Archive for July, 2011

Bike to Prog with Dream Theater

July 28, 2011

JRENG!

Kemarin sore gowes ngeprog bersama speaker ini lagi …. Biyuh nikmat banget nggowes sambil menikmati permainan Ruddess yang gila di On The Back of the Angels …. Tentu masang juga lagu2 prog lainnya seperti Proclamation-nya Gentle Giant dan lain lain yang prog ….

Bro Lutfi, bro Rully …ini lho speaker nya pas dipasang di sepedaku yang jadul von progclaro Mongoose The Crossway 425 …. Keren to????

JRENG!

ProgTalk : YES “Fly From Here”

July 27, 2011

JRENG!

Menungso prog harus berani mencoba sesuatu yang baru. Kali ini saya coba masukkan topik ProgTalk. Ini dipicu oleh email-emailan antara mas Hippienov dengan saya tentang album anyar YES. Setelah saya pikir kok substansinya lebih maknyus kalau kita bahas rame2, makanya saya posting di sini aja biar semua orang yang kesasar ke sini tambah misuh2 … “Iki blog karepe opo to kok email barang diposting?”. Yo ben …!!! Jenenge wae wong prog ..kelakuane yo gemblunk to? (Mas Hippienov, kalau Anda keberatan emailnya diposting di sini, silakan lapor ke Badan Abritase Nasional ….saya akan segera menurunkan postingan ini dari blog gemblunk ini sebelum Badan tersebut sempat mengunjungi blog ini …saya takut mereka ketularan ngeprog ntar …..)

Silakan diikuti ProgTalk ini …

——

Yes Fly From Here album cover
From: Stevanus <novrileonard@yahoo.com>
Date: 2011/7/25
Subject: Hello Mas G..
To: gatotprog@gmail.com

Hello mas,piye kabare?
Aku makin jarang posting di blog mas. Kayaknya ada sumthin’ wrong dengan hape-ku,belum lama aku coba posting pake hape jadulku dan ternyata bisa tapi ampun koneksinya lama dan susah ngetiknya, maklum keypadnya ud mulai lemot..
Mas,sabtu kemarin orderan Yes ku nyampe dari Amazon, kaget juga soalnya konfirmasi terakhir bilang pengiriman tgl 12 july dan sampei tgl 12 agustus, gak taunya muncul sabtu kemarin. Wah seneng banget mas :-)
Langsung aku stel n tiap hari bolak-balik aku stel ulang. Maknyus tenan, Yes masih tetep prog walau ud berumur semua.
Menurutku unsur Yes “drama” lumayan kentara di album anyar mereka, mungkin karena ada Geoff Downes n Trevor Horn ya?
Dari semua track menurutku cuma 1 lagu yang cukup kental nuansa pop nya di “the man you always wanted me to be” dari Squire, yang lain prog markotop :-D
Howe juga nyumbang nomor instrumental, jadi inget sama “the clap” di yes album n “masquarade” di union mas.
O ya, vokal David Benoit sekilas mirip Anderson, wah pokoknya seneng banget mas, gak nyesel order jauh2 dari amazon,he2..
Suwun mas G..

Keep on proggin’ our neighborhood..
Hippienov

Sent using a Sony Ericsson mobile phone

——

From: Gatot Widayanto <gatotprog@gmail.com>
Date: 2011/7/25
Subject: Re: Hello Mas G..
To: Hippienov <novrileonard@yahoo.com>

Halo mas Hippienov ….

Kok aneh ya, bisa email tapi gak bisa komen di blog? Semoga sekarang OK ya mas.

Wah, asik juga ulasan Yes nya. Lha aku kok malah cuman bisa bertahan sampai track 3 ya mas? Selebihnya aku bosen, gitu2 muluk ….terlalu lembek. Apalagi dibandingkan band2 seperti IQ, Palls, Pendragon yang makin mantap musiknya. Faktor bosen karena tempo lambat dan kurang variasi itulah yg membuat saya hanya bertahan sampai track 3. Track selanjutnya udah capek dengerinnya …..

Tapi itu selera aja kali ….ntar aku coba track 4 seterusnya ….

Salam,
G

Powered by Driji_Jempol®

———

From: Stevanus <novrileonard@yahoo.com>
Date: 2011/7/27
Subject: Yes “fly from here”
To: gatotprog@gmail.comHalo mas G, slamat pagi, slamat beraktivitas :-)
Setelah baca email mas kemarin, aku coba dalami dan spin n listening lagi album anyar Yes, dan ternyata mas bener, album ini memang masih prog tapi kurang greget. Dibandingin album2 lawas Yes semisal “fragile, close to the edge, relayer, the yes album,etc” kalah jauh. Terus aku bandingin lagi dengan “dark matter” nya IQ (album terakhir IQ yg aku punya krn belom punya “frequency”,he2) walah musik di “fly from here” kalah juga. Track “fly from here” yang kata Squire adalah salah satu komposisi epic Yes lama2 terdengar biasa aja, cuma memang durasinya lumayan panjang.
Tapi lumayan ya mas gak jelek2 amat buat group prog tua yang masih berusaha bertahan bikin album prog dan gak pasrah nyerah sama selera pasar. Harusnya Marillion dan Genesis juga bisa doing the exact same thing as Yes ya mas , jadi gak bikin para progger terlalu kecewa..
Aku gak ngerti kenapa aku bisa email n browsing pake hape tapi gak bisa post comment di blog mas..menyedihkan sekali..
Padahal cuma hape ini kunci gerbang buat aku masuk ke dunia maya. Di kantor aku gak dapet fasilitas internet, di rumah aku juga gak bisa browsing. Mau beli external modem tapi belom kebeli juga sampei sekarang..
Beda waktu di kantor lama aku malah sampei bisa jadi “produser musik”, he2.. download n burn cd..maknyus tenan..
C’est la vie.. Life’s a turning wheel, and now I’m at the bottom of the wheel..

Keep on proggin’ the world..
Hippienov
Sent using a Sony Ericsson mobile phone

——-

Speaker buat Gowes

July 19, 2011

Hari ini tadi secara gak sengaja nemu loudspeaker buat ditaruh di handle bar sepeda buat menikmati musik sambil gowes. Tadinya gak tertarik, namun karena bentuknya lucu, penasaran juga. Begitu dicoba, suaranya zoz gandhoz! Langsung bungkus…!!!! Sampe rumah langsung mounting bracketnya dipasang di sepeda Mongoose The Crossway 425. Wah kereeeen!!!! Sayang besok gak gowes …. Kamis bakalan gowes sambil ngeprog dg speaker keren ini ….! Biyuh biyuh ……….

Saat ini dinikmati sambil menemani tidur nyetel UK album pertama ….setelah tadi nyetel Rush “Animate” …. Keren euy suaranya!!! Jadi pengen gowes …..ha ha ha ha ha …..

Lucu ya bentuknya? Kayak kaleng coca cola ….. Sekarang lagi mengalun The Ecstasy of Gold nya Metallica …nyambung The Call of The Ktulu ….. Jreng!!!!

Triumvirat

July 15, 2011


Oleh : MH Alfie Syahrine

Triumvirat adalah salah satu Super Trio Progressive Rock yang berasal dari Cologne, Germany yang di bentuk pada tahun 1969. Mereka terdiri dari :

 Jurgen Fritz (keyboard)

Werner Frangeberg (bass)

Hans Bathelt (drum)

Hans mengatakan bahwa dia dan dua temannya itu telah memainkan lebih dari 40 lagu-lagu di band band lokal di Cologne dan mereka mengaku bahwa mereka sangat terpengaruh dengan group The Nice yang dimotori oleh Keith Emerson dan mereka secara terus terang mengakui bahwa mereka menyanyikan beberapa lagu The Nice, mereka mengaku bahwa mereka penggagum The Nice dan mereka merasa begitu senang ketika terbentuknya ELP.

The First Shocking Album

Saat itu Werner Frangenberg masih sekolah di SMA jurusan matematik disamping itudia juga anggota band untuk pesta hingga dia tidak bisa melanjutkan keikutsertaannya dengan Triumvirat dan kedudukannya di ganti oleh Hans Pape pada bass dan vokal di tahun 1970 dan ditahun ini pula Triumvirat mulai memasuki dunia rekaman. EMI Records di Cologne menaggapi penawaran mereka dan EMI sangat suka dengan warna musik yang Triumvirat usung dengan pemikiran dan menyaingi ELP yang dari Inggris itu segera saja setelah itu mereka membuat agreement. Langsung mereka rekaman dan hasilnya sangat diluar dugaan! “Mediterranean Tales: Across The Waters” meledak dengan Hans sebagai vokalisnya.

Triumvirat Mediterranean Tales album cover

Hans Bathelt mengatakan bahwa dia dan Jurgen bisa menyanyi tetapi Hans Pape ternyata paling pas sebagai lead vokal kecuali “Eleven Kids” dan “Broken Mirror”, dinyanyikan oleh Jürgen.Setelah itu mereka langsung saja ngebut dan Jurgen Fritz membuat aransemen lagu lagunya sedangkan Hans Bathelt yang menulis lyric- nya kemudian lakhirlah album mereka yang sangat menentukan dan monumental “Illusions On a Double Dimple” (1974 Harvest/EMI),

                          Melejit masuk chart # 2 di Radio Billboard Action

Triumvirat Illusions On A Double Dimple album cover

Namun sayang sebelum rekaman “Illusion” rampung Hans Pape cabut dari
Triumvirat dengan alasan dia baru saja menikah dan isterinya tidak
mau ditinggal tour untungnya saat Truimvirat menemukan pengganti yang pas yaitu sepupu Jurgen ; Helmut Kollen seorang mekanik yang berapa tahun lebih tua dari Jurgen yang sebelumnya sebagai pemain band part time yang langsung diserahi tugas sebagai vokalis dan pembetot bass. ” Dia memiliki suara yang bagus dan penulis lagu yang boleh juga” Puji Jurgen pada sepupunya itu.

 

“Illusions On a Double Dimple” menjadikan kendaraan yang sempurna bagi kepopuleran prog band dari Jerman Barat ini . Walaupun mengenyam banyak kritik dan ledekan dari para fan fanatik ELP sebagai The Clonning Band Of ELP From West Germany tetapi kenyataan dilapangan membuktikan bahwa kesuksesan Triumvirat memang tidak dapat di bendung! . Alec Johnson dari EMI melihat potensi ini yang langsung saja membawa copy master “Illusian On A Double Dimple” ini  ke Amerika dan mendapat respond positif dari Capitol Record yang bersedia

mengedarkan album ini, album sebuah band dari Atlantik Barat yang pertama yang di rilis di USA dan yang sangat mengejutkan Double Dimple masuk chart # 2 di Radio Billboard Action dan kesuksesan anak anak Jerman Barat itu memang telah datang !.. Terilhami oleh sukses ini , pada tahun berikutnya 1975 Triumvirat membuat album baru yang diberi judul Spartacus dengan konsep epik sejarah (yang kemudian menjadi Athem Album mereka karena album ini disamping mendapat banyak pujian secara komersial merupakan album yang sangat berhasil dan merupakan master piece mereka) berdasarkan peperangan Spartacus pahlawan yang mengajak para budak melawan Imperium Romawi yang kejam di abad 73 sebelum Masehi, rekaman ini dikerjakan hanya selama dua puluh sembilan hari. Hans Bathelt juga yang membuat cover Spartacus dengan gambar tikus putih kecil yang ada didalam lampu bohlam. Album inipun meledak dan banyak fans ELP yang diawal pendirian Triumvirat mengejek habis habisan angkat topi juga setelah mendengarkan album ini terutama akan kehebatan Jurgen Fritz yang saat itu telah disebut sebut sebagai symphonic virtuoso keyboard player merangkap “Ring Leader” nya Triumvirat yang disejajarkan dengan Keith Emerson disamping gebukan maut Hans
Bathelt yang penuh imaginasi yang mengawinkan drum dengan moog
synhtesizer dan melambungkan nama Helmut Kollen sebagai penyanyi yang memiliki suara original khas Jerman yang unik.

Album Terlaris Tahun 1975

 Triumvirat Spartacus album cover

Bagi Capitol Rekord Spartacus ini merupakan suatu produk yang dicari
cari saat itu dan dengan cepat menguasai bukan hanya Amerika tetapi juga Canada (terutama di Quebec), Europa, dan sarang sarang progressive rock seperti Brazil dan Argentina Tetapi menjelang akhir tour mereka di Los Angeles , Helmut Kollen
mengumumkan pengunduran dirinya dari Triumvirat untuk bersolo
karier . Jurgen dan Hans berusaha keras membujuk Helmut untuk tidak keluar tetapi sia sia saja karena diotak-nya telah banyak lagu lagu yang akan dinyanyikan di solo kariernya nanti di samping problem statusnya kewarganegaraannya dengan pemerintah Jerman Barat karena Helmut ini lahir di Inggris. Kemudian kedudukannya sebagai pemain Helmut ini lahir di Inggris. Kemudian kedudukannya sebagai pemain bass di gantikan oleh Werner Frangenberg dan Barry Palmer sebagai Vokalis.

Triumvirat Old Loves Die Hard album cover


Take A Break Today
yang terlalu ngepop di edarkan sekitar natal 1975
pada side B (dalam rekaman live The Capitol Of Power dari konser mereka di Los Angeles beberapa hari sebelum Hellmut mengundurkan diri) tidak mendapat respond yang positif dari masyarakat dan itu diingatkan oleh Capitol Record bahwa Triumvirat harus segera ganti haluan!.

Namun pada album Old Loves Die Hard yang diedarkan pada tahun 1976 merupakan titik awal keluarnya Triumvirat dari konsepnya sebagai band yang mengusung epik heroisme kedalam musik, kita bisa lihat pada lagu I Believe dan Old Loves yang sangat jauh sekali darikonsep Spartacus. Merasakan keadaan ini Hans Werner dan Barry Palmer pun cabut dari Triumvirat karena dirasakannya Triumvirat bukan lagi suatu group

 Ego sentris mulai muncul ! ,Helmut Kollen telah memulai rekaman di Conny’s Studio Wolperath Germany, Conny Plank dikenal sebagai pruduser yang sukses menangani Scorpions, Kraftwerk, Depeche Mode dll.

Helmut Köllen dalam rekaman solonya nyaris seperti Triumvirat karena
ditopang oleh Jürgen Fritz , dan Hans Bathelt yang sebagai penulis “The Story of Life” . Deter Petereit of “Passport” diminta bermain bass; dan Matthias Holtmann, yang bermain di group “Hollywood” pada drums, dan saudaranya Helmut Elke Köllen sebagai background vocals.

Hingga bulan November 1976 Triumvirat masih belum dapat menyelesaikan album selanjutnya. Jurgen Fritz meminta Helmut Kollen untuk masuk kembali ke Triumvirat dengan konsep cerita yang berkaitan dengan meletusnya gunung Vesuvius di Pompeii pada tahun45 sebelum Masehi. Gabungnya kembali Helmut Kollen ke Triumvirat bukan merupakan satu reuni yang manis atau lancar karena Kollen merasa bahwa lagu lagu didalam album baru ini diluar ciri vokalnya dan ada pula alasan alasan lain yang mempersulit keadaan sehingga proses rekaman itu sendiri tidak mulus!. Atas permintaan Helmut Kollen , Berry Palmer bersedia gabung kembali ke Triumvirat

 .
Namun tak disangka sangka pada tanggal 3 Mei 1977 sepulang dari rekaman Helmut medengarkan lagu lagu rekamannya yang tidak dirilis di di tape mobilnya antara satu jam lamanyadia mendengarkan lagu lagunya di garasi yang ventilasinya tidak baik Hellmut keracunan asap gas carbon monoxida dan wafat pada usia 27 tahun. You Won’t See Me

 dari The Beatles merupakan salah satu lagu kesayangannya dalam album solonya yang

 di rilis oleh Harvest/EMI di Germany pada tahun 1977. Semua anggota Triumvirat sangat merasa kehilangan akan seorang sahabat yang begitu berbakat . Jurgen Pritz berusaha mengilangkan kesedihannya dia berusaha membujuk Barry Palmer untuk kembali disamping membuat lagu lagu baru dan merekrut Jazz Travelling drummer Kurt Cress yang sebelumnya tergabung dalam “The Curt Cress Clan” dan Jurgen mengajak pula Deter Petereit sebagai pembetot bass dan mereka menghasilkan album Pompeii sebagai New Triumvirat yang disebut sebut sebagai A Stunning Concept Work yang menyamai album album sukses mereka sebelumnya.lagu The Hymn merupakan singel master piece didalam album Pompeii yang sangat laris itu.

A Stunning Concept Work Album

Triumvirat Pompeii album cover

Akan tetapi ada tahun 1978 Jurgent Pritz tidak mempertahankan para
personil yang ada di Viva Pompeii dia merekrut para musisi musiman
untuk membuat album Ala Carte mereka adalah

 Jurgent Pritz (keyboard)

David Hanselman (vokal)

Warner Kopal (bass) adalah teman bermain Helmut di group “Jail” di

Cologne
Matthias Holtmann (drum)

Barry Palmer (vocal pada lagu Darling dan Waterfall yang kesannya pop sekali)

Album ini kurang begitu laku dipasaran karena jamannya sudah berubah yaitu zaman musik Disco dan Punk mereka tidak mengadakan tour untuk Amerika seperti sebelumnya dan album terakhir mereka adalah Russian Roulette sangat pop sekali  dengan merekrut banyak musisi musisi musiman seperti :

Jürgen Fritz – piano, moogs, organ, percussion, synthesizers
Arno Steffen – lead vocals
Jeff Porcaro – drums
Steve Lukather – bass guitar, electric guitar
Tim May – electric guitar, acoustic guitar
Robert Greenidge – steel drums
Neal Stubenhaus – bass
Pete Christlieb – saxophone, clarinet
Mike Gong – electric guitar
David Hungate – bass
Alan Estis – congas, maracas

Inilah saat terakhir bagi Triumvirat karena didalam album ini mereka telah kehilangan trademarknya terutama Jurgen Frietz , dia telah kehilangan Bavarian Spiritnya yang garang dan jadi mellow alias loyo kalah dengan Humberger Spirit, Dalam resensi Russian Roulette ini Prog Archives menulis “Even Hitler would have been disappointed with this atrocity!”.  Tidak ada satupun single didalam album ini yang terkenal. Dan setelah itu Triumvirat-pun wafat !.

Album  Yang Ditinggali Penggemarnya!

Triumvirat Russian Roulette album cover

Mereka Kini

Ada beberapa film yang illustrasi musiknya digarap oleh Jurgen Fritz seperti ; It’s Hard To Be A God, A Woman For Certain Hours dll.

Hans Batlelt kini bekerja sebagai konsultan software di Cologne dan telah berkeluarga sejak 15 tahun yang lalu.

Matthias Holtman kini bekerja sebagai DJ di radio SDR3 di Stuttgart dan sebagai pembawa acara”Extra Spaet” suatu acara bulanan MTV.

Barry Palmer setelah Triumvirat bubar diawal tahun 1980 dia tinggal di German masih aktif bersolo karier, sesekali dia berkolaborasi dengan Jurgen Fritz dan Mike Oldfield (yang membuat album yang sangat laris “Discovery”) dll.

Arno Stefan masih aktif dengan band lokalnya di Cologne LSE

Helmut Kollen walaupun telah meninggal tetapi dia masih tetap ada dihati para penggemarnya termasuk saya pribadi, masih terngiang ditelinga saya sepenggal syair lagu kenangan “The Hazy Shades of Dawn,” dari album “Spartacus.”

 “I have a dream that we can change it…

We can throw the ball and chain away,

We can make it happen, just as long as you believe

Together, we stand up for our peace”

 

Catatan: Pada tanggal 22 Febuari 2002 New Triumvirat yang terdiri dari ;

 Jurgent Fritz (keyboard)

Grant Stefan (bass)

Curt Cress (drum)

membuat album baru yang berjudul The Website Story tanpa BarryPalmer didalamnya tetapi hingga saat ini album ini tidak pernah ketahuan jungtrungannya!. After Three Decades of silence, See the rat is back but… the cheese is not enough for the fat   !!.

(Dari berbagai sumber)

Morow.com ! The Prog Radio

July 12, 2011

JRENG!

Baru tadi malem menemukan nikmatnya menikmati internet radio (telat ya? …ha ha ha ha …maklum angkatan sepuh … ha ha ha ha …).Critanya lagi buka progarchives dan iseng klik PROG RADIO. Langsung pilih Morow.com sesuai anjuran mas Edigimo von Jombank …… Biyuh ternyata nuikmatsssss ….. Pagi ini working from home ditemani Morow.com … Biyuh …… Saat ini lagi muter Kansas “Magnum Opus” …serasa jaman M 97 nih ….. Sebelumnya The Flower Kings. Ini song history nya:

Song History

Played At
(GMT +1)
Artist Song Album
01:33 Flower Kings Monkey Business Unfold the Future
01:21 Circus Maximus Mouth of madness Isolate
01:13 Pendragon Skara Brae (New) Passion
01:02 Genesis Duke’s Travels and end Duke
00:58 Jolly Joy (New) The Audio Guide To Happiness (Part I)
00:51 Ayreon Walking Dreams 01011001
00:44 ASIA Open Your Eyes (New) Spirit of the Night – Live in Cambridge 09
00:40 Porcupine Tree Trains We Lost the Skyline
00:36 Frank Zappa Wild Love Sheik Yerbouti
00:28 The Skys Colors of the Desert (New) Colors of the Desert
00:21 VANDEN PLAS Scar Of An Angel The Seraphic Clockwork
00:15 Marillion Trap The Spark Happiness Is The Road
00:10 An Endless Sporadic The Triangular Race Through Space An Endless Sporadic
00:07 ELP Jerusalem Brain Salad Surgery
23:56 Sky Architect Excavations Of The Mind Excavation of The Mind
23:51 Steven Wilson Thank You Thank You
23:45 Dynamo Bliss Thin Air 21st Century Junk
23:39 Kaipa In The Heart Of Her Own Magic Field In The Wake Of Evolution
23:34 Pure Reason Revolution Aeropause The Dark Third (US Version)
23:30 Genesis A Trick Of The Tail A Trick Of The Tail
23:22 Al Garcia Simulacra (New) All Things Must Converge
23:16 Neal Morse Deliverance question
23:09 Pendragon So by sowest Believe
22:57 KONCHORDAT A COMING OF AGE (Preview) THE NEW CRUSADE
22:50 Saga Don’t Be Late Worlds Apart Revisited
22:42 The Skys Calling Out Your Name (New) Colors of the Desert
22:36 Rush far cry Snakes And Arrows
22:29 Liquid Tension Experiment Universal mind Liquid Tension Experiment
22:23 Sunchild The Wrap Intro (New) The Wrap
22:17 Hoggwash Watching the Sun Go Down The Last Horizon
22:14 Yes Long Distance Runaround Fragile
22:09 Pure Reason Revolution Black Mourning (New) Hammer and Anvil
22:01 Echolyn The End is Beautiful The End is Beautiful
21:55 The Tangent The company Car Down and out in Paris and London
21:50 ASIA Only Time Will Tell (New) Spirit of the Night – Live in Cambridge 09
21:44 Demon The Plague the best of Demon volume one
21:37 Star One 24 Hours (New) Victims Of The Modern Age
21:32 Marillion Hard As Love Less Is More
21:25 Carptree Superhero Superhero
21:21 Aisles Revolution of Light In Sudden Walks
21:06 Dream Theater The Ministry Of Lost Souls Systematic Chaos
21:02 Genesis Please Don’t Ask Duke
20:57 PALLAS Who’s to Blame- The Cross and the Crucible
20:53 Pure Reason Revolution Victorious Cupid Amor Vincit Omnia
20:43 Spock’s Beard Edge Of The In Between X
20:37 Peter Gabriel Here Comes the Flood Peter Gabriel 1
20:33 Karmakanic Turn It Up (New) In a perfect world
20:27 Circa Information Overload 2007
20:24 Porcupine Tree Baby Dream in Cellophane Stupid Dream
20:14 Leap Day Walls (New) Skylge’s Lair

Rockaria House: A Collection of Progressive Tunes

July 10, 2011

By Hippienov

Halo mas G,lagi-lagi aku permisi mohon ijin untuk sekedar nyumbang tret yang sederhana, semoga berkenan bagi mas dan teman-teman proggers lainnya..

Mungkin mas G dan senior-seniorku masih inget aku pernah cerita dulu sewaktu masih kerja di kantor lama (yang sekarang sudah tutup, RIP) aku suka download mp3 gratisan dariprogarchives.com (sambil baca discography group2 yang ada dan album reviews yang semua seru, tentunya dan sudah pasti yang aku cari adalah review dari mas G yang detail n obyektif) kemudian aku “burn” jadi format cd yang totalnya ada 10 volume.
Nah ini adalah kesemua koleksi hasil burning-an ku dulu.
Sayangnya aku gak sempet nyelametin file mp3 download-an nya jadi sekarang those cds are what left as evidence.

Nama “rockaria house” diambil dari judul lagu E.L.O yang aku temuin di album “the best of E.L.O”, judulnya “rockaria”. Lagunya gak prog tapi judulnya itu kayaknya nuansamatik banget buatku, makanya aku jiplak :-D
Aku tambahkan kata “house” biar lebih manteb menggambarkan bahwa semua koleksi kaset/cd ku ada dalam satu wadah “rumah rockaria/rumah rock”,ha3.. Gak nyambung blas sich..malah ngawur,ha3..
Sleeve design/covernya sederhana banget,cuma ketikan judul album beserta list lagu tanpa grafis apapun (bukannya gak mau pake gambar tapi aku gak ngerti blas gimana buatnya,he2..)

Selection lagu-lagunya beragam, pokoknya ada bonus mp3 gratisnya pasti aku download..
Tapi waktu itu aku sedikit coba mengutamakan download pada group yang gak terlalu aku kenal dan lagu yang relatif asing belum pernah aku dengar serta gak umum aku temuin albumnya.

Sebenarnya aku masih akan terus melanjutkan serie ini ke volume berikutnya, karena aku sudah sempat download beberapa lagu lain tapi belum aku burn ke cd dengan pertimbangan tanggung masih terlalu sedikit kalo dijadiin cd..
Tapi apadaya nasib gak pernah bisa aku duga, operasional kantorku keburu berakhir..maka tamat juga “produksi” cd ku dan serie progrock ini berakhir di volume 10..

“This is the end..my only friend the end..”

Kindest Regards,
Hippienov
Sent using a Sony Ericsson mobile phone

Supertramp “Even In The Quietest Moments…”

July 4, 2011

by Hippienov

Permisi mas G and all my humble fellow proggers..
Lagi-lagi aku mau nyumbang tret. Aku ndak tau apa mas G pernah review album ini sebelumnya, kalau sudah pernah mohon maaf aku beneran ndak tau :-D dan reviewku ini dilewatkan aja, jangan ditampilin lagi.


Studio Album, released in 1977

Songs / Tracks Listing

Side 1 
1. Give a little bit (4:07) 
2. Lover Boy (6:49) 
3. Even in the Quietest moment (6:39) 
4. Downstream (4:00) 

Side 2 
5. Babaji (4:49) 
6. From now On (6:10) 
7. Fool’s Overture (10:51)

Total Time: 39:25

Lyrics

Search SUPERTRAMP Even in the Quietest Moments…. lyrics

Music tabs (tablatures)

Search SUPERTRAMP Even in the Quietest Moments…. tabs

Line-up / Musicians

- Roger Hodgson / vocals, keyboards, guitars
- Rick Davies / vocals, keyboards
- Dougie Thomson / bass
- John Anthony Helliwell / wind Instruments, vocals
- Bob C. Benberg / drums, percussion

Releases information

LP A&M Records AMLK64634 (1977)
CD A&M Records (USA) 493348 (2002)

Kaset Supertramp ini adalah satu dari sedikit sekali koleksi Supertramp-ku tapi merupakan salah satu album yang sering aku dengerin, bahkan saat aku tulis tret ini aku juga sedang menikmatinya lewat walkman djadoel di meja kerjaku :-D

Dari cover albumnya aku bisa merasakan “kesunyian” yang disebut di judul album “even in the quitest moments…”
Gambar close-up piano (plus kursi dgn lembar note balok “fool’s overture” terpampang) yg diselimuti salju dengan background pegunungan yg bersalju pula bener-bener menyentuh di hatiku saat pertama liat album ini. Rasanya ada kesunyian, kesedihan dari album ini, karena penasaran maka aku beli.

Lagu pertama “give a little bit” sudah bisa bikin aku duduk manis menikmati dengan intro ritme guitar yang clear, sederhana mungkin tapi nancep di hati. Ditambah dengan solo sax nan indah plus alunan kibor makin menambah indah lagu ini.

Masuk ke “lover boy” makin membuatku gak beranjak pergi dengan intro denting piano riang seperti anak kecil yang berlari-lari kecil sambil melompat-lompat. Meski judulnya bertema cinta tapi aransemennya serius, indah,gak seadanya, aku bisa sedikit merasakan “quiet and sadness” di lagu ini.

“Even In The Quietest Moments” diawali dengan alunan alat tiup (menurutku oboe atau clarinet)  makin mengikat hatiku. Diawali dengan melody yang agak “minor” kemudian meninggi agak rancak dan berakhir kembali seperti di awal..wah..

Sampai ke “downstream”, lagu yang bisa bikin aku sedih dan kadang sampai hampir nangis.. Lagu dengan full alunan piano yang luar biasa indah. Aku seneng dengerinnya saat malam di kamar dengan lampu kamar yang remang-remang, bener-bener makin dapet suasana quiet n sadness nya.

“Babji” berawal agak sedih dengan piano n synth kemudian masuk the whole band: bass-guitar-drums dengan tempo agak cepat dan makin cepat. Kemudian masuk solo sax+guitar yang walau gak panjang tapi nuansamatik. Suara alunan seperti biola di penghujung lagu makin menambah indah lagu ini.

“From Now On” tetap terasa quiet/sadness nya dengan olah melody/ritme ditambah alunan sax n synth.. apalagi di bagian tengah-akhir lagu “guess i always have to be living in fantasy..that’s the way it’s got to be..” plus background choirnya yg maknyus pol..Kali ini aku bener-bener terpaku duduk tak bergeming..

“Fool’s Overture” mungkin klimaks dari album ini, dengan aransemen pembuka yang penuh dengan alunan piano, synth, trumpet, ditambah efek suara lonceng gereja, gemuruh suara kerumunan orang yang seperti sedang demonstrasi plus sepotong pidato Churchill saat WW II yang terkenal itu (yang dipakai juga oleh Iron Maiden di album “live after death” mereka). Kemudian musik mereka makin cepat dan cepat tapi kemudian kembali turun pelan (lagi-lagi aku berasa nuansa quiet n sadness..), tempo musik naik lagi ditambah solo sax kemudian masuk efek suara gemuruh angin n suara kerumunan orang ramai.. Kemudian masuk lagi musik dgn tempo cepat sebagai conclusion.. gak lama kemudian overture ini berakhir..

Bener-bener nikmat album ini, meski mungkin bukan murni band prog tapi Supertramp mampu membuat album yang katakanlah pop tapi dengan sentuhan progressive.
Seperti kata seniorku yang bilang M-Hogarth bermain pop progressive,I think this is more beautiful and frankly I feel it more enjoyable listening to it than listening to some of Hogarth’s albums..

Keep on proggin’..
Hippienov

Musikal Ludrukan “Kartolo Mbalelo”

July 4, 2011

Djarum Apresiasi Budaya mempersembahkan Indonesia Kita Musikal Ludrukan Kartolo Mbalelo hari Jumat & Sabtu, tanggal 1&2 Juli 2011 mulai pukul 20.00-selesai di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki , Jl. Cikini Raya No.73, Jakarta Pusat. Acara ini didukung oleh : Sujiwo Tejo (sutradara), Cak Kartolo Dkk, Inul Daratista, Loedroek ITB ( Cak Fatah, Cak Giso, Cak Elfi ), Cak Lontong, Nurbuat, Rohana, Accapela Madura, D. Zamawi Imron dan Musik oleh Kuaetnika, dengan bintang tamu spesial Mahfud MD dan Pramono Anung.

Sebagai sebuah tontonan, perhelatan ini bisa dikategorikan BAGUS SEKALI karena berhasil menggabungkan kesenian tradisional ludruk yang berasal dari Jawa Timur (Surabaya) dan musik (yang juga menggabungkan musik diatonis seperti gitar, piano, bass, drums dan juga pentatonis berupa gamelan dan kendang dengan ragam musik yang gabungan juga: jazz, blues, rock dan dangdut), dengan plot cerita seputar kejadian yang aktual di tanah air. Plot ceritanya sebenarnya sederhana: seorang rakyat kecil yang jujur (Kartolo) enggan dikaderkan sebagai anggota partai dengan jabatan tinggi di partai. Namun, bila direnungi dan diresapi lebih jauh sebenarnya bermakna dalam dan penuh sindiran kepada pemerintahan sekarang terutama pada partai yang saat ini sedang banyak diguncang karena banyaknya permasalahan.

Antrian karcis untuk tiket "duduk di lantai" karena tempat duduk habis ...

Pertunjukan dimulai dengan monolog dari Butet dengan menggunakan pakaian Madura ala Sakerah. Ia membuka monolog dengan hangat kepada penonton. Selanjutnya disambung dengan live music dengan menampilkan Sujiwo Tejo bermain dengan saxophone dalam aliran blues-jazz yang menawan. Sound system dan akustik ruangan sangat mendukung sehingga musik pembuka ini terasa begitu indah dan memuaskan penonton yang hadir malam itu (Jumat). Tiket memang sudah SOLD OUT beberapa minggu sebelum acara digelar, meski banyak yang jatuh di tangan calo. Karena begitu besarnya minat, tiket duduk di tangga pun dijual oleh panitia.

Monolog Butet membuka acara

Sujiwo Tejo memainkan saxophone membuka acara ...

Dialog antara Sujiwo Tejo dengan Kartolo juga mengingatkan kita dengan gaya ludrukan yang bebas, jenaka dan terkesan kasar karena kata2 seperti “jancuk” dan “asu” begitu mengalir dengan mudahnya. Dialog antara Kartolo dengan Sapari (?) dalam humor Suroboyoan juga sangat menyenangkan dan menghibur. Penonton tak henti-hentinya ketawa ngakak menyaksikan banyolan-banyolan mereka berdua. Pada sesi nembang (menyanyi semacam sinden, dengan logat Jawa) yang menjadi ciri khas Ludruk juga disertai banyolan-banyolan yang membuat ketawa sampai perut kejang. Pokoknya kalau gak ketawa berarti bukan orang Jawa aja …!!! Sepertinya semua penonton memang orang Jawa. Hebat juga ya wong Jowo bisa membuat gedung pertunjukan mampet….ha ha ha ha ha ha ….

Musik-musik yang disajikan selama pertunjukan sangat bagus dan bisa dikatakan sempurna karena  tak ada gangguan yang berarti. Perpaduan antara musik tradisionil dan instrumen modern terasa begitu indah. Saya paling terkesan saat lagu-lagu Sujiwo Tejo dibawakan dengan bagus sekali oleh Tejo dari album pertamanya “Pada Suatu Ketika”. Ada tiga lagu yang dia bawakan selama pertunjukan termasuk “Pada Suatu Ketika” dan “Anyam-anyaman Nyaman”. Perfect! Selain itu saat adegan perang antara tentara Kartolo dan tentara tokoh politik, musiknya yang didominasi kendang sungguh sangat menawan. Yang mengagumkan adalah setiap gerakan dan pukulan dalam peperangan disertai dengan bunyi kenang dan musik yang pas sekali. Pertunjukan ini juga diselingi tarian-tarian modern dan tradisional. Yang paling mengesankan adalah tarian Wayang Orang dengan adegan perang antara Janoko (Arjuna) dengan Buto Cakil. Tariannya bagus sekali dan musik yang mengiringi juga sempurna. Perfecto lah pokoknya!

Satu-satunya kendala teknis selama pertunjukan adalah tidak lancarnya bunyi microphone yang digunakan Nurbuat dan Sapari. Selebihnya PERFECTO! Oh ya, selain yang disebutkan di atas, Inul juga main sebagai bintang tamu.

Sebuah pertunjukan yang berhasil meramu seni teater, ludruk, tari-tarian, humor dan musik dalam suatu kesatuan yang tertata dengan sangat baik.

Dream Theater “On The Backs of Angels” [single]

July 3, 2011

Kepergian Tuan Portnoy Gak Ngaruh Blas jal!

Mulane to …dadi wong ojo sok mokong …. Dipikir deweke drummer paling top sak ndonya, iso ngatur band paling berpengaruh. Nyatane? Lagu iki menunjukkan yen ora perlu Portnoy nggo nggawe musik apik.

Coba deh download lagu ini di situsnya Road Runner. Coba simak …begitu rancak permaian PROG band ini. Progmet nya masih ada namun komposisinya prog banget. Permainan Rudess rancak pol. Drums Mangini ndak ada bedanya sama Portnoy. Wis Pak Portnoy ora usah kemethak mokong maneh. Terbukti ada yang menggantikan.

Dream Theater On the Backs of Angels album cover

Singles/EPs/Fan Club/Promo, released in 2011

Songs / Tracks Listing

1. On the Backs of Angels (8:40)

Search DREAM THEATER On the Backs of Angels lyrics

Music tabs (tablatures)

Search DREAM THEATER On the Backs of Angels tabs

Line-up / Musicians – John Petrucci / guitar
- John Myung / bass
- Mike Mancini / drums
- James LaBrie / vocals
- Jordan Rudess / keyboards

Review by Gatot
Special Collaborator Honorary Collaborator

4 stars Dream Theater in Prog. Mr Portnoy made BIG mistake.

I fully believe that music is emotion – so is the case when I first listened to this single from the upcoming Dream Theater album. This single stirs my emotion really well for two reasons. The first one is that the overall composition of this track is really wonderful and I would say it’s a masterpiece as it combines beautifully the melody, harmony, changes of styles and bits of complexities into an excellent music. The opening part is basically an exploration of guitar fills by Petrucci. But when it flows in crescendo I can feel the soul of the music that has successfully blended symphonic prog into the music unlike most of recent compositions of DT that tended to be metal. I would say this song focuses more on progressive rock music without forgetting the roots of Dream Theater music which was metal. Musically I can sense the nuances of FORSAKEN in this single but in much more progressive style. I really enjoy this single especially it’s good to see Rudess’ inventive keyboard work throughout the song while the music still maintains excellent guitar riffs as musical roots of DT. If you observe this song in its subtleties you can sense that this song is based on progrock scheme augmented with heavy riffs. I keep listening this track over and over because I feel this track suits my taste.

Second reason is more on leadership issue around what’s happening recently with the band with the departure of dominant drummer, Mike Portnoy. This song proves that his departure does not impact negatively to the band. This was what I predicted as I said in my blog, that his departure would not make significant negative impact to the band. Even the band is getting stronger, I believe. From leadership perspective, his departure was a great lesson for the rest of the band to take a better and stronger emotional bonding and revenge it with a positive result: a very good (read: better?) music composition than when MP was there. MP is now aware that actually he is not the best drummer and composer on planet Earth. We all knew that MP ruled the band so much and very dominant in the direction of the band. A friend of mine commented that from this single we can enjoy the tight basslines by Myung because in the past it was dominated by MP bass drum sounds. This mixing is better because Mike Mangini drumming (which sounds at par excellent with MP – no difference at all!!!) is balanced so that other instruments can be heard clearly. From this single we know that Dream Theater is still excellent without Mike Portnoy. Mr Portnoy made a BIG mistake to leave the band he founded.

Hope the full-length album has tracks as solid as this single. Keep on proggin’ …!!!

Peace on earth and mercy mild – GW.

Gazpacho “Tick Tock”

July 3, 2011

Marillion (Hogarth era) Copy Cat Who Does Better ….!!!

Tret ini menyambung pisuhan saya kepada Marillion saat saya mereview Pendragon “Passion” karena Marillion makin hari makin ndak jelas dan gak nggigit blas ..! Musike ora nyanthol nang ati. Karepe opo???? Wis si Hogarth kon ngojek sisan wae lah, ra usah main musik maneh.

Beberapa bulan lalu saya menulis review tentang GAZPACHO yang aliran musiknya jelas Marillion Hogarth namun musiknya lebih keren dan kreatip. Lihat album “Tick Tock” ini. Saya jamin ANda akan suka at first spin. Renyah, nyamlenk dan prog! Jadi, sebenernya aliran Hogarth itu ndak misplaced namun perlu kreatifitas dalam membuat komposisi menarik.

Gazpacho Tick Tock album cover

Studio Album, released in 2009

Songs / Tracks Listing

1 Desert Flight (7:39)
2 The Walk (13:41)
3 Tick Tock (22:24)
4 Winter Is Never (4:55)

Total Time: 48:39

Lyrics

Search GAZPACHO Tick Tock lyrics

Music tabs (tablatures)

Search GAZPACHO Tick Tock tabs

Line-up / Musicians

- Thomas Andersen / piano & keyboards
- Jon-Arne Vilbo / guitar
- Kristian Torp / bass
- Mikael Kromer / guitar & violin
- Robert R. Johansen / drums
- Jan-Henrik Ohme / vocals

Releases information

CD HWT Records (2009)

Review by Gatot
SPECIAL COLLABORATOR Honorary Collaborator

4 stars It blew me away at first spinI know very little about this band except its appearance in the Mariilion DVD and I straightly thought that this band is a pure Marillion’s copy cat – the Hogarth era. But I was not interested to find any of their albums until a friend of mine introduced me this album. I was surprised that I liked it very much at the first spin of the album. This is strange as I was a big fan of Mariilion (Fish era) and did not quite favor the Hogarth era, initially. But how come I liked this album at first spin – knowing the fact that this is a copy cat band. I thought it was two reasons: First, I did not expect quite much what kind of music the band (Gazpacho) would play so I had no preconceived mid abou what the music ‘should’ sound like. Second, it might be the influence of Marillion Higarth era music that in a way had made me like this kind of music. Indeed, I like Marillion’s “Marbles”.The rockin’ opening ‘Desert Flight’ (7:39) set an excellent tone of the overall album. I lately found that the following tracks did not quite follow the music style of opening track. But I truly love the way guitar is playde in riff style combined with powerful vocal line. ‘The Walk’ is a good follow-up segment that definitely takes its time and as such it is bringing us to the kind of atmosphere to the next album title that serves as epic. Leave it alone, this is a nice track with ambient style, reminds me to the Hogarth style in singing.

The title track ‘Tick Tock’ which serves as an epic comprises three major parts whom all of them are interesting to enjoy. Part 1 has a good guitar work with powerful vocals combined with atmospheric keyboard / synthesizer work and sound effects. The song moves with gentle drums augmented with echoed sounds of synthesizer followed with a nice piano and guitar melody. Part 2 opens with a guitar riff and solid bass-line with some excellent keyboard and followed with piano. There are nice soundscapes demonstrated through this song. Part 3 starts with inventive piano and drum, combined with excellent vocal line. Overall this is an excellent epic.

The concluding track ‘Winter Is Never’ is a straightforward, beautifully composed and quite easy to digest. The keys of the song lie on its piano melody with a good vocal from Jan-Henrik. I personally like the chorus part. This song concludes the album beautifully as this song is excellent as well.

I highly recommend you to have this excellent album from Gazpacho, especially if you laike Hogarth era of Marillion. But if you are not Marillion’s fan, I still recommend you to have this album in your prog collection. Keep on proggin’ …!

Peace on earth and mercy mild – GW

Send comments to Gatot (BETA) | Report this review (#437305) | Review Permalink
Posted Thursday, April 21, 2011


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 131 other followers