Archive for the ‘Activity’ Category

Selamat Idul Fitri, 1 Syawal 1435 H

July 18, 2014

Maaf mendahului ucapan ini karena akan fokus di sepuluh hari terakhir Ramdhan 1435 H. Bila ada artikel, mohon dikirim nanti saja setelah lebaran.

Untuk sementara silakan komen di tret yang sudah ada.

Selamat beribadah di sepuluh hari terakhir Ramadhan 1435 H bagi yang muslim.

Catatan:

Insya Allah tanggal 10 Agustus 2014 kita progring ya, soalnya pak dokter Apec rencananya ada di Jakarta tanggal tersebut. Sakalian halal-bihalal ….

Salam,

G

 

“Dear Alice” – Chick Corea

July 15, 2014

Pertama kali kenal nama Chick Corea ya dari kaset kompilasi bertajuk CONTEMPORARY JAZZ rekaman Perina Aquarius milik temen sekolah saya sejak SMP, Bagus Sudaryanto, yang juga tetangga saya di Jl. Sumatra, Madiun. Kami sering tukar menukar kaset biar ngirit gak semua dibeli. Saat saya mendapat kaset Contemporary Jazz tersebut saya hanya tertegun dengan satu lagu bertajuk “The Endless Night” yang ditulis di situ dibawakan oleh Return To Forever (Chick Corea). Whoooaaaa …saya langsung ngguweblak menikmati lagu yang nuikmat iramanya jazzy rocky dan sledhut senuth pokoke huwenak marem jaya tenan …membuat lupa makan minum kalau menikmatinya. Selanjutnya saya selalu memburu kaset Chick Corea rekaman Yess.

Dari semua lagu Chick Corea yang paling saya suka adalah lagu bertajuk DEAR ALICE dari album “The Mad Hatter”. Edan musiknya …bukan sekedar jazz tapi saya bilang sudah bener2 progressive fusion karena memang komposisinya rumit. Gimana gak rumit wong semua instrumen: flute (Joe Farell), bass (Eddie Gomez), piano (Chick), drums (Steve Gadd) semuanya mainnya ngawur …arah gak jelas namun …..harmoni terjaga dengan apik. Musiknya pun mengalun dengan disertai alunan vocal Gayle Moran dan kadang yanga menarik adalah adanya bagian staccato melalui permainan ensemble (brass section) kayak musik dolanan bocah jumpritan gitu … Wes ..pokoke mantab lagu ini. Kalau nyetel lagu ini musti diulang sampai lima kali …bahkan gak bosen2 …ngantek sak dobole mbahe sangkil …..

Nah …hari ini saya kangen nyetel lagu ini namun males nyetel CD nya (hari genee kok ribet musti nyetel CD) …sambil kerja saya browse di youtube. Ternyata …tak hanya versi asli aja yang ada …. tapi lagu ini dicover beberapa musisi. Nah …yang membanggakan saya, ternyata INDRA LESMANA sebagai wong lokal, anak bangsa …ternyata pernah memainkan lagu rumit ini dengan cantiknya … WOOOOWWWW!!! Harusnya saya nonton sendir saat itu …dan saya bisa nnguweblak nggulung koming di depan panggung …menderita kepuasan! Coba simak dah video keren ini …

Bravo Indra!

http://www.youtube.com/watch?v=60B9ci6Ol_0

Supir Truck Progressive

July 13, 2014

Noviar Hidayat

Ini adalah foto dari FB nya bro Noviar yang saya upload di sini…. Top tenan supir truck ini! Malang gitu loh …!

Yess di truck

Salam,

G

Mini Progring “Akbar” di Surabaya

June 22, 2014

image

Alhamdulillah barusan aja selesai mini progring bersama Koh Win,  bro Apec dan bro Sony. Penghargaan setinggi-tingginya kepada Koh Win yang semangat silaturahimnya luar biasa sampai melakukan safar dari Klaten ke Surabaya untuk pertemuan penuh makna ini. Tersentuh saya dengan perjuangan dan semangat Koh Win ini. Salut dan huwebaaat! Semoga Tuhan membalas kebaikan Koh Win ini dengan pahala yang melimpah.

Tentu juga buat Bro Apec sebagai tiab rumah yang rela dan ikhlas mengantarkan kita ke lokasi progring,  semacam Corelli nya Surabaya yang pisang bakarnya mak nyus tenan. Suwun sanget njih,  pak dokter. Sambutan yang luar biasa….!

Salam dari bandara Juanda,
GW

A Call for ProgRing #16 “Marhaban Yaa Ramadhan”

June 8, 2014

Halo temen2 gemblungers …

Saya diingatkan oleh mas Rizki beberapa minggu lalu bahwa kita perlu mengadakan satu kali lagi progring sebelum memasuki Ramadhan. Saya langsung setuju karena memang ciri khas gemblungers ini adalah keguyuban dalam berteman sehingga untuk meningkatkan guyub diantara kita maka perlu bertemu lagi. Sekurangnya saya priibadi sangat rindu ber”nilai-muka” dengan penghuni blog ini baik yang suka muncul dalam komen maupun secret readers yang tak pernah nongol dalam lantunan komentar …monggo rawuh … Saya juga perlu minta maaf atas semua kesalahan tutur kata maupun tindakan dengan temen2 semuanya dan rasanya baru “DHENG” rasanya (kayak Firth of Fifth” aja bila bisa secara langsung ber “Wish You Were Here” ria dengan teman3 semuanya …

Masalahnya adalah, kapan?

kalau liat kalender sebenernya masih ada dua hari sabtu yakni tanggal 14 dan 21 Juni 2014. Saya sendiri juga masih bingung menetapkan mana yang paling pas mengingat klien saya juga memerlukan saya datang lagi ke Surabaya pada akhir pekan sebelum ramadhan. sayangnya mereka belum berhasil menetapkan tanggal karena kesibukan mereka juga. Namun rasanya kalau tanggal 14 Juni ini kemungkinannya (menurut saya) kecil sehingga, bagaimana kalau saya usulkan Sabtu, tanggal 14 Juni 2014?

Pertimbangan saya:

  1. Sudah lama sekali kita tak jumpa lagi setelah gala progring di bulan Maret lalu
  2. Insya Allah klien saya tak menetapkan tanggal 14 saya harus ke Sby
  3. Mas Kukuh, bro Apec, mas Andria, mas Edi, mas wahyu dan lainnya yang berada di luar Jakarta masih sempat pesen tiket buat ke Corelli.

Bagaimana temen2? Monggo dikomentari …

 

Bunyi “DHENG” di “Firth of Fifth” itu lho!

June 8, 2014

Gatot Widayanto

Firth of Fifth

Ini sebenernya kelanjutan dari obrolan di mini progring di Surabaya. Jumat malam itu yang pertama kali datang ke hotel Elmi ya mas Edi dan putra sulungnya, Bintang. Sebenarnya memang saat itu saya agak panik karena baru keluar dari kantor Pelindo 3 di kawasan Tanjung Perak sekitar jam 18:00 ba’da magrib di masjid Baitul Hakam nan indah. Maghrib di Surabaya memang jauh lebih awal darpada di Jakarta yakni sekitar jam 17:30 begitu. Begitu dalam perjalanan menuju hotel saya telpon mas Edi karena saya takut beliau sudah nyampe di hotel sementara saya masih di jalan. Alhamdulillah mas Edi nyampe di Surabaya setelah nyetir dari Jombang, namun masih di pondokan Bintang di kawasan Juanda. Saya lega dan sekaligus memberi tahu mas Edi bila sudah sampe di hotel tolong SMS saya aja.

Senang sekali ketika pada sekitar 19:30 saya menjumpai mas Edi dengan seragam kebanggaannya dari album yang disukainya: Steven Wilson “The Raven That Refused To Sing and Other Stories”. Saya senang sekali mas Edi menggunakan kaos ini karena saya salut kepada orang yang menggunakan kaos sesuai dengan selera musiknya, gak seperti saya yang suka IQ namun kadang pake kaos Helloween (ora nyambung blas!) lantaran adanya kaos ya itu karena dulu pernah jadi MC saat konser di Jakarta. Namun hari Jumat malam itu saya juga menyambut kehadiran mas Edi dengan mempersiapkan diri menggunakan kaos dari album yang saya suka dan dari band yang saya cintai : IQ album “The Road of Bones”. Kaos IQ saya ini bener2 GRESS karena memang baru saya pakai pertama kali dan belum dicuci dari hand carry temen baik saya yang rela membelikan saya dari konser IQ tanggal 3 Mei lalu di Islington Assembly Hall, London. Pokoknya …demi penampilan yang baik karena bertemu dengan Pendekar Prog asli nJombang, saya harus jatahkan “pemakaian kaos IQ” ini pada saat pertemuan dengannya. Alhamdulillah kelakon!

Bintang malam itu menggunakan baju kotak-kotak ala anak muda dengan gaya bicara yang kalem seperti Steve Hackett. Tanpa ba bi bu, kami segera bicara nunjek ulu ati tentang ..,, apa lagi kalau bukan hobi yang sama2 kita sukai …ha ha ha ha ha …. Pembicaraan dimulai dengan kesan-kesan Bintang maupun mas Edi tentang dahzyatnya band prog dari Yogya bernama I Know You Well Miss Clara. Pokoke yang namanya Bintang ini adalah penggemar seta band dari Yogya ini dan sudah puluhan kali menonton konsernya baik di Yogya maupun di Jakarta saat tampil di Rock Lingers. Saya malah kagum dengan bagaimana Bintang dan mas Edi mengapresiasi musik Miss Clara ini. Tak lama kemudian pembicaraan nyelempang ke Pelangi (nama adiknya Bintang yang sedang kuliah di UGM) yang gandrung dengan musik metal. Pokoknya Pelangi ini everything is metal, begitulah ceritanya. Namun yang menarik adalah ketika Bintang cerita mengenai band bernama ZOO dari Yogya yang basisnya metal namun ngeprog. Saya cumak ndomblong mendengarkan cerita dari ayah-anak yang sama2 suka musik ini. Dan ….tentu saja saya menikmati obrolan mereka ini. Luar biasa dah!

Oh ya .. kami juga membahas tentang kelompok Radiohead yang menurut bintang mengawali karirnya dengan lagu pop melalui album Pablo Honey, misalnya. Namun mereka akhirnya ngeprog juga di album OK Computer. Whoooaaaaa …. saya jadi ingat lagu mereka bertajuk “Paranoid Android” yang tak ada hubungannya dengan Black Sabbath maupun samsung Galaxy. meski lagu ini diciptakan sesudah lagu Paranoid nya Sabbath, namun musiknya tak berhubungan sama sekali sama Sabbath dan juga lagu ini lahir sebelum Samsung Android lahir. jangan-jangan teknologi Android terpengaruh Radiohead? Ha ha ha ha …. Tapi saya memang suka lagu ini dan juga lagu pop Karma Police.

Sakjane suarane piringan hitam kuwi koyok opo to?” (sebenernya suara piringan hitam itu seperti apa sih?), begitulah kira-kira mas Edi memulai pembicaraan menyenangkan selanjutnya. Kok ya jawaban saya spontan: “Begini lho mas … pernah gak sampean perhatikan bahwa di interludenya lagu Firth of Fifth saat Steve Hackett solo tiba-tiba ada bunyi DHENG …sekitar satu atau dua detik namun sungguh mematikan dan membuat lagu yang sudah indah ini menjadi super duper nunjek ulu ati? Ya begitulah bunyi pelat mas ….suaranya lebar menggelegar seperti mau mendekap kita …”. Mas Edi terus mengiyakan dan ternyata beliau juga suka dan memperhatikan bagian DHENG tersebut … Lantas? kami bertiga ketawa nguwakak pol sampe semua orang yang duduk di lobi ELMI liat kami bertiga kayak orang gila aja … HUA HA HA HA HA HA HA HA ….

Ya memang begitulah menurut saya suara piringan hitam yang diputar di turntable. saya sendiri sangat jarang menikmati PH karena memang bukan kelas saya yang cukup puas dengan kaset rekaman Yess aja. Namun saat saya kuliah dulu pernah dapet pinjaman PH Chick Corea “The Mad Hatter” dan memang suaranya luas banget …. bidang dinamika (istilahnya Tjandra Gozali) lebar sehingga membuat telinga ini nyaman mendengarkannya. Memang asik menikmati suara PH.

Bunyi DHENG itu …

Masalah utama yang bener2 penting dibahas karena memang strategic ya itu : bunyi DHENG nan indah nuansamatik kemlitik zonder rheumatik. Jujur saja, salah satu kenikmatan mendengarkan Firth of Fifth versi studio selain memang musiknya indah diawali dengan intro yang klasikal, juga bunyi DHENG yang terjadi di interlude. Bunyi ini begitu indah di telinga setelah mengarungi flute solo dan guitar solo nan indah. Rasanya begitu DHENG keluar langsung dah puncak orgasme tercapai dan di situ rasanya kenikmatan paripurna tercapai …. WHOOOAAAAA …..!!!!

Kalau kenikmatan lagu ini versi “Seconds Out” ada di lima not terakhir dari gitar solo Hackett meski bunyi DHENG nya hilang …..

Begitulah nuansamatiknya sebuah musik yang terkadanga hanya sekedar injakan satu not taurus pedal saja membuat hati ini terasa tenteram ….

Salam hari Ahad!

Manifestasi Bunyi “DHENG” ….

 

Tadinya saya akan buat tret lagi terkait hal ini. namun sekalian ajalah saya tulis di bawahnya karena nyambung. Hari sabtu kemarin saya dijemput pak Dokter di Hotel tempat saya menginap untuk diantarkan oleh beliau ke bandara Juanda. Saya sungguh tersanjung dengan budi baik pak dokter ini karena sudi mengantarkan saya ke bandara. Ini jelas pertemanan yang guyub luar biasa! Matur nuwun sekali lagi, pak Dokter Arief Apec Bakhtiar …

Tepat jam 10 sesuai janji beliau sudah berada di lobi. Akhirnya dengan dikemudikan pangsung oleh pak Dokter, saya diajak menuju bandar. Namun karena rumah beliau di sekitar Juanda, maka saya ditawari mampir ke rumahnya. Tentu saya sambut dengan suka cita riang gembira lunjak-lunjak plus gedhruk gedhruk bungah diajak mampir ke rumah kolektor kelas wahid!

Namun …

Tunggu dulu ….sabaaaaar ….. Sebelum sampai rumahnya saya diajak mampir ke warung kuliner Lontong Balapan dan Es Degan. tentu saya ogah menolak alias langsung akur dengan ajakannya! Kapan lagi kulineran Suroboyan oleh seorang dokter yang juga kolektor musik. Akhirnya kami mampir lah di warung kuliner Lontong balap Cak Budi ini dan order lontong balap, es degan plus sate kerang …Muantabz jaya …

Lontong Balap dan Es Degan

Lontong Balap dan Es Degan

-

Penampilan warung Lontong balap Mas Budi

Penampilan warung Lontong balap Cak Budi

Setelah itu saya diajak menuju rumahnya di kawasan Tropodo yang lokasinya tak jauh dari warung Lontong balap. Kebetulan mbak Anik (istrinya bro Apec) dana putra putrinya sedang ke rumah neneknya yang tak jauh dari rumah pak dokter sehingga kami hanya berdua saja di rumah pak dokter.

House of The Rising Prog Star - tampak luar

House of The Rising Prog Star – tampak luar

Whoooaaaaa…rumah yang luas dan dua tingkat ini cukup egois karena dipenuhi dengan koleksi musik yang banyak: PH, CD, DVD dan tentu saja kaset. Turntable aja ada tiga buah. Wis pokoknya kumplit semuanya. Di lantai bawah banyak PH dan di lantai atas banyak kaset dan CD plus beberapa PH. saya lebih senang di lantai 2 karena ada ruang dengar khusus dan saya minta diputar PH saja sekaligus membuktikan omongan saya ke mas Edi terkait bunyi mak “DHENG” yang saya tulis di atas. Dan Alhamdulilah ada PH Yes Live in Switzerland yang terdiri dari tiga keping (udah kayak Yessongs aja).  Memang benar yang saya katakan ke mas Edi banhwa menikmati suara PH adalah ibarat bunyi DHENG di Firth of Fifth nya Genesis.

Koleksi PH (sebagian kecil) di lantai bawah

Koleksi PH (sebagian kecil)

Akhirnya mak jeglek jarum PH diturunkan dan mengalunlah suara Jon Anderson yang seakan brada di depan hidung saya dan siap merangkul saya lantaran kualitas suara PH yang indah …. (pssssttt … Koh Win dilarang cembokay ya …ha ha ha ha ha ha ha …. Maap Koh Win …saya mendengarkan suara Jon pake PH lho ….bukan CD ….ha ha ha ha ha …silakan misuh2 ….!!!)

Kapan lagi bisa menikmati Yes via PH?

Kapan lagi bisa menikmati Yes via PH?

Salah satu kenikmatan mendengarkan PH ya melihat piringan besar lebar yang berputar konsisten .... Biyuh!

Salah satu kenikmatan mendengarkan PH ya melihat piringan besar lebar yang berputar konsisten …. Biyuh!

Memang ruang dengar bro Apec ini keren banget dan sangatlah cucok buat suatu hari kita menggelar progring di sini …Mungkin kalau nanti kita diundang di pernikahan nina A? (GR ya …kayak kita2 ini diundang aja! ha ha ha ha ha ha …). Kalau perlu kita nginep ndelosor di ruang dengar ini. Bro Apec menawarkan ke kita buat nginep di rumahnya lho … Ketimbang nginep di hotel dapetnya lagu pop tembang lawas dan gak prog, ya mendingan menginap di Tropodo Palace ini … Gimana? hayo dirancang acaranya!!!.

Salah satu dindingnya penuh dengan ribuan kaset berbagai rekaman dan di dinding depannya juga begitu ditambah koleksi CD. Tak kalah pentingnya ada Herman’s Corner di ruangan ini berisi artwork karya mas Herman. Saya jadi malu melihatnya karena saya sendiri belum membuat pigura karena terbatasnya tembok. Namun Herman’s Corner ini bener2 indah dan nuansamatik sekaleee…

Puluhan ribu kaset memenuhi dinding ...

Puluhan ribu kaset memenuhi dinding …

The Herman's Corner

The Herman’s Corner

Greater details of Herman's Corner ...

Greater details of Herman’s Corner …

Posters

Posters

Dinding lainnya ...

Dinding lainnya …

Monalisa nya banyak dan lengkap ...

Monalisa nya banyak dan lengkap …

Sayang saya kemudian harus ke bandara buat terbang kembali ke Jakarta. Next time kita ketemuan di rumah bro Apec …pasti nyamleng suromenggolo tenan ….!!!

Salam Ahad!

 

 

Mini ProgRing di Surabaya

June 6, 2014

Alhamdulillah …senang rasanya hari ini bisa progring dengan temen2 yang baik penghuni blog gemblung ini. Tanpa terasa kita ngobrol mulai 19:30 dan bubaran 23:20 ….

Laporan rincinya diulas di komentar saja …

image

-

image

-

Setelah puas ….tidur dulu ya …

Salam

A Call for Mini ProgRing in Surabaya?

June 4, 2014

JrèNg!

Atas doa bro Apec dan temen2,  insya Allah besok pagi jam 6:10 saya mabur ke Surabaya untuk sebuah pekerjaan,  apalagi kalau bukan tentang corporate culture?, sampai dengan Jumat sore. Sengaja saya ambil penerbangan Sabtu siang biar Jumat malem bisa mrogring bila temen2 di daerah Jatim luang. Kalau gak bisa ya gak papa …hanya kebangeten aja ….ha ha ha ha …. Gak kok …saya maklum karena mendadak baru kemarin saya putuskan. Tadi malam saya dapet kabar bahwa mas Edi Apple Santoso yang ngeprog abis itu rencananya juga akan ke Surabaya. Whooooaaaa…. semangat aku. Siapa tahu mas Kukuh TawAnggono juga kebetulan hari Jumat siang kulakan kain di Pasar Turi sehingga malemnya sekurangnya ada tiga gemblungers insya Allah kumpul . Bro Apec nampaknya lagi piket malam ….jadi belum pasti. Namun saya siap kalau progringnya sampe dinihari ….mumpung di Surabaya.

Insya Allah juga saya tak akan hunting kaset karena sudah banyakbutabg review album prog. ..jadi ya mau fokus ngeprog dulu aja sementara. Namun rasanya bro Apec sudah cari kardus Indomie buat ngepak kaset koleksinya yang akan dihibahkan ke saya. Alhamdulillaaah ….

Kasih kabar ya mas Kukuh,  mas Edi,  bro Apec bila jadi mrogring …… Kalau gak bisa pun ndak papa kok. Mafhum sekali kok ….

Salam

Blok M Square Bagi Saya (2)

May 18, 2014

Di halamannya mas DananG Suryono pada sebuah media sosial, mbak Ella Suud (m-claro) menanyakan ke saya jargon paling pas buat Blok M Square. Ini jawaban saya, copas langsung saja:

mbak Ella Su’ud ….saya sendiri sudah menancapkan di benak saya suatu istilah yang mungkin gak umum bagi banyak orang karena kesannya jadul banget dan orang sekarang kagak mudeng. Ini juga terkait karena pengalaman saya kalau ke Blok M Square, saya bisa mendapatkan apa saja yang saya mau. Namun kebutuhan saya kan ndak sama dengan orang lain yang cucoknya ke Grand Indonesia atau PP (yang jualan Lamborghini dan jelas bukan level saya …wakakakakakak …..). Istilah yang paling cocok bagi Blok M Square untuk saya adalah: TOSERBASONIC ….ha ha ha ha ….pasti bingung karepe opo ..

 

Di Bolk M Square saya bisa mendapatkan semuanya: buku super murah (seken yo ben! wong sing penting iso diwaca), kopi enak murah, kaset mblakrak rekaman apa aja, menjahit batik, memperpanjang SIM dan STNK, kuliner, donat kentang buatan si Ibu langganan saya, dua area parkir sepeda, lesehan, kebutuhan bersepeda termasuk celana training buat naik sepeda, shalat berjamaah di awal waktu (BMW) di imami pak Marbot Tisna, teman diskusi (Oman, Ari dkk …), termasuk teman meningkatkan iman dan taqwa, tempat kerja (Corelli) sambil menikmati lagu2 Pink Floyd yang sering disetel lapak Udinesse …. Apa yang gak ada sih bagi saya? Oh ya …satu lagi …saya kan suka pake metode Six Thinking Hats nya Edward de Bono kalau lagi workshop dengan klien . Saya mendapatkan ratusan topi warna putih, merah, hitam, kuning , hijau dan biru juga di seputar Blok M Square ….di kios nya mas Supri orang Kebumen. Maka nikmat Tuhanmu yang mana yang engkau dustakan? Ini memang tempat dimana “apa lu mau gua ada” ….makanya saya puas dan dalam pikiran saya menjuluki tempat ini sebagai TOSERBASONIC aja … Toko Serba Ada Supersonic ….seperti kaset jaman dulu …. ha ha ha ha ha ha ha… Wis embuh ngawur sak enak udele mbahe Sangkil … Gitu mbak Ella Su’ud …

Dari kanan ke kiri (seperti baca Al Quran): mas DananG, bli Rikon (kolektor kelas kakap), mbak Ella dan MenKeu mas DananG. Numpang posting di sini fotonya ya mas DananG....maaf tanpa ijin. Kalau keberatan ya saya turunkan ... he he he ... Suwun. Bravo Blok M Square!

Dari kanan ke kiri (seperti baca Al Quran): mas DananG, bli Rikon (kolektor kelas kakap), mbak Ella dan MenKeu mas DananG. Numpang posting di sini fotonya ya mas DananG….maaf tanpa ijin. Kalau keberatan ya saya turunkan … he he he … Suwun. Bravo Blok M Square!

-

Jujur saja …saya kangen sekali ke Blok M Square karena sudah lebih dari dua minggu absen lantara pontang panting banyak gawean, termasuk workshop yang padat minggu depan ….

 

Salam prog!

 

-

Rick Wakeman Bagi Saya (10 of 38)

May 18, 2014

Gatot Widayanto

Tertohok South Side of The Sky

Hari Kamis saat liburan kemarin (15 Mei 2014) saya gowes dengan jarak lumayan jauh setelah selama sekitar sebulan saya hanya gowes sekitar 30 KM total per hari. Perjalanan hari Kamis itu cukup jauh menuju Depok sehingga total jelajah sekitar 55 KM. Sebenarnya tak sekedar gowes tujuan saya namun sekaligus dengan silaturahim. Pas saya mau balik pulang sekitar jam 14:00 di Depok turun hujan deras dan cukup lama. Rupanya tak hanya Depok yang hujan deras, seluruh Jakarta kebagian rata hujannya. Sekitar ba’da Ashar barulah reda meski masih gerimis dengan densitas jarang. Akhirnya saya berangkat juga gowes setalh menggunakan secara lengkap jas hujan supaya kalau ditengah jalan hujan deras lagi saya sudah siap.

Perjalanan gowes setelah hujan deras selalu memberikan kenikmatan paling puncak karena suasana menjadi adem dan bunyi band sepeda Mongoose saya menyentuh aspal basah setelah hujan memberikan nuansa indah yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Belum lagi bau tanah setelah kena hujan memiliki aroa tersendiri yang membuat gowesan semakin mantab. SubhanAllah ….nikmat sekali. Belum lagi di telinga saya ada headset warna putih bawaan iPod milik putri saya, Dian Widayanti, yang sudah dihibahkan ke saya. Gak tahu ada angin apa kok saya tiba-tiba muter album Fragile dari Yes. Mungkin karena di layar iPod terpampang artworknya Fragile dan mengingatkan saya kepada sebuah foto ProgArt yang dikirimkan mas Edi Apple via FB.

Kayuhan kaki saya semakin mantab karena terdengar sayup-sayup musik Roundabout yang merupakan lagu pertama yang membuat saya benar-benar cinta sama musik prog di tahun 1974. Saya dulu nggumun banget kok ada lagu dengan struktur yang gonta-ganti namun masih tetap kohesif sebagai satu lagu nan utuh. Makin semangatlah saya ngonthel sepeda namun tak membuat saya semakin ngebut. Oh ya …kalau gowes dengan headset saya selalu punya policy ketat, yakni: 1. yang diputar harus musik yang sudah dikenal dan bukan album prog baru; 2. Nyetelnya juga sayup-sayup saja dengan volume kurang dari setengah. Mengapa? Safety first. Tujuan nyetel musik sambil gowes hanya untuk mendapatkan nuansa prog nya saja, bukan buat menikmati musik beneran. Kalau musiknya belum familiar, konsentrasi bisa buyar karena penasaran menyimak musiknya. Nyetel musik sayup-sayup, apalagi musik progrock, itu enak dan punya kesan tersendiri.

Yang membuat saya terkesima dan kemudian bercita-cita menulis tret ini adalah ketika musik mencapai lagu South Side of The Sky. Tiba-tiba dada saya bergetar mendengarkan indahnya komposisi musiknya baik dari segi melodi, harmoni maupun kompleksitas aransemen dan perpindahan style. Mulai dari awal lagu saja betotan Rickenbaker Chris Squire sudah mendentham dentham seolah menjadi talking bass dan mengambil porsi melodi yang sejatinya dilantunkan oleh Jon Anderson. Whoaaaaaa ….!!! Merupakan pengalaman tersendiri dah menikmati musik ini sambil suasana habis hujan, dingin, dan suara kayuhan kaki saya saja masih tembus ke telinga meski sedang mengalun South Side of The Sky.

south_side_of_the_sky_by_tolkyes-d2iopqn

Pada saat remaja, pada awalnya saya kurang suka dengan lagu ini karena breaknya terlalu panjang sedangkan Roundabout bisa dikatakan kenceng terus, dan sebentar breaknya. Namun dengan berjalannya waktu saya semakin apresiasi lagu ini dan keren banget. It grew on me, istilah boso Jowone ….ha ha ha ha ….Ada satu pemicu yang akhirnya membuat saya menulis tret ini. Apa itu? Justru kenikmatan paripurna saya saat menikmati indahnya sore menjelang maghrib, mengayuh sepeda dalam cuaca dingin setelah hujan di headset saya terdengar bunyi sentuhan piano melengking sebagai bagian dari break panjang South Side of The Sky. Tak lama sih, mungkin sekitar 5 atau 7 detik dan hanya terkait beberapa notasi yang dihasilkan dari jemari linsah seorang Rick Wakeman memainkan grand piano nya. DUH! Uwediyaaaannnn …meski lima detik namun sudah sanggup membuat dada saya berdegup seolah jantung mau coplok aja. Harus saya akui memang solo piano di bagian break lagu ini sangat indah sekali dan kadang ada jeda yang justru membuat suasana makin khusyu.  Adapun bagian lima detik yang saya maksud adalah saat Rick nguwamuk memencet tuts piano sampai nada paling tinggi di sebelah kanan dari papan tuts piano sehingga suaranya melengking tinggi. saya yakin saat memainkan inipun Rick dalam hati juga bilang begini :“Diyancuk! …kok wis entek mung sampek kene wae to tuts piano iki? Kudune aku rak iso ngepok luwih tengen maneh!!!” (Aduh ..kok sudah habis ya tuts pianonya? mestinya aku masih bisa pentokin lagi lebih kanan lagi (setelah tuts terakhir – red.)

Harus saya akui bahwa Rick tak sekedar maestro dalam memainkan piano maupun keyboard dan moog synthesizer, namun lebih dari itu …. Jari tangannya tak sekedar memencet tuts pada notasi tertentu namun…. justru efek suara yang dia hasilkan dari pijitannya itu bisa membuat ati gogrok! Sekurangnya ati saya lah yang gogrok. Namun meski gogrok …..pikiran saya terasa adem tentrem dan teringat keindahan masa remaja ketika mendengarkan kaset Fragile hanya dari rekaman PH milik Geronimo yang direkam kakak saya, mas Henky.

Saya ndak tahu dengan Anda bagaimana …namun bagi saya, solo piano di tengah lagu South Side of The Sky itu amat sangat super duper indah! (Dan sepertinya solo piano ini kok menginspirasi Chopin Larung nya Guruh Gipsy ya?). Apalagi dilakukan setelah hiruk-pikuk dan hingar-bingar musik yang menggelegar dengan powerful riff dari permainan bass Chris Squire yang menggelegar seperti badai dan juga sabetan maut guitar fills dari Steve Howe. Pokoke Rick wakeman pancen oye!

Salam prog!

 


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 141 other followers