Archive for the ‘Album Review’ Category

Camel “I Can See Your House From Here” dan “Pressure Points”

August 22, 2014

Gatot Widayanto

Menikmati musik memang bisa nyetrum kemana mana. Demikian halnya dengan tret ini yang merupakan spleteran dari tret mas Hendrik sebelumnya. Begitu baca tret mas Hendrik pikiran langsung melayang ke album lainnya. Makanya kemarin sore menjelang tidur sore saya pasang album I can See Your House From Here yang sekligus merupakan album perkenalan saya pertama kali dengan Camel. Itupun saya tahunya dari temen kuliah yang merekomendasikan album ini. Saya tak pikir panjang lagi karena dia penggemar Genesis. Saya masih ngat punya kaset ini pertama kali ya beli dari engkoh di Toko Bintang, Balubur, setelah teman saya mengatakan band ini nggajak. Namun ketika ada kabar kaset lisensi di 1988 saya beli lagi kaset ini. Makanya, kaset saya ini mulus pol ….Kalau dijual di FB pasti laku Rp. 75 ribu. Untungnya saya gak gila seperti yang suka nawarin di FB dengan harga gak rasional … Jadi, kaset super muluz kemlunyuz ini tetap saya pelihara dengan baik , kadang dielus elus … ha ha ha ha ….

Merindhink disco saya rasanya menikmati kaset ini begitu bebunyian kibor dan organ membahana dengan track Survival. Wah edaaan ….saya jadi remember yang not not terutama jaman kuliah tahun pertama ketika saya belum kenal Ian Arrliandy; ya sekitar 1979-1980 begitulah. Meski musiknya biasa saja, namun saya menyukai album ini. Naun memang ada lagu yang tak biasa saja yakni dua lagu dengan judul ada Rhayader nya. Nah ini baru manteb njegreg pol …. Kalau gak suka ya kebangetan karena memang selain komposisinya bagus, lagu ini juga ear candy alias renyah gumranyah membuat telinga terpuaskan mendengarkan lagunya …apalagi dari media kaset ….apalagi Yess! …dan apalagi nuansamatik kemlitik karena ingat belinya dulu di Balubur dan saya masih kemaruk pertama kali tinggal di kota di luar Madiun. Remember …saya tuh lahir ceprot di Madiun dan sampe usia SMA di Madiun terus …. Lulus SMS baru hijrah progiyah menuju Bandung ….. the land of progressive rock! Kaset ini saya nikmati side A dan B alias istilah kerennya “in its entirety” atau bahasa Inggrisnya “ngantek pok”.

image

-

image

-

Setelah puas dengan I Can See, malamnya saya nyetel album live Camel bertajuk Pressure Points. Wah …hebat nih album ….semangat mainnya dan nuansa musiknya lebih dinamis ketimbang versi studio. Dalam versi live ini banyak bebunyian kibor dari kibordis Kayak Ton Scherpenzeel dan tentu saja hunjaman gitar ala Latimer. Mengapa saya katakan ala Latimer? Karena gitaran dia itu tergolong unik meski orang bisa aja tercampur dengan gaya main David Gilmour. Menurut saya gitaran Latimer ini lebih raw dibandingkan Gilmour yang lebih mengutamakan “feel”. Keseluruhan lagu dalam album live ini dibawakan dengan apik oleh musisi2 bertalenta. Tak hanya musiknya yang bagus, ternyata audio quality nya juga ciamik. Meski cumak kaset, tadi malam saya geber nyetel kaset ini dengan volume setengah ampli biar puwas pol. Sayangnya kualitas audio di side B kurang bagus sehingga sulit digeber volumenya.

image

-

image

-

Overall …saya senang sekali bisa melakukan Camel Revisited (melok2 Steve Hackett yang bikin Genesis Revisited) karena dua album ini lumayan berpengaruh dalam kehidupan kemahasiswaan saya yang lebih banyak ngeprog ketimbang kuliah. Mana ada sih yang lebih indah di jaman remaja dari menikmati musik ngantek dobol? Kuliah gak terlalu penting …. Ngeprog jelas significantly important!

JRENG!

