Archive for the ‘Album Review’ Category

Black Sabbath “13″

June 9, 2013

Maap kalau telat. Kira2 tiga hari lalu, ya…tepatnya Kamis malam, karena saya kerja begadang sampe jam 2 pagi. Saya sempat di tv NET ada liputan Black Sabbath bikin album baru dengan formasi awal tanpa Bill Ward. Ada juga wawancara dengan Ozzy dan Geezer Butler. Keren liputannya.

Hari ini saya ada kerjaan yang musti dituntaskan, terus iseng negtik “Black Sabbath” di Youtube, ternyata ada versi lengkap album ini. Wah keren musiknya! Simple claro gitu, dan gak terlalu berisik. Saya sudah putar kali yang kedua nih album via Youtube ini. Monggo disimak bagi yang belum tahu. Maap kalau saya ketinggalan kereta karena memang baru tahu tiga hari lalu ..

 

Rick Wakeman Bagi Saya (7 of 38)

June 5, 2013

Kaset Telanjang TDK Yang Misterius

 

Ini murni pengalaman pribadi dan mungkin tak ada maknanya bagi teman-teman.

Alkisah,

Pada saat saya sekolah di Bandung, saya punya temen sekolah yang tadinya sekolah di THD (Techniche Hoogeschool Delft – embuh bener pow ra nulise), Belanda. Tapi dia asli orang Indonesia, namanya Ilham Loekito Putranto. Saat itu saya sering main ke rumahnya di Jl. Tengku Angkasa, Bandung sekitar tahun 1979 – 1980 begitu, bahkan kadang saya menginap. Pertama kali main ke rumahnya saya kaget, karena ternyata Ilham ini rocker pula karena di kamarnya banyak tumpukan PH dari Queen, Genesis, Yessongs (yang 3 piringan itu) dan band progclaro lainnya. Saya masih ingat minta tolong Ilham diputerin Queeen hanya satu lagu saja: The Prophet’s Song karena kaset Perina Aquarius saya untuk album A Night AT The Opera disunat habis pada saat koor dahzyat sedang mengalun “And now I know …now I know …and now I know …..” …biyuh kerreeeen … tapi kok tega memutus ya?!

Singkat kata saya minta Ilham putar beberapa kali lagu tersebut sampai saya bosen. Sayapun gakpengalaman dalam nyetel turn table – maklum wong ndeso ora nate nyekel plat. Selain itu saya ngodal-adul plat nya Ilham sambil buka gambar-gambar di dalamnya. Wis pokoke puwassss …. karena selama ini hanya bisa menikmati musik via kaset aja.

Suatu ketika saya dikasih Ilham kaset telanjang TDK tanpa label apapun, tapi dia bilang merupakan hasil rekaman dia langsung dari PH koleksinya. Kaset tersebut saya setel di tape deck Fisher saya di kos2an. Ternyata isinya bukan asing lagi bagi saya: Rick Wakeman. Kasetnya sih C 90 sehingga side A nya satu album penuh dan side B nya satu album penuh. Yang menarik, kaset ini jadi saya setel terus menerus meski tak ada judul lagunya dan biasanya saya benci menikmati kaset tanpa judul lagu (kotak kaset). Tanpa saya sadari saya akhirnya terbiasa mendengarkan lagu2 yang ada di side B karena saat SMA di Madiun kakak saya, mas Henky, pernah beli kaset rekaman Pop Discotic album “No Earthly Connection” (bahasa Inggrisnya: Gak Nyambung Blas Kambek nDonya!). Sayangnya saat di Madiun saya kurang “klik” dengan album ini karena TERNYATA urutannya dibolak-balik tanpa mengikuti alur resmi versi PH. Saya hanya ingat di kaset Pop Discotic tersebut ada liriknya “Music of my soul ….” tapi musiknya slow dan gak prog blas.

Kaset telanjang TDK ini memang unik …. Semakin disetel semakin mantab dan saya semakin mengenal dan mencintai side B yaitu album No Earthly Connection. Urutannya begitu indah dan tak bisa dibolak-balik karena akan mematikan nuansanya – alias gak nuansamatik blas! Side A nya gak perlu saya bahas karena memang berisi album yang saya cinta sejak SMP di Madiun: The Myths and Legends of King Arthur. Kecintaan saya pada Side B kaset TDK ini lebih membuncah lagi saat saya mengikuti kegiatan Marching Band dan saat istirahat di gedung LFM saya menikmati radio via walkman kok ya pas Radio OZ yang di Jl Geusan Ulun nyetel salah satu lagu dari album tersebut bertajuk “The Prisoner”!!!!! Mengapa saya kasih tanda penthung banyak? Karena itulah saat pertama saya mendeklarasikan bahwa The Prisoner adalah LAGU TERBAIK karya Rick Wakeman ever! (meski saya banyak suka lagu lainnya dari RW). Tapi The Prisoner ini memang lain dan sampai sekarang kalau saya nyetel lagu ini, selalu saya setel bolak-balik.

Uwediyan tenan lagu berjudul The Prisoner ini. Tuoooobbbzzz! Adrenaln muncratsz limang meter yen ngrungokno lagu ini … Opo maneh nyetel saka kaset rekaman Monalisa nang tape deck TANDBERG …Whooooaaaaaa!!!!

Jreng tenan!

YOU SHALL HANG said the Judge ….!

image

The Prisoner

Salam,

G

 

Phillip Glass “Songs From Liquid Day’s” by Yess

May 22, 2013

By: Herman

Membaca  tret Pak Dokter Apec tgl 17 Mei 2013 berjudul “Upeti Hari Ini”, di situ saya lihat ada kaset Phillip Glass “ Songs From Liquid Day’s” , bikin saya ingin menampilkan kaset Yess No 650 tersebut. Niat pertama ingin numpang majang gambar kaset Yess no.650 tersebut yang sudah saya kompilasi dengan gambar2 lain dan Logo Blog  “Music for Life” tempat kita mangkal . Sekaligus saya ingin usulkan gambar tsb.untuk kalender kita bulan Sept-Oktober.

kaset PG 1968 kompil  copy R

Saya juga ingin berbagi cerita tentang album Phillip Glass “ Song from Liquid Days” yang fenomenal. Ini bukanlah sebuah reviu tapi sekedar upaya saya memahami dan menikmati musik.

Banyak yang menyebut music Phillip Glass ini sebagai musik minimalis, meskipun PG tidak mau menggunakan istilah tersebut dan selalu mengatakan karya musiknya sebagai musik yang strukturnya berulang.

Selama ini kaset PG hanya kadang kadang saya stel karena belum bisa menemukan soul musiknya sehingga belum “klik”..

 

Siapa Phillip Glass

Phillip Glass lahir pada 1937 di Baltimore, Amerika. Ayahnya adalah pemilik toko piringan hitam, sehingga sejak dini sudah mengkoleksi dan akrab dengan music klasik dan juga musik modern, termasuk PH yang nggak laku terjual memperkaya koleksinya.

PG punya latar belakang beragam : waktu muda ia belajar flute kemudian kuliah mengambil matematik dan filsafat, belajar music klasik (di Eropa), bergaul dengan artis film yang bergaya bohemian, berteman dengan seniman2 patung, teater dll. Tak heran bila karyanya cukup beragam mulai dari opera besar dan kecil (20), , simfoni (8 ), konserto (2). Music untuk  film dan lain2

Musik – musik yang terpengaruh struktur yang berulang PG antara lain  Mike Oldfield, Tangerine Dream, David Bowie, Brian Eno..

Saat ini PG masih aktiv bermain musik khususnya chamber musik, concerto dan symphoni.

Yess  Phillip Glass R

 

Cerita bagaimana saya dapet kaset ini

Kaset Yess no 650 ini saya beli karena informasi dari seorang temen kos di Jogja, namanya Waskito asal Kudus, kuliahnya di Fak. Sospol UGM.  Dia memberitahu saya ( antara  1982- 1983). bahwa ada musikus Amerika yang hebat : Phllip Glass. Berbekal informasi sepotong itu saya berusaha mendapatkan albumnya. Begitu saya lihat kaset Yess ini di-rak display di Trio Tara Blok M ada,  tanpa pikir panjang saya bungkus…eh yang bungkus petugas tokonya, itu tahun 1987…. lima tahun mencari baru nemu kaset ini….. Kalau ada yang kenal dia tolong ajak dia baca Blog Gemblung ini biar dia kembali ke jalan yang benar….

Karena Kenal Blog Gemblung sebagai pintu menuju pemahaman music Phillip Glass.

Karena berkenalan dengan Blog Gemblung ini saya jadi bongkar2 kaset lama yang sudah lama saya diamkan. Jangankan nyetel, player-nya juga sudah nggak berfungsi. Singkat kata kaset PG ini saya coba stel lagi, dan setelah beberapa kali stel baru saya tenemukan, sebutan versi saya untuk music PG : ini adalah music yang tidak lengkap! Saya coba bandingkan dengan musik Rick Wakeman yang lengkap, yang ada orchestra dan choir-nya, maka pada album ini musik  PG yang hanya ada vocal diiringi keyboard, bass,  dan mungkin instrument lain yang suaranya hampir mirip2. Tidak ada perkusi,dan alat lain yang duk duk jreng ….dan bikin musik lebih nikmat didengar. Dengan kata lain hanya berisi elemen pokok2nya saja. Sangat berbeda dengan music Thijs van Leer di album Introspection, walaupun kadang juga tanpa perkusi. Kalau di dunia farmasi ada obat generik, maka music PG ini bisa disebut musik generik…..hahaha….Suatu saat sambil mendengarkan saya coba bayangkan, bagian2 tertentu ditambahkan bunyi2n duk..duk  jreng…jreng ….wah ternyata hebat juga ( menurut saya)..….dan saat itu saya seperti menemukan klik-nya music PG…ternyata disitu …wah seneng juga menemukan momentum itu…..

Setelah menemukan “klik” itu, untuk memudahkan,  saya membuat analogi seperti lagu Father of Night, Father of Day (FoNFoD) yang dibawakan Bob Dylan dengan FoNFoD yang dibawakan Manfredman’s Earth Band (MEB). Bob Dylan membawakan FoNFoD dengan iringan akustik gitar saya anggap sebagai substansi dari FoNFoD yang dibawakan oleh MEB dengan begitu indah dan colourful. MEB dengan kejelian dan musikalitasnya telah membuat aransemen yang mencerahkan dan telah membuat saya lebih mengapresiasi FoNFoD yang dibawakan Bob Dylan yang “generik” itu.

Sayangnya saya belum pernah mendengar musik PG versi interpretasi serta aransemen musikus lain. Maka terpaksalah saya membuat interpretasi sendiri music generic  PG melalui imjinasi di atas.

Dalam kaset Yess No 650 ini ada 2 album PG : Songs from Liquid Day’s dan North Star. Menurut saya  dua2 nya bagus. Terutama lagu Liquid Day’s part 1 dan 2 ( side B no. 1 dan 2) dimana kehebatan musik PG sudah cukup tergambar, meskipun sebenarnya bisa lebih dahsyat bila dimainkan dengan peralatan music yang lebih lengkap. Sedangkan lagu2 lainnya lebih generic dan minim namun sebenarnya mengandung substansi yang bisa dikembangkan lebih hebat…..setelah “klik” makin lama saya makin bisa merasakan keindahan music yang minim ini.

Ya… itu semua menurut saya…..silahkan teman2 untuk mencoba sendiri, saya sudah lihat di You Tube ada, dan silahkan untuk berinterpretasi sesuai sesuai dengan selera masing- masing…

Salam untuk semuanya. Herman, Mei 2013.

 

Megahnya Konser Yes (4 of 10)

May 20, 2013

By: Herwinto

TERKESAN DENGAN HARIS FAUZI

Kemarin sore saya sedang mencari artikel tentang gitar di internet, secara tidak sengaja saya mendapatkan sebuah artikel tentang seseorang yang bernama Haris Fauzi pengagum YES yang menuangkan pengalamannya menyaksikan dvd Yes Keys To Ascension, sungguh tulisannya membuat saya terdiam tak berkutik ketika membacanya sebab sungguh apa yang dirasakan oleh seorang Haris Fauzi ini benar benar terjadi juga pada saya, bahkan mungkin pada semua pecinta fanatik Yes seperti saya ini. Inilah tulisannya saya salin tanpa ada penambahan ato pengurangan……

Hampir seminggu ini malam malam saya isi dengan menonton vcd konser Yes yang bertajuk ’Keys to Ascension’ dan ‘Live from House of Blues’. Yes adalah kumpulan musisi yang sudah ber-dirgahayu ke 35. Mereka cukup tua, Steve Howe gitaris mereka sudah botak seperti kakek kakek mirip  perkusionis Jepang : Kitaro. Saya tidak akan meresensi musik dan lagu mereka. Disini saya cuma ingin berbagi rasa, bahwa menonton vcd konser mereka di televisi ukuran tanggung di rumah sudah membuat spirit saya bergetar hebat. Saya jadi lebih maklum dengan berita berita dari penonton konser mereka langsung, yang mengatakan bahwa menonton Yes bagai mendapatkan pengalaman spiritual yang maha dahsyat. Sebegitukah? Yang jelas dari dua lagu pertama di konser ‘Keys to Ascension’, ‘Siberian Khatru’ dan ‘Close to the Edge’ membuat perasaan saya benar benar morat marit. Mendengar denting gitar mendayu,menikmati olah vokal Jon Anderson yang melengking, serta kerancakan para musisi yang sedang berekspresi membuat saya deg deg-an. Perasaan ini hampir mirip ketika saya hendak berkunjung ke rumah pacar saya pertama kali. Saya sempat kirim sms ke beberapa rekan, ‘……..mereka laksana dewa turun dari langit…..’. ‘Lightning Strikes’ dan I’ve Seen All Good People’ dari konser ‘Live from House of Blues’ terus terang membuat saya ‘mabuk’. Seakan harga yang 100 ribu per vcd terlupa begitu saja. …..Peak dari segalanya adalah permainan dalam lagu ‘And You And I’. Di dua konser itu, tercantum lagu ini. Saya harus memutarnya berkali kali untuk memuaskan dahaga saya. Ending dari cerita tontonan saya adalah semalam jam 01.55 jumat dini hari menyongsong lelap saya terganggu dengan pikiran saya sendiri…….’Andai saya tidak mengerti agama saya, mungkin saya yakin bahwa ada makhluk gaib yang bernama malaikat Jon Anderson yang berpakaian putih putih membawa harpa, malaikat Steve Howe yang jarinya menari lembut mengelus senar gitar, malaikat Chris Squire yang langkahnya berdentam dentam, malaikat Rick Wakeman dengan keyboards yang tutsnya seakan berbunyi tanpa ditekan dan malaikat Alan White yang tenggelam dalam perangkat tabuhannya……..

Inilah tulisah Haris Fauzi yang membuat saya termenung….sebuah pengalaman spiritual yang langka didapatkan, mendengarkan musik Yes bagi saya bukanlah sekedar kegiatan hiburan disela sela kesibukan saya yang begitu padat, namun juga sebuah ritual rohani yang harus saya persiapkan dengan sungguh sungguh sebab saya akan mendapatkan kepuasan yang menghantarkan saya kepada sebuah semangat untuk menjalankan amanah kehidupan ini dengan sebaik baiknya…sebagaimana pesan pesan dalam Topographic Ocean…..Salam!!!!!

yes-038

Sudah 45 Tahun, Bisa Apa

May 19, 2013

Catatan: review ini dimuat di koran tempo minggu, 19 mei 2013

————————————————————————-

By: Purwanto Setiadi

cover_44535642013_r

Deep Purple, earmusic, 2013

selalu mudah untuk meragukan satu kelompok musik yang sudah berkarier sangat lama, misalnya 45 tahun seperti deep purple. pertanyaan nakal atau kritisnya, jika mereka belum juga mau pensiun dan, apalagi, hendak menerbitkan album kumpulan lagu-lagu baru: kakek-kakek ini mau bikin apa lagi setelah praktis sudah melakukan dan juga melalui segala hal?

deep purple, yang dibentuk di hetford, inggris, pada 1968, sudah berganti-ganti personel, dengan jumlah orang yang datang dan pergi terhitung cukup untuk menjadi bagian dari satu “pohon keluarga” yang rimbun–berisi informasi siapa dan ke mana saja orang-orang itu. mereka juga telah beberapa kali merevitalisasi formula musiknya. mereka sempat mati suri, sebelum bangkit, terguncang lagi, dan lalu bertahan hingga sekarang dengan jadwal masuk studio yang makin jarang–dalam sepuluh tahun belakangan mereka hanya merilis empat album; terakhir kali mereka melakukannya pada 2005.

tampaknya mereka sadar telah menempuh perjalanan luar biasa panjang serta berliku dan karena itu sengaja memilih judul album barunya, urutan ke-19 dalam diskografinya, now what!? tapi, sebenarnya, judul ini juga relevan digunakan sebagai penghormatan ketimbang indikasi tentang masa depan yang seketika suram setelah jon lord, keyboardist mereka, meninggal juli tahun lalu.

lord, lebih dari sekadar ikut mendirikan band, adalah salah satu arsitek yang ikut membangun karakter musik deep purple, lewat permainan organ hammond-nya. berkat itu, antara lain, deep purple ditabalkan sebagai satu dari the holy trinity of heavy metal. meski telah memilih pensiun dari deep purple sejak 2002, pengaruh lord tetap sulit dinafikan. dalam hal album ini, misalnya, “anda bisa merasakan spiritnya di studio dan saya pikir anda bisa mendengarnya di dalam album,” kata roger glover, sang pemain bas, seperti dikutip majalah classic rock edisi juni 2013.

