Archive for December, 2010

Journey Dulunya Prog

December 30, 2010

JRENG!

Karena heboh ngomongin Journey, maka saya posting aja album pertamanya yang memang prog:

Journey Journey album cover

Studio Album, released in 1975

Songs / Tracks Listing

1. Of A Lifetime (6:54)
2. In The Morning Day (4:27)
3. Kohoutek (6:46)
4. To Play Some Music (3:19)
5. Topaz (6:12)
6. In My Lonely Feeling/Conversations (5:01)
7. Mystery Mountain (4:23)

Lyrics

Search JOURNEY Journey lyrics

Music tabs (tablatures)

Search JOURNEY Journey tabs

Line-up / Musicians
Gregg Rolie – vocals, keyboards
Neal Schon – lead guitar
George Tickner – rhythm guitar
Ross Valory – bass, piano
Aynsley Dunbar – drums

Releases information

Columbia Records PC 33388 & CBS 80724

 

Review by Gatot
SPECIAL COLLABORATOR Honorary Collaborator

4 stars If you knew Journey only after their albums in the 80s, I don’t think you would never imagine that the self titled debut album plus another next two albums sound totally different in style and approach. Here with this debut album where the veterans of Santana (Neal Schon and Gregg Rolie) made something different than their later albums. The music in this album is much influenced by jazz-rock fusion with intense progressive rock elements. The jazz style is I think was pretty much influenced from Santana even though it’s not pure a jazz band. From the opening track “Of A Life Time” you would hardly anticipate that in the future the music is more towards AOR. Another great track that’s worth enjoying are: Kohoutek, Mystery Mountain, and Topaz. I like the way Neal Schon maneuvers his guitar solo brilliantly throughout most tracks in the album. Coupled with Rolie’s inventive keyboard work, this is an excellent album that is worth-collecting. This is the only album that features “George Tickner”.For those who appreciate jazz-rock progressive music, this is an excellent one to have. Keep on proggin’ ..!

Peace on earth and mercy mild – GW

Send comments to Gatot (BETA) | Report this review (#182841) | Review Permalink
Posted Friday, September 19, 2008

“Strange Universe” by Mahogany Rush

December 30, 2010

JRENG!

Maap udah lama ndak posting karena lagi sok sibuk padahal nganggur ..hua ha ha ha ha … Lha ini sekarang posting bukan mau review atau apa, tapi malah mau ‘njaluk tulung’. Barangkali teman-teman ada yang punya album ini, mohon diberi tahu saya gimana saya memperolehnya. Sebetulnya album ini ndak luar biasa banget tapi jan nuansamatik pol. Lha? Iya, soalnya jaman kaset bajakan saya pernah beli album ini di toko kaset Miraco, Madiun lantaran ada RUSH nya. Mestinya musiknya mirip Rush. Ternyata beda, tapi OK juga. Pemain gitarnya, Frank Marino, jago banget. Saya punya beberapa CD solo karir dia. Kaset saya ‘Strange Universe’ dulu rekaman Nirwana LP Series. Wah ..sayang raib gak tahu kemana …

Ada yang tahu?

Matur suwun.

JRENG!

 

Giant Step

December 21, 2010

Gentlemen, Here Come Giant On The Move !

GIANT STEP

Oleh: MH Alfie Syahrine

 

The First  Indonesian Prog Rock Band of  70’s

Bubarnya Sharkmove tidak membuat mental seorang Benny Soebardja bermusik menciut apalagi down, tetapi justru memicunya untuk membuat group baru bernama “Giant Step” di tahun 1973 .Adapun formasi pertama Giant Step adalah yang baru saja cabut dari Godbless (keyboard). Nama Giant Step sendiri, menurut Benny, diambil dari sebuah stiker yang menempel di bungkus gitar milik Remy Sylado. Ceritanya, Benny, Yockie Soeryoprayogo, Deddy Sutansyah dan Sammy Zakaria  pada tahun 1973 hendak manggung di kampus ITB. Namun, ketika itu belum ada nama untuk band mereka. Lalu Benny yang melihat stiker itu langsung mengusulkan nama Giant Step. Dan sejak itu Giant Step, yang dimanajeri Gandjar Suwargani (pemilik Radio OZ Bandung), secara resmi di proklamirkan.

Giant Step Formasi I

Di awal kariernya Giant Step lebih banyak membawakan lagu-lagu milik Emerson Lake and Palmer (ELP). Ketika Giant Step berusaha eksis dengan formasi perdananya, tetapi tidak lama kemudian pada tahun 1974 dengan tidak disangka-sangka, Yockie dan Sammy Zakaria hengkang dari Giant Step dan bermigrasi ke Malang membuat group band Double Zero (singkatan dari Nama sebuah pabrik rokok “Orong Orong”),dan Deddy Sutansyah keluar juga dari Giant Step dan masuk Godbless maka formasi Giant Step mengalami perubahan,  kedudukan Yongki diganti oleh Deddy Dores yang pulang kampung selepas  cabut dari Godbless, dan kedudukan Deddy Sutansyah di Giant Step digantikan oleh Adhy Haryadi yang hijrah dari Medan karena sudah tidak betah di group  rock Menstrel’s .

Adhy Haryadhie, Deddy Dores, Yanto Sudjono dan Benny Soebardja

Pengaruh Gentle Giant

Kemudian posisi Sammy Zakaria digantikan oleh Yanto Sudjono ex Drummer Harry Rusli,.Yanto bisa di katagorikan sejajar dengan Fuad Hassan dari kehebatan permainannya namun rovel rovelnya lebih rapih dan terarah sebagaimana puji Martha Boerhan dari majalah musik TOP.Dengan formasi barunya Giant Step ditambah embel-embel nama Rhapsodia, jadilah mereka Giant Step of Rhapsodia dan masih membawakan lagu-lagu milik orang tetapi tidak Emerson Lake and Palmer saja, melainkan mulai merambah membawakan lagu-lagu Deep Purple dan pengaruh Gentle Giant mulai terasa.

Giant Step Formasi II: Adhy Haryadi, Benny Soebardja, Deddy Dores dan Yanto Sudjono

Formasi ini diuji coba pada peringatan 100 hari meninggal Soman Lubis dan Fuad Hassan di Istora Senayan pada tahun 1974, pada saat itu yang tampil adalah Godbless dengan formasi baru yang posisi drum, keyboard dan gitar diisi oleh Nasution Bersaudara dan Giant Step. AKA yang direncanakan datang rupanya absent saat itu. Penulis sendiri menyaksikan acara yang dipandu oleh Rudy Djamil itu dan gaya panggung Giant Step memang sangat hidup stage act Benny dan Deddy diatas panggung sangat dominan sedangkan Yanto Sudjono memang pantas disejajarkan dengan Fuad Hassan almarhum dalam permainannya sebagaimana pendapat Martha Boerhan dari majalah musik TOP sedangkan Adhy Haryadi masih mencari format gaya dan nyaris statis di tempat walaupun permainannya bagus dan di puji oleh Donny Fatah saat dia akan hengkang dari Godbless di tahun 1976 .

Benny Soebardja In Action

Masa Keemasan

Pada tahun 1975 Giant Step memulai era bermusiknya dengan menampilkan double guitarist dengan masuknya “Albert Warnerin” guitarist dari Gang Of Harry Rusli.
Dengan formasi ketiga ini, Giant Step mulai aktif menciptakan lagu dan mengadakan konser-konser di berbagai kota. Album pertama Giant Step dirilis dipenghujung tahun 1975 dengan judul “Giant Step Mark-1” dibawah label Lucky Record Bandung. Lewat album perdananya walaupun kualitas rekamannya masih dibawah standar namun seperti pendapat Martha Boerhan yang sangat mengagumi Giant Step saat itu bahwa  Giant Step mampu mengukuhkan namanya menjadi salah satu supergroup rock Indonesia yang sejajar dengan Godbless,Rollies, AKA atau SAS yang mana mereka pernah sepanggung dengan keempat band tersebut .

Benny Soebardja Sang Superstar!

Giant Step Mark I menciptakan lagu lagunya sendiri dengan karakter khusus,  Diantara rock  group  yang paling banyak mengoleksi karya berbahasa Inggris adalah Giant Step yang paling wahid, mereka sangat produktif dan tak tertandingi dalam originalitas musik maupun syairnya.Bagi para penggemar Giant Step lagu Decision,Childhood and The Seabird dan Fortunate Paradise sudah diluar kepala,baru saja intro lagu- lagu itu berkumandang mereka langsung histeris dan berjingkrak jingkrak karena lagu-lagu itu sudah begitu popular bagi para fans Giant Step itu maka tidak heran jika banyak majalah musik dan koran menobatkan Benny Soebardja sebagai seorang superstar (walapun hal ini disindir oleh Eros Djarot dalam lagu-nya “Super Star Tango”) dan Decision layaknya seperti sebuah anthem bagi super group dari Bandung itu disusul dengan lagu-lagu My Life, People In Town, , Evil War, Same Sun, Pensive, Giant On The Move, Keep A Smile, Liar, Air Polution  dll.

Giant Step on Stage: Benny, Albert & Deddy

Triawan Munaf  Pemberi Warna Prog

Dalam album Giant Step yang kedua Lagu-lagu yang terdapat di album “Giant On The Move!” bahkan semua liriknya ditulis dalam bahasa Inggris. Mereka mengangkat tema-tema sosial dan politik serta lingkungan, seperti Liar, Decision, Waste Time, dan Air Pollution, Giant On The Move, Fortunate Paradise dll. Di album ini formasi Giant Step mengalami perubahan lagi, di mana posisi Deddy Dores yang keluar karena membentuk Superkid bersama Jelly Tobing dan Deddy Stanzah, posisi Deddy Dores digantikan oleh Triawan Munaf keyboardist  kugiran Lizard yang merupakan salah satu band rock Bandung yang pernah mendukung proyek solo Benny dalam album Benny Soebardja & Lizard (1975). Seiring dengan keluarnya Dores, drummer Yanto Sudjono-pun keluar juga dan posisi Yanto digantikan oleh Haddy Arief. dari Lizard juga

Dengan masuknya Triawan Munaf sebagai keyboardist pengganti Deddy Dores,Giant Step baru melahirkan komposisi yang sungguh-sungguh bernuansa musik progressive rock pada album kedua, yaitu Giant On The Move! (1976)

Kehadiran Triawan Munaf ini sangat memberi warna prog pada kugiran kebanggaan kota Kembang itu, nampaknya Triawan diberikan kebebasan penuh oleh Benny dan teman temannya untuk mengekpresikan ide ide progressive-nya yang brilian pada keyboard kedalam warna musik Giant Step dan memang benar dugaan itu karena pada waktu penulis tanyakan pada Triawan akan begitu dominannya porsi permainan keyboard yang  album “Giant On The Move!”  Triawan mengiakan bahwa memang dia diberi kebebasan penuh di album itu dan ternyata album itu mendapat banyak  pujian dari  para kritisi musik rock  baik dari dalam maupun luar negeri  sebagai sebuah album progressive yang berkualitas saat itu dan patut diacungi jempol!..

Benny & Adhy, Promo Tour Giant On The Move 1977

Prinsip Yang Kuat

Bagi anak anak Giant Step, saat itu mereka masih memegang prinsip bahwa musik adalah musik yang harus asli keluar dari ide mereka sendiri sehingga mereka sama sekali tidak berkompromi dengan selera pasar yang ketika itu masih didominasi lagu-lagu pop mellow. Masih dengan formasi yang sama, pada tahun 1977 Giant Step merilis album ketiga yaitu Kukuh Nan Teguh yang, berbeda dengan album sebelumnya, berisi 11 lagu berlirik Indonesia. Di album ini pula untuk pertama kalinya mereka memasukkan unsur lagu tradisional dan dua lagu instrumental (Dialog Tanya dan Dialog Jawab), yang sekaligus menunjukkan kepiawaian para personelnya, khususnya raungan gitar Albert, menurut Riza Sihbudi permainan keyboard Triawan yang untuk masa itu bisa dibilang luar biasa.

