Archive for the ‘Band Review’ Category

Happy Birthday Paul …

June 17, 2013

By: Herwinto

image

Kalau tidak salah besok tanggal 18 Juni adalah ulang tahun Paul Mc Cartney yang ke – 71. Lewat tret ini saya ingin mengulas sedikit tentang karya Paul dan karya John, pada umumnya orang ketika ditanya tentang lagu lagu The Beatles yang disukai tentu mereka akan menjawab Yesterday, Let it Be, Hey Jude, Michele, Here There And Everywhere dll yang kebanyakan disebut adalah lagu lagu ciptaan Paul dan bukan John, hampir sebagian besar lagu lagu Beatles memang diciptakan oleh Lennon-Mc Cartney namun benarkah demikian? Ternyata tidak juga…. banyak sekali lagu lagu yang berkredit Lennon-Mc Cartney ternyata diciptakan secara individu, sebenarnya mudah sekali menandai suatu lagu Beatles karya siapa lihatlah siapa yang bertindak sebagai lead vokal, meskipun ini tidak mutlak memang. Perbedaan dasar karya John dan Paul terletak pada sudut pandangnya yang sangat dipengaruhi kehidupan pribadi masing masing, Paul dari keluarga kelas pekerja dan John dari keluarga menengah dan diasuh bukan oleh orang tuanya sendiri tetapi bibinya. Kedua, sudut pandang terhadap musik itu sendiri dimana John memandang musik adalah karya seni dimana dia bertindak sebagai seniman sedangkan Paul memandang musik adalah objek dagangan yang harus terjual laris, karya karya John sarat dengan pergerakan accord yang tidak lazim, fokus pada rhytm dan harmoni sedang Paul lebih ke arah menciptakan rangkaian melody yang indah. Bagi saya yang sudah mantab dengan musik musik karya Yes tentunya saya lebih memilih mendengarkan Strawbery Field Forever atau Sexy Sadie atau Revolution 9 yang merupakan karya Lennon yang terdengar cukup ‘progresif’ daripada menikmati Let it Be tentunya…..inilah beberapa catatan tentang mereka…..

1. Masa masa awal John dan Paul menciptakan lagu bersama sama dalam arti yang sesungguhnya yaitu kolaborasi, ini terdapat pada lagu I want To Hold Your Hand, Thank You Girl, She Loves You, Please Please Me, From Me To You, dan yang semisalnya pada era itu tahun 1963 dan mereka menyanyikan bersama sama pada lead vokal sepanjang lagu (duet).

2. Sejak With The Beatles mereka mulai meninggalkan pola ini, mereka mulai menulis sendiri sendiri dan menggunakan double tracking, jadi tanpa duet bersama sepanjang lagu. Meski demikian terdapat lagu lagu yang diciptakan seolah bersaing karena memiliki persamaan yaitu pada lagu It Wont Belong milik John dengan All My Loving milik Paul yaitu sama sama dimainkan pada nada dasar E, sama sama dimulai dengan vokal tanpa instrument, sama sama bertemakan kepergian dan kedatangan, sama sama menggunakan chord augmented semisal E+, sedangkan perbedaan keduanya adalah It Wont Belong menggunakan pergerakan achord yang tidak lazim sedang All My Loving menggunakan pergerakan achord yang predictable,dari segi harmoni jelas It Wont Belong memiliki backing vokal yang ruwet dan All My Loving jelas lebih mudah diterima di telinga awam. Namun saya sejak kelas 3 SD lebih suka dengan It Wont Belong yang rancak ini.

3. Lagu You Cant Do That milik John dan Cant Buy Me Love milik Paul tahun 1964 memiliki persamaan sama sama memiliki format 12 bar standar Rock And Roll meski Beatles penggemar Rock and Roll namun jarang menciptakan lagu berformat 12 bar kecuali dua lagu ini, sama sama berstandar lagu Beatles yaitu intro-bait 1-bait2-refrain-bait3-solo refrain-bait3-outtro.

4. Pada album A Hard Days Night terdapat lagu Things We Said Today milik Paul dan I’ll be Back milik John yang memiliki persamaan sama sama menggunakan tangga nada A mayor dan A minor, sama sama bertema rencana bepergian, sama sama memiliki riff gitar yang mudah di ingat pada pembukaannya yaitu bunyi ‘teng teng teng jreng’ juga diulang pada penutupannya.

5. Pada Beatles for Sale hampir semua lagu Beatles asli yang bukan cover ciptaan John yaitu No Reply, Im Loser, Baby’s in Black, Eight Days A Week, I Dont Want to Spoil the Party hanya Every Litle Thing dibuat oleh Paul tetapi lead vokal oleh John, dan What you’re Doing oleh Paul.

6. Pada album Help lagu You’re Going To Lose That Girl milik John dan lagu Another Girl milik Paul sama sama memiliki kesamaan yaitu diakhiri dengan kata ‘girl’, sama sama bertemakan ancaman kehilangan kekasihnya, diawali dengan chorus dan vokal tanpa instrument, bagian refrain sama sama dimainkan dengan tangga nada IIIB, menggunakan harmoni tiga suara pada chorus dan refrainnya.

7. Pada Rubber Soul lagu Girl milik John dan Michele milik Paul memiliki kesamaan bernuansa akustik, menceritakan wanita yang fiktif, dimainkan pada tangga nada minor, berirama swing, menggunakan rhytm gitar yang dipasang capo pada fret kedelapan, terdapat backing vokal yang tidak dominan namun jika dihilangkan jadi hambar seperti kata ‘tit’ pada bagian bridge di lagu Girl.

8. Pada lagu We Can Work It Out milik Paul dan Day Tripper milik John ada kesamaan yaitu tentang drugs, pada We Can Work di akhir refrain terdapat permainan triplet yang jadi ciri khas John waktu itu dan lagu ini dianggap sebagai induk lagu lagu Beatles berikutnya dengan tanda birama berubah ubah. Day Tripper lead vokal oleh Paul karena nada John yang tidak bisa mencapai nada tinggi. Inilah beberapa catatan untuk mengenang kembali Beatles sebagai induk grup grup dunia. Salam!!!!

Hogarth Plays “Script” Wonderfully!

June 16, 2013

Kali Ini Saya Nangis Beneran!

Pagi ini selagi ada wi-fi yang kenceng saya coba browsing youtube menggunakan HP Android saya. Seperti biasa, kalau sudah ada youtube saya sering iseng search Marillion atau IQ atau Steven Wilson. Hari ini gak tahu kenapa kok otomatis Marillion dulu. Yang saya kaget kok ada Script for a Jester’s Tear tapi tahunnya 2013? Apa ini reuni Marillion dan Fish ya ? pikir saya. Iseng ah … Kebetulan juga Koh Win kan kemarin dapet kaset Yess nya.

Eh ..ternyata yang posting ini resmi MarillionOnLine alias dari Racket Records. Begitu liat panggung, saya berharap Fish yang nongol …eh gak tahunya Hogarth! Aduh ..males ah … Mau saya matiin ajalah. Tapi karena penasaran, saya terusin juga nontonnya dengan rasa pesimis Hogarth bakal belepotan dah.

Saat ambient awal di set oleh Mark Kelly, si Hogarth jalan dari sisi kanan panggung menuju mikrofon dengan santai. Tanpa ada setting dari Mark Kelly memang sulit memulainya, bahkan Fish pun juga melakukan hal yang sama saat di Recital of the Script. Tibalah saat menegangkan itu … “So here I am once more” THENG! Whoaaaaaaaaa… Emosi saya tiba-tiba teraduk dan adrenalin segera mengalir kencang tak kuasa menahan memori indah ketika pertama kali menikmati lagu ini di markas besar Yess di Jl Veteran Bandung bersama Ian Arliandy. Dada saat itu langsung berdegup girang karena di tengah era new wave yang sudah kebangetan ternyata masih ada yang bersedia menegakkan panji progrock.

Tiba-tiba kali ini perhatian saya lebih kepada sosok Hogarth yang menggunakan kemeja putih dan baju rompi. Coba bandingkan dengan penampilan teatrikal Fish dengan baju compang-campingnya, jelas beda …. Setiap tekukan nada saya amati betul bagaimana Hogarth ini membawakan Script yang fenomenal ini dengan tujuan mencari titik dimana saya bisa menghujat penampilannya. Rupanya saya gagal membidik titik hujatan karena ternayat saya justru menarik simpati dari penampilan Hogarth yang banyak dibenci penggemar Fish ini. Saya justru mencatat penampilan dia dalam tiga hal di bawah ini:

  1. Pembawaan H benar-benar penuh totalitas seolah dia menghayati makna lirik melankolis yang sebenarnya merupakan latar belakang kehidupan pribadi Fish sebagai penulis liriknya. Dia tak hanya bernyanyi tapi juga merintih dan tereak bahkan menyanyi sambil gulung koming di lantai. Sebuah penampilan yang sungguh elok.
  2. H membawakan keseluruhan lagu Script ini tanpa sedikitpun berupaya menirukan Fish. Seperti kita ketahui gaya nyanyi H adalah dengan dragging vocal – dan itu masih ia pertahankan dari awal lagu hingga akhir. Ini jelas semestinya gak cocok karena saya sendiri sudah terbiasa mendengarkan lagu ini dengan gaya punctuated vocal bukannya dragging. Lha …herannya kok saya ndak masalah dalam hal ini! Saya justru kesirep dan mau menerima hal ini apa adanya. Toh, saat saya mendengarkan Phil Collins membawakan Supper’s Ready di Seconds Out kuping saya mau juga menerimanya.
  3. Memang ada di beberapa segmen yang H melakukan kesalahan slip of the tongue. Namun hal ini tak ada masalh karena Fish pun juga kalau di panggung kadang (bahkan sering) tak bisa mengendalikan emosi dengan baik sehingga keseleo juga. Remember, this is a live stage performance! To err is human.

Yang perlu dicatat juga adalah msuiknya yang bener-bener utuh karena memang empat orang lainnya adalah memang dari dulu punggawa (pinjem istilah mas Kris) Marillion meski Ian Mosley tak ikut dalam studio recording nya Script. Oh ya…kalau dicermati lagi, penonton juga seperti kesirep dengan lagu fenomenal ini. Top dah! Tanpa saya sadari say bener2 menangis (real tears) melihat konser ini. Perasaan saya campur aduk teringat begitu cintanya saya sama band ini melalui album Script. Aapalagi saat melihat Steve Rothery (sekarang tembem pol) melangsungkan solo gitarnya. Mbrebes mili dada berdegup! bener2 nuansamatik lagu ini ……!!!

Silakan Anda menilai juga performance band ini dengan H sebagai lead vocal setelah TIGA PULUH TAHUN lagu ini dirilis. Salut!

Memburu Kaset Queen

June 11, 2013

By: Danang Suryono

Kenal pertama kali Queen lewat video betamax Top Pop yang salah satunya berisikan klip Queen Body Language yang merupakan promo album Hot Space di tahun 1982, perkenalan saya berlanjut lewat kaset Hot Space rilisan Golden Lion Records.

Saya yang tinggal di kota Padang, saat itu sangatlah sulit mendapatkan kaset-kaset rock yang menjadi kesenangan saya sejak SMP.Kesukaan saya akan Queen saat itu terlampiaskan dengan kaset Queen serial Platinum album 1 s/d 8 rilisan Billboard. Kaset yang berisikan materi album Queen I hingga Hot Space, menjadi pintu masuk bagi saya untuk mengenal Queen secara mendalam dibantu dengan beberapa tulisan di majalah Vista.

Saat saya pindah ke Jakarta, kaset Queen saya pun berhamburan entah kemana, tak tersisa satupun di rumah orang tua saya. Saat itu di tahun 1995 saya sudah tak memikirkan lagi kaset itu, toh saya sudah lengkap punya CD nya. Ngapain miara kaset yang susah untuk memutarnya demikian yang ada di benak saya. Saya lebih fokus pada CD dan seiiring dengan jaman internet dimana interaksi antara orang sehobi terjadi di milis dan forum, selera musikpun ikut bertransformasi. saling meracuni antar anggota milis sungguh merupakan suatu hal yang menyenangkan, sehingga yang seneng claro teracuni oleh Jazz, Prog hingga death metal. Dan sebaliknya yang seneng metal pun teracuni oleh claro maupun prog, demikian pula saya…Istilah ketuaan mendengar musik rock pun hilang sudah. Meskipun selera menjadi lebar, dari musik claro, prog, jazz hingga metal, namun kesukaan saya terhadap Queen tak pernah hilang, apalagi istri saya waktu pacaran saya gombalin sampai klepek-klepek melalui lagu pentolan Queen Freddie Mercury I was Born To Love You, hingga mau menjadi istri saya..bagaimana saya bisa melupakan Queen!!!

Mudahnya akses internet, toko online dan pertemanan menjadikan koleksi CD, DVD dan Bluray saya bertambah sedikit demi sedikit. Praktis sudah kumplit CD yang saya punya dari versi 1 CD hingga versi remaster 2011 (2 CD), ditambah Vynil nya…(belum dapet yang Made in Heaven)

image

Saat saya mulai serius menyimak blog gemblung ini, dan membaca postingan teman-teman tiba-tiba saya teringat akan nikmatnya kaset Queen. Apalagi setelah saya ikut progring di Corelli ketemu dedengkot proclaro mas Gatot, mas Herman, mas Ugik, mas Hengky, mas Rizki, mas Oni, mas Apec, mas Edy Irawan, mas Yudhi dan mas Noor Qodri. Sempet mampir dan mulai tertarik untuk mencoba lagi. Tapi saya sudah tidak punya player lagi, gak papa yang penting punya kasetnya dulu. Urusan player belakangan….

Akhirnya saya mengontak beberapa teman online seller disamping mulai bergerilya ke lapak-lapak kaset mulai Jalsur, Jatinegara disamping Blok M Square, serta sempat mampir ke Yogya. Prinsip saya asal beda sikat…Seperti album Hot Space mulai dari Billboard, Team, Aquarius, Hins Collection hingga ABC records sudah saya sikat. Sayangnya versi Golden Lion yang jadi perkenalan saya malah belum dapet.

Kumpulan kaset rongsokan Alhamdulillah…cukup banyak kaset Queen yang bisa saya kumpulkan. Total yang sudah saya dapatkan adalah sebanyak 65 kaset.

image

  • A Day at the Races-Queen (EMI-Aquarius)
  • A Day at the Races-Queen (Perina)
  • A Kind Of Magic-Queen (Aquarius)
  • A Kind Of Magic-Queen (Billboard)
  • A Kind Of Magic-Queen (EMI-Aquarius)
  • A Night at the Opera-Queen (Aquarius-47033)
  • A Night at the Opera-Queen (Aquarius-58030)
  • A Night at the Opera-Queen (EMI-Aquarius)
  • A Night at the Opera-Queen (Perina)
  • Best of-Queen (Atlantic Records)
  • Five Live-George Michael and Queen (EMI-Aquarius)
  • Flash Gordon-Queen (Aquarius)
  • Flash Gordon-Queen (Contessa)
  • Greatest Hits II-Queen (EMI-Aquarius)
  • Greatest Hits II-Queen (EMI-Aquarius)
  • Greatest Hits I-Queen (EMI-Aquarius)
  • Greatest Hits of Queen & Freddie Mercury-Queen & Freddie Mercury (Kings (C-90))
  • Hot Space-Queen (ABC Records)
  • Hot Space-Queen (Aquarius)
  • Hot Space-Queen (Aquarius)
  • Hot Space-Queen (Hins Collection)
  • Hot Space-Queen (Kings Billboard)
  • Innuendo-Queen (EMI-Aquarius)
  • Innuendo-Queen (EMI-Aquarius)
  • Jazz-Queen (Aquarius)
  • Jazz-Queen (EMI-Aquarius)
  • Live at Wembley ’86 #1-Queen (EMI-Aquarius)
  • Live at Wembley ’86 #2-Queen (EMI-Aquarius)
  • Live Killers-Queen (Aquarius)
  • Live Killers-Queen (EMI-Aquarius)
  • Live Killers-Queen (Private Collection)
  • Live Magic-Queen (EMI-Aquarius)
  • Made in Heaven-Queen (EMI-Aquarius)
  • Made in Heaven-Queen (EMI-Aquarius)
  • News of the World-Queen (Aquarius)
  • Queen + Greatest Hits III-Queen + (EMI-Aquarius)
  • Queen II-Queen (Fame) Rockline!-
  • Queen 1-Queen (Team Records) Rockline!-
  • Queen 2-Queen (Team Records) Rockline!-
  • Queen 8-Queen (Team Records) Rocks,
  • Vol. 1-Queen (EMI-Aquarius)
  • Sheer Heart Attack-Queen (EMI-Aquarius)
  • The Best of 2-Queen (Aquarius)
  • The Best of-Queen (Aquarius Kuning)
  • The Best of-Queen (Aquarius)
  • The Game-Queen (Aquarius)
  • The Miracle-Queen (EMI-Aquarius)
  • The Platinum Album 1-Queen (Billboard)
  • The Platinum Album 2-Queen (Billboard)
  • The Platinum Album 3-Queen (Billboard)
  • The Platinum Album 4-Queen (Billboard)
  • The Platinum Album 5-Queen (Billboard)
  • The Platinum Album 6-Queen (Billboard)
  • The Platinum Album 7-Queen (Billboard)
  • The Platinum Album 8-Queen (Billboard)
  • The Very Best of Queen II-Queen (Billboard)
  • The Very Best of Queen-Queen (Aquarius)
  • The Very Best of-Queen (Pan Audio (C-90))
  • The Very Best of-Queen (Saturn)
  • The Works-Queen (Aquarius)
  • The Works-Queen (Aquarius)
  • The Works-Queen (AR)
  • The Works-Queen (Audio Masters)
  • The Works-Queen (Kings Billboard)
  • The Works-Queen (Team Records)

image

Aquarius merupakan label paling produktif merilis Queen, bahkan album A Night at the Opera saya punya 4 kaset Aquarius dengan tahun rilis berbeda. Sementara label YESS setahu saya paling alergi merilis Queen meskipun album Queen II merupakan album yang sangat progressif apalagi dibandingkan A-ha…

semoga segera bisa mendapatkan Hot Space versi Golden Lion….(mungkin ada yang mau barter?)

image-1

Black Sabbath “13″

June 9, 2013

Maap kalau telat. Kira2 tiga hari lalu, ya…tepatnya Kamis malam, karena saya kerja begadang sampe jam 2 pagi. Saya sempat di tv NET ada liputan Black Sabbath bikin album baru dengan formasi awal tanpa Bill Ward. Ada juga wawancara dengan Ozzy dan Geezer Butler. Keren liputannya.

Hari ini saya ada kerjaan yang musti dituntaskan, terus iseng negtik “Black Sabbath” di Youtube, ternyata ada versi lengkap album ini. Wah keren musiknya! Simple claro gitu, dan gak terlalu berisik. Saya sudah putar kali yang kedua nih album via Youtube ini. Monggo disimak bagi yang belum tahu. Maap kalau saya ketinggalan kereta karena memang baru tahu tiga hari lalu ..

 

Buku Guruh Gipsy

June 6, 2013

By: Gatot Triono KPMI

Buku ini merupakan karya dari Sabrina,mahasiswi Univ BINUS.

image

image

image

Mystery “The World Is A Game”

June 1, 2013

By: Hardani Kristanto
30 May 2013

image

Sejak kemarin saya kerja di rumah, cuti sambil kerja. Ada yang beda tentunya, kalau di kantor ngga ada suara musik, nah kalau di rumah bisa suka2 muter musik apa … Hari ini karena suatu alasan, saya kerja di meja makan yang memang jauh lebih semilir anginnya, alami – bukan angin artifisial macam kipas angin ataupun ac. Karenanya musik pengiring nyambut gawe pun bukan dari kaset Yess, tapi dari mp3 hasil ripping yang blom sempet saya pindahin ke ipod. Setelah pagi tadi diawali album debut band prog Lifesigns, lanjut dengan band neo-prog Mystery, dari album “The World is a Game”. Album ini merupakan satu2nya album band ini yang saya punya, itupun kebeli secara ngga niat 100%, hasil coba2 setelah baca ulasan “customer who bought this album also …” di amazon. Semula ragu2 juga setelah baca di progarchieves cuma rating 4 kurang dikit. Hanya saja karena ada nama2 terkenal macam Benoit David atau juga Nick D’Virgilio, ditambah embel2 “neo-prog”, maka terbeli juga CDnya. Nah, gara2 tadi istri tercinta nyeletuk “lagu siapa tuh, enak bener” pas keputer nomor “The world is a game” yang memang indah-zyahdu na prog, maka sambil istirahat ngutak atik angka asset perusahaan orang, saya pun iseng tulis email ke blog musik paling kesohor di kalangan orang2 gendheng ini (katanya lho !) … Band prog dari negerinya Alex Lifeson dkk ini, dari mbah wiki ditulis sejatinya sudah lahir awal tahun 90-an, lha koq saya baru tau di tahun rong-ewu-telulas (d/h 2013), jan ngga prog blazzz … Dari album yang rilis tahun lalu ini, 2 nomor paling apik menurut saya ya “Pride” dan “The world is a game” sendiri. Permainan stylish gitaris sekaligus foundernya, Michel St-Pare bener2 nunjek, mengingatkan saya pada sosok Steve Rothery era Fish dulu. Pun vocal si Benoit, sepertinya lebih nge-pas di band ini daripada sebelumnya di mbah-nya prog, Yes. Nomor lainnya, seperti “Superstar” juga layak sekali disimak, apalagi nomor pamungkas “Another Day” yang berdurasi lebih dari 19 menit itu. Wis pokoke lumayanlah untuk mengisi hari-2 anda dengan musik bermutu, hehehe … Keep on proggrin’ …

image

Megahnya Konser Yes (4 of 10)

May 20, 2013

By: Herwinto

TERKESAN DENGAN HARIS FAUZI

Kemarin sore saya sedang mencari artikel tentang gitar di internet, secara tidak sengaja saya mendapatkan sebuah artikel tentang seseorang yang bernama Haris Fauzi pengagum YES yang menuangkan pengalamannya menyaksikan dvd Yes Keys To Ascension, sungguh tulisannya membuat saya terdiam tak berkutik ketika membacanya sebab sungguh apa yang dirasakan oleh seorang Haris Fauzi ini benar benar terjadi juga pada saya, bahkan mungkin pada semua pecinta fanatik Yes seperti saya ini. Inilah tulisannya saya salin tanpa ada penambahan ato pengurangan……

Hampir seminggu ini malam malam saya isi dengan menonton vcd konser Yes yang bertajuk ’Keys to Ascension’ dan ‘Live from House of Blues’. Yes adalah kumpulan musisi yang sudah ber-dirgahayu ke 35. Mereka cukup tua, Steve Howe gitaris mereka sudah botak seperti kakek kakek mirip  perkusionis Jepang : Kitaro. Saya tidak akan meresensi musik dan lagu mereka. Disini saya cuma ingin berbagi rasa, bahwa menonton vcd konser mereka di televisi ukuran tanggung di rumah sudah membuat spirit saya bergetar hebat. Saya jadi lebih maklum dengan berita berita dari penonton konser mereka langsung, yang mengatakan bahwa menonton Yes bagai mendapatkan pengalaman spiritual yang maha dahsyat. Sebegitukah? Yang jelas dari dua lagu pertama di konser ‘Keys to Ascension’, ‘Siberian Khatru’ dan ‘Close to the Edge’ membuat perasaan saya benar benar morat marit. Mendengar denting gitar mendayu,menikmati olah vokal Jon Anderson yang melengking, serta kerancakan para musisi yang sedang berekspresi membuat saya deg deg-an. Perasaan ini hampir mirip ketika saya hendak berkunjung ke rumah pacar saya pertama kali. Saya sempat kirim sms ke beberapa rekan, ‘……..mereka laksana dewa turun dari langit…..’. ‘Lightning Strikes’ dan I’ve Seen All Good People’ dari konser ‘Live from House of Blues’ terus terang membuat saya ‘mabuk’. Seakan harga yang 100 ribu per vcd terlupa begitu saja. …..Peak dari segalanya adalah permainan dalam lagu ‘And You And I’. Di dua konser itu, tercantum lagu ini. Saya harus memutarnya berkali kali untuk memuaskan dahaga saya. Ending dari cerita tontonan saya adalah semalam jam 01.55 jumat dini hari menyongsong lelap saya terganggu dengan pikiran saya sendiri…….’Andai saya tidak mengerti agama saya, mungkin saya yakin bahwa ada makhluk gaib yang bernama malaikat Jon Anderson yang berpakaian putih putih membawa harpa, malaikat Steve Howe yang jarinya menari lembut mengelus senar gitar, malaikat Chris Squire yang langkahnya berdentam dentam, malaikat Rick Wakeman dengan keyboards yang tutsnya seakan berbunyi tanpa ditekan dan malaikat Alan White yang tenggelam dalam perangkat tabuhannya……..

Inilah tulisah Haris Fauzi yang membuat saya termenung….sebuah pengalaman spiritual yang langka didapatkan, mendengarkan musik Yes bagi saya bukanlah sekedar kegiatan hiburan disela sela kesibukan saya yang begitu padat, namun juga sebuah ritual rohani yang harus saya persiapkan dengan sungguh sungguh sebab saya akan mendapatkan kepuasan yang menghantarkan saya kepada sebuah semangat untuk menjalankan amanah kehidupan ini dengan sebaik baiknya…sebagaimana pesan pesan dalam Topographic Ocean…..Salam!!!!!

yes-038

Sudah 45 Tahun, Bisa Apa

May 19, 2013

Catatan: review ini dimuat di koran tempo minggu, 19 mei 2013

————————————————————————-

By: Purwanto Setiadi

cover_44535642013_r

Deep Purple, earmusic, 2013

selalu mudah untuk meragukan satu kelompok musik yang sudah berkarier sangat lama, misalnya 45 tahun seperti deep purple. pertanyaan nakal atau kritisnya, jika mereka belum juga mau pensiun dan, apalagi, hendak menerbitkan album kumpulan lagu-lagu baru: kakek-kakek ini mau bikin apa lagi setelah praktis sudah melakukan dan juga melalui segala hal?

deep purple, yang dibentuk di hetford, inggris, pada 1968, sudah berganti-ganti personel, dengan jumlah orang yang datang dan pergi terhitung cukup untuk menjadi bagian dari satu “pohon keluarga” yang rimbun–berisi informasi siapa dan ke mana saja orang-orang itu. mereka juga telah beberapa kali merevitalisasi formula musiknya. mereka sempat mati suri, sebelum bangkit, terguncang lagi, dan lalu bertahan hingga sekarang dengan jadwal masuk studio yang makin jarang–dalam sepuluh tahun belakangan mereka hanya merilis empat album; terakhir kali mereka melakukannya pada 2005.

tampaknya mereka sadar telah menempuh perjalanan luar biasa panjang serta berliku dan karena itu sengaja memilih judul album barunya, urutan ke-19 dalam diskografinya, now what!? tapi, sebenarnya, judul ini juga relevan digunakan sebagai penghormatan ketimbang indikasi tentang masa depan yang seketika suram setelah jon lord, keyboardist mereka, meninggal juli tahun lalu.

lord, lebih dari sekadar ikut mendirikan band, adalah salah satu arsitek yang ikut membangun karakter musik deep purple, lewat permainan organ hammond-nya. berkat itu, antara lain, deep purple ditabalkan sebagai satu dari the holy trinity of heavy metal. meski telah memilih pensiun dari deep purple sejak 2002, pengaruh lord tetap sulit dinafikan. dalam hal album ini, misalnya, “anda bisa merasakan spiritnya di studio dan saya pikir anda bisa mendengarnya di dalam album,” kata roger glover, sang pemain bas, seperti dikutip majalah classic rock edisi juni 2013.

maka, wajar jika kemudian, sebagaimana diterakan dalam bukletnya, mereka memang mendedikasikan album yang dirilis pada 26 april lalu ini untuk lord. “souls, having touched, are forever entwined,” demikian mereka menulis, dan kemudian menyanyikannya sebagai larik dalam above and beyond. dan mereka menggarap persembahan itu dengan energi berlipat-lipat.

mendengarkan album ini sepenuhnya kita bisa merasakan seberapa keras roger glover, ian gillan (vokal), ian paice (drum), steve morse (gitar), dan don airey (keyboard)–formasi terkini–berikhtiar; juga melihat sinyal bagaimana mereka mencurahkan segenap daya kreasi dan musikalitas yang ada sejak dari menulis lagu, mengaransemen, hingga merekamnya. setiap not, setiap kata, dan setiap detak tempo memancarkan vibrasi tentang para sahabat yang merayakan kegembiraan dan masa-masa indah bersama, semuanya seperti lepas dari aturan-aturan yang membelenggu.

lagu pertama, a simple song, memulai semua langkah memerdekakan diri itu. berbeda dari pembuka album-album deep purple sebelumnya yang selalu langsung menderu (misalnya speed king, highway star, burn, vavoom: ted the mechanic, atau any fule kno that), lagu berdurasi 4.39 menit ini diawali dengan motif petikan bas dan gitar dalam tempo orang berjalan santai dan suasana hati melankolis, dengan latar belakang sapuan lembut cymbal oleh paice yang menimbulkan kesan bunyi lonceng. vokal gillan lalu masuk, melantunkan “time, it does not matter/ but time is all we have….” baru kemudian tempo berubah cepat, seakan membawa kita menumpangi kereta roller coaster yang tengah melaju.

di menit-menit awal itu sudah sangat terasa betapa bebunyian yang kita dengar bagai keluar di satu ruang besar dan luas minim perabotan. bukan saja kesan modern sangat menonjol, melainkan juga betapa dinamisnya presentasi mereka–tapi tanpa menghapus sama sekali jejak deep purple dari masa lalu. peran bob ezrin, produser yang sudah berpengalaman antara lain dengan alice cooper, kiss, dan pink floyd sulit diabaikan di sisi produksi ini.

dengan umpan serupa itu sulit mengabaikan lagu berikut, dan berikut, dan berikutnya lagi sampai lagu kesebelas (atau kedua belas untuk versi dengan bonus track) berakhir. pada lagu kedua dan ketiga, weirdistan dan out of hand, mereka membawa semua yang ada di lagu pembuka ke tataran yang lebih tinggi. ini menjadi etalase bagi apa yang akan mereka sajikan selanjutnya. ada elemen progresif di sini. gitar morse dan keyboard airey seperti beratraksi “terjun bebas”. kadang mereka bersahut-sahutan, atau berbarengan membunyikan not yang sama (unison), ada kalanya mereka menempuh alur solo yang menggairahkan. tapi dengan takaran yang pas.

dengan takaran itu pula airey menerakan karakter permainannya: suatu kali dia membubuhkan ciri khas lord, tapi pada kali lain dia sepenuhnya menjadi dirinya sendiri, seorang pemain keyboard dengan jejak bermusik yang panjang dan berwarna-warni.

simak, misalnya, blood from a stone, lagu tentang seseorang yang menimbang-nimbang hendak melakukan kejahatan agar bisa bertahan hidup. benar jika ada yang mengatakan di sini airey mengingatkan kita pada ray manzarek dari the doors ketika, dengan organnya, dia memainkan melodi jazzy dalam riders on the storm. atau, perhatikan juga gaya emerson, lake and palmer dalam uncommon man: di lagu yang mereka akui mengambil ilham dari komposisi klasik fanfare for the common man ini kita bisa mendengar perayaan bebunyian terompet dan organ setelah intro kontemplatif yang menghanyutkan dari morse.

di semua performans berkelas pada sisi instrumen itu gillan, di usia 67, memang sulit menjadi gillan di masa jayanya pada 1970-an. jangkauan dan tenaga vokalnya telah menurun. tapi, dengan caranya, dia toh sanggup tampil mengimbangi dengan cara mentransformasikan vokalnya sebagai wahana untuk menyampaikan tema, tentang perenungan, humor, rasa puas diri, penyesalan. dalam all the time in the world, misalnya, dia menyanyikan: and so i watch the world/ go racing by, tearing up the street/ i lay back in the long grass/ take it easy and rest my feet/ don’t worry/ you know, there’s no hurry/ here we are/ with all the time in the world.

dengan semua itu, melalui album ini, deep purple menunjukkan betapa mereka tahu benar apa yang mereka masih sanggup lakukan. dan mereka mewujudkannya dengan cara-cara yang sudah mereka kenal sejak lama, tak pernah kurang tapi selalu ada lebihnya.

Brian Auger & Julie Tippets by Yess

May 18, 2013

By: Herwinto

Selamat malam semuanya, gara gara mas G memosting Brian Auger, saya ikut ikutan nimbrung menampilkan koleksi saya Brian Auger rekaman yess nomor seri 286 biar mas Hippie samsoyo ngiler karena gak punya…ha ha ha….kapokmu kapan….ini kaset saya dapatnya tanpa direncana, sebulan yang lalu saya dapat kaset yess 15 buah yang harus saya ambil 8 karena alokasi dananya memang hanya untuk 8 kaset, 3 kaset sudah jelas, masih ada 5 opsi lagi maka saya sms ke mahaguru saya mas G dan disarankan salah satunya ya Brian Auger ini, padahal saya gak mudeng blas tapi masak saya berani membangkang instruksi sang guru opo yo ra wedi kuwalat jal, nah jadi deh terambil, ternyata tidak salah juga, tuobz banget, bahkan ada lagu Beatles yang saya sukai A Day In The Life yang dimainkan dengan hammond organ wah muantab banget….kasetnya muluuuus lagi…..Tuobz pokoke…Suwun Om G….

Foto0420

Megahnya Konser Yes (2 of 10)

May 14, 2013

By: Herwinto

SONGS FROM TSONGAS…PERSEMBAHAN TERLENGKAP MUSIK YES
Foto0411
Mungkin inilah konser Yes yang sangat dahsyat, sajian musik yang sungguh bergizi… Songs From Tsongas….konser pada 15 Mei 2004 di Tsongas Arena Lowell ini sungguh menarik, lagu lagu yang disajikan terbagi menjadi dua bentuk yaitu sajian secara elektrik dan secara akustik. Konser ini diperkuat oleh formasi klasik yaitu Anderson, Howe, Squire, Wakeman dan White. Dibuka dengan sebuah intro Firebird Suite seperti kebiasaan Yes ketika konser dan kemudian masuk pada lagu yang sangat rancak Going For The One dengan Howe memimpin melody dengan steel Gitarnya, sungguh pembukaan yang cukup bersemangat, lalu disusul lagu kedua dari album Time And A Word yaitu Sweet Dreams, hebatnya lagu yang di album aslinya terdengar biasa ini dalam konser disajikan secara lebih progresif dengan balutan gitar Howe yang lebih ngerock dan keyboard Wakeman yang rumit sehingga terdengar lebih berbobot.
Berikutnya lagu indah dari Yes Album, I’ve Seen All Good People mengalir dengan enak dan disambung dengan sebuah lagu epik yang sangat saya sukai Mind Drive parts 1 dan 2. Luar biasa! inilah bukti kesaktian Yes, lagu yang dicuplik dari album Keys To Ascension 2 ini benar benar progresif, meski lahir di tahun 1996, namun musiknya seperti karya 70 an, sungguh sajian khas ala Yes. Lagu selanjutnya adalah karya dari album Fragile South Side of The Sky dengan pembukaan oleh piano yang terdengar magis, dan  pada konser ini bagian akhirnya luar biasa hebat karena ditutup dengan pertarungan gitar dan keyboard yang cukup seru, saya sangat menikmati lagu ini, benar benar gagah dan membahana, berikutnya sebuah karya indah yang membawa kita kepada lamunan yang romantis Turn Of The Century yang dibuka dengan dentingan gitar Howe yang begitu bening dan menerawang jauh….ah jadi ingat Galathea….disusul kemudian Mind Drive part 3 yang melengkapi Mind Drive part 1,2 sebelumnya.
Foto0410
Lagu berikutnya sebuah lagu keren yang sungguh gagah dan megah Yours Is No Disgrace yang benar benar menunjukkan kepiawaian Howe sebagai maestro gitar sejati. Begitu lagu ini selesai Yes masuk pada sesi permainan akustik, dimana Wakeman menggunakan grand piano, Howe dan Squire main gitar bolong dan White main drum sederhana hanya simbal dan senar drum, dibuka dengan The Meeting lagu manis dari album ABWH, woaaaaahhh kuereen nih lagu….disusul Long Distance yang enerjik, terus masuk lagu yang sangat menonjolkan permainan gitar mandolin Howe yaitu Wonderous Stories, sungguh memukau lagu ini, dan berikutnya sebuah lagu manis yang saya sukai dari album Magnification, Time Is Time…hadeh lagu ini bikin ngguweblag tenan….Howe bermain slide gitar dengan cara direbahkan di pangkuannya, woaaah suara petikannya membuat hati ini melayang syahdu….selanjutnya meluncur nomor keren Roundabout yang uenak juga dibawakan secara akustik ini, disusul solo Jon Anderson Show Me yang sungguh cantik dan disambung lagu yang aslinya menggebrak dengan peralatan elektronik penuh yaitu Owner of Lonely Heart, hebat….ini lagu tetep aja garang meski dimainkan secara akustik….
Selanjutnya tidak afdhol jika Howe tidak menyumbang solo gitarnya, kali ini dia membawakan Second Initial, selesai solo gitar ini para kru segera membenahi peralatan Yes kembali ke posisi elektrik, dan menggebraklah lagu indah dari album Big Generator, Rhyhtm of Love yang Jon menyayikannya sembari turun ke arena penonton sambil menyapa para penonton, luar biasa sajian yang mempesona…seperti biasa belum sempurna jika belum mengalun And You And I yang begitu indah ini, dan setelah itu sebuah nomor epik Ritual pun di mainkan dengan gagahnya….dan selanjutnya lagu dari The Beatles Every Little Thing pun dimainkan dengan cukup ngerock dan sungguh telah berubah drastis dari irama aslinya….konser ditutup dengan sebuah nomor penutupan ciri khas Yes yaitu Starship Trooper yang sungguh terdengar klasik sekali. Inilah sedikit cuplikan cerita tentang Songs From Tsongas….dengan harapan para pembaca melihat sendiri dvd nya agar cerita saya ini bener benar diresapi sampai relung relung jiwa yang paling dalam…..Salam!!!!


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 72 other followers