Sebagai orang yang masa kecil dan remajanya akrab dengan musik yang kemudian disebut sebagai classic rock melalui lagu-lagu masyhur dari Deep Purple, Led Zeppelin, Grand Funk Railroad, Kin Ping Meh, Bad Company, Black Sabbath dan juga musik rock jenis lain yang dulu disebut art rock seperti ELP, King Crimson, Genesis, Yes, Gentle Giant, Focus, Pink Floyd, Jethro Tull …….maka kehadiran Dream Theater rasanya sebagai solusi yang menggabungkan semua elemen musik tersebut.
Mengapa?
Bagi saya, secara umum musik Dream Theater memiliki elemen-elemen yang membuat saya langsung menyukainya ketika sekitar tahun 1995 saya pertama kali mendengarkan lagu “6:00″ dari album Awake yang disetel oleh kakak saya, Henky, di rumahnya:
- Ada unsur rock yang kental dengan ciri khas bebunyian riff gitar seperti pada lagu-lagu classic rock seperti ‘Smoke on The Water’ (Deep Purple), ‘Whole Lotta Love’ (Led Zeppelin), ‘Sabbath Bloody Sabbath’ (Black Sabbath) atau ‘Come On In’ (Kin Ping Meh). Memang unsur ini menjadi ciri khas mengapa sebuah musik bisa digolongkan ‘rock’ meski ada juga band classic rock yang tak mengandalkan riff seperti Grand Funk Rail Road yang terkenal dengan kocokan gitarnya yang yahud (coba simak lagu ‘Aimless Lady’ …gila dah kocokan gitarnya!) atau Bad Company. Unsur rock ini kemudian diusung oleh generasi penerus classic rock seperti Metallica yang membuat riff gitar menjadi lebih keras dan menonjol, atau Iron Maiden yang menggabungkan riff dengan kocokan gitar. Dream Theater menggunakan pola riff seperti yang diusung Metallica.
- Ada unsur progresif yang kental pada hampir semua lagu Dream Theater. Unsur ini diusung oleh band-band seperti ELP, Yes, Genesis, Jethro Tull, King Crimson dan sebagainya. Cara mengenalinya mudah: adanya perpindahan tempo dan style seperti saat kita menikmati ‘Supper’s Ready’ nya Genesis atau ‘Roundabout’ nya Yes atau ‘A Passion Play’nya Jethro Tull. Dream Theater membuatnya lebih cepat, lebih rumit dan kadang mendadak perpindahannya. namun, meski semuanya dilakukan cepat dan mendadak, Dream Theater sungguh piawai dalam membuat transisi-transisi maut sehingga kita tak merasakan bahwa musik bakal berpindah tempo dan style. Coba simak analisis saya mengenai lagu ‘Stream of Consciousness’ yang memiliki beberapa pola (pattern). Kepiawaian Dream Theater menciptakan staccato pada segmen-segmen transisi ini justru membuat keindahan tersendiri. Coba simak lagu ‘Fatal Tragedy’ dari Scene Froma Memory album. Decak kagum akan kita berikan kepada Dream Theater terutama dalam akrobatik musikalnya yang sungguh dahsyat menampilkan duet tiada duanya antara Jordan Rudess (kibor) dan John Petrucci (gitar) dengan aksentuasi permainan drum yang dinamis. Kalau mau jujur, sebenernya Dream Theater ini mengambil pola yang pernah diusung oleh band bernama UK yang pada tahun 1978 membuat album perdana yang sempurna. Di album UK ini ada lagu pendek bertajuk ‘Presto, Vivace and Reprise’ yang pada dasarnya sebuah transisi berisi akrobatik musikal dengan pola staccato yang indah. Dream Theater membuatnya lebih sering dan menjadi ciri khasnya.
- Melodik. Ya….sebagian besar lagu-lagu Dream Theater sangat kuat di melodi sehingga mudah bagi kita untuk membuat senandung lagunya. Coba simak lagu ‘Sacrificed Sons’ dari album Octavarium…kalau gak nangis jangan sebut Anda punya nurani …he he he … Saya sih ngguweblak abis kalau denger lagu ini! Ini baru menikmati melodinya ya …belum kalau memaknai liriknya tentang korban tragedi runtuhnya WTC di Amerika. Sangat menyentuh. Kalau mau lihat lagi kekuatan melodi, coba nikmati ‘Finally Free’ yang merupakan lagu pamungkas dari album Scene from a Memory. Merindhink dah ……
Indah bukan?
Tentu! Lumayan sulit memadukan unsur keras (riff gitar), progresif dan melodi menjadi satu kesatuan komposisi yang utuh seperti musik Dream Theater. Postingan ini saya tulis gara-gara baca komentar mas Hippienov di tret sebelumnya (analisis Voices), sambil pasang lagu ‘On the Backs of Angels’ dan nyruput kopi tubruk pake gula jawa sebagai pemanis … Kumplitlah adrenalin saya mengalir menulis lancar postingan mendadak tak terencana ini …..
Saya suka komentar John Petrucci tentang lagu ‘On The Backs of Angels’ ini:
“We were very conscious when writing the song that it should reflect the signature sound of the band. We wanted it to have all of the elements of Dream Theater. It would be progressive, it would be metal, and it would be melodic. There would be some big shred moments mixed with very dramatic breakdowns. It’s got everything that we love to do as a band.”
Cucok dengan apa yang saya tulis to? Meski dia menulisnya dalam bahasa sebagai seorang pemusik … Saya sebagai penikmat saja dan sangat puas dengan musik Dream Theater ….. Album terakhir Dream Theater ‘A Dramatic Turn of Events’ bener2 dahzyat ….. Coba simak lagu bertajuk “Outcry” ….Bener-bener indah komposisinya. Apalagi temanya tentang pergolakan menentang tirani di Timur Tengah …. ‘It’s time to step down’ …..
Bagi saya pribadi, artwork di sampul depannya seperti menggambarkan meniti jalan yang benar shirathal mustaqim ….. Bisakah nanti saya melaluinya? Wallahu’alam bishawab …
Hmmmm …saat postingan ini selesai, saya sudah samapi di ‘Bridges In The Sky’ pas di bagian rumitnya … Biyuh!
Salam,
G