 

Kendati sangat dipengaruhi band-band progressive luar, musik Giant Step sesungguhnya lebih orisinal. Itu setidaknya jika dibandingkan dengan  rekan mereka God Bless, yang sempat mengambil potongan lagu Firth of Fifth karya Genesis di lagu Huma Di Atas Bukit atau SAS yang menyelipkan aransemen lagu Storm Bringer-nya  Deep Puprle pada lagu Baby Rock dan  Stairway To Heaven-nya Led Zeppelin pada lagu Green Sleeves di album pertamanya.

Giant On The Move !

Group era 1970-an  yang satu ini bisa dikatakan sebagai satu-satunya band rock Indonesia pada masa itu yang paling tidak suka menggunakan ensofor-ensofor yang non musikal seperti mengusung peti mati  dan mayat hidup kepentas, digantung atau dihajar oleh algojo yang saat itu sedang marak dilakukan oleh banyak group band rock bilamana mereka manggung.

 

Dengan kata lain Giant Step merupakan band rock yang berani “melawan arus” pada masa itu. Ketika band-band rock pribumi lain gemar membawakan lagu-lagu karya The Beatles, Rolling Stones, Led Zeppelin, Deep Purple, Black Sabbath, atau Grand Funk Railroad, Giant Step justru lebih bangga membawakan lagu-lagu karya mereka sendiri. “Saat itu membawakan lagu sendiri dianggap aneh,” kata Triawan Munaf,  keyboardist Giant Step generasi ke III ini namun itulah kelebihan dan sekaligus trademark Giant Step yang saat itu disebut sebut sebagai kugiran prog kelas wahid.

Era Rekaman

Pada formasi pertama Giant Step yang terdiri dari Benny Soebardja, Yongkie/Yockie Soeryoprayogo, Deddy Sutansyah dan Sammy Zakaria, mereka belum sempat berfikir untuk membuat rekaman disamping order manggung mereka sangat padat walhasil formasi ini belum sempat membuat rekaman sudah bubar setelah  Adhy Haryadi,Albert Warnerin dan Deddy Dores bergabung barulah mereka mulai  membuat album rekaman, Mereka membuat album dengan Judul yang cukup wah! Giant Step Mark I (Lucky Records 1975) yang berisikan 10 lagu antara lain Childhood And The Sea Bird, My Life,Fortunate Paradise,, Far Away, Keep A Smile dan  empat lagu  Indonesia dijatahkan untuk Deddy Dores karena dia yang menulisnya dan Deddy memang sudah berpengalaman dan sukses bermellow mesra sejak dia di Rhapsodia dan satu lagu Indonesia untuk Benny Soebardja yang di tulis oleh Albert Warnerin . Kontribusi Bob Duke warga negara Inggris yang karibnya abang  kandung Benny  Soebardja itu sangat besar karena dialah yang menulis lagu lagu Giant Step yang berbahasa Inggris termasuk dua album solo Benny Soebardja : Night Train dan Gimme Piece Of  Gut Rock. Khabarnya Bob senang sekali karya karyanya menjadi hits sehingga album album Giant Step dia pamerkan pada teman temannya di Inggris.

 

Giant Step juga termasuk band rock yang  produktif. Setidaknya ada tujuh album yang dihasilkan dalam kurun waktu 1975-1985. Tentu bukan hanya itu, Giant Step pun termasuk dari sedikit band rock pribumi yang berkiblat pada jenis musik progressive (yang pada masa itu lebih sering disebut sebagai art rock) yang diusung group-group Inggris, seperti King Crimson, Jethro Tull, Pink Floyd, Gentle Giant, Yes, Genesis, dan ELP (Emerson, Lake, and Palmer).Jika The Beatles memiliki “dwitunggal” Paul McCartney dan John Lennon, Stones dengan Mick Jagger dan Keith Richards, atau Zeppelin dengan Robert Plant dan Jimmy Page, Giant Step pun memiliki “dwitunggal” yang bisa dianggap sebagai roh atau nyawa bagi groupnya, yaitu Benny Soebardja dan Albert Warnerin. Benny dan Albert dikenal sebagai pemain gitar dan penulis lagu yang produktif dia banyak bekerja sama dengan Bob Duke sebagai penulis lirik lagunya.Sebagaimana Benny, Albert yang disebut sebut sebagai Jeff Back nya Indonesia termasuk salah seorang musisi andal asal Kota Kembang itu yang kemampuannya dapat disejajarkan dengan Ian Antono dan Sunatha Tandjung. Disamping gitar, ia juga menguasai beberapa alat musik lainnya, antara lain flute. Albert juga banyak terlibat dalam solo album Benny Soebardja,Harry Roesli, Superkid dan Iin Parlina.

 

Para Raksasa Itu Satu Persatu Berlalu

Giant Step setelah membuat album ketiga  Kukuh Nan Teguh yang berisi semua lagu lagu Indonesia dengan memasukan elemen elemen musik sunda dalam salah satu lagunya tidak lama kemudian Triawan sang keyboardist andalan Giant Step (bahkan tanpa ragu Denny Sabri pernah berkata kalau Triawan ini bisa menjadi keyboardist sekelas Keith Emerson kalau dia giat belajar !) cabut dari group berkualitas itu  untuk melanjutkan studi-nya di di Inggris dan posisinya di gantikan oleh Erwin Badudu adik Citra Manikam Badudu yang pemain band juga di era tahun 70-an. Sekalipun telah ditinggalkan oleh keyboardist handalnya, Giant Step masih tetap mempertahankan musik progresifnya bisa kita lihat pada album yang ke empat Persada Tercinta (1978) .Namun setelah Triawan keluar, Giant Step-pun ditinggalkan salah seorang raksasa yang membesarkan namanya, Albert Warnerin cabut juga! , yang mana hal ini diikut pula oleh Haddy Arief sang drummer muda yang sangat berbakat itu .Posisi mereka diganti oleh Harry Soebardja mantan gitaris Lizard dan Brotherhood yang adiknya Benny itu pada guitar dan Tommy pada drum kemudian maka sirnalah sudah warna progressive dari band kebanggan kota Kembang itu. Mereka secara perlahan tapi pasti menjadi band pop dan telah kehilangan gregetnya sebagai band progressive yang disegani dimasa kejayaannya dulu.

Bob Duke Dan Benny Soebardja… Dua Sahabat Lama

Setelah mengalami pasang surut,gonta ganti pemain dan vakum yang lumayan lama pada tahun 1983 mereka bangkit kembali dan manggung dengan band-band rock lainnya di panggung Jambore musik majalah VISTA di Taman Ria Remaja Senayan dengan formasi : Benny Soebardja, Utje F Tekol, Albert Warnerin, Triawan Munaf, Erwin Badudu dan Jelly Tobing dan dua tahun kemudian pada bulan Juni 1985 mereka merilis album “Geregetan” (1985.Lagu Gregetan yang pada tahun 2010 ini menjadi popular kembali dinyanyikan oleh anak Triawan Munaf, Sherina).Di album ini Giant Step tidak lagi sepenuhnya menyajikan warna musik progressive era 1970-an. Apalagi, kata Triawan, “Produsernya minta agar kita memasukkan sebuah lagu unggulan yang komersial.” Toh, waktu itu mereka sempat tampil di TVRI membawakan lagu Geregetan dan Panggilan Jiwa.

Perjalanan Giant Step  benar-benar berakhir dan bubar serta  tidak dapat disatukan kembali para personilnya setelah mereka ikut tampil di acara demo solo drum Jelly Tobing pada tahun 1992. Menurut kabar angin telah terjadi keretakan antara Albert Warnerin dengan Benny Soebardja. Berbagai upaya baik itu dari para fan yang cinta pada GS maupun para personilnya untuk menyatukan kembali mereka namun tak kunjung berhasil. Sebagaimana dikatakan oleh Prof Riza Sihbudi pengamat senior dari LIPI dan salah seorang pendiri KPMI serta pecinta Giant Step ini, rupanya fenomena dua tokoh kunci dalam satu band rock yang sulit disatukan kembali, tidak hanya dimonopoli group-group dunia seperti Lennon berkonfrontasi dengan McCartney (The Beatles), Roger Waters kontra David Gilmour (Pink Floyd), atau Ian Gillan melawan Ritchie Blackmore (Deep Purple).Ada berita terbaru dikalangan teman-teman KPMI bahwa album Giant Step Mark I dan Giant On The Move akan di release ulang di Jerman oleh Shadocks juga.Selamat Kang Benny!.

Penulis dan Triawan Munaf

 

Album

1.      Giant Step Mark I (Lucky Records 1975)

2.      Giant On The Move !  ( SM Recording 1976)

3.      Kukuh Nan Teguh (Nova Records 1977)

4.      Persada Tercinta  (Irama Tara 1978)

5.      Tinombala (Irama Tara 1979)

6.      Vol III Warna Harapan (Irama Tara 1980)

7.      Gregetan (JK Records (1985)

 

Solo Album Benny Soebardja

1.      Benny Soebardja & Lizard (BB Record 1975)

2.      Night Train (SM Recording 1976)

3.      Gimme  Piece Of  Gut Rock (SM Recording 1977)

4.      Setitik Harapan (Duba Record 1979)

5.      Lestari (Paragon Records 1980)

 

Berselancar Ngerock Jadul

December 14, 2010

JRENG!

Rasanya saya cenderung menikmati musik, apalagi prog, dengan memutar satu album secara penuh. Belakangan ini saya suka putar Tohpati Ethnomission, Solaris ‘Notradamus” dan Arcturus “Sideshow Symphony” (udah saya tulis review nya di Progarchives). Gak tahu kenapa tadi malam pengen muter lagu2 rock dan prog secara ‘pilihan’ dengan menggunakan iPod, saya konek ke amplifier, di setel di ruangan, sendirian, lampu padam …biyuh tambah nyuamlenk nuansamatik.

Saya mulai dengan Scorpions ‘Fly People Fly‘ gara-gara pembaca blog gemblunk ini, mas Kristanto, nyebut album “Fly To The Rainbow”. Ini album Scorpions yang doahzyat memang. Lagu ini sangat menghiasi masa remaja saya di Madiun dimana kami sering gitaran membawakan lagu-lagu rock seperti “It’s The Same” nya Heavy Metal Kids, “Stairway to Heaven”nya LZ dll. Fly People Fly memiliki arti khusus karena kaset saya dulu dibeli seribu tiga, alias bajakannya bajakan. Maklum, jaman kere masalah kualitas (desis) nomer dua. Sing puenting iso ngerock dan suara gitar masih jernih. Wuih memang ini lagu, sesuai judulnya, bisa bikin fly tanpa harus nggelek. Uwediyan tenan! Gitarannya menohok sukma, menusuk ulu ati paling dalam. Menangis rasanya kalau denger gitaran Uly John Roth ini. Top dah!

Habis itu lari ke Judas Priest “Prisonner of Your Eyes” yang liriknya cengeng cumengeng tapi gitarannya biyuh nggarai ati guogrok luluh lantak berkeping-keping saking indahnya. Bukan masalah gitar solonya, riff nya yahud tenan! Langsung nyambung ke lagu nuansamatik yang bikin saya kenal Judas Priest pertama kali dari kaset rekaman AR (Atlantic Record) dari albumnya Lucifer’s Friend. Judas Priest sebagai side B nya – opo tumon? Lagunya bertajuk “Beyond The Realm of Death” …whoooaaa…siapa biang musik rock ngajakin sesat? Lagi ini mengajak kita mengingat kematian jal! Liat aja judulnya udah orietasi akhirat. Makanya jangan menghakimi musik rock sebagai aliran setan, aliran sesat. Musti liat dulu dong konteks nya apa … Lha kok malah ngomongin dakwah? Yo ben, kita perlu dakwahin orang2 yang menghujat rock karena gak semua musik rock itu menyesatkan. Setuju ra jal? Kudu setuju! Yen ora setuju, lha laopo sampeyan moco blog iki?

Kurang ngeprog? Okay man … you got! Now it’s “Space Shanty” by Khan. Gendhenk pancen grup satu ini. Rasanya bukan manusia bila tak bisa appreciate kecanggihan komposisi lagu ini. Udah manis melodynya, sederhana liriknya “I need you and you need me” JRENG theng theng theng theng duk JRENG! Ooops! Jangan salah…ini bukan lirik percintaan ala roman picisan. Ini bener2 rasa cinta kepada lingkungan. Jaman segitu Khan udah cinta lingkungan karena mereka concerned terhadap pencemaran luar angasa dimana satelit tak terpakai dibiarkan saja di angkasa tanpa diturunkan lagi, Apa ndak visioner thu Khan? Musik Space Shanty terasa penuh dengan permainan gitar yang mantab bersahut-sahutan tanpa henti dengan hammond organ dan bass gitar yang dinamis, istilah kerennya “walking bass” karena gak cuman jagain ketukan tapi jalan-jalan tuh bass nya. Jangan ngaku suka musik prog kalau gak pernah denger lagu ini. Udah nuansamatik, legendaris, monumental pulak ini lagu! kemana aja umur Anda habiskan bila sampai detik ini belum pernah denger lagu ini? Udah gak usah dilanjutin baca blog ini, delete aja ..kalau Anda belum pernah denger lagu doahzyat ini….ha ha ha ha ha …

Habis itu ngeblues-rock lagi dengan ‘Simple Man‘ nya Cuby + Blizzards ..band blues Londo yang keren musiknya. Musiknya padat dan gak njelehi blas. Pas bagian interlude, volume ampli saya besarkan jan muanteb pol! Trus nyambung dengan ‘Sang Penghibur‘ nya Padi. Lho? Jangan salah, ini lagu kuween pol! Lagu Padi terbaik nih! Saya suka pol sama lagu ini. Komposisinya dahzyat dan ada sentuhan prog nya lho. Fadli nyanyinya juga keren. Oh bukankah kupernah melihat bintag? Wis jan koyok Stargazer tenan jal! Terus refreshing dikit dengan ‘Soldier of Fortune‘ ..melemaskan otot otak .. he he he … maunya terus nyambung ke “The Fourth Legacy” nya Kamelot yang gagah tapi memelas itu .. namun sayang lagi gak tersedia di iPodku yang kuno cuak 4GB ini.

Lha trus mblakrak ke lagu pop nuansamatik jadul pitung-puluhan melalui “The Woman’s Song‘ dari Odia Coates (jangkrik! Cari info tentang Odia Coates di google kok susah ya?). Meskipun lagu pop, aku suka biyanget sama lagu ini jal! Dibilang gak prog yo ben! Wong prog rak yo ono sisi mehek2-e juga to jal! ‘I love how you reach me, without touching me!’ (wuih..Islami pol ya? Bukan muhrimnya kan ndak boleh nyentuh.) Terus dilanjut ‘I love how you teach me, without rushing me..‘ …opo ora ngguweblak denger lirik kayak gini plus melodi nan indah? Wis pokoke melankolis nuansamatik kemlitik tenan …!!! Gakpernah denger lagu ini? Kemana aja masa remajamu di 70an jal??? (Kalau usiamu sekarang di atas 40). Sakjane pengen lanjut “Dream of Me” nya Mac and Kattie Kisson, terus “House for Sale” nya Lucifer .. tapi mengko tambah ngelangut, ora apik lah … Aku sudahi aja ngepopnya.

Let’s get back to rock! Aku setel ‘Stranglehold’ nya Ted Nugent. Biyuuuuuh … Permainan gitar yang cantik. Lagunya mengalir indah. Pertama kali denger lagu ini dari radio amatir gelap “Dji Sam Soe” di Madiun saat SMA dulu. sang penyiar, mas Pri atau adiknya, Itok, sering banget nyetel lagu ini. Melayaaaaang ….. Meski lah=gu ini hard rock, namun durasinya ngeprog: 8 menitan. Coba deh cari lagu ini. Aku berani bertaruh, Anda PASTI SUKA.

Abis itu perangkat usik saya matikan, siap2 tidur karena udah jam 00:00 dan besok pagi mau gowes. Sebelum tidur baca dulu buku top markotop Riyadhus Shalihin ..petunjuk buat menuju keshalihan … Kudu punya kitab top ini lho! Apalagi mas=nusia berjiwa progresip seperti Anda … Ojok isone mung ngerock karo ngeprog, tapi yo kudu sinau ilmu juga ..ngono lho jal …!!! Lha opo hubungane Riyadhus Shalihin karo Judas Priest, Khan, Scorpions? Ya jelas ada … Kan Judas Priest bilang Beyond The Realms of Death. Membaca Riyadhus Shalihin itu melancarkan jalan menuju surga dimana mengalir sungai2 di bawahnya. Opo ora gelem awakmu mlebu sorga? Kalau mau tanya detilnya, tanya sama bang Ijal ya .. (Rizal B Prasetijo, boss nya Chase JP Morgan).

Salam,

JRENG!

Best Prog Albums Through the Years

December 9, 2010

JRENG!

So here I am once more ….

Udah lama gak bikin orang panas. Saatnya sekarang bikin orang panas melalui tret ini.  Pasti ada yang sakit hati kok ELP “Tarkus” gak muncul? Yes “Fragile” kok keok? He he he he …

Ini bukan tret saya tapi merupakan tret di ProgArchives. Kalau mau baca silakan KLIK di sini aslinya. Si pembuat tret membuat polling di forumnya Progarchives dan setiap tahun dia berikan list dari album2 prog yang dirilis pada tahun tersebut untuk dipilih mana TERBAIK nya. Ini akan saya post saja cover albumnya secara bertahap yah …

Salam,

G

Kagum Tohpati

December 8, 2010

Senin malam saya berkesempatan mampir di Musik+ Sarinah dan dapet dua CD Indonesia tulen: JavaJazz (gak prog ya? Gak pa pa lah …wong blog gemblunk) “Joy Joy Joy” dan Tohpati Ethnomission “Save The Planet”. CD pertama yg saya puter ya JavaJazz. Bagus musiknya, keren abis rekamannya (kualitas prima pol!).

Malam ini baru sempat puter Tohpati. Lhakadhalah …!!! Ternyata musiknya bener2 doahzyat abieesssz…!!!! Mulai dari track pertama “Ethno Funk” aja udah keren banget! Whooooaaaa… Muanteb!!! Semua track sampe saat ini saya setel (sd track 4) komposisinya bener2 super duper brilliant. The music totally definitely absolutely (wis embuh sembarang kalir) progressive to the bone, really! You should not miss this album if you are real humanbeings! Adrenalin muncrat tenan! Rekaman CDnya juga top!

Pokoknya yg baca blog gemblunk ini kudu beli CD-nya. Tuoobzzz!! Reviewnya dah ada di ProgArchives.

Salam progressive,
G

Prog Rock Quote: Fish

December 8, 2010

‘Stargazer’ by Rainbow

December 7, 2010

JRENG!

Sore ini iseng liat youtube nemu ini. Keren pol! ADrenalin munchratz…!!!

http://www.youtube.com/watch?v=Y6IPBN6ARkE&feature=related

 

Salam,

G

Prog Rock Quote: Rick Wakeman

December 6, 2010

SuperKid

December 3, 2010

All The Girls in The World Beware !

Here We Are

SUPERKID !

 

Oleh MH Alfie Syahrine

 

Denny Sabri, wartawan majalah Aktuil, sepulangnya dari markasnya di Amerika sangat terobsesi untuk membentuk group band dengan citra seperti Cream hingga Grand Funk Railroad maka dia mengajak Deddy Dores yang baru saja hengkang dari Giant Step bersama Deddy Sutansyah yang kemudian merubah namanya menjadi Deddy Stanzah mantan pemain bass Rollies, Giant Step dan God Bless serta Jelly Tobing mantan drummer C’Blues dan Menstril’s yang urung menggantikan posisi Teddy Sujaya sebagai drummer di God Bless membentuk ini Superkid (dengan simbol yang keluar dari idenya Deddy Stanzah berupa kedua belah tangan yang disilang dan selalu di tampilkan hampir pada setiap kali mereka menyanyikan lagu sixty years on) sebuah nama yang diusulkan oleh teman Denny Sabri asal Amerika. Maka dengan Denny Sabri sebagai dokter bedah dan manajernya. bahkan saking kesengsemnya Denny untuk membesarkan group binaannya itu, dalam salah satu promosi konser Superkid dia sampai memakai judul album Grand Funk Railroad “ All The Girls in The World Beware !”



Publikasi Yang Professional

Karena didukung oleh Aktuil secara terang-terangan disetiap terbitannya akan sepak terjang para pemain Superkid maka ini memancing rasa penasaran pada siapa saja yang membacanya termasuk para promoter musik di Tanah Air bahkan dalam tour promo mereka di Surabaya di spanduknya tertulis “Superkid, Supergroup Nasional No1”,. Sebelum mereka go public mereka memang telah melakukan warming up dengan menjadi bintang tamu pada konser Nydia Sister(yang konon telah menimba ilmu di luar negeri dan diasosiasikan sebagai ABBA-nya Indoneisa) di Bandung pada tanggal 23 dan 24 April 1976 kemudian berlanjut  pada tanggal 5 Mei 1976 saat mengisi acara Mahasiswa Teknik  Industri ITB. maka  dalam waktu singkat kugiran yang digawangi oleh Duo Deddy ini mendulang sukses yang luar biasa kalau tidak mau dikatakan sangat fenomenal. Demam Superkid terjadi dimana-mana terutama para penggemar musik rock di Jawa Barat mulai dari Bandung hingga pelosok-pelosok desa demam Superkid, ini semua berkat strategi promosi dan publikasi yang sangat profesional dari Denny Sabri dengan majalah Aktuilnya.

Histeria

Wartawan Sondang Napitupulu almarhum karena saking salutnya pada Jelly Tobing dalam menggebuk drum-nya ketika menyaksikan pagelaran Superkid Pertama di TIM pada lagu How (hingga stick drum-nya patah!)dia sampai berteriak

 

Deddy Dores in action


”Hidup Superkid!, Hidup Batak!” mungkin Sondang terusik oleh rasa kesukuannya dengan Jelly yang sama-sama karena Batak ! .

 

Memang tidak dapat disangkal setiap personil Superkid memiliki kemampuan diatas rata rata hingga pantas mereka disebut Superkid!, bebeberapa pengamat musik rock seperti Theodore KS,Martha Boerhan, Bens Leo, Daniel Alexy,Iphik Thanoyo, Sondang Napitupulu serta Robbani Bawi pernah menyaksikan kehebatan permainan Superkid  hingga mereka memberikan predikat Top Drummer of The Year pada Jelly Tobing.Sedangkan Deddy Stanzah showmanship nya sangat  mengagumkan dia dapat berkomunikasi  pada penonton dengan menggunakan yel-yel bahasa Inggris yang sangat fasih belum lagi Deddy Dores yang sangat hidup stage act- nya baik waktu bermain guitar maupun keyboard apalagi dengan hadirnya Gito Rollies sebagai bintang tamu yang menyanyikan  lagu Rock ‘n Rock Bird berduet dengan Deddy Stanzah membuat penonton menjadi histeris.

 

Atraksi yang menjadi trademark-nya Superkid adalah hampir disetiap pertunjukannya mereka memulai dengan menembakan dry ice ke drum set-nya Jelly Tobing disusul dengan tembakan lampu warna warni dari lighting system yang apik disertai dengan  kepalan tangan yang disilangkan oleh Deddy Stanzah untuk menyapa penonton

 

Pada kurun waktu 1976-1977 merupakan era keemasan Superkid, dimana-mana para remaja di seantero Indonesia terkena wabah Superkid apalagi di Bandung dan Jawa Barat serta  Jakarta. Mereka menjadi sangat penasaran untuk menyaksikan penampilan group garapannya  Denny Sabri  yang penuh dengan sensasi itu.

Keunggulan utama Superkid ini memang terletak pada gaya panggung Deddy Stanzah yang memikat disamping accent Inggrisnya yang nyaris seperti bule belum lagi gaya  main gitar Deddy Dores yang dalam aksinya kerap menghantam gitar yang dimainkannya ke sound system hingga berantakan atau membanting-bantingnya hingga patah berkeping-keping belum lagi bila dia bersolo keyboard dimana Deddy menjungkir balikan keyboard dengan ganasnya model Keith Emerson hingga membuat penonton menjadi berteriak-teriak bahkan para gadis yang menonton menjerit-jerit histeris .

 

Sedangkan Jelly tidak kalah “gokil”nya di setiap show Superkid dia selalu meng hamtamkan stick drum-nya kederetan drum yang mengelilinginya sampai stick itu patah- patah bahkan drum yang dia mainkan tidak jarang sampai jebol !. Diantara kesuksesan ada pula nasib na’as yang dialami Trio rock Bandung ini  seperti dalam pertunjukan yang dilakukan oleh  Superkid dan SAS,  dimana Superkid memperlihatkan demontrasi dengan kepulan asap putih. Selain itu group ini juga mendemostrasikan atraksi kembang api. Kemudian mereka mengajak penonton naik ke pentas untuk dance bersama. Dalam konser ini sempat terjadi kekacauan, Super Kid nyaris dilempari kayu  dari potongan- potongan kursi yang rusak. Kekacauan ini timbul karena penonton di bagian belakang tidak dapat lagi melihat wajah-wajah pemain dari Super kid. Order manggung mereka nyaris tak terkalahkan dalam sejarah konser musik cadas di Indonesia saat itu, karena dalam satu bulan Superkid lebih dari 20 kali manggung  diseluruh Tanah Air!. Suatu prestasi yang sangat luar biasa yang mungkin hingga saat ini tidak pernah ada satu group band-pun di Tanah Air yang dapat menyamakannya sekalipun God Bless, Rollies, SAS,

Giant Step atau AKA yang  telah dikenal sebagai  kampiun  musik panggung.Mereka pernah sepanggung dengan SAS,God Bless, Giant Step ataupun Rollies  dan Superkid memang pantas disejajarkan dengan  mereka!.

 

 

Album-album Superkid yang yang banyak menggunakakan bahasa Inggris yaitu :

Trouble Maker dan Dezember Break. .Superkid memiliki lagu-lagu andalan yang sering mereka nyanyikan dipanggung antara lain: Trouble Maker, Sixty Years On, How, Blue Light City ,Futher In The Sea, I Saw Her Standing There, Southtern Woman, Foot Stomping Music,Come back To Me, My Iggy, Living On The Jet Plane, Just Once More, dll.

.

Ada pula suatu pertunjukan musik yang agak unik di Tasikmalaya dimana saat itu ada suatu kenduri pernikahan yang mana pengantin prianya menggemari God Bless dan Pengantin wanitanya menggemari Superkid maka jadilah mereka beraksi dalam satu panggung pada kenduri pernikahan itu.Pertunjukan disiang hari itu memang istimewa karena kedua band yang tampil merupakan  dua super group yang sedang terkenal saat itu namun ada juga protes dari pembaca Aktuil  yang berasal dari Jakarta yang mengatakan bahwa Aktuil berat sebelah dalam menilai  pagelaran itu, Aktuil dianggapnya sebagai terlalu Bandung Sentris!.  Namun menjelang akhir 1977 Superkid bubar!, karena Deddy tidak bisa melepaskan diri dari kebiasaanya yang kurang baik sejak di Rollies dulu.Akhirnya Jelly dan Dores-pun memutuskan diri untuk tidak melanjutkan eksistensi band yang telah mengharumkan nama mereka itu.

Superkid Is The Super Group Band !

 

 

SUPERKID

Track List On The Stage (Surabaya)

1: 1976 di Taman Remaja Sby,

2: 1977 di Gelora Pancasila satu panggung  dengan  SAS, Deddy Dores banting gitar,

3:1978: di Gelora 10 Nop dengan SAS, Jelly Tobing kesetrum waktu checksound,

4: 80an: di Gelora 10 Nop dengan SAS dg additional bass player Yuke Sumeru,

5:80an: di Gelora 10 Nop dengan SAS & Nicky Astria.

 

Popularitas

Mungkin hanya Superkid satu satunya group band yang jadwal manggungnya hingga mencapai 20 kali dalam sebulannya, kelebihan mereka adalah tidak pernah gentar atau ngeper bilamana mereka mengadakan konser di kandang lawan terutama para penggemar fanatik group local kesayangan mereka seperti di Malang, Surabaya atau Jakarta mereka mampu menjinakan penonton dengan lagu lagu The Who(Tommy), Queen(Bohemian Rhapsody) Deep Purple (Smoke On The Water),Rolling Stones Honky Tonk Woman, Jumping Jack Plash atau Jiving Sister,Beatles (I Saw Her Standing There)  Grand Funk Railroad(Foot Stomping Music ,Led Zeppelin (Immigrant Song), STYX (Southern Woman,)Johny Winter (Free Ride) atau John Denver (Living On A Jet Plane), Elton John (Sixty Years On) atau  karya karya mereka sendiri seperti yang sering mereka nyanyikan dipanggung antara lain: Trouble Maker, How, Blue Light City ,Futher In The Sea, Just Once More,  City of Devil dll.

 

Setelah beberapa kali gonta ganti formasi dan off n’ on ditahun 70’an, dan bubar di tahun 1978. Namun dikarenakan kerinduan mereka akan era keemasan dahulu masih menggebu gebu maka akhirnya pada tahun 1988 mereka sepakat untuk reuni kembali dan  menghasilkan lagu hit ‘Gadis Bergelang Emas’, mungkin karena salah atur atau mismanajemen atau mungkin pula Denny Sabrie sudah lebih konsentrasi dalam menggarap penyanyi-penyanyi solo pendatang baru, seperti istilah Bens Leo katakan, Superkid tewas juga !.Tapi menurut rekan rekan di KPMI bubarnya Superkid ini karena sekali lagi, Deddy Stanzah tidak biaa terlepas dari kebiasaan buruknya itu bermain api dengan benda benda phisikotropika di hari hari terakhir kehidupannya

 

 

 

Show Superkid perdana  diliput oleh Majalah  TOP

Mereka Kini

Deddy Dores si raja panggung dulu, setelah Superkid bubar ,kini masih tetap sebagai pemandu bakat dan pengarang lagu mellow yang sukses, ditahun 1980’an Deddy pernah membuat  group band seperti ; Lipstick, Caezar, Sansekerta, Bayu dll tapi semua band itu hanyalah band spesial untuk rekaman saja dan setelah menelurkan beberapa album satu persatu band-band itu hilang ditelan jaman. Kini Deddy lebih menonjol sebagai pencipta lagu dan pemandu bakat artis penyanyi rock seperti Nike Ardilla (alm). Si Akang yang tetap gemar memakai kacamata hitam ini walaupun usianya hampir enampuluh tahun tapi tampaknya masih awet ngora Musik mellow memang bagian cara hidupnya untuk mencari nafkah sedangkan musik rock sebagaimana pengakuan di FB-nya, Deddy Dores mengaku bahwa sesungguhnya didalam dirinya hanya ada satu kata yaitu  rock ,baginya  rock will never die !.

 

Jelly Tobing yang gemar akan sensasi masih senang meneruskan sensasinya. antara lain dengan melakukan solo drum selama 10 jam nonstop di Ancol, 1 Oktober 1988, dan lapangan sepak bola Persija, Menteng, 29 Juli 1990. Pada tahun 2002, Jelly bahkan sempat menjadi drummer tamu Rhythm Kings dalam sebuah acara reuni group itu di Medan. Sosok Jelly Tobing sejak masih di C ‘Blues dahulu dikenal sebagai drummer yang ramah penuh ceria dan cukup baik menjalin komunikasi dengan sesama musisi rock hingga dia hijrah ke Jakarta selepas dari Menstril’s band yang membesarkannya kala pertama dulu. Semasa dia berdomisili di Jakarta dan pernah dicalonkan sebagai pengganti Teddy Sujaya drummer God Bless yang kemudian entah sebab apa Jelly urung gabung kesana malah  hendak membentuk group rock baru di Jakarta, dengan nama Speed Fire yang menguap sebelum terbentuk.

 

Jelly pernah masuk-keluar sekitar 30 group musik, kabarnya juga akan mengaktifkan kembali trio Superkids, dengan mengajak serta pemetik gitar bas group Rollies, Utje F Tekol, sebagai pengganti almarhum Deddy Stanzah. Bahkan, Jelly juga berencana mengganti kedudukan Syech Abidin sebagai penabuh drum dalam reuni AKA bersama Ucok Harahap, Sunatha Tandjung, dan Arthur Kaunang di Surabaya Februari 2005. Di kota buaya ini, mungkin ini salah satu sensasinya Jelly pernah disengat listrik sampai pingsan ketika manggung 20 lebih tahun lalu.

 

 

Deddy Stanzah  setelah Superkid bubar   membentuk  Silver Train bersama

Yaya Muktyo (drum) Harry Minggoes (bass), Agustin (guitar) dan Delly Joko Alipin(keyboard) sebagai bintang tamu  namun setelah show di TIM Silver Train-pun bubar juga, Deddy sempat membuat solo album yang berjudul Play It Loud bersama  Triawan Munaf dan Albert Warnerin Stanzah sempat juga membuat album ‘Pelangi’ bersama Emand Saleh mantan Lead Guitarist Big Man Robinson.

 

Namun karena hobbi lamanya bergelut dengan narkoba membawa petaka baginya

keluarga Deddy sangat menderita demi untuk mendapatkan dana guna pengobatan Deddy yang selama delapan bulan Deddy dihimpit oleh berbagai penyakit mulai dari jantung hingga paru paru basah dia sempat dirawat disebuah rumah sakit di Bandung namun karena biayanya tinggi akhirnya dia minta berobat jalan.

 

Disela sela penyakit yang menggelayutinya, Deddy Stanzah masih mau bekerja dan tampil dengan Time Bomb Blues Band dan menyelesaikan album terakhirnya yang berjudul Paradox dan yang paling mengharukan adalah tidak merasa malunya seorang Deddy Stanzah sang Superstar yang pada masa keemasannya dulu sangat dielu-elukan oleh penggemarnya dengan berbagai lagu hit yang dia nyanyikan maupun aksi panggungnya yang sangat memikat mau bekerja sebagai roadist-nya  group Slank .Sungguh sangat mengenaskan nasib sang superstar era tujuhpuluhan ini !.

 

Akhirnya ajal-pun menjemputnya pada hari Senin tanggal 23 Januari 2001. Deddy Stanzah Sang Superstar menghembuskan nafasnya yang terakhir dengan meninggalkan Isye Larisdia sang isteri yang sangat setia dikala suka dan duka serta kedua anaknya Ega Pintudana dan dan Putri Mentari.

Album

  • Superkid/Trouble Maker
  • Dezember Break
  • Special Edition
  • Manusia dan Hidup
  • Superkid 1978
  • Cemburu
  • Gadis Bergelang Emas



Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 150 other followers