SAS – Super Rock Trio Yang Dahsyat

SAS

Gentlemen, These Are The Real Three Lions !

Oleh MH Alfie Syahrine

Tidak mau berlama-lama vakum dari bermusik disamping semangat meraka akan musik rock masih menderu-deru maka paska bubarnya AKA, Syeh Djefry Abidin, Arthur Kaunang dan Sunatha Tandjung langsung saja tancap gas membuat kugiran cadas dengan nama yang berasal dari inisial nama-nama mereka masing-masing seperti super group ELP yang menginspirasikan mereka dan memproklamirkannya sebagai SAS !, yang mana kemudian SAS melaju pesat sebagai band yang paling produktif manggung di era pertengahan 70-an dan nyaris membabat habis hampir semua panggung di Tanah Air dengan lagu-lagu dari Emerson Lake & Palmer  seperti ; Promenade, Jerusalem, Karn Evil 1st impression  s/d 4th impression, Thank, From The Beginning, Still You Turn Me on atau lagu-lagu dari group band luar lainnya seperti Green Sleeves, Somewhere, the Land Is Mine ,Stairway To Heaven dll disamping lagu-lagu karya mereka sendiri seperti; Bad Shock dan Baby Rock yang masuk Top Ten di Radio Australia itu.

Rock Trio Yang Dahzyat!

“ Karena SAS-lah  para remaja kita  mulai dari  kota hingga pelosok desa menjadi kenal lagu-lagu ELP” kata Syeh Abidin  dalam suatu pertemuan bulanan KPMI di Langsat Corner tiga tahun yang lalu.

Kesuksesan Yang Tidak Terbendung

SAS pernah sepanggung dengan dengan Superkid, Giant Step ataupun God Bless serta group lainnya dan membuktikan pada para pesaingnya bahwa mereka memang beda. SAS memang beda, mereka mempunyai ketinggian skill, PD yang overloaded, aksi panggung yang first class dan stamina yang sangat prima karena semua pemainnya tidak pernah sedikitpun tersentuh dengan narkoba yang saat itu sedang trend dan sudah memakan korban beberapa rockers ternama.

Dunia panggung-pun nyaris dikuasai oleh mereka semua, volume pementasannya nyaris  sama  banyaknya  dengan  pementasan  Superkid, dari  mulai  Surabaya,  Malang, Yogyakarta, Solo, Jakarta hingga pelosok-pelosok yang terpencil di Indonesia menjadi demam SAS . Malang yang dikenal sebagai kota yang sangat kritis dan sangar  terhadap setiap pertunjukan musik cadas namun ternyata tidak selamanya pertunjukan musik cadas  disana akan berakhir dengan aksi pelemparan batu kayu maupun sendal dari penonton disana, mereka sangat obyektif dalam menilai kualitas musik dan penampilan kugiran cadas yang datang kesana. Sewaktu SAS melakukan pertunjukan di kota tersebut ternyata sambutan kaula muda disana berbeda tidak ada satu butir pun kerikil atau sandal dan batu yang terbang melayang ke atas panggung.

Mungkin para penonton merasa kagum dan segan dengan wibawa dan permainan SAS yang hebat itu disamping penguasaan mereka akan lagu-lagu ELP yang nyaris sempurna oleh karenanya tidak ada alasan bagi arek-arek malang itu untuk membuat kegaduhan bahkan setiap lagu yang dimainkan selalu mendapat sambutan yang membahana. Sebagaimana hal yang sama terjadi pada Kockpit di era 80-an yang mana mereka sangat dielu-elukan disana.Gaya gebukan Syeh Abidin yang mantab, petikan gitar Sunatha Tandjung yang melengking mulus sempurna dan betotan bass yang garang serta permainan keyboard yang brutal dari Arthur Kaunang membuat SAS menjadi salah satu kugiran cadas yang paling disanjung dan dihormati di kota Malang dan pantas disejajarkan dengan God Bless, Rollies,Superkid dan Giant Step.

Arthur Kaunang: Keyboardist yang paling sangar aksi panggungnya

Salah satu kelebihan SAS adalah mereka sangat menguasai  blocking  panggung  walaupun hanya dengan tiga personel, Arthur dengan postur tubuh seperti wong londo dengan rambut panjang yang nyaris sepinggang itu biasa membuat para penonton menjadi histeris dengan permainan solo keyboardnya dimana dia begitu  garang  di   panggung sampai terkadang dia bergelintingan dilantai sambil memainkan  bass guitar atau menjungkirbalikan keyboardnya dan dimainkannya dilantai panggung serta kadang -kadang  keyboard-nya  itu dibuat seperti kuda yang dia jepit dengan kedua belah pahanya. Kalau saja organ Farfiza dan Hammond serta synthesizer yang dimainkan oleh Arthur itu bisa berbicara mereka pasti berteriak-teriak agar tidak selalu dijungkirbalikan dilantai panggung  olehnya!, namun karena itu merupakan bagian daripada sensasi SAS yang paling digemari penonton maka Arthur terus memainkan atraksinya itu!.

Arthur Kaunang in Action!

Belum lagi Syeh yang begitu mantab  dalam menggebuk deretan drum dan cymbal serta hentakan kedua kakainya pada double bass drumnya. Atraksi yang paling membuat surprise penonton manakala Syeh beranjak dari deretan drum yang mengelilinginya yang langsung menggantikan Arthur bermain bass terutama dalam lagi From The Beginning .Sunatha juga tidak kalah hebatnya dia sering memainkan guitarnya sambil memutar-mutarnya di udara sehingga menciptakan raungan yang memekakan telinga melengkapi kedahsyatan permainan Trio Rock handal itu. Pertengahan tahun70an hingga penghujungnya benar-benar merupakan ‘Golden Era’ untuk Super Trio Progressive dari kota Buaya itu.

The Flying Stones

Namun diantara kesuksesannya, SAS pun pernah juga mengalami nasib naas yang sebenarnya bersifat non musikal seperti ketika pertunjukan musik perdana mereka di Taman Ria Monas pada pertengahan Februari 1976, dimana mereka mengalami sedikit kekacauan karena gangguan listrik yang kurang diantisipasi oleh fihak Taman Ria Monas sebagai penyelenggara karna sejak kedatangan Deep Purple di Senayan, SAS memang telah membuat  revolusi baik dalam sound system maupun lighting mini ala Deep Purle walapun kapasitasnya baru pada tingkat belasan ribu watts yang mana jelas membutuhkan daya listrik yang extra saat itu.

Ketika kelompok ini memainkan lagunya yang kedelapan, yaitu lagu milik group musik Deep Purple, tiba-tiba listrik mati. Akibat dari adanya gangguan listrik tersebut maka pertunjukan musik SAS tidak bisa dilanjutkan dan penonton merasa kecewa dan marah pada penyelenggara yang kemudian melampiaskannya dengan melemparkan batu-batu dan sandal serta apa saja yang bisa dilempar ke arah panggung, sehingga membuat beberapa peralatan musik SAS rusak. Kerusuhan penonton juga terjadi di Surabaya, tepatnya ketika SAS melakukan pertunjukan di kota tersebut. Kerusuhan itu bermula saat mereka baru memulai pertunjukannya selama satu jam dan tiba-tiba listrik mati. Gangguan listik ini mengakibatkan group tersebut tidak bisa melanjutnya pertunjukkan musiknya. Penonton tidak bisa menerima keadaan yang terjadi dan melampiaskannya dengan melemparkan sandal, sepatu, batu-batu serta kayu ke arah panggung dan mengakibatkan kerusakan pada peralatan musik. Kerugian akibat pelemparan batu itu ditaksir sebesar Rp. 450.000,00. yang saat itu merupakan jumlah yang sangat besar.

Didalam internal SAS sendiri  kelebihan dari para personil SAS  yaitu mereka saling hormat mengormati  satu sama lain oleh karena itulah dalam sejarahnya mereka tidak pernah terjadi keretakan atau perpecahan “Hingga kini SAS tidak pernah bubar! ” Kata Syeh Abidin dalam suatu diskusi bulanan KPMI di Langsat Corner Kebayoran Baru beberapa tahun yang lalu.Walaupun kini para personel SAS sudah tidak muda lagi namun rasa persaudaraan mereka tetap terjalin, mereka bertiga sesekali saling berkomunikasi kata Syeh Jefry Abidin.

