Archive for November, 2011

Genesis Live 1972

November 27, 2011

Sore ini secara gak sengaja menemukan video ini di youtube dan langsung dicoba. Tadinya hanya mau skim aja, tapi kok begitu liat permainan organ Tony Banks di The Fountain of Salmacis yang menusuk ulu ati itu kok rasanya sayang ditinggalkan. Akhirnya dilanjut nontonnya. Memang kharismatik banget Genesis di era ini. Meski ini adalah pertunjukan di sebuah TV selama 30 menit namun kelihatan setiap personil Genesis begitu serius bermain. Peter Gabriel begitu memikat penampilannya dan sangat menyita perhatian. Ia tak sekedar menyanyi dan menggerakann tangan dan tubuh penuh penghayatan, namun juga memainkan flute dengan baik. Sbenernya yang memikat dari Peter ini ya penampilannya yang begitu menjiwai lagu yang dibawakan sehingga kita yang menonton merasa seolah sedang diajak berdialog dengannya melalui lagu yang ia nyanyikan. Luar biasa! Selain Peter, Phil Collins juga menawan permainan drums nya. Sesekali Phil juga menyanyi.

Hanya empat lagu mereka bawakan namun semuanya huwebat penuh penghayatan: The Fountain of Salmacis – Twilight – The Musical Box – The Return of The Giant Hogweed. Dalam The Musical Box tiga musisi memainkan gitar: Hackett, Rutherford dan Banks (acoustic guitar) pada bagian awal lagu. Penampilan Peter Gabriel sungguh menawan pada lagu ini. Juga pada lagu pamungkas The Return of The Giant Hogweed. Silakan menonton sendiri. Dijamin puas. Kalau tak puas, berarti Anda

bukan penggemar Genesis!

Salam,

G

Bontang Rocks!

November 27, 2011

JRENG!

Uwediyaaaaannnn ….dampak dari perjalanan ke Bontang minggu lalu ternyata belum juga surut hingga pagi ini tadi saat saya mengendarai mobil sendirian. Ya, hari ini saya sengaja gak gowes setelah kemarin puwas gowes dan renang, saatnya menikmati musik. Sengaja saya hanya membawa satu CD saja Khan “Space Shanty” yang menjadi salah satu lagu yang dimainkan saat PKT Rock Nation 2011 digelar minggu lalu. Biasanya saya cukup nyolok iPod di stereo set mobil saya, namun hari ini saya bener-bener ingin menyentuh the “real thing” yaitu CD yang saya peroleh dengan susah payah beberapa tahun lalu.

Setelah masukin CD "mak sreeet ..." tak lama kemudian dari speaker muncul suara JREEEEEEEEEEENG ......! thut thit thot thit thut ...."I need you and you need me" theng theng tet tet tet tet tet tet JRENG ..."And I also need to be free ...".... Jiyaaaaaahhh!!! Tuooobzzzz!!!!!

Semangat juga nyetir mobil ditemani lagu-lagu progressive rock dengan subgenre Canterbury ini …. Harus saya akui bahwa album ini sangat solid dan kohesif karena selain rumit namun tetap mempertahankan melodi yang indah. Saya gak perlu cerita panjang lebar karena album ini sudah saya bahas cukup detail.

Kampus Galatua dan AMUREA Classic Rock Band

Pikiran saya terus menerawang kembali ke event minggu lalu dimana pada hari yang sama saya sedang berada di rumah seorang teman SMP, Roostanty, yang sudah lebih dari 23 tahun bermukim di Bontang bersama suami dan putrinya. Saat itu kami berempat dengan suaminya Tanty, mas Misran, dan kakak kelas kami di Madiun dulu, mbak Ening yang berbakti di Pemkot Bontang. Kami makan siang bersama sambil ngobrol tentang segala hal, mulai dari Madiun, hingga Marching Band PKT dimana kedua putra mbak Ening aktif menjadi anggotanya. Pokoknya nyamleng-lah obrolan siang itu. Setelah itu saya diajak Bontang Tour dengan menggunakan kendaraan mbak Ening.

Sepulang dari Bontang Tour saya sudah ditunggu sama komunitas rock Bontang untuk “ngerock bersama” (demikian cara pak Suldja mengundang saya malam itu). Sebenarnya saya capek sekalai karena baru saja pulang dari Bontang Tour yang cukup melelahkan meski hanya tinggal duduk disupiri. Namun karena sudah janji, saya memenuhi undangan tersebut. Ternyata saya dibawa ke sebuah restoran Bontang Kuring dimana di sana sudah berkumpul sekitar 20 orang penggila musik rock plus sebuah band penghibur. Tadinya band ini memainkan lagu-lagu jazzy dengan vokalisnya Tania. Bagus permainan band ini.

Pak Suldja membawakan Huma Di Atas Bukit versi 1976 (asli)

Makan malam dengan menu masakan Sunda saat itu ditemani sajian lagu2 jazzy dari home-band bernama AMUREA yang sepertinya merupakan singkatan dari Amonia-Urea yang merupakan produk yang dihasilkan PT Pupuk Kaltim (PKT). Salah satu lagu yang disajikan adalah ‘Smooth Operator’ yang dipopulerkan oleh Sade di sekitar pertengahan 80-an. Seusai makan, Pak Suldja langsung naik panggung dan tiba-tiba intro band mengingatkan saya di tahun 76-an saat musik rock sedang mengalami jaman jayanya. Apalagi kalau bukan Huma Di Atas Bukit. Amurea Band rupanya telah menguasai dengan baik lagu ini bahkan dibawakan dalam versi asli dimana di tengah lagu ada interlude ‘Firth of Fifth’ nya Genesis. Pak Suldja menyanyikan dengan penuh penghayatan karena mungkin kecewa telah minta ke God Bless membawakan lagu ini versi asli, bukan remix 1990, tapi ditolak oleh manajemen God Bless.

