Archive for March, 2012

26 Hari Lagi YES Live in Jakarta

March 30, 2012

Yes ‘Fly From Here’

Karena album terakhir Fly From Here inilah akhirnya Yes berencana untuk melakukan tour ke Asia dan Australia termasuk Indonesia. Bagaimana album ini meski tak ada Jon ANderson dan Rick Wakeman? Menurut saya bagus meski tak sedahzyat album-album klasik mereka. Musiknya tak sekompleks musik Yes yang biasanya namun juga tak terlalu pop seperti Owner of A Lonely Heart. Setidaknya album ini sangat mirip dengan Drama meski di sini tak ada track yang sekelas dengan Machine Messiah. Namun jangan khawatir, karena pada konser nanti paling juga hanya beberapa lagu saja dari album baru ini, selebihnya lagu-lagu legendaris mereka.

Kalau ingin baca ulasan detilnya tentang album ini, silakan baca review saya di progarchives:

Review by Gatot
SPECIAL COLLABORATOR Honorary Collaborator

3 stars Big name does not guarantee musical masterpiece…

An album that was made with some controversies with the legendary line-up involving Jon and Rick but it was promising the return of “Drama” that was really good album. But when I got this album I was disappointed at first spin as I expected something as dynamic as Drama which had ‘Machene Messiah’ and ‘Tempus Fugit’ at least the energy. Unfortunately this new album has nothing to do musically with Drama even though the line-up is very close with addition of new singer, Benoit. Having spun the album in its entirety for at least 5 spin, I finally conclude that the album similarity of style is closer to Asia “Phoenix” than to Yes’ “Drama”. I actually listened to the album reluctantly for full set and usually I stopped at fisth track because the “Bumpy Ride” is so BORING! How come Geoff Downes produces keyboard sound that is so bad, so ugly and so boring like this one? Of course I would not compare with Rick’s inventive keyboard solo but at least, give me something like in Machine Messiah or at least like in “Open Your Eyes” (Asia live in Asia). But this fifth track is really a stopper. I usually skip this track because I cannot afford to have my ears went through the ordeal of this keyboard mess. From track 1 right until 4, I have to say the music is good even though there is no energy and seems like the new singer does not blend nicely with the music. His voice is OK even though less power compared to Jon and even Trevor Horn in Drama. As far as he sings with his own style, I am OK with his voice quality. But, once he tries to emulate Jon’s angel voice espece\ially when he sings on the opening lyrical verse “The old prop-shaft airliners stand” (track no. 2) …it does not sound well and it’s too much effort to emulate Jon’s voice. Just be yourself Mr Benoit …. Don’t try to emulate Jon’s ….

I might consider this album very good if there were no other prog bands released good albums as well like Pendragon “Passion”, Spock’s Beard “X”, Beardfish “Mammoth”, Pallas “XXV” or IQ “Frequency”. Meaning what? I would rather love the other albums from other bands than this album by Yes which has good artwork but the music is just mediocre – nothing that really hooks me, musically. On the “Fly From Here” epic that comprises five parts there are many repeat as well. The guitar part at the beginning of “Life on a Film Set” reminds me to ELP’s “The Sage”. The song is not bad actually, but by the time I reach here I have lost my patient as there has been to energy of the whole album.

Overall, the good part is that they still can make good music even though it’s no longer competitive compared to new offerings from new band. And I am sure when Dream Theater releases its new album by mid of September this year I don’t think I will still be interested to spin this new album by Yes even though I am a big fan of Yes. Overall rating of this album is 3-. The other good part is that this album is still much better than Yes “Open Your Your Eyes” or “Big Generator”. Keep on proggin’ ..!!

Peace on earth and mercy mild – GW

Send comments to Gatot (BETA) | Report this review (#513336) | Review Permalink
Posted Friday, September 02, 2011

27 Hari Lagi YES Live in Jakarta

March 30, 2012

Wadouw! Maap kemarin jadwal padat dan ada acara melayat orang tua rekan kerja yang meninggal, makanya tidak sempat posting. Jadi ini harusnya di posting kemarin. Gak pa pa …Yang penting tetep semangat jal!

Alan White (drums)

Alan memulai belajar alat musik dengan piano pada saat usia 6 tahun. Pamannya yg pemain drums menyarankan kepada ibunya bahwa Alan lebih cocok main drums sehingga Alan dibelikan drum kit pada saat usia 12 tahun. Alan merasa hidupnya mengalami kemajuan bila ia selalu duduk di belakang drum set dan memainkannya. Ia merasa nyaman duduk di kursi drum.

Dalam waktu tiga bulan setelah mendapatkan drum kit dari ibunya, ia sudah main di panggung. Ia mengatakan bahwa belajar terbaik adalah pada saat konser. Ia bergabung dengan Yes secara kebetulan karena pada saat itu Yes sedang sibuk tour untuk mempromosikan album mereka Close To The Edge yang fenomenal itu. Saat itu drumernya adalah Bill Bruford yang sudah merasa tak betah lagi dengan arah musik Yes. Bill merasa potensi musiknya dalam arena jazz terkungkung karena ia menyangka, saat pertama kali diajak Jon memebentuk Yes, arahnya akan menuju ke jazz. Namun ternyata Yes, terutama Jon dan Steve, memiliki visi yang berbeda dengan Bill. Akhirnya Bill yang sebenernya sudah gerah pada saat pembuatan album Close To The Edge memutuskan diri untuk keluar dari Yes. Namun ia berkomitmen menyelesaikan dulu tour Close To The Edge. Ternyata anggota Yes lainnya memiliki pendapat lain dan mempersilakan Alan White bermain selama tour tersebut. Alan memang bukan asing lagi dengan Yes karena ia pada dasarnya sering terlibat dalam proses produksi album-album Yes sebelumnya.

Menurut saya, tak ada yang unik dari permainan Alan. Namun, kalau melihat konser Yes, tetap saja saya senang melihat gaya mainnya terutama drumset nya selalu ada logo Yes – kerrreeennn!! Kalau mau lihat Alan main bagus, coba saja simak DVD Keys To Ascension atau Yessymphonic. Keunikan Alan adalah: dia tak pernah keluar dari Yes sejak bergabung di tahun 1973. Hebat!

Keep on proggin’ …!

Salam,

G

A Musical Journey of Hippienov

March 29, 2012

Alo mas G..
Gak tau kena angin apa tadi pagi dalam perjalanan naik motor ke kantor aku terbayang mau cerita pengalaman pribadi gimana aku bisa tau, kenal sampai akhirnya mencintai prog ke mas G. Sebenarnya sudah sempat beberapa kali aku menceritakan hal ini kepada orang lain tapi malah dibilang aneh “dengerin musik aja kok sampei ada sejarahnya”, kira-kira begitu respon nya. Kali ini aku coba share ke mas G yang aku kenal sangat menghargai nilai musik dalam kehidupan ini.

And the story begins..

Aku masih belum terlalu lama mengenal dan mencintai musik prog, baru sekitar tahun ’94 saat kuliah aku mulai tertarik mengeksplorasi aliran musik ini.

My musical journey…

Perjalanan musik ku berawal sekitar tahun ’81an saat aku mulai punya (baca: minta dibelikan oleh orang tua) kaset sendiri. Aku baru kelas 1 SD dan waktu itu koleksiku hanya kaset penyanyi-penyanyi pop yang lagi trend di masa itu. Obbie Messakh, Ria Angelina, Heidy Diana, Jopie Latul, Lidya Natalia, Pance, Dian Pisesha..adalah awal aku mendengarkan musik (hahaha..waktu itu belum jadi progger mas, gak ngerti ada musik nuansamatik selain om Obbie)

Tahun ’82 saat aku kelas 2 SD, salah seorang pamanku tau bahwa keponakannya yang masih kecil suka musik (tapi bukan rock), nah beliau yang pertama kali kasih aku dengar kaset-kaset The Beatles koleksinya karena beliau Beatlemania. Walah dalah! Aku terkejut mas dengar musik ini, beda banget dengan kaset yang selama ini aku beli.. Dari saat itu aku mulai merengek malah kadang nangis ngambek minta dibeliin kaset Beatles, kalo gak salah harga kaset masih sekitar 1,750 – 2,250 per keping.
Singkat cerita aku sudah stop hunting kaset om Obbie sejak itu dan makin kenal band claro lain seperti Stones, Kiss, Purple, Van Halen plus musisi solo era 70an dan band-band pop 70an macam Bee Gees, The Cats, etc.
Sampai tahun ’86 atau ’87 saat pamanku yang sama mengenalkan aku pada kaset “Led Zeppelin 4″ rekaman team records, wuih..lebih hebat lagi reaksiku mas pas dengar stairway to heaven, black dog dan rock n’ roll.. Uedan ada band manteb banget musiknya, vokalisnya nyaring melengking, drum nya yahud, gitarnya sadis! Lagi-lagi aku jadi tergila-gila dengan Zep, tapi sayang gak lama kemudian kaset bajakan di-stop beredar di Indonesia, aku sempat bingung mas, susah buat anak kecil kayak aku mau nyari kaset barat saat itu.

Untung gak lama kaset barat label resmi masuk ke toko-toko kaset dan saat itu aku sudah di bangku SMP. Aku mulai jarang jalan bareng paman ke toko kaset karena beliau sudah bekerja jadi makin sempit waktu luangnya.
Aku mulai jalan sendiri dan masa itu aku mulai kenal musik heavy metal dan juga glam rock. Band macam Helloween, Anthrax, Motley Crue, Iron Maiden, Judas Priest, Poison, Ratt, Quiet Riot, The Police, Steelheart, Firehouse, Kixx, Gn’R, Damn Yankees, etc jadi idolaku.

(…capek juga ya ngetik pake jempol,hehehe..)

Tahun ’90-93 adalah masa kelam dalam perjalanan musikku. Masa di SMA (karena ikut arus temen2) aku jadi penggila musik death metal, thrash, speed metal, black metal dengan segala atribut dan lirik berbau satanisme. Sedikit demi sedikit jejak band-band claro dan glam mulai tergeser dengan kaset-kaset thrash metal (kecuali beatles dan stones masih eksis).
Tapi di tengah-tengah masa ini aku gak sengaja sebenarnya mulai kenal prog. Ceritanya teman 1 kelasku menjual beberapa kasetnya dan salah satunya Marillion “seasons end”, entah gimana yang aku beli adalah Marillion dengan harga 1,500 perak. Padahal aku lagi gila dengan thrash, tapi aku lumayan suka dengan kaset ini walau jarang aku setel waktu itu. Dan saat “masa suram” aku jual koleksi non thrash ku kaset Marillion tetap aku simpan, sayang mau dijual waktu itu. Sampai sekarang kasetnya masih ada, masih aku rawat dan sering aku setel.
Diakhir masa SMA mulai era alternative rock diawali oleh Nirvana, aku ikut-ikutan suka walau cuma sebentar.

College years when it all began…

Tahun ’93 aku masuk kuliah di Planologi UNDIP, selera musikku mulai bergeser. Aku merasa jenuh dengan thrash dan alternative, musik nu-metal dan modern rock gak terlalu memuaskan hasrat musikku. Gak lama kemudian aku mulai melirik kembali musik claro yang hampir terabaikan dan makin merasa klop setelah rajin tuning ke M97 FM tiap pulang ke jakarta. Dari radio ini juga aku mulai kembali tertarik prog rock dan ngeh kalo Marillion termasuk band prog.

Salah seorang teman 1 jurusanku secara sengaja rajin membawa koleksi kaset abangnya yang ternyata berselera prog dan kolektor Yess. Aku ingat kaset Yess pertama yang aku dengar adalah album tales nya Yes, yang sama sekali ak gak ngerti musiknya pertama aku dengar, tapi bikin penasaran sehingga aku berani pinjam bawa ke kos biar bisa lebih khusuk menikmatinya, itu tahun ’94.
Berikutnya aku makin sering disuguhkan Yes oleh temanku ini: Yesshows, tormato, fragile.. Wow..

Makin sering dengar prog makin bisa menikmati musik “kriting njelimet” ini (ada orang yang bilang musik prog adalah musik njelimet kriting..)
Ditambah lagi teman 1 kos-an yang sudah wisuda tiba-tiba menghibahkan 3 kaset ELP nya (the best (aquarius), works vol. 2(yess) dan welcome back my friends (yess) sebelum dia pulang kampung ke bandung. Sebelumnya aku cuma kenal ELP lewat c’est la vie di kompilasi slow rock sekarang bisa dengar tarkus, jerusalem, lucky man, etc. Aneh lagi band ini pikirku, trio tanpa gitaris khusus, sound kibor dominan dimana-mana dan rumit.. Awalnya agak pusing mas mungkin karena waktu itu belajar prog tapi selanjutnya aku malah beli kaset live ELP di isle of wright festival. Next stop was Genesis.. Album pertama yang aku dengar adalah “selling england” dari Yess punya teman 1 jurusanku. Ternyata mas, abangnya kolektor Yess khusus Yes, Genesis dan Rush. Koleksinya cukup banyak di rumahnya di daerah cipete (aku sempat maen ke rumah temanku ini) dan waktu itu aku beberapa kali berusaha ngerayu u/ bisa beli koleksi Yess abangnya tapi ditolak mentah-mentah.

Tahun ’99 aku (finally) lulus kuliah (hampir jadi MA aku mas alias mahasiswa abadi gara2 6 tahun di kampus) dan saat itu aku sudah truly enjoy and fall in love with prog..
Mulai kerja mapan tahun 2001 aku makin rajin dan asik hunting cd dan kaset prog sampai saat ini.. Dokumentasi prog dan juga claro ku mulai bertambah tapi masih jauh tertinggal dengan senior-seniorku yang sudah jauh lebih lama mengenal progclaro.

The end..

Long live prog..
Hippienov

Sent using a Sony Ericsson mobile phone

28 Hari Lagi YES Live in Jakarta

March 28, 2012

Dream Theater dan Yes Main Bareng

 

Pada tahun 2004 Yes pernah satu panggung dengan Dream Theater. Tentu, mereka tak main satu panggung dalam pengertian semua bermain barenng – lha terus jadinya gimana Stream of Consciousness nya Dream Theater yang gedebag-gedebug digabung dengan To Be Over nya Yes yang slow dan nyamlenk itu ….. Ha ha ha ha ….. Tapi jangan salah, saya penggemar berat lagu Stream of Consciousness. Wuih, kalau menikmati lagu ini saya bisa merem melek dan ndak tahu apa badan saya masih ada gravitasinya soalnya kok pikiran saya melayang jauh di langit ke tujuh! Sudah begitu sering saya membahas lagu ini di blog gemblunk ini. Tetep aja kalo nyetel lagu SoC ini saya selelu nggeblak nggulung koming totally paralyzed …. my mind suddenly doesn’t work at all! Ha ha ha … lebay banget ya? Memang keren tuh lagu. Bagi yang gak bisa menikmati lagu indah dari DT tersebut diharapkan minum panadol dulu…. ha ha ha … Sampai saya menemukan lagu Outcry dari album terakhir Dream Theater saya masih menganggap SoC adalah the best composition DT has ever made on planet earth. Tapi dengan adanya Outcry, saya jadi bingung menentukan mana terbaik… Ya dua-duanya ajalah!

Saat main dengan Yes dulu memang Dream Theater sebagai band pembuka dan bahkan membawakan (cover) lagu Yes bertajuk Machine Messiah yang tak mungkin dibawakan Yes. Kenapa? Saat 2004 itu formasi Yes sudah ada Jon Anderson sehingga Machine Messiah yang dinyanyikan Trevor Horn di album Drama dilepeh abis sama Jon. Makanya Dream Theater dengan segala kebesaran hatinya membawakan lagu tersebut, meski hanya 3 menit dari total 10 menit durasi lagu. Setidaknya Dream Theater (yang skill dan penguasaan teknologi musisinya canggih-canggih semua itu) dengan bangga memainkan lagu Yes. Hebat to? Siapa bilang YES usang? Pasti bukan wong prog tulen itu!

Pengen tahu setlist nya? Ini dia yang dibawakan oleh kedua band besar tersebut saat main tanggal  19 September 2004 di  Universal City, California, USA:

Dream Theater

01 – Overture (1:37)

02 – About To Crash (5:14)

03 – Learning To Live (10:17)

04 – Machine Messiah (3:19)

05 – Trial Of Tears (13:12)

06 – Stream Of Consciousness (10:35)

07 – The Spirit Carries On (6:56)

08 – Solitary Shell (5:39)

09 – About To Crash (reprise) (4:10)

10 – Losing Time – Grand Finale (6:12)

Yes

01 – Firebird Suite (2:51)

02 – Going For The One (5:25)

03 – Sweet Dreams (7:27)

04 – I’ve Seen All Good People (8:11)

05 – America (10:35)

06 – South Side Of The Sky (11:56)

07 – Yours Is No Disgrace (13:21)

08 – Clap – Singin’ in the rain (5:33)

09 – Long Distance Runaround (acoustic) (5:16)

10 – Wonderous Stories (acoustic) (7:21)

11 – Roundabout (acoustic) (5:51)

12 – Owner Of A Lonely Heart (acoustic) (6:46)

13 – And You And I (13:29)

14 – Awaken (19:13)

15 – Starship Trooper (13:55)

Indonesia juga menjadi tempat bersejarah dimana Dream Theater dan Yes bakal main bareng di Jakarta, meski tanggal dan tempatnya berbeda……. Namun, kedua konser dahzyat ini wajib disimak jal!

Keep on proggin’…!!!

JRENG!

29 Hari Lagi YES Live in Jakarta

March 27, 2012

YES sudah USANG!

 

Countdown kali ini mencoba membahas agak berbeda. Kalau selama ini saya mengulas dari aspek penggemar yang masih menyukai Yes hingga kini, termasuk saya tentunya. Kali ini akan saya mulai dengan pernyataan seorang “teman” saya di Facebook yang memberi komentar ini di wall saya:

Boncu Bonexmania kalo musik yess pasti jaminan mutu,tapi sekali lagi, yes sudah lewat masa keemasan beliau2 dalam memainkan musik, beliau udah sepuh sodara2:)saya kurang “mbelani” dgn alasan tersebut tanpa mengurangi penghormatan saya terhadap Yess, musisi jaman skarang lebih maju dlm hal skill dan teknologi,jumlah mereka juga lebih banyak:)

salam damai komandan2 yang saya hormati,ane msh anak kmarin sore

Menurutnya yang penting itu melihat musik dari segi skill dan teknologi dan musisi-musisi muda banyak yang jauh lebh bagus. Di sini sudah terjadi perbedaan yang mendasar dari cara pandang. Saya tak pernah melihat musik dari kecanggihan musisinya memainkan alat musik tapi bagaimana setiap musisi bisa menciptakan komposisi dahzyat. Saya yakin bahwa Marillion, misalnya, dari penguasaan alat masih jauh dibawah musisi seniornya di Gentle Giant, Genesis, maupun Yes. Tapi toh mereka bisa menghasilkan album-album dahzyat yang tak perlu menonjolkan kemahiran memainkan peralatan tertentu. Saya juga menyukai Opeth, Porcupine Tree, Sylvan dan band2 prog baru lainnya, tapi tetep menganggap msuik prog 70an layak dicintai …..

Dalam YES, menurut saya personil-personil yang bagus penguasaan terhadap instrumennya adalah Rick Wakeman, Bill Bruford, Steve Howe, Patric Moraz dan Chris Squire. Namun ketika menikmati musik Yes, yang saya perhatikan adalah bagaimana alunan melodi dibuat bersamaan dengan kompleksitas perpindahan mood dan tempo serta bagaimana harmoni dijaga sehingga terjadi keseluruhan komposisi yang terpadu atau bahasa kerennya terjaganya structural integrity dari musik yang dihasilkan. Kita ambil contoh lagu yang tak memiliki melodi kuat seperti Sound Chaser (Relayer, 1974). Mengapa musiknya indah padahal melodinya gak terlihat nyata? Karena mereka jago memainkan harmoni dan perpindahan tempo dan mood yang indah. Tak heran bila lagu ini tak terkenal. Tapi mengapa penggemar Yes menyukainya? Ya itu tadi, musiknya memiliki structural integrity yang kokoh.

Sekarang kita ambil contoh ‘And You And I’. Secara melodi, lagu ini indah. Tapi apakah ini musik pop? Bukan! Lihat aja bagaimana setiap segmen dipenuhi dengan lick indah dari Steve Howe dan permainan kibor yang inventif dari Wakeman. Kita semua melihat lagu ini dari keseluruhan komposisi dan sampai kita melupakan faktor skill. Mengapa? It does not matter! Yang penting kalau musik prog itu ya keindahan komposisi total, menggabungkan lima komponen utama: melodi, kompleksitas, perpindahan tempo / mood, ketrampilanm, dan structural integrity. Coba kasih CD Close To The Edge ke orang yang belum pernah denger Yes, pasti langsung pusing denger lagu Close To The Edge karena intronya gak jelas. Tapi coba dengerin sampai 5 kali atau lebih, baru terasa nikmatnya dan it’s eternal ….

Jadi, musik YES sudah usang! Gak perlu nonton lagi konsernya!

(bila Anda tak progressive in a true sense!)

Keep on proggin’ …!

Salam,

G

30 Hari Lagi YES Live in Jakarta

March 26, 2012

Jon Davison (vokal)

Jangan salah ya …kali ini yang saya bahas BUKAN anggota Yes. Lha ngapain dibahas? Tunggu bentar jal …! Dia ini penyelamat Yes dalam kondisi genting. Kisahnya pada bulan Desember tahun lalu Yes dipisuhi banyak orang lantaran meniadakan tiga jadwal konser di Eropa lantaran vokali barunya yang bernama Benoit David (tak ada hubungan sama pianis jazz David Benoit selain permainan posisi kata dalam nama aja – diwoak-walik, embuh opo karepe!) berhalangan ikut konser karena sakit. Nah, karena sakitnya belum jelas kapan sembuhnya maka Chris dkk memutuskan menggaet vokalis cabutan bernama Jon Davison (kok ya namanya sama2 Jon ya dengan si Anderson?) untuk konser di Australia, Jepang, Hawaii dan Indonesia. Nah! Itulah sebabnya saya angkat tret kali ini ngomongin si Jon Davison.

Pertama, perlu dicatat bahwa Chris Squire, Steve Howe dan Alan White itu bukan orang bodoh yang sekedar menyomot vokali asal bisa bengok-bengok saja buat dibawa tur di Asia dan Australia. Bukan apa-apa, memang timbre suara Jon Davison ini gak jauh beda dengan Jon Anderson meski ada bedanya, tentu. Tapi ndak masalah wong sudah satu frekuensi kok. Jadi, jelas banget bahwa ngegandeng Jon Davison dalam konser ini merupakan solusi tepat karena dijamin memuaskan penonton. Saya yakin kalau disuruh nyanyi Close To The Edge atau Gates of Delirium pasti Jon Davison can do great job on vocal department. Apalagi kalau cuma lagu Ono Balon Lewat yang dibawakan oleh Anderson jadi Owner of A Lonely Heart – pasti Davison bisa! Dijamin! Pokoke satisfaction guarranteed!

Kedua, siapakah gerangan Jon Davison ini kok bisa masuk kualifikasi sebagai pengganti Jon Anderson? Dia ini tak lain adalah vokalis dari kelompok yang menamakan dirinya Glass Hammer. Nah ..kalau gak percaya, coba ambil album Glass Hammer “Cor Cordium” (2011) dan simak musiknya. Pasti Anda akan terperanjat dengan vokal Jon Davison yang mirip Jon Anderson! Tak hanya itu, album ini bagus sekali musiknya, sealiran dengan Yes dan saat ini saya puter sambil menulis tret ini. Cover albumnya keren banget nih, juga musiknya:

Jadi, kehadiran Jon Davison ini justru seharusnya memotivasi Anda buat nonton YES live in Jakarta 24 April 2012 nanti. Lihat fotonya dong, nge-rock sekali kan? Sepintas kayak Steve Morse nya Deep Purple ya?

Keep on proggin’ …!

Salam,

G

Teringat ZZ Top

March 26, 2012

JRENG!

Gak tahu ada angin apa, pagi ini teringat sebuah kaset Blues Collection rekaman BASR yang di dalamnya ada lagu “And Lonely” Climax Chicago Blues Band dan juga ada “Blue Jean Blues” ZZ Top. Mengenai ZZ Top ini lucunya saya hanya kenal band ini dari lagu satu ini pula dan terasa cocok musiknya. Beberapa tahun lalu saya mendapatkan CDnya saat ke Singapore dan baru tahu bahwa ini lagu dari album mereka Fandango. Lucu juga, beli satu album cuman cari satu lagu saja …. Terus pagi ini bernostalgia dengan melihat youtube live show-nya:

Salam,

G

 

31 Hari Lagi YES Live in Jakarta

March 25, 2012

YES – Jon Anderson = NO ?

WRONG!

Pada awal tahun 1979, saat kritis dimana saya lulus SMA dan pusing cari perguruan tinggi (apa hubungannya sama Yes?), Jon Anderson (vox) dan Rick Wakeman (keys) memutuskan keluar dari Yes. Musik progrock kembali gunjang-ganjing lagi. Kalau Rick keluar, itu udah pernah terjadi yakni setelah album Tales From Topographic Ocean (1974). Saat itu Rick gerah dengan album Tales karena menurutnya itu album terlalu ambsius dan sangat terpusat pada ide-ide Jon dan Steve saja sedangkan anggota Yes lainnya tak begitu dilibatkan. Dari awal pembuatan Rick sudah ogah-ogahan dengan ide dasar Jon membuat album Tales ini. Makanya setelah album dirilis Rick cabut dan digantikan kemudain oleh Patrick Moraz. Nah ..tahun 1979 situasi Yes lebih parah lagi karena sang ikon utama YES yang selama ini merupakan kunci keunikan YES Sound, Jon Anderson, juga hengkang …. Wah celaka tiga belas setengah nih …..

Dengan kepergian dua pemain kunci Yes, mereka bertiga: Chris Squire (bass), Steve Howe (gitar) dan Alan White (drums) selanjutnya memutuskan meneruskan Yes dengan arah musik yang berbeda: trio rock (instrumental). Pada saat bersamaan Trevor Horn yang saat itu merupakan produser musik dan sekaligus pemain dari band The Buggles bersama temannya Geoffrey Downes saat itu menyumbangkan beberapa lagu buat dimasukkan ke Yes. Ternyata ceritanya jadi lain ketika ketiga anggota Yes sekaligus merekrut mereka berdua ke dalam Yes. Maka lahirlah album Drama pada tahun 1980.

Dunia musik prog saat itu tak menerima kehadiran pengganti Jon ke dalam Yes karena ini sama aja mengganti Ritchie Blackmore dari Deep Purple atau mengganti Jimmy Page dari Led Zeppelin, atau mengganti Robert Fripp dari King Crimson. Namun kenyataan berbicara lain… Album Drama mendapatkan perhatian luar biasa dari kalangan prog saat itu karena ternyata Yes masih bisa menelorkan karya sealiran Yes era lama seperti lagu “Machine Messiah” yang ditulis awalnya oleh Alan White.  album ini seperti penyegaran terhadap musik Yes karena meski musiknya berbeda namun masih terlihat akar musik Yes yang khas seperti permainan gitar Steve Howe yang sarat dengan lick lincah dan tak menggunakan riff, juga permainan walking bass dari Chris Squire. Setidaknya, album ini telah membuktikan kepada dunia bahwa Yes bis bertahan tanpa Jon Anderson! Inilah yang saya salut dari perjuangan kelompok Yes ini meski pergantian pemain terus terjadi (It’s a perpetual change!) namun kualitas musiknya masih terjaga apik. Selain Machine Messiah, masih ada karya dahzyat lainny yaitu Tempus Fugit yang merupakan corak komposisi baru yang sebelumnya Yes belum pernah mainkan. Lagu ini lincah dan bertempo cepat menawan. Juga ada Into The Lens ( I am a Camera) dan Does It Really Happen?.

Mengapa Yes Drama saya bahas hari ini? Karena pada dasarnya Yes yang akan tampil nanti tak lain adalah formasi Yes Drama. Bedanya, Trevor Horn digantikan olh Jon Davison (dari Glass Hammer). Jadi, dengan formasi seperti ini, Yes masihlah Yes yang dahzyat! Tahun lalu Yes merilis album baru “Fly From Here” juga tanpa Jon Anderson.

Siapkah Anda menonton Yes tanggal 24 April 2012 nanti?

Siap!!!!

JRENG!

Keep on proggin’ …

Salam,

G

32 Hari Lagi YES Live in Jakarta

March 24, 2012

Steve Howe (gitar)

Gitaris satu ini sangat unik bila dilihat dari teknik bermainnya. Ia mengkalim dirinya sebagai pemain alam karena belajar main gitar tanpa guru selain mengandalkan buku chords pada saat usianya 12 tahun. Steve bukan pendiri YES tapi sangat menentukan keunikan komposisi Yes karena dia tak pernah (baca: jarang) menggunakan riff yang saat itu sangat populer digunakan oleh musik heavy metal seperti Black Sabbath, Deep Purple, Led Zeppelin. Justru ciri permainan Steve terletak pada “fills” yaitu mengisi bagian gitar dengan petikan seperti jari berjalan, sangat jarang menggunakan riff (yang suaranya ‘jeg-e-jeg itu lho!). Pernah memang dia menggunakan riff, misalnya di lagu “Perpetual Change” (The Yes Album) – album yang menandai pertama kali ia bergabung Yes menggantikan Peter Banks. Maklumlah saat itu dia kan masih baru di Yes, sehingga masih terbawa dengan standar yang biasa dipakai orang dalam pakem musik rock. Rasanya jaman dulu kalo rock musti ada jeg-e-jeg nya kayak Whole Lotta Love nya Led Zeppelin atau Smoke On The Water nya Deep Purple.

Steve mengatakan bahwa dia ingin menghasilkan bebunyian di luar bunyi gitar seperti biasanya. Tengoklah di awal petikan gitar akustik saat Roundabout dia mamasukkan unsur bebunyian dari Grand piano yang disusupkan sebelum dia memetik gitar. Eksplorasi unik Steve terlihat misalnya dalam lagu “And You And I” (Close To The Edge, 1972) dimana ia menggunakan pedal steel guitar (kayak musik Hawaian jamannya pak Hoegeng dulu itu lho!). Wuih ….! Pertama kali liat dia main di video Yessongs tahun 1973 saya bener2 sangat kagum dengan permainan dia di And You And I … Bener2 dahzyat! Pokoknya gitaris ini lain dah mainnya …. Punya karakter tersendiri dan sampai sekarang tak ada yang bisa mengikuti gaya permainan dia. Suwer jal!

Kabar baiknya …..

Steve Howe akan main di Jakarta tanggal 24 April 2012 bersama YES.

Mosok se ….sampeyan tak tergerak buat nonton salah satu gitaris andalan dunia ini? Apa kata masyarakat progrock dunia nanti? Masak seorang maestro gitar tak dihargai di Indonesia! Ngisin-ngisini tenan rek!

Yuk …nonton!

33 Hari Lagi YES Live in Jakarta

March 23, 2012

Chris Squire (bass)

Chris pada masa kecilnya sangat aktif mengikuti paduan suara di gereja. Ia rajin mengunjungi gereja, yakni 6 hari dalam seminggu. Pada dasarnya ia tak bisa bermain musik. Namun di saat gereja sepi dari pengunjung, ia suka menyelinap masuk ke dalam dan memainkan organ yang ada di gereja, sekenanya dan sekeras mungkin suaranya karena pada dasarnya ia tak tahu alat musik sama sekali.

Pada saat usia 16 tahun ia mulai tertarik untuk bermain musik dan memiliki band, namun tak tahu musti main alat apa. Teman sekolahnya yg sudah mahir bermain gitar menyarankan bahwa karena postur tubuhnya yang besar dan juga tangannya besar maka temannya menyarankan ia main bass guitar. Itulah awal mulanya bermain bass. Saat itu The Beatles sudah mulai dikenal dan Chris ingin mengikutinya. Ia juga kemudian bekerja di toko musik sehingga akhirnya mengenal bahwa orang yang pertama kali memakai Rickenbaker adalah John Entwistle (The Who).

(Sumber: “Yes Stories” by Tim Morse)


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 146 other followers