Archive for August, 2010

GodBless – Jakarta, Here We Come!

August 10, 2010

Sekali lagi, Redaksi mengucapkan beribu terima kasih kepada pak Alfie yang menyumbangkan artikel indah nuansamatik kemlitik tanpa rematik ini … Sejatinya semua artikel beliau (termasuk AKA, SAS) yang sudah berjumlah ratusan halaman akan diterbitkan dalam sebuah buku. Rupanya penerbitnya kurang prog pemikirannya, jadi ya cukup di “Music for Life” kan saja … Hebat pak Alfie ini! Top markotop kemlotop barokotop Toyota hardtop nyemplung nang got cak! Salam prog abiszz!!! – GW

—————–

Oleh: MH Alfie Syahrine

Pada era dekade 1970-an Kota Jakarta sebagai Ibukota negara banyak melahirkan group-group band antara lain,God Bless, Gypsy, Bigman Robinson,Fancy

,Bad session, Rasela, Zonk,Hookerman, Equator Child,Ireka Lime Stone,Cockpit Rhadows dll namun hanya ada beberapa saja yang menonjol pementasannya di panggung  dan tercatat dalam sejarah musik rock di Tanah Air seperti :

God Bless

Hanya Dengan Sekali Gebrak

Mungkin kalimat itulah yang pertama ada dibenak Achmad Albar manakala dia kembali dari pengembaraannya di negeri kincir Belanda  dan sukses membentuk group Clover Leaf disana, dan setelah sepuluh tahun di Belanda  dia-pun  kembali ke Indonesia serta mengajak iparnya Fuad Hassan dari The Pro’s . Bersama Ludwig Le mans, gitaris Clover Leaf, bandnya Iyek (panggilan akrab Achamd Albar) ketika masih di Belanda, Iyek lalu mengajak Fuad Hassan ( ex The Pro’s,Drum), Donny Fattah (ex Fancy,Bass) dan Yongkie yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Yockie Suryoprayogo (ex  Zonk & Fancy,Keyboard) untuk membentuk sebuah band dengan nama Crazy Whells yang lalu berubah menjadi God Bless sebuah nama yang berasal dari kartu ucapan natal sebagai nama group mereka dan formasi ini langsung stationing di Puncak untuk berlatih. Tanggal 5-6 Mei 1973, untuk pertama kalinya God Bless tampil di depan  Theater Terbuka Taman Ismail Marzuki dengan berekperimen berbagai macam kemunculan termasuk dengan menggunakan peti mati . Selain itu Albar menggunakan mayat hidup yang membawakan lagu nurlela adalah sebagai semacam peringatan bagi pemusik-pemusik yang bisanya hanya “membeo” dan menerima apa adanya. Scahmmy Tampangoema yang menjadi setan laki-laki dalam  pementasan God bless bertanya kepada Ahmad Albar, mengapa memakai peti mati dan mayat. Schammy mendapat jawaban bahwa hal itu dilakukan hanya sekedar meramaikan pertunjukan saja .Hanya dengan sekali gebrak  penopnton Jakarta sudah dapat ditundukkan, pementasan itu mendapat sambutan yang sangat antusias dari para remaja Ibukota saat itu karena baru kali ini mereka mendapatkan pertunjukan rock yang lain, elite dari segi performa  maupun atraksi panggung.

Yongkie Cabut !.

Namun  tidak lama setelah itu, Yongkie keyboardist berbakat yang mereka andalkan keluar dan hijrah ke Bandung bergabung dengan Benny Soebardja dalam membentuk group Giant Step dan posisinya digantikan oleh Deddy Dores keyboardist Freedom of  Rhapsodia yang penampilan dan gaya panggungnya memang first class, Deddy ditarik Albar untuk memperkuat God Bless .

God Bless Formasi  II 1973, formasi yang paling digandrungi para remaja

Formasi  II ini pada tanggal 16 Agustus 1973 diuji dengan mengikuti pentas musik Summer 38 acara ini berkaitan dengan HUT RI yang ke 38  semacam pentas Woodstock  ala Indonesia di Ragunan Pasar Minggu, Jakarta Selatan  yang diikuti berbagai group dari Indonesia, Malaysia dan Philipina.Pada malam itu sempat terjadi pula kerusuhan pada pementasan musik tersebut karena sebenarnya pagelaran akbar itu bukan pementasan musik rock semata oleh karenanya ada band-band lain seperti The Gangs Of Harry Roesli, The Rollies,The Singers, Los Marenos dan God Bless serta group lainnya, tetapi karena  banyaknya group  rock yang tampil dan menyebabkan citra musik rock sangat kuat dalam pementasan itu, God Bless berhasil memikat hati para penonton dengan muka dicoreng-moreng warna-warni ala hippies mereka menggebrak panggung dengan leluasa karena mereka mendapat sambutan yang meriah dari penonton. Pada malam itu perhatian penonton nyaris tertuju hanya pada group elit  yang di gawangi oleh si kribo Achmad Albar yang begitu dahsyat  menghipnotis perhatian kaum muda dengan permainan dan gaya panggungnya.

Keberhasilan God Bless malam itu seolah-olah menenggelamkan sajian musik dari group musik Fly Bait dari Singapura yang tampil seadanya tanpa permainan yang greget- tanpa keistimewaan yang diharapkan penonton sebagai band luar negeri hal ini menciptakan salah satu penyebab kerusuhan di malam itu.

Kerusuhan = Salah Satu Alat Publikasi

Namun bukan itu saja kerusuhan yang terjadi waktu God Bless manggung . Ketika pertunjukan God Bless di lapangan basket kota Malang pada tanggal 4 Agustus 1974 dalam rangka tour pertunjukannya ke Jawa Timur memakan korban luka-luka. Banyak dari penontonnya yang rata-rata adalah kaum muda berdesak-desakkan ingin masuk lebih dahulu ke dalam lapangan, sehingga penonton yang berada pada bagian depan yang sudah berada di pintu bagian depan berjatuhan tidak kuat menahan desakan dari belakang. Pihak panitia dan keamanan tidak kuasa membendung arus penonton yang datang begitu banyak ke tempat tersebut. Walaupun pertunjukan musik God bless belum dimulai, tetapi korban yang jatuh sekitar 20 orang lebih dan banyak di antara mereka tidak sadarkan diri. Melihat seringnya terjadinya kerusuhan penonton dipertunjukan musik,Ahmad Albar menyatakan , ”Saya tidak mengerti, mengapa penonton suka membuat keributan, tetapi berdasarkan atas laporan-laporan, kebanyakan yang buat keributan itu merupakan sebagian kecil penonton yang sengaja mencari keributan. Susah untuk memisahkan penonton yang sengaja menonton musik dengan penonton yang seperti itu.”

Pada formasi ini order manggung God Bless luar biasa banyaknya nyaris tidak tertangani karena banyak anak-anak muda penasaran ingin melihat massive-nya permainan gitar Ludwig Le Mans dan gaya Achmad Albar bernyanyi, keagresifannya Deddy Dores dibelakang keyboardnya, kedahsyatan gebukan Fuad  Hassan serta kelincahan permainan bassnya Donny Gagola di panggung.

Memang tidak dapat disangkal masing-masing individu di God Bless sangat solid permainannya dengan kemampuan diatas rata-rata disamping gaya panggung mereka yang sangat hidup yang dapat menghipnotis mata para penonton hingga tidak salah kalau saat itu dikatakan ‘God Bless is the best !’. Aktivitas group  hard rock ini  menjadi semakin padat dengan jadual pentas dibeberapa kota besar di Indonesia. Malahan, pada akhir Agustus ’73 di Gelora Saparua ,Bandung,group rock God Bless sempat tampil bersama group The Gangs Of Harry Roesli serta Band Bentoel (malahan kala itu, Ian Antono masih sebagai ‘drummer’ group rock asal Malang tersebut sebelum bergabung dengan God Bless pada tahun 1975).

Waktu itu Ahmad Albar dengan group-nya itu berkibar di atas panggung dengan membawakan lagu-lagu dari group musik Deep Purple, Led Zeppelin, Kansas, dan Yes. Dalam pertunjukan panggungnya Ahmad Albar berbeda dari Ucok AKA. Ahmad Albar dalam pertunjukannya ramah menyambut  lambaian setiap penonton yang ingin sekedar bersalaman, baik itu laki-laki maupun wainta, Albar memang sangat komunikatif dan  seorang yang familiar dengan para penontonnya.

Selain mempelopori penggunaan efek asap yang berasal dari dry ice di atas panggung, group ini juga banyak melahirkan ide-ide baru yang sederhana di atas panggung, misalnya penggunaan lonceng besar ala ELP yang diletakkan di belakang perangkat drum, pohon-pohon tiruan yang dibalut dengan timah yang memberikan suatu efek halusinasi yang berbau mistik. Seperti penampilan perdana mereka  di TIM dan dalam memperingati 100 hari wafat Fuad  Hassan dan Soman Lubis di Istora Senayan tahun 1974. God Bless memulai pertunjukan dengan suara disertai kepulan asap dari belakang drum serta gelembung-gelembung sabun yang beterbangan dari kipas  yang ada di atas pentas. Penggunaan Efek asap yang berasal dari dry ice juga dilakukan pada pertunjukan God Bless di Padang. Begitu juga dengan pertunjukan musik God Bless di Yogyakarta yang juga menggunakan efek asap dari dry ice dan kebanyakan lagu-lagu yang dibawakan dalam pertunjukan nyaris semuanya lagu-lagu berirama keras.

Tahun 1973-1975, boleh dibilang adalah masa puncak kejayaan God Bless di panggung. Kendati kerap mengusung lagu-lagu asing milik Deep Purple, ELP, Beatles, King Ping Meh, Queen, Edgar Winters , Jhonny Winters, James Geng, Yes hingga Genesis, dengan aksi panggung serta skill masing-masing porsonelnya  di atas rata-rata menjadikan setiap penampilangroup ini selalu dipadati penonton namun disayangkan Ludwig pulang kampong ketika God Bless sedang diatas puncak kejayaannya lalu Deddy Dores mengajak Soman Lubis untuk gabung ke God Bless kemudian Dores  menggantikan posisi  Ludwig memainkan guitar tapi tidak lama  berselang Deddy-pun cabut  juga dari God Bless, pulang pulang kandang dan masuk Giant Step, lalu masuklah Deddy Sutansyah yang baru hengkang dari Giant Step menggantikan posisi Donny yang menjadi lead guitarist. Soman pada keyboard hanya sebentar disana kemudian cabut dari God Bless  yang harus bongkar pemain lagi karena di samping Soman Deddy Sutansyah-pun cabut pula dari group hard rock  itu yang mana hal ini membuat Albar kelimpungan lalu dia mengajak Odink dan Debby Nasution untuk bergabung. Pada tahun 1974 Soman Lubis dan Fuad Hassan tewas tertabrak truk di Pancoran Jakarta Selatan akhirnya posisi Fuad digantikan oleh Keenan Nasution.

Debby Nasution, Donny Fatah,Odink Nasution Fuad Hassan dan Iyek

Nasution Bersaudara ini sempat ataka satu tahun memperkuat God Bless serta mengadakan tour show dibeberapa kota seperti Jakarta,Bandung dan Padang dan Medan namun karena warna musik Nasution bersaudara lebih kencang kearah progressive rock maka kondisi ini menjadi kendala bagi God Bless yang lebih mengedepankan musik hard rock akhirnya merekapun menarik diri dari God Bless seperti pengakuan Debby suatu saat pada penulis.

Tahun 1975, God Bless kembali lagi bongkar formasi yakni Achmad Albar (vokal), Donny Fattah (Bass), Jockie Soerjoprajogo yang gabung kembali setelah bermukim di Malang (Keybord)  dia mengajak Teddy Sudjaja (drum) dan Ian Antono (guitar) untuk gabung ke God Bless.

Pada tanggal 5 Desember 1975 Denny Sabrie dari Aktuil meminta God Bless mendampingi Deep Purple sebagai band pembuka di Jakarta, God Bless langsung menggebrak panggung dengan lagu Celebration milik PFM yang sontak mendapat sambutan luar biasa hangatnya dimana Donny Gagola dan Yockie menunjukan permainan dan gaya  first class-nya, inilah puncak kebesaran God Bless yang ditampilkan malam itu bahkan permainan keyboard Yockie mendapatkan pujian khusus dari dari John Lord  yang mana diam-diam mengamati permainan keyboardist   berbakat kebanggaan God Bless  yang memiliki  tinggi 182 cm itu.

Karena mendapat sambutan yang luar biasa meriah Albar-pun menjadi sangat bersemangat dan menyulut kembang api yang mana menjadi awal pemicu pembakaran yang dilakukan oleh penonton di Stadiun Utama Senayan saat itu., para penonton terutama yang berada di VIP A mulai destruktif. Terjadi perang lempar ”jok kursi” antara mereka yang berada di barisan lebih atas dan yang berada di bawah. Pesta bakar-membakar juga berlangsung, kertas-kertas  dibakar lalu dilemparkan ke bawah, menurut seorang teman kami yang juga menonton pagelaran itumain baker bakaran saat itu layaknya obor-obor yang dinyalakan waktu gelap persis seperti lakon wayang Hanoman Obong dalam cerita Ramayana. Keributan bertambah massive terutama di VIP A dan ini berlangsung sampai pertunjukan selesai. Jok kursi berterbangan dilemparkan dilempar penonton sampai ke pintu masuk bahkan ke bawah di luar lapangan.Karena kejadian ini panitia merugi besar dan membuat Denny Sabri sewot berat  sampai – sampai dia berujar “No More Super Group”!.

Majalah TOP  selalu meliput  konser God Bless

Kemudian di tahun 1976 meraka merilis Album perdana Huma diatas Bukit  yang konrtoversial itu dimana God Bless mendapat pujian sekaligus makian dari para penggemar musik cadas di Tanah Air saat itu dikarenakan hampir di semua lagu nyaris aransemennya  comot sama comot sini mungkin ini dikarenakan keseringannya mereka menyayikan lagu asing, macam milik King Ping Meh, Queen, Edgar Winters; Jhonny Winters, Deep Purple dan Genesis, Jetro Thull membuat gaya musik. Hal tersebut tergambar jelas dalam pengarapan album perdana mereka itu, Umpamanya  Huma Diatas Bukit yang nyaris sama dengan lagu Firth of The Fifth-nya Genesis pada lagu Rock Di Udara menyelinap kesana Storm Bringer –nya Deep Purple. Dalam acara Rockaholic Zone di radio Ramako Yockie secara khusus mengutarakan rasa kecewanya terhadap album God Bless yang pertama itu yang dikatakannya sebagai album salah kaprah..

Formasi  God Bless dalam album Cermin

Menjelang pembuatan album kedua Jockie Soeryoprayogo keluar dari God Bless untuk yang kedua kalinya dan memilih mengerjakan proyek album solonya serta menggarap proyek Badai Pasti Berlalu, album yang melejitkan penyanyi Chrisye. Posisi Jockie Soeryoprayogo kemudian di ambil alih oleh Abadi Soesman yang bergabung tahun 1979 dan ikut terlibat di pembuatan album kedua cermin (1980). Di album ini konsep musik God Bless sedikit berubah. Permainan keyboard Abadi Soesman yang banyak di pengaruhi  musik jazz dan klasik menjadikan ramuan aransemen lagu-lagunya terkesan lebih rumit dan membutuhkan skill tinggi dalam memainkannya. Secara keseluruhan album itu sangat bagus bahkan mungkin akan menjadi sebuah album yang terbaik kalau saja Abadi tidak memasukan Tarkus-nya ELP  kedalam lagu Anak Adam.

Namun dua tahun setelah album cermin dirilis, Abadi Soesman mengundurkan diri. God Bless sendiri vakum beberapa tahun. Di tengah kevakuman God Bless, Tahun 1988, God Bless menggebrak dengan lagi lewat album Semut Hitam, yang kembali lagi menghadirkan kehandalan permainan keyboard Jockie Soeryoprayogo yang gabung kembali. Di album ini lagi-lagi konsep musik God Bless berubah. Dari tadinya lebih bernuansa rock progresif secara atakan berubah menjadi sedikit lebih keras karena pengaruh musik hard rock dan heavy metal yang mengikuti zamannya waktu itu.

Teddy Sudjaya God Bless Drummer Generasi Ketiga, Mantab!

Secara komersil, boleh dibilang album semut hitam yang antara lain melejitkan lagu kehidupan, semut hitam dan rumah kita ini cukup sukses. Sayangnya, keberuntungan tersebut tidak di barengi oleh keharmonisan hubungan di antara personelnya serta pihak manajemen. Buntutnya, Ian Antono menyatakan hengkang dari group yang membesarkan namanya ini. Posisinya kemudian di gantikan oleh gitaris muda berbakat  Eet Sjachranie

yang sebelumnya sempat memperkuat bandnya Fariz RM dan group Cynomadeus-nya Iwan Madjid.

Setelah Album Semut Hitam (1988), tidak berlama-lama lagi di tahun 1989 God Bless langsung merilis album Raksasa. Untuk kesekian kalinya konsep musik God Bless berubah lagi. Di Album Raksasa, permainan gitar Eet Sjachranie sangat mempengaruhi pada perubahan warna musik God Bless. Selain lebih keras juga terkesan sarat akan sound rock yang trend di akhir tahun 1980-an. Di album ini melejit lagu Maret 89, Menjilat matahari, Raksasa yang sangat didominasi dengan permainan gitar Eet Sjachranie yang banyak terpengaruh musik Van Helen dan juga ACDC.

Ditahun 1991 God Bless merilis Album Story Of God Bless yang merupakan lagu-lagu lawas mereka yang dirilis ulang seperti lagu Huma diatas Bukit, Sesat, Musisi, Setan Tertawa, She Passad Away adalah lagu-lagu yang di arensmen ulang dan sangat lebih segar, modern. Setelah album ini grup band yang menjadi tonggak musik rock di Indonesia ini vakum dan masing-masing poersonil nya sibuk dengan proyeknya sendiri-sendiri. Seperti Eet Sjachranie dengan Edane nya. Jockie Soeryoprayogo dengan Kantata Takwa, Swami dan juga Suket serta melambungkan nama Mel Shandy dan Ita purnama Sari. Donny Fattah dengan Kantata Takwa juga dan melambungkan group pendatang baru Power Metal.

Teddy Sudjaya yang memproduseri dan menciptakan lagu-lagu Anggun C Sasmi. Achmad Albar sendiri dengan solo nya yang cukup sukses. Selain itu juga diawal tahun 1990-an banyak bermunculan Band-band muda berbakat sebut Slank, Power Metal, Grass Rock, Elpamas dan Kaisar. Dan ironisnya di awal tahun 1990-an itu juga muncul group band yang merupakan duplikat dari God Bless sendiri yakni Gong 2000 di mana tiga porsonelnya Achmad Albar, Ian Antono dan Donny Fattah serta di tambah Harry Anggoman (Keybord) dan Yaya Muktio(Drum) melejit dengan lagu-lagu Rock yang bernuasa pentatonic Bali, dan ada beberapa lagu lawas God Bless yang masuk di Album Gong 2000 ini.

Selang beberapa tahun vakum yang cukup panjang, di tahun 1997, para porsonel God Bless, termasuk Eet dan Ian Antono kembali berkumpul. Workshop yang mereka gelar di kawasan puncak, Bogor menghasilkan album berjudul Apa Khabar, yang merupakan album kerinduan mereka untuk kembali berkiprah di panggung musik. Kisah selanjutnya setelah penggarapan album Apa Khabar, Eet Sjachranie resmi mengundurkan diri dari formasi God Bless dan konsentrasi untuk bandnya sendiri Edane, yang sejak tahun 1992 sudah merilis album perdananya.

God Bless Formasi Teranyar

Menjelang penggarapan album-album terbaru God Bless giliran Jockie Soeryoprayogo dan Teddy Sudjaja yang mengundurkan diri. Penggarapan album pun menjadi terlambat, sepanjang tahun 2000 hingga 2005 God Bless belum juga merilis album lagi. Sepanjang tahun 2000 hingga 2006 ini banyak nama-nama yang sempat mengisi kekosongan di tubuh God Bless di antaranya, Kembalinya Abadi Soesman, Inang Noorsaid, Iwang Noorsaid, Harri Anggoman, Yaya Muktio dan Gilang Ramadhan. Terakhir mereka masih manggung di acara A mild Live Soundernaline dan acara tahun baruan di Ancol dengan formasi Achmad Albar, Ian Antono, Donny Fattah dan Gilang Ramadhan. Hingga kini di tahun 2010 God Bless masih tegar seakan-akan mereka memang selalu dibekahi Tuhan dan formasi teakhir mereka adalah Achmad Albar (vocal), Ian Antono (gitar), Donny Fatah (bass) , Abadi Susman (keyboard) dan Yaya Muktio (drums) God Bless , may  God always bless you !.

SAS – Super Rock Trio Yang Dahsyat

August 4, 2010

SAS

Gentlemen, These Are The Real Three Lions !

Oleh MH Alfie Syahrine

Tidak mau berlama-lama vakum dari bermusik disamping semangat meraka akan musik rock masih menderu-deru maka paska bubarnya AKA, Syeh Djefry Abidin, Arthur Kaunang dan Sunatha Tandjung langsung saja tancap gas membuat kugiran cadas dengan nama yang berasal dari inisial nama-nama mereka masing-masing seperti super group ELP yang menginspirasikan mereka dan memproklamirkannya sebagai SAS !, yang mana kemudian SAS melaju pesat sebagai band yang paling produktif manggung di era pertengahan 70-an dan nyaris membabat habis hampir semua panggung di Tanah Air dengan lagu-lagu dari Emerson Lake & Palmer  seperti ; Promenade, Jerusalem, Karn Evil 1st impression  s/d 4th impression, Thank, From The Beginning, Still You Turn Me on atau lagu-lagu dari group band luar lainnya seperti Green Sleeves, Somewhere, the Land Is Mine ,Stairway To Heaven dll disamping lagu-lagu karya mereka sendiri seperti; Bad Shock dan Baby Rock yang masuk Top Ten di Radio Australia itu.

Rock Trio Yang Dahzyat!

“ Karena SAS-lah  para remaja kita  mulai dari  kota hingga pelosok desa menjadi kenal lagu-lagu ELP” kata Syeh Abidin  dalam suatu pertemuan bulanan KPMI di Langsat Corner tiga tahun yang lalu.

Kesuksesan Yang Tidak Terbendung

SAS pernah sepanggung dengan dengan Superkid, Giant Step ataupun God Bless serta group lainnya dan membuktikan pada para pesaingnya bahwa mereka memang beda. SAS memang beda, mereka mempunyai ketinggian skill, PD yang overloaded, aksi panggung yang first class dan stamina yang sangat prima karena semua pemainnya tidak pernah sedikitpun tersentuh dengan narkoba yang saat itu sedang trend dan sudah memakan korban beberapa rockers ternama.

Dunia panggung-pun nyaris dikuasai oleh mereka semua, volume pementasannya nyaris  sama  banyaknya  dengan  pementasan  Superkid, dari  mulai  Surabaya,  Malang, Yogyakarta, Solo, Jakarta hingga pelosok-pelosok yang terpencil di Indonesia menjadi demam SAS . Malang yang dikenal sebagai kota yang sangat kritis dan sangar  terhadap setiap pertunjukan musik cadas namun ternyata tidak selamanya pertunjukan musik cadas  disana akan berakhir dengan aksi pelemparan batu kayu maupun sendal dari penonton disana, mereka sangat obyektif dalam menilai kualitas musik dan penampilan kugiran cadas yang datang kesana. Sewaktu SAS melakukan pertunjukan di kota tersebut ternyata sambutan kaula muda disana berbeda tidak ada satu butir pun kerikil atau sandal dan batu yang terbang melayang ke atas panggung.

Mungkin para penonton merasa kagum dan segan dengan wibawa dan permainan SAS yang hebat itu disamping penguasaan mereka akan lagu-lagu ELP yang nyaris sempurna oleh karenanya tidak ada alasan bagi arek-arek malang itu untuk membuat kegaduhan bahkan setiap lagu yang dimainkan selalu mendapat sambutan yang membahana. Sebagaimana hal yang sama terjadi pada Kockpit di era 80-an yang mana mereka sangat dielu-elukan disana.Gaya gebukan Syeh Abidin yang mantab, petikan gitar Sunatha Tandjung yang melengking mulus sempurna dan betotan bass yang garang serta permainan keyboard yang brutal dari Arthur Kaunang membuat SAS menjadi salah satu kugiran cadas yang paling disanjung dan dihormati di kota Malang dan pantas disejajarkan dengan God Bless, Rollies,Superkid dan Giant Step.

Arthur Kaunang: Keyboardist yang paling sangar aksi panggungnya

Salah satu kelebihan SAS adalah mereka sangat menguasai  blocking  panggung  walaupun hanya dengan tiga personel, Arthur dengan postur tubuh seperti wong londo dengan rambut panjang yang nyaris sepinggang itu biasa membuat para penonton menjadi histeris dengan permainan solo keyboardnya dimana dia begitu  garang  di   panggung sampai terkadang dia bergelintingan dilantai sambil memainkan  bass guitar atau menjungkirbalikan keyboardnya dan dimainkannya dilantai panggung serta kadang -kadang  keyboard-nya  itu dibuat seperti kuda yang dia jepit dengan kedua belah pahanya. Kalau saja organ Farfiza dan Hammond serta synthesizer yang dimainkan oleh Arthur itu bisa berbicara mereka pasti berteriak-teriak agar tidak selalu dijungkirbalikan dilantai panggung  olehnya!, namun karena itu merupakan bagian daripada sensasi SAS yang paling digemari penonton maka Arthur terus memainkan atraksinya itu!.

Arthur Kaunang in Action!

Belum lagi Syeh yang begitu mantab  dalam menggebuk deretan drum dan cymbal serta hentakan kedua kakainya pada double bass drumnya. Atraksi yang paling membuat surprise penonton manakala Syeh beranjak dari deretan drum yang mengelilinginya yang langsung menggantikan Arthur bermain bass terutama dalam lagi From The Beginning .Sunatha juga tidak kalah hebatnya dia sering memainkan guitarnya sambil memutar-mutarnya di udara sehingga menciptakan raungan yang memekakan telinga melengkapi kedahsyatan permainan Trio Rock handal itu. Pertengahan tahun70an hingga penghujungnya benar-benar merupakan ‘Golden Era’ untuk Super Trio Progressive dari kota Buaya itu.

The Flying Stones

Namun diantara kesuksesannya, SAS pun pernah juga mengalami nasib naas yang sebenarnya bersifat non musikal seperti ketika pertunjukan musik perdana mereka di Taman Ria Monas pada pertengahan Februari 1976, dimana mereka mengalami sedikit kekacauan karena gangguan listrik yang kurang diantisipasi oleh fihak Taman Ria Monas sebagai penyelenggara karna sejak kedatangan Deep Purple di Senayan, SAS memang telah membuat  revolusi baik dalam sound system maupun lighting mini ala Deep Purle walapun kapasitasnya baru pada tingkat belasan ribu watts yang mana jelas membutuhkan daya listrik yang extra saat itu.

Ketika kelompok ini memainkan lagunya yang kedelapan, yaitu lagu milik group musik Deep Purple, tiba-tiba listrik mati. Akibat dari adanya gangguan listrik tersebut maka pertunjukan musik SAS tidak bisa dilanjutkan dan penonton merasa kecewa dan marah pada penyelenggara yang kemudian melampiaskannya dengan melemparkan batu-batu dan sandal serta apa saja yang bisa dilempar ke arah panggung, sehingga membuat beberapa peralatan musik SAS rusak. Kerusuhan penonton juga terjadi di Surabaya, tepatnya ketika SAS melakukan pertunjukan di kota tersebut. Kerusuhan itu bermula saat mereka baru memulai pertunjukannya selama satu jam dan tiba-tiba listrik mati. Gangguan listik ini mengakibatkan group tersebut tidak bisa melanjutnya pertunjukkan musiknya. Penonton tidak bisa menerima keadaan yang terjadi dan melampiaskannya dengan melemparkan sandal, sepatu, batu-batu serta kayu ke arah panggung dan mengakibatkan kerusakan pada peralatan musik. Kerugian akibat pelemparan batu itu ditaksir sebesar Rp. 450.000,00. yang saat itu merupakan jumlah yang sangat besar.

Didalam internal SAS sendiri  kelebihan dari para personil SAS  yaitu mereka saling hormat mengormati  satu sama lain oleh karena itulah dalam sejarahnya mereka tidak pernah terjadi keretakan atau perpecahan “Hingga kini SAS tidak pernah bubar! ” Kata Syeh Abidin dalam suatu diskusi bulanan KPMI di Langsat Corner Kebayoran Baru beberapa tahun yang lalu.Walaupun kini para personel SAS sudah tidak muda lagi namun rasa persaudaraan mereka tetap terjalin, mereka bertiga sesekali saling berkomunikasi kata Syeh Jefry Abidin.

Keberadaan Mereka Kini

Setelah era 70-an sekian puluh tahun berlalu , dan setelah mereka melempar album Metal Baja pada tahun 1991 dimana album itu disebut sebut sebagai album rock terbaik  hingga saat ini, kemudian mereka menjadi menjadi vakum  sejak merilis  20 Golden Hits pada tahun 1993 nampaknya ketiga pentolan kugiran cadas yang dahsyat itu sudah tidak ada minat lagi untuk naik panggung atau untuk sekedar menyenangkan fans mereka yang masih selalu merindukannya. Bagaimana khabar mereka kini?…Syeh Jefry Abidin sang drummer yang pada era keemasannya sering disebut-sebut sabagai John Bonham-nya Indonesia?, kegiatannya sekarang sebagai  seorang Da’i dan  pengusaha, Syeh tinggal di Jakarta dengan keluarganya yang harmonis, bakat musiknya diwariskan kepada salah seorang anaknya yang ganteng yang mempunyai group band juga sedangkan Sunatha Tandjung yang dahulu  yang disebut-sebut sebagai Jimmy Page-nya Indonesia itu, kini dia lebih suka tinggal di Surabaya kota yang membesarkan dan melambungkan namanya sebagai seorang gitaris rock kelas wahid. Tetapi kini dia tidak pernah lagi mau kembali kedunia musik hangar binger itu karena faktor usia dan jaman yang sudah berbeda, sedangkan Sunatha setelah sembuh dari sengatan listrik yang berdaya ribuah ribuan watt di panggung dan membuat lengannya lumpuh kini dia sangat aktif sebagai seorang Pendeta dimana setiap hari-nya dia disibukan dengan pekerjaannya sebagai pelayan Tuhan, baginya tiada hari tanpa melayani jema’atnya, dan bagaimana pula dengan si pencabik bass dan keyboardist dahsyat Arthur Kaunang yang pada era keemasannya sering diasosiasikan sebagai Keith Emerson-nya Indonesia? kegiatannya kini sebagai seorang pendeta juga dan pembuat lagu lagu rohani yang sangat taat pula mereka telah memutuskan jalan hidup mereka untuk menjadi Pendeta, kini para anggota SAS telah memiliki kesibukannya sendiri-sendiri mereka telah memiliki garis tujuan hidup yang hakiki pada diri mereka masing-masing. dalam membaktikan diri mereka untuk  manusia dan  Tuhan-nya.

ALBUM  SAS

  1. Volume 1 Baby Rock (Indra Record 1975)
  2. Volume 2 Bad Shock (Indra Record 1976)
  3. Volume 3 (Indra Record 1977)
  4. Blue Sexy Lady (1977)
  5. Expectation (1977)
  6. Love Mover (1977)
  7. Pop & Rock Indonesia 1(1978)
  8. Pop & Rock Indonesia 2 (1979)
  9. SAS 80 (1980)
  10. SAS 81 (1981)
  11. Sansekerta (1983)
  12. Kasmara (1983)
  13. Episode Jingga (1985 )
  14. Sirkuit (1988)
  15. The Best of SAS (1990 Arrangement) (1990)
  16. Metal Baja (1991)
  17. 20 Golden Hits (1993).

The Spirit of Rush

August 3, 2010
Minggu, 01 Agustus 2010 | 07:06 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta -

Rush: Beyond the Lighted Stage

Sutradara: Sam Dunn dan Scot McFadyen

Banger Production, 2010

—–

Di meja makan restoran bersuasana kabin itu, Geddy Lee, Alex Lifeson, dan Neil Peart menyantap makan malam sambil bercengkerama, mengobrol sana-sini, termasuk menyinggung kemungkinan mereka memulai penggarapan album baru. Di tengah derai tawa, Geddy, yang di usia 56 tahun masih memanjangkan rambut melampaui bahu, berkata, “Kukira kita telah berhasil menghancurkan film orang-orang ini. Aku akan mengingatkan mereka bahwa aku sudah bilang, ‘Kalian akan menyesal.’ Aku bilang, ‘Jangan terkejut bila kalian mendapati betapa membosankannya kami ini.’”

Dia barangkali benar kalau rekaman makan malam hingga empat jam itu diambil sepenuhnya untuk film berjudul Rush: Beyond the Lighted Stage. Tapi, untunglah, film garapan Sam Dunn dan Scot McFadyen ini memenuhi benar janji pada tagline-nya, bahwa inilah dokumentasi tentang “band yang Anda kenal, kisah yang Anda tak tahu”.

Rush. Penggemar musik rock mana yang tak pernah mendengar mereka –hanya namanya sekalipun? Tapi adakah yang tahu persis riwayatnya, bahkan hingga masa kecil para personelnya? Dan adakah yang paham kenapa, hingga kini, mereka tetap jauh dari radar media mainstream betapapun mereka punya penggemar fanatik dan pesona yang masih sanggup menyedot 60 ribuan penonton ketika, pada 2002, menggelar konser di Rio de Janeiro, Brasil, setelah lima tahun vakum?

Seseorang harus menjelaskan kenapa mereka ada,” kata Billy Corgan, pendiri band alternatif Smashing Pumpkins yang merupakan penggemar trio asal Ontario, Kanada, itu.

Dunn dan McFadyen datang menjawab tantangan itu. Sama-sama berasal dari Kanada, dua sutradara ini kebetulan pernah menggarap dokumenter tentang heavy metal dan perjalanan tur keliling dunia Iron Maiden, band dari masa 1980-an yang pengaruhnya merentang jauh hingga kini. Saat itu banyak orang yang bertanya kepada mereka tentang Rush. “Kami akhirnya menyadari bahwa, secara global, Rush sudah menjadi semacam duta besar rock dari Kanada… Saya kira hal ini membuat saya sadar bahwa band ini punya pengaruh lebih besar di seluruh dunia ketimbang yang sudah pasti diapreasiasi banyak orang Kanada,” kata McFadyen.

Selain mewawancarai Corgan, mereka juga menggali opini sejumlah selebritas rock lainnya –di antaranya Gene Simmons (Kiss), Sebastian Bach (mantan vokalis Skid Row), Kirk Hammet (Metallica), Mike Portnoy (Dream Theater), Trent Reznor (Nine Inch Nail), dan Jack Black (aktor sekaligus personel Tenacious D). Para “bintang tamu” ini tanpa ragu memberikan stempel persetujuan bahwa Rush, dalam kata-kata Corgan, adalah “band orang kebanyakan”, yang “dalam kecanggihannya, bagaimanapun, mereka tidak mengalienasi orang kebanyakan”.

Canggih: satu hal yang mengesankan hal ini adalah bagaimana mereka menulis lirik; mereka termasuk di antara sedikit band yang peduli benar pada isi, dan karena itulah bahkan karya sastra dan filsafat pun sempat mereka adopsi ke dalam lagu-lagu mereka. Neil, drummer yang bergabung pada 1974, menggantikan John Rutsey, berperan besar dalam urusan ini –dia kutu buku yang membaca apa saja. Dia memulainya di album kedua, Fly By Night (1975).

Pilihan yang merupakan keberanian menanggung risiko tidak populer itu oleh Gene Simmons disebut sebagai “hal yang menyebabkan Rush unik”. Tapi bagi kritikus, juga media pada umumnya, justru tak ada daya tarik apa pun pada musik Rush. Salah satu koran menulis begini: “Minat Rush yang tanpa humor (dan terbatas) terhadap tema-tema sastra dan rasa melodi yang minim menjadi sumber konser yang membosankan….”

Dunn dan McFadyen sebenarnya membangun film ini dengan struktur sederhana saja. Mereka mengikuti alur yang biasa, lurus kronologis. Mereka memulai dari pembentukan Rush, masuknya Neil, lalu meneropong lebih dekat periode-periode terpentingnya (ketika mereka memukau para penggemar antara lain dengan La Villa Strangiato, Closer to the Heart, The Spirit of Radio, dan Tom Sawyer), sebelum kemudian memotret posisi band ini sekarang. Tapi, bersamaan dengan itu, ada begitu banyak kejutan, fakta-fakta yang selama ini tak diketahui, yang menjadikan film ini terasa benar kedalamannya.

Cara memotret kehidupan setiap personel, yang multidimensi, membubuhkan elemen yang ikut menjadikan film ini juga menarik bagi mereka yang tak fanatik menggemari Rush.

Misalnya kontras antara Geddy dan Alex, dua pendiri band yang tersisa, dan Neil. Geddy dan Alex adalah pribadi yang bisa menikmati popularitas mereka akan dengan senang hati menyapa penggemar, memberikan tanda tangan, dan lain-lain. Sebaliknya, Neil, yang dengan berkelakar oleh Geddy disebut sebagai “orang baru kami”, menutup diri; dia mengeluhkan kenapa orang-orang meributkan keinginannya untuk tetap menjadi orang biasa. Perbedaan-perbedaan ini toh tak mempengaruhi hubungan di antara mereka.

Dan sesungguhnya dinamika itulah yang mengikat hubungan erat di antara mereka. Pengungkapannya, diakui atau tidak, telah mentransformasikan film ini lebih dari sekadar penuturan blak-blakan tentang riwayat Rush. Kita akan merasakan pula ada pengakuan mengenai cara yang tepat untuk tetap bersahaja di hadapan popularitas yang menjulang, untuk teguh pada pendirian dan orisinalitas, tanpa mempedulikan apa kata orang.

Dengan kata lain, Rush, yang sejauh ini telah menghasilkan 19 album studio, sama sekali jauh dari membosankan. Mereka unik. Di satu bagian, Gene Simmons menyarikannya dengan telak: “Band macam apa sih Rush? Ya, Rush.”

Purwanto Setiadi


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 141 other followers