Komunitas rock PKT

Ex Rawe Rontek

Masih ingat band 70an saat majalah Aktuil dulu berjaya? Kalau masih ingat, ada salah satu band yang sering disebut memiliki atraksi panggung heboh dengan ciri khas telanjang dada vokalisnya yang bernama Bachtiar. Band itu adalah RAWE RONTEK dari Bannten dan pernah menelorkan album bertajuk “Berdiri Di Atas Panggung”. Dua orang pemain band tersebut, yaitu Harry Soebardja (gitar) dan Yudhistira (band) kemudian menjadi personil Amurea Band yang resmi berdiri dan bermukim di Bontang sejak sekitar 20 tahun yang lalu. Amurea menjadi home band dari resto Bontang Kuring yang sekaligus menjadi tempat berkumpulnya rocker dari PKT. Sejak itulah teman-teman PKT sering berlatih band dan bernyanyi diiringi oleh Amurea Band. Tempat ini akhirnya diberi nama sebagai Kampus Galatua.

Berpose bersama Amurea Band

Harry Soebardja (ex Rawe Rontek)

Yudhistira (ex Rawe Rontek)

Spontanitas "Menjilat Matahari"

Pokoke ngerock!!!

Amurea Band

Ngerock hingga Malam

Berbagai jenis lagu rock dan pop 70an dinyanyikan oleh PKT rockers malam itu termasuk lagu-lagu dari Queen, God Bless, Gary Moore, Deep Purple, The Beatles dan tentu beberapa lagu pop lainnya karena tak semua yang hadir bisa menyanyikan musik rock. Ada yang bahkan koleksi kasetnya lengkap dengan musik cadas 70an namun begitu giliran menyanyi di atas panggung diiringi oleh AMurea Band justru membawakan lagu-lagu Koes Plus. Tapi gak masalah,…..yang penting malam itu malam happy rockin’ …..he he he he …. Saya tadinya hanya sebagai pengamat yang diundang saja, namun ketika Amurea Band membawakan Roundabout nya Yes akhirnya kepancing juga ikut nyanyi meski lirik gak hafal. Wis embuh, sing penting ngerock! Ha ha ha ha ha ha ha ….

Memang harus saya akui, Amurea Band mainnya bagus dan rapi, menguasai lagu-lagu rock 70an dengan baik. Beberapa kali saya mengelu-elukan permainan gitar solo Harry Soebardja (adiknya Benny Soebardja – Diant Step / Shark Move). Bener-bener ngerock mainnya ….

Tanpa terasa…malam itu jam sudah menunjukkan 23:00 WITA dan kami sudahi acara ngerock malam itu dengan perasaan happy … Pokoknya asik dan saya suka berada di lingkungan penggemar musik rock …. Mangan ra  mangan sing penting kumpul ngerock bareng … ha ha ha ha ha ha ha….

JRENG!

Ikutan happy rockin' .....

PKT Rock Nation 2011

November 21, 2011

Bontang, Kaltim – 19 November 2011.

Ini adalah perhelatan musik yang menurut saya berani. Mengapa? Pertama, tema yang diusung adalah apresiasi musik rock. Bila sekadar apresiasi musik, maka tak perlu dikataakan berani karena tak merujuk pada aliran tertentu. Kedua, mengusung tema rock yg berkonotasi berisik dan urakan cukup riskan apalagi yang menyelenggarakan adalah sebuah perusahaan yang tentunya berisi karyawan yang selera musiknya tentu cukup beragam. Namun begitulah, acara ini akhirnya terselenggara sukses pada Sabtu malam, 19 Nopember 2011 di GOR PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT), Bontang. Dikatakan sukses karena crowd dengan setia mengikuti acara hingga tuntas menjelang pukul 23:00 dengan acara puncak penampilan GodBless.

Bagi saya pribadi, malam tersebut memiliki kesan tersendiri karena menampilkan musik rock yang cukup beragam dari hard rock, metal, hingga progressive rock.  Yang benar-benar saya merasakan bahwa acara ini “malam saya” adanya lagu-lagu yang saya belum pernah dengar dibawakan live oleh band Indonesia, yaitu “Space Shanty” oleh Khan dan “Back To The Land oleh Ursa Majors. Sungguh, ini merupakan kejutan luar biasa bagi saya sehingga pada akhir penampilan dari band yang membawakan lagu “aneh” ini saya (sebagai MC) mewawancarai band leader yang kebetulan adalah Dirut PKT, Aas Asikin Idat.

Pemenang Festival Band Rock

Drummer cilik (10 th) yang tampil memukau.

Acara malam tersebut merupakan puncak dari serangkaian acara yang diawali dengan festival band rock se Bontang dan sekitarnya yang diikuti 14 (empat belas) band. Babak penyisihan dilakukan Jumat, 18 Nov 2011 sedangkan babak final dengan 6 (enam) band peserta diselenggarakan Sabtu siang. Juara 1 diberi kesempatan tampil di Malam Apresiasi pada Sabtu malam. Selain itu juga ada kompetisi khusus karyawan PKT. Acara malam itu dimulai dengan penampilan band terbaik karyawan PKT (Shelter Band) dari bagian Produksi, disertai pengumuman pemenang festival band dan penampilan band terbaik festival yang baru diselenggarakan. Band ini membawakan satu lagu dari Metallica “Enter Sandman” dengan penampilan yang rapi. Selanjutnya adalah penampilan band dengan dua pemain cilik usia 10 tahun memainkan drums dan satunya lagi kibor. Permainan drums si bocah cilik ini menarik dan saya sempat mewawancarainya di atas panggung. Cita-citanya ingin menjadi pemain band (rock tentunya …..)

