Bontang, Kaltim – 19 November 2011.

Ini adalah perhelatan musik yang menurut saya berani. Mengapa? Pertama, tema yang diusung adalah apresiasi musik rock. Bila sekadar apresiasi musik, maka tak perlu dikataakan berani karena tak merujuk pada aliran tertentu. Kedua, mengusung tema rock yg berkonotasi berisik dan urakan cukup riskan apalagi yang menyelenggarakan adalah sebuah perusahaan yang tentunya berisi karyawan yang selera musiknya tentu cukup beragam. Namun begitulah, acara ini akhirnya terselenggara sukses pada Sabtu malam, 19 Nopember 2011 di GOR PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT), Bontang. Dikatakan sukses karena crowd dengan setia mengikuti acara hingga tuntas menjelang pukul 23:00 dengan acara puncak penampilan GodBless.
Bagi saya pribadi, malam tersebut memiliki kesan tersendiri karena menampilkan musik rock yang cukup beragam dari hard rock, metal, hingga progressive rock. Yang benar-benar saya merasakan bahwa acara ini “malam saya” adanya lagu-lagu yang saya belum pernah dengar dibawakan live oleh band Indonesia, yaitu “Space Shanty” oleh Khan dan “Back To The Land oleh Ursa Majors. Sungguh, ini merupakan kejutan luar biasa bagi saya sehingga pada akhir penampilan dari band yang membawakan lagu “aneh” ini saya (sebagai MC) mewawancarai band leader yang kebetulan adalah Dirut PKT, Aas Asikin Idat.
Pemenang Festival Band Rock

Drummer cilik (10 th) yang tampil memukau.
Acara malam tersebut merupakan puncak dari serangkaian acara yang diawali dengan festival band rock se Bontang dan sekitarnya yang diikuti 14 (empat belas) band. Babak penyisihan dilakukan Jumat, 18 Nov 2011 sedangkan babak final dengan 6 (enam) band peserta diselenggarakan Sabtu siang. Juara 1 diberi kesempatan tampil di Malam Apresiasi pada Sabtu malam. Selain itu juga ada kompetisi khusus karyawan PKT. Acara malam itu dimulai dengan penampilan band terbaik karyawan PKT (Shelter Band) dari bagian Produksi, disertai pengumuman pemenang festival band dan penampilan band terbaik festival yang baru diselenggarakan. Band ini membawakan satu lagu dari Metallica “Enter Sandman” dengan penampilan yang rapi. Selanjutnya adalah penampilan band dengan dua pemain cilik usia 10 tahun memainkan drums dan satunya lagi kibor. Permainan drums si bocah cilik ini menarik dan saya sempat mewawancarainya di atas panggung. Cita-citanya ingin menjadi pemain band (rock tentunya …..)
Progressive Rock by Asidat Band

Yang sungguh mengejutkan saya adalah penampilan Asidat Band yang dipimpin oleh Aas Asikin Idat (vokal, gitar) didukung oleh Ali Musowa (drums), Dade Sembada (gitar), Tony Buchori (keyboards) dan Hanif Salis (bass). Saya memang tak sempat melihat band ini latihan saat sound check. Namun ternyata malah beruntung karena yang saya alami adalah kejutan luar biasa yang membuat adrenalin saya mengalir deras begitu dengar hentakan drums di awal penampilan disertai suara cymbals panjang dan lengkingan organ yang disertai jeda sejenak saat vokal masuk menereakkan “I need you and you need me …” …. WHOOOAAAAA….!!! Dada saya langsung berdegup kencang dan kontan saya lari turun panggung dari backstage dan menerobos penonton di bagian kiri panggung serta langsung duduk di deretan kursi terdepan. Tak kuat menahan emosi, saya pun ikut tereak sambil menggerakkan tangan seolah ikut ngedrum (gayane rek! Koyok iso ngedrum wae! wakakakakakak …). Lantunan lirik yang lumayan saya hafal pun saya ikuti bersama mengalirnya band membawakan repertoire luar biasa ini.
Also I need to be free
Free as the word free can mean
To stand secure outside this dream
Starstruck moonman looks so blind
You’re still a slave within your mind
And all this time you have not guessed
Where you are bound
Which way you’re heading
How you can stop feeling confused

Aas Asikin in rock!
Terus nyambung dengan organ solo ala Dave Stewart yang mainnya maut itu. Uwediyan ! Saya sudah seperti orang kesurupan nyanyi2 sendiri di depan panggung lupa diri bahwa saya hanyalah satu2nya yang nyanyi selain pak Aas. Saat organ solo pun saya menirukan gaya main organ seolah bisa main aja, bahkan saat druming masuk pun saya tiba2 jadi drummer. Udah kayak orang gila aja. Beberapa penonton di barisan depan heran lihat saya tapi saya gak peduli, kapan lagi ada lagu indah ini dibawakan live? Mungkin ini pertama dan terakhir saya bisa menyaksikan lagu ini dibawakan secara live. Tentu, yang paling menarik dari lagu ini adalah saat gitar solo Steve Hillage mulai meraung-raung keriting. Meski permainan gitarnya disederhanakan, namun saya tetep orgasme menikmati lagu yang “saya banget” ini. Biyuh! (Selama lagu ini dibawakan, saya juga ambil foto pemain-pemain Asidat Band ini).

Steve Hillage (Dade Sembada) bersolo gitar di "Space Shanty" - tuooobz!! dan Hanif Salis (bass)

Ali Musowa dalam "Back to The Land" - Ursa Major
Selanjutnya, band ini memberi saya kejutan lain dengan musik yang sound nya sangat 70an dan bisa dikatakan mewakili sound musik rock era tersebut dari band langka URSA MAJOR bertajuk “Back To The Land” (1972). Jangan salah ya, sekurangnya ada lima (5) band menggunakan nama ini. tapi yang saya maksud ini adalah band rock yang pada tahun 1972 menelorkan hanya satu album saja.Dari album ini ada dua singles “Liberty and Justice” dan “Let The Music Play”.Namun di Indonesia justru yang ngetop dua lagu lainnya “In My Darkest Hour” dan “Back To The Land”. Alasannya mengapa kurang jelas. Ini seperti kasus “Someone” nya Grand Funk Railroad yang ngetop banget di Indonesia padahal di kancah internasional tak dikenal baik. Sungguh saya terheran kagum Asidat Band ini membawakan repertoire yang saya yakin masyarakat Bontang pasti tak mengenalnya. Jangankan Bontang, di Jakarta pun mungkin penonton dewasa ini kurang kenal dengan lagu ini. Saya salut lagu ini dibawakan.
Lagu selanjutnya yang dibawakan saya rasa pada jamannya sudah cukup populer namun dewasa ini sangat jarang kita dengar yaitu sebuah nomor blues “Simple Man” dari Cuby + The Bilzzards. Whoooaaaa …..!!! Saya kagum abis bahwa Asidat band membawakan lagu yang sangat memorable dan masih sering saya putar di iPod say. Saya suka sekali dengan intro piano yang relatif panjang dan disertai jeda sejenak terus disambung gebrakan snare drums menandakan musik masuk dalam irama blues-rock. Sekali lagi saya kagum dengan Asidat Band. Repertoire selanjutnya adalah “Come Sail Away” yang rupanya cukup dikenal oleh penonton disajikan dengan orchestrasi oleh PKT Big Band. Penampilan Asidat ditutup dengan repertoire yang dulu sering dibawakan oleh God Bless “Carry On Wayward Son” karya Kansas, disertai alunan Big Band PKT yang bermain bagus sekali.

PKT Big Band memberikan sentuhan orkestra dalam "Carry On Wayward Son". Kansas saja belum pernah membawakan lagu ini live dengan orkestra ....
Pada saat Asidat ini main, kadang saya berada di back stage sambil ikut tereak-tereak disaksikan Ian Antono dan kemudian

Dave Stewart (Tony Buchori) dalam "Space Shanty"
Iyek. Mungkin mereka bilang saya sudah kesurupan ya? Gak masalah ….sing penting rock on! Pada saat perpindahan lagu saya sering berteriak sendiri di belakang panggung dan menyatakan salut ke Aas Asikin yang kadang menoleh ke belakang. Kalau udah begini saya lupa bahwa beliau ini Dirut PKT. Tapi musik rock kan gak mengenal batasan jabatan to? Santai aja jal!
Di luar skenario acara, setelah mendapatkan ijin dari Stage Director, saya melakukan wawancara spontan dengan Aas Asikin mengenai keberaniannya membawakan lagu-lagu tersebut. Berikut cuplikan jawabannya:
Musik rock sangat menyemangati kita dalam bekerja. Bermain band itu perlu karena kita bisa melatih harmonisasi permainan antara satu pemain dengan lainnya seperti halnya mengelola perusahaan. Kita bisa menganalogikan misalnya pemain bass itu ibaratnya seperti Direktur Keuangan nya. Makanya kita perlu sekali main band. Saya rasa pejabat pun perlu ngeband.
(disambut tepuk tangan riuh dari penonton yang berjumlah sekitar 2500 orang memadati GOR PKT Bontang).
Penampilan God Bless
Dalam formasi ini God Bless tampil dengan Ahmad Albar (vokal), Donny Fatah (bass), Ian Antono (gitar), Inang Nursaid (drums) dan Hary Anggoman (keyboards). Seperti biasa, penampilan God Bless memiliki magnet yang kuat bagi penonton untuk lebih bersemangat mngikuti alunan musiknya. GB membuka konser dengan menampilkan video klip Huma Di Atas Bukit versi akustik dimana pada saat ini ditayangkan Iyek (Ahmad Albar) masih berada di belakang layar sambil menyanyi lirih. (Saya sempat ngobrol sebelum acara dimulai). Iyek berpenampilan rocker dengan T-Shirt hitam bergambar masker seperti Grendel nya Marillion. Meski sudah 64 tahun, gaya rockernya masih keren. Donny dan Ian kemudian menyeruak keluar dari backstage membawakan koor vokal penggalan “She Passed Away”. Harus saya akui bahwa koor Ian dengan Donny merupakan perpaduann khas yang membedakan God Bless dari band-band lainnya. Meski lagunya berirama pelan namun cukup menampilkan nuansa rock.

Donny & Iyek - Menjilat Matahari
Ahmad Albar keluar dari backstage dan langsung mendapatkan sambutan tepuk tangan riuh dari penonton, membawakan “Bla Bla Bla …” dan kemudian “Kehidupan”. Bla Bla Bla ini merupakan salah satu lagu God Bless yang sangat saya sukai karena iramanya asik dan juga alunan suara kibornya sunggung menawan.
dendam mendendam antar manusia
capai batas pecah membelah
(angkat bicara)
hantam kiri hantam kanan persetan
penting tahta bertabur intan
lagu kematian
lantang dan bergema
lagu kematian
hilang tak bergema
karena senjata
karena kuasa
karena bla bla bla
WOW!!!!! Man …..kuwerrrreeeeennnnnnn!!!!!!! Tuoooobzzz!!!!
Selanjutnya mereka membawakan “Menjilat Matahari” dengan baik. Saya paling suka melihat gaya main bass Donny Fatah. Menurut saya, dia ini pemanin bass yang bagus dan sangat santai gaya mainnya. Karena saya juga menyukai lagu ini, tentu saya ikut menyanyi di depan panggung. Pinngir panggung yang tadinya sepi, sekarang diserbu penonton dari belakang. Suasana jadi meriah sekali. Dari segi musikalitas, penampilan God Bless memang banyak fals nya terutama suara Iyek yang suka tak nyampe. Bisa dimengerti, konon ia sedang terkena flu sehingga suaranya tak jernih seperti biasa.

GodBless on stage
Setelah membawakan lagu-lagu berirama cukup keras, selanjutnya adalah “Rumah Kita” yang telah banyak dikenal orang dan penontonpun hanyut dalam alunan lagu ini. Di tengah lagu, pak Sulda Hartono (Direktur Komersil PKT) berduet dengan Iyek dan kemudian pada saat lagu usai disertai dengan peresmian Bontang God Bless Community (GBC). Selanjutnya GodBless memutar playback musik Bali yang digunakan sebagai pembukaan dari salah satu album Gong 2000 disertai dengan “Musisi” yang merupakan lagu kesukaan saya. Adrenalin saya mengalir deras saat lagu ini dibawaan. Luar bisa, meskipun permainannya tak cukup kompak namun nuansa yang terbangun sungguh bagus. Setelah itu Iyek melakukan break dari musik keras dengan melakukan penampilan akustik melalui “Balada Sejuta Wajah”, “Syair Kehidupan”, dan Panggung Sandiwara”.

Iyek dan Suldja Hartono (Direktur Komersil PKT) membawakan "Rumah Kita" sebelum peresmian Bontang God Bless Community.

Ian Antono "Balada Sejuta Wajah"
Yang saya salut adalah lagu berikutnya yang bertempo cepat seperti musik metal bertajuk “Serigala Jalanan” nyambung ke album solo Iyek bertajuk “Bus Kota”. Mengingat usia mereka yang sudah gaek membawakan lagu bertempo cepat patut mendapatkan acungan jempol. Seperti biasa, GodBless menutup konser dengan “Semut Hitam”.
Secara keseluruhan, acara pada malam hari itu berjalan lancar penuh semangat. Bahkan, beberapa orang PKT mengatakan bahwa acara tersebut tergolong sukses karena sangat jarang acara musik bisa menembus di atas jam 22:00. “Penonton Bontang biasanya akan bubar pada jam 22:00 siapapun pembawa acara puncaknya. Namun malam ini tidak ….”, begitu kata seorang penonton. Tak sia-sia kerja keras panitia yang telah merancang acara ini sehingga pelaksanaannya bisa dikatakan lancar dan yang penting IT’S DEFINITELY ROCKIN’ ….!!!!! Yeah …..! JRENG!!!
Ulasan tentang God Bless bisa KLIK disini atau disini.
— End of Story —
Back Stage Gallery

Back Stage - sebelum manggung ...

Ian Antono - back stage

Just before the show ...

Panitia PKT Rock Nation 2011 - These were the people who made it happen ....Bontang rocks!!!!

Iyek setelah sound check - berpose dengan Bontang rockers. Tanty (paling kanan) adalah teman saya satu SMP saat di Madiun (kota yang ngerock!) yang tinggal di Bontang. Dia ternyata penggemar musik rock tulen!
God Bless setelah sound check

God Bless setelah sound check. Inang Nursaid (drums), Ian Antono (gitar), Donny Fatah (bass), Ahmad Albar (vokal) dan Hary Anggoman (keyboards)

Donny saat membawakan "Musisi" dalam sound check

God Bless after the show - back stage gathering

PKT Rockers: Suldja, Eri & Qomaruzaman

Salam Metal!!! Yang pake jilbab itu Stage Director (boss saya). Tuooobbz!!!

KOLEKSI LANGKA: Khan "Space Shanty" dalam format CD dan kaset rekaman Yess (Bandung). Meski sudah punya CD nya, kaset tetap saya simpan karena nilai koleksinya yang tiada harga karena sangat nuansamatik pol! Jangan coba2 tawar barang2 ini ya .... Langka boss .... Kagak dijokul. Maap ...he he he he ....
Ulasan tentang KHAN “Space Shanty” silakan KLIK.
