Archive for the ‘Band Review’ Category

Legenda Genesis (1/7)

September 16, 2014

Herwinto

Trespass….Perubahan Bermusik Yang Radikal

image

Genesis adalah band favorit saya selain Yes. Band ini saya anggap sangat luar biasa memberikan pengaruh bermusik kepada band band setelahnya, bahkan bisa dikatakan sebagian besar band band generasi baru sangat dipengaruhi oleh warna musik Genesis. Tengoklah Marillion, Arena, The Watch, Cast, The Flower Kings, IQ dan lainnya, sangat terlihat pengaruh Genesis di sana sini walaupun tidak terlihat mencontek atau mengekor. Beberapa minggu ini saya memang memutar kembali album album Genesis karena saya mencoba meresapi kembali karya asli mereka, pemicunya adalah saya memutar Transatlantic dan mendapati mereka mengkover The Return of Giant Hogweed dengan sangat bagus. Juga The Flower Kings yang memainkan Cinema Show plus terakhir saya menikmati Nick D’Virgilio yang menkover The Lamb Lies Down dengan sangat excellent. Maka saya putuskan menulis tret ini semoga semakin mengokohkan kecintaan kita kepada band super brillian ini.

Trespass….adalah album kedua Genesis yang sekaligus menobatkan eksistensi mereka sebagai band progresif rock, setelah album perdana mereka From Genesis To Revelation gagal dan mereka merasa dikerjai oleh produser mereka, maka mereka memutuskan ”mengasingkan diri” disuatu desa yang damai dan tenang, mereka mulai berlatih dengan keras selama berminggu minggu, dan hasilnya? sebuah album yang berubah 180 derajat dalam arah bermusiknya, sangat radikal!! album perdana mereka yang sebelumnya berirama ala Bee Gees tiba tiba berubah menjadi warna musik yang rumit, berat dan sangat berkualitas. Saya sangat menyukai album ini karena unik dan sangat indah.

Ada dua hal penting yang saya catat dari album ini yaitu Anthony Phillips sebagai  gitaris awal Genesis telah meletakkan pondasi yang kokoh berupa dinamika musik akustik yang kelak dilanjutkan dan disempurnakan oleh Steve Hacket yang kemudian dikenal sebagai sound klasik Genesis seperti pada Suppers Ready. Penggunaan Flute pada album ini sangat dominan yang kelak menjadi ciri khas Genesis Gabriel. Dibuka dengan nomor Looking For Someone yang sangat indah dari awal lagu sampai akhir, lagu ini sangat sunyi namun cukup ngerock ha ha ha piye maksude? perpaduan gitar akustik,elektrik, kibor dan melotron serta gebukan drum yang sangat dinamis dihiasi flute di keheningannya benar benar menghasilkan komposisi yang sangat indah. Tanpa jeda disambung dengan White Mountain yang awalnya sayup sayup bunyi kibor disusul dengan gitar akustik dan teriakan Gabriel yang sangat bertenaga…whooaaaaa saya sangat menyukai lagu ini…di menit 2:10 suara flute muncul pelan pelan….lagu menjadi sangat dinamis…di menit ke 3:40 musik menjadi sunyi dan kembali Gabriel berteriak membahana dan menggema….jiyaaaan tuob tenan lagu ini….lagu diakhiri dengan suasana hening dengan petikan gitar yang sakral…..huebaaaat sekali. 

Track ketiga Vision of Angels adalah lagu yang cukup enak, nyantai…denting piano, petikan gitar akustik serta hammond yang berpadu dengan rapi terdengar begitu klasik. Stagnation lagu yang bernuansa teduh diawalnya dengan petikan gitar akustik, di menit ke 3:00 musik menjadi sangat atraktif  dengan penggunaan hammond serta drum yang sangat rancak, di menit ke 6:57 Gabriel bermain flute dengan indahnya. Dusk adalah nomor lembut sebagai jeda menuju track puncak The Knife….Whoooooaaaaaaaa….ini lagu favorit saya….uediyaaaan!! pembukaanya saja sudah bikin semangat berkobar kobar….dibuka dengan suara kibor, drum dan gitar elektrik yang bersatu padu saling berkejaran….permainan gitar Anthony benar benar ngerock!! di menit ke 3:28 menjadi sunyi dan flute Gabriel menyeruak di keheningan….sangat terdengar sakral!! di menit ke 5:05 menjadi suara hiruk pikuk sebelum kemudian Anthony ngamuk dengan gitarnya lagi…..Tony Banks tak mau ketinggalan juga ngamuk di menit ke 7:30…lagu ditutup dengan permainan hammond seperti di awalnya….puwassss!! huebaaat album ini.

Steely Dan “Can’t Buy A Thrill”

September 12, 2014

Rully Resa

image

Grup musik Serieus asal Bandung pernah bernyanyi: “Rocker juga manusia punya rasa punya hati, jangan samakan dengan pisau belati!”. Saya rasa progger juga pantas demikian. Jadi walaupun saya senang mendengar musik prog tapi kalau hati sedang tidak mood ngeprog apa boleh buat! ceritanya, bulan lalu hasrat mendengarkan prog agak kurang, karena lagi senang mendengarkan musik jazz. Sempat gandrung dengan Bill Evans, Wynton Marsalis dan Frank Zappa. Kemudian tiba-tiba saya beralih senang musik yang banyak harmonisasi vokalnya seperti Simon and Garfunkel, Queen. Akhirnya saya ‘ketemu’ dan kemudian intens mendengarkan Steely Dan. Walaupun cenderung lebih ngepop daripada jazz atau rock tapi saya senang dengan album-album mereka, terlebih Can’t Buy a Thrill.

Sebenernya perkenalan dengan Steely Dan tidak dimulai dari situ tetapi jauh sebelumnya saya sudah pernah terlebih dahulu mendengarkan album Aja. Tapi ketika itu agak kurang sreg dengan album Aja yang terasa sekali jazz rock era 80annya. First impression terhadap Steely Dan tidak begitu bagus. Setelah browsing dan ngobrol dengan teman-teman, semua menyarahkan album Can’t Buy a Thrill untuk didengar.

Tidak perlu waktu yang lama untuk menyukai album ini karena memang lagu-lagu di dalam album tersebut seluruhnya bagus dan mudah dicerna ketika pertama kali didengar! (mudah dicerna bukan berarti murahan dan cheesy). Saya senang sekali mendegarkan bebunyian perkusi yang banyak terdengar diseluruh album. Bahkan permainan perkusi dilagu pembuka “Do it Again” sangat catchy dan mengajak bergoyang (walaupun sangat terasa nuansa psychedelicnya, mau tidak mau yang terbayang adalah tarian para gipsi). Saya makin dibuat penasaran dengan grup ini, karena setelah browsing sana-sini dapat informasi ternyata Donald Fegan dan Walter Becker (duo pendiri grup Steely Dan) sangat perfeksionis dalam bermusik, dalam satu lagu begitu banyak unsur yang digunakan dan sangat rewel jika tidak sesuai seperti yang mereka inginkan. Dari situ saya merasa seperti disungguhkan karya terbaik dari musisi-musisi handal.

Kesenangan saya akan harmonisasi vokal terbayarkan pada lagu ‘Reelin’ in the Years’, Pecah suara pada bagian reffnya enak sekali dinikmati dan dinyanyikan. Begitu pula dengan lagu “Dirty Work” lagu yang sedikit bernuansa country ketika masuk bagian reff pendengar seperti diarahkan untuk bernyanyi bersama-sama. Steely Dan mulai banyak menggunakan backing vokal wanita setelah album pertamanya (saya pribadi lebih senang bila backing vokalnya suara wanita). Itu juga menjadi salah satu alasan saya untuk treus menggali album mereka selanjutnya.

Sebagai seorang pencinta musik prog, saya memilih tidak mau jadi jamaah prog garis keras dan fundamentalis (keren ga nih istilahnya? whehehe) yang menolak mendengarkan musik lain. Justru dengan mendengarkan musik lain, menurut saya, dapat menambah khasanah pengetahuan musik dan bisa menjadi cara saya dalam mengkompromikan transformasi musik prog dari jaman ke jaman.

Sekian dari saya, Salam

Sent from my iPad

Reissue : Abbhama ‘ Alam Raya ‘

September 2, 2014

Hendrik Worotikan

Salah satu band yang hanya menelorkan satu album saja dalam perjalanan bermusiknya diblantika musik indonesia bolehlah disebut Abbhama.

Sejak dibentuk pada 1977 lantas merilis album ‘Alam Raya’ pada 1978 nama mereka pun hilang bak ditelan bumi. Dan sampailah di penghujung Mei 2014, setelah 36 thn, ‘Alam Raya’ pun kembali dirilis ulang dalam format vinyl dan CD.

Bukan sesuatu yang berlebihan, kalau re-issue ini disambut dengan penuh suka cita, terutama yang belum pernah memiliki fisik kasetnya, dulu (baca : seperti saya).

Diblantika musik tanah air era 70-an sangatlah jarang kita menjumpai rekaman musik yang berbalut dengan nuansa progressive rock/symphonic rock seperti Abbhama dengan sang frontmannya Iwan Madjid (1957-17 Juli 2014), yang tidak lama setelah ‘Alam Raya’ di re-issue menghadap ke Sang Khalik.

Pengaruh musik prog rock semacam ELP, Yes, King Crimson, Genesis jelas terasa pada sebagian aransemen musik Abbhama.
Bahkan dibeberapa lagu sengaja diselipkan komposisi musik klasik karya Johan Sebastian Bach (1685-1750), Claude Debussy (1862-1918), Frederic Chopin (1810-49), dll.
Tidak hanya sampai disitu saja, karya musisi legendaris, Keith Emerson ‘Piano Concerto No. 1′ tidak luput juga menjadi inspirasi di lagu karam.

Karya musik dari komponis klasik, acapkali memang menjadi inspirasi bagi para musisi. Tidak hanya Abbhama, musisi dan grup mancanegara juga sering kali melakukan hal yang sama.
Ini bisa kita dengarkan di album Yessongs milik Yes tatkala di Opening mengutip karya Stravinsky ‘Free Bird Suite’, ELP membawakan ‘Fanfare for The Common’ karya komponis Aaron Copland dan juga gitaris Yngwie Malmsteen yang memainkan gubahan Antonio Vivaldi, ‘Cantabile’ (Op 10 No. 3 RV428 il Gardellino) di albumnya yang bertajuk ‘Magnum Opus’, begitu pula dengan Deodato yang menginterpretasikan karya Debussy ‘Prelude to the Afternoon of A Faun’.

image

-

image

-

image

Abbhama dengan formasinya Iwan Madjid (vocals, piano, mellotron, flute), Darwin B. Rachman (bass, keyboard), Cok Bagus (gitar), Hendro (oboe), Robin Simangunsong (drums), Oni (minimoog synthesizers, keyboard) Dharma (flute) dan Ivan (viola), walaupun hanya singkat keberadaan mereka, namun mereka telah memberikan warna baru didalam iklim industri musik kala itu.
Dan siapa pula yang menyangka kalau album yang direkam berpuluh-puluh tahun lalu itu sampai saat ini rekamannya masih terus diburu oleh para kolektor musik tanah air, pun, mancanegara.

Jayalah prog ! di Alam Raya Indonesia Mahardika. Lho kok ?

Matur nuwun Mas G.

——

TAMBAHAN DARI MAS GATOT TRIONO (3 Sep 2014)

Mas GW,munkin jika tidak keberatan foto ini bisa ditambahkan u/ tulisan nya Mas Hendrik tentang Abbhama.tks.

