Archive for the ‘Album Review’ Category

Listen To Me, Just Hear Me Out (5)

June 22, 2014

Khalil Logomotif

image

Rasanya seneeeeng banget, saat membuka bungkus plastik kotak kaset, pandangin dan ngbaca sampul kasetnya, kemudian memutarnya diwalkman, idupin motor..gunjreng…gunjreng.. dan keliling kota, dengerin musik dari kaset yang baru dibeli.

Akan begitu, kalau kaset yang dibeli, musiknya enak dan sesuai selera. Lain ceritanya kalau yg dibeli ternyata ngga sesuai selera pendengaran….caci maki seluruh isi kebun binatang….penyesalan diri karena salah pilih…ketipu dengan sampul yang menggoda. Yah..seperti itulah yang sering saya alami sebagai pengalaman beli kaset..khususnya kaset dari band yang saya ngga kenal sebelumnya. Jaman itu mana ada wiki dan gugel…ditambah lagi..toko kasetnya ngga boleh coba dulu. Andalan utama saya untuk menentukan beli atau ngga, waktu itu adalah…gambar sampulnya….plus sdikit firasat. Seringnya sih…yang kebeli..emang enak dan pas dengan selera pendengaran.

Demikian juga saat saya pertama kali ketemu dan melihat gambar sampul kaset Dream theater Images and Words. Saya ngga kenal dan tdk punya informasi apapun tentang bandnya, tetapi saya sangat sangat terkesima dengan gambar sampulnya. Anak perempuan kecil dgn pakaian tidur, berdiri didepan tempat tidur bertiang yang sangat elegan dan klasik dengan kain tirai merah, pemandangan diluar jendela yang penuh bintang, sebentuk hati yang membara, seting ruangan layaknya istana, dan ada sejenis burung yang masuk melewati jendela. Waaah…ini pasti musiknya agak agak klasik orkestra (saya bener bener ngga tau DT itu musiknya gimana). Kemudian ngliat logo bandnya..dream theater…waaah paslah…tambah lagi judulnya..images and words….mantab punya ini!…..Bungkuuss!

Setelah saya denger….saya suka…musiknya keras, gitarnya tajam dan ngulik ngulik, drumnya rapat rapat dan dahsat..terlebih bass drumnya…guduk..gudug..wuaaah! Kibordnya….bukaaan maiiiin…..pas banget dengan yg saya suka. Nah…waktu denger vokalnya….gilaaa…kok ada yang teriakannya sejernih ini….mantap..pilihan saya ngga salah! ….. Cuma aja..di lagu kedua, halaaahh…kok ada suara seksoponnya? Trus setelah dibaca sampul kasetnya, liriknya….images and words itu maksudnya apa? Kok ngga ada lagu yg nyinggung nyinggung itu? Ngga ada lagu yg judulnya begitu..kan biasanya judul album seringnya diambil dari salah satu judul lagunya. Oh mungkin, images and words adalah temanya, kali?

Begitulah, pertanyaan yang nempel dibenak saya saat pertama sekali berkenalan dgn DT. Dan beberapa hari yg lalu, karena banyak waktu luang, saya nyari nyari tau untuk memuaskan ketidak mudengan saya tersebut. Saya dapetin beberapa informasi yang sdikit banyak cukup memuaskan saya….dan saya yakin temen temen pasti juga sudah pada tau…lebih awal ktimbang saya… Anggap aja, ini sekedar ripresing lah!

Jadi, listen to me, just hear me out.

Setelah berpisah dgn vokalis kedua, Charlie Dominici (yg bikin logo majesty), ternyata butuh hampir dua tahun, baru menemukan vokalis baru, Kevin LaBrie. Dua tahun itu diisi oleh Petrucci cs untuk tetap terus membuat aransemen musik. Tentu hasilnya banyak buanget yang mereka hasilkan, cukup untuk stok beberapa album kedepan. Karena belum nemuin vokalis yg cocok, jadi aransemennya hanya musik instrumental…tanpa vokal.

Setelah LaBrie ikut dan lewat audisi, (kemudian LaBrie memakai nama tengahnya, James, spy ngga ketuker dgn Kevin Moore) judul dan liriknya dibikin untuk masing masing aransemen. Hampir seluruh aransemennya diimbuhi vokal LaBrie, yang memang mereka akui sangat luar biasa…melebihi yg mereka harapkan. LaBrie memberi karakter khusus untuk Dream Theater.

Selanjutnya adalah, menyeleksi dari sekian banyak aransemen yg sudah diisi vokal, yang mana yang akan tidak dipakai. Bukan urusan mudah ini. Hasilnya, kita sudah tahu sama sama. Beberapa lagu terpilih untuk dipaketin di bakal album kedua ini, beberapa lainnya, masuk dijadikan material album berikutnya dan berikutnya lagi. Tugas LaBrie..hanya nyanyi.

Dalam proses penyusunan album ini, awalnya mereka ingin menaruh Another day diurutan pertama untuk dirilis sebagai single, tetapi kemudian batal, mengingat kejadian tidak menguntungkan yg menimpa band Extreme, yang ngetop, lagu baladnya..padahal mereka bukan band spesialis balad. Kemudian diputuskanlah Pull me under yg menjadi single pertama dirilis….dan sukses….berikut juga editing kreatif yaitu dengan menyetop lagu begitu saja.

Dream theater bernaung dibawah label East West Record, diproduseri oleh David Prater, dan meraka melakukan rekaman di Bear Track Studio….yang dimiliki oleh Jay Beckenstein, pemain seksoponnya Spiro gyra…..itulah kenapa di Another day ada nyelip suara seksopon….

Jadi, mungkin karena mereka awalnya memang sudah menyiapkan cukup banyak materi aransemen musik…layaknya kolase guntingan guntingan gambar….sementara lirik, judul lagunya dan vokalnya baru kemudian hari dibikin, bisa jadi kemudian mereka menamakan albumnya dgn judul Images and words. Begitulah kurang lebihnya…

Terima kasih.

Khalil Logomotif

Listen To Me, Just Hear Me Out (4)

June 20, 2014

Khalil Logomotif

image

Kembali lagi kejaman sma, saat pertama denger Yes, Close to the edge…..hasilnya…Pusiiiing yang berkepanjangan! Banyak pertanyaan muncul dikepala. Terutama mengenai, kenapa lagunya kok puanjang banget.

Trus, kenapa penyanyinya (Jon Anderson) bukan seperti sedang nyanyi, tetapi lebih seperti sedang membaca puisi atau lebih tepatnya baca mantra…dibaca cepet cepet, dengan irama yang relatif datar dan serupa…hanya diujung ujungnya aja, sedikit berirama. Ini sih baca mantra yang diiringi musik rock campur musik klasik pakai organ gereja. Kesan saya ini diperkuat dengan ada penggalan lirik atau bait yang terus diulang ulang, dari awal lagu, tengah, sampai akhir lagu…. I get up, i get down….aku naik, aku turun…diulang ulang. Juga banyak banget mengulang ngulang kata river…down at the end, close by a river….close to the edge, round by a corner….diperkuat dengan suara gemericik air sungai mengalir dan kicauan burung diawal dan akhir lagu. Sebenarnya, lagu ini mau nyeritain apa?

Saat itu saya mengartikan close to the edge adalah hampir ditepian. Saya jadi menebak nebak….tepiannya tepian apa? Jurang? Langit? Ruang angkasa? Tepian laut? Atau bantaran kali? Masak lagu sepanjang itu, ceritanya tentang bantaran kali?. Kebingungan saya bertambah…. Sebab di sampul kasetnya, hanya warna hijau daun bergradasi gelap dibagian atasnya. Terkesan mistis dan menghipnotif. Kalau memang tentang bantaran kali, seharusnya warna biru atau coklat atau apa gitu selain hijau, yg lebih mirip dengan air sungai. Tulisan judul albumnya justru ditengah atas, bukan diujung (the edge)…padahal judul albumnya..hampir ditepian! Seharusnya tulisannya berada diujung dong! Bukan ditengah!

Kurang lebih, begitulah kebingungan saya waktu itu….maklum..tarafnya masih sma. Karena terpaan tulisan Yes yg bertubi tubi dari koh Win, beberapa waktu yg lalu, saya baca baca dibeberapa situs dan blog, untuk dapetin jawaban atas kebingungan dan ketidak mudengan saya atas close to the edge…..dan sedikit banyak, saya mendapatkan pemahaman.

Jadi, listen to me, just hear me out.

Semua situs dan blog yg membahas close to the edge, baik mengenai musiknya maupun interprestasi liriknya, memberikan informasi yg kurang lebih sama, yaitu….kagak usah dipikiriiiinn! Dengerin aja udah, kalau suka, diulang, kalau kagak, ya dibuang…atau umpanin kucing! Bahasa sopannya, yang diceritakan Jon adalah poetic nonsense…ngga akan masuk diakal…cuma dia seorang yang paham…halaaahh..Jon..Jon! Memang begitu adanya, kalau mau paham, sepertinya harus kembali ke era album itu dikeluarkan, kembali ketahun 1972. Saya jelas ngga tau bagaimana kondisi ditahun itu, lah sayanya baru lahir.

Yes mengeluarkan debut albumnya, pas sehari setelah peluncuran Apollo 11. Close to the edge diluncurkan tiga bulanan sebelum peluncuran Apollo 17, yg adalah perjalanan terakhir ke bulan. Jaman itu adalah jaman penaklukan ruang angkasa, space age era, jaman eksplorasi, jaman fantasi sayen fiksi…..lsd juga! Jaman itu juga jamannya perang vietnam, feminimisme, hak azazi dan hippis (berbau india, sitar, yoga, ganja, baju bunga celana katbrei dan ajaran spiritual berdasarkan budha/hindu). Kalau ditambah semuanya, jaman itu adalah jaman progressive. Begitu katanya. Jadi, close to the edge lahir dikondisi jaman yg seperti itu, jaman proggresif.

Jon sangat tertarik pada ajaran spiritiual budha/hindu (dan mendakwahkannya kepada temen temennya, bahkan ngakunya bisa masuk kedimensi ke 4), sastra puisi dan mantra mantra, mimpi besar serta dominasi. Jon memakai karangan Herman Hesse, siddhartha (semua juga sudah tahu ini kan), sebagai tema pembuatan lagunya, mengenai keterbaharuan, perputaran hidup, awal adalah akhir, akhir adalah awal (terlihat dari awal lagu akan sama dgn akhir lagu, baik lirik dan musiknya). Dengernya sih, bandmate yg lain ngga mudeng dgn ide begituan, cuma ngekor aja, patuh sama komando dan dominasi Jon….yang penting bisa genjreng aja…udah…soal liriknya cerita apa…sebodowae (terbukti dengan beberapa dari mereka yang keluar dan pindah ke band lain, atau solo, karena ngga betah jadi band pengiring Jon, ribetnya proses penulisan lagu dan musik, dan tentunya dominasi yg berlebihan). Jangankan kita, mereka aja ngga ada yang tau apa arti Khatru…siberian kathru…kata Jon, ngga penting artinya, yang penting enak didenger. Memang kalau dipikir pikir, semua segmen lagu dibangun dengan gaya musik yg tidak sama dari para pemusiknya, gitarnya rock, bassnya jazz, kibordnya klasik, drumnya rock campur jazz…..diadon menjadi satu adonan aransemen yang seperti kita denger dan kagumi selama ini. Semua adalah karya komposisi Eddy Offord produser sekaligus enginer suara Yes, yang menyambung nyambung penggalan fragmen rekaman pita permainan musik masing masing Yesman sesuai arahan Jon, menjadi satu aransemen utuh yang menakjubkan….kemudian diimbuhi vokal, jadi musiknya dulu disusun, baru setelah tersusun, Jon nyanyi mengisi vokalnya. Itu maunya Jon. Mungkin kalau jaman itu sudah ada aplikasi garage band nya Mac, kerjaan Eddy jadi jauh lebih mudah…tinggal rekam…selanjutnya copy and paste! Mudah banget. Ngga perlu ngumpulin potongan potongan gulugan pita.

Okey, kembali ke Jon. Setelah sukses fragile, Jon ingin yg lebih spektakuler, lebih mengawang ngawang (lebih nonsense). Jon terpikir untuk menceritakan pengalaman perjalanan yg dia tempuh sewaktu dia mimpi. Perjalanan dari hidup ke mati. Perjalanan itu diasosiasikan dengan aliran air sungai (makanya ada suara gemericik air sungai dan cicicuit burung) yang bergerak turun menuju laut, kemudian naik lagi (penguapan) kemudian turun lagi sebagai hujan, memenuhi sungai…kemudian mengalir lagi. Sebuah perputaran. Logikanya, untuk naik, maka harus turun dulu..dan untuk turun, maka harus naik dulu….lah iyalah!

Jon memang agak beda dibanding yang lainnya. Dari logat bicaranya saja sudah beda, aksen inggris jadulnya sulit dipahami oleh yang lainnya. Jon berasal dari Lancashire, dan kalau bicara, logatnya ya logat lancashire yg relatif beda dalam pengucapan kata katanya. Misalnya, kata old bacanya owd. Jadi kalau ngomong, susah dimengerti. Jon juga menghilangkan huruf h dari namanya, saat sudah dewasa. Juga sangat tertarik dengan fantasi mistis…drug…sudah pastilah. Anutannya juga beda, Jon menganut aliran syncretic, sejenis aliran yang mencampur aduk beberapa ajaran agama. Makanya, novel siddharta jadi tema close to the edge, dan kemudian buku authobiographi of a yogi menjadi dasar tema album tales from topographic oceans.

Karena saya ngga bisa ngerti liriknya, maka close to the edge itu sebenernya dipinggiran apa, saya ngga dapat jawabannya….mungkin memang ngga ada jawabannya. Close to the edge itu sendiri sebagai ungkapan, bisa diartikan sebagai..hampir aja ngerjain suatu yang ngga bener. Jadi menurut saya, dari pada jadi close to the edge…mending dengerin aja ngaungan hammond wakeman….atau gitaran howe…atau dentuman brufford dan betotan squire…..peduli amat sama apa yg dinyanyiin Jon the napoleon.

Baiklah, sekarang kaver artnya.

Ternyata, Roger Dean rada kecewa dengan garapan ilustrasi album sebelumnya, sebab banyak yang ngirain bahwa Fragile itu adalah buku cerita ketimbang album musik. Maka dirubahlah semuanya. Sama sekali tidak menampilkan objek. Hanya warna….warna hijau bergradasi hitam. Selain itu, Dean juga meng retouch logo Yes menjadi bentuk yang lebih menarik..seperti yang sekarang ini….huruf balon. Logo retouch itu, diperkenalkan pertama sekali di album ini, diletakkan dibawah tulisan judul album, sama seperti saat di album fragile. Nah supaya logonya dominan dan lebih terekpos, maka tidak ditambahkan gambar objek apapun, hanya warna saja sebagai latar belakang. Ilustrasinya, ditampilkan dibagian dalam sampul. Kurang lebih temanya adalah mengenai close to the edge…hamparan air sperti danau, laguna atau billabong, ada juga air terjunnya…yang terletak diatas sebuah puncak atau pecahan gunung batu yang tinggi menembus awan, seperti danau dikalderon gunung api, didominasi warna hijau kartesu dan biru….100%khayalan nonsense…. Mana ada landscape seperti itu! Katanya Dean sangat terpengaruh dan terinspirasi dengan lukisan cina yg memakai tinta dan cat waterbase. Menurut saya, kaver dari band amerika, Kansas point of know return, jauh lebih tepat untuk album Yes ini.

Jadi, yaaaahhh…begitulah. Ngga usah repot mau tau album itu ceritanya apa, cukup nikmati permainan musik yang teramat canggih dari Yes (tentu selain Jon)…..terkadang, saya berpikir, kalau saja Siberian Khatru hanya musik tanpa vokal…waduuuuhhh….bakal bagus banget….ada rocknya, simponicnya, klasiknya dan…ada jazznya..bahkan kental banget.

Dulu saya juga pernah bertanya tanya, kenapa album Dream Theater judulnya Images and Words..gambar dan kata? ….kok ada suara seksoponnya di Another day…..kan band progmetal? kok pake seksopon kaya Kenny G? Bukannya seharusnya pake suling?

Khalil Logomotif

Listen to Me, Just Hear Me Out (3)

June 19, 2014

Khalil Logomotif

image

Buat saya, Thick as a brick Jethro Tull, adalah album paling aneh, mengejutkan dan hueboh! Bayangkan, di saat saya sedang gandrung gandrungnya denger rod stiward dan sejenisnya….tiba tiba saya dihadapkan dengan sebuah kaset yang satu album, dua side kaset, isinya cuma satu lagu! Judul lagunya ya judul albumnya! Gimana mau disiulin…very very unsiulable!

Saya pertama denger album ini, juga waktu sma, hasil minjem punya sepupu yg waktu itu sudah kuliah, bahkan hampir wisuda. Waktu itu, saya pikir, apa mereka yg dewasa itu, musiknya yg aneh aneh seperti ini, baru disebut hebat?….taraf ke sma an saya tetep ngga bisa terima….apanya yg hebat? Itusih namanya ngga kreatip…bertele tele. Waktu itu juga, saya pikir thick as a brick artinya adalah setebal bata….menunjukkan suatu yg kuat dan susah ditembus.

Disisi lain, kaver art disampul kasetnya, seperti lembaran depan surat kabar, St. Cleve Cronicle, dgn gambar tajuknya adalah seorang anak kecil yg mukanya cemberut, pake kacamata berambut poni…pasti ini sejenis nerd!….sedang dirangkul dan dihadiahi secarik kertas oleh seorang bapak tua, sepertinya guru atau pejabat. Dilatar belakang ada gambar ibu ibu dan disamping ada gambar seorang gadis yg wajahnya juga cemberut, dan agak agaknya, roknya kependekan sehingga sedikit kliatan isi dalamnya. Apa artinya ini?

Nah, di headline nya, ditulis bahwa juri juri mendiskualifikasi si kecil Milton. Oke…waktu itu saya pikir, si anak kecil cemberut itu pastilah Milton, yg sedang ikut suatu perlombaan (ternyata lomba tulis puisi), menang jadi juara satu, tetapi kemudian dibatalkan….wajar aja dia cemberut. Dan gadis yg dibelakangnya, mungkin kakaknya…yg juga ikut cemberut karena adiknya ngga jadi menang.

Lalu, apa hubungannya dengan thick as a brick? Ketidak mudengan saya ini sudah lama nempel, dan akhirnya kemarin saya dapetin jawabannya…setelah blog walking kemana mana.

Jadi, listen to me, just hear me out.

Kalau dulu saya artiin sebagai setebal bata, sebenernay Thick as a brick kurang lebih artinya adalah ungkapan terhadap kebebalan, kebegoan, ngga sanggup mikir atau lemot. Berarti, JT menceritakan dengan panjang lebar mengenai suatu kedunguan. Diceritakan bahwa, sikecil Milton (lengkapnya Gerarl Bostock) ikut perlombaan puisi. Puisinya menang, jadi juara satu, sungguh luar biasa, padahal dia baru 8 tahun. Tetapi, kemudian diprotes, karena isi puisinya ada menyebut bahasa kotor yg dianggap tidak pantas dan tidak boleh diucapkan dalam puisi…apalagi yg nulis anak usia delapan tahun. Kemudian kemenangannya dibatalkan. Nah..semua isi puisi Milton itu, kemudian diadaptasi oleh JT untuk menjadi tema album konsep JT , jadi thick as a brick adalah adaptasi dari puisi Milton tersebut.

Tetapi….ternyata? Semua itu, mulai dari sikecil Milton, kompetisi puisi, puisi yg diprotes, juri juri, kemenangan yg dibatalkan, bahkan surat kabarnya….semuanya adalah palsu belaka…karang karangan belaka…hanya lelucon tipu tipuan pura puraan. 100persen dagelan. Jadi..kalau album konsep ini berasal dari adaptasi puisi Milton…berarti seluruhnya hanya karang karangan belaka…atau bisa dibilang sebagai album konsep yang tidak berkonsep….ngga lebih dari pada..lelucon…dagelan. Menurut hemat saya ini artinya adalah….menciplak yang palsu…sudah ciplakan..palsu pulak. Kalau percaya itu asli…bearti thick as a brick!

Kenapa bisa begini ceritanya?

Ini semua berawal dari ketidak senangan Anderson terhadap penyimpulan pengamat musik, bahwa Aqualung (album sukses sebelumnya) adalah musik progresive dan adalah sebuah album konsep. Padahal saat itu, Anderson meyakinkan dan menyampaikan bahwa musik dari bandnya lebih mengusung blues rock, folk dan jazz, ketimbang prog….dan bukan album konsep…yg diera itu, album konsep menjadi ukuran prog tidak prognya sebuah band. Dan menurut saya, memang benar begitu adanya, sesulit apapun komposisinya, ditukik dan ditikung…rasa folk music nya masih tetap tebal dan nyaring bisa dirasakan. Mungkin untuk melampiaskan kegundahannya, kekesalan terhadap salah paham itu, Anderson berniat akan kasi pelajaran, biar nyahok… bikin sebuah album yang akan dikira bener bener sebuah album konsep….induk dari segala album konsep….satu album…satu lagu…titik. Maka lahirlah thick as a brick. Yang, sekarang, kalau saya artikan, kurang lebih Anderson bilang begini..dasar dungu! Kalau mau album konsep….yang lagunya panjang nyambung menyambung…nih saya kasi satu album satu lagu…biangnya album konsep…kurang apa lagi. Atau bisa juga begini…Begitu aja kok susah banget mikirnya…dasar dungu! Kok ya ngga bisa ngbedain yg mana konsep yang mana ngga konsep. Son..son..nih dengerin dagelan dari kami! …begitulah kira kira.

Lantas kemudian, Thick as a brick, digambarkan sebagai sebuah aransemen musik yang berdasarkan sebuah konsep, konsep itu berasal dari sebuah kejadian nyata yang terjadi…kejadian faktual yang terekam dan terdokumentasi dalam berita surat kabar. Memang, dalam penyajiannya, album ini dilengkapi dengan banyak properti visual yang sekonyong konyong mengarahkan kita untuk menganggap ini semua adalah sebuah tema, sebuah konsep, asli, true story, bukan karang karangan, bukan dagelan, bukan khayalan. Surat kabarnya dibikin seasli mungkin, bahkan lengkap dengan tts dan kolom sambung sambung titik untuk anak anak. Beritanya juga dibikin seolah olah berita beneran. Kemudian belakangan hari, lebih parah lagi..ada gosip mengenai gadis di foto yg mukanya cemberut, cemberutnya karena minta pertanggung jawaban kepada Milton, atas…..kehamilannya! Ya ampun….bener bener deh. Mungkin kalau jaman sekarang…upaya Anderson ini disebut dengan viral marketing.

Isi lagu yg disampaikan dalam album ini, yang katanya dari adaptasi puisi Milton, secara singkat dapat disimpulkan mengenai seorang anak yg galau untuk menentukan cita citanya, mana yang ingin dijalani dan ditempuh, apakah jadi tentara, jadi seniman atau jadi apa.

Saya masih tetep ngga mudeng….tetapi dari sedikit informasi dan cerita dibalik layar yg saya dapetin, sudah bisa menjawab pertanyaan…kenapa satu album satu lagu….ternyata hanya untuk lelucon belaka….lelucon mengenai album konsep. Dagelan Jethro Tull.

Berikutnya….album Close to the edge. Sebenarnya dipinggir apa? Dipinggir jurang?…terus…i get up..i get down?

Khalil Logomotif

Musik Yes Di Ambang Senja (10 of 10)

June 18, 2014

Herwinto

image

Horeee….. Yes Merilis Album Baru !!………

Alhamdulillah di usianya yang sudah semakin udzur Steve Howe dan kawan kawan masih berusaha memberikan sumbangan karya mereka untuk membahagiakan para penggemarnya….Heaven And Earth…inilah album terbaru mereka yang akan dirilis bulan Juli mendatang. Saya berharap album ini benar benar bagus dan tidak mengecewakan. Berbeda dengan Fly From Here yang merupakan bahan bahan lama bersama The Buggles, kali ini Heaven And Earth adalah materi asli Yes bersama vokalis muda Jon Davison yang tahun lalu konser di Indonesia juga.

Heaven And Earth menurut Steve Howe adalah konsep ‘Baik dan Buruk’ atau ‘Kekal dan Sementara’ jadi ini menggambarkan tentang dunia yang serba fisik dan kehidupan baru yang bersifat abstrak. Tidak peduli dengan konsep keyakinan apa yang Anda anut namun hanya dibutuhkan kesadaran bahwa terdapat kehidupan diluar sana yang kita belum bisa merasakannya sekarang bahkan belum pernah dibayangkan sebelumnya.

Jon Davison digambarkan oleh Howe sebagai seorang penulis lagu dan lirik yang excellent, kontribusinya sangat besar dalam hal menulis lagu maupun lirik, tidak seperti Benoit David yang tak becus menulis lagu sehingga Trevor Horn harus turun tangan pada Fly From Here. Untuk membuat album ini bahkan Jon Davison pun harus mengunjungi keempat personil Yes satu persatu untuk bersama sama berkarya secara terpisah, ‘Saya harus mengenal seorang demi seorang dari mereka dengan baik untuk menyusun komposisi lagu bersama mereka’, ungkapnya. Howe juga menyatakan bahwa pada album ini tak ada nomor epic yang biasanya panjang panjang, sebenarnya ada nomor epic yang mereka punyai namun sebuah album tidaklah harus memiliki durasi waktu yang panjang tetapi lebih kepada cita rasa yang dimilikinya, Jon juga mengungkapkan bahwa ada nomor epic yang dia sebut sebagai ‘A Big Prog Pieces’ namun waktu yang sangat terbatas karena tour tour yang panjang membuatnya belum bisa menyelesaikannya, mungkin untuk album berikutnya saja, tuturnya. Howe mengungkapkan bahwa album ini memiliki harapan dan kesegaran baru, Semoga!! dan inilah yang kita tunggu tunggu…harapan dan kesegaran baru!!

Track List
Believe Again 8.02
The Game 6.51
Step Beyond 5.34
To Ascend 4.43
In A World Of Our Own 5.20
Light Of The Ages 7.41
It Was All We Knew 4.13
Subway Walls 9.03

—-

Rick Wakeman “Golé”

June 17, 2014

Santo

image

Mumpung lagi ada event Piala Dunia di Brazil, ternyata empu keyboardis Rick Wakeman pernah terlibat di perhelatan besar sepakbola yang diadakan tiap 4 tahun sekali itu, pada saat itu tempatnya di Spanyol tahun 1982 (Espana 82). Piala dunia spanyol punya kenangan sendiri bagi saya waktu SD karena itu merupakan piala dunia yang saya ikuti nonton maupun beritanya dimana saat itu juara dunianya adalah Itali setelah mengalahkan Jerman 3-1, masih inget dulu Itali ada rossi, gentile, kalo jerman ada rummenigge, brasil ada zico, . Juga ada momen penting kalo ga salah karena ada perang Malvinas, muncul sentimen antara argentina dan inggris (wah koq jadi ngomongin bola dan perang sori ya mas) jadi album ini merupakan bagian dari dokumenter dari FIFA releasenya juga setelah piala dunia (juni sd Juli) usai yaitu Nopember 1984, ada narrasinya oleh aktor Sean Connery, dulu saya pernah punya kaset yessnya tapi udah hilang

ini ada review dari allmusic.com http://www.allmusic.com/album/gole!-mw0000453063

Review by Paul Collins The soundtrack to the official film of the 1983 World Cup — and for a man who also wears a Philadelphia Flyers jersey under his cape, composing a sports-themed album isn’t quite as strange as it might seem. G’ole! finds Wakeman experimenting again with the staccato rhythms and percussion of “White Rock,” and overlaying this with the broad synth strokes that he developed on “Rhapsodies.” The results vary wildly: the music-box chintz of “Latin Reel” sounds better suited to an FAO Schwarz Christmas display. But while it often lacks the virtuosity of his earlier work, Wakeman still kicks a few goals in. “International Flag” has a rousing appeal, as does the title track that closes the album. On “Wayward Spirit,” the combination of trilly piano, stately chimes, and oscillating Moogs hearken back to the more nuanced work that he’d accomplished so effortlessly just a few years before.

Pesan TFK lewat “What If God Is Alone”

June 12, 2014

Herwinto

 

Mumpung sebentar lagi Ramadhan tiba, marilah kita rehat sejenak untuk merenung, apa yang sudah kita lakukan setahun ini pasca ramadhan tahun lalu, untuk selanjutnya kita bersiap menyambut bulan ramadhan yang sudah di ambang pintu.
Ketika menikmati Paradox Hotel ada sebuah lagu yang sederhana namun sujsungguh indah, What If God Is Alone….yang kalau diterjemahkan artinya Bagaimana Jika Tuhan Sendirian….cara Stolt menyanyikannya benar benar bikin saya ngguweblak..blak..blaak…dia membuka lagu dengan vokal yang lirih…namun luar biasa!!
Lagu ini menurut saya sebenarnya sebuah paradox…artinya sebuah sindiran bahwa kita tak mungkin sendiri, kita sangat kecil dan lemah sehingga butuh orang lain dan tentu saja butuh kasih Tuhan…namun dituangkan dalam judul Bagaimana Jika Tuhan Sendirian? ya tidak apa apa…karena Tuhan Maha Kuasa…tidak butuh siapa siapa. Justru kita lah yang butuh siapa siapa, kita butuh Tuhan ketika kita sakit, ketika kita lapar, ketika kita sedih. Namun kenyataannya dalam kehidupan kita sehari hari kita sering  seakan akan menjadi manusia yang serba berkuasa, serba mumpuni, tak butuh kehadiran Tuhan, tak pernah melibatkan Tuhan…semoga menjelang ramadhan ini kita kembali sadar bahwa kita membutuhkan Tuhan dalam kehidupan kita.
Yang membuat saya benar benar menangis adalah dua baris pertama pada bait ketiga, What if God is at your door, but you leave Him standing in the cold….saya benar benar tertohok dengan lirik ini….”bagaimana jika Tuhan hadir di depan pintu, namun engkau meninggalkannya dalam dingin”…..saudaraku…. tahukan anda bahwa Tuhan benar benar hadir didepan pintu rumah kita? sungguh ini terjadi setiap malam…setiap malam Tuhan turun ke langit dunia untuk mencari kita…dimanakah hamba Ku yang memohon ampun, dimanakah hambaKu yang berdoa kepadaKu? Aku pasti mengampuninya, Aku pasti mengabulkan doanya!! Itulah Allah Tuhan kita yang dengan kasih sayangNya, setia setiap hari membuka tanganNya untuk kita…..tak pernah absen…tak pernah letih, tak pernah ketiduran….namun kita, mungkin malah asyik bersembunyi dibalik selimut kita dan lupa bahwa Tuhan sedang mengunjungi kita…Subhanallah!! kita biarkan Tuhan kecele karena kita malah asyik mendengkur….dan Tuhan kita biarkan ”kedinginan”….Astaghfirullah!!!

Bait pertama baris ketiga,empat dan lima, What if i’m feeling small, i need someone to look up to, in this day and this age….saya memahami tafsirnya adalah kita ini sangat kecil dan lemah dan kita butuh sahabat untuk saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran…kita tidak bisa sendirian…inilah pentingnya sholat berjamaah…mendidik kita untuk mengenal kawan kita dengan segala keadaannya…

Bait ketiga baris ketujuh dan delapan, You know love can turn cold, and leave your heart with emptyness, cinta memang bisa berubah drastis menjadi benci…sehingga hati kita menjadi hampa, maka cinta tertinggi hanyalah untuk Tuhan, karena cinta dari Tuhan tak akan membuat hati kita menjadi kosong dan merana…cintailah segala sesuatu karena Allah…dan bencilah segala sesuatu juga karena Allah…inilah cinta yang tidak akan pernah berubah menjadi dingin….

Bait kelima baris ketiga dan keempat, Whai if god hear my call, all my weariness be put to rest….jika kita telah menjadi pribadi yang dicintaiNya, maka jika kita mengadu kepada Tuhan atas semua persoalan kita, Dia sungguh mendengarkan keluh kesah kita dan akan digantinya kesulitan kita dengan segala kemudahan, dihapuslah segala keletihan kita.

Dan akhirnya…..I can see beyond time, I can love beyond words, I can shine beyond suns, I can dream beyond worlds, I can live , I can die…but it all means the same….saya dapat melihat melampaui waktu, saya dapat mencintai melebihi ucapan saya, saya dapat bersinar melampaui matahari, saya dapat bermimpi melampaui dunia, karena saya bersama Allah Tuhan kita….saya dapat hidup dan saya dapat pula mati…namun itu semua tak ada bedanya…karena kematian adalah kehidupan…..

Luar biasa!! inilah pesan pesan The Flower Kings untuk kita semua…jujur, lagu ini selama satu minggu ini saya putar terus setiap hari….

 

Van Halen “Diver Down”

June 7, 2014

Andria Sonhedi

image

(more…)

Dahzyatnya The Flower Kings (7 of 15)

June 4, 2014

Herwinto

Banks Of Eden….Bukti Musik Prog Makin Berjaya!

image

Mungkin ini bisa disebut salah satu karya terbaik TFK, salah satu nomor di album ini yang paling menohok adalah track pertamanya..Number berdurasi 25.20 menit, merupakan karya yang benar benar sulit dicari tandingannya. Berbeda dengan mas Gatot yang langsung ngguweblak ketika mendengar pertama kali, saya justru baru bisa menyadari kedahzyatan Number ini setelah lebih dari 10 kali spin. Awalnya saya mendengar Number ini malah pusing duluan, gak paham saya apa maksudnya..ha ha ha…tapi saya gak menyerah sebab saya sadar beginilah menikmati musik prog, kalau sudah menyerah di spin pertama maka itu pertanda kiamat….he he…maka saya terus putar meski sulit, berkali kali saya putar dengan konsentrasi tingkat tinggi..sampailah saya pada spin yang mungkin ke sekian belas…di suatu siang saya sendirian dikamar saya putar Number ini dengan kenceng….tiba tiba saya merasakan sebuah keindahan yang luar biasa…benar!! saya sudah kena sekarang!! Luar biasa!! ini benar benar track yang sungguh excellent!! komposisi yang benar benar menohok, prog abiz….dan percaya tidak? sejak siang itu saya berkali kali rindu dengan Number…lengket terus, gak ada bosan bosannya.

image

Maka kepada warga blog ini, saya himbau, jangan terlalu ‘pede’ menikmati prog…ha ha ha…artinya belum tentu kita langsung kena di spin – spin awal…arti lainnya jangan menyerah ketika kita belum bisa menikmatinya!! Sebab begitu sudah kena biasanya sulit melepaskan diri….

Album ini dirilis pada tahun 2012, sebuah bukti bahwa saat sekarang yang sudah sangat jauh dari era 70 an masih ada album sedahzyat ini, yang sekaligus sebagai bukti gak ada matinya musik prog!! malah semakin berjaya…Bravo, Mr Stolt!!….dibuka dengan epic Number selanjutnya disusul dengan For The Love Of Gold 7.30 sebuah komposisi yang amat keren dengan suara kibor yang mirip Mr Wakeman amat saya sukai, Pandemonium 6.05 adalah track yang sungguh mengagumkan penuh lika liku prog yang menawan.

For Those About To Drown 6.30 mengingatkan jenis musik TFK di masa masa awal ketika mereka menciptakan The Flower King (tanpa S), sungguh indah sekali. Rising The Imperial 7.40 adalah nomor indah sebagai penutup album, mengandung unsur unsur blues pada gitar Stolt. Terdapat beberapa nomor bonus yang keren semua namun saya paling suka Illuminati 6.20…Salam!!

Keenan Nasution “Di Batas Angan-angan” – Vinyl

June 3, 2014

Gatot Triono

Bang Keenan

-
CD Re Touich Keenan Nasution
Keenan Nasution akan segera merilis ulang album solonya ” Di Batas Angan Angan ” yg diproduksi tahum 1978,dimana dalam album ini menelurkan hits Nuansa Bening,yg liriknya dibuat oleh Dr Rudi Pekerti,dan juga lagu Negeriku Cintaku,yg liriknya sampai saat ini masih sangat relevan dengan keadaan negara kita saat ini.
Tapi yang paling sangat membanggakan saya adalah dipilihnya Mas GW untuk menulis tentang album ini,yg rencananya akan dibuat  buku,sebagai bonus,yg akan ada didalam Vinyl tersebut.Selain buku ada juga sebuah CD Re-Touch dari album Di Batas Angan Angan ini…
Salam Musik Indonesia.

T-shirt IQ “The Road of Bones”

May 23, 2014

Seneng banget setelah dua hari sibuk dengan workshop pada malam hari paket CD limited edition plus t shirt IQ saya terima ,  hand carried personally oleh teman baik dari London. Plus ada juga CD Mick Pointer Band.

Whooooaaaaa ….ngguwajak tenan!

image

-

image

-
Mbuoiiiiis tenaaan ….


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 141 other followers