Salam,

G

Paice Ashton Lord “Malice in Wonderland”

August 22, 2014

Andria Sonhedi

image

Saat pak Gatot ke Madiun saya sempat menanyakan apa beliau pernah dengar proyek Ian Paice & John Lord di tahun 1977 ini. Ternyata beliau nggak tahu juga :)
Kaset ini dulu lumayan mudah ditemukan di lapak-lapak kaset bekas di Bringharjo, hampir sama dengan Black Sabbath – Technical Ecstacy. Walau ada anggota Deep Purple-nya tapi musiknya sangat lain dan tak ada lagu yang mudah diingat. Bisa saja Paice & Lord mencoba sesuatu yang lain setelah bubarnya Deep Purple. Judulnya juga plesetan dari judul buku Alice in Wonderland
musisinya adalah:
Ian Paice (drums), Tony Ashton (vocals, keyboards), Jon Lord (organ, keyboards), Bernie Marsden (guitar), Paul Martinez (bass)
Bernie Marsden pernah jadi gitaris di babe Ruth & UFO
Kasetnya juga bukan C-60 tapi C-65, ini mungkin mengingat panjangnya lagu2 yang sampai melebihi durasi kaset normal yg 60 menit itu.


evil has no boundaries

Musik Unta: Camel “Mirage”

August 20, 2014

Hendrik Worotikan

image

Walaupun sudah lama memiliki album ‘Mirage’ dari band Camel ini, namun, nyatanya sudah terlalu lama juga jarang saya putar piringan hitamnya.

Kemarin, hari Senin, entah ada angin apa saya pun kesampaian juga untuk menyetel kembali ‘Mirage’, sebuah album yang dirilis pada 1974.

Sedikit bertanya dalam hati. Seperti apa sih musik yang dimainkan mereka ? Maklum saja sudah lama nggak dengar, jadi rada lupa dengan style musik Camel, khususnya di album ini.

image

Peter Bardens (keyboard-vocals) ex Cheynes, Shotgun Express, Village – 
Andy Latimer (guitar-flute-vocals) ex Brew, Philip Goodhand Tait’s Band – 
Doug Ferguson (bass-vocals) ex Strange Brew, Brew, Mike Scott Band, Philip Goodhand Tait’s Band – 
Andy Ward (Drums) ex John’s Children, Brew, Philip Goodhand Tait’s Band adalah sekumpulan musisi musisi handal yang sudah tidak diragukan lagi dalam bermusik. Merekapun sangat piawai meramu musik rock yang disertai elemen-elemen jazz sehingga membawa Camel menjadi band yang kokoh dijalur progressive rock.

Freefall, Supertwister, Nimrodel/The Procession/The White Rider yang berada di side A, serta Earthrise, Lady Fantasy yang terdiri dari 3 bagian: Encounter, Smiles For You dan Lady Fantasy yang berada di side B, adalah sederet komposisi musik yang dimainkan dengan begitu fantastis. 
Rasanya sulit bagi saya untuk memilih lagu atau komposisi mana yang paling saya sukai, tapi kalaupun terpaksa harus memilih, maka saya akan memilih ‘Supertwister’. 
Kenapa ?
Pada komposisi instrumental ‘Supertwister’ ini saya sangat terkesan dengan melodi-melodi indah dari tiupan flute yang dimainkan oleh Latimer.
Dan, konon, ini pula untuk kali pertama Latimer merekam lagunya dengan alat musik flute.
Sangat-sangat mempesona, tidak kalah jika dibandingkan dengan Thijs Van Leer, Dave Valentin, Ian Anderson yang memang handal dengan flute nya.

Sekarang mari kita bersenandung bersama sang unta, Camel.

Musik Unta: Camel “Mirage”

August 20, 2014

Hendrik Worotikan

image

Walaupun sudah lama memiliki album ‘Mirage’ dari band Camel ini, namun, nyatanya sudah terlalu lama juga jarang saya putar piringan hitamnya.

Kemarin, hari Senin, entah ada angin apa saya pun kesampaian juga untuk menyetel kembali ‘Mirage’, sebuah album yang dirilis pada 1974.

Sedikit bertanya dalam hati. Seperti apa sih musik yang dimainkan mereka ? Maklum saja sudah lama nggak dengar, jadi rada lupa dengan style musik Camel, khususnya di album ini.

image

Peter Bardens (keyboard-vocals) ex Cheynes, Shotgun Express, Village – 
Andy Latimer (guitar-flute-vocals) ex Brew, Philip Goodhand Tait’s Band – 
Doug Ferguson (bass-vocals) ex Strange Brew, Brew, Mike Scott Band, Philip Goodhand Tait’s Band – 
Andy Ward (Drums) ex John’s Children, Brew, Philip Goodhand Tait’s Band adalah sekumpulan musisi musisi handal yang sudah tidak diragukan lagi dalam bermusik. Merekapun sangat piawai meramu musik rock yang disertai elemen-elemen jazz sehingga membawa Camel menjadi band yang kokoh dijalur progressive rock.

Freefall, Supertwister, Nimrodel/The Procession/The White Rider yang berada di side A, serta Earthrise, Lady Fantasy yang terdiri dari 3 bagian: Encounter, Smiles For You dan Lady Fantasy yang berada di side B, adalah sederet komposisi musik yang dimainkan dengan begitu fantastis. 
Rasanya sulit bagi saya untuk memilih lagu atau komposisi mana yang paling saya sukai, tapi kalaupun terpaksa harus memilih, maka saya akan memilih ‘Supertwister’. 
Kenapa ?
Pada komposisi instrumental ‘Supertwister’ ini saya sangat terkesan dengan melodi-melodi indah dari tiupan flute yang dimainkan oleh Latimer.
Dan, konon, ini pula untuk kali pertama Latimer merekam lagunya dengan alat musik flute.
Sangat-sangat mempesona, tidak kalah jika dibandingkan dengan Thijs Van Leer, Dave Valentin, Ian Anderson yang memang handal dengan flute nya.

Sekarang mari kita bersenandung bersama sang unta, Camel.

Music For The Uncommon Men Series: ACQUA FRAGILE “Mass-Media Stars”

August 18, 2014

Hippienov

Setelah New Trolls dan Solaris maka edisi kali ini aku isi dengan band prog Italia bernama “ACQUA FRAGILE” dan kebetulan album yang aku dapat kopiannya adalah Mass-Media Stars (1974).

acqua fragile


Acqua Fragile hanya bertahan dari tahun 1971-1975, album terakhir mereka adalah Mass-Media Stars dengan band member sebagai berikut:
1. Gino Campanini / guitar-mandolin-vocals.
2. Piero canavera / guitar-pecussion-vocals.
3. Franz Dondi / bass.
4. Claudio Fabi / piano.
5. Maurizio Mori / keyboards-vocals.
6. Bernardo Lanzetti / guitar-vocals.

Tracks Listing:
1. Cosmic mid affair.
2. Bar gazing.
3. Mass-media stars.
4. Opening Act.
5. Professor.
6. Coffee Song.

Ada nama Bernardo Lanzetti disini dan sebagian rekan-rekan mungkin akan mengenal Bernardo di album P.F.M “chocolate kings” dan “jet lag”. Ya, memang penyebab bubarnya Acqua Fragile karena Bernardo diajak gabung ke P.F.M untuk pengerjaan album chocolate kings. Bernardo bertahan di P.F.M sampai album jet lag kemudian keluar untuk bersolo karir. Diperkirakan alasan P.F.M menawarkan posisi vokalis mereka pada Bernardo karena saat itu P.F.M sedang mencoba untuk mencoba “go international” dengan merilis album berbahasa Inggris dan mereka melihat kemampuan bahasa Inggris Bernardo (terutama dari lafal) dinilai tepat bagi P.F.M waktu itu terlebih lagi baik P.F.M dan Acqua Fragile berada dibawah satu manajemen.

Kembali Ke Acqua Fragile, band ini terbentuk di Parma dengan nama Gli Immortali (the immortals) dan kemudian berganti nama Acqua Fragile setelah ditarik oleh manajer P.F.M kalo itu Franco Mamone. Dalam waktu sebentar saja Acqua Fragile sudah menjadi band pembuka konser beberapa group terkenal seperti Gentle Giant, Soft Machine dan Uriah Heep. Tahun 1973 mereka merilis debut album yang dinilai sangat terpengaruh oleh musik Gentle Giant dan Genesis. Satu tahun kemudian album “mass-media stars” yang berbahasa Inggris dirilis di Italia dan Amerika Serikat. Album ini dinilai masih bernuansa Genesis dan juga Yes. Hal ini makin diperkuat dengan tipikal vokal Bernardo Lanzetti yang serupa dengan Peter Gabriel.

Setelah Bernardo “pindah” ke P.F.M, Acqua Fragile masih berusaha untuk survive dengan memasukkan Roby Facini sebagai vokalis namun pada akhirnya “mass-media stars” ditakdirkan menjadi album terakhir Acqua Fragile sebelum resmi bubar tahun 1975.

Menurutku pribadi saat pertama kali mendengarkan album ini, aku seperti mendengar excerpt dari Close To The Edge nya Yes bahkan sampai backing vocalnya pun mengingatkanku pada Chris Squire dan Steve Howe saat doing the back-up vocals for Jon Anderson. Namun dari segi musiknya “mass-media stars” tidak bisa disamakan dengan Close To The Edge. Kalau CTTE kita seperti disuguhkan suatu perjalanan fantasi yang penuh kejutan, sedangkan pada mass-media stars menurutku musiknya nyaris tanpa kejutan atau normal-normal saja seperti berkendara di jalan protokol ibukota saat libur Lebaran lalu, lancar nyaris tidak ada rem mendadak atau bunyi klakson yang memekakkan telinga, hehehe…
Di album inipun tidak ada unsur musik klasik seperti pada New Trolls, Maxophone atau Il Rovescio della Medaglia, dan walau Acqua Fragile tidak bisa disejajarkan dengan band prog Italia top seperti P.F.M, Le Orme, Banco dan mungkin yang lainnya namun band ini tidak boleh dilewatkan saat ingin mengenal musik prog Italia.

Final conclusion: Recommended for proggers…

Demikian tulisan singkatku kali ini, masih tetap abal-abal tapi semoga berkenan dan bisa ikut meramaikan blog gemblung ini. sekali lagi matursuwun sanget untuk Mas G atas waktu dan kesempatan yang diberikan dan juga untuk rekan-rekan yang sudi membaca tulisanku yang gemblung ini.

Long Live PROG Gemblungers…
hippienov

Rock Progressive Italiano: Metamoforsi

August 17, 2014

Rully Resa

image

Sebagai pembuka saya ingin mengakui bahwa sudah jelas tulisan ini timbul akibat terpancing 2 tulisan dari mas Hippie tentang Italian Prog. Kemudian dari situ, saya mencoba lagi buka (di komputer) koleksi mp3 Italian prog yang beberapa waktu lalu secara sporadis saya download dari internet. Ternyata ada banyak grup yang belum sempat saya dengarkan dengan serius. Kemudian Saya teringat sering ngobrol dengan Om Yuddi mengenai skena Italian Prog. Ada yang menarik, banyak grup rock Progressif dari Itali yang walaupun pernah menelurkan album dahsyat tetapi karirnya pendek. Baru satu atau dua album langsung bubar jalan! Tetapi, menurut saya pribadi, disitu letak uniknya! saya bisa mengetahui grup yang sama sekali awam namanya tetapi ternyata karyanya luarr biasaa dahsyat. Salah satunya grup ini: Metamoforsi.

Saya berkenalan dengan Metamoforsi lewat Album ‘Inferno’. Hanya sedikit informasi yang dapat diperoleh dari Progarchives dan wikipedia mengenai grup ini karena memang sepanjang karirnya mereka hanya punya 3 studio album. kalau dibandingkan dengan grup besar Itali lainnya seperti Le Orme, PFM, New Trolls, dll jelas grup ini jauh tertinggal. Tetapi album ‘Inferno’ jangan dipandang sebelah mata! Album ini dahsyat ruaarrr biasa! walaupun merasa terasing dengan bahasa itali yang digunakan sebagai tetapi lirik namun musik pengiringnya mulai dari permainan bass, drum kemudian suara moog, harpsichord, dan Hammond! melumatkan itu semua. Satu lagi yang menarik (secara subjektif) dari Ranah rock progressive italia adalah karakteristik musiknya yang tidak jauh-jauh dari rasa ‘Symphonic Prog’, sub-genre Rock Progressif yang paling saya suka! whehehhe.

Album ‘Inferno’ ternyata diadaptasi dari ‘Divina Commedia (Komedi Ketuhanan)’ karya Dante Alighieri yang dinilai karya penting dalam dunia sastra Itali (namun informasi ini tentu saja mubazir, karena saya tidak mengerti bahasa itali). Album ini dimulai dengan suara gong sebagai penanda awal yang cukup berhasil membuat atmosfir mendadak hening, kelam. Lalu ada  bebunyian church organ dan kemudian disusul oleh dentingan harpsichord. Dari situ lirik bahasa itali mulai muncul. Disini,
ketika pertama kali mendengar, sebenernya saya sedikit merasa kecewa. Karena yang saya harapkan album ini tidak ada vokalnya. Akan tetapi setelah didengarkan beberapa kali, justru vokal lirik itali tersebut membuat kaya bebunyian instrumen lainnya. pengertian ini juga diambil dari obrolan dengan Om G yang mengatakan bahwa jika lirik dalam musik prog (bahasa selain inggris, ataupun Growl (baca: muntah kolak)) tidak dimengerti anggap saja sebagai instrumen. Dengan pendalaman pengertian seperti itu membuat saya bisa menikmati album ini dengan sepenuh hati. Dan ternyata terbukti 12 lagu dalam Inferno bisa dinikmati tanpa harus terlalu ‘peduli’ dengan bahasanya.

Untuk mendengarkan full Album: http://www.youtube.com/watch?v=jljJ1m0CXAs

Album ini diberbagai review dibanding-bandingkan dengan karya ELP karena saya mengerti bahwa ketika itu symphonic prog berkiblat tidak jauh dari ELP, Yes atau Pink Floyd. Selain bahasanya yang unik, saya percaya symphonic prog dari itali secara tatanan dan karakter musik punya citra rasa sendiri. bravo italiano!

Rock Progressive Italiano: Metamoforsi

August 17, 2014

Rully Resa

image

Sebagai pembuka saya ingin mengakui bahwa sudah jelas tulisan ini timbul akibat terpancing 2 tulisan dari mas Hippie tentang Italian Prog. Kemudian dari situ, saya mencoba lagi buka (di komputer) koleksi mp3 Italian prog yang beberapa waktu lalu secara sporadis saya download dari internet. Ternyata ada banyak grup yang belum sempat saya dengarkan dengan serius. Kemudian Saya teringat sering ngobrol dengan Om Yuddi mengenai skena Italian Prog. Ada yang menarik, banyak grup rock Progressif dari Itali yang walaupun pernah menelurkan album dahsyat tetapi karirnya pendek. Baru satu atau dua album langsung bubar jalan! Tetapi, menurut saya pribadi, disitu letak uniknya! saya bisa mengetahui grup yang sama sekali awam namanya tetapi ternyata karyanya luarr biasaa dahsyat. Salah satunya grup ini: Metamoforsi.

Saya berkenalan dengan Metamoforsi lewat Album ‘Inferno’. Hanya sedikit informasi yang dapat diperoleh dari Progarchives dan wikipedia mengenai grup ini karena memang sepanjang karirnya mereka hanya punya 3 studio album. kalau dibandingkan dengan grup besar Itali lainnya seperti Le Orme, PFM, New Trolls, dll jelas grup ini jauh tertinggal. Tetapi album ‘Inferno’ jangan dipandang sebelah mata! Album ini dahsyat ruaarrr biasa! walaupun merasa terasing dengan bahasa itali yang digunakan sebagai tetapi lirik namun musik pengiringnya mulai dari permainan bass, drum kemudian suara moog, harpsichord, dan Hammond! melumatkan itu semua. Satu lagi yang menarik (secara subjektif) dari Ranah rock progressive italia adalah karakteristik musiknya yang tidak jauh-jauh dari rasa ‘Symphonic Prog’, sub-genre Rock Progressif yang paling saya suka! whehehhe.

Album ‘Inferno’ ternyata diadaptasi dari ‘Divina Commedia (Komedi Ketuhanan)’ karya Dante Alighieri yang dinilai karya penting dalam dunia sastra Itali (namun informasi ini tentu saja mubazir, karena saya tidak mengerti bahasa itali). Album ini dimulai dengan suara gong sebagai penanda awal yang cukup berhasil membuat atmosfir mendadak hening, kelam. Lalu ada  bebunyian church organ dan kemudian disusul oleh dentingan harpsichord. Dari situ lirik bahasa itali mulai muncul. Disini,
ketika pertama kali mendengar, sebenernya saya sedikit merasa kecewa. Karena yang saya harapkan album ini tidak ada vokalnya. Akan tetapi setelah didengarkan beberapa kali, justru vokal lirik itali tersebut membuat kaya bebunyian instrumen lainnya. pengertian ini juga diambil dari obrolan dengan Om G yang mengatakan bahwa jika lirik dalam musik prog (bahasa selain inggris, ataupun Growl (baca: muntah kolak)) tidak dimengerti anggap saja sebagai instrumen. Dengan pendalaman pengertian seperti itu membuat saya bisa menikmati album ini dengan sepenuh hati. Dan ternyata terbukti 12 lagu dalam Inferno bisa dinikmati tanpa harus terlalu ‘peduli’ dengan bahasanya.

Untuk mendengarkan full Album: http://www.youtube.com/watch?v=jljJ1m0CXAs

Album ini diberbagai review dibanding-bandingkan dengan karya ELP karena saya mengerti bahwa ketika itu symphonic prog berkiblat tidak jauh dari ELP, Yes atau Pink Floyd. Selain bahasanya yang unik, saya percaya symphonic prog dari itali secara tatanan dan karakter musik punya citra rasa sendiri. bravo italiano!

Tesla “Mechanical Resonance”

August 17, 2014

Andria Sonhedi

image

Walau Tesla muncul di saat sama dengan Motley Crue & Poison namun mereka lebih memilih jadi grup hard rock tanpa ikut2an mendandani rambut & memakai baju warna-warni. Ini adalah album debut mereka, album berikutnya membuat 2 gitaris & bassis mereka disebut-sebut sebagai pemain hebat. Album yang saya anggap hebat ini melibatkan Steve Thompson sebagai produser dibantu Michael Barbiero yang merangkap engineer. 

Tesla termasuk pionir musik unplugged dengan meluncurkan live berjudul 5 men Acoustical Jam beberapa tahun sebelum album MTV Unplugged Nirvana sukses & memacu musisi lain ikut-ikutan membuat proyek semacam itu.

daftar lagunya adalah:
EZ Come EZ Go
Cumin’ Atcha Live 
Gettin’ Better
2 Late 4 Love 
Rock Me to the Top 
We’re No Good Together
Modern Day Cowboy
Changes
Little Suzi 
Love Me
Cover Queen
Before My Eyes 

pemain:
Jeff Keith (vocals)
Frank Hannon (guitar, keyboards, mandolin, blues harp, vocals)
Tommy Skeoch (guitar, vocals) 
Brian Wheat (bass, piano, keyboards, vocals)
Troy Luccketta (drums, percussion) 

Trik lama dengan membuat intro lagu yg slow lalu diikuti irama yg lebih meriah ada di lagu Gettin’ Better. Awalnya saya memang ragu2 beli kaset ini, walau seken, maklum kl dijual lagi harganya jadi lebih murah. Tapi untungnya pilihan saya tidak salah. Tak hanya lagu slow tapi lagu-lagu yang lain juga mantap walau suara vokalisnya tak lazim.  Pokoknya gitaran di album ini benar2 enak didengar tapi tak ngepop.
Jaman kaset non royalty album ini direkam oleh Hins Collection & tentu saja dapat dipastikan kawan kita Hardi Dokken punya kasetnya :)

evil has no boundaries

Tesla “Mechanical Resonance”

August 17, 2014

Andria Sonhedi

image

Walau Tesla muncul di saat sama dengan Motley Crue & Poison namun mereka lebih memilih jadi grup hard rock tanpa ikut2an mendandani rambut & memakai baju warna-warni. Ini adalah album debut mereka, album berikutnya membuat 2 gitaris & bassis mereka disebut-sebut sebagai pemain hebat. Album yang saya anggap hebat ini melibatkan Steve Thompson sebagai produser dibantu Michael Barbiero yang merangkap engineer. 

Tesla termasuk pionir musik unplugged dengan meluncurkan live berjudul 5 men Acoustical Jam beberapa tahun sebelum album MTV Unplugged Nirvana sukses & memacu musisi lain ikut-ikutan membuat proyek semacam itu.

daftar lagunya adalah:
EZ Come EZ Go
Cumin’ Atcha Live 
Gettin’ Better
2 Late 4 Love 
Rock Me to the Top 
We’re No Good Together
Modern Day Cowboy
Changes
Little Suzi 
Love Me
Cover Queen
Before My Eyes 

pemain:
Jeff Keith (vocals)
Frank Hannon (guitar, keyboards, mandolin, blues harp, vocals)
Tommy Skeoch (guitar, vocals) 
Brian Wheat (bass, piano, keyboards, vocals)
Troy Luccketta (drums, percussion) 

Trik lama dengan membuat intro lagu yg slow lalu diikuti irama yg lebih meriah ada di lagu Gettin’ Better. Awalnya saya memang ragu2 beli kaset ini, walau seken, maklum kl dijual lagi harganya jadi lebih murah. Tapi untungnya pilihan saya tidak salah. Tak hanya lagu slow tapi lagu-lagu yang lain juga mantap walau suara vokalisnya tak lazim.  Pokoknya gitaran di album ini benar2 enak didengar tapi tak ngepop.
Jaman kaset non royalty album ini direkam oleh Hins Collection & tentu saja dapat dipastikan kawan kita Hardi Dokken punya kasetnya :)

evil has no boundaries

Music For The Uncommon Men Series: SOLARIS “Marsbeli Kronikak”

August 15, 2014

Hippienov

image

Edisi kedua dari serial “music for the uncommon men” aku coba sedikit sharing tentang band yang sebelumnya aku gak pernah tahu namanya serta musiknya, dan inipun hasil rekomendasi dari temanku di Metal Bleeding Corp/Rockendays.

Solaris adalah band symphonic prog dari Hongaria yang didirikan tahun 1980 dan Marsbeli Kronikak (yang dalam boso Jowone “The Martian Chronicles”) merupakan album full pertama mereka. Musik Solaris digambarkan sebagai musik prog yang melodius dan seringkali mengangkat tema yang berakar dari Eropa Timur. Sedangkan album yang aku punya kopiannya ini bercerita tentang “alien” dari planet Mars.

Sekilas musik Soalris (di album ini) punya kemiripan dengan musik Eloy dan temanya pun sama-sama tentang “outer space”, Eloy dengan “planets” sedangkan Solaris dengan “masbeli kronikak”. Namun yang membuat album Solaris ini seru adalah mereka selalu menggunakan flute di setiap lagunya yang pada sering kesempatan seperti saling “bersahutan” antara flute-keyboards/synth-guitar. Seru banget…
Solaris sepertinya banyak menggunakan synthesizer dan efek kibor pada setiap komposisi yang mereka buat namun tetap tidak ketinggalan tetap memasukkan piano dan organ walau yang dominan adalah sound synth nya. Semua track di album ini instrumental kecuali di track pertama ada sepenggal narasi diucapkan dalam bahasa Hongaria yang diberi efek suara jadi seperti suara mahluk luar angkasa.

Tadinya aku pikir akan bosan mendengarkan album ini namun ternyata album ini unik dan menarik serta tidak membosankan, terlebih mereka selalu menyajikan “duel” flute-synth-guitar yang menjadi daya tarik bagiku. Mendengarkan Solaris jadi mengingatkanku pada album Ayreon “the universal migrator I & II” karena faktor synth nya itu, dan jika aku bandingkan dengan album Mike Oldfield “Tubular Bells” album ini jauh lebih menarik untuk dinikmati dan tentu saja dikoleksi.

Final conclusion: highly recommended…

Track Listing nya sebagai berikut:
1. Marsbeli kronikak I (the martian chronicles I).
2. Marsbeli kronikak II – III.
3. Marsbeli kronikak IV – VI.
4. M’ars poetica.
5. Ha felszall a kod (if the fog ascends).
6. Apokalipszis (apocalypse).
7. E-moll elojatek (prelude in E-minor).
8. Legyozhetetlen (undefeatable).
9. Solaris.
10. Orchideak bolygoja (the planet of orchids).
11. A sarga kor (the yellow circle).

Musicians:
1. Istvan Czigman / guitar-synth-keys effects-percussion.
2. Robert Erdesz / piano-organ-synth-keys effects.
3. Laszlo Gomor / drums-percussion-synth.
4. Attila Kollar / flute-recorder-synth-keys effects-percussion-voice.
5. Tamas Pocs / bass.

Demikian tulisan abal-abalku yang singkat pula ini, semoga berkenan dan bisa turut meramaikan blog gemblung tercinta. As always matursuwun sangat untuk Mas G atas waktu serta kesempatan yang diberikan dan tentunya untuk rekan-rekan yang sudi mampir membaca tulisan gemblung dari seorang yang mengaku-ngaku perogger gemblung.
Happy wonderful and progressisve weekend, comrades…

Salam Progrock Gemblunger,
hippienov


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 144 other followers