Tribute Iwan Madjid

Racun itu Bernama “The Tangent”

August 30, 2014

Herwinto

image

Rabu kemarin mendapat kiriman racun dari The Land Of Prog…Jombang..siapa lagi kalau bukan pemilik Angkringan Apple nan kesohor di tanah Jawa ini…mas Edi Santoso atau akrab disapa mas Edi Apple…racun yang saya telan pertama kali adalah The Tangent…namanya saja sudah matematis banget..Tangent adalah perbandingan panjang sisi tegak dan sisi mendatar dalam segitiga siku siku…ha ha ha dasar guru matematika!! bagaimana musiknya…100% matematika banget!! rumit!! namun jangan salah…rumit namun indah dan akademis banget…cocok saya dengar musiknya pertama kali….memang baru satu album yang saya dengar..inipun saya bingung album apa bukan kok di discography nya tidak dicantumkan dengan detail…ternyata ini semacam EP. Namanya L’etagere Du Travail…dirilis tahun 2013.

Track pertama adalah Monsanto 7.49 waaaahh saya langsung jatuh cinta dengan lagu ini..komposisinya gabungan antara Rick Emerson dan Keith Wakeman ha ha ha…kibornya itu lho akrobatik banget!! musiknya rancak, dinamis, penuh tekukan tekukan maut…tuobz tenan!! saya merasakan ramuan yang lezat antara ELP ini begitu kerasa dipadu Yes, King Crimson dan Jethro Tull..durasi 7 menitan gak kerasa kayak dengerin lagu 2 menitan aja…tak ulang berkali kali lagu ini!! 

Lost In Ledston 6.39 adalah lagu kedua yang juga tak kalah maut, lagu ini benar benar beraroma ELP tapi jangan salah! bukan menirunya tetapi meramunya dengan unsur unsur King Crimson, salah satunya adalah pergerakan flute yang sangat rancak mengikuti akrobatik kibornya..nikmaaaaaat!!!

The Iron Crows 14.09 merupakan lagu epicnya…disusul Build A New House With Lego 6.25, track selanjutnya Supper’s Off begitu dinamis musiknya, semangat sekali saya mendengarnya, dentuman bass dan drumnya sangat keren!! disusul Dansant Dans Paris 6.58 yang beraroma jazz yang asyik sekali…

Steve Wright In The Afternoon 6.07 dibuka dengan petikan gitar yang lembut, sangat asyik lagu ini, disusul A Voyge Through The Rush Hour 2.28 sebuah solo piano dan  The Ethernet 9.11 lagu yang enak banget dengan solo gitar yang panjang dimulai di menit ke 5.00 sampai akhir lagu, track pamungkas adalah The Canterbury Sequence 9.10 track yang cukup seru menggabungkan unsur unsur jazz dengan klasik beserta rock woaaah muantab sekali….demikian review saya semoga menjadikan racun juga untuk yang lain….haree geneee gak tahu The Tangent?….jangan ngaku proger!!! ha ha ha…..ratjoeeeeeeeeenn!!!