Keberadaan Mereka Kini

Setelah era 70-an sekian puluh tahun berlalu , dan setelah mereka melempar album Metal Baja pada tahun 1991 dimana album itu disebut sebut sebagai album rock terbaik  hingga saat ini, kemudian mereka menjadi menjadi vakum  sejak merilis  20 Golden Hits pada tahun 1993 nampaknya ketiga pentolan kugiran cadas yang dahsyat itu sudah tidak ada minat lagi untuk naik panggung atau untuk sekedar menyenangkan fans mereka yang masih selalu merindukannya. Bagaimana khabar mereka kini?…Syeh Jefry Abidin sang drummer yang pada era keemasannya sering disebut-sebut sabagai John Bonham-nya Indonesia?, kegiatannya sekarang sebagai  seorang Da’i dan  pengusaha, Syeh tinggal di Jakarta dengan keluarganya yang harmonis, bakat musiknya diwariskan kepada salah seorang anaknya yang ganteng yang mempunyai group band juga sedangkan Sunatha Tandjung yang dahulu  yang disebut-sebut sebagai Jimmy Page-nya Indonesia itu, kini dia lebih suka tinggal di Surabaya kota yang membesarkan dan melambungkan namanya sebagai seorang gitaris rock kelas wahid. Tetapi kini dia tidak pernah lagi mau kembali kedunia musik hangar binger itu karena faktor usia dan jaman yang sudah berbeda, sedangkan Sunatha setelah sembuh dari sengatan listrik yang berdaya ribuah ribuan watt di panggung dan membuat lengannya lumpuh kini dia sangat aktif sebagai seorang Pendeta dimana setiap hari-nya dia disibukan dengan pekerjaannya sebagai pelayan Tuhan, baginya tiada hari tanpa melayani jema’atnya, dan bagaimana pula dengan si pencabik bass dan keyboardist dahsyat Arthur Kaunang yang pada era keemasannya sering diasosiasikan sebagai Keith Emerson-nya Indonesia? kegiatannya kini sebagai seorang pendeta juga dan pembuat lagu lagu rohani yang sangat taat pula mereka telah memutuskan jalan hidup mereka untuk menjadi Pendeta, kini para anggota SAS telah memiliki kesibukannya sendiri-sendiri mereka telah memiliki garis tujuan hidup yang hakiki pada diri mereka masing-masing. dalam membaktikan diri mereka untuk  manusia dan  Tuhan-nya.

ALBUM  SAS

  1. Volume 1 Baby Rock (Indra Record 1975)
  2. Volume 2 Bad Shock (Indra Record 1976)
  3. Volume 3 (Indra Record 1977)
  4. Blue Sexy Lady (1977)
  5. Expectation (1977)
  6. Love Mover (1977)
  7. Pop & Rock Indonesia 1(1978)
  8. Pop & Rock Indonesia 2 (1979)
  9. SAS 80 (1980)
  10. SAS 81 (1981)
  11. Sansekerta (1983)
  12. Kasmara (1983)
  13. Episode Jingga (1985 )
  14. Sirkuit (1988)
  15. The Best of SAS (1990 Arrangement) (1990)
  16. Metal Baja (1991)
  17. 20 Golden Hits (1993).

About these ads

21 Responses to “SAS – Super Rock Trio Yang Dahsyat”

  1. Kristanto Says:

    Wah serasa membaca majalah nuansamatik Aktuil nih …
    Btw, ada yg tau mungkin, CD-nya SAS masih ada yg beredar ? Album apa saja …

  2. MH Alfie Syahrine Says:

    Pak KristantoYth,

    Kalau CD nya memang tidak ada tapi kalau kassetnya masih banyak para SAS fans yang mengoleksinya dan sudah banyak juga teman-teman saya yang meng convert-nya ke CD.

    Salam

    MHAS

  3. edigimo Says:

    SAS memang hebat, mrk ikut memasyarkatkan ELP…..Zeus SAS!

  4. Kristanto Says:

    Thanks info-nya pak Alfie, maklumlah saya
    cuma tau sepakterjang SAS ini dari majalah
    Aktuil.
    Jaman segitu, harga kaset msh sangat mahal
    buat ukuran saya, jd gak sempat (d/h mampu)
    koleksi …

  5. MH Alfie Syahrine Says:

    pak Kristanto Yth,

    Saat itu juga sama, saya juga masih minta uang sama Ortu buat beli kasset SAS atau AKA atau group group Rock seperti Rhythm Kings, Freedom of Rhapsodia, Freedom, Giant Step atau Rollies dll.. kalau ingat masa remaja dulu saya banyak dosa sama Ibu saya karena suka bohongin beliau demi untuk beli kasset atau majalah musik.

  6. Gatot Widayanto Says:

    Pak Alfie, Mas Kris,

    Memang jaman dulu itu kaset bener2 barang mewah meski harganya hanya Rp 500,-. Bahkan ada yang seribu tiga. Tapi tetep aja musti menabung keras atau minta ortu buat beli kaset.

    SAS saya gak koleksi banyak tapi ada kaset yang ada lagu “Rudal” .. wah itu lagu keren abis!

    Pak Alfie, bisa gak bikin tulisan yang mereview setiap album AKA maupun SAS? Pasti keren itu pak …

    Salam,
    G

  7. Kristanto Says:

    Kalau gak salah dr AKA menitis jd SAS.
    Dari Giant Step, lahirlah Superkid …
    Betul gak sih ? (Sambil nginget2 isi
    majalah Aktuil)

  8. Gatot Widayanto Says:

    Lha kok semua menjadi TRIO ya mas? Super Kid juga trio. Seingat saya Super Kid membawakan Bohemian Rhapsody …

    Salam,
    G

    • rozanaokt Says:

      SAS (Soenatha Tanjung/Gitar, Arthur/Bass & Keyboard, Syech Abidin/Drum). Superkid (Deddy Dores/Gitar & Keyboard, Deddy Stanzah/Bass & Gitar Akustik, Jelly Tobing/Drum). Di album I Superkid, yang dinyanyikan cuma sepotong bait Bohemian of Rhapsody (Queen). Lagu Queen yang satu ini sungguh sulit dibawakan, karena tingkat kesulitannya tinggi, baik musiknya maupun vocal dan backing vocalnya. Salah sedikit saja, nampak falsnya.

  9. Kristanto Says:

    Rupanya “re-structuring” sdh dikenal duluan oleh para rocker kita dibanding para ahli management ya mas …
    Kalau lagunya Queen “Brighton Rock” dulu suka dibawain grup apa ya mas Gatot ? (lupa, habis cm baca di Aktuil doang, hehehe …)

  10. Gatot Widayanto Says:

    Mas Kris,

    Brighton Rock suka dibawain GodBless. Saya nonton tahun 1976. GodBless konser pake speaker guwedham-guwedham ditumpuk di kiri-kana panggung sampek tinggi, suara menggelegar.

    Di interlude nya Brighton Rock si Ian sama Donny main tembak2an pake gitar dan bass.. Wah kerrren ,….!!Nuansamatik. Mereka juga bawakan Carry on Wayward Son nya Kansas. Rapi mainnya.!

    Salam,
    G

  11. Apec Says:

    Lagu balada SAS yg saya suka ‘ Jika Nanti kau panggil namaku’ dari album 1981.. Nyaman banget di telinga.

  12. MH Alfie Syahrine Says:

    God Bless sering tuh bawain lagu Brighton Rock nyaris di setiap pagelarannya di era 70′an dulu.

  13. Albert Says:

    saya inget thn 1976 SAS dibentuk karena Ucok sering absen. Saya inget beli Aktuil yg wkt itu bonus posternya Richie Blackmore tengah membahas pembentukan SAS Group. Masih di tahun itu juga saya nonton mereka perfom di Semarang. Arthur jungkirbalikin keyboard segala….manataapp…

    • Gatot Widayanto Says:

      Terima kasih mas Albert …. Sebuah pengalaman tak terlupakan ya bisa nonton SAS saat itu ….

  14. Rendy A zar Basalamah Says:

    Pak Alfie kemana saja sudah lama tidak muncul tulisan terbarunya?

    • Gatot Widayanto Says:

      Wah, bagus banget pertanyaannya…. Mungkin beliau sedang menyusun The History of Indonesian Rock ….. Kita tunggu ….

  15. acenk Says:

    Sangat senang masih bisa mngenal legenda rock indonesia

  16. Denmaz Saraph Says:

    Kayaknya masih ada album “Lapar” Volume 4

  17. Denmaz Saraph Says:

    Album “Love Mover” ini di sampul kaset tertulis “Sentuhan Cinta”

  18. dany Says:

    maaf mau tanya, kalo judul hati iba, masuknya album apa? thank

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 130 other followers

%d bloggers like this: