Archive for February 15th, 2013

Semalam di Jakarta Demi Kaset

February 15, 2013

By: Eddy Irawan

 

Sore tadi sy nyampe jakarta dari manado. Krn gk dapat tiket yg ke Aceh, maka sy putuskan langsung ke blok M, nginap semalam trus besok subuh balik ke Aceh.

Begitu nyampe blok m, langsung ke blok m square: nyari kaset. Dan memang paceklik (spt istilah Ari tampur). Lanjut ke plaza blok m (bazar CTD). Di lantai 1 ketemu kang Oman (yg lapaknya udah pindah dr lantai 3), dan tanpa basa basi langsung ambil 4 kaset yg ada di lapaknya (sperti dlm foto).

Di samping kang Oman, ada lapak yg juga jual kaset. Nah disini dada sy deg2an begitu ngliat ada serie The Doors rekaman Team golden series 10 biji. Tapi begitu dibilang harga kaset tsb, dada sy makin sesak. 1juta utk 10 kaset! Langsung kabuuuurrr…

Di manado, saya menemukan dinding penyekat unik di salah satu counter furniture di Manado town square (mantos). Kayu sekat didesain dgn gambar kaset dr berbagai merek rekaman. Seandainya itu di aceh ato medan, pasti udah saya bungkus. (e)

 

IMG-20130213-01474

 

IMG-20130215-01484

 

IMG-20130215-01485

 

Galahad’s 2012 Albums

February 15, 2013

By: Hardani Kristanto

 

Mas Gatot, ijin hendak nyumbang tret, dan dikarenakan belum punya koleksi Yess baru, saya pilih dan share aja album2 yang masih berada di top list depan player saya …

Galahad ? Sejatinya saya mengenal prog band dari British ini dari Progarchieve sekitar tahun 2010; iseng2 donlod mp3 yang tersedia di blog worldwide itu : “Empires Never Last” dan “Sidewinder”. Karena tertarik kemudian saya order CDnya lewat amazon. Kalau ngga salah mas GW kasih rating 4.75 from 5.00 di progarchives untuk album Empires  Never Last tersebut. Konon album itu merupakan album pertama Galahad yang bisa menembus pasar musik rock Amerika.
Di awal tahun 2012 yang lalu, setelah penantian nan panjang, kebetulan saya mendapatkan album “baru”nya Galahad yang berjudul “Battle Scars”. Dan di  bulan January 2013 lalu saya dibuat terkejut karena band yang mengusung genre techno & heavy progressive tersebut ternyata telah merilis album yang “lebih baru”, bertajuk “Beyond Realms of Euphoria”.
Untuk album terakhir ini saya menduga2 band yang berpasukan : Dean Baker (kibor), Stu Nicholson (vocal), Roy Keyworth (gitar), Mark Spencer (bass) dan Spencer Luckman (drums) tersebut terinspirasi nomor keren nan gaharnya JP “Beyond the Realms of Death”.

IMG-20130215-00229 R

 

IMG-20130215-00231 R

 

IMG-20130215-00230 R

Sekilas terkesan band ini sangat produktif dalam merilis album karena di tahun 2012 mereka released 2 album di atas, padahal nyatanya …. band ini sangat pelit, gampang dibayangkan album sebelumnya, “Empires Never Last” di rilis tahun 2007 (5 tahun sebelumnya), dan menurut mbah wiki, album pendahulunya, “Year Zero” juga dirilis 5 tahun sebelumnya, tahun 2002 (hmmm, kayak siklus banjir Jakarta yang 5 tahunan aja …)
Dari album “Battle Scars” perkenankan saya merekomendasikan nomor2 yang layak dicoba, “Seize the day”, “Bitter n twisted” dan “Battle Scars” sendiri …
Sementara dari album terakhir mereka, nomor yang recomended adalah  “Guardian Angel” dan “And Secret Worlds”, serta reprise-nya Guardian Angel (track #7), yang akan membawa kita ke nuansa reffrainnya nomor top Marillion “Script for a jester’s tear”.
Sementar di nomor “… And Secret Worlds” selain menampilkan permainan apik si Dean pada kibor, juga cukup unik, dimana untuk lagu sepanjang lebih dari 7 menitan, lyricnya cuma 7 baris, nyaris sebuah nomor instrumentalia …
So, buat temen2 yang ingin mencoba menu barunya Galahad ini bisa mencobanya dulu di youtube, utamanya buat progger yang kangen sama Fish, karena si Stuart Nicholson ini kebetulan timbre vocalnya nyaris mirip2 si Fish dan (ex) Marillion-nya. Konon Stu juga sempet diaudisi Steve Rothery dkk paska cabutnya Fish tahun 88-an …
Secara jujur harus saya katakan bahwa 2 album anyar Galahad tersebut, ratingnya masih sedikit di bawah Empires Never Last,
Satu hal lagi, ke 2 album tersebut juga didukung produser handal Karl Groom, sebagaimana juga album2 neo-progger Arena.

Keep on prog rocking !

 

LIGRO Live @ Salihara, 9 Feb 2013

February 15, 2013

By: Purwanto Setiadi

malam itu saya merasa tak sia-sia harus menembus hujan dan berangkat dari rumah lebih awal untuk bisa menyaksikan lagi pertunjukan ligro. kali lebih spesial karena istri saya ikut, juga anak saya yang masih kelas 3 sd. :-)

LIGRO-Dictionary-2-e1327751447548

 

Ligro

dibandingkan kali pertama (waktu itu saya nonton penampilan mereka di program serambi jazz di goethe institut), pertunjukan di salihara lebih menarik. mereka ini trio (semacam format minimalis dari the mahavishnu orchestra), tapi kali ini mereka menggandeng sejumlah musikus lain, para peniup trombon, terompet, saksofon, dan klarinet, lalu seorang pianis dan seorang (anak muda banget, keponakan teman) violist yang permainannya bisa mengingatkan kita pada jerry goodman.

yang saya bayangkan sejak dari rumah adalah mereka akan memainkan musik sebagaimana yang mereka produksi di album dictionary 2. ini album dirilis moonjune tahun lalu (album terbaik 2012 versi saya untuk musikus/grup lokal), sebelum kemudian keluar versi lokalnya via demajors. komposisi-komposisi di album ini mengandung jejak john mclaughlin, jeff beck, terje rypdal, bahkan jimi hendrix: dengan gegap gempita merayakan kecanggihan permainan gitar, yang juga didukung rhythm section kompak dan berkelas–adi darmawan pada bas dan gusti hendy pada drum yang setting-nya merupakan perpaduan eksotis antara barat dan tradisional.

dan memang benar. konser dimulai sekitar pukul 20.30. suasana perlahan-lahan langsung bergelora begitu komposisi pembuka, bliker, dimainkan. tapi alih-alih persis seperti yang telah mereka rekam, penampilan live ini membawa komposisi-komposisi yang mereka pilih makin naik level. ini berkat permainan prima para musikus pendukung, terutama eugene bounty pada saksofon. agam hamzah, sang gitaris, memang terampil memainkan frase melodi solo yang riuh dan cepat, terkadang rumit. walau begitu, semua nomor repertoar disajikan dalam aransemen yang dinamis: ada momen hening, ada saatnya ketika volume digeber lebih dari, kalau pinjam istilah mas gatot, “setengah ampli”.

bonus buat yang menyukai kejutan, juga mereka yang gandrung penampilan teatrikal: di tengah-tengah permainan, agam dan kawan-kawan membubuhkan atraksi menghidupkan radio beramai-ramai, memaku potongan kayu, juga mengebor dan menghancurkan gitar akustik yang sejak saya duduk di bangku penonton tak pernah dimainkan sehingga saya bertanya-tanya untuk apa digeletakkan di panggung. sangat rock’n’roll….

penonton, yang memenuhi seluruh bangku yang tersedia, menghadiahkan aplaus sangat meriah begitu ligro merampungkan pertunjukannya, setelah hampir dua jam kemudian: standing ovation.

satu hal yang menjengkelkan: di salihara, untuk pertunjukan apa pun, tak boleh memotret. jadi, kesan ini bisa saja dianggap hoax karena tak ada foto-fotonya. :-)


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 131 other followers