Archive for August, 2011

Banco Del Mutuo Soccorso “Darwin!”

August 29, 2011

Mas Kristanto,

Album klasik ini wajib koleksi. Musiknya unik dan sangat nunjek sukma…

Banco Del Mutuo Soccorso Darwin! album cover

Studio Album, released in 1972

Songs / Tracks Listing

1. L’Evoluzione (13:59) 
2. La Conquista Della Posizione Eretta (8:42) 
3. Danza Dei Grandi Rettili (3:42) 
4. Cento Mani E Cento Occhi (5:22) 
5. 750,000 Anni Fa … L’Amore? (5:38) 
6. Miserere Alla Storia (5:58) 
7. Ed Ora Io Domando Tempo Al Tempo Ed Egli Mi Risponde … Non Ne Ho! (3:29) 

Total Time: 46:50

Lyrics

Search BANCO DEL MUTUO SOCCORSO Darwin! lyrics

Music tabs (tablatures)

Search BANCO DEL MUTUO SOCCORSO Darwin! tabs

Line-up / Musicians

- Gianni Nocenzi / clarinet, piano, keyboards 
- Pier Luigi Calderoni / drums, tympani 
- Renato D’Angelo / bass, guitar, guitar (bass) 
- Francesco DiGiacomo / vocals 
- Vittorio Nocenzi / organ, synthesizer, keyboards, clavinet 
- Marcello Todaro / guitar (acoustic), guitar, guitar (electric), vocals

Releases information

LP Dischi RL 8094 (1972 Italy)

CD BMG MPCD 205

Review by Gatot
SPECIAL COLLABORATOR Honorary Collaborator

4 stars It’s really a classic prog album which I have the remastered edition (2001). Looking this album in the context when it was released, it’s definitely an excellent classic album! There is a blend of bluesy style as indicated by how the guitar is played like David Gilmour of Pink Floyd. I’m not in a position to comment which band came first with this kind of bluesy style but it seems like Pink Floyd first. It’s not the whole style and nuance of “Darwin!” is similar with Pink Floyd – it’s only the guitar style at the opening of the first track “L’Evoluzione” (13:57). The total music concept, approach and style of Banco is completely different with Pink Floyd. Based on my observation this album is more a symphonic prog than a psychedelic one.

The opening track “L’Evoluzione” (13:57) is truly a killer with great variety of styles from start to end. There are parts with memorable melodies and well balanced segments with complex arrangements – even it’s combined with short drums solo. The vocal in Italian language is powerful and unique. I think Italian is one of the best prog languages – it sounds nice to my ears. All musicians play their parts wonderfully: classic organ, bass guitar, drums and guitars. I keep repeating this track one because I like it. The music sometimes reminds me to PFM.

All other tracks are also excellent in terms of composition, varied tempo as well as time signatures. Am not gonna review on track by track by track basis but by going through some tracks, you will get a full picture of the music of “Darwin!”. The second track “La Conquista Della Posizione Eretta” (8:41) brings the music even much more wonderful with pulsating organ / piano work which reminds me to Keith Emerson even though in different style. The first verse of the song is truly rewarding and I doubt that you do not think that this is a great composition. Any prog ear would say that this is a great composition. More of half duration of this track is a great instrumental, and the vocal part enters at the ending part. Instead of symphonic, the band also inserts jazz style like it’s demonstrated on some segments of track 3 “Danza Dei Grandi Rettili” (3:39).

Given the facts that many segments of this album have symphonic nature, it’s actually a representation of the era where most prog music was revolving around this style. It’s an excellent addition to any prog music collection with unique sound of Italian prog. Recommended. Keep on proggin’ ..!

Send comments to Gatot (BETA) | Report this review (#81209) | Review Permalink
Posted Thursday, June 15, 2006

Rockaria House: A Collection Of Progressive Tunes 6

August 27, 2011

by Hippienov

Happy Friday and happy weekend to mas G and all proggers.
Setelah postingan “lover’s words 2″ yang gak prog itu, aku coba nimbrung postingan lagi yang “back to the roots, back to prog”.

Cd “progressive tunes 6″ ini adalah rangkaian dari serie koleksi cd prog hasil download and burn dari Prog Archives.com (thanks to them for providing the best music in the world) yang total berjumlah 10 serie.

Serie ke-6 ini yang paling aku suka karena pada waktu itu aku berhasil download beberapa file mp3 dari Italian prog bands. Supaya beda dengan serie-serie sebelumnya, file mp3 prog ini aku compile ke dalam 1 serie,yaitu serie 6 ini. Sayang ternyata space cd kosong masih bisa untuk 1 lagu lagi sedang stock file mp3 prog Italia-ku sudah habis waktu itu sehingga lagu “dinosaur” nya King Crimson terpilih masuk. Jadinya ada 23 lagu prog berbahasa Italy di serie ini plus 1 King Crimson.

Ini adalah kali pertama aku tahu dan dengar lagu prog selain bahasa Inggris, khususnya Italia. Hampir semua band-nya aku belum pernah tau tapi aku sangat kagum dengan musik mereka, ada yang beda dengan prog yang biasa aku dengar, makanya from all 10 series, this 6th is my favourite..

Awal aku mencari file mp3 prog band Italia karena rasa penasaran setelah sempat baca band “Discus” manggung di ajang musik prog Italy dan katanya mereka lumayan terkenal disana. Akhirnya aku search di Prog Archives dan inilah hasilnya yang sederhana but I really love it :-D

Catatan kecil:
Walau maksudku membuat cd eksklusif band prog Italia tapi mungkin beberapa lagu di kompilasi ini ternyata bukan dari band Italia (kecuali “dinosaur” King Crimson) karena aku gak ngerti blas bahasanya,he..he..he..

Monggo dibaca dan dikomentari rekan-rekan prog-ku yang humble n sophisticated..
Suwun..

Long Live Progclaro..
Hippienov

Sent using a Sony Ericsson mobile phone

Kaset: Lover’s Words

August 24, 2011

By: Hippienov

Met siang mas G and my fellow proggers.. Kurang 1 minggu lagi Idul Fitri, pastinya rekan-rekan sudah sibuk menyiapkan segalanya termasuk rencana mudik buat yang akan pulang kampung :-D
Yang pasti kita bakalan long holiday, away from our daily routine.. Isn’t it nice guys? :-D

Iseng-iseng hari ini bawa kaset kompilasi “lover’s words 2″ rilisan king’s tahun 2006 buat didengerin via walkman di kantor. Dari judulnya ketara banget ini bukan kaset prog blas tapi yang cukup menarik adalah seleksi lagu-lagunya masih dari era 70-80an walau pop. Aku agak ragu apa kaset ini layak masuk blog markotop mas G atau ndak karena bukan koleksi prog atau claro blas.. Tapi ya dicoba dulu aja,sapa tau berkenan di hati,he2..




Kaset ini aku beli juga di tahun 2006 lalu karena tertarik dengan beberapa lagu yang ada didalamnya seperti:
1. One day in your life (michael jackson)
2. I’m coming home (birtles & globe)
3. Just for you (alan price)
4. Please don’t go (kc & the sunshine band)
5. I wanna see you now (leon haines)
6. Emotion (samantha sang)
7. Up where we belong (joe cocker & jennifer warnes)
8. Lady (kenny rogers)
Hampir semua lagu di kompilasi ini aku suka dan walau bukan prog tapi cukup berkesan, easy listening dan bisa membawa memory semasa aku masih agak lebih muda dari sekarang. Apalagi lagu “one day in your life” nya Michael Jackson, terenyuh banget tiap kali denger. Liriknya simple tapi kena di hati dan mungkin aransemen musiknya yang bikin lagu ini indah menurutku..

Walah.. Kok jadi mendayu-dayu gini ya? Again I guess that’s the power n magic of music that touched a “soft part” of my prog heart..

Thanks for reading it,guys..

Prog Rules!
Hippienov
Sent using a Sony Ericsson mobile phone

 

Journey “Raised on Radio” by Yess

August 23, 2011

By: Hardani Kristanto

JOURNEY “Raised on Radio” (versi Yess)

Biarpun bukan prog-rock, yang penting rekaman Yess …

Gara2 nonton dvd impor bajakan Journey “live in Manila”, saya jadi keinget sama kaset rekaman Yess Bandung yang bertajuk “Raised on Radio”.
Saya sdh lupa kapan dan dimana kaset gradasi biru dgn no urut 632 ini saya beli/ peroleh. Kebetulan kaset ini bersih dari corat-coret, yang biasanya berisi paling tidak tanda tangan sang owner & its date of purchase-nya, hahaha …

Saya menyukai grup ini, selain lagu2nya yang melodic juga cover album2-nya yang keren, liat aja cover album “Escape”, “Departure” dll.

Album ke-10 grup Amerika legendaris yang terbentuk awal 70-an ini merupakan album “terakhir” Steve Perry dkk sebelum vakum sekitar 10 tahun (1986-1995).
Dibilang grup legend, karena Journey ini salah satu grup rock yang paling sukses, baik dalam penjualan album2nya, maupun konser mereka yang laris manis. Jangan mengaku sebagai  penikmat musik rock, kalau ngga pernah mengenal nomor2 yang melegenda macam “Open Arms”, “Who’s crying now”, “Separate ways” ataupun nomor rancak “Don’t stop believin’ … hahahaha, maksa dikit !
Setelah masa vacum tsb, pada tahun 1996 mereka merilis album “Trial by Fire” yg notabene album terakhir vocalist Steve Perry bersama Journey, di mana kemudian dia  digantikan Steve Augeri dan akhirnya Arnel Pineda, yang asal Philipine itu …
Kaset ini kembali menunjukkan kalau perekam Yess, tidak hanya merilis album2 grup progressive, seperti juga waktu Yess mengeluarkan album2nya Gary Moore, Styx ataupun yang belum lama muncul di blog ini, Orion the Hunter. Gak masalah, yang penting rekaman YESS gitu loh, gedongan, kata bro Apec …
Di dalam sleeve CD album ini, foto Journey’s member juga cuma 3 personil paten aja : Steve Perry, Neal Schon dan Jonathan Cain, di mana mungkin personil yg lain cuma sbg guest star saja, macam Randy Jackson (bass) yang juga juri di American Idol itu atau bahkan drummer setia Steve Smith (hahaha, jadi inget compatriot-ku yg asal Aussie, kebetulan namanya sama pleg …) yang harus berbagi porsi memukul bedug dengan Larrie Londin. Saya paling demen dengan nomor “The eyes of a Woman” yang melodius, walaupun yg masuk top chart justru nomor macam “Be Good to Yourself” atau “Girl can’t help it”.
Oya ada satu nomor manis “Happy to Give” yang cocok sekali dengan nuansa bulan Ramadhan ini, berbagi kasih dan rizki dengan yang lain dengan infaq dan shodaqoh.
Dan satu lagi “keunggulan” album versi Yess ini, yang tentu ngga ada di versi CD-nya, bahkan yang re-mastered sekalipun, adalah bonus track yang menampilkan album solonya Gregg Rolie, ex-member, dan juga nomor kemayu solonya Steve Perry, “If only for the moment, Girl”.
Tentang Gregg Rollie, jadi inget juga grup bentukannya, The Storm, yang sempat merilis nomor nuansamatik “Show me the way”, mirip judul lagu sahdunya Styx.

Keep on claro, classic rocking !
Hidup kaset djadoel !

Wishbone Ash by Yess

August 23, 2011

By: Hardani Kristanto

Grup djadoel : WISHBONE ASH (versi kaset Yess)

Setelah lama pengen berbagi koleksi kaset Yess, akhirnya saya kirimkan juga sedikit ulasan sederhana tentang salah satu grup jadoel, yang notabene juga termasuk mbah-nya prog-rock, selain Nektar yang belum lama tayang dib log ini.

Grup yang berasal dari Inggris ini, aktif meramaikan blantika musik rock mulai sekitar akhir 60-an/ awal 70-an. Dan kabarnya sempet comeback dan rilis album tahun 2007-an, dengan sisa former member, guitarist Andy Powell.
Kaset rekaman Yess Bandung ini, saya peroleh dari pasar loak samping Beringharjo Yogya tahun 80-an. Bukti otentik kalau ini kaset bekas adalah adanya cap *koleksi warna merah (adakah pemirsa blog ini yang merasa pernah menjual kaset ini ? terimakasih anda sudah mengenalkan saya dengan grup keren ini )
Album ini tepatnya adalah semacam kompilasi dengan judul anggun “Classic Ash”, gradasi hijau dengan nomor urut 112 ini dipikir2 lucu juga, lha wong covernya ngambil dari cover album ke-4, Wishbone Four.
Dari mbah wiki, album Classic Ash dirilis tahun 1977, empat tahun setelah album ke-4 tersebut. Sebetulnya cover aslinya juga cukup indah dan penuh makna, dgn foto sebuah kolam renang dipinggir gurun, sejuk kesannya, seperti juga nomor2 grup kuartet ini, melodik dan menyejukkan, hahaha opo maksude iki ? ya paling tidak pendapat saya personally
Grup ini termasuk salah satu grup yang mengedepankan double guitarist, selain Scorpions, Judas Priest, dsb.dsb. Gitaris  Ted Turner dan Andy Powell, dan juga Martin Turner yang dominant sbg penulis lyric, boleh dibilang tokoh sentral grup yg konon diketemukan oleh Ritchie Blackmore, sewaktu mereka jadi pembuka konser Deep Purple.


Kelucuan yg ke-2 adalah karena dari 9 nomor dari album asli Classic Ash, hanya diambil 4 nomor saja, sepertinya emang dipilih oleh arsitek YESS dgn seksama, yaitu nomor2 cantik macam Persephone dan The King Will Come, dikombinasikan dgn track yahud macam Warrior, Sorrel, Valediction, yang entah disunting dari album yang mana … Sayang nomor wahid dari album Wishbone Four, “Rock n’ Roll Widow” nggak diikutsertakan di kaset ini, mungkin nggak kebagian jatah di kaset Maxell UD C-60 tersebut.
Monggo, yang merasa punya koleksi atau nuansa Wishbone Ash, dapat berbagi ilmunya, saya sendiri cuma punya satu kaset rekaman Yess tersebut dan CD yang Wishbone Four, Argus dan Live Dates, yang kebeli pas ada diskon 50% di Aquarius PI menjelang disbanded.
Mungkin Bro Apec punya koleksi lain (versi Yess ?) dari grup ini, silahkan …
Keep on rockin’ !!!

Chrisye “Puspa Indah” & “Sabda Alam”

August 20, 2011

by Hippienov

Met pagi mas G and my fellow proggers, happy weekend..
Semakin dekat dengan Idul Fitri, makin dekat dengan hari kemenangan. Once again, met beribadah puasa buat proggers yang menjalankannya..

Okay, terinspirasi n terdorong ulasan pak Alfie tentang soundtrack Badai Pasti Berlalu di blog markotop ini, aku jadi nekad kirim email ke mas G mengenai 2 dari 3 album Chrisye yang aku punya (sedikit banget ya koleksiku..) yaitu: Puspa Indah & Sabda Alam.

Di “puspa indah” Chrisye masih bertandem dengan Yockie plus Guruh dibantu Jimmy Manopo etc. Meski menuruku gak sefenomenal “bpb” tapi masih cukup menarik disimak, permainan kibor n synth dominan terdengar.

Di “sabda alam” Chrisye bareng Yockie dan Junaedi Salat membuat album yang sangat bagus menurutku, masih sejalur dengan “bpb” album ini melahirkan beberapa nomor yang jadi favourite-ku: “juwita, sabda alam, smaradhana, duka sang bahaduri, kala sang surya tenggelam, anak jalanan”
Aransemen musik yg indah dan penggunaan alat-alat musik yang katakan masih “akustik” plus synth dan penulisan lirik yang bermakna dalam menurutku adalah kekuatan album ini disamping tentunya nama-nama pengusung album ini yang makin membuatnya markotop dan mengutip istilah pak Alfie, album ini termasuk album indo pop progressive.


Sayang, di mid era 80an kolaborasi Chrisye-Yockie seperti berakhir, Chrisye makin ke arah pop yang pada akhirnya membuat namanya makin berkibar. Tapi sebagai penyuka musik prog hal ini membuatku kecewa apalagi di kemudian hari musik “midi” beserta pernak-perniknya (drums machine,etc.) selalu melekat pada lagu-lagu Chrisye. Jarang lagi ada suara kibor/synth melodius ala Yockie atau gebukan drums akustik Fariz, Chrisye pun sudah gak repot-repot lagi bermain guitar, bass sekaligus vokal seperti album-album awal beliau..

At this point I began to stop following his albums n works but his old n past works will always be remembered as masterpiece..

God gave progrock to us..
Hippienov

Sent using a Sony Ericsson mobile phone

Nektar “Remember The Future”

August 20, 2011

Hola temen2 prog ku yang tercinta …..!!

Apa kabar? Gimana ibadah di bulan Ramadhan 1432H? Semoga berjalan lancar dan mendapatkan ridho dan rahmat dari Allah subhanahu wa ta’ala. Amiin.

Sori banget jadi jarang posting karena banyak gawean nih ….he he he ….alasan klasik. Namun ngeprog jalan terus dong. Belakangan ini saya banyak menikmati band2 70an seperti Strawbs, Museo Rosenbach, dan juga NEKTAR. Nah, band ini sebenernya legendaris karena di jaman Aktuil sering masuk diulasan majalah nuansamatik tersebut. Tak hanya itu, salah satu lagunya bertajuk “Fidgety Queen” (1974) dari album “Down To Earth” pernah masuk dalam kompilasi kaset keluaran Aktuil “Rock Vibration 2″. Itulah lagu pertama yang saya kenal dari NEKTAR yang dulu sering diplesetin dengan “Nenek Gemetar” (ha ha ha ha ha ….ono2 wae cah Mediun ….ha ha ha ha ha ha ha …). Setelah itu saya beli kaset (lupa rekaman apa) Nektar album “Recycle” yang menurut saya musiknya melayang.

Kali ini saya menikmati album “Remember The Future” dan sempat menulis di progarchives. Saya bilang apa? Meski sibuk ngeprog jalan terus … Kalau gak nulis review rasanya pikiran bunthet, gak bisa membuat rekomendasi di pekerjaan saya sebagai konsultan … Makanya meski sibuk tetep asay tulis reviewnya. Selamat menikmati ya ….

Bagaimana pengalaman Anda dengan NEKTAR?

Salam,

G

Nektar Remember The Future album cover

Studio Album, released in 1974

Songs / Tracks Listing

1. Remember the future (part I) 16:38
a) Images of the past
b) Wheel of time
c) Remember the future
d) Confusion/
2. Remember the future (part II) 18:55
e) Returning light
f) Questions and answers
g) Tomorrow never comes
h) Path of light
i) Recognition
j) Let it grow

Total Time: 35:33

Bonus Tracks:

3. Remember The Future (edit) 9:51
4. Lonely Roads (single edit) 3:50
5. Let It Grow (single edit) 2:19

Lyrics

Search NEKTAR Remember The Future lyrics

Music tabs (tablatures)

Search NEKTAR Remember The Future tabs

Line-up / Musicians

- Roye Albrighton / lead vocals, guitars
- Mick Brockett / lights 
- Allan “Taff” Freeman / keyboards, backing vocals 
- Ron Howden / drums, percussion, backing vocals 
- Derek “Mo” Moore / bass, backing vocals

Releases information

CD. Bellaphon 289-09-001 (1989)
CD. Dream Nebula DNECD 1204 (2004) with bonus tracks

 

Review by Gatot
SPECIAL COLLABORATOR Honorary Collaborator

3 stars Very good album from the 70s …

This classic album by Nektar was quite phenomenal by the time it was released. Unfortunately I did not pay enough attention to the album as by that time I was quite “busy” enjoying the music of Genesis whom at the same year released concept album as well ‘The Lamb Lies Down on Broadway’ and also other bands like Pink Floyd, Gentle Giant, Yes, King Crimson. Ranked against other bands like I mention, Nektar was not in priority list to listen. So, I only played the album occasionally. Yes, Nektar was quite famous at that time because one of its songs was featured in a compilation cassette ‘Rock Vibration 2′ published by local magazine Aktuil. Most people who live in the 70s in my country knew very well Nektar at least from that compilation cassette.

‘Remember The Future’ is a very good album as the music flows nicely from every segment in the fisrt epic continued beautifully to the next epic (part2) of the music. The music is quite predominated by psychedelic sort of style even though there are some passages with classic rock style – especially the guitar part. There are changes of style as well as tempo as the music moves but most of them are managed smoothly so that we don’t hear any sudden or abrupt changes in mode or style. If you like the kind of 70s music, of course you will enjoy this album as well. When it comes to taste, I’d better like the second part than the first. I can imagine if I have the vinyl, I might play the side 2 more than the side 1. But in digital era, we are so fortunate that we can enjoy the two parts like one cohesive whole. Now, talking about cohesiveness, this album has it all because you can taste the music nicely from start to end without being shocked by unplanned changes in styles or moods. Well, you can feel so during the part 2 of the album as the music moves in crescendo at approximately minute 8 of the part 2 music. There are some guitar fills that remind me to Steve Hackett as well even though they sound simpler than Hackett’s. You can find also Floydian guitar work at this Part 2. It’s enjoyable, really.

When this album is compared to ‘Lamb Lies Down’ or ‘Dark Side of The Moon’ or ‘Close to The Edge’ or ‘Thick as a Brick’ it’s less challenging. However, I still consider this is a very good album from Nektar from its 70s archive. If you love prog music in 70s, you must have this album. 3.5 out of 5 stars. Keep on proggin’ …!

Peace on earth and mercy mild – GW

 

Amateur Records: Prog Archives 10

August 20, 2011

By Hippienov

Hello mas G and all proggers,
Iseng-iseng mau nyumbang tret lagi..

Kompilasi ini adalah lanjutan dari “proyek iseng-iseng dari seorang yang keisengan gak ada kerjaan, ha3..” yang dimulai beberapa tahun lalu bertajuk “Band of Hippies: Prog Archive” dan sekarang sudah sampai vol. 10.

Proyek amatiran yang sangat sederhana dan jauh dari kata bagus ini berisi lagu-lagu prog atau yang setidaknya menurutku “aneh nyeleneh” musiknya. Yang cukup unik adalah dari vol. 1 sampai terakhir (vol. 10) nama Genesis selalu muncul di list lagu. Awalnya ini gak disengaja, setelah beberapa vol. aku baru nyadar bahwa selalu ada lagu dari Genesis di tiap vol. Akhirnya aku lanjutin kebiasaan ini dengan sengaja gak pernah putus dan di vol anyar ini giliran “can-utility..” dari “foxtrot” yang masuk.
Selain Genesis, ada pula Rush, E.L.P & Yes yang sering muncul tapi sayang gak seperti Genesis yang constant, 3 band ini sempat “keputus” di volume tertentu.

Enough talking.. Let me unproudly present “band of hippies: prog archive 10″ for you..

Cum On Feel The Prog!
Hippienov..
Sent using a Sony Ericsson mobile phone

 

The Most Evergreen Indonesian Album of 20th Century

August 17, 2011

oleh: MH Alfie Syahrine

SEBUAH SEJARAH BARU

         “Salah satu lagu abadi hasil karya cipta bangsa Indonesia yg tak tergerus oleh waktu. Indah, syahdu, mempesona dan tak mudah terlupakan…!!!. Very nice song…!” .Itulah salah satu komentar para pemerhati Youtube terhadap lagu “Merpati Putih” yang ada dalam album “Badai Pasti Berlalu” atau tebih dikenal sebagai album BPB.

           Setelah era musik panggung terhempas karena kondisinya sudah tidak menopang lagi disebabkan terjangan music new wave,disco dan pop mellow maka dengan membawa perangkat musik panggung yang pernah membesarkan mereka seperti moog synthesizer, mellotrone, Hammond B2 dll ke dalam studio, mereka mencoba suatu proyek baru yang mereka tidak sangka menjadi begitu phenomenal hasilnya. Maka pada tanggal 4 Januari 1977. Badai Pasti Berlalu direkam di Studio Irama Mas dengan penata rekaman beken Stanley(Teten)dengan  menghabiskan waktu 21 hari dan menyedot dana sekitar Rp 2 juta.

INDO POP PROGRESSIVE      

            Memang inilah album Indo Pop Progressive  yang oleh banyak veteran anak-anak  muda  era 70-an dikatakan  sebagai  album evergreen yang hingga kini sudah berusia  telah 34 tahun. Inilah album dahsyat yang digarap para raksasa musik prog Tanah Air dimana Wadia Balad yang memperkuat proyek ini adalah Eros Djarot bersama Yockie Soeryoprayogo (arranger/ keyboard/drum), Chrisye (bass/vokal), Fariz Rustam Munaf (drum) dan Debby Nasution sebagai bintang tamu pada keyboard untuk beberapa lagu serta Keenan Nasution Nasution sebagai additional drummer maka terciptalah lagu lagu seperti  :

1.Pelangi

2.Merpati Putih

3.Matahari

4.Serasa

5.Khayalku

6.Angin Malam

7.Merepih Alam

8.Semusim

9.Baju Pengantin

10.E&C&Y (Instrumental)

11.Cintaku

12.Badai Pasti Berlalu

13.Merpati Putih (Instrumental)

              Para penggemar music Indo Pop Progressive yang notabene  adalah para veteran anak-anak era 70-an  di youtube mengatakan bahwa  album “Badai Pasti Berlalu” itu suatu maha karya yang tidak akan pernah lekang oleh zaman dimana mereka begitu terkagum akan permainan keyboard dan synthesizer Debby Nasution dalam lagu “Khayalku” itu, mereka menambahkan bahwa grup ini sudah menggunakan Hammond organ B2 seperti yang digunakan Procol Harum. suatu hal yang jarang pada zaman itu (bahkan zaman sekarang sekalipun ).Debby Nasution yang memang sangat terpengaruh oleh  permainan keyboard Matthew Fisher (Procol Harum) dan  Tony Bank (Genesis) disamping Johann Sebastian Bach dimana dia sangat berhasil didalam memainkan Hammond-nya pada lagu “Khayalku” sebuah lagu dengan aransemen yang paling ngeprog dari album “Badai Pasti Berlalu” itu walaupun ada sisipan melodi pada lagu “Pelangi” yang dicomot dari lagu After the Ordeal  milik Genesis ungkap Debby secara terus terang pada suatu saat. Dan bilamana kita menyimak versi awal “Khayalku”, otomatis kita akan teringat pada musik klasiknya Johan Sebastian Bach.

 

Matthew Fisher Keyboardist Procol Harum Yang Sangat Berpengaruh Pada Debby Nasution

           Memang ketika pertama album ini muncul cenderung tidak ada yang menggubris karena jenis suara Chrisye masih tidak lazim ditelinga khalayak yang masih awam dengan dengan warna suaranya akan tetapi para progger lokal dia disebut-sebut sebagai Peter Cetera-nya Indonesia,khalayak saat itu memang sedang demam lagu lagu super mellow keluaran Remaco atau Lolypop tapi karena seringnya stasiun radio kelas wahid yang ada di Menteng danKebayoran  seperti Prambors, El Shinta, Amigos,Kejayaan dll. mengumandangkan album ini maka khalayakpun mulai mencari carinya .

           Menurut Eros, album ini lahir setelah pembuatan music score BPB bersama dukungan tata musik dari Maestro keyboard Indonesia Yockie Suryoprayogo yang mana Yockie mengungkapkan bahwa ide dasarnya dia yang membuat sedangkan Chrisye yang mencari accord-accordnya. Menurut penuturan Yockie Secara praktis musisi yang terlibat kerja di studio tersebut hanyalah Fariz RM sementara Keenan Nasution dan Debby serta Odink Nasution karyanya hadir lewat rekaman yang sudah jadi berbentuk pita 1/4 inch minus one hasil kerja mereka sebelumnya bersama Erros di film Perkawinan dalam semusim yang juga garapan Teguh Karya.

          Namun manakala menggarap kassetnya bertambahlah jumlah semuanya datang dari Eros. Padahal, ia justru tak terampil memainkan alat musik. Eros menyenandungkan melodi, lalu repertoar seperti Cintaku (Eros/Debby), Merepih Alam (Eros/ Chrisye), Semusim (Eros/Debby), Serasa (Eros/Chrisye), Khayalku (Eros/Debby), Pelangi (Eros/Debby), dan sebuah instrumental berjudul E&C&Y.

Patrick Moraz

Keyboardist Yang Sangat Mempengaruhi Permainan Yockie

             Pada lagu super sendu “Merpati Putih” yang bisa membuat dada sesak itu sepintas ada kemiripan dengan lagu “Leonie” yang ngetop di era pertengahan 70-an dan sering sekali di putar di radio Prombors yang dilantunkan oleh almarhum Arjan Brass penyanyi dari Belanda yang meninggal pada tahun 2007. Pengaruh Patrick Moraz pada permainan keyboard Yockie jelas sangat terasa bila kita mendengarkan lagu “E&C&Y”. sedangkan gaya gebukannya Fariz RM yang trampil pada drum mengingatkan kita pada Bill Bruford.

             Didalam lagu “Merepih Alam” sepintas ada kemiripan pada  lagu Procol Harum “A Whiter Shade of Pale“.. Yockie pada suatu kesempatan mengungkapkan juga rasa senangnya bahwa album BPB garapannya dengan teman temannya di tahun 1977 itu mendapat apresiasi bukan hanya pada jamannya tetapi juga masa kini dimana majalah Rolling Stones memberikan apresiasi beberapa tahun yang lalu.

 

Fariz RM

Musisi  Serba Bisa Yang Paling Junior Di Badai Band

           Bagaimana pula dengan peranan  Berlian Hutauruk saat pembuatan album BPB itu dimana dia mendapatkan jatah lagu “Khayalku”berduet dengan Chrisye,”Matahari“, ”Semusim” dan “Badai Pasti  Berlalu” yang mana lagu lagu itu sesungguhnya berat semua? sedangkan usia Berlian Hutauruk saat itu baru menginjak 18 tahun  di tahun 1977

 masih sangat muda tetapi sebagai keturunan Tapanuli yang sangat musikal, kemampuan menyanyi Berlian sungguh luar biasa. Apalagi ia aktif di paduan suara gereja, kemudian berguru pada pemusik-pemusik Batak yang berada di Jakarta. Maka, walaupun di usia belasan tahun itu, suara Berlian Hutauruk sudah benar-benar telah jadi jenis soprano liris. Dan, ketika Eros Djarot hendak membikin “album Badai Pasti Berlalu pada 1977, dia ingat gadis Batak” yang manis itu. Apalagi, struktur melodi, lirik, 11 lagu yang dipersiapkannya untuk musik film Badai Pasti Berlalu memang berbau klassik. Ternyata pilihan Eros tidak salah, Berlian Hutauruk sebagai pendamping vocal Chrisye pada lagu “Khayalku” turut memberi karakter pada album ini yang ternyata perpaduan antara suara tenor Chrisye dan suara sopran Berlian Huaturuk menjadikan lagu ini sangat berkelas. Dalam penjelasannya pada media beberapa tahun yang lalu Berlian bersyukur bahwa dia diberi kesempatan untuk terlibat di “Badai Pasti Berlalu” sebagai penyanyi kunci, di samping Chrisye almarhum.

          Penggemar musik Indonesia sudah sepatutnya berterima kasih banyak kepada Eros Djarot yang membuat karya brkualitas itu dimana dia ditopang oleh teman temannya yang memiliki selera dan visi yang sama  seperti Yockie,Chrisye, Fariz RM dan Nasution Bersaudara.Padahal tahun 1977 teknologi musik masih sangat sederhana. Akses informasi tak secabggih sekarang. Toh, anak-anak muda ini dapat membuat suatu maha karya yang sangat fenomenal dalam khasanah musik Indonesia bahkan di youtube ada yang memberi komentar bahwa untuk 100 tahun kedepan saja belum tentu akan ada lagi  lagu klassik seperti “Khayalku” yang ada dalam album “Badai Pasti Berlalu” itu

Trio Badai Band

Yockie, Fariz Dan  Chrisye

 

 JAMAN LATAH

               Sementara album BPB aslinya dimana yang terlibat didalamnya terdiri dari Chrisye, Berlian Hutauruk, Eross Djarot, Yockie Suryoprajogo Fariz RM dan dibantu oleh Keenan dan Debby Nasution dimana album ini pertama dirilis pada tahun 1977 dan setelah melihat kesuksesan album ini maka sifat latah-pun terjadi pula rupanya bukan hanya jaman sekarang saja para penyanyi terjangkit penyakit latah itu tetapi juga sejak tahun 70-an-pun penyakit latah ini telah berjangkit dimana sudah berulang kali lagu lagu pada album Badai Pasti Berlalu ini dinyanyikan dengan penyanyi yang berbeda dengan harapan paling tidak akan dapat pula meraih fulus dan populeritas dadakan  seperti yang dilakukan oleh Broery Marantika dengan home band Remako The Meicy disamping itu Yuni Shara-pun ikut-ikutan menyanyikan lagu lagu BPB ini  disamping itu Chrisye –pun  mendaur ulang kembali album BPB ini dengan arranger Erwin Gutawa pada tahun 1999 serta yang terakhir tahun 2007/2008 arranger muda Andi Riyanto lagi lagi mendaur ulang pula lagu lagu yang ada pada album BPB untuk pembuatan ulang film Badai Pasti Berlalu dengan mengusung banyak penyanyi dimana album ini dibuat dengan fasilitas rekaman serba modern, sedangkan gaya menyanyinya disesuaikan dengan bahasa ungkap musik pop mutakhir dinyanyikan oleh anak anak muda yang pada tahun 1977 dimana album BPB asli dirilis mereka belum dilahirkan (kecuali Andy) seperti :

1.Merpati Putih  Astrid

2.Pelangi  Glenn Fredly.

3.Semusim Raihaanun

4.Baju Pengantin Marshanda

5.Cintaku Lucky Octavian

6.Matahari Nindi

7.Merepih Alam Audy

8.Serasa Ello

9.Angin Malam Andy

KEHILANGAN CHEMISTRY

         Dalam Album daur ulang arranger muda Andi Riyantoini  gaya dan cara mereka menyanyi-pun bergaya anak gaul jaman sekarang dengan maksud agar Album daur ulang ini bisa diterima generasi muda tapi bagi para veteran 70-an model musik dan gaya menyanyi seperti yang mereka nyanyikan itu bak sebuah sajian yang dipaksakan dimana ruh klassik dari album aslinya sama sekali tidak dapat terlihat atau dirasakan…atau istilah  londonya telah kehilangan chemistry  dimana tidak ada sentuhan ruh 70-an sama sekali .

          Yockie Suryoprayogo-pun memberikan komentarnya pula terhadap fenomena daur ulang ini dengan berujar ”Sering kali karya-karya besar justru lahir di masa prihatin. Di zaman instan, bergelimang fasilitas sekarang, rupanya manusia Indonesia baru bisa mendaur ulang karya-karya legendaris masa lalu. Apa boleh buat!“. ”Hanya saja saat lagu-lagu tersebut di release ulang …tak dapat saya pungkiri ada rasa pedih yang mengiris hati saya, “Mereka sama sekali tidak pernah mencoba untuk menghargai siapa-siapa yang turut merancang dan membidani kelahirannya”.Keluh Yockie. Dan protes keraspun dilontarkan pula oleh Debby Nasution yang merasa sama seperti apa yang dikatakan oleh Yockie.Yockie juga menambahkan bahwa banyak orang mengatakan, entah itu isu atau entah itu propaganda bahwa album BPB yang dia dan kawan kawannya buat sudah menembus bilangan angka penjualan melampui berjuta-juta banyaknya .

         Dan bagaimana pula dengan pendapat Berlian Hutauruk ketika ditanya tentang hal daur ulang tersebut “Sah-sah saja lagu itu dibawakan dengan tafsir si penyanyi itu sendiri apalagi, zaman saya itu kan beda banget dengan sekarang,dulu saya memberikan apa yang terbaik yang saya miliki”.

      ”Saya percaya, pemusik-pemusik sekarang pun memberikan yang terbaik” ujar wanita yang kini berusia 52 tahun itu dengan bijak. Dan sebulan yang lalu sewaktu manggung di sebuah Hotel di bilangan Senayan Berlian bersama Yockie Suryoprayogo mendapat sambutan yang sangat meriah terutama oleh para saksi sejarah yang mengalami langsung kejayaan mereka berdua 34 tahun yang lalu dimana mereka namanya menjadi begitu popular dikarenakan “Badai Pasti Berlalu”.

MEREKA KINI

Yockie Suryoprayogo

Masih tetap istiqomah dengan kariernya dalam dunia musik dia seorang seniman dan filusuf yang penulis sangat kagumi cara berfikirnya yang tegas dan lugas tapi penampilannya tetap tidak berubah seperti dulu cool dan bersahaja.

Erros

Kini dia banyak disibukan dengan urusan politik terakhir dia membentuk partai PNBK. Dunia cinematografi yang dia tekuni di Jerman dan Inggris nampaknya nyaris terlupakan namun untuk musik Erros kadang masih sempat juga bermain musik atau mengarang lagu.

Chrisye

Sudah meninggal karena penyakit kangker paru paru.

Berlian Hutauruk

Selepas memperkuat album “Badai Pasti Berlalu”, Berlian lebih dikenal sebagai artis gospel alias lebih sering menyanyi di lingkungan jemaat kristiani. Dia juga pernah bikin album rohani. Lalu, album pop biasa dengan penata musik Ian Antono.Kini Berlian hidupnya lebih banyak difokuskan pada pelayanan umat dia sering diundang untuk mengisi acara kebaktian kebangunan rohani. Dia nyanyi lagu-lagu gospel, praise and worship songs.

Fariz Rustam Munaf

Masih aktif berkarya di musik, banyak grup yang dia buat dari mulai WOW, Simphony, Tresspassium, Jakarta Rhythm Section dll. Kini Fariz sering berkolaborasi dengan band band sekarang seperti White Shoes dll.

Keenan Nasution

Masih aktif di musik pada tahun 2007 Keenan membuat pagelaran tunggal dengan mengajak banyak teman-temannya sewaktu di Gipsy dulu disamping itu Keenan sempat juga merekam sebuah album baru disamping berbisnis namun kegiatannya lebih banyak dicurahkan untuk urusan dakwah dan keagamaan

Debby Nasution

Kini sering muncul di televisi sebagai seorang Da’i kondang dan memiliki pesantren dengan santri yang banyak di Puncak Bogor namun masih aktif bermusik dan memiliki band sendiri yang mana personilnya terdiri dari Debby sendiri beserta anak dan keponakannya.Debby sering berkolaborasi dengan band atau musisi lain.

(dari berbagai sumber).

Negriku Cintaku di Usia 66

August 17, 2011

Sudah sejak lulus SMA, praktis saya sudah tak pernah mengikuti ritual upacara setiap hari Senin dan juga upacara Tujuh Belas Agustusan. Sesuatu yang hilang, sebetulnya. Pada tahun 2000-an sebetulnya saya pernah mengikuti upacara 17 Agustusan yaitu saat saya sedang membantu Bank Permata membangun coroporate culture. Saat itu yang menjadi Dirut nya adalah Bapak Agus Martowardoyo (sekarang Menteri Keuangan RI). Pak Agus mewajibkan karyawan Bank Permata apel bendera pada peringatan HUT RI. Saya akui nasionalisme beliau yang tinggi. Saya mengikuti, meski sebagai konsultannya. Seingat saya, upacara saat itu digelar di Bank Permata Bintaro. Menyenangkan dan membangkitkan nasionalisme.

Kecintaan terhadap negeri ini harus saya akui tak pernah pudar dari diri saya meski saya bukan seorang yang heroik melawan penjajah karena memang masanya sudah lewat. Sebagai penggemar musik, saya bersyukur bahwa pada tahun 1977 bang Keenan Nasution merilis album musik Indonesia yang legendaris bertajuk “Di Batas Angan-angan”. Lagu yang melejit sebagai pop hits saat saya SMA tersebut adalah ‘Nuansa Bening’ dan ‘Jamrud Khatulistiwa’. Yang membuat saya senang dengan album ini justru bukan dua lagu tersebut namun ada satu lagu yang berirama progressive rock bertajuk ‘Negriku Cintaku’. Dari segi komposisi, lagu ini bisa saya katakan lagu terbaik progressive rock karya anak negri ini. Begitu mendengar lagu ini pertama kali, kontan saya menyukainya dan selalu saya REWIND kaset saya khusus buat lagu ini. Masih ingat tape deck jaman dulu ada ‘counter’ nya? Saya selalu NOL kan saat lagu ini dan kemudian saya rewind berulangkasli hingga 3 bahkan 5 kali puter sambil mbengok-mbengok ikut nyanyi bersama bang Keenan. Saat itu belum ada karaoke lho, jadi ya begitu caranya karaokean 70an …ha ha ha ha ha ha ….

Saking sukanya dengan lagu itu, saya masih sering memutarnya, paling tidak pada saat Dirhahayu Kemerdekaan RI seperti saat ini yang memasuki usia 66 tahun. Sebuah usia yang tak tergolong muda lagi. Menurut saya, lagu ini pantas digunakan sebagai lagu heroik yang selalu harus dikenang dan direnungkan setiap saat minimal pada saat seperti hari ini, tanggal 17 Agustus 2011. Mengapa? Selain komposisi musiknya yang indah, liriknya juga masih sangat relevan dengan kondisi saat ini. Masalah korupsi masih juga terjadi, bahkan makin meraja-lela. Mari kita simak liriknya:

Bersatulah resahku resahmu dalam simfoni
Terdengar bunyi bunyi sumbang tak menentu
Mengusik kalbu

Geram kulihat betapa nikmatnya seorang yang duduk disana
Menghisap cerutu tak mau tahu akan derita

Oh betapa kasihan melihat si miskin kelaparan
Tak seorangpun yang mau tahu akan umat kita yang melarat
Tidak kah kau tega melihatnya merangkak

Hei kaum muda masa kini
Kita berantaslah korupsi
Jangan membiarkan mereka
Menganiayai hati kita
Akan kucari jalan kembali
Menuju negeri damai sentausa

oh negeriku negeri cintaku
kembalilah wajah ayumu
Kan kuciptakan damai di bumi
Seperti yang dirintis dahulu

Semoga Tuhan memberkahi kita semua
(dalam kedamaian)
Suci insan Indonesia (dalam kedamaian)
Hidup rukun dan sejahtera (dalam kedamaian)


Semoga kita bisa mengisi kemerdekaan dengan memfokuskan kepada hal-hal yang secara fundamental bisa memperbaiki kondisi bangsa ini. Menurut saya, bila kita ingin benar-benar merdeka dalam artian sebenarnya, fokus utama adalah pada pendidikan. Dengan pendidikan yang berlandaskan moral dan ilmu pengetahuan modern maka bangsa ini benar-benar bisa menjadi bangsa yang mandiri. Masalahnya, membangun pendidikan yang kuat perlu usaha berkelanjutan dan membutuhkan waktu sekurangnya 20-25 tahun. Namun, kalau tidak mulai dari sekarang, kapan?
MERDEKA!

Semoga Tuhan memberkahi kita semua
(dalam kedamaian)
Suci insan Indonesia (dalam kedamaian)
Hidup rukun dan sejahtera (dalam kedamaian)

Salam,
G

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 150 other followers