Archive for January, 2011

The Rhythm Kings

January 19, 2011

Kugiran CadasYang Bisa Sweet

Oleh MH Alfie Syahrine


Rhythm Kings Sedang Mejeng Di Depan Rumah M Panggabean

Diawal 70-an Surabaya boleh saja bangga punya AKA dan Bandung  punya Rollies serta Rhapsodia yang nyaris menguasai panggung pertunjukan pada masa itu tapi Medan-pun punya Rhythm Kings yang berdiri pada tahun  1967 kelompok anak anak muda yang awalnya bermain musik pada acara tujuhbelasan dimana saat itu mereka belum mempunyai nama untuk groupnya itu yang ada hanyalah nama Rhythm King pada drum yang digebuk oleh  Reynold Panggabean yang mana kemudian masyarakat menjuluki mereka sebagai group Rhythm Kings yang kemudian nama itu membawa berkah dan menjadikan mereka sebagai The First Class Band In Town. Rhythm Kings pada awalnya terdiri dari Reynold Panggabean (drum), Taruna Said (gitar), Darma Purba (saksofon) dan Darmawi Purba (bass), mereka sering membawakan lagu The Monkeys, Tilman Brother, Otis Reding, The Papas & The Mamas dan The Shadows serta fifth Dimension entah sudah berapa kali sejak berdirinya Rhythm Kings ini mengalami pergantian pemain dari sejak berdirinya hingga tahun 1970 dimana pada akhirnya mereka mengalami perggantian yang mereka rasakan pas dengan masuknya Radja Muda Nasution mantan keyboardist Group The Amateurs dan Yahya mantan drummer The Fingers.

 

PH mereka pertama direkam di Singapura hasil petunjuk dan kerja sama dengan John Tangkau (mantan composer Rollies) pada tahun 1970 mereka terdiri dari  Darmawan Purba (gitar), Darma Purba (saksofon), Raja Muda Nasution (keyboard), Darmawi Purba (bass), dan Yahya (drum).Orientasi mereka dalam memilih lagu-lagu group luar-pun telah berubah total,Rhythm Kings berubah menjadi group hard rock bilamana mereka dipanggung mereka menyanyikan lagu-lagu Led Zeppelin, Deep Purple,Uriah Heep, BS&T, Chicago dan Yes, memang Rhythm Kings merupakan group rock elite dari Medan.Darma, Darmawi dan Darmawan adalah anak-anak ‘The Have’ karena ayah mereka Madja Purba adalah walikota Medan saat itu .

 

Di era awal 70’an hingga pertengahan 70’an  panggung musik rock bukan hanya di Jakarta, Bandung Surabaya serta Malang saja yang dipadati dengan konser-konser serta para penonton tetapi Medan-pun sami mawon.Persaingan antara group sudah menjadi hidangan setiap hari baik di koran-koran lokal, salah satunya koran Waspada milik Taruna Said bossnya Great Session serta di majalah Aktuil sebagai majalah musik referensi anak-anak muda penggemar musik rock saat itu dan ini membuat situasi persaingan group rock di kota Medan semakin seru !, hal ini mengilhami seorang promotor yang nekad pada bulan Juni 1974 untuk menampilkan tiga group rock papan atas kota Medan yang sedang top-topnya saat itu; Rhythm Kings, Minstrel’s dan Great Session dalam satu panggung pertunjukkan bertempat di Wisma Ria, Jl. Listrik, Medan lewat massmedia lokal acara ini diliput dimana para penggemar musik rock kota Medan tumpah ruah untuk menyaksikan group kesayangan mereka beradu, untuk memperlihatkan siapa yang pantas diacungi jempol. Serunya, bukan  hanya musisi saja yang menjadi bahan aduan tetapi diluar gedung pertunjukkan antar sesama penggemar fanatik nyaris terjadi adu jotos. Penggemar masing-masing group nampaknya gemar saling mengejek dan menjatuhkan nama group pesaingnya, termasuk teknisi masing-masing group main sabot atau putus kabel sudah menjadi barang santapan hampir disetiap pagelaran musik cadas saat itu dan hal itulah justru yang menjadi bahan pemicu semaraknya persaingan musik cadas kota Medan itu..

 

 

Darmawan Gitaris Andalan Rhythm Kings

 

Penampilan Rhythm Kings mendapat sambutan hangat disana walaupun saat itu  Minstrel’s yang didukung oleh beberapa anak-anak band Jakarta sebagai group baru yang sangat potensial baik kualitas maupun sensasinya (seperti Fadhil Usman yang baru cabut dari Ivo’s Group dan Jelly Tobing yang hengkang dari C’Blues) dan Great Session yang banyak membawakan lagu-lagu dari Emerson Lake & Palmer dengan Rizaldi Siagian sebagai Top Drummer Medan serta Iqbal Taher sebagai keyboardist paling dibanggakan oleh anak anak muda Medan saat itu tetapi semua itu tidak mengecilkan nyali anak-anak Rhythm Kings untuk tunjuk keboleh di pentas malam itu . Kebolehan Radja Nasution pada keyboard dan lengkingan gitarnya Darmawan Purba serta gebrakan drum-nya Yahya yang mantab dan asyiknya Darma Purba memainkan saksofon-nya menjadikan para penonton terhanyut dan mau tidak mau mengakui akan kebolehan anak-anak ‘sekolahan’ ini. Di atas panggung Darmawi disamping bernyanyi dia begitu sigap atraktifnya bermain bass.

Darma Purba In Action

 

Trio Vokal Yang Sangat Kompak

Group yang mengandalkan olah vokalnya pada trio Darma, Darmawan, dan Darmawi ini yang kemudian dikenal sebagai Trio Mawi ,Mawan, Darma. Pada tahun 1972 mereka sudah menghasilkan rekaman lagu-lagu pop yang diproduksi oleh Indra Record seperti; Kasih Bersemi, Permohonanku, Kisah Asmara, Sepatah Kata, Maafkan Beta dan Pertemuan Terakhir serta beberapa lagu berlirik Inggris yang ditulis oleh John Tangkau seperti It’s Hard For Me To Say ,Full Timer, dan The Promise merupakan lagu- lagu yang menampilkan kebolehan Radja Muda Nasution memainkan keyboard-nya serta kegarangan permainan gitar Darmawan pada awal tahun 1970-an.Album Rhythm Kings yang pertama itu hingga kini masih banyak diburu oleh para kolektor .

Radja Muda Nasution Keyboardist Andalan  Rhythm Kings

 

Rhythm Kings termasuk yang paling banyak menghasilkan album rekaman dibandingkan dengan dua saingan beratnya. Dalam usianya yang ke delapan pada tahun 1975, group ini telah menghasilkan tujuh album termasuk satu album lagu Batak. Padahal diatas panggung Rhythm Kings yang  menggandalkan lagu-lagu hard rock namun setelah masuk dapur rekaman ternyata lagu-lagu sweet mereka yang berirama pop-pun juga disukai penonton.Lagu-lagu seperti ; Kasih Bersemi, Permohonanku, Kisah Asmara, Sepatah Kata, Maafkan Beta dan Pertemuan Terakhir merupakan lagu lagu sweet yang selalu dikenang oleh para penggemar Rhythm Kings hingga kini, sehingga tidak heran bila album pertama yang memuat lagu lagu diatas tersebut masih tetap menjadi buruan para kolektor hingga kini.

 

Hijrah ke Jakarta

Purba bersaudara (Darma, Darmawi, dan Darmawan) ini lebih memilih berkonsentrasi pada pendidikan kemudian setelah mereka lulus mereka bertiga tak ubahnya seperti kembar saja layaknya, mereka hijrah bersama-sama  ke Jakarta.

 

Seiring dengan meredupnya era musik panggung menjelang akhir tahun 1970-an, karena musik new wave dan disco telah meluluhlantahkan musik rock yang dianggap bising dan meletihkan, banyak group rock luar yang bubar seperti Yes, Genesis, Deep Purple, Led Zeppelin, Triumvirat, King Crimson begitu juga di Tanah Air pertunjukan musilk rock menjadi vakum kalah angin dengan  musik new wave yang sedang in .banyak diantara para musisi yang meneruskan kuliahnya seperti anak-anak Rhythm Kings,Great Session, Giant Step dll, ada juga yang berkonsentrasi pada pekerjaannya atau berganti genre seperti Fadhil Usman gitaris top andalan Minstrel’s ,dikarenakan tuntutan hidup yang lebih lebih realistis dia bermethamorfosis menjadi gitaris group Dang Dhut-nya Reynold Panggabean Tarantula (yang dahulu pernah juga bergabung dengan Rhythm Kings).

 

Begitu pula dengan segala kesemarakan dan hangar binger musik rock kota Medan-pun menyurut bukan saja banyaknya pemusik Medan yang hijrah ke Jakarta, pertumbuhan penyanyi dan group  baru nyaris tidak terlihat. Akibatnya, Rhythm Kings mengurangi kegiatan bermusik untuk akhirnya…. Bubar !.

Mawi Bassist Yang Atraktif

 

Mereka Kini

Kini  Purba bersaudara hidup dalam serba berkecukupan. Darmawi yang dahulu jago dalam membawakan lagu-lagu sendu direkaman dan garang sebagai vokalist dan bassist dipanggung itu kini sudah pensiun sebagai seorang pejabat di Pemda DKI dan hidup berbahagia dengan keluarganya, sesekali dia mengunjungi studio musik miliknya di bilangan Cempaka Putih, entah apakah dia kesana untuk mengontrol manajemen studio-nya saja atau sekedar bermain musik untuk sekedar bernostalgia, Darma bukan lagi seorang Saxophonist tapi kini dia berprofesi sebagai seorang dokter gigi yang terkenal di Jakarta dan tinggal didaerah elit dibilangan Kebayoran. Darma masih nampak enegik penuh semangat dia masih sempat bergoyang dan menyanyikan dua buah lagu dalam HUT KPMI yang kelima di MU Cafe beberapa saat yang lalu sedangkan si bungsu Darmawan gitaris andalan Rhythm Kings yang pernah mendapat predikat The Best Guitarist In Town yang specialist THT lulusan Leiden itu sudah meninggal karena kangker usus pada usia 40 tahun namun entah bagaimana khabarnya dengan Yahya  sang drummer yang agressif dan sangat rapi permainannya itu serta Radja Muda Nasution sang keyboardist andalan Rhythm Kings dulu?, mereka tidak pernah terdengar lagi kabar beritanya…Mungkin kini bila mereka merasa kangen dengan Purba Bersaudara mereka sesekali melantunkan lagu ….Enasonang Dahita Na Dua bukan It’s Hard For Me To Say.

Horas Medan !! (dari berbagai sumber)

 

 

‘Bus Stop’ by The Hollies

January 13, 2011

ROCKER juga MANUSIA …yang juga butuh musik pop kecimpringan .. he he he … Gak tahu kenapa beberapa hari lalu nemu CD The Hollies ‘Golden Collection’ terus pengen nyetel lagu ‘Bus Stop’. Memang saya suka sekali lagu ini karena dulu pernah pinjem kaset milik kakak saya, rekaman AR bertajuk The Hollies ‘Live’. Wah di live tersebut paling keren ya lagu ‘Bus Stop’. Saya suka permainan bass nya yang dinamis, ditambah melodi lagunya juga manteb jek. Sayang, kaset itu gak ada lagi karena memang dulupun bukan saya punya.

Nah versi CD ini versi studio dan, meski berbeda dengan live, huwenak juga. Liriknya sih cemen jenaka tentang pertemuan pertama di halte bus dan akhirnya mereka jadi. Lihat aja lirik dan melodi yang indah:

Bus stop, wet day, she’s there, I say
Please share my umbrella
Bus stop, bus goes, she stays, love grows
Under my umbrella

Wuih nikmat sekali alunan musiknya. Trus refrainnya juga bagus:

Every morning I would see her waiting at the stop
Sometimes she’d shopped and she would show me what she bought
Other people stared as if we were both quite insane
Someday my name and hers are going to be the same

Biyuuuuh jiyaaaannn …!! Jadi inget jaman masih muda ….

JRENG!

 

‘Flight of Icarus’ by Iron Maiden

January 7, 2011

JRENG dhuk udhuk udhuk udhuk JRENG!

 

 

Mengapa membahas lagu ini? Melalui lagu inilah saya mengenal band 80an yang namanya Iron Maiden. Itu terjadi di sekitar tahun 2000 ketika saya sedang nyetir di depan Citraland sehabis ngajar di Untar saat itu (bukan ngajar prog lho ya! Gini2 juga saya ngajar S2 lho jal! Tapi masih kalah sama S60 Manggarai – Pasar Minggu sih …ha ha ha ha …). Saat itu saya nyetel radio M97 yang memutar lagu yang saya gak pernah denger. Langsung saya telpon studio M97 karena lagune jiyaaaan huwenak tenan jek! Rasane koyok numpak jaran …dhuk-dhuk-udhuk-dhuk-udhuk JRENG! Ternyata itu adalah lagu ‘Flight of Icarus’ dari Iron Maiden album ‘Piece of Mind. Langsung sorenya saya cari CDnya …JRENG! Dapet di Aquarius Mahakam.

Eiiits …jangan salah…saya sudah denger nama Iron Maiden sejak 80an tapi ndak pernah tertarik mau mencoba musiknya karena gambarnya gak akademis blas. Mosok jrangkong dipake cover? Opo tumon? Jan nggilani tenan …. Makanya saya ndak pernah pengen tahu musik Iron Maiden tuh kek apa lantaran ikon jrangkong nya itu.

LHA DALAH …kok jebule huwenak musiknya. Maka sejak itu saya beli satu persatu semua albumnya nganti kumplit plit! Ha ha ha …telat ya? Yo ben!

Hari ini saya bekerja di depan laptop terus, sambil menikmati Youtube lagu ini. Biyuh nikmat juga lho, apalagi sekali waktu pake headphone Sennheiser …biyuh! Huwenak suaranya ….

Ini udah saya setel bolak-balik 5 kali khusus lagu ini. Rasane koyok numpak jaran, mak endut..endut ..endut …

Fly, on your way, like an eagle
Fly as high as the Sun
On your way, like an eagle
Fly, touch the Sun

tuooooobszzzz!!!!!! Jan JRENG tenan!

Lyrics

FLIGHT OF ICARUS

As the Sun breaks above the ground
An old man stands on the hill
As the ground warms to the first rays of light
A birdsong shatters the still

His eyes are ablaze
See the madman in his gaze

Fly, on your way, like an eagle
Fly as high as the Sun
On your way, like an eagle
Fly, touch the Sun

Now the crowd breaks and a young boy appears
Looks the old man in the eye
As he spreads his wings and shouts at the crowd
In the name of God my father I’ll fly

His eyes seem so glazed
As he flies on the wings of a dream
Now he knows his father betrayed
Now his wings turn to ashes to ashes his grave

Fly, on your way, like an eagle
Fly as high as the Sun
On your way, like an eagle
Fly, touch the Sun

Fly, on your way, like an eagle
Fly as high as the Sun
On your way, like an eagle
Fly as high as the Sun
On your way, like an eagle
Fly, touch the Sun
On your way, like an eagle, fly

Fly as high as the Sun


“The Myths and Legends of King Arthur …” by Rick Wakeman

January 2, 2011

JRENG!

Met tahun baru 2011 ye .. semoga makin ngeprog, semakin ngerock …!! Semangat ngeblog nih gara2 sama WordPress dikirimin email, di-elem (dipuji – red.) jarene blog iki WOW. Mulane dadi semangat maneh iki …

Kok ya kebetulan di milis Mediunan beberapa saat lalu membahas tentang kegiatan kita saat masih klas 2 SMA di Madiun punya VG (vocal Group) yang berani membawakan lagu Rick Wakeman ‘King Arthur’ nan nuansamatik itu. Memang saat itu kami masih baru saja mendengar album terbaru Rick Wakeman dan terpesona dengan kemegahan musik dan keindahan melodi dari track pembuka ‘King Arthur’, makanya kita beranikan diri membawakan lagu tersebut versi akustik (jaman dulu ndak ada istilah ‘unplugged’). Jangan ketawain yah, ini fotonya saat kita perform di Gedung Kesenian Jl Perintis Kemerdekaan Madiun tahun 1977:

Vocal Group 'Thunderstorm' berani malu membawakan lagu kolosal Rick Wakeman 'King Arthur' ... Opo ra nggajag jal?!

Who so pulled out this sword from this stone and anvil, is the true-born King of all Britain .. JRENG!

Pokoknya modal nekad … ha ha ha ha …

Nah ..itu sekedar kenangan dengan album Rick Wakeman yang dahzyat ini.

Ini info mengenai album tersebut plus review saya yang puanjang pol di ProgArchives:

Studio Album, released in 1975

Songs / Tracks Listing

1. Arthur (7:26)
2. Lady of the Lake (0:45)
3. Guinevere (6:45)
4. Sir Lancelot and the Black Knight (5:21)
5. Merlin the Magician (8:51)
6. Sir Galahad (5:51)
7. The Last Battle (9:41)

Total Time: 44:58

Lyrics

Search RICK WAKEMAN The Myths And Legends Of King Arthur And The Knights Of The Round Table lyrics

Music tabs (tablatures)

Search RICK WAKEMAN The Myths And Legends Of King Arthur And The Knights Of The Round Table tabs

Line-up / Musicians

- Rick Wakeman / keyboards
- Ashley Holt / vocal
- Gary Pickford Hopkins / vocal
- Jeffrey Crampton / guitars
- Roger Newell / bass
- Barney James / drums
- John Hodson / percussion; with the English Chamber Choir, vocals
- Terry Taplin / voice

Releases information A&M (CD3230)UK 1975

Rick Wakeman The Myths And Legends Of King Arthur And The Knights Of The Round Table album cover

Ini reviewnya:

Review by Gatot
SPECIAL COLLABORATOR Honorary Collaborator

5 stars A TRUE MASTERPIECE CLASSIC PROG ALBUM
Who so pulled out this sword from this stone and anvil, is the true-born King of all Britain .. JRENG!

 

Oh man . I know that some of you may disagree with me but I really apologize that I have to stand still with my conviction that this album was (and is still until today) a masterpiece. One thing for sure, I cannot lie to myself that this album has a very special place for me as it did show me how great music has great impact to me because in a way this album has helped energize my days in my life. Am not trying to be melancholic but I’m expressing my true-being as a victim (thankfully) of great (prog) music! If you ask me what is lacking on this album I’m not in a position to answer as every single thing here is marvelous and I’m not exaggerating. I’m sure that this opinion differs significantly with you and we may be in the different poles. If that is the case, please ignore this review. As for my case, it’s a joy reviewing this album and I don’t know where I can’t stop it because I’m now also playing the CD (signed personally by Rick Wakeman and Tony Fernandez when they did a concert in Jakarta, February 2002) while punching my fingers on my laptop. This is the beauty of reviewing the album that I really love ..

This album was my third experience with Rick’s album having listened to “The Six Wives” and “Journey” and the opening track King Arthur really blew me away at first listen. I had no difficulty at all digesting this album as I had been familiar with Rick’s previous work. I did even cover King Arthur in our school band’s performance where I looked after guitar and lead vocal (what a shame thing, I was trying to emulate Ashley Holt! Who cares? No one knew what Rick’s music was except a small number of my rock- mates). So, how can I easily forget this album? Of course I will never do that. Especially if I read the story behind the making of this album as explained in Rick’s perspective.

Rick’s Perspective: “This is in many ways a musical autobiography. Much was written in my head whilst lying in Wexham Park Hospital after my first minor heart attack. The Last Battle I wrote after being advised by the specialist, in front of my management, that he recommended I stopped playing and retired in order to give myself a chance of a reasonable recovery. I was 25. Thankfully I ignored the advice, wrote The Last Battle that night, and carried on. Heart surgery has come a long way since the mid seventies as well thankfully!” (source: http://www.rwcc.com)

And this is my personal view about this album:

Arthur (7′ 26″ ) opens the album with excellent and memorable narration by Terry Taplin: “Who so pulled out this sword from this stone and anvil, is the true-born King of all Britain ..” Followed with timpani sounds and the blast of orchestration in an uplifting mood. It’s a great opening and it’s like watching a colossal movie with dts technology. The music then flows with a combination of keyboard and orchestra at the back, augmented with guitar work. The music slows down to welcome the vocal line and the keyboard turns into a clavinet sounds. As the song builds up with lyrical passages, the keyboard effects and orchestration enrich the song textures. It’s a beautiful melody track with excellent combination of keyboard solo, orchestration and choral section. “Arthur is the king of all this land .”

The next track Lady of the Lake (0′ 45″) is a choirs section that serves as a break to the piano / keyboard intro of the next melodic track Guinevere (6′ 45″). For me, this track is like an emotional break having listened to grandiose orchestral work of Arthur. Structure-wise, this track is simple and even straight forward. The key attraction points of this track is its strong melody, good acoustic guitar rhythm, excellent keyboard solo (in the middle of the track) and great chorus by Ashley Holt and Gary Pickford Hopkins. The guitar solo is also stunning and has become a great part of the overall song.

Sir Lancelot and the Black Knight (5′ 20″) starts off with a great string arrangements, timpani and brass section followed with energetic choirs and Roger Newell solid bass lines and high register notes voice line. The music has variation of high and low points augmented with choirs section. Rick’s synthesizer works overlay the orchestration which starts simple and turns into a complex s one when Rick performs his keyboard improvisations. As the track has many tempo changes, the transition into quieter passages are filled with a combination of piano, guitar and string section. I especially like when the vocal performs the high point segments and the orchestra dynamically follows the melody. It’s a masterpiece!

Merlin The Magician (8′ 51″) is an excellent instrumental track that has been Rick’s favorite in live performance because most of the crowd like it very much, I think. It opens with a repetition of “Lady of The Lake” and continues with a floating keyboard and solid bass lines as song opener. As the music builds up into crescendo, string orchestra enters the music and brings the music steadily to first part of piano solo with soft rhythm section. The music moves up firmly with dazzling synthesizer solo that characterizes this song. Despite wonderful keyboard improvisations, what I also love about this track is the rhythm section with simple bass lines. This track is probably the most diverse one as compared others in the album as it blends perfectly various music styles: classical, rock, country (?) – yes, on some transition pieces. As a result, it creates highest emotional impact to the listener – at least for me.

Sir Galahad (5′ 51″) is another wonderful track that combines nice melody, choirs, vocal, excellent orchestra and keyboard / piano solo. It’s composed combining a high energy section with choirs section and slower tempo parts. The keyboard fills at the back during the main vocal and choirs section work together. The transition piece is melodic combining duo vocals followed with high energy orchestra. I also like when the choirs take main role as melody combined with synthesizer fills. The ending point of this track creates good musical peak. This track should be enjoyed with the next and last track The Last Battle (9′ 41″). As you may have read at above that this track was written when Rick was hospitalized and being told that he should stop composing. This track summarizes the whole album by (at the end of the track) incorporating excerpts of previous tracks. It’s a great track.

Summary

What is the best way to suggest you if the above represents my personal views? Tough. Let me put it this way: if you do enjoy a combination of orchestra and electronic equipment with rock elements, this album would probably fit you. If you like Yes, I don’t think it guarantees that you would automatically like this one as well because it’s different. I would say that those who like orchestra music would accept this album. For me, it’s a masterpiece. Keep on proggin’ ..!

Progressively yours,

GW

Send comments to Gatot (BETA) | Report this review (#38807) | Review Permalink
Posted Thursday, July 07, 2005

2010 in review

January 2, 2011

The stats helper monkeys at WordPress.com mulled over how this blog did in 2010, and here’s a high level summary of its overall blog health:

Healthy blog!

The Blog-Health-o-Meter™ reads Wow.

Crunchy numbers

Featured image

About 3 million people visit the Taj Mahal every year. This blog was viewed about 58,000 times in 2010. If it were the Taj Mahal, it would take about 7 days for that many people to see it.

 

In 2010, there were 87 new posts, growing the total archive of this blog to 471 posts. There were 154 pictures uploaded, taking up a total of 9mb. That’s about 3 pictures per week.

The busiest day of the year was August 31st with 339 views. The most popular post that day was “Time Capsule” by Parallel or 90 Degrees.

Where did they come from?

The top referring sites in 2010 were facebook.com, search.conduit.com, google.co.id, rahard.wordpress.com, and knol.google.com.

Some visitors came searching, mostly for seringai, musik life, slank, gatot widayanto, and labs project.

Attractions in 2010

These are the posts and pages that got the most views in 2010.

1

“Time Capsule” by Parallel or 90 Degrees August 2010
31 comments

2

Gara2 Kaos, Seringai Dipanggil Polisi September 2008
68 comments

3

The Rollies “Salam Terachir” June 2007
70 comments

4

Mo “Fred Astaire” by Aquarius January 2008
61 comments

5

GOD BLESS July 2008
51 comments


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 142 other followers