Archive for the ‘Band Review’ Category

Eric Burdon & The Animals “The Twain Shall Meet”

April 23, 2014

Budi Putra

AnimalsTwainShallMeet

Bagi penggemar classic rock tentu tidak asing dengan hits “The House of the Rising Sun”, “San Franciscan Nights”, atau “When I Was Young”. Tapi di album The Twain Shall Meet, Eric Burdon & The Animals kita juga akan menemui nomor-nomor yang tak kalah menariknya seperti “Monterey”, “Sky Pilot” atau “Anything”. Bahkan boleh dibilang untuk album mereka kali ini komposisi musik yang mereka mainkan terdengar lebih unik dan berbeda.

Album The Twain Shall Meet yang dirilis pada tahun 1968 oleh MGM Records, memang terdengar lebih unik dan berbeda bila dibandingkan dengan album mereka yang lainnya. The Twain, sepertinya bisa dikategorikan sebagai album yang tidak hanya masuk dalam kategori genre psikedelik rock tapi unsur rock progresif juga melengkapi dan menambah keunikan album ini—walau tidak dengan durasi yang panjang. Sebab memasukkan instrumen musik seperti sitar, fluetes, horns, dan unsur etnik lainnya, menjadikan album ini lebih kaya akan komposisi musiknya. Soal itu bisa kita temui pada nomor pembuka “Monterey” yang diawali dengan petikan sitar tempo sedang lantas bersahutan dengan lengkingan gitar yang kemudian ditingkahi vokal Eric Burdon yang berat dan muram khas sound musik era psikedelik yang biasa kita dengarkan lewat The Yard Bird atau Cream.

Sementara lagu “All Is One” aroma psikedelik yang disisipi sentuhan rock progresif melalui petikan sitar, oboes, horns, dan flutes dibuat dalam kerangka mengambil tempo musik dansa Zorba dari Yunani. Mengenai lagu ini, apresiasi disampaikan pengamat musik Bruce Elder (Allmusic) yang mengatakan bahwa “All is One” merupakan lagu yang unik dalam sejarah musik pop. Lagu ini kaya dengan bebunyian dari berbagai jenis alat musik modern dan tradisional sehingga menghasilkan nada/irama musik yang terdengar unik namun magis.

Pada sisi vokal saya kerap menyandingkan karakter vokal Eric Burdon yang terdengar seperti perpaduan antara vokal yang dimiliki Jim Morrison dan Mick Jagger. Mengenai itu dapat kita dengarkan “Closer to the Truth”, maka seperti teriakan Jim saat ia menyanyikan nomor “LA. Woman”. Atau bisa kita dengarkan juga nomor “Anything” (single version), juga akan terasa alunan merdu nomor “Lady Jane” milik The Rolling Stones namun dinyanyikan Burdon dengan versi yang mid-tempo. Alhasil sungguh dahsyat peleburan komposisi musik antara acid rock ala The Doors dengan Rolling Stones yang blues rock—seperti konsep musik The Animals yang menggabungkan unsur blues rock Inggris dengan rock n roll Amerika.

Mendengarkan nomor-nomor klimaks di album ini tak dipungkiri seolah angan ingin melayang pada kehiruk-pikukan era psikedelik dengan ikonnya seperti Janis Joplin, Jefferson Airplane, The Kinks, The Byrds, dan Grateful Dead, atau Jimi Hendrix yang tengah meramaikan perhelatan Woodstock yang legendaris itu.

Secara keluruhan materi lagu pada album ini sungguh menarik untuk kita dengarkan, mengingat karya-karya The Animals/Eric Burdon yang tidak terlalu merajai pentas rock dunia kala itu dibandingkan dengan The Rolling Stones, The Doors, atau band lainnya era 60-an, tapi memiliki kualitas musik yang tak kalah dengan band-band tersebut. Di samping itu komposisi musik yang lebih beragam pada album ini setidaknya membuat album ini memilki keunikan dan kelebihan tersendiri.

Akhir kata selamat menikmati album ini dan untuk rekan_rekan blog gemblung semoga terhibur dengan ulasan ringkas ini, serta tak ketinggalan untuk mas Gatot matur suwun sudah memposting ulasan ini.
Salam

Track Listings:

1 Monterey
2 Just The Thought
3 Closer To The Truth
4 No Self Pity
5 Orange & Red Beams
6 Sky Pilot
7 We Love You Lil
8 All Is One
9 Sky Pilot Part 1 (Single Version) (Bonus Track)
10 Sky Pilot Part 2 (Single Version) (Bonus Track)
11 Monterey (Single Version) (Bonus Track)
12 Anything (Single Version) (Bonus Track)
13 Its All Meat (Single Version) (Bonus Track)

Personel:

Eric Burdon – Vocals
John Weider – Guitar, violin
Vic Briggs – Guitar
Danny McCulloch – Bass, vocals on “Just the Thought” and “Orange and Red Beams”
Barry Jenkins – Drums

 

CD Kompilasi Europe

April 22, 2014

Hippienov

europe-carricature

Berawal dari iseng-iseng nge-burn mp3 Europe album “wings of tomorrow” dan ternyata album ini menurutku lebih keren dibanding album “the final countdown”. Kenapa aku bilang keren? Karena di album ini musik Europe masih terlihat garang dengan heavy metalnya, malah sering aku dengar permainan double bass drum di banyak lagu, suatu hal yang sepertinya tidak aku dengar di album selanjutnya. Memang secara komersil album “wings” pastinya kalah dibandingkan album “countdown” tapi secara musikal aku lebih suka album “wings”.

Selanjutnya aku terpikir untuk membuat kompilasi lagu-lagu Europe yang aku suka dan aku coba untuk sedikit berbeda dalam pemilihan lagunya agar gak “mainstream” dengan kompilasi “the best of” atau “greatest hits” Europe era lisensi yang ada di pasaran. Ide awalnya memang keren dan revolusioner namun dalam prakteknya ternyata dari dari total 19 lagu yang masuk kompilasi tidak resmi ini, 12 diantaranya merupakan nomor-nomor yang lazim muncul di kompilasi resmi Europe dan hanya 7 diantaranya yang selama ini jarang atau nyaris tidak pernah muncul. Ide awalku yang maunya breakthrough nyatanya harus kompromi juga dengan faktor selera dan aku akui seleraku ternyata masih tergolong mainstream karena lebih dari 50% lagu-lagu yang terpilih masuk kompilasi abal-abal ini dengan mudah kita jumpai di cd atau kaset authorized compilation of Europe.
Berikut playlist nya, fellas:

1. Halfway to heaven;
2. Prisoners in paradise;
3. On broken wings;
4. Tomorrow;
5. Superstitious;
6. Scream of anger;
7. I’ll cry for you;
8. Open your heart;
9. Aphasia;
10. Ready or not;
11. Wings of tomorrow;
12. Carrie;
13. Dance the night away;
14. Wasted time;
15. Seven doors hotel;
16. Dreamer;
17. Stormwind;
18. Lyin’ eyes;
19. The final countdown.

Judul kompilasi ini cukup panjang “Prisoners in Paradise… Halfway to Heaven: A Journey of EUROPE” dan jujur saat pemilihan judul ada faktor sentimental pribadi yang berperan karena sepertinya kalau sedang dalam kondisi biasa-biasa saja and nothing’s going on aku gak akan kepikiran dengan judul yang panjang kayak gitu.
Banyak nomor dari album “wings of tomorrow” yang terpilih masuk kompilasi dan lainnya aku ambil mulai dari album “europe-the final countdown-out of this world dan prisoners in paradise” termasuk judul kompilasi yang diambil dari 2 lagu di album “prisoners”.

Kalau diperhatikan secara teliti maka album ini punya rumusan dalam track ordernya yang sengaja aku buat demikian yaitu 3:1 (tiga lagu bernuansa rock dan setelah itu 1 lagu balada, kemudian kembali lagi dengan 3 lagu berikutnya yang bertempo cepat disusul 1 lagu balada). Rumusan ini berulang selama running time namun setelah tiga nomor terakhir aku gak bisa memasukkan 1 lagu balada terakhir karena kapasitas cd sudah full nyaris 80 menit kurang beberapa belas detik saja.

Semoga tulisan ini bisa meramaikan topik di blog yang kian hari kian marak dan sangat beragam topiknya yang semuanya top markotop.
Matursuwun Mas G untuk waktu dan kesempatan yang diberikan serta selalu terima kasih untuk semua yang telah sudi mampir membaca postingan gemblung ini.

We’re just prisoners in paradise…
hippienov

europe-carricature.jpg

 

Musik Yes di Ambang Senja (9 of 10)

April 21, 2014

Herwinto

image

Saya Benci Kompilasi Ini !!!

Inilah contoh kompilasi yang tidak saya sukai, kenapa?? karena kompilasi ini sungguh tidak adil, dan mempunyai kesalahan kesalahan yang fatal. Mari kita tengok daftar pilihan lagunya, untuk album Yes dipilih Survival dan album Time And A Word dipilih Then, okelah ini bisa saya terima bahkan cukup, selanjutnya album The Yes Album dipilih Your’s Is No Disgrace, I’ve Seen All Good People dan Starship Trooper ini sangat tepat, album Fragile dipilih Roundabout, Heart Of The Sunrise dan Long Distance Runaround bagi saya ini good!!

Setelah masuk album Close To The Edge yang dipilih adalah Siberian Khatru dan And You And I, disini saya mulai tidak sreg, kenapa? karena bagi saya album ini sangat excellent artinya ketiga lagu harus masuk, kalaupun harus perwakilan maka Close To The Edge harus dipilih dengan asumsi waktu untuk Siberian dan And You And I sama dengan waktu Close To The Edge, meninggalkan Close To The Edge dalam kompilasi Yes adalah sebuah kesalahan yang sangat fatal.

Album Topographic dipilih Ritual, okelah mungkin ini cukup meskipun saya lebih sreg The Revealing, tapi tidak mengapa toh bobotnya sama. Ketika sampai album Relayer sungguh menyedihkan karena kompilasi ini hanya mencomot single edit dari Soon, waduuuh….meninggalkan epik Gates of Dellirium dari Yes adalah tindakan yang tak termaafkan lagi bagi saya….

Menginjak album Going For The One kompilasi ini selamat dari ketergelinciran sebab memilih Going For The One, Wonderous Stories dan Awaken, coba kalau Awaken ditinggal…album selanjutnya Tormato kompilasi ini memilih Dont Kill The Whale sebuah pilihan yang benar!! Pada album Drama dipilih Tempus Fugit, okelah tapi sebenarnya Machine Messiah harus disertakan karena ini essensial, untuk menggantikan nomor nomor yang justru tidak penting yang akan saya sebutkan nanti.

Album 90125 dipilih Owner of A Lonely Heart yang bagi saya ini penting dilihat dari sisi berjasanya lagu ini bagi Yes tapi mestinya cukup ini saja tidak perlu memasukkan Leave It dan It Can Happen, untuk album Big Generator mestinya tidak usah dipilih, kalau alasannya tiap album harus ada perwakilannya kenapa pada album Keys To Ascension tak ada satupun lagu yang masuk? padahal semua keren!!. Untuk Union dipilih Lift Me Up ini menurut saya pertimbangan hit, mestinya justru Angkor Wat apa Without Hope You Cannot Start The Day….he he he maksa banget…..

Talk dipilih I am Calling, mestinya Endless Dream lah karena inilah karya brilliant Mr Trevor Rabin yang Yes banget….Open Your Eyes tak ada yang dipilih Alhamdulillah……The Ladder dipilih Homeworld…bagus!!! tapi kesalahan cukup fatal terjadi lagi karena tak satupun lagu Keys dipilih padahal inilah album yang benar benar prog asli Yes….mungkin ada yang protes begini ”wah kalau lagu lagu panjang selalu dimasukkan tak mungkin lah”…yah lebih baik ga usah bikin kompilasi..nikmati aja per album…itulah yang keren…demikianlah kesan saya terhadap kompilasi ini,… pantesan saja mas GW di prog archieve hanya memberi satu bintang…mesakke temen…he he he…

Musik Yes di Ambang Senja (8 of 10)

April 21, 2014

Herwinto

Topography : The Yes Anthology

Saya tidak pernah tertarik membeli CD kompilasi dari grup progresif, apalagi grup seperti Yes, alasannya adalah bahwa sungguh susah menyusun sebuah kompilasi dari grup yang memiliki karya karya yang fenomenal apalagi terbiasa menelorkan karya karya epic yang panjang panjang, bila kompilasi identik dengan karya karya yang bagus sementara dalam memilih dibatasi oleh durasi waktu maka jelas yang akhirnya muncul bukan karya yang benar benar esensial namun justru yang easy listening atau hit radio. Contoh ini terjadi pada kompilasi Genesis Turn It On Again yang benar benar njelehi itu (membosankan). Namun ada juga kompilasi yang benar benar keren yakni Scanning The Greenhouse nya The Flower Kings mungkin karena kompilasi ini yang menyusun Roine Stolt sendiri ya….

Pada tahun 2011 saya kok tiba tertarik membeli kompilasi dari Yes yang waktu itu secara tidak terduga saya lihat di Popeye Jogja, kompilasi itu adalah Topography : The Yes Anthology yang langsung saya beli saat itu, ada dua alasan saya waktu itu mengambil kompilasi ini, pertama kovernya benar benar menarik saya, sungguh keren dengan warna redup hijau agak kebiruan terasa kesejukan ketika memandangnya, dengan gambar batu batu mengapung. Kedua, isi kompilasi ini menurut saya adalah mendekati ideal sebab nomor yang dipilih bisa mewakili sound Yes yang esensial meski ada nomor yang jelek yang justru berada di track 01, nomor nomor yang dipilih diambil dari rentang album The Yes Album hingga Magnification. Setidaknya ini bisa memberikan rangkuman gambaran warna musik Yes yang sesungguhnya.

Track List -Open Your Eyes -Your Is No Disgrace (Live) -I’ve Seen All Good People (Live) -Homeworld -Close To The Edge -And You And I -Excerpts from Tales from Topographic Oceans The Revealing Science of God, The Remembering, The Ancient, Ritual (Steve Howe Solo) -Gates of Delirium -To Be Over (Steve Howe Solo) -Awaken -Cinema -Owner of A Lonely Heart -In The Presence Of -Roundabout

Musik Yes di Ambang Senja (7 of 10)

April 20, 2014

Herwinto

image

Harian Kompas Yang Ngawur!!!

Bila teringat kisah ini saya benar benar ndongkol puol !!! Bagaimana tidak ndongkol, lha wong harian Kompas menyebut album Fly From Here jauh lebih bagus daripada Drama, ya jelas saya gak terima !!! Memang membeli album baru dari artis yang pernah berjaya dimasa lalu adalah suatu hal yang bersifat spekulasi, makanya saya gak mau beli album Fly From Here dulu meski saya cinta berat dengan Yes karena saya trauma dengan Open Your Eyes.

Saat itu harian Kompas membahas peluncuran album baru Yes dengan formasi seperti formasi Drama di tahun 1980 serta menyatakan album ini lebih bagus di banding Drama, saya memang penasaran dengan pernyataan ini sebab jika benar berarti album ini benar benar keren, Eeee…lha kok ndilalah mas Hippienov malah sudah beli CD nya duluan dan email emailan dengan mas Gatot bahas album ini, gemblungnya lagi email emailan ini diposting juga sama mas Gatot,…. lengkap sudah kegemblungan blog ini…ha ha ha ha….(ayo disundul lagi mas)…dari sinilah saya tahu bahwa album ini ternyata tidak bisa disandingkan dengan Drama yang super keren itu….

Terlalu lembek, dan yang jelas mboseni puol….saya hanya mampu bertahan sampai track 2 lalu loncat ke track 8,9, 10 dan 11. Tak ada yang istimewa. Sampai sekarang saya gak pernah muter lagu lagunya, apalagi beli CD nya.

Musik Yes di Ambang Senja (6 of 10)

April 19, 2014
Herwinto
Big Generator……Waduuuuh kok Yes kayak gini?
big
Ada dua alasan mengapa album ini tidak saya masukkan di tret Indahnya Musik Yes, sementara saudara kandungnya yakni 90125 saya masukkan. Alasan pertama, 90125 adalah album yang memiliki jasa besar mempopulerkan Yes sehingga Yes memiliki pengikut dari generasi  baru yakni generasi tahun 80 an yang kemudian ikut menjelajah keindahan musik Yes di era 70 an, inilah jasa yang tidak bisa dilupakan!! dan saya sangat gembira banyak yang akhirnya kenal Yes dan menggandrungi Close To The Edge walau awalnya adalah 90125.Alasan kedua, 90125 bukanlah album yang parah karena di album tersebut terselip karya karya yang sungguh masih sangat progresif seperti Changes yang begitu indah, Cinema yang begitu ngerock serta Our Song yang begitu menawan…namun jika saya menengok Big Generator album ini tak ada lagu yang bisa saya banggakan selain Love Will Find A Way, lagu lagu yang lain sudah terlalu ngepop dan album ini dirilis di waktu yang tidak tepat sehingga kesuksesan 90125 tak bisa lagi diulang, di tahun 1987 telah banyak band band baru beraliran new wave yang lebih digandrungi anak anak muda saat itu, praktis Yes telah dilupakan.

Musik Yes di Ambang Senja (5 of 10)

April 19, 2014
Herwinto
Open Your Eyes…… Karya Yang Sungguh Menyakitkan
Saya sebenarnya tidak mempermasalahkan album ini jika Yes bukanlah band yang saya openkenal selama ini, atau mungkin saya tidak akan menyebut album ini jelek jika Yes adalah band yang selalu menciptakan lagu lagu demikian, namun jika mengingat Yes adalah band yang pernah menelorkan album album spektakuler macam Fragile, Relayer, Topographic Ocean dan setidaknya Drama, maka sungguh ini adalah karya yang membuat saya sakit hati, ”What is this, Mr Howe????”
Sungguh tak ada ciri musik Yes di album ini, bahkan terkesan nglantur dan asal – asalan, tak ada karya yang brillian, apalagi menohok!!…tak tahan saya mendengar lagu lagu di album ini sampai akhirnya muncul album The Ladder, barulah ini album yang bisa dinikmati kembali…

Dahzyatnya The Flower Kings (4 dari 15)

April 17, 2014

Herwinto

Flower Power Track 02-15

Setelah terpuaskan menikmati track 01 Garden Of Dreams, giliran kini merambah track 02-15 yang merupakan lagu lagu mandiri, track 02 Captain Capstan (00:45) dan track 03 Ikea By Night (00:04) adalah semacam overture untuk menuju Astral Dog (08:03) ketiganya adalah instrumental yang sangat indah, Ikea By Night mengingatkan saya pada Five Percent For Nothing nya Yes pada Fragile berupa gebukan perkusi yang mantab. Track berikutnya Deaf, Numb & Blind (11:10) adalah nomor yang cukup keren, kaya elemen elemen simphony prog yang menawan, Stupid Girl (06:49) dan Corruption (05:54) adalah nomor nomor yang sangat renyah untuk dicerna namun tidak meninggalkan elemen prog khas The Flower Kings yang megah.

Track selanjutnya adalah buah karya Thomas Bodin yaitu nomor indah nan nunjek ulu hati Power Of Kindness (04:23) wah baru denger intro kibor nya aja udah gogrok hati ini, sungguh mengaduk aduk perasaan, ini adalah sebuah nomor instrumental layaknya Hairless Heart nya The Lamb Lies Down, cocok untuk kontemplasi di malam hari diluar rumah. Psychedelic Postcard (08:42) adalah nomor yang cukup dinamis dan bersemangat.

Track selanjutnya Hudson River Sirens Call 1998 (04:47) adalah nomor instrumental yang mengingatkan saya pada lagu Pink Floyd The Great Gig In The Sky pada album Dark Side Of The Moon yang berupa teriakan teriakan cewek yang benar benar indah, nah disini pun ada namun dalam balutan musik yang lebih mencekam sehingga lebih terkesan sakral. Nomor Magic Pie (08:19) intro gitarnya mengingatkan saya pada lagu The Beatles Every Litle Things, ini adalah nomor karya Hasse Froberg yang sungguh manis menurut saya, teriakannya huenak untuk ditirukan.

image

image

Track selanjutnya Painter (06:45) merupakan nomor yang sungguh mendayu dayu menurut saya namun tetap saja karakter vokal yang bertenaga Stolt dan sayatan gitarnya yang cukup melodius mejadikannya sangat menawan. Calling Home (11:19) bagi saya adalah nomor yang cukup keren, saya sangat menyukainya perpaduan vokal yang empuk dan nuansa musiknya yang sangat art rock sungguh memukau. Afterlife (04:34) merupakan nomor instrumental yang sangat megah sangat pas sebagai lagu pamungkas album ini. Puwassss sudah menikmati sajian album yang komplit plit begini….Salam!!!

Mad Season “Above”

April 17, 2014

Hippienov

madseasonfrontEntah kenapa hasratku untuk menulis postingan di blog belakangan ini lumayan membara dan hari ini kebetulan sudah hampir jam turun makan jadi aku pikir gak ada salahnya “korupsi” waktu kerja sedikit untuk menulis postingan ini. Toh ini juga bagian dari kerja kok, bedanya bukan untuk kantor tempat aku kerja tapi gawe untuk meramaikan blog serta berbagi informasi dengan rekan-rekan semua. Kiranya berkenan dan bisa menambah informasi.

Pada tahun 1994 disela sesi rekaman album Pearl Jam “Vitalogy”, gitaris Mike McCready memutuskan untuk masuk panti rehab dalam usahanya mengatasi kecanduannya terhadap madseasonback“forbidden medicine” (istilah baru untuk narkoba/drugs/zat psikotropika yang diciptakan oleh hippienov, wakakak…) di Minneapolis, Minnesota. Di panti rehab inilah Mike bertemu dengan sesama musisi yang sedang rehab juga yaitu John Baker Saunders. Keduanya kemudian punya rencana untuk membentuk suatu band rock sebagai side project mereka. Setelah keduanya kembali ke Seattle mereka mengajak gabung Barret Martin dari The Screaming Trees. Formasi ini dilengkapi dengan diajaknya Layne Staley untuk mengisi posisi vokal. Layne Staley adalah seorang vokalis handal yang tergabung di band rock Seattle lainnya Alice in Chains tetapi punya kebiasaan buruk mengkonsumsi heroin yang pada akhirnya membunuhnya. Harapan McCready dan kawan-kawan dengan mengajak Layne gabung bisa membuatnya mengurangi
 kebiasaan buruknya mengkonsumsi forbidden medicine.
Dengan bergabungnya Layne Staley maka formasi selengkapnya adalah:
1. Mike McCready-guitar dari Pearl Jam
2. Barret Martin-drums dari The Screaming Trees
3. John Baker Saunders-bass dari The Lamont Cranston Band
4. Layne Staley-vocals dari Alice in Chains

Band ini sebenarnya diberi nama The Gacy Bunch tapi kemudian diganti menjadi Mad Season yang menurut McCready punya arti “the seasons of drinking and drug abuse”. Setahun berikutnya di tahun 1995 Mad Season merilis debut album mereka yang ternyata juga menjadi satu-satunya album yang pernah mereka rilis bertajuk “Above”. Musik Mad Season digambarkan sebagai gabungan dari musik Pearl Jam dan Alice in Chains berbasis rock dengan elemen blues, jazz, classic rock, arena rock dan progressive rock di dalamnya. Single mereka yang terkenal antara lain river of deceit dan I don’t know anything. Secara lengkap sebagai berikut:


1. Wake up
2. X-ray mind
3. River of deceit
4. I’m above
5. Artificial red
6. Lifeless dead
7. I don’t know anything
8. Long gone day
9. November hotel
10. All alone

Layne Staley menulis semua lirik pada album tersebut sekaligus menggambar cover album Mad Season. Layne menggambarkan lirik yang dia tulis sebagai terjemahan dari kehidupan pribadinya berjuang melawan kebiasaannya bersahabat dengan heroin serta persoalan hidup lainnya. Aku sendiri menilai musik Mad Season sebagai sebuah kesuraman, bahkan dari sampul albumnya mereka sebenarnya sudah mencoba menyampaikan kalau musik mereka penuh kepedihan.
Pertama kali aku beli kasetnya tahun 95/96 setelah melihat video klip “I don’t know anything” aku berharap akan disajikan musik rock ala Oasis, Blur, Pulp atau Supergrass yang cenderung ceria, tapi harapanku meleset. Seperti covernya yang didominasi warna hitam, Mad Season ternyata memainkan musik yang mencerminkan kehidupan pribadi sebagian besar anggotanya yang kecanduan narkotika terlebih sang vokalis Layne Staley yang tanpa disadari oleh semua orang “was heading toward his mourning and isolated life and finally his death”.
Lagu per lagu aku dengarkan dan tidak ada satupun yang ceria, dan yang paling aku suka adalah I don’t know anything yang menurutku bernuansa psikedelik.

Debut album ini terbilang sukses tapi keutuhan supergroup ini tidak bisa dipertahankan, tahun 1997 Layne Staley cabut dari band sebagai akibat dari ketergantungannya pada obat-obat terlarang yang ternyata tidak berkurang sedikitpun. 3 anggota lainnya masih berusaha bertahan dengan mencoba membuat rencana merekam album kedua mereka namun kenyataan berkata lain. Tahun 1999 John Baker Saunders sang bassist ditemukan tewas karena overdose, dan Layne Staley menyatakan bahwa Mad Season sudah benar-benar resmi bubar setelah Saunders tewas. Tapi yang tidak diketahui bahwa wafatnya Saunders membuat Staley makin terhanyut dalam kesediahn yang mendalam ditambah dengan tewasnya pula mantan tunangan Layne Staley membuat Layne semakin tenggelam dalam heroin abuse dan mengundurkan diri dari sorotan publik dan dunia musik yang membesarkan namanya dengan mengucilkan diri di apartemennya sampai akhirnya ditemukan tewas tahun 2002 akibat overdosis.

Sebuah kisah “supergroup” yang tragis menurutku, padahal sebenarnya Mad Season punya potensi untuk jadi “besar” bahkan mungkin melegenda. Satu-satunya warisan yang mereka tinggalkan adalah debut album “Above” yang sekarangpun sepertinya sudah nyaris gak ada di toko-toko musik. Beruntung aku masih punya kaset album ini walaupun sebenarnya jarang pula aku setel ^_^

I recommend this band and their one and only album…

Matursuwun Mas G atas waktu dan kesempatan yang diberikan dan juga untuk rekan-rekan yang sudah meluangkan waktu mampir membaca.

Firebird “Double Diamond”

April 16, 2014

Hippienov

Start counting down to jam pulang dari rutinitas kantor, aku sempatkan menulis sedikit cerita tentang Firebird, sebuah band blues rock atau ada juga yang menyebut stoner rock dari Inggris danfirebird-front bisa disebut supergroup karena 3 anggotanya berasal dari band-band yang sudah cukup terkenal di dunia musik, bedanya adalah warna musik Firebird sangat jauh dengan genre band asal tiap member Firebird.

Firebird dibentuk oleh Bill Steer (guitars & vocals) dan untuk penggemar metal nama Bill Steer tentunya gak asing lagi, ya… Bill Steer lebih dulu dikenal sebagai salah satu member awal group grindcore Napalm Death (era album Scum) dan band death metal Carcass. Sekitar tahun 1999 Bill Steer yang sepertinya sedang jenuh dengan Carcass membentuk sebuah band sebagai side-projectnya dan uniknya dia membentuk band yang sama sekali gak ada hubungannya dengan death-metal atau grindcore tapi malah membentuk sebuah band beraliran “retro” blues rock yang berkiblat pada band-band era 70an seperti Cream, Led Zeppelin, Jimi Hendrix, Grand Funk, Savoy Brown, Humble Pie dan nama-nama besar lainnya di era 70an. Tidak ada suara vokal growls di Firebird, pun tidak ada dentuman double bass drum super cepat serta sayatan guitar atau raungan guitar maut ala grindcore/death metal yang selama ini jadi ciri Bill Steer. Semua diganti dengan permainan guitar bernuansa blues rock 70an, bahkan sound drums dan yang lainnya di-mix sangat 70s. Model pakaian Bill Steer pun dan rekan-rekannya juga seperti layaknya musisi era hippies 70an. Musik Firebird seperti membawa pendengarnya kembali ke era “generasi bunga” dan sepertinya hal ini berhasil dilakukan Bill Steer dan kawan-kawannya lewat Firebird.

Logo band ini mengingatkanku pada cover album Grand Funk Railroad-Phoenix dan bisa jadi Bill Steer termotivasi dengan GFR. Formasi terakhir Firebird adalah: Bill Steer (guitars/vocals) from Carcass Ludwig Witt (drums) from Spiritual Beggars Greyum Mas (bass) from The Black Hand

Untuk beberapa fans yang terbiasa dengan Bill Steer di Napalm Death atau Carcass, Firebird boleh jadi bentuk “blasphemy” Bill terhadap genre musik yang telah membesarkan namanya tapi bagiku yang juga mengenal Bill Steer lewat Napalm Death dan Carcass, Firebird adalah sebuah “progressive mind (seperti istilahnya Mas GW)” ala Bill Steer dan aku sangat suka. Bill mau mengambil resiko untuk melakukan sesuatu diluar mainstream dia meski dengan resiko ditinggalkan fans nya di genre metal.

Album Double Diamond merupakan album terakhir dan album perpisahan Firebird karena setelah firebird-backmerilis album ini dan touring, tahun 2011 lalu Bill Steer dan kawan-kawan lewat situs mereka menyatakan diri bubar. Sayang sekali padahal aku pribadi masih ingin menantikan album-album berikut dari group ini. Untuk di Indonesia sepertinya Firebird tidak terlau dikenal dan sejauh ini aku baru menemukan satu album mereka di Musik+ Sarinah yaitu “Hot Wings”, sedangkan album “double diamond” yang aku punya ini adalah hasil kopian dari teman-teman Metal Bleeding Corp Medan, itupun nyaris gak dapat karena album ini terselip diantara katalog album-album Carcass, kasian… ternyata Bill Steer sudah sangat melekat dengan citra death metal sampai-sampai Firebird yang blues rock 70an juga digabung ke death metal nya Carcass, hehehe…

Dari yang aku baca, banyak yang bilang album Hot Wings adalah album terbaik Firebird sedang Double Diamond dinilai kurang begitu bagus kalau dilihat dari standar labum-album Firebird sebelumnya. Tapi karena aku hanya punya album Double Diamond dan belum pernah dengar album-album lainnya, ya aku bialgn album ini keren, hehehe…

Check this out, comrades… Try it and who knows you will like it too…

Flight of the Firebird… hippienov


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 131 other followers