Archive for the ‘Counting Out Time’ Category

Artikel Majalah Aktuil : The Sensational Alex Harvey Band

July 2, 2014

Herman

 

Aktuil  Alex harvey Band  IMG_8096 low

Ketika buka – buka majalah Aktuil lawas di rumah Kediri kemarin saya nemu artikel Alex Harvey Band (AHB). Saya langsung inget Mas GW yang pernah mengulas Alex Harvey Band….. saya pikir ini sebagai oleh2 saya dari Kediri untuk Mas GW…..

Saya sengaja beri judul tulisan ini Artikel Majalah Aktuil : Alex Harvey Band dengan pertimbangan teknis  supaya kalau ada yang search “Majalah Aktuil” atau “Alex Harvey Band” baik di Google atau di Blog MFL maka tulisan ini bisa ikut muncul ….ben payu Mas ( biar laku Mas)…hehehe ….Maka saya urungkan niat untuk menuliskan judul “Oleh – oleh dari Kediri”…mohon dimaklumi….

Di artikel tersebut diceritakan bahwa  AHB  didirikan oleh Alex Harvey musisi asal Glasgow, Scotlandia  yang usianya sudah  38 tahun  waktu itu,  dan sudah malang melintang di dunia musik sejak usia 20 tahun. Alex membentuk AHB bersama konco2nya yang sebelumnya tergabung dalam band The Tear Gas asal Glasgow. Usia konco2nya tersebut rata – rata 10 tahun lebih muda sehingga Pak Alex ini dianggap Bapak oleh konco2nya tersebut.

Di majalah Aktuil ini musik AHB disebut sebagai perpaduan Climax Chicago dan Status Quo. Entah pas apa enggak sebutan seperti itu saya kurang paham, karena saya belum tau musiknya Climax Chicago. tetapi kalau dikatakan mirip Status Quo sepertinya kok tidak terlalu mirip…tapi Mas Yuddi mungkin lebih mafhum pas tidaknya kemiripan dengan musik  AHB dengan Status Quo.

Sayangnya dalam artikel ini belum menyebutkan lagu andalan AHB yang berjudul Next yang asik itu. Mungkin selengkapnya bisa dibaca langsung pada foto yang ada, kalau di klik sepertinya masih bisa kebaca tulisan aslinya.

Maaf sekali karena lupa memotret majalahnya sehingga lupa nomer dan tanggal terbitnya.

Ya… itu sekedar oleh oleh van Kediri Mas. Salam,Herman.

Sorry Friends, Disini Banyak Stonesnya

June 23, 2014

Budi Putra

image

Mengenang masa sekolah (SMP/SMA) memang menyenangkan. Sebab dimasa itu pulalah gelagat kebandelan mulai nampak dan dengan sok-sokan suka dicicipinya. Mulai dari nyetun sembunyi-sembunyi sampai bolos sekolah bareng-bareng hanya untuk bisa nonton konser musik rock. Dus dimasa itu pula cinta monyet mulai bersemi…kecuali mas Kukuh…hehehe…just kidding! Tapi yang paling mengasyikan dan mengharu biru tatkala kita mulai mengenal musik dan jatuh cinta pada grup band kesukaan. Dari sinilah ihwal ketertarikan dan perburuan segala sesuatu terkait band kesukaan dimulai yang kemudian terus terbawa hingga kini.

Selagi saya sekolah SMP (tahun 80an) sedang boomingnya The Beatles. Tapi juga dibayangi ketat oleh ketenaran The Rolling Stones. Temen saya bilang anak baik-baik lebih memilih Beatles tapi yang urakan gak bisa diatur mesti lari ke Stones…hehehe. Terus terang, saya awalnya Beatles maniac tapi seiring pergaulan yang ikut dilakoni dan berkat pendekatan teman sekelas maka saya mulai berpaling ke Stones. Gak keliru karena beberapa lagunya memang langsung nyantol dihati. Teman saya bilang kalo Beatles punya “Anna”, Stones ada “Angie”. Penasaran saya pinjem kasetnya dan saya dengerin…weihh, asyik juga nih. Petikan gitar dan permainan pianonya lebih nendang. Sebab lagu “Angie” lantas keingin-tahuan saya semakin dalam dan menjadi-jadi. Untuk itu, selain dipinjamkan kasetnya saya juga berupaya beli kaset Stones di Aquarius, Aldiron Blok M. Kaset pertama yang saya beli album Let it Bleed dan The Best The Rolling Stones. Sejumlah posternya pun mulai menempel disisi poster-poster Beatles. Di sekolah saya mulai rajin ngomongin Stones, selain mulai hobi corat coret didinding dan bikin grafiti “lidah melet” yang kesohor itu. Bukan hanya lagu-lagunya namun sampai penampilan/gaya mereka saya katakan pada teman-teman lebih cocok dan asyik dipandang. Dan sepertinya saran saya ini mengena. Karena selang beberapa waktu kemudian mereka mulai suka bersiul beberapa tembang populer dari Stones. Nah. mulai kena nih…gumam saya. Waktu itu juga sedang ngetrennya bikin gank. Maka tak mau ketinggalan kami pun bersepakat membentuk gank yang namanya kami comot dari salah satu lagu Stones: Sister Morphine—namanya aja yang serem padahal gak tau juga tuh arti sebenarnya…apalagi ikut-ikutan jadi morpinis…gak deh. Pilihan nama ini biar dibilang keren, sangar dan nyetun aja.

Semenjak itu kemana pun kami berada selalu setiap dengan gitar akustik dan nongkrong bareng diringi lagu-lagu Stones. Ada beberapa lagu favorit yang biasa kami nyanyiin seperti “Under the Broadwalk” “Tell Me”, “Out of Time” “Angie”, “Heart of Stones”, “Spider and the Fly”, “Rubby Tuesday”, “As Tears Go By”, “Jumpin Jack Flash”, “Honky Tonk Woman”, dan lagu-lagu lainnya. Asyik, sambil nyanyi sesekali belajar ngisep filter…sekali dua kali ngisep batuk kemudian…hehehe. Ini lah salah satu dampal negatif Stones…hahaha. Bila ada konser yang guest starnya Cikini Stones Complex atau Acid Speed…dimanapun mereka berada (manggung) akan kami kejar. Walau kantong cekak alias dana pas-pasan.

Soal ini juga kami bawa ke tempat favorit kami apalagi kalo bukan belakang kantin sekolah. Setiap kelas punya tongkrongan favoritnya. Misal anak kelas A didepan kantin, anak kelas B, disamping kiri kantin, dan anak kelas C disamping kanan kantin. Maka kelas kami, kelas C, berada dibelakang kantin deket kandang ayam pemiliki kantin. Agar tempat favorit kami tambah disegani maka ditembok belakang kantin kami tulis dengan pilox: “Sorry friends, disini banyak Stonesnya” plus gambar lidah melet persis berada dibawahnya. Kami pikir dengan dibuat Stones area seperti itu gak akan ada anak kelas lain yang macem-macem nongkrong ditempat ini apalagi coba-coba bawa gitar lantas mainin lagu selain punyanya Stones…hehehe.

