Archive for December, 2011

“Never Enough” Live at Paris

December 31, 2011

Tak bisa dipungkiri, saya suka banget Never Enough dari album Octavarium dan belum pernah lihat live performance nya. Siang ini iseng-iseng cari di youtube barangkali ada. Ternyata ada! Saya pikir Dream Theater tak menganggap lagu ini penting buat dibawakan live. Ternyata saya salah, buktinya ini ada dan keren banget mainnya.

Mengapa saya suka sekali lagu ini meski gak terlalu progresif? Sederhana saja, lagu ini menggabungkan Muse style ke dalam musik Dream Theater. Atau, maaf kalau saya mengatakan ini, Never Enough membuktikan kepiawaian Dream Theater mengangkat derajat musik Muse ke tingkat sofistikasi yang lebih tinggi. Saya juga penggemar Muse lho, jangan salah. Tapi harus diakui bahwa Never Enough ini jauh lebih hebat dibandingkan musik Muse karena elemen-elemen keras dan rumit musik Dream Theater masih ditonjolkan dengan sempurna di lagu ini. Kalau nyetel CD Octavarium saya selalu ulang lagu ini beberapa kali sebelum melanjutkan ke track selanjutnya.

Lagu ini diawali dengan bunyi kibor ala Muse kemudian disambut hentakan rofel dahzyat dari Mike Portnoy. Kalau diperhatikan dengan cermat, pukulan beberapa detik dari Portnoy di awal lagu ini sangat berbeda dengan gaya permainan dia memainkan lagu DT yang lainnya. Di sini dia ingin menunjukkan bahwa DT bisa beradaptasi dengan musik yang sedang digandrungi anak muda di dunia: Muse. Pukulan drum pembukanya bener-bener menghentak dan membuat kita tenggelam menikmatinya bak sebuah alunan melodi yang nimat didengar dan diulang lagi – demi sebuah gebukan awal ini. Setelah masuk ke musik penuh, warna musik Muse ditampilkan, apalagi saat LaBrie mulai masuk dengan vokalnya “Help myself open wide …”. WHOAAAAA….!!! Kereeeeeeennnnn ….!!!! Selanjutnya adalah sebuah racikan musik apik dengan pola dasar musik Muse namun mempertahankan unsur keras dan rumit musik DT.

Lihat pada menit ke 2:00 Myung mulai berjalan menuju Petrucci. Suatu hal yang sangat jarang dilakukan Myung karena bassist ini pada dasarnya pendiam dan fokus di tempatnya saja. Mengapa dia menuju Petrucci di sayap kanan? Karena musik telah menunjukkan aksentuasi yang lebih jelas lagi dengan penonjolan permainan bass dan gitar, dan ini bisa saya katakan merupakan puncak pertama dari musical multi orgasms sepanjang lagu ini. Puncak kedua terjadi pada menit 3:41 saat gitar Petrucci memainkan nada berulang yang indah sekali dan kemudian disusul permainan indah Rudess pada menit ke 4:10 (puncak ketiga). Wah uwediyaaaannn!!!! Decak kagum saya buat lagu ini. Kok bisa ya mereka bikin lagu yang komposisinya begitu menawan seperti ini?

Jawabannya ya satu aja: Dream Theater gitu loh!

Jiyannnn! Jawaban gak akademis blas!!!

Percaya gak, sambil nulis ini saya sudang mengulang youtube ini 5 kali!!!! Huwebat band satu ini!

Kantata Barock Yang Mengecewakan

December 30, 2011

Sungguh, malam ini saya kecewa dengan pagelaran Kantata Barock (Iwan Fals, Setiawan Djody, Sawung Jabo). Kalau tahun 1990 di tempat yang sama saya puas dengan penampilan Kantata Takwa, justru malam ini sebaliknya: saya meras tak menikmati dan tak nyaman dengan pagelaram ini karena beberapa hal:

1. Konsep pagelaran tak jelas. Saya tak melihat apa yang sebenarnya ingin ditonjolkan dalam konser ini: musik, teater atau orasi? Kalau musik, semua aransemen ulang yang dilakukan terhadap lagu2 Swami maupun Kantata tak ada satupun yang beres, semuanya berantakan. Musik yang ditampilkan didominasi oleh distorsi gitar Setiawan Djody yabng bener2 tidak nyaman di kuping dan tak sedap ditonton. Hampir di setiap lagu gitar SD menonjol dan sangat mengganggu. Sepertinya SD pengen men-Steve-Vai-kan Kantata tapi tambah bubrah hancur lebur berantakan. Alih-alih mau bicara harmoni, melodi dasar dari lagu asli yang sebenernya indah, seperti Bento, jadi hancur. Saya tidak tahu sebenernya siapa music producer nya kok membiarkan aransemen hancur begini.
Mungkin juga KB ini juga merupakan ajang orasi karena banyak sekali sisipan orasi SD di sana-sini. Namun bila orasi, apa yang diucapkan juga gak jelas. Temanya apa juga gak jelas selain kritik terhadap pemerintahan saat ini. Itupun gak terlalu jelas karena sepanjang orasi ada musik altar yg mengganggu kejernihan suara.
Bila ini sebuah teater dengan plot cerita yang ditampilkan pada layar lebar di belakang panggung, juga gak jelas temanya.

2. Sound system yang sangat buruk sehingga musik tak terdengar utuh selain suara raungan gitar SD yg tak nyaman di kuping. Sebetulnya pada saat lagu Panji Panji Demokrasi saya lumayan menikmati musiknya. Mungkin karena yang main gitar Totok Tewel, bukan SD. Sayang……di akhir lagu ada orasi SD yang tak jelas suaranya dan maksudnya apa.

3. Di tengah pertunjukan tiba-tiba ada band KOTAK nyelip masuk dengan penyanyi ber ramai2, termasuk Once Dewa. Maksudnya apa? Kok gak jelas.

Yang saya suka dari pagelaran ini hanya tata-lampu yang megah dan susana pagelaran dimana penggemar Iwan Fals semuanya berkumpul tertib di arena pertunjukan.

Saya yakin, pergelaran ini memakan biaya produksi yang tinggi. Sayangnya tak diimbangi dengan konsep yang jelas sehingga performance nya amburadul.

Saya tak tahan untuk meneruskan nonton dan cabut dari venue pada saat Bento dibawakan.

Mahalkah Tiket Dream Theater?

December 30, 2011

Seru juga rencana konser Dream Theater di Ancol tanggal 21 April 2012 yang akan datang. Banyak yang menyambut gembira kehadiran band dimana penggemar terbanyaknya (di seluruh dunia) justru di Indonesia, namun begitu main di sini tiketnya dinilai mahal oleh banyak anak metal. Benarkah mahal?

Mari kita hitung pakai cara goblok-goblokan yang mungkin juga gak tepat. Tapi, paling gak mau coba kita liat dari aspek bisnisnya dulu, bukan aspek emosi “mahal”nya.

Konon, fee buat Dream Theater sekitar USD 400 ribu. Katakanlah ditambah akomodasi dan biaya pesawat plus pajak semuanya menjadi USD 450 ribu, itu berarti sama dengan 4 milyar dan 50 juta rupiah. Dengan COST seperti ini maka perhitungannya menjadi begini:

  • Bila dijual tiket rata2 seharga 500 ribu rupiah, maka promotor harus menjual 8,100 tiket untuk break even point
  • Bila dijual tiket dengan rata2 seharga 1 juta rupiah maka promotor harus menjual 4,050 lembar tiket untuk break even point
  • Bila dijual dengan harga rata2 Rp. 1.2 juta maka promotor harus menjual sekurangnya 3,375 lembar tiket.

Nah …dengan gambaran kasar seperti ini, maka kita bisa mengkalkulasi apakah harga mahal atau tidak. Memang ….hukum dasar ekonomi Supply – Demand ya tetap berlaku. Kalau Anda jadi promotor, alternatif mana yang Anda pilih? Apa rencana aksi (renaksi) yang akan Anda lakukan agar Anda tidak rugi dalam konser ini?

Sebagai gambaran, tahun 2006 saya nonton DT di Singapore dengan harga tiket seperti ini:

 

Kalau di rata2, harga tiketnya SGD 100 alias Rp 700.000,- per tiket (rata-rata).

Jadi …apa kesimpulanya?

Silakan tulis pendapat Anda di bawah (komentar)….

 

 

Yes “In The Present – Live from Lyon” – Trailer

December 30, 2011

JRENG!

Album Fly From Here boleh gak gigit….. Tapi………. Live record yang satu ini sepertinya menarik buat dikoleksi. Coba amati saja video ini. Ada pemandangan yang cukup aneh karena vokal bukan Jon Anderson tapi Benoit David OK banget, meski kualitas suaranya gak bisa mengalahkan suara malaikat si Jon.

