Oleh : MH Alfie Syahrine
Kejayaan musik rock di Medan di era tahun 70’an ditandai dengan tiga rock group yang bersaing di atas panggung pertunjukan, yaitu Rhythm Kings, Minstreal, The Great Session, dan Destroyer, dan tentu saja masih banyak musisi rock lainnya seperti Freemen, The Foxus, Amateur, The Rag Time, Six Men, Grave Men, Copa Tone, Bhineka Nada, dan Black Spades. Pada waktu itu kota Medan dapat dikatakan menjadi barometer bagi group musik dan penyanyi baik dari luar maupun Medan sendiri. Mereka yang berhasil menaklukan penonton kota Medan berarti dengan mudah menjinakkan penonton di tempat lainnya. Penonton Medan cukup adil karena penyanyi atau group
Medan juga tetap diperlakukan sama. Artinya jika penampilan mereka tidak memuaskan, mereka tetap dihukum dengan teriakkan “turun” atau bahkan lemparan berbagai benda ke arah panggung. Sebenarnya penonton yang dikenal kritis terdapat di sekitar Medan, seperti Pematang Siantar, Binjai, Tanjung Balai, dan Tebing Tinggi. Nommensen Hall di Pematang Siantar yang mampu menampung 4000 penonton selalu menjadi pilihan baik group maupun penyanyi dari dalam dan luar kota Medan.Dibawah ini adalah nama-nama Group Band yang tercatat didalam khasanah musik cadas kota Medan pada era tahun 1970-an.
THE MINSTREL’S
Group Cadas Kebanggaan Kota Medan
Hingar-bingar musik rock sedang melanda kaum muda di Tanah air, sekitar awal tahun 1970 hingga akhir tahun 1976 terutama di Jakarta,Bandung, Surabaya, Malang dan kota besar lainnya, dikota Medan juga telah bermunculan beberapa grup–group musik cadas. Salah satu diantaranya adalah grupThe Minstrel’s, yang didirikan pada akhir tahun 1973.Selepas dari C’Blues, Jelly Tobing diajak ke Medan pada pertengahan tahun 1973 oleh Fadhil Usman, adik kandung penyanyi Ivo Nilakresna yang baru saja keluar dari Ivo’s Group. Maka lahirlah grup Minstrel’s versi kedua setelah ditinggalkan oleh Adhy Haryadi yang hijrah ke Bandung yang ditawari Giant Step menggantikan posisi Deddy Stanzah, Lalu komposisi Minstrel’s-pun berubah; Jelly Tobing sebagai drummer dan vokal, Fadhil Usman (gitar), Kris Hutabarat (saksofon, vokal), Mamad (bass, vokal).dan keyboardist handal kebanggaan kota Medan Iqbal Thahir (keyboard), maka jadilah Minstrel’s group band yang paling cepat populernya
Apalagi dengan dukungan seorang manajer, Ny.Syahniar Syahbudin yang memang dikenal sebelumnya sebagai seorang tokoh ‘showbiz’ dibidang ‘entertainment’ , membuat personil The Minstrel’s lebih percaya diri dan siap bersaing dengan grup rock lain,seperti The Rhythm Kings dan The Great Session, dari kota yang sama.
Dengan berdirinya Minstrel’s hadirlah saingan berat Rhythm King dan The Great Session. Rizaldi Siagian yang merupakan drumer terbaik di Medan, begitu Jelly Tobing datang, keduanya berusaha saling mengalahkan. Pertemuan ketiga grup itu di atas panggung di Wisma Ria melibatkan persaingan sesama teknisi dan penonton. Kabel sound system bisa ditemukan putus sehingga gitar atau suara penyanyi tidak kedengaran. Sementara penonton berkelahi karena saling mengejek grup saingan dan menjagokan grup kesayangan mereka.
Sepak terjang group rock The Minstrel’s, setelah didukung oleh Jelly Tobing dan kawan-kawan diatas pentas pertunjukkan musik rock diekspos besar besaran baik lewat media cetak maupun dari beberapa kali pentas ‘live’ musik rock dikota Medan.Minstrel’s sering membawakan lagu- lagu hard rock dari Grand Funk Railroad, Iron Butterfly, Rolling Stones, The Beatles, Deep Purple, Emerson Lake and Palmer, Led Zeppelin, Black Sabbath, dan Jimi Hendrix dan lain-lain sering dijadikan nomor–nomor ‘repertoar’ andalan mereka. Bahkan dikatakan, saat itu hanya Fadhil Usman sajalah (leadguitar /vocal) yang pertamakali membawakan nomor-nomor lagu dari Jimmie Hendrix diatas panggung, bersama grup The Minstrel’s-nya.
Posisi Mamad (bass), yang semasa di group C’Blues selain sebagai gitaris juga merangkap vokalis, di-groupnya yang baru kali ini dicoba untuk lebih eksis lagi dalam menunjang fungsi vokalnya.Mengingat, group The Minstrel’s ini membutuhkan penyanyi dengan vokal prima jika ingin tetap dengan warna musik rocknya.Sayangnya ,frekuensi pertunjukkan musik rock dipentas terbuka untuk kota Medan saat itu tidak sesemarak dengan kota-kota Jakarta, Bandung, Surabaya bahkan Malang.
Tak heran jika group The Minstrel’s berusaha untuk membuktikan keperkasaan mereka melalui ‘pernyataan’ di massmedia, bahwa mereka siap bertarung dengan grup-group musik rock seperti The Rhythm Kings maupun The Great Session.
Popularitas The Minstrel’s pun sedikit demi sedikit sudah mulai terangkat, walaupun untuk ukuran grup musik rock di Tanah Air, grup ini sebenarnya ‘minim’ berkiprah dalam pertunjukkan ‘live’ musik rock. Hal ini, berkat kerja keras sang manajer, Ny.Syahniar selain sebagai promotor, juga salah satu tokoh ‘entertainment showbiz’, yang terkenal dikota Medan. Dengan seringnya sang manajer mengikutsertakan grup The Minstrel’s dalam beberapa kegiatan ‘showbiz’nya, maka praktis group The Minstrel’s, mulai dikenal dan sekaligus menambah ‘jam terbang’ untuk kegiatan pentas musik secara ‘live’.
Dalam suatu acara pergelaran busana di Taman Ria Medan 1974, yang diselenggarakan oleh Minstrel’s Fashion Group (pimpinan Ny.Syahniar Sahbudin ) , group The Minstrel’s sempat tampil dengan menampilkan aksi sang drummer, Jelly Tobing menggebuk drum sambil memutar-mutar kursinya kearah ‘tetabuhan’ drum yang mengelilinginya. Untuk ukuran saat itu, aksi tersebut dapat dianggap menarik dan unik.
Situasi persaingan grup rock dikota Medan yang semakin memanas, membuat seorang promotor memberanikan diri untuk menampilkan ketiga group rock papan atas kota Medan ini (The Minstrel’s, The Rhythm Kings, The Great Session) dalam satu panggung pertunjukkan. Pada bulan Juni 1974, bertempat di Wisma Ria, Jl.Listrik, Medan , lewat massmedia lokal acara ini diliput dimana para penggemar musik rock kota Medan tumpah ruah untuk menyaksikan group kesayangan mereka beradu, untuk memperlihatkan siapa yang terunggul. Bahkan, tidak hanya musisi yang menjadi bahan aduan tetapi diluar gedung pertunjukkan antar sesama ‘fans’ fanatik hampir terjadi keributan. Fans masing-masing grup terlihat saling mengejek dan menjatuhkan nama grup pesaingnya, termasuk teknisi masing-masing group. Untungnya, pertunjukkan berjalan lancar dan group The Minstrel’s pun berhasil membuktikan kepada pencinta musik rock kota Medan bahwa mereka memang pantas menjadi group rock unggulan kota Medan.
Bukanlah seorang Jelly Tobing jika dalam aksi panggungnya tidak dapat menampilkan ‘sensasi’ maupun ‘kehebohan’. Hal ini terbukti ketika Jelly Tobing dalam suatu ‘show’nya bersama The Minstrel’s mencoba ber’eksperimen’ memadukan peralatan tetabuhan ‘drum’nya dengan gamelan dan menggabungkan unsure bunyi2an dari ‘minimoog synthesizer’ kedalam pukulan-pukulan drumnya. Ulah kreatif Jelly Tobing ini, hampir menjadi kenyataan walaupun untuk menggabungkan unsure-unsur bunyian dari ‘minimoog synthesizer’ masih menjadi kendala teknis. Tetapi ide penggabungan alat tetabuhan ‘drum’ dengan gamelan paling tidak sudah menimbulkan sesuatu yang baru bagi para ‘drummer’ saat itu . Beberapa tahun kemudian (Oktober 1988), sensasi dan kehebohan Jelly Tobing ini terjadi lagi ketika ia di Pantai Ancol ,Jakarta memainkan ‘solo drum’ selama 9 jam tanpa henti sehinga ia sempat diberi gelar ‘ drummer paling sensasional’ di Indonesia dan pemegang rekor terlama memainkan solo drum kala itu.
Jika melihat perkembangan musik rock dikota Medan, seputar tahun 1974 sebenarnya ada beberapa group musik rock yang sudah mulai bergerak maju. Hal ini tidak terlepas dari keberadaan group The Minstrel’s sebagai pemicu gaung musik rock dipentas-pentas pertunjukkan di Sumatera Utara. Eksisnya grup rock Destroyer (dengan Guntur Simatupang ‘sang superstar’) ; Freeman ( dengan Jose Tobing sebagai maskotnya) ; Black Spades dan yang lainnya, menimbulkan gaung musik rock di kota ini lebih terasa. Tak heran jika majalah Aktuil, Bandung membuat perhelatan akbar dalam pertunjukkan musik rock dikota Medan pada tahun 1975, yang berhasil sukses dan membuat nama musisi rock asal kota Medan mulai dikenal di Tanah Air.
Namun persoalan internal antar musisi dalam group The Minstrel’s ini pun sempat terdengar. Hal ini biasanya dipicu dari ‘idealisme’ masing-masing personil yang berbenturan dengan warna / corak musik yang akan dimainkan sebagai ciri dari grup tersebut. Christ Hutabarat (saksophon) ,menyatakan mundur dari formasi The Minstrel’s dengan alasan yang sederhana yaitu warna musik yang dimainkan The Minstrel’s sudah tidak sesuai dengan peran alat tiup yang dimainkannya (warna musik rock yang berbeda). Dengan begitu formasi The Minstrel’s hanya didukung oleh empat orang personil saja: Jelly Tobing (drums); Mamad (bass,vocal); Fadil Usman (leadguitar,vocal); Iqbal (organ).
Walaupun predikat group The Minstrel’s sebagai group rock yang tangguh, namun ternyata ada kendala yang menghadang untuk masuk dunia rekaman. Pasalnya, pembuatan lirik dan musik yang disukai masyarakat menjadi acuan bagi para pihak rekaman untuk mendukung pembuatan album rekaman suatu grup musik agar dapat terjual. Tak heran jika dalam formasi ini, grup The Minstrel’s merekam hasil karya mereka dengan nomor-
nomor lagu berwarna musik pop ke pihak studio rekaman Remaco Jakarta yang miliknya Eugene (Yu jin) Timothy itu. Ironis memang, group yang berjaya dengan repertoar lagu-lagu ‘rock’ begitu mudahnya dapat dijinakkan dengan lagu-lagu pop super mellow dalam dunia rekaman.
Rupanya kiprah group The Minstrel’s sebagai sebuah grup musik rock dianggap terlalu ‘slow’ dalam kegiatan ‘showbiz’. Apalagi perlengkapan /peralatan musik yang dianggap masih kurang jika dibandingkan dengan grup sekelasnya, membuat personil yang lain agak sulit untuk berkarir di group ini. Tak heran jika pada akhir tahun 1975, Fadhil Usman lebih memilih mundur dan hengkang ke Jakarta demi karir bermusik dan fulus . Begitu juga anggota Minstrel’s, lainnya seperti Iqbal Taher dan Jelly Tobing, memilih hijrah dan tinggal di Ibu Kota ketimbang Medan setelah grupnya tak bisa lagi dipertahankan.
Surutnya nama The Minstrel’s setelah ditinggal ketiga personil utamanya, membuat sang manajer group ini hampir kehilangan daya untuk menghidupi nama yang sudah dirintisnya. Bahkan rekaman group The Minstrel’s yang sempat diedarkan dengan pihak rekaman Remaco hampir tak pernah terekspos secara baik dalam peredarannya. Sehingga gaung nama group The Minstrel’s hanya diidentikkan dengan semasa keberadaan Jelly Tobing dan kawan-kawan di group tersebut.
Di Jakarta Fadhil Usman kemudian mendirikan group rock Brotherhood dimana Faried Hardja yang saat itu kepalanya sudah plontos masih memakai wig kribo sempat pula sebagai vokalis utama serta Yongky (keyboard), rekan Mamad dan Jelly semasa di C’Blues.
Tetapi Brotherhood tidak bertahan lama belum sempat popular atau masuk dapur rekaman sudah tewas terlebih dahulu. Tahun 1979 Fadhil membuat revolusi dalam bermusiknya sama seperti Jajat Paramor dengan bermetamorforsis menjadi musisi dang dhut ! dan bergabung dengan Reynold Panggabean dan Camelia Malik sebagai gitaris Tarantulla, tetapi walaupun Fadhil sudah bermetamorforsis karena keadaan namun warna rock masih sangat kental dalam petikan gitarnya yang nyaris dominan seperti Blackmore dalam lagu-lagu ; Colak Colek, Wakuncar, Gengsi Dong, Aduhai dan lain lainnya.
Jelly Tobing meneruskan sensasinya selepas group The Minstrel’s dia ke Jakarta danpada tahun 1976 sempat akan ditarik Albar untuk menggantikan Teddy Sujaya tapi urung dan membentuk Superkid bersama dengan Deddy Dores dan Deddy Stanzah dan setelah bubarnya Superkid Jelly membuat sensasi dengan melakukan solo drum selama 10 jam nonstop di Ancol, pada 1 Oktober 1988, dan di lapangan sepak bola Persija, Menteng, 29 Juli 1990. Pada tahun 2002, Jelly bahkan sempat menjadi drummer tamu Rhythm Kings dalam sebuah acara reuni group itu di Medan. Persaingan di masa lalu yang menjurus pada perseteruan tampaknya sudah dilupakan karena jamannya sudah berbeda.
Jelly yang kalau dihitung-hitung pernah masuk-keluar sekitar 30 group musik, kabarnya juga akan mengaktifkan kembali trio Superkids, dengan mengajak serta pemetik gitar bas grup Rollies, Utje F Tekol, sebagai pengganti almarhum Deddy Stanzah. Bahkan, Jelly juga berencana mengganti kedudukan Syech Abidin sebagai penabuh drum dalam reuni AKA bersama Ucok Harahap, Sunatha Tanjung, dan Arthur Kaunang di Surabaya Februari 2005. Di kota buaya ini, mungkin ini salah satu sensasinya Jelly pernah disengat listrik sampai pingsan ketika manggung puluhan tahun lalu.
. Iqbal Taher kini menjadi pemilik sebuah kursus musik di daerah elite BSD. Mamad sang pencabik bass yang merangkap Vokalis itu telah bermetamorfosis menjadi penginjil sejak pernikahannya dulu dengan mamanya Eka Deli. Bagaimana dengan Ny.Syahniar Sahbudin sang boss The Minstrel’s yang dulu cantik dan energik itu? menurut kabar, kini beliau sudah berpredikat Hajjah dan lebih banyak menerjunkan diri dalam masalah keagamaan serta membaktikan dirinya untuk pemberdayaan kaum duafa dan muslimah dikota Medan dan sekitarnya.
Great Session
Great Session adalah salah satu group kebanggaan kota Medan yang di cukong oleh Taruna Said boss-nya Koran Waspada,group ini banyak membawakan lagu-lagu dari Uriah Heep, Deep Purple, dan The Beatles, Emerson Lake & Palmer dll dengan Rizaldi Siagian sebagai Top Drummer Medan sebagai andalannya saat itu serta Iqbal Mustafa sebagai keyboardist paling diandalkan oleh anak anak muda Medan.
Taruna Said sebagai lead guitarist memang salah satu dari motor group band ini apalagi dengan adanya Rizaldi Siagian sang Top Drummer kebanggaan kota Medan saat itu maka jadilah band ini sebagai band yang kemampuannya disejajarkan dengan Destroyer, Freemen,Reg Time, Rhythm Kings dan Minstrel’s , hal ini dibuktikan dengan beraninya mereka tampil satu panggung dengan Rhythm Kings, dan The Minstrel’s dalam satu pertunjukkan bertempat di Wisma Ria, Jl.Listrik, Medan pada bulan Juni 1974. Walapupun Minstrel’s memiliki drummer andalan mereka Jelly Tobing namun Great Session juga berani tampil dengan drummer andalan mereka juga Rizaldi Siagian oleh karenanya pertunjukan malam itu menjadi kenangan tersendiri bagi anak-anak muda Medan yang mana malam itu mereka disuguhkan oleh penampilan tiga group top dalam satu panggung.
Namun setelah memudarnya era keemasan musik rock di Tanah Air diakhir tahun 1977 maka satu persatu personel Great Session masing-masing memilih jalan kehidupannya sendiri-sendiri. Begitu juga Rizaldi Siagian, dia sama seperti anak-anak Rhythm Kings dia menekuni studinya secara serius hingga menjadi Doctor dalam bidang perkusi kini Rizaldi adalah seorang Etnomusikolog. Dia merupakan seorang seniman musik sekaligus akademisi. Studi sarjananya di bidang etnomusikologi diselesaikan di Universitas Sumatera Utara (USU), Medan. Sedang gelar magisternya di bidang etnomusikologi digondolnya dari San Diego State University, California, Amerika Serikat. Rizaldi meneliti musik klasik India Selatan sebagai topik tesisnya.
Rizaldi juga pernah menjadi Ketua Jurusan Etnomusikologi USU hingga tahun 1992. Di sana, dia merancang dan menerapkan kurikulum etnomusikologi bersama Philip Yampolsky, Endo Suanda, Marc Perlman, Ashley Turner, dan Edward C. Van Ness.
Kini Rizaldi tinggal di kawasan elit Cinere.Sedangkan Taruna Said melanjutkan business keluarganya dalam bidang surat kabar, kini dia menjadi Boss Koran Waspada yang sejak dahulu dia rintis bersama orang tuanya. Sedangkan pemain lainnya kami kehilangan informasi tentangnya.
DESTROYERS
Group band satu ini memang nyaris sama dengan Freemen groupnya Jose Tobing yang mengandalkan aksi-aksi panggung yang menegangkan merupakan group yang didanai oleh Pemerintah Daerah Sumatera Utara dan merupakan salah satu group yang disegani di Medan karena kehebatan sang vokalisnya Guntur Simatupang yang memang mempunyai kelebihan dalam stage act maupun olah vocal yang pantas diacungi jempol dimana semua remaja di seantero Medan tidak akan tidak kenal dengan nama Guntur Simatupang yang kerap berjungkir balik diatas panggung itu. Guntur pernah bernyanyi dengan cara digantung; dia memanjat ke atap panggung, kemudian kakinya digantung di atas atap panggung sementara kepalanya menjulur ke bawah. Selain itu ia juga pernah membawa ke atas panggung empatpuluh ekor ular yang ditangkapnya sendiri dari parit-parit sekitar pinggiran kota Medan dan hal itu telah menjadi kebiasaan dalam pertunjukan musiknya. Guntur selalu melakukan atraksi pertunjukan dengan melibatkan ular-ular tangkapannya di atas panggung.
Alice Cooper dari Medan
Saat itu Guntur dijuluki Alice Cooper dari Medan. Banyak aksi panggung Guntur Simatupang yang membikin penonton gelagapan suatu sa’at dia pernah menaiki tangga sampai ke atas dan memukul lonceng yang ditaruh di atas dengan keras sekali hingga menggetarkan telinga para penonton. Destroyer juga terkadang mempertunjukkan atraksi bakar kemenyan yang diiringi oleh lagu-lagu seram semacam upacara orang-orang yang masih primitif. Guntur Simatupang beranggapan justru dengan melakukan atraksi-atraksi yang aneh itu, groupnya dapat menanjak dengan pesat dan dikagumi oleh anak-anak muda Medan yang memang terkenal sangat kritis dan nyaris radikal. Dalam soal kreasi Guntur Simatupang merupakan orang yang tidak pernah puas, oleh karena itu dalam setiap pertunjukan musiknya, ia selalu berusaha membuat segala keanehan-keanehan dan melakukan aksi adegan teatrikal.
Destroyers malang melintang tanpa sedikitpun ciut nyali menghadapi pesaingnya seperti;Great Session, Freemen, The Rhythm Kings, Minstrel’s dll bahkan dengan God Bless .Destroyer juga terkadang mempertunjukkan atraksi bakar kemenyan yang diiringi oleh lagu-lagu seram semacam upacara orang-orang yang masih primitive. Sehingga terjadi pelarangan terhadap Guntur Simatupang pada aksi panggungnya di Medan dia dilarang tampil oleh pihak keamanan. Pelarangan ini dilakukan karena pihak keamanan takut gaya panggungnya akan dicontoh oleh kalangan kaum muda di Medan dan ular-ular yang sering dipakai oleh Guntur Simatupang dalam atraksinya dianggap membahayakan keamanan para penonton yang dikhawarirkan salah satu binatang berisa itu memangsa penonton khususnya penonton di bagian depan.
Seiring dengan meredupnya era musik panggung menjelang akhir tahun 1970-an, segala kesemarakan dan hangar-binger musik rock kota Medan-pun menyurut, banyaknya pemusik Medan yang hijrah ke Jakarta seperti anak-anak The Mercy’s , Rhythm Kings,Minstrel’s dan Great Sesions dan itu membuat Guntur Simatupang seperti latah ikut-ikutan rekannya yang sukses untuk hijrah kesana, namun takdir berkendak lain, dia terdampar di Jakarta dan menjadi seorang montir harian di sebuah bengkel mobil di bilangan jl Daan Mogot. Guntur Simatupang sang Snake Charmer yang hebat dan dipuja oleh anak anak-muda Medan di masa jayanya dulu itu, di Jakarta kehidupannya banyak dirundung duka nestapa; kegagalan rumah tangganya sangat menghancurkan hatinya disamping ketiadaan lapangan kerja yang sesuai dengannya menjadikan Guntur seorang yang kerap sakit-sakitan dia meninggal dalam keadaan yang sangat menyedihkan tanpa diketahui oleh rekan-rekannya yang sudah sukses mengadu nasib di Kota Mertopolitan yang banyak menjanjikan itu.
FREEMEN
Bayang Bayang AKA Dari Medan
Yose Tobing mascot band ini dengan aksi mereka di atas panggungnya yang sangat prima.Yose misalnya bisa menyanyi sambil berguling atau bernyanyi sambil disalib, melompat dan berlari, dimasukkan dalam peti mati seperti yang dilakukan oleh Ucok Harahap dari AKA. Alasan vokalis Freemen Yose Tobing melakukan aksi-aksi teatrikal di atas panggung adalah agar groupnya itu dibicarakan oleh orang banyak dan menjadi terkenal. Dan bilamana telah terkenal secara lambat laun, mereka akan memperbaiki mutu permainannnya.Freemen pernah pula tampil sepanggung dengan AKA di Stadion Teladan Medan pada tanggal 3 dan 9 Agustus 1974. Freemen tampil all out untuk mendapat simpati dan perhatian penonton anak-anak Freemen memang boleh kita saluti karena walapun menyandang predikat band lokal tapi mereka punya nyali gede meskipun bersanding satu panggung dengan supergroup sekelas AKA.
Persaingan group rock Medan dapat juga dilihat dari jor-joran peralatan musik dan sound system. Setelah AKA dan God Bless tampil dengan peralatan yang termasuk luar biasa waktu itu, group rock Medan juga tidak mau kalah. Bos Freemen, John Leo, yang lebih dikenal dengan sebutan Ta Long dan mahir mengutak- atik peralatan listrik dan sound system guna untuk dapat meningkatkan kekuatan sound system group asuhannya.
Akibatnya, ketika Freemen manggung, suara musiknya menggelegar dan membuat ciut nyali para pesaingnya, membuat ciut nyali group saingannya dikurun waktu tahun 1974-1975 Freemen merupakan group perkasa yang disegani oleh para saingannya. Bersamaan dengan bergantinya masa, maka setelah tahun 1977 perubahan jaman telah terjadi karena nampaknya era keemasan musik rock diatas panggung-pun mulai memudar bukan hanya di Indonesia akan tetapi di dunia Barat-pun demikian pula. Tahun demi tahun berlalu nama Freemen-pun perlahan-lahan dilupakan orang sebagaimana terlupakannya Jose Tobing sang vokalis yang garang di atas panggung itu kami telah berusaha mencari informasi tentang vokalis yang hebat ini kepada beberapa teman seangkatan di Medan dan rekans di KPMI namun tidak ada satupun anak-anak band Medan era 70’an yang tahu akan keberadaannya..(dari berbagai sumber)
MH Alfie Syahrine


February 7, 2011 at 11:52 am |
Terima kasih pak Gatot telah dimuat artikel tentang anak-anak band Medan Era 70an karena banyak teman teman saya anak-anak Medan yang complain kenapa cuma band-band Bandung dan Jakarta saja yang di muat sedangangkan Medan belum, jadi buat memuaskan mereka saya coba tulis artikel itu.
Salam
Alfie
February 9, 2011 at 12:40 pm |
Wah, yang musti terima kasih saya pak Alfie ….karena Bapak membuat blog ini lebih hidup dan mengakar ke musik tanah air. Pengetahuan pak Alfie tentang musik indonesia jaman dulu memang tak ada duanya pak!
February 10, 2011 at 12:55 am |
Luar biasa pak Alfie ini, anda satu-satunya di indonesia seperti yang dikatakan oleh pak Gatot. kalau boleh saya tambahkan bahwa Ujang dari Freeman adalah Top Bassistnya Medan akhir tahun 70an dia bikin group Rockers Gang dengan Yahya RK dan Ragtime melahirkan Yance Manusama (Stainley Clark imitasi), pak Alfie apa pernah nulis artikel Cockpitnya Paulce, Ajie Bandi? terima kasih pak Alfie dan terima kasih pak Gatot.
Salam
Hary
February 10, 2011 at 9:25 am |
Setuju mas hary, pak Alfie iki pancen ensiklopedi berjalan mengenai sejarah permusikan indonesia, dan Om gatot selaku Moderatornya…
Salam,
APec
February 10, 2011 at 9:28 am |
Oh iya, barangkali ada sejarah mengenai Kelompok Kampungan punya Bram mahakekum. Sebab saya tdk punya buku Musisiku milik KPMI, ( saya juga tdk tahu apa grup ini dibahas dalam buku tersebut)
Dalam grup ini pula perjalanan awal karir Inisisri( Alm) ,divisi perkusi SWAMI pernah bergabung kalau tdk salah
February 11, 2011 at 7:29 am |
Buat pak Hary, memang benar bahwa Ujang dari Freeman adalah Top Bassistnya Medan pada akhir tahun 70-an itu dan dia bikin group Rockers Gang dengan Yahya RK dan Ragtime yang melahirkan Yance Manusama (yang sekarang jadi penginjil)yang mana sebelumnya di Bandung dia gabung dengan Deddy Stanzah yang baru lompat dari Godbless membuat Trio Tripod bersama Yaya Muktyo ex drummer Big Brother(yang saat penampilan mereka yaya banyak dipuji oleh pengamat musik sebagai drummer yang sangat potenisal), saya sudah siapkan artikel Cockpit dari jaman Pauce sampai jaman arie Safriadi sekarang insya Allah akan saya kirimkan ke Pak Gatot nanti.
Salam
MH Alfie Syahrine
February 11, 2011 at 9:49 am |
Buat APEC, bicara mengenai sejarah Kelompok Kampungan yang ada Bram mahakekum-nya, jujur saya tidak mengikutinya walaupun sekilas pernah dengar.
Salam
MH Alfie Syahrine
February 11, 2011 at 9:53 am |
Kalau di buku Musisiku kebanyakan yang di bahas kebanyakan para penyanyi dan band POP kecuali AKA, SAS, GODBLESS,ROLLIES,GIANT STEP DAN SUPERKID.
February 11, 2011 at 3:25 pm |
Kini dihari hari tua saya seperti sekarang supaya tdk cepat pikun, saya mulai kembali mengingat ingat apa yang pernah saya lihat dan baca dimasa lampau dengan bantuan internet mulai menulis artikel artikel musik yang pernah terlupakan( yang lalu saya layangkan ke blog pak Gatot ini) , sejarah dan agama disamping tulis tulis masalah kerjaan.
Salam
March 16, 2011 at 11:36 pm |
wah….membaca tulisan bapak ingatanku ke kota medan tahun 70 an saya jadi penonton di wisma ria medan saat itu dan juga penonton setia manggung mereka di medan fair, taman ria dan summer time lapangan merdeka
March 31, 2011 at 9:05 pm |
Awal 70an sampai pertengahan 70an adalah masa gegap gempitanya musik hard rock di kota Medan. Saya yang waktu itu tengah beranjak dewasa berada langsung ditengah-tengah suasana tersebut dan menjadi saksi dan pengagum keperkasaan Freemen, Destroyer, Rhythm Kings, Minstrel dll di pentas-pentas musik kota Medan seperti Taman Ria dan Medan Fair. Memang benar selain perkasa dipentas mereka juga perkasa di koran-koran yang tak habis habisnya mengupas aksi mereka. Tulisan Pak Alfie membangkitkan ingatan saya sekaligus menjadi hiburan, seolah-olah itu baru terjadi kemarin seperti film yang diputar kembali. Ujang Freemen adalah bassist idola saya waktu itu, selain the best, tongkrongannya yang tinggi, kulit cerah aksi panggungnya tidak membosankan. Entah dimana dia sekarang………
April 1, 2011 at 8:19 am |
Buat pak Joel,
Saya yakin kita seusia pak Joel karena pak Joel begitu tahu tentang sejarah kejayaan band-band Medang hingga pertengahan 70an . Hingga sekarangsaya tidak dapat informasi tentang Ujang Freemen tapi kalau dengan anak anak Rhythm Kings, saya sering komunikasi terutama sama bang Darma Purba, sedangkan bang Rizaldi Siagian sekarang sudah sakit sakitan(jantung), Bang Guntur Simatupang sudah wafat, Bang mamad sudah jadi penginjil, bang Adhy Haryadi sudah jadi Da’i kemana mana pakai jubah dan sorban terus dengan jenggot dan kumis yang lebat. Jose Tobing saya juga tidak mendapatkan kabar beritanya.
Salam
MHAS
July 6, 2011 at 1:32 pm |
Buat Pak Alfie,
Mohon maaf kalau saya keliru, seingat saya Taruna Said (Great Session) adalah vokalis utama sedangkan gitarisnya “import” dari Jakarta bernama Herman. Dan mereka pernah menambah personil untuk biola yang namanya Aidil Ashar Walad, anak muda asal Aceh.
July 6, 2011 at 2:11 pm |
Halo Bang AKman …. apa kabar?
Wah …ini kompetensi pak Alfie buat menjawab …saya buta bang … Maaf ya bang ….
Salam, G
July 6, 2011 at 4:07 pm |
Kabar baik Mas Gatot, iya memang untuk beliau Mas, karena beliau lurahnya Medan dulu……..hehehehe. Dan saya juga hanya mengandalkan ingatan saja, tanpa ada dukungan data tertulis lainnya, biar beliau yang menjawab…….
Thanx Mas Gatot
Akman S.
July 8, 2011 at 10:00 am |
Pak Akman memang benar Great Session memang suka gonta ganti personilnya
Mengenai Aidil Ashar Walad, memang dia itu anak muda asal Aceh sama seperti Yahya drummernya The Rhythm Kings anak muda dari Aceh juga karena di era 70an memang banyak sekali anak anak muda Aceh yang top di Medan seperti Mick Rustam ( pemain bass Octapus yang dari Aceh juga dimana bandnya pernah jadi juara pertama Medan Open Air yang di sponsori sama majalah Aktuil)
Salam
Alfie
July 8, 2011 at 10:17 am |
Mick Rustam (Mick) sekarang sudah jadi Toke Property di Aceh dan hampirsetiap minggu mondar mandiri ke Medan ( bukan main band tapi beli bahan bangunan untuk usaha property-nya) sedangkan Lead Guitarist Octapus almarhum Karly Harlan Djaya (Lily) pernah menjadi Toke Perusahaan minyak pelumas PT Sumber Daya Tanen.
September 8, 2011 at 9:47 am |
Wah keren! Saya baru tahu kalau musik rock Indonesia jaman dahulu bukana hanya dikuasai AKA, God Bless, dan SAS saja. Kalau teman – teman punya kasetnya yang lengkap mohon di – convert – kan ke MP3 dan uploadkan di internet, terima kasih.
November 5, 2011 at 9:00 am |
band-band kota medan era 70an patut di acungi jempol dan di perhitungkan di kancah rock tanah air.
November 17, 2011 at 10:40 pm |
the right choice rocker the young batanis-
January 31, 2012 at 2:55 pm |
Memang betul skali apa yang sudah dikomentari oleh kawan-kawan diatas, group band asal kota medan n banda aceh pada masa itu memang harus diperhitungkan oleh band2 diluar pulau sumatera, bang Alfi ni ada masukan sedikit mungkin bang Alfi lupa ada lagi sebenarnya band medan yang g disebut yaitu, Quintana, Lord GM n Fresh Men sekedar info bang.
Salam,
Trezant
February 29, 2012 at 12:19 pm |
Toyota Surabaya…
[...]Kugiran Cadas Medan di Era 70 « Music for Life[...]…
October 3, 2012 at 11:45 am |
Bagaimana dengan The Mercy’s? Mohon dibahas juga , Mas…
October 3, 2012 at 8:32 pm |
Mas Rudiyanto, Kita tunggu komentar pak Alfie sang maestro ….. Semoga beliau berkenan ya mas ….
October 5, 2012 at 3:02 pm |
Makasi Mas Gatot.. saya salah satu penggemar berat The Mercys… pengen tau gimana kiprah grup ini, dari sudut pandang Pak Alfie… Boleh tahu Pak Alfie ini juga berdomisili di Medan, mas Gatot?
October 5, 2012 at 5:50 pm |
Pak Rudi & Pak Gatot Yth,
Mercy’s memang sebagai group sweet yang sangat dipuja oleh para penggemarnya saat itu yang bisa menyainginya hanya Favourite Group.. sayangnya group ini libung waktu ditinggalkan oleh Albert Sumlang sang saxophonist tapi karena memang Charles Hutagalung Mercy’s masih bisa bertahan hingga Charles membentuk G&G . Memang mas Rudy saya remaja saya pernah tinggal di Medan cuma yang saya sering tontonyaitugroup rock saja jadi secara langsung saya belum pernah lihat livenya Mercy’s di panggung.
May 27, 2013 at 9:57 pm |
Tks berat utk Mas Alfie dan Mas Gatot. Kenangan masa remaja di Tebing dan Medan terusik kembali. Ingin terulang lagi…kadang jd sedih juga kalo diingat, tp sedih nya lain… mau diulang terus…