Archive for January, 2012

Musik dan Musisi 70an Dalam Lintasan Sejarah

January 31, 2012

By MH Alfie Syahrine

Kugiran Musik Pada Jaman Orde Lama

Pada saat Bung Karna masih memegang jabatan sebagai Presiden RI  terkesan ada  kecenderungan memakai nama Indonesia untuk kugiran lokal saat itu dikarenakan mungkin mereka takut pada penguasa Orde Lama yang saat itu sangat anti Barat terutama pada periode tahun 1950-an hingga menjelang akhir 60-an, maka dapat dilihat nama nama band yang ada asli menggunakan nama Indonesia seperti ; band  Panca Nada, Band Arulan, Orkes Bayu, Band  Zaenal Combo,Orkes Suita Rama,Orkes Simanalagi,Orkes Gaya Remaja, Orkes Irama Nada, Orkes Nada Kentjana,Orkes Prima Nada,Orkes Tjandra Kirana,Orkes Seni Maya, Orkes Mustika Rama,Orkes Sahabat Lama,Orkes Suwita Rama, Band Eka Sapta, Band Ayodhia, Band Medenasz,Orkes Rachman A, Band Diselina, Band Quarta Nada, Band Bina Ria dll hingga awal kedatangan era Orba dengan bermunculannya band-band seperti :

Band Parwita Junior,Band Aria,Band Aria Junior, Band Darma Putra Kostrad, Band Elektrika,The Memory, De Prinz,The Brims (Brimoresta),D’Hand,The’Matador,Band Halpers, Koes Plus, Pandjaitan Bersaudara , Usman Bersaudara atau Kembar Group. No Koes,Madesya Group,Ivo’s Group,Band Vista,Band D’Mecy ,The Rhythm Boy’s dll

 

Awal Mula Kemunculan  Kugiran  Dan Musik Cadas  Di Indonesia     

Musik cadas pada era 1970-an memang tidak terpisahkan dari fenomena munculnya kugiran musik anak-anak muda selepas tumbangnya Orde Lama, pintu modernisasi dibuka lebar- lebar oleh rezim Orde Baru dan orientasi musik anak-anak muda kita mulai kearah Barat yang banyak membawakan musik cadas terutama dari Inggris yang  merupakan sarang dan barometernya musik cadas dunia saat itu yang mana di era Orde Lama musik macam ini sangat dilarang keras oleh Presiden Soekarno karena dianggap musik barat tidak sesuai budaya bangsa Indonesia, sehingga semua yang berbau rock’n roll harus diritul/diberangus sebagai contoh Koes Bersaudara saja kena kebijakan anti Barat itu dikarenakan mereka menyanyi dengan gaya The Beatles yang mana mereka dijebloskan ke hotel prodeo yaitu penjara Glodok. Setelah Bung Karno tidak lagi menjabat sebagai presiden maka segera saja bermunculan kugiran kugiran yang meniru kugiran  musik cadas dari luar negeri.

AKA, Kugiran Cadas Sangar Papan Atas Yang Paling Disegani

Penggunaan Nama- Nama Kugiran Cadas Indonesia Dekade 1970-an 

Dalam blantika musik Indonesia, khususnya untuk nama kugiran biasanya dianggap penting, karena mempunyai arti simbolis serta sekaligus dapat mencerminkan jenis musik yang dimainkan. Selain itu, nama biasanya menandakan kugiran musik itu dilahirkan pada periode tertentu. Dekade 1970-an sedang gencar-gencarnya muncul gelombang musik cadas maka kugiran kugiran cadas-pun bermunculan di Indonesia dengan nama yang tidak meng-Indonesia lagi sesuai trend yang ada di Barat.

Nama-nama kugiran cadas Indonesia dekade 1970-an  umumnya menggunakan bahasa Inggris karena penggunaan bahasa Indonesia untuk nama kugiran cadas di negeri ini sering dianggap “culun” atau “udik” alias kampungan. Para pemusik lebih sering memberi nama kugiran-nya dengan nama bahasa Inggris. Mereka beranggapan dengan nama “cas-cis-cus” itu untuk nama kugiran musiknya akan terkesan lebih garang dan mentereng seperti kugiran Suprkid dengan master andalannya Deddy Sutansyah dimana kemudian namanya-pun dia ubah pula menjadi Deddy Stanzah.

Mereka inilah generasi pertama pemusik cadas Indonesia yang penuh bakat dan inovatif, disamping itu mereka-pun di besarkan namanya oleh  Majalah Aktuil  yang sejak  era 1967-an mengkhususkan diri sebagai  pioneer majalah musik dan gaya hidup remaja perkotaan itu .Banyak  kugiran saat itu yang muncul antara lain:

Giant Step,  Freedom of Rhapsodia,Bentoel & Mickey Michael Merkelbach The Rollies,,The Rhythm Kings,Golden Wings,C’Blues,God Bless, Young Gipsy, AKA, SAS, The Templars, Superkid, Freedom, Shark Move, Menstril’s,Great Session,The Amateur,Destroyer,Lime Stone,Voodoo Child,Mama Clan’s, Freemen, Reg Time, Silver Train, Free Men, Black Spades,Ireka,The Rhadows,Chekinks, Equator Child,Double Zero,Ternchem Stallion,Lizard,Paramour, Big Brothers,ODALF, Sea Men, Fancy, Zonk, Savoy Rhythm, Provist (Progressive Student), Diablo Band, The Players, Happiness, Thippiest, Comets, DD (Djogo Dolok), Jack C’llons, C’Blues, Memphis (yang kemudian menjadi Man Face), Delimas, Bani Adam Band,G’Brill, Batu Karang, Red&White, Topics & Company, The Rollies, Philosophy Gang Of Harry Roesli, Paramour, Finishing Touch, Freedom ,Lizard, Big Brothers,Brotherhood ,Speed King,Oegle Eyes dll

 

Go International 

Anehnya walaupun dengan perangkat sound system dan kapasitas studio yang masih serba  minim namun di era 1970-an banyak lagu-lagu dari kugiran cadas Indonesia saat itu yang dapat melampaui lintas batas negara atau istilah kerennya Go International  padahal saat itu teknologi dunia rekaman kita masih pas-pasan “cuma 4 track doang” kata anak- anak band saat itu tetapi berbekal semangat dan bakat alam yang kuat mereka dapat mencipta dan menyanyikan lagu-lagu versi Inggris dengan sangat baik, dan salutnya lagi, lagu-lagu versi Inggris mereka banyak disukai di luar negeri bahkan hingga masuk Top Ten baik di BBC ataupun ABC  seperti AKA,SAS, dan Rollies ataupun Silver Train dimana  lagu-lagu mereka sempat bertengger pada Top Ten Radio Australia.

SAS,Lagu Mereka Pernah Go Intenational

 Pertunjukan musik cadas pada era awal 1970-an hingga tahun 1976 sangat mendatangkan keuntungan dan para musisi beraliran hangar binger itu, mereka mengalami masa keemasan saat itu .Banyak gadis yang tergila-gila pada mereka dan menjadi groupist kemana mereka show selalu diikuti.Sejak kehadiran musik cadas di percaturan musik negeri ini, pertunjukan mereka selalu dibanjiri oleh penonton dan mengundang sambutan gegap-gempita di setiap kota bahkan di pelosok pelosok di seantero Indonesia.

Ucok Yang Selalu Sensasional !

Media Yang Menopang Kejayaan Musik Cadas

Memang saat itu tidak dapat dipungkiri bahwa musik panggunglah yang merupakan arena yang paling berhasil memasyarakatkan musik  cadas di Tanah Air ini di samping radio-radio dan majalah seperti Aktuil., Junior, Plamboyan, Varia Nada dan TOP serta beberapa majalah musik musiman yang tidak begitu dikenal ikut pula meramaikan masa kejayaan musik cadas di Tanah Air namun yang menjadi rujukan bagi anak anak muda saat itu hanya majalah Aktuil dan TOP karena kedua majalah musik ini memiliki banyak wartawan yang berkaliber raksasa yang mana setiap tulisan maupun reportase-nya selalu menarik dan ditunggu-tunggu oleh para kawula muda penggila musik cadas saat itu.

Aktuil memiliki Denny Sabrie, Remy Silado, Bens Leo, Iphik Tanoyo, Zan Zappa, Buyung dll sedangkan TOP memiliki Theodore KS, Daniel Alexy, Martha Boerhan, Zainuddin Tamir Koto (Zatako), Robbani Bawi dll. Persaingan antara kedua majalah musik inipun sangat luar biasa dimana mereka banyak memberikan bonus sticker maupun poster yang wah dan sudah jelas membuat remaja penggila musik cadas  saat itu tidak sayang mengeluarkan uang dari kocek mereka kedua majalah itu wajib dimiliki oleh para remaja penggila musik cadas saat itu.

                                                                                 

Tempat Tempat Pertunjukan Musik Cadas Di Era Tahun 1970-an

Untuk tempat pertunjukan di Jakarta,Theater Terbuka TIM, Taman Ria Monas dan Istora serta Stadiun Utama Senayan (untuk pertunjukan Deep Purple tanggal 4&5 Desember 1975) menjadi tempat favourite anak-anak muda yang paling sering didatangi untuk pertunjukan musik cadas karena harga tiketnya murah meriah yang mana dapat terjangkau oleh kocek mereka yang rata rata masih duduk dibangku SMA dan Perguruan Tinggi sedangkan Convention Hall (Balai Sidang) menurut mereka itu merupakan tempat kaum borju  yang tidak sesuai dengan semangat  dan jiwa cadas serta kocek mereka!.

Sedangkan di Bandung ada  Gelora Saparua, Lapangan Tegal Lega dan Gedung Merdeka menjadi tempat paling sering untuk pertunjukan musik cadas saat itu sedangkan untuk kugiran musik mungkin Bandunglah tempatnya karena disana ada seabreg  kugiran antara lain Savoy Rhythm, Provist (Progressive Student), Diablo Band, The Players, Happiness, Thippiest, Comets, DD (Djogo Dolok), Jack C’llons, C’Blues, Memphis (yang kemudian menjadi Man Face), Delimas, Rhapsodia, Batu Karang, The Peels, Shark Move, Red&White, Topics & Company, The Rollies, Philosophy Gang Of Harry Roesli, Giant Step, Paramour, Finishing Touch, Freedom ,Lizard, Big Brothers dan masih banyak lagi.Banyak dari mereka yang sukses bahkan bertahan namun tidak sedikit yang bertumbangan ditengah jalan dan ada pula para vokalisnya yang dapat bertahan tetapi berganti genre musiknya bahkan ke Dangdhut seperti Jajat Paramour

Sementara Medan memiliki Stadion Teladan, Wisma Ria ataupun Taman Ria dengan seabgeg kugiran cadas-nya seperti Rhythm Kings, Minstreals,The Great Session, The Foxus, Amateur, The Rag Time, Six Men, Grave Men, Copa Tone, Bhineka Nada, Black Spades dan Destroyer, disamping itu tentu saja masih ada banyak kugiran cadas lainnya yang dahsyat seperti Freemen .

Sedangkan kota Solo dijuluki sebagai kota ketiga di Indonesia memiliki stadion Manahan untuk tempat perhelatan musik cadas saat itu. Untuk kugiran musik dijumpai sederet nama yang patut dikedepankan, misalnya Yap Brothers, Tercnhem, Ayodhia, Scorless, dan Fair Stone. Dari sekian nama tersebut ada beberapa yang berhasil  beken, namun ada pula yang terlanjur “tewas”. Setelah Yap Brothers hijrah ke Jakarta, Tercnhem dan Ayodhia pun sekarat, dan Scorless tidak lama kemudian bubar !.

Sedangkan Semarang pada dekade 1970-an merupakan sentral hingar bingarnya musik cadas di Jawa Tengah. Musik di Semarang dilanda trend musik cadas ala Deep Purple, Led Zeppelin, dan sebagainya. Ada tiga nama kugiran musik yang cukup disegani keberadaannya yaitu, Mama Clan’s, Dragon, dan Fanny’s. Mama Clan’s, kugiran semarang yang satu ini tidak hanya berkiprah di kota asalnya, tetapi juga mampu menaklukkan penonton di kota Kembang Bandung yang dikenal sebagai gudangnya kugiran cadas pada dekade 1970-an. Mama Clan’s bahkan juga mampu menawan hati publik Jakarta dengan manggung di Taman Ria Monas tanggal 20 Oktober 1973. Kugiran dari Semarang lainnya bernama Spider, tetapi entah kenapa berubah bernama menjadi Voodoo Child ketika ikut perhelatan musik “Pesta Kemarau 75” di Bandung.

Surabaya memiliki segudang kugiran cadas diera 70-an.  musik AKA merupakan kugiran cadas yang lahir dari kota ini dan dianggap sebagai pelopor musik underground di Indonesia.AKA juga mengusung aksi-aksi panggung yang tidak lazim dipertunjukan ketika itu, karena menampilkan aksi peti mati dan tiang gantungan. kugiran dan pemusik lainnya yang terbentuk di kota yang sama, meliputi AKA, Oorzaak, Yeah Yeah Boys, Lemon Tree’s, D’Hand, Gembels, dan Rock Trikel serta SAS dll.

            Sedangkan kota Malang hanya memiliki sedikit kugiran musik yang eksis pada waktu itu, antara lain: Irama Abadi, Bentoel,Opet, Zodiak, dan Swita Irama. Hampir semua kugiran itu adalah kugiran musik perusahaan atau  yang dibentuk dan didanai oleh instansi atau lembaga tertentu. Sama seperti di Semarang terbentuknya kugiran  musik di Malang pada zaman Orde Lama biasanya bermula dari band sekolah. Tidak seperti di Jakarta, atau Surabaya banyak anak-anak muda Malang ingin bermain musik namun tidak mempunyai alat-alat yang cukup karena harganya mahal. Akhirnya band bisa terbentuk dan manggung setelah didanai oleh suatu perusahaan besar. Nama-nama band yang muncul pun mengikuti nama perusahaan sponsor, seperti band Bentoel. Double Zero dari nama perusahaan rokok Orong Orong dll. Kota Malang pernah dianggap sebagai barometer musik cadas di Jawa Timur, bahkan di Indonesia. Mayoritas warga Malang pada dekade 1970 menggemari musik cadas seperti Deep Purple dan Rolling Stone. Pernah ada suatu angket yang dibuat radio-radio amatir waktu itu dan memang kebanyakan kawula muda di kota Malang menggemari musik cadas sampai keakar akarnya dan hebatnya lagi hal itu masih berlanjut dari generasi ke generasi hingga saat ini.

Tidak Ada Satupun Lagu Indonesia Di Atas Pentas

Bila kugiran cadas sedang manggung mereka sekan-akan Inggris-lah bahasa mereka sehari-hari karena semua lagu yang mereka nyanyikan berbahasa Inggris dimana mereka dapat dengan fasihnya  menyanyikan lagu-lagu seperti dari ;Deep Purple, Jefferson Airplane, Ten Years After, Moody Blues,Camel, Rainbow,Nazareth, Rush, Gentle Giant, Black Sabbath,King Ping Meh, Genesis, Led Zeppelin, Kansas,Yes ,King Crimson,Iron Butterfly,Rainbow,Judas Priest,Uriah Heep, Man Fred Man Earth Band, Rick Wakeman, Johny Winter,Edger Winter,BS&T(Blood Sweat & Tears),Chicago, ELP,Santana,Tower of Power,Jetro Thull, Rolling Stones, STYX,Jimmy Hendrix,Frank Zappa, Rick Wakeman  dll .

Mengapa Mereka Dijuluki Superstar?

Aksi panggung memegang peranan yang penting bagi kesuksesan pementasan musik cadas di era taun 1970-an. Gaya panggung musik cadas di Indonesia sudah meniru kugiran musik dari Barat sejak kemunculannya pada akhir dekade 1960-an. Meskipun secara musikal suatu kugiran musik cadas tergolong berhasil dalam pementasan, tetapi apabila tidak didukung dengan aksi panggung yang memadai maka kugiran tersebut akan terlihat atau terkesan “culun” alias kampungan .Aksi panggung bagi suatu kugiran cadas saat itu sangat perlu diperhatikan agar permainannya tidak kelihatan “katro”.

Selain itu ekspresi wajah juga harus dapat menggambarkan keadaan tema serta karakteristik lagu. Melalui aksi panggung yang ”uedyan” juga akan dapat menutupi kesalahan-kesalahan atau kekurangan yang terjadi dalam penyajian musiknya. Aksi sensasi di panggung merupakan salah satu hal yang penting dalam pertunjukan musik cadas  dan sensasinya  terkadang dapat mendongkrak popularitas dari pemusik itu sendiri.

Sebagai sebuah bentuk seni pertunjukan, pertunjukan musik cadas memiliki gaya aksi tersendiri. Kebebasan dalam bermain musik yang bercorak keras terlihat ”menabrak” batasan-batasan umum, baik musik, lagu maupun gaya pertunjukannya.

Aksi panggung para kugiran cadas dekade 1970-an umumnya cenderung bersifat teatrikal dll atau dengan aksi panggung bakar-bakaran gitar model Blackmore atau Jimmy Hendrix dll. Jadi dalam suatu pertunjukan musik, pemusik tidak hanya menyuguhkan kepiawaian dalam bermusik saja, tetapi juga menampilkan aksi panggung yang sejalan dengan aliran musiknya. Aksi  pertunjukan para wadia balad musik cadas Indonesia banyak terinspirasi oleh gaya panggung para musisi Barat. Sebagian kugiran musik cadas pada dekade 1970-an berlomba-lomba untuk tampil “gokil” abiizz di atas panggung.

Musik Cadas era 1970-an di dunia termasuk di Indonesia adalah musik panggung, karena hal itu merupakan tuntutan penonton untuk mendapatkan hidangan aksi panggung yang gawatnya harus nyaris sama seperti pemain atau penyanyi aslinya.Gokilnya, para musisi kita saat itu dapat berinkarnasi bak para pemain musik Barat layaknya walaupun hanya ditopang oleh alat-alat musik yang masih dikatagorikan sederhana seperti Arthur Kaunang gaya main keyboardnya sangar dan banyak pengamat saat itu yang mengatakan kegarangannya diatas panggung nyaris seperti Keith Emerson, sedangkan Adhi keyboardist Equator Child dan Deddy Dores mereka sering berakrobat dengan kadangkala dance diatas keyboardnya sambil menggunakan kaki mereka dalam memainkan tuts keyboardnya.

            Deddy Dores yang juga disebut-sebut sebagai ”Wonder Guy” karena selalu memakai kacamata hitam baik siang maupun malam, Deddy saat itu disebut sebut sebagai Ritchie Blackmore-nya  Indonesia karena gaya dan permainanya nyaris sama dengan Blackmore seperti yang diuraikan oleh Riza Sihbudi dalam sebuah tulisannya disamping hobby-nya  menghantamkan gitarnya ke sound system atau membanting-bantingkan guitarnya hingga berantakan hal inipun sama dilakukan oleh Atauw guitarist andalan kugiran Equator Child, kugiran cadas yang berasal dari Pontianak yang kemudian berhijrah ke Jakarta itu diawal tahun 70-an sangat dielu-elukan oleh banyak remaja Ibukota maupun tanah air karena disamping kehebatan para pemainnya mereka juga ditopang oleh Imran sang vokalis yang nyentrik, Raden Bonnie Nurdaya atau lebih dikenal sebagai Bonnie Rollies guitarist kebanggaan Rollies itu  gaya permainan gitarnya sering diasosiasikan pada Steve Howe sedangkan Harry Minggus banyak kalangan mengatakan gaya petikan bass-nya seperti Chris Squire.

Kugiran cadas AKA/SAS memiliki Sunatha Tandjung yang kedahsyatan permainannya selalu diasosiasikan dengan Jimmy Page dimana dia sering memainkan guitarnya sambil memutar-mutarnya di udara sehingga menciptakan raungan yang memekakan telinga dalam melengkapi kedahsyatan permainan guitarnya. Pada suatu kesempatan dia pernah berkomentar seusai menonton konser Deep Purple pada 4 & 5 Desember 1975 bahwa permainan Tommy Bolin itu biasa biasa saja  belum lagi Syeh Jeffry Abidin yang dapat julukan John Bonham-nya Indonesia dan jujur penulis akui bahwa permainan Tuan Syeh ini dahsyat dan super mantab sebagaimana beberapa kali penulis saksikan aksi panggungnya baik sewaktu di AKA maupun setelah di SAS pada era awal hingga pertengahan tahun 1970-an.

Gaya Sunatha Tandjung Yang First Class!

Sementara Yongkie yang kemudian dikenal sebagai Yockie Suryoprayogo  mulanya dikenal sebagai keyboardist handal dari kugiran Zonk dan Fancy pada awal tahun 70-an sangat dikagumi penonton karena “kelihaian”nya memainkan keyboard dan dia bertambah terkenal sewaktu diajak Donny Fatah kawananya di kugiran Fancy untuk bergabung ke God Bless dimana Yongkie saat itu sering disebut sebut sebagai inkarnasinya Patrick Moraz atau John Lord-nya Indonesia karena memang permainannya yang sangat apik (pada beberapa album Chrisye dan solo albumnya dimana gaya permainannya nyaris seperti Patrick Moraz) sehingga membuat John Lord terkagum kagum manakala Yongkie memainkan keyboardnya pada lagu Celebration (PFM) dengan wadia balad God Bless ketika kelompok cadas itu dipercayakan Denny Sabrie sebagai band pendamping Deep Purple pada tanggal 5 Desember 1975 di Stadiun Utama Senayan,

Sementara Albert Warnerin lead guitarist kelompok progressive rock Giant Step dari Bandung itu disebut-sebut sebagai Jeff Back-nya Indonesia dimana pemainannya gitarnya nyaris sempurna (pada album Giant On The Move) belum lagi Benny Soebardja yang vokalis merangkap giutarist II Giant Step itu kerap dijuluki sebagai Alvin Lee-nya Indonesia, sedangkan Atauw gitaris andalan Equator Child diawal tahun70-an dia disebut sebut sebagai bayangannya Ritchie Blackmore dan Jimmy Hendrix

Odink Nasution sang pemetik  guitar dari  kugiran Young Gipsy dan beberapa lainnya di era 1970-an itu oleh banyak penggemar musik cadas dijuluki sebagai kembarannya Steve Hackett (pada album-album LCLR, Keenan Nasution dan Harry Sabar serta Guruh Gipsy), sedangkan Debby Nasution yang di era 1970-an dikenal sebagai keyboardist andalan Young Gipsy,Barong band serta Genk Pegangsaan oleh banyak penggemar musik prog permainan keyboardnya seperti permainan Matthew Fisher (Procol Harum) dan Tony Bank (pada album 1&2 Gank Pegangsaan)

Debby Nasution & His Genk Pegangsaan Friends

Sedangkan abangnya Keenan Nasution sudah terlanjur diberi predikat Bill Bruford-nya Indonesia( pada album Dibatas Angan Angan dan album album berikutnya ) Fuad Hassan dan Teddy Sudjaya banyak disebut sebut sebagai Ian Paice-nya Indonesia dengan gebukan gebukan drumnya yang sangat mantab.

Sedangkan untuk vokalisnya, Bangun Sugito atau yang lebih dikenal sebagai Gito Rollies sering dijuluki sebagai James Brown-nya Indonesia bila dia bernyanyi dan bergaya di atas pentas. Sementara Delly Djoko Alipin banyak disebut-sebut memiliki suara yang nyaris sama dengan Jim Rutledge vokalis kugiran Bloodrock kugiran super yang berbasis di Texas Amerika itu sedangkan Ucok Harahap mascotnya AKA, Bernard Parnadi, Guntur Simatupang dan Jose Tobing  disebut sebut pula sebagai Alice Cooper lokal.

Sebagai sumber rujukan untuk gaya pertunjukan mereka peroleh melalui berbagai majalah musik terbitan Amerika atau Eropa, seperti majalah Music Express, Melody Maker,Cream,Billboard atau Pop Foto dan foto sampul PH. PH tidak sekadar menjadi acuan musikal tetapi juga menjadi inspirasi penampilan visual.

Aksi Panggung Yang Sensasionil Para Vokalis Musik Cadas Era 70-an

  1. 1.     Aksi Panggung Achmad Albar &God Bless

 

 Nampaknya penggunaan peti mati  merupakan bagian aksi panggung yang dapat menopang keberhasilan aksi sebuah kugiran di era 1970-an seperti ungkap Yockie Suryo Prayogo dalam sebuah wawancara kami disebuah stasiun radio swasta beberapa tahun yang lalu. Saat itu menggunakan peti mati dalam pertunjukan musiknya seperti pertunjukan mereka pada tanggal 5-6 Mei 1973, dimana untuk pertama kalinya God Bless tampil di depan  Theater Terbuka Taman Ismail Marzuki dengan berekperimen berbagai macam kemunculan termasuk dengan menggunakan peti mati dan mayat hidup. Selain itu Albar menggunakan mayat hidup yang membawakan lagu Nurlela adalah sebagai semacam peringatan bagi pemusik-pemusik yang bisanya hanya “membeo” dan menerima apa adanya. Scahmmy Tampangoema yang menjadi setan laki-laki dalam  pementasan God bless bertanya kepada Ahmad Albar, mengapa memakai peti mati dan mayat segala. Schammy mendapat jawaban bahwa hal itu dilakukan hanya sekedar meramaikan pertunjukan saja dalam pementasannya di TIM pada tanggal 24 dan 25 Mei 1973, pada puncak acara God Bless menyuguhkan aksi teatrikal dengan dua buah peti mati. Diawali dengan bunyi lonceng besar, kemudian peti itu dibuka dan dua orang pria dan wanita yang didandani seperti layaknya sepasang mayat keluar serta bernyanyi dengan lagu yang berjudul nurlela dari penyanyi Bing Slamet dengan yang suara fals untuk menimbulkan kesan horor.Waktu itu Ahmad Albar berkibar di atas panggung dengan membawakan lagu-lagu dari kugiran musik Deep Purple, Led Zeppelin, Kansas, dan Yes. Dalam pertunjukan panggungnya.

             Namun bukan itu saja sensasi yang tercipta dari suatu aksi panggung yang akhirnya menjadi kerusuhan yang terjadi waktu God Bless manggung , ketika pertunjukan God Bless di lapangan basket kota Malang pada tanggal 4 Agustus 1974 dalam rangka tour pertunjukannya ke Jawa Timur pertunjukan mereka memakan banyak korban luka-luka karena mereka penasaran ingin melihat sesuatu yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. God Bless on the stage!.Banyak dari penontonnya yang rata-rata adalah kaum muda saling dorong dan berdesak-desakkan ingin masuk lebih dahulu ke dalam lapangan, walhasil penonton yang berada pada bagian depan yang sudah berada di pintu bagian depan berjatuhan tidak kuat menahan desakan dari belakang. Pihak panitia dan keamanan tidak kuasa membendung arus penonton yang datang begitu banyak ke tempat tersebut. Walaupun pertunjukan musik God Bless belum dimulai, tetapi korban yang jatuh sekitar 20 orang lebih dan banyak di antara mereka tidak sadarkan diri.

Selain mempelopori penggunaan efek asap dari dry ice  di atas panggung, kugiran musik ini juga banyak melahirkan ide-ide baru yang baru  di atas panggung, misalnya penggunaan lonceng besar yang diletakkan di belakang perangkat drum, pohon-pohon tiruan yang dibalut dengan timah yang memberikan suatu efek halusinasi yang berbau mistik.

Pada pertunjukan Deep Purple tanggal 5 Desember 1975 Achmad Albar dan God Bless yang menjadi band pendamping Deep Purple dimana malam itu Iyek merasa mendapat sambutan yang sangat meriah akan penampilannya setelah melemparkan lagu Celebration milik kugiran prog dari Italia PFM maka diapun menyulut kembang api dimana sontak saja Stadiun Utama Senayan berubah menjadi arena huru hara yang begitu massive dan belum pernah terjadi sebelumnya dimana saat itu bukan hanya kembang api yang beterbangan akan tetapi juga bangku bangku dan pokok kayu kayu penyangga bangku menjadi bola api beserta kepulan asap yang membuat sesak napas dan pemandangan ini menurut salah seorang teman penulis tak ubahnya seperti sebuah pertunjukan “Hanoman Obong” dalam cerita epic Ramayana.

             

2. Aksi Panggung Ucok Harahap & AKA

Para vokalis kugiran cadas era 70-an nya banyak dijuluki secara beragam oleh para penggemarnya dengan ulah panggung yang aneh-aneh seperti yang sering dibuat oleh Ucok Harahap dengan predikat Alice Cooper yang sudah melekat padanya dimana dalam salah satu penampilanyang paling ”Gokil”nya  sewaktu dia beserta kugirannya AKA manggung di TIM pada tanggal 9-10 Novermber 1973 dimana Ucok cs tampil bersama kelompok cewek Gigi Girls dari Taiwan.Ucok tampil mengagetkan penonton dalam suatu atraksinya, sambil menyanyikan lagu Crazy Joe tiba-tiba dia menaiki pagar tembok theater terbuka TIM lalu berlari-lari diatas genting yang kemudian tahu-tahu  dia sudah muncul di panggung kembali bak orang kesurupan lalu dia dicambuk,diikat kakinya dan digantung  kemudian  ditikam oleh  seorang algojo serta dimasukan ke peti mati, atraksi ini sontak mendapat sambutan yang sangat gegap gempita karena baru kali itu masyarakat Jakarta disuguhkan penampilan yang “Gokil” seperti itu tapi anehnya dibalik panggung Ucok nampaknya benar benar seperti orang kemasukan jin iprit penunggu pohon pohon besar yang masih merindangi TIM saat itu. Ucok mengelepar-gelepar bak ikan yang kepanasan didarat, untung saja saat itu ada Remy Silado (yang saat itu masih muda dan ganteng dengan rambutnya yang panjang terurai bak punggawa musik cadas pula) yang memang dengan pengalamannya yang luas Remy sudah faham akan segala hal yang berkaitan dalam dunia show biz dengan beragam trick dan ensofor-ensofor panggung lainnya yang mana dengan segera dia menyirami Ucok dengan seember air yang mana membuat Ucok gelagapan seperti orang kebingungan. Dalam salah satu aksi pertunjukan “euidyan” yang lainnya, Ucok beraksi sambil membawa lagu yang berjudul Sex Machine, dia seakan-akan kesurupan dan memperagakan adegan bersenggama dengan keyboardnya yang diasosiasikan sebagai pasangannya . Kemudian dia keluar dari panggung, memanjat tembok dan ke atas genteng. Ketika muncul lagi di pentas, ia langsung membuka baju. Membiarkan dirinya “dihajar” dua algojo, kakinya diikat dan digantung. Setelah “ditusuk” dengan pedang, dia dimasukkan ke dalam peti mati.  Di era 70-an Ucok Harahap tercatat sebagai vokalis musik cadas  yang paling “Gokil” atraksi panggungnya dan selalu mengundang sensasi serta kegaduhan namun para penontonya sungguh sangat menikmati akan aksi-nya. Maka tidaklah salah bila Ucok diberi predikat Alice Cooper Van Surabaya.

  1. 3.     Aksi Panggung Arthur Kaunang & SAS

Diwaktu sedang jaya-jayanya SAS , dunia panggung nyaris dikuasai oleh mereka semua, volume pementasannya nyaris  sama  banyaknya  dengan  pementasan  Superkid, dari  mulai  Surabaya,  Malang, Yogyakarta, Solo, Jakarta hingga pelosok-pelosok yang terpencil di Indonesia menjadi demam SAS . Malang yang dikenal sebagai kota yang sangat kritis dan sangar  terhadap setiap pertunjukan musik cadas namun ternyata tidak selamanya pertunjukan musik cadas  disana akan berakhir dengan aksi pelemparan batu kayu maupun sendal dari penonton disana, mereka sangat obyektif dalam menilai kualitas musik dan penampilan kugiran cadas yang datang kesana. Sewaktu SAS melakukan pertunjukan di kota tersebut ternyata sambutan kaula muda disana berbeda tidak ada satu butir pun kerikil atau sandal dan batu yang terbang melayang ke atas panggung.

Mungkin para penonton merasa kagum dan segan dengan wibawa dan permainan SAS yang hebat itu disamping penguasaan mereka akan lagu-lagu ELP yang nyaris sempurna oleh karenanya tidak ada alasan bagi arek-arek malang itu untuk membuat kegaduhan bahkan setiap lagu yang dimainkan selalu mendapat sambutan yang membahana. Sebagaimana hal yang sama terjadi pada Kockpit di era 80-an yang mana mereka sangat dielu-elukan disana.Gaya gebukan Syeh Abidin yang mantab, petikan gitar Sunatha Tandjung yang melengking mulus sempurna dan betotan bass yang garang serta permainan keyboard yang brutal dari Arthur Kaunang membuat SAS menjadi salah satu kugiran cadas yang paling disanjung dan dihormati di kota Malang dan mereka pantas disejajarkan dengan God Bless, Rollies,Superkid dan Giant Step.

Arthur Kaunang: Keyboardist yang paling sangar aksi panggungnya


Salah satu kelebihan SAS adalah mereka sangat menguasai  blocking  panggung  walaupun hanya dengan tiga personel, Arthur dengan postur tubuh seperti wong londo dengan rambut panjang yang nyaris sepinggang itu biasa membuat para penonton menjadi histeris dengan permainan solo keyboardnya dimana dia begitu  garang  di   panggung sampai terkadang dia bergelintingan dilantai sambil memainkan  bass guitar atau menjungkirbalikan keyboardnya dan dimainkannya dilantai panggung serta kadang -kadang  keyboard-nya  itu dibuat seperti kuda yang dia jepit dengan kedua belah pahanya.Organ Farfiza, Hammond dan Yamaha yang dimainkan oleh Arthur nyaris selalu dijungkirbalikan dilantai panggung  olehnya!, namun karena itu merupakan bagian daripada sensasi SAS yang paling digemari penonton maka Arthur terus memainkan atraksinya itu!.

Belum lagi Tuan Syeh yang satu ini dia begitu mantab  dalam menggebuk deretan drum set dan cymbal serta hentakan kedua kakinya pada double bass drumnya. Atraksi yang paling membuat surprise penonton manakala Syeh beranjak dari deretan drum set yang mengelilinginya dan langsung menggantikan Arthur bermain bass terutama dalam lagi From The Beginning .Sunatha juga tidak kalah hebatnya dia sering memainkan guitarnya sambil memutar-mutarnya di udara sehingga menciptakan raungan yang memekakan telinga melengkapi kedahsyatan permainan Trio Rock handal itu. Pertengahan tahun70an hingga penghujungnya benar-benar merupakan ‘Golden Era’ untuk Super Trio Progressive dari kota Buaya itu.

Hujan Batu

Namun diantara kesuksesannya, SAS pun pernah juga mengalami nasib na’as yang sebenarnya bersifat non musikal seperti ketika pertunjukan musik perdana mereka di Taman Ria Monas pada pertengahan Februari 1976, dimana mereka mengalami sedikit kekacauan karena gangguan listrik yang kurang diantisipasi oleh fihak Taman Ria Monas sebagai penyelenggara karna sejak kedatangan Deep Purple di Senayan, SAS memang telah membuat  revolusi baik dalam sound system maupun lighting mini ala Deep Purle walapun kapasitasnya baru pada tingkat belasan ribu watts yang mana jelas membutuhkan daya listrik yang extra saat itu.

Ketika kelompok ini memainkan lagunya yang kedelapan, yaitu lagu milik kugiran musik Deep Purple, tiba-tiba listrik mati. Akibat dari adanya gangguan listrik tersebut maka pertunjukan musik SAS tidak bisa dilanjutkan dan penonton merasa kecewa dan marah pada penyelenggara yang kemudian melampiaskannya dengan melemparkan batu-batu dan sandal serta apa saja yang bisa dilempar ke arah panggung, sehingga membuat beberapa peralatan musik SAS rusak.

Kerusuhan penonton juga terjadi di Surabaya, tepatnya ketika SAS melakukan pertunjukan di kota tersebut. Kerusuhan itu bermula saat mereka baru memulai pertunjukannya selama satu jam dan tiba-tiba listrik mati. Gangguan listik ini mengakibatkan kugiran tersebut tidak bisa melanjutnya pertunjukkan musiknya. Penonton tidak bisa menerima keadaan yang terjadi dan melampiaskannya dengan melemparkan sandal, sepatu, batu-batu serta kayu ke arah panggung dan mengakibatkan kerusakan pada peralatan musik dan akibat pelemparan batu itu menimbulkan yang sangat besar saat itu.

  1. 4.     Aksi Mickey Michael Merkelbach & Kugiran Bentoel

 

Mickey Bentoel

Munculnya Bentoel Rock Band di Malang pada tahun 1970-an yang mengorbitkan nama-nama rocker kelas wahid seperti Mickey Michael Merkelbach, Ian Antono, Teddy Sujaya yang mana membuat wadia balad cadas tanah air terbelalak. Mereka berdecak kagum dengan penampilan kugiran cadas dari kota Malang ini. Kugiran cadas dengan vokalis andalannya Mickey Michael Merkelbach ini sudah terbiasa meneriakan lagu- lagu cadas milik Rolling Stones, Led Zeppelin dan Deep Purple dengan melodi yang lebih garang. Mickey sendiri adalah rocker blasteran  Sukabumi dan Jerman.

