …dari tadi aku kerja sambil mesam-mesem baca komen2 di sini …hua ha ha ha …..

Aku gak kebayang tuh mas Hippienov buka tutup walkman buat bolak-balik side A dan B ….seru banget. Apalagi membayangkan yg duduk di sebelahnya pake iPod dan gak pernah buka tutup “sesuatu” karena musiknya virtual, tak perlu space fisik. Sementara mas Hippienov masih jadoel-kumadoel boeka toetoep …ha ha ha ha ha ….betapa ribetnya mempertahankan gaya hidup nuansamatik ya mas? Ha ha ha …. Seru banget jadinya ….

Kenikmatan mendengarkan musik dg kaset kita dipaksa mendengarkan full album atau sekurangnya satu sisi sampek pok ….kalau gak, kasetnya akan terkena jamur dan di bagian tengahnya babaliyut ….

Jadul pancen oye!!!!

apec Says:
May 25, 2011 at 5:28 pm | Reply edit
Wah,seru juga baca pengalaman mas Hippienov..
Omong2 tentang Pallas, musik mereka memang lumayan dan harus masuk daftar kuping Prog. Baru saja, sekitar 3 jam lalu saya akhirnya dapet Kaset Pallas The Wedge, rekaman Aquarius, masih kinyis-kinyis. Jadi sekarang punya 2 album Pallas versi kaset,Sentinel dan the Wedge…
He..he…,jaman segini kok kaset masih tetep dibanggakan, padahal dg CD sdh banyak harusnya album yg didapat..

Kristanto Says:
May 26, 2011 at 9:06 am | Reply edit
Bro Apec, “The Wedge” keren tuh … Omong2 itu kaset rekaman
Yess kah ? Skrg ini saya kepikiran mau cari rekaman Yess jadul,
ada reference tempat2 yg bs dijambangi ?

Kristanto Says:
May 26, 2011 at 9:11 am | Reply edit
Sorry, baca gak teliti, ternyata rekaman Aquarius.
Hehehe, rekaman aquarius yg tersisa di koleksi saya cuma
Pink Floyd “Dark side of the Moon” …

Hippienov Says:
May 26, 2011 at 10:09 am | Reply edit
Pg mas G,
Bener bgt mas,perlu perjuangan extra n lots of pe-de u/ mempertahankan gaya hidup :-D

O ya ak lupa crita kalo waktu pergi aku gak lupa bawa kaos2 bergambar/logo band progclaro,ada pink floyd,stones, zeppelin,ac/dc n kaos dgn lambang “peace” plus celana panjang yg aku modif jadi cutbray n juga jaket yg aku tempel emblem tulisan n logo besar “toyota” di belakang.
Jd saat berangkat aku denger kaset pake walkman dgn kaos ac/dc, celana panjang cutbray plus rambutku yg agak gondrong,topi gunung n gak lupa sendal gunung bata :-D jd kayak hippies 70an gitu,ha3.. Hippies woodstock yg nyasar,ha3..
Alhasil dari semua peserta,yg paling nyeleneh amburadul ya cuma 1,hippienov.. :-D yg lain relatif rapi tp aku bener2 apa adanya :-D

So that’s the story,kind a silly but it’s true :-D
Suwun

Hippienov Says:
May 26, 2011 at 10:20 am | Reply edit
Pg mas Kris,
Sekedar sekilas info kalo mas cari kaset loak terutama yess selain di jatinegara mungkin bisa juga di depok mas.di jalan margonda ada toko musik namanya “dav music” yg jual alat2 musik plus loakan kaset.mrk ada jg koleksi yess.ak dpt beberapa kaset gentle giant (yess) di tmpt itu :-D
Monggo dicoba jika berkenan,happy hunting :-D
Suwun

Brosur Billboard Charts dari toko kaset Kotamas Yogya

August 20, 2014

Andria Sonhedi

image

Jaman kaset non royalty para produsen kaset punya cara mempromosikan kaset-kasetnya. Ada yang membuat iklan di majalah hiburan film & musik seperti Vista atau di majalah remaja Hai. Ada lagi yang mencetak brosur bulanan untuk memampangkan produk2 baru mereka serta tangga lagu/charts barat yang tentu saja dapat didengar lagu-lagunya lewat kaset2 produksi mereka juga.
Saya ingat kl Team Record paling lux brosurnya, full color dgn kertas glosy agak tebal. Aquarius memakai kertas biasa dengan warna biru. Billboard juga dgn dominasi merah muda. saya pernah dapat dari Atlantic yg luc (cover muka Madonna yg bawa penghargaan AMA) cuma sayangnya terbit sekali. AM record malah hanya gambar2 kaset tanpa ada resensinya, begitu juga Hins Collection.
Biasanya brosur-brosur tadi didistribusikan ke toko-toko kaset & gratis utk yang mau ambil. Sayangnya brosur2 saya (lumayan banyak jenisnya) hilang entah ke mana saat gempa Yogya, maklum barangnya saya tinggal di Yogya karena saya pikir lebih aman. Saya cuma nemu satu dari Billboard, itupun gara-gara saya pakai nyampuli buku tulis SMA saya :)
Kl yg brosur Billboard ini juga menuliskan radio-radio mana yang menyiarkan Billboard Top 50. Di Yogya saya selalu mendengarkan tiap hari Sabtu sore, apalagi saat itu saya sdg menunggu grup kesayangan saya Queen menembus peringkat #1 di tangga lagu.
Brosur yg saya tampilkan ini saya daptkan di toko kaset legendaris Kotamas Yogya, stikernya ada di pojok atas. Kotamas memakai logo Hins Collection mungkin karena di sana terbanyak menjual kaset terbitan Hins terutama yang Rockshots.


evil has no boundaries

Koleksi 234: Suzi Quatro / Alvin Stardust by Empire

August 19, 2014

Gatot Widayanto

image

Sebenarnya saya kurang tertarik menutar kaset ini karena band nya kelihatan cukup standar straight rock saja tanpa lekukan prog. Namun rekaman Empire cukup jarang saya dengar atau mungkin luoa, maka iseng aja saya putar. Ternyata kualitas rekaman dan pitanya masih prima sehingga musikbyang dihasilkan menjadi enak dinikmati sepanjang kaset diputar mulai dari side A. Memang Suzi Quatro ini rocker tulen karena di side A dia cukup ngerock dan lagu2nya pun jadi enak.

Side B nya malah Alvin Stardust yang saya kurang dengar selama ini atau mungkin saya kurang perhatian, musiknya juga gak ada yang istimewa. Namun saya putar juga karena biar pita kaset ini masih berfungsi.

Ah jadi terbiasa dan keenakan denger suara kaset aja belakangan ini.

image

-

Koleksi 234: Fleetwood Mac “Tusk”

August 15, 2014

image


Akhirnya kaset koleksi radio Djie Sam Soe (234) Madiun ini saya putar juga setelah saya evakuasi dari Malang akhir tahun lalu. Sungguh, saya sangat kagum dengan kualitas suara yang masih prima dari segi bass, treble dan mid ….sangat mantab di telinga. Yang patut disesalkan adalah ternyata kuping saya tak merasa nyaman menikmati musik Fleetwood Mac. Padahal, saya ngakunya sebagai generasi penggemar musik claro . Entahlah mengapa saya kok mendengarkan album ini hambar baik dari segi melodi maupun komposisi. Dari dulu sejak orang2 bilang bahwa band ini legenda dunia, saya kok gak pernah bisa SREG dengan musiknya. Apa sih hebatnya musik kayak gini? Wong pop biyanget …gak ada rock nya blas!

Ada temen-temen yang punya pendapat lain?

Dokumentasi Yang Terlupakan

August 15, 2014

Wahyu Triantono

Saya adalah generasi muda pertengahan 80 an yang bisa dikatakan beruntung karena sempat dan kebetulan bisa melihat penampilan group band rock indonesia era 70 an dan 80 an yang pada waktu itu masih rame2 nya membawakan lagu2 dari group band dari luar..saya sampai sekarang masih terkesan dengan SAS yang begitu fasihnya memainkan starway to heaven ledzep, Godbless dengan carry on my wayward son kansas hingga hello america def leppard atau Makara dengan lagu2 saga dll..itu merupakan kenangan masa lalu dan kenangan itu ingin saya lihat lagi seperti dulu tapi apa mau dikata keinginan itu hanya tinggal kenangan karena tidak ada media yang merekam penampilan mereka seperti halnya jaman sekarang..DOKUMENTASI itulah kelemahan kita..betapa irinya kita melihat The Beatles ketika masih belum ngetop (waktu masih ngamen di Jerman) sudah ada film dokumentasinya..dan ketika The Beatles menjadi band paling terkenal di jagad raya maka dokumentasi mereka dicari cari oleh para kolektor..seandainya band2 rock indonesia era 70 an ada dokumentasi berupa film seperti halnya the beatles maka betapa mahalnya harga dokumentasi tsb..majalah aktuil aja sekarang diburu kolektor apalagi media visual..sempat saya baca kemarau 75 (kalo salah mohon maaf) pernah di buat film oleh sutradara wim umboh? ( sekali lagi mohon maaf kalo salah) tapi dimana keberadaan film itu? Mungkin satu2 nya dokumentasi Godbless tahun 70 an hanya di film ambisi itupun hanya cuplikan saja tidak full..demikian juga dengan KOES PLUS tahun 70 an sama sekali tidak ada film dokumenternya ketika in action di panggung..dengan adanya dokumentasi berupa gambar bergerak maka kita bisa melihat perjalanan sejarah musik rock di Indonesia dan ini bisa menambah wawasan musisi muda sekarang..seandainya ada film dokumenter AKA wow !! Saya terus terang kepingin lihat bagaimana edannya Ucok di panggung..karena selama ini hanya melihat foto ucok di majalah aktuil hehe..Rock Never Say Die..

Old Days

August 3, 2014

Gatot Widayanto

Lagu dari Chicago VIII ini tiba2 menyeruak dalam playlist saya di iPod yang saya colokin di mobil. Saya ndak tahu berapa banyak orang yang suka lagu ini karena rasanya gak ngetop banget kala saya mendengar lagu ini pertama kali saat saya masih kelas satu SMA Negeri 1 Madiun melalui kaset rekaman Orient yang saya beli tgl 12 Januari 1976 ini. Begitu mendengar lagunya saya langsung mak JEDHUG menyukainya. Mungkin karena sederhana, pendek dan penuh semangat dan banyak staccato dari brass section nya. Gak salah kalau aransemennya seperti ini karena ditulis oleh James Pankow, trombonis dari Chicago.

Dari segi komposisi memang lagu ini rancak pol; dimulai dengan gebukan drum solo dari Danny Seraphine yang mengundag gairah untuk bersemangat terutama di pagi hari atau lagi nyetir; terus musiknya mak JRENG GENJRENG GEDEBAK GEDEBUK …. TET ,….TEEEER ….TEEET ….. GEDEBAK GEDEBUK …. bersemangat sekali … trus DHUK CEK DUK CEK …Trus vocal Peter Cetera masuk dengan gagah namun cara nyanyinya memelas (piye to? gagah kok gembeng! Embuh!) “Old days …..Good times I remember” ….wuiiihhh …!!! Ngguwajak tenan rek! Musiknya bertempo relatif cepat dan puncaknya justru pada saat brass section nya bersolo di menit ke 1:09 …. Whoooaaaa …nggeblak jaya!

Terlepas dari komposisi, lagu ini bermakna dalam yakni tentang nuansamatiknya jaman dulu yang digambarkan oleh James Pankow, Peter Cetera dan Terry Kath sebagai jaman indah ketika nonton pelem pake drive-in, celana blue jeans dan sebagainya. Walah! Kita saat itu tahun 1975 (album ini dirilis Maret 1975) justru remaja saat itu suka blue jeans dan celana cutbrai serta sepatu Exotic (hak tinggi, 7 cm)…ha ha ha … Lha kok Chicago bilang itu “old days” padahal di Indonesia melalui majalah Aktuil saat itu yang ngetren ya Jeans (Amco, Tira, Raphael, Levi’s dsb). Ini menunjukkan bahwa kala itu ada JEDA antara apa yang terjadi di negeri sono dengan di negeri kita. Sehingga fashion pun ada waktunya buat sampai di Indonesia, apalagi ke kota kecil Madiun dimana saya dibesarkan. Kalau yang nonton pelem pake drive-in jelas bukan dunia saya lha wong punyanya sepeda jengki merek Forever warna hijau tua kok …. Mobil? Terbayangpun tidak!

Makna selanjutnya dari lagu ini sangat cucok kita angkat sekarang karena bukankah dengan adanya internet dan media sosial begitu banyaknya acara reuni yang mencoba “nglumpukno balung pisah” (mengumpulkan kembali tulang belulang yang berpisah) puluhan tahun. Ini memang sudah menjadi tren sejak socmed seperti blog,  FB dan Twitter mulai menggejala dekade belakangan ini. Ada beberapa orang bahkan ingin menghidupkan kembali masa lalu yang lewat itu …..seperti tereakan di Old Days ini:

Please take me back
To the world gone away
Memories
Seem like yesterday

Old Days …..

Namun …masa lalu merupakan hal yang jauh dan gak bisa kembali. Life must move on ….seperti kata pepatah …

Yesterday is history. Tomorrow is a mistery.
Today is a gift …..that’s why it’s also called as PRESENT.

Tetap semangat!!!!!

# Ini kaset Chicago VIII yang saya beli tahun 1976 masih ada di saya dan saya simpan dengan baik. Kualitas suaranya masih prima karena direkam dengan Maxell UD. Rekaman Orient memang terkenal dengan trebel yang serba KEMRECES ……muwantab sekaleee…….#

Chicago VIII

 

Artikel Majalah Aktuil : The Sensational Alex Harvey Band

July 2, 2014

Herman

 

Aktuil  Alex harvey Band  IMG_8096 low

Ketika buka – buka majalah Aktuil lawas di rumah Kediri kemarin saya nemu artikel Alex Harvey Band (AHB). Saya langsung inget Mas GW yang pernah mengulas Alex Harvey Band….. saya pikir ini sebagai oleh2 saya dari Kediri untuk Mas GW…..

Saya sengaja beri judul tulisan ini Artikel Majalah Aktuil : Alex Harvey Band dengan pertimbangan teknis  supaya kalau ada yang search “Majalah Aktuil” atau “Alex Harvey Band” baik di Google atau di Blog MFL maka tulisan ini bisa ikut muncul ….ben payu Mas ( biar laku Mas)…hehehe ….Maka saya urungkan niat untuk menuliskan judul “Oleh – oleh dari Kediri”…mohon dimaklumi….

Di artikel tersebut diceritakan bahwa  AHB  didirikan oleh Alex Harvey musisi asal Glasgow, Scotlandia  yang usianya sudah  38 tahun  waktu itu,  dan sudah malang melintang di dunia musik sejak usia 20 tahun. Alex membentuk AHB bersama konco2nya yang sebelumnya tergabung dalam band The Tear Gas asal Glasgow. Usia konco2nya tersebut rata – rata 10 tahun lebih muda sehingga Pak Alex ini dianggap Bapak oleh konco2nya tersebut.

Di majalah Aktuil ini musik AHB disebut sebagai perpaduan Climax Chicago dan Status Quo. Entah pas apa enggak sebutan seperti itu saya kurang paham, karena saya belum tau musiknya Climax Chicago. tetapi kalau dikatakan mirip Status Quo sepertinya kok tidak terlalu mirip…tapi Mas Yuddi mungkin lebih mafhum pas tidaknya kemiripan dengan musik  AHB dengan Status Quo.

Sayangnya dalam artikel ini belum menyebutkan lagu andalan AHB yang berjudul Next yang asik itu. Mungkin selengkapnya bisa dibaca langsung pada foto yang ada, kalau di klik sepertinya masih bisa kebaca tulisan aslinya.

Maaf sekali karena lupa memotret majalahnya sehingga lupa nomer dan tanggal terbitnya.

Ya… itu sekedar oleh oleh van Kediri Mas. Salam,Herman.

Sorry Friends, Disini Banyak Stonesnya

June 23, 2014

Budi Putra

image

Mengenang masa sekolah (SMP/SMA) memang menyenangkan. Sebab dimasa itu pulalah gelagat kebandelan mulai nampak dan dengan sok-sokan suka dicicipinya. Mulai dari nyetun sembunyi-sembunyi sampai bolos sekolah bareng-bareng hanya untuk bisa nonton konser musik rock. Dus dimasa itu pula cinta monyet mulai bersemi…kecuali mas Kukuh…hehehe…just kidding! Tapi yang paling mengasyikan dan mengharu biru tatkala kita mulai mengenal musik dan jatuh cinta pada grup band kesukaan. Dari sinilah ihwal ketertarikan dan perburuan segala sesuatu terkait band kesukaan dimulai yang kemudian terus terbawa hingga kini.

Selagi saya sekolah SMP (tahun 80an) sedang boomingnya The Beatles. Tapi juga dibayangi ketat oleh ketenaran The Rolling Stones. Temen saya bilang anak baik-baik lebih memilih Beatles tapi yang urakan gak bisa diatur mesti lari ke Stones…hehehe. Terus terang, saya awalnya Beatles maniac tapi seiring pergaulan yang ikut dilakoni dan berkat pendekatan teman sekelas maka saya mulai berpaling ke Stones. Gak keliru karena beberapa lagunya memang langsung nyantol dihati. Teman saya bilang kalo Beatles punya “Anna”, Stones ada “Angie”. Penasaran saya pinjem kasetnya dan saya dengerin…weihh, asyik juga nih. Petikan gitar dan permainan pianonya lebih nendang. Sebab lagu “Angie” lantas keingin-tahuan saya semakin dalam dan menjadi-jadi. Untuk itu, selain dipinjamkan kasetnya saya juga berupaya beli kaset Stones di Aquarius, Aldiron Blok M. Kaset pertama yang saya beli album Let it Bleed dan The Best The Rolling Stones. Sejumlah posternya pun mulai menempel disisi poster-poster Beatles. Di sekolah saya mulai rajin ngomongin Stones, selain mulai hobi corat coret didinding dan bikin grafiti “lidah melet” yang kesohor itu. Bukan hanya lagu-lagunya namun sampai penampilan/gaya mereka saya katakan pada teman-teman lebih cocok dan asyik dipandang. Dan sepertinya saran saya ini mengena. Karena selang beberapa waktu kemudian mereka mulai suka bersiul beberapa tembang populer dari Stones. Nah. mulai kena nih…gumam saya. Waktu itu juga sedang ngetrennya bikin gank. Maka tak mau ketinggalan kami pun bersepakat membentuk gank yang namanya kami comot dari salah satu lagu Stones: Sister Morphine—namanya aja yang serem padahal gak tau juga tuh arti sebenarnya…apalagi ikut-ikutan jadi morpinis…gak deh. Pilihan nama ini biar dibilang keren, sangar dan nyetun aja.

Semenjak itu kemana pun kami berada selalu setiap dengan gitar akustik dan nongkrong bareng diringi lagu-lagu Stones. Ada beberapa lagu favorit yang biasa kami nyanyiin seperti “Under the Broadwalk” “Tell Me”, “Out of Time” “Angie”, “Heart of Stones”, “Spider and the Fly”, “Rubby Tuesday”, “As Tears Go By”, “Jumpin Jack Flash”, “Honky Tonk Woman”, dan lagu-lagu lainnya. Asyik, sambil nyanyi sesekali belajar ngisep filter…sekali dua kali ngisep batuk kemudian…hehehe. Ini lah salah satu dampal negatif Stones…hahaha. Bila ada konser yang guest starnya Cikini Stones Complex atau Acid Speed…dimanapun mereka berada (manggung) akan kami kejar. Walau kantong cekak alias dana pas-pasan.

Soal ini juga kami bawa ke tempat favorit kami apalagi kalo bukan belakang kantin sekolah. Setiap kelas punya tongkrongan favoritnya. Misal anak kelas A didepan kantin, anak kelas B, disamping kiri kantin, dan anak kelas C disamping kanan kantin. Maka kelas kami, kelas C, berada dibelakang kantin deket kandang ayam pemiliki kantin. Agar tempat favorit kami tambah disegani maka ditembok belakang kantin kami tulis dengan pilox: “Sorry friends, disini banyak Stonesnya” plus gambar lidah melet persis berada dibawahnya. Kami pikir dengan dibuat Stones area seperti itu gak akan ada anak kelas lain yang macem-macem nongkrong ditempat ini apalagi coba-coba bawa gitar lantas mainin lagu selain punyanya Stones…hehehe.

Kultur pemberontakan yang dibawa para personil Stones kiranya pas dengan suasana hati kami pada saat itu. Jujur saja sebagian dari kami yang bersekolah pada saat itu kurang merasa nyaman dengan sistem pengajaran yang diberikan para guru yang cenderung membosankan, menjenuhkan, dan membuat kami selalu merasa tertekan dengan metode pengajaran yang mereka, para guru, berikan kepada kami anak didiknya. Setelah kuliah saya baru memahami metode/sistem pendidikan dimasa Orba melalui buku-buku yang saya dapatkan dari teman-teman di Jogyakarta. Seperti buku “Pendidikan Kaum Tertndas” (Paulo Freire), “Sekolah itu Candu” (Roem TM), dan sejumlah buku lain terkait masalah pendidikan. Melalui buku-buku inilah saya jadimemahami rupa dari sistem pendidikan yang diterapkan di sekolah. Sebuah sistem yang malah membelenggu alias tak membebaskan anak didiknya dalam mengenyam setiap pelajaran yang diberikan. Soal ini juga yang dikritik Pink Floyd dalam mahakarya The Wall. PF mengkritik habis-habisan sistem pendidikan yang berlaku di sekolah.

Kembali ke Stones. Jiwa pemberontakan, anti kemapanan, dan menolak terhadap perang sepertinya menjadi oase bagi kami pada saat itu. Bukan hanya bagi kami sisi urakan Stones juga merembes kekalangan lumpen (masyarakat miskin kota) dengan lakon pemberontakannya. Tidak mengherankan bila dikantong-kantong area miskin kota banyak pemudanya yang gandrung dengan Stones. Menurut saya inilah simbol pemberontakan dan penolakan atas kemapanan dan ketidakadilan yang mereka rasakan. Bahkan dengan menggemari Stones boleh dikatakan sebagai tempat pelarian bagi sebagian anak-anak muda dari kondisi sosial yang ada pada saat itu dan mungkin juga sekarang: menganggur dan masa depan yang mengawang-ngawang.

Rolling Stones nyatanya bukan hanya sekedar tipikal sebuah grup band. Namun kehadirannya telah menjadi inspirasi baik secara positif juga negatif bagi sebagian besar anak-anak muda diberbagai belahan dunia dengan sudut pandang/spektrum yang berbeda-beda. Namun Stones serasa mewakili gairah dan juga kegundahan mereka akan pranata dunia yang hiruk pikuk dan timpang ini.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 150 other followers