Kultur pemberontakan yang dibawa para personil Stones kiranya pas dengan suasana hati kami pada saat itu. Jujur saja sebagian dari kami yang bersekolah pada saat itu kurang merasa nyaman dengan sistem pengajaran yang diberikan para guru yang cenderung membosankan, menjenuhkan, dan membuat kami selalu merasa tertekan dengan metode pengajaran yang mereka, para guru, berikan kepada kami anak didiknya. Setelah kuliah saya baru memahami metode/sistem pendidikan dimasa Orba melalui buku-buku yang saya dapatkan dari teman-teman di Jogyakarta. Seperti buku “Pendidikan Kaum Tertndas” (Paulo Freire), “Sekolah itu Candu” (Roem TM), dan sejumlah buku lain terkait masalah pendidikan. Melalui buku-buku inilah saya jadimemahami rupa dari sistem pendidikan yang diterapkan di sekolah. Sebuah sistem yang malah membelenggu alias tak membebaskan anak didiknya dalam mengenyam setiap pelajaran yang diberikan. Soal ini juga yang dikritik Pink Floyd dalam mahakarya The Wall. PF mengkritik habis-habisan sistem pendidikan yang berlaku di sekolah.

Kembali ke Stones. Jiwa pemberontakan, anti kemapanan, dan menolak terhadap perang sepertinya menjadi oase bagi kami pada saat itu. Bukan hanya bagi kami sisi urakan Stones juga merembes kekalangan lumpen (masyarakat miskin kota) dengan lakon pemberontakannya. Tidak mengherankan bila dikantong-kantong area miskin kota banyak pemudanya yang gandrung dengan Stones. Menurut saya inilah simbol pemberontakan dan penolakan atas kemapanan dan ketidakadilan yang mereka rasakan. Bahkan dengan menggemari Stones boleh dikatakan sebagai tempat pelarian bagi sebagian anak-anak muda dari kondisi sosial yang ada pada saat itu dan mungkin juga sekarang: menganggur dan masa depan yang mengawang-ngawang.

Rolling Stones nyatanya bukan hanya sekedar tipikal sebuah grup band. Namun kehadirannya telah menjadi inspirasi baik secara positif juga negatif bagi sebagian besar anak-anak muda diberbagai belahan dunia dengan sudut pandang/spektrum yang berbeda-beda. Namun Stones serasa mewakili gairah dan juga kegundahan mereka akan pranata dunia yang hiruk pikuk dan timpang ini.

Miraco Tempo Dulu …

May 17, 2014

SubhanAllah!

Temen2 gemblungers …Pagi ini saya dikejutkan dengan tampilnya sebuah foto nuansamatik kemlitik yang tak nyangka saya bisa mendapatkannya. Foto ini beredar di media sosial dan saya terkesima dengan foto ini. Kenapa? Sebagian dari Anda tentu tahu bahwa saya merintis prog dari benih sampe numbuh subur di hati ya mulai dari Madiun dan tepatnya dari toko atau photo studio Miraco inilah saya mulai mengenal kelompok-kelompok musik rock jaman dulu baik Uriah Heep, Deep Purple, Mahogany Rush, Chicago, Pink Floyd dsb. Tentu …setelah saya baca di Aktuil. Sebenarnya Miraco ini paling terkenal untuk urusan pas foto hitam-putih yang sering digunakan buat raport maupun ijazah. Namun toko ini juga menjual kaset dalam jumlah yang lumayan besar terutama Nirwana dan Starlite. Rasanya tak ada toko lain yang jualan rekaman ini, sehingga bisa dikatakan ini adalah “sole distributor” rekaman Nirwana dan Starlite. Rasanya kadang juga ada rekaman BASR atau Orient, tapi ndak banyak.

Miraco (1972) - koleksi Achdar Riyanto

Miraco (1972) – koleksi Achdar Riyanto

Foto ini menurut pengakuan mas Achdar Riyanto yang memilikinya dijepret pada tahun 1972. Sebenarnya tahun tersebut saya masih jarang mengunjungi toko ini selain urusan pas foto. Saya mulai aktif ya sekitar 1973 hingga 1979. Bisa dibilang saya istiqomah mengunjungi Miraco ini dengan sepeda jengki Forever warna hijau tentara yang dibelikan ibu saya karena lulus SD. Benar juga rasanya kalau ini tahun 1972 karena layoutnya pada tahun 1973 atau 1974 sudah memanjang dan jualan kaset di samping kiri.

Selama periode tersebut seingat saya membeli kaset-kaset ini di Miraco:

  1. Deep Purple “Who Do We Think We Are?” – Nirwana
  2. Uriah Heep “Demons and Wizards” – Starlite, side B: Khan “Space Shanty” dan Lucifer’s Friend “Where The Groupies Killed The Blues”
  3. Santana yang ada lagu “No One To Depend On” – Nirwana
  4. GodBless “Huma Di Atas Bukit” – Pramaqua
  5. Mahogany Rush “Strange Universe” – Nirwana
  6. Bad Company dan Queen yang ada “Tenement Funster” – Starlite (saya pernah posting)
  7. Pink Floyd “Wish You Were Here” – Nirwana yang kemudian saya tukar dengan Chicago karena rekamannya kusut (padahal itu akhir lagu Welcome To The Machine … ha ha ha ha …)
  8. The Runaways ; tapi ini saya mengantarkan temen saya Didik Rudiono, jadi bukan kaset saya
  9. Yes “Relayer” – Nirwana
  10. Beberapa kaset Indonesia seperti Koes Plus, Panbers, Golden Wing, The Mercy’s dan the Gembel’s, NoKoes, De Hands…

Melihat foto ini saya mbrebes mili terutama liat halaman depan tempat saya memarkir sepeda jengki Forever warna hijau tentara dan dikunci di situ. Betapa nikmatnya saat itu , begitu kaset dibeli (hanya satu biji setelah liat banyak kaset), sepeda langsung digowes kenceng pulang ke rumah di Jl. Sumatra melalui Jl. Pahlawan (dulu masih dua arah, sekarang searah). sampe rumah langsung saya setel di tape deck Teac A-36 yang mungil itu …. Guobyosz, kemringet trus nyetel lagu rock …opo ra enak kuwi????

#Lha dari dulu kok ndak ada kemajuan tingkat kehidupan ya …udah 40 tahun kok kendaraan tetep roda dua, tenaga betis pulak! Rapopo …urip kudu “dinikmati” … yo pow ra? Wis ..kokehan alasan …kokehan cangkem yo …. #

In The Beginning: Didahului dengan “Goodbye”, bukan “Welcome”

April 28, 2014

Arief Apec Bakhtiar

 

Asslammualaikum,wr,wb
Selamat pagi, siang,petang dan malam buat sejawat gemblunger..
Terkait dengan Prog-Graphy Om GW dan pemberitaan Tempo mengenai sejarah Yess sebagai kaset rumahan (bukan murahan) disamping Monalisa, Apple dan rekaman Hidayat, kali ini saya sedikit mengisahkan awal-awal perjumpaan saya dengan sebuah kotak bertajuk kaset rilisan Yess. Tentu saja perkenalan dengan Yess tidak akan terjadi bila saya belum mengenal sebongkah kotak plastik berpita bernama Kaset yang diperkenalkan di dunia oleh perusahaan Phillips tsb.
Alkisah……Pada kisaran tahun 1992 saat saya masih sekolah bercelana pendek biru kelas dua Negeri 9 Surabaya,tanpa diduga ibu saya membeli tape compo mini Panasonic di Pasar Kapas Krampung Sby seharga 125 ribu sekaligus dua buah kaset, yakni The Greates memory 2 ( berwarna dasar hijau bergambar orang berboncengan naik sepeda rilisan EMI) dan sebuah kaset kompilasi oldies Indonesia dan barat berwarna dasar putih ( saya lupa rilisan mana). Bila sebelumnya saya sering menikmati lagu2 populer saat itu via TV, maka sejak adanya mini compo, Lagu-lagu lama seperti Only You , Nobody’s Child, Rain and Tears, Walk Away, House for Sale, Kupu-Kupu Malam, Ayah (mercy’s), Widuri mulai sering mengisi hari-hari melalui tape Panasonic mini compo tadi. Apabila teman2 seangkatan masih berkutat dengan NKOTB, Tommy Page dan Debby Gibson, maka saya sudah bisa ngomong The Platters, Matt Monroe, Aphrodite’s Child….namun ya itu, nggak ada lagu rock, opomaneh Prog ..tapi ora masalah, sing penting iso gaya karena berbeda dengan selera teman meskipun di cap selera tua.

Apec 1
Gambar 1. Tape mini compo semacam ini yg dibeli ibu saya (hasil searching)..Tape yg asli sdh rusak saat ini ,namun msh tersimpan di rumah Paklek Hadi di Lampung

Sampai selama dua tahun, ya hanya dua kaset tadi yang kami miliki,lha karena memang tidak ada anggaran. Namun selama 2 tahun itu, bapak saya berbaik hati dengan ‘memaksakan’ diri untuk dapat berlangganan majalah Ananda dari seorang loper majalah yg masih bertetangga. Enaknya adalah pembayarannya tidak mesti harus tepat, bahkan bisa sampe telat 2 minggu menunggu uang lebih ( lebih tepatnya si tetangga tadi memang punya belas kasihan pada saya,he..he..lha piye maneh, pancen ora duwe duit lebih). Dari majalah Ananda tersebut saya mengetahui kiprah artis asing saat itu dan bukan hanya musik, tapi juga film, seperti Richard Dean Anderson (MacGyver), David Hasselhoff (Knight Rider) , dan Jon Bon Jovi yg menurut saya saat itu sangat ngerock musiknya padahal belum pernah sekalipun mendengar lagunya..
…just hanya lihat gambar posternya only saja. (dialah musisi rock asing yg pertama kali saya kenal).
Dan dari majalah tersebut pula saya mendapatkan banyak koleksi poster yang saya tempel di dinding hampir memenuhi tiga sisi kamar.
Istilah kamar sebenarnya menurut saya kurang tepat, karena tempat tidur, ruang makan tempat kumpul keluarga adalah menjadi satu. Dalam benak saya, jika ada pelajaran Bhs Inggris dan saya diminta untuk menceritakan kegiatan sehari-hari pasti akan dinilai salah oleh guru, sebab saya akan menuliskan sebagai berikut: I am sleeping in the living room (bukan Bed room), I am eating in the living room ( bukan Dining room), I am watching TV in the living room juga..jadi semua kegiatan dilakukan di living room, tentunya kecuali untuk mandi
…hingga suatu waktu kisaran bulan Agustus-Oktober 1993, disaat lagu Goodbye milik Air Supply meledak. Wis jan, lagu itu sangat enak di telinga saya waktu itu (sampai sekarang juga sih) sehingga membuat saya lebih sering memelototi TV untuk menunggu klip Goodbye diputar setiap menjelang pergantian acara di SCTV ( waktu itu TV non-TVRI di Surabaya yg ada seingat saya hanya TPI dan SCTV)… Nah, yang bikin ke-BENAR-an (lebih dari sekedar ke-BETUL-an), pada saat itu saya bersama teman- teman sebaya di kampung Sidotopo menjalankan suatu arisan anak-anak, senilai 200 rupiah perminggu dan jika narik arisan sebulan sekali,kami akan mendapat uang sebesar 6000 rupiah. Sebagai gambaran, saat itu uang saku saya 200 rupiah perhari dan uang saku rata2 teman di kelas adalah 500 rupiah. Saking minimnya, sampe kadang2 teman sebelah bangku saat itu memberikan penganan baik yg dibeli olehnya atau dibawakan dari rumah.. Tentu saja uang Rp. 6000 teramat berarti bagi saya dan teman2 sebaya. Nah, bertepatan dengan meledaknya Goodbye, saya pas dapat tarikan arisan ala anak2 tersebut…berlabuhlah uang Rp 6000 tadi ke tangan saya.
Masih nyantol kuat di ingatan saya, pada hari tersebut di sekolah, seorang teman sebangku bernama Ayu menunjukkan kaset Air Supply album The Vanishing Race berwarna dasar biru dan ungu bergambar orang Indian naik kuda dimana di dalamnya termaktub lagu ciptaan David Foster berjudul Goodbye..Wuahhhhh, langsung ngiler melihat barang tersebut…Entah mengapa, pokoknya saat itu saya merasakan detak jantung berdetak lebih kencang dari biasanya. Gak sabar menunggu bel pulang sekolah..Oh ya, sekolah Negeri 9 tersebut saya anggap berpikiran progresif, sebab bel pulang sekolah adalah nada dari lagu Romance d’ Amor, sedangkan bel masuk sekolah adalah nada lagu Fur Elise..(tapi saya baru mengetahui judul nada tersebut belakangan setelah saya kuliah, sebab saat itu tidak mengenal judul lagu musik klasik)..
Nah..setelah Romance d’amor berkumandang, saya langsung engkol itu sepeda BMX pulang sendirian dengan setengah ngebut..Biasanya sehari-hari saya pulang bersama dengan 8 orang teman..saat itu tidak…tancap gas mendahului dengan harapan bisa segera ganti baju untuk menuju toko kaset Pasar Kapas Krampung. Sebenarnya lokasi Pasar tersebut dekat dengan sekolah, namun saya harus pulang dulu…wajib!!.. Bukan karena apa, namun perlu minta tambahan uang seribu rupiah dulu ke Paklek Hadi yang saat itu tinggal serumah dengan kami. Harga kaset Barat saat itu Rp 7000 dan itu saya ketahui dari teman saya yang menunjukkan kaset Airsupply tadi..
Begitu sampe rumah kisaran pukul 13.00, langsung menodong paklek untuk dapat tambahan seribu rupiah…dan tanpa makan siang terlebih dahulu, werrrrrr……langsung cengklak sepeda menuju Kapas Krampung yang berjarak 4 km dari rumah..Sesampainya disana, sepeda langsung saya arahkan ke depan toko kaset. Ada sekitar 3 toko kaset saat itu berjejeran. Toko pertama saya datangi dan, “ Mas, ada kaset Goodbye AirSupply?” tanya saya..” Oh, ada dik..”, sambil tangan mas penjaga toko mengambil salah satu kaset di dalam display..Diambilnya kaset bercover putih dengan tulisan Goodbye mencolok di tengah2nya..lha kok beda dengan yang ditunjukkan teman saya..Saya tanya lagi, “ Mas, yang saya cari yang gambarnya orang Indian berjudul Vanishing Race.” Dan ternyata dijawab tidak ada. Demikian juga dengan 2 toko di sebelahnya. Kok ya untung pagi hari sebelumnya saya ditunjukkan teman saya (bukan Nona R lo) kaset aslinya, kalo ndak, pasti kebluwuk (terjebak).. Belakangan saya tahu ternyata kaset berwarna putih tadi adalah memang berisi lagu Barat campuran dan GoodBye salah satunya namun penyanyinya ndak asli, cover version..
Begitu ndak mendapatkan apa yang saya cari, langsung cengklak BMX lagi mengarahkan ke THR Surabaya Mall yang berjarak sekitar 3 km arah barat dari Pasar Kapas Krampung. Toko kaset disana terletak di dalam Ramayana dan ……… jrenggg!!! itulah awal saya memasuki toko kaset asli..Di display New Release, kaset Vanishing Race terpampang dengan jelas…”Nahhh, ini baru benerrr,” batin saya saat itu..Tanpa tedeng aling-aling, saya ambil satu kaset yang masih bersegel plastik dan barang tersebut segera bertukar tangan bersamaan dengan uang 7000 rupiah saya berikan ke mbak penjaga toko. Segera ke parkiran, ambil itu yg namanya BMX hitam pemberian bos ayah saya dan langsung cengklak (gowes) pulang ke rumah..Sudah gak sabar ingin merobek plastik segel pembungkus kaset.
Setiba di rumah, dengan tergesa-gesa, saya buka pembungkus kaset, cabut kasetnya dan masukkan kaset bertuliskan Vanishing Race itu dalam Player Tape Panasonic yang sudah berumur dua tahun itu..Mengalunlah lagu Its Never too late yang merupakan lagu pertama side A di kaset tersebut..ternyata lagu Goodbye diletakkan di urutan terakhir side A..Alhasil, karena hanya Goodbye yg saya tahu, maka langsung dipercepat menuju lagu terakhir..Dan, mengalunlah Denting Piano intro Goodbye yg didahului bunyi Jrengggg!!! ( bunyinya memang Jrenggg, coba anda tamatkan lagu tsb, pasti bunyi Jrengg di awal lagu sangat terasa)


