Gentlemen, Here Come Giant On The Move !
GIANT STEP
Oleh: MH Alfie Syahrine

The First Indonesian Prog Rock Band of 70’s
Bubarnya Sharkmove tidak membuat mental seorang Benny Soebardja bermusik menciut apalagi down, tetapi justru memicunya untuk membuat group baru bernama “Giant Step” di tahun 1973 .Adapun formasi pertama Giant Step adalah yang baru saja cabut dari Godbless (keyboard). Nama Giant Step sendiri, menurut Benny, diambil dari sebuah stiker yang menempel di bungkus gitar milik Remy Sylado. Ceritanya, Benny, Yockie Soeryoprayogo, Deddy Sutansyah dan Sammy Zakaria pada tahun 1973 hendak manggung di kampus ITB. Namun, ketika itu belum ada nama untuk band mereka. Lalu Benny yang melihat stiker itu langsung mengusulkan nama Giant Step. Dan sejak itu Giant Step, yang dimanajeri Gandjar Suwargani (pemilik Radio OZ Bandung), secara resmi di proklamirkan.

Giant Step Formasi I
Di awal kariernya Giant Step lebih banyak membawakan lagu-lagu milik Emerson Lake and Palmer (ELP). Ketika Giant Step berusaha eksis dengan formasi perdananya, tetapi tidak lama kemudian pada tahun 1974 dengan tidak disangka-sangka, Yockie dan Sammy Zakaria hengkang dari Giant Step dan bermigrasi ke Malang membuat group band Double Zero (singkatan dari Nama sebuah pabrik rokok “Orong Orong”),dan Deddy Sutansyah keluar juga dari Giant Step dan masuk Godbless maka formasi Giant Step mengalami perubahan, kedudukan Yongki diganti oleh Deddy Dores yang pulang kampung selepas cabut dari Godbless, dan kedudukan Deddy Sutansyah di Giant Step digantikan oleh Adhy Haryadi yang hijrah dari Medan karena sudah tidak betah di group rock Menstrel’s .

Adhy Haryadhie, Deddy Dores, Yanto Sudjono dan Benny Soebardja
Pengaruh Gentle Giant
Kemudian posisi Sammy Zakaria digantikan oleh Yanto Sudjono ex Drummer Harry Rusli,.Yanto bisa di katagorikan sejajar dengan Fuad Hassan dari kehebatan permainannya namun rovel rovelnya lebih rapih dan terarah sebagaimana puji Martha Boerhan dari majalah musik TOP.Dengan formasi barunya Giant Step ditambah embel-embel nama Rhapsodia, jadilah mereka Giant Step of Rhapsodia dan masih membawakan lagu-lagu milik orang tetapi tidak Emerson Lake and Palmer saja, melainkan mulai merambah membawakan lagu-lagu Deep Purple dan pengaruh Gentle Giant mulai terasa.

Giant Step Formasi II: Adhy Haryadi, Benny Soebardja, Deddy Dores dan Yanto Sudjono
Formasi ini diuji coba pada peringatan 100 hari meninggal Soman Lubis dan Fuad Hassan di Istora Senayan pada tahun 1974, pada saat itu yang tampil adalah Godbless dengan formasi baru yang posisi drum, keyboard dan gitar diisi oleh Nasution Bersaudara dan Giant Step. AKA yang direncanakan datang rupanya absent saat itu. Penulis sendiri menyaksikan acara yang dipandu oleh Rudy Djamil itu dan gaya panggung Giant Step memang sangat hidup stage act Benny dan Deddy diatas panggung sangat dominan sedangkan Yanto Sudjono memang pantas disejajarkan dengan Fuad Hassan almarhum dalam permainannya sebagaimana pendapat Martha Boerhan dari majalah musik TOP sedangkan Adhy Haryadi masih mencari format gaya dan nyaris statis di tempat walaupun permainannya bagus dan di puji oleh Donny Fatah saat dia akan hengkang dari Godbless di tahun 1976 .

Benny Soebardja In Action
Masa Keemasan
Pada tahun 1975 Giant Step memulai era bermusiknya dengan menampilkan double guitarist dengan masuknya “Albert Warnerin” guitarist dari Gang Of Harry Rusli.
Dengan formasi ketiga ini, Giant Step mulai aktif menciptakan lagu dan mengadakan konser-konser di berbagai kota. Album pertama Giant Step dirilis dipenghujung tahun 1975 dengan judul “Giant Step Mark-1” dibawah label Lucky Record Bandung. Lewat album perdananya walaupun kualitas rekamannya masih dibawah standar namun seperti pendapat Martha Boerhan yang sangat mengagumi Giant Step saat itu bahwa Giant Step mampu mengukuhkan namanya menjadi salah satu supergroup rock Indonesia yang sejajar dengan Godbless,Rollies, AKA atau SAS yang mana mereka pernah sepanggung dengan keempat band tersebut .