Motivasi utama mendapatkan album ini tentu adalah adanya repertoire DRAMA yang dibawakan seperti Tempus Fugit dan Machine Messiah. Tuobbzz!!! Pasti keren meski belum liat …

Live, released in 2011

Songs / Tracks Listing

1. Siberian Khatru (10:40)
2. I’ve Seen All Good People (7:17)
3. Tempus Fugit (6:06)
4. Onward (4:39)
5. Astral Traveller (8:49)
6. Yours Is No Disgrace (13:23)
7. And You And I (11:27)
8. Corkscrew (3:49)
9. Owner Of A Lonely Heart (6:06)
10. South Side Of The Sky (10:44)
11. Machine Messiah (11:42)
12. Heart Of The Sunrise (11:43)
13. Roundabout (9:35)
14. Starship Trooper (13:08)

Total Time 

Lyrics

Search YES In The Present – Live From Lyon lyrics

Music tabs (tablatures)

Search YES In The Present – Live From Lyon tabs

Line-up / Musicians

- Chris Squire / bass guitar, vocals
- Steve Howe / guitars, vocals
- Alan White / drums
- Geoff Downes / keyboards, vocals
- Benoit David / lead vocals

Releases information

Frontiers Records 2011

Mengapa Saya Suka Dream Theater?

December 28, 2011

Sebagai orang yang masa kecil dan remajanya akrab dengan musik yang kemudian disebut sebagai classic rock melalui lagu-lagu masyhur dari Deep Purple, Led Zeppelin, Grand Funk Railroad, Kin Ping Meh, Bad Company, Black Sabbath dan juga musik rock jenis lain yang dulu disebut art rock seperti ELP, King Crimson, Genesis, Yes, Gentle Giant, Focus, Pink Floyd, Jethro Tull …….maka kehadiran Dream Theater rasanya sebagai solusi yang menggabungkan semua elemen musik tersebut.

Mengapa?

Bagi saya, secara umum musik Dream Theater memiliki elemen-elemen yang membuat saya langsung menyukainya ketika sekitar tahun 1995 saya pertama kali mendengarkan lagu “6:00″ dari album Awake yang disetel oleh kakak saya, Henky, di rumahnya:

  1. Ada unsur rock yang kental dengan ciri khas bebunyian riff gitar seperti pada lagu-lagu classic rock seperti ‘Smoke on The Water’ (Deep Purple), ‘Whole Lotta Love’ (Led Zeppelin), ‘Sabbath Bloody Sabbath’ (Black Sabbath) atau ‘Come On In’ (Kin Ping Meh). Memang unsur ini menjadi ciri khas mengapa sebuah musik bisa digolongkan ‘rock’ meski ada juga band classic rock yang tak mengandalkan riff seperti Grand Funk Rail Road yang terkenal dengan kocokan gitarnya yang yahud (coba simak lagu ‘Aimless Lady’ …gila dah kocokan gitarnya!) atau Bad Company. Unsur rock ini kemudian diusung oleh generasi penerus classic rock seperti Metallica yang membuat riff gitar menjadi lebih keras dan menonjol, atau Iron Maiden yang menggabungkan riff dengan kocokan gitar. Dream Theater menggunakan pola riff seperti yang diusung Metallica.
  2. Ada unsur progresif yang kental pada hampir semua lagu Dream Theater. Unsur ini diusung oleh band-band seperti ELP, Yes, Genesis, Jethro Tull, King Crimson dan sebagainya. Cara mengenalinya mudah: adanya perpindahan tempo dan style seperti saat kita menikmati ‘Supper’s Ready’ nya Genesis atau ‘Roundabout’ nya Yes atau ‘A Passion Play’nya Jethro Tull. Dream Theater membuatnya lebih cepat, lebih rumit dan kadang mendadak perpindahannya. namun, meski semuanya dilakukan cepat dan mendadak, Dream Theater sungguh piawai dalam membuat transisi-transisi maut sehingga kita tak merasakan bahwa musik bakal berpindah tempo dan style. Coba simak analisis saya mengenai lagu ‘Stream of Consciousness’ yang memiliki beberapa pola (pattern). Kepiawaian Dream Theater menciptakan staccato pada segmen-segmen transisi ini justru membuat keindahan tersendiri. Coba simak lagu ‘Fatal Tragedy’ dari Scene Froma Memory album. Decak kagum akan kita berikan kepada Dream Theater terutama dalam akrobatik musikalnya yang sungguh dahsyat menampilkan duet tiada duanya antara Jordan Rudess (kibor) dan John Petrucci (gitar) dengan aksentuasi permainan drum yang dinamis. Kalau mau jujur, sebenernya Dream Theater ini mengambil pola yang pernah diusung oleh band bernama UK yang pada tahun 1978 membuat album perdana yang sempurna. Di album UK ini ada lagu pendek bertajuk ‘Presto, Vivace and Reprise’ yang pada dasarnya sebuah transisi berisi akrobatik musikal dengan pola staccato yang indah. Dream Theater membuatnya lebih sering dan menjadi ciri khasnya.
  3. Melodik. Ya….sebagian besar lagu-lagu Dream Theater sangat kuat di melodi sehingga mudah bagi kita untuk membuat senandung lagunya. Coba simak lagu ‘Sacrificed Sons’ dari album Octavarium…kalau gak nangis jangan sebut Anda punya nurani …he he he … Saya sih ngguweblak abis kalau denger lagu ini! Ini baru menikmati melodinya ya …belum kalau memaknai liriknya tentang korban tragedi runtuhnya WTC di Amerika. Sangat menyentuh. Kalau mau lihat lagi kekuatan melodi, coba nikmati ‘Finally Free’ yang merupakan lagu pamungkas dari album Scene from a Memory. Merindhink dah ……

Indah bukan?

Tentu! Lumayan sulit memadukan unsur keras (riff gitar), progresif dan melodi menjadi satu kesatuan komposisi yang utuh seperti musik Dream Theater. Postingan ini saya tulis gara-gara baca komentar mas Hippienov di tret sebelumnya (analisis Voices), sambil pasang lagu ‘On the Backs of Angels’ dan nyruput kopi tubruk pake gula jawa sebagai pemanis … Kumplitlah adrenalin saya mengalir menulis lancar postingan mendadak tak terencana ini …..

Saya suka komentar John Petrucci tentang lagu ‘On The Backs of Angels’ ini:

“We were very conscious when writing the song that it should reflect the signature sound of the band. We wanted it to have all of the elements of Dream Theater. It would be progressive, it would be metal, and it would be melodic. There would be some big shred moments mixed with very dramatic breakdowns. It’s got everything that we love to do as a band.”

Cucok dengan apa yang saya tulis to? Meski dia menulisnya dalam bahasa sebagai seorang pemusik … Saya sebagai penikmat saja dan sangat puas dengan musik Dream Theater ….. Album terakhir Dream Theater ‘A Dramatic Turn of Events’ bener2 dahzyat ….. Coba simak lagu bertajuk “Outcry” ….Bener-bener indah komposisinya. Apalagi temanya tentang pergolakan menentang tirani di Timur Tengah …. ‘It’s time to step down’ …..

Bagi saya pribadi, artwork di sampul depannya seperti menggambarkan meniti jalan yang benar shirathal mustaqim ….. Bisakah nanti saya melaluinya? Wallahu’alam bishawab …

Hmmmm …saat postingan ini selesai, saya sudah samapi di ‘Bridges In The Sky’ pas di bagian rumitnya … Biyuh!

Salam,

G

Analisis Musik “Stream of Consciousness”

December 25, 2011

Beberapa hari lalu saya posting di milis i-Rock! seperti ini:

Lagu Dream Theater yang paling asik itu apa ya? Mulai dari album pertama, tentunya …..

Saya masih bingung menentukan antara:
- Stream of Consciousness
- Outcry
(Sebenernya Fatal Tragedy juga masuk ….)

Ada yg punya jagoan lain? Maksudnya, jangan cuman enaknya aja, tapi gabungan antara lima komponen dlm progressive metal:
1. Melodi
2. Harmoni
3. Kompleksitas
4. Perubahan tempo dan style
5. Structural integrity

Bagi saya, dua lagu DT di atas dua2nya memenuhi lima komponen tersebut.

Mungkin om Setan (setengah) Gondrong bisa memulai? Atau bro Irul? Atau Stippo? Atau Harris? Atau Bayu ….

Jangan masukkan Spirit Carries On yah …soalnya gak ada kompleksitas (3) dan perubahan style (4) ……

Mari kita bahas …..

Kita mulai …..yak…. JRENG!!

Dan ini adalah analisis saya tentang lagu DT paling bagus, menurut saya:

Analisis Musik “Stream of Consciousness”

Lagu ini paling nikmat disimak dari lagu Vacant yang terasa pas sebagai pemanasan buat menikmati Stream of Consciousness.

Secara struktur, Stream of Consciousness memiliki empat (4) pola, ditambah intro di bagian depan, dengan peralihan antara satu pola satu ke lainnya dilakukan dengan transisi yang mulus sehingga kita tak menyadari bahwa musik sedang bergerak ke pola yang lain.

Pola musik : Intro – A – B – C – D – A – Intro

Intro (menit 00 – 00:40)

Lagu ini diawali dengan petikan gitar Petrucci dengan nuansa ambient selama 20 detik disertai kemudian dengan gebrakan musik yang keras dengan melibatkan semua insrumen yang ada: bass, gitar, kibor dan drum (dominan) selama 20 detik hingga musik memasuki pola pertama (kita sebut pola A). Yang perlu dicatat disini adalah perpindahan dari intro ke awal Pola A pada detik ke 40 terjadi megah.

Pola A (menit 00:40 – 02:01)

Pada pola A ini yang menonjol adalah riff gitar Petrucci yang terasa berat dan memberi ciri khas metal, berulang beberapa kali namun terasa nikmat dan megah. Rupanya DT sedang memanjakan pendengarnya dengan permainan riff sederhana namun gagah memukau. Permainan drums juga menonjol, terasa mengimbangi riff gitar. Riff kemudian berubah agak halus dan pada pada menit ke 2:01 kibor mulai masuk memberikan transisi indah untuk masuk ke Pola B.

Pola B (menit 02:01 – 3:04)

Pada pola B ini musik telah mulai berubah pola permainannya ke tingkat selanjutnya yang lebih menantang karena pada pola ini kibor diberi kesempatan memainkan perannya lebih jauh mengimbangi permainan gitar. Portnoy juga memberikan variasi permainan drums yang menawan dalam beberapa segmen perpindahan. Pada pola B ini saya mengalami banyak titik orgasme dalam menikmati musik indah seperti lagu ini. Solo Petrucci mengalami puncaknya di Pola B ini.

Pola C (menit 3:05 – 5:25)

Whoaaaaa…….. Pola C ini diawali dengan transisi yang merupakan permainan kibor akrobatik disertai dengan gitar yang menawan sekali. Pada segmen dimana Pola C ini mulai masuk, permainan gitar dan kibor semakin gila dan banyak sekali titik orgasme yang saya alami……..edan nih Pola C….seolah di segmen inilah Rudess dan Perucci melakukan solo-solo menukik yang bener-bener indah membuat saya angkat jempol beberapa kali. Saya suka sekali gitar solo pada menit 3:50 – 4:30. Dahzyat! Portnoy dan Myung memberikan aksentusi yang kuat juga mengiringi duet maut gitar-kibor pada segmen ini. Dentuman double-pedal bass drum di segmen ini bener2 dahzyat! Saya puas dengan segmen yang memainkan pola C ini hingga akhirnya tempo menjadi agak pelan saat akan pindah ke pola C pada menit ke 5:25 dimana Myung memegang peranan kunci sambil teman-teman lainnya “istirahat” sejenak ….disertai hentakan Portnoy.

Pola D (5:25 – 7:36)

Musik bertempo agak pelan dengan mengetengahkan cabikan bass Myung disertai rofel tenor dan snare drums dari Portnoy, sementara Rudess dan Petrucci istirahat. Kibor Rudess memberi tekstur di latar belakang – semacam orkestrasi. Portnoy diberi kesempatan memanfaatkan jeda dan diiringi oleh Myung pada bass. Permainan gitar lebih bersifat petikan dan pada segmen ini praktis tak ada riff gitar dimainkan. Kibor banyak berperan. Pada akhir dari Pola D ini kibor memberikan permainan altar yang menawan.

Pola A (7:37 – selesai di menit 11:16)

Pada menit ke 7:37 (diawali dengan transisi) musik kembali kepada Pola A seperti pada awal lagu. Namun jangan salah, meski polanya sama, tapi tekstur permainannya sungguh beda sekali dari Pola A di awal lagi. Tetep pola ini menggunakan riff gitar yang berat sebagai dasar namun diselingi permainan kibor dan gitar yang berbeda. Teksturnya menggunakan permainan intro namun dibalut dengan permainan seperti riff, disambung dengan permainan bass dan kibor dengan nuansa yang berbeda. Rudess memberikan sentuhan permainan kibor yang bener2 menawan di sini, terus disambung dengan gitar solo Petrucci. Ya Allah …..indahnya permainan musik ini! Apalagi saat double pedal bass drums Portnoy bermain konsisten sebagai altar – uwediyaaaannn!!!

Meski Pola A ini pengulangan dari Pola A awal dan tekstur melodi pada intro lagu dan transisinya, namun tak membuat suasana bosan. Setiap segmen di dalam Pola A akhir ini indah. Apalagi di akhir lagu ada sentilan gitar persis seperti pada bagian intro – selama 20 detik.

Kesimpulan:

Lengkaplah sudah keindahan alunan musik Stream of Consciousness ini yang memiliki melodi yang bagus sekali, harmonisasi antar instrumen yang terjaga rapi, kompleksitas aransemen yang njelimet, serta perpindahan tempo dan style yang cepat namun dibarengi dengan transisi (bervariasi antara 10 detik – 20 detik) yang mulus sehingga kita tanpa terasa telah dibawa ke pola musik yang berbeda. Bagaimana dengan structural integrity? Di sini lah tantangannya ….Bila sebuah lagu memiliki perpindahan tepo dan style cukup sering, apalagi dengan aransemen yang kompleks, maka structural integrity mungkin agak kurang. Namun …. Dream Theater memang jawarnya PROGRESSIVE metal (bukan metal progressive) sehingga structural integrity ini terjalin kokoh, solid, kohesif dan sempurna sekali. Lagu ini tanpa cacat sedikitpun! Rating buat lagu ini: 5/5.

JRENG!

Analisis Musik “Voices”

December 25, 2011

Buat Michel, yang merekomendasikan saya buat menikmati lagu ‘Voices’ dari album Dream Theater ‘Awake’…..

Pagi ini (Sabtu, 24 Desember 2011) jam 5:30 saya berangkat ke Foresta BSD mau gowes bareng temen2 satu klub gowes … Selama perjalanan aku simak rekomendasimu ttg VOICES dengan volume kenceng (maklum di mobil sendirian) mulai dari track sebelumnya …. Aku jarang setel lagu per lagu di album yg merupakan pertama kali kenal DT ini … Aku suka sama 6:00 karena itulah lagu pertama yang membuat saya kagum dengan musik DT. Aku biasa nyetel Awake ini secara keseluruhan album …keknya musik prog paling nikmat kalau diputer penuh satu album ….itu kebiasaanku dari dulu sejak jaman kaset bajakan …

Adapun tentang VOICES:

Overall aku setuju banget bahwa ini lagu keren. Memang ini salah satu favoritku di album ini namun gak hafal judulnya apa. Namun memang gagah dan melodinya bagus banget. Aku setuju bahwa lagu ini memenuhi kriteria yang aku uraikan dalam 5 komponen dengan catatan:

  • Dari segi kompleksitas aransemennya, menurut aku gak terlalu rumit, kelasnya masih samalah dengan musiknya Rush, begitu.
  • Perpindahan tempo dan style juga sering terjadi namun kurang berani mengeksplorasi style yang sangat berbeda hingga sampai terkesan abrusif. Coba bandingkan dengan Stream of Consciousness yang banyak eksplorasi gila …push the musical envelope harder ….hingga sampai membawa pikiran kita paralyzed mencapai multi-orgasme di beberapa titik kulminasi yang nyebar cukup banyak selama lagu dinikmati. Di SoC banyak banget abrupt changes namun manis terasanya ….
  • Structural integrity – otomatis bagus…lha wong musiknya gak terlalu banyak meliuk-liuk …telikungan sinkopasinya masih kurang dibandingkan SoC. Jadi, structural integrity ini sebenernya is the great challenge. kenapa? Sebuak komposisi yang kuat di strukturnya belum tentu memnuhi kriteria progmet yang ideal soalnya kalau gak dibarengi dengan telikungan2 yang berani, maka unsur PROG nya hilang. Contoh: Kamelot “The Fourth Legacy” (lagu) atau “Forever”. Kedua lagu ini strukturnya bagus, namun gak prog blas alias power metal doang ….

Kesimpulan:

Voices tergolong progmet yang bagus, namun masih di bawah Stream of Consciousness kadarnya. Keduanya saya suka, namun SoC yang bagi saya menohok hingga ulu ati paling dalam. Lha wong kalau menikmati SoC rasanya aku di bawa ke langit ke tujuh saking nikmatnya alur musik dan tantangan2 sinkopasinya. Makanya, maaf harus jujur, The Miracle gak pernah bisa pas membawakan lagu ini. Tapi kalau disuruh bawain Voices aku yakin The Miracle bisa persis PLEG 95 % ….. (vedy, reza …ojok nesu yo …). Jangankan The M … Wong DT aja kalau bawain LIVE kelabakan keponthal-ponthal kok …liat aja harmonisasinya gak senyamleng studio version …. kenapa? Lagu SoC itu rumit pol! Percayalah!! Kalau prog kuno, lagu ini kayak lagu Genesis “The Battle of Eping Forest” tingkat kerumitannya. Makanya Genesis gak ada official live version yang bawain lagu ini ….adanya yang bootleg .. (bener gak Bayu?)

Mengais Memori – Kaset Yess

December 23, 2011

By Hardani Kristanto

Selamat sore mas,
Hendak berbagi cerita sedikit tentang hasil perburuan kaset rilisan YESS yang biar super jadul (lebih dari 25 tahunan lho) tapi super gedongan itu.
Hari ini, tepatnya sore jam setengah tigaan, diantara beberapa messenger yang datang ke kantor, ternyata ada satu bungkusan kotak lonjong kayak box emergency lamp. Tertulis alamat yang dituju khusus buat pak kristanto dan pengirimnya seorang kaskuser dari kota Cimahi.
Ini dia yang aku tunggu sedari kemarin, sejak deal transaksi hari Senin yang lalu ……
Langsung dah saya buka dan saya foto, sesuai janji saya pada yang empunya blog gemblunk ini. Bisa dilihat di foto, bungkusnya aja gak kalah sama amazon, pakai seal pengaman segalai (amazon perasaan gak pernah, makanya order kadang2 pecah casingnya).
Dan bisa dilihat saudara pemirsa dan pembaca, betapa mewah dan gedongannya isinya, baik sewaktu masih terbungkus plastik, maupun setelah saya jajarkan di atas meja kerja.
Pertanyaannya kenapa kaset yang Gong “Gazeuse!” saya taruh paling atas ? Tak lain tak bukan ya karena belum lama disinggung dalam blog ini. Saya belum punya CDnya, makanya saya juga gak bisa ikut komen di tret tersebut. Ntar saya dengerin dulu ya, baru komen …
Kebungahan (d/h kegembiraan) saya rupanya terbaca oleh rekan kantor, dia tanya kok saya ceria banget sore ini padahal pagi tadi saya sempet ngeluh greges katanya ….  Nah, terbukti kan kalau kaset Yess, selain gedongan, juga bisa nyembuhin masuk angin, hahahhaha …
Saya harus jujur, kalau kegembiraan karena memperoleh kaset yang masih mulus2 ini, melebihi kenyataan bahwa hari ini rekening saya bertambah saldonya, LHA wong hari ini gajian kok, hehehe …
Akhirnya saya hanya mau ngucapin happy long weekend buat temen2 prog di sini, sementara saya akan coba habisin waktu di antaranya dengan nikmatin kaset2 nuansamatik tersebut ….
(Tadinya mau kirim tret ttg album barunya Arena, terpaksa harus saya tunda, karena Yess jelas lebih gedongan daripada CD, hehehe …)
Welcome back my friends to the YESS that never ends ….

Proyek Iseng Kompilasi ELP

December 21, 2011

By Hippienov

Met pagi mas G dan rekan-rekan blog yang selalu progging..

Begini jadinya kalau seorang penyuka musik yang iseng dan kurang gawean seperti aku, tiap ada waktu luang diisi dengan kegiatan yang gak jauh-jauh dari musik juga.

Ceritanya aku punya lumayan file donlod-an mp3 E.L.P yang aku dapat atas bantuan istri (yang curi-curi waktu senggang di kantornya donlod lagu-lagu prog pesenanku).
Karena audio player di rumah kurang mumpuni untuk support mp3 alias sering error reading dan kebetulan juga aku lebih suka denger lagu dalam format cd biasa (kalo mp3 kebanyakan jadi cape dengernya,hehehe), akhirnya iseng-iseng aku comot-comot file mp3 E.L.P tadi kemudian aku burn via software Nero, lalu setelah jadi aku buatkan cover sederhana. Karena gak cukup dalam single cd maka aku buat ke dalam double disc dan tadinya masih akan ada lanjutannya tapi keburu software Nero ku “file corrupted”, rusak dan belum aku re-install jadinya baru 2 seri yang ada.

Kompilasi ini banyak yang live version dan dari awal bukan dikonsep jadi “the best of atau greatest hits” tapi lebih sederhana: hanya kumpulan lagu-lagu E.L.P, makanya banyak lagu top mereka gak atau belum termuat disini.
Pendek kata ini merupakan hasil keisengan seorang hippienov yang mencoba menghargai musik kegemarannya (prog) dan salah satu band prog favoritenya (E.L.P) dalam bentuk cd.
Mohon maaf jika banyak kekurangan yang ada..

Welcome back my friends to the show that never ends, ladies and gentlemen: Emerson, Lake and Palmer..

Prog On Earth..
Hippienov

Sent using a Sony Ericsson mobile phone

CD Prog Rocks!

December 20, 2011

By Hardani Kristanto

Biar blog guendhenk ini tambah seru, saya coba sumbangkan sedikit koleksi “baru” yang ada di almari. Saya pribadi sebetulnya kurang menyukai CD kompilasi, kalaupun ada beberapa kompilasi macam Super Hits atau Mega Hits itu lebih karena apresiasi sama istri yang memang menyukai lagu2 pop, termasuk suka banget sama album Genesis yg ngepop “Invicible Touch” itu. Dahulu di majalah Muziek Ekspres selalu disertakan Top Chart 20, nah khusus yg genre-nya rock, selalu saya tandai dengan lingkaran pada nomornya (jaman segitu blom ada yang namanya stabillo), dan nuansa tersebut masih saja tersisa kalau melihat track list di kaset atau CD kompilasi.
CD kompilasi bertajuk “PROG ROCKS !” dan “PROGRESSIVE ROCK – Trilogy” ini terbeli secara ngga sengaja, ceritanya beberapa minggu yang lalu pas akses ke situs Amazon, coba2 cari informasi tentang album barunya Galahad yang memang belum ada tanda2 akan dirilis, malahan dapat info album anyarnya neo prog Arena yang rilis Dec’11 ini. Ketik ini itu, setelah kehabisan ide, tahu2 di kolom search terketik “prog rock” … Lha yang muncul di screen ternyata album2 kompilasi, tertarik juga  untuk melihat detail track list-nya. Setelah lihat harganya yang sangat bersaing, yaitu sekita £.4 untuk yg double CDs dan £.6 yang isi tiga keeping CD, maka saya langsung proceed. Nah, hari Jum’at minggu yang lalu ada paket datang dan ternyata isinya pesenan beberapa waktu berselang.

Sejauh ini baru keputer sekali dua, dan saya pikir track list-nya juga biasa2 aja, kebanyakan ya lagunya band yang udah kondang, macam Flower Kings, IQ, Pallas, PFM, deelel, saya justru tertarik dgn grup2 yang belum saya kenal macam Oceansize atau Family. Yang cukup menarik adalah lagu2nya Pink Floyd yang dibawakan oleh Adrian Belew & Alan White di “Speak to me/ Breathe” atau Keith Emerson & Dweezil Zappa pada nomor nuansamatik “Run Like Hell”, lumayan menghibur.
Tak lupa saya membayangkan kalau saja kompilasi2 tersebut direkam oleh YESS, semacam Heavy Slow dahulu, alangkah gagah dan gedongannya album2 tersebut.
Keep on rockin’ …

Dari ProgArchives, ini track list nya:

Boxset/Compilation, released in 2010

Songs / Tracks Listing

CD 1
1.Yes/ Looking around (3:41)
2.Premiata Forneria Marconi/ Celebration (3:52)
3.Anderson, Ian/Living in the past (4:41)
4.Family/No mule’s fool (3:18)
5.Wakeman, Rick/ Catherine Howard (9:12)
6.Belew, Adrian/ White, Alan/ Speak to me;Breathe (5:31)
7.Procol Harum / A whiter shade of pale (4:05)
8.Tomorrow/Strawberry fields forever(3:49)
9.Atomic Rooster/ Tomorrow night (4:49)
10.Moraz, Patrick /Los endos (6:00)
11.Emerson, Keith & Zappa, Dweezil/Run like hell(5:09)
12.Vanilla Fudge/ You keep me hangin’ on (3:45)
13.Howe, Steve & Wakeman, Rick/ The great gig in the sky(4:39)
14.Anderson, Ian/Skating away on the thin ice of the new day (3:36)
15.Springwater/ I will return (3:07)

CD 2
1.Caravan/In the land of grey and pink (4:25)
2.Soft Machine/ Song of Aeolus (4:27)
3.Hatfield & The North/Going for a song (4:03)
4.Soft Machine/ Bundles(3:16)
5.Caravan/ If I could do it all over again, I’d do it all over you (2:59)
6.Gong/Outer vision (3:25)
7.Hawkwind/ Brainstorm (8:32)
8.Hawkwind/ Space is deep (5:54)
9.Can/ All gates open (8:15)
10.Tangerine Dream/Ultima thule part 1(3:18)
11.Tangerine Dream/Ultima thule part 2 (4:06)
12.Amon Guru/ Sumpfige Wasser (5:45)
13.Brainticket/Egyptian kings (5:51)
14.Can/ November (7:43)
15.Tangerine Dream/Sunset in the third system (6:37)

CD 3
1.Premiata Forneria Marconi/From under (7:27)
2.Banco Del Mutuo Soccorso/L’albero del pane (4:39)
3.Lindisfarne/Lady Eleanor (4:12)
4.Fairport Convention/Orange blossom special (2:14)
5.Sinfield, Peter/A house of hopes and dreams (4:03)
6.Family/In my own time (3:32)
7.Yes/Then (4:19)
8.Affinity/Three sisters (4:58)
9.Carmen/Bullfight (4:17)
10.Atomic Rooster/Death walks behind you (7:09)
11.Third Ear Band/Cosmic wheel(6:22)
12.Brand X/Can-utility and the coastliners (5:40)
13.Principal Edwards Magic Theatre/ Mc Alpine versus the somoto (6:16)
14.Asia/Sole survivor (6:16)
15.Wetton, John & Banks, Peter & Kaye, Tony/ Eclipse

 


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 152 other followers