apec 2

Gambar 2. Kaset AirSupply yang masih tersimpan hingga detik ini. Kertas cover sdh lecek di bagian lipatan,karena sering dibuka-tutup untuk baca liriknya.

Sejak saat itu, saya sangat menikmati yg namanya mempercepat dan merewind kaset hingga menemui lagu pilihan ( di belakangan hari saya baru menyadari, bahwa tindakan ini mempercepat derajat kerusakan pita kaset)..Hingga kini kaset tersebut masih tersimpan,meskipun cover kertasnya sdh kucel karena dulu sering dibuka untuk membaca liriknya..
Itulah fase awal perkenalan saya dengan kaset….meskipun didahului dengan GoodBye, bukan dengan Welcome….

The 40-Year ProgGraphy (3 of 40)

April 18, 2014

Gatot Widayanto

Satria Bergitar Sapu Ijuk

Ini sebenarnya masih masuk dalam periode pra Prog bahkan bisa dibilang saya belum secara pasti mengukuhkan diri sebagai penggemar musik rock meski kecenderungan ke situ memang lebih kuat dibandingkan ke kecenderungan jenis musik lain seperti funky atau disco. Musik jazz masih belum masuk dalam hitungan saya karena bagi saya terlalu tuwek kalau mendengarkan musik sejenis jazz. Sedangkan jiwa muda kan penuh gelora berapi-api seperti novel Api di Bukit Menoreh ..halah! Kok jadi ngomongin Agung Sedayu dan Alap-alap Jalatunda. Tapi emang masa itu saya rajin juga baca novel ini selain Nogososro Sabuk Inten. Pokoknya nuansamatik tenan lah. Kadang memang saat membaca novel dimana ada pertarungan malam hari di tengah hutan, saya memang kadang senandung lagu-lagu jadul seperti dari the Bee Gees, the Cats, the Casuals …sambil membayangkan bagaimana pertarungan berlangsung seperti yang dituturkan di novel.

Saya masih ingat bahwa di rumah Madiun mas Henky punya kaset the Bee Gees rekaman Nirwana dan saya juga suka lagu yang ada senandung “pi pi pi pi pi ….pi pi pi pi …pi pi …” yang merupakan bagian dari lagu bertajuk “Holidays” (semoga tak salah judulnya). Saya juga suka lagu bertajuk “Words”. Saya lupa lagu lainnya, yang jelas kaset the best tersebut bagus semuanya, kalau gak salah ada yang “First of May”. Tentu juga ada The Cats yang terkenal dengan “Lea” , “I’ve got to Know What’s Going On”, “Scarlet Ribbons”, dll. Yang syahdu itu lagunya The Casuals bertajuk “Jesamine” … What am I supposed to do with the girl like Jesamine …. WHOAAAAAAA …ini lagu kuwerrrreeeen tenan! Lagu pop nan ngguwajak!

DP in rockHal lain yang mempengaruhi saya adalah radio Moderato yang pada setiap jam selalu mengumandangkan intro lagu Child In Time sebelum masuk relai siaran berita dari RRI Pusat. Lagu ini menjadi memiliki makna tersendiri bagi saya karena saking sering denger meski hanya intronya saja. Yang membuat saya terbelalak justru ketika suatu hari lagu ini diputar full, tak hanya intronya saja. Naun saya menjadi lebih suka lagi ketika ada lagu lain lagi yang saya tak tahu judulnya namun bener2 penuh semangat dan temponya cepat meski lagunya pendek. Barulah kemudian saya tahu bahwa itu lagu dari Led Zeppelin bertajuk “Immigrant Song”. Edan tuh tereakan vokal di awal lagu “Aaaa …a … Aaaa …a!” duk thak duk jes …..Edaaaaaannnn …. Ini baru lagu. Kegemaran saya jadi memuncak ketika denger lagu yang tereakannya ini ..”You need uleeee …..” theng teng theng teng jreng thak ejek thak ejek ….theng teng theng teng jreng thak ejek thak ejek …. Tahulah tentunya lagu beken dari Led Zeppelin II ini … Muantab jek!

Gara-gara “Whole Lotta Love” inilah saya langsung membayangkan menjadi sosok pemain gitar rock dan sering pethakilan menirukan gaya seorang pemain gitar rock yang sedang manggung. Dan lucunya …saya pake sapu ijuk dibalik seolah itu adalah gitar listrik beneran. Padahal saat itu saya belum tahuLZ IIbahwa yang main gitar namanya Jimmy Page. Saya juga belum tahu orangnya seperti apa. Tapi ya udahlah yang penting pethakilan, loncat-loncat seperti pemain gitar sedang beraksi. Rasanya kalau sudah pegang sapu begini saya menjadi rang paling gagah dan serasa rocker sejati. Padahal perbendaharaan lagu-lagu rock ya sebatas Uriah Heep, Grand Funk, Deep Purple dan Led Zeppelin ini. Sayangnya pula, saya gak punya album Led Zeppelin II ini, alias belum mampu beli kasetnya, kecuali dari radio aja saat itu dan jarang sekali diputar. Akhirnya ya sering bersenandung sendiri tanpa tahu kesudahannya giman. Rapopo …sing penting ngerock to ya?

Kalau inget periode ini, saya ingin senyum sendiri. Apalagi periode inipun saya juga rajin nonton pertunjukan wayang orang di gedung Ajen bersama Pak Rebo. Pada setiap hari tertentu, kalau gak salah Selasa malam, saya nonton wayang orang gratis karena saya kenal pak Sudjio yang anggota TNI karena gedung Ajen tersebut adalah milik TNI. Oh ya .. Pak Rebo ini sebenernya “rencang” (pembantu rumah tangga) nya pak Sudjio yang merupakan tetangga kami di Jl. Sumatra, Madiun. keluarga kami dekat sekali dengan keluarga Pak Djio (panggilan pak Sudjio) yang menempati sebuah kamar di Losmen Sumatra (tepat di depan rumah kami di Jl. Sumatra 26). Saya sudah dianggap anak oleh Bu Djio ini. Ibu saya hampir tiap hari berkomunikasi dengan Ibu Djio ini. Kalau nonton wayang orang biasanya saya naik becak dengan Pak Rebo (dipanggil Pak Bo) ini. Nuansamatik kemlitik tenan …bahkan segmen kehidupan ini saya kok malah jarang cerita dimana-mana ya? Padahal saat indah itu …karena kalau nonton wayang orang saya terbebas dari kewajiban belajar … ha ha ha ha …. Saya rasa saat itu masih sebelum SMP, jadi ya sekitar 1969 – 1972 gitu. What a wonderful segment of my life!

Lha opo tumon, ….suka ngerock tapi nonton Wrekudoro Sakti (pertunjukan wayang orang) ….?!!! Ngerock nya dimana coba? Ha ha ha ha ha ….

The 40-Year ProgGraphy (2 of 40)

February 21, 2014

Periode Lima Tahun Pra-Prog 

The 40-Year ProgGraphy Pra-Prog 2 of 40

-

Pada periode sebelum saya mengenal musik yang kemudien populer dengan sebutan prog, selera musik saya sangatlah biasa dan seperti umumnya orang lain. Namun bila dibandingkan dengan temen-temen saya sebaya saat itu saya lebih gila dalam menyukai musik. Saat itu memang saya selalu menandai hari-hari saya dengan mendengarkan musik, terutama dari radio karena memang saya belum kenal kaset atau pemutarnya. Di Madiun ada dua radio swasta resmi yakni Moderato dan Gabriel plus RRI. Saya menikmati musik ya dari radio listrik merek GE yang kemudian diupgrade ke radio “transistor” merek Ralin. Hebat juga tuh kalau dari segi ukuran terjadi perubahan drastis karena radio GE besar sekali plus “salon” (loudspeake) yang ukurannya besar seperti koper besar. Sedangkan radio Ralin hanya berukuran sebesar batu bata merah. Ciri khas siaran radio saat itu adalah saling kirim lagu dan selalu dengan tagline “Dengan ucapan ….” …ha ha ha ha …jadulsonik nostalgik tenan!

Radio yang saya sering setel adalah Moderato dimana radio ini pulalh yang akhirnya sering memasang intro Child In Time di saat menjelang relay siaran berita dari Radio Republik Indonesia. Dari radio ini pula saya mengenal Koes Plus, Koes Bersaudara, Panbers, NoKoes dan sebagainya. Lagu yang saya suka saat itu “Kelelawar” yang karangan almarhum Murry. Saya suka karena drums nya kayak kotekan “Dhuk tak dhuk …Kelelawar sayapnya hitam!” ….

Musik dan Sepeda Jengki

Saya lupa tepatnya tahun berapa gitu, pokoknya saat saya sering ikut Pramuka setiap hari Minggu, ibu saya dengan baik hati membelikan sepeda jengki laki-laki merek Forever warna hijauDSC_0018tentara. Waduh edan! Saya suwenengnya setengah modar mendapat hadiah sepeda dari ibu saya ini. Rasanya masih kelas 5 SD saat itu. Di Madiun saat itu memang lagi ngetren sepeda mini. Sebenarnya saya minta sepeda mini karena sexy: sadelnya panjang terus di belakangnya ada sandaran. Jadi, bisa buat boncengan seperti orang naik motor. Keren deh! Namun ibu saya secara bijak menolak halus dengan pertimbangan bahwa kalau sepeda mini itu gak akan lama kepake dengan beranjaknya saya menjadi lebih dewasa. Saya kuciwa, tapi sebenarnya ibu benar sih. Sebenarnya sepeda jengki juga ngetren di tahun sebelumnya karena saat itu sebenernya sepeda yang dikenal orang hanya sepeda unta (di madiun disebutnya sepeda “Cap Tank”) dan ibu sebenarnya sudah punya peninggalan dulu merek Gazelle yang buatan Belanda. Tapi saya gengsi pake Gazelle karena kesannya tua gitu…ha ha ha ha … [Kisah mengenai permintaan saya ke ibu terkait sepeda mini, silakan baca disini ]

Saya senang sekali dibelikan sepeda jengki Forever ini dan saya merasa gagah kalau sedang mengonthelnya. Saat itu memang yang tren sepeda jengki merek Phoenix, Asia Bike atau Sim King. Bagi yang naik sepeda jengki, rasanya punya kelas beda, begitu kira2 … ha ha ha … Sedangkan yang pake sepeda Fongers, Gazelle atau lainnya dianggap kuno alias ketinggalan jaman …. Dengan sepeda jengki itulah saya sering melanglang buana seputar Madiun bahkan pernah sampai Nganjuk (jarak 50 KM dari Madiun). Yang lebih senang lagi, saya selalu semangat karena sambil gowes sambil nyanyi atau senandung Bunga Di Tepi Jalan, Kelelawar, Diana, Main Belakang, Nusantara, bahkan beberapa lagu “barat” seperti The Cats dan The Beatles sebangsa Hey Jude dan Don’t Let Me Down (cocok sekali ya …sambil gowes nyanyi lagu ini ….serasa semakin lengket dengan sadel sepeda)….

Pada era yang sama itu pula saya sering nangkring nebeng baca buku di undak-undakan rumah paviliun di Jl Sumatra 26, Madiun. Ya, rumah kami ada Paviliunnya dan ditempati oleh keluarga Paklik Djajadi (purnawirawan) yang memiliki lima orang anak, semuanya putri. Waktu itu saya terbilang dekat dengan mbak Wati (kira2 dua tahun di atas saya) yang merupakan anak kedua dari Paklik / Bulik Djajadi. Nah, keluarga ini paling suka koleksi buku2 komik wayang karya RA Kosasih, yaitu Mahabarata, Barata Yudha dan Parikesit. Saya rutin membaca komik-komik tersebut terutama Mahabarata dan Barata Yudha yang kisahnya sangat menyentuh hati dan membekas sampe sekarang. Lucunya selagi baca, saya sering senandung lagunya The Cats “Lea” dan “I’ve Got To Know What’s Going On” sambil menghayati alur cerita Mahabarata. Saya tak perlu uraikan panjang lebar karena pernah saya ulas di blog gemblung ini.

[Kisah terkait Mahabarata dan musik 70an ini saya pernah ulas disini dan juga disini ]

Disunat dan Kenal Uriah Heep 

Pada saat saya libur sekolah di kelas 6 SD saya mengunjungi Jakarta ke rumah tante saya di Tebet Barat dimana kakak saya mas nDoet dan mas Jokky tinggal. Yang membuat saya terkesan adalah 220px-Deep_Purple_-_Fireballadanya kaset rekaman Remaco bertajuk Deep Purple yang ternyata album Fireballs. Saya hanya inget ada satu lagu yang nunjek ulu ati dan saya suka sekali lagu tersebut yakni “Fools”. Gila ….lagu ini keren banget. Ngerock abis! Saya suka bagian interlude dimana hanya ada suara Hammond dan gebukan drums nan indah. Wis ….rasane gagah tenan! Itulah kali pertama saya njegrak rambut terpesona dan kepincut dengan musik rock. Keren banget dah lagunya … apalagi di segmen yang ada tereakan Gillan : “There can be bad blood in all and I can see. It’s in my brain…” dinyanyikan dengan penuh aksentuasi. Kerrreeennn …..!  Apa lagi bagian ini: “Man is not my brotherhood” ….WHOOOOAAAAAA….. serasa tuob tenaaannn!!!

Selain itu juga saya senang lagu “I Can Feel Him In The Morning” dari Grand Funk Railroad yang GrandFunkSurvivalpertamanya saya suka karena ada dua anak kecil berdialog dan suaranya terpisah speaker kanan dan kiri. Memang saat itu sedang tren teknologi STEREO. Edan tenan …saya suka lagi ini meski gak ngerock amat. Saya rasa dua lagu inilah yang membawa saya ke ranah musik hingar bingar.

Pada saat kelas 1 SMP saya disunat sama Mantri sunat paling top di Madiun, namanya Pak Djoremi. Biyuh …saya takut …lha manuk nggo dalan uyuh kok dikethok (dipotong – red.) kulite …. Tapi seneng juga karena hasil akhirnya nanti bentuknya bagusan, ada helem-nya dibandingkan bentuk kuncup yang suka sulit membersihkan kalau abis pipis …ha ha ha ha ha … Saya ke rumah pak Djoremi pagi hari jam 6:00 diantarkan oleh mobil kuno milik pak Parto yang tinggal di seberang rumah kami di Madiun. Selain itu juga ada pak Sudjio. Rumah pak Djoremi di depan terminal bus Madiun, terusan jalan Thamrin. Alhamdulillah sesi pemotongan kulit manuk berjalan lancar.

Sorenya saya mendapatkan kunjungan dari kolega ibu saya dan tentu ada angpo nya. Ternyata semua angpo terkumpul sekitar Rp. 23.000,- (dua puluh tiga ribu rupiah). Tanpa pikir panjang, besoknya dengan diantar kakak saya, mas Henky dan Ibu, uang tersebut kami belanjakan sebuah Tape Recorder (automatic stop) merek National Panasonic, warna abu2. Waduh! Hati saya melonjak girang! Masalahnya kemudian: apa yang mau diputar, wong belum punya kaset? Ha ha ha ha ha ha ha ….. Untungnya mas Henky berbaik hati memilihkan enam kaset buat tape recorder kami yang baru. Enam kaset tersebut semuanya dibeli di Toko Miraco, termasuk :

  • Uriah Heep “Demons and Wizards” rekaman Starlite dan side B nya Khan “Space Shanty” dua lagu dan ditambah dua lagu dari Lucifer’s Friend “Where The Groupies Killed The Blues” dimana ada lagu berjudul Hobo nan nuansamatik kemlitik tenan.
  • Deep Purple “Who Do We Think We Are?” rekaman Nirwana dengan lagunya yang top “Woman from Tokyo”
  • Santana (lupa album apa, yang jelas ada lagu “No One to Depend On” ….. I got nobody JRENG! That I can depend on …dhuk dhuk jreng!!!!
  • Koes Plus “Bunga Di Tepi Jalan”
  • The Gembel’s (side B nya The Mercy’s)
  • Satu lagi lupa kaset apa …mungkin El Chicano.

Nah …inilah tonggak bersejarah bagi kehidupan saya menyukai musik rock secara utuh. Sejak 220px-Demons_and_Wizardssunatan itulah tiap hari saya dan mas Henky nyetel kaset Uriah Heep tersebut. Biyuh! Musiknya sungguh indah membahana dimulai dengan petikan gitar akustik Mick Box dan alunan vokal jernih David Byron …”He Was the wizard of the thousand kings ….” mak JUEGLERRRRRR ….hati saya langsung kesedak setiap mendengar intro dan bagian ini …hingga kini choy! So damn powerful this song is! Apalagi di bagian ketika drum mulai masuk DHUK DHUK DHUK …THAK DHUK DHUK JRENG! Whooooaaaaaa……nggulung koming tenan aku!

Yang juga saya suka, satu album semua lagunya enak dan urutannya sangat mematikan dan kami jadi apal urutan lagunya. Setiap nyetel kaset ini, selalu sampe abis kasetnya …ngentek pok tanpa ada interupsi di tengah kaset. Sungguh nikmat sekali. Karena saking seringnya nyetel kaset ini, ibu kami pun kenal band ini dan sering bilang kalau suatu hari saya mau nyetel tape: “Uriah Heep Tot …”, pesan beliau ….

(insya Allah bersambung)

Saya tambahkan lagi…

Pada periode ini pula saya mulai suka membawa tape recorder berpindah tempat dan sekaligus membawa kasetnya. Yang jelas, sejak punya National Panasonic saya jarang nyetel radio karena sedang keranjingan dengan Uriah Heep, Deep Purple, Santana, Koes Plus, Gembels, The Mercy’s dan juga El Chicano. Kaset Starlite berisi Uriah Heep itu sudah menjadi menu harian dan saya sangat suka sekali petikan gitar akustik Mick Box mengawali The Wizards nan nuansamatik tenan itu. Saya juga sering menirukan gaya nyanyi lagu2 Uriah Heep misalnya dengan Traveller In Time yang ditengahnya ada gebrakan suara drums, saya tirukan seolah saya ini Lee Kerslake. Wuih! Keren tenan! Selain itu ibu saya suka dengan Circle of Hands yang organnya menyayat hati itu ….

AKTUIL The Legend Sudah Terbit?

December 29, 2013

Sekitar beberapa tahun lalu yang tepatnya saya juga lupa,  saya pernah mengirimkan artikel amat panjang terkait kenangan pribadi terhadap majalah Aktuil. Saat itu saya kirimkan atas permintaan pak Odang,  salah satu pegiat Aktuil di saat jayanya dulu. Bahkan saya dan pak Alfie N Syahrine pernah kopdar dengan pak Odang di Blok M Plaza.

Pembicaraan saat itu cukup seru karena ada rencana menerbitkan buku atau majalah luks tentang Aktuil di masa jaya pitungpuluhan. Selain dengan pak Odang,  saya juga sering komunikasi dengan pak Buyunk yang juga sebagai owner dari grup ATL ( Aktuil The Legend) di Facebook. Mas Yuddi bahkan lebih intens lagi berhubungan dengan pak Buyunk Aktuil.

Beberapa hari lalu saya mendapat pesan dari Mas Hengky Malang Bernyanyi yang menyatakan ada artikel saya yang dimuat juga di ATL. Saya sendri kurang paham apakah majalah nya atau bukunya sudah terbit atau belum. Mungkin mas Yuddi lebih tahu. Mungkin juga karena keterbatasan ruang,  tulisan panjang saya akhirnya diedit ( baca: potong – red.) sehingga pendek sekali.

image

Mas Yuddi,  apa benar buku / majalah tentang Aktuil telah terbit?

As a matter of record …

July 16, 2013

image

Jangan kaget kalau saya posting kaset yg beberapa bulan lalu saya beli dengan sengaja dari Uninnesse karena kaset ini, selain New Wave nya Aquarius, menandai tahun kritis perkembangan musik prog yang hampir mencapai titik nadirnya. Coba liat kaset ini dibeli oleh pemilik sebelumnya yang bernama Lanemey Dewiane alias Ike T di bulan Januari 1983 alias tepat dua bulan sebelum Fish mendesahkan “So here I am once more THèNG!” nan fenomenal itu …. Artinya, kaset ini menunjukkan dahzyatnya punk dan new wave mengguncang industri musik saat itu yg berakibat runtuhnya dinasti progrock yg telah dirintis sejak 1969. Kalau gak ada Fish dan Marillionnya gak tahu lagi prog bakal nyungsep kemana. Selain itu …ini adalah bukti bahwa kaset bertahan selama 30 tahun bahkan lebih. Meski rekaman Hins ini dengan pita BASF namun masih kemrincing nikmadz bunyinya …. Lagunya lucu2 lho …. lihat aja ini:

image

That’s Very Old Cassette …

July 14, 2013

By: Domme

Aku mengenal dunia kaset sejak masih SD, tentunya dari bapakku. Beliau dulunya (tahun 1970-an) memiliki amplifier Sansui 6600, deck Akai, dan speakers Techncis. Beberapa belakangan kemudian dia tambah dengan eq Akai… Selera bapakku adalah lagu-lagu yang untuk ukuranku sangat tua, seperti Pat Boone, Jim Reves, dan lain-lain. Tapi pengaruh Beatles juga merambah ke rumah karena aku ingat, bapakku punya juga kaset Beatles, di samping grup lain Rolling Stones, Hollies, Marmalades, Everly Bros, dll (entah kemana kaset itu sekarang). Selain itu Beliau menyukai Ebiet G Ade.

Aku bahkan mengenal nuansa rock dari kompilasi milik bapakku, Sweet And Sentimental 2 rekaman Tops, di mana lagu pertamanya adalah Always Somewhere Scorpions. Di kaset ini juga ada lagu Hollies berjudul When I’m Yours, yang hanya pernah saya temukan di kaset ini. Di kaset lain, baik kompilasi maupun the best Hollies, aku nggak pernah nemu.

Dulunya aku kurang paham soal rekaman-rekaman apa yang sering dibeli bapakku. Mulai SMP barulah aku mulai mengenal fisik kaset itu. Saat itu kebetulan mulai pemunculan kaset dengan cover yang lebih modern tanpa foto tempel dan juga mulai kemunculan pita basf yang era itu sangat digandrungi, namun di masa ini kurang diminati karena masalah daya tahan.

Seiring dengan tahap pengenalanku pada fisik kaset…, aku pun membeli kaset pertamaku yaitu The Best Of ABBA Kings Record (kalau nggak salah tahun 1982). Lalu diikuti kaset demi kaset. Dan pengaruh rock mempengaruhiku saat aku membeli Golden Slow Rock rekaman GL yang berisikan Scorpions (Always Somewhere/Fly People Fly), Nazareth (Love Hurts/I Don’t Want To Go On Without You), Deep Purple (Soldier Of Fortune/When A Blindman Cries), Rollong Stones (Angie/I Got The Blues), Rainbow (Temple Of The King/Catch The Rainbow), Bad company (Love Me Somebody/The Way I Choose), Queen (Love Of My Life/Bohemian Rhapsody). Masing-masing grup dua lagu…, satu di sisi A dan satu di sisi B. Kaset ini kemudian menjadi favorit aku saat itu dan menjembatani aku membeli kaset-kaset grup yang ada di dalamnya dan mempengaruhi selera musikku hingga saat ini. Sayang, kaset ini sudah tak ada lagi.

Era kaset di mana aku mulai membeli pun mempengaruhi selera dalam hal fisik kaset. Aku sama sekali tidak suka yang foto tempel, karena menurut aku itu kaset jadul dan nggak modern. Ternyata terbawa hingga aku juga nggak suka Yess, Monalisa, Golden Bridge, dan lain-lain yang pake foto tempel. Apalagi yang pake foto tempel itu, selain, menurut aku, covernya monoton, juga tidak punya lirik.

Waktu berlalu hingga era lisensi, di mana aku sempat juga beli beberapa waktu, namun terasa ada yang nggak pas. Banyak perbedaan, mulai cover yang menurutku tak menarik hingga kualitas pita dan rekaman. Belum lagu suasana nuansamatik yang tak terasa sama sekali…

Lalu mulailah merambah ke lapak-lapak kaset bekas yang saat itu masih banyak beredar di Medan. Kembali aku menemukan sesuatu yang hilang saat kaset-kaset era bajakan resmi yang nuansamatik full teronggok di lapak. Dan lagi-lagi, tetap saja pengaruh lama membuat aku tak menyentuh kaset berfoto tempel. Namun seiring waktu, karena desakan keberadaan album-album tertentu yang kadang hanya dikeluarkan perekam tertentu dan karena kaset nuansamatik juga makin susah didapat, maka rekaman Yess, Golden Bridge, dan Monalisa pun mulai masuk rak kaset. Namun belum untuk kaset-kaset yang menurutku terlalu jadul, seperti Lolita, Starlite, dan lain-lain, termasuk yang dikenal dengan kaset hitam putih.

Hingga kemudian aku gabung dengan blog super gemblung ini. Beberapa teman kemudian membahas album demi album nuansamatik dan banyak di antaranya adalah dari kaset super jadul itu. Hampir bersamaan aku juga mulai merambah dunia maya mencari kaset, mulai dari toko online hingga facebook. Ketika kaset super jadul diulas di blog ini, maka kemunculan kaset-kaset super jadul di toko online dan facebook mulai menarik perhatian. Ditambah makin banyaknya album yang aku tau aku belum punya, dan hanya ada di kaset super jadul itu, maka aku pun mulai tertarik membelinya, hingga akhirnya malah suka, walau belum seperti kegandrunganku pada rekaman Team. Dan akhirnya, walau belum banyak, aku kini sudah mengoleksi kaset-kaset super jadul.

OldCassettes1

OldCassettes2

OldCassettes3

OldCassettes4

OldCassettes5

OldCassettes6

OldCassettes7

OldCassettes8

OldCassettes9

OldCassettes10

OldCassettes11

Untuk urusan pita, memang kaset super jadul kebetulan rata-rata berpita maxell atau TDK, sehingga daya tahan sangat teruji. Namun untuk kualitas rekaman, bisa dikatakan tidak merata. Apakah karena pengaruh usia atau teknologi saat itu, kaset-kaset super jadul kadang ada yang kualitas suaranya prima, namun ada juga yang tidak begitu prima. Tapi kadang justeru di situ salah satu daya tariknya. Karena dengan suara yang agak kasar, kalau dengar lagu blues malah seperti terbawa ke masa lalu dengan nuansa suara seperti tadi. Kita seperti duduk di sebuah bar tempo dulu yang sedang memutar lagu-lagu blues dengan sound seadanya. Sungguh nuansa yang tak akan ada ditemukan di mana pun… Tapi aku pikir, tentu kurang enak didengar kalau untuk lagu-lagu hard rock yang butuh suara keras atau prog yang butuh suara yang lebih ‘open’ dan detail. Itu sebabnya, untuk kaset super jadul itu, aku lebih memilih untuk album-album blues…

Horas…!

Long Live Rock And Blues…

Sahur Dibangunkan John Barleycorn

July 14, 2013

Tadi malam tidur agak telat, menjelang jam 2 tapi bisa bangun sahur. Kali ini rasanya bangun sahur bahagia banget dan tentunya bersemangat karena sebelum bangun mimpi John Barleycorn (Must Die). Gak tahu ceritanya bagaimana, yang jelas dalam mimpi tersebut saya sedang hadir dalam sebuah acara. Terus di dalam acara tersebut ada seorang bule yang agak berumur menyanyikan lagu Traffic paling nuansamatik sepanjang masa dan tak lekang dimakan waktu: John Barleycorn (Must Die). Asik banget tuh si bule nyanyiinnya. Rasanya kagak pake musik, hanya acapella aja sambil tepuk tangan. Tapi nuansa yang dia ciptakan sungguh sangat bersemangat. Sehingga saat bangun, saya masih terasa seolah sedang ikut bernyanyi sama dia sambil tepuk tangan mengikuti tempo lagu. Begitu sadar bahwa ini sekedar mimpi, tangan saya langsung nyamber HP di sebelah tempat tidur dan langsung memasang lagu ini melalui HP. Duh ….indah sekaliiiiiiii …. Bener2 tak terlukiskan dengan kata2 indahnya ….

Ada yang belum tahu lagu ini? Yah …kalau belum tahu, kemana saja engkau habiskan waktu dalam hidupmu? Kalau buat sepenuhnya beribadah kepada Yang Maha Kuasa ya bolehlah terampuni … Tapi kalau ngaku penggemar musik namun tak tahu lagu ini, mending ke laut aja lah … Melihat burung camar terbang dan nelayan berbondong-bondong kelaut sambil menikmati lagu Leo Kristi yang liriknya seperti itu ….he he he he …. Tapi sejujurnya, engkau ini termasuk kelompok orang yang merugi bila belum pernah mendengarkan lagu ini. Sumprit! Huwenak tuwenaaaaaaaan lagune rek! Tak hanya itu ….ini full nuansamatik kemlitik nostalgik memorablik tenan…..

Pertama kali saya kenal lagu ini tak sengaja dari kaset kompilasi FOLK SONGS Vol. 2 rekaman Perina Aquarius hitam-putih dengan cover cewek bule main gitar (kayaknya Melanie, artis jadul). Tadinya saya gak suka kaset ini karena jelas bukan rock. Namun kadang kala kalau capek ngerock saya setel juga kaset punya mas Henky ini. Lagu pembukanya yang saya ingat adalah Please Mister Please (Olivia Newton John). Di dalamnya ada juga lagu Five Hundred Miles. Kalau gak salah, John Barleycorn Must Die ini ada di side B lagu kedua dari akhir. Jadi termasuk lagu yang tak diandalkan. Namun …hati saya TERSAYAT-SAYAT bak sembilu dibelah sepuluh …opo kuwi? Embuh! Yang jelas itu lagu nunjek ulu ati banget! Mulai dari petikan gitar di awal lagu hingga vokal nan bersih dari Steve Winwood …”There were three men …” wadouw biyoung ……huwenak tenan …!!!! Ngguweblak!. Trus alunan flute dari Chris Wood sungguh menambah sayatan sembilu menjadi lebih tajem lagi. Lagu ini mesti tergolog PROG soalnya pake flute lho … ha ha ha ha ha ….. Setiap lekukan segmen di lagu ini semuanya indah bahkan sulit menemukan segmen yang tak enak, semuanya nunjek ulu ati melodinya. Apalagi pas Winwood nyanyi lirik ini: “And little Sir John …..” WHOOOOAAAAAAAAAAAAAAAA….!! Ngguweblag!

Wis pokoke rungokno dewe! Iki lho versi live :

Piye? enak to? Yen ora enak, yo wis …ora usah melu2 dadi penghuni blog gemblung iki … wong lagu enak kok dipungkiri! Maka nikmat Tuhanmu yang mana yang kau dustakan.

Versi studia dari lagu ini ya dari album John Barleycorn Must Die tahun 1970 dengan line up:

- Jim Capaldi / drums, percussion, vocals
- Steve Winwood / guitar, organ, piano, percussion, vocals
- Chris Wood / saxophone, flute, organ, electric saxophone, percussion

Sayangnya …saya hanya memiliki CD nya dari album ini sehingga saya yakin hal ini tidak nuansamatik blas. Akan sangat nunjek ulu ati bila saya mendapatkan kaset Aquarius FOLK SONGS 2 karena dari situlah awalnya saya kenal lagu ini dan awal kenal Traffic juga meski sebelumnya kenal dari kaset mas Boedi, kakak sulung saya, saat saya dulu main ke Jakarta.  Tapi rasanya masih belum ada lagu John Barleycorn nya. Waktu liat kaset Traffic nya Bro Domme, saya berharap lagu ini ada di kaset tersebut karena memang masterpiecenya Traffic. Tolong ya Koh Win atau mas Danang atau Predator lainnya bila nemu kaset ini, tolong sikat aja, ntar saya ganti. Peliiiiisssss …..
Ini lho liriknya ….. Sungguh nunjek ulu ati tenan ….

There were three men came out of the west, their fortunes for to try
And these three men made a solemn vow
John Barleycorn must die
They’ve ploughed, they’ve sown, they’ve harrowed him in
Threw clods upon his head
And these three men made a solemn vow
John Barleycorn was dead
They’ve let him lie for a very long time, ’til the rains from heaven did fall
And little Sir John sprung up his head and so amazed them all
They’ve let him stand ’til Midsummer’s Day ’til he looked both pale and wan
And little Sir John’s grown a long long beard and so become a man
They’ve hired men with their scythes so sharp to cut him off at the knee
They’ve rolled him and tied him by the waist serving him most barbarously
They’ve hired men with their sharp pitchforks who’ve pricked him to the heart
And the loader he has served him worse than that
For he’s bound him to the cart
They’ve wheeled him around and around a field ’til they came unto a barn

And there they made a solemn oath on poor John Barleycorn
They’ve hired men with their crabtree sticks to cut him skin from bone
And the miller he has served him worse than that
For he’s ground him between two stones

And little Sir John and the nut brown bowl and his brandy in the glass
And little Sir John and the nut brown bowl proved the strongest man at last
The huntsman he can’t hunt the fox nor so loudly to blow his horn
And the tinker he can’t mend kettle or pots without a little barleycorn

Salam
G

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 141 other followers