maka, wajar jika kemudian, sebagaimana diterakan dalam bukletnya, mereka memang mendedikasikan album yang dirilis pada 26 april lalu ini untuk lord. “souls, having touched, are forever entwined,” demikian mereka menulis, dan kemudian menyanyikannya sebagai larik dalam above and beyond. dan mereka menggarap persembahan itu dengan energi berlipat-lipat.

mendengarkan album ini sepenuhnya kita bisa merasakan seberapa keras roger glover, ian gillan (vokal), ian paice (drum), steve morse (gitar), dan don airey (keyboard)–formasi terkini–berikhtiar; juga melihat sinyal bagaimana mereka mencurahkan segenap daya kreasi dan musikalitas yang ada sejak dari menulis lagu, mengaransemen, hingga merekamnya. setiap not, setiap kata, dan setiap detak tempo memancarkan vibrasi tentang para sahabat yang merayakan kegembiraan dan masa-masa indah bersama, semuanya seperti lepas dari aturan-aturan yang membelenggu.

lagu pertama, a simple song, memulai semua langkah memerdekakan diri itu. berbeda dari pembuka album-album deep purple sebelumnya yang selalu langsung menderu (misalnya speed king, highway star, burn, vavoom: ted the mechanic, atau any fule kno that), lagu berdurasi 4.39 menit ini diawali dengan motif petikan bas dan gitar dalam tempo orang berjalan santai dan suasana hati melankolis, dengan latar belakang sapuan lembut cymbal oleh paice yang menimbulkan kesan bunyi lonceng. vokal gillan lalu masuk, melantunkan “time, it does not matter/ but time is all we have….” baru kemudian tempo berubah cepat, seakan membawa kita menumpangi kereta roller coaster yang tengah melaju.

di menit-menit awal itu sudah sangat terasa betapa bebunyian yang kita dengar bagai keluar di satu ruang besar dan luas minim perabotan. bukan saja kesan modern sangat menonjol, melainkan juga betapa dinamisnya presentasi mereka–tapi tanpa menghapus sama sekali jejak deep purple dari masa lalu. peran bob ezrin, produser yang sudah berpengalaman antara lain dengan alice cooper, kiss, dan pink floyd sulit diabaikan di sisi produksi ini.

dengan umpan serupa itu sulit mengabaikan lagu berikut, dan berikut, dan berikutnya lagi sampai lagu kesebelas (atau kedua belas untuk versi dengan bonus track) berakhir. pada lagu kedua dan ketiga, weirdistan dan out of hand, mereka membawa semua yang ada di lagu pembuka ke tataran yang lebih tinggi. ini menjadi etalase bagi apa yang akan mereka sajikan selanjutnya. ada elemen progresif di sini. gitar morse dan keyboard airey seperti beratraksi “terjun bebas”. kadang mereka bersahut-sahutan, atau berbarengan membunyikan not yang sama (unison), ada kalanya mereka menempuh alur solo yang menggairahkan. tapi dengan takaran yang pas.

dengan takaran itu pula airey menerakan karakter permainannya: suatu kali dia membubuhkan ciri khas lord, tapi pada kali lain dia sepenuhnya menjadi dirinya sendiri, seorang pemain keyboard dengan jejak bermusik yang panjang dan berwarna-warni.

simak, misalnya, blood from a stone, lagu tentang seseorang yang menimbang-nimbang hendak melakukan kejahatan agar bisa bertahan hidup. benar jika ada yang mengatakan di sini airey mengingatkan kita pada ray manzarek dari the doors ketika, dengan organnya, dia memainkan melodi jazzy dalam riders on the storm. atau, perhatikan juga gaya emerson, lake and palmer dalam uncommon man: di lagu yang mereka akui mengambil ilham dari komposisi klasik fanfare for the common man ini kita bisa mendengar perayaan bebunyian terompet dan organ setelah intro kontemplatif yang menghanyutkan dari morse.

di semua performans berkelas pada sisi instrumen itu gillan, di usia 67, memang sulit menjadi gillan di masa jayanya pada 1970-an. jangkauan dan tenaga vokalnya telah menurun. tapi, dengan caranya, dia toh sanggup tampil mengimbangi dengan cara mentransformasikan vokalnya sebagai wahana untuk menyampaikan tema, tentang perenungan, humor, rasa puas diri, penyesalan. dalam all the time in the world, misalnya, dia menyanyikan: and so i watch the world/ go racing by, tearing up the street/ i lay back in the long grass/ take it easy and rest my feet/ don’t worry/ you know, there’s no hurry/ here we are/ with all the time in the world.

dengan semua itu, melalui album ini, deep purple menunjukkan betapa mereka tahu benar apa yang mereka masih sanggup lakukan. dan mereka mewujudkannya dengan cara-cara yang sudah mereka kenal sejak lama, tak pernah kurang tapi selalu ada lebihnya.

Megahnya Konser Yes (3 of 10)

May 18, 2013

By: Herwinto

Foto0417

 

KEYS TO ASCENSION……BUKTI YES MASIH DIGDAYA

Setelah album Talk yang tidak sukses, Trevor Rabin keluar dan berakhirlah masa Yes Rabin…dan Yes kembali ke formasi klasik dengan line up Anderson, Howe, Wakeman, Squire dan White. Lahirlah album live and studio Keys to Ascension yang dirilis dalam dua seri, yaitu KTA 1 dan KTA 2, materi dari album KTA ini sebenarnya berisi live konser mereka di  Fremont Theatre San Luis Obispo California 1996, saya berani berpendapat bahwa jika saya hanya punya album Yes KTA saja niscaya ini sudah mencukupi apa yang kita cari dari musik Yes sebab materi live yang disajikan sungguh magis dan fantastic, bagaimana tidak jika lagu lagu yang diusung dalam 3 keping disc ini adalah lagu lagu sakti di jaman keemasan Yes dahulu, Disc 1 berisi Siberian Khatru, Close to The Edge, I’ve Seen All Good People dan Time and A Word, Disc 2 berisi And You And I, The Revealing Science of God, Going for The One, Turn of The Century dan Disc 3 berisi Amerika, Onward, Awaken, Roundabout dan Starship Trooper.

Jelas semua materi telah mewakili album album penting Yes dari mulai Yes Album hingga Tormato yang terhitung masa masa klasik symphonic, sebagaimana kebiasaan Yes dalam konser selalu menambah variasi pada lagu lagunya demikian juga pada konser di Luis Obispo inipun banyak variasi tambahan masuk seperti pada lagu Starship Trooper yang pada penutupannya Rick Wakeman bermain keyboard yang sangat menakjubkan, lagu Time And A Word pun terdengar lebih megah di tangan Howe dan Wakeman, Roundabout terdengar lebih mantab karena dimainkan seperti pada versi studionya yaitu dibuka dengan petikan gitar akustik yang membahana, dan yang hebat Onward dibuka dengan solo gitar Howe yang baru Unity yang sungguh indah memukau. Sajian panggung pun didesain dengan cerita cerita imaginativ ala Yes, Steve Howe masih seperti biasa bermain akrobatik dengan seabreg gitar yang diusung ke atas panggung untuk memuaskan penonton dengan permainan gitarnya yang khas, demikian pula Rick Wakeman dengan selusin keyboard yang mengurung tubuhnya sungguh mengasyikkan, Jon dengan gayanya yang khas sembari memainkan tamborin sungguh memuaskan pandangan mata, Yes nampaknya ingin benar benar mengobati kerinduan fansnya setelah sejak tahun 1983-1994 Yes telah terjerumus dalam hingar bingarnya musik new wave dan pop rock ditangan Trevor Rabin, sungguh Yes telah kembali ke ‘khittah’ nya sebagai band progresif sejati yang pernah melahirkan karya karya emas di tahun 70 an. KTA bagi saya adalah album pertobatan setelah Yes saya anggap ‘murtad’ sejak tahun 83 dan saya benar benar bangga dan terharu dengan jawaban Yes terhadap publik dengan melemparkan KTA ini persis seperti Yes menelorkan Drama sebagai jawaban atas kebimbangan publik bahwa Yes telah tamat di tahun 80 karena ditinggal Jon Anderson.

Lagu Awaken pun pada album live ini terdengar begitu jernih dan menggelegar yang tidak akan jenuh saya nikmati karena Awaken merupakan lagu kesukaan saya, demikian juga The Revealing benar benar mantab abis terutama pada liukan keyboard Wakeman yang merupakan puncak keindahan dan kedahsyatan lagu ini. Disamping album live Yes juga berupaya menulis album studio dan hasilnya? Dahsyat!!!! silahkan nikmati Be The One, Mind Drive dan That That Is pada album KTA ini….benar benar magis dan fantastic!! ini merupakan karya ajaib, sebab di tahun 95-96 Yes mampu menciptakan lagu seperti tahun 70 an, bahkan merupakan lagu lagu epik berdurasi diatas 18 menit, musiknya pun khas bergaya Yes lama dengan elemen elemen progresif yang menawan….Salam!!!!

Megahnya Konser Yes (2 of 10)

May 14, 2013

By: Herwinto

SONGS FROM TSONGAS…PERSEMBAHAN TERLENGKAP MUSIK YES
Foto0411
Mungkin inilah konser Yes yang sangat dahsyat, sajian musik yang sungguh bergizi… Songs From Tsongas….konser pada 15 Mei 2004 di Tsongas Arena Lowell ini sungguh menarik, lagu lagu yang disajikan terbagi menjadi dua bentuk yaitu sajian secara elektrik dan secara akustik. Konser ini diperkuat oleh formasi klasik yaitu Anderson, Howe, Squire, Wakeman dan White. Dibuka dengan sebuah intro Firebird Suite seperti kebiasaan Yes ketika konser dan kemudian masuk pada lagu yang sangat rancak Going For The One dengan Howe memimpin melody dengan steel Gitarnya, sungguh pembukaan yang cukup bersemangat, lalu disusul lagu kedua dari album Time And A Word yaitu Sweet Dreams, hebatnya lagu yang di album aslinya terdengar biasa ini dalam konser disajikan secara lebih progresif dengan balutan gitar Howe yang lebih ngerock dan keyboard Wakeman yang rumit sehingga terdengar lebih berbobot.
Berikutnya lagu indah dari Yes Album, I’ve Seen All Good People mengalir dengan enak dan disambung dengan sebuah lagu epik yang sangat saya sukai Mind Drive parts 1 dan 2. Luar biasa! inilah bukti kesaktian Yes, lagu yang dicuplik dari album Keys To Ascension 2 ini benar benar progresif, meski lahir di tahun 1996, namun musiknya seperti karya 70 an, sungguh sajian khas ala Yes. Lagu selanjutnya adalah karya dari album Fragile South Side of The Sky dengan pembukaan oleh piano yang terdengar magis, dan  pada konser ini bagian akhirnya luar biasa hebat karena ditutup dengan pertarungan gitar dan keyboard yang cukup seru, saya sangat menikmati lagu ini, benar benar gagah dan membahana, berikutnya sebuah karya indah yang membawa kita kepada lamunan yang romantis Turn Of The Century yang dibuka dengan dentingan gitar Howe yang begitu bening dan menerawang jauh….ah jadi ingat Galathea….disusul kemudian Mind Drive part 3 yang melengkapi Mind Drive part 1,2 sebelumnya.
Foto0410
Lagu berikutnya sebuah lagu keren yang sungguh gagah dan megah Yours Is No Disgrace yang benar benar menunjukkan kepiawaian Howe sebagai maestro gitar sejati. Begitu lagu ini selesai Yes masuk pada sesi permainan akustik, dimana Wakeman menggunakan grand piano, Howe dan Squire main gitar bolong dan White main drum sederhana hanya simbal dan senar drum, dibuka dengan The Meeting lagu manis dari album ABWH, woaaaaahhh kuereen nih lagu….disusul Long Distance yang enerjik, terus masuk lagu yang sangat menonjolkan permainan gitar mandolin Howe yaitu Wonderous Stories, sungguh memukau lagu ini, dan berikutnya sebuah lagu manis yang saya sukai dari album Magnification, Time Is Time…hadeh lagu ini bikin ngguweblag tenan….Howe bermain slide gitar dengan cara direbahkan di pangkuannya, woaaah suara petikannya membuat hati ini melayang syahdu….selanjutnya meluncur nomor keren Roundabout yang uenak juga dibawakan secara akustik ini, disusul solo Jon Anderson Show Me yang sungguh cantik dan disambung lagu yang aslinya menggebrak dengan peralatan elektronik penuh yaitu Owner of Lonely Heart, hebat….ini lagu tetep aja garang meski dimainkan secara akustik….
Selanjutnya tidak afdhol jika Howe tidak menyumbang solo gitarnya, kali ini dia membawakan Second Initial, selesai solo gitar ini para kru segera membenahi peralatan Yes kembali ke posisi elektrik, dan menggebraklah lagu indah dari album Big Generator, Rhyhtm of Love yang Jon menyayikannya sembari turun ke arena penonton sambil menyapa para penonton, luar biasa sajian yang mempesona…seperti biasa belum sempurna jika belum mengalun And You And I yang begitu indah ini, dan setelah itu sebuah nomor epik Ritual pun di mainkan dengan gagahnya….dan selanjutnya lagu dari The Beatles Every Little Thing pun dimainkan dengan cukup ngerock dan sungguh telah berubah drastis dari irama aslinya….konser ditutup dengan sebuah nomor penutupan ciri khas Yes yaitu Starship Trooper yang sungguh terdengar klasik sekali. Inilah sedikit cuplikan cerita tentang Songs From Tsongas….dengan harapan para pembaca melihat sendiri dvd nya agar cerita saya ini bener benar diresapi sampai relung relung jiwa yang paling dalam…..Salam!!!!

Symphony “Metal” by Akurama

May 14, 2013

Sebelum diulas musiknya, ada baiknya ditayangkan dulu kasetnya biar ntar gak lupa mengulasnya.

Cover depan dan daftar lagu

Cover depan dan daftar lagu

 

Inlay nya keren juga ada foto truck Symphony Tour  1983

Inlay nya keren juga ada foto truck Symphony Tour 1983 meski cuman sekedar foto main-main .. ha ha ha …

Meski direkam di pita BASF, kaset ini kualitasnya cukup stabil, artinya rekamannya tetep seperti semula. Band ini digawangi oleh Jimmy Paais (gitar), Ekki Soekarno (drums), Fariz RM (bass/the stick/vokal), Tonny Wenas (piano/fairlight programming/vokal), Herman “gelly” Effendi (keyboards/the source/vokal).

Seperti umumnya kaset rekaman band Indonesia, tak ada informasi mengenai tahun kapan album ini dirilis, bisa jadi ya 1983. Bila betul, maka tak heran bila warna musiknya banyak terpengaruh oleh ‘And Then There Were Three’ atau ‘Duke’ albums of Genesis. Dari pengamatan saya terhadap musiknya, pada dasarnya adalah musik pop yang dibalut dengan elemen progressive melalui permainan kibor menarik dari Gelly atau ditimpali Tony Wenas pada piano. Mungkin biasa disebut dengan pop kreatif ya. Yang jelas tak layaknya musik pop nya Rinto atau Iis Sugianto. Instrumen musik yang lumayan menonjol selain kibor adalah bass yang dimainkan oleh Fariz – mungkin bebunyian stick itu yang membuat unik.

Saya mulai nyetel kaset ini tadi dari sie B diawali dengan pop ringan mengalir “Gadis Metal” disambung dengan instrumental “Sirakusa” yang bisa jadi semacam Duke’s Travel – Duke’s End nya Genesis meski musiknya bener-bener berbeda karena sangat miskin permainan gitar. Memang secara menyeluruh album ini sangat jarang ada bunyi gitar, apalagi solo. Pokoknya bener2 miskin gitar dah, hanya beberapa petikan yang gak menonjol banget. Sayang memang. Mestinya ada sesuatu yang mirip Behind The Lines dalam solo gitar nya ya. Kmeudian nyambung ke “Langit Merah di Atas Dunia” dan ditutup bagus dengan “Sofissentris”.

Side A dibuka dengan “Kekal Itu Di Sini” yang mengalir ringan dengan basis bebunyian kibor dan nyambung ke “Lensa Kamar Putih” yang kelihatan banget tentunya ini ditulis oleh Fariz terutama dengan gaya reggae nya yang Fariz banget. Enak di dengar di kuping sih, meski sekali lagi gak ngerock bahkan cenderung pop. Lagu ketiga adalah “Antiklimaks” dan ditutup dengan lagu manis melankolis dengan melodi yang bagus, alunan vokal yang selaras antara Fariz, Tony dan Gelly melalui lagu “Indah” di lagu inilah terdengar ada sedikit permainan gitar solo namun tidak negrock dan halus aja mainnya.

Secara keseluruhan album ini menarik meski nanggung dari segi kategori musik: tidak rock, tidak prog namun ada di tengah-tengah semuanya atau namanya ya pop kreatif tadi. Dikatakan kreatif karena memang chords nya banyak yang gak lurus dan itu terlihat dan terasa banget. Bagi saya album ini tak terlalu nuansamatik dibandingkan misalnya album solo Fariz “Sakura” atau “Panggung Perak” yang sudah jelas pop tapi melodinya tegas banget, tak ngambang seperti Symphony “Metal” yang sulit mendapatkan tekukan melodi indah yang memorable. Setidanya, itu yang saya rasakan dari kuping saya ….

Selamat bekerja ….!!! Kopi tubruk di cangkir udah tinggal setengah nih …. he he he …

Salam,

G

 

 

 

Megahnya Konser Yes (1 of 10)

May 12, 2013

By: Herwinto

image

SYMPHONIC LIVE……KEINDAHAN BERBASIS KEMEGAHAN

Apa kabar kawan kawan semua, setelah membedah album album studio band kesayangan saya YES lewat Indahnya Musik Yes (1-10) dan ABWH, ijinkan saya mengulas sedikit konser hidup mereka lewat coretan serba sederhana ini yang saya beri judul Megahnya Konser Yes. Tiada lain coretan ini hanya untuk melengkapi cerita perjalanan band ini dan kiprahnya di blantika musik dunia.

Saya mulai dari Symphonic Live, ini adalah konser di Heineken Music Hall bersama kelompok orkestra The European Festival Orchestra pimpinan Wilhelm Keitel pada 22 November 2001. Ada hal menarik mengapa saya menyukai konser ini karena salah satunya didukung oleh sebuah orkestra lengkap yang memberi kesan betapa megahnya konser ini, lagu lagu yang diusung Yes sendiri sebenarnya sudah merupakan karya karya klasik yang megah dan monumental namun dengan adanya dukungan orkestra semakin memberi kesan bahwa grup ini ingin membangun sebuah konser musik yang kolosal dan megah. Meskipun sudah tidak muda lagi dan telah beruban semua, tidak menyurutkan para jagoan Yes untuk mengulang kejayaan masa silam dengan menampilkan lagu lagu epik berdurasi panjang.

Ada tiga lagu epik yang dibawakan pada konser ini yaitu Close To The Edge, The Gates of Delirium dan Ritual, selebihnya lagu lagu keren mereka sepanjang era klasik ditambah beberapa nomor dari album Magnification. Bisa dibayangkan betapa lama mendengarkan konser ini sebab ketiga lagu epik diatas saja sudah memakan waktu hampir 60 menit sendiri. Untuk pemain keyboard kali ini Yes menggunakan session player seorang keyboardis muda Tom Brislin, hebatnya si Tom ini mainnya keren banget, dia sangat enerjik memainkan jemarinya secara akrobatik, maklum masih muda sekali sih, dan dia juga bisa fasih membawakan nuansa keyboard yang berbeda antara Rick Wakeman pada Roundabout dan Patrick Moraz pada Gates of Delirium, luar biasa saya benar benar kagum. Konser dibuka dengan overture permainan musik klasik dari The European Festival yang langsung masuk ke Close To The Edge yang njlimet namun dalam tempo yang agak lambat maklum sudah sepuh semua, Steve Howe seperti biasa menggunakan dua gitar pada lagu ini yang berwarna coklat.

Ada hal yang menarik yaitu ketika hendak masuk lagu kedua dibuka terlebih dahulu dengan permainan orkestra seperti pada cerita musikal terdengar begitu megah baru masuk ke Long Distance Runaround yang uenak sekali, lagu selanjutnya Dont Go terasa indah lagu ini karena dibungkus dengan elemen elemen orkestra dan dipimpin oleh melody Howe yang jernih dan tegas. Lagu berikutnya In The Presence Of yang begitu mendayu namun tetap terdengar gagah dan megah dengan kombinasi permainan gitar Howe antara gitar steel yang menyayat dan gitar gibson yang jernih. Lagu berikutnya The Gates of Delirium terasa begitu menggemuruh karena di bungkus dengan bunyi bunyian alat alat musik orkestra yang lengkap bahkan yang sungguh menarik adalah para pemain biolanya meskipun para gadis gadis muda namun ikut terbawa arus akrobatik dari para personel Yes yang seperti bermain sendiri sendiri dengan terampilnya. Seperti sebuah tradisi, konser Yes selalu dihiasi dengan permainan solo gitar akustik dari Steve Howe yang kali ini menampilkan Vivaldi Concerto in D 2nd Movement disambung Mood for a Day yang melegenda itu, berikutnya langsung disusul Starship Trooper yang merupakan lagu wajib dalam konser yang bagian akhirnya merupakan aksi saling berbalasan antara gitar dan keyboard, sekali lagi saya kagum dengan Tom Brislin yang pada bagian ini lolos dari maut karena tikungan tikungan tajam permainan keyboard sangat banyak pada Starship Trooper ini, lagu berikutnya Magnification terasa begitu klasik dengan sentuhan gitar Steve Howe yang lincah dan jernih, dan lagu Yes terindah sepanjang masa pun berkumandang And You And I yang mengalun membahana dan sangat menusuk sukma terutama pada bagian steel gitar yang dimainkan Howe diiringi alunan keyboard dan dibalut hentakan musik orkestra, sungguh indah sekali.

Lagu selanjutnya adalah Ritual yang terdengar benar benar sempurna dari sisi permainan instrumennya apalagi lagu dari album Topographic Ocean ini memang penuh dengan bunyi bunyian perkusi yang sungguh sudah disempurnakan dengan adanya orkestra pendukung. Lagu indah I’ve Seen All Good People pun mengalir diiringi tepukan penonton yang ikut menyanyi yang akhirnya semua personil Yes setelah lagu ini berakhir berbaris di depan panggung seakan akan mau berpamitan, rupanya para anggota Yes masih suka main petak umpet, setelah lampu gelap dan kemudian menyala lagi rupanya mereka sudah siap menggebrak panggung lagi terbukti semua sudah pada posisi pegang alat musik, maka menggebraklah lagu yang sangat terkenal Owner of Lonely Heart dengan garangnya dan langsung disambung dengan Roundabout dimana semua pemain orkestra ikut maju ke depan panggung menari bersama, Tom Brislin pun sanggup menyajikan sound keyboard Rick Wakeman pada nomor Roundabout dengan sempurna. Sungguh sajian yang benar benar mempesona…..Salam!!!

IQ “Headlong” – an interpretation of song elements

May 1, 2013

Sejak membaca komentar mas Ekho Pratama tentang IQ terutama kesannya terhadap lagu Headlong dari album kedua The Wake, saya merasa tercerahkan dan sumringah karena gembira-ria mendapat teman baru satu aliran yang menyukai IQ utamanya lagu Headlong ini. Saya sangat setuju dengan pendapatnya terhadap segmen indah yg dimulai dengan lirik “From the moment ….“. Memang di segmen ini kita harus berhati -hati mendengarkan lagu ini karena kalau kita merasa sebagai makhluk manusia normal yang berarti memiliki nurani, justru dikhawatirkan kita bisa kejlungup nyosor lantai dengan lambe nyonyor dan hati hancur lebur berantakan seperti pecahan kaca mobil. Kenapa? Karena melodinya nunjek ulu ati tuwenan jek!

Sejak baca komentar mas Ekho itulah saya merasa ada pertemuan dua hati (biyuh kok dadi romantis to?! Ha ha ha …) ya karena satu lagu bertajuk Headlong yg benar-benar dahsyat itu. Sudah puluhab tahun saya suka lagu ini dan sudah puluhan teman sesama penggemar IQ telah berhasil saya kenali dan bina pertemanan dengan baik. Bahkan tahun lalu kami berkumpul beberapa kali menonton dvd konser IQ “Frequency” di Subtitles, Dharmawangsa Square. Senang sekali kita bersuka cita menonton dvd keren ini sambil mbengok-mbengok sak dobole menirukan permainan indah personil IQ. Namun …. tak satupun temen saya itu yg punya kesan KHUSUS terhadap Headlong. Mangkanya ….saya suweneng mas Ekho bisa berselera sama bahkan memiliki cita rasa sama terhadap lagu ini. Whooooooaaaa…….!! Suweneng tenan aku!

Bagi yg belum kenal IQ, musik Headlong tergolong sederhana alias tidak kompleks. Kekuatan lagu ini justru dalam hal penciptaan melodi yang jelas nunjek ulu ati sampe berdarah-darah dan juga harmoni dan instrumentalisasi aransemen musik yang begitu kreatif dan terasa penuh saling mengisi terutama dalam hal gitar dan kibor. Ini tentunya masih ditambah dengan vokalisasi yang terasa elegan meski terkesan melankolis bahkan gembeng. Kebayang gak sih? Makanya kalau gak kebayang buruan beli kasetnya atau paling sial CDnya. Muantabz tenan jek!

Lagu ini dibuka dengan kombinasi lengkingan vokal memelas gembeng ala Peter Nichols dengan lirik yang sungguh indah untuk dilantunkan sambil menikmati lagunya:

I am here. The ragged burden come to nothing, comfort go….” wadouw ……baru intro aja udah mbrabak menikmati lekukan vokal dikombinasi suara kibor yang menambah marak suasana hati. Bohong kalau Anda kenal lagu ini gak spontan ikut nyanyi. Kecuali …bila Anda tak memiliki nurani.

Siksaan hati baru dimulai dan Anda harus menghadapi lagi segmen selanjutnya yg juga sangat indah:

Hovering above me like a net, I’m terrified to look beyond the threat, I kill ambition while I can.”

Yungalah …..aduh biyuuuung ….Gusti Alloh nyuwun ngapunten …..! Ini lekukan melodi dan vokalisasi Nichols begitu merasuk hati hingga tembus ke sumsum tulang belakang. Uwediyaaan ….indaaaah bangettzz….

Stumbling, we go blindly marching on, Bursting like a dream and now all gone, In time I know we’ll fly again.

Setelah itu ada perpindahan nuansa yang terkesan horor namun hanya sejenak karena kembali ke melankolis saat liriknya ini:

Frail as ever, still the most severe, Haven’t I surrendered everything now? Naked in my cruellest waking fear From the rages of the weightless sleep.”

Musik kemudian masuk indah disertai solo kibor oleh Martin Orford yang sederhana namun sungguh membuat ati ini klepek2 gak tahan …. Belum lagi sayatan gitar dahzyat dari Mike Holmes. Wis ….pokoke nggajak tuwenan….!

Kemudian musik ujug ujug mak gedandut berhenti disertai indahnya vokalisasi ini:

“Who will catch him falling?” called the wind

“I will claim him,” volunteered the grave

“Marry me forever,” cried the bride, Said the orphan, “Who’ll remember me? Anyone at all? Are you coming back?”

Terus nyambung raungan gitar ala Mike Holmes yang sungguh ngeprog pitung-puluhan banget! Merindhink dah kalau mendengarkan segmen ini.

Almaaaaak ……!!! Lagu kok begitu indah ya? Ini mereka berlima saat membuat lagu ini lagi mabuk apa ya? Kok indaaàaaah banget mengalunnya.

Akhirnya sampailah pada the final musical orgasm yang siapapun mendengarnya pasti bakal speechless alias ndlongop atau melongo terheran-heran kok ada musik seindah ini gitu lho ….!!!

“From the moment we were torn, Thrown into the tunnel, we withdrew, Whiter colours then untied, Don’t desert me now I’m coming through ….”

(Pas Nichols mengucapkan “through” …bunyinya huwenaaaak tuwenaaan!)

I fought the memory of beautiful things, Imaginings, The only strength I got from wanting you

All the love I’ve been needing, The hunger is feeding on me, Spirit, bear me away to the place of birth (Madiun tentunya!)”

WHOOOOOOAAAA…… nggulung koming ping kopang kaping tenaaaan …..!!!

Sik yo …..aku tak semaput disik yo ……


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 72 other followers