Canterbury Scene 3: Gong

By: Eddy Irawan

 

Selamat malam mas G,

Jam istirahat siang tadi maunya saya isi dengan menulis review singkat tentang salah satu super grup aliran CS, yaitu Gong, namun karena gak bawa kasetnya, review terpaksa dilakukan after hours.

 

Pertama kali mendapat kaset Gong album ‘shamal’ dan sesudah nyetel sampai 3 kali, saya langsung klop dengan musik mazhab CS ini. Itu tahun 1987. Setelah itu saya mencari album-album Gong lainnya (tentu saja yang versi kaset). Maka tersusunlah 5 buah album Gong versi Yess, serta1 versi Private Collection. Album Shamal ada dua buah saya punya karena side b Shamal versi lama beda dengan versi baru. Di album Shamal lama, side b nya adalah grup kraut rock asal Jerman, Thrice Mice yang memainkan musik progresif sangat agresif. Permainan instrument tiupnya (tenor/alti/soprano saxophone, clarinet dan flute) sangat ‘sangar’. Sedangkan Shamal versi Yess baru, side b diisi album Gong lainnya, Angel’s Egg.

 

‘Demam’ Gong mendera kembali saat saya harus disekolahkan ke sebuah negri yang ternyata merupakan daerah asal si pendiri Gong, Daevid Allen. Dua tahun di negri kanguru (Perth), membuat rasa progrog saya makin mengental, terutama CS. Betapa tidak, teman2 bule di kampus, apresiasi mereka terhadap musik 70an, seperti CS, apalagi rock klasik, cukup tinggi. Masuk ke kafe-kafe, musik yang disuguhkan rata-rata bernuansa rock 70an. Led Zeppelin, The Doors, Pink Floyd, Yess juga Caravan. Sesekali terdengar The Soft Machine dan Gong. Lagu Gong yang paling sering diputar adalah ‘bambooji’ yang beat-nya sangat menghentak. Sesekali terdengar ‘lolongan’ Wolfmother yang very ozi.

 

Setiap ada waktu luang, berburu cd CS atau rock klasik adalah sangat menyenangkan, apalagi kalo hari jumat yang merupakan ‘hari pekan’ dimana semua toko dan mal buka sampai jam sembilan malam. Selain Jumat, semua toko di kota tutupnya jam enam sore (walah negeri apa ini, jakarta itu jam 6 sore baru mulai buka ‘toko’). Toko kaset JB HiFi dan 78Records cd store merupakan toko yang paling sering saya kunjungi, terutama pada summer karena selalu menyediakan rak khusus ‘cd sale 4summer’.   Harganya cukup murah, antara AU$5 sampai AU$9.9 (waktu itu AU$1=Rp.7.700). Kalo mau rajin bongkar, akan kita dapatkan grup-grup rock 70an di rak ini. Saya pernah dapat Colosseum Anthology dan Caravan masing seharga AU$7.

 

Banyak musisi rock progresif pernah bergabung di Gong, sebut saja Mike Oldfield, Bill Bruford, Mick Taylor, Steve Winwood, Didier Lockwood. Namun dari semua album Gong yang saya suka adalah ketika Allan Holdsworth bergabung, khususnya dalam album ‘Gazeuse!’ Sedangkan lagu favorit saya adalah ‘heavy tune’ dari album Expresso II. Lagu ini sangat menghentak, sangat disco beat. Bayangkan, dentuman keras drum Moerlen disambut lengkingan gitar blues dari Mick Taylor (eks The Rolling Stones), lalu disambut dentuman gitar fusion khas Allan Holdsworth. Apa jadinya jya ika lagu ini dikasi lirik dan dinyanyikan oleh Donnie Wahlberg? (e)

Lueng Bata-20130130-01434
Lueng Bata-20130130-01435
 Lueng Bata-20130130-01436
Lueng Bata-20130130-01439
Lueng Bata-20130130-01443
gong cd
About these ads

28 Responses to “Canterbury Scene 3: Gong”

  1. Eddy Irawan Says:

    Makasih Mas G udah ditampilkan tret Gong ini. Mudah2an memperkaya wawasan kita pada aliran canterbury.

  2. Hendrik Worotikan Says:

    Dari beberapa grup yg masuk kategori CS, cuma GONG yg sy miliki. Itu pun cuma 2 kaset. ‘Time is in the key’ dan yg rilisan Private Collection.
    Yg msh sy ingat ada komposisi ‘Crosscurrents’ yg dibuka dgn instrument vibraphone berpadu dgn biola dan cabikan bass gitar yg mantap. Terus dibalut permainan perkusi yg asyik.
    Kereeeenn dah !

  3. Eddy Irawan Says:

    Mas Hendrik, lagu ‘crosscurrent’ adalah salah satu lagu keren dari album downwind. ‘Taste’ Didier Lockwood pd permainan biola sangat terasa. Benoit Moerlen yg mainkan viraphone di lagu ini merupakan adik dari Piere Moerlen.

  4. apec Says:

    Senasib mas Eddy, saya pertama kali dapat Gong, ya album Shamal kuwi, hanya cover fotonya agak jelek, lalu akhirnya dapat yg rilisan baru seperti diatas, hanya saya ndak pernah memperhatikan kalo ternyata side B-nya berbeda..jadi PR saya adalah, setiba dari kerja nanti malam, kudu ngecek side B album Shamal versi Yess.

  5. hippienov Says:

    Aku hanya punya kaset yess Gong-gazeuse! Itupun susah banget nyarinya.musiknya agak antik di kupingku..blm bener2 prog nich kupingku,he3

  6. Eddy Irawan Says:

    Mas Apec, Kalo dpt Shamal versi Yess lama alangkah berbahagianya krn musik Thrice Mice sangat4x unik.

  7. Eddy Irawan Says:

    Mas Hippie, coba setel dulu lagu pertama album Gazeuse, yaitu ‘Expresso’, pasti langsung bergetaaarrr.rrrr..

  8. Edi Apple Santoso Says:

    knp mas Eddy kok ada gong yang tanpa daevid allen, padahal beliau pendiri gong ….

    • Eddy Irawan Says:

      Mas Edi, pd saat Gong merilis trilogi (angel’s egg, flying teapot, you), steve hillage gabung di gong, namun di pertengahan Daevid Allen keluar. Maka hillage mengambil alih ‘pimpinan’. Pada album2 berikutnya, moerlen masuk dan diminta utk meneruskan gong, yg kemudian berganti nama mnjadi ‘Piere Moerlen’s Gong’. Allen yg keluar dan sempat bikin beberapa grup baru. Selanjutnya Allen menghidupkan kembali gong dgn grup yg diberi nama ‘Planet Gong’

  9. herman Says:

    saya cuma punya pierre morleen down wind….asik perkusinya…

  10. Rizki Says:

    Meskipun bukan penggemar berat, saya dulu memiliki 3 album Gong “Downwind”, “Second Wind” dan “Time is the key”. Sayang album yang terakhir sudah hilang dan saya tidak ingat lagu-lagunya. Kalau “Downwind” buat saya menarik selain lagunya juga karena cover albumnya. Bagi penggemar drums solo, di album “Second WInd”, terdapat 3 lagu yang beriskan duet drum solo dari Pierre Moerlen (dispeaker sisi kanan) dengan drummer jazz asal Argentina, Alex Sanguinetti (dispeaker sisi kiri).
    Salam,
    Rizki

    • Rizki Says:

      Oya, salah satu musisi yang mendukung “Down wind” yaitu Steve Winwood mengingatkan saya pada super group GO yang didirikan bersama perkusionist asal Jepang, Stomu Yamashta dan didukung musisi2 top spt gitaris Al Dimeola dan Pat Thrall, drummer Michael Shrieve (Santana) dan keyboardist Klaus Schulze. Lagu lagu band ini sangat enak didengar seperti Crossing The Line, Beauty, dan Mysteries of Love.

  11. yuddi Says:

    mas Eddy, thanks atas tulisan2 ttg Canterbury Scene, mohon dilanjutkan ke Soft Machine lalu Matching Mole dst dst-

    Dikalangan penggemar musik rock org2 yg faham atau sok faham Canterbry Scene biasanya merasa derajatnya diatas penggemar symphonic base prog rock/ art rock he…he …he

    • Gatot Widayanto Says:

      Mas Yuddi,

      Mosok? CS rasanya biasa aja, enak gitu …. Dinikmati sambil kerjain lainnya …

    • Eddy Irawan Says:

      Saya kok malah merasa fans hard rock ‘harder n louder’ daripada fans CS. Wkwkwkwkw

    • Eddy Irawan Says:

      Mas yuddi,
      Kl diijinkan, canterbury scene akan dilanjutkan. Mhn kawan2 yg punya kaset, ph, cd grup2 CS untuk dpt di-share juga, terutama Mas Rizki.

      • Rizki Says:

        Wah pengetahuan sy tentang CS terbatas sekali – mungkin hanya tahu Allan Holdsworth dan Bruford saja karena memang mengikuti sebagian karir mereka.

        Mas G, Mas Yuddi, dan Mas Eddy pasti lbh paham soal ini :-) . Setuju untuk dilanjutkan ….

      • Gatot Widayanto Says:

        Setuju …

        Lanjoooooooot ……!!!!!

  12. Egi Says:

    mas ,pernah ngebahas Indo-Prog/Raga Rock ga ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 69 other followers

%d bloggers like this: