Archive for September, 2010

Yang Baru Tiba di Meja Redaksi: Kamelot & Rhapsody of Fire

September 28, 2010

JRENG!

Baru buka segel. Kamelot gitu loh! Rhapsody juga keren nih!

“In a Glass House” by Gentle Giant

September 28, 2010

In a Glass House: 35th Anniversary Edition (Aniv)Gak tahu, apa di blog gemblunk ini ada yang maniak dengan band eksentrik ini. Saya sendiri kenal band ini justru dari kaset Pink Floyd “Dark Side of The Moon” rekaman Perina Aquarius hitam-putih dimana side B nya adalah album “Octopus” dari Gentle Giant. Sampai saya ingat bahwa setelah lagu The Great Gig In The Sky terus nyambung “The Advent of Panurge” dari album Octopus nya Gentle Giant.

Saat ini saya muat salah satu album fenomenal Gentle Giant bertajuk “In a Glass House” yang kebetulan beberapa tahun lalu saya beli CD remastered nya saat 35th anniversary. Edisi ini memang unik dan keren banget sleeve note nya.

Gimana pengalaman Anda dengan Gentle Giant? Silakan di komentari ya ….

Salam,

G

—–

Gentle Giant In A Glass House album cover

Studio Album, released in 1973

Songs / Tracks Listing

1. The Runaway (7:15)
2. An Inmate’s Lullaby (4:40)
3. Way of Life (7:52)
4. Experience (7:50)
5. A Reunion (2:11)
6. In a Glass House (8:26)

Bonus tracks on Remastered Edition:
7. The Runaway/Experience (live in Dusseldorf 9/23/76) (10:01)
8. In a Glass House (live in Munster 4/5/74) (9:49)

Total Time: 58:04

Bonus track on 35th Anniversary Edition:
7. Experience (live in Dusseldorf 9/23/76) (9:43)

Lyrics

Search GENTLE GIANT In A Glass House lyrics

Music tabs (tablatures)

Search GENTLE GIANT In A Glass House tabs

Line-up / Musicians

- Gary Green / 6 & 12 string guitars, mandolin, percussion, alto recorder
– Kerry Minnear / keyboards, tuned percussion, recorder, vocals
– Derek Shulman / vocals, alto sax, soprano sax, recorder
– Ray Shulman / bass guitar, violin, acoustic guitar, percussion, backing vocals
– John Weathers / drums, percussion

Releases information

2LP Alucard, UK (1973)
CD Alucard, alu-gg-02 (Remasted Edition) (2000)
CD DRT Entertainment, NY 10010 (35th Anniversary Edition) (2005)

Ini review saya di ProgArchives.com:

5 stars Finally, the long awaited 35th Anniversary Edition has recently been released with a new deluxe and elegant package and bonus live track. The package is covered with an external cardboard with Gentle Giant’s mascot : an old man face with bold head. When I received the CD from amazon couple of weeks ago, I was impressed with the package. The original artwork is still maintained inside the package, cover of the sleeve notes. The cover is made of plastic with a printed original artwork but it now looks like a negative film with picture in it (the artwork). It’s really nice. All lyrics of the tracks are printed nicely inside the sleeve. The disc itself is printed in black. Judging from the package itself I can see that with the CD price of USD 13.99 it’s worth owning this package.

Let’s talk about the record. From the sonic quality I can only say that this is excellent and better than the original CD version. All detail sounds, like the opening broken glass sounds that have characterized the music of Gentle Giant, can be heard excellently. The combination of Derek’s powerful voice and other instrument sounds can be heard very clear, transparent. Yes there is hiss especially during quiet passages but what can I do? It was originally recorded in the seventies – it’s probably the master has it already.

The music? Well, no one would argue about the brilliance of this critically acclaimed album. Through this album the band had pushed their music much more on avant-garde style while maintaining the key ingredients of Gentle Giant’s musical characteristics: excellent harmony of vocal / choirs and complex arrangements all songs featured in this album. “The Runaway” (7:15) which opens with broken glass sounds offers rich varieties of styles and textures combined with a complex rhythm section with intertwining guitar and keyboard works. It has become the band’s legendary track. The less popular “An Inmate’s Lullaby” (4:40) is the kind of avant-garde style played by the band combining vibraphone and vocal. “Way of Life” (7:52) is a song with hard driving rhythm, fast tempo and frequent tempo changes with guitar work during transition pieces.

“Experience” (7:50) is another excellent track with inventive keyboard combined with a complex arrangement of acoustic guitar played in speed. It’s quite complex track but it’s enjoyable – especially with this digitally remastered package where all details can be heard excellently. The structure of this track is also complex where it comprises many forms of music. I like especially when the music reaches in the middle of track where Derek sings in nigh register notes “Master inner voices, making any choices” followed with guitar solo and keyboard as rhythm. “A Reunion ” (2:11) has a great combination of acoustic guitar, violin and low register notes yet powerful vocal of Derek. “In a Glass House” (8:26) is another great composition featuring excellent harmony between all instruments used especially acoustic guitar, violin, clavinet and electric guitar. The choirs performed by Derek, Ray, Gary and Kerry are also top notch! But the strong point of this concluding track is its net composition and precise delivery by the band members. The bonus track is actually a combination of “The Runaway” and “Experience”. It’s performed excellently with a live ambient from the crowd in Dusseldorm who seemed very enthusiastic with the show. Sonic quality of the live bonus is excellent.

This remastered edition is highly recommended. Keep on proggin’ .!!!

Progressively yours, GW

“Now I am a man, I realise. My unworldly sins pained many lives. Yet I heard, heard with ears that wouldn’t listen. And still I watched and I saw with blinkered eyes.” – WAY OF LIFE.

Bahagia Berjamaah

September 23, 2010

JRENG!

Selamat pagi jal! piye kabare? Apik wae to? Semangat ra dino iki? Yen ora semangat, wis ..gak usah moco blog gemblunk iki! BBW! (buang-buang waktu). He he he …

Kalau saya, tentu semangat pol! Kayaknya gak ada pilihan hidup untuk “tidak bersemangat”; jadi ya mari kita nikmati ajalah perjalanan hidup ini … Oooo Oooo .. Oooo (pake melodinya Ebit G Ade ya. Kalau belum, tolong diulang …”Oooo .. Ooo .. …. Perjalanan ini …). Wis pokoke ngawur pol, ora ono hubungane blas karo judul tret iki.. Ha ha ha ha ha ….

OK, let’s talk business jal!

Critanya gini… Kemarin sore sampe malem, saya dan beberapa temen saya yang tergabung dalam perusahaan keren bernama Value Quest (VQ) mengadakan visioning session. Menarik sekali pokoknya, kita bicara tentang passion, values, vision, dream : pokoknya semua hal tentang bagaimana me-ngeprog-kan perusahaan konsultan bisnis yang sama-sama kita cintai ini. Saya fasilitasi teman2 tersebut untuk mencapai visi ke depan yang jelas dan meraihnya dengan semangat tinggi, terlepas semua permasalahan dan tantangan yang “pasti” ada (karena kita hidup di dunia, masih belum di surga. Kalau mau gak ada masalah, pergi aja ke surga! Kalau mau ke surga, kerjakan aja shalat menjalankan perintahNya dan bayar zakat. Insya Allah nyampe surga kok. Gampang to? Gak mungkinlah mosok Allah subhannahu wa ta’ala yang menyayangi umatNya akan membuat sulit. Pasti semuanya gampang, namun jangan digampang-gampangin, misalnya dengan meninggalkan shalat BMW. Gitu loh jal! Lha iki piye to, kok malah ngomongin surga segala. Karepe arep ngomong opo to Gatot iki? Kok berliku-liku koyok “Supper’s Ready” ngono? Yo ben lah! Sing penting PROG lah jal! yo ra?).

Dalam visioning session tersebut (wuih! Gaya pol ,…istilahe sok di-Harvard-kan padahal mung perusahaan gurem sing dibangun karo wong cilik saka Mediyun. gaya tenan, mosok wong Mediyun ngomong “visioning”? Opo tumon?!!!) saya minta temen2 mengartikulasikan Value Quest bak seekor binatang dengan sifat2nya (tentu yang baik). Wuih menarik sekali … ada yang membayangkan kuda karena lari cepoat dan tanpa lelah; rajawali karena selalu terbang tinggi tapi tajam menangkap peluang bisnis meskipun berada di darat bukan di udara; ada lebah karena lebah makan sesuatu yang baik dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi manusia yaitu madu; terus ada yang bilang anjing karena loyal. Keren gak jal? Kalau sampeyan gak bilang keren, berilah kesempatan kepada saya buat bilang bahwa itu keren pol markopol! Saya sih puas dengan proses visioning tadi malam. Karena ini membicarakan strategic plan (wuih gaya maneh jal!) saya gak berharap tadi malem semuanya kelar, tapi one thing was very clear came out from the meeting: we share the same passion to excel and to succeed! That’s enough to boost our effot! (Gaya maneh.. sok keminggris padahal mung wong cilik saka Mediyun wae lho jal!).

Opo hubungane?

Tentu ada hubungannya. Every single event in the universe is interconnected one to another – and I do believe in this! dasar aku ngaku wong prog, maka saat temen baik saya menyebut simbolisasi anjing sebagai tanda loyal, pikiran saya langsung ke pelajaran Matematika dari Pak Tamin (guru SMA 1 Madiun) saat saya sekolah dulu. Anjing termasuk dalam set (atau himpunan) binatang yang bahasa Inggrisnya adalah “Animal”. Lha jelas kata ini sedang hot kita bahas di dalam blog gemblunk ini terkait dengan album keren dari Pink Floyd. Ngomongin Pink Floyd, saya terus inget salah satu lagu di album Wish You Were Here yang saya suka bertajuk “Have A Cigar” yang juga dibawakan oleh Foo Fighter juga.

Inilah yang membawa saya ke perenungan (serius mode: ON). Lagu ini berkisah tentang kekesalan Pink Floyd terhadap industri musik (label) yang suka memaksakan kehendak demi kepentingan uang. Dalam salah sebuah forum diskusi di dunia maya ada yang mengatakan bahwa label PF waktu itu nagih album yang sukses seperti Dark Side of The Moon. Makanya makna album cover WYWH adalah orang yang salaman dimana salah satunya dengan baju terbakar karena tekanan. Ibaratnya yang baju terbakar itu adalah salah satu dari Roger waters, David Gilmour, Nick Mason atau Rick Wright. Kira-kira begitu. Di sini jelas adanyta perbenturan dua nilai yang berbeda: label menginginkan uang besar, sementara anggota band menghendaki idealisme dan kreativitas dalam berkarya. Makanya business deal nya gak imbang lagi, dengan baju yang terbakar tadi.

Pink Floyd Wish You Were Here album cover

Lagu dengan semangat yang sama juga dilantunkan oleh Queen di track pembuka album fenomenal mereka “A Night at The Opera”. Yak! kalau ANda penggemar Queen pasti tahu kalau yang saya maksud adalah “Mati Ngadeg” alias “Death on Two Legs” bahasa Jawanya. Kebayang gak kalau dua kaki kita lumpuh? Itulah yang mereka (Queen) keluhkan dalam hubungan mereka dengan label. Padahal secara musikal saya suka banget lagu ini karena semangat sekali nuansanya. Tapi kalau disimak liriknya menyedihkan karena berisi ungkapan kekesalan Queen “Death on two legs, you are tearing me apart …” thong thong thong theng theng “Death on two legs ..” wuih jan gagah pol ini lagu! Tanpa merendahkan keindahan komposisi hit mereka Bohemian Rhapsody, kalau ditanya lagu favorit saya di album ini justru Death on Two Legs dan The Prophet’s Song (lagu aik buat dakwah nih…).

Queen A Night At The Opera album cover

Setelah ngomong ngalor ngidul, apa sih poin nya? Hanya satu hal .. Dalam segala hal yang kita lakukan, apa ndak elok hidup ini kalau kita bisa menciptakan kebahagian secara berjamaah. ARtinya, mbok yao antara label sama musisi itu jangan saliong memaksakan kehendak. Dunia musik adalah jelas dunia seni, perlu eksplorasi pemikiran dan kreativitas, jangan digandoli lagi bahwa “kudu sukses”. Urusan sukses harusnya dipikir sebagai outcome saja. Toh gak ada rumus yang mengatakan bahwa bila kreativitas tinggi maka tak sukses secara komersil. Steve Jobs dari Apple telah membuktikan bahwa ini tak benar. Lha, kenapa label itu tak mau berprinsip menciptakan bahagia berjamaah: kedua belah pihak senang dan bahagia.

