Archive for September 23rd, 2010

Bahagia Berjamaah

September 23, 2010

JRENG!

Selamat pagi jal! piye kabare? Apik wae to? Semangat ra dino iki? Yen ora semangat, wis ..gak usah moco blog gemblunk iki! BBW! (buang-buang waktu). He he he …

Kalau saya, tentu semangat pol! Kayaknya gak ada pilihan hidup untuk “tidak bersemangat”; jadi ya mari kita nikmati ajalah perjalanan hidup ini … Oooo Oooo .. Oooo (pake melodinya Ebit G Ade ya. Kalau belum, tolong diulang …”Oooo .. Ooo .. …. Perjalanan ini …). Wis pokoke ngawur pol, ora ono hubungane blas karo judul tret iki.. Ha ha ha ha ha ….

OK, let’s talk business jal!

Critanya gini… Kemarin sore sampe malem, saya dan beberapa temen saya yang tergabung dalam perusahaan keren bernama Value Quest (VQ) mengadakan visioning session. Menarik sekali pokoknya, kita bicara tentang passion, values, vision, dream : pokoknya semua hal tentang bagaimana me-ngeprog-kan perusahaan konsultan bisnis yang sama-sama kita cintai ini. Saya fasilitasi teman2 tersebut untuk mencapai visi ke depan yang jelas dan meraihnya dengan semangat tinggi, terlepas semua permasalahan dan tantangan yang “pasti” ada (karena kita hidup di dunia, masih belum di surga. Kalau mau gak ada masalah, pergi aja ke surga! Kalau mau ke surga, kerjakan aja shalat menjalankan perintahNya dan bayar zakat. Insya Allah nyampe surga kok. Gampang to? Gak mungkinlah mosok Allah subhannahu wa ta’ala yang menyayangi umatNya akan membuat sulit. Pasti semuanya gampang, namun jangan digampang-gampangin, misalnya dengan meninggalkan shalat BMW. Gitu loh jal! Lha iki piye to, kok malah ngomongin surga segala. Karepe arep ngomong opo to Gatot iki? Kok berliku-liku koyok “Supper’s Ready” ngono? Yo ben lah! Sing penting PROG lah jal! yo ra?).

Dalam visioning session tersebut (wuih! Gaya pol ,…istilahe sok di-Harvard-kan padahal mung perusahaan gurem sing dibangun karo wong cilik saka Mediyun. gaya tenan, mosok wong Mediyun ngomong “visioning”? Opo tumon?!!!) saya minta temen2 mengartikulasikan Value Quest bak seekor binatang dengan sifat2nya (tentu yang baik). Wuih menarik sekali … ada yang membayangkan kuda karena lari cepoat dan tanpa lelah; rajawali karena selalu terbang tinggi tapi tajam menangkap peluang bisnis meskipun berada di darat bukan di udara; ada lebah karena lebah makan sesuatu yang baik dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi manusia yaitu madu; terus ada yang bilang anjing karena loyal. Keren gak jal? Kalau sampeyan gak bilang keren, berilah kesempatan kepada saya buat bilang bahwa itu keren pol markopol! Saya sih puas dengan proses visioning tadi malam. Karena ini membicarakan strategic plan (wuih gaya maneh jal!) saya gak berharap tadi malem semuanya kelar, tapi one thing was very clear came out from the meeting: we share the same passion to excel and to succeed! That’s enough to boost our effot! (Gaya maneh.. sok keminggris padahal mung wong cilik saka Mediyun wae lho jal!).

Opo hubungane?

Tentu ada hubungannya. Every single event in the universe is interconnected one to another – and I do believe in this! dasar aku ngaku wong prog, maka saat temen baik saya menyebut simbolisasi anjing sebagai tanda loyal, pikiran saya langsung ke pelajaran Matematika dari Pak Tamin (guru SMA 1 Madiun) saat saya sekolah dulu. Anjing termasuk dalam set (atau himpunan) binatang yang bahasa Inggrisnya adalah “Animal”. Lha jelas kata ini sedang hot kita bahas di dalam blog gemblunk ini terkait dengan album keren dari Pink Floyd. Ngomongin Pink Floyd, saya terus inget salah satu lagu di album Wish You Were Here yang saya suka bertajuk “Have A Cigar” yang juga dibawakan oleh Foo Fighter juga.

Inilah yang membawa saya ke perenungan (serius mode: ON). Lagu ini berkisah tentang kekesalan Pink Floyd terhadap industri musik (label) yang suka memaksakan kehendak demi kepentingan uang. Dalam salah sebuah forum diskusi di dunia maya ada yang mengatakan bahwa label PF waktu itu nagih album yang sukses seperti Dark Side of The Moon. Makanya makna album cover WYWH adalah orang yang salaman dimana salah satunya dengan baju terbakar karena tekanan. Ibaratnya yang baju terbakar itu adalah salah satu dari Roger waters, David Gilmour, Nick Mason atau Rick Wright. Kira-kira begitu. Di sini jelas adanyta perbenturan dua nilai yang berbeda: label menginginkan uang besar, sementara anggota band menghendaki idealisme dan kreativitas dalam berkarya. Makanya business deal nya gak imbang lagi, dengan baju yang terbakar tadi.

Pink Floyd Wish You Were Here album cover

Lagu dengan semangat yang sama juga dilantunkan oleh Queen di track pembuka album fenomenal mereka “A Night at The Opera”. Yak! kalau ANda penggemar Queen pasti tahu kalau yang saya maksud adalah “Mati Ngadeg” alias “Death on Two Legs” bahasa Jawanya. Kebayang gak kalau dua kaki kita lumpuh? Itulah yang mereka (Queen) keluhkan dalam hubungan mereka dengan label. Padahal secara musikal saya suka banget lagu ini karena semangat sekali nuansanya. Tapi kalau disimak liriknya menyedihkan karena berisi ungkapan kekesalan Queen “Death on two legs, you are tearing me apart …” thong thong thong theng theng “Death on two legs ..” wuih jan gagah pol ini lagu! Tanpa merendahkan keindahan komposisi hit mereka Bohemian Rhapsody, kalau ditanya lagu favorit saya di album ini justru Death on Two Legs dan The Prophet’s Song (lagu aik buat dakwah nih…).

Queen A Night At The Opera album cover

Setelah ngomong ngalor ngidul, apa sih poin nya? Hanya satu hal .. Dalam segala hal yang kita lakukan, apa ndak elok hidup ini kalau kita bisa menciptakan kebahagian secara berjamaah. ARtinya, mbok yao antara label sama musisi itu jangan saliong memaksakan kehendak. Dunia musik adalah jelas dunia seni, perlu eksplorasi pemikiran dan kreativitas, jangan digandoli lagi bahwa “kudu sukses”. Urusan sukses harusnya dipikir sebagai outcome saja. Toh gak ada rumus yang mengatakan bahwa bila kreativitas tinggi maka tak sukses secara komersil. Steve Jobs dari Apple telah membuktikan bahwa ini tak benar. Lha, kenapa label itu tak mau berprinsip menciptakan bahagia berjamaah: kedua belah pihak senang dan bahagia.

Buat temen2 tercinta di perusahaan konsultan bisnis paling keren, Value Quest, ini senada dengan values kita untuk make everyone happy, seperti tadi malam kita bicarakan dalam visioning session di Cafe Cartel, gedung Djakarta Theater. Bukankah spirit perusahaan kita satu: selalu berusaha menciptakan “value” buat klien, buat konsultan dan buat bangsa Indonesia kita tercinta ini? Makanya namanya Value Quest yang pada dasarnya “the quest for value…”. Karena value selalu harus kita gali karena needs and expectations dari klien selalu berkembang sesuai perubahan jaman dan sesuai alur musik prog yang selalu berliku namun selalu maju. Majulah PROG! (kata mas Edigimo).

Kalau saja saya seorang musisi, saya akan bikin album bertajuk VALUE yang di perusahaan kita telah kita definisikan sebagai: Vision and Action Lead Us to Excellence. That’s what VALUE means to our business. Our business is our life. Let’s nurture our business. Let’s get rid off single-mindednes in doing the business. Let’s make our stakeholders happy … Mari kita hindari hal2 seperti dikisahkan di “Have a Cigar” atau “Death on Two Legs”.

Keep on proggin’ …!

JRENG!

From the desk of

GATOT WIDAYANTO

Founder and CEO – Vale Quest Consulting

(opo hubungane karo blog iki? Ora opo-opo! Ben gaya sithik lah ,…)

Opo jan gak prog blas, ngomongin bisnis kok dicampur karo prog?! Lha yen ora prog opo ono perusahaan sing iso sukses? Wong ITB wae semboyane jelas kok: In Harmonia Progressio. Mulane aku matek2an pas nang Mediyun belajar keras ben iso kuliah nang perguruan tinggi paling progresip di dunia. Alhamdulillah atas ijin Allah, iso mlebu juga. Dadi yo sinau prog nang Bandung aku jal! Ha ha ha ha ha …. Yeah! ITB is the land of prog like Sweden …


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 144 other followers