Archive for the ‘Activity’ Category

Mencari Mas Kukuh

October 13, 2014

Andria Sonhedi

Sejak mas Kukuh Tawanggono, rekan kita sang maestro rock dari Ngalam bergelar the MadMan, menulis akan nonton Rock in Solo (RIS) di bulan Oktober 2014 saya punya keinginan utk bisa ketemu beliau. Sosok misterius yang cuma kita lihat sekali fotonya di blog ini bak tanpa rasa takut siap meninggalkan miss A di Malang demi melihat dewa mas silamnya yang akan menggoncang Solo.Tentu saja bertemu salah satu simpatisan blognya pak Gatot ini bukan hal yang mudah, mengingat waktu yang tidak pernah bisa diseragamkan. Walau bisa juga saya nantinya akan merasa kecewa karena sang the MadMan ini mengaku mirip Kerry King dari Slayer
ternyata wajahnya nanti lebih mirip Ozy Syahputra :D
Rencana saya adalah mencegatnya di rute perjalanan Malang-Solo. Bukan ide orisinila memang karena panitia Rock in Solo sdh duluan memakainya saat membelokkan Carcass yg sdg tour Asia utk bisa tampil di Indonesia. Daripada saya yang harus ke Malang mending mempersilakan beliau lewat Sarangan-Tawangmangu (atau sebaliknya) shg bisa mampir rumah saya utk sekedar minum di Magetan dulu. Itupun sesuai pepatah jawa “urip kuwi prasasat mung mampir ngombe” (=hidup itu ibarat cuma mampir minum) :) 
Persiapan saya tentu saja beli tiketnya dulu. Untunglah selama saya ngurus STNK di Yogya pulangnya lewat distro Holyflesh di Pakis,Klaten yg menjual tiket pre-sale. Setelah tiket didapat saya nyoba ngontak mas Kukuh. Sayangnya sms saya tak pernah berbalas :(  Apalagi ternyata saya nggak punya alamat e mail-nya juga, tambah gelap. Berhari-hari kemudian saya jadi makin pesimis bisa ketemu mas Kukuh, apalah gunanya ketemu Carcass tapi nggak ketemu sodara kita yang satu itu :) Teman saya yang dari Makassar yg mau nonton ke Solo sampai h-7 juga blm bisa dapat tiket pesawat. Ada satu lagi yang saya siapkan untuk mas Kukuh, mug Trve Norwegian Black Metal yg cuma ada 1 di dunia, opo ora elok tenan.
Akhirnya H-1 saya coba pagi-pagi sms lagi mas Kukuh, ada jawaban tapi kok jawabannya gini: Mas Andri, papa sudah meluncur ke Solo via jalan darat. Mas Kukuh kok romantis nian menyebut dirinya papa :D Tapi ternyata ada sms berikutnya dan terjawablah sudah bahwa selama bepergian HP mas Kukuh disita oleh miss A, tadi beliau ini yg njawab. Saya kok jadi ingat lagu dangdut “SMS siapa ini Bang” :D Berdasar penuturan miss A rombongan mas Kukuh berjumlah 10 orang. Sayang Jumat itu saya nggak prei jadi plan A utk membelokkan (atau mengenggokkan) rombongan mas Kukuh gagal. Saya aja sampai rumah sdh jam 20.00 malam. Untunglah pas Jumat sore rekan saya dari Makassar, mas Dede, positif ke Solo sehingg saya tetap memutuskan berangkat. Bagi saya kl ke RIS cuma untuk nonton Carcass tanpa agenda ketemu siapa-siapa rasanya kok mbuat lelah aja. Apalagi musik Carcass tidak 99 % saya kuasai, beda kalau saya disuruh nonton Napalm Death. Sama aja :D
Hari sabtu tanggal 11Oktober 2014 dari pagi sampai siang saya menanti sms dar mas Kukuh, sambilmengurus mutasi STNK saya &  menyelesaikan pekerjaan rumah. Sementara itu di blog ini pak Gatot, KohWin dan pak Apec bergantian memberi saran bagaimana cara menemukan mas Kukuh. Dari saran yang sederhana hingga yang membutuhkan nyali dgn naik panggung dan mbuat pengumuman :)
Akhirnya jam 15.30 saya baru berangkat ke Solo lewat Tawangmangu, tak lupa membawa satu-satunya kaset Carcass yang saya punyai untuk latihan mendengarkan.
Sampai Solo sdh jam 17.30 dan di sekitar venue benteng Vastenburg sudah banyak anak-anak (dan bapak-bapak juga) wira-wiri beli makanan di luar. Sebagai orang yang sdh lama tak nonton konser, apalagi yang festival saya baru tahu kl makanan dan minuman tak boleh dibawa masuk. Padahal saya sdh cukup banyak bawa sangu. Saya kontak teman saya dan alhamdulillah kami bisa ketemu di dalam arena konser. Teman saya ini sejak jam 14.00 sudah nonton bareng temannya. Mas Dede ini adalah anggota komunitas penikmat musik underground di instansi saya yang juga saya ikuti. kami selama ini cuma komunikasi via gmail & SMS doang. hampir mirip dengan komunitas blog gemblung ini, tiap salah satu atau salah banyak dari kami berkunjung ke kota yang ada anggota maka akan diadakan gathering lokal. Ini pertemuan saya yang kedua kalinya, dulu sempat ketemu beberapa menit pas dia mau nonton konser juga. Suasana inilah yang saya juga inginkan saat bisa ketemu mas Kukuh nanti.
Suasana di arena memang gelap kecuali di area food court (ada yg jual rica-rica gugug juga), tenda mercahndise (ada yg jual cd IQ) dan di depan panggung. Saya pikir mas Kukuh CS pasti nongkrong di muka panggung, nggak pindah-pindah supaya kl pas Carcass nanti bisa crowd surfer segala :)
Untuk ulasan konser (termasuk kemunculan sesaat EdanE) nanti biar mas Kukuh aja yang cerita karena menurut SMS yang dia kirim senin pagi album Carcass-nya ditanda tangani para anggota Carcass.  Saya walau agak jauh dari panggung tapi masih bisa melihat wajah dan gaya panggung Carcass. Berbeda dengan beberapa grup lokal yang nyambi nyanyi sambil mainkan instrumental tapi tetap diam 3 anggota Carcass bisa wira-wiri membuat koreografi sederhana atau sambil ngangkat-ngangkat gitar/bass.

image


image


image

jam 23.15 konser rampung dan kembali saya nggak bisa menemukan mas kukuh :D
Ada plan C, yaitu mencegat mas Kukuh saat pulang. Tentu saja harus berharap mas Kukuh mau berbaik hati mengabari saya. Saya bahkan hari minggu itu tidak pergi ke mana-mana (wl ini msh harus diperdebatkan krn mmg harus jaga rumah krn isteri & anak pergi upacara hari jadi magetan seharian). Saya bahkan sdh tanya isteri tempat makan mana yang cocok untuk menampung 10-an orang makan pagi. Kemarin di parkiran venue saya lihat ada beberapa bis mini, saya jadi berpikir apa rombongan mas Kukuh nyewa bis semacam itu :) Ada juga SMS tapi malah dari pak Edie Jombang dan KohWin yang nanya hasil perburuan saya mencari mas Kukuh. Akhirnya sore pun tiba dan saya mulai berhenti berharap mas Kukuh akan datang ke Magetan. The lambs sdh tidak berkeliaran lagi di sekeliling rumah saya dan matahari pun terbenam. Ya sudah, mungkin bukan waktunya saya bisa ketemu dengan the MadMan kita ini. SMS mas Kukuh (kali ini benar dia) yang menyatakan penyesalan tak ketemu juga baru saya baca Senin pagi wl dikirim Minggu malam.


evil has no boundaries

Mengunjungi Jogya “Prog” Karta

October 12, 2014
 
 Budi Putra
Alhamdulillah, setelah sekian lama akhirnya berkempatan juga mengunjungi Jogyakarta. Walau dengan agenda pokok  melakukan studi banding ke sejumlah tempat home industri dan desa-desa wirawisata. Namun, kegembiraan ini tak dapat lagi tersembunyikan. Rasa rindu dengan suasana Malioboro dan jalan-jalan di sekitarnya serta bau harum dan nikmatmnya wedang jahe angkringan di malam hari sungguh sesuatu anugrah Illahi yang terindah. Walau kini Jogya semakin bising dengan kendaraan bermotor tapi kita bisa menjumpai keasrian Jogya di pelosok-pelosok lainnya baik yang berada di pinggiran kota maupun ketika memasuki kota Bantul atau Sleman juga Gunung Kidul. Di tempat-tempat ini serasa penat selama di ibu kota seolah terpupus dengan keramah-tamahan penjual panganan di gerobak angkringan dan panorama di sekeliling kota Jogyakarta. Jogya “Prog” Karta, kami datang mengunjungi kerinduanmu.
Benar adanya bila kota yang dijuluki sebagai kota pelajar dan budaya ini memang benar-benar menyimpan kerinduan bagi yang pernah menghampirinya. Di sini kita bisa bercengkrama dengan suasana kota yang hiruk pikuk dengan tingkah laku para penghuninya. Mulai dari pengamen jalanan Malioboro, para wisatawan, serta panorama kota yang tak lekang di gerus jaman. Namun bukan hanya suasana Jogya yang menakjubkan tapi juga play list yang saya bawa dan sudah 3 bulan ini menemani hari-hari saya. Maka menjadi sangat indah mendengarkan lagu-lagu ini di sepanjang kunjungan 3 hari di Jogya. Ini dia nomor-nomor terdahsyat yang masuk dalam daftar play list pada kunjungan kali ini, diantaranya:
1. Birdland (Wheather Report)
2. Close To The Edge (Yes)
3. Come Back To Me (Uriah Heep)
4. Flute Trio (21st Century Schizoid Band)
5. Gone Sailing (Soft Machine)
6. Homburg (Procol Harum)
7. Humanizzimo (Flower Kings)
8. I Talk To The Wind (King Crimson)
9. I Wonder (Mahavishnu Orchestra)
10. Live Is Life
11. Merlin (Kayak)
12. Miracles Out Of Nowhere (Kansas)
13. Mister Ten Percent (Triumvirat)
14. Night In White Satin (Transatlantic)
15. Onward (Yes)
16. Paintbox (Pendragon)
17. Questions (Manfred Mann’s Earth Band)
18. Rain (Uriah Heep)
19. Refugees (Van Der Graaf Generator)
20. Rise And Fall (Part 1) (Pallas)
21. Running Water (Moody Blues)
22. Script For A Jester’s Tear (Marillion)
23. Slow Your Self Down (Camel)
24. So Close, So Far (Glass Hammer)
25. Space Shanty (Khan)
26. Sweet Dreams (Uriah Heep)
27. Tales (Uriah Heep)
28. The Cinema Show (Genesis)
29. The Gap Is Too Wide (Mostly Autumn)
30. The Only Thing She Needs (UK)
31. Vigil (Fish)
32. Weep In Silence (Uriah Heep)
33. Wingful Of Eyes (Gong)
34. Wise Man (Uriah Heep)
35. Without You (Asia)
36. Working Man (Rush)
Weih, dengan urutan lagu-lagu ini membuat saya semakin betah untuk berlama-lama di kota Jogya. Apalagi saat menemani perjalanan 1 jam-an menuju daerah wisata Goa Pindul di desa Bejiharjo, Gunung Kidul. Ketika bus yang mengantar kami sudah mulai tancap gas…jreng nomor “Birdland” dari Wheather Report menyemangati pagi dengan alunan bernuansa jazzy ini…wuasik sekali. Setelah 5:59, dengan intro kicau burung masuk Yes lewat “Close To The Edge”……tenang, diawal memang agak “kacau” antara gitar, drum saling pamer kebolehan. Tapi setelah itu suasana asik dengan permainan gitar yang melodius. Maka lengkap sudah saat “Come Back To Me” Uriah Heep ikut menimpali lagu tersebut. Saya sengaja memasukan beberapa nomor milik Heep dengan tujuan untuk menyeimbangkan gendang telinga dari kejlimetan nomor-nomor prog lainnya seperti “Humanizzimo” yang durasinya 23 menitan itu. Saya yakin nomor ini hanya bisa dinikmati secara seksama oleh Mr. Koh Win atau mas Gatot saja….hehehe. Kalo saya masih belum sanggup……sungguh!. Selain itu bagi saya nomor-nomor  Heep diatas sungguh relevan dengan suasana temaram bila Jogya di malam hari. Coba saja dengerin “Sweet Dreams” atau “Wise Man”…..ah, nikmat Tuhanmu mana yang engkau dustakan, begitu kutipan dari mas Gatot. Untuk nomor-nomor lainnya biar rekan-rekan blog gemblung menilai dan menakar sendiri. Terutama untuk Mr. Kompilasi alias mas Hippienov…
Mejeng sebelum berangkat

Mejeng sebelum berangkat

-
Dokumentasi Kesultanan Yogyakarta

Dokumentasi Kesultanan Yogyakarta

Mungkin ini (sementara) yang saya bisa share dengan rekan-rekan blog gemblung tercinta. Di lain waktu saya akan ceritakan keindahan dan keunikan daerah-daerah yang saya kunjungi termasuk hal lainnya terkait musik. Juga mohon maaf karena keterbatasan waktu dan padatnya jadwal sehingga tidak sempat menghubungi mas Andria untuk bisa bermini progring ria. InsyaAllah bila Tuhan berkendak pada suatu kesempatan bisa datang kembali ke Jogyakarta sehingga bisa bermini progring bersama mas Andria juga Mr. Koh Win. Salam!

Temen Baru Buat NgePROG

October 4, 2014

image

Alhamdulillah kemarin siang saya kedatangan tamu yang bakalan menemani saya buat ngeprog, sambil kerja dan nyeruput kopi hitam tanpa susu tanpa gula, yakni sebuah blue tooth speaker berukuran mini namun suaranya cukup mulyono. Sing oenting huwenak buat ngprog. Gak hanya itu, speaker mungil ini juga nyaman buat gowes karena memang ini didesain buat outdoor dan water resistant. Top dah! Mkin ngeprog dan semangat bekerja ..  Semangat ngopi … Semangat gowes. Soale pangsit saya ini ndak tahan kalau pake headset. Tapi kalau pakai speaker bisa tahn lama. Nyamleng soromenggolo tenan.

Ini adalah kali pertama saya membeli bluetooth speaker dan bingun sekali memilihnya karena begitu nuwanyak di  pasaran. Akhirnya saya milih Divoom Voombox Travel dengan pertimbangan karena reviewnya bagus dan cucok buat outdoor juga. Apalagi saya ini kantornya di rumah dan di kafe-kafe, maka perlu lah memiliki sebuah speaker yang praktis, apalagi bisa dipake buat gowes dikarenakan desain speakernya yang punya cantholan buat diiket kemana aja termasuk ke ransel. bagi prog freaks tentu speaker ini solusi. Bisa juga suatu saat kita progring sambil reiew musik prog menggunakan speaker kecil methisil tapi bass nya mulyono pulak ini. Saya sih puas untuk ukuran travel speaker ya. Bayangkan, kemana-mana bisa bawa spekaer bahkan sambil nabung di kamar kecil pun speaker bisa ditaruh dimana aja dan boleh kebloh kena air. Pow ra nggajak tenan!

Begitu tiba kemarin dari JNE dan dikirim oleh lazada.co,id yang baru pertama kali pula saya bertransaksi di sini dan ternyata memuasakan sekali, saya buka dan utak-atik sambil baca manual karena gak pernah punya speaker bluetooth.Langsung saya koneksikan ke plug untuk ngecharge dan saya coba spekaernya setelah bunyi khak Dhut thot thet tanda siap dipakai. Serenteten lagu progclaro pun saya coba dengan spekaer ini:

  1. Dengan Emerald Lies nya Marillion bunyi perkusinya terasa nyaring dan suara Fish mantab jaya;
  2. Stranglehold nya Ted Nugent terasa garang bunyi gitarnya dan juga gebukan drums di tengah lagu sebagai interlude …whoaaaa ….
  3. Magnum Opus nya Kansas juga saya coba dan suaranya nyaring banget bahkan dalam volume yang rendah pun suaranya jernih pol
  4. Ryker Skies nya IQ? Whoooaaaa …muwanteb jaya! Saya nggumun speaker cilik ternyata nikmat ya buat mendengarkan prog bahkan dalam suara yang lirih
  5. Yyz nya Rush mantab saat Neil Peart nggebuk drumsnya
  6. Tentu tak lupa saya pasang Cirkus (live) dari The Elements of King Crimson … waduh keren jaya jal .. Tanduk …saya ulang lagi
  7. Cat Food nya King Crimson makin nendhank dengan bebunyian piano yang menawan
  8. Loan Me a Dime nya Boz Scagg yang ngeblues itu terasa jernih banget suaranya. meski lagunya ngelangut saya pasang volume kenceng dan nyamleng jaya di kuping
  9. Pale Communion nya saya setel full album
  10. Ketika malam hari, sudah larut, saya duduk di teras dengan lampu mati dan menikmati detil suara musik dari speaker mungil ini saya nyetel berbagai jenis musik IQ termasuk Further Away … lha kok trus Koh Win SMS bilang nggeblak dengan Sleepless Incidental… Nyuwetruuuuuum pol!

Wis lah pokoke dengan speaker mungil ini bisa ngeprog dimana saja …kapan saja … JRENG!

Kali ini nyetel The Void nya Beardfish sambil nulis review nya buat ProgArchives …

Salam

Mini ProgRing @ LOVE

September 21, 2014

Rully Resa

Setelah diamati ternyata dalam ranah rock progressive yang nagih itu bukan hanya musiknya ternyata gathering dengan sesama progger juga bisa bikin ketagihan…he he he jumat siang tgl 19 september 2014 mini prog ring bersama mas hippie kembali digelar. Seperti pertemuan sebelumnya mas Hippie datang ke Lotte Shopping Avenue (LOVE) utk mengunjungi saya karena kebetulan kantor saya tepat disebelahnya. Saya juga tidak lupa membuatkan DVD sesuai request mas Hippie, tidak lupa juga menyelipkan beberapa grup lainnya. Saya menyelipkan grup-grup ClaRo seperti Iron Butterfly, Budgie, Grand Funk Railroad, dll. Saya berharap selipan grup tsb bisa menghibur mas hippie.

Pertemuan kali ini lebih singkat durasinya, tapi tentu saja tidak sedikitpun mengurangi kandungan prog didalamnya. Karena tidak baik jika gizi prog kurang dikonsumsi, bisa membuat tubuh jadi pegal dan kepala jadi pusing. ha ha ha ngawur! kali ini kita banyak membahas grup Radiohead yang sempat dibuatkan tritnya oleh Mas Hippie. kemudian berlanjut cerita tentang pengalaman kami membeli kaset lantaran penasaran dengan nama grupnya atau karena tertarik dengan gambar covernya. Makin aneh nama grupnya dan makin aneh artworknya, hasrat memilikinya makin tinggi, walaupun dengan sikap impulsif seperti itu sering dapet kaset yang musiknya kurang bagus. Tapi tetap tidak jera juga melakukannya, kalau menurut mas Hippie solusinya gampang tinggal tukeran kaset aja atau dijual. heheh lalu bercerita ttg kehidupan pribadi masing-masing, dst.

Waktu bergulir cepat sekali, sekitar pukul 2 siang pertemuan yang amat singkat ini harus diakhiri karena Mas Hippie dan saya harus kembali ke kantor. Terpantau mini prog ring sudah digelar dibeberapa tempat, tinggal menunggu prog ring yang full LP nih… hehe
salam

Sejenak di Kota Lama – The Warning

September 21, 2014

Kemarin krn gambarnya sdh terlalu banyak maka apa yang saya dapat baru saya tampilkan di sini.
Kelompok pertama adalah kaset-kaset produksi lama.

zz1

  1. Air Supply adalah satu dari sedikit grup pop yang saya sukai, dulu kakak saya yang mengenalkan & lagu-lagu mereka jarang saya dengar di radio (kecuali saya muter gelombang yg salah atau salah waktu mendengarkan). Kebetulan kemarin dalam satu bundel ada banyak Air Supply produksi baru dan 3 yang lama. Karena beda judul album maka saya ambil semua & pertama kali saya memegang sampul yang sebenarnya bukan cuma di layar komputer via internet.
  2. Suzi Quatro rekaman Gold Fingers, saya punya SQ tapi yang ini mumpung ada aja.
  3. Weird Al Yankovic adalah musisi parodi, di Indonesia jaman dulu ada P Project yang mirip. Sebelum dikenal dgn memparodikan lagu Nirvana-Smells Like nirvana kaset-kaset awalnya sdh banyak beredar di jaman non royalty. Ada1 lagu lengkap yang diparodikan ada pula potongan2 lagu yang disatukan. Lagu Sledgehammer-nya Peter Gabriel sepotong dinyanyikan dgn irama ceria semacam Looney Tunes :)
  4. Rick Springfield adalah penyanyi AOR idola para remaja tahun 80-an, setahu saya Rick aktif lagi sekarang tentu saja dengan penggemar yang berbeda. Album Live ini C-90 yang direkam oleh Billboard. Lagu awalnya malah mengingatkan lagu Valkyrie dari Asia di album Gravitas.
  5. Kaset Roger Hodgson yang bersolo karir ini adalah yang paling sering saya lihat jaman dulu, Tambahan di side B ada Steve Hackett 3 lagu :)

Untuk kelompok kaset royalty sebenarnya tak istimewa:

zz2

  1. Enya-Amarantine, masih tersegel shg dijual hampir sma harga asli. Enya saya sukai karena musik & suaranya unik.
  2. the Chieftains juga musisi unik dari Irlandia, saya pernah punya tapi dihilangkan adik saya.Makanya kali ini saya beli untuk mengembalikan kenangannya.
  3. Aerosmith – Get a Grip adalah era Aerosmith menuju kesuksesan tahap II & dikenal lebih banyak orang. Sayangnya sampul dan kasetnya sdh tidak mulus.
  4. the Best White Lion adalah kaset terakhir grup si suami terakhir Ayu Azhari sebelum bubar. Sang gitaris, Vito Brata, sudah tak ingin lagi berreuni walau dibujuk dengan fasilitas apapun.
  5. Dulu saya pernah nonton film Wayne’s World, konon gara2 mereka Bohemian Rhapsody-nya Queen jadi terkenal lagi. Soundtrack ini berisi lagu-lagu hard rock yang digunakan di film mereka.
  6. album Strait Up adalah album tribute untuk vokalis grup Snot, band alternative rock. Beberapa hari yang lalu saya lihat di internet dan kok kebetulan ada kasetnya di sana. Sebenarnya saya beli karena ingin tahu saja.

Memang perburuan kaset lama sangat mengasyikkan, terutama bila nemu kaset2 yang kita idam-idamkan. Bagi saya harga tetap jadi pertimbangan, apalagi kl cuma ingin dengar lagunya masih bisa didapat dari mp3 yg bisa dicari via internet. Dari penemuan kembali kaset-kaset lama ini ada beberapa peringatan yang perlu saya bagikan pada Anda semua, bila berminat.

  1. Bila Anda menemukan kaset-kaset lama jangan jadi euphoria.
    Saya termasuk di dalamnya, wl sdh berpengalaman tetap saja kesenengen kl sdh nemu tempat seperti RM Minang Jaya. Euphoria membuat kita tak waspada. Saya kemarin tdk mengecek kaset Air Supply- Lost in Love produksi Contessa karena percaya 100% isinya benar. Ternyata isinya malah the best of America yg sdh tercetak di rumah kaset sbg ciri khas Saturn. Walau di kaset AS terbitan Hins ada separo album Lost in Love sbg side b tapi sayang juga. Kesalahan yang fatal.
    Kondisi pita juga perlu diperhatikan, gulungan pita karena pernah kriting atau terlipat akan kelihatan kendor. Ada beda pita kendor karena di-rewind dengan karena rusak. kaset Get a Grip termasuk ketidak telitian saya, ada bagian pita yang melipat & sebenarnya sdh dapat diduga dari penampakan gulungan pitanya.
    Penampakan fisik cover & rumah kaset juga perlu dilihat, bila terlalu mulus untuk kaset2 langka malah bisa dicurigai sebagai bajakan Bandung atau Malang
  2. Bila memang disediakan tape untuk mencoba, cobalah dahulu
    Setelah penampakan fisik tadi silakan mencoba kasetnya. Penjualnya biasanya cukup sabar melayani percobaan tadi. Bahkan orang2 pro macam pak Priyo tak mengenal semua lagu, Bisa saja rumah kasetnya sama tapi isinya lain, apalagi kalau rumah kasetnya benar-benar lain. Hal ini juga bisa mendeteksi apakah ini kaset bajakan atau orisinil.
  3. Bila memungkinkan untuk ditawar tawarlah
    Tidak ada salahnya kita menawar jualan yang ditawarkan. Biasanya kl beli banyak harga bisa turun, bahkan seandainya harga sdh termasuk murah :) Kaset-kaset saya kemarin dikategorikan jadi 3 harga tapi saya tawar untuk sama harganya ditolak. Anehnya saat saya tawar saat harga fix malah bisa lebih murah dari yang saya tawar sebelumnya tadi :)

Semoga rekan-rekan gemblunger lain tak perlu mengulangi kesalahan-kesalahan saya tadi dengan sedikit catatan tambahan ini.

Mini ProgRing @ Apple Jombang

September 20, 2014

Gatot Widayanto

image

Alhamdulillah …akhirnya terlaksana juga mrogring di mabes pendekar prog dari Jombang, mas Edi Apple Santoso. Kami bari saja bubaran setelah kenyang ngobrol banyak hal mulai dari 19:15 tadi hingga bubaran tepat 00:00. Seperti halnya progring di Jakarta yang selalu saja waktu berjalan begitu cepat, di Apple Prog Cafe ini juga begitu. Saking asiknya ngobrol tahu2 sudah 23:45 dan mata mulai berat. Rasanya pertemuan dengan mas Edi baru berlangsung 10 menit aja kok musti berakhir. Ya begitulah kalau guyub ….waktu menjadi  tak terasa.

Banyak topik yang dibahas di mini progring nan memorablik ini baik itu the music side maupun the life side of this gemblung blog ….semuanya berbaur dan mengalir begitu saja tanpa agenda yang jelas. Yang pasti banget,   saya banyak belajar dari mas Edi ini band2 yang tergolong rock mbeling dengan nama2 band yang saya belum terbiasa mendengarnya seperti Cosa Brava, Ceramic Dog, Tin Hat dan sebagainya. Wadouw ….edaaaaan …semuanya keren apalagi suasana kafe yang teduh dan jauh dari kebisingan metropolitan.

(Cerita nyambung lagi ya …mau tidur dulu … Yang penting ada foto2nya …he he …)

image

-

image

-

image

-

image

-

image

-

image

-

Sejak acara saya berakhir di komplek Kobangdikal, Tanjung Perak, Surabaya, saya sudah tak sabar lagi menuju terminal Bungurasih buat nyengklak bus menuju Jombang. Atas beberapa saran dari mas Edi dan juga staff dari klien, akhirnya saya mendapatkan bus Patas “Harapan Jaya” Surabaya – Trenggalek, full AC pol … Pukul 17:30 saya sudah di terminal dan bagi saya ini mengingatkan pengalaman empat puluh tahun silam saat saya sering mondar-mandir Madiun – Surabaya saat liburan, sekalian cari kaset rekaman Nirwana dan Starlite; jaman masih sekolah di Madiun. Untung saya diantar sama mas Ari , staff dari klien.

Sepanjang perjalanan Surabaya – Jombang saya menggunakan google maps dan Waze untuk memmonitor kemajuan saya mendekati stasiun KA Jombang dimana mas Edi akan menjemput saya. Saya sempatkan tidur barang beberapa menit saja namun sulit sekali karena memang perasaan saya campur aduk antara senang dan membangun kenangan masa lalu di sepanjang jalan ini yang biasanya rame karena banyak industri. Saya juga menikmati sekali pemandangan rumah-rumah penduduk yang saya amati dari dalam bus. Rumah-rumah tersebut mencerminkan kesederhanaan dan sekaligus ketenangan. Rasanya nikmat sekali tinggal di rumah-rumah sederhana tersebut. Saya memang sengaja mengambil tempat duduk yang dekat jendela sebelah kiri agar jelas melihat keluar bus. Di sebelah saya ibu2 setengah baya yang sepertinya karyawati yang pulang ke Kediri setelah seminggu penuh berkarya di Surabaya. Bisa jadi ini adalah tetangga mas Herman atau nak ndulurnya ,….he he he he …. Pokoknya perjalanan ke Jombang FULL saya nikmati setiap detiknya , bahkan saya tak mendengarkan iPod maupun bermain gadget selain sekali waktu ngecek GPS google maps memantau seberapa dekat saya ke tujuan akhir. Sayangnya lagi2 yang diputer oleh supir bus bener2 pop Indonesia yang menyebalkan dengan lirik termehek-mehek … Tapi saya cuek ajalah.

“Stasiun depan, minggir pak” itu ujar saya ke kenek bus seolah saya ini terbiasa naik bus tersebut. Padahal saya berani bilang gitu ya karena GPS saya menunjukkan kedekatan dengan stasiun Jombang. Aha! Ternyata yang saya bilang “depan” masih jauh banget … ha ha ha ha … Tapi paling gak udah bener karena jalannya lurus panjang. Prakiraan aplikasi GPS Waze di Android (tanpa Paranoid) saya mengatakan bahwa saya akan tiba tujuan 7:12 malam hanya meleset dua menit saja karena saya menginjakkan kaki saya di depan stasiun Jombang tepat pukul 7:15. Setelah itu saya jalan sok yakin melihat ada mobil di depan saya. Eh salah … ternyata di seberang jalan ada orang pake kaos Frank Zappa menuju tempat turun bus. Langsung saya tereaki ” “Wong PROG! Wong PROG!” …terus beliau menoleh kanan dan melihat saya …. ha ha ha ha … KAmi melakukan very BIG HUG setelah sekian lama ndak jumpa mas Edi. Sebenernya gak lama juga sih … lha wong bukan Juni ketemu di Rawon Setan JW Marriott kok … ha ha ha … Tapi rasane yo piye gitu kalo ketemu wong prog …. ha ha ha ha ha ….

Langsung kami menuju mobil mas Edi yang ternyata baru dan ganti dari yang dulu, disambut dengan ramah oleh bu Edi. Di dalam mobil langsung digeber Beardfish “The Void” yang sangar itu dengan volume yang lumayan kenceng meski kami masih bisa ngobrol. Saya diantar mas Edi menuju EDOTEL (Education Hotel) yang merupakan hotel sebagai ajang praktek siswa siswi SMK Negeri Jombang dimana Ny. Edi menjadi salah satu Pengajar nya. Saya dipersilakan ganti baju (mosok prog nganggo batik rek!) dan mandi serta shalat dulu di kamar, sementara Tuan dan Nyonya Edi menunggu di Hotel Lounge. Asik juga lho …anak2 sekolah sekarang sudah diberi ajang praktek hotel seperti Edotel ini. Reception nya aja di handle oleh dua orang siswa kelas SATU! Edan gak sih … pada saat usia saya sama dengan mereka, yang ada di otak saya hanya kaset …kaset …dan kaset! Mana ada saya mikir praktek kerja seperti anak2 ini? hebat tenan! Salut buat SMK Jombang yang punya hotel ini. Next time gemblungers kalau mau ngadain muktamar prog nginep di sini ajah! Enak lho …. full AC lho. Bahkan dingin pol AC nya.

Setelah itu (saya menggunakan kaos The Beatles ‘American Tour 1964′ yang dibelikan anak saya) kami bertiga dengan dikendarai mas Edi menuju tempat kuliner yang gencar dipromosikan oleh mas Edi: Nasi Lodeh Jombang. Whooooaaaaa …!!!! Selama ini saya suka yang namanya lodeh meski full dengan santan. Dari kecil lodeh memang sudah menu harian saya di Madiun. Kuliner lodeh ini dulu bukanya justru pukul 00:00 samapai Subuh. Bu Edi cerita bahwa saat beliau hamil Bintang atau Pelangi, jam 23:00 berada di tempat kuliner ini masih harus nunggu jam 00:00. Namun sekarang ada perombakan susunan Direksi dan Komisaris dari kuliner Nasi Kikil Gus Dur ini sehingga sore hari sudah buka. Makanya kami bisa makan di sekitar pukul 20:00. Mak JLEB pol polan tenan ! Rasanya tak bisa diungkap dengan kata-kata ya selain MAK JLEB! Huwenak pol lah! Makannya pun dipincuk. Penjualnya tanya : “Pake ikan apa?” saya jawab “Kebok” (baca: paru …sambil mbayangin bro Apec yang dokter paru). Nasi lodeh ini ternyata ada kikilnya yang membuat unik dan eclectic pol rasanya kayak Gentle Giant album “In a Glass House” yang rumit itu … ha ha ha ha ha …. Makannya di pincuk dan saya nambah ke pincuk kedua plus nambah nasi. Selain kebok, juga ada krupuk khas Jombang yang dilahap sebagai companion disk (udah kayak The Tangent ajah!). Ha ha ha ha …. Mangan sego kikil ngeprog pol! Wuareg pol saya!

Sego lodeh kikil yang rasanya MAK NJEGREG tuwenan! Dijamin tanduk ke pincuk kedua!

Sego lodeh kikil yang rasanya MAK NJEGREG tuwenan! Dijamin tanduk ke pincuk kedua!

Sampailah kemudian pada acara puncak yakni menuju The Apple.Net cafe yang sudah kondang di jagat luna maya ini … Sambil dag dig dug saya pengen tahu seperti apa sih riil nya Apple ini? Selama ini cumak liat fotonya ajah … Dan .. Alhamdulillah akhirnya Allah tabaroka Wa Taala mengijinkan saya nyambangi kafe yang selama ini hanya saya dengar nama dan fotonya saja. Kafe / warnet ini terletak di area yang strategis, kalau di Jakarta ya Menteng begitulah, dimana banyak rumah-rumah jaman Belanda yang berada di sekitar kafe ini. Apple sendiri berlokasi di rumah yang besar sekali (mungkin sekitar 1000 M2 luasnya, tingkat). Di sayap kiri adalah rumah dua tingkat dimana mas Edi dan Ibunda tercinta tinggal di lantai satu, sedangkan lantai dua untuk kos-kosan karyawan. Sedangkan Apple kafe berada di sayap kanan. Ada tiga area utama di Apple yakni di depan yang merupakan area dengan amben bambu plus dinding dengan lukisan The Raven, kemudian area tengah dan belakang yang merupakan area dimana penuh lukisan karya Fandi dan ada sekitar enam terminal komputer buat mereka yang mau internetan dan menikmati Cwi Mie von Edi Apple atau milkshake atau kopi Kawisari … Wis pokoke dijamin puas berselancar sambil Nywi Mie ….

2014919210131

-

2014919234606

-

2014920080018

-

2014920080049

Di bagian depan agak ke kiri sedikit adalah area bar plus tempat duduk santai dimana ada dinding Selling England by The Pound karya Fandi juga, mengambil artworknya Genesis ‘Selling’. Nah … di sinilah kami (saya dan mas Edi) ngobrol karena Bu Edi tak ikut ngobrol, pulang ke rumah. Di saat ngobrol saya ditawari Es Sari Temu Lawak yang kata mas Edi khas Jombang. Tentu saya enggan sekali menolak tawaran ini. JLEG! Huwenak dan suwegerrrr pol es temu lawak ini …apalagi ditenggak sambil nyawang lukisan Selling England dan sedikit bersenandung “It lies with me! Cry the queen of maybe!” .. Whoooaaaaa…..!!!!!! Mengalirlah obrolan demi obrolan prog baik yang terkait musik maupun kehidupan pada umumnya. Ternyata nikmat sekali lho ngobrol tanpa agenda dan tanpa beban mulai dari pukul 21:00 sampai mendekati pukul 00:00 malam ….

2014919231351

-

2014920092839

Memang di sebelah kursi dan meja tempat kami ngobrol ada sepasang speaker LG plus subwoofer nya yang suaranya jernih. Musik yang mengalun sangat aneh dan belum pernah saya dengar dan ternyata adalah dari kelompok Cosa Brava dimana banyak bebunyian violin dan juga bunyi mesin ketik jadul. memang judul albumnya The Letters sih, makanya including mesin ketik. Ha ha ha … Bukan musiknya saja yang saya nikmati, namun kuliah prog yang diberikan mas Edi ini yang bikin suasana malam nan hening makin nikmat untuk dimaknai ….. Apalagi kemudian saya ditawari kopi Kawisari …tambah njegelek tenan! Satu album The Letters dari Cosa Brava kami dengarkan sambil ngobrol lainnya juga selain musik. Kemudian pindah ke Tin Hat …dan juga Ceramic Dog. Wis pokoke tak secuil musik yang diputer mas Edi tersebut yangs aya pernah dengar sebelumnay. Saya seneng pol dapat banyak pencerahan! Saya juga banyak pelajaran tentang kehidupan yang ternyata memang bener2 dahzyat karena terkait “berbakti kepada ibu”. Luar biasa!

Ayo gemblungers! tetapkan tanggal yang pas buat nyambangi kafe prog ini. Wis …pokoke dijamin nunjek ulu ati lah!

JRENG!

2014920080411

-

Sejenak di Kota Lama Semarang

September 19, 2014

Andria Sonhedi

Hari kamis, 18 September 2014 ini saya ada tugas ke Semarang. Acaranya jam 8 pagi jadi saya harus berangkat jam 4.30 pagi dgn anak buah saya. Kebetulan acaranya di dekat Kantor Pos Besar Semarang. Kami datang jam 8.15 karena macetnya jalanan di jl. Demak-Semarang. Saya sudah takut tak ada tempat parkir tapi nyatanya halaman depan Kantor Pos sepi, malah ada panggung & beberapa tenda putih. Belakangan saya baru tahu kl nanti sore ada acara Rock di Kota Lama bersama Ian Antono & Achmad Albar, bukan Godbless seperti yg saya infokan pada mas Kukuh & pak Edi. Pantesan parkiran kosong soalnya jam 16.00 jalan ke luar perkantoran situ akan ditutup.
Begitu rampung acara jam 16 saya segera balik hotel, sayangnya hotel Metro di sebelah panggung konser sdh penuh oleh para wakil rakyat dari Tegal yg berpiknik cukup jauh hingga Semarang :) Hotel saya agak jauh dari lokasi konser maka saya berusaha beristirahat dulu, maklum sejak kemarin saya nyopir terus utk jarak jauh.
Singkat cerita saya malah bangun jam 19.30 dlm keadaan kelaparan. Sebelum ke tempat konser saya cari makan dulu & ingat cerita mas DananG kl di dekat Kota Lama ada rumah makan padang yang jual kaset. Ternyata tak sulit mencari RM Padang Jaya, selain di pojokan Jl. Agus Salim ada spanduknya kl juga jualan kaset. Untuk awalnya saya beli makan dulu, tapi ternyata saya benar2 tak sabar memeriksa tumpukan kaset di RM itu :) Benar sekali kl mas DananG kmarin tak sempat memeriksa, soalnya memang antara kaset lama dan baru dicampur. Saya sampai sakit mata milih-milih. Dari jam 20.00 akhirnya terpaksa saya akhiri jam 22.00 :D dgn mata pedih kemungkinan karena saya juga kelelahan karena kurang istirahat. Harga2 kaset 18 ribuan, termasuk mahal tapi karena sdh telanjur ya sdh tetap saya ambil 13 buah beragam jenis dari yg lama hingga yg royalty. Bagi penggemar kaset kompilasi lama macam Prambors pasti bahagia karena di sana masih banyak serinya. Seandainya harganya murah pasti saya bersedia ngambil  utk para gemblunger di sini.

image

-

image

-

image

-

image

Kembali ke acara Rock Kota Lama yang tak sempat saya saksikan karena berkorban melihat kaset tadi ada kiriman foto dari rekan saya di Semarang yang sempat nonton.

image


evil has no boundaries

Nostalgia Klenèngan di Magetan

September 16, 2014

Andria Sonhedi

image

Hari sabtu & minggu kemarin saya  tidak pergi jauh2 dari rumah saya di Magetan. rasanya beneran punya rumah memang menyenangkan, apalagi suasana sekitar rumah mmg sepi. Seandainya waktu pak Gatot mampir ke rumah saya kemarin menengokkan leher ke kiri dari tempat duduknya maka akantampak panorama Gunung Lawu. Kebetulan di barat rumah saya terhampar lapangan luas tanpa pohon sehingga pemandangan ke gunung Lawu bisa mudah terlihat.
Selama ini isteri saya yang sering memutar mp3/vcd lagu2 80-an Indonesia dengan dvd player + speaker sederhana yang sering dipakai untuk komputer. Tape compo kami sementara masih belum bisa dipakai karena ada kabel yang dimakan (tepatnya digigiti) tikus. Saya malah jarang nyetel musik di rumah, maklum musik2 saya dianggap aneh dan cuma saya sendiri yang mampu mendengarkan & merasakan keindahannya :)
Ketika kami pindahan bulan Juni kemarin semua barang memang masuk kotak termasuk koleksi kaset/CD/DVD/VCD saya, dan untuk menyegerakan pindah barang2 tadi langsung saja disusun di rumah baru tanpa aturan. Perlahan-lahan tiap minggu kami menatanya kembali walau ada juga yang tidak ingat ditaruh ke mana waktu pindahan :)

image

Sambil menyampuli kotak CD & VCD  dengan plastik supaya tak ada semut yang bersarang tanpa, sengaja saya menemukan beberapa kaset lama saya yang sepintas sangat tak berhubungan dengan kegemaran saya mendengarkan musik yang tak terlalu kalem.
Sekitar awal 2000-an saya memang sedang jenuh dengan musik alternatif, apalagi Nu Metal. Rasanya kok tak ada lagi musik-musik hard rock yang melodius, ada solo gitarnya, berisik tapi menyenangkan. Saat itu saya sempat membaca kalau grup Guruh Gipsy termasuk yang mempelopori perpaduan musik barat dan gamelan Bali.  Jaman itu saya belum tahu internet apalagi download mp3 makanya saya agak penasaran juga. Di toko kaset jelas tak ada, out of print. Selama itu saya cuma tahu kl campursari yang berhasil memadukan gamelan & alat musik modern. namun ya itu, akhirnya banyak yang cuma jadi lagu pop Jawa. Lama-lama saya pikir kalau bebunyian aslinya, gamelan Bali, masih ada yang jual ngapain saya harus repot-repot mencari fusion gamelan & alat musik modern.
Akhirnya saya pergi ke pasar Bringharjo, pas libur karena saya ngantor di Sidoarjo kala itu, nyoba cari kaset gamelan Bali yang seken. Mengapa saya cari yang gamelan Bali? soalnya iramanya saya anggap masih bisa disejajarkan dengan speed metal :D Gamelan Jawa saya anggap lebih ngeblues. Akhirnya dari beberapa kali datang ke unggunan kaset Pak Tris di los Utara pasar Bringharjo berhasil menemukan 4 kaset gamelan Bali. Alasan lain karena waktu itu kaset2 di tempat pak Tris cuma dijual Rp.2000 sehingga saya anggap itu sama dengan beli dawet aja bila akhirnya gagal membangkitkan minat saya. Memang sih tak selalu cocok dengan beberapa lagunya tapi masih lumayan daripada telinga dibombardir lagu2 Nu Metal/Hip Metal :) Saat ini karena belum ada tape compo maka kaset gamelan tadi belum sempat saya setel di rumah.