Progressive Rock by Asidat Band

Yang sungguh mengejutkan saya adalah penampilan Asidat Band yang dipimpin oleh Aas Asikin Idat (vokal, gitar) didukung oleh Ali Musowa (drums), Dade Sembada (gitar), Tony Buchori (keyboards) dan Hanif Salis (bass). Saya memang tak sempat melihat band ini latihan saat sound check. Namun ternyata malah beruntung karena yang saya alami adalah kejutan luar biasa yang membuat adrenalin saya mengalir deras begitu dengar hentakan drums di awal penampilan disertai suara cymbals panjang dan lengkingan organ yang disertai jeda sejenak saat vokal masuk menereakkan “I need you and you need me …” …. WHOOOAAAAA….!!! Dada saya langsung berdegup kencang dan kontan saya lari turun panggung dari backstage dan menerobos penonton di bagian kiri panggung serta langsung duduk di deretan kursi terdepan. Tak kuat menahan emosi, saya pun ikut tereak sambil menggerakkan tangan seolah ikut ngedrum (gayane rek! Koyok iso ngedrum wae! wakakakakakak …). Lantunan lirik yang lumayan saya hafal pun saya ikuti bersama mengalirnya band membawakan repertoire luar biasa ini.

Also I need to be free
Free as the word free can mean
To stand secure outside this dream
Starstruck moonman looks so blind
You’re still a slave within your mind
And all this time you have not guessed

Where you are bound
Which way you’re heading
How you can stop feeling confused

Aas Asikin in rock!

Terus nyambung dengan organ solo ala Dave Stewart yang mainnya maut itu. Uwediyan ! Saya sudah seperti orang kesurupan nyanyi2 sendiri di depan panggung lupa diri bahwa saya hanyalah satu2nya yang nyanyi selain pak Aas. Saat organ solo pun saya menirukan gaya main organ seolah bisa main aja, bahkan saat druming masuk pun saya tiba2 jadi drummer. Udah kayak orang gila aja. Beberapa penonton di barisan depan heran lihat saya tapi saya gak peduli, kapan lagi ada lagu indah ini dibawakan live? Mungkin ini pertama dan terakhir saya bisa menyaksikan lagu ini dibawakan secara live. Tentu, yang paling menarik dari lagu ini adalah saat gitar solo Steve Hillage mulai meraung-raung keriting. Meski permainan gitarnya disederhanakan, namun saya tetep orgasme menikmati lagu yang “saya banget” ini. Biyuh! (Selama lagu ini dibawakan, saya juga ambil foto pemain-pemain Asidat Band ini).

Steve Hillage (Dade Sembada) bersolo gitar di "Space Shanty" - tuooobz!! dan Hanif Salis (bass)

Ali Musowa dalam "Back to The Land" - Ursa Major

Selanjutnya, band ini memberi saya kejutan lain dengan musik yang sound nya sangat 70an dan bisa dikatakan mewakili sound musik rock era tersebut dari band langka URSA MAJOR bertajuk “Back To The Land” (1972). Jangan salah ya, sekurangnya ada lima (5) band menggunakan nama ini. tapi yang saya maksud ini adalah band rock yang pada tahun 1972 menelorkan hanya satu album saja.Dari album ini ada dua singles “Liberty and Justice” dan “Let The Music Play”.Namun di Indonesia justru yang ngetop dua lagu lainnya “In My Darkest Hour” dan “Back To The Land”. Alasannya mengapa kurang jelas. Ini seperti kasus “Someone” nya Grand Funk Railroad yang ngetop banget di Indonesia padahal di kancah internasional tak dikenal baik. Sungguh saya terheran kagum Asidat Band ini membawakan repertoire yang saya yakin masyarakat Bontang pasti tak mengenalnya. Jangankan Bontang, di Jakarta pun mungkin penonton dewasa ini kurang kenal dengan lagu ini. Saya salut lagu ini dibawakan.

Lagu selanjutnya yang dibawakan saya rasa pada jamannya sudah cukup populer namun dewasa ini sangat jarang kita dengar yaitu sebuah nomor blues “Simple Man” dari Cuby + The Bilzzards. Whoooaaaa …..!!! Saya kagum abis bahwa Asidat band membawakan lagu yang sangat memorable dan masih sering saya putar di iPod say. Saya suka sekali dengan intro piano yang relatif panjang dan disertai jeda sejenak terus disambung gebrakan snare drums menandakan musik masuk dalam irama blues-rock. Sekali lagi saya kagum dengan Asidat Band. Repertoire selanjutnya adalah “Come Sail Away” yang rupanya cukup dikenal oleh penonton disajikan dengan orchestrasi oleh PKT Big Band. Penampilan Asidat ditutup dengan repertoire yang dulu sering dibawakan oleh God Bless “Carry On Wayward Son” karya Kansas, disertai alunan Big Band PKT yang bermain bagus sekali.

PKT Big Band memberikan sentuhan orkestra dalam "Carry On Wayward Son". Kansas saja belum pernah membawakan lagu ini live dengan orkestra ....

Pada saat Asidat ini main, kadang saya berada di back stage sambil ikut tereak-tereak disaksikan Ian Antono dan kemudian

Dave Stewart (Tony Buchori) dalam "Space Shanty"

Iyek. Mungkin mereka bilang saya sudah kesurupan ya? Gak masalah ….sing penting rock on! Pada saat perpindahan lagu saya sering berteriak sendiri di belakang panggung dan menyatakan salut ke Aas Asikin yang kadang menoleh ke belakang. Kalau udah begini saya lupa bahwa beliau ini Dirut PKT. Tapi musik rock kan gak mengenal batasan jabatan to? Santai aja jal!

