Archive for the ‘Activity’ Category

Kompilasi Album MP3 DIY

April 18, 2014

Andria Sonhedi

gw-cd diy

gara2 pak Hippie nulis ttg cd2 kompilasi buatannya akhirnya begitu sampai magetan saya lalu mencari-cari  cd yg pernah saya buat sendiri sekitar tahun 2004-2005. berbeda dengan pak hippie yang membuat album Prog Fusion berisi lagu2 pilihan, yang saya buat adalah sekedar mengumpulkan album2 yg saya konfersi dari cd kopian ke format mp3.

sekitar tahun itu saya baru mulai belajar mengkonfersi mp3 dari cd. maklum saat itu cd mp3 bajakan memang didominasi album2 pop & alternatif. sementara itu saya blm tahu cara mendownload lagu dari internet. kebetulan saat itu saya bekerja di Sidoarjo yang juga banyak menjual cd mp3 bajakan, setiap ada mp3 grup rock yg saya blm punya mesti saya beli. tapi ya itu, nggak pernah nemu yg berisi Manowar, Stratovarius, Gamma Ray apalagi death metal atau thrash macam Morbid Angel dan Testament.

eh kok ya suatu saat ada pedagang mp3 di depan Matahari/Ramayana Jl Gajahmada, Sidoarjo jualan cd kopian Riot – Thundersteel, Exodus, Ayreon dan grup2 tdk umum lainnya. satu CD kopian ditawarkan Rp 15.000. karena ingin bisa mendengarkan Riot sambil kerja di kantor akhirnya saya beli juga wl saya saat itu paling anti cd bajakan krn saya anggap tdk ada seninya. singkat cerita akhirnya saya dapat sumber cd kopian yang lebih lengkap dan bisa murah  :) dari situlah cd 2 kopian saya bermula. dari cuma 1 cd Riot (yg awalnya saya berjanji demi Riot aja saya beli cd kopian) akhirnya jadi banyak sekali, awalnya saya beli tradisional heavy metal & power metal serta beberapa grup thrash yang saya kenal. kemudian saya berpikir dari pada membawa semua cd ke kantor akan lebih baik kl saya menyatukan dalam 1 cd, cuma bagaimana caranya? tak sengaja saya baca di koran Jawa Pos kl ada software gratis bernama  CD to MP3 yang bisa memenuhi keinginan saya tadi.

akhirnya saya satukan album2 Mp3 grup beraliran Power Metal, progressive & gothic metal ke cd yg saya beri judul Power. saya ambil gambar Rhandy Rhoads utk covernya, warnanya sengaja saya ganti tiap cd biar mudah dicari. Tak terasa sampai 10 cd juga. setelah itu karena cd2 power metal dan heavy metal sdh jarang ada (krn saya beli terus tiap minggu) saya mulai cari melodic death metal macam in Flames dan Children of Bodom lalu cdnya saya namai House of Loud. Instrumental gitar yg saya punya cd aslinya pun saya konfersi ke mp3 dan saya namai Give ‘em the  Axe & Ear Candy albumnya. pokoknya begitu ada 10 cd  ngumpul segera saya buatkan cd mp3nya.

sayangnya lama2 saya mulai kewalahan memburn cd-cd tadi, awalnya tetap membuat cd namun tanpa cover lalu lama-lama tidak melakukannya sama sekali :)

beberapa cd tadi masih bisa diputar tapi ada juga yang tidak bisa. selain itu sempat juga saya membalik proses, album2 bagus yg saya dapat mp3nya lalu saya konfersi jadi CD, sekalian saya buatkan covernya pakai kertas manila putih. pakai kertas HVS tintanya kok terserap shg gambarnya kurang cerah. tapi akhirnya kegiatan saya itu pun terhenti karena bosan atau banyak kerjaan lain, sekarang mp3 yg baru saya dapat cuma saya simpan di external hard disc saja.

Prog Fusion vol. 2

April 17, 2014

Hippienov

image

Happy weekend Mas G dan rekan-rekan semua, aku kembali lagi dengan postingan ringan nan gemblung untuk meramaikan blog. Semoga berkenan dan kiranya menarik untuk dibaca serta bisa membuat rekan-rekan tersenyum.

Kerennya ini adalah sequel/lanjutan dari tret sebelumnya “Iseng Bikin CD Kompilasi” tapi untuk menghindari persepsi kalo aku double kirim untuk tulisan yang sama, aku memilih untuk pakai judul “Prog Fusion Vol. 2″ karena memang tret ini masih seputar tentang keisenganku bikin cd kompilasi “Prog Fusion”. Semoga saja volume 2 Prog Fusion ini akan sama menariknya dengan volume sebelumnya ^_^

Ceritanya pada Rabu lalu setelah menggunakan hak pilih (progger juga mensukseskan pemilu loh, hehehe…) hampir seisi rumahku pergi jalan-jalan menikmati “hari libur dadakan” ini. Tinggallah di rumah aku bersama anak dan istri tercinta jadi kuncen, hehehe… Gak juga sih, kami pun punya rencana pergi muter-muter Depok dan sekitarnya tapi di sore hari itu. Rumah kosong, istri menemani anak kami tidur siang (umumnya tiap ada libur, istriku akan memanfaatkan kesempatan langka ini untuk re-charging tenaga dengan tidur tanpa aku disampingnya, hahaha…), dan akupun seperti deja vu ditinggal sendirian lagi bersama acara tv lokal yang mulai sibuk menayangkan hasil quick count pemilu yang baru saja digelar.

Gak mau terjebak dengan menonton acara tv yang bikin ngantuk dan untuk memanfaatkan waktu jeda sebelum pergi bersama keluarga di sore hari, aku segera putuskan untuk nge-burn lagu dari mp3 ke format audio. Setelah semua “gear” siap, mulailah aku berpikir mau tema apa untuk project burning-an ku kali ini. Berhubung yang lagi hangat adalah Prog Fusion, maka kuputuskan untuk membuat lanjutan kompilasi Prog Fusion yang akan kuberi judul Prog Fusion Vol. 2 karena kebetulan masih banyak koleksi lagu dari cd mp3 pemberian Mas Yuddi yang belum kebagian tempat di volume pertama plus sekalian menindaklanjuti masukan dari Mas G tentang lagu-lagu dari album perdana UK yang kurang kebagian porsi di Prog Fusion Vol. 1. Setelah proses pemilihan lagu yang lagi-lagi memakan waktu lumayan lama dan sedikit bingung untuk memutuskan mana yang akan masuk list dan mana yang harus “disimpan” lagi, akhirnya siap juga final list nya dan segera masuk proses burning… Berikut adalah playlist nya, kali ini total ada 20 lagu yang berhasil masuk :

1. Yes / Days (additional demo track di file Yes/Tormato dimana yang hanya berisi suara Jon Anderson tanpa background musik) 2. UK / Nothing to lose 3. Camel / Flight of the snow goose 4. Refugee / Ritt Mickley 5. Patrick Moraz / Kabala 6. Bill Bruford / Beelzebub 7. Steve Howe / Ram 8. UK / As long as you want me here 9. Yes / Soon (single edit) 10. Camel / Your love is stranger than mine 11. Chris Squire / You by my side 12. Steve Howe / Meadow rag 13. UK / Alaska 14. UK / Time to kill (aku amazed banget dengan 2 lagu ini, aslinya 2 lagu ini nyambung tapi karena di file yang aku punya ada jeda “putus” antara alaska ke time to kill, terpaksa aku “fade out” di akhir lagu alaska dan pas masuk time to kill aku “fade in” supaya efek putusnya lagu gak terlalu obvious dan raw banget. pasti Mas Rizki akan protes dengan tindakan editing ku ini, hehehe… So Sorry ya Mas Rizki…) 15. Bill Bruford / Hell’s Bells 16. Steve Howe / The Continental 17. Refugee / Someday 18. UK / Rendezvous 6:02 19. Yes / Sweet dreams 20. Camel / Eye of the storm.

Masih banyak lagu nuansamatik yang terpaksa gak bisa masuk termasuk “fainting in coils” nya Bruford yang direkomendasikan Mas G. Tenang Mas G, akan ada Prog Fusion Vol. 3 nanti, guess I’ll save the best for the last, hehehe…

Untuk cover/sampulnya aku punya niat untuk menampilkan cover tentang UK karena pada dasarnya kompilasi ini berawal dari takjubnya aku dengan band prog ini setelah dikasih cd mp3 nya oleh Mas Yuddi. Di volume 1 covernya “Yes” dan ada baiknya untuk volume 2 covernya something about UK jadi kalo digabungkan kira-kira punya makna “UK Yes!” Gak nyambung blas ya? hahahaha…. Saat sedang browsing mencari cover apa yang cocok tiba-tiba aku stuck dengan foto John Wetton saat konser dengan style yang keren banget, so 70s… so hippie dengan rambut gondrongnya… just like me, wakakakak…

Kira-kira demikian tulisanku kali ini yang sangat ringan, semoga berkenan dan menarik. Mohon maaf jika ada banyak kekurangan dalam penulisan. Seperti biasa matursuwun Mas G atas waktu dan kesempatan yang disediakan dan untuk rekan-rekan yang sudah meluangkan waktu mampir dan membaca…

Lots of great music are out there for us to find and enjoy them… hippienov

The Beatles dan Ariesta Birawa Mampir di Jalan Surabaya

April 15, 2014

Copas dari artikel yang diposting kakak saya, mas Henky, di sebuah milis. Karena terkait dengan kita, maka saya posting di sini. Terima kasih, ———— GW

PASAR UNIK

The Beatles dan Ariesta Birawa Mampir di Jalan Surabaya

Piringan hitam The Beatles hanya mampir sejenak di lapak milik Lian (50). Ti­dak berapa lama, setumpuk rekaman kelompok musik legendaris asal Inggris itu berpindah tangan ke pemilik baru yang merupakan warga negara Jepang.

Bagi peminat musik lawas dan piringan hitam, lapak-lapak di sepanjang Jalan Surabaya, Menteng, Jakarta Pusat, itu me­rupakan tempat berburu yang mengasyikkan. Tempatnya mudah dicapai karena terletak di tengah kota Jakarta. Jalan Su­rabaya diapit Jalan Diponegoro dan Jalan Cilacap. Lokasi pasar berjarak sekitar 1 kilometer dari Stasiun Kereta Api Cikini. Bisa juga ditempuh dengan beberapa bus, antara lain PPD 213 Kampung Melayu-Grogol. Ada juga area parkir mobil di depan la­pak-lapak. Sayangnya, area par­kir sepeda motor berada di trotoar seberang lapak.

Pedagang jalan Surabaya

Ada 12 lapak yang menjual piringan hitam di Jalan Sura­baya, bertetangga dengan ratusan lapak yang menawarkan ba­rang antik berikut koper dan tas.
Jika mendapatkan koleksi pi­ringan hitam dari grup musik atau penyanyi yang populer di era 1960-an atau 1970-an, bisa dipastikan umur piringan hitam itu tidak lama di lapak. “Lebih banyak yang mencari daripada yang menjualnya,” kata Lian, Minggu (13/4).

Tidak hanya grup musik mancanegara, seperti The Be­atles, yang punya banyak penggemar. Grup musik lokal, seperti Ariesta Birawa, yang populer tahun 1970-an, Semalam di Ma­laya milik Saiful Bahri, atau tembang-tembang penyanyi Ebiet G Ade juga tidak kalah populer dan diburu disini.
“Kalau ada piringan hitam yang kondisinya masih sangat bagus, harga jualnya bisa sampai jutaan,” kata Lian yang melanjutkan usaha orangtuanya.

Maka, keberuntunganlah yang menjadi salah satu faktor yang tidak kalah penting manakala kita berburu barang unik di Pasar ini. Kalau masih penasaran dan ingin mendapatkan barang yang dicari, bolehlah kita tinggalkan nomor kontak agar bisa dihubungi penjual barang. Mereka akan menghubungi kita jika barang yang dicari ada di tangan. Sebab, ketersediaan ba­rang bekas ini sangat tergantung ada atau tidaknya orang yang menjual barang ke pedagang di situ.

Lain piringan hitam, lain lagi aneka barang antik. Ratusan bahkan ribuan jenis barang an­tik dipajang di 112 lapak yang ada di situ. Barang antik yang dimaksud, mulai dari sendok perak, hiasan perak, mainan se­perti angklung, setrika besi de­ngan logo ayam jago, lampu hias, bel sapi, sampai jam kapal, tersedia di sini. Pembeli juga bi­sa meminta agar barang yang dibeli disepuh kuning agar terlihat antik

Bagi yang tertarik dengan tas, sepatu, atau jaket dari kulit sapi atau kambing, puluhan peda­gang juga menyediakan beragam pilihan. “Barang dari kulit yang dijual di sini adalah barang pi­lihan, baik produksi dalam maupun luar negeri. Harga barang lokal bisa separuh dibandingkan barang luar negeri. Beberapa penjual juga menerima pesanan pembuatan sepatu kulit,” kata Nanang Suryana, koordinator pedagang koper dan tas.

Pemburu barang antik ini harus menyiapkan kaki untuk kuat berjalan menyusuri trotoar se­panjang sekitar 600 meter. Pembeli juga harus rajin-rajin menyisir setiap lapak karena sejumlah lapak memiliki ciri khas barang yang ditawarkan.

Jangan lupa menawar
Tawar-menawar saat bertransaksi di pasar ini merupakan sa­lah satu tips yang bisa dilakukan calon pembeli ataupun calon penjual barang bekas. Tidak ada standar harga kecuali kesepakatan di antara kedua pihak.

Harga jual piringan hitam lagu tahun 1970-an dari band lo­kal terkenal bisa mencapai jutaan rupiah. Itu pun banyak yang mencari. Sebaliknya, harga piringan hitam dari penyanyi atau grup yang kurang populer berkisar Rp 100.000 sampai Rp 300.000.
Harga barang-barang antik berupa aksesori dari Rp 100.000 hingga jutaan rupiah.
Harga jual tas perempuan berbahan campuran kulit dan sintetis mulai Rp 300.000. Jika menginginkan tas dari bahan kulit seluruhnya, harganya bisa mencapai Rp 600.000. Tentu saja harga ini tidak bisa jadi patokan karena harga tas bergantung ukuran, model, dan bahan.
Selain itu, kehati-hatian juga diperlukan untuk memastikan keaslian dan kualitas barang, terutama barang antik

Ujang, penjual barang antik, mengatakan, tidak semua ba­rang yang dijualnya antik Sebagian adalah barang baru yang dipermak sehingga seolah-olah barang lawas.
Barang antik merupakan cikal bakal pasar ini. Ujang mengatakan, semula penjual barang antik keliling memanfaatkan kerindangan pohon di Jalan Surabaya ini untuk beristirahat tahun 1970-an. “Dari satu-dua pedagang, lantas membentuk seperti lapak gelaran. Orang mulai mengenal tempat ini se­bagai tempat menjual barang antik,” katanya.

Lokasi penjualan barang an­tik ini lantas ditata menjadi kios-kios di trotoar. Untuk memberikan tempat bagi pejalan ka­ki, ada garis merah pembatas barang dagangan penjual. Seki­tar satu meter lebar trotoar dijadikan tempat berjalan kaki. Sayangnya, masih ada pedagang yang menaruh kursi di area pe­jalan kaki sehingga memakan ruang bagi pedestrian.

