Archive for the ‘Band Review’ Category

“Dear Alice” – Chick Corea

July 15, 2014

Pertama kali kenal nama Chick Corea ya dari kaset kompilasi bertajuk CONTEMPORARY JAZZ rekaman Perina Aquarius milik temen sekolah saya sejak SMP, Bagus Sudaryanto, yang juga tetangga saya di Jl. Sumatra, Madiun. Kami sering tukar menukar kaset biar ngirit gak semua dibeli. Saat saya mendapat kaset Contemporary Jazz tersebut saya hanya tertegun dengan satu lagu bertajuk “The Endless Night” yang ditulis di situ dibawakan oleh Return To Forever (Chick Corea). Whoooaaaa …saya langsung ngguweblak menikmati lagu yang nuikmat iramanya jazzy rocky dan sledhut senuth pokoke huwenak marem jaya tenan …membuat lupa makan minum kalau menikmatinya. Selanjutnya saya selalu memburu kaset Chick Corea rekaman Yess.

Dari semua lagu Chick Corea yang paling saya suka adalah lagu bertajuk DEAR ALICE dari album “The Mad Hatter”. Edan musiknya …bukan sekedar jazz tapi saya bilang sudah bener2 progressive fusion karena memang komposisinya rumit. Gimana gak rumit wong semua instrumen: flute (Joe Farell), bass (Eddie Gomez), piano (Chick), drums (Steve Gadd) semuanya mainnya ngawur …arah gak jelas namun …..harmoni terjaga dengan apik. Musiknya pun mengalun dengan disertai alunan vocal Gayle Moran dan kadang yanga menarik adalah adanya bagian staccato melalui permainan ensemble (brass section) kayak musik dolanan bocah jumpritan gitu … Wes ..pokoke mantab lagu ini. Kalau nyetel lagu ini musti diulang sampai lima kali …bahkan gak bosen2 …ngantek sak dobole mbahe sangkil …..

Nah …hari ini saya kangen nyetel lagu ini namun males nyetel CD nya (hari genee kok ribet musti nyetel CD) …sambil kerja saya browse di youtube. Ternyata …tak hanya versi asli aja yang ada …. tapi lagu ini dicover beberapa musisi. Nah …yang membanggakan saya, ternyata INDRA LESMANA sebagai wong lokal, anak bangsa …ternyata pernah memainkan lagu rumit ini dengan cantiknya … WOOOOWWWW!!! Harusnya saya nonton sendir saat itu …dan saya bisa nnguweblak nggulung koming di depan panggung …menderita kepuasan! Coba simak dah video keren ini …

Bravo Indra!

http://www.youtube.com/watch?v=60B9ci6Ol_0

Listen To Me, Just Hear Me Out (5)

June 22, 2014

Khalil Logomotif

image

Rasanya seneeeeng banget, saat membuka bungkus plastik kotak kaset, pandangin dan ngbaca sampul kasetnya, kemudian memutarnya diwalkman, idupin motor..gunjreng…gunjreng.. dan keliling kota, dengerin musik dari kaset yang baru dibeli.

Akan begitu, kalau kaset yang dibeli, musiknya enak dan sesuai selera. Lain ceritanya kalau yg dibeli ternyata ngga sesuai selera pendengaran….caci maki seluruh isi kebun binatang….penyesalan diri karena salah pilih…ketipu dengan sampul yang menggoda. Yah..seperti itulah yang sering saya alami sebagai pengalaman beli kaset..khususnya kaset dari band yang saya ngga kenal sebelumnya. Jaman itu mana ada wiki dan gugel…ditambah lagi..toko kasetnya ngga boleh coba dulu. Andalan utama saya untuk menentukan beli atau ngga, waktu itu adalah…gambar sampulnya….plus sdikit firasat. Seringnya sih…yang kebeli..emang enak dan pas dengan selera pendengaran.

Demikian juga saat saya pertama kali ketemu dan melihat gambar sampul kaset Dream theater Images and Words. Saya ngga kenal dan tdk punya informasi apapun tentang bandnya, tetapi saya sangat sangat terkesima dengan gambar sampulnya. Anak perempuan kecil dgn pakaian tidur, berdiri didepan tempat tidur bertiang yang sangat elegan dan klasik dengan kain tirai merah, pemandangan diluar jendela yang penuh bintang, sebentuk hati yang membara, seting ruangan layaknya istana, dan ada sejenis burung yang masuk melewati jendela. Waaah…ini pasti musiknya agak agak klasik orkestra (saya bener bener ngga tau DT itu musiknya gimana). Kemudian ngliat logo bandnya..dream theater…waaah paslah…tambah lagi judulnya..images and words….mantab punya ini!…..Bungkuuss!

Setelah saya denger….saya suka…musiknya keras, gitarnya tajam dan ngulik ngulik, drumnya rapat rapat dan dahsat..terlebih bass drumnya…guduk..gudug..wuaaah! Kibordnya….bukaaan maiiiin…..pas banget dengan yg saya suka. Nah…waktu denger vokalnya….gilaaa…kok ada yang teriakannya sejernih ini….mantap..pilihan saya ngga salah! ….. Cuma aja..di lagu kedua, halaaahh…kok ada suara seksoponnya? Trus setelah dibaca sampul kasetnya, liriknya….images and words itu maksudnya apa? Kok ngga ada lagu yg nyinggung nyinggung itu? Ngga ada lagu yg judulnya begitu..kan biasanya judul album seringnya diambil dari salah satu judul lagunya. Oh mungkin, images and words adalah temanya, kali?

Begitulah, pertanyaan yang nempel dibenak saya saat pertama sekali berkenalan dgn DT. Dan beberapa hari yg lalu, karena banyak waktu luang, saya nyari nyari tau untuk memuaskan ketidak mudengan saya tersebut. Saya dapetin beberapa informasi yang sdikit banyak cukup memuaskan saya….dan saya yakin temen temen pasti juga sudah pada tau…lebih awal ktimbang saya… Anggap aja, ini sekedar ripresing lah!

Jadi, listen to me, just hear me out.

Setelah berpisah dgn vokalis kedua, Charlie Dominici (yg bikin logo majesty), ternyata butuh hampir dua tahun, baru menemukan vokalis baru, Kevin LaBrie. Dua tahun itu diisi oleh Petrucci cs untuk tetap terus membuat aransemen musik. Tentu hasilnya banyak buanget yang mereka hasilkan, cukup untuk stok beberapa album kedepan. Karena belum nemuin vokalis yg cocok, jadi aransemennya hanya musik instrumental…tanpa vokal.

Setelah LaBrie ikut dan lewat audisi, (kemudian LaBrie memakai nama tengahnya, James, spy ngga ketuker dgn Kevin Moore) judul dan liriknya dibikin untuk masing masing aransemen. Hampir seluruh aransemennya diimbuhi vokal LaBrie, yang memang mereka akui sangat luar biasa…melebihi yg mereka harapkan. LaBrie memberi karakter khusus untuk Dream Theater.

Selanjutnya adalah, menyeleksi dari sekian banyak aransemen yg sudah diisi vokal, yang mana yang akan tidak dipakai. Bukan urusan mudah ini. Hasilnya, kita sudah tahu sama sama. Beberapa lagu terpilih untuk dipaketin di bakal album kedua ini, beberapa lainnya, masuk dijadikan material album berikutnya dan berikutnya lagi. Tugas LaBrie..hanya nyanyi.

Dalam proses penyusunan album ini, awalnya mereka ingin menaruh Another day diurutan pertama untuk dirilis sebagai single, tetapi kemudian batal, mengingat kejadian tidak menguntungkan yg menimpa band Extreme, yang ngetop, lagu baladnya..padahal mereka bukan band spesialis balad. Kemudian diputuskanlah Pull me under yg menjadi single pertama dirilis….dan sukses….berikut juga editing kreatif yaitu dengan menyetop lagu begitu saja.

Dream theater bernaung dibawah label East West Record, diproduseri oleh David Prater, dan meraka melakukan rekaman di Bear Track Studio….yang dimiliki oleh Jay Beckenstein, pemain seksoponnya Spiro gyra…..itulah kenapa di Another day ada nyelip suara seksopon….

Jadi, mungkin karena mereka awalnya memang sudah menyiapkan cukup banyak materi aransemen musik…layaknya kolase guntingan guntingan gambar….sementara lirik, judul lagunya dan vokalnya baru kemudian hari dibikin, bisa jadi kemudian mereka menamakan albumnya dgn judul Images and words. Begitulah kurang lebihnya…

Terima kasih.

Khalil Logomotif

Listen to Me, Just Hear Me Out (3)

June 19, 2014

Khalil Logomotif

image

Buat saya, Thick as a brick Jethro Tull, adalah album paling aneh, mengejutkan dan hueboh! Bayangkan, di saat saya sedang gandrung gandrungnya denger rod stiward dan sejenisnya….tiba tiba saya dihadapkan dengan sebuah kaset yang satu album, dua side kaset, isinya cuma satu lagu! Judul lagunya ya judul albumnya! Gimana mau disiulin…very very unsiulable!

Saya pertama denger album ini, juga waktu sma, hasil minjem punya sepupu yg waktu itu sudah kuliah, bahkan hampir wisuda. Waktu itu, saya pikir, apa mereka yg dewasa itu, musiknya yg aneh aneh seperti ini, baru disebut hebat?….taraf ke sma an saya tetep ngga bisa terima….apanya yg hebat? Itusih namanya ngga kreatip…bertele tele. Waktu itu juga, saya pikir thick as a brick artinya adalah setebal bata….menunjukkan suatu yg kuat dan susah ditembus.

Disisi lain, kaver art disampul kasetnya, seperti lembaran depan surat kabar, St. Cleve Cronicle, dgn gambar tajuknya adalah seorang anak kecil yg mukanya cemberut, pake kacamata berambut poni…pasti ini sejenis nerd!….sedang dirangkul dan dihadiahi secarik kertas oleh seorang bapak tua, sepertinya guru atau pejabat. Dilatar belakang ada gambar ibu ibu dan disamping ada gambar seorang gadis yg wajahnya juga cemberut, dan agak agaknya, roknya kependekan sehingga sedikit kliatan isi dalamnya. Apa artinya ini?

Nah, di headline nya, ditulis bahwa juri juri mendiskualifikasi si kecil Milton. Oke…waktu itu saya pikir, si anak kecil cemberut itu pastilah Milton, yg sedang ikut suatu perlombaan (ternyata lomba tulis puisi), menang jadi juara satu, tetapi kemudian dibatalkan….wajar aja dia cemberut. Dan gadis yg dibelakangnya, mungkin kakaknya…yg juga ikut cemberut karena adiknya ngga jadi menang.

Lalu, apa hubungannya dengan thick as a brick? Ketidak mudengan saya ini sudah lama nempel, dan akhirnya kemarin saya dapetin jawabannya…setelah blog walking kemana mana.

Jadi, listen to me, just hear me out.

Kalau dulu saya artiin sebagai setebal bata, sebenernay Thick as a brick kurang lebih artinya adalah ungkapan terhadap kebebalan, kebegoan, ngga sanggup mikir atau lemot. Berarti, JT menceritakan dengan panjang lebar mengenai suatu kedunguan. Diceritakan bahwa, sikecil Milton (lengkapnya Gerarl Bostock) ikut perlombaan puisi. Puisinya menang, jadi juara satu, sungguh luar biasa, padahal dia baru 8 tahun. Tetapi, kemudian diprotes, karena isi puisinya ada menyebut bahasa kotor yg dianggap tidak pantas dan tidak boleh diucapkan dalam puisi…apalagi yg nulis anak usia delapan tahun. Kemudian kemenangannya dibatalkan. Nah..semua isi puisi Milton itu, kemudian diadaptasi oleh JT untuk menjadi tema album konsep JT , jadi thick as a brick adalah adaptasi dari puisi Milton tersebut.

Tetapi….ternyata? Semua itu, mulai dari sikecil Milton, kompetisi puisi, puisi yg diprotes, juri juri, kemenangan yg dibatalkan, bahkan surat kabarnya….semuanya adalah palsu belaka…karang karangan belaka…hanya lelucon tipu tipuan pura puraan. 100persen dagelan. Jadi..kalau album konsep ini berasal dari adaptasi puisi Milton…berarti seluruhnya hanya karang karangan belaka…atau bisa dibilang sebagai album konsep yang tidak berkonsep….ngga lebih dari pada..lelucon…dagelan. Menurut hemat saya ini artinya adalah….menciplak yang palsu…sudah ciplakan..palsu pulak. Kalau percaya itu asli…bearti thick as a brick!

Kenapa bisa begini ceritanya?

Ini semua berawal dari ketidak senangan Anderson terhadap penyimpulan pengamat musik, bahwa Aqualung (album sukses sebelumnya) adalah musik progresive dan adalah sebuah album konsep. Padahal saat itu, Anderson meyakinkan dan menyampaikan bahwa musik dari bandnya lebih mengusung blues rock, folk dan jazz, ketimbang prog….dan bukan album konsep…yg diera itu, album konsep menjadi ukuran prog tidak prognya sebuah band. Dan menurut saya, memang benar begitu adanya, sesulit apapun komposisinya, ditukik dan ditikung…rasa folk music nya masih tetap tebal dan nyaring bisa dirasakan. Mungkin untuk melampiaskan kegundahannya, kekesalan terhadap salah paham itu, Anderson berniat akan kasi pelajaran, biar nyahok… bikin sebuah album yang akan dikira bener bener sebuah album konsep….induk dari segala album konsep….satu album…satu lagu…titik. Maka lahirlah thick as a brick. Yang, sekarang, kalau saya artikan, kurang lebih Anderson bilang begini..dasar dungu! Kalau mau album konsep….yang lagunya panjang nyambung menyambung…nih saya kasi satu album satu lagu…biangnya album konsep…kurang apa lagi. Atau bisa juga begini…Begitu aja kok susah banget mikirnya…dasar dungu! Kok ya ngga bisa ngbedain yg mana konsep yang mana ngga konsep. Son..son..nih dengerin dagelan dari kami! …begitulah kira kira.

Lantas kemudian, Thick as a brick, digambarkan sebagai sebuah aransemen musik yang berdasarkan sebuah konsep, konsep itu berasal dari sebuah kejadian nyata yang terjadi…kejadian faktual yang terekam dan terdokumentasi dalam berita surat kabar. Memang, dalam penyajiannya, album ini dilengkapi dengan banyak properti visual yang sekonyong konyong mengarahkan kita untuk menganggap ini semua adalah sebuah tema, sebuah konsep, asli, true story, bukan karang karangan, bukan dagelan, bukan khayalan. Surat kabarnya dibikin seasli mungkin, bahkan lengkap dengan tts dan kolom sambung sambung titik untuk anak anak. Beritanya juga dibikin seolah olah berita beneran. Kemudian belakangan hari, lebih parah lagi..ada gosip mengenai gadis di foto yg mukanya cemberut, cemberutnya karena minta pertanggung jawaban kepada Milton, atas…..kehamilannya! Ya ampun….bener bener deh. Mungkin kalau jaman sekarang…upaya Anderson ini disebut dengan viral marketing.

Isi lagu yg disampaikan dalam album ini, yang katanya dari adaptasi puisi Milton, secara singkat dapat disimpulkan mengenai seorang anak yg galau untuk menentukan cita citanya, mana yang ingin dijalani dan ditempuh, apakah jadi tentara, jadi seniman atau jadi apa.

Saya masih tetep ngga mudeng….tetapi dari sedikit informasi dan cerita dibalik layar yg saya dapetin, sudah bisa menjawab pertanyaan…kenapa satu album satu lagu….ternyata hanya untuk lelucon belaka….lelucon mengenai album konsep. Dagelan Jethro Tull.

Berikutnya….album Close to the edge. Sebenarnya dipinggir apa? Dipinggir jurang?…terus…i get up..i get down?

Khalil Logomotif

Musik Yes Di Ambang Senja (10 of 10)

June 18, 2014

Herwinto

image

Horeee….. Yes Merilis Album Baru !!………

Alhamdulillah di usianya yang sudah semakin udzur Steve Howe dan kawan kawan masih berusaha memberikan sumbangan karya mereka untuk membahagiakan para penggemarnya….Heaven And Earth…inilah album terbaru mereka yang akan dirilis bulan Juli mendatang. Saya berharap album ini benar benar bagus dan tidak mengecewakan. Berbeda dengan Fly From Here yang merupakan bahan bahan lama bersama The Buggles, kali ini Heaven And Earth adalah materi asli Yes bersama vokalis muda Jon Davison yang tahun lalu konser di Indonesia juga.

Heaven And Earth menurut Steve Howe adalah konsep ‘Baik dan Buruk’ atau ‘Kekal dan Sementara’ jadi ini menggambarkan tentang dunia yang serba fisik dan kehidupan baru yang bersifat abstrak. Tidak peduli dengan konsep keyakinan apa yang Anda anut namun hanya dibutuhkan kesadaran bahwa terdapat kehidupan diluar sana yang kita belum bisa merasakannya sekarang bahkan belum pernah dibayangkan sebelumnya.

Jon Davison digambarkan oleh Howe sebagai seorang penulis lagu dan lirik yang excellent, kontribusinya sangat besar dalam hal menulis lagu maupun lirik, tidak seperti Benoit David yang tak becus menulis lagu sehingga Trevor Horn harus turun tangan pada Fly From Here. Untuk membuat album ini bahkan Jon Davison pun harus mengunjungi keempat personil Yes satu persatu untuk bersama sama berkarya secara terpisah, ‘Saya harus mengenal seorang demi seorang dari mereka dengan baik untuk menyusun komposisi lagu bersama mereka’, ungkapnya. Howe juga menyatakan bahwa pada album ini tak ada nomor epic yang biasanya panjang panjang, sebenarnya ada nomor epic yang mereka punyai namun sebuah album tidaklah harus memiliki durasi waktu yang panjang tetapi lebih kepada cita rasa yang dimilikinya, Jon juga mengungkapkan bahwa ada nomor epic yang dia sebut sebagai ‘A Big Prog Pieces’ namun waktu yang sangat terbatas karena tour tour yang panjang membuatnya belum bisa menyelesaikannya, mungkin untuk album berikutnya saja, tuturnya. Howe mengungkapkan bahwa album ini memiliki harapan dan kesegaran baru, Semoga!! dan inilah yang kita tunggu tunggu…harapan dan kesegaran baru!!

Track List
Believe Again 8.02
The Game 6.51
Step Beyond 5.34
To Ascend 4.43
In A World Of Our Own 5.20
Light Of The Ages 7.41
It Was All We Knew 4.13
Subway Walls 9.03

—-

Musik Yes Dalam Lintasan Sejarah

June 17, 2014

Herwinto

yesssss

Tulisan ini sebenarnya dipicu oleh sms an antara saya dan mas Kukuh tentang rencana beliau membuat tret tentang sanggahan beliau bahwa musik Yes tidak ada yang jelek, dalam rangka menanggapi usulan membuat kompilasi lagu lagu Yes yang ”not good”.
Bila kita berbicara tentang musik Yes, maka perlu dibuat definisi yang benar terlebih dahulu tentang istilah ”musik Yes”. Sebenarnya ”musik Yes” ini adalah musik yang dimainkan oleh Yes mulai era Yes Album dan berakhir di era Tormato. Ada dua fase hidupnya ”musik Yes” yakni fase awal (masa keemasan) dan fase kedua (masa kelahiran kembali). Fase awal ditandai dengan bergabungnya Steve Howe di tahun 1970, Howe inilah sebenarnya peletak dasar musik Yes dengan ciri permainan gitarnya yang khas yang tidak ada pada gitaris manapun. Ciri permainan gitar Howe yang khas adalah tidak adanya unsur bunyi ‘jeg-e-jeg-e-jeg’ layaknya musik rock pada umumnya atau model raungan gitar sarat distorsi, ataupun model ritem yang biasa kita jumpai pada musik rock. Gaya permainan gitarnya adalah petikan lincah dalam riph-high yang tidak membiarkan terdapat celah kosong, ditimpa dengan kecepatan petikan arpegio maupun stylist klasiknya. Siberian Khatru maupun Close To The Edge dan Yours Is No Disgrace adalah contoh yang sangat jelas tentang musik Yes.
Yes Album adalah awal lahirnya ”musik Yes” yang proporsi pengaruh Howe sangat mendominasi kemudian tahap pendewasaannya adalah Fragile, di era Fragile komposisi struktur musik nampak kian kokoh dengan bergabungnya Rick Wakeman yang sumbangannya sangat besar yaitu memoles nuansa klasik pada album ini. Denting piano Wakeman pada South Side Of The Sky dan permainan synthesizer pada Heart Of The Sunrise serta Roundabout adalah ciri khas kedua ”musik Yes” setelah ciri khas jari jemari lincah Howe. Puncak kolaborasi dahzyat antara Howe dan Wakeman adalah pada Close To The Edge yang melahirkan karya karya Yes terbaik sepanjang sejarah. And You And I dan Siberian Khatru memperkenalkan penggunaan steel pedal hawaian pada musik rock yang kelak menjadi seni tersendiri pada konser konser Yes. Rick Wakeman sebenarnya bukan penulis lagu utama di Yes, penulis utamanya adalah Anderson dan Howe, namun seperti kata Bill Bruford, Rick ini punya kelebihan memperindah lagu, ini karena pengaruh akademisnya, kata Bruford, Close To The Edge tanpa Rick tak akan menjadi lagu indah seperti yang kita dengar sekarang namun menjadi fragmen fragmen yang tidak karuan, Rick mampu membuat potongan potongan ide musik yang awalnya tak bisa disatukan menjadi kesatuan yang indah karena dia memahami harmoni layaknya akademisi, jadi lebih bagus mengolah bahan baku orang lain karena miskin ide.
Tales From Topographic Oceans menunjukkan bahwa Howe makin mendominasi dan posisi Wakeman mulai terkurangi, jika kita simak TFTO ini sungguh jelas bahwa Howe mendominasi keempat lagu sedangkan kontribusi Wakeman bisa dibilang sangat sedikit. Wakeman keluar, digantikan Patrick Moraz, formasi ini semakin membuktikan bahwa Howe memang memegang kendali arah musik Yes, terbukti siapa yang main kibor menjadi tidak penting lagi, memang kontribusi seorang pemain papan kunci sangat mempengaruhi warna musik yang dihasilkannya namun pakem musik asalnya tidak berubah. Sound Chaser dan To Be Over adalah lagu lagu yang masih orisinalitas musik Yes dan tentunya Gates of Delirium jelas membuktikan itu meski lebih eksperimental. Going For The One dan Tormato adalah merupakan ”musik Yes” yang kembali kemasa Close To The Edge karena bergabungnya kembali Wakeman, pada Going for The One, Howe lebih mendominasi ini terlihat pada Awaken, Wonderous Stories dan Turn Of The Century, namun Tormato Wakeman lebih mendominasi, seperti terlihat pada Onward, Future Time, Madrigal, dan Dont Kill The Whale.
Sampai disini kita bisa menarik kesimpulan bahwa ”musik Yes” diakui atau tidak trade mark nya memang terletak pada Steve Howe, ini juga bisa terlihat pada konser konser Yes bahwa yang menghipnotis penonton adalah utamanya Howe, penampilannya di atas panggung dengan seabreg gitarnya menjadi pemandangan indah tersendiri, sampai sampai saya menulis tret dengan judul ”Gitar gitar Steve Howe” karena saya selalu terkesima dengan permainan gitarnya yang unik. Di panggung dia juga paling aktif menegur kru tentang sound yang menurut dia tidak pas, serta mengarahkannya yang kurang ini itu.
Drama adalah album Yes untuk pertama kalinya saya anggap keluar dari orisinalitas ”musik Yes” meski masih sangat keren, Drama adalah perpaduan The Buggles dan Yes, dan untuk pertama kalinya Steve Howe mulai merambah ranah hard rock. Machine Messiah adalah tonggak lahirnya progresif metal, sampai disini saya katakan ”musik Yes” sudah mengalami perubahan orisinalitas. Lebih bercorak hard rock. Album 90125, Big Generator, Union, Open Your Eyes, Magnification, Fly From Here adalah album album Yes yang tidak lagi mengusung ”musik Yes” artinya bukan lagi  tidak bagus namun tidak ada bedanya dengan band rock pada umumnya, ”musik Yes” nya sudah hilang, jadi seandainya karya karya pendahulunya tidak ada, album album tersebut tetap sangat bagus..jadi istilah ”mbelgedhez” yang sering saya pakai untuk mendefinisikan musik Yes setelah Drama artinya adalah tidak ada lagi DNA nya ”musik Yes”.
Fase kelahiran kembali….Bila kita menyimak album Yes setelah Drama dengan seksama ternyata ”musik Yes” sempat lahir kembali yakni pada ABWH, KTA1&2(bersama Wakeman) dan The Ladder, coba amati dengan seksama terdapat benang merah dari ketiga album tersebut. Album album ini memang ”sengaja” diciptakan untuk melahirkan kembali ”musik Yes” meskipun dengan target yang berbeda. Album album ini diciptakan ketika personil Yes sudah diambang senja, sudah tidak lagi di puncak kreativitas, berbeda ketika di masa keemasannya yang targetnya merajai puncak tangga lagu lagu kala itu. Saat tahun 90 an bukan masanya Yes lagi jadi target mereka adalah berkarya sebagai seorang seniman entah laku atau tidak, dan persembahan untuk fans fans lama mereka, karena hanya fans lama yang mengenal mereka. Karya mereka pun sudah tidak sedahzyat yang dulu namun dikemas dalam tataran yang lebih sederhana, seperti Be The One, Mind Drive, Homeworld, Brother Of Mine..adalah upaya menghidupkan kembali ”musik Yes” dalam kemasan yang lebih sederhana. Demikianlah perjalanan ”musik Yes”.
Open Your Eyes adalah album yang tidak melibatkan Howe sama sekali karena ini aslinya adalah proyek Conspiracy namun ujung ujungnya dilabeli Yes, Union aslinya adalah ABWH namun diobrak abrik oleh Jonathan Ellyas dengan menghapus banyak part part gitar Howe dan diganti oleh Jimmy Haun, demikian juga part partnya Wakeman. Sedang 90125 merupakan album yang berjasa besar mengenalkan Yes kedunia sehingga melahirkan fans baru yang kelak terbagi menjadi ”Trooper” istilah bagi fans yang gandrung dengan ”musik Yes” dan menjadi ”Generator” istilah bagi yang menolak ”musik Yes” namun sangat suka dengan 90125.
Talk adalah upaya Trevor Rabin kembali ke ”musik Yes” hasilnya secara komersiil memang jeblog, namun secara kualitas musik benar benar mengejutkan karena bisa diterima para ”Trooper” khususnya Endless Dream.

 

Sekilas Info: Reuni Genesis

June 16, 2014

Gatot Widayanto

Gak mau kalah sama mas Budi, melalui FB juga ada temen kuliah saya yang dulu main band bareng, Anchi namanya, mengirim berita ini. Sungguh saya meneteskan air mata mbrabak tenan membayangkannya …. Tepatnya, melihat foto ini aja saya sudah nangis bener. Saya gak berharap mereka bikin album lagi, gak penting bagi saya. Cukuplah mereka rukun damai sejahtera seperti lirik Indonesia Maharddika, sudah membuat saya tenteram. Memang band ini dari dulu terkenal rukun sih, gak seperti Yes dan Pink Floyd yang eker2an aja dari jaman dulu.

Suweneng pol saya liat foto ini dan sambil memandangnya saya bersiul lagu Fly on a Windhsield nyambung Broadway Melody of 1974 …dan kemudian melantunkan The Lamia dan ditutup Anyway ….WHOOOOAAAAUUUW …!!! Rasanya kok sledhut senut nuikmaaaaaatttt

I love you, Peter Gabriel!

I love you, Steve Hackett!

I love you, MIke Rutherford!

I love you, Phil Collins!

I love you, Tony Banks!

JUWEGRENK!!!!!!!!!

JRENG!

Genesis - Runion Film

Genesis and the BBC have been working together over the last few months on GENESIS: TOGETHER AND APART

A feature length documentary on one of the most successful bands in rock history. From its first beginnings as a band of songwriters in the late 1960s to its final incarnation as a rock giant in the 1990s – via full-blown theatrical progressive rock in the mid-1970s and the subtler jazzy pop of the early 1980s – Genesis could perplex and enrage the die-hards, whilst exciting and exhilarating the newer disciples.

Made with the full co-operation of Genesis, the film reunites all original members of the band together – Tony Banks, Phil Collins, Peter Gabriel, Steve Hackett, Mike Rutherford – for the first time since 1975.

The film recounts an extraordinary musical story, exploring the band’s songwriting as well as emotional highs and lows, alongside previously unseen archive material and rare performance footage across their entire career.

Transmission date to be confirmed.

 

Yes “The Epic”

June 11, 2014

Hippienov

image

Ini tulisan keduaku seharian ini (Rabu, 11 Juni 2014) setelah “The Suites” tadi sukses ku-email ke Mas G. Apakah ini berarti aku lagi on fire? Bukan, aku lagi sepi gawean di kantor, hahaha…

Kemarin siang dari rumah ada kabar ada paket “mini nan Imut” dari Klaten. Sudah ndak perlu aku tanya lagi siapa nama dermawan pengirimnya, pasti “The Great Kind Hearted, Master of IQ and TFK… Koh Win” (tadinya ada usaha untuk menambahkan gelar “master of metal” pula tapi keburu dilarang keras oleh Mas G untuk memperkenalkan musik gelap muntah kolak ke Koh Win, hehehe) Isi dari paket nuansamatik tersebut adalah 4 cd copy Yes Keys To Ascension (I & II) plus 2 cd copy Yes “Malam Sunyi” seperti yang telah dikonfirmasikan sebelumnya oleh beliau.

Malam hari saat pulang kantor sengaja paket itu hanya kupandangi saja biar tambah penasaran diri ini. Setelah aku selesai beres-beres dan membersihkan diri dan saat malam sudah mulai sunyi barulah aku spin Yes “Malam Sunyi”. Walau harus mendengarkannya dengan volume ekstra kecil karena takut anak istri terbangun tapi aku bisa merasakan “kesunyian malam” yang dilantunkan Yes. Sungguh luar biasa paket ini, matursuwun sanget Koh Win untuk kebaikan hati panjenengan. This kind of kindness and friendship I can hardly find outside this blog…

Namun aku bukan hendak membahas tentang Yes “Malam Sunyi” atau “KTA Vol. 1 & 2″ karena telah dikupas habis oleh Koh Win, aku hanya ingin sedikit share tentang kompilasi tembang-tembang Yes berdurasi panjang yang aku seleksi dan copy ke dalam 2 cd bertajuk Yes “The Epic”. Setelah Yes “The Ballads” aku mencoba membuat playlist lagu-lagu Yes yang “prog” dan berdurasi panjang, lagu-lagu ini aku ambil dari album Close To The Edge sampai Drama dan seperti inilah playlist nya yang akhirnya lagi-lagi berujung jadi kompilasi:

YES “THE EPIC”

VOL. 1: 1. Close to the edge, 2. Starship trooper, 3. The gates of delirium, 4. The remembering, 5. South side of the sky.

VOL. 2: 1. I’ve seen all good people, 2. America, 3. Machine messiah, 4. Parallels, 5. Rejoice – Future times, 6. Heart of the sunrise, 7. Awaken, 8. Into the lens.

Tentunya gak semua lagu “epic” Yes bisa terakomodir dalam playlist ini, tapi aku berusaha untuk menangkap sebuah gambaran umum bagaimana dahsyatnya Yes dalam menggubah komposisi prog-rock.

Matursuwun Mas G untuk waktu dan kesempatan yang diberikan serta untuk rekan-rekan sekalian yang sudi mampir membaca tulisan gemblung dari seorang gemblunger penghuni blog gemblung. Mohon maaf atas kekurangan yang ada.

Prog On Earth, hippienov

Van Halen “Diver Down”

June 7, 2014

Andria Sonhedi

image

(more…)

Dahzyatnya The Flower Kings (7 of 15)

June 4, 2014

Herwinto

Banks Of Eden….Bukti Musik Prog Makin Berjaya!

image

Mungkin ini bisa disebut salah satu karya terbaik TFK, salah satu nomor di album ini yang paling menohok adalah track pertamanya..Number berdurasi 25.20 menit, merupakan karya yang benar benar sulit dicari tandingannya. Berbeda dengan mas Gatot yang langsung ngguweblak ketika mendengar pertama kali, saya justru baru bisa menyadari kedahzyatan Number ini setelah lebih dari 10 kali spin. Awalnya saya mendengar Number ini malah pusing duluan, gak paham saya apa maksudnya..ha ha ha…tapi saya gak menyerah sebab saya sadar beginilah menikmati musik prog, kalau sudah menyerah di spin pertama maka itu pertanda kiamat….he he…maka saya terus putar meski sulit, berkali kali saya putar dengan konsentrasi tingkat tinggi..sampailah saya pada spin yang mungkin ke sekian belas…di suatu siang saya sendirian dikamar saya putar Number ini dengan kenceng….tiba tiba saya merasakan sebuah keindahan yang luar biasa…benar!! saya sudah kena sekarang!! Luar biasa!! ini benar benar track yang sungguh excellent!! komposisi yang benar benar menohok, prog abiz….dan percaya tidak? sejak siang itu saya berkali kali rindu dengan Number…lengket terus, gak ada bosan bosannya.

image

Maka kepada warga blog ini, saya himbau, jangan terlalu ‘pede’ menikmati prog…ha ha ha…artinya belum tentu kita langsung kena di spin – spin awal…arti lainnya jangan menyerah ketika kita belum bisa menikmatinya!! Sebab begitu sudah kena biasanya sulit melepaskan diri….

Album ini dirilis pada tahun 2012, sebuah bukti bahwa saat sekarang yang sudah sangat jauh dari era 70 an masih ada album sedahzyat ini, yang sekaligus sebagai bukti gak ada matinya musik prog!! malah semakin berjaya…Bravo, Mr Stolt!!….dibuka dengan epic Number selanjutnya disusul dengan For The Love Of Gold 7.30 sebuah komposisi yang amat keren dengan suara kibor yang mirip Mr Wakeman amat saya sukai, Pandemonium 6.05 adalah track yang sungguh mengagumkan penuh lika liku prog yang menawan.

For Those About To Drown 6.30 mengingatkan jenis musik TFK di masa masa awal ketika mereka menciptakan The Flower King (tanpa S), sungguh indah sekali. Rising The Imperial 7.40 adalah nomor indah sebagai penutup album, mengandung unsur unsur blues pada gitar Stolt. Terdapat beberapa nomor bonus yang keren semua namun saya paling suka Illuminati 6.20…Salam!!

“Free Bird” Lynyrd Skynyrd

June 3, 2014

Budi Putra

image

Kala itu sedang trennya radio M97 dikalangan pecinta rock klasik. Tiba jelang tengah malam di ruang kecil kantorku sekitar tahun 2000-an, terdengar intro lagu yang membuat hati serasa nyaman dan tenang setelah seharian menunaikan tugas yang diberikan. Perpaduan antara bunyi hammond, gitar, dan ketukan drum terdengar begitu harmonis. Namun karena belum tahu judul lagunya saya telpon M97: “Bos, lagunya siapa nih? “Free Bird” bos dari Lynyrd Skynyrd”, jawab telpon disebelah.

Permainan slide gitar dan iringan organ yang begitu harmoni dipadu balutan vokal nan lembut. Hingga pada akhir lagu ritmenya menjadi lebih cepat dengan permainan solo gitar yang cukup panjang durasinya. Permainan dari ketiga gitaris Gary Rossington, Allen Collins, Ed King, dan Steve Gaines, serasa mengaduk-ngaduk rasa mendengar lengkingan melodi gitar yang dimainkan itu. Selain asyik untuk didengar tentu enak juga untuk dikumandangkan:

If I leave here tomorrow
would you still remember me
For I must be travelling on now
there’s too many places I gotta see

And if I stay here with you girl
things just couldn’t be the same
For I’m as free as a bird now
and this bird you cannot change
and the bird you cannot change
and the bird you cannot change
Lord knows I can’t change

Bye bye it’s been sweet love
though this feeling I can’t change
Please don’t take it so badly
Lord knows I must play

And if I stay here with you girl
things just couldn’t be the same
For I’m as free as a bird now
and this bird you cannot change
and the bird you cannot change
and the bird you cannot change
Lord knows I can’t change,

Di jajaran band rock klasik era 70-an nama Lynyrd Skynyrd band asal Jacksonville, Florida, Amerika Serikat, memang jauh dari bayang-bayang supergrup macam Led Zeppelin/Deep Purple atau juga GFR. Namun bukan berarti Lynyrd Skynyrd tidak memiliki penggemar/fans fanatik. Bahkan nama Lynyrd Skynyrd juga diabadikan di Rock and Roll Hall of Fame pada 13 Maret 2006. Anggota utama band ini ialah Ronnie Van Zant, guitarist Gary Rossington, Allen Collins, Ed King, and Steve Gaines, bassist Leon Wilkeson, keyboard player Billy Powell, dan drummers Bob Burns dan Artimus Pyle. Grup ini mencapai puncak kejayaan pada tahun 1970-an di bawah pimpinan vokalis dan penulis lagu Ronnie Van Zant. Namun band ini bubar pada tahun 1977 setelah Van Zant, gitaris Steve Gaines, dan vokalis latar Cassie Gaines tewas dalam kecelakaan pesawat di McComb, Mississippi.

Namun beberapa tahun kemudian band ini eksis kembali dipentas rock dengan dukungan dari para personilnya yang masih tersisa.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 142 other followers