Di luar skenario acara, setelah mendapatkan ijin dari Stage Director, saya melakukan wawancara spontan dengan Aas Asikin mengenai keberaniannya membawakan lagu-lagu tersebut. Berikut cuplikan jawabannya:

Musik rock sangat menyemangati kita dalam bekerja. Bermain band itu perlu karena kita bisa melatih harmonisasi permainan antara satu pemain dengan lainnya seperti halnya mengelola perusahaan. Kita bisa menganalogikan misalnya pemain bass itu ibaratnya seperti Direktur Keuangan nya. Makanya kita perlu sekali main band. Saya rasa pejabat pun perlu ngeband.

(disambut tepuk tangan riuh dari penonton yang berjumlah sekitar 2500 orang memadati GOR PKT Bontang).

Penampilan God Bless

Dalam formasi ini God Bless tampil dengan Ahmad Albar (vokal), Donny Fatah (bass), Ian Antono (gitar), Inang Nursaid (drums) dan Hary Anggoman (keyboards). Seperti biasa, penampilan God Bless memiliki magnet yang kuat bagi penonton untuk lebih bersemangat mngikuti alunan musiknya. GB membuka konser dengan menampilkan video klip Huma Di Atas Bukit versi akustik dimana pada saat ini ditayangkan Iyek (Ahmad Albar) masih berada di belakang layar sambil menyanyi lirih. (Saya sempat ngobrol sebelum acara dimulai). Iyek berpenampilan rocker dengan T-Shirt hitam bergambar masker seperti Grendel nya Marillion. Meski sudah 64 tahun, gaya rockernya masih keren. Donny dan Ian kemudian menyeruak keluar dari backstage membawakan koor vokal penggalan “She Passed Away”. Harus saya akui bahwa koor Ian dengan Donny merupakan perpaduann khas yang membedakan God Bless dari band-band lainnya. Meski lagunya berirama pelan namun cukup menampilkan nuansa rock.

Donny & Iyek - Menjilat Matahari

Ahmad Albar keluar dari backstage dan langsung mendapatkan sambutan tepuk tangan riuh dari penonton, membawakan “Bla Bla Bla …” dan kemudian “Kehidupan”.  Bla Bla Bla ini merupakan salah satu lagu God Bless yang sangat saya sukai karena iramanya asik dan juga alunan suara kibornya sunggung menawan.

dendam mendendam antar manusia
capai batas pecah membelah
(angkat bicara)

hantam kiri hantam kanan persetan
penting tahta bertabur intan
lagu kematian
lantang dan bergema
lagu kematian
hilang tak bergema

karena senjata
karena kuasa
karena bla bla bla

WOW!!!!! Man …..kuwerrrreeeeennnnnnn!!!!!!! Tuoooobzzz!!!!

Selanjutnya mereka membawakan “Menjilat Matahari” dengan baik. Saya paling suka melihat gaya main bass Donny Fatah. Menurut saya, dia ini pemanin bass yang bagus dan sangat santai gaya mainnya. Karena saya juga menyukai lagu ini, tentu saya ikut menyanyi di depan panggung. Pinngir panggung yang tadinya sepi, sekarang diserbu penonton dari belakang. Suasana jadi meriah sekali. Dari segi musikalitas, penampilan God Bless memang banyak fals nya terutama suara Iyek yang suka tak nyampe. Bisa dimengerti, konon ia sedang terkena flu sehingga suaranya tak jernih seperti biasa.

GodBless on stage

Setelah membawakan lagu-lagu berirama cukup keras, selanjutnya adalah “Rumah Kita” yang telah banyak dikenal orang dan penontonpun hanyut dalam alunan lagu ini. Di tengah lagu, pak Sulda Hartono (Direktur Komersil PKT) berduet dengan Iyek dan kemudian pada saat lagu usai disertai dengan peresmian Bontang God Bless Community (GBC). Selanjutnya GodBless memutar playback musik Bali yang digunakan sebagai pembukaan dari salah satu album Gong 2000 disertai dengan “Musisi” yang merupakan lagu kesukaan saya. Adrenalin saya mengalir deras saat lagu ini dibawaan. Luar bisa, meskipun permainannya tak cukup kompak namun nuansa yang terbangun sungguh bagus. Setelah itu Iyek melakukan break dari musik keras dengan melakukan penampilan akustik melalui “Balada Sejuta Wajah”, “Syair Kehidupan”, dan Panggung Sandiwara”.

Iyek dan Suldja Hartono (Direktur Komersil PKT) membawakan "Rumah Kita" sebelum peresmian Bontang God Bless Community.

Ian Antono "Balada Sejuta Wajah"

Yang saya salut adalah lagu berikutnya yang bertempo cepat seperti musik metal bertajuk “Serigala Jalanan” nyambung ke album solo Iyek bertajuk “Bus Kota”. Mengingat usia mereka yang sudah gaek membawakan lagu bertempo cepat patut mendapatkan acungan jempol. Seperti biasa, GodBless menutup konser dengan “Semut Hitam”.

Secara keseluruhan, acara pada malam hari itu berjalan lancar penuh semangat. Bahkan, beberapa orang PKT mengatakan bahwa acara tersebut tergolong sukses karena sangat jarang acara musik bisa menembus di atas jam 22:00. “Penonton Bontang biasanya akan bubar pada jam 22:00 siapapun pembawa acara puncaknya. Namun malam ini tidak ….”, begitu kata seorang penonton. Tak sia-sia kerja keras panitia yang telah merancang acara ini sehingga pelaksanaannya bisa dikatakan lancar dan yang penting IT’S DEFINITELY ROCKIN’ ….!!!!! Yeah …..! JRENG!!!

Ulasan tentang God Bless bisa KLIK disini atau disini.

— End of Story —

Back Stage Gallery

Back Stage - sebelum manggung ...

Ian Antono - back stage


Just before the show ...

Panitia PKT Rock Nation 2011 - These were the people who made it happen ....Bontang rocks!!!!

Iyek setelah sound check - berpose dengan Bontang rockers. Tanty (paling kanan) adalah teman saya satu SMP saat di Madiun (kota yang ngerock!) yang tinggal di Bontang. Dia ternyata penggemar musik rock tulen!

God Bless setelah sound check

God Bless setelah sound check. Inang Nursaid (drums), Ian Antono (gitar), Donny Fatah (bass), Ahmad Albar (vokal) dan Hary Anggoman (keyboards)

Donny saat membawakan "Musisi" dalam sound check

God Bless after the show - back stage gathering

PKT Rockers: Suldja, Eri & Qomaruzaman

Salam Metal!!! Yang pake jilbab itu Stage Director (boss saya). Tuooobbz!!!

KOLEKSI LANGKA: Khan "Space Shanty" dalam format CD dan kaset rekaman Yess (Bandung). Meski sudah punya CD nya, kaset tetap saya simpan karena nilai koleksinya yang tiada harga karena sangat nuansamatik pol! Jangan coba2 tawar barang2 ini ya .... Langka boss .... Kagak dijokul. Maap ...he he he he ....

Ulasan tentang KHAN “Space Shanty” silakan KLIK.

Rainbow “Rising”

November 11, 2011

Gak prog yo ben! Lagi kepengen semangat nih setelah empat hari sakit ….

Bagi saya album hard rock satu ini memiliki arti khusus karena saat pertama kali terbit membuat saya terpesona: hanya”seorang” pemain dari keluarga Deep Purple bisa membuat album sedahzyat Deep Purple. Luar biasa! Saat itu album ini saya beli dalam format kaset rekaman Perina Aquarius warna kuning dan lagu pertamanya “Tarot Woman” sudah membuat dada saya berdesir pertama kali saya puter di tape deck TEAC keluaran pertama (tape deck ini dulu dipake Duta Suara juga …lupa modelnya, pokoknya paling jadul lah …tapi bandel!). Sejak denger kaset ini tiap hari saya puter berkali-kali apalagi kalau sudah masuk STARGAZER … whoooaaaa…. adrenalin muncratz tenaaaaan! Wis pokoke jiyan dahzyat tenan jal!

Album ini merupakan menu harian saya setiap pagi hari bangun tidur sebelum mengerjakan pekerjaan rutin saya sebelum berangkat sekolah: nyapu dan ngepel rumah. Eits! Jangan dikira pekerjaan ringan lho … Ada ENAM kamar yang musti saya kerjakan dengan masing-masing kamar berukuran 8 x 8 M lho …. Jadi bisa nyetel kaset C-60 bolak balik baru kelar semua pekerjaan. What a life! Saya menikmati banget saat2 di Madiun tersebut. Memang saat di Madiun itulah kegilaan saya terhadap musik rock dan prog sedang intens, nyambung saat kuliah di Bandung. Saya kalau mendengar STARGAZER rasanya melayang saking indah dan perkasa. Bangga saya dengan lagu ini karena meskipun rock tapi melodinya nunjek ulu ati menohok sukma bisa membuat ngguweblak nggulung koming ping kopang kaping hancur luluh berantakan ….. Lha? Merusak dong…?? Kagak tuh! Abis menikmati album ini terasa ngonthel sepedah ke sekolah jadi tambah semangat dan bisa dengan baik mengikuti pelajaran Kimia, Determinan, Himpunan, Stereo, Trigonometri (sekarang semuanya digabung jadi satu: matematika), Fisika dengan baik …makanya bisa lulus SMA !!! Kalau gak dengerin album ini, sulit dah bisa lulus SMA …. Wong album ini bisa membantu mengatasi persoalan rumit Differential Integral yang pake cacing tumpuk tiga itu …. Bityuh …biyuh …!!! Apa jadinya kalau tanpa ngerock????? Ngerock membuat otak encer jal! Gak percaya? Coba setel album ini, wahai anak muda!!!!

JRENG!

Cover untuk edisi 2 CD "Deluxe Edition"

alt

Studio Album, released in 1976

Songs / Tracks Listing

1. Tarot Woman (6.08)
2. Run with the Wolf (3:47)
3. Starstruck (4:04)
4. Do You Close Your Eyes (2:58)
5. Stargazer (8:27)
6. A Light in the Black (8:11)

Total time: 33.35

Music: written and arranged by Ritchie Blackmore and Ronnie James Dio
Lyrics: Ronnie James Dio

Produced by Martin Birch

CD1 Bonus track on 2011 2CD Deluxe Edition:
7. Tarot Woman (Los Angeles Mix) (6:07)
8. Run With The Wolf (Los Angeles Mix) (3:47)
9. Starstruck (Los Angeles Mix) (4:07)
10. Do You Close Your Eyes (Los Angeles Mix) (3:00)
11. Stargazer (Los Angeles Mix) (8:24)
12. A Light In The Black (Los Angeles Mix) (8:12)

CD2 – Previously unreleased bonus tracks (on 2011 2CD Deluxe Edition)
1. Tarot Woman (Rough Mix) (6:08)
2. Run With The Wolf (Rough Mix) (3:51)
3. Starstruck (Rough Mix) (4:06)
4. Do You Close Your Eyes (Rough Mix) (3:07)
5. Stargazer (Rough Mix) (9:10)
6. A Light In The Black (Rough Mix) (8:16)
7. Stargazer (Pirate Sound Tour Rehearsal) (8:34)

Total time 43:12

Line-up / Musicians – Ritchie Blackmore / guitar
- Ronnie James Dio / vocals
- Jimmy Bain / bass
- Tony Carey / keyboards
- Cozy Powell / drums

Guest musicians:
- Munich Philarmonic Orchestra conducted by Rainer Pietsch, koncert meister – Fritz Sonneleitner

Review by Gatot
SPECIAL COLLABORATOR Honorary Collaborator

5 stars A Masterpiece of Hard Rock!

For those of you who were there when this second album was released, must have been aware how legendary this album is. It’s not the news about Deep Purple breaking up that mattered at that time but the fact that in fact Ritchie Blackmore could establish a powerful rock band as great as Deep Purple. The debut album in itself was an excellent album. The follow up “Rising” is in fact stronger and much more solid musically. The sound is not something close with Deep Purple especialy with Tony Carey’s keyboard which does not seem similar with Jon Lord’s. Surprisingly, the new sound of keyboard has even made the music of Rainbow is quite unique compared to other bands.

“Tarot Woman” kicks off the album wonderfully with great keyboard solo. In fact, when I was a student, I kept playing this intro part just before I went to school because the sound is so rocking and it motivated me to go to school. What a great old days! The music that follows the keyboard solo is marvelous and t’s so rocking. “Run With the Wolf” is also an excellent hard rocker followed nicely with “Startstruck” which has beautiful guitar riffs.

What makes this album is so special is “Stargazer” which has a fabulous drum solo as opening. To be honest this was my first experience listening to how dazzling the drumwork by Cozy Powell is. It’s totally amazing! The blast of music follows and the song enters a great vocal line that sings:

High noon .. Oh Id sell my soul for water

Nine years worth 0f breakin my back.

Theres no sun in the shadow of the wizard

See how he glides

Why hes lighter than air” ..

oh my God! What a rockin’ style here! Since then, I admired Cozy (RIP) as one of the best rock drummers in the world. And .. “Stargazer” is so powerful and has become my all-time favorite.

“A Light In The Back” is also another great composition. Oh yeah, Ritchie is a guitar hero .. but what he has done here with this album is that he gives his colleagues a chance to perform their best. Ronnie James Dio best contribution for Rainbow had reached its climax through this album!

It’s a MUST for those of you who love vintage hard rock music. This is one of the best!!

Peace on earth and mercy mild – GW

Merajut Makna Melalui Prog Rock (27 of 99)

November 6, 2011

Dalam rangka hari ‘The Lamb Lies Down on Mosque’ dan ‘Atom Heart Mother’ berupa mempersembahkan hewan qurban untuk dibagikan kepada kaum papa dan kerabat, saya kok nyamber  album Cermin dari GodBless (1980). Sebenernya ada alasan lainnya sih, karena saya barusan mendapat undangan untuk menjadi MC di acara Bontang Rock Nation 2011 yang akan datang dengan bintang tamu GodBless. Whoooaaaaa …. Kesempatan nih satu panggung dengan GodBless….. Namun karena begitu banyaknya album-album prog baru, saya sudah lama tak menyimak album-album GodBless sedangkan acara akan digelar dalam waktu dekat. Jadi, harus nyetel album-album GodBless. Album pertama yang ingin saya simak tentu Cermin.

Makna album ini sungguh dalam karena manusia diajak untuk selalu bercermin dan sadar bahwa hidup di dunia ini hanya sejenak dan kita semua PASTI mati. Hanya saja, kita tak pernah tahu kapan kita akan mati.

Coba kita simak lirik ANAK ADAM ini…. Betapa yang ditereakkan Ahmad Albar di tahun 1980 masih relevan hingga kini (31 tahun kemudian) ….

ANAK ADAM

Kau dan aku kita semua anak Adam
Datang dari satu rahim
Namun kini kta saling mendendam
Itu semua karena faham

Sirik dengki datang mendera
Fitnah memfitnah kinipun beraksi
Pamer memamer harta benda
Hina menghina membuat sakit hati
Geser menggeser dan mencari muka,
Telah menjadi mode masa kini
Ah, sangat nista

REF.

Pejamkanlah mataku dari warna silaunya harta
Dengarlah desir angin, suara alam meratap sendu
Palingkanlah diriku, dari jurang dosa dan cemar
Ajar kami bersujud padaNya
YANG MAHA KUASA

Dengarkanlah untukku, nafas hidup nan halus merdu
Tunjukkanlah jalanku ‘tuk membangun jiwa dan raga
Pimpin dan ajar kami, dari masa kebebalan ini
Hingga kami berdiri, bagaikan tiang sang saka

Dengarkanlah hai kau anak Adam
Dengarkanlah genderang kutempa kini

Hanya nada yang kini kunyanyikan

Semoga akan kau dengar

Kau dan aku kita semua anak Adam
Berlumur dosa masa silam
Kini lupa artinya dosa
Semua saudara, semua saling terkam
Ini semua sudah tersurat sebagai tanda
Hari akhir ‘kan tiba …..ah …..ah …..

The Tangent “COMM”

November 4, 2011

JRENG!

Sugeng enjang! Sugeng ngeprog!

Pagi ini lalin Jakarta cukup bersahabat karena tak macet. Belakangan ini memang lalin macet luar biasa. Namun tidak pagi ini dan saya bahagia karena sepanjang jalan bersenandung “The Wiki Man” tanpa memutar musiknya. Itulah kehebatan musik prog …tak harus diputar, disenandungkan saja sudah nuikmat sekali …..!! Biyuh biyuh …….!!! Lha ini blog kok bosone ngawur yo – campuran ra karuan: Jowo, Indonesia, Betawi (sok ke Jakarta-an) trus kadang Kemlondo ….. Lha yen ngene inki trus sopo sing gelem mampir blog ra karuan ngene to? Sing mampir pasti wong gemblunk ra nduwe gawean …. Yo koyo aku to ….. Ha ha ha ha ha ha …..

Tapi memang lagu The Wiki Man jiyan huwenak tenan. Jadi inget Gates of Deliriumnya Yes. Saya senandungkan terus dan albumnya sering saya putar di rumah. Oh ya,  saya ternyata sempat mereviewnya di tengah kesibukan ngurus reformasi birokrasi …..he he he he …. Reformasi Brirokrasi kudu melu jalur prog ben cepet bar …. Yo pow ra? Ki  lho review ku …. Monggo ….

Salam,

G

——–

Artwork nya aja keren .... pake Ed Unitsky ... Roger Dean of Today

Studio Album, released in 2011

Songs / Tracks Listing

1. The Wiki Man (20:14)
- a. Prologue
- b. The Wiki Man
- c. Competition Watershed
- d. Edit Me Out
- e. Car Boot Sale
- f. The Wiki Man Reprise
2. The Mind’s Eye (8:13)
3. Shoot Them Down (6:45)
4. Tech Support Guy (5:51)
5. Titanic Calls Carpathia (16:31)
- a. The Millpond
- b. Titanic Calls Carpathia
- c. Lovell Calls Houston
- d. A Lost Soul Calls Antares
- e. Fire In Our Fingers
- f. Earth Calling Anyone

Total Time: 57:34

bonus tracks on limited edition:
6. The Spirit Of The Net
7. Fantasy Bootleg ‘Watcher Of The Skies’

Lyrics

Search THE TANGENT COMM lyrics

Music tabs (tablatures)

Search THE TANGENT COMM tabs

Line-up / Musicians

- Andy Tillison / keyboards, vocals
- Jonathan Barrett / bass, vocals
- Luke Machin / guitar, vocals
- Theo Travis / saxophone, flute
- Nick Rickwood / drums

Releases information

Released September 27, 2011 in North America. September 26 in Europe
Insideout Music / EMI

Review by Gatot
SPECIAL COLLABORATOR Honorary Collaborator

4 stars An impressive album that represents many prog elements of the past …

I have been amazed by the band since its debut album ‘The Music That Died Alone’ which blew me away at first spin – musically and impressed me with its CD artistic work by Ad Unitsky who in fact like the Roger Dean of today’s progressive music. At first, I thought the band would just focus on its Canterbury development as its roots but as time went by I have observed that the band has successfully capitalized all great elements of past progressive music. Well yeah, you can find the elements of Van der Graaf (a lot), Yes (a lot), Genesis, ELP, King Crimson, Gentle Giant (even though a bit only) and many more. I do not say that they do not have their own roots because their music is basically a unique one that you may not be able to compare with any other progressive bands. Two thumbs up for The Tangent! Even though there are many elements of past prog music, nuance-wise, but the band has successfully pushed the envelop by presenting and packaging the music in a modern way with great sonic quality of production.

Andy Tillison as central act

As the band is truly multinational with its members coming from different nationalities, it’s quite difficult to maintain its lineup – that’s why the band has undergone many changes in its lineup with Andy Tillison as the only member who has been consistently with the band. In fact, right after the album was released the bass player Jonathan was leaving the band for his solo music career and personal reason (the loss of his father). I’m so happy having listened to the album when the young left-handed guitarist Luke contributes in this album. He is just an extraordinary guitarist and am so amazed with his skills. If he just play straight rock music, I may not so impressed with him but in this album where the music is totally prog to the bone he can provide great guitar work combining stunning guitar solo as well as rhythm or riffs styles. He’s really great!

The album sounds like a concept album if you look at the titles of the track like ‘The Wiki Man’, ‘Tech Support Guy’, ‘Titanic Calls Carpathia’ even though in an interview with DPRP Andy admitted there was no such concept album in any release of The Tangent so far and they did not plan one in the future. But yes, he admitted that the central issue was about COMMunication as the thing that concerned Andy in most of the tracks in COMM album.

Musically, ‘The Wiki Man’ (20:14) that comprises six movements is really a great composition that wonderfully open this great album. It starts with sort of beeps in the ‘fax machine’ line followed with great symphonic style of music relying mostly on the keyboard solo with nice musical breaks having the fax machine beeps provide the fill during breaks. Luke’s guitar solo starts right after the short musical opening with his unique style. The rest of the first part demonstrates great composition that shows dynamic drumming, inventive keyboards, stunning guitar work and dynamic bass playing. The first part already impressed me and right away I shouted to myself “This is IT! The music that I really love!”. Next part is basically the vocal line in unique Andy Tillison way – it has become the band’s trademark in terms of vocal line. I have to admit that Andy’s vocal work is not superb but it does really fit with the music wonderfully. I repeat: “wonderfully”! I am not joking, while I am enjoying this opening track my mind fly back to the days when I first listened to Yes’ ‘Gates of Delirium’, ‘Close to The Edge’. Oh my God …these guys really terrific! They are able to stimulate the great parts of past progressive music in their own way, in a modern sound technology. I say in their own way because there are parts with piano solo that remind me to jazz music followed with long sustained keyboard solo that reminds me to Rick Wakeman’s solo in Close to The Edge or Patrick Moraz solo in Gates of Delirium. This epic ‘The Wiki Man’ to me is at par excellence as Yes’ ‘Gates of Delirium’ – my all time favorite of Yes composition. The music of The Wiki Man is much more dynamic than Yes’ Close To The Edge – that’s why I tend to compare it with Gates of Delirium which has dynamic parts. Of course The Wiki Man has musical break as well and it is filled with great combination of vocal, acoustic guitar and piano. It’s really a masterpiece composition! Bravo The Tangent! Even if the rest of the tracks are not good, this opening track represents the worth of buying the album, really! One thing that I really want more from this opening track: more guitar solo by Luke – it seems this opening track has spaces that actually he can fill ini more guitar solo and shreds.

‘The Mind’s Eye’ (8:13) starts off with a choirs followed with music that moves in crescendo until it reaches certain tempo that is quite fast augmented with nice guitar rhythm. This track is more song-rientated composition and it relies heavily on Andy’s vocal line. There are parts that have breaks as well but mostly the track comprises dynamic music. It’s an excellent composition. The next track ‘Shoot Them Down’ (6:45) is a mellow one and it’s not something that I really like because the music is quite straight forward – less challenges for me to digest. But it’s a good as filler having listened to two dynamic tracks previously. ‘Tech Support Guy’ (5:51) is another dynamic track with great flute work augmented beautifully with dynamic drumming and organ / keyboard work. The vocal line of Andy enters nicely while the music still provide the unique sound of The Tangent. The alto sax solo is also nice and it makes this track characterizes the music of The Tangent. I like the interlude part that provides great flute and keyboard / guitar works.

‘Titanic Calls Carpathia’ (16:31) is another epic shorter than The Wiki Man and it comprises also six movements. It starts off with an ambient style with flute providing the lead backed with silent keyboard work. The opening reminds me to the overture of orchestral music. The real music enters at approximately minute 3 with a nice drumming work. The vocal enters slowly, still in the silent mode. The overall mode of this track is basically moderate in tempo and less complex than The Wiki Man. However, this track provides great combination of skills from the musicians involved. The interlude part has musical riffs but still maintain the nature of The Tangent Music – it does not something like progressive metal. This epic concludes the album wonderfully. Titanic Calls Carpathia …..

Overall, this is an excellent addition to any prog music collection. For those who like how the traditional elements of prog music integrated into one cohesive whole with excellent audio quality plus some jazz music parts, this album is really the one you need to have. Keep on proggin’ …!

Peace on earth and mercy mild – GW

Send comments to Gatot (BETA) | Report this review (#560707) | Review Permalink 
Posted Monday, October 31, 2011

Queen “The Game” by Aquarius

November 2, 2011

JRENG!

Pas lagi gak sempet ngisi blog ini ada mas Hippienov yang sudi mengulas kaset nuansamatik ini ….. Terima kasih mas! Aku juga punya kaset ini tapi gak tahu kemana lagi nih kaset …. Yang seru side B nya kok KAYAK – jiyan …mesakne tenan yo …..

Monggo dikomentari ….

Salam,

G

—–

Iseng-iseng kirim email ke Mas G buat topik obrolan di blog markotop ini.
Kali ini giliran kaset Queen “The Game” dari Aquarius yang di dalamnya termuat juga album Kayak “Periscope Of Life” walau sayang cuma beberapa lagu saja.


“The first appearance of synthesizer on Queen’s album” demikian kata pembuka di sampul kaset ini. Memang Queen mulai explore menggunakan synth di era 70an akhir,tapi kayaknya di album “news of the world” synth sudah terdengar juga. Padahal pada awalnya mereka anti synth, malah di sampul “a night at the opera” ditulis jelas ‘no synthesizers’. Gak jelas kenapa Queen anti synth di masa awal berdiri padahal band-band prog banyak yang menggunakannya. Belakangan Queen malah selalu gak pernah lupa utilizing synth/keys di hampir semua lagu mereka plus di tiap tour  era 80an sampai masa-masa akhir sebelum Mercury wafat, selalu ada additional musician untuk playing keyboard. Perubahan ini terasa sekali mulai album “flash gordon” lanjut di “hot space” yang sangat disco itu dan “works” – “a kind of magic” sampai “made in heaven” yang dirilis setelah Freddie Mercury wafat.

Album ini menghasilkan beberapa hits yang terkenal:
“play the game, save me, another one bites the dust dan crazy little thing called love”. Tapi menurutku lagu “sail away sweet sister” Brian May bagus juga. Yang lainnya menurutku lumayan meski secara keseluruhan rasa komersialisme terasa di album ini.

Yang buat aku tertarik pas liat kaset ini adalah ada tambahan album Kayak “periscope of life”, padahal gak nyambung ya Kayak yang lumayan prog ditandem dengan Queen yang glam. Tapi okelah yang penting ada taste of prog sedikit di kaset ini. Malah menurutku album tambahan Kayak lebih tepat kalau jadi album utama dibanding “the game” nya Queen.
Dari lagu pembuka “astral aliens” yg langsung disambung
“what’s in a name” langsung nendang adrenaline.
“stop that song” yang riang bertempo lumayan cepat dengan unsur terompetnya lebih enak dibanding “crazy little thing called love.
“if you really need me now” juga gak kalah melankoli dari “save me”.
“periscope of life” dan “beggars can’t be choosers” enak terdengar di kuping bahkan mungkin lebih oke..
Tapi ini semua sekedar pandanganku saja, pastinya ada yang bependapat kebalikan dariku.
It’s a free world and anybody can have different opinios but we, proggers are always be open minded individuals..”

Peace on earth..
Hippienov
Sent using a Sony Ericsson mobile phone


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 131 other followers