Buat temen2 tercinta di perusahaan konsultan bisnis paling keren, Value Quest, ini senada dengan values kita untuk make everyone happy, seperti tadi malam kita bicarakan dalam visioning session di Cafe Cartel, gedung Djakarta Theater. Bukankah spirit perusahaan kita satu: selalu berusaha menciptakan “value” buat klien, buat konsultan dan buat bangsa Indonesia kita tercinta ini? Makanya namanya Value Quest yang pada dasarnya “the quest for value…”. Karena value selalu harus kita gali karena needs and expectations dari klien selalu berkembang sesuai perubahan jaman dan sesuai alur musik prog yang selalu berliku namun selalu maju. Majulah PROG! (kata mas Edigimo).

Kalau saja saya seorang musisi, saya akan bikin album bertajuk VALUE yang di perusahaan kita telah kita definisikan sebagai: Vision and Action Lead Us to Excellence. That’s what VALUE means to our business. Our business is our life. Let’s nurture our business. Let’s get rid off single-mindednes in doing the business. Let’s make our stakeholders happy … Mari kita hindari hal2 seperti dikisahkan di “Have a Cigar” atau “Death on Two Legs”.

Keep on proggin’ …!

JRENG!

From the desk of

GATOT WIDAYANTO

Founder and CEO – Vale Quest Consulting

(opo hubungane karo blog iki? Ora opo-opo! Ben gaya sithik lah ,…)

Opo jan gak prog blas, ngomongin bisnis kok dicampur karo prog?! Lha yen ora prog opo ono perusahaan sing iso sukses? Wong ITB wae semboyane jelas kok: In Harmonia Progressio. Mulane aku matek2an pas nang Mediyun belajar keras ben iso kuliah nang perguruan tinggi paling progresip di dunia. Alhamdulillah atas ijin Allah, iso mlebu juga. Dadi yo sinau prog nang Bandung aku jal! Ha ha ha ha ha …. Yeah! ITB is the land of prog like Sweden …

Kaset Randy California versi Yess

September 20, 2010

JRENG!

Siapa bilang Yess selalu ngeprog? Buktinya kaset Randy California “Restless” yang gak prog ini. Saya gak tahu kenapa pertimbangannya sampai Yess memproduksi kaset ini. Memang harus diakui bahwa permainan gitar Randy ini bagus dan piawai memainkan jari di fret. Dulu saya suka nyetel track kedua yang bertajuk “Shane”. Wah keren nih lagu, ngerock abis. Tadi malam saya nikmati kaset ini, ternyata lagu-lagunya OK punya lho. Memang ada prog nya, tapi gak banyak. Neil Murray main di sini lho.

Musiknya gak prog, tapi keluaran YESS gitu loh!

Daftar lagunya. SHANE asik banget. Ngerock abisz! Neil Murray main lho ... Opo ora top to jal?!

Ada yang bisa cerita tentang Randy California ini? saya gak tahu blas ….!!

Salam,

G

“Episode Jingga” – SAS

September 20, 2010

Gak tahu ada angin apa kok tahu2 tadi malem pengen nyetel kaset. Karena begitu buka rak kaset yang keliatan SAS “Episode Jingga” maka saya putarlah kaset ini. Wah… Rasanya nikmat menikmati musik dari sumber analog karena selama ini terbiasa menikmati dari sumber digital yang kering. Dan ternyata kaset ini rekamannya masih OK banget, bass nya empuk, treblenya kemrinchink dan suara midrange vokal nya juga mantap jernih. Klop lah pengalaman menikmati kaset ini.

Kemasan kaset SAS "Episode Jingga"

Inlay cover nya ada pesan dari Arthur. Mereka begitu produktif ya bikin album. Kemana aja ya? Musti dibuat CDnya nih ...

Daftar Lagunya ...

Biasanya dulu saya hanya nyetel lagu kedua side A yang bertajuk “rudal” karena ngerock abis. Tadi malem saya coba menikmati dari awal. Lucu juga track pembukanya berbuansa slow-rock sederhana bertajuk “Aku Cinta Gadis Indonesia”. Secara emosional gak ada yang menarik banget dengan track pembuka ini namun cukup mengobati kerinduan masa lalu. Secara komposisi juga biasa saja track pembuka ini. Namun ya itu tadi, karena nuansamatik nya aja yang membuat lagu pembuka ini menarik.

Sunatha - Arthur - Syech

Yang bener2 menohok sukma itu track kedua “Rudal” yang menurut saya gagah pol. Sungguh, saya bangga memiliki band SAS yang kualitas musiknya bisa dibanggakan ini. Diawali dengan sound effects yang mencerminkan nuansa peluru kendali melalui suara gitar dan kibor, musiknya mengalir begitu indah dengan betotan bass guitar yang solid dari Arthur Kaunang dan permainan lincah gitar listrik dari Sunatha Tandjung. Saya senang pas dibagian interlude dimana bass gitar dan gitar listrik sahut menyahut seperti John Deacon dan Brian May main di Brighton Rock nya Queen. tentu, musiknya beda dan “Rudal” ini bagi saya terasa orisinil dari segi komposisi dan melodi. Wah pokoke jan ciamik lagu iki!  Meski dari segi kualitas masih dibawah “Musisi” atau “Trauma” nya GodBless, namun lagu ini sungguh sangat patut dibanggakan! Gak prog sih, tapi ngerock pol!

Salam,

G

Apple – Kafe Prog di Jombang

September 19, 2010

JRENg!

Bagi yang pengen tahu “prejengan” kafe progrock di Jombang, ini ada beberapa fotonya:

Dinding depannya penuh dekorasi prog

Salah satu sudut di Apple Cafe - ada poster Dream Theater

Pengunjung di Apple Cafe - menikmati hidangan sambil manthuk-manthuk mendengarkan musik Spock's Beard, Transatlantic, The Flower Kings etc. yang selalu diputer. Maaf, gak punya koleksi lagu "menyek-menyek" jal!

"Majulah PROG!", kata mas Edigimo, pemilik Apple Cafe, Jombang sing jan ngeprog pol! Pokoke mboys tenaaaan ...!!!

Pokoknya kalau lagi ke Jatim, silakan mampir kafe yang hanya nyetel musik progrock ini … Top dah!!!

Salam,

G

Kaset Esperanto versi Yess

September 17, 2010

JRENG!

Gara-gara Pink Floyd, terus semuanya pada membahas kaset jadul versi bajakan terutama versi Yess. Lha ini saya nemu kaset koleksi antik dari band multi-national bernama ESPERANTO. Saya mengenal band ini ya dari mana lagi kalau gak dari Yess. Coba aja Anda bayangkan, betapa besar jasa Yess dalam mempropagandakan (biyuh! koyok orde baru wae!) musik prog ke seantero nusantara. Wis jiyaannn … Yess iki jan paling top markotop!!!

Dulu ya tahunya dari lagunya The Beatles “Eleanor Rigby” yang dibawakan begitu prog-nya oleh Esperanto ini. Di kaset ini juga ada album “Dance Macabre” juga …

Kaset saya ini masih mulus kuminchlong .. Seneng melihatnya.

Studio Album, released in 1975

Songs / Tracks Listing

1. Eleanor Rigby (7:43)
2. Still Life (7:27)
3. Painted Lady (3:26)
4. Obsession (4:33)
5. The Rape (12:07)
6. Last Tango (3:29)
…Bonus tracks on Si-Wan cd release:
7. In Search Of A Dream (4:45)
8. Busy Doing Nothing (3:44)

Total Time: 47:14

Lyrics

Search ESPERANTO Last Tango lyrics

Music tabs (tablatures)

Search ESPERANTO Last Tango tabs

Line-up / Musicians

- Timothy Kraemer / cello
– Bruno Libert / keyboards
– Gino Malisan / bass
– Tony Malisan / drums
– Roger Meakin / vocals
– Kim Moore / vocals
– Geoffrey Salmon / 2nd violin
– Raymond Vincent 1st violin

Releases information

LP A & M AMLS 68294 / LP A & M SP 4524 / CD Pony/Canyon PCCY-10178 (1991) / CD Si-Wan SRMC 5015 (2001)

Ini review saya untuk album “Last Tango”.

5 stars I have never been a big fan of The Beatles but of course I knew some of their songs. When I heard ELEANOR RIGBY performed by ESPERANTO – it blew me at first listening! Wow!! What a wonderful and neat arrangement this band has made. The intro part (keyboard sound without other instruments) reminds me to EARTH and FIRE’s “To The World Of The Future” but it’s totally different thing when all instruments are played together. It’s so uplifting and full of energy that even I could not remember the original melody of the song, really. The arrangement really struck me. I love the domination of violin and cello in this arrangement. Even, having heard various versions of ELEANOR RIGBY to-date, I still consider that the one produced by ESPERANTO is THE BEST! The second version that I like is the one performed by my home country rock band GOD BLESS in their debut album 1976.

For those of you who never heard any music of this band, I want to brief you the kind of music they play. It’s actually tough to describe any association or reference of “the like” about their music. Definitely it is NOT like KANSAS (violin-based prog rock) or RENAISSANCE (female vocal). Probably, I would describe it “similar” (not really) with Dutch’s EARTH and FIRE. The only difference is in the heavy violin and cello that ESPERANTO uses. Hope you can picture the music of the band in your mind. Well, if in 70’s prog we knew the name of VAN der GRAAFF GENERATOR who experimented with saxophone to replace guitar, ESPERANTO was the one who replaced guitar with violins and cellos. It’s a great experimentation.

I first knew the band from this album. Later, I found out the two previous albums of this MULTI NATIONAL band. Yeah, they are all citizens of the world with different nationality: English (Timothy Kraemer and Geoffrey Salmon), Belgian (Raymond Vincent and Bruno Libert), Belgian/Italian ( Gino & Tony Malisan). Well, music is universal man ..!

I enjoy every track of this album. It has a very strong songwriting and musicianship. Having considered these only, it’s enough for me to forget the mediocre sound production (hey, it’s 1975 man .. don’t expect too much!). I consider this album is legendary and MUST HAVE for any of you really want to explore various kinds of prog.

“Still Life” is an energetic song with great blend of violin and bass guitar sounds at the intro part. The upbeat tempo is combined nicely with female vocal voice and great piano fills. Violins and cellos accentuate the textures of the song.

“Painted Lady” is a relatively short song (3:26) with poppy touch. The beauty is that it does not flow as typical pop song, it’s a little bit heavier. This track has little touch of violins / cellos, only at the interlude. Keyboard flows with the music.

“Obsession” is a relatively slow tempo song with great vocals. The keyboard sound plays nicely at background to form a sort of orchestration. Very enjoyable. I especially like the orchestration by violins and cellos in the middle of the song.

“The Rape” is an epic (12:07) that is my second favorite after “Eleanor Rigby”. The arrangement is so powerful. The intro part reminds me to KANSAS, actually, but not really when the music flows to the body of the song. This is accentuated with a ELP-like keyboard play. The violin and cello orchestration has enriched the composition of intro part. Very very interesting intro. I used to play my stereo set loud during this intro to create a symphonic nuances of listening pleasure. Observe when the vocal part enters the play (followed by dazzling violin & cello sound)! It’s stunning!!! The melody changed dramatically (with smooth transition!) when the RICK WAKEMAN-like keyboard sound starts to roll in. Ghusszzz … so beautiful!

“Last Tango” is a piano-based song with excellent vocal and melody. This track is well positioned to conclude the album. The violin and cello are used sparingly in this track. Really cool.

Oh man .. don’t waste your time reading my review! Just PURCHASE the CD and enjoy yourself! You would hardly regret with this record. I’m not that naïve if I give this album with FIVE STAR as this is a masterpiece. – Gatot Widayanto, Indonesia.

Kaset Pink Floyd versi Yess

September 15, 2010

JRENG!

Guna memperjelas situasi perkasetan nasional khusunya untuk grup legendaris Pink Floyd keluaran label Yess, Bandung, berikut ini adalah daftarnya dari yang saya miliki:

004 Ummagumma

007 Atom Heart Mother

028 Meddle

153 Animals

277 The Wall

384 The Wall Recorded Live – Volume 1

385 The Wall Recorded Live – Volume 2

443 The Final Cut

690 A Momentary Lapse of Reason

Kaset Pink Floyd versi Yess, Bandung

Tak jelas apakah Yess mengeluarkan “Wish You Were Here” atau tidak karena saya tak memilikinya. Kalau mereka mengeluarkan, berarti ilegal karena tak melalui approval process dari saya (emang gw siapa jal?!). Album tersebut saya miliki justru dari rekaman Perina Aquarius. Tanya kenapa!

Demikian akan menjadi jelas kiranya bagi kalangan prog nusantara. meminjam istilah Pendekar Prog dari Jombang, mas Edigimo: MAJULAH PROG!

Salam,

G

____

UPDATED 17September 2010:

Berikut ini adalah kaset Pink Floyd mas Kristanto versi Yess:

Di bagian dalamnya penuh graffiti dan tempelan dari majalah Aktuil – termasuk cover album Jon Anderson “Animation” ya mas Kris?

Nuansamatik tenan!!!

Merajut Makna Melalui Prog Rock (25 of 99)

September 13, 2010

Dogs by Pink Floyd

JRENG!

Kristanto Says:
September 11, 2010 at 2:21 pmReply edit

Mas Gatot, monggo lho menawi badhe ngarcip
“Animals” dan atau “Wish You Were Here”,
spertinya pada nunggu giliran di-arsip tuh …

Berdasarkan komen mas Kris di atas (dari tret sebelumnya) dan dipicu beberapa kejadian yang menyebabkan saya merasa terpanggil untuk mengulas Pink Floyd. Apakah hal ini semuanya suatu kebetulan, saya gak tahu pasti. Yang jelas, secara gak sengaja lagu “Dogs” dari Pink Floyd album “Animals” kok belakangan ini sering keputer di iPod saya, termasuk pada saat saya nyetel sambil menemani nyapu ngepel pagi tadi. Ah kenapa tidak dibahas sekalian? Tul nggak? Sekalian mancing pendapat temen-temen sekalian, biar ini tret rame komentar, meyemarakkan lebaran saat ini.

Album Animals memang banyak kritisi musik yang berpendapat ‘underrated’ karena banyak yang tak menganggap album ini dahzyat. Mungkin orang masih berharap sesuatu yang senada dengan Dark Side of The Moon yang fenomenal itu, atau Wish You Were Here yang mengesankan. Tapi ya begitulah yang namanya musik prog, selalu berubah dan berkembang. Mereka yang berharap akan adanya tembang “The Great Gig In The Sky” gak mendapatkannya lagi di album ini.

Meski banyak yang menginterpretasikan album ini dengan referensi buku George Orwell bertajuk Animal Farm dengan sosok-sosok binatang di buku tersebut, namun ada yang mengatakan bahwa Roger Waters tak sepenuhnya mendasarkan pembuatan album ini dari buku klasik tersebut. (Silakan baca disini). Bagi saya, album ini memorable karena agak nyleneh dari pakem musik Pink Floyd sebelumnya terutama lagu “Pigs” yang upbeat namun ada psikedeliknya juga.  Album ini saya beli dari kaset rekaman Pernia Aquarius warna kuning dengan side B nya Symphonic Slam nan nuansamatik itu.

Tamaknya Pebisnis

Dengan adanya tiga tokoh sentral anjing, babi dan rusa maka cukuplah kiranya album ini menggambarkan kehidupan peradaban dunia dewasa ini. Secara musikal saya terkesan dengan “Dogs” yang komposisi dan melodinya begitu menarik, apalagi dibalut dengan lirik yang terasa pas dengan musiknya. Bahkan pada review saya di Prog Archives saya berani mengatakan seperti ini:

With only one song “Dogs” I dare to give a recommendation to all of you that you should have owned this album. Why? This track is terrific, ie. It has an excellent music flow, great composition with a very tight structural integrity whereby the blend of melodies are composed in such a way that can lift up your emotion. The changing tempo is controlled in a manageable way, there is no sudden change as the transitions between musical segments are crafted smoothly by the band.

Saya rasa Anda sependapat dengan saya tentang Dogs nan nuansamatik. Lha kalau ndak sependapat, gak usah diterusin bacanya, ntar tambah kesel.

Lagu ini menggambarkan tentang ketamakan manusia yang terlalu berorientasi kepada dunia seperti digambarkan pada larik pertama liriknya:

You gotta be crazy, you gotta have a real need.
You gotta sleep on your toes, and when you’re on the street,
you gotta be able to pick out the easy meat with your eyes closed.
And then moving in silently, down wind and out of sight,
you gotta strike when the moment is right, without thinking.

Sering kali manusia menyembunyikan maksud sebenernya (real need) dari tindakan yang dilakukan. Hal ini terutama berlaku bagi business-man yang memiliki agenda terselubung dan bekerja keras (sleep on your toes, and when you’re on the street) seperti anjing yang dengan mudah mendapatkan makanannya (to pick out the easy meat with your eyes closed). Seringkali dilakukan dengan cepat tanpa banyak pikir. (when the moment is right, without thinking).

Larik bait kedua lebih berorientasi kepada bagaimana perilaku pebisnis dalam membangun trust dengan koleganya dan bagaimana bila mereka membelot:

And after a while you can work on points for style,
like the club tie and the firm handshake,
a certain look in the eye and an easy smile.
You have to be trusted by the people that you lie to,
so that when thy turn their backs on you,
you’ll get the chance to put the knife in.

Kalau perlu, pembelot pun dibunuh.

Larik ketiga mengingatkan bagaimana akhir dari perjalanan bisnisnya yang terasa makin lama makin berat dan meninggal kena kanker:

You gotta keep one eye looking over your shoulder.
You know it’s going to get harder, and harder and harder as you get older.
And in the end you’ll pack up and fly down south,
hide your head in the sand,
just another sad old man,
all alone and dying of cancer.

Mengingatkan Kehidupan Akhirat

Setiap segmen musik di Dogs memang menawan, baik itu yang dengan maupun tanpa lirik, termasuk bagian interlude yang pada dasarnya hanya alunan keyboard dan efek disertai gonggong anjing di waktu malam beserta genjrengan gitar akustik. Bagian yang paling menyentuh dari segi pemaknaan lirik bagi saya adalah saat lirik ini:

And when you loose control, you’ll reap the harvest you have sown.

Jelas, lirik ini merupakan peringatan sekaligus berfungsi sebagai ajakan berbuat kebajikan, tergantung dari perspektif mana Anda melihatnya. Dikatakan peringatan karena kita diajak untuk mengendalikan emosi, bersabar, tidak kehilangan kendali (loose control). Hasilnya akan kemudian Anda petik sendiri di kemudian hari (reap the harvest). Saya melihatnya dari segi balasan terhadap apa yang kita lakukan, baik itu kebaikan maupun kejahatan PASTI semua ada ganjarannya. Hal ini secara tegas di Al Quran surah Az-Zalzalah (99) : 7-8 berikut:

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْراً يَرَهُ

99.7. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.

وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرّاً يَرَهُ

99.8. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.

Dengan kata lain Pink Floyd mengajak kita untuk melatih mengendalikan diri terutama dari emosi kita; jangan sampai kita kehilangan kesabaran. Mengingat semua kesenangan di dunia ini sebenarnya memperdayakan, sedangkan kehidupan akhirat itu kekal. Jangan sampai kita tergelincir ke dalam neraka jahanam dari buah perbuatan kita selama hidup di dunia (dragged by the stone).

Al-‘Imran (3) : 185

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَما الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ

3.185. Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.

Salam,

G

Selamat Iedul Fitri 1431H

September 11, 2010

Assalamualaikum wr wb.

Masih dalam suasana lebaran, redaksi dan staff Music for Life mengucapkan:

SELAMAT IEDUL FITRI 1431 H

Maaf atas semua khilaf lahir maupun batin.

Terima kasih masih berkomentar di blog gemblunk ini …

Wass,

Redaksi Music for Life

Baju yang terbakar, diibaratkan sebagai dosa-dosa yang terbakar karena sebulan penuh beribadah di bulan Ramadhan 1431H. Amin. (ngeprog sih sebenernya gak dosa, namun kalau sampe meninggalkan ibadah dan dzikrullah, akhirnya jadi dosa dan perbuatan sia-sia…)



Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 151 other followers