Apa Yang Kita Nikmati Dari Musik? (1/2)

Beberapa minggu lalu saya membaca buku bertajuk Trade-Off yang saya beli dari internet tanpa sebelumnya mengetahui isinya apa karena tidak ada yang mereferensikan saya untuk membeli buku tersebut. Diluar dugaan saya, ternyata buku ini sangat menarik karena membahas antara apa yang disebut dengan fidelity – yaitu hal-hal yang menekankan kepada kualitas – dan convenience – yaitu hal-hal yang menekankan pada kemudahan atau kepraktisan. Cara menjelaskan kedua masalah ini sang penulis mengungkapkannya dengan jelas dan gamblang, terutama bagi saya, karena dia memakai analogi musik, terutama rock. Mungkin karena analogi yang digunakan adalah musik rock, saya sangat cepat menyerapnya. Dia bilang, mengapa rock concert selalu laku keras karena orang datang ke konser tak sekedar ingin menikmati musik namun menikmati keseluruhan acaranya, mulai dari suasana konser, sipa-siapa yang hadir, tata-lampu, tata-suara, penampilan band yang main, dandanan penonton maupun pemain musik dan segudang atribut lainnya yang mereka ingin nikmati sehingga mereka ber-bondong2 memenuhi gedung pertunjukan. Inilah yang disebut dengan istilah fidelity. Pada kutub lainya ada yang disebut dengan convenience, yaitu menikmati musik dari segi kemudahannya, misalnya melalui PH, CD, kaset maupun MP3. Inipun juga masih bisa dipisahkan lagi bila konteks bahasannya hanya mendengarkan musik, maka menikmati melalui PH bisa dikategorikan sebagai fidelity sedangkan MP3 sebagai convenience. Ini juga karena mendengarkan PH memerlukan peralatan fisik yang berukuran relatif besar dibandingkan dengan MP3 yang nyaris tak memerlukan wujud fisik karena berbentuk berkas (file).

Nuansa

Jadi, apa sebenarnya yang kita nikmati dari musik? Pertanyaan ini tak ada jawaban yang standar karena sudah masuk pada ranah personal tergantung dari preferensi masing-masing individu. Bagi saya, menikmati musik tak sekedar menilai kualitas musiknya, namun juga dari jenis musiknya. Bagi saya, musik progressive rock memiliki daya tarik luar biasa dibandingkan musik lainnya, meskipun saya juga bisa menikmati heavy metal, metal maupun jazz. Namun, indera saya lebih peka kepada musik progrock karena memang sejak kelas 2 SMP saya sudah terpaku dengan jenis ini lantaran kekaguman saya pada Yes ‘Fragile’ yang pertama kali saya dengarkan pada tahun 1974. Di luar dari kualitas musik yang dihasilkan oleh pemusik, ternyata saya juga menikmati atribut lainnya yang ‘melekat’ menjadi satu kesatuan dalam menikmati musik, khususnya progrock.

Pertama, bagi saya, salah satu atributnya adalah tentang bagaimana saya bisa mendapatkan ‘bentuk rekaman’ dari musik tersebut. Bagi saya, Yes ‘Fragile’ mengingatkan pada Radio Geronimo Yogya karena kaset saya saat itu adalah rekaman dari PH yang dilakukan kakak saya, Henky, untuk kemudian disampaikan ke saya dalam bentuk pita Maxell UD60 dengan daftar lagu diketik pakai mesin ketik. Tahun 1974 komputer bukan merupakan barang yang lazim. Atribut lainnya adalah terkait dengan bagaimana saya ‘mendengarkani’ kaset tersebut. Pada atribut ini melekat dengan kebiasaan-kebiasaan saya dalam memutar kaset, yaitu setiap pagi hari sebelum berangkat sekolah, sambil ngepel lantai rumah, kemudian nyambung pada siang hari setelah makan siang sebelum tidur siang. Yang paling mengesankan justru mendengarkan pada malam hari karena praktis bisa saya katakan bahwa saya tidak bisa belajar tanpa ada kaset rock / progrock dan secangkir kopi tubruk. Selain dua atribut ‘bagaimana mendapatkan’ dan ‘bagaimana mendengarkan’ masih ada atribut lain yaitu ‘peristiwa’ terkait dengan musik tersebut. Atribut ketiga ini juga sangat dominan, misalnya saat dulu saya mempunyai kebiasaan setiap sore mengayuh sepeda ke toko-toko kaset di Madiun untuk mencari bila ada kaset baru yang ditawarkan. Jangan diremehkan, ini justru hal yang sangat mengesankan karena terus berulang hingga tahun 2000 dimana saya memiliki kebiasaan dan menikmati pergi ke toko CD Duta Suara maupun Musik Plus. Harapannya tak sekedar mencari CD baru, tapi juga berharap ketemu teman sehobi yang kemudian bisa diajak ngobrol sambil menikmati sate di Jalan Sabang. WHOOOAAAAA……!!! Lengkap sudah rasanya!

Makanya, jangan heran bila beberapa tahun lalu di sebuah milis saya sering menggunakan istilah nuansamatik ya karena saya ingin membawa setiap suasana yang muncul dari menikmati suatu musik dimana semua atribut-atribut di atas dengan mudah mencuat kembali. Lha kok kebetulan Jumat malam lalu saat lagi mau tidur di Novotel Hotel di channel HBO sedang diputar film Almost Famous yang claro itu. Rasanya saya sudah lupa alur ceritanya, namun dengan background lagu Misty Mountain Hop cukuplah sudah bagi saya untuk memunculkan semua atribut tersebut di atas. Saya jadi ingat kaset saya bertajuk Led Zeppelin III dengan covernya yang gambar Zeppelin itu sedangkan side B nya adalah album ke 4 yang ada Black Dog rekaman PEONY. Kenangan itu muncul begitu cepat begitu saya mendengarkan lagu tersebut. Inilah indahnya menikmati musik.

Kaset

Beberapa bulan belakangan di blog gemblunk ini sedang rame-ramenya dibahas kaset rekaman jadul yang memang dulu merupakan satu-satunya sumber unuk mendengarkan musik rock. Bahkan beberapa penghuni blog ini seperti mas Kristanto, bro APec dan mas Hippienov dengan getolnya mengatakan bahwa apapun jenis musiknya asal rekaman Yess (Bandung) pasti keren. Ini jelas merupakan suatu pengakuan bahwa kaset rekaman Yess telah menorehkan makna yang begitu melekat bagi penggemar musik kala itu. Saya juga termasuk di dalamnya meski saya juga rekaman lainnya yang terjadi di jaman jadul 70an lalu. Bahkan, hari Senin lalu (28 Mei) saya sengaja mampir ke Bandung dalam perjalanan saya menuju Garut untuk menggelar lokakarya dengan satu tujuan: mampir ke toko kaset DU 68 yang terletak sangat strategis karena berada persis di depan pool travel Citi Trans. Begitu sampai Bandung saya segera menitipkan tas saya ke satpam Citi Trans tus nyebran ke toko kaset DU 68. Saya merasa nikmat berada di toko ini meski tanpa AC karena banyak sekali dijual kaset-kaset termasuk yang jadul. Akhirnya saya mendapatkan empat kaset mulus banget: Deep Purple ‘House of The Blue Light’ (Yess seri #662), Rick van der Linden (Yess seri #134), The Best of Frumpy (Apple) dan Jan Akkerman & Kaz Lux (Nirwana 1LP series).

Sederetan kaset yang dipajang di toko kaset DU 68.

Kaset kompilasi DREAM EXPRESS yang pernah ngetop pada jamannya, saat ini juga sedang dikejar kolektor karen langka. [koleksi Bro Apec].

Bagi saya, mendengarkan musik 70an dengan sumber kaset merupakan kenikmatan tiada tara meski saya sudah memiliki versi CD nya. Bahkan saya lebih suka memutar kasetnya dari pada CD. Jujur saja CD hanya saya putar mungkin tak lebih dari 5 kali karena begitu dibeli langsung konversikan ke MP3. Mendengarkan musik 70an via kaset sambil bekerja di malam hari di depan komputer dan nyruput teh tubruk merupakan kenikmatan paripurna. Coba bayangkan menikmati The Lemon Song nya Led Zeppelin via kaset …whooooaaaa…. jauh lebih nunjek ketimbang format CD!!! Bravo kaset jadul!!!!

About these ads

6 Responses to “Apa Yang Kita Nikmati Dari Musik? (1/2)”

  1. apec Says:

    Wuihhhhh, lihat gambar kios DU68 langsung menggelegak hati saya..memang benar, saya sendiri menyimpan kaset semata-mata karena nuansa yang timbul..Memang saat saya sekolah dulu,membeli kaset saya lakukan krn masih belum memungkinkan bagi saya untuk membeli CD ( saat itu adalah era kaset dan CD,pertengahan th 90an, saya sudah ndak dengar istilah piringan hitam). Namun dalam perjalanannya, meski kaset sudah mulai tersingkir dari rak toko-toko musik( aduhh, kapan ya Aquarius toko kaset buka lagi di Surabaya), justru kaset makin saya kejar, hanya karena telinga saya klik pertama kali dengan kaset. Menurut sejarah , sound carrier via kaset memiliki kelebihan daya jangkau pemasaran yg lebih luas daripada PH dari segi harga meskipun daya tahan kaset dikatakan lebih lemah dari PH (tapi rekaman YESS sudah membuktikan bisa bertahan hampir 40 th tanpa merubah kualitas sound).. Nah,bagi kita-kita yang saat itu sudah bisa bersyukur hanya dengan mendengar via kaset, maka segenap memori dan nuansa yg ada pada masa-masa itu kembali muncul..Bagaimana kita membaca sekedar ucapan terima kasih yg ada pd sampul album, sekedar membaca nama musisi yg terlibat, bahkan mungkin kita menorehkan nama kita di kaset sambil mendengar lagu dari kaset yg baru kita beli tersebut, bagaimana kita menggunakan ballpoint Pilot untuk menggulung pita kaset karena takut rusak kalo digulung melalui player. . Dan saat ini,kita sepertinya ndak bakalan mendapatkan dari generasi digital,generasi MP3 saat ini,kalo ndak suka terhadap satu lagu yg ada, lgs bisa lompat ,atau malah di delete..kalo pada era kaset, mau ndak mau kita kudu mendengarkan semua lagu yang ada. Ada satu catatan penting mengenai dunia musik analog,Discovery Channel pernah menayangkan bahwa saat ini ternyata produksi piringan hitam di seluruh dunia meningkat kembali ,meski belum menyamai penjualan era70-80 an, namun setidaknya hal ini menunjukkan bahwa ternyata untuk urusan musik, analog lebih fidelity tinimbang digital…

  2. Gatot Widayanto Says:

    Bro Apec,

    Saya benar2 menikmati komentar bro Apec. Semua yang disinggung di situ rasanya saya sendiri yang mengalami, termasuk memutar kaset pake ballpoint Pilot (soalnya bergerigi batangnya – segi 6 atau segi 8 begitu). Wis niyan nuansamatik tenan!

    Setelah beberapa tahun dulu menikmati era digital via CD dan kemudian MP3, akhirnya saya merasa ahwa kaset tetap merupakan yang bisa memberikan nuansa paling pas ….

    Bahkan di era CD ini, sekitar 10 tahun lalu, ada temen saya yang memberi update bahwa di Malang ada lapak yang jual kaset2 prog rekaman dari CD lengkap dengan cover berwarna, dijual sekitar 30 ribu per kaset. Grup nya juga sebangsa The Flower Kings, Spock’s Beard dsb. Artinya, setelah era CD pun, kaset masih hidup … Mungkin karena saat itu download via internet belum marak seperti sekarang ….

    Salam,
    G

  3. gt Says:

    Minggu kemarin sy dikasih teman , kaset Giant Step album ” Mark I “,katanya dia sudah pindahkan ke CD…lho koq ! kasetnya kenapa dijasihkan ke saya,katanya karena sampean masih setia memdengarkan kaset…

    • Gatot Widayanto Says:

      Wah, Pak Gatot asik banget, dapat limpahan kaset …. Kalau kaset musik Indonesia, maaf dikata, kualitas pitanya banyak yg gak bagus. Kalau menikmati Guruh Gipsy saya pake MP3 terpaksa. Juga harry roesli titik api ….

      Gak tahu kalau Giant Step I, mungkin bagus ya pak …..

      Kaset pancen mak nyus…

  4. sulham syahid Says:

    artikelnya keren. saya tunggu postingan berikutnya!

  5. Apa Yang Kita Nikmati Dari Musik? (2/2) « Music for Life Says:

    [...] bulan Juni lalu saya pernah posting bagian 1 dari tajuk ini. Kalau mau liat lagi, silakan KLIK. Tak terasa ya, waktu bergulir begitu cepat karena rasanya saya baru saja lho posting tulisan PART [...]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 69 other followers

%d bloggers like this: