Archive for October, 2010

Perjalanan Indo Pop Progressive

October 19, 2010

JRENG! Mohon maaf  lama gak posting dikarenakan kesibukan luar biasa. Redaksi menerima sumbangan artikel nuansamatik karya pak Alfie. Mohon maaf telat postingnya ya Pak. Terima kasih buwanyaaaak atas kebaikan Bapak share ilmu markotop ini! Menarik sekali artikel ini karena mengulas rinci perjalanan musik Pop Progresip di Indonesia. Silakan simak sampek dobol …soale dowo tenan …!!! JRENG! (Red.)

——

Oleh : MH Alfie Syahrine

Memang susah bila kita mencari suatu permulaan darimana dan kapan permulaan itu terjadi seperti halnya musik Indo pop progressive tapi saya lebih cenderung mengatakan bahwa awal suatu eksperimen Indo pop progressive berasal dari buah tangan Idris Sardi yang mengiringi Lilis Suryani dalam sebuah album Sunda yang yang berjudul ‘Antosan’ (Bali Record 1964) dimana Idris Sardi benar- benar all out dalam menggarap aransemen lagu lagu Lilis itu dengan menggabungkan elemen elemen musik klasik dan pop dengan full orkestra hingga hasilnya sangat mengagumkan. Ada beberapa lagu sunda yang dinyanyikan Lilis Suryani yang arransemen-nya membuat saya tidak pernah bosan mendengarkannya ..very classical oriented ! namun setelah itu dunia musik berkualitas nasionalpun redup kembali dengan bermunculannya penyanyi penyanyi pop keluaran Irama Record milik Mas Yos boss-nya El Shinta dulu seperti ; Djon Karjono, Gusti Imanuddin, Liliana, Rita dan Nita, Jan Salakory dll.

Waktupun berjalan hingga pada awal tahun tujuhpuluhan era group band mulai datang maka bermunculanlah group band-group band bak jamur dimusim hujan tapi dari sekian banyak group band yang muncul dan melegenda hanya terdapat beberapa saja seperti patut diperhitungkandan memang tercatat dalam sejarah dunia musik berkualitas di Indonesia seperti  : Rhapsodia, The Rollies, Giant Step, Harry Rusli, Rasela, The Rhythm Kings ,AKA, SAS, Godbless, Superkid , Shark Move dan Favourite’s Group. Pada dua band inilah muncul lagu lagu yang aransemennya sangat berkualitas dan pantas di sebut sebagai Indo Pop Progressive kita lihat saja Favourite’s Group didalam lagu-lagu ‘Mawar Berduri’dan ‘Teratai Putih’ elemen elemen klasiknya sangat kental sekali tetapi A Riyanto sebagai pengarang lagu dan aranjer sangat menguasai sekali didalam meramu keduannya hingga lagu yang sesungguhnya ‘berat’ menjadi enak didengar begitu juga bila kita menyimak lagu ‘Sakit Dikenang Dibuang Sayang’ yang dilantunkan oleh Arie vokalis andalan Favourite’s Group (dia menyanyi hingga hingga Vol 3) lagu dan arransemen-nya sangat pas dan tidak berlebihan kalau penulis mengatakan bahwa lagu ini sangat berbau klasik sekali aransemen-nya. Sedangkan Shark Move begitu berhasil membawakan lagu ‘Bingung’ dan ‘Madat’. Pada tahun 1974 Maulani (menurut khabar dari salah seorang rekan KPMI  bahwa beliau masih menyanyi di sebuah Pub di bilangan Kelapa Gading) menyanyikan sebuah  lagu karya A Riyanto dengan iringan band 4 Nada yang untuk penggarapan lagu ini 4 Nada full orkestra judulnya ‘Biarkan Bunga Berkembang’ (yang kemudian dinyanyikan lagi oleh A Riyanto, Tetty Kadi dan Endang S Taurina tapi sudah kehilangan nuansa spiritual touch nya) yang mana bagi saya lagu ini luar biasa sekali baik lirik maupun arransemennya.Namun lagi lagi pada kurun waktu setelah pertengahan tahun tujupuluhan dunia musik pop berkualitas redup kembali karena lagu-lagu pop era model Eddie Silitonga, Kembar Group, Madesya Group, UsBross,NoKoes dll yang lagu lagunya mellow mendayu dayu bermunculan sedangkan musik panggung dan rock sudah nyaris punah tergilas oleh musik New Wave dan Disco  dan  Majalah Aktuil serta Top sebagai media yang mengusung perkembangan musik anak anak muda saat itu telah pula berubah wajah menjadi majalah esek esek.

Pada masa masa kritis seperti itu muncullah Barong Band yang dimotori oleh Eros Djarot yang baru pulang dari Jerman Eros dan Epot merekrut anak anak Pegangsaan seperti Debby Nasution dan Gaury Nasution maka jadilah dua album Barong Band yang melawan arus saat itu; ‘Kawin Lari’ dan ‘Nyanyian Hati’, namun mereka tidak bisa dibilang sukses walaupun ada beberapa lagu yang sempat dikenal seperti ‘Halleluya’ dan ‘Superstar Tenggo’ yang menyindir bahwa di Indonesia ini begitu mudahnya masyarakat atau wartawan memberi predikat superstar sehingga pelawak Ratmi  B 29-pun dijuluki  Superstar.

Tidak lama kemudian dari Bandung muncullah  si Budak  Bangor ; Harry Roesli dengan sebatalion musisi rock dan tradisionil Bandung membuat proyek ajaibnya yang menggabungkan musik tradisionil Sunda dengan rock maka jadilah album “Titik Api” yang oleh banyak orang dikatakan sebagai sebuah mahakarya original yang luar biasa dimana Harry mentradisionilkan musik rock dengan suksesnya.

Bandung yang pada tahun tujuhpuluhan disebut sebut sebagai kota dan sarang-nya musisi memang merupakan kota yang sangat produktif bagi para seniman  dan anak anak band salah satunya adalah Giant Step yang di motori Benny Soebardja  mereka melemparkan album ‘Kukuh Nan Teguh’ yang menurut Riza Sihbudi permainan Triawan pada keyboard sebagai luar biasa pada masa itu, inilah album murni Giant Step yang seluruhnya berbahasa Indonesia karena sebelumnya band ini baik di panggung maupun pada rekaman selalu membawakan lagu lagu Inggris hasil ciptaan mereka sendiri.

Seiring dengan suksesnya Titik Api anak anak Jakarta-pun tidak mau ketinggalan , di pehujung tahun 1976 Guruh Soekarnoputra dan anak anak Gipsy serta Abadi Susman dan beberapa musisi Bali diboyong ke studio Tri Angkasa untuk membuat suatu proyek raksasa memadukan gamelan Bali dengan musik rock ,Guruh mengajak Kompiang Raka ( yang kemudian menjadi Wakil Direktur Gedung Kesenian Jakarta) untuk memuluskan eksperimennya.

Berbeda dengan  Harry Rusli yang mentradisionilkan musik rock ,Guruh sebaliknya dia merock-kan musik tradisionil seperti Ebehard Schoener musisi dari Jerman sebelumnya dengan proyek Bali Agung. Album Guruh Gipsy ini memang sangat megah terutama pada lagu Indonesia Maharddeka walaupun masih terasa bau Genesis,Deep Purple dan Triumvirat didalamnya.

Pada tahun 1977 anak-anak Godbless dan  Gipsy bergabung membuat suatu gebrakan yang membuka cakrawala baru dunia permusikan Indonesia , mereka adalah Yockie Suryoprayogo,Keenan Nasution, Donny Fattah dan Odink Nasution membuat musik bergenre baru yang kemudian kita kenal sebagai Indo Pop Progressive didalam album LCLR Prambors Rasisonia dimana mereka membuat suatu revolusi baru dalam dunia permusikan di Indonesia yaitu musik berkualitas gabungan antara pop, klasik dan rock dimana untuk pertama kalinya Yockie menebar suara suara orkestra dari melotron yang masih asing buat pendengar musk pop yang saat itu hanya dikonsumsi oleh anak anak muda kalangan Kebayoran dan Menteng saja yang kemudian merambah ke Rawamangun dan Tebet serta berkelanjutan menjadi suatu fenomena di kalangan remaja Nusantara.

Lagu Lilin Lilin Kecil merupakan suatu terobosan baru didalam kasanah musik pop Indonesia dimana lagu, penyanyi, arransemen dan musisi pengiringnya berkarya dengan sangat harmonisnya mereka saling menopang satu sama lain hingga album LCLR 1 itu meledak luar biasa ! , Setelah tahu tahu Lilin Lilin Kecil itu meledak  Chrisye lalu melempar solo albumnya yang pertama yang juga merupakan sound track film’Badai Pasti Berlalu’album ini sama fenomenalnya seperti ketika Genesis mengeluarkan album ‘Foxtrot ‘ mendapat tanggapan dan pujian yang sangat luar biasa sekali dan itu melambungkan nama Chrisye dan Yockie Suryoprayogo sebagai penyanyi dan aranjer yang patut diperhitungkan (namun ironisnya para musisi yang mendukung dan mensukseskan album ini nyaris tidak dikenal oleh masyarakat seperti juga para musisi yang mendukung LCLR  I & II )

Dan pada tahun 1978 tidak disangka sangka anak-anak SMA Perguruan Cikini  yang tergabung dalam kelompok Rara Ragadi melemparkan suatu album berjudul ‘Rara Ragadi’ , walaupun mereka masih ABG akan tetapi talenta bermusiknya luar biasa!. Banyak lagu lagu didalam album itu yang sangat progressive apalagi pada lagu Rara Ragadi yang menceritakan dendam kesumat seorang jagoan wanita yang patah hati karena ditinggal kekasihnya, lagu ini luar biasa sekali dari segi arransemen musiknya !. Iwan Arsyad almarhum sangat cekatan sekali didalam menyanyikan lagu ini sedangkan Riza Arsyad yang saat itu masih sangat muda bermain pada keyboard sungguh mengagumkan sekali permainannya walaupun saat itu usianya belum mencapai tujuhbelas tahun tapi talenta bermusiknya membuat saya angkat topi, begitu juga gebrakan drum Cendy Luntungan yang mantap dan rapi sekali disamping kehebatan Raidy Noor didalam memainkan gitarnya. Tetapi group yang sangat berbakat ini bubar manakala Iwan Arsyad sang vokalis wafat .

Covernya aja udah ngePROG!

Kini Riza tidak pernah aktif kembali dimusik Indo Pop Progressive, dia mengkhususkan diri pada musik jazz mungkin kenangannya terhadap Abangnya itu terlalu mendalam hingga sepertinya Riza tidak ingin kembali jenis musik itu . Raidy Noor pernah mengeluarkan album solo dan masih tetap istiqomah dengan prog rock-nya di Cockpit sejak awal delapan puluhan menggantikan Harry Minggus, di Face Book miliknya Raidy pernah berujar pada salah seorang penggemar Rara Ragadi bahwa dia ingin membangun  kembali Rara Ragadi dengan teman-teman lamanya, sedangkan Cendy Luntungan lebih banyak sebagai traveling drummer dari satu band ke band lainya.

 

Keenan Nasution

Tidak lama kemudian dunia permusikan apik dikejutkan kembali dengan kemunculan  sukses dari Keenan Nasution yang melempar album perdananya ‘Dibatas Angan Angan’ suatu proyek album solo yang megah dengan seabreg musisi berkualitas yang terlibat didalamnya. ”Dibatas Angan Angan” ini memang sangat megah terutama pada lagu Dibatas Angan Angan, Negeriku Cintaku, Buku Harian dan Cakrawala Senja sedangngkan lagu Negeriku Cintaku seperti telah menjadi lagu kebangsaan-nya Keenan disetiap pagelaran musiknya walapun ada  ‘Close To The Edge ‘nya Yes menyelinap disana, tapi walaupun demikian Keenan masih tetap bisa bertahan dalam warna musik  Indo Prog hingga album ‘Tak Semudah Kata Kata’

 

Abbhama picture

Kemudian muncul pula Abbhama, band-nya anak-anak IKJ yang dimotori oleh Iwan Madjid yang dilahirkan tahun 1957, Band ini terbentuk tahun 1977,dan memang sangat terpengaruh oleh berkembangnya aliran progressive rock di tahun 70-an. Para personilnya adalah Iwan Madjid (vokal, piano), Oni (keyboard), Darwin (bass), Robin (drum), Dhrama (flute), Cok B (gitar), Hendro (oboe).

Penampilan pertama group ini ketika mereka menjadi band pendamping konser ‘Dibatas Angan Angan’-nya Keenan di TIM tahun 1978, lalu mereka melemparkan album ‘Alam Raya’ dengan lagu-lagu yang liriknya ditulis oleh Tubagus benny dan Iwan Madjid seperti ; Malam, Alam Raya, Air, Asmara dll yang semuanya sangat apik sekali. Kelebihan Abbhama ini dimana mereka dapat meramu musik rock dengan lagu-lagu klasik seperti karya Debussy , Johan Sebastian Bach, Bethoven dll dengan apik dan cermat sekali, hingga album ini disebut sebut oleh pengamat musik barat sebagai the perfect Italian progressive style album dengan topangan Iwan Madjid vokalis berbakat yang mana suaranya nyaris seperti Jon Anderson.

Yang menarik dari band ini adalah kemampuan musical para pemainnya yang tidak kalah dengan musisi asing pada waktu itu. Hal ini diakui oleh para penggemar musik progressive rock, bukan hanya yang ada di Indonesia, bahkan juga di luar negeri. Iwan, dkk ini memang sangat dipengaruhi oleh ELP (Emerson Lake Palmer) – band progressive rock asal Inggris. Sayang band berkualitas ini  hanya muncul sesaat,lalu mereka hanya sempat merilis satu album lantas bubar.

Selepas bubarnya Abbhama, kemudian Iwan membentuk band baru dengan nama yang susah diingat Cynomadeus yang terdiri dari Iwan Madjid (keyboard), Todung Panjaitan (bass), Eet Syahrani (gitar), Fajar Satriatama (drum), dan Arry Safriadi yang dikemudian hari menggantikan Freddy Tamaela sebagai vokalis Cockpit (vokal). Kelompok yang juga bergenre sama seperti Abbhama memasukan elemen musik klasik dan rock namun lagi-lagi band ini pun umurnya tidak panjang. Mereka hanya merilis satu album saja sama seperti Abbhama.

Setelah bubarnya Cynomadeus kemudian Iwan Madjid tetap bersemangat membuat group baru lagi dengan nama lagi WOW! yang terdiri dari Iwan Madjid (vocal, keyboard) Fariz RM (drum, keyboard), Darwin B Rachman yang mantan Abbhama (bass, keyboard), berhasil memeriahkan blantika musik Indo Progressive diawal tahun delapanpuluhan dengan mengandalkan penonjolan kehandalan permainan perkusi dan keyboard tapi sayangnya album pertama yang sebenarnya dahsyat itu agak melenceng juga dengan masuknya Firth of The Fifth-nya Genesis di lagu ‘Armagedon’ sehingga apresiasi para penggemar musik Indo Progressive jadi tertahan namun pada lagu-lagu lainnya kemampuan mereka dalam membuat lagu mereka pantas diacungi jempol simak saja lagu Puri Dewayani dan Pekik Merdeka, merekamenunjukan sebagai group yang berkelas dan pantas diperhitungkan dan  berhasil melempar tiga buah album’WOW !Produk Hijau’, ’WOW! Produk Jingga’ dan ‘WOW! Lapangan Merah’  ditambah sound track film Lupus namun lagi lagi group progressive berkualitas ini wafat dia usia muda !..

Seakan tidak pernah jera, pada tahun 1988 Iwan Madjid muncul kembali dan melemparkan  proyek solo albumnya yang berbau progressive juga walaupun pun lebih ngepop. Iwan Madjid menggarap album solo bertajuk ‘Pesta Reuni’ yang didukung Fariz RM (drum, keyboard), Uce Haryono (drum), Darwin B Rachman teman lamanya semasa di Abbhama dulu (bass, keyboard), dan Eet Syahrani teman lamanya di Cynomadeus (gitar). Lirik-lirik lagu di album ini dikatagorikan ringan sangat berbeda dengan Abbhama dimana hampir semua liriknya ditulis oleh Tubagus Benny yang memang sangat berbobot. Dalam Pesta Reuni ini Iwan Madjid sekali lagi menyanyikan kembali lagu ‘Asmara’, yang pernah dibawakan pada album Abbhama dengan aransemen yang  agak berbeda dengan musik yang lebih dinamis.

Ada khabar tidak sedap pada keseharian Iwan yang mana hal itu menghalangi karier bermusiknya pula padahal Iwan sebenarnya sangat berbakat tetapi dia tidak sepenuh hati menerjunkan dirinya kedunia musik hingga namanya-pun pada akhirnya hilang diblantika musik papan atas.

Pada awal tahun 1980-an oleh Harry Sabar yang setelah sukses dengan lagu ciptaannya ‘Sesaat’ tidak disangka membuat gebrakan dengan melempar album ‘Lazuardy’ sambil menggandeng anak-anak Pegangsaan seperti Odink, Debby dan Keenan Nasution serta pianis classik Marusya Nainggolan. Album ini sangat classic oriented yang dibaurkan dengan Genesis style terutama permainan gitar Odink dan keyboardnya Debby.

Yockie Suryoprayogo yang berkolaborasi dengan Idris Sardi mengeluarkan album ‘Musik Saya Adalah Saya’ yang sebenarnya sangat bagus sekali akan tetapi karena jamannya sudah berubah maka album ini secara komersial tidak menghasilkan keuntungan, lain dengan Fariz RM yang bukan saja menangguk keuntungan financial tetapi juga popularitas setelah dia merilis album berbau disco ‘Sakura’ dan  ‘Selangkah Keseberang’

Nampaknya Yockie sebagai pamungkas atau penutup era keemasan-nya Indo Progressive di tanah air karena dibelahan dunia sana trend musik-pun telah berubah, wabah ‘new wave’ sudah tidak dapat dibendung lagi seperti uraian kekecewan Jurgent Fritz keyboardist Triumvirat tentang tidak kondusifnya lagi dunia musik saat itu terhadap musik progressive yang tergilas oleh musik musik ‘ Punk’ dan di Indonesia-pun demikian pula era ‘Semangka Berdaun Sirih’, ‘Gelas Gelas Kaca’ atau ‘Sepatu Kulit Rusa’dll telah mewabah dunia permusikan Indonesia yang sayangnya Keenan-pun ikut juga terbawa arus disana dan membuat penggemarnya terhenyak ..bengong. dengan handmoog Keenan menyanyikan satu lagu karangan Melky Guslow ‘Dulu Lain Sekarang Lain’ disebuah acara Aneka Ria Safari dan lagunya tidak jauh dari model…’Semangka Berdaun Sirih’ memang pada era 1980-an itu tidak ada satupun album Indo Pop Progressive yang terekam didalam catatan sejarah musik nasional kecuali Godbless merilis album ‘Cermin’ yang dahsyat itu walaupun Abadi Susman yang mungkin hilaf menyelipkan Tarkus-nya ELP kedalam lagu ‘Anak Adam’.

Pada tahun 1980-an Seandainyapun ada, hanya beberapa tapi tidak monumental seperti album solo Freddie Tamaela(alm) Nyong Ambon vokalis Cockpit formasi pertama ini selalu diidentikan dengan vokalis Genesis, Phil Collins, dia memang memiliki  vokal yang mirip dengan Phil Collins begitu juga gaya panggungnya walaupun lebih condong ke Gabriel.

Album ‘Tetangga’ yang dirilis tahun 1985 musiknya ditangani oleh Ronni Harahap, sang keyboardist Cockpit itu, maka dapat dilihat pengaruh Genesis sangat kental didalamnya. Coba saja simak lagu ‘Lari’ Dan Lari mirip dengan Turn It On Again-nya Genesis. Lagu’ Bila’ dipengaruhi I Can’t Not Believe It’s True-nya Phil Collins. Begitu juga pada lagu ‘Ada’ nyaris seperti zombinya lagu Mama dan In The Air Tonight. Namun sayang album ini tidak begitu meledak dipasaran dan tidak menjadi buah bibir dimasyarakat dan Freddy-pun namanya kemudian dilupakan orang hingga dia wafat kecuali oleh para Cockpit Freak !

Hingga di awal tahun 1990-an anak-anak Pegangsaan yang digawangi oleh Keenan Nasution muncul kembali menggebrak dunia permusikan tanah air dengan mengeluarkan 3 album yang berwarna musik Progressive dalam album Palestina I dan Palestina II yang mana musiknya benar-benar bernuasa Progressive seperti Genesis terutama pada lagu ‘Setan Tertawa’ dan ‘Palestina II’ yang sangat Genesis sekali . Hingga menjelang akhir 1990’an Godbless sebagai  band senior muncul kembali dengan merilis album ‘Semut Hitam’ dengan warna musik progrssive yang ngerock sekali dan dahsyat seperti pendapat  Riza Sihbudi terutama kedahsyatan permainan Yockie, Ian dan Teddy dihampir semua lagu-lagu terutama lag ‘Trauma’. Di era reformasi ini nampaknya angin segar mulai berhembus kembali di dunia Indo Pop progressive seiring bangkitnya kembali musik progressive di seluruh dunia.

Pada tahun 2002 group Dewa di album ‘Dewa Bintang Lima’ dalam lagu ‘Risalah Hati’, lagu yang menduduki tangga teratas selama lebih dari tiga bulan itu sangat ngeprog sekali dan berbau Genesis terutama Andra gitarisnya jelas sekali permainannya kearah progressive oriented ala Steve Hackett. Pada era tahun 2000-an ini juga dalam lagu ‘Janji kita’ Kelompok anak anak muda berbakat; Keris Patih, permainan gitarnya juga kental dengan warna Steve Hackett dan dimainkannya dengan apik sekali.

Dengan reuninya kembali group prog pogressive rock papan atas seperti ; Asia, Genesis, Yes dan Triumvirat dimana band-band inilah yang telah memberikan ilham/inspirasi pada para pemusik Indo Pop Progressive maupun Progressive Rock Indonesia di era 1970-an dulu, akan dapat kembali menggairahkan musik Indo Pop Progressive di Nusantara, semoga.

——-

Profil Penulis (MH Alfie Syahrine):

 

Jaman majalah Aktuil dan Top masih ngetop dulu ....

Pak Alfie masa kini, sedang ngePROG .. JRENG!

Pak Alfie sebagai Khatib. Kalo lagi gini gak bicara prog music tapi progressive life! "Let's improve our iman and taqwa. Dirikanlah shalat BMW (Berjamaah di Masjid, pada awal Waktu)". Salut buat pak Alfie!!!

Kaset Gentle Giant versi Yess

October 6, 2010

Gentle Giant versi Yess. “In A Glass House”, “Free Hand” masuk sebagai Side B.

076 Three Friends
079 Octopus
080 The Power and The Glory
094 Interview
100 Acquiring The Taste
143 Playing The Fool (Live)
217 The Missing Piece
297 Civilian


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 145 other followers