Djarum Apresiasi Budaya mempersembahkan Indonesia Kita Musikal Ludrukan Kartolo Mbalelo hari Jumat & Sabtu, tanggal 1&2 Juli 2011 mulai pukul 20.00-selesai di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki , Jl. Cikini Raya No.73, Jakarta Pusat. Acara ini didukung oleh : Sujiwo Tejo (sutradara), Cak Kartolo Dkk, Inul Daratista, Loedroek ITB ( Cak Fatah, Cak Giso, Cak Elfi ), Cak Lontong, Nurbuat, Rohana, Accapela Madura, D. Zamawi Imron dan Musik oleh Kuaetnika, dengan bintang tamu spesial Mahfud MD dan Pramono Anung.
Sebagai sebuah tontonan, perhelatan ini bisa dikategorikan BAGUS SEKALI karena berhasil menggabungkan kesenian tradisional ludruk yang berasal dari Jawa Timur (Surabaya) dan musik (yang juga menggabungkan musik diatonis seperti gitar, piano, bass, drums dan juga pentatonis berupa gamelan dan kendang dengan ragam musik yang gabungan juga: jazz, blues, rock dan dangdut), dengan plot cerita seputar kejadian yang aktual di tanah air. Plot ceritanya sebenarnya sederhana: seorang rakyat kecil yang jujur (Kartolo) enggan dikaderkan sebagai anggota partai dengan jabatan tinggi di partai. Namun, bila direnungi dan diresapi lebih jauh sebenarnya bermakna dalam dan penuh sindiran kepada pemerintahan sekarang terutama pada partai yang saat ini sedang banyak diguncang karena banyaknya permasalahan.
Pertunjukan dimulai dengan monolog dari Butet dengan menggunakan pakaian Madura ala Sakerah. Ia membuka monolog dengan hangat kepada penonton. Selanjutnya disambung dengan live music dengan menampilkan Sujiwo Tejo bermain dengan saxophone dalam aliran blues-jazz yang menawan. Sound system dan akustik ruangan sangat mendukung sehingga musik pembuka ini terasa begitu indah dan memuaskan penonton yang hadir malam itu (Jumat). Tiket memang sudah SOLD OUT beberapa minggu sebelum acara digelar, meski banyak yang jatuh di tangan calo. Karena begitu besarnya minat, tiket duduk di tangga pun dijual oleh panitia.
Dialog antara Sujiwo Tejo dengan Kartolo juga mengingatkan kita dengan gaya ludrukan yang bebas, jenaka dan terkesan kasar karena kata2 seperti “jancuk” dan “asu” begitu mengalir dengan mudahnya. Dialog antara Kartolo dengan Sapari (?) dalam humor Suroboyoan juga sangat menyenangkan dan menghibur. Penonton tak henti-hentinya ketawa ngakak menyaksikan banyolan-banyolan mereka berdua. Pada sesi nembang (menyanyi semacam sinden, dengan logat Jawa) yang menjadi ciri khas Ludruk juga disertai banyolan-banyolan yang membuat ketawa sampai perut kejang. Pokoknya kalau gak ketawa berarti bukan orang Jawa aja …!!! Sepertinya semua penonton memang orang Jawa. Hebat juga ya wong Jowo bisa membuat gedung pertunjukan mampet….ha ha ha ha ha ha ….
Musik-musik yang disajikan selama pertunjukan sangat bagus dan bisa dikatakan sempurna karena tak ada gangguan yang berarti. Perpaduan antara musik tradisionil dan instrumen modern terasa begitu indah. Saya paling terkesan saat lagu-lagu Sujiwo Tejo dibawakan dengan bagus sekali oleh Tejo dari album pertamanya “Pada Suatu Ketika”. Ada tiga lagu yang dia bawakan selama pertunjukan termasuk “Pada Suatu Ketika” dan “Anyam-anyaman Nyaman”. Perfect! Selain itu saat adegan perang antara tentara Kartolo dan tentara tokoh politik, musiknya yang didominasi kendang sungguh sangat menawan. Yang mengagumkan adalah setiap gerakan dan pukulan dalam peperangan disertai dengan bunyi kenang dan musik yang pas sekali. Pertunjukan ini juga diselingi tarian-tarian modern dan tradisional. Yang paling mengesankan adalah tarian Wayang Orang dengan adegan perang antara Janoko (Arjuna) dengan Buto Cakil. Tariannya bagus sekali dan musik yang mengiringi juga sempurna. Perfecto lah pokoknya!
Satu-satunya kendala teknis selama pertunjukan adalah tidak lancarnya bunyi microphone yang digunakan Nurbuat dan Sapari. Selebihnya PERFECTO! Oh ya, selain yang disebutkan di atas, Inul juga main sebagai bintang tamu.
Sebuah pertunjukan yang berhasil meramu seni teater, ludruk, tari-tarian, humor dan musik dalam suatu kesatuan yang tertata dengan sangat baik.





July 4, 2011 at 7:44 pm |
ditayangin di TV kgak?
July 4, 2011 at 8:08 pm |
Inget cak kartolo, inget jaman kuliah, lawakan khas jawa timuran…..
July 5, 2011 at 9:53 am |
laris manis tiketnya sampai terjual semua..
July 13, 2011 at 12:52 pm |
kangmas G, ternyata njenengan mirsani toh…
(udah lama mbalelo gak ngintip blog gemblung iki ternyata rugi bweesar!!! jadi kuper-bluper. nyuwun ngapuro nggih…)
Sebetulnya Kartolo cs.manggung di jkt bukan yg pertama kali, sebelumnya teman2 dari SC (Surabaya Community) rutin mendatangkan mereka dan pernah manggung di TMII, Citos hinga Planet Hollywood. Terharu sekali lihat seniman marjinal seperti Kartolo cs bisa pentas di tempat yg dulunya mereka mimpikan-pun gak pernah…(menurut pengakuan ning Tini, istri cak Kartolo). Nah, apalagi setelah dikemas ama Butet, Tedjo dan Agus Noor kita bisa bernostalgia menikmati sajian ludruk yg lumayan lengkap….(nembang iku istilahnya “ngremo” mas…plus parik’an/pantun yg jadi cirikhas ludruk)
Mungkin kangmas Edigimo von Njombank lebih paham, karena ludruk lahir disana. Selebihnya sajian tsb pastinya gak akan pernah aku lupakan seperti halnya liat konser Roger Waters di berlin he he he (liat via laserdisk).
July 15, 2011 at 10:40 am |
Halo mas Aan!!!
WECOME BACK MY FRIEND TO THE BLOG THAT NEVER SLEEPS …….!!!
Suweneng pol aku njenengan nginguk lagi blog gemblunk ini … Terbukti…yang membuat orang kembali ke blog adalah karena gemblunk nya itu … Lha opo ono progarchives iso’ mbahas kaset bajakan, ludrukan ….amargo progarchives rak mung fokus nang prog music wae … Yen awake dewe iki rak PROGRESSIVE LIFE … Jadi bagaiamana memandang kehidupan lebih arif dan progressif menuju hari esok dan hari akhir yang lebih baik ….. Joko Sembung Numpak Ojek ….opo nyambung nang endi iki???? Wis ora penting! Musik prog yo ra nate nyambung to mas????
Kartolo main di TIM membuat saya mbrebes mili mas …. Apalagi di ngremo (awas! bukan gremo lho ya …) nya mas Kartolo nyebut betapa bungahnya dia bisa main bersama Butet dan temen2 ….Lucu banget ngremonya. Kalau dikeluarkan rekamannya, saya pasti beli …
Iya mas …saya tahu dia udah manggung di beberapa tempat tapi baru saat itu aku bisa nontok mas …
July 18, 2011 at 12:39 pm |
Mas….
gitu-gitu Kartolo udah banyak ngeluarin album lho, lewat Nirwana Record bersama cak Nelwan Wongsokadi, udah lebih dari 10 album kidungan maupun cerita ludruk. Seperti halnya Srimulat, yg menginspirasi semua pelaku lawak di Indonesia, Kartolo, Ning Tini, Sapari, Basman (alm) adalah Legend…
Kayaknya, mas Butet udah mempersiapkan DVD acara tsb, ntar tgl. 26-27 Juli ada lagi guyonan, tapi lebih ke Melayu.