By: Purwanto Setiadi
malam itu saya merasa tak sia-sia harus menembus hujan dan berangkat dari rumah lebih awal untuk bisa menyaksikan lagi pertunjukan ligro. kali lebih spesial karena istri saya ikut, juga anak saya yang masih kelas 3 sd. ![]()
dibandingkan kali pertama (waktu itu saya nonton penampilan mereka di program serambi jazz di goethe institut), pertunjukan di salihara lebih menarik. mereka ini trio (semacam format minimalis dari the mahavishnu orchestra), tapi kali ini mereka menggandeng sejumlah musikus lain, para peniup trombon, terompet, saksofon, dan klarinet, lalu seorang pianis dan seorang (anak muda banget, keponakan teman) violist yang permainannya bisa mengingatkan kita pada jerry goodman.
yang saya bayangkan sejak dari rumah adalah mereka akan memainkan musik sebagaimana yang mereka produksi di album dictionary 2. ini album dirilis moonjune tahun lalu (album terbaik 2012 versi saya untuk musikus/grup lokal), sebelum kemudian keluar versi lokalnya via demajors. komposisi-komposisi di album ini mengandung jejak john mclaughlin, jeff beck, terje rypdal, bahkan jimi hendrix: dengan gegap gempita merayakan kecanggihan permainan gitar, yang juga didukung rhythm section kompak dan berkelas–adi darmawan pada bas dan gusti hendy pada drum yang setting-nya merupakan perpaduan eksotis antara barat dan tradisional.
dan memang benar. konser dimulai sekitar pukul 20.30. suasana perlahan-lahan langsung bergelora begitu komposisi pembuka, bliker, dimainkan. tapi alih-alih persis seperti yang telah mereka rekam, penampilan live ini membawa komposisi-komposisi yang mereka pilih makin naik level. ini berkat permainan prima para musikus pendukung, terutama eugene bounty pada saksofon. agam hamzah, sang gitaris, memang terampil memainkan frase melodi solo yang riuh dan cepat, terkadang rumit. walau begitu, semua nomor repertoar disajikan dalam aransemen yang dinamis: ada momen hening, ada saatnya ketika volume digeber lebih dari, kalau pinjam istilah mas gatot, “setengah ampli”.
bonus buat yang menyukai kejutan, juga mereka yang gandrung penampilan teatrikal: di tengah-tengah permainan, agam dan kawan-kawan membubuhkan atraksi menghidupkan radio beramai-ramai, memaku potongan kayu, juga mengebor dan menghancurkan gitar akustik yang sejak saya duduk di bangku penonton tak pernah dimainkan sehingga saya bertanya-tanya untuk apa digeletakkan di panggung. sangat rock’n’roll….
penonton, yang memenuhi seluruh bangku yang tersedia, menghadiahkan aplaus sangat meriah begitu ligro merampungkan pertunjukannya, setelah hampir dua jam kemudian: standing ovation.
satu hal yang menjengkelkan: di salihara, untuk pertunjukan apa pun, tak boleh memotret. jadi, kesan ini bisa saja dianggap hoax karena tak ada foto-fotonya. ![]()


February 16, 2013 at 8:14 am |
band bagus, sangat layak dikonsumsi …..
February 16, 2013 at 8:30 am |
Hm..ak blm pernah dengar band ini,tp dr ulasan mas Purwanto sepertinya sangat menarik.cover albumnya ngeprog..mirip maskotnya Saga yg kayak monster capung itu.
February 16, 2013 at 10:48 am |
Saya sekilas liat covernya malahan mirip Gammaray ?
February 16, 2013 at 10:07 am |
Saya baru beli CD nya di Blok M Square setelah progring #8 kemarin …. Top!
February 27, 2013 at 1:37 pm |
fotonya ada di flicker salihara