Jika tertarik berburu barang unik di pasar ini, pastikan Anda tiba antara pukul 08.00 dan pu­kul 18.00 sesuai jadwal operasional resmi pasar ini.

Kemana Raibnya Kaset Yess?

April 14, 2014

Budi Putra

image

Sabtu (12/4) kemarin, bersama istri dan anak saya niatkan untuk mengunjungi Jalan Surabaya (jalsur). Tujuan utamanya yang saya sampaikan juga ke istri (menkeu), ingin membeli kaset seken di tempat itu. Apalagi kalau bukan membeli kaset seken rekaman Yess yang termashyur itu. Namun apa hasil, setelah menjajaki beberapa kios ternyata tak satupun kaset Yess saya jumpai. Sebagian besar hanya kaset-kaset rekaman standar dan lisensi saja. Penjual bilang kaset-kaset Yess sudah habis diborong. Nah loh!

Saya kurang tau persis apakah raibnya kaset-kaset Yess akibat dari liputan di majalah Tempo yang lalu? Sehingga sekarang banyak mata kini tertuju pada rekaman yang satu ini dengan segala macam kepentingannya: entah dia sebagai kolektor kelas kakap sehingga berkepentingan memborong habis kaset Yess. Atau ada upaya segelintir orang—istilahnya mas Kukuh, kartel—yang melakukan penimbunan agar kelak bisa dijual dengan harga menjulang (permainan pasar)? —kayak BBM aja, hahaha. Mungkin juga karena barang yang satu ini memang sudah langka dipasaran karena tingginya permintaan? Wah, pikiran saya saat itu jadi berduga-prasangka. Akibatnya, saya jadi enggak fokus nyari kaset karena pikiran saya yang melayang-layang kayak layang-layang yang dihempas angin. Untuk menghibur hati yang gundah gulana karena enggak nemuin kaset Yess, saya putuskan hanya membeli 2 buah kaset lisensi Queensryche (Promise Land) dan Gorky Park, dengan harga yang terbilang murah. Dan belakangan Gorky Park saya reviews di blog gemblung tercinta ini.

Berikutnya, penasaran karena belum juga mendapatkan kaset Yess, esoknya bersama istri dan anak mengunjungi Blok M Square. Kali ini selain ingin membeli kaset juga ingin membeli buku-buku bacaan untuk anak-anak mulai dari buku dongeng, seri teknologi untuk anak-anak dan buku permainan (puzel), dan mewarnai. Sampai di Blok M Square, ternyata sudah mendekati jam 12.00 Wib. Saya lihat cafe Corelli nampak lengang tanpa pengunjung—wah saya jadi inget wajah-wajah para penghuni blog gemblung. Saya bilang ke istri kalo pertemuan (progring) kemarin diadakan di cafe ini. Dan yang paling menggelisahkan saat saya tengok sebagian kios kaset seken nampak masih banyak yang tutup. Padahal hari sudah menjelang siang. Untung saja kios bang Oman dan Legend sudah mulai buka. Jadi di kios bang Oman saya menjelajahi rak-raknya tapi lagi-lagi saya tidak menemukan kaset yang saya inginkan. Di rak depan hanya ada 2 buah kaset Yess dari album Genesis “Wind and Wuthering” dan “Live and Studio” yang tempelan fotonya (cover) sudah enggak jelas, sehingga saya tidak minat sama sekali untuk membelinya. Lagi pula ini kaset pada saat progring juga sudah ada dan rupanya tidak ada peminatnya. Bang Oman bilang stok kaset masih belum berubah dari yang kemarin (pas progring). Kios Ary juga belum buka jadi saya mampir saja ke kios Legend yang saya amati stoknya juga gak banyak berubah, bahkan tidak ada satupun kaset Yess di kios ini. Akhirnya, karena tidak ingin membuang waktu saya ambil 4 buah kaset era lisensi dengan bonus 1 buah poster Jimi Hendrix yang saya pilih sendiri. Akhirnya untuk yang kedua kali saya menjumpai kekecewaan. Setelah makan dan rehat sejenak di A&W, kami beranjak pulang diiringi gerimis yang enggak diundang.

Alhasil akhir minggu ini serasa kelabu bagi saya karena kaset rekaman Yess yang saya inginkan belum bisa tergapai. Album-album dari band prog papan atas macam King Crimson, Yes, Pink Floyd, Genesis, Marillion, dan lainnya masih sebatas impian. Satu-satunya oleh-oleh yang menghibur saya pada kunjungan di Blok M Square kali ini ialah poster Jimi Hendrix (Woodstock, Live) yang lumayan keren ini.

Kabar dari Steve Hackett: Bermusik di Kapal

April 12, 2014

Ini kabar terakhir dari Steve Hackett per malam tadi: (tanpa edit)

It was exciting at our show on board ship last night to be joined by Chris Squire, Simon Collins and John Wetton. There was a tremendous buzz. The boat’s engines thundered into life as Simon and Nad together sung out on the 666 part of Supper’s Ready. John gave a fab vocal on Firth and he and Chris whipped up a storm with the band on All Along the Watchtower…
Warmest wishes to all,
Steve

Dan ini foto yang ia kirim:

Steve Hackett 12 Apr2014

-

 

 

Suka Duka Menjadi Istri Kolektor Kaset

April 6, 2014

Kumala Hardi

 

Bikin Rak Kaset Sendiri

 

Assalamu’alaikum wr wb

Gara-gara suami sekarang  sering buka blognya pak Gatot, saya jadi tertarik juga buat nulis. Bukan dari sisi musik tentu saja, karena memang  saya nggak tahu apa-apa tentang musik, kecuali hanya denger lagunya dan sekali-kali  ikutan nyanyi kalo lagunya  kenal.

Nah, selama  pernikahan kami yang baru menginjak 14 tahun ini,  benda yang paling saya cemburui adalah kaset.  Mas Hardi lebih banyak  memperhatikan dan ngelus-elus kasetnya yang jumlahnya ribuan itu (  jumlah pastinya belum pernah dihitung) daripada istrinya. Awal-awal pernikahan sih sebel juga, tapi lama-lama ya saya ambil  hikmahnya  saja daripada dia memperhatikan dan ngelus-elus  wanita lain he he he.

Saya jadi ingat waktu kami sedang pedekate dulu, mas Hardi nanya hobi saya apa dan saya jawab dengerin musik. Trus  dia nanya berapa koleksi kaset saya, saya jawab sekitar 25 dengan wajah bangga karena saya rasa itu sudah lumayan banyak. Eh, mas Hardi cuman senyum doang kemudian bilang  bahwa  punya hobi yang sama yaitu koleksi kaset. Waktu itu saya mikir bahwa kaset  yang dia punya  paling jumlahnya sebelas dua belas dengan kaset saya.

Awal-awal pernikahan kami dijalani secara LDR, saya tinggal di Semarang  dan mas Hardi di Jakarta.  Ketemuannya pas weekend saja. Berhubung kami masih ngontrak dan ada rencana mutasi kerja saya ke Jakarta, maka di Semarang barang pribadi mas Hardi yang ada ya hanya pakaian doang. Setelah 4 bulan menikah saya bisa pindah tugas ke Jakarta  sehingga bisa bersatu dengan suami (tapi masih ngontrak), barulah saya tahu kalo koleksi  kaset mas Hardi itu banyak.  Dia  bilang bahwa di  rumah Yogya  masih ada kasetnya,  nanti kalo sudah punya rumah sendiri akan dibawa semua ke Jakarta.

Alhamdulillah 6 bulan kemudian kami bisa membeli rumah di Condet, walaupun kecil dan mungil tapi berasa istana karena rumah sendiri.  Kemudian sedikit demi sedikit mas Hardi mengirimkan kasetnya ke Jakarta. Betapa terkejutnya saya karena yang dibawa itu berkardus-kardus.  Saya bingung, kenapa dulu waktu nginap di rumah mertua nggak pernah lihat koleksi kasetnya, eh tahunya dikardusin karena mas Hardi nggak mengijinkan siapapun nyetel kaset koleksinya,  takut rusak katanya .

Setelah semua koleksi kasetnya sudah dibawa, mulailah  ada pertengkaran menyangkut  kaset . Rumah kecil kami mulai kelihatan sesak karena kardus-kardus isi kaset. Setiap  saya pengin beli peralatan rumah tangga selalu dilarang alasannya karena rumah kecil, mau dimana lagi naruhnya. Lha dia sendiri nggak nyadar kalo yang bikin sesak rumah ya koleksi kasetnya itu. Biasanya setelah menangis ( ini senjata yang sampai sekarang masih saya pakai),  akhirnya  diijinkan beli alat yang saya inginkan.

Mas Hardi mulai kepikiran untuk menata kasetnya di dalam rak. Karena nggak ada yang jual rak kaset, dia memutuskan untuk membuat sendiri  rak kasetnya . Saya mulai mengenal suami sebagai tukang kayu. Dia  merancang rak yang akan dibuat, membeli kayu, paku, palu dan alat-alat tukang lainnya.  Setelah semua bahan lengkap, mulai  mengukur, memotong , memaku dan memasang  .  Dulu sebelum berpengalaman, papan  kayu  mesti  dipotong  dan diserut sendiri sehingga pengerjaan rak kaset lumayan lama dan kurang halus. Tapi  lama-lama dalam 2 jam mas Hardi sudah bisa menyelesaikan proses pembuatan rak kaset, karena beli kayu yang sudah diserut dan dipotong di toko kayu sehingga di rumah tinggal memaku dan memasang.

Akhirnya satu persatu rak kaset berhasil dibuat. Nah, saatnya memasang kaset. Kaset dibongkar dari kardus  kemudian  dibersihkan. Saya pikir kaset langsung bisa ditaruh di rak. Tapi ternyata, kaset diperiksa dulu ada yang rusak nggak,   kemudian diplastik biar nggak dimakan rayap  lalu disortir berdasar  penyanyi, genre,  produksi   siapa dan lain-lain.

Proses sortir ini memerlukan waktu yang sangat lama. Sambil  melantai ( ndlosor di lantai), mas Hardi jejer-jejer kasetnya , terkadang  dia  menceritakan sejarah kaset yang sedang dipegang, yaitu kapan dibeli, dimana dibeli,harganya berapa,  genrenya apa, anggota group band dan lain-lain . Saya semakin mengenal bahwa   suami saya  orangnya sangat  teliti dan ingatannya kuat  ( tapi khusus tentang kaset saja he he he). Kadang-kadang saya sindir, ngapain juga mesti  hapal sejarah group band  karena  nggak ada gunanya secara dia bukan penyiar radio atau wartawan majalah musik.

Saya sama sekali enggak bantu  mas Hardi dalam proses menyortir dan menata kaset di rak. Semua dia lakukan sendiri, karena kalo saya bantu malah bikin ribet  orang saya memang nggak paham apa maunya. Lamanya proses penataan tersebut itu juga karena  saya lihat mas Hardi suka berlama-lama memandang cover kaset yang dia suka. Dia pandang kasetnya  penuh cinta dan dipegang secara hati-hati .  Kalo sudah pose begitu, diajak ngomongpun dia nggak bakal nyaut. Cemburu kepada kaset mulai muncul, perasaan saya nggak pernah diperlakukan begitu deh he he he.

Akhirnya, alhamdulillah semua kaset berhasil  ditata di rak.  Mas Hardi  bisa sepuasnya memandangi  semua koleksi kasetnya. Saya juga ikutan seneng dong, ternyata suami punya kaset lagu-lagu yang dulu saya pengin tapi nggak punya kasetnya. Herannya dengan  ribuan kaset koleksinya , kalau saya iseng pengin nyetel kaset , hanya lihat dari rak yang kosong saja mas Hardi bisa tahu  kaset apa  yang saya ambil.  Woah, begitu perhatian (pada kaset) bukan?

Contoh Rak Kaset

Contoh Rak Kaset

Begitu sekelumit cerita saya menjadi istri kolektor kaset. Kalau diijinkan kapan-kapan saya pengin posting lagi cerita topik lainnya, tentunya masih tentang suka duka menjadi istri kolektor kaset. Terima kasih banyak kepada  Pak Gatot yang sudah menginspirasi saya untuk menulis apa yang sudah bertahun-tahun ini saya rasakan tanpa tahu harus berbagi pada siapa.

 

Salam

Kumala

 

Njamiroquai setelah Nyaudagar Kopi …

April 4, 2014

Gatot Widayanto

Progger Juga Manusia …

Tret ini saya buka karena kegemblungan saya yang kemana-mana ngakunya progger namun ternyata hatinya begitu rapuh terhadap suatu godaan apalagi kalau itu terkait dengan suatu “nuansa” yang terbangun karenanya.

Apa pasal?

Hari Selasa yang lalu saya mampir di sebuah kafe yang namanya membuat saya ngguyu kepingkel-pingkel (tertawa terbahak-bahak) sendiri karena lauwtjuuuu banget namanya. Baca aja sendiri di paragraf bawah terkait kafe bernama lauwtju ini. Namun yang lupa saya jelaskan adalah kegiatan musikal yang rencananya saya gelar namun gagal luluh berantakan seperti daun kering kerontang terkena imbas kemarau super duper panjang … Padahal, saya siapkan semua peralatan mengingat rapat saya masih jam 9:30 dan saya di situ sekitar 7:30, yakni: iPod Touch milik putri saya (Dian Widayanti) yang tak pernah ia pake sejak ia punya gadget dengan kapasitas 32 GB, headset Senheiser PX-100 kesukaan saya dan tentunya seperangkat MP3 yang ada di iPod maupun laptop.

Sayang seribu sayang …perlengkapan saya tersebut tak jadi saya gelar lantaran di kafe tersebut ada alunan musik dari kelompok yang disebut sebagai Acid Jazz dan merupakan langganan yang selalu perform di Java Jazz: Incognito. Hah? Kok bisa? Lha itulah …karena nuansa kafenya yang cozy banget dan hanya ada saya dan penjual kopi aja di kafe tersebut, jadinya saya “terbeli” dengan nuansa yang dibangun dari musik yang diputar. Lha kok tiba2 kaki saya ikut menghentak mengikuti irama musiknya. Dan memang yang diputer hanya dari grup ini aja sehingga bisa dibilang pagi tersebut saya sedang Ngincognito lah … ha ha ha ha … Jarene progger…..! Kok ngepop??!! Ha ha ha ha ha …

Ingatan saya langsung melesat di periode 1994 – 1997 saat saya bekerja di Price Waterhouse Consulting yang berkantor di Kuningan. Seorang temen saya, Filipino yang bernama Errol Paler (bukan menkeu nya mas Khalil karena juga ini cowok … ha ha ha ..) begitu getol mempromosikan Incognito ini ke saya selain ada satu grup lainnya: Jamiroquai. Hebat banget sabetan lidah berbisa Errol ini sehingga saya borong beli CD nya Incognito 3 album langsung dan 2 CD Jamiroquai. Nah …yang terakhir ini saya suka banget logonya yang manusia bertanduk (iblis ya kali? Bener gak Bro Apec?) terus tangannya nyibak … ha ha ha ha … Langsung saya jatuh hati sama album pertamanya yakni “Emergency on Planet Earth”. Wah …meski funky namun keren lho musiknya …apalagi vokalisnya berkarakter seperti Inga Rumpf (Frumpy) namun ini cowok. Kontan … tadi malam saya kerja bikin konsep sambil menikmati Jamiroquai dan tanpa terasa saya tidur jam 2:00 dinihari saking menikmati kerjanya dan musiknya keren …

Tumben nih saya muter dua album dari Jamiroquai ini ... Wis pokoke jiyannn ...represhing tenan ....! No rock ...no metal ... no prog .. Purely funky kopral! eh ...funky pop dink! Ha ha ha ha ...sambil nyeruput kopi dan kerja malam .... biyuuuuuhhh!!! Njamiroquai tenan jal!

Tumben nih saya muter dua album dari Jamiroquai ini … Wis pokoke jiyannn …represhing tenan ….! No rock …no metal … no prog .. Purely funky kopral! eh …funky pop dink! Ha ha ha ha …sambil nyeruput kopi dan kerja malam …. biyuuuuuhhh!!! Njamiroquai tenan jal!

 

Ingat jaman ngonsultan dulu (kayak sekarang enggak aja!) sering kami hang out di kafe2 kalau akhir minggu …Biasanya kita mulai jam 5 sore biar dapet diskon 50% di kafe Classic Rock , Jl Falatehan, Blok M. band nya dulu ya Doddy Katamsi lah … suka mainin Led Zepp , Rush, PF dan lainnya. Kadang kami pindah ke Pasir Putih kemang …kadang ada Cockpit di sana. Tapi lucunya temen2 saya ini sebagian yang suka Incognito malah bisa menikmati claro segala … ha ha ha …

Di bawah ini adalah pengalaman saya di kafe kopi hari selasa lalu:

 

Nyaudagar Kopi …

Saudagar1

Adalah sudah menjadi rutinitas saya melaju gowes di seputar jalan Sabang karena saya seringkali berkantor di Grand Kebonsirih. Acapkali (whaaaa….dah lama gak pake kata ini) saya sering penasaran dengan sebuah gerai kopi yang namanya membuat saya ketawa ngakak dan sekaligus geli …. Saudagar Kopi. Wha ha ha ha ha ….ngguyu kepingkel-pingkel saya. Lauwtjuuuuuuuuu puwoooool! Ha ha ha ha ha …. Jadi inget pelajaran Ilmu Bumi dan Sejarah Indonesia jaman SD dulu … Saudagar dari Tiongkok merapatkan kapalnya di Pelabuhan Sunda Kelapa ….wahahahaha ….nuansamatik jadulsonic tenan!!!

Setiap lewat gerai ini ada saja alasan saya untuk gak mampir. Pertama karena tempatnya keliahatan kecil sehingga kalau ada yang ngopi maka sepertinya gak ada lagi tempat duduk. Kedua, sepertinya gak ada AC nya karena sinar matahari masuk langsung ke gerai. Ketiga, saya sering buru2 kalau melintas di sini karena pengen cepet mandi terus kerja. Keempat, waktu saya suka kelamaan di warung bakmi ayam di sebelah ujungnya.

Nah …pagi ini saya paksakan diri buat Nyaudagar Kopi karena saya sampe sini jam 7:15 dan rapat saya di GKS jam 9:00. Kesempatan emas dah. Pertama masuk saya sudah terpikat dengan nuansa santai dan aroma kopinya. Ternyata juga tempatnya luas memanjang. Memang dari luar kelihatan kecil sih. Tempatnya nyaman dan ada AC nya juga. Ada dua jenis black coffee yang ditawarkan dan saya ambil yang bukan Toraja. Snacknya saya pilih roti ‘kukus’ srikaya. Whooaaaaa…. kopinya mantab jèk! Apalagi sambil ngrakoti roti kukus ….! Tuoooobbbbzzzzzzz….!

Saudagar2

-

Saudagar3

-

Saudagar4

-

 

Get Ready for Gala Progring!

March 29, 2014

image

Jam 11 sudah di Blok M Square menunggu tamu2 berdatangan nanti ….

Blusukan di Rumah pak Roi

March 28, 2014

Herman

Yth. Mas GW, di bawah ini saya kirimkan tulisan yang mungkin pernah dikomunikasikan Pak GT kepada Mas GW, tapi berhubung baru ready sekarang maka dengan permohonan maaf baik kepada Pak GT maupun Mas GW maka baru terkirim sekarang. (Herman)

—-
Atas undangan Pak GT beberapa waktu yang lalu saya berkunjung ke rumah Pak Roi. Sore itu saya bertemu Pak GT, Pak Alfie dan Mas Nast dan tentu saja Pak Roi. Seperti sudah kita ketahui bersama rumah Pak Roi fotonya sudah pernah ditayangkan di Blog gemblung ini. Pak Roi adalah seorang arsitek yang hobi mengkoleksi musik dalam segala bentuk dan segala pernak perniknya seperti piringan hitam, CD, majalah, poster, buku, patung kecil grup Band atau artis musik sampai Dart yang bergambar sebuah grup band. Dengan keahliannya sebagai seorang arsitek maka koleksi yang jumlahnya cukup banyak di tata si di seantero rumah tinggalnnya. Tak ada sudut ruangan yang bebas dari benda artefak yang berkaitan dengan musik tersebut. Saya berkeyakinan benda benda tersebut terkumpul secara bertahap. Hal ini memberi kesempatan terbangunnya ikatan emosional Pak Roi dengan benda2 tersebut sehingga semua benda artefak tersebut merupakan benda2 istimewa bagi Pak Roi. Hal ini membuat Pak Roi menata benda2 tersebut dengan totalitas segala kecintaannya. Hasilnya adalah sebuah komposisi display artefak2 dipadukan dengan tata cahaya yang luar biasa, enak di mata dan semua benda mendapat porsi untuk diperhatikan. Suasananya perpaduan antara kafe dengan museum yang modern. Ruang tamu, ruang makan, ruang keluarga, tangga ke lantai 2, mezanin ( di rumah tinggal ) semua full display benda benda musik. Juga, di rumah sebelahnya yang semua lantai 2nya dijadikan ruang koleksi….. wah dahsyat….

IMG_7208 edit low

IMG_7223  edit low

sampul album Jethro Tull Aqualung ini berisi PH dan CD 4 keping IMG_7227

-
Benda2nya sendiri membuat kita berdecak kagum, seperti poster antic personil The Beatles, poster majalah Pop Foto, sampai majalah Aktuil lengkap dari tahun ke tahun, lebih lebih album PH , Box Set. Ada yang sempet saya buka bersama Pak GT yaitu Box Set Jethro Tull berupa paket CD dan PH … speechless –lah. Dan …ini….sound systemnya …. menggelegar suaranya .…singkat kata rumah Pak Roi ini memanjakan baik mata maupun telinga kita… dan menurut saya layak untuk dijadikan obyek wisata dan saya sudah menjadi wisatawan yang dipersilahkan untuk blusukan memasuki semua ruangan…..
Hari itu kita juga sempet ketemu dengan Jelly Tobing, Pak Didiek (Ketua KPMI),. Keenan Nasution juga sempat datang bersama istri Ida Royani serta tak ketinggalan Bang Oman.
Pak GT sudah membisiki saya bahwa sudah ada rencana untuk mengusulkan Prog Ring teman – teman Blog Gemblung di rumah Pak Roi.
Begitulah cerita hasil blusukan.
Salam Jreng.
Herman.

Only Physical Records Are Real!

March 28, 2014

DananG Suryono

Slogan itulah yang tertulis pada sebuah lapak kaset/CD/PH milik Budi DeepRock di Blok M Square, saat saya dan mas Eddy Irawan seorang predator kaset kelas berat ketemu di lapak itu. Sedikit tertegun, namun rasanya ini menjadi penyemangat setelah 2 toko CD/Kaset besar di kawasan Blok M rontok. Aquarius telah runtuh benteng terakhirnya di kawasan Mahakam, sementara Musik + di Blok M Plaza pun mengikutinya.

01 Di Depan Slogan Only Physical Records Are Real! (Lapak Deep Rock)

Ya era kejayaan rekaman fisik telah memudar disebagian tempat, Di Jakarta satu persatu toko CD rontok ditengah sepinya orang datang berkunjung ke toko. Setelah Aquarius resmi menutup seluruh tokonya, maka tinggal Musik + (Sarinah, Kelapa Gading, MTA), Duta Suara dan DiscTarra yang mungkin masih mencoba bertahan. Demikian juga di kota-kota lain.
02-Artefak di Lapak Bang Oman

Namun apakah era rekaman fisik akan berakhir?, jawabannya mungkin tidak. Di suatu oase kota bernama Blok M Square, denyut perburuan fisik ini masih kencang. Saat progring awal yang saya ikuti hanya ada 4 lapak disana (Udinesse, Bang Oman, Ridwan Djadoel dan Agus WM), Namun saat ini sudah berkembang menjadi 12 dengan lapak baru dengan tambahan Deep Rock (Budi), Bakrie Music (Agus Sukabumi), Legend (Feri), Mul, Kims Varia (Gunawan), Andrie, Kuclux Music Corner (Ariyanto), Arman & Johny Bardiansyah melengkapi 4 lapak terdahulu.

03-Artefak di Lapak Legend (Feri)

Tempat ini menyediakan berbagai kaset/CD/PH lama yang penuh kenangan. Mungkin sebagian kita dulu pingin punya kaset/CD/PH, namun karena berbagai faktor menjadi tidak terealisasi. Nah dengan perkembangan kondisi yang ada kita pingin mendapatkan kembali. Di tempat ini sungguh bagaikan kita berada di lorong waktu yang mengembalikan ke kenangan masa silam.
Disamping itu di tempat ini juga menjadi tempat silaturahmi dengan pengunjung yang se iman. Obrolan santai dan akrab kerap terjadi dengan teman baru. Yang menarik statement salah satu teman yang baru saya kenal, bahwa sebenarnya kita-kita ini bukan sekedar konsumen barang bekas, namun kita ini adalah penyelamat artefak. Dan insya Allah Sabtu ini rekan-rekan penghuni blog Gemblung akan bersilaturahmi dan tentunya dengan semangat Only Physical Records Are Real! akan sekuat tenaga menyelamatkan artefak yang teronggok di 12 lapak di Blok M Square.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 130 other followers