Bersatunya Kembali GodBless

August 28, 2014

Wahyu Triantono

Menyambut konser reuni GodBless tanggal 30 Agustus 2014 di Bandung ada rasa senang tapi juga sedih, senang karena GodBless tampil lagi dengan formasi terbaik walaupun Jocky n Teddy hanya guest star selain Eet tapi itu tidak mengurangi kadar konser itu sendiri dan rasa sedihnya karena saya tidak bisa melihat penampilan legenda band rock indonesia yang sudah berumur 41 tahun !! Dan masih eksis..
Esensi tulisan saya sebenarnya ada 2 point yang penting. Yang pertama adalah Band ini bisa bertahan 41 tahun..Apa resepnya ya? Kalo om Ian ato om Dony kebersamaan adalah salah satu cara untuk bisa bertahan dalam sebuah band walaupun dari awal berdiri GB sudah banyak problem seperti dengan meninggalnya Fuad Hasan dan pemain keyboard (maaf lupa nama almarhum), dan bolak balik ganti personil namun beberapa masalah tersebut tidak sampai membuat GB bubar..bahkan hingga sekarang mereka masih bersama dan eksis..Yang kedua adalah Dokumentasi..dalam blognya Pak Gatot beberapa waktu yang lalu saya sempat menulis betapa indahnya apabila ada dokumentasi berupa visual tentang band Indonesia..betapa kerennya apabila GB membuat box set seperti yang dilakukan Band2 besar di luar negeri..saya dapat info kalo Bapak Theodore KS mau menulis tentang GB..saya yakin kalo box set GB ada pasti ludes dalam sekejap karena band ini memang band legenda ..keep on Rock..!!

Kompilasi Iron Maiden: “Maidens of The Opera’

August 25, 2014

Hippienov

image

Apakah ini tulisan tentang album “a matter of life and death”? Bukan, aku hanya copas cover nya saja. Tulisanku kali ini tentang kompilasi abal-abal Iron Maiden yang aku buat semalam dan berisi lagu-lagu Maiden dari album Iron Maiden (1980) sampai dengan Somewhere In Time (1986).
Kompilasi ini berangkat dari pengamatanku terhadap kompilasi-kompilasi Iron Maiden yang pernah aku punya atau aku temui dimana nyaris semuanya didominasi oleh lagu-lagu era Bruce Dickinson dan hanya sedikit atau nyaris tidak pernah menampilkan lagu-lagu era Paul Di’Anno, paling hanya “running free” (itupun kebanyakan versi live yang vokalisnya Dickinson) atau “wrathchild”. Memang Di’Anno hanya menyumbang suara di 2 album pertama Maiden tapi menurutku dua album ini juga merupakan album yang gak kalah dahsyat dengan album-album setelahnya dan ada lagu-lagu yang bagus di dalamnya.
Setelah beberapa kali mencoba membuat kompilasi Iron Maiden yang hasilnya kurang sreg di hati, akhirnya semalam aku berhasil membuat kompilasi Maiden seperti yang selama ini aku inginkan, walaupun tadinya nyonya sempat protes karena sudah larut tapi aku malah ngeburn bukannya tidur, hehehe… Dogs are barking, khalifah berlalu, ngeburn jalan terus…

Dengan sumber file mp3 Maiden yang sangat terbatas dan malah sudah ada yang rusak file nya aku mulai memilah-milah lagu Maiden yang akan dimasukkan kompilasi dan untuk memberi porsi era Di’Anno lebih “adil” bukan hanya 1-2 lagu maka aku batasi hanya mengambil album Maiden era 80an, itupun album Seventh Son Of A Seventh Son (1988) aku left off karena keterbatasan daya tampung cd kosong yang hanya 80 menit.
Berikut final list nya:

IRON MAIDEN “MAIDENS OF THE OPERA”

1. Genghis Khan.
2. 2 Minutes To Midnight.
3. The Number Of The Beast.
4. Prodigal Son.
5. Aces High.
6. Killers.
7. Run To The Hills.
8. Remember Tomorrow.
9. Powerslave.
10. Wrathchild.
11. The Trooper.
12. Caught Somewhere In Time.
13. Phantom Of The Opera.
14. Wasted Years.
15. Children Of The Damned.
16. The Ides Of March.

Aku bingung saat akan memberi judul kompilasi ini, jelas gak bisa disebut “the best/greatest hits” karena memang gak semua lagu tersebut adalah “best” nya Maiden dan setelah hampir 1/2 jam berlalu ngotak-ngatik judul album akhirnya aku putuskan untuk memberi judul “Maidens Of The Opera” pada kompilasi ini. Maksudku biar serem sedikit, hehehe…
Aku mengibaratkan perjalanan karir Iron Maiden adalah sebuah opera dan “maidens” adalah pemeran utamanya yakni members of Iron Maiden. “Maidens” juga aku jadikan icon untuk dua vokalis handal Iron Maiden yaitu Bruce Dickinson dan Paul Di’Anno karena kompilasi ini didedikasikan untuk keduanya.

Demikian tulisanku kali ini yang back to my basic as “mr. compilation” dan masih abal-abal juga ^_^
Mohon dimaafkan atas kekurangan dalam penulisan dan semoga berkenan serta bisa meramaikan blog. Matursuwun sanget Mas G untuk waktu dan kesempatan yang diberikan serta untuk rekan-rekan yang sudi mampir membaca tulisan gemblung ini.

Up The Irons!
hippienov

Camel “Moonmadness”

August 23, 2014

Hendrik Worotikan

moonmadness

Masih dengan formasi yang sama seperti pada tiga album sebelumnya, dan boleh dibilang sebagai formasi klasik band Camel, kali ini saya mencoba merangkai kata sembari menikmati gurihnya komposisi musik mereka dari album Moonmadness.

Album yang dirilis tahun 1976 ini merekam sebanyak tujuh lagu. Style musiknya pun masih sama tidak jauh beda dengan album-album mereka terdahulu, seperti ‘The Snow Goose’ atau juga ‘Mirage’, dimana elemen jazz yang dipadupadankan dengan musik rock masih sangat kental terasa.
Apalagi dibaluti dengan aransemen musik yang kadang kala secara drastis berubah dengan begitu cepat tanpa diduga.

Susunan lagu di album ‘Moonmadness’ ini diawali dengan ‘Aristillus’, satu komposisi yang membawa kita seolah-olah tengah berada didalam ruang angkasa.
Aroma space art rock lewat sentuhan tangan Bardens yang memainkan keyboard menghasilkan musik dengan nuansa elektronik, layaknya jika kita mendengarkan Vangelis, Tangerine Dream, dll.

Selesai dengan ‘Aristillus’ judul komposisi yang diambil dari nama seorang astronom asal Yunani, suguhan Camel selanjutnya adalah ‘Song Within A Song’.
OMG ! mendengar intro dari lagu ini terasa begitu indah. Rasanya tidak sanggup lagi saya meneruskan tulisan ini. Sadis yang cantik ! sampai sampai tiga kali saya harus mengangkat tone arm hanya untuk menikmati lagi dan lagi intro nya saja. Ya, hanya intronya…

Hal yang sama saya rasakan pula saat berkumandangnya ‘Air Born’. Whoa…inilah komposisi yang ciamik. Lagi-lagi dengan hanya mendengar intro lagu ini saya seperti terhipnotis… diam tanpa sanggup lagi berucap satu patah kata pun. 
Suara flute yang dimainkan Latimer mampu menyihir lagu ini menjadi begitu cantik, indah mempesona bagi siapa saja yang mendengarnya. Arrghh, membrebes gino vanelli jadinya. hihihi…

Komposisi cantik lainnya dan mungkin menjadi karya terbaik dari Bardens adalah ‘Spirit of The Water’. Lagu bertempo lambat dengan dentingan piano mampu memberikan rasa damai didalam hati.

Tidak saja lagu dengan tempo lambat dari Camel yang mampu membuat haru biru, sebagian komposisi Camel juga dimainkan dengan tempo yang up beat, seperti ‘Another Night’, ‘Chord Change’ dan ‘Lunar Sea’ yang terasa begitu gurih dan mantap.

Kematangan bermusik dari Latimer, Ward, Ferguson dan Bardens memang sangat piawai, usah diragukan lagi dan setiap komposisi yang dimainkan mereka mampu memberikan warna tersendiri hasil dari olahan berbagai macam elemen musik yang ada.
Jadi pantas saja kalau Camel ‘Moonmadness’ menjadi sebuah album yang sangat layak untuk dikoleksi. 
Terutama bagi yang mengaku penikmat musik progressive rock.

