Liburan kemarin terkesima dengan TIKA and The Disidents “The Headless Songstress”. Sebenernya dah lama banget punya CD ini tapi males banget nyetel. Pernah nyetel sekali, bagus di track pembuka yang acapela. Trus abis itu terkesima sama prog2 lainnya yang banyak album baru saat itu … Jadi terbengkalai …apalagi CD player saya sempat batuk saat itu.
Gara2 CD Player NAD sudah sembuh maka muter CD ini sejak kemarin. Musiknya keren. Bukan rock, bukan pop, bukan jazz …pasti prog .. ha ha ha … Tapi memang keren banget musiknya. Yang juga keren adalah sonic production nya yang top notch. Vokal Tika juga sebening Paula Cole nya Peter Gabriel. Rasanya keren kalau Tika ini satu panggung sama Peter Gabriel. Cengkok lagu berbahasa Inggrisnya juga bagus banget.
Gak tahu apa ada album baru lagi ..rasanya yang ini sudah 4 tahun lalu saat Tika performed di Prog Nite .
Track pembuka Tantang Tirani? memang sangat menarik karena merupakan acapela yang cantik sengan perpaduan olah vokal dan suara altar yang sungguh nyaman di kuping plus melodi yang miris. Tak hanya itu, liriknya sangat penuh makna. Tengoklah ini: “Gading yang tanpa retak. Tak mampu kulindungi” yang menyemburkan makna ketak-kuasaan menahan kebobrokan yang terjadi. Lagu lainnya juga menarik terutama karena musiknya tak mengenal genre seperti Pol Pot, 20 Hours. Sungguh, album ini merupakan suguhan yang menawan.


CD inlay

Daftar lagu


Artikel TEMPO, Januari 2010:
Di Antara Menjaga Kedai dan Nina Simone
***
Muncul lagi dengan band tetap, setelah album debutnya empat tahun
lalu, Tika kembali ke minat lamanya –isu-isu gender, seksualitas,
kultur pop, bahkan politik. Tahun yang melampaui ekspektasinya.
***
Di kedai kopinya yang –kebetulan –dinamai Kedai, sebuah bangunan
besar bercat kelabu, merah muda, dan merah di tepi jalan tak jauh dari
Kemang, Jakarta Selatan, Tika duduk rileks di salah satu sudut.
Suasana di ruang itu hangat dan akrab, seperti di rumah siapa saja
yang datang sore itu atau di hari-hari lain; beberapa orang duduk
mengobrol atau menghadapi laptop di sudut sini dan sudut sana. “Salah
satu pekerjaan saya: menjaga tempat ini,” kata Tika.
Salah satu. Sebab ada profesi lain yang dia tekuni, yang tahun ini
memberinya “begitu banyak berkah”: sebagai penyanyi-penulis lagu.
Pilihan karier inilah yang bagi perempuan kelahiran Jakarta 29 tahun
lalu itu tak akan pernah bisa ditinggalkan. Kata-kata berikut dia
ucapkan dengan tekanan yang seperti memberi vibrasi: “Saya tidak bisa
hidup tanpa musik.”
Senang menyanyi sejak kecil, Tika (nama panjangnya Kartika Jahja)
memutuskan untuk serius bermusik pada 1999, ketika baru masuk kuliah
di Art Institute of Seattle, Amerika Serikat. Kini, dengan pengalaman
musikal lintas genre, boleh dibilang dia punya bekal lengkap. “Dia
bisa mengubah-ubah gaya bernyanyinya, sesuai lagu,” kata pengamat
musik Denny Sakrie.
Sebagai penyanyi, Tika mengidolakan Nina Simone –walau kemudian dia
juga menyimak antara lain Joni Mitchell, Tori Amos, Fiona Apple. Dia
mengaku tahu mau menjadi penyanyi seperti apa sejak mendengar Simone.
Pada penyanyi dan aktivis hak-hak sipil dari Amerika itu, dia melihat
ada sesuatu yang memberdayakan.
Pada 2005, dia merilis album berjudul Frozen Love Songs, sebuah
ekspresi kegalauan pribadinya. Tapi, bersama The Dissidents, band
tetapnya sejak 2006, dia bukan saja melampaui debutnya itu. Lebih
jauh, dia bisa mengekspresikan diri seperti Simone, juga Suzanne Vega,
yang mempengaruhinya sebagai penulis lirik.
Dengan fase baru itu, dalam lanskap musik Indonesia yang kebanyakan
pelakunya cenderung “main-aman”, dia memang mudah menarik perhatian.
Ini sedikit berbeda dari suasana kafenya, juga penampilannya saat
menungguinya. Seorang perempuan, di antara tiga lelaki –Susan
Agiwitanto (bas), Okky Rahman Oktavian (drum), dan Iga Massardi
(gitar) –yang mendukungnya sebagai satu band, dengan energi dan bekal
warna-warni musik yang meluap, ya, Anda bisa membayangkan apa saja
sebagai hasilnya….
Melalui The Headless Songstress, album dengan 12 lagu yang dirilis
pada Juli lalu, Tika seperti melakukan lompatan: dia menjelajahi
bermacam isu sosial, dengan kendaraan jazz, akapela, balada, tango,
waltz, juga blues, tanpa urgensi untuk berteriak, menuding, atau
mengutuk. “Sebetulnya hal-hal ini sudah menjadi perhatian saya sejak
sekolah,” katanya. “Kalau saya mengabaikannya di album pertama, waktu
itu saya memang sedang mengalami krisis kehidupan pribadi.” Dia
menyebut apa yang dilakukannya kali ini lebih sebagai olok-olok.
Dengarlah, misalnya, Red Red Cabaret, yang merupakan sindiran terhadap
gaya hidup selebritas. Dia menyanyikan: All over the news today, my
scandalous fabulous pout/Saying “I swear this is his child”, a little
meltdown caught on cam/Add a tragic childhood story, now they love me
even more/Ladies and Gentlemen that’s my dress to success. Dia memilih
menggunakan “saya” (“me”). Menurut dia, ini cara untuk membuat kritik
bisa terasa lebih simpatik.
Lirik memang kekuatan yang penting dalam album Tika and the
Dissidents. Tika sendirilah yang menuliskannya. “Saya hanya seperlima
dari seluruh proses album ini, tapi untuk lirik, saya yang bertanggung
jawab,” katanya. Di studio, ada dua orang yang membantu sebagai pihak
kelima, produser, yakni Iman Fattah dan Nikita Dompas.
Sebagai generasi yang melalui masa remaja pada 1998, dengan bacaan
luas (“Bukan bukunya yang penting,” katanya, “tapi bagaimana semua itu
menimbulkan consciousness, membuka kesadaran.”), Tika menaruh minat
pada isu-isu gender, seksualitas, kultur pop, bahkan buruh. Itulah
yang menyusup ke dalam lirik-liriknya. Dan dia mampu menuliskannya
dengan keterampilan sebagaimana yang dia kuasai dalam membuat
barang-barang kerajinan, atau merancang desain grafis –profesinya
yang lain lagi. Hasilnya bukanlah sesuatu yang klise, sekadar gaduh,
apalagi pamflet.
Coba simak kesedihan dalam Waltz Muram: Kudilanda badai rindu oh
logika lindungi aku/Beri aku amnesia ku tak mau ingat dia. Atau
simbolisasi yang mengagetkan pada Pol Pot, kritik terhadap peran
televisi dalam apa yang dia sebut “pembantaian intelektual”: Pol Pot
sighs, Pol pot says, you’ll be loved and cherished after all/Polpot
nods, polpot says, the villain is the hero at the click of your
finger. “Waktu itu saya menonton tayangan di TV, yang menjejerkan
Soeharto di antara para pahlawan,” Tika bercerita. “Saya merasa,
‘Gila, kenapa bisa jadi pahlawan?’” Dia merasa seperti menyaksikan
pembantaian intelektual. “Saya butuh analogi untuk mewakili fenomena
ini. Hitler sudah terlalu klise. Muncul nama Pol Pot.”
Atau juga Mayday. Inilah lagu protes yang merayakan keberadaan buruh,
kelompok yang menurut Tika jauh lebih banyak warganya ketimbang umat
agama yang mana pun. Lagu yang hanya perlu 10 menit proses penulisan
ini sangat anthemic, dan menyemangati–wajar karenanya jika banyak
dari penggemar Tika yang pertama kali mengenalnya lewat lagu ini;
aliansi jurnalis dan penulis di Detroit, Amerika, bahkan sampai
meminta izin untuk menggunakannya dalam satu aksi protes.
Dengan penataan musik yang rapi, malah ada yang menganggap terlalu
rapi, pencapaian The Headless Songstress sebenarnya mengagetkan Tika
dan kawan-kawannya. Mereka tak menyangka, misalnya, album yang dikemas
dengan buku notes tebal berdesain kolase aneka gambar dan dilengkapi
kantung berbahan kain ini bisa terjual hingga 5.000 kopi –jumlah yang
besar untuk pasar indie. “Apresiasinya tak terduga,” kata Tika.
“Demografi pendengarnya luas, tidak hanya komunitas indie, usia
pendengarnya juga dari yang muda sampai yang berumur.”
Toh Tika merasa belum menemukan audiens yang benar-benar pas. Jumlah
bukanlah soal baginya. Waktu, barangkali, yang akan menuntunnya ke
sana. Sementara itu, yang jelas sudah terjadi, dia kerap tampil dalam
kegiatan-kegiatan, dalam istilahnya, “aktivisme”, dan dia mengaku
cocok. Seperti dulu Simone melakukannya.