Canterbury Scene 5: SOFT MACHINE

By: Eddy Irawan

 

Untuk menghibur diri karena gak bisa ikut progring #9 dan untuk mengenang kematian Kevin Ayers – salah satusoft_machine pendiri super grup Canterbury ‘Soft Machine’ – yang meninggal dunia di usia 68 tahun pada 18 Februari 2013 lalu, saya membuat tret ini.

 

Menyebut Soft Machine jelas tidak bisa terlepas dari aliran musik Canterbury Scene, dimana grup ini merupakan salah satu tonggak penting keberadaan Canterbury Scene. Nama Soft Machine sendiri diambil dari judul sebuah buku ‘The Soft Machine’ karya William S. Burroughs. Soft Machine dibentuk pada pertengahan tahun 1966 oleh Robert Wyatt (drums, vokal), Kevin Ayers (bass, gitar, vokal), Daevid Allen (gitar) and Mike Ratledge (organ/keyboards). Jenis musik grup ini adalah campuran antara British jazz dan psychedelic yang rumit dibalut fusion yang menghentak.

 

Album pertama mereka ‘the soft machine’ dirilis pada tahun 1968, yang kemudian diikuti dengan tur mereka ke Amerika dan Kanada sebagai grup pembuka Jimi Hendrik. Sepulang tur yang melelahkan, Daevid Allen dan Kevin Ayers memutuskan keluar dari grup  ini. Ayers menjual gitar bas-nya ke basis Jimi Hendrik, Noel Redding, dimana ia kemudian sukses bersolo karir. Sementara Daevid Allen yang kemudian lebih kita kenal sebagai pendiri grup Gong, selanjutnya posisinya di Soft Machine digantikan Andy Summers yang kelak bergabung dengan The Police.

 

Sepanjang tahun 1969 hingga 1981, mereka menelurkan sembilan buah album, dimana album kedua sampai ketujuh dinamai sesuai urutan produksi album. Dalam sebuah wawancara dengan BBC, Mike Retledge yang merupakan personel terlama bertahan di grup ini mengatakan bahwa penomeran angka sebagai judul album merupakan salah satu cara agar memudahkan fans mereka mengingat nama-nama album Soft Machine. Namun kenyataannya, pada album kedelapan tidak dinamai eight atau eighth, melainkan ‘bundles’.

 

Bundles (1975) merupakan album yang unik, karena dalam album ini, hanya Mike Retledge satu-satunya personel asli Soft Machine yang tersisa. Di album ini pula, untuk pertama kalinya sejak album ‘volume two’ (1969), peran gitar dimunculkan kembali setelah enam album sebelumnya tidak ada pemain gitar. Dan gitaris tersebut bukanlah orang biasa. Dialah Allan Holdsworth, pemain gitar eks grup Tempest. Masuknya pengaruh Allan, jelas merubah total gaya ortodoc-psychadelic Soft Machine menjadi fusion yang canggih nan penuh letupan spirit. Walau suara gitar Allan dominan, namun roh Soft Machine masih terdengar dari dentingan organ melalui jemari Mike Retledge.

 

Mike Retledge yang bergaya free jazz keluar dari Soft Machine setelah album ini dirilis karena merasa kiblat grup ini sudah bergeser namun dia masih sempat mengisi suara synthesizer pada 2 buah track yang kemudian dirilis dalam album Soft Machine berikutnya. Uniknya, Allan Holdsworth juga ikutan keluar.

 

Album studio kesembilan ‘softs’ (1976) menjadi album Soft Machine yang di dalamnya sudah tidak ada lagi satupun original line-up grup ini. Walau mengisi dua nomer di album ini, Mike Retledge tidak lagi ditulis sebagai personel Soft Machine. Di album ini muncul pemain saxophone baru yang merupakan sepupu dari Rick Wakeman, yaitu Alan Wakeman. Namun Alan pun cuma bertahan di satu album. Suara gitar di album ini diisi oleh John Etheridge, eks grup Wolf, yang walau sudah bergabung dengan Soft Machine sejak 1975, namun cuma ikut mengisi posisi gitar di dalam album ini. Ia keluar dari Soft Machine pada tahun 1979. John meneruskan tradisi Allan Holdsworth yang mendominasi suara gitar dalam lagu-lagu Soft Machine. Roh Soft Machine mulai menghilang. Entah kenapa Yess kok cuma bikin album Softs ini (Yess #146).

Album 'Land of Cockayne' yg ada di side b album Allan Holdsworth

Album ‘Land of Cockayne’ yg ada di side b album Allan Holdsworth

 

 

Album Softs versi Yess dan 'Third' produk home industry ala Jatinegara

Album Softs versi Yess dan ‘Third’ produk home industry ala Jatinegara

 

8 album Soft Machine versi cd

8 album Soft Machine versi cd

Lima tahun berselang (1981), album ‘land of cockayne’ dirilis. Allan Holdsworth bergabung lagi sebagai lead guitar dengan Jack Bruce eks grup super Cream pada bas. Dominasi Allan Holdsworth dalam album ini jelas tidak bisa dipungkiri. Saya kehilangan total roh Soft Machine pada album ini. Dan, Yess ngerekam album ini sebagai tambahan album ‘Atavachron’-nya Allan Holdsworth (Yess #631)

 

Soft Machine tidak mengeluarkan album studio lagi setelah ini, namun beberapa rekamannya di BBC mulai dirilis ulang. Juga beberapa album kompilasi dan live album yang dikeluarkan untuk menghilangkan rasa kangen penggemar ‘asli’ Soft Machine.

 

Beberapa eks personel Soft Machine kemudian membentuk grup lain. Seperti Hugh Hopper yang mendirikan Soft Heap, Isotope dan Gilgamesh. Daevid Allen bikin Gong; Percy Jones mendirikan Brand X; Allan Holdsworth membentuk UK; Ric Sanders gabung ke Fairport Convention; dan Robert Wyatt mendirikan Matching Mole pada 1971, yang merupakan kata lain dari ‘Machine Molle’, dimana dalam bahasa Prancis berarti Soft Machine, grup yang pernah didirikannya dulu.

Sedangkan, Kevin Ayers, salah satu pendiri Soft Machine, memilih bersolo karir setelah keluar dari grup ini pada 1968. Ia menelurkan 17 buah album studio dan belasan live album dan kompilasi. Ia juga berkolaborasi dengan banyak musisi ternama seperti Mike Oldfield, Syd Barett, dan Brian Eno. Album terakhirnya dirilis pada tahun 2007.

Dia menghabiskan masa tuanya di Prancis dan pada 18 Februari 2013 ditemukan meninggal ketika tidur di apartemennya di Montolieu, Prancis dalam usia 68 tahun. Kevin Ayers sudah menikmati bahwa musik progresif, khususnya Canterbury Scene yang diimaninya sebagai ‘joy of a toy’. Adieu, Kevin…

 

14 Responses to “Canterbury Scene 5: SOFT MACHINE”

  1. Eddy Irawan Says:

    Thanks mas G dh dimuat tulisan ini.

    • Gatot Widayanto Says:

      Keren mas Eddy! Trm kasih banyak udh mengulas CS berseri. SM saya kenal ya dari Yess mas ….

      Keep on writin’ ….!!!

  2. yuddi Says:

    mas Eddy Irawan, tulisan2nya ttg mazhab Canterbury Scene selalu saya tunggu.
    Mantaaps

    • eddy irawan Says:

      Thanks Mas Yuddi. Saya dpt ide bikin tret SM justru pas dapat album ‘softs’ versi Yess tulisan biru metalik di medan 2 minggu lalu.

  3. Gatot Widayanto Says:

    Saya juga sangat menikmati musik CS. Sayangnya memang kalau musik CS lebih sering tak hafal lagunya karena tak seperti symphonic prog yang kita sering mudah mengenal di luar kepala … Mungkin karena musiknya instrumental sebagian besar – kecuali Khan tentunya … eh ndak juga ya Caravan juga banyak vokalnya … Embuh, gak hafal aja… Misalnya SM album Third, saya gak hafal blas ada lagu apa saja di situ sampe saya nyetel CD nya … he he …

    Np. Marillion “Sounds That Can’t Be Made”

    • eddy irawan Says:

      sama mas, saya juga gk hafal sama lagu2nya SM. itulah sebab, kenapa judul album dibikin sesuai urutan rilisannya. Jgn sampe albumnya pun gk ada yg hafal.

      Menurut Elton Dean, salah satu personel SM, mereka memang gk berharap judul lagu2 SM dihapal sama penggemarnya tapi nikmatilah nuansa musik yg mereka mainkan…

      • Gatot Widayanto Says:

        Wah ….sama ternyata … Dan saya baru dengar ini:

        “Menurut Elton Dean, salah satu personel SM, mereka memang gk berharap judul lagu2 SM dihapal sama penggemarnya tapi nikmatilah nuansa musik yg mereka mainkan…”

        Lha kok ini orang bijak banget …karena memang begitulah saya menikmati CS mas … Selalu tak hafal lagu2nya ..

  4. Hendrik Worotikan Says:

    Nama SM (bukan Swara Mahardika, lho), Soft Machine sering sy dengar. Tapi kalo ditanya apa punya albumnya ? Jawabnya ngga punya. Kalo pun ada ya itu yg ada di side B album AH (Atavachron). Hiks…

    Khusus untuk Kevin Ayers, setelah keluar di SM, ia pun membentuk ‘Whole World’ dan juga ‘Soporifics’ (1974), lantas banyak merilis album solo dan juga kolaborasi dgn musisi musisi top seperti mas Eddy Sebut diatas. Ditambah dengan Alan Parson. (Sayang kalo nama ini ngga disebut. Hihihi)

    Sy menjumpai nama Ayers Rock di album kompilasi Kozmic Jazz II, rekaman Unique. Tadinya sy pikir ini grup nya si Kevin Ayers. Setelah ditelusuri ternyata bukan.

    Tks untuk pencerahannya mas Eddy.

    • eddy irawan Says:

      Mas Hendrik, saya juga suka Ayers Rock – grup jazz fussion progresif asal Ozi. Dh lama nyari album ‘beyond’ versi kaset, tapi belum kesampaian. Kabarnya Alpine records pernah merilis album ini.

  5. apec Says:

    Oalahhhh, Kevin Ayers kuwi anggota Soft machine toh, saya punya kaset album solo milik kevin tersebut versi Bootleg, tp baru disetel sekali saja

    • eddy irawan Says:

      Mas Apec, saya sangat senang sekali jika kaset Kevin tsb mau dibarter ke saya, apalagi kl dihibahkan….qiqiqiqiqi

      • Gatot Widayanto Says:

        Gara2 tret CS nya mas Eddy, saat ini saya nyetel album COMM nya The Tangent … Wah memang CS bikin melayang …. Track pembukanya WIKI MAN bener2 muantabzz!!!

      • eddy irawan Says:

        Saya saat ini malah lagi asyik dengan superflute-nya Supasista alias Super Sister. nyimak lagu2nya dulu sebelum nulis tret nya.

        Present from Nancy… whoaaahhhhh…sedaaabbbs

  6. Edi Apple Santoso Says:

    sips mas ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 72 other followers

%d bloggers like this: