Archive for the ‘Band Review’ Category

Racun itu Bernama “The Tangent”

August 30, 2014

Herwinto

image

Rabu kemarin mendapat kiriman racun dari The Land Of Prog…Jombang..siapa lagi kalau bukan pemilik Angkringan Apple nan kesohor di tanah Jawa ini…mas Edi Santoso atau akrab disapa mas Edi Apple…racun yang saya telan pertama kali adalah The Tangent…namanya saja sudah matematis banget..Tangent adalah perbandingan panjang sisi tegak dan sisi mendatar dalam segitiga siku siku…ha ha ha dasar guru matematika!! bagaimana musiknya…100% matematika banget!! rumit!! namun jangan salah…rumit namun indah dan akademis banget…cocok saya dengar musiknya pertama kali….memang baru satu album yang saya dengar..inipun saya bingung album apa bukan kok di discography nya tidak dicantumkan dengan detail…ternyata ini semacam EP. Namanya L’etagere Du Travail…dirilis tahun 2013.

Track pertama adalah Monsanto 7.49 waaaahh saya langsung jatuh cinta dengan lagu ini..komposisinya gabungan antara Rick Emerson dan Keith Wakeman ha ha ha…kibornya itu lho akrobatik banget!! musiknya rancak, dinamis, penuh tekukan tekukan maut…tuobz tenan!! saya merasakan ramuan yang lezat antara ELP ini begitu kerasa dipadu Yes, King Crimson dan Jethro Tull..durasi 7 menitan gak kerasa kayak dengerin lagu 2 menitan aja…tak ulang berkali kali lagu ini!! 

Lost In Ledston 6.39 adalah lagu kedua yang juga tak kalah maut, lagu ini benar benar beraroma ELP tapi jangan salah! bukan menirunya tetapi meramunya dengan unsur unsur King Crimson, salah satunya adalah pergerakan flute yang sangat rancak mengikuti akrobatik kibornya..nikmaaaaaat!!!

The Iron Crows 14.09 merupakan lagu epicnya…disusul Build A New House With Lego 6.25, track selanjutnya Supper’s Off begitu dinamis musiknya, semangat sekali saya mendengarnya, dentuman bass dan drumnya sangat keren!! disusul Dansant Dans Paris 6.58 yang beraroma jazz yang asyik sekali…

Steve Wright In The Afternoon 6.07 dibuka dengan petikan gitar yang lembut, sangat asyik lagu ini, disusul A Voyge Through The Rush Hour 2.28 sebuah solo piano dan  The Ethernet 9.11 lagu yang enak banget dengan solo gitar yang panjang dimulai di menit ke 5.00 sampai akhir lagu, track pamungkas adalah The Canterbury Sequence 9.10 track yang cukup seru menggabungkan unsur unsur jazz dengan klasik beserta rock woaaah muantab sekali….demikian review saya semoga menjadikan racun juga untuk yang lain….haree geneee gak tahu The Tangent?….jangan ngaku proger!!! ha ha ha…..ratjoeeeeeeeeenn!!!

Bersatunya Kembali GodBless

August 28, 2014

Wahyu Triantono

Menyambut konser reuni GodBless tanggal 30 Agustus 2014 di Bandung ada rasa senang tapi juga sedih, senang karena GodBless tampil lagi dengan formasi terbaik walaupun Jocky n Teddy hanya guest star selain Eet tapi itu tidak mengurangi kadar konser itu sendiri dan rasa sedihnya karena saya tidak bisa melihat penampilan legenda band rock indonesia yang sudah berumur 41 tahun !! Dan masih eksis..
Esensi tulisan saya sebenarnya ada 2 point yang penting. Yang pertama adalah Band ini bisa bertahan 41 tahun..Apa resepnya ya? Kalo om Ian ato om Dony kebersamaan adalah salah satu cara untuk bisa bertahan dalam sebuah band walaupun dari awal berdiri GB sudah banyak problem seperti dengan meninggalnya Fuad Hasan dan pemain keyboard (maaf lupa nama almarhum), dan bolak balik ganti personil namun beberapa masalah tersebut tidak sampai membuat GB bubar..bahkan hingga sekarang mereka masih bersama dan eksis..Yang kedua adalah Dokumentasi..dalam blognya Pak Gatot beberapa waktu yang lalu saya sempat menulis betapa indahnya apabila ada dokumentasi berupa visual tentang band Indonesia..betapa kerennya apabila GB membuat box set seperti yang dilakukan Band2 besar di luar negeri..saya dapat info kalo Bapak Theodore KS mau menulis tentang GB..saya yakin kalo box set GB ada pasti ludes dalam sekejap karena band ini memang band legenda ..keep on Rock..!!

Kompilasi Iron Maiden: “Maidens of The Opera’

August 25, 2014

Hippienov

image

Apakah ini tulisan tentang album “a matter of life and death”? Bukan, aku hanya copas cover nya saja. Tulisanku kali ini tentang kompilasi abal-abal Iron Maiden yang aku buat semalam dan berisi lagu-lagu Maiden dari album Iron Maiden (1980) sampai dengan Somewhere In Time (1986).
Kompilasi ini berangkat dari pengamatanku terhadap kompilasi-kompilasi Iron Maiden yang pernah aku punya atau aku temui dimana nyaris semuanya didominasi oleh lagu-lagu era Bruce Dickinson dan hanya sedikit atau nyaris tidak pernah menampilkan lagu-lagu era Paul Di’Anno, paling hanya “running free” (itupun kebanyakan versi live yang vokalisnya Dickinson) atau “wrathchild”. Memang Di’Anno hanya menyumbang suara di 2 album pertama Maiden tapi menurutku dua album ini juga merupakan album yang gak kalah dahsyat dengan album-album setelahnya dan ada lagu-lagu yang bagus di dalamnya.
Setelah beberapa kali mencoba membuat kompilasi Iron Maiden yang hasilnya kurang sreg di hati, akhirnya semalam aku berhasil membuat kompilasi Maiden seperti yang selama ini aku inginkan, walaupun tadinya nyonya sempat protes karena sudah larut tapi aku malah ngeburn bukannya tidur, hehehe… Dogs are barking, khalifah berlalu, ngeburn jalan terus…

Dengan sumber file mp3 Maiden yang sangat terbatas dan malah sudah ada yang rusak file nya aku mulai memilah-milah lagu Maiden yang akan dimasukkan kompilasi dan untuk memberi porsi era Di’Anno lebih “adil” bukan hanya 1-2 lagu maka aku batasi hanya mengambil album Maiden era 80an, itupun album Seventh Son Of A Seventh Son (1988) aku left off karena keterbatasan daya tampung cd kosong yang hanya 80 menit.
Berikut final list nya:

IRON MAIDEN “MAIDENS OF THE OPERA”

1. Genghis Khan.
2. 2 Minutes To Midnight.
3. The Number Of The Beast.
4. Prodigal Son.
5. Aces High.
6. Killers.
7. Run To The Hills.
8. Remember Tomorrow.
9. Powerslave.
10. Wrathchild.
11. The Trooper.
12. Caught Somewhere In Time.
13. Phantom Of The Opera.
14. Wasted Years.
15. Children Of The Damned.
16. The Ides Of March.

Aku bingung saat akan memberi judul kompilasi ini, jelas gak bisa disebut “the best/greatest hits” karena memang gak semua lagu tersebut adalah “best” nya Maiden dan setelah hampir 1/2 jam berlalu ngotak-ngatik judul album akhirnya aku putuskan untuk memberi judul “Maidens Of The Opera” pada kompilasi ini. Maksudku biar serem sedikit, hehehe…
Aku mengibaratkan perjalanan karir Iron Maiden adalah sebuah opera dan “maidens” adalah pemeran utamanya yakni members of Iron Maiden. “Maidens” juga aku jadikan icon untuk dua vokalis handal Iron Maiden yaitu Bruce Dickinson dan Paul Di’Anno karena kompilasi ini didedikasikan untuk keduanya.

Demikian tulisanku kali ini yang back to my basic as “mr. compilation” dan masih abal-abal juga ^_^
Mohon dimaafkan atas kekurangan dalam penulisan dan semoga berkenan serta bisa meramaikan blog. Matursuwun sanget Mas G untuk waktu dan kesempatan yang diberikan serta untuk rekan-rekan yang sudi mampir membaca tulisan gemblung ini.

Up The Irons!
hippienov

Camel “Moonmadness”

August 23, 2014

Hendrik Worotikan

moonmadness

Masih dengan formasi yang sama seperti pada tiga album sebelumnya, dan boleh dibilang sebagai formasi klasik band Camel, kali ini saya mencoba merangkai kata sembari menikmati gurihnya komposisi musik mereka dari album Moonmadness.

Album yang dirilis tahun 1976 ini merekam sebanyak tujuh lagu. Style musiknya pun masih sama tidak jauh beda dengan album-album mereka terdahulu, seperti ‘The Snow Goose’ atau juga ‘Mirage’, dimana elemen jazz yang dipadupadankan dengan musik rock masih sangat kental terasa.
Apalagi dibaluti dengan aransemen musik yang kadang kala secara drastis berubah dengan begitu cepat tanpa diduga.

Susunan lagu di album ‘Moonmadness’ ini diawali dengan ‘Aristillus’, satu komposisi yang membawa kita seolah-olah tengah berada didalam ruang angkasa.
Aroma space art rock lewat sentuhan tangan Bardens yang memainkan keyboard menghasilkan musik dengan nuansa elektronik, layaknya jika kita mendengarkan Vangelis, Tangerine Dream, dll.

Selesai dengan ‘Aristillus’ judul komposisi yang diambil dari nama seorang astronom asal Yunani, suguhan Camel selanjutnya adalah ‘Song Within A Song’.
OMG ! mendengar intro dari lagu ini terasa begitu indah. Rasanya tidak sanggup lagi saya meneruskan tulisan ini. Sadis yang cantik ! sampai sampai tiga kali saya harus mengangkat tone arm hanya untuk menikmati lagi dan lagi intro nya saja. Ya, hanya intronya…

Hal yang sama saya rasakan pula saat berkumandangnya ‘Air Born’. Whoa…inilah komposisi yang ciamik. Lagi-lagi dengan hanya mendengar intro lagu ini saya seperti terhipnotis… diam tanpa sanggup lagi berucap satu patah kata pun. 
Suara flute yang dimainkan Latimer mampu menyihir lagu ini menjadi begitu cantik, indah mempesona bagi siapa saja yang mendengarnya. Arrghh, membrebes gino vanelli jadinya. hihihi…

Komposisi cantik lainnya dan mungkin menjadi karya terbaik dari Bardens adalah ‘Spirit of The Water’. Lagu bertempo lambat dengan dentingan piano mampu memberikan rasa damai didalam hati.

Tidak saja lagu dengan tempo lambat dari Camel yang mampu membuat haru biru, sebagian komposisi Camel juga dimainkan dengan tempo yang up beat, seperti ‘Another Night’, ‘Chord Change’ dan ‘Lunar Sea’ yang terasa begitu gurih dan mantap.

Kematangan bermusik dari Latimer, Ward, Ferguson dan Bardens memang sangat piawai, usah diragukan lagi dan setiap komposisi yang dimainkan mereka mampu memberikan warna tersendiri hasil dari olahan berbagai macam elemen musik yang ada.
Jadi pantas saja kalau Camel ‘Moonmadness’ menjadi sebuah album yang sangat layak untuk dikoleksi. 
Terutama bagi yang mengaku penikmat musik progressive rock.

Tengkyu Mas G
Salam 

Camel “I Can See Your House From Here” dan “Pressure Points”

August 22, 2014

Gatot Widayanto

Menikmati musik memang bisa nyetrum kemana mana. Demikian halnya dengan tret ini yang merupakan spleteran dari tret mas Hendrik sebelumnya. Begitu baca tret mas Hendrik pikiran langsung melayang ke album lainnya. Makanya kemarin sore menjelang tidur sore saya pasang album I can See Your House From Here yang sekligus merupakan album perkenalan saya pertama kali dengan Camel. Itupun saya tahunya dari temen kuliah yang merekomendasikan album ini. Saya tak pikir panjang lagi karena dia penggemar Genesis. Saya masih ngat punya kaset ini pertama kali ya beli dari engkoh di Toko Bintang, Balubur, setelah teman saya mengatakan band ini nggajak. Namun ketika ada kabar kaset lisensi di 1988 saya beli lagi kaset ini. Makanya, kaset saya ini mulus pol ….Kalau dijual di FB pasti laku Rp. 75 ribu. Untungnya saya gak gila seperti yang suka nawarin di FB dengan harga gak rasional … Jadi, kaset super muluz kemlunyuz ini tetap saya pelihara dengan baik , kadang dielus elus … ha ha ha ha ….

Merindhink disco saya rasanya menikmati kaset ini begitu bebunyian kibor dan organ membahana dengan track Survival. Wah edaaan ….saya jadi remember yang not not terutama jaman kuliah tahun pertama ketika saya belum kenal Ian Arrliandy; ya sekitar 1979-1980 begitulah. Meski musiknya biasa saja, namun saya menyukai album ini. Naun memang ada lagu yang tak biasa saja yakni dua lagu dengan judul ada Rhayader nya. Nah ini baru manteb njegreg pol …. Kalau gak suka ya kebangetan karena memang selain komposisinya bagus, lagu ini juga ear candy alias renyah gumranyah membuat telinga terpuaskan mendengarkan lagunya …apalagi dari media kaset ….apalagi Yess! …dan apalagi nuansamatik kemlitik karena ingat belinya dulu di Balubur dan saya masih kemaruk pertama kali tinggal di kota di luar Madiun. Remember …saya tuh lahir ceprot di Madiun dan sampe usia SMA di Madiun terus …. Lulus SMS baru hijrah progiyah menuju Bandung ….. the land of progressive rock! Kaset ini saya nikmati side A dan B alias istilah kerennya “in its entirety” atau bahasa Inggrisnya “ngantek pok”.

image

-

image

-

Setelah puas dengan I Can See, malamnya saya nyetel album live Camel bertajuk Pressure Points. Wah …hebat nih album ….semangat mainnya dan nuansa musiknya lebih dinamis ketimbang versi studio. Dalam versi live ini banyak bebunyian kibor dari kibordis Kayak Ton Scherpenzeel dan tentu saja hunjaman gitar ala Latimer. Mengapa saya katakan ala Latimer? Karena gitaran dia itu tergolong unik meski orang bisa aja tercampur dengan gaya main David Gilmour. Menurut saya gitaran Latimer ini lebih raw dibandingkan Gilmour yang lebih mengutamakan “feel”. Keseluruhan lagu dalam album live ini dibawakan dengan apik oleh musisi2 bertalenta. Tak hanya musiknya yang bagus, ternyata audio quality nya juga ciamik. Meski cumak kaset, tadi malam saya geber nyetel kaset ini dengan volume setengah ampli biar puwas pol. Sayangnya kualitas audio di side B kurang bagus sehingga sulit digeber volumenya.

image

-

image

-

Overall …saya senang sekali bisa melakukan Camel Revisited (melok2 Steve Hackett yang bikin Genesis Revisited) karena dua album ini lumayan berpengaruh dalam kehidupan kemahasiswaan saya yang lebih banyak ngeprog ketimbang kuliah. Mana ada sih yang lebih indah di jaman remaja dari menikmati musik ngantek dobol? Kuliah gak terlalu penting …. Ngeprog jelas significantly important!

JRENG!

Salam,

G

Paice Ashton Lord “Malice in Wonderland”

August 22, 2014

Andria Sonhedi

image

Saat pak Gatot ke Madiun saya sempat menanyakan apa beliau pernah dengar proyek Ian Paice & John Lord di tahun 1977 ini. Ternyata beliau nggak tahu juga :)
Kaset ini dulu lumayan mudah ditemukan di lapak-lapak kaset bekas di Bringharjo, hampir sama dengan Black Sabbath – Technical Ecstacy. Walau ada anggota Deep Purple-nya tapi musiknya sangat lain dan tak ada lagu yang mudah diingat. Bisa saja Paice & Lord mencoba sesuatu yang lain setelah bubarnya Deep Purple. Judulnya juga plesetan dari judul buku Alice in Wonderland
musisinya adalah:
Ian Paice (drums), Tony Ashton (vocals, keyboards), Jon Lord (organ, keyboards), Bernie Marsden (guitar), Paul Martinez (bass)
Bernie Marsden pernah jadi gitaris di babe Ruth & UFO
Kasetnya juga bukan C-60 tapi C-65, ini mungkin mengingat panjangnya lagu2 yang sampai melebihi durasi kaset normal yg 60 menit itu.


evil has no boundaries

Musik Unta: Camel “Mirage”

August 20, 2014

Hendrik Worotikan

image

Walaupun sudah lama memiliki album ‘Mirage’ dari band Camel ini, namun, nyatanya sudah terlalu lama juga jarang saya putar piringan hitamnya.

Kemarin, hari Senin, entah ada angin apa saya pun kesampaian juga untuk menyetel kembali ‘Mirage’, sebuah album yang dirilis pada 1974.

Sedikit bertanya dalam hati. Seperti apa sih musik yang dimainkan mereka ? Maklum saja sudah lama nggak dengar, jadi rada lupa dengan style musik Camel, khususnya di album ini.

image

Peter Bardens (keyboard-vocals) ex Cheynes, Shotgun Express, Village – 
Andy Latimer (guitar-flute-vocals) ex Brew, Philip Goodhand Tait’s Band – 
Doug Ferguson (bass-vocals) ex Strange Brew, Brew, Mike Scott Band, Philip Goodhand Tait’s Band – 
Andy Ward (Drums) ex John’s Children, Brew, Philip Goodhand Tait’s Band adalah sekumpulan musisi musisi handal yang sudah tidak diragukan lagi dalam bermusik. Merekapun sangat piawai meramu musik rock yang disertai elemen-elemen jazz sehingga membawa Camel menjadi band yang kokoh dijalur progressive rock.

Freefall, Supertwister, Nimrodel/The Procession/The White Rider yang berada di side A, serta Earthrise, Lady Fantasy yang terdiri dari 3 bagian: Encounter, Smiles For You dan Lady Fantasy yang berada di side B, adalah sederet komposisi musik yang dimainkan dengan begitu fantastis. 
Rasanya sulit bagi saya untuk memilih lagu atau komposisi mana yang paling saya sukai, tapi kalaupun terpaksa harus memilih, maka saya akan memilih ‘Supertwister’. 
Kenapa ?
Pada komposisi instrumental ‘Supertwister’ ini saya sangat terkesan dengan melodi-melodi indah dari tiupan flute yang dimainkan oleh Latimer.
Dan, konon, ini pula untuk kali pertama Latimer merekam lagunya dengan alat musik flute.
Sangat-sangat mempesona, tidak kalah jika dibandingkan dengan Thijs Van Leer, Dave Valentin, Ian Anderson yang memang handal dengan flute nya.

Sekarang mari kita bersenandung bersama sang unta, Camel.

Music For The Uncommon Men Series: ACQUA FRAGILE “Mass-Media Stars”

August 18, 2014

Hippienov

Setelah New Trolls dan Solaris maka edisi kali ini aku isi dengan band prog Italia bernama “ACQUA FRAGILE” dan kebetulan album yang aku dapat kopiannya adalah Mass-Media Stars (1974).

acqua fragile


Acqua Fragile hanya bertahan dari tahun 1971-1975, album terakhir mereka adalah Mass-Media Stars dengan band member sebagai berikut:
1. Gino Campanini / guitar-mandolin-vocals.
2. Piero canavera / guitar-pecussion-vocals.
3. Franz Dondi / bass.
4. Claudio Fabi / piano.
5. Maurizio Mori / keyboards-vocals.
6. Bernardo Lanzetti / guitar-vocals.

Tracks Listing:
1. Cosmic mid affair.
2. Bar gazing.
3. Mass-media stars.
4. Opening Act.
5. Professor.
6. Coffee Song.

Ada nama Bernardo Lanzetti disini dan sebagian rekan-rekan mungkin akan mengenal Bernardo di album P.F.M “chocolate kings” dan “jet lag”. Ya, memang penyebab bubarnya Acqua Fragile karena Bernardo diajak gabung ke P.F.M untuk pengerjaan album chocolate kings. Bernardo bertahan di P.F.M sampai album jet lag kemudian keluar untuk bersolo karir. Diperkirakan alasan P.F.M menawarkan posisi vokalis mereka pada Bernardo karena saat itu P.F.M sedang mencoba untuk mencoba “go international” dengan merilis album berbahasa Inggris dan mereka melihat kemampuan bahasa Inggris Bernardo (terutama dari lafal) dinilai tepat bagi P.F.M waktu itu terlebih lagi baik P.F.M dan Acqua Fragile berada dibawah satu manajemen.

Kembali Ke Acqua Fragile, band ini terbentuk di Parma dengan nama Gli Immortali (the immortals) dan kemudian berganti nama Acqua Fragile setelah ditarik oleh manajer P.F.M kalo itu Franco Mamone. Dalam waktu sebentar saja Acqua Fragile sudah menjadi band pembuka konser beberapa group terkenal seperti Gentle Giant, Soft Machine dan Uriah Heep. Tahun 1973 mereka merilis debut album yang dinilai sangat terpengaruh oleh musik Gentle Giant dan Genesis. Satu tahun kemudian album “mass-media stars” yang berbahasa Inggris dirilis di Italia dan Amerika Serikat. Album ini dinilai masih bernuansa Genesis dan juga Yes. Hal ini makin diperkuat dengan tipikal vokal Bernardo Lanzetti yang serupa dengan Peter Gabriel.

Setelah Bernardo “pindah” ke P.F.M, Acqua Fragile masih berusaha untuk survive dengan memasukkan Roby Facini sebagai vokalis namun pada akhirnya “mass-media stars” ditakdirkan menjadi album terakhir Acqua Fragile sebelum resmi bubar tahun 1975.

Menurutku pribadi saat pertama kali mendengarkan album ini, aku seperti mendengar excerpt dari Close To The Edge nya Yes bahkan sampai backing vocalnya pun mengingatkanku pada Chris Squire dan Steve Howe saat doing the back-up vocals for Jon Anderson. Namun dari segi musiknya “mass-media stars” tidak bisa disamakan dengan Close To The Edge. Kalau CTTE kita seperti disuguhkan suatu perjalanan fantasi yang penuh kejutan, sedangkan pada mass-media stars menurutku musiknya nyaris tanpa kejutan atau normal-normal saja seperti berkendara di jalan protokol ibukota saat libur Lebaran lalu, lancar nyaris tidak ada rem mendadak atau bunyi klakson yang memekakkan telinga, hehehe…
Di album inipun tidak ada unsur musik klasik seperti pada New Trolls, Maxophone atau Il Rovescio della Medaglia, dan walau Acqua Fragile tidak bisa disejajarkan dengan band prog Italia top seperti P.F.M, Le Orme, Banco dan mungkin yang lainnya namun band ini tidak boleh dilewatkan saat ingin mengenal musik prog Italia.

Final conclusion: Recommended for proggers…

Demikian tulisan singkatku kali ini, masih tetap abal-abal tapi semoga berkenan dan bisa ikut meramaikan blog gemblung ini. sekali lagi matursuwun sanget untuk Mas G atas waktu dan kesempatan yang diberikan dan juga untuk rekan-rekan yang sudi membaca tulisanku yang gemblung ini.

Long Live PROG Gemblungers…
hippienov

Rock Progressive Italiano: Metamoforsi

August 17, 2014

Rully Resa

image

Sebagai pembuka saya ingin mengakui bahwa sudah jelas tulisan ini timbul akibat terpancing 2 tulisan dari mas Hippie tentang Italian Prog. Kemudian dari situ, saya mencoba lagi buka (di komputer) koleksi mp3 Italian prog yang beberapa waktu lalu secara sporadis saya download dari internet. Ternyata ada banyak grup yang belum sempat saya dengarkan dengan serius. Kemudian Saya teringat sering ngobrol dengan Om Yuddi mengenai skena Italian Prog. Ada yang menarik, banyak grup rock Progressif dari Itali yang walaupun pernah menelurkan album dahsyat tetapi karirnya pendek. Baru satu atau dua album langsung bubar jalan! Tetapi, menurut saya pribadi, disitu letak uniknya! saya bisa mengetahui grup yang sama sekali awam namanya tetapi ternyata karyanya luarr biasaa dahsyat. Salah satunya grup ini: Metamoforsi.

Saya berkenalan dengan Metamoforsi lewat Album ‘Inferno’. Hanya sedikit informasi yang dapat diperoleh dari Progarchives dan wikipedia mengenai grup ini karena memang sepanjang karirnya mereka hanya punya 3 studio album. kalau dibandingkan dengan grup besar Itali lainnya seperti Le Orme, PFM, New Trolls, dll jelas grup ini jauh tertinggal. Tetapi album ‘Inferno’ jangan dipandang sebelah mata! Album ini dahsyat ruaarrr biasa! walaupun merasa terasing dengan bahasa itali yang digunakan sebagai tetapi lirik namun musik pengiringnya mulai dari permainan bass, drum kemudian suara moog, harpsichord, dan Hammond! melumatkan itu semua. Satu lagi yang menarik (secara subjektif) dari Ranah rock progressive italia adalah karakteristik musiknya yang tidak jauh-jauh dari rasa ‘Symphonic Prog’, sub-genre Rock Progressif yang paling saya suka! whehehhe.

Album ‘Inferno’ ternyata diadaptasi dari ‘Divina Commedia (Komedi Ketuhanan)’ karya Dante Alighieri yang dinilai karya penting dalam dunia sastra Itali (namun informasi ini tentu saja mubazir, karena saya tidak mengerti bahasa itali). Album ini dimulai dengan suara gong sebagai penanda awal yang cukup berhasil membuat atmosfir mendadak hening, kelam. Lalu ada  bebunyian church organ dan kemudian disusul oleh dentingan harpsichord. Dari situ lirik bahasa itali mulai muncul. Disini,
ketika pertama kali mendengar, sebenernya saya sedikit merasa kecewa. Karena yang saya harapkan album ini tidak ada vokalnya. Akan tetapi setelah didengarkan beberapa kali, justru vokal lirik itali tersebut membuat kaya bebunyian instrumen lainnya. pengertian ini juga diambil dari obrolan dengan Om G yang mengatakan bahwa jika lirik dalam musik prog (bahasa selain inggris, ataupun Growl (baca: muntah kolak)) tidak dimengerti anggap saja sebagai instrumen. Dengan pendalaman pengertian seperti itu membuat saya bisa menikmati album ini dengan sepenuh hati. Dan ternyata terbukti 12 lagu dalam Inferno bisa dinikmati tanpa harus terlalu ‘peduli’ dengan bahasanya.

Untuk mendengarkan full Album: http://www.youtube.com/watch?v=jljJ1m0CXAs

Album ini diberbagai review dibanding-bandingkan dengan karya ELP karena saya mengerti bahwa ketika itu symphonic prog berkiblat tidak jauh dari ELP, Yes atau Pink Floyd. Selain bahasanya yang unik, saya percaya symphonic prog dari itali secara tatanan dan karakter musik punya citra rasa sendiri. bravo italiano!

Rock Progressive Italiano: Metamoforsi

August 17, 2014

Rully Resa

image

Sebagai pembuka saya ingin mengakui bahwa sudah jelas tulisan ini timbul akibat terpancing 2 tulisan dari mas Hippie tentang Italian Prog. Kemudian dari situ, saya mencoba lagi buka (di komputer) koleksi mp3 Italian prog yang beberapa waktu lalu secara sporadis saya download dari internet. Ternyata ada banyak grup yang belum sempat saya dengarkan dengan serius. Kemudian Saya teringat sering ngobrol dengan Om Yuddi mengenai skena Italian Prog. Ada yang menarik, banyak grup rock Progressif dari Itali yang walaupun pernah menelurkan album dahsyat tetapi karirnya pendek. Baru satu atau dua album langsung bubar jalan! Tetapi, menurut saya pribadi, disitu letak uniknya! saya bisa mengetahui grup yang sama sekali awam namanya tetapi ternyata karyanya luarr biasaa dahsyat. Salah satunya grup ini: Metamoforsi.

Saya berkenalan dengan Metamoforsi lewat Album ‘Inferno’. Hanya sedikit informasi yang dapat diperoleh dari Progarchives dan wikipedia mengenai grup ini karena memang sepanjang karirnya mereka hanya punya 3 studio album. kalau dibandingkan dengan grup besar Itali lainnya seperti Le Orme, PFM, New Trolls, dll jelas grup ini jauh tertinggal. Tetapi album ‘Inferno’ jangan dipandang sebelah mata! Album ini dahsyat ruaarrr biasa! walaupun merasa terasing dengan bahasa itali yang digunakan sebagai tetapi lirik namun musik pengiringnya mulai dari permainan bass, drum kemudian suara moog, harpsichord, dan Hammond! melumatkan itu semua. Satu lagi yang menarik (secara subjektif) dari Ranah rock progressive italia adalah karakteristik musiknya yang tidak jauh-jauh dari rasa ‘Symphonic Prog’, sub-genre Rock Progressif yang paling saya suka! whehehhe.

Album ‘Inferno’ ternyata diadaptasi dari ‘Divina Commedia (Komedi Ketuhanan)’ karya Dante Alighieri yang dinilai karya penting dalam dunia sastra Itali (namun informasi ini tentu saja mubazir, karena saya tidak mengerti bahasa itali). Album ini dimulai dengan suara gong sebagai penanda awal yang cukup berhasil membuat atmosfir mendadak hening, kelam. Lalu ada  bebunyian church organ dan kemudian disusul oleh dentingan harpsichord. Dari situ lirik bahasa itali mulai muncul. Disini,
ketika pertama kali mendengar, sebenernya saya sedikit merasa kecewa. Karena yang saya harapkan album ini tidak ada vokalnya. Akan tetapi setelah didengarkan beberapa kali, justru vokal lirik itali tersebut membuat kaya bebunyian instrumen lainnya. pengertian ini juga diambil dari obrolan dengan Om G yang mengatakan bahwa jika lirik dalam musik prog (bahasa selain inggris, ataupun Growl (baca: muntah kolak)) tidak dimengerti anggap saja sebagai instrumen. Dengan pendalaman pengertian seperti itu membuat saya bisa menikmati album ini dengan sepenuh hati. Dan ternyata terbukti 12 lagu dalam Inferno bisa dinikmati tanpa harus terlalu ‘peduli’ dengan bahasanya.

Untuk mendengarkan full Album: http://www.youtube.com/watch?v=jljJ1m0CXAs

Album ini diberbagai review dibanding-bandingkan dengan karya ELP karena saya mengerti bahwa ketika itu symphonic prog berkiblat tidak jauh dari ELP, Yes atau Pink Floyd. Selain bahasanya yang unik, saya percaya symphonic prog dari itali secara tatanan dan karakter musik punya citra rasa sendiri. bravo italiano!


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 144 other followers