Benny Soebardja Sang Superstar!
Giant Step Mark I menciptakan lagu lagunya sendiri dengan karakter khusus, Diantara rock group yang paling banyak mengoleksi karya berbahasa Inggris adalah Giant Step yang paling wahid, mereka sangat produktif dan tak tertandingi dalam originalitas musik maupun syairnya.Bagi para penggemar Giant Step lagu Decision,Childhood and The Seabird dan Fortunate Paradise sudah diluar kepala,baru saja intro lagu- lagu itu berkumandang mereka langsung histeris dan berjingkrak jingkrak karena lagu-lagu itu sudah begitu popular bagi para fans Giant Step itu maka tidak heran jika banyak majalah musik dan koran menobatkan Benny Soebardja sebagai seorang superstar (walapun hal ini disindir oleh Eros Djarot dalam lagu-nya “Super Star Tango”) dan Decision layaknya seperti sebuah anthem bagi super group dari Bandung itu disusul dengan lagu-lagu My Life, People In Town, , Evil War, Same Sun, Pensive, Giant On The Move, Keep A Smile, Liar, Air Polution dll.

Giant Step on Stage: Benny, Albert & Deddy
Triawan Munaf Pemberi Warna Prog
Dalam album Giant Step yang kedua Lagu-lagu yang terdapat di album “Giant On The Move!” bahkan semua liriknya ditulis dalam bahasa Inggris. Mereka mengangkat tema-tema sosial dan politik serta lingkungan, seperti Liar, Decision, Waste Time, dan Air Pollution, Giant On The Move, Fortunate Paradise dll. Di album ini formasi Giant Step mengalami perubahan lagi, di mana posisi Deddy Dores yang keluar karena membentuk Superkid bersama Jelly Tobing dan Deddy Stanzah, posisi Deddy Dores digantikan oleh Triawan Munaf keyboardist kugiran Lizard yang merupakan salah satu band rock Bandung yang pernah mendukung proyek solo Benny dalam album Benny Soebardja & Lizard (1975). Seiring dengan keluarnya Dores, drummer Yanto Sudjono-pun keluar juga dan posisi Yanto digantikan oleh Haddy Arief. dari Lizard juga
Dengan masuknya Triawan Munaf sebagai keyboardist pengganti Deddy Dores,Giant Step baru melahirkan komposisi yang sungguh-sungguh bernuansa musik progressive rock pada album kedua, yaitu Giant On The Move! (1976)
Kehadiran Triawan Munaf ini sangat memberi warna prog pada kugiran kebanggaan kota Kembang itu, nampaknya Triawan diberikan kebebasan penuh oleh Benny dan teman temannya untuk mengekpresikan ide ide progressive-nya yang brilian pada keyboard kedalam warna musik Giant Step dan memang benar dugaan itu karena pada waktu penulis tanyakan pada Triawan akan begitu dominannya porsi permainan keyboard yang album “Giant On The Move!” Triawan mengiakan bahwa memang dia diberi kebebasan penuh di album itu dan ternyata album itu mendapat banyak pujian dari para kritisi musik rock baik dari dalam maupun luar negeri sebagai sebuah album progressive yang berkualitas saat itu dan patut diacungi jempol!..

Benny & Adhy, Promo Tour Giant On The Move 1977
Prinsip Yang Kuat
Bagi anak anak Giant Step, saat itu mereka masih memegang prinsip bahwa musik adalah musik yang harus asli keluar dari ide mereka sendiri sehingga mereka sama sekali tidak berkompromi dengan selera pasar yang ketika itu masih didominasi lagu-lagu pop mellow. Masih dengan formasi yang sama, pada tahun 1977 Giant Step merilis album ketiga yaitu Kukuh Nan Teguh yang, berbeda dengan album sebelumnya, berisi 11 lagu berlirik Indonesia. Di album ini pula untuk pertama kalinya mereka memasukkan unsur lagu tradisional dan dua lagu instrumental (Dialog Tanya dan Dialog Jawab), yang sekaligus menunjukkan kepiawaian para personelnya, khususnya raungan gitar Albert, menurut Riza Sihbudi permainan keyboard Triawan yang untuk masa itu bisa dibilang luar biasa.
Kendati sangat dipengaruhi band-band progressive luar, musik Giant Step sesungguhnya lebih orisinal. Itu setidaknya jika dibandingkan dengan rekan mereka God Bless, yang sempat mengambil potongan lagu Firth of Fifth karya Genesis di lagu Huma Di Atas Bukit atau SAS yang menyelipkan aransemen lagu Storm Bringer-nya Deep Puprle pada lagu Baby Rock dan Stairway To Heaven-nya Led Zeppelin pada lagu Green Sleeves di album pertamanya.

Giant On The Move !
Group era 1970-an yang satu ini bisa dikatakan sebagai satu-satunya band rock Indonesia pada masa itu yang paling tidak suka menggunakan ensofor-ensofor yang non musikal seperti mengusung peti mati dan mayat hidup kepentas, digantung atau dihajar oleh algojo yang saat itu sedang marak dilakukan oleh banyak group band rock bilamana mereka manggung.
Dengan kata lain Giant Step merupakan band rock yang berani “melawan arus” pada masa itu. Ketika band-band rock pribumi lain gemar membawakan lagu-lagu karya The Beatles, Rolling Stones, Led Zeppelin, Deep Purple, Black Sabbath, atau Grand Funk Railroad, Giant Step justru lebih bangga membawakan lagu-lagu karya mereka sendiri. “Saat itu membawakan lagu sendiri dianggap aneh,” kata Triawan Munaf, keyboardist Giant Step generasi ke III ini namun itulah kelebihan dan sekaligus trademark Giant Step yang saat itu disebut sebut sebagai kugiran prog kelas wahid.
Era Rekaman
Pada formasi pertama Giant Step yang terdiri dari Benny Soebardja, Yongkie/Yockie Soeryoprayogo, Deddy Sutansyah dan Sammy Zakaria, mereka belum sempat berfikir untuk membuat rekaman disamping order manggung mereka sangat padat walhasil formasi ini belum sempat membuat rekaman sudah bubar setelah Adhy Haryadi,Albert Warnerin dan Deddy Dores bergabung barulah mereka mulai membuat album rekaman, Mereka membuat album dengan Judul yang cukup wah! Giant Step Mark I (Lucky Records 1975) yang berisikan 10 lagu antara lain Childhood And The Sea Bird, My Life,Fortunate Paradise,, Far Away, Keep A Smile dan empat lagu Indonesia dijatahkan untuk Deddy Dores karena dia yang menulisnya dan Deddy memang sudah berpengalaman dan sukses bermellow mesra sejak dia di Rhapsodia dan satu lagu Indonesia untuk Benny Soebardja yang di tulis oleh Albert Warnerin . Kontribusi Bob Duke warga negara Inggris yang karibnya abang kandung Benny Soebardja itu sangat besar karena dialah yang menulis lagu lagu Giant Step yang berbahasa Inggris termasuk dua album solo Benny Soebardja : Night Train dan Gimme Piece Of Gut Rock. Khabarnya Bob senang sekali karya karyanya menjadi hits sehingga album album Giant Step dia pamerkan pada teman temannya di Inggris.
Giant Step juga termasuk band rock yang produktif. Setidaknya ada tujuh album yang dihasilkan dalam kurun waktu 1975-1985. Tentu bukan hanya itu, Giant Step pun termasuk dari sedikit band rock pribumi yang berkiblat pada jenis musik progressive (yang pada masa itu lebih sering disebut sebagai art rock) yang diusung group-group Inggris, seperti King Crimson, Jethro Tull, Pink Floyd, Gentle Giant, Yes, Genesis, dan ELP (Emerson, Lake, and Palmer).Jika The Beatles memiliki “dwitunggal” Paul McCartney dan John Lennon, Stones dengan Mick Jagger dan Keith Richards, atau Zeppelin dengan Robert Plant dan Jimmy Page, Giant Step pun memiliki “dwitunggal” yang bisa dianggap sebagai roh atau nyawa bagi groupnya, yaitu Benny Soebardja dan Albert Warnerin. Benny dan Albert dikenal sebagai pemain gitar dan penulis lagu yang produktif dia banyak bekerja sama dengan Bob Duke sebagai penulis lirik lagunya.Sebagaimana Benny, Albert yang disebut sebut sebagai Jeff Back nya Indonesia termasuk salah seorang musisi andal asal Kota Kembang itu yang kemampuannya dapat disejajarkan dengan Ian Antono dan Sunatha Tandjung. Disamping gitar, ia juga menguasai beberapa alat musik lainnya, antara lain flute. Albert juga banyak terlibat dalam solo album Benny Soebardja,Harry Roesli, Superkid dan Iin Parlina.
Para Raksasa Itu Satu Persatu Berlalu
Giant Step setelah membuat album ketiga Kukuh Nan Teguh yang berisi semua lagu lagu Indonesia dengan memasukan elemen elemen musik sunda dalam salah satu lagunya tidak lama kemudian Triawan sang keyboardist andalan Giant Step (bahkan tanpa ragu Denny Sabri pernah berkata kalau Triawan ini bisa menjadi keyboardist sekelas Keith Emerson kalau dia giat belajar !) cabut dari group berkualitas itu untuk melanjutkan studi-nya di di Inggris dan posisinya di gantikan oleh Erwin Badudu adik Citra Manikam Badudu yang pemain band juga di era tahun 70-an. Sekalipun telah ditinggalkan oleh keyboardist handalnya, Giant Step masih tetap mempertahankan musik progresifnya bisa kita lihat pada album yang ke empat Persada Tercinta (1978) .Namun setelah Triawan keluar, Giant Step-pun ditinggalkan salah seorang raksasa yang membesarkan namanya, Albert Warnerin cabut juga! , yang mana hal ini diikut pula oleh Haddy Arief sang drummer muda yang sangat berbakat itu .Posisi mereka diganti oleh Harry Soebardja mantan gitaris Lizard dan Brotherhood yang adiknya Benny itu pada guitar dan Tommy pada drum kemudian maka sirnalah sudah warna progressive dari band kebanggan kota Kembang itu. Mereka secara perlahan tapi pasti menjadi band pop dan telah kehilangan gregetnya sebagai band progressive yang disegani dimasa kejayaannya dulu.

Bob Duke Dan Benny Soebardja… Dua Sahabat Lama
Setelah mengalami pasang surut,gonta ganti pemain dan vakum yang lumayan lama pada tahun 1983 mereka bangkit kembali dan manggung dengan band-band rock lainnya di panggung Jambore musik majalah VISTA di Taman Ria Remaja Senayan dengan formasi : Benny Soebardja, Utje F Tekol, Albert Warnerin, Triawan Munaf, Erwin Badudu dan Jelly Tobing dan dua tahun kemudian pada bulan Juni 1985 mereka merilis album “Geregetan” (1985.Lagu Gregetan yang pada tahun 2010 ini menjadi popular kembali dinyanyikan oleh anak Triawan Munaf, Sherina).Di album ini Giant Step tidak lagi sepenuhnya menyajikan warna musik progressive era 1970-an. Apalagi, kata Triawan, “Produsernya minta agar kita memasukkan sebuah lagu unggulan yang komersial.” Toh, waktu itu mereka sempat tampil di TVRI membawakan lagu Geregetan dan Panggilan Jiwa.

Perjalanan Giant Step benar-benar berakhir dan bubar serta tidak dapat disatukan kembali para personilnya setelah mereka ikut tampil di acara demo solo drum Jelly Tobing pada tahun 1992. Menurut kabar angin telah terjadi keretakan antara Albert Warnerin dengan Benny Soebardja. Berbagai upaya baik itu dari para fan yang cinta pada GS maupun para personilnya untuk menyatukan kembali mereka namun tak kunjung berhasil. Sebagaimana dikatakan oleh Prof Riza Sihbudi pengamat senior dari LIPI dan salah seorang pendiri KPMI serta pecinta Giant Step ini, rupanya fenomena dua tokoh kunci dalam satu band rock yang sulit disatukan kembali, tidak hanya dimonopoli group-group dunia seperti Lennon berkonfrontasi dengan McCartney (The Beatles), Roger Waters kontra David Gilmour (Pink Floyd), atau Ian Gillan melawan Ritchie Blackmore (Deep Purple).Ada berita terbaru dikalangan teman-teman KPMI bahwa album Giant Step Mark I dan Giant On The Move akan di release ulang di Jerman oleh Shadocks juga.Selamat Kang Benny!.

Penulis dan Triawan Munaf
Album
1. Giant Step Mark I (Lucky Records 1975)
2. Giant On The Move ! ( SM Recording 1976)
3. Kukuh Nan Teguh (Nova Records 1977)
4. Persada Tercinta (Irama Tara 1978)
5. Tinombala (Irama Tara 1979)
6. Vol III Warna Harapan (Irama Tara 1980)
7. Gregetan (JK Records (1985)
Solo Album Benny Soebardja
1. Benny Soebardja & Lizard (BB Record 1975)
2. Night Train (SM Recording 1976)
3. Gimme Piece Of Gut Rock (SM Recording 1977)
4. Setitik Harapan (Duba Record 1979)
5. Lestari (Paragon Records 1980)