Archive for February, 2011

The Rollies

February 26, 2011

Peletak Dasar Band Rock Indonesia

Oleh MH Alfie Syahrine

The Rollies diawali ketika Deddy Sutansyah bertemu dengan Iwan Krisnawan dan Teuku Zulian Iskandar Madian dari grup Delimars serta Delly Djoko Alipin dari group Genta Istana. Deddy mengajak mereka bergabung dalam sebuah grup yang diberi nama Rollies pada bulan April 1967. Orang tua Deddy yang pemilik hotel Niagara menjadi penyandang dana dan menyediakan semua peralatan musik yang diperlukan. Rollies mulai malang melintang di negeri sendiri dengan membawakan lagu-lagu The Beatles, Bee Gees, Hollies, Marbles, Beach Boys, Herman Hermits, juga lagu populer dari Tom Jones dan Englebert Humperdink.

Ketika awal group ini terbentuk, Deddy Stanzah dan kawan- kawan senantiasa berusaha berinovasi, antara lain dengan mengajak pemusik “sekolahan” Benny Likumahuwa yang mahir membaca not balok dan menulis aransemen. Menambah orkestrasi dalam pertunjukan dan ketika mendampingi grup asal Amerika, No Sweat, di Istora Senayan tahun 1974, mereka menambah aransemen musiknya dengan tabuhan gamelan yang dimainkan anggota Rollies sendiri. Seperti yang mereka lakukan dipesta musik ala woodstock ”Summer 28,1973” di Ragunan Instruktur gamelannya tidak lain Benny Likumahuwa.

 

The Rollies Super Jadul: Bonny, Iskandar, Iwan, Gito, Delly dan Benny

The Rollies semakin kokoh bahkan menjadi band pembuka konser Bee Gees pada tanggal 2 April 1972 di Istora Senayan serta Shocking Blue 23 Juli 1972 di Taman Ria Monas dan group asal Amerika, No Sweat, di Istora Senayan tahun 1974 tidak berlebihanlah bilamana mereka disebut sebagai Chicago van Bandung karena hampir semua lagu populer grup asal Amerika itu mereka bawakan di atas panggung: Saturday in The Park, Just You and Me, Old Days, Wishing You were Here, Harry Truman, Call on Me, di samping lagu-lagu Blood Sweat and Tears, Spinning Wheel, Hi Di Ho, serta lagu-lagu grup Yes: Opening From  Fire Bird, James Brown: It’s A Man’s Man’s World, atau Getsemane dari soundtrack film Jesus Christ Superstar, yang diproduksi tahun 1973 dan diangkat dari drama musikal populer di Broadway. Belum lagi mereka berani sepanggung dengan AKA pada. Juli 1972 di Istora Senayan serta Oktober 1973 di Gelora Pancasila yang menampilan raksasa-raksasa rock saat itu  seperti AKA, God Bless dan The Rollies mereka memang punya PD yang pol untuk tampil bareng group band sekelas AKA atau God Bless karena mereka punya warna musik sendiri dan penggemar yang fanatik juga.

 

Rollies,Top In Fashion !

Penuh Sensasi

Meski sering cekcok di belakang panggung, jika sudah berhadapan dengan penonton, mereka menjadi sebuah group yang tampil sangat kompak dan hampir selalu tampil dengan pakaian rapi. Perancangnya tiada lain adalah Deddy Sutansyah. Mereka juga dikenal royal dan suka melemparkan pakaian yang dikenakan kepada penonton.

Kebesaran nama The Rollies tidak lepas pula dari peran aktifnya majalah Aktuil dalam membuat pemberitaan tentang pagelaran atau aktifitas mereka setiap hari disamping seringnya Remy Silado yang karena kekagumannya, selalu membanggakan The Rollies pada hampir setiap tulisannya di Aktuil selain sensasi yang mereka buat guna untuk mendongkrak popularitasnya seperti berhujan-hujanan dijalan raya, menggunakan narkoba pula hingga mereka berurusan dengan Komdak Metro Jaya

 

Rollies Ketika Di Negeri Jiran 1967

Rollies Ketika Di Negeri Jiran 1967

Ada beberapa lagu berbahasa Inggeris yang tambah melambungkan nama The Rollies antara lain : Sign Of Love dan The Love Of A woman bahkan Gone are the Song of Yesterday sampai masuk Top Ten di radio Australia diawal tahun 70’an sedangkan Gito menyanyikan lagu lagu seperti; It’s a Man’s Man’s World, Sunny, I Feel Good, I Love You More, Sunshine of My Brotherhood, Kansas City dll..

Hamid Gruno, pemandu bakat & Sutradara dari TVRI pernah diskors oleh atasannya gara-gara The Rollies & Freedom yang berambut panjang ditampilkannya di TVRI  pada tahun 1973 dalam  acara Kamera Ria. Di TVRI Benny Likumahuwa membuka topi dan mengibaskan rambut panjangnya saat diwawancarai Remy Sylado yang sa’at itu pakai seragam hitam dengan rambut panjang diikat kebelakang Sejak saat itu The Rollies selama beberapa tahun tidak pernah ditampilkan lagi di TVRI.

 

Aktuil Yang Selalu Meliput Setiap Show The Rollies

Sebagai seorang musisi, Benny Likumahuwa merasa ruang geraknya kurang begitu leluasa akibat pembatasan-pembatasan formal yang ditetapkan oleh pemerintah. Misalnya tentang rambut, dimana musisi harus menyisir rapi rambut menurut ukuran sepihak untuk bisa muncul di layar TVRI. Benny Rollies juga mengatakan dia tahu semua itu dilakukan pemerintah untuk mewujudkan apa yang disebut itu sebagai musik yang berkepribadian nasional, tetapi dengan terus terang dia mengatakan bahwa musik semacam itu tidak mungkin terkenal di seluruh dunia. Dia pun sempat mempertanyakan seperti apa sebenarnya musik yang berkepribadian nasional.

What Goes Up Must Come Down

Itulah salah satu bait syair dari group brass rock  Blood Sweat & Tears dalam lagu Spinning Wheel yang nyaris pas untuk keberadaan group brass rock dari Bandung ini pada tahu tahun berikutnya. Waktu terus berjalan, tahunpun  berganti  pula dan  pamor The Rollies mulai memudar karena wafatnya Iwan Krisnawan sang Drummer ditahun 1974 disusul Deddy Stanzah yang didepak dari group brass rock itu .Walaupun menyandang julukan group brass-rock nomor satu, tetapi pada akhirnya setelah memasuki era 80’an Rollies-pun mengalami masa stagnasi yang berkepanjangan. Nyaris tidak terlihat usaha mereka untuk menghasilkan lagu-lagu yang baik dan musik yang mereka kerjakan terkesan dibuat tidak seserius sebagaimana menyiapkan diri untuk tampil dalam sebuah pertunjukan. Sementara group musik baru bermunculan seperti Krakatau, Halmahera, dan Karimata dengan kualitas musik yang mengagumkan ternyata tidak menggugah personel Rollies. nampaknya The Rollies-pun mulai letih mereka terkesan terkena penyakit post-power syndrome.

The New Rollies

Dimasa jayanya, selain memiliki sebuah butik dan peralatan musik, Rollies juga sempat punya sebuah panggung berjalan dengan belasan roadists yang membantu mereka dalam perjalanan pertunjukan turnya di sejumlah kota. Semuanya habis begitu saja. Begitu juga penghasilan yang termasuk sangat besar nominalnya yang diperoleh anggota Rollies nyaris tidak berbekas. Benny Likumahuwa yang sekarang sudah bertambah uzur, mengaku rumah yang didiaminya  di bilangan Villa Mutiara  Tangerang Selatan sekarang justru dia peroleh dengan bermain musik jazz.

Gito menyatakan hal yang sama. Apa yang dia peroleh adalah hasil sebagai pemain sinetron dan bersolo karier sebagai penyanyi,  Pria kelahiran Biak, Irian Jaya, 3 November 1946, telah bermetamorfosis sebagai Da’i dan aktif berkeliling Indonesia dari satu tempat ketempat lainnya bersama teman-temannya dari Jema’ah Tabligh yang dengan setianya mengikuti kemana dia berdakwah. Gito sering diminta bertabigh untuk kaum muda dalam usahanya menyadarkan mereka akan bahaya narkoba dengan dirinya sebagai contoh yang kongkrit akan bahaya narkoba.

Berguguran

Kemudian personil The Rollies yang asli satu persatu meninggal; Iwan Krisnawan pemain drum The Rollies pertama yang meninggal dunia di usia muda pada tahun 1974 menurut Aktuil dia kena OD, lalu Deddy Sutansyah karena hobbi lamanya bergelut dengan narkoba membawa petaka baginya , akhirnya ajal menjemputnya pada hari Senin tanggal 23 Januari 2001. Deddy wafat dengan meninggalkan dua orang anak dan isteri yang sangat setia mendampinginya dikala suka dan duka hingga akhir hayatnya. Setelah itu Raden Bonny Nurdya sang Guitarist yang dimasa jayanya dulu dia selalu diasosiasikan sebagai Steve Hackett-nya Indonesia  wafat juga setelah beberapa waktu di rawat di Rumah Sakit karena menderita radang lambung kronis.

Didit Maruto, Utje F Tekol dan Jimmy Manopo Gabung

Didit Maruto, Utje F Tekol dan Jimmy Manopo  Gabung

Delly Djoko Alipin sang keyboardist yang memiliki lengkingan  suara yang  tiada duanya ini sempat bersolo karier dengan lima album yang dibuatnya namun kurang begitu laku dimasyarakat karena jenis lagu-lagu Delly itu sangat berat ditelinga pendengar musik awam, lalu Delly-pun menyusul kedua rekannya, karena serangan jantung. Delly meninggal pada tgl 30 Oktober 2002, sebelum wafat Delly banyak mendalami masalah agama dan menjadi sangat  religious. Pada beberapa  video clip-nya di TVRI  sering  terlihat Delly menyanyi dengan memakai surban dan jubah serta naik kuda. Diakhir hayatnya Delly banyak menyanyikan  lagu-lagu religi di TVRI. Kemudian Raden Bonnie Nurdaya meninggal pula. Steve Hackett-nya Indonesia itu  wafat pada tgl 13 Juli 2003, lalu Gito alias Bangun Sugito-pun menyusul keempat rekannya, Gito  wafat dengan meninggalkan keluarga yang sholeh dan sakinah. Upacara pemakamannya dihadiri oleh ribuan pelayat dan jemaah tabligh-nya (dimana dihari-hari senjanya Gito begitu aktif dengan jemaah ini dalam bertabligh), kerabat serta penggemarnya, akhirnya  group band besar itupun hanya tinggal menjadi kenangan bagi para penggemarnya setelah hampir semua pemain aslinya telah meninggal dunia .

Kini The Rollies asli hanya tinggal Benny Likumahua dan Teuku Zulian Iskandar Madian  atau Iis yang masih tersisa., kenangannya bersama The Rollies Bagi Benny merupakan kenangan yang begitu mendalam dan sangat mempengaruhi jiwanya setiap kali ada yang bertanya tentang The Rollies, Benny Likumahua begitu sigap dan antusias menjawabnya walaupun dapat dirasakan betapa keharuan yang mendalam ketika dia bercerita tentang band yang membesarkan namanya itu, dimasa tuanya kini Benny  masih bermain musik jazz kadang bersama dengan anak dan teman temannya disamping membaktikan diri pada Tuhannya sebagai seorang Nasrani yang sangat santun dan  ta’at.

NEW ROLLIES

Utje F Tekol sebagai pencabik bass pengganti Deddy Sutansyah masih bermusik sesekali sebagai bintang tamu di Superkid dan Giant Step di era pertengahan 1970’an dan 1980’an dan telah menghasilkan beberapa album dengan mereka. Jimmy Manopo

yang menggantikan Iwan Krisnawan masih aktif sebagai session drummer. Begitu juga Didit Maruto masih aktif sebagai session trumpet player. Pomo yang pernah memperkuat The Pro’s ini hanya selintas singgah di Rollies, dia bekerja di Pertamina  sudah pensiun dan tidak terdengar lagi khabar kegiatannya.

Khabar terakhir dari Utje F Tekol bahwa New Rollies yang terdiri dari Utje F Tekol , Iskandar, Benny Likumahua,Abadi Susman, Jimmy Manopo, Didit Maruto,Masrie ex Yeah Yeah Boys dan Guswin serta Alfredo yang menurut Uce F Tekol adalah keponakannya itu telah membangkitkan kembali The Rollies mereka mengadakan show di Bumi Sangkuriang dan di café hotel Sultan dimana pertunjukan mereka mendapat sambutan yang sangat hangat terutama dari para fan Rollies yang masih tetap setia.

THE VERY NEW ROLLIES FORMATION !

Masrie, Abadi Susman,Jimmy Manopo, Benny Likumahua, Utje F Tekol dan Tengku Zulian Iskandar Madian,

Rindu Rasul by Bimbo

February 15, 2011

Rindu kami padamu ya rasul
Rindu tiada terpera
Berabad jarak darimu ya rasul
Serasa dikau di sini

Cinta ikhlasmu pada manusia
Bagai cahaya suarga
Dapatkah kami membalas cintamu
Secara bersahaja

Rindu kami padamu ya rasul
Rindu tiada terpera
Berabad jarak darimu ya rasul
Serasa dikau di sini

Cinta ikhlasmu pada manusia
Bagai cahaya suarga
Dapatkah kami membalas cintamu
Secara bersahaja

Rindu kami padamu ya rasul
Rindu tiada terpera
Berabad jarak darimu ya rasul
Serasa dikau di sini

 

Selamat milad ya Rasul ….

 

Sesaat by Benny Soebardja

February 12, 2011

Sesaat menatap engkau merpati
Tatkala matahari merajuk memerah kembali

Sayapmu mengundang ucap kalbuku
Terbang dibelai angin berselip lumuran janji abadi

Dapatkah bencana kau rubah kenangan?
Jurang kini membentang
Mungkinkah kau daki
Tanpa membentur jurang tak bertebing

Semesta sekilas menangis lagi
Awan turun kembali
Merpati terbang ditelan sunyi

Dapatkah bencana kau rubah kenangan?
Jurang kini membentang
Mungkinkah kau daki
Tanpa membentur jurang tak bertebing


Kugiran Cadas Medan di Era 70

February 7, 2011

Oleh : MH Alfie Syahrine

Kejayaan musik  rock di Medan di era tahun 70’an ditandai dengan tiga  rock group yang bersaing di atas panggung pertunjukan, yaitu Rhythm Kings, Minstreal, The Great Session, dan Destroyer, dan tentu saja masih banyak musisi rock lainnya seperti Freemen, The Foxus, Amateur, The Rag Time, Six Men, Grave Men, Copa Tone, Bhineka Nada, dan Black Spades. Pada waktu itu kota Medan dapat dikatakan menjadi barometer bagi group musik dan penyanyi baik dari luar maupun Medan sendiri. Mereka yang berhasil menaklukan penonton kota Medan berarti dengan mudah menjinakkan penonton di tempat lainnya. Penonton Medan cukup adil karena penyanyi atau group

Medan juga tetap diperlakukan sama. Artinya jika penampilan mereka tidak memuaskan, mereka tetap dihukum dengan teriakkan “turun” atau bahkan lemparan berbagai benda ke arah panggung. Sebenarnya penonton yang dikenal kritis terdapat di sekitar Medan, seperti Pematang Siantar, Binjai, Tanjung Balai, dan Tebing Tinggi. Nommensen Hall di Pematang Siantar yang mampu menampung 4000 penonton selalu menjadi pilihan baik group maupun penyanyi dari dalam dan luar kota Medan.Dibawah ini adalah nama-nama Group Band yang tercatat didalam khasanah musik cadas kota Medan pada era tahun 1970-an.

 

THE MINSTREL’S

Group Cadas Kebanggaan Kota Medan

Hingar-bingar musik rock sedang melanda kaum muda di Tanah air, sekitar awal tahun 1970 hingga akhir tahun 1976 terutama di Jakarta,Bandung, Surabaya, Malang dan kota besar lainnya, dikota Medan juga telah bermunculan beberapa grup–group musik cadas. Salah satu diantaranya adalah grupThe Minstrel’s, yang didirikan pada akhir tahun 1973.Selepas dari C’Blues, Jelly Tobing diajak ke Medan pada pertengahan tahun 1973 oleh Fadhil Usman, adik kandung penyanyi Ivo Nilakresna yang baru saja keluar dari Ivo’s Group. Maka lahirlah grup Minstrel’s versi kedua setelah ditinggalkan oleh Adhy Haryadi yang hijrah ke Bandung yang ditawari Giant Step menggantikan posisi Deddy Stanzah, Lalu komposisi Minstrel’s-pun berubah; Jelly Tobing sebagai drummer dan vokal, Fadhil Usman (gitar), Kris Hutabarat (saksofon, vokal), Mamad (bass, vokal).dan keyboardist handal kebanggaan kota Medan  Iqbal Thahir (keyboard), maka jadilah Minstrel’s group band yang paling cepat populernya

Apalagi dengan dukungan seorang manajer, Ny.Syahniar Syahbudin yang memang dikenal sebelumnya sebagai seorang tokoh ‘showbiz’ dibidang ‘entertainment’ , membuat personil The Minstrel’s lebih percaya diri dan siap bersaing dengan grup rock lain,seperti The Rhythm Kings dan The Great Session, dari kota yang sama.

Dengan berdirinya Minstrel’s hadirlah saingan berat Rhythm King dan The Great Session. Rizaldi Siagian yang merupakan drumer terbaik di Medan, begitu Jelly Tobing datang, keduanya berusaha saling mengalahkan. Pertemuan ketiga grup itu di atas panggung di Wisma Ria melibatkan persaingan sesama teknisi dan penonton. Kabel sound system bisa ditemukan putus sehingga gitar atau suara penyanyi tidak kedengaran. Sementara penonton berkelahi karena saling mengejek grup saingan dan menjagokan grup kesayangan mereka.

Sepak terjang group rock The Minstrel’s, setelah didukung oleh Jelly Tobing dan kawan-kawan diatas pentas pertunjukkan musik rock diekspos besar besaran  baik lewat media cetak maupun dari beberapa kali pentas ‘live’ musik rock dikota Medan.Minstrel’s sering membawakan lagu- lagu hard rock dari Grand Funk Railroad, Iron Butterfly, Rolling Stones, The Beatles, Deep Purple, Emerson Lake and Palmer, Led Zeppelin, Black Sabbath, dan Jimi Hendrix dan lain-lain sering dijadikan nomor–nomor ‘repertoar’ andalan mereka. Bahkan dikatakan, saat itu hanya Fadhil Usman sajalah  (leadguitar /vocal) yang pertamakali membawakan nomor-nomor lagu dari Jimmie Hendrix diatas panggung, bersama grup The Minstrel’s-nya.

Posisi Mamad (bass), yang semasa di group C’Blues selain sebagai gitaris juga merangkap vokalis, di-groupnya yang baru kali ini dicoba untuk lebih eksis lagi dalam menunjang fungsi vokalnya.Mengingat, group The Minstrel’s ini membutuhkan penyanyi dengan vokal prima jika ingin tetap dengan warna musik rocknya.Sayangnya ,frekuensi pertunjukkan musik rock dipentas terbuka untuk kota Medan saat itu tidak sesemarak dengan kota-kota Jakarta, Bandung, Surabaya bahkan Malang.

Tak heran jika group The Minstrel’s berusaha untuk membuktikan keperkasaan mereka melalui ‘pernyataan’ di massmedia, bahwa mereka siap bertarung dengan grup-group musik rock seperti The Rhythm Kings maupun The Great Session.

Popularitas The Minstrel’s pun sedikit demi sedikit sudah mulai terangkat, walaupun untuk ukuran grup musik rock di Tanah Air, grup ini sebenarnya ‘minim’ berkiprah dalam pertunjukkan ‘live’ musik rock. Hal ini, berkat kerja keras sang manajer, Ny.Syahniar selain sebagai promotor, juga salah satu tokoh ‘entertainment showbiz’, yang terkenal dikota Medan. Dengan seringnya sang manajer mengikutsertakan grup The Minstrel’s dalam beberapa kegiatan ‘showbiz’nya, maka praktis group The Minstrel’s, mulai dikenal dan sekaligus menambah ‘jam terbang’ untuk kegiatan pentas musik secara ‘live’.

Dalam suatu acara pergelaran busana di Taman Ria Medan 1974, yang diselenggarakan oleh Minstrel’s Fashion Group (pimpinan Ny.Syahniar Sahbudin ) , group The Minstrel’s sempat tampil dengan menampilkan aksi sang drummer, Jelly Tobing menggebuk drum sambil memutar-mutar kursinya kearah ‘tetabuhan’ drum yang mengelilinginya. Untuk ukuran saat itu, aksi tersebut dapat dianggap menarik dan unik.

Situasi persaingan grup rock dikota Medan yang semakin memanas, membuat seorang promotor memberanikan diri untuk menampilkan ketiga group rock papan atas kota Medan ini (The Minstrel’s, The Rhythm Kings, The Great Session) dalam satu panggung pertunjukkan. Pada bulan Juni 1974, bertempat di Wisma Ria, Jl.Listrik, Medan , lewat massmedia lokal acara ini diliput dimana para penggemar musik rock kota Medan tumpah ruah untuk menyaksikan group kesayangan mereka beradu, untuk memperlihatkan siapa yang terunggul. Bahkan, tidak hanya musisi yang menjadi bahan aduan tetapi diluar gedung pertunjukkan antar sesama ‘fans’ fanatik hampir terjadi keributan. Fans masing-masing grup terlihat saling mengejek dan menjatuhkan nama grup pesaingnya, termasuk teknisi masing-masing group. Untungnya, pertunjukkan berjalan lancar dan group The Minstrel’s pun berhasil membuktikan kepada pencinta musik rock kota Medan bahwa mereka memang pantas menjadi group rock unggulan kota Medan.

Bukanlah seorang Jelly Tobing jika dalam aksi panggungnya tidak dapat menampilkan ‘sensasi’ maupun ‘kehebohan’. Hal ini terbukti ketika Jelly Tobing dalam suatu ‘show’nya bersama The Minstrel’s mencoba ber’eksperimen’ memadukan peralatan tetabuhan ‘drum’nya dengan gamelan dan menggabungkan unsure bunyi2an dari ‘minimoog synthesizer’ kedalam pukulan-pukulan drumnya. Ulah kreatif Jelly Tobing ini, hampir menjadi kenyataan walaupun untuk menggabungkan unsure-unsur bunyian dari ‘minimoog synthesizer’ masih menjadi kendala teknis. Tetapi ide penggabungan alat tetabuhan ‘drum’ dengan gamelan paling tidak sudah menimbulkan sesuatu yang baru bagi para ‘drummer’ saat itu . Beberapa tahun kemudian (Oktober 1988), sensasi dan kehebohan Jelly Tobing ini terjadi lagi ketika ia di Pantai Ancol ,Jakarta memainkan ‘solo drum’ selama 9 jam tanpa henti sehinga ia sempat diberi gelar ‘ drummer paling sensasional’ di Indonesia dan pemegang rekor terlama memainkan solo drum kala itu.

Jika melihat perkembangan musik rock dikota Medan, seputar tahun 1974 sebenarnya ada beberapa group musik rock yang sudah mulai bergerak maju. Hal ini tidak terlepas dari keberadaan group The Minstrel’s sebagai pemicu gaung musik rock dipentas-pentas pertunjukkan di Sumatera Utara. Eksisnya grup rock Destroyer (dengan Guntur Simatupang ‘sang superstar’) ; Freeman ( dengan Jose Tobing sebagai maskotnya) ; Black Spades dan yang lainnya, menimbulkan gaung musik rock di kota ini lebih terasa. Tak heran jika majalah Aktuil, Bandung membuat perhelatan akbar dalam pertunjukkan musik rock dikota Medan pada tahun 1975, yang berhasil sukses dan membuat nama musisi rock asal kota Medan mulai dikenal di Tanah Air.

Namun persoalan internal antar musisi dalam group The Minstrel’s ini pun sempat terdengar. Hal ini biasanya dipicu dari ‘idealisme’ masing-masing personil yang berbenturan dengan warna / corak musik yang akan dimainkan sebagai ciri dari grup tersebut. Christ Hutabarat (saksophon) ,menyatakan mundur dari formasi The Minstrel’s dengan alasan yang sederhana yaitu warna musik yang dimainkan The Minstrel’s sudah tidak sesuai dengan peran alat tiup yang dimainkannya (warna musik rock yang berbeda). Dengan begitu formasi The Minstrel’s hanya didukung oleh empat orang personil saja: Jelly Tobing (drums); Mamad (bass,vocal); Fadil Usman (leadguitar,vocal); Iqbal (organ).

Walaupun predikat group The Minstrel’s sebagai group rock yang tangguh, namun ternyata ada kendala yang menghadang untuk masuk dunia rekaman. Pasalnya, pembuatan lirik dan musik yang disukai masyarakat menjadi acuan bagi para pihak rekaman untuk mendukung pembuatan album rekaman suatu grup musik agar dapat terjual. Tak heran jika dalam formasi ini, grup The Minstrel’s merekam hasil karya mereka dengan nomor-

nomor lagu berwarna musik pop ke pihak  studio rekaman Remaco Jakarta  yang miliknya Eugene (Yu jin) Timothy itu. Ironis memang, group yang berjaya dengan repertoar lagu-lagu ‘rock’ begitu mudahnya dapat dijinakkan dengan lagu-lagu pop super mellow dalam dunia rekaman.

Rupanya kiprah group The Minstrel’s sebagai sebuah grup musik rock dianggap terlalu ‘slow’ dalam kegiatan ‘showbiz’. Apalagi perlengkapan /peralatan musik yang dianggap masih kurang jika dibandingkan dengan grup sekelasnya, membuat personil yang lain agak sulit untuk berkarir di group ini. Tak heran jika pada akhir tahun 1975, Fadhil Usman lebih memilih mundur dan hengkang ke Jakarta demi karir bermusik dan fulus . Begitu juga anggota Minstrel’s, lainnya seperti Iqbal Taher dan Jelly Tobing, memilih  hijrah dan tinggal di Ibu Kota ketimbang Medan setelah grupnya tak bisa lagi dipertahankan.

Surutnya nama The Minstrel’s setelah ditinggal ketiga personil utamanya, membuat sang manajer group ini hampir kehilangan daya untuk menghidupi nama yang sudah dirintisnya. Bahkan rekaman group The Minstrel’s yang sempat diedarkan dengan pihak rekaman Remaco hampir tak pernah terekspos secara baik dalam peredarannya. Sehingga gaung nama group The Minstrel’s hanya diidentikkan dengan semasa keberadaan Jelly Tobing dan kawan-kawan di group tersebut.

Di Jakarta Fadhil Usman kemudian mendirikan  group rock Brotherhood dimana Faried Hardja yang saat itu kepalanya sudah plontos masih memakai wig kribo sempat pula sebagai vokalis utama serta Yongky (keyboard), rekan Mamad dan Jelly semasa di C’Blues.

Tetapi Brotherhood tidak bertahan lama belum sempat popular atau masuk dapur rekaman sudah tewas terlebih dahulu. Tahun 1979 Fadhil membuat revolusi dalam bermusiknya sama seperti Jajat Paramor dengan bermetamorforsis menjadi musisi dang dhut ! dan bergabung dengan Reynold Panggabean dan Camelia Malik sebagai gitaris  Tarantulla, tetapi walaupun Fadhil sudah bermetamorforsis karena keadaan namun warna rock masih sangat kental dalam petikan gitarnya yang nyaris dominan seperti Blackmore dalam lagu-lagu ; Colak Colek, Wakuncar, Gengsi Dong, Aduhai dan lain lainnya.

Jelly Tobing meneruskan sensasinya selepas group The Minstrel’s dia ke Jakarta danpada tahun 1976 sempat akan ditarik Albar untuk menggantikan Teddy Sujaya tapi urung dan  membentuk Superkid bersama dengan  Deddy Dores dan Deddy Stanzah dan setelah bubarnya Superkid Jelly membuat sensasi dengan melakukan solo drum selama 10 jam nonstop di Ancol, pada 1 Oktober 1988, dan di lapangan sepak bola Persija, Menteng, 29 Juli 1990. Pada tahun 2002, Jelly bahkan sempat menjadi drummer tamu          Rhythm Kings dalam sebuah acara reuni group itu di Medan. Persaingan di masa lalu yang menjurus pada perseteruan tampaknya sudah dilupakan karena jamannya sudah berbeda.

Jelly yang kalau dihitung-hitung pernah masuk-keluar sekitar 30 group musik, kabarnya juga akan mengaktifkan kembali trio Superkids, dengan mengajak serta pemetik gitar bas grup Rollies, Utje F Tekol, sebagai pengganti almarhum Deddy Stanzah. Bahkan, Jelly juga berencana mengganti kedudukan Syech Abidin sebagai penabuh drum dalam reuni AKA bersama Ucok Harahap, Sunatha Tanjung, dan Arthur Kaunang di Surabaya Februari 2005. Di kota buaya ini, mungkin ini salah satu sensasinya Jelly pernah disengat listrik sampai pingsan ketika manggung puluhan  tahun lalu.

 

.        Iqbal Taher kini menjadi pemilik sebuah kursus musik di daerah elite BSD. Mamad sang pencabik bass yang merangkap Vokalis itu telah bermetamorfosis menjadi penginjil sejak pernikahannya dulu dengan mamanya Eka Deli. Bagaimana dengan Ny.Syahniar Sahbudin sang boss The Minstrel’s yang dulu cantik dan energik itu? menurut kabar, kini beliau sudah berpredikat Hajjah dan lebih banyak menerjunkan diri dalam masalah keagamaan serta membaktikan dirinya untuk pemberdayaan  kaum duafa dan muslimah dikota Medan dan sekitarnya.

 

Great Session

Great Session adalah salah satu group kebanggaan kota Medan yang di cukong oleh Taruna Said boss-nya Koran Waspada,group ini banyak membawakan lagu-lagu dari  Uriah Heep, Deep Purple, dan The Beatles, Emerson Lake & Palmer dll dengan Rizaldi Siagian sebagai Top Drummer Medan sebagai andalannya saat itu serta Iqbal Mustafa sebagai keyboardist paling diandalkan oleh anak anak muda Medan.

Taruna Said sebagai lead guitarist memang salah satu dari motor group band ini apalagi dengan adanya Rizaldi Siagian sang Top Drummer kebanggaan kota Medan saat itu maka jadilah band ini sebagai band yang kemampuannya disejajarkan dengan Destroyer, Freemen,Reg Time, Rhythm Kings dan Minstrel’s , hal ini dibuktikan dengan beraninya mereka tampil satu panggung dengan Rhythm Kings, dan The Minstrel’s dalam satu pertunjukkan bertempat di Wisma Ria, Jl.Listrik, Medan pada bulan Juni 1974. Walapupun Minstrel’s memiliki drummer andalan mereka Jelly Tobing namun Great Session juga berani tampil dengan drummer andalan mereka juga Rizaldi Siagian oleh karenanya pertunjukan malam itu menjadi kenangan tersendiri bagi anak-anak muda Medan yang mana malam itu mereka disuguhkan oleh penampilan tiga group top dalam satu panggung.

Namun setelah memudarnya era keemasan musik rock di Tanah Air diakhir  tahun 1977 maka satu persatu personel Great Session masing-masing memilih jalan kehidupannya sendiri-sendiri.  Begitu juga Rizaldi Siagian, dia sama seperti anak-anak Rhythm Kings dia menekuni studinya secara serius hingga menjadi Doctor dalam bidang perkusi kini Rizaldi adalah seorang Etnomusikolog. Dia merupakan seorang seniman musik sekaligus akademisi. Studi sarjananya di bidang etnomusikologi diselesaikan di Universitas Sumatera Utara (USU), Medan. Sedang gelar magisternya di bidang etnomusikologi digondolnya dari San Diego State University, California, Amerika Serikat. Rizaldi meneliti musik klasik India Selatan sebagai topik tesisnya.

Rizaldi juga pernah menjadi Ketua Jurusan Etnomusikologi USU hingga tahun 1992. Di sana, dia merancang dan menerapkan kurikulum etnomusikologi bersama Philip Yampolsky, Endo Suanda, Marc Perlman, Ashley Turner, dan Edward C. Van Ness.

Kini Rizaldi tinggal di kawasan elit Cinere.Sedangkan Taruna Said melanjutkan business keluarganya dalam bidang surat kabar, kini dia menjadi Boss Koran Waspada yang sejak dahulu dia rintis bersama orang tuanya. Sedangkan pemain lainnya kami kehilangan informasi tentangnya.

 

DESTROYERS

Group band satu ini memang nyaris sama dengan Freemen groupnya Jose Tobing yang mengandalkan aksi-aksi panggung yang menegangkan merupakan group yang didanai oleh Pemerintah Daerah Sumatera Utara dan merupakan salah satu group yang disegani di Medan karena kehebatan sang vokalisnya Guntur Simatupang yang memang mempunyai kelebihan dalam stage act maupun olah vocal  yang pantas diacungi jempol dimana semua remaja di seantero Medan tidak akan  tidak kenal dengan nama Guntur Simatupang yang kerap berjungkir balik diatas panggung itu. Guntur pernah bernyanyi dengan cara digantung; dia memanjat ke atap panggung, kemudian kakinya digantung di atas atap panggung sementara kepalanya menjulur ke bawah. Selain itu ia juga pernah membawa ke atas panggung empatpuluh ekor ular yang ditangkapnya sendiri dari parit-parit sekitar pinggiran kota Medan dan hal itu telah menjadi kebiasaan dalam pertunjukan musiknya. Guntur selalu melakukan atraksi pertunjukan dengan melibatkan ular-ular tangkapannya di atas panggung.

Alice Cooper dari Medan

Saat itu Guntur dijuluki Alice Cooper dari Medan. Banyak aksi panggung Guntur Simatupang yang membikin penonton gelagapan suatu sa’at dia pernah menaiki tangga sampai ke atas dan memukul lonceng yang ditaruh di atas dengan keras sekali hingga menggetarkan telinga para penonton. Destroyer juga terkadang mempertunjukkan atraksi bakar kemenyan yang diiringi oleh lagu-lagu seram semacam upacara orang-orang yang masih primitif. Guntur Simatupang beranggapan justru dengan melakukan atraksi-atraksi yang aneh itu, groupnya dapat menanjak dengan pesat dan dikagumi oleh anak-anak muda  Medan yang memang terkenal sangat kritis dan nyaris radikal. Dalam soal kreasi Guntur Simatupang merupakan orang yang tidak pernah puas, oleh karena itu dalam setiap pertunjukan musiknya, ia selalu berusaha membuat segala keanehan-keanehan dan melakukan aksi adegan teatrikal.

Destroyers malang melintang tanpa sedikitpun ciut nyali menghadapi  pesaingnya seperti;Great Session, Freemen, The Rhythm Kings, Minstrel’s dll bahkan dengan God Bless .Destroyer juga terkadang mempertunjukkan atraksi bakar kemenyan yang diiringi oleh lagu-lagu seram semacam upacara orang-orang yang masih primitive. Sehingga terjadi pelarangan terhadap Guntur Simatupang  pada aksi panggungnya di Medan dia dilarang tampil oleh pihak keamanan. Pelarangan ini dilakukan karena pihak keamanan takut gaya panggungnya akan dicontoh oleh kalangan kaum muda di Medan dan ular-ular yang sering dipakai oleh Guntur Simatupang dalam atraksinya dianggap membahayakan keamanan para penonton yang dikhawarirkan salah satu binatang berisa itu memangsa penonton khususnya penonton di bagian depan.

Seiring dengan meredupnya era musik panggung menjelang akhir tahun 1970-an, segala kesemarakan dan hangar-binger musik rock kota Medan-pun menyurut,  banyaknya pemusik Medan yang hijrah ke Jakarta seperti anak-anak The Mercy’s , Rhythm Kings,Minstrel’s dan Great Sesions dan itu membuat Guntur Simatupang seperti latah ikut-ikutan rekannya yang sukses untuk hijrah kesana, namun takdir berkendak lain, dia terdampar di Jakarta dan menjadi seorang montir harian di sebuah bengkel mobil di bilangan jl Daan Mogot. Guntur Simatupang sang Snake Charmer yang hebat dan dipuja oleh anak anak-muda Medan di masa jayanya dulu itu, di Jakarta kehidupannya banyak dirundung duka nestapa; kegagalan rumah tangganya sangat menghancurkan hatinya disamping ketiadaan lapangan kerja yang sesuai dengannya menjadikan Guntur seorang yang kerap sakit-sakitan dia meninggal dalam keadaan yang sangat menyedihkan tanpa diketahui oleh rekan-rekannya yang sudah sukses mengadu nasib di Kota Mertopolitan yang banyak menjanjikan itu.

 

FREEMEN

Bayang Bayang AKA Dari Medan

Yose Tobing mascot band ini dengan aksi mereka di atas panggungnya yang sangat prima.Yose misalnya bisa menyanyi sambil berguling atau bernyanyi sambil disalib, melompat dan berlari, dimasukkan dalam peti mati seperti yang dilakukan oleh Ucok Harahap dari AKA. Alasan vokalis Freemen Yose Tobing melakukan aksi-aksi teatrikal di atas panggung adalah agar groupnya itu dibicarakan oleh orang banyak dan menjadi terkenal. Dan bilamana telah terkenal secara lambat laun, mereka akan memperbaiki mutu permainannnya.Freemen pernah pula tampil sepanggung dengan AKA di Stadion Teladan Medan pada tanggal 3 dan 9 Agustus 1974. Freemen tampil all out untuk mendapat simpati dan perhatian penonton anak-anak Freemen memang boleh kita saluti karena walapun menyandang predikat band lokal tapi mereka punya nyali gede meskipun bersanding satu panggung  dengan supergroup sekelas AKA.

Persaingan group rock Medan dapat juga dilihat dari jor-joran peralatan musik dan sound system. Setelah AKA dan God Bless tampil dengan peralatan yang termasuk luar biasa waktu itu, group rock Medan juga tidak mau kalah. Bos Freemen, John Leo, yang lebih dikenal dengan sebutan Ta Long dan mahir mengutak- atik peralatan listrik dan sound system  guna untuk dapat meningkatkan kekuatan sound system group asuhannya.

Akibatnya, ketika Freemen manggung, suara musiknya menggelegar dan membuat ciut nyali para pesaingnya, membuat ciut nyali group saingannya dikurun waktu  tahun 1974-1975 Freemen merupakan group perkasa yang disegani oleh para saingannya.  Bersamaan dengan bergantinya masa, maka setelah tahun 1977 perubahan jaman telah terjadi karena nampaknya era keemasan musik rock diatas panggung-pun mulai memudar bukan hanya di Indonesia akan tetapi di dunia Barat-pun demikian pula. Tahun demi tahun berlalu nama Freemen-pun perlahan-lahan dilupakan orang sebagaimana terlupakannya Jose Tobing sang vokalis yang garang di atas panggung itu kami telah berusaha mencari informasi tentang vokalis yang hebat ini kepada beberapa teman seangkatan di Medan dan rekans di KPMI  namun tidak ada satupun anak-anak band Medan era 70’an yang tahu akan keberadaannya..(dari berbagai sumber)

 

MH Alfie Syahrine

 


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 150 other followers