Tengkyu Mas G
Salam 

Camel “I Can See Your House From Here” dan “Pressure Points”

August 22, 2014

Gatot Widayanto

Menikmati musik memang bisa nyetrum kemana mana. Demikian halnya dengan tret ini yang merupakan spleteran dari tret mas Hendrik sebelumnya. Begitu baca tret mas Hendrik pikiran langsung melayang ke album lainnya. Makanya kemarin sore menjelang tidur sore saya pasang album I can See Your House From Here yang sekligus merupakan album perkenalan saya pertama kali dengan Camel. Itupun saya tahunya dari temen kuliah yang merekomendasikan album ini. Saya tak pikir panjang lagi karena dia penggemar Genesis. Saya masih ngat punya kaset ini pertama kali ya beli dari engkoh di Toko Bintang, Balubur, setelah teman saya mengatakan band ini nggajak. Namun ketika ada kabar kaset lisensi di 1988 saya beli lagi kaset ini. Makanya, kaset saya ini mulus pol ….Kalau dijual di FB pasti laku Rp. 75 ribu. Untungnya saya gak gila seperti yang suka nawarin di FB dengan harga gak rasional … Jadi, kaset super muluz kemlunyuz ini tetap saya pelihara dengan baik , kadang dielus elus … ha ha ha ha ….

Merindhink disco saya rasanya menikmati kaset ini begitu bebunyian kibor dan organ membahana dengan track Survival. Wah edaaan ….saya jadi remember yang not not terutama jaman kuliah tahun pertama ketika saya belum kenal Ian Arrliandy; ya sekitar 1979-1980 begitulah. Meski musiknya biasa saja, namun saya menyukai album ini. Naun memang ada lagu yang tak biasa saja yakni dua lagu dengan judul ada Rhayader nya. Nah ini baru manteb njegreg pol …. Kalau gak suka ya kebangetan karena memang selain komposisinya bagus, lagu ini juga ear candy alias renyah gumranyah membuat telinga terpuaskan mendengarkan lagunya …apalagi dari media kaset ….apalagi Yess! …dan apalagi nuansamatik kemlitik karena ingat belinya dulu di Balubur dan saya masih kemaruk pertama kali tinggal di kota di luar Madiun. Remember …saya tuh lahir ceprot di Madiun dan sampe usia SMA di Madiun terus …. Lulus SMS baru hijrah progiyah menuju Bandung ….. the land of progressive rock! Kaset ini saya nikmati side A dan B alias istilah kerennya “in its entirety” atau bahasa Inggrisnya “ngantek pok”.

image

-

image

-

Setelah puas dengan I Can See, malamnya saya nyetel album live Camel bertajuk Pressure Points. Wah …hebat nih album ….semangat mainnya dan nuansa musiknya lebih dinamis ketimbang versi studio. Dalam versi live ini banyak bebunyian kibor dari kibordis Kayak Ton Scherpenzeel dan tentu saja hunjaman gitar ala Latimer. Mengapa saya katakan ala Latimer? Karena gitaran dia itu tergolong unik meski orang bisa aja tercampur dengan gaya main David Gilmour. Menurut saya gitaran Latimer ini lebih raw dibandingkan Gilmour yang lebih mengutamakan “feel”. Keseluruhan lagu dalam album live ini dibawakan dengan apik oleh musisi2 bertalenta. Tak hanya musiknya yang bagus, ternyata audio quality nya juga ciamik. Meski cumak kaset, tadi malam saya geber nyetel kaset ini dengan volume setengah ampli biar puwas pol. Sayangnya kualitas audio di side B kurang bagus sehingga sulit digeber volumenya.

image

-

image

-

Overall …saya senang sekali bisa melakukan Camel Revisited (melok2 Steve Hackett yang bikin Genesis Revisited) karena dua album ini lumayan berpengaruh dalam kehidupan kemahasiswaan saya yang lebih banyak ngeprog ketimbang kuliah. Mana ada sih yang lebih indah di jaman remaja dari menikmati musik ngantek dobol? Kuliah gak terlalu penting …. Ngeprog jelas significantly important!

