Sorry Friends, Disini Banyak Stonesnya

Budi Putra

image

Mengenang masa sekolah (SMP/SMA) memang menyenangkan. Sebab dimasa itu pulalah gelagat kebandelan mulai nampak dan dengan sok-sokan suka dicicipinya. Mulai dari nyetun sembunyi-sembunyi sampai bolos sekolah bareng-bareng hanya untuk bisa nonton konser musik rock. Dus dimasa itu pula cinta monyet mulai bersemi…kecuali mas Kukuh…hehehe…just kidding! Tapi yang paling mengasyikan dan mengharu biru tatkala kita mulai mengenal musik dan jatuh cinta pada grup band kesukaan. Dari sinilah ihwal ketertarikan dan perburuan segala sesuatu terkait band kesukaan dimulai yang kemudian terus terbawa hingga kini.

Selagi saya sekolah SMP (tahun 80an) sedang boomingnya The Beatles. Tapi juga dibayangi ketat oleh ketenaran The Rolling Stones. Temen saya bilang anak baik-baik lebih memilih Beatles tapi yang urakan gak bisa diatur mesti lari ke Stones…hehehe. Terus terang, saya awalnya Beatles maniac tapi seiring pergaulan yang ikut dilakoni dan berkat pendekatan teman sekelas maka saya mulai berpaling ke Stones. Gak keliru karena beberapa lagunya memang langsung nyantol dihati. Teman saya bilang kalo Beatles punya “Anna”, Stones ada “Angie”. Penasaran saya pinjem kasetnya dan saya dengerin…weihh, asyik juga nih. Petikan gitar dan permainan pianonya lebih nendang. Sebab lagu “Angie” lantas keingin-tahuan saya semakin dalam dan menjadi-jadi. Untuk itu, selain dipinjamkan kasetnya saya juga berupaya beli kaset Stones di Aquarius, Aldiron Blok M. Kaset pertama yang saya beli album Let it Bleed dan The Best The Rolling Stones. Sejumlah posternya pun mulai menempel disisi poster-poster Beatles. Di sekolah saya mulai rajin ngomongin Stones, selain mulai hobi corat coret didinding dan bikin grafiti “lidah melet” yang kesohor itu. Bukan hanya lagu-lagunya namun sampai penampilan/gaya mereka saya katakan pada teman-teman lebih cocok dan asyik dipandang. Dan sepertinya saran saya ini mengena. Karena selang beberapa waktu kemudian mereka mulai suka bersiul beberapa tembang populer dari Stones. Nah. mulai kena nih…gumam saya. Waktu itu juga sedang ngetrennya bikin gank. Maka tak mau ketinggalan kami pun bersepakat membentuk gank yang namanya kami comot dari salah satu lagu Stones: Sister Morphine—namanya aja yang serem padahal gak tau juga tuh arti sebenarnya…apalagi ikut-ikutan jadi morpinis…gak deh. Pilihan nama ini biar dibilang keren, sangar dan nyetun aja.

Semenjak itu kemana pun kami berada selalu setiap dengan gitar akustik dan nongkrong bareng diringi lagu-lagu Stones. Ada beberapa lagu favorit yang biasa kami nyanyiin seperti “Under the Broadwalk” “Tell Me”, “Out of Time” “Angie”, “Heart of Stones”, “Spider and the Fly”, “Rubby Tuesday”, “As Tears Go By”, “Jumpin Jack Flash”, “Honky Tonk Woman”, dan lagu-lagu lainnya. Asyik, sambil nyanyi sesekali belajar ngisep filter…sekali dua kali ngisep batuk kemudian…hehehe. Ini lah salah satu dampal negatif Stones…hahaha. Bila ada konser yang guest starnya Cikini Stones Complex atau Acid Speed…dimanapun mereka berada (manggung) akan kami kejar. Walau kantong cekak alias dana pas-pasan.

Soal ini juga kami bawa ke tempat favorit kami apalagi kalo bukan belakang kantin sekolah. Setiap kelas punya tongkrongan favoritnya. Misal anak kelas A didepan kantin, anak kelas B, disamping kiri kantin, dan anak kelas C disamping kanan kantin. Maka kelas kami, kelas C, berada dibelakang kantin deket kandang ayam pemiliki kantin. Agar tempat favorit kami tambah disegani maka ditembok belakang kantin kami tulis dengan pilox: “Sorry friends, disini banyak Stonesnya” plus gambar lidah melet persis berada dibawahnya. Kami pikir dengan dibuat Stones area seperti itu gak akan ada anak kelas lain yang macem-macem nongkrong ditempat ini apalagi coba-coba bawa gitar lantas mainin lagu selain punyanya Stones…hehehe.

Kultur pemberontakan yang dibawa para personil Stones kiranya pas dengan suasana hati kami pada saat itu. Jujur saja sebagian dari kami yang bersekolah pada saat itu kurang merasa nyaman dengan sistem pengajaran yang diberikan para guru yang cenderung membosankan, menjenuhkan, dan membuat kami selalu merasa tertekan dengan metode pengajaran yang mereka, para guru, berikan kepada kami anak didiknya. Setelah kuliah saya baru memahami metode/sistem pendidikan dimasa Orba melalui buku-buku yang saya dapatkan dari teman-teman di Jogyakarta. Seperti buku “Pendidikan Kaum Tertndas” (Paulo Freire), “Sekolah itu Candu” (Roem TM), dan sejumlah buku lain terkait masalah pendidikan. Melalui buku-buku inilah saya jadimemahami rupa dari sistem pendidikan yang diterapkan di sekolah. Sebuah sistem yang malah membelenggu alias tak membebaskan anak didiknya dalam mengenyam setiap pelajaran yang diberikan. Soal ini juga yang dikritik Pink Floyd dalam mahakarya The Wall. PF mengkritik habis-habisan sistem pendidikan yang berlaku di sekolah.

Kembali ke Stones. Jiwa pemberontakan, anti kemapanan, dan menolak terhadap perang sepertinya menjadi oase bagi kami pada saat itu. Bukan hanya bagi kami sisi urakan Stones juga merembes kekalangan lumpen (masyarakat miskin kota) dengan lakon pemberontakannya. Tidak mengherankan bila dikantong-kantong area miskin kota banyak pemudanya yang gandrung dengan Stones. Menurut saya inilah simbol pemberontakan dan penolakan atas kemapanan dan ketidakadilan yang mereka rasakan. Bahkan dengan menggemari Stones boleh dikatakan sebagai tempat pelarian bagi sebagian anak-anak muda dari kondisi sosial yang ada pada saat itu dan mungkin juga sekarang: menganggur dan masa depan yang mengawang-ngawang.

Rolling Stones nyatanya bukan hanya sekedar tipikal sebuah grup band. Namun kehadirannya telah menjadi inspirasi baik secara positif juga negatif bagi sebagian besar anak-anak muda diberbagai belahan dunia dengan sudut pandang/spektrum yang berbeda-beda. Namun Stones serasa mewakili gairah dan juga kegundahan mereka akan pranata dunia yang hiruk pikuk dan timpang ini.

About these ads

6 Responses to “Sorry Friends, Disini Banyak Stonesnya”

  1. Budi Putra Says:

    Mas Gatot, terimakasih sdh diposting ulasan ini. Wah seneng ya mas bs mrogring kembali di Surabaya dus ktemu dedengkotnya Yes…mas Koh Win von Klaten dan pak dokter spesialis bro Apec yg baik hati.

    Setelah sblmnya diberondong dg ulasan prog berkelas, yg ini sekedar nyetun memori mas…hehehe.

    Colek mas DananG dan the madman alias mas Kukuh Tawanggono aseli Ngalam.

  2. kukuh tawanggono Says:

    Mas Budi sedulurku lanang

    Saya membaca tulisan njenengan ini…bener-bener ciri khas” Mas Budi”sekali.Bahkan dalam mengupas The Rolling Stone yg merupakan madu kapitalismepun masih njenengan maknai sisi pemberontakkannya.
    Kalo membaca pengalaman njenengan ini,kita ini terbalik njih mas Budi.Kalo saya Stones adalah gerbang yg mengantar saya pada dunia musik yg begitu indah serta penuh misteri.
    Layak mendapat 999 ribu jempol untuk mas Budi(kurang satu jempol,dikarenakan njenengan njalu sehingga mendapat kartu kuning…he he he)

    • Budi Putra Says:

      Hahaha…I can’t get no…no satisfaction. Angka bagus 999. Stones mmg fenomenal mas Kukuh (sepakat) walau ini madunya kapitalisme tp bak anak haram dr sistem itu…kalo saat ini persis dg Rage Against The Machine dg kiblat musik yg berbeda. Tp Stones jg bcr soal anti perang spt dlmlagu Paint in Black…

      Ngomongin Stones, nm ini sgt membumi. Coba aja tanya preman2 (Jager) tua masa lampau diantaranya pasti band ini menjadi bagian dr kehidupan jalanan mrk…’Kan pas sekal tuh dengerin Spider and the Fly…jreng!

      • kukuh tawanggono Says:

        Setuju mas Budi…bahkan Stones ini bagi saya kok njih membumi sekali.Buktinya njih argumen njenengan tentang preman-preman itu…….
        Keith Richard adalah seseorang yg mengajarkan kepada saya,bahwa kesenangan itu ada batasnya(jadi ingat sewaktu jaman mbrandal dulu…he he he)dan topi fedora itu adalah kebandelan yg dibungkus dengan norma-norma…ha ha ha ….ngomong apa to iki,kok dadi nggedabyah…ha ha ha ha ha ha ha
        Matur suwon sanget(terima kasih) mas Budi atas tulisannya yg mengajak saya menelusuri serpihan-serpihan masa lalu(yg kebanyakkan warnanya hitam pekat)

  3. andria Says:

    “Aak, Setun Ak” :)
    kata teman saya yg dari Bandung, kl dahulu kala band lokal tidak nyanyikan lagu RS maka akan disoraki sepanjang permainan

    • kukuh tawanggono Says:

      Amit sewu sepuntene ingkang kathah(permisi,mohon maaf)…Leres sanget(bener sekali)mas Andria.Rolling Stone pada jaman dulu lagu-lagunya semacam dijadikan lagu wajib bagi band-band lokal yg sedang menggelar pertunjukkan.
      Bahkan ada rocker Malang yg meniru habis gaya si Mick Jagger yaitu alm sam(mas)Miky Jaguar(terlepas dikemudian hari beliau juga meniru aksi Ozzy dalam penampilannya).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 142 other followers

%d bloggers like this: