Archive for the ‘Album Review’ Category

Firebird “Double Diamond”

April 16, 2014

Hippienov

Start counting down to jam pulang dari rutinitas kantor, aku sempatkan menulis sedikit cerita tentang Firebird, sebuah band blues rock atau ada juga yang menyebut stoner rock dari Inggris danfirebird-front bisa disebut supergroup karena 3 anggotanya berasal dari band-band yang sudah cukup terkenal di dunia musik, bedanya adalah warna musik Firebird sangat jauh dengan genre band asal tiap member Firebird.

Firebird dibentuk oleh Bill Steer (guitars & vocals) dan untuk penggemar metal nama Bill Steer tentunya gak asing lagi, ya… Bill Steer lebih dulu dikenal sebagai salah satu member awal group grindcore Napalm Death (era album Scum) dan band death metal Carcass. Sekitar tahun 1999 Bill Steer yang sepertinya sedang jenuh dengan Carcass membentuk sebuah band sebagai side-projectnya dan uniknya dia membentuk band yang sama sekali gak ada hubungannya dengan death-metal atau grindcore tapi malah membentuk sebuah band beraliran “retro” blues rock yang berkiblat pada band-band era 70an seperti Cream, Led Zeppelin, Jimi Hendrix, Grand Funk, Savoy Brown, Humble Pie dan nama-nama besar lainnya di era 70an. Tidak ada suara vokal growls di Firebird, pun tidak ada dentuman double bass drum super cepat serta sayatan guitar atau raungan guitar maut ala grindcore/death metal yang selama ini jadi ciri Bill Steer. Semua diganti dengan permainan guitar bernuansa blues rock 70an, bahkan sound drums dan yang lainnya di-mix sangat 70s. Model pakaian Bill Steer pun dan rekan-rekannya juga seperti layaknya musisi era hippies 70an. Musik Firebird seperti membawa pendengarnya kembali ke era “generasi bunga” dan sepertinya hal ini berhasil dilakukan Bill Steer dan kawan-kawannya lewat Firebird.

Logo band ini mengingatkanku pada cover album Grand Funk Railroad-Phoenix dan bisa jadi Bill Steer termotivasi dengan GFR. Formasi terakhir Firebird adalah: Bill Steer (guitars/vocals) from Carcass Ludwig Witt (drums) from Spiritual Beggars Greyum Mas (bass) from The Black Hand

Untuk beberapa fans yang terbiasa dengan Bill Steer di Napalm Death atau Carcass, Firebird boleh jadi bentuk “blasphemy” Bill terhadap genre musik yang telah membesarkan namanya tapi bagiku yang juga mengenal Bill Steer lewat Napalm Death dan Carcass, Firebird adalah sebuah “progressive mind (seperti istilahnya Mas GW)” ala Bill Steer dan aku sangat suka. Bill mau mengambil resiko untuk melakukan sesuatu diluar mainstream dia meski dengan resiko ditinggalkan fans nya di genre metal.

Album Double Diamond merupakan album terakhir dan album perpisahan Firebird karena setelah firebird-backmerilis album ini dan touring, tahun 2011 lalu Bill Steer dan kawan-kawan lewat situs mereka menyatakan diri bubar. Sayang sekali padahal aku pribadi masih ingin menantikan album-album berikut dari group ini. Untuk di Indonesia sepertinya Firebird tidak terlau dikenal dan sejauh ini aku baru menemukan satu album mereka di Musik+ Sarinah yaitu “Hot Wings”, sedangkan album “double diamond” yang aku punya ini adalah hasil kopian dari teman-teman Metal Bleeding Corp Medan, itupun nyaris gak dapat karena album ini terselip diantara katalog album-album Carcass, kasian… ternyata Bill Steer sudah sangat melekat dengan citra death metal sampai-sampai Firebird yang blues rock 70an juga digabung ke death metal nya Carcass, hehehe…

Dari yang aku baca, banyak yang bilang album Hot Wings adalah album terbaik Firebird sedang Double Diamond dinilai kurang begitu bagus kalau dilihat dari standar labum-album Firebird sebelumnya. Tapi karena aku hanya punya album Double Diamond dan belum pernah dengar album-album lainnya, ya aku bialgn album ini keren, hehehe…

Check this out, comrades… Try it and who knows you will like it too…

Flight of the Firebird… hippienov

John Mayall “Selection” – TriStar

April 16, 2014

image

Selagi mas Kukuh dan mas Erick membahas bluuuuuuuues …. maka tret ini saya buka. Meski fotonya sudah lama di android saya dengan rencana mau membuat tret kaset ini,  namun kok waktunya belum sempet aja buat upload. Gara2 baca tret Blue Label saya jadi teringat kembali kaset rekaman TriStar ini. Nama perekamnya aja unik to? Makanya kaset ini saya beli karena faktor perekamnya,  faktor pita maxell nya dan juga karena John Mayall yang ngeblues itu …. Jangan2 kaset ini juga barang langka ya? Ha ha ha …. embuhlah …yang penting perasaan saya saat beli kaset ini di Blok M square perasaan saya terasa adem dan mak kemlenyes liat kaset inj ….so sexy and so nice …..the look is really great. Makanya saya sikat aja .. Andaikan perekamnya abal2 toh pitanya Maxell gitu loh! Pa lagi harganya super duper bersahabat tak lebih dari lima belas rebek. Mungkin juga cemban …saya lupa karena cukup bersahabat.

image

Lha kok jebulnya isi kasetnya juga mantab harapan jaya tenan ….baik dari musiknya maupun rekamannya. Musiknya kan tenti sudah pada tahulah ….John Mayall gitu loh …. setidak-enaknya lagu Mayall sekurangnya jauh lebih enak dari lagunya Cicha Koeswoyo “Heli …guk guk guk …kemari …guk guk guk …” ha ha ha ….jadul kumadul tenan …ha ha ha …..
Kebanyakan lagunya versi live dan memang mengasyikkan sekali … Pernah punya kaset Yess yang John Mayall “Jazz – Blues Fusion”? Ada lagu yang diambil dari kaset live tersebut,  bertajuk Mess Around. Memang John Mayall ini musisi blues yang handal dan konsisten mainnya. Solo harmonica disertai desahan vokalnya sungguh menawan. Makanya saya kerasan memutar kaset ini side A dan B secara penuh. Selain rekamannya bagus,  kualitas pitanya prima gama ray tenan …..! Wis …pokoke menderita kepuasan paripurna mendengarkan kaset ini. Dijamin njungkel kejlungup setelah menikmati kaset ini ….. JrèNg!

Dahzyatnya The Flower Kings (3 dari 15)

April 15, 2014

Herwinto

image

Flower Power Track 01

Bagi Anda yang tidak berjiwa prog jangan coba coba mendengarkan album ini karena pasti Anda akan lari terbirit birit, juga bagi Anda yang terlalu sibuk dengan pekerjaan sehingga mendengarkan musik hanya sambil lalu saja dijamin nggak akan dapat ‘soul’ nya album ini, di album yang bertajuk Flower Power ini memang Roine Stolt mengajak kita untuk secara totalitas menikmati album ini, jadi hati, pikiran dan waktu kita juga harus benar benar prog….bagaimana tidak??? lha wong di album ini baru track pembuka saja yaitu track 01 yang berjudul Garden Of Dreams waktunya sudah 59 menit 16 detik, edaaaaaan!!! itu baru track 01 padahal masih ada 14 track lagi….hwa ha ha ha ha…… ini album memang ngguwajak tenan!!

image

Garden Of Dreams ini terdiri dari 18 sub judul lagu, total durasi waktu album ini adalah 140 menit, sekitar 2 jam lebih 20 menit..sungguh melebihi durasi waktu Foxtrot nya Genesis maupun Topographic nya Yes. Pada tret kali ini saya bahas dulu saja track 01 sisanya di tret selanjutnya.

Menikmati lagu ini layaknya menikmati Suppers Ready ataupun The Lamb Lies Down yang merupakan potongan potongan segmen cerita yang menjadi satu kesatuan utuh, sungguh menikmati lagu ini merupakan sebuah pengalaman spiritual yang tak bisa dilukiskan dengan kata kata, syaratnya hanya satu!! yaitu konsentrasi, cari waktu yang hening, misal di malam hari dan nikmati dengan sungguh sungguh setiap segmen lagunya, ikuti saja seperti air mengalir…..sungguh keren, warna warni musiknya benar benar membuat kita terbang jauh menembus cakrawala tanpa batas…Salah satu kesukaan saya dalam mendengarkan musik adalah adanya suara gitar yang melodius (melodinya sungguh indah) dan suara kibor yang bersahut sahutan, dan ini ada serta saya temukan di The Flower Kings, pas sudah, memang musik mereka benar benar indah, salah satu nomor yang saya putar berulang ulang di lagu ini yaitu Sunny Lane kemudian nyambung ke Gardens Revisited melodinya sederhana namun benar benar mantab, sukar saya menjelaskannya, silahkan Anda mendengarkan sendiri deh..

Memang motor The Flower Kings terletak pada Roine Stolt yang permainan gitarnya mengaduk aduk emosi serta Thomas Bodin yang juga permainan kibornya nunjek ulu hati….. Musik telah banyak menyanyikan banyak fase dalam kehidupan kita, bahkan sampai pada hal yang tak terbayangkan -yakni sisi gelap kemanusiaan-, seperti yang sering kita jumpai pada kebanyakan musik metal, meskipun tak selalu demikian, tapi jika ada harapan terhadap musik sebagai penerang jalan menuju keadaan yang lebih baik tetap saja dapat dikatakan lebih banyak ilham yang bisa dieksplorasi dari segi segi yang sarat kegembiraan. Adalah Roine Stolt salah satu musisi masa kini yang sangat meyakini hal itu, dia memang tak dikenal di tataran populer atau mainstream, namanya tak banyak dikenal, walau demikian melalui kegiatan bermusiknya lewat band The Flower Kings yang dia bentuk di tahun 1994 dialah personifikasi yang tepat untuk dukungan terhadap ”kekuatan kekuatan baik”, ”cinta”, ”cahaya” dan ”kedamaian”. Mengapa hal itu penting? Keinginan Stolt sederhana saja, ”Saya ingin muncul sebagai alternatif bagi banjir musik metal masa kini yang cenderung destruktif, gelap dan jahat, hitam dan cenderung bunuh diri” ungkapnya dalam pengantar solo albumnya yang berjudul The Flower King yang menjadi fondasi pendirian The Flower Kings.

Waduuuh saya kok nglantur kemana mana nih, ha ha ha ini gara gara pengaruh Sunny Lane yang membuat pikiran saya terbang kemana mana juga…..saat ini saya baru sebatas menikmati musiknya saja, belum merambah ke pesan pesan yang terselip di lirik lirik lagunya, mungkin perlu waktu untuk mendalami pesan pesan di balik lagunya. Mungkin senior saya mas Khalil lebih menguasai tentang pesan pesan dibalik lagu lagu The Flower Kings.

Garden Of Dreams (59:16)
-Dawn
-Simple Song
-Business Vamp
-All You Can Save
-Attack Of The Monster Briefcase
-Mr Hope Goes To Wall Street
-Did I Tell You?
-Garden Of Dreams
-Dont Let The d’Evil In
-Love Is The Word
-There’s No Such Night
-The Mean Machine
-Dungeon Of The Deep
-Indian Summer
-Sunny Lane
-Gardens Revisited
-Shadowland
-The Final Deal

Cinderella “Night Songs”

April 15, 2014

Budi Putra

image

Cinderella salah satu band glam rock era 80-an yang albumnya sempat saya miliki. Hal ini berkat bujuk rayu seorang teman semasa sekolah dulu. Dia memperkenalkan sekaligus meminjamkan album Night Songs pada saya. Teman saya ini, Imam namanya, memang fans berat band-band glam rock seperti, Bon Jovi, Poison, Europe, Britny Fox, bahkan Heart pun juga dia sukai. Tapi herannya dia enggak suka dengan Motley Crue. Entah mengapa?

Bagi saya yang waktu itu lebih gandrung pada band claro era 70-an, sebenarnya kurang begitu tertarik dengan tempo musik band glam rock yang menurut saya biasa-biasa saja. Namun untuk menghargai teman kali ini saya coba mendengarkan album Night Songs ini. Setelah saya putar via mini compo saya agak terkejut dengan karakter vokalnya yang berat dan serak serta irama musiknya yang condong ke hard rock. Lagu “Nobody’s Fool” tentu yang paling memikat saya karena lagu ini dilantunkan dengan sebuah power ballad yang terbilang megah. Saya merasa seperti ada yang berbeda pada lagu ini dimana karakter vokalnya terasa berbeda bila dibandingkan dengan band glam rock lainnya yang cenderung cempreng atau melengking. Lagu-lagu lainnya yang saya dengarkan seperti “Night Songs” dan “Shake Me” merupakan lagu yang sangat menarik untuk didengarkan.

Menengok kiprah Cinderella yang sebelumnya bernama Saints in Hell. Namun karena tak kunjung menuai hasil, Carl Thomas Keifer (vokal, gitar) dan Eric Brittingham (bass) memilih nama Cinderella sebagai nama baru band mereka. Rupanya nama baru ini mulai menuai hasil. Suatu hari di tahun 1985, Cinderella bermain di Empire Rock Club, sebuah club di Philadelphia yang menjadi tempat penting bagi perkembangan musik hair metal di East Coast pada tahun 80-an. Aksi panggung mereka disaksikan Jon Bon Jovi yang terkesima dengan permainan Cinderella terutama gaya bermain gitar Keifer yang ngeblues. Alhasil, Jon merekomendasikan Cinderella pada Derek Shulman, A&R PolyGram Record. Setelah mendengarkan Cinderella bermain, Derek setuju untuk merekrut mereka. Cinderella lantas teken kontrak di label Mercury/PolyGram Record.

Mereke mulai merekam album debut Night Songs. Di tengah pengerjaan album ini, drummer Jody Cortez keluar dan digantikan oleh Fred Coury, mantan drummer dari band hair metal bernama London. Album debut yang dirilis pada 1986 ini membuat Cinderella menjadi salah satu best new comer dalam scene hair metal di Amerika, dan albumnya terjual hingga beberapa juta kopi. Tidak hanya itu, album ini juga mencapai peringkat 3 dalam Chart Billboard pada Februari 1987.

Kesuksesan Night Songs diikuti dengan tur pertama Cinderella. Saat itu tahun 1986, Cinderella melakukan tur dengan Poison, salah satu band hair metal legendaris. Dua band itu membuka konser Loudness, band heavy metal asal Jepang. Lantas pada tahun 1987 Cinderella tur selama 5 bulan untuk membuka konser David Lee Roth.

Songs~

Side A
Nigth Songs
Shake Me
Nobody’s Fool
Nothin’ For Nothin’
Once Around The Ride

Side B
Hell On Wheels
Somebody Save Me In
From The Outside
Push, Push Back Home Again

Bands~
Tom Keifer: Lead vocals, Guitar, Piano
Eric Brittingham: Bass, Vocals
Jeff LaBar: Guitar, Vocals
Fred Coury: Drums

Stryper “In God We Trust”

April 13, 2014

Budi Putra

IMG-20140413-00095

Masih dalam suasana kebatinan band glam/hair metal era 80-an, kali ini saya tampilkan band yang memiliki ciri khas fashion strip hitam kuning, Stryper. Band yang dibentuk pada 1983 ini disebut-sebut sebagai band beraliran/genre christian metal. Sebutan ini kiranya memang tepat adanya karena band yang digawangi oleh kakak beradik Robert dan Michael Sweet ini memiliki formula musik hair/glam metal dengan lirik yang kebanyakan bercerita tentang dedikasi terhadap agama Kristen. Namun bukan soal ini yang ingin saya ulas tapi lebih pada komposisi lagu dan musiknya yang terbilang enak untuk dinikmati.

Pada mulanya, band ini bernama Roxx Regime yang dibentuk di Orange County, California, Amerika Serikat. Terdiri dari 2 bersaudara, Michael Sweet (vokal, gitar) dan Robert Sweet (Drum), Oz Fox (gitar) dan Tim Gaines (Bass). Mereka sempat bubar pada akhir tahun 1990-an namun telah bergabung kembali pada tahun 2003. Stryper terakhir kali merilis album pada 2011 lewat album “The Covering”. Album ini, seperti yang tersimak dari judulnya, adalah sebuah album cover version yang berisi 12 lagu band/artis lain yang menginspirasi musik Stryper serta 1 lagu original baru ciptaan mereka. Stryper telah merilis 9 buah album sejak tahun 1984 saat mereka merilis debut album “The Yellow And Black Attack”. Album Stryper yang paling sukses adalah album ketiga “To Hell With The Devil” (1986) yang berhasil menyabet platinum dan menduduki peringkat 32 Billboard 200.

Sedangkan untuk album “In God We Trust” merupakan album ke 4 mereka yang terbilang populer di kancah musik rock tanah air dibanding album lainnya. Hal ini berkat nomor-nomor balada seperti “Believe in You”, “Always There For You”, “Lonely” serta “In God We Trust” yang terbilang ngebeat khas band-band hair metal kala itu. “Believe in You” memang sangat populer pada era itu, setidaknya berbarengan dengan booming band-band hair/glam/hard rock seperti Mr. Big, Motley Crue, Poison, Warran, Tesla, Bon Jovi, Kix, Steel Heart, Gorky Park, Cinderella, dan lainnya. Pakemnya pada band-band tersebut memiliki nomor balada andalan yang dikenal publik dibanding nomor-nomor cepat mereka. Bila tidak keliru lagu ini kerap ditayangkan oleh salah satu stasiun tv swasta bersama klip lagu “Love Song” milik Tesla, bahkan M97 FM juga pernah memutar lagu balada ini.

Stryper juga pernah tampil pada perhelatan  Java Rockin’ Land” di Pantai Karnaval Ancol Jakarta pada 10 Oktober 2010. Dari konser ini mereka juga membuat DVD “Live In Indonesia At Java Rockin’ Land”.

In God We Trust, album yang terdiri dari 10 lagu ini boleh dikatakan sangat pas sekali untuk sekedar bernostalgia pada masa-masa sekolah dahulu. Kebayangkan dengan baju putih celana biru serta tas slempang dengan sepatu beraksesoris temali yang warna-warni dan norak itu, diiringi nomor berirama sedang “Always There For You”…Asik dah…hehehe.

Kiranya nomor-nomor beat atau balada dari band-band hair/glam menyegarkan kembali memori kita, dan jangan lupa loh bro, sebelum berubah menjadi band beraliran heavy metal yang khusus membawakan nomor-nomor cadas dari Metallica atau Anthrax, band panggung/lokal Jakarta, Roxx, juga sempat menjadi covering band-band glam rock pada masa itu.

Songs~

-In God We Trust
-Always There for You
-Keep the Fire Burning
-I Believe in You
-The Writings on the Wall
-It’s Up 2 U
-The World of You and I
-Come to the Everlife
-Lonely
-The Reign

Cacophony “Speed Metal Symphony”

April 13, 2014

Andria Sonhedi

image

Cacophony ‘Speed Metal Symphony” adalah album awal dari proyek duo gitaris Jason Becker & Marty Friedman. Saya dulu tahu pertama masih buatan RoadRunner Singapore, tabloid Citra Musik yang mengulasnya di bagian resensi kaset (juga utk kaset Racer X). Saat itu Marty belum jadi anggota Megadeth dan Jason juga blm ikutan Dave Lee Roth band. Yang membuat saya saat itu males beli, wl sdh dikeluarkan label Indonesia, karena ini bukan 100% album instrumental. hanya ada 2 yg benar2 instrumental yaitu Copncerto & Speed Metal Symphony (dan kebetulan saya juga suka). sesuai judulnya mmg album ini cukup speed, sayangnya bagian vokal & penulisan lirik tak mendukung. Atma Anur sdh pas jadi drumer tapi Peter Marino sbg vokalis kok tdk memberi tambahan poin positif utk album ini. banyak orang yg bilang harusnya ini adalah album instrumental saja. Cacophony masih mengeluarkan 1 album lagi: Go Off, sebelum bubar

ini daftar lagunya:
1 Savage 5:50
2 Where My Fortune Lies 4:33
3 The Ninja 7:25
4 Concerto 4:37
5 Burn the Ground
6:51 6 Desert Island 6:25
7 Speed Metal Symphony 9:37

2 gitaris ini masih juga aktif , walau dgn cara berbeda. Marty tinggal di Jepang & ikut scene J-Rock sedang Jason, walau lumpuh kena ALS, tapi masih bersemangat tinggi utk mencipta lagu instrumental gitar dgn bantuan komputer yg merespon gerak bola matanya.

–evil has no boundaries

Rock Progressivo Italiano: Cherry Five

April 13, 2014

Rully Resa

 

cherry five fover
Kali ini saya coba menyumbangkan tulisan diblog gemblung ini (Agar gemblungnya nular ke generasi selanjutnya, whahaha) membahas grup dan album dari ranah rock progreesif Itali yang kental sekali dominasi symphonic prognya, yaitu: Cherry Five. Saya tidak tau apakah grup ini cukup familiar disini, karena nyatanya mereka hanya menelurkan satu album (ini juga menjadi ciri khas grup prog itali-walaupun tidak semua grup. Satu album langsung menghilang, kaya tabrak lari!). Tetapi Cherry five adalah cikal bakal grup Goblin yang berkarir cukup panjang sampai saat ini. Goblin juga dikenal sebagai pengisi musik untuk film-film horror itali seperti Suspiria, Profondo Rosso. Saya pribadi juga sangat menikmati film-film classic horror dari Italy khususnya karya Dario Argento.
Ketika membaca komen para reviewer di progarchive yang mengatakan bahwa Cherry Five terdengar seperti mencoba mengulang musik Yes era The Yes Album. Awalnya saya skeptis juga. Tetapi setelah menikmati album mereka secara keseluruh ternyata sangat DAHSYAT albumnya! memang tidak bisa dipungkiri pengaruh YES sangat kental mulai dari vokal Tony Tartarini yang tinggi, sampai komposisi gitarnya Massimo Morante. Tapi Grup ini punya Drummer yang luar biasa sekali permainannya, Carlo Bordini. Sekalias seperti Carl Palmer! (Bukan berarti permainan Bill Bruford tidak bagus lho ya, hehehe)
Menyimak album yang lahir di tahun 1975 ini layaknya seperti menyaksikan sebuah film karena komposisinya naik-turun cukup “curam”. Highlight dari album ini adalah lagu “Country Grave Yard” dan “Oliver”. Di Bagian pembuka Lagu “Country Grave Yard” langsung bisa terasa elemen dari musik Yes yang sebelumnya sudah disebutkan. Saya pribadi juga jadi teringat musik-musik dari grup Asia Minor (walaupun nyatanya Asia Minor muncul belakangan). Lagu ini lagu tensi tinggi tetapi permainan hammond, gitar elektrik dan drumnya mantap sekali. Porsinya Pas! Apalagi ketika harmonisasi vokal menyanyikan “You’re looking forr… Can’t Find!” wuiihh.. mantapppp!!!
Solo piano yang membuka lagu “Oliver” terdengar cukup ganjil memainkan intro bernada minor. Selanjutnya kita disajikan kolaborasi antara gebukan drum dan permainan hammond serta mellotron yang sangat memukau. Ditambah lagi-lagi oleh harmonisasi vokal yang benar-benar memanjakan kuping. Menikmati album ini secara utuh dari dari awal sampai habis seperti refleksi untuk kuping!
Berikut link utk mendengarkan online: http://www.youtube.com/watch?v=99Mou2UtiIk
Walaupun saya menikmatinya hanya dari hasil download kualitas tinggi 320kpbs tidak dari media fisik seperti CD, Apalagi KASET Tetapi semangat prog bisa selalu mengisi keseharian saya. Kenapa kok disebut “semangat prog?” karena dari prog saya belajar untuk selalu bersyukur (semangat disini sebagai wujud rasa syukur) dan tentu saja hidup tidak begitu-begitu saja! heheh
ipod
Salam

Gorky Park “Парк Горького”

April 13, 2014

Budi Putra

IMG-20140413-00089


Saat ini tidak banyak penikmat musik genre glam rock era 90-an, yang mengetahui tentang perkembangan grup band asal Rusia, Gorky Park yang dibentuk pada tahun 1987. Apa sebab, setelah  album Moscow Calling (1992-1993) kiprah mereka di panggung musik rock dunia sepertinya tak terdengar lagi. Padahal secara musikal, kualitas mereka tak kalah dibanding band-band glam rock lainnya yang lebih dulu muncul.

Gorky Park adalah sebuah taman besar yang sangat terkenal di Moskow, Rusia, yang diambil dari nama sastrawan sosialis terkemuka, Maxim Gorky. Taman ini sangat bersejarah karena menjadi saksi bisu perubahan besar-besaran di negeri yang pernah dijuluki sebagai “negeri tirai besi atau beruang merah” ini. Namun, pada awal 90-an, di Jakarta khususnya, nama Gorky Park lebih dikenal sebagai salah satu grup glam rock yang cukup populer dikalangan remaja. Lewat lagu-lagu mereka seperti “Try To Find Me”, “Child Of The Wind”, dan tembang daur ulang milik The Who, “My Generation”, grup yang awalnya digawangi  Nikolai Noskov (vokal), Alexey Belov (gitar), Alexander Minkov (bass), Yan Yanenkov (guitar), dan  Alexander Lvov (drums) itu sempat mewarnai blantika musik rock dunia pada saat itu. Pada era itu, Gorky Park memang boleh dibilang sebagai salah satu musisi atau grup asal Rusia yang paling dikenal. Berkat kebijakan Glasnost dan Perestroika yang
 diperkenalkan Mikhail Gorbachebv, Gorky Park memanfaatkan peluang itu dengan hengkang ke Ameirka Serikat (AS), dan Gorky Park berhasil meraih bintang mereka, menjadi rock star apalagi ditambah sentuhan apik dari Jon Bon Jovi dan Ritchie Sambora.

Seingat saya Radio Mustang FM, Jakarta, termasuk yang ikut mempopulerkan grup ini. Setelah  nomer-nomer cadas (metal), diakhir acara lagu “Try To Find Me” kerap diputar. Maka setelah berheadbanger ria bersama lagu-lagu metal, mendengar lagu ini serasa syahdu nian namun tak kehilangan taji berkat permainan solo gitar Alexey Belov yang sangat apik. Saya sendiri bila mendengar “Try To Find Me” selalu terkenang dengan teman saya semasa di kampung dahulu, Edi, yang memperkenalkan grup ini selain band Bullet Lavolta yang hingar bingar itu. Teman saya ini selalu bangga dengan band asal Rusia ini yang menurutnya lebih berkarakter dibanding band-band glam rock asal Amerika atau Eropa.

Selain easy listening, khas lagu-lagu balada band-band glam rock, lirik lagu “Try To Find Me” juga sangat inspiratif, bercerita tentang kehidupan seperti pada karya Maxim Gorky, “Ibu” yang pernah diterjemahkan sastrawan Pramoedy Ananta Toer.

Songs~

Bang – 4:47
Try to Find Me – 5:08
Hit Me with the News – 3:52
Sometimes at Night – 5:08
Peace in Our Time (Jon Bon Jovi, Richie Sambora) – 5:56
My Generation (Pete Townshend, includes Prokofiev’s “Alexander Nevsky”) – 4:44
Within Your Eyes – 4:55
Child of the Wind – 5:22
Fortress – 4:04
Danger – 3:30
Action – 3:55

Peter Gabriel Diam Satu Bar di “Carpet Crawlers”

April 12, 2014

Herman

Kali ini saya ingin mengajak bernostalgia dengan sebuah lagu Genesis ‘old song’, yang sudah tidak asing lagi : Carpet Crawlers. Kalau kita dengarkan musik Genesis Carpet Crawlers tersebut saya kira semua warga Blog ini pasti punya pengalaman dan sudut pandang sendiri2. Tulisan ini merupakan pengalaman saya dan juga sudut pandang saya. Waktu awal kenal lagu ini sudah agak lupa bagaimana persisnya tetapi kira – kira waktu itu denger lagu ini di kamar kos2an di Jogja. Saya dibuat penasaran kok pengen dengerin lagi . Lagu Genesis ini slow dan melodinya diulang –ulang tapi enak di dengar. Saya penasaran untuk mencari tau apa yang bikin enak di dengar?

image

Dulu saya belum tau musik repetitive yang melodinya berulang dari bait ke bait . Musik repetitive memerlukan kepiawaian dalam menyiasati agar lagu berulang ini tidak membosankan dan enak didenagar.

Untuk dapat menjawab penasaran saya maka Carpet Crawlers saya putar berulang – ulang, sampai saya agak takut kasetnya jadi ngombak pas bagian itu, sambil saya buat catatan dari bait ke bait .

Ini sekedar catatan orang awam yang mungkin istilah2 yang digunakan juga belum tentu benar.

Bait ke 1 : musik : Piano

Bait ke 1 ini merupakan intro di mana Vocal peter Gabriel diiringi dengan musik yang minim hanya permainan piano (+ gitar?).

Diakhir intro ini, ketika vocal sampai kata …to avoid…..masuk Bas Gitar: dheeengg….. entah yang bener bagaimana nulisnya…? Mungkin di negaranya Peter Gabriel lain lagi cara nulisnya….Yang penting kira kira begitu bunyinya,…. versi gemblung2an aja …. Selanjutnya masuk bait ke 2

Bait Ke 2 : Musik Piano + Bas

dengan masuknya Bas ikut meiringi bersama Piano, terasa ada peingkatan pada musiknya, menjadi lebih berisi. Diakhir bait ke 2 saat vocal Gabriel sampai : We’ve got to get in…. to get ooouut ….saat itu Drum masuk: Dhug! ..tak dhug dhug…. terasa sekali meningkatnya musik dengan adanya hentakan drum masuk ke bait 3

Bait ke 3 : Musikpiano : + Bas + drum + elektrik gitar

Musik terasa bentuknya, terdiri dari piano + Bas Gitar+ Drum + elektrik gitar. Masuknya drum semakin menggerakkan emosi pendengarnya ditambah lengkingan gitar yang lembut dan harmonis membuat kita semakin asik mendengarnya.

Bait Ke 4 : Musik : piano + Bas Gitar+ Drum + elektrik gitar

Vocal : mencuri ketukan

Di awal bait 4 ini vocal peter Gabriel mencuri ketukan, dan ini menimbulkan hentakan yang memancing emosi kita….awal mendengarkan “pencurian” yang dilakukan vocal peter Gabriel ini saya senang sekali…bagus sekali dalam menyiasati agar bait ke 4 ini ada sesuatu yang baru dari bait sebelumnya….. Perubahan vocal ini membuat adanya eskalasi yang semakin mengoyak emosi yaitu sejak Gabriel mengcapkan “Mild mannered supermen…. Terasa sekali adanya eskalasi di Bait Ke 4 ini.

Bait Ke 5 : musik : piano + Bas Gitar+ Drum + elektrik gitar

Vocal : mencuri ketukan + diam 1 bar

Vocal Peter Gabriel waktu mengucapkan “The porcelain manikin…. terasa menimbulkan hentakan yang lebih lagi dibandingkan bait ke 4. Bait ke 5 ini menjadi klimaks lagu…. ketukan vocal sama dengan bait ke 4….Nah ketika sampai baris ke 5 ternyata vocalnya diam satu baris ( satu bar) …..woaaaa ini dia, seneng sekali rasanya ketika menemukan ini….meskipun ini disebabkan syairnya memang hanya 4 baris tetapi saya merasakan ada sensasi ketika mendengarkan baris ke 5 tanpa vocal….. top markotop….apapun sebabnya sensasi dengan diam satu baris ini luar biasa……hahaha….wis embuhlah pokoknya waktu itu suweneng menemukan lagu kok ada satu baris yang diam ……batin saya maksudnya apa ya pakai diam 1 bar…..ternyata lha memang syairnya memang nggak ada. Coba kalau dipaksain didisi vocal dengan lalala…lalala…….atau ooooo…oooooo….apa jadinya… hahaha…enggak ini buat lucu2an saja…Nggak mungkinlah Genesis seperti itu……

Lengkaplah bahwa 5 bait itu memang masing – masing berbeda satu sama lain yang tapa terasa membuat kita keasikan mendengarnya. Di samping perbedaan tadi dari bait ke bait juga ada eskalasi yang menggerakkan emosi pendengarnya dan mencapai klimaksnya pada bait ke 5. Dan yang istimewa adalah,itu tadi, pakai diam satu bar itu tadi…

image

Setelah denger lagu ini jadi menambah semangat saya untuk memperhtikan musik khususnya aransemennya.

Musikus yang secara terbuka mengklaim musiknya repetitive adalah Phillip Glass. Lagunya Mike Oldfield juga banyak juga yang repetitive. Kalau musik New Age, lagunya Yanni “Nightingale” bagus dalam menyiasati musik repetitive menjadi enak di dengar dengan mengatur eskalasi musiknya dan juga mengatur kapan suatu alat musik dimainkan serta dipadu dengan alat musik apa. Ternyata disco, house music termasuk musik repetitive juga, tapi minat saya kurang terhadap musik disco. Dulu pernah denger teman sebelah kamar yang suka lagu2 disco, dan sekarang kalau denger musik disco timbul kenangan masa indekos. Mudah2 an tulisan ini cukup membawa nostalgia dengan lagu Carpet Crawlers dan mungkin juga album The Lamb Lies down On Broadway apalagi kalau kasetnya rekaman Yess. Siapa tau jadi ingin denger Peter Gabriel diam 1 bar.

Salam Jreng ! Herman.

Dahzyatnya The Flower Kings (2 dari 15)

April 11, 2014

Herwinto

image

Begini ceritanya, awalnya saya susah banget menikmati album ini, sudah saya puter lebih dari tiga kali tetep aja susah banget saya memahami, nah suatu ketika saya ada pekerjaan kantor yang harus saya selesaikan malam hari itu juga, maka saya putuskan untuk lembur, ketika lembur inilah saya sengaja pasang album ini sekedar untuk mengusir kantuk dan menemani saya di keheningan malam karena pasti sampai larut….Awalnya masih biasa aja kayak sebelum sebelumnya juga, sampai ketika malam semakin menuju puncaknya saya sudah kembali putar ke track 1 lagi….Gila!!! di putaran yang kedua ini saya baru bisa merasakan betapa dahzyatnya album ini…

Track 1 dari album ini berjudul I Am The Sun -part one 15:03 benar benar membuktikan betapa prog nya lagu ini, lagu yang dibuka dengan dentingan gitar yang pelan dan di lapisi sentuhan tipis kibor ini benar benar berliku liku, penuh kelokan kelokan tajam yang tanpa diduga sebelumnya, mengalir terus dengan berbagai perubahan tempo serta tonjokan tonjokan melodi baik gitar maupun kibor yang dramatis sekali….memang benar kekuatan TFK terletak pada Roine Stolt yang dipengaruhi Genesis dan Thomas Bodin yang sangat dipengaruhi Rick Wakeman…gitar dan kibor benar benar bisa bersenyawa untuk bersatu padu membunuh siapapun yang mendengarnya tanpa ampun….bagi penggemar Genesis silahkan menikmati lagu ini dijamin anda akan menemukan semua melodi melodi indah Genesis lama yang dipadu dengan gaya khas TFK yang berwarna warni, ada sentuhan King Crimson juga lewat permainan saxophone yang rumit, lagu ini juga mendapat pengaruh jazz fussion…puwasssss benar menikmati lagu ini!!!!

Track kedua Dream On Dreamer 02:43 mengingatkan saya pada lagu nya King Crimson, I Talk To The Wind lembut dengan iringan saxophone, track ketiga Rumble Fish Twist 08:06 sungguh merupakan lagu yang sangat megah dan indah, sangat kaya elemen elemen instrument 70 an, struktur yang berlapis lapis dimulai dengan pembukaan yang sangat dinamis hingga sangat rumit khas Yes di menit ke 03:17 hingga berubah sahdu sunyi di menit ke 03:40 benar benar nikmat, suara alunan kibor yang menerbangkan saya entah ke dunia mana….benar benar sajian musik yang sarat olah jiwa…

Masuk ke track keempat Monster Within 12:55 dengan pembukaan nan indah sekali, kemudian berubah garang, sangat ngerock dan di selingi suara raksasa tertawa…benar benar art rock…disusul dengan vokal yang bergerak dalam tempo agak lambat sampai dengan menit ke 03:35 musik menjadi berubah seperti dalam drama musikal, benar benar megah dan pada menit ke 03:45 berubah menjadi rumit dan dinamis dengan iringan kibor layaknya Tony Banks pada era Fontain Salmacis, benar benar sajian penuh warna warni…..dan pada menit ke 09:30 melodi kembali seperti pada saat pembukaan lagu hanya dalam tempo yang cepat…benar benar kuereeen lagu ini!!!

Track selanjutnya berjudul Chicken Farmer Song 05:09 lagu yang sangat enak dengan vokal yang sungguh empuk, sangat pas untuk jeda dari lagu sebelumnya yang begitu kompleks.

Track keenam adalah Underdog 05:29 lagu yang lumayan enak juga meski di menit ke 04:00 menjadi sangat berisik dengan bebunyian instrumen yang begitu keras. Track selanjutnya You Dont Know What You’ve Got 02:39 adalah lagu yang awalnya terdengar agak pop tapi saya ditipu mentah mentah!! di menit ke 02:33 sifat prog nya TFK langsung muncul….lagu berubah menjadi sangat prog dengan sedikit memunculkan nuansa ELP nya…..edaaann!!! lagu diakhiri dengan lolongan gitar Stolt yang merobek robek isi jerohan hati saya…..

Track selanjutnya Kings Prayer 06:02 benar benar lagu yang sangat indah….seindah judulnya….wah kalau dengar lagu ini pasti saya terpancing untuk ikut teriak teriak…..sungguh keren melodinya…..juga teriakan Stolt yang sungguh bertenaga…dan sebagai track penutup album ini adalah I Am The Sun-part two 10:48 ini lagu juga sungguh keren, musiknya pun sungguh menawan, penggunaan saxophone yang tepat dipadukan dengan kibor beserta dentingan gitar akustik sungguh melenakan, benar benar kompleks musiknya. Kenikmatan yang sudah disajikan pada track pertama diulang dengan tempo yang lebih halus pada track pamungkas ini….benar benar sajian nan dahsyat….banyak yang menyebutkan bahwa album ini jika tidak bisa disebut sebagai album terbaik, setidaknya salah satu album terbaik TFK…..Salam!!!!


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 129 other followers