evil has no boundaries

Baca Buku sambil Ngopi …

September 16, 2014

image

Tret ini merupakan ‘the life side of the blog’ karena tak secara khusus membahas musik meski nantinya juga musik diulas …he he he … Memang pagi ini saya sengaja keluar rumah untuk mencari suasana kerja baru sambil gowes santai. Targetnya memang di area seputar Santa dan Blok M bahkan secara khusus tadi meluncur dari rumah dengan gowes Bromie menuju Pasar Santa. Tujuannya hanya satu: ingin melihat langsung kedai kopi ABCD yang gaungnya santer dibicarakan oleh berbagai komunitas termasuk komunitas musik. Konon kopinya tidak dihargai penjual namun pembeli lah yang menentukan harganya. Edan tenan .. Kreatif juga ya. Saya memang berangkat dari rumah 7:45 dan berada di TKP sekitar 8:20 begitu. Tadinya saya pikir kedai ini ada di sekitar pasar sehingga mudah bagi saya untuk parkir sepeda. Ternyata …menurut juru parkir , lokasinya di lantai paling atas. Lagian masih kepagian katanya, karena bukanya pukul 10:00 an. Ya udah …yang penting sdh tahu tempatnya.

Akhirnya saya gowes di seputar Cikajang dan mampir di MM Juice . Sambil memesan jus kiwi dan apple saya buka laptop sekalian kerja karena konon ada free wifi. Ternyata wifi nya gak bisa bekerja dengan baik, hanya menang nama aja ….padahal tulisan free wifi guwede pol ….ha ha ha ….ketipu. Untung android saya bisa buat wifi. Akhirnya ya pake wifi sendiri. Lumayan enak juga kafe ini karena relatif sepi di pagi hari. Setelah cukup lama di MM Juice dan sudah bisa menghasilkan produk kerjaan karena terbukti dengan terkirimnya email dari laptop saya. Mendekati Dzuhur saya merapat ke masjid di kepolisian PTIK. Setelah itu gowes ke Corelli …he he he … Target di Corelli adalah baca buku bagus karya penulis keren Malcolm Gladwell. Sebenarnya cukup lama buku ini, namun saya baru beli minggu lalu di Aksara PP.

Wah …buku ini keren abis dan wajib baca bagi siapapun anak manusia yang sering merasa minder berhadapan dengan raksasa … Semuanya diulas dengan cantik oleh Gladwell yang jenius ini. Hal2 yang biasa disebut dengan KELEBIHAN yang dimiliki raksasa ternyata juga merupakan KELEMAHAN. Itulah makanya konsultan gurem kayak saya wajib buwanget baca buku super duper kuwereeeen ini…!!! Saya baca sambil nyeruput avocado cappucino racikan mbak Sri von Corelli. Musik yang mengiringi adalah Blaze of Glory nya Jon Bon Jovi yang diputar okeh Imam dari gerai Udinnesse. Mak jleb!

Saya juga menyiapkan musik di iPod saya: Gazpacho “March of Ghost” dan Monarch Trail “Skye” yang CD nya saya peroleh dari ProgArchives, minta di repiu sama saya.

Selamat berkarya! JrèNg!

Bertemu The Police di Yogya

September 11, 2014

Andria Sonhedi

Bertemu the Police di Yogya

Hari Rabu – Kamis , 3-4 September 2013 kmarin saya dapat tugas ke Yogya. Yang jelas untuk ke sana tak perlu naik kereta atau pesawat, cukup naik mobil. Kali ini pun saya nginap di rumah masa kecil saya yang cuma di barat Malioboro krn kebetulan acara diklat saya di hotel Garuda,Malioboro. Saya sempat juga melihat seberang hotel, toko kaset Kota Mas sdh tampak bekasnya. Dahulu saya sering parkir di depan hotel Garuda ini untuk kemudian menyeberang ke toko Kota Mas. 

Sayangnya pula kali ini saya tidak bisa ketemu pak Priyo saat mencarinya di Pasar Bringharjo. Entah sdg tak jualan atau memang sudah berhenti jualan. Praktis perburuan saya untuk kaset seken berakhir, soalnya saya belum nemu tempat selain di situ.Masih belum cukup sempurna kesialannya, saat saya ke Ambarukmo Plaza (anak2 muda nyebutnya Amplas) toko cd resmi satu-satunya di Yogya (toko Popeye & Bowsound tak saya hitung) juga baru saja tutup September ini. Nantinya toko yg ada di lantai 3 itu akan jadi gerai kuliner Fish & Chips.
Tapi bagaimana pun saya tetap harus bersyukur, sebelum jelalatan nyari toko cd saya sempat mampir Gramedia di lantai 2. Kebetulan ada diskon untuk buku-buku hard cover luar negeri. Kebanyakan memang buku-buku desain, taman, foto, dst. Buku musik tak ada yang didiskon, namun di sela-sela buku-buku tadi saya lihat ada satu buku berjudul I’ll be Watching You: Inside The Police 1980-1983. Saya ingat beberapa tahun yang lalu saya pernah melihat buku ini. Untunglah saat itu tak saya beli, selain saya bukan fans the Police harganya juga mahal. Entah nggak laku-laku atau memang tak ada yang kenal the Police malam itu buku tadi didiskon paling besar, yang tadinya 270 ribu dengan harga baru berubah menjadi Rp 80 ribu. Saya jadi ingat buku tentang Queen, John Bonham atau karangan Dave Eleffson yang di banting harganya jadi Rp 10.000.
 Akhirnya, di antara lalu lalang orang berbelanja baju, jeans, roti breadtalk dan sebangsanya terselip seseorang yang malah menenteng buku seberat 1,25 kg di Ambarukmo Plaza :D
Buku tadi cetakan penerbit Taschen Jerman tahun 2007. Ternyata penyusun & juru fotonya tak lain tak bukan adalah Andy Summers sang gitaris the Police. Isinya memang foto-foto selama tour mereka di tahun 1980-1983. Bahasanya ada 3: Inggris, Jerman & Perancis dengan foto-foto hitam putih (yg ini tdk dibuat 3 macam). Bahkan saat John Lennon ditembak di Dakota tak lupa Andy memotret koran yang memberitakannya. Sementara ini bukunya belum saya baca semuanya dan mbukanya pun hati-hati sekali :)

image

-

image

Saya memang tak terlalu beruntung karena tidak ketemu pak Edi Apple krn  pas tak dolan Yogya, juga pak Herwin/KohWin yang sdh ada jadwal ke Wonogiri. Tapi kl utk KohWin tentu saja kisah tdk bertemunya bisa Anda baca di halaman lain blog ini :)


evil has no boundaries


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 150 other followers