AKA – The Unforgetable Legend (1/3)

JRENG! Redaksi mendapat kehormatan untuk posting artikel panjang tentang AKA dan SAS dari pengunjung setia blog ini yaitu Bpk. Muhamad Hidayat Alfie Syahrine. Rupanya belakangan ini jarang mengunjungi blog ini karena sedang bertapa menulis sejarah grup rock legendaris dari Indonesia. Selain AKA dan SAS tentunya banyak lagi lainnya. Kita tunggu saja dari Pak Alfie. Tulisan AKA ini akan dimuat dalam 3 bagian. Selamat membaca dan sekaligus komentar. Untuk Pak ALfie, redaksi Music for Life mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Kiponrokin’. JRENG!

———

AKA

The Unforgetable Legend

Oleh : MH Alfie Syahrine

Sejarah Sang Pendobrak

Inilah band yang terbentuk pada tanggal 23 Mei 1967 dan dicukongi oleh Pemilik Apotik Kali Asin  ayah-nya Ucok Andalas Datuk Oloan  Harahap alias Ucok Harahap. Awalnya mereka terdiri dari Ucok Harahap (vocal) Syeh Jefry Abidin (drum), Soenatha Tandjung (gitar), Peter Wass (bass ) yang kemudian diganti oleh Lexy Rumagit lalu pada tahun 1969 Arthur Kaunang menggantikan kedudukan Lexy sebagai pemain bass dan pada formasi inilah mereka benar- benar solid. AKA dengan mascotnya Ucok yang saat itu dianggap sangat urakan disebabkan keesentrikannya sebagai sang pendrobrak kemapanan dalam kasanah pertunjukan musik panggung di Republik ini, AKA membuat trend baru didalam dunia pertunjukan panggungnya dengan mengusung salib,algojo dan peti mati diatas pentas spesial untuk Ucok sang vokalis nyentrik yang oleh majalah Aktuil saat itu dianggap sebagai pelopor musik underground di Indonesia .

Diatas pentas,AKA sering  menyanyikan lagu -lagu seperti ; Immigrant Song, Sex Machine, Crazy Joe, We’ve Got To Work It Out,Shake Me, Do What You Like, The Land Is Mine, Breakdown dll.Aksi Ucok Harahap dipanggung ditopang oleh permainan gitar Sunatha Tandjung yang dahsyat dan gebukan drum yang prima dari Syeh Jefry Abidin serta cabikan bass yang garang dari Arthur Kaunang maka jadilah AKA salah satu band yang dinobatkan sebagai Super Group Rock kelas wahid di Tanah Air dan selalu saja membuat hysteris para penontonnya.

Di awal tahun 1970  hingga 1976 merupaka era keemasan business musik rock  yang larisnya bukan dari dunia rekaman  tetapi pada pertunjukan panggung. Bila ada satu group rock yang berani tampil beda baik kualitas aksi panggung maupun musiknya maka sudah dapat dipastikan untuk pertunjukan berikutnya secara otomatis para penonton menjadi salesnya, begitu pula popularitas AKA tidak lepas dari keberhasilan fans fanatiknya yang menyebar luaskan kehebatan band itu dari mulut ke mulut disamping peranan majalah Aktuil yang tidak sedikit kontribusinya didalam membesarkan nama AKA karena Aktuil mewakili selera kaum remaja dalam life style termasuk dalam hal musik.

Kesuksesan  Fenomenal Yang Penuh Sensasi

AKA mendulang sukses luar biasa bukan hanya di dalam negeri tetapi di luar negeri juga dimana lagu lagu mereka seperti. Glenmore, Crazy Joe, Shake Me, Do What You Like dan We’ve Got To Do Work It Out sempat masuk TOP Chart radio Australia

Untuk menarik perhatian penonton dan menjaga popularitasnya ,berbagai macam ulah panggung selalu ditampilkan oleh Ucok, salah satunya sewaktu AKA manggung di TIM pada tanggal 9-10 Novermber 1973 dimana Ucok cs tampil bersama Gigi Girls dari Taiwan.Ucok tampil mengagetkan penonton dalam suatu atraksinya, sambil menyanyikan lagu Crazy Joe tiba-tiba dia menaiki pagar tembok theater terbuka TIM lalu berlari-lari diatas genting yang kemudian tahu-tahu  dia sudah muncul di panggung kembali bak orang kesurupan dia dicambuk,diikat kakinya dan digantung  lalu ditikam oleh  seorang algojo serta dimasukan ke peti mati, atraksi ini sontak mendapat sambutan yang sangat meriah tapi anehnya dibalik panggung Ucok benar benar seperti orang kemasukan jin  dia mengelepar-gelepar bak ikan yang kepanasan didarat, untung saja saat itu ada Remy Silado yang segera menyiraminya dengan seember air yang mana membuat Ucok gelagapan seperti orang kebingungan. Dalam salah satu aksi pertunjukan “euidan” yang lainnya, Ucok beraksi sambil membawakan lagu yang berjudul Sex Machine, dia seakan-akan kesurupan dan memperagakan adegan bersenggama diatas organnya. Kemudian dia keluar dari panggung, memanjat tembok dan ke atas genteng. Ketika muncul lagi di pentas, ia langsung membuka baju. Membiarkan dirinya “dihajar” dua algojo, kakinya diikat dan digantung. Setelah “ditusuk” dengan pedang, dia dimasukkan ke dalam peti mati.  Di era 70-an Ucok Harahap tercatat sebagai  rocker yang paling “gokil” atraksi panggungnya dan selalu mengundang sensasi serta kegaduhan.

Hal ini terlihat dalam salah satu pertunjukan yang dihadiri tidak kurang 5000 penonton di Gedung Gelora Olahraga 10 November Surabaya. Kejutan  lain yang diperlihatkan oleh Ucok adalah ketika AKA bertemu Rollies di panggung Stadion Gelora10 November pada tanggal 8 Juli 1972. Ketika Rollies membawakan lagu-lagu Gone Are The Song of Yesterday, I Had To Leave You, dan sebuah lagu dari Iron Butterfly berjudul A Gadda Da Vida, tiba-tiba muncul seorang kakek tua yang brjslsn sambil terbungkuk bungkuk dari kerumunan penonton menuju ke depan panggung sambil memegang tongkat. Penonton gemuruh dan bersorak karena orang itu adalah Ucok Harahap yang sengaja berada di antara penonton menyaksikan Rollies serta banyak lagi perilaku unik yang di lakukan oleh sang Superstar itu dimana semua itu bermuara kepada sensasi guna untuk mendongkrak populeritasnya.

About these ads

11 Responses to “AKA – The Unforgetable Legend (1/3)”

  1. kunangkunangku Says:

    wah, ndak sabar nunggu sambungannya… :-)

  2. edigimo Says:

    Saya blm pernah nonton AKA. Suatu ketika waktu nonton SAS di Tambaksari Ucok jadi bintang tamu, lalu mrk jamseasion. Klau gak salah mrk menyanyikan Voodoo Chile. Ucok AKA Harahap memang Keren.

  3. Kristanto Says:

    Blom pernah liat langsung di atas panggung,
    cuma tau sepak terjangnya lewat majalah Aktuil.
    Lagu “Badai Bulan Desember” sangat nuansamatik,
    dan sering ngingetin peristiwa tsunami Aceh…

  4. Rizal Prasetijo Says:

    Pak Alfie ini memang top barotop surotop markotop muantebb ndredegh… A walking dictionary of the Indonesian rock music in the golden era. Apa kita perlu ganti listrik ke 110V lagi, supaya kita bisa punya band rock bermutu matjam AKA, SAS, Rollies, dan Sharkmove?

  5. apec Says:

    dari debu kembali ke debu, dari tanah kembali ke tanah
    Besar di Suroboyo, yo berakhir juga nang Suroboyo…

    Kapan yo ada lagi grup2 Indonesia sekelas AKA,SAS, Giant Step…

  6. indrayana Says:

    Bicara AKA ? … wuih asik cing….!
    Dari ke 4 personel, rasanya kadar musikalitas yg paling tinggi diantara mereka adalah Arthur Kaunang … orang satu ini adalah mendjadi fokus perhatian saya ketika nonton mereka beberapa kali ….. dan stage act Arthur bener2 enak ditonton, tidak ada duanya deh…. … lebih asik liat Arthur ketimbang liat Glenn Hughes – Bassist Deep Purple saat manggung di Jkt 4-5 Des 1975

  7. MH Alfie Syahrine Says:

    Bang Ijal yth,
    waktu listrik masih 110 Volt saja mereka sudah begitu hebat apalagi kalau seandainya mereka itu mudanya sekarang? wahbisa go International sayayakin bukan hanya rekamannya tetapi juga para pemainnya.Tapi saya heran manakala segala fasilitas sudah sangat lengkap seperti sekarang eh kualitas musiknya kok seperti lari di tempat apalagi gaya mainnya di panggung , jauh kalah dengan mereka !.

    Salam

    MHAS

  8. Kristanto Says:

    AKA lahir dan besar di hadapan kita2 (d/h angkatan 70an)
    yang terbukti punya wawasan dan apresiasi musik
    yg mungkin bbrp level lebih tinggi dibandingkan anak2
    angkatan 2000an yg lebih puas dgn musiknya Peterpan,
    Nidji, hehehe …

  9. indrayana Says:

    Anak saya pernah ngomel…..kenapa saya tidak bisa menikmati musik sekarang ? Malahan nguliahi “….. harap dipahami bahwa persepsi tentang kehebatan, keindahan, etc bisa berubah dg berjalannya waktu !” ….apa betul demikian ?

  10. MH Alfie Syahrine Says:

    Pak Indra memang jaman itu selalu berubah jadi wajar saja bila anak sekarang itu seleranya berbeda dengan kita seperti dahulu kita menggemari musik blues,prog rock, jazz rock atau hard rock tapi kita diminta atau disuruh untuk mencintai musik nasional seperti kroncong dimana saat itu kita menolak dengan bilang kroncong itu lagu untuk ortu.dlsbg.. begitulah siklus kehidupan pak !.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 142 other followers

%d bloggers like this: