JRENG!
Opo blog iki ora tambah nggladrah? Wong ngomngin musik kok ujug2 ngomongin Steve Jobs. Wis embuh … Sing edan sing nulis opo sing maca? (Yang gila yang nulis atau yang baca? – red.)
Critanya saya baru pulang dari Citos, tadi ada lunch sama business partners (gaya pol! yo ….nggawe istilah londo ?). Sehabis lunch saya “nemu” buku baru di Times Book Store. Lha kalo ngaku jadi konsultan, kudu banyak baca buku sebagai investasi (selain tentunya dengerin musik prog dan rock). Kalau gak baca buku itu sama aja pencinta prog (ngaku progger) tapi ndak punya kaset keluaran Yess! Ha ha ha ha ha ha … Opo hubungane? Embuhlah jal. Memang setiap bulan saya selelu mencadangkan beli buku import berbahasa Inggris. Bukan buat kemethak atau gaya2an atau kemlondo.Dari dulu saya selalu beli buku teks asli karena ada dua manfaat: 1. bisa segera dapat ilmunya, tanpa menunggu diterjemahkan dulu’; 2. sekalian bisa memaksa diri dengan bahasa Inggris. Jadi satu tembak dua nyawa langsung sempoyongan….. Gitu lho jal.
Singkat cerita, tadi saya ambil buku ini:
Memang masih belum saya baca semua, tapi kata pengantar buku ini sungguh menggugah. Sang pengarang, Jay Elliot, itu adalah mantan Senior Vice President nya Apple. Jadi bukan sembarangan, dia kenal dekat dengan Steve Jobs (CEO nya Apple). Yang unik adalah pertemuan pertama antara Jay dan Steve. Dikisahkan mereka sedang duduk pada suatu public space dan sedang membaca berita di koran bahwa sebuah perusahaan komputer bernama Eagle Computer mendadak bangkrut karena CEO nya meninggal dunia mendadak karena kecelakaan dengan mobil Ferari yang dia kendarai dalam keadaan mabuk. Masalahnya saat itu ia baru saja resign dari Intel dan mau masuk ke Eagle Computer. Saat itu ada anak muda dengan penampilan Hippie, menggunakan jeans dan sepatu kets (yang ternyata adalah Steve Jobs) sedangkan si Jay menggunakan jas necis lengkap dengan dasi. Karena mereka sama2 membaca berita yang sama, akhirnya Jay dan Steve terlibat dalam suatu perbincangan hingga saling berkenalan. Saat itu Apple belum besar dan saat Steve memperkenalkan diri sebahai Chairman perusahaan Apple, si Jay gak percaya karena masih muda (umur Steve saat itu 25 tahun) dan penampilan lusuh.
Singkat cerita, akhirnya Jay ditawari pekerjaan di Apple. Jay ragu karena mana mungkin Apple mampu membayar gajinya. Steve menantang dengan memberikan gaji lebih besar. Empat minggu kemudian Jay bekerja di Apple Computer. Setelah beberapa mingu bekerja di Apple, Steve mengajak Jay untuk berkeliling di kompleks Apple dengan Steve duduk di kursi kemudi. Selama di dalam mobil Mercedes Benz Steve tak berkata apapun selain nyetel musik dengan volume kenceng, The Police dan The Beatles. (Sampai di sini saya terhenyak).
Ya, ternyata orang2 top itu bisa sukses karena mereka menyukai musik ya? CEO nya Starbucks juga suka The Beatles … Sepertinya ada korelasi positif antara hobi musik dengan kesuksesan .. Tul nggak? Makanya ….music for life!
Pokoknya buku ini wajib dikolksi dan dibaca… Terbitan baru lho, tahun 2011….
JRENG!
Untuk ulasan rinci tentang buku ini, silakan KLIK di sini.