JRENG!

Salam,

G

Paice Ashton Lord “Malice in Wonderland”

August 22, 2014

Andria Sonhedi

image

Saat pak Gatot ke Madiun saya sempat menanyakan apa beliau pernah dengar proyek Ian Paice & John Lord di tahun 1977 ini. Ternyata beliau nggak tahu juga :)
Kaset ini dulu lumayan mudah ditemukan di lapak-lapak kaset bekas di Bringharjo, hampir sama dengan Black Sabbath – Technical Ecstacy. Walau ada anggota Deep Purple-nya tapi musiknya sangat lain dan tak ada lagu yang mudah diingat. Bisa saja Paice & Lord mencoba sesuatu yang lain setelah bubarnya Deep Purple. Judulnya juga plesetan dari judul buku Alice in Wonderland
musisinya adalah:
Ian Paice (drums), Tony Ashton (vocals, keyboards), Jon Lord (organ, keyboards), Bernie Marsden (guitar), Paul Martinez (bass)
Bernie Marsden pernah jadi gitaris di babe Ruth & UFO
Kasetnya juga bukan C-60 tapi C-65, ini mungkin mengingat panjangnya lagu2 yang sampai melebihi durasi kaset normal yg 60 menit itu.


evil has no boundaries

Musik Unta: Camel “Mirage”

August 20, 2014

Hendrik Worotikan

image

Walaupun sudah lama memiliki album ‘Mirage’ dari band Camel ini, namun, nyatanya sudah terlalu lama juga jarang saya putar piringan hitamnya.

Kemarin, hari Senin, entah ada angin apa saya pun kesampaian juga untuk menyetel kembali ‘Mirage’, sebuah album yang dirilis pada 1974.

Sedikit bertanya dalam hati. Seperti apa sih musik yang dimainkan mereka ? Maklum saja sudah lama nggak dengar, jadi rada lupa dengan style musik Camel, khususnya di album ini.

image

Peter Bardens (keyboard-vocals) ex Cheynes, Shotgun Express, Village – 
Andy Latimer (guitar-flute-vocals) ex Brew, Philip Goodhand Tait’s Band – 
Doug Ferguson (bass-vocals) ex Strange Brew, Brew, Mike Scott Band, Philip Goodhand Tait’s Band – 
Andy Ward (Drums) ex John’s Children, Brew, Philip Goodhand Tait’s Band adalah sekumpulan musisi musisi handal yang sudah tidak diragukan lagi dalam bermusik. Merekapun sangat piawai meramu musik rock yang disertai elemen-elemen jazz sehingga membawa Camel menjadi band yang kokoh dijalur progressive rock.

Freefall, Supertwister, Nimrodel/The Procession/The White Rider yang berada di side A, serta Earthrise, Lady Fantasy yang terdiri dari 3 bagian: Encounter, Smiles For You dan Lady Fantasy yang berada di side B, adalah sederet komposisi musik yang dimainkan dengan begitu fantastis. 
Rasanya sulit bagi saya untuk memilih lagu atau komposisi mana yang paling saya sukai, tapi kalaupun terpaksa harus memilih, maka saya akan memilih ‘Supertwister’. 
Kenapa ?
Pada komposisi instrumental ‘Supertwister’ ini saya sangat terkesan dengan melodi-melodi indah dari tiupan flute yang dimainkan oleh Latimer.
Dan, konon, ini pula untuk kali pertama Latimer merekam lagunya dengan alat musik flute.
Sangat-sangat mempesona, tidak kalah jika dibandingkan dengan Thijs Van Leer, Dave Valentin, Ian Anderson yang memang handal dengan flute nya.

Sekarang mari kita bersenandung bersama sang unta, Camel.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 145 other followers