Archive for October, 2012

Nggeblak bersama Fly On a Windshield – Broadway Melody of 1974

October 31, 2012

Ini lagu memang edhan bikin suasana hati melayang entah kemana. Ini pun gara2 beberapa hari terakhir ini sering pasang Genesis Revisited II (Steve Hackett, 2012). Sekurangnya sekarang saya sudah mendengarkan beberapa versi dari lagu ini dan semuanya bikin ngguweblak!

  1. Versi asli dari album Genesis terbaik sepanjang masa ‘The Lamb Lies Down on Broadway”
  2. Versi live dari boxset Genesis Archive 1 – gila Gabriel nyanyinya penuh penghayatan. Versi live ini memang sangat hidup sekali.
  3. Versi akustik ala Nick d’Virgilio dalam “Rewiring Genesis”. Wah edan ini ….vokal Nick rasanya pas banget membawakan lagu2 era Gabriel meskipun karakter vokalnya beda dengan Gabriel dan hebatnya Nick tak berusaha meniru teknik Gabriel menyanyi.
  4. Versi Steve Hackett “Genesis Revisited 2″. Versi gitaran Hackett bener2 gahar banget! Justru gitarannya ini yang membuat saya sering mengulang lagu ini. Bener2 muantab jaya!

Segmen mana paling nunjek?

Sebenernya dari intro “Something is solid forming in the air …” dst nya aja sudah nunjek …tapi yang super duper ultimate ultra dynamik nunjek itu justru pas vokal masuk setelah interlude panjang kemudian vokal yang menandakan masuknya Broadway Melody of 1974:

Echoes of the Broadway Everglades
With her mythical Madonna still walking in her shades….

WOW!!!! ngguweblak pol jek!

Salam,

G

 

Niacin

October 30, 2012

By: Rizki Hasan

Berbagai aktivitas kantor belakangan ini telah membuat saya super sibuk sehingga tidak sempat untuk mendengarkan musik – apalagi menulis artikel yang saya janjikan pada blog ini yaitu membahas band NIACIN.

Alhamdullilah liburan Idul Adha kemarin ini memberikan waktu luang bagi saya untuk mengejar berbagai “ketinggalan”, dan akhirnya saya dapat menyelesaikan artikel yang dijanjikan tersebut.

Tulisan ini saya bagi dalam dua bagian, pertama adalah pembahasan mengenai beberapa faktor (diluar musiknya) yang membuat NIACIN menarik di mata saya.  Kedua adalah pembahasan mengenai musik band tersebut, termasuk rekaman yang dihasilkan.

BAGIAN I: THE RIGHT STUFF

Meskipun musik merupakan penentu utama dalam menjadikan suatu band disukai dan menjadi sukses, saya juga memperhatikan hal-hal lain seperti siapa musisi yang bermain, formasi band, instrumen apa saja yang dimainkan, penampilan, dan aspek pemasaran. Semua ini saya definisikan sebagai Right Stuff, dan setiap orang mempunyai definisi yang berbeda satu sama lain. Untuk saya, Right Stuff dari NIACIN minimal ada tiga yaitu The Return of Hammond, Power Trio, dan World Class Musicians.

The Return of Hammond

Yang menjadikan NIACIN berbeda dengan band lainnya adalah karena mungkin band ini adalah satu-satunya band era tahun 1990an yang khusus dibentuk untuk membangkitkan kembali penggunaan instrumen organ merek Hammond terutama jenis B3.

Diciptakan oleh Leslie Hammond di tahun 1934, organ Hammond telah menjadi salah satu ciri khas dari musik progressive rock tahun 1960 – 1970. Hampir seluruh pemain keyboard top jenis musik rock pada era tersebut menggunakan instrument ini: Jon Lord dan Don Airey (Deep Purple); Keith Emerson (NICE dan ELP); Tony Kaye, Patrick Moraz, Ken Hensley (Uriah Heep), Steve Walsh (Kansas), Rick Wakeman (YES), Richard Wright (Pink Floyd); Tony Banks (Genesis); Vincent Crane (Atomic Rooster).  Tidak ketinggalan musisi jenis lainnya juga aktif menggunakannya seperti Chester Thompson (Santana), Steve Winwood (Blind Faith dan Traffic), dan Brian Auger (Brian Auger’s Oblivion Express).

Sejalan dengan perkembangan musik dan technology serta perubahan zaman, penggunaan Hammond cenderung menurun di era 1980 – 1990, dan bahkan perusahaan yang memproduksi instrument tersebut akhirnya mengalami kebangkrutan.  Beruntung saja ditahun 1991, perusahaan asal Jepang, Suzuki Corporation membeli kepemilikan perusahaan tersebut dan akhirnya memproduksi serta memasarkannya kembali organ Hammond, termasuk model baru dengan teknologi terkini.

There is definitely something about the sound and also the way it is played.  Itulah kesan dan hal yang saya dapat dari instrumen ini.  Musik yang didukung dengan Hammond, menurut saya akan menjadi lebih asyik dan progressive. Sebagai contoh, saya teringat begitu enaknya lagu Heat Goes On dari band Asia ketika pemain keyboard Geoff Downes memasukan unsur organ Hammond pada permainan solonya.

Dengan konsep Hammond sebagai motor musiknya, sudah dipastikan NIACIN akan menjadi lebih menarik dan berbeda dengan band-band lainnya.

 

Power Trio

Konsep bermain dengan tiga orang atau yang umum disebut Power Trio selalu menarik buat saya, dan NIACIN merupakan band yang menggunakan konsep tersebut seperti juga band-band lain yang saya kagumi seperti UK, Emerson Lake and Palmer (ELP), Genesis, Police, Rush, Triumph, Beck Bogert Appice, Cream, The Jimi Hendrix Experience, Primus serta masih banyak lagi.

Beberapa hal yang membuat Power Trio menarik adalah:

  • Musik yang dihasilkan oleh tiga orang ternyata tidak kalah dengan musik yang dihasilkan band empat orang atau lebih, bahkan cenderung memberikan kesempatan yang lebih besar kepada musisinya untuk berimprovisasi dan berkreasi – tidak dibatasi dengan kehadiran musisi  lain diluar formasi tersebut.
  • Dibandingkan dengan Power Duo (formasi band dengan dua orang), musiknya jauh terasa lebih lengkap.
  • Segala kekurangan instrumen umumnya dapat diisi dengan kelebihan para musisinya  bermain instrument lain secara rangkap.  Sebagai contoh, Geddy Lee dari super band Rush, selain bass, dia bernyanyi dan memainkan keyboard.  Atau Eddie Jobson yang bermain keyboard dan untuk permainan solo banyak menggunakan biola sebagai pengganti gitar.
  • Pada pertunjukan langsung lebih enak dipandang karena effisien dan tidak memenuhi panggung.

Berdasarkan instrument yang digunakan, secara umum terdapat tiga bentuk formasi Power Trio yaitu: (a) gitar, bass dan drums  (b) gitar, keyboards; dan drums dan (c) bass, keyboards, and drums.

NIACIN sendiri menggunakan bentuk yang terakhir – bass, keyboard dan drums, mirip dengan ELP dan UK.  Perbedaannya adalah di NIACIN, musik yang dimainkan hampir seluruhnya adalah instrumental dan terdengar lebih banyak permainan solo bass.

World Class Musicians

NIACIN terdiri dari tiga musisi berpengalaman kelas dunia yaitu John Novello (Hammond B3 dan keyboard), Billy Sheehan (bass) dan Dennis Chamber (drum).

Dibandingkan dengan kedua musisi yang lain, nama John Novello yang pada awalnya adalah pemain keyboard aliran Jazz dan R&B tidak terlalu dikenal sehingga pembahasan mengenai dirinya menjadi terbatas. Yang pasti sejak NIACIN, John mulai dikenal sebagai salah satu pemain keyboard yang diperhitungkan di dunia musik secara lebih luas dan merupakan salah satu dari sedikit spesialis Hammond B3. Selain NIACIN, John sudah membuat beberapa rekaman solo, sayangnya belum ada satupun yang saya miliki.

 

Billy Sheehan sebagai salah satu bassist favorit terutama di dunia musik rock dan melalui permainannya di band terkenal Mr. Big dan The David Lee Roth Band.   Billy juga mempunyai tiga solo album dan pernah terlibat dalam berbagai proyek musik antara lain Explorers Club “Age of Impact”, Bozzio Sheehan “Nine Short Films”, Munetaka Higuchi (drummer band Loudness) with Dream Castle “Free World”, dan BX3 (proyek musik yang menampilkan Billy bersama dua bassist kelas dunia lainnya, Jeff Berlin dan Stu Hamm).

Dengan Mr. Big, Billy Sheehan sudah beberapa kali datang ke Indonesia, termasuk mengadakan klinik bass.  Bulan November tahun ini rencananya Billy Sheehan akan datang kembali ke Jakarta bermain dalam proyek musik bersama drummer Mike Portnoy (ex-Dream Theater), keyboard Derek Sherenian (ex Dream Theater) dan Tony MacAlpine (solo artist) – Semoga para pembaca dapat menyaksikan penampilan band ini yang pasti luar biasa.

Meskipun hanya bermain dengan bass empat senar, permainan Billy penuh improvisasi dan tidak kalah dengan pemain jumlah senar yang lebih banyak.  Permainan Billy enak didengar dan seringkali mirip dengan permainan gitar.

Gambar 1: Solo album Billy Sheehan dan beberapa album yang pernah didukungnya

Meskipun tidak mempunyai pendidikan drum secara formal, drummer Dennis Chamber berhasil menjadi salah satu drummer yang dikagumi di industri musik dan masuk dalam 25 Legendary Talent Who Changed Drumming versi majalah Modern Drummer (Drummer lain yang masuk dalam daftar ini diantaranya Neil Peart, Billy Cobham, Tony Williams, John Bonham, Dave Weckl, Max Roach, Buddy Rich, Steve Smith, Terry Bozzio dan Vinnie Colauita – sebagian sudah pernah saya bahas di artikel sebelumnya di blog ini “A Review of Drummers”).

Dennis Chamber terutama dikenal sebagai drummer dari gitaris legendaris John Scofiled, Santana dan John McLaughlin.

Beberapa hal yang menjadi kelebihan Dennis adalah kemampuannya untuk bermain secara cepat dan terlihat tidak menggunakan gerakan yang banyak serta memiliki groove yang enak dan cenderung funky. Dennis juga ahli dalam memainkan double bass pedal.

Seperti Billy, Dennis juga sudah beberapa kali ke Indonesia, diantaranya dengan Santana dan John Scofield pada acara Java Jazz Festival serta klinik drum yang disponsori oleh perusahaan cymbal, Zildjian.

Sebagai orang yang mengagumi permainan Dennis, saya masih jauh dari istilah penggemar berat karena saya baru memiliki beberapa koleksi rekamannya (diluar NIACIN) yaitu Santana “All That I Am”, The Breckers Brother “Live”, Alain Caron le band “Rhytm’n Jazz”, Tom Coster “From the Street”.

Gambar 2: Beberapa rekaman yang pernah didukung Dennis Chamber

BAGIAN 2: THE MUSIC AND RECORDINGS

Musik yang dimainkan oleh NIACIN adalah musik instrumental dengan kategori jazz-rock, progressive rock dan blues-rock.  Rekaman yang sudah dihasilkan adalah “Niacin” (1996), “High Bias” (1998), “Deep” (2000), “Time Crunch” (2001) dan “Organik” (2005) serta satu video pertunjukan langsung mereka di restoran Blue Note Tokyo yang diberi judul “Blood, Sweat & Beers” (1997).  Saya memiliki dua album pertama dan video pertunjukan tersebut, dan selebihnya saya mendengar/melihat rekaman band ini melalui Internet/YouTube.

Gambar 3: Laser Disc dan 2 CD album pertama dan kedua dari NIACIN

Selain memainkan lagu karangan sendiri, dalam setiap album NIACIN selalu menghadirkan minimal satu lagu milik orang lain (cover song).  NIACIN juga beberapa kali menghadirkan bintang tamu diantaranya:

  • Keyboardist Chick Corea (Solo artist dan Return To Forever)
  • Drummer Pat Torpey (Mr Big)
  • Drummer Kenwood Dernard (Various artists)
  • Drummer Rayford Griffin (Jean Luc Ponty dan Stanley Clarke Band).
  • Gitaris Steve Lukather (Toto)
  • Vokalis Glenn Hughes (Solo artist dan Deep Purple)
  • Perkusionist Alex Acuna (Weather Report dan various artists)

Secara keseluruhan lagu-lagu yang dimainkan disemua album NIACIN enak didengar – seperti jam session yang penuh dengan permainan solo dari masing-masing musisi. Permainan ketiga ini juga benar-benar kompak dan sangat direkomendasikan bagi para penggemar musik instrumental serta para pemain musik.

Karena jumlahnya yang banyak, saya mencoba menyusun kompilasi sepuluh lagu terbaik ditambah sepuluh lagu lain sebagai bonus songs:

  1. No Man’s Land – Lagu pembuka dari album pertama Self Titled (S/T).
  2. One Less Worry – Juga dari album pertama dimana dalam video pertunjukannya, Dennis Chamber menampilkan kebolehannya bersolo drum.
  3. I Miss You (Like I Miss The Sun) – lagu slow dari album pertama yang mirip sekali dengan lagu “Angela” karangan Bob James yang menjadi musik film seri TV “Taxi”.
  4. Daddy Long Leg – Lagu bernada aggressive dari album “Time Crunch”.
  5. Soul Diversion  –  Lagu dari album “High Bias” yang dimainkan John, Billy dan drummer tamu, Rayford Griffin (gaya permainannya mirip dengan Dennis).
  6. Montuno  - Lagu bernada latin dari album “High Bias” dan dibantu oleh Alex Acuna pada perkusi.
  7. Best Laid Plans  – Dari album ketiga “Deep”.
  8. Hang Me Upside Down- Karangan Chick Corea dan dimainkan di album “High Bias” secara kwartet bersama Chick Corea pada fender rhodes dan drummer tamu, Kenwood Dernard. Berdurasi paling lama yaitu sebelas menit dan musiknya benar-benar style Chick Corea.
  9. King KongCover song di album “Organik” karangan Frank Zappa (dari album “Uncle Meat”) yang dibawah secara lebih jazzy.
  10. Super Grande – Dari album “Organik”, beberapa bagian dari lagu ini dibawakan hampir seperti lagu latin.

Bonus Songs:

“NIACIN”:

  1. Do A Little Work
  2. Klanghorn

“High Bias”

  1. Bird Land– cover song Joe Zawinul, dibantu oleh perkusi Alex Acuna ditambah vocal sampling dari band vokal Take 6
  2. Revenge
  3. Cool To Be Touch

“Deep”

  1. Bootleg Jeans
  2. Things Ain’t Like They Used To Be – Satu-satunya lagu vokal menampilkan vokal dari Glenn Hughes serta solo gitar blues dari Steve Lukather
  3. Mean Street – cover song dari Van Halen.

“Time Crunch”:

  1. Red – Cover song karangan Robert Fripp (dari album King Crimson berjudul sama).

“Organik”

  1. Repeat Offender

PENUTUP

Upaya NIACIN membangkitkan kembali penggunaan instrumen Hammond, yang sangat indentik dengan musik progressive, pada musik modern, merupakan sesuatu yang pantas untuk dikagumi – salut buat mereka. NIACIN membuat saya semakin mantap mempercayai bahwa konsep bermain trio sebenarnya cukup untuk membentuk band dan menghasilkan musik yang bagus.  Saya juga semakin mengagumi ketiga musisi band tersebut dan berupaya untuk mengumpulkan rekaman lain yang dihasilkan oleh mereka.

Pulkam Dulu …

October 26, 2012

Teman2ku yang baik ….
Saya mau pulkam ke Madiun dulu ya, ….soalnya ada Reuni Akbar SMA 1 Madiun tgl 26-28 Oktober ini. Saya didaulat jadi pembawa acara dan pembicara di Education Day besok pagi. Nitip blognya diramekan dan tetep digemblungkan ya ….he he he ….

Setiap pulang ke Madiun dada saya berdegup kencang karena selalu menderita kepuasan. Seperti bulan Juli lalu, kali ini saya juga bawa sepeda. Rencananya, begitu tiba di Solo, saya akan gowes muter2 Solo, terus sore hari jam 5 saya naik kereta menuju Madiun.

Selamat Iedul Adha 1433H
Semoga semangat qurban nabiullah Ibrahim membuat kita menjadi insan yg semakin meningkat iman dan taqwanya. Aamiin.

The Lam Lies Down on Mosque ….these days …..

Salam prog!

Rhythm of Hope – Jean Luc Ponty

October 24, 2012

Sejak kemarin pagi hingga nanti sore saya berada di Hotel Santika BSD City melatih Agen Perubahan untuk membangun budaya organisasi – gayane rek! Bukan pelatihannya yang saya mau cerita, tapi lagunya …. Setiap pelatihan atau workshop atau seminar apapun dimana saya terlibat, saya selalu menegakkan aturan main yang ketat dalam hal disiplin waktu. Untuk itu saya kenakan denda Rp. 10 ribu di setiap keterlambatan masuk kelas pelatihan. Caranya, saya memutar musik dengan volume super duper kenceng dimana bila musik sudah berhenti, peserta harus sudah berada di dalam ruangan. Biasanya saya memilih musik yang durasinya antara 3-4 menit. Jadi, misalnya harus kembali ke kelas pukul 10:15, maka pukul 10:11 saya memutar musik berdurasi 4 menit. Kali ini yang saya pake musik jazz-rock dari Jean Luc Ponty “Rhythm of Hope” yang komposisinya dinamis energik sehingga orang bisa bersemangat memasuki ruangan. Udah gitu, ini lagu memang keren karena ada solo violin dan solo bass gitar dimana bener2 jadi melodi bassnya .. Opo ora gemblunk? Pokoke selama saya ada, prog rock atau rock harus mengumandang …. JRENG!!!!

Kadang saya juga pake “Log Train Running” nya Doobie Brothers atau “Owner of A Lonely Heart” Yes atau “On The Move” Rogier van Otterloo. Trus saya penugasan diskusi kelompok saya pasang Firth of Fifth, Haierless Heart, Eye In The Sky (APP), Just a Job To Do (Genesis) …. Wis ..pokoke ngerock utawa mrogrock-lah …..JRENG! lagi …

Salam,

G

Makan Rujak di Toko Yess Bandung

October 21, 2012

By: Herman

 

Yth. Mas G,
Saya punya kenangan tahun 1984-an hari itu saya numpang kakak yang sedang ke Bandung….waktu itu baru beberapa hari tinggal di Jakarta, masih dalam rangka mencari pekerjaan…tapi ke Bandung sengaja ingin beli kaset di toko pusatnya Yess. Baru beberapa saat saya sampai di toko, yang empunya toko sedang beli rujak buah  dari tukang rujak
dorongan….dan saya sebagai customer yang baru kenal pada saat itu ditawari …dan tawaran baik itu saya terima…dalam hati saya nanti saya bayar sendiri…maklum belum punya pekerjaan, uang saku terbatas….
Jadilah kita makan sama2 rujak , sambil ngobrol sana – sini dan  minta dicobain beberapa kaset…Toko Yess seingat saya kasetnya tidak sebanyak toko kaset yang menjual berbagai Label…di situ hanya ada kaset Yess saja…di penutup saya beli satu kaset  album  Genesis “Trespass”…beli kaset dapet rujak.!!… saya nggak tau mahal kasetnya ataurujaknya… hahaha… yaah mungkin memang hari baik saya…sampai di rumah saya tuliskan di dalam sleeve kaset : Yess Record, Jalan Veteran 107 Bandung, 23 Maret 1984. Itu satu-satunya kaset saya yang dibeli di toko Yess, Bandung. Meskipun saya sudah lupa dengan siapa waktu beli kaset itu saya ketemu,  melalui Mas G saya ingin disampaikan salam hangat saya kepada Pak Ian Arliandy,  keramah tamahan sambil makan rujak waktu di toko Yess itu menjadi kenangan tak terlupakan…. dan alhamdulillah melalui Mas G bisa tersambung silaturahmi in, dan ma’af fotonya saya copy…
Terima kasih Mas G.

Perjalanan Musikal Nuansamatik Herman

October 20, 2012

Pengantar: Ternyata tret “Bagaimana Anda Pertama Kali Kenal Prog?” telah menyinggung perasaan banyak orang, pembaca blog gemblunk ini. Salah satunya yang tersinggung adalh mas Herman, sampai akhirnya menulis perjalanan nuansamatiknya terkait dengan musik rock, utamanya progrock. Untuk itu, adabaiknya saya buka saja tret baru berseri dengan tajuk “Perjalanan Musikal Nuansamatik …” tergantung siapa yang mau bercurhat-ria. Kali ini saya mulai dengan mas Herman. Silakan temen2 lainnya kalau ingin membuat kisah perjalanan nuansamatik terkait musik rock. Saya tunggu biar blog ini makin sumringah, mekar bersemu dan selalu ranum tak pernah layu …Opo kuwi? Ha ha ha ha …  Jangan malu mengungkapkan curhat ya …. Malu bercurhat sesat di hati …

——-

Yth. Mas G yang baik,
Ini sebagai pengantar yang bisa dimasukkan ke komen atau nggak juga ngaak apa2: Begitu baca judul pertanyaan Bagaimana Anda Pertama Kali Kenal Prog?, Saya mulai resah ingin langsung komen tapi saya berpikir itu pasti hanya sepenggal dari pengalaman saya. Saya ingin sedikit sertakan suasana kehidupan pertemanan waktu remaja seperti ngumpul di kamar teman, yang mungkin dialami pula oleh sebagian besar kita. Karena komen saya agak panjang maka saya e-mail dulu ke Mas G, dan saya serahkan pada Mas G untuk bagaimana baiknya….

Sambil mengumpulkan ingatan masa lau yang ” nuansamatik” saya terus ikuti komen2 yang masuk yang asyik2 ….dan mak serrr waktu baca Mas G menulis :…tadi malam dan tiga malam lalu masang Jethro Tull Thick As A Brick….walah walah…lha kok bisa nyambung puolll…. untuk jelasnya sbb :
Komen saya sbb :

Saya mulai kenal music rock lewat siaran radio amatir di Kediri, waktu itu tahun 70-an… lupa persisnya dan saya masih SMA dengan semua kebutuhan masih full dari ortu..… waktu itu sedang hangat2nya Deep Purple dan Led Zep dengan Who Lotta Love yang waktu itu menjadi bahan pembicaraan anak2 remaja karena music dan vokalnya yang lebih
“underground”, istilah yang dipakai anak remaja waktu itu..… saya sendiri baru punya satu kaset Santana ( ada lagu Guajira, No One to depend on dll) side A dan Traffic di side B-nya dan ada juga kaset yang dibeli ortu Koes Plus, Panbers, dan ada kaset2 instrumental lagu standar ….

Setelah itu saya dibikin terkaget2 ketika pindah ke Jombang ( ortu pindah kantor) dan kenal seorang teman baru namanya Sambodja…..masuk kamar teman baru tersebut dengan dinding dipenuhi poster Pop Foto dan Muziek Expres serta koleksi kaset lebih dari lima puluh suatu jumlah yang cukup banyak waktu itu ….di situ saya mulai kenal lagu lagu yang belum pernah saya dengar lewat radio …..ada Baba O’Riley –nya The Who dengan intro yang “futuristic” … langsung saya dibuat mabuk oleh musiknya yang menurut saya “megah”……, apalagi ketika diputerin Jethro Tull dari kaset rekaman Peony dimana muka A hanya berisi 1 lagu Thick As A Brick, wuuiihh busyeet … saya taunya 1 muka kaset paling tidak 6 sd 7 lagu, yang ini Cuma satu lagu!!….gileee…… setelah distel Thick As A Brick…..alamaaak ampun ampun kok ada lagu kaya gini….. dengan intronya gitar klentang – klenting ada flutenya dan vocalnya….ampun ampun….begitu penuh perasaan, bahkan pada bagian yang jreng-jreng pun menurut saya penuh perasaan…. sepanjang lagu memberi pengalaman baru yang amat menyenangkan ( tapi taunya bahwa itu Prog-rock ya baru belakangan ini hehehe… katroknya kelihatan…)… walaupun tape recorder JVC teman tadi masih mono tapi dengan amplifier dan bisa stel keras2 karena kamarnya terpisah dari rumah induknya sehingga lagu- lagu yang diputer terdengar jelas banget, jreng dan crik crik –nya keluar semua, sehingga teman teman suka ngumpul di situ sambil milih2 lagu buat disetel …. Led Zep, Deep Purple yang selama hanya denger lewat radio jadi lebih berasa……melalui koleksi teman tadi saya jadi mengenal Focus, Joe Cocker, Uriah Heep, Cuby and The Blizards, Golden Earring, Dr Hook and The Medicine, Cat Stevens, Setphen stills, ( nggak ada kaset lagu Indonesia ) ….tapi sayang teman baik tadi sudah lama almarhum, waktu menulis pengalaman ini saya sempetin menundukkan kepala sejenak sebagai tribute untuknya ….

Saya jadi terobsesi kaset semacam Jethro Tull itu dan mulailah cari2 kaset yang antik, dan di kota kecil spt Jombang hal itu nggak gampang….baru th 1974 ketemu Yes rekaman Pop Discotik album Tales From Topographic Oceans di mana sisi A ada 2 Lagu dan sisi B dua lagu ( sampai sekarang kaset itu masih ada )….dalam perjalanan selanjutnya eksplorasi music saya melalui kenal banyak grup music tapi hati ini akhirnya terpikat pada dua grup : Yes dan Genesis ..…jadi kalau yang benar2 entry meeting saya dengan Prog -Rock mugkin ya lewat kaset milik teman Jethro Tull – Thick As A Brick yang ampun ampuun….itu tadi …tapi Alhamdulillah sekarang sudah punya Thick As A Brick keluaran YESS….. wah cukup panjang ya… tapi saya memang ingin berbagi story apa adanya ….terima kasih dan salam

Mas G serta teman2 prog – rock lover semuanya …

Jethro Tull “Thick As A Brick” by Yess

October 20, 2012

Kalau lihat kaset Jethro Tull “Thick As A Brick” iniperasaan saya mendadak acak adul ndak karuan teringat pertama kali dengan album ini dari kaset rekaman dari PH yang dibuatkan kakak saya, Henky, yang dulu penyiar radio Geronimo – Yogya. Saya baru punya kaset Yess nya tahun 1981, saat kuliah di Bandung.

Gak tahu ada angin apa kok seminggu ini nyetel kaset keluaran Yess #276 beberapa kali. Awalnya di mobil, terus di compo Sanyo di meja kerja. Ujug-ujug mak gendandhut kok pagi ini sambil nunggu dibuatin indomie godog, saya pasang di tape deck maha dahzyat bersuara prima sejahtera pitaloka (embuh opo karepe kata2 iki …..): TANDBERG TCD-440A. Adouw beeeyoung …..manteb ndhredhegh …..mau nangis nih ulu ati diinjek-injek sama petikan gitar akustik dan olah vokal Ian Anderson ….! Apa lagi di bagian interlude dimana flute mulai masuk saya sudah tak kuat menahan pilu ulu ati, terpaksa dengan sukarela gulung-koming menikmati tohokan notasi maut di flute solo ini. Trus nyambung ke guitar (electric) solo …. Walah! Gak kuwat aku cak! Huwebaaaatzzz…..!!!!!

Tak salah bila ProgArchives menaruh di deretan atas Top 10 Prog Albums og Alltime, bersaing dengan Yes “Close To The Edge”. Huwebaaatzzzz!!!!

Steve Walsh “Schemer Dreamer” by PrivColl (2)

October 20, 2012

By: Hendrik Worotikan

Penasaran dengan album albumnya Kansas, karena masih menjadi trending topics di blog ini, saya pun kembali mengubek ngubek koleksi lama berupa kaset maupun PH.
Ketemulah album “Point Of Know Return” dan “Monolith” dalam format PH serta kaset album “Leftoverture & Masque” rekaman Yess #159 dan Kansas Live rekaman Perina Ultra Dynamic, yang semuanya dirilis thn 1980 kebawah.

Rasa penasaran saya berikutnya justru ada pada sosok Steve Walsh, vokalis, pemain kibor, piano, vibes juga kemahirannya dalam menulis lagu.
Oleh karena itu, ketika SW merilis solo albumnya yang bertajuk “Schemer Dreamer” di thn 80, sayapun tertarik untuk mengoleksinya.

Saya sendiri sudah lupa dimana saya mendapatkan kaset yang di rekam Private Collection dengan seri R 052 ini.
Tapi yang pasti setelah melewati masa berpuluh puluh tahun, nyatanya kaset ini masih tetap prima jaya kualitas suaranya.

Kalau melihat tahun rilisnya album “Schemer Dreamer” di tahun 80, ini artinya tahun manakala SW terahir gabung di Kansas setelah menggarap “Audio-Visions”.
Walaupun beberapa tahun kemudian dia kembali bergabung (lagi).

Menjadi menarik, tatkala SW tak lagi di Kansas, yg kemudian merilis solo albumnya ini, beberapa personil Kansas tetap membantunya. Tercatat ada Kerry Livgren, Phil Ehart dan Rich Williams.
Disisi lain untuk mempermanis garapan musiknya SW mempercayakan pada Allen Sloan (Dixie Dregs) bermain viola.
Wah…kalo ingat bunyi viola, bukankah di Kansas seringkali kita mendengarnya ?
Coba ingat “Dust In The Wind”,”The Wall”,”Point Of Know Return” dan lagu lainnya.

Terdapat 7 lagu di album solo pertama milik SW ini dengan sentuhan musik yang bervariatif. Ada ballad seperti lagu “Just How It Feels” yang hanya didominasi dentingan piano dan gesekan viola sebagai lagu pembuka.
Setelah itu “Wait Until Tomorrow”, Steve bernyanyi dgn tempo slowly dirangkai dengan petikan gitar yg dasyat serta gebukan drum Phil Ehart yang juga tidak kalah dasyatnya.
Di track list ketiga “Every Step Of The Way”, sebuah lagu yg populer dengan nuansa pop rock. Ramuan rock n’ roll ada di “Schemer Dreamer / That’s All Right”, permainan gitar Rich Williams ada di lagu ini.
Dan sebagai lagu penutup di side A “Get Too Far”, sangat nge rock.
Masih ada 2 lagu yang tersisa yang menempati side B, “So Many Nights” dan “You Think You Got It Made”.
Di lagu terahir itulah Kerry Livgren kolega Steve di Kansas ikut ambil  bagian.

So…bagi yang punya kaset ini beruntunglah anda. Apalagi di side B terdapat pula grup trio asal Kanada, FM yang nggak kalah hebatnya.

Mantap Braaayyy !!

Waduh…jadi panjang nih tulisannya.
Mas G, seperti biasa… matur nuwun, ya.

Hendrik Worotikan

 

Bagaimana Anda Pertama Kali Kenal Prog?

October 18, 2012

JRENG!

Gara2 mas Edi Apple Santoso di komen pada tret Kansas sebelum ini, kayaknya perlu sekali membuat tret ini. Langsung saja mengisi di komen yah … termasuk saya.

 

JRENG!

Salam,

G

 

Kansas “Leftoverture” – a Review

October 18, 2012

Sungguh, artworknya keren banget. Prooooog …!!

Pengalaman saya kenal Kansas telah saya tuangkan di tret Kansas Bagi Saya kemudian dilanjut dengan perkenalan saya dengan album Leftoverture yang legendaris itu. Saat itu saya langsung suka dengan lagu Cheyene Anthem yang merupakan pembuka dari kaset rekaman Perina Aquarius warna kuning dengan sid B nya Boston yang ada More Than A Feeling. Yang kemudian membuat ulu ati saya tercerabut adalah saat mendengarkan Magnum Opus . Wah, ini lagu keren banget. Diawali intro yang atmosferik dan nyambung dengan alunan vokal indah menawan dan juga melodik dari Steve Walsh. Maka meluncurlah lagu ini dengan style yang sangat progresip pol dengan sahut-sahutan instrument yang ada, tanpa menggunakan vokal. Memang ini lagu lebih banyak instrumentalia nya. Namun justru itulah yang membuat keren lagu ini. Tentu lagu lainnya juga keren termasuk yang suka dibawain GodBless : Carry On Wayward Son.

Beberapa hari lalu saya bermaksud untuk bermain dengan alam memori melalui kaset nuansamatik Perina warna kuning. Namun sayang, kaset ini putus di awal side B. Sayang sekali. Udah putus, kisut pula. Ya udah saya batal menikmati side B nya. Memang ternyata ini adalah kaset dari pita merek TRUSONIC yang menurut saya memang tidak bagus kualitasnya. Rasanya kaset ini gak bisa lagi direparasi karena sudah “pedhot” alias putus pitanya dan bergelombang …. Musti hunting nih .. Siapa punya?

Sayang sekali kasetnya sudah “bodhol”

Studio Album, released in 1976

Songs / Tracks Listing

1. Carry On Wayward Son (5:13) 
2. The Wall (4:47) 
3. What’s On My Mind (3:27) 
4. Miracles Out Of Nowhere (6:29) 
5. Opus Insert (4:26) 
6. Questions Of My Childhood (3:38) 
7. Cheyenne Anthem (6:50) 
8. Magnum Opus (8:27) 

Total Time: 43:17
Line-up / Musicians

- Phil Ehart / drums, percussion 
- Dave Hope / bass 
- Kerry Livgren / guitar, keyboards 
- Robby Steinhardt / lead vocals, violin, viola 
- Steve Walsh / lead vocals, keyboards, vibes 
- Rich williams / acoustic & electric guitars

 

Review by Gatot
SPECIAL COLLABORATOR Honorary Collaborator

5 stars ** Intermezzo – By the time I am about to write this review, I’m hearing “Stargazer” of Ritchie Blackmore’s Rainbow (“Rising” album) broadcasted by our local FM radio station. What a coincidence! “Leftoverture” was released about the same period (I guess) with Rainbow “Rising”. Yeah . both of them have colored my teenage days. Powerful albums! Unfortunately, I cannot put my thoughts about “rising” as it is not boxed under prog category. Poor me . That’s the impact on categorizing music under what so called “genre”. Who’s fault ? Our fault! The listeners. Yes, we categorized music. **

Sorry for the above intermezzo, but it’s true for me personally (or it may apply to some of you). The kind of music that the rock groups created during the creative year of 70s seem to share common “nuances” for me. I can feel it but I can not disburse it in words. Well, I think for those of you who were teenagers during 70s, you know exactly what I mean, as I can sense it now. Regardless which part of the world you were at that time. The 70’s was really the glory years of rock music. Rock music was accessible by almost all people. Don’t you think so?

Yes, “CARRY ON WAYWARD SON ” ..JRENG! was I think one of the colors of 70s music. The music is to me a kind of straight forward rock song. It may be categorized as prog as there are some tempo changes but it’s still maintaining a rocking style. I like the voice line as well as the guitar work and piano during transition pieces. An energetic tune. I still remember those days when I watched the rock concert (accompanied by my big bro, Boedi – remember, I was just teenager – my mom did not allow me to go by myself)) in Jakarta where the performer was our local rock hero GOD BLESS covering this song. Fantastic performance. This song is suitable for cheering you up after you’ve gone thru a tiring day, eg. fed up with your boss, trapped in a long traffic jam, or experiencing a not so good relationship with your friend, spouse, etc. Play it ON man, you’ll get your spirit UP! Yeah . count on my words!

“THE WALL” is a melodic track in a sort of ballad mode with great lead guitar. The guitar melody at the very intro part of the track is really killing me .. Hmmmm …!! Oh boy . what a wonderful melody!!! The other interesting part is when the clavinet sound backing up the voice line and then followed by tasty violin sound. Uuuuggghhhh …great composition! The strong part of this track is, I think (in addition to the “killing” melody line), the transition pieces where a wide variety of instruments are used, including vibes. Brilliant!

“WHAT’s ON MY MIND” is a dynamic track in relatively fast tempo. The double guitar sound is really excellent. The music flows like typical rock song. Great vocal. “MIRACLES OUT OF NOWHERE” is my all-time favorite as it has relatively complex composition but it is crafted in a great tasty melody. The many instruments used to accentuate the music are blended nicely in one single composition: wonderful ballad rock music. “Tell me where you’re going to?” is the part of its lyrics that people used to emulate this track. Observe the complexity of musical instruments’ melody at transition on minute 2:30. Wow! Really stunning, my friend! Each instrument seems to sound in different direction but in a very nice harmony! I don’t believe that human being has ever created this superb song! Really superb! Try it yourself! You will hardly disagree with me. I’m pretty sure!

“OPUS INSERT” is a straight forward rock music with great organ sound and some acoustic guitar work. Nothing more that I can comment as the music is nice with some prog elements in the middle of the track using vibes (reminds me to Gentle Giant, actually). “QUESTIONS OF MY CHILDHOOD” has great harmony of keyboard and piano (played at the same time). However, the melody of this track is not really as tasty as the other tracks.

“CHEYENNE ANTHEM” was the first track in the cassette edition that I purchased sometime in 76. (Thanks God, finally I could afford to buy the CD in 1998). Of course, I love this track as it starts beautifully with a great acoustic guitar rhythm and it climbs up to a faster tempo when all instruments take part.

The concluding track “MAGNUM OPUS” is another all-time favorite track for me. It has everything for a progressive rock track: relatively complex, changing tempos, great transitions and the use of many instruments to generate various sounds. The vocal line at the opening part is very melodic. The rest of the track has no vocal but full with exploration of musical instruments in relatively complex composition, relatively fast tempo, excellent harmony. (Sometime in the year 2000, I was listening to the metal program in our local FM station. The broadcaster mentioned that “Magnum Opus” was the first inspiration for progressive metal bands. Was that true? I don’t know. But it might be, because it has a sort of guitar riffs. Do you think so? If you agree, this album then must be a “masterpiece”, because it has laid a solid foundation in the history of progressive metal! ).

Overall, this album is a “masterpiece”! It deserves for 5 / 5 rating. Powerful songwriting, tight structure and composition, excellent performance, great cover and excellent sonic quality of the CD. (Just a little note: if you do not mind, I would humbly say “please ignore any review in this page or other page that rate this album less than 4/5″. Sorry . it’s not my intention to undermine other reviewers’ views. Indeed, I’m not a die hard fan of Kansas, but this album is absolutely a masterpiece. I have to be fair. Big apology for my “naïve-ness” but I’m telling you from my heart. Please try it yourself. Nyuwun sewu njih .) GW, Indonesia.

Send comments to Gatot (BETA) | Report this review (#21791) | Review Permalink
Posted Saturday, November 13, 2004

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 146 other followers