Kugiran cadas Bentoel saat itu merupakan salah satu kugiran yang  hebat untuk ukuran Indonesia dan banyak show telah mereka lakukan dan yang lebih mengangkat nama kelompok ini adalah penampilan vokalisnya Mickey Michael Merkelbach yang seringkali berlaku aneh yang berbau horor dan sadis, gaya panggungnya mirip seperti Mick Jagger sangat urakan  atau berlaku   seperti  Ozzy  Osbourne bahkan Alice Cooper. Kugiran cadas Bentoel adalah kugiran yang paling populer di kota Malang. Pada 1971-1973 mereka  yang sangat aktif melakukan tour ke berbagai kota di Indonesia. Pada akhir Agustus ’73 di Gelora Saparua ,Bandung, Bentoel (malahan saat itu, Ian Antono masih sebagai ‘drummer’ kugiran cadas asal Malang tersebut sebelum bergabung dengan God Bless pada tahun 1975) mereka sempat tampil bersama God Bless dan The Philosophy Gang of Harry Roesli pada acara pagelaran berlabel ‘Anti Narkotika’ di bandung, saat itu Denny Sabri yang dikenal sangat pelit dalam memberi pujian terhadap musisi cadas Tanah Air namun sempat pula terkagum-kagum dengan gaya Mickey Mikelbach dan memberi pujian pada Mickey sebagai seorang Super Star lokal yang kurang modal dikarenakan belum pernahnya dia tinggal diluar negeri seperti Achmad Albar yang mempunyai reputasi Internasional.

Mickey Mikelbach sang vokalis yang perawakannya tinggi besar merupakan perpaduan antara Mick Jagger dan Steve Tylor dalam aksinya bahkan lebih “uedyan” dari Ucok AKA. Seperti yang diperlihatkannya ketika tampil bersama Arista Birawa, ZB 101, dan penyanyi Filipina Victor Wood di Gelora Pancasila Surabaya tanggal 18 Februari 1973. Dalam pertunjukan itu, tanpa diketahui panitia Mickey mengeluarkan seekor kelinci dari sebuah tas di sudut panggung. Setelah mulutnya komat-komit seperti membaca mantra, Micky mengelus-elus kelinci itu, dibelai dan dicium, tetapi kemudian secara tiba-tiba kelincinya itu dicekiknya, kemudian dilempar dan ditikam dengan belati yang sudah dipersiapkan ke tubuh binatang malang itu. Darah kelinci pun muncrat dan    Mickey pun menghirupnya dan penonton terkejut. Berharap mendapat sambutan, Mickey malah menerima teriak berupa  kemarahan dari para penonton agar turun dari panggung.

Ketika itu juga aliran listrik ke peralatan musik di panggung dihentikan oleh panitia dan Mickey kugiran Bentoel diminta menghentikan penampilannya karena pertunjukan yang menegakkan bulu roma itu merupakan perbuatan yang mengarah kepada aksi sadisme dan dicaci maki serta dikutuk banyak orang sampai akhirnya mereka harus turun panggung.

Mickey yang biasa menampilkan aksi sadistis seperti yang tertulis di atas, maka dalam suatu pertunjukannya bersama band barunya Oegle Eyes di Taman Remaja Surabaya, ia tidak lagi menampilkan adegan menghisap darah binatang sebelumnya yang telah berhasil mengorbitkan namanya, seperti gaya suaranya yang tetap keras, hoby-nya bernyanyi sambil berjongkok-jongkok, main sodok stick mike serta berlengggang-lenggok, ditambah dengan demostrasi main kipas serta mengkibas-kibaskan rambut seperti halnya permainan kuda lumping.

Mickey Superstar Kebanggan Kota Malang

 

Nama kugiran cadas Bentoel bertambah terkenal oleh karenanya dan sewaktu Bentoel tampil di “Jakarta Fair 1974″, mereka dilirik God Bless yang sedang ancang-ancang mencari pengganti Nasution Bersaudara (Keenan Nasution (drum), Debby Nasution (keyboard) dan Oding Nasution (gitar).God Bless terkesima melihat permainan dua personel Bentoel Teddy Sujaya (drum) dan Ian Antono (gitar) ini. Tak lama berselang atas ajakanYockie yang saat itu bersama Sammi Zakaria yang tinggal di Malang merekapun bersedia direkrut untuk gabung ke God Bless dan setelah itu otomatis  Bentoel-pun sekarat apalagi  sponsor utamanya Pabrik rokok Bentoel menarik diri setelah Ian dan Teddy cabut, tanpa adanya sponsor tersebut maka kegiatan group ini pun praktis terhenti dan bubar!.

5. Aksi Soleh Sugiarto &  Kugiran  Freedom

Kikky, DaveTahuhey,Utte M Taher,J Sarwono dan Soleh Sugiarto Danaatmadja

Lain Mickey lain pula Soleh Sugiarto mascotnya Freedom dimana diantara kesuksesan penampilan panggungnya Soleh dan teman-temannya tidak urung pula kena protes. Pernah pula saat mereka tampil di Semarang pada bulan Mei 1974  dimana Soleh Sugiarto Danaatmadja sang vokalis yang malam itu mengenakan jubah putih sambil berlari-lari membawa obor, yang menyala nyala menyanyikan lagu berjudul La Ilaha Ilallah milik group Osibisa dari Ghana.Tembang ini dianggap membuat sensasi dan dan sontak memicu kehebohan saat itu.

Pasalnya para penonton menjadi marah dan protes dengan keberanian Soleh & Freedom membawakan lagu tersebut, karena dapat dikatakan inilah lagu pop pertama kali yang memakai kalimat ayat suci Alquran,  yang seharusnya dipergunakan untuk memuja dan memuji Allah & Rasul-Nya (dalam bahasa Arab) malah dinyanyikan dalam suasana pertunjukan musik cadas yang gegap-gempita penuh dengan jingkrak-jigkrak  hal jelas ini membangkitkan amarah para penonton karena saat itu walaupun mereka menyukai musik cadas tetapi mereka masih sangat religious dan tidak suka hal-hal yang bersifat sakral itu dibawa keatas panggung. Bahkan, para jurnalis dan pengamat musik Semarang saat itu ikut-ikutan berang dan menilai bahwa lirik-lirik lagu yang dibawakan Soleh tersebut tergolong ‘liar’ dan dianggap menghina Tuhan. Akibatnya, pihak berwajib melarang pemutaran lagu itu di seluruh radio-radio swasta di Jawa Tengah.

Begitu juga seperti yang terjadi dalam pertunjukan Pesta Musik Kemarau 75 di Bandung, nasib na’as-pun nyaris pula menimpa kugiran cadas kebanggaan kota Bandung ini yang mana karena mungkin kelewat lama dalam menyetem alat musik hingga membuat penonton menjadi tidak sabar dan hujan batu,sepatu dan sandal pun terjadi, salah satu sandal yang beterbangan itu ada pula yang nyangsrang di kepala Soleh, sang vokalis kugiran musik tersebut yang mana membuat anak-anak  Freedom terpaksa ngacir cari selamat !.

6. Aksi Panggung Jose Tobing & Freemen

Jose Tobing mascot kugaran Freemen ini memiliki aksi panggung yang sangat prima. Jose misalnya bisa menyanyi sambil berguling atau bernyanyi sambil disalib, melompat dan berlari, dimasukkan dalam peti mati seperti yang dilakukan oleh Ucok Harahap dari AKA.Vokalis Freemen ini dalam melakukan aksi-aksi teatrikal di atas panggung  ditopang pula oleh Ujang sang bassist nyentrik idola anak-anak Medan waktu itu selain the best, tongkrongannya yang tinggi seperti Londo dan berkulit cerah serta aksi panggungnya tidak membosankan dan Ujang-pun sering bertelanjang kaki bahkan kadang bakar-bakaran sapu bila beraksi di atas panggung dan hal ini adalah menjadi salah satu gaya tarik dari kugiran cadas Medan satu ini disamping itu, Boss Freemen, John Leo, yang lebih dikenal dengan sebutan Ta Long sangat mahir mengutak- atik peralatan listrik dan sound system  guna untuk dapat meningkatkan kekuatan sound system  kugiran asuhannya akibatnya ketika Freemen manggung, suara musiknya menggelegar dan membuat  ciut nyali kugiran saingannya.

.Freemen pernah pula tampil sepanggung dengan AKA di Stadion Teladan Medan pada tanggal 3 dan 9 Agustus 1974. Mereka tampil all out untuk mendapat simpati dan perhatian penonton dan  anak-anak Freemen memang boleh kita saluti karena walapun menyandang predikat band lokal tapi mereka punya nyali gede meskipun bersanding satu panggung  dengan  kugiran super sekelas AKA. Dikurun waktu  tahun 1974-1975 Freemen merupakan kugiran cadas perkasa yang disegani oleh para saingannya.

7. Aksi  Guntur Simatupang &  Kugiran  Destroyer

Destroyer, kugiran cadas satu ini memang nyaris sama dengan Freemen kugirannya Jose Tobing yang mengandalkan aksi-aksi panggung yang menegangkan merupakan group yang didanai oleh Pemerintah Daerah Sumatera Utara dan merupakan salah satu kugiran yang disegani di Medan karena kehebatan sang vokalisnya Guntur Simatupang yang memang mempunyai kelebihan dalam stage act maupun olah vokal  yang pantas diacungi jempol dimana semua remaja di seantero Medan tidak akan  tidak kenal dengan nama Guntur Simatupang yang kerap berjungkir balik diatas panggung itu. 

Saat itu Guntur dijuluki Alice Cooper dari Medan. Banyak aksi panggung Guntur Simatupang yang membikin penonton gelagapan. Suatu sa’at dia pernah menaiki tangga sampai ke atas dan memukul lonceng yang ditaruh di atas dengan keras sekali hingga menggetarkan telinga para penonton. Destroyer juga terkadang mempertunjukkan atraksi bakar kemenyan yang diiringi oleh lagu-lagu seram semacam upacara orang-orang yang masih primitif.

Guntur Simatupang beranggapan justru dengan melakukan atraksi-atraksi yang aneh itu, groupnya dapat menanjak dengan pesat dan dikagumi oleh anak-anak muda  Medan yang memang terkenal sangat kritis dan nyaris radikal. Dalam soal kreasi Guntur Simatupang merupakan orang yang tidak pernah puas, oleh karena itu dalam setiap pertunjukan musiknya, ia selalu berusaha membuat segala keanehan-keanehan dan melakukan aksi adegan teatrikal.

Destroyers malang melintang tanpa sedikitpun ciut nyali menghadapi  pesaingnya seperti;Great Session, Freemen, The Rhythm Kings, Minstrel’s dll bahkan dengan God Bless .Destroyer juga terkadang mempertunjukkan atraksi bakar kemenyan yang diiringi oleh lagu-lagu seram semacam upacara orang-orang yang masih primitive. Sehingga pernah terjadi pelarangan terhadap Guntur  pada aksi panggungnya di Medan dia dilarang tampil oleh pihak keamanan. Pelarangan ini dilakukan karena pihak keamanan takut gaya panggungnya akan dicontoh oleh kalangan kaum muda di Medan.

 Guntur pernah bernyanyi dengan cara digantung; dia memanjat ke atap panggung, kemudian kakinya digantung di atas atap panggung sementara kepalanya menjulur ke bawah. Selain itu ia juga pernah membawa ke atas panggung empat puluh ekor ular yang ditangkapnya sendiri dari parit-parit sekitar pinggiran kota Medan dan hal itu telah menjadi kebiasaan dalam pertunjukan musiknya. Guntur selalu melakukan atraksi pertunjukan dengan melibatkan ular-ular tangkapannya di atas panggung. dan ular-ular yang sering dipakai oleh Guntur Simatupang dalam atraksinya dianggap membahayakan keamanan para penonton yang dikhawarirkan salah satu binatang berisa itu memangsa penonton khususnya penonton di bagian depan.

Selain itu ada pula satu hal yang telah menjadi kebiasaan dalam pertunjukan musiknya. Karena ulahnya yang aneh-aneh saat itu Guntur lantas oleh para remaja Medan  dijuluki Alice Cooper dari Medan. Pada waktu memeriahkan Festival underground di Yogyakarta Guntur menaiki tangga sampai ke atas dan memukul lonceng yang ditaruh di atas dengan keras sekali hingga menggetarkan telinga para penonton. Destroyer juga terkadang mempertunjukkan atraksi bakar kemenyan yang diiringi oleh lagu-lagu seram semacam upacara orang-orang yang masih primitif. Memang saat itu Guntur lain dari  yang lain!.

Guntur Simatupang;Ular Python pun Dibawanya Pula Keatas Pentas

8. Aksi Panggung Bernard Parnadi & Group Ternchem

               Bernard vokalis dari kugiran cadas ini berekpresi seperti orang kesurupan di atas pentas musiknya. Kugiran Ternchem dari Solo ini  terkenal juga karena aksi panggung pertunjukannya yang mempertunjukkan ular, api, dan peti mati. Dalam satu pertunjukannya di Malang Ternchem membawakan suguhan lagu berjudul Into The Fire dari Deep Purple yang dibawakan dengan versi Bernard sang vokalis. Dia muncul dengan keadaan kepala terbakar. Nyala api ini terus berlangsung hingga ke akhir babak pertama yang puncak dari babak ini adalah adegan bunuh diri Bernard yang kemudian dimasukkan dalam peti mati dengan diiringan lagu dari Rolling Stone yang berjudul Coming Down Again. Namun demikian Terncem masih menyisakan atraksi yang lebih istimewa lagi.

Dalam pemunculan babak kedua yang dilalui tanpa setegang babak pertama, vokalis Bernard yang didampingi seekor ular dalam lagunya yang terakhir, sempat merogoh uang saku, dan dihamburkan lembaran-lembaran uang ratusan dan lima puluhan yang merupakan uang sisa honor mereka. Gaya pertunjukan panggung grup Ternchem dikenal mengambil gaya panggung Alice Cooper, yang melengkapi penampilannya dengan atraksi bermain ular serta masuk peti mati ditutupi bendera Amerika Serikat. Aksi teatrikal kugiran musik ini juga dilakukan ketika mereka pentas di Palembang dan Malang tahun 1974.

Bernard Dengan Aksinya


 dimana Onny dari Ternchem dalam suatu pertunjukannya di Semarang bernyanyi dengan berani dan eksentrik, menggambarkan orang yang sedang masturbasi, bersenggema dengan berdiri !.

Pertunjukan dengan memakai ular, api, dan peti mati masih diperlihatkan Ternchem pada pertunjukan Musical Show Penutup Tahun 1972. Dalam satu pertunjukannya di gedung Gelora Pancasila Surabaya Juni 1974, Ternchem yang biasanya menyuguhkan atraksi pertunjukan panggung dengan peti mati untuk kali ini tidak bisa menampilkan atraksi tersebut karena ada gangguan teknik dari alat-alat.

9. Aksi Panggung Joe Santos & Fanny’s Group

The Fanny’s Group ini memang mempunyai PDOD di atas panggung mereka sering menyanyikan musik-musik keras, kugiran yang digawangi oleh Joe Santos alias Joko Santoso,Tugi Wiyono (organ),Alex Soeharso(lead guitar),Yunarto (drum),Andhi Siksanto (bass), Yoyok B Hartono (rhythm I), Juwoto Sunanto (rhythm II), The Fanny’s band adalah  kugiran cadas yang paling terkenal dari kota Semarang. Kugiran ini didirikan pada akhir tahun 1968. Pada awal pemunculannya The Fanny’s Group nyaris banyak mendulang kritik dari masyarakat bahkan yang berwajib sering pula memberi peringatan.Kugiran cadas satu ini walaupun sering pula membawakan lagu-lagu cengeng bahkan dangdut namun mereka mempunyai aksi panggung yang “gokil” pula hal ini dibuktikan sewktu mereka ikut memeriahkan  Jambore Band Se-Jateng di Semarang.Aksi pertunjukan teatrikal Fanny’s Group juga ditampilkan lagi ketika mereka pentas di Yogyakarta bersama group Ambisi awal Oktober 1975.

Dalam aksinya Joe Santos dan The Fanny’s Group-nya sering menyuguhkan kepada penonton adegan adegan usungan mayat menyerupai wujud drakula yang begitu sampai di hadapan penonton, mayat tersebut bangun dan bernyanyi. Menjelang akhir lagu, satu adegan lagi sang drakula ditusuk secara mendadak dengan sebilah pisau panjang oleh Yanto. Gaya yang lain yang disuguhkan oleh Fanny’s Group  untuk lebih menarik para penonton,Joe Santos  sang vokalis begitu “uedyan”nya dalam membawakan sebuah lagu sampai-sampai baju putih yang sudah dipersiapkan sedemikian rupa itu dirobekkan sampai lumat perilakunya di pentas bak orang yang sedang kerasukan “jin iprit” disamping itu diapun gemar pula  mencorang moreng  badan dan mukanya  ala hippies.

Mereka bak hippies yang saat itu masih tidak disukai oleh sebagian besar masyarakat di Indonesia tapi gaya anehnya mereka itu justru digemari oleh anak anak muda Semarang saat itu.Band ini pada tahun 1977 pernah sempat juga tampil sepanggung dengan Giant Step dan Jam Session bersama diatas panggung yang mana mendapatkan sambutan hangat dari penonton.

10. Aksi Panggung Deddy Stanzah & Superkid

Memang tidak dapat disangkal setiap personil Superkid memiliki kemampuan diatas rata rata hingga pantas mereka disebut Superkid!. Deddy Stanzah showmanship-nya sangat mengagumkan dia dapat berkomunikasi dengan penonton dengan menggunakan yel-yel bahasa Inggris yang sangat fasih nyaris seperti bule  yang mana disambut oleh para penonton dengan kata-kata “Yes,Yes, Kemon ..Tancap Ded ! ” ungkap mereka dengan rasa tidak sabar mendengarkan coletahnya Deddy Stanzah yang menggunakan bahasa Inggris terus dimana sebagian anak anak muda saat itu tidak faham akan artinya. Deddy Dores yang sangat hidup stage act- nya baik waktu bermain guitar maupun keyboard apalagi dengan hadirnya Gito Rollies sebagai bintang tamu yang menyanyikan  lagu Rock ‘n Rock Bird  berduet dengan Deddy Stanzah membuat penonton menjadi histeris.

Deddy Dores, Blackmore Van Java !

Atraksi yang menjadi trademark-nya Superkid adalah hampir disetiap pertunjukannya mereka memulai dengan menembakan dry ice ke drum set-nya Jelly Tobing disusul dengan tembakan lampu warna warni dari lighting system yang apik disertai dengan  kepalan tangan yang disilangkan oleh Deddy Stanzah untuk menyapa penonton dengan bahasa Inggris yang fasih.

Pada kurun waktu 1976-1977 benar benar merupakan era keemasan Superkid, dimana-mana para remaja di seantero Indonesia terkena wabah Superkid apalagi di Bandung dan Jawa Barat serta Jakarta.Mereka menjadi sangat penasaran untuk menyaksikan penampilan kugiran garapannya  Denny Sabri  yang penuh dengan sensasi itu.

Keunggulan utama Superkid ini memang terletak pada gaya panggung Deddy Stanzah yang memikat disamping accent Inggrisnya yang nyaris seperti bule belum lagi gaya main gitar Deddy Dores yang dalam aksinya kerap menghantam guitar yang dimainkannya ke sound system hingga berantakan atau membanting-bantingnya hingga patah berkeping-keping belum lagi bila dia bersolo keyboard dimana Deddy menjungkir balikan keyboard dengan ganasnya model Keith Emerson hingga membuat penonton menjadi berteriak-teriak bahkan para gadis yang menonton menjerit-jerit histeris.

            Sedangkan Jelly tidak kalah “gokil”nya di setiap show Superkid dia selalu meng hamtamkan stick drum-nya kederetan drum yang mengelilinginya sampai stick itu patah- patah bahkan drum yang dia mainkan tidak jarang sampai jebol !. Diantara kesuksesan ada pula nasib na’as yang dialami Trio rock Bandung ini  seperti dalam pertunjukan yang dilakukan oleh  Superkid dan SAS.

Dalam konser ini sempat terjadi kekacauan, Superkid nyaris dilempari kayu  dari potongan- potongan kursi yang rusak. Kekacauan ini timbul karena penonton di bagian belakang tidak dapat lagi melihat wajah-wajah pemain dari Superkid. Dan saat na’as lainnya mereka alami pula umpamanya sewaktu show  perdana mereka di TIM pada tahun pertengahan tahun 1976 setelah menyanyikan lagu lagu hot lalu Deddy Stanzah dengan guitar akustik dan harmonikanya membawakan lagu “Just Once More” dimana jidatnya saat itu nyaris benjol kena timpukan para penonton yang tidak menyukai lagu yang dinyanyikan oleh Deddy yang sepertinya  mencla mencle yang bukan lagu  cadas  seperti yang inginkan kawula muda yang menonton malam itu.

Album-album Superkid yang yang banyak menggunakakan bahasa Inggris yaitu :

Trouble Maker dan Dezember Break. .Mereka memiliki lagu-lagu andalan yang sering mereka nyanyikan dipanggung antara lain: Trouble Maker, Sixty Years On, How, Blue Light City ,Futher In The Sea, I Saw Her Standing There, Southtern Woman, Foot Stomping Music,Tommy, Come back To Me, My Iggy, Living On The Jet Plane, Just Once More,  City of  Devil , People dll.

                            

11. Aksi  Panggung Vokalis Usuf Alwi & Kugiran Hooker Man

Inilah kugiran cadas dari Tanjung Priok yang dicukongi oleh Walikota Jakarta Utara  yang oleh banyak anak anak muda dan pengamat musik di pertengahan era 70-an disebut sebut sebagai specialist-nya Deep Purple.

             Kehandalan foramsi Hookerman jilid dua ini diuji pada bulan Agustus tahun 1976  kugiran yang diisi oleh mantan anak anakdari kugiran  X Ray ini terdiri dari Zali (guitar),Harry Minggus (bass), Djoni (drum),  Pungky (keyboard) dan  Usup Alwi (vocal )  yang mana walaupun suaranya tidak pernah sampai 4 oktaf namun gaya panggungnya asyik untuk dilihat bahkan nyaris mengundang gelak tawa penonton karena dia bernyanyi dan jingkrak jingkrak dipanggung dengan PD abis Malam itu Hookerman naik panggung sebagai  pendamping tour show perdana kugiran kelas wahid dari Bandung Superkid di TIM Jakarta dimana saat itu mereka tampil menakjubkan dengan kostum ala Queen mereka menggebrak TIM dengan membabat  lagu Burn-nya Deep Purple yang sontak mendapat tepuk tangan riuh dari penonton terutama ketika melihat gaya Usup Alwi sang vokalis yang tongkrongan dan tampangnya mirip bule nyaris seperti David Coverdale dimana pada  malam itu dia pede abizz dengan tampil all out  yang mana hal itu menimbulkan kelucuan tersendiri hingga para penonton banyak yang tertawa terbahak bahak(termasuk penulis) melihat aksi Usup yang nyaris tidak terkontrol itu namun nampaknya presepsi Usup berbeda, dia menganggap penonton tambah tertarik akan penampilannya itu  maka tambah “syur”lah dia beraksi di panggung Theatre Terbuka TIM tersebut tapi Usup masih tetap dapat sambutan meriah dari penonton yang  rata rata ingin menyaksikan pertunjukan perdana Superkid di TIM malam itu.

Saat na’as dialami oleh anak anak Priok ini dimana selepas sukses menyanyikan beberapa lagu Deep Purple malam itu,Usup Alwi sang vokalis memberitahukan penonton bahwa untuk lagu berikutnya adalah lagu yang berjudul “Sabun Maya” yang mana dia memasukan jari teluncuknya kedalam genggaman tangan kirinya yang maksudnya bermasturbasi  dan sontak penonton meresa jengah sehingga mereka berteriak teriak menyuruh Hookerman turun.Teriakan-teriakan itu kemudian meningkat menjadi tindakan-tindakan yang brutal dari penonton dimana batu,sepatu dan sandal beterbangan kearah Usup Alwi karena saat itu bagi anak anak muda Jakarta ungkapan itu masih dianggap tabu rock yes, pornography no !.

             Sesungguhnya Hookerman pantas di acungkan jempol karena kemampuan bermusik mereka sangat bagus belum lagi gaya Harry Minggus yang menarik dan mantab-nya permainan drum Djoni yang memang mantab dan asyik untuk dilihat serta dinikmati maka jadilah Hookerman sebagai band yang pantas dan patut diperhitungkan pada era pertengahan tahun 1970-an itu. Almarhum Denny Sabrie secara khusus pernah memuji mereka selepas mendampingi Superkid di TIM sebagai sebuah kugiran cadas  yang penuh semangat, berkali-kali Hookerman mendampingi God Bless dan Superkid sebagai  kugiran  pembuka di Theater Terbuka TIM pada awal dan pertengahan tahun 70’an. Yaya Muktyo pernah diajak membantu penampilan Hookerman walaupun bukan sebagai drummer tetap dia hanya diminta membantu Hookerman dalam shownya di Bandung dan TIM. Setelah itu Hookerman mengalami bongkar pasang kembali dan setelah itu Hookerman pun menghilang tanpa terdengar lagi beritanya, namun nama Usup Alwi, Zali, Djoni, Pungky  dan Harry Minggus masih tetap dikenang oleh para kawula muda era 1970-an terutama yang rajin datang ke Theater  Terbuka TIM untuk menonton pagelaran – pagelaran musik cadas saat itu.

12. Aksi Panggung Carel Simon & Golden Wing 

              Inilah kugiran cadas dari Palembang yang awalnya dicukong oleh sebuah pabrik kecap yang bernama “Tong Hong” di mana sang Boss membelikan  peralatan musik untuk Golden Wing dan merekrut Fit Kien dan Karel Cassidy alias Carel Simon yang mana dikemudian hari ternyata bernama Kasim Kasidi .Dalam suatu pertunjukan satu panggung dengan kugiran cadas dari Bandung Freedom Carel beratraksi seakan dia disalib diatas pentas dan atraksinya itu ternyata mendapat sambutan dari penonton Palembang yang didominasi oleh kaula muda dimana mereka merasa bangga memiliki kugiran lokal yang bisa menyaingi  kugiran super  dari kota kembang itu.

 

What Goes Up Must Come Down

             Itulah hukum alam yang berlaku, setelah berjaya sejak mulainya Orde Baru pada akhirnya toh musik cadas  di Tanah Air harus menerima kenyataan dimana di akhir tahun tujuhpuluhan para pengusung musik cadas harus legowo merelakan era kejayaan  mereka harus berakhir dengan munculnya era musik Disco dan New Wave di dunia dan Tanah Air sehingga musik cadas  nyaris hilang dan terlupakan.

Nama nama seperti Benny Soebardja,Albert Warnerin, Debby Nasution, Guntur Simatupang,Triawan Munaf, Sunatha Tanjung, Syeh Jefry Abidin,Iqbql Taher, Rizaldi Siagian, Joe Santos, Bernard Pirnadi dll para kampiun musik cadas era tujuhuluhan di Negeri ini nyaris tidak dikenal lagi oleh generasi masa kini. Sungguh sangat menyesakkan dada karena bila mereka ditanyakan tentang para penyanyi Barat dari mulai era tahun 60-an hingga 90-an mereka dengan serta merta  dan dengan fasihnya dapat menjawab dengan tepat … sebuah ironi memang!.

             Kini yang dikenal hanyalah tinggal Yockie Suryoprayogo saja atau Deddy Dores  saja namun mereka dikenal bukan sebagai sebagai kampiun musik cadas yang garang diatas panggung akan tetapi sebagai penyanyi dan pengarang lagu pop , kalaupun ada hanya tinggal Achmad Albar atau Donny Fatah  saja yang masih dikenal itu pun oleh para penggemar mereka saja (Godbless).

Di era tahun 2000-an ini nampaknya greget musik  cadas mulai timbul kembali dengan kembalinya para kugiran cadas dunia yang mengadakan reuni kembali seperti Asia,Genesis, Yes, UK, Triumvirat, King Crimson ELP dll  kondisi ini menyebabkan turun gunungnya para kampiun cadas era tujuhpuluhan dahulu  walaupun rambut, kumis atau pun janggut mereka sudah memutih akan tetapi mereka tetap bersemangat untuk menjaga eksistensi musik cadas & Prog di bumi persada tercinta ini dan ….memang nampaknya  Rock Will Never Die ,  Horas Inang !! (dari berbagai sumber)

Cream “Royal Albert Hall”

January 31, 2012

Kangen juga menikmati album live yang merupakan live concert selama empat hari di bulan Mei 2005 ini, meski sebatas menikmati MP3 yang saya rip dari CD koleksi pribadi ini. Performancenya bener2 luar biasa bagusnya, dan kompak mainnya meski sudah gaek semua. Lagu2 klasik Cream mereka bawakan dengan penuh energi sehingga tak bosan menikmatinya. Mulai dari track pembuka “I’m so Glad” dan berakhir dengan “Sunshine of Your Love” semuanya dibawakan secara apik. Pokoknya gak nyangka dah, mereka masih bisa reuni dan menyajikan musik yang solid banget. Belum lagi kualitas rekamannya yang bener2 prima!

Masalahnya:

Perlukah koleksi antik yang masih mulus ini saya lego juga? Rasanya CD ini cuman saya setel 1x aja dan selebihnya saya nikmati via MP3 aja. Jewel casenya masih mulus tanpa goresan sedikitpun. Flip package-nya pun masih ada plastiknya …. Wis …pokoke mulus pol jèk!!!!

Bila mengingat kaidahnya, ini memang layaknya dijokul karena musiknya tergolong non-prog. Tapi kok sayang ya…… Piye iki???

Semoga temen2ku yang baik dan gemblunk di blogg ini bisa memberi pencerahan…..

Jrèng!!!

Salam,
G

Grand Funk Railroad “Trunk of Funk Box Set”

January 28, 2012

Ini koleksi khusus dan “mungkin” sangat jarang yang punya karena unik. Waktu beli sih isinya 4 CD (album) plus 8 alur di dalam kotak untuk menyimpan album2 selanjutnya. Secara kaidah perampingan koleksi sebenernya ini jelas bukan prog. Namun, perlukah dilepas? Big question mark….

Koleksi pribadi yang jarang disentuh, cuman dibuat pajangan saja di rak koleksi. Semua isinya masih lengkap dan mulus kayak kaki meja gituh!

Prentilan di dalam kotak pun masih lengkap ... termasuk guitar pick nya Mark Farner .. Opo ra top jal?!

Aslinya waktu beli cumak ada 4 album pertama aja. Tapi sekarang udah kumplitlah ... Gren Pang gitu loh! Sebagai insan 70an mosok ra nduwe kumplit to? Ngisin-ngisini tenan! Kotak kecil di sebelah kanan itu tempat nyimpen printilan kek kacamata 3D ...(bukan kacamata wanita!)

Kuncinya masih berfungsi dengan baik ..lha wong barang koleksi jal!

Tracklist

On Time
1-1 Are You Ready
1-2 Anybody’s Answer
1-3 Time Machine
1-4 High On A Horse
1-5 T.N.U.C.
1-6 Into The Sun
1-7 Heartbreaker
1-8 Call Yourself A Man
1-9 Can’t Be Too Long
1-10 Ups And Downs
1-11 High On A Horse (Original Version)
1-12 Heartbreaker (Original Version)
Grand Funk
2-1 Got This Thing On The Move
2-2 Please Don’t Worry
2-3 High Falootin’ Woman
2-4 Mr. Limousine Driver
2-5 In Need
2-6 Winter And My Soul
2-7 Paranoid
2-8 Inside Looking Out
2-9 Nothing Is The Same (Demo)
2-10 Mr. Limousine Driver (Extended Version)
Closer To Home
3-1 Sin’s A Good Man’s Brother
3-2 Aimless Lady
3-3 Nothing Is The Same
3-4 Mean Mistreater
3-5 Get It Together
3-6 I Don’t Have To Sing The Blues
3-7 Hooked On Love
3-8 I’m Your Captain
3-9 Mean Mistreater (Alternate Mix)
3-10 In Need (Live)
3-11 Heartbreaker (Live)
3-12 Mean Mistreater (Live)
Live Album
4-1 Introduction
4-2 Are You Ready
4-3 Paranoid
4-4 In Need
4-5 Heartbreaker
4-6 Words Of Wisdom
4-7 Mean Mistreater
4-8 Mark Say’s Alright
4-9 T.N.U.C.
4-10 Inside Looking Out
4-11 Into The Sun

Notes

4 CD box set (comes with space for 12 jewel cases), just in case you want to get the other 8….

Ini reviewnya dari ALLMUSIC:

Review

by Greg Prato

Grand Funk Railroad has certainly had their fare share of compilations released over the years — tops being the career-encompassing three-disc set from 1999, Thirty Years of Funk. But for longtime Grand Funk fans looking to replace their vinyl with remastered CDs, 2002’s Trunk of Funk is a good way to start. Included are the group’s first four albums — their 1969 debut, On Time, and their 1970 trio of releases (something that is unheard of nowadays by modern rock bands), Grand Funk, Closer to Home, and Live Album — plus previously unreleased tracks. And for those planning on purchasing the other remastered Grand Funk CDs (which were released during the ensuing year), the folks at Capitol were kind enough to leave just the right amount of empty spaces in the case. Although Grand Funk was to enjoy their biggest commercial success a few years down the line (1973’s We’re an American Band), it’s the group’s early era that is often considered its peak by the headbanging crowd. And it’s easy to understand why after hearing the Black Sabbath-esque “Sin’s a Good Man’s Brother,” the turbo-charged “Are You Ready,” and the drum solo showcase “T.N.U.C.” If you’re still unsure about this set (which was limited edition — only 10,000 copies manufactured worldwide), here’s a special bit that may finally convince you — the inclusion of a pair of Shinin’ On 3-D glasses.

Steve Howe “Turbulence”

January 28, 2012

By Hardani Kristanto

Saya inget betul beli kaset ini di Duta Suara Sabang, tanya kenapa ?

1. Karena satu2nya kaset impor yang pernah saya beli, sekitar awal 1990-an, waktu itu seharga Rp.12,000 sementara kaset2 lainnya di sekitaran 7000-an.

2. Salah satu kaset terakhir yang saya beli sebelum bertransformasi ke cakram CD impor (belinya sih juga di jalan Sabang). 

Dulu biasanya saya ke Duta Suara, naik metromini P-27 dari Setiabudi (kos2-an) dan turun persis di depan toko nuansamatik tersebut. Saya inget juga kalau di lantai 2 toko tersebut waktu itu penuh dengan rak2 berisi CD, sementara kaset dapat porsi menempati lantai bawah. Saya belum tertarik beli CD waktu itu, karena selain harganya termasuk masih mahal buat ukuran orang yang masih baru bekerja, juga belum punya CD playernya, hehehe …

Suatu ketika, temen kos yang kerja di Philips, Wajyu, nawarin campaign CD player di kantornya dan dapat diskon 40% karena karyawan, dan akhirnya saya terpaksa nguras tabungan untuk bisa beli player seharga 1,250,000 setelah diskon. Setelah punya CD player tersebut saya mulai tertarik membeli CD2 karena memang suaranya lebih jernih dan mantap, selain mudah scanning lagu yang dimaui. CD2 pertama yang aku beli adalah Marillion, Rush dan Pink Floyd, saya gak berani ambil resiko beli CD yg mahal untuk artis bahkan album2 baru yang belum saya kenal. Jadi apa referensinya waktu beli CD2 tersebut ? Ya kaset2 yang kebetulan sudah punya dan hapal lagu2nya, rekaman Yess lagi, hehehe … Singkat cerita, kartu kredit Citibank visa dan master-lah yang jadi sarana pelampiasan nafsu beli CD, sampai2 baru bisa saya tutup kartu2 tersebut sekitar akhir 90-an waktu alhamdulillah dapat bonus 2 bulan gaji di kantor, huahahaha ternyata koleksi CD saya banyak yang kreditan … KPR, KPM sih mahfum, lha ini KPC yang bukan Kaltim Prima Coal, tapi Kredit Pemilikan Compact disc …..

Lho lho, kok jadi ngomongin yang lain, padahal judul tulisannya aja tentang kaset ? Yo ben lah, sing penting masih ngomongin musik di blog gwmusic yang kata si empunya biar gemblunk tapi artistik dan nuansamatik kemlitik …

Kembali ke kasetnya gitaris Yes, Asia, GTR dan entah apalagi ini … Album ke-3 Steve Howe ini (sepertinya gak ada rilisan Yess-nya deh, soalnya rilis tahun 1991) covernya juga di desain oleh Roger Dean, dan yang pasti full instrumental, gak pakai acara vocal2an segala …

Track listingnya:

  1. “Turbulence” – 4:57
  2. “Hint Hint” – 3:28
  3. “Running the Human Race” – 4:23
  4. “The Inner Battle” – 3:32
  5. “Novalis” – 2:25
  6. “Fine Line” (Howe, Ocasek) – 3:25
  7. “Sensitive Chaos” – 4:25
  8. “Corkscrew” – 3:56
  9. “While Rome’s Burning” – 4:25
  10. “From a Place Where Time Runs Slow” – 3:43

Musisi pendukungnya:

(Moga2 copy paste-nya dari Wiki tetap kebaca nih …)
Nomor2 dari album yang sampai sekarang masih saya tunggu CD remaster-nya ini, boleh dibilang sangat dinamis, rancak, driving power dan tentunya tetap bernuansa progressive. Gak percaya ? Beli aja albumnya atau donlod …
Lagu jagoan saya “Fine Line”, “Corkscrew”, dan tentunya “Turbulence”. Wis pokoke mantap surantap lah album iki …
Dari daftar musisi yang ada, bisa jadi jaminan kalau album ini pantas ditengok. Selain Steve dan Bill Brufford, ada juga si Billy Currie yang ex- Ultravox (sekali lagi katanya mbah Wiki lho …)
Have a good weekend …

Perlukah Saya Melego Koleksi Blind Guardian?

January 27, 2012

Whooooaaaaaaa…..!!!!! Ampuuuuuuuun …….!!!

Belum apa-apa saya kok mendapat teror SMS-SMS dahzyat yang menanyakan kapan koleksi CD Blind Guardian saya lepas. Waduh ….. Jujur aja saya sebenarnya masih ragu apakah ini akan saya lepas atau tidak meski saya pernah “keprucut” (Astaghfirullah!) ngomong akan melepasnya. Tapi kok ya eman-eman to? Soalnya gini lho:

  1. Musik BG itu tergolong unik meski masuk dalam ranah power metal dengan sentuhan dikit di prog juga. Namun tetep aja menurut saya lebih ke power metal. Namun jangan salah lho, power metal yang gimana? Kalau lihat ‘jeg-e-jeg”nya sih ya pasti Anda setuju bahwa ini mah jelas “metal”. Namun coba Anda pikirkan lebih jauh lagi musiknya secara komprehensif …. Ada elemen apa yang menarik dari musik BG? Kalau di Rhapsody of Fire kelihatan kekhasan musiknya pada gitar solo Luca Turili yang suaranya kayak “laler” ijo itu, plus orkestrasinya yang mantab (coba simak album keduanya ‘Symphony of Enchanted Land’ nan perkasa itu. Nah …kalau BG menurut saya justru di vokalnya yang unik. Keunikannya dimana? Pada gaya nyanyinya yang penuh aksentuasi dan melodinya sejalan dengan musik yang mengiringi. Vokal seperti ini cocoknya buat bikin opera. Kebayang gak rock operanya Harry Roesli diaransir ulang oleh Blind Guardian ….whoooaaa…….dijamin kueren gemuren tuwenaaaaan ….!!! Tapi tentu gak hanya vokal yang bagus, namun memang komposisinya bulet banget dah. Ini band memang hebat!
  2. Album konsepnya bertajuk Nightfall on Middle-Earth yang pernah saya bahas di blog gemblunk tanpa tujuan jelas ini juga bisa dianggap MASTERPIECE. Gak tanggung2 …saya berani memberi review BINTANG LIMA bahkan mungkin sejajar dengan The Lamb Lies Down on Broadway tapi dalam ranah power metal. Wuiiih …..!!! ALbum ini conceptually brilliant! Pertama punya kasetnya (bukan rekaman Yess) trus beli CDnya ….. Huwebatttss!!! Yang gak setuju album ini mendapat bintang lima, maka hidupnya akan dilanda kecemasan luar biasa karena berselisih pendapat dengan saya … ha ha ha ha ha ha ha ….. Ojok percoyo rek! Wong dasare blog iki gemblunk, ora usah percoyo kamek omonganku … Soale kabeh nggladrah pol!

Dengan hanya dua fakat di atas, bantulah saya menjawab the following strategic question:

Perlukah saya melego koleksi Blind Guardian?

Mohon pencerahannya ….

JRENG!

Salam,

G

—–

Studio Album, released in 1998

Songs / Tracks Listing

1. War of Wrath (1:50)
2. Into the Storm (4:24)
3. Lammoth (0:28)
4. Nightfall (5:34)
5. The Minstrel (0:32)
6. The Curse of Feanor (5:41)
7. Captured (0:26)
8. Blood Tears (5:25)
9. Mirror Mirror (5:06)
10. Face the Truth (0:24)
11. Noldor (Dead Winter Reigns) (6:51)
12. Battle of Sudden Flame (0:44)
13. Time Stands Still (At the Iron Hill) (4:53)
14. The Dark Elf (0:23)
15. Thorn (6:19)
16. The Eldar (3:39)
17. Nom the Wise (0:33)
18. When Sorrow Sang (4:25)
19. Out on the Water (0:44)
20. The Steadfast (0:21)
21. A Dark Passage (6:01)
22. Final Chapter (Thus Ends…) (0:48)

Total Time: 65:31

Lyrics

Search BLIND GUARDIAN Nightfall in Middle-Earth lyrics

Music tabs (tablatures)

Search BLIND GUARDIAN Nightfall in Middle-Earth tabs

Line-up / Musicians

- Hansi Kürsch / vocals
- André Olbrich / guitars, vocals
- “Magnus” Armin Siepen / guitars, vocals
- Thomen “The Omen” Stauch / drums
- Oliver Holzwarth / bass

Releases information

Copyright and Produced 1998 by Virgin Schallplatten GmbH 724384593926.

 

Review by Gatot
SPECIAL COLLABORATOR Honorary Collaborator

5 stars I owned this album long time ago – it’s probably three years ago – through my metal head friend, Hengky, who was a big fan of the band. Hearing the band’s name, I was not interested at all because I thought that this must be a true metal band full of distortions and heavy riffs. But when I saw this album in the form of cassette displayed at one of local CD stores, I purchased it anyway – to give a try and proved what Hengky advised me. In typical gathering, it’s usual that we – all friends who love metal, classic rock, prog rock – influence one to another for certain band’s music. Usually I was only interested with those related to classic rock or prog rock. So when I knew that Blind Guradian was pigeon-holed as power metal band, I was not too keen to explore further.But from the cassette of “Nightfall in Middle Earth” I can grab the nuance and style of the music even though the sonic quality of the cassette was not that good. So, after I had the cassette for a couple of months, finally I purchased the CD as well. BOOM! With CD format I could get the subtleties (not just the nuance!) of the music this album produces. It’s so wonderful and I did enjoy it very much. By then I kept repeating to spin the CD over and over in its entirety. That’s the beauty of this album: it should be enjoyed in its entirety because the music tells a continuous story – without having to know what the story is all about.

As human being, there is a tendency to review or evaluate something by making a reference to something else. So, when I listen to this album I made a reference to other music and since this is a concept album based on JRR Tolkien’s Silmarillion, I don’t know why, out of the blue the “The Lamb Lies Down on Broadway” by Genesis come into my mind. You might be wondeting WHY The Lamb? Isn’t totally different kind of music? How can you compare such legendary album by the seniors of prog music with the kids in Blind Guardian? Hold your thoughts for a second!

I have grown myself with such old school legendary prog bands like Genesis, Yes and the like. I adore them and as far as Genesis concern, The Lamb Lies Down is the band’s best album throughout their entire music career. I know, the album was created when the band was in shaky situation when Peter Gabriel tendered his resignation to pursue a solo career. But the music created was so wonderful. Even though the story was quite absurd and there were many different kind of interpretations to the lyrics, but the music sounds like telling a coherent story. I still love the album until now!

So,

Is Nightfall as BIG as The Lamb?

Well, it depends .

If you are a die hard fan of old school prog music, you might say that the music that was created after the glory days of 70s is a repetition of what it was made in the 70s. And, it’s nothing wrong with that. I understand your situation and I respect it. There were strong elements of old prog music that are repeated in nowadays prog music. You might feel there is no new invention, musically, that the modern music delivers. I have a lot of friends who have this opinion firmly and they dare to say outloud that they hate what Marillion had done in 80s because it’s a rip off Genesis. Some of my friends even say that metal music is nonsense because there is no harmony, it’s just making LOUD music – that’s it. Even some of them say that Dream Theater and progressive metal music are not good at all – so boring. Well, are you in this box? If so, you should not own this album by Blind Guardian.

But, It’s not the case with me. Yes, I’m an adorer of old school prog – I even sometimes had tears in my eyes enjoying “Fly on A Windshiled” from Genesis The Lamb album. But in mid 90s started to know Dream Theater and later I liked the music delivered by Helloween, Sonata Arctica, Stratovarious, Royal Hunt, etc. and later I knew Kamelot. So, I have two sides of a coin: the prog site of old school prog and the metal side of modern music. Thanks God .. I enjoy both of them. In fact, I have tears in my eyes listening to Kamelot “Ghost Opera” as well as Blind Guardian’s “Nightfall in Middle Earth”.

So, right there deep in my heart I can compare this album by Blind Guardian at par excellent with old school The Lamb Lies Down on Broadway by Genesis. It’s quite weird statement, isn’t it? But, believe me, I’m NOT a weirdo!

So why ..?

Story oriented music. Yes, I said above that this album is very anchored to the story line. You can hear the nuance where the lead vocalist Hansi Kursch sings – in a way like telling something in well designed story line. Look at how he emotionally deliver all lyrical passages with its strong accentuations, nuances of the story as well as the combination of ups and downs in register notes. The lyrical passages sound quite uplifting like during The Storm: “We are following the will of the one / Through the dark age and into the storm / And we are following the will of the one / Through the dark age and into the storm / Lord I’m mean” followed by wonderful music. It’s really uplifting.

Powerful storyline. Both The Lamb and Nightfall are pretty strong in storyline. In the case of Nightfall, it’s rooted in and inspired by JRR Tolkien’s Silmarillion. I have not read the book yet but from the lyrical point of view I can see that the beginning part of the story reminds me to the story of Lord of the Rings. Remember when Smeagle tok the ring from his friend by killing him at the opening of the movie? Basically, the music and the story blends nicely in this Nightfall album.

Tight composition. This album has a pretty tight composition with relatively high density of combined notes in relatively short period. Style wise, this is a prog album because it has many style changes and tempo changes. The choices of melody are also excellent because there are variations from one song to another with thematic bridges between songs.

Under the banner of Genesis The Lamb, I can have the title track, Fly on a Windshield, In The Cage The Lamia, Anyway, Carpet Crawlers as strong compositions. In nightfall, I have powerful tracks as well like Into The Storm, Nightfall, The Curse of Feanor, Blood Tears, Noldor, etc.

Conclusion

You might think I am exaggerating the matter. Honestly, NO. I just want to put thing into perspective that good creation does not necessarily mean something really new that has never been invented before. More importantly, I want to break the barriers or thoughts that generally say: “There is nothing special after the glory days of 70s” because Nightfall proves to be a wonderful album. In other word, good music can even be created under modern days. The old adage says: The great discovery does not lie on inventing new land but looking at existing land with different angle..

Keep on proggin’ .! And you MUST BUY this album man .!!

 

Send comments to Gatot (BETA) | Report this review (#128316) | Review Permalink 
Posted Friday, July 13, 2007

 

CD Koleksi Pribadi Yang Non-Prog DIJUAL!

January 23, 2012

JRENG!

Karena sudah mulai sesaknya rak CD, maka CD2 yang non-prog akhirnya saya putuskan untuk saya JUAL. Silakan kunjungi FB saya.

Terima kasih banyak.

Salam,

G

——–

LAPAK CD Koleksi Pribadi dibuka di sii juga aja:

DIJUAL

Harga dalam Rp. Ribu, belum termasuk ongkos kirim

001 JOURNEY Revelation (3 discs: 2 CD + 1 DVD)  – 150 SOLD

002 ALTERBRIDGE Blackbird – 50 SOLD

003 DRAGONFORCE Inhuman Rampage (signed copy) – 60 SOLD

DIJUAL #2

Harga dalam Rp. Ribu, belum termasuk ongkos kirim

004 BARCLAY JAMES HARVEST Mocking Bird – 60

005 SKID  ROW Slave To The Grind – 50  SOLD

006 AUDIOSLAVE Revelations – 40

007 KENNY WAYNE SHEPHERD Ledbetter Heights – 60

(gitaris muda berbakat dalam blues-rock. Mainnya kereeeennn!!!)

DIJUAL #3

Harga dalam Rp. Ribu, belum termasuk ongkos kirim

008 BEE GEES  Spirits Having Flown – 45 SOLD

009 BEE GEES Odesa – 50 SOLD

010 DEF LEPPARD Greatest Hist – Vault (2 CD) – 50  SOLD

011 BOSTON Greatest Hits (JRENG! More Than a Feeling ….!!!) – 50

DIJUAL #4

Harga dalam Rp. Ribu, belum termasuk ongkos kirim

012 CHICAGO The Heart of (1967 – 1998) vol II (lokal) – 40 SOLD

013 That 70’s Album (Rockin’) – 50

014 TEARS FOR FEARS Classics (The Universal Masters Collection) – 20 BOOKED

015 TONY JOE WHITE – 40

Minat? Email: gatotprog@gmail.com

DIJUAL #5

Harga dalam Rp. Ribu, belum termasuk ongkos kirim

016 DEF LEPPARD The Sparkle Lounge (lokal; Indonesia) – 20

017 DAVID BOWIE The Best (1969 – 1974)  – 60

(Ground control to Major Tom ….Space Oddity!!!!)

018 OZZY OSBOURNE No Rest  For The Wicked – 40 SOLD

019 STILL REMAINS The Serpent (lokal, mulus, baru 1x putar) – 45 SOLD

Minat? Email gatotprog@gmail.com

DIJUAL #6

Harga dalam Rp. Ribu, belum termasuk ongkos kirim

020 DEEP PURPLE S/T – 50  SOLD

021 DEEP PURPLE Who Do We Think We Are? – 50  SOLD

022 DEEP PURPLE Concerto For Group and Orchestra – 65  SOLD

023 DEEP PURPLE Shades of Deep Purple (cover minimalist) – 20  SOLD

Minat? Email gatotprog@gmail.com

DIJUAL #7

Harga dalam Rp. Ribu, belum termasuk ongkos kirim

024 DEEP PURPLE In Concert with London Symphony Orchestra (2 CD) – 140  SOLD

025 DEEP PURPLE Come Taste The Band – 60  SOLD

026 DEEP PURPLE Fireball (Anniversary Edition, Deluxe) – 70  SOLD

027 DEEP PURPLE Machine Head (Anniversary 2CD Edition, 28 page booklet) – 100  SOLD

Minat? Email gatotprog@gmail.com

DIJUAL #8

Harga dalam Rp. Ribu, belum termasuk ongkos kirim

028 OZZY OSBOURNE Randy Rhoads Tribute (keren banget live set ini ….main gitarnya bener2 rockin’! …Mr Crowley ….!!! Yeeeaaaah!!!!) – 50

029 OZZY OSBOURNE The Ultimate Sin (Shot in The Dark!!) – 50

030 OZZY OSBOURNE Ozzmosis (track pembuka “Pery Mason” adalah lagu terbaik dari Ozzy. Gila dah lagu ini aransemennya! Ada Rick Wakeman punya andil lho! Kalau belum pernah denger Pery Mason, kemana aja selama ini Gan??? Jangan ngaku rocker dah kalau gak kenal lagu paling top dari Ozzy ini!!! Ha ha ha ha …) – 50 SOLD

031 OZZY OSBOURNE Under Cover (21st Century of Schizoid Man …theng theng theng ..!!! Kerreeeennn ..!!!) – 45 BOOKED

Minat? Email gatotprog@gmail.com

DIJUAL #9

Harga dalam Rp. Ribu, belum termasuk ongkos kirim

032 ANGRA Temple of Shadows (+ bonus DVD) – 125 SOLD

033 ANGRA Rebirth (album kesukaan gw nih!) – 105 SOLD

034 ANGRA Hunters  and Prey (Mini Album + video track) – 90 SOLD

035 ANGRA Angels Cry + Holy Land (2 CD) – 130 SOLD

Minat? Email gatotprog@gmail.com

DIJUAL #10

Harga dalam Rp. Ribu, belum termasuk ongkos kirim

036 EPICA The Divine Conspiracy (JRENG tenan nih album! CDnya masih mulus pol jal! Dari baru cuman dipake buat rip 320 ke iPod ajah. Mulus pol!) – 120 SOLD

037 IN FLAMES Come Clarity – 110

038 ANGRA Aurora Consurgens (lokal) – 60 SOLD

039 EVERGREY Monday Morning Apocalypse – 140

Minat? Email gatotprog@gmail.com

DIJUAL #11

Harga dalam Rp. Ribu, belum termasuk ongkos kirim

040 ERIC CLAPTON Just One Night (live – 2 CD) keren nih jal! – 110 SOLD

041 ERIC CLAPTON Unplugged – 45 SOLD

042 ERIC CLAPTON Me and Mr Johnson – 45 SOLD

043 ERIC CLAPTON Blues (Studio & Live 2 CD) – 130 SOLD

Minat? Email gatotprog@gmail.com

DIJUAL #12

Harga dalam Rp Ribu, belum termasuk ongkos kirim

044 ERIC CLAPTON Reptile – 50 BOOKED

045 ERIC CLAPTON & FRIENDS Live – 60

046 BB KING & ERIC CLAPTON Riding With The King – 45 SOLD

047 BB KING There Is Always One More Time – 45 SOLD

Minat? Email gatotprog@gmail.com

DIJUAL #13

Harga dalam Rp. Ribu, belum termasuk ongkos kirim

048 BAD COMPANY Company of Strangers – 50 SOLD

049 BAD COMPANY Bad Co – 50

050  BB KING The Man and His Band – 45

051 ALVIN LEE & TEN YEARS AFTER Solid Rock – 70 SOLD

DIJUAL #14

Harga dalam Rp. Ribu, belum termasuk ongkos kirim

052 THE BEATLES Past Masters vol 1 – 50 SOLD

053 THE BEATLES Past Masters vol 2 – 50 SOLD

054 THE BEATLES Abbey Road – 50 SOLD

055 THE BEATLES Sgt Pepper’s Lonely Heart Club Band – 70 SOLD

DIJUAL #15

Harga dalam Rp. Ribu, belum termasuk ongkos kirim

056 ASIA S/T – 70 SOLD

057 ASIA Alpha – 70 SOLD

058 ASIA Astra – 70 SOLD

059 ASIA Live in Moscow – 70 BOOKED

DJUAL #16

Harga dalam Rp. Ribu, belum termasuk ongkos kirim

060 OSIBISA Uhuru (cover minimalis – 1 lembar) – 35

061 PFM The Best of Manticore Years (lokal) – 60 SOLD

062 BOX OF FROGS Strange Land (feat. Steve Hackett) – 70

063 WISHBONE ASH The Best of – 70

DIJUAL #17

Harga dalam Rp. Ribu, belum termasuk ongkos kirim

064 THE BEATLES Anthology 3 (2 disc casing tebal – langka jal!)  – 120

065 THE BEATLES Yellow Submarine – 55

066 THE BEATLES White Album (2CD) Disc 1 scratch dari beli baru – ada 2 lagu loncat – makanya harga murah 45 saja (booklet bagus, CD2 keren masih, mulus!)

067 VARIOUS ARTISTS (FARMPTON, BEEGEES etc) Sgt. Pepper’s Lonely Hearts Club Band (2 CD) – 110 BOOKED

DIJUAL #18

Harga dalam Rp. Ribu, belum termasuk ongkos kirim

068 DAVID LEE ROTH A Little Ain’t Enough – 60

069 DAVID LEE ROTH Eat ‘em and Smile – 60

070 EUROPE 1982 – 1992 The Best (local) – 50

071  FAITH NO MORE King For A Day – 60 SOLD

 (Masih banyak lagi yang mau dilepas ……mau fokus di prog saja. Yang rock, jazz, blues, pop semuanya mau saya jual aja …Kasihan gak pernah diputer CDnya ….)

Ransel Prog

January 22, 2012

JRENG!

Rehat dulu ngomongin kaset Yess …untuk sementara waktu …..  Sekarang sedikit kita bicara tentang atribut terkait prog rock. Dulu selagi masih sekolah SMP dan SMA saya paling suka pakai tas yang diberi coretan tangan pake spidol Artline 70. Saat itu spidol baru saja ditemukan dan merupakan kebanggan anak2 sekolah kalau menggunakan spidol ini. Bagi penyuka musik prog rock maka tas saya penuh coretan grup2 rock / prog yang kondang saat itu. Paling seneng saya menuliskan Yes, Led Zeppelin dan Jethro Tull. Saat itu saya memang belum begitu kenal Genesis kecuali album Nursery Cryme. Kalau pake tas penuh coretan, rasanya “gimana…” gitu lho …..

Nah …itu dulu … Sekarang jaman berubah dan sering ketemu klien. Kalau pake spidol kan jadi norak, dikirain wong mbambung ….Bisa gak laku dagangan sebagai konsultan. Makanya saya siasati dengan menggunakan pin dengan logo-logo rock …. Ini dia ransel yang sering saya pakai:

Saya masih punya banyak koleksi pin yang selalu saya gonta-ganti pake di ransel kerja ini … Kalau pake ransel seperti ini, melangkah kerja terasa pede banget ….He he he he ….

JRENG!

 

 

 

Magenta “Chameleon”

January 20, 2012

Album baru Magenta ini tak selayaknya luput dari perhatian ….

Studio Album, released in 2011

Songs / Tracks Listing
1. Glitterball (4:30)
2. Guernica (7:03)
3. Breathe (4:23)
4. Turn the Tide (6:21)
5. Book of Dreams (7:35)
6. Reflections (2:08)
7. Raw (4:15)
8. The Beginning of the End (4:40)
9. Red (9:04)

Total time 49:39

Lyrics

Search MAGENTA Chameleon lyrics

Music tabs (tablatures)

Search MAGENTA Chameleon tabs

Line-up / Musicians
- Christina Booth/ vocals
- Chris Fry/ guitars
- Rob Reed/ keyboards, bass and guitars

guests
- Kieran Bailey/ drums
- Martin Rossert/ additional guitars (3 & 7)

 

Review by Gatot
SPECIAL COLLABORATOR Honorary Collaborator

4 stars Having known the band since its excellent debut album, I am really happy that Rob Reed and friends have finally made another new release with this Chameleon album. I did not expect much actually but when I had this album I was quite surprised with the kind of music Magenta is offering. Out of their releases I think only Home (2006) that does not stand out in my view. And now Magenta is back with another excellent album.Jump!

That’s what I did the first time I spun this album through its excellent opening. The album kicks-off beautifully with Glitterball in relatively up tempo, energetic music dominated by inventive keyboard work and powerful vocal. It’s really a great opener and it has successfully set the overall tone of the album. It’s been quite sometime that I do not play any album from Magenta ? and this album stimulates me to play their previous works. In the middle of the song there is a kind of break with guitar solo that makes this song sounds excellent overall.

The next track Guernica starts mellow with soft female vocal followed then with a dynamic music that brings together an excellent combination of keyboard, solid basslines, guitar and drumming. When the music is in full speed I can find great harmony of the music combining contributions of instruments being played. This track gives us great break with stunning acoustic guitar work. There is element of orchestration throughout the track that enriches overall composition.

Breathe is another excellent track in a style that is similar with previous tracks with the music that suddenly stops after hard opening part. The music returns back to up tempo with powerful vocal “It’s getting hard to breathe”. What is so captivating about this track is its heavy riffs and many segments of the music. Even though the music contains heavy riffs, it does not sound like a progressive metal work.

Turn The Tide starts off with an ambient vocal work backed with soft keyboard work. The vocal line of Christina Booth sounds nice right here. The music moves in mellow style with nice guitar work and basslines. Book of Dreams brings the music back to relatively medium tempo. For those who love excellent guitar solo, you fill find it in the middle of the track ? performed in a bluesy style. It moves really well from one segment to another.

Reflections is basically a short track featuring acoustic guitar work ? a nice piece of music for a break, really. Raw blasts off nicely with guitar followed with excellent guitar. The song is basically very strong in melody and harmony enriched with guitar work at background. The orchestration is good even though it sounds like a filler ? but it’s OK.

The Beginning of the End is another good track that functions as providing a break because the composition is relatively straightforward. Red concludes the album nicely with a style that starts off with an ambient keyboard work supporting the vocal line. The track moves slowly into relatively medium tempo music with good guitar work. The interlude part in the middle of the track is a bit of psychedelic in nature prior to re-entrance of vocal work.

Overall, I think this is a recommended album for those who love neo progressive as well as symphonic prog music. The album sounds cohesive from start to end. The composition is excellent in terms of melody, harmonies produced from all instruments used in the album, relatively simple in structure but it still provide challenges to the listeners. Keep on proggin’ …!

Peace on earth and mercy mild – GW

 

Send comments to Gatot (BETA) | Report this review (#603905) | Review Permalink
Posted Friday, January 06, 2012

Patrick Moraz albums by Yess

January 20, 2012

Dapet kiriman dari koleksi mas Gatot Triono …. Jujur saja saya tak punya semuanya…he he he…

Box of Frogs “Strange Land” by Yess

January 20, 2012

Ini bisa dibilang termasuk kaset yang paling mulus dan jarang saya sentuh karena memang sejak beli sangat jarang saya setel karena musiknya bukan tergolong prog-rock. Saya bilang jenis musiknya adalah AOR dengan beberapa sentuhan blues. Band ini sebenernya reuni anggota band kawakan The YARDBIRDS dengan bertemunya tiga pemainnya yaitu Chris Dreja (gitar), Paul Samwell-Smith (bass) dan Jim McCarty. Mereka sudah lama tak jumpa sejak 1968 dan membentuk Box of Frogs in di tahun 1984.  Pada album debutnya ada pemain tamu Jeff Beck dan pada album Strange Land ini ada nama2 beken seperti Jimmy Page, Rory Gallagher dan Steve Hackett.

Karena ini adalah rekaman Yess, maka saat beberapa tahun lalu saya nemu CDnya, ya saya beli juga, soalnya rekaman Yess kan pasti musiknya jaminan mutu to? He he he he he …. Tadi malam saya menikmati versi kasetnya dengan kualitas suara yang sangat ciamik kemlipik pol! He he he … Yess gitu loh ..!!!!

Salam,

G

 


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 151 other followers