Archive for July, 2010

Yang Baru Tiba di Meja Redaksi

July 30, 2010

JRENG!

Apa kabar? Semoga semuanya baik2 aja.

Seminggu lalu saat saya berada di Surabaya ada paket mendarat di meja redaksi, yaitu sebuah DVD dokumenter musik progressive rock bertajuk:

ROMANTIC WARRIORS

A Progressive Music Saga

Kiriman ini dari produser langsung DVD ini yang mengontak saya melalui Progarchives. sayangnya saya belum sempat menonton, jadi belum bisa cerita. Yang jelas pasti heboh lha wong ada Roine Stolt, Gentle Giant, Phideaux, etc. Sengaja juga belum saya tonton biar temen2 pada penasaran apa sebenernya isinya dan sekaligus minta diadakan ProgRing #7 membahas DVD ngeprog ini. Kalau liat packaging dan artworknya wis jan ngeprog pol jal! Liat aja ini:

Tampak depannya jan ngeprog pol rek!

Sleeve notes nya sederhana tapi ngeprog gitu lho!

Tampak belakang dan siapa saja yang main.

Saya ndak enak mengkhianati teman2 sesama proggers dengan “mencuri” nonton duluan. Lebih mak nyus kalo nonton bareng. Yo ra jal??? Piye?

Dua hari lalu saya juga menerima CD Limited edition dari a newly born Indonesian Progressive Rock Band:

MONTECRISTO

Celebration of Birth

Untuk yang ini, saya mohon maaf udah buka dulu segelnya dan langsung tak JRENG kan di pangsit saya dan … langsung JUOSZZZZ!!! Terasa pas di kuping. Musiknya ‘saya banget’ gitu loh! CD ini udah diedarkan di toko2 CD seantero jagad dengan harga sangat progresip: Rp. 35 ribu. Tapi maaf nek, yang saya punya beda lho .. LIMITED EDITION!!!

Musiknya keren dah! Buruan beli CD nya hari ini juga mumpung wiken, biar wiken nya indah karena diiringi musik melodik indah progresip dari MONTECRISTO. Sumprit! Musike apik rek!

Ini fotonya:

Moentecristo CD, limited edition with excellent booklet!

Keren kan?

The members of the Band

Semua lagu berbahasa Inggris! Pasti pemusiknya cerdas semua!

Montecristo jan progresip tenan jal! Uwediyan!!!

Kalau liat covernya, langsung saya ingat artworknya Uriah Heep “Sonic Origami”. Sambil nulis ini saya sudah mendengarkan CD ini yang ke lima kali. Makin lama didengerin makin enak… Melodinya menohok sukma. Top dah! Tunggu reviewnya di ProgArchives ya .. Kalau belum nyetel minimum 8 kali, saya gak mau nulis reviewnya …  Tapi yang jelas sampe sekarang markotop pol jal!

Wis gek ndang tutupen komputermu, terus budal nang toko CD. Takokno, nduwe CD Montecristo ra? Yen deweke ora dodolan, wis bandemen wae karo klepon! Pasti toko CD-ne ora progressip blaszz!!!

(Switch-off your computer now and hurry-up to the nearby CD store! Ask the store if they have Montecristo CD. If they don’t, slap their face with klepon!  Do you know klepon? Nah! It’s not clip-on ..it’s definitely a klepon! If you don’t know, you are NOT progressive at all man!)

Salam,

G

Pendekar Prog dari Jombang

July 27, 2010

JRENG MUKEJRENG! Hompimpah oalaekum gambreng!

Minggu lalu, setelah ProgRing # 6 nonton Rush ‘Beyond The Lighted Stage’, saya berada di Jawa Timur, tepatnya Suroboyo. Memang saya berada di sana karena sedang dalam rangka pekerjaan yaitu memfasilitasi corpoate culture workshop untuk sebuah badan strategis milik pemerintah. Sejak dari awal memang saya sudah mengagendakan ProgRing Perjuangan versi Suroboyo. Jadi, saya kontak Ary Kurniawan (sayang sudah pindah ke Jakarta – ngapain sih ke Jakarta? Kok seneng gitu lho dusel-duselan muacet?!) dan Ajie Wahjono. Sama Ajie udah mau ketemu, tapi gak jadi karena dalam perjalanan menuju Tunjungan Plasa, anaknya sakit. Jadi dia musti detour. Gak pa pa. Selain itu, saya sebenarnya ingin sekali ke nJombang bertemu dengan mas Edigimo yang prog pol-polan dan entek-entekan … Tapi sayang jadwal workshop saya cukup ketat dan ternyata mas Edigimo ini memang orang yang berjiwa progresip kemlisip abis, sehingga bukannya saya yang kudu ke nJombang, tapi malahan mas Edigimo ini ‘bersedia’ nglurug turun gunung dari pertapaan prog-nya di nJombang menemui saya di hotel tempat saya menginap di Suroboyo, dimana di depannya ada Rawon Setan yang rasanya masih kalah dibandingkan Rawon Ibu saya, Ny. Hidayat, yang top markotop kemlotop barokotop!

Kenapa ke nJombang Perlu dan Penting?

Hanya satu alasan: saya ingin menengok mas Edigimo yang meski tinggal di nJombang, tetangganya nDiwek, namun jiwanya tetep teguh di jalur progresip. Makanya, saya pengen banget nyambangi kediaman beliau yang konon selalu diwarnai musik progresip rok. Satu hal yang saya salut dengan mas Edigimo ini adalah konsistensinya di jalur prog tapi mengikuti perkembangan jaman. Liat aja komentar-komentar beliau di blog ini, yang lebih sering dikomentari justru band-band prog baru bukannya yang lama ala 70an. Bukan berarti beliau gak suka 70an lho .. tapi memang jiwa beliau ini progresip. Nah, kalau saya ke nJombang, saya bisa merasakan resonansi progrok yang pasti maha dahzyat karena di kepala saya: di kota nJombang so pasti kebanyakan orang sukanya musik pop ala “love me honey” gituan dan ujug-ujug ada anomali seorang Edigimo yang memiliki selera papan atas di kancah progresip rok. Pasti sesuatu yang maha dahzyat.

Face Value

Akhirnya kita face value alias tatap-muka pada hari Rebo (21 Juli 2010) minggu lalu di Suroboyo. Ternyata beliau membawa bolodewo menungso prog pitungpuluhan – alias membawa konco-konco dan kroni-kroninya sesama penggila musik progresip, yaitu mas Adi dan mas Tri. Ternyata mereka bertiga ini udah kayak trio ELP aja karena berhati dan berkelakuan progresip. Mas Adi ini dulu adalah pemain kibor band prog Malang bernama BHAWIKARSU. Memang mereka bertiga berasal dari SMA 3 Malang, satu angkatan, sekitar angkatan saya. Ora maido blas kalo mereka ngeprog lha wong SMA 3 Malang kuwi isine menungso prog kuabeh! Mas Tri adalah penggemar hard rock 70an namun juga suka ELP. Lha opo tumon, ngakune seneng hard rock tapi suka ELP? Yo wis ndak opo opo ….

ProgRing @ Suroboyo: mas Adi, mas Tri, saya, mas Edi

Obrolan sore itu di Lounge hotel JW Marriott Suroboyo berlangsung sangat gayeng dan sepertinya kami berempat udah kenal puluhan tahun yang lalu. Mas Edigimo mengaku belajar prog dari kaset Yess, Apple yang diajari oleh mas Adi. Lucunya, mas Edigimo ini udah 30 tahun ndak pernah ketemu mas Adi dan mas Tri dan baru pada hari itulah mereka daprukan ketemu adep-adepan rai.. ha ha ha ha ha .. Jadi bisa dibayangkan betapa hari tersebut sangat bersejarah bagi kita berempat. Wis pokoke jan nuansamatik kemlitik tanpa rheumatik (soale wis ora ono maneh Rheumason jal!).

Memang ngobrolin prog dan claro pitungpuluhan (70an) itu jan ndak ada habisnya dan sulit dipisahkan. Kita berempat ini rasanya udah ‘gancet’ (hus! Saru tenan!) .. tapi yang gancet jiwanya lho ..bukan fisiknya… H ah ha ha ha ha ha …

Musike Nggawe Mumet!

Segmen obrolan paling nuansamatik bagi saya adalah saat mas Edi cerita mengenai kafenya. Oh ya lupa cerita… Mas Edigimo ini pengusaha kafe yang sukses di kota nJombang. Beliau ini memiliki kafe yang diberi nama APPLE. Eits ..!!! Jangan salah ya .. ini gak ada hubungannya dengan Steve Jobs but it’s got to do with prog rock, of course! Tahu gak? Nama APPLE terinspirasi dengan perekam kaset bajakan era 70an yang namanya Apple dari Bandung. Sudah pasti semua band yang direkam di perekam APPLE so pasti musiknya PROG ya seperti Yess begitu. Rak progresip tenan to jal?

Mas Edi: “Saya ndak punya lagu pop je!”

Inilah segmen cerita mas Edigimo yang saya terkesan sekali. Dialog ini terjadi antara pengunjung setia APPLE Cafe yang selalu memutar musik-musik prog sebagai pengantarnya.

Pengunjung: “Ed, musik sing mbok puter iki nggawe mumet endasku ..” (Ed, musik yang kamu putar ini bikin kepala gue pusing…)

Edigimo : “Lha, aku ora nduwe musik pop je! Lha yen awakmu muter musik pop mu, rak endasku sing mumet!” (Aku gak punya musik pop tuh. Lagian, kalau aku puter musik pop yang kamu suka, kepalaku yang pusing!)

Hua ha ha ha ha ha ha .. Ini baru PROGRESSIVE WARRIOR from nJombang von nDiwek.

Think about it:

  1. Adakah di Jakarta yang metropolitan ini sebuah kafe “hanya” memutar lagu-lagu progresip rok? Jawab: NDAK ada!
  2. Adakah pemilik kafe yang “stubborn” gak mau ngikuti permintaan selera musik pop dari pengunjung? Jawab: NDAK ada!

Mulane to jal .. opo ora mas Edigimo iki adalah PENDEKAR PROG yang harus dibanggakan?

Ngono lho jal!

Salam,

G

Lapsing ProgRing #6: Beyond The Lighted Stage

July 26, 2010

JRENG!

Akhirnya sukses juga ProgRing #6 digelar hari Minggu yang lalu di rumah mas Tatan. Yang datang banyak. Bethara Guru Alfie sampe turun gunung lho. Selain beliau: mas Purwanto Setiadi, Rully, Mita, mas Yuddi, mas Keli Rachmat, mas Tatan, saya. Wis pokoke jan gayeng tenan. Review mengenai DVD ini sudah saya tulis di ProgArchives ya.

Rush Beyond the Lighted Stage album cover

DVD/Video, released in 2010

Songs / Tracks Listing

Disc 1:
1. Start
2. The Suburbs
3. Finding Our Way
4. The New Guy
5. Assuming Control
6. Terminally Unhip
7. Drinking The Milk Of Paradise
8. Making Modern Music
9. The Gilded Cage
10. New World Men
11. The Yoda Of Drums
12. Ghost Rider
13. The Return
14. Revenge Of The Nerds
15. End Credits

Disc 2 Bonus Material:
1. Being Bullied And The Search For The First Gig
2. Reflections On Hemispheres
3. Presto And Roll The Bones Rap
4. The Rush Fashion
5. Hobbies On The Road
6. Rush Trekkies
7. Pre Gig Warm Up
8. “Best I Can” With John Rusey – Laura Secord SS – Spring 1974
9. “Working Man” With John Rusey – Laura Secord SS – Spring 1974 Copy 1
10. “La Villa Strangiato” – Pinkpop – 1979
11. “Between The Sun And Moon” – Live At Hartford – June 28th 2002
12. Dinner With Rush At A Hunting Lodge
13. “Far Cry” – From The Snakes & Arrows Tour
14. “Entre Nous” – From The Snakes & Arrows Tour
15. “Bravado” – From The R30 Tour
16. “YYZ” – From The R30 Tour

Lyrics

Search RUSH Beyond the Lighted Stage lyrics

Music tabs (tablatures)

Search RUSH Beyond the Lighted Stage tabs

Line-up / Musicians

- Geddy Lee / vocals, bass, keyboards
– Alex Lifeson / guitars
– Neil Peart / drums, percussion
– John Rutsey / drums

+ various interviewees

Releases information

DVD and Blu-Ray release date June 29th in the USA and July 5th in the UK.

Suasana ProgRing#6:

Seremonial pembukaan segel DVD oleh yang punya: Mas Purwanto Setiadi

Suasana akrab sebelum pertunjukan dimulai ...

Mita dan Pak Alfie .... Dua generasi yg berbeda namun selera sama2 PROG ...

DVD yang heboh itu .... Gak perlu porno buat heboh!

Review GW di ProgArchives:

4 stars I think, irrespective you are a prog freak or hard rock freak, I am sure in some way you like most of Rush music. As in my case, I am not a die hard fan of Rush but I always love their music and I always enjoy when I play most of their albums especially those the 70s and 80s. I have not seen Rush on stage by my eyes in a real concert. But I have seen many of Rush video / DVD concerts from the classic Exit Stage Left, Grace Under Pressure as well as the later ones like Rush In Rio. Yes, I enjoy all of them but I am no longer eager to watch the live DVD again from Rush. Not that I don’t want to, but more on predictability of the live recorded video because I have seen many of them,

The latest DVD by Rush titled ‘Beyond The Lighted Stage’ is totally different from their previous release as this is basically the documentary film capturing the band’s journey from their inception right way through the recent years. I was so excited to watch the DVD especially with its tagline ‘The band you know, the story you don’t’. What a great tagline! I had a chance to watch this DVD last Sunday with other 8 people of my prog mates right here in Jakarta Indonesia as the DVD ordered by my colleague just arrived Tuesday last week. We watched the DVD in a mini home theater studio powered with great sound system with large screen. We only played Disc One of the package and did not have a chance to play the second disc because it’s too late in the evening and some of my progmates would have to work on Monday. It’s really a lot of fun watching th DVD with other people, prog rock lovers. (By the way, we had a regular gathering which we call it as Progring – progressive gathering).

The story that finally we know…

I have set my mind right from the beginning that what I was going to watch was a movie, and NOT a live concert DVD. I did not expect the songs would be played in its entirety because it would emphasize on the story of the band. But the live footage make the movie mre attractive to enjoy. I am impressed with the fact that the story really started when the members of the band was in a school. It’s basically the meeting of two guys who in the future would be long-live friends: Geddy Lee and Alex Lifeson. I reall enjoy seeing the beginning history of the band as the two guys were basically not accepted by their parents to build their career in music. Geddy and and Alex kept trying and started to recruit John Rustey sitting at the drum stool. The good part is that the parents of Alex Lifeson and also Geddy Lee were interviewed as well.

The movie tries to focus on how the friendship of Geddy an Alex grew up steadily and there was an emotional bond on how they shared the same taste in music. As John Rustey got some health problem finally he was replaced by Neil Peart ? a shy guy who played as drummer in other band. Since then the band grew significantly and landed its popularity in radio program. The movie depicts clearly on how the band started to take control of their music without the involvement of the label who had put their trust to the band.

Overall, I am impressed with this movie and as result of watching this movie, I kept playing Rush music. I believe you will find yourself entertained watching this movie. There are many excellent segments throughout the movie especially their long vacuum period due to Peart’s personal problem with the loss of his love ones. Buy this DVD! Keep on proggin’ …keep on RUSHin’ ..!!!

Peace on earth and mercy mild – GW

ARENA “The Visitor”

July 26, 2010

JRENG!

Sekarang saatnya bahas band prog generasi ke-3 yang bernama ARENA. Siapakah Arena? Cari aja sejarahnya di internet, pasti ada. Yang jelas band ini dibangun dari pertemuan antara Clive Nolan (pemain kibor Pendragon) dan Mick Pointer (eks pemain drum Marillion). Bagi saya yang mengesankan adalah kisah yang ditulis di buku Marillion ‘Separated Out’ yang ditulis oleh Jon Collins. Ceritanya sejak ‘didepak’ oleh Fish dari Marillion di tahun 1984 setelah tour yang divideokan dalam ‘Recital of the Script’ si Pointer ini ‘mutung’ gak mau main musik lagi dan beralih profesi menjadi kitchen designer. Sepuluh tahun dia tekuni profesi ini hingga suatu ketika seorang penggemar Marillion menghubunginya dan mengatakan ke dia “Why don’t you play music like the days when you were in Marillion?”. Melalui dialog yang panjang akhirnya Pointer setuju dikenalkan oleh penggemar Marillion tersebut kepada Clive Nolan. Akhirnya terbentuklah ARENA dengan debut “Song from the Lions Cage”. Album ‘The Visitor” ini adalah “Misplaced Childhood”nya ARENA. Coba aja. Keren pol jal!

Arena The Visitor album cover


Studio Album, released in 1998

Songs / Tracks Listing

1. A Crack In The Ice (7:25)
2. Pins And Needles (2:46)
3. Double Vision (4:24)
4. Elea (2:36)
5. The Hanging Tree (7:09)
6. A State Of Grace (3:26)
7. Blood Red Room (1:47)
8. In The Blink Of An Eye (5:29)
9. (Don’t Forget To) Breathe (3:40)
10. Serenity (2:10)
11. Tears In The Rain (5:43)
12. Enemy Without (5:05)
13. Running From Damascus (3:44)
14. The Visitor (6:13)

Total Time: 59:37

Lyrics

Search ARENA The Visitor lyrics

Music tabs (tablatures)

Search ARENA The Visitor tabs

Line-up / Musicians

- Paul Wrightson / vocals
– John Mitchell / guitars and backing vocals
– Clive Nolan / keyboards and backing vocals
– John Jowitt / basses and backing vocals
– Mick Pointer / drums

Releases information

CD Verglas Music VGCD 012 UK (1998)

Review saya di progarchives pun puanjaaaang:

5 stars A Masterpiece Neo Prog Album of all-time!

I’m writing this review to serve three purposes. First, to express my personal views and deep appreciation to the band that has created this masterpiece album in the vein of neo progressive. Second, I dedicate this review to my friend: Agung Surjoatmodjo – a Supply Chain Manager of a multinational fast moving consumer goods company based in Jakarta, Indonesia. Of course, this is nothing to do with his profession but I do believe, however, that the music of ARENA has in a way contributed (may be significantly) for him to do his professional work better. Why? Agung is, I would say, a die hard fan of the band (and also Fish-era Marillion) and has been consistently listening to the music of Arena and Marillion with great passion. He almost always sends me a short message at my mobile whenever he spins the CD of Arena. I still remember his message: “Gatot, I’m now enjoying The Visitor. When it reaches ‘Too late! You waited too long. I stole the freedom you needed so much’, I remember you .”. (it’s a part of lyrics under “In the Blink of an Eye” – track 8 of this album). What an intriguing and provoking prog SMS this one is! (Agung and I seldom meet because we live in distance even though in the same city). With that kind of passion, you can imagine how die hard he is with the band. In fact, I knew him because of prog also – he loved Marillion as I did so a friend of his that knew me introduced me to him approx five years ago. If sometimes we got together at our rendezvous in Bakmi Kelinci Jl Sabang near local CD store Duta Suara, I can feel his passion of Arena through his energetic gestures emulating the band; sometimes he sung along couple of excellent melodies of Arena. Interesting prog meeting, I would say.

Third, it is for you – the readers of this website – especially to guide your purchase decision. Sorry, I’m talking too much – like a novel hah? – about my personal experience with Agung. But I’m sure that some of you may have experienced as what I experienced with Agung. You may find your prog mate even crazier than Agung. That’s the beauty of being in the prog circle – people can go mad with the music of particular band! Hope you can relate with what I mean .. If not, just ignore it!

The Music

It’s a concept album and it opens with “A Crack In The Eyes” in an ambient sound that brings the music in crescendo with a continuous stream of beats: soft musical riffs and howling guitar solo combined with dynamic drumming. The music is getting complex, sound wise, and suddenly turns quieter with only drum, bass and symphonic keyboard at the back and the voice line starts to roll firmly: “Dead calm / Raining all over me .”. A very nice opening part. The music flows in medium tempo with some quieter passages especially during transitions. Guitar sometimes fills the passage in acoustic style. Keyboard plays a very important to provide the symphonic atmosphere with excellent solo at the back. At the ending part, the music truly moves into a quiet passage, exploring the dark nature of keyboard sounds and effects. If you listen to this ending part using a decent sound system, you can find the beauty of various sounds produced. Excellent track!

It continues seamlessly to “Pins and Needles” through a nice guitar fills augmented with keyboard. When voice line enters, the keyboard plays nice melody at the back while guitar serves as rhythm section. This short track is positioned to set an atmosphere for the next uplifting “Double Vision” that starts with a stunning guitar work in an increasing tempo. The keyboard work by Clive Nolan is really serving its purpose to create excellent and melodic fills during transition. It is sometimes combined with an organ sound. It’s an excellent track that has become the band’s classic now!

“Elea” is a short instrumental piece with great guitar fills and solo that wonderfully sets the atmosphere of the next great track “The Hanging Tree” which begins with an acoustic guitar fills and vocal line “Walk along the waterfall .” ugh .. man .. what a great opening! The keyboard solo then follows augmented with acoustic guitar fills – it reminds me to Genesis’ “Entangled” even though it’s a different music. The music then blows with the mark of drum and combination of guitar solo and keyboard. I have to admit that the guitar solo that sounds at the background augmented with a keyboard work in symphonic style has enriched the textures of this song. This part is killing me, really! “Take me to the hanging tree. There is a boy in the light. And he’s staring at me. Take me to the hanging tree. It’s the place that I come from. Walk along the waterline. Reach across the salt and the sand. Moving deeper into the land. I’m falling … Falling down again!”. Oh my God . it’s a great ending!

The music suddenly rises up with simple riffs combined with bass and sound effects in “A State of Grace”. It’s an uplifting track with excellent rhythm section and guitar solo and great keyboard. Paul Wrightson does his vocals excellently – filled with soaring guitar by John Mitchell. “Don’t look for comfort in this house of mine ..” .. it’s a very melodic lyrical part! Thumbs up!

“Blood Red Room” is an atmospheric short track that serves as an introduction part of the next energetic and uplifting track “In The Blink of An Eye” that starts with heavy and complex music dominated by keyboard. It turns quieter with the entrance of vocal line and followed by wonderful piano sounds. This track has a powerful nuance and rich in compositions – it blends all instruments into a tight composition. The composition has made this album as a cohesive prog album that sets a high standard and makes others hard to emulate or follow.

“(Don’t Forget to) Breathe” is another masterpiece with tight composition performed in a rocking style. The guitar melody at intro helps accentuate the vocal layer and both produce such a great harmony sound. The short guitar solo in the middle is truly stunning ..

“Serenity” is a John Mitchell’s exploration in the vein of Gilmour. His guitar style is fantastic. Definitely, this track reminds me to Pink Floyd music. It flows to “Tears In The Rain” with a mellow intro exploring the piano sounds. The vocal line enters smoothly with “This is a clown’s tale .”. When the music reaches the part where the lyrical part says “Why do we all fail to see ..” it demonstrates the band’s genius in creating catchy and killing melody. But that’s just the beginning. As the music turns into guitar solo in approx min 2:40, I can feel another killing melody created by the band. Then, it reaches its peak when the lyric says “Don’t offer sympathy when you’ve just walked away .” ughhh . man . it’s really killing me! (In fact, while I’m writing this review, Agung has just sent me an SMS emulating this lyrical part . Bingo!).

It flows seamlessly to “Enemy Without” with a mellow and ambient vocal opening. The music than enter in its full stream in an upbeat tempo. It’s kind like a happy mood track. “No! Don’t let this child die here!” is a memorable part. This track flows wonderfully with some transitions into quieter passage and it ends up with a rhythm section of “A Crack in The Ice” and shortly continues to next track.

“Running From Damascus” lends itself part of melodies and rhythm section from the album opener “A Crack In The Ice” but it is composed in more complex textures incorporating many sounds from various instruments. The music is performed in relatively fast tempo with a very tight composition. Musically, this track should be used as concluding tune as the end of this track closes nicely with “Open your eyes!”.

Unfortunately, the album still continues with other ending track “The Visitor”. Parts of “The Hanging Tree” is also incorporated in this track at ending part. To me, I find the concept has become “disjointed” with the change in nuance to this concluding track. Don’t get me wrong, this track is wonderful though. But, it would be better if it’s positioned before “Running From Damascus” (IMHO). That’s just a thought from a listener. Overall, it’s a an excellent album, musically.

My Recommendation

BUY THE CD! You won’t regret it at all. After all, neo prog music is I think much more accessible compared to any other subgenre of prog rock. You don’t need to understand what parog music is all about. Just enjoy the CD from start to end and experience yourself how the band will bring you. I find there are many great and memorable tracks in this album but I never repeat the track in the middle of my entire spin. Usually, I repeat only after I’ve listened to it its entirety first and after that repeat the favorite tracks. It’s basically an album that you would enjoy from start to end continuously. Keep on progging!

Yours progressively,

GW – Indonesia

Notes: A Personal Reflection (It’s my personal experience – you do not need to read it).

I find this album is contemplating. I think, prog music is the best media for contemplating our mind that sometimes (mostly!) at the end would produce innovative idea(s). This is not about meditation. It’s about how the melodies, the sounds and nuances of prog music like this album can help elevate our emotions. I did experience it myself, that’s why I’m sharing it with all of you. Sometime in 1999, when I was working in consumer banking sector, I was assigned a challenging job in two “Six Sigma” (it’s a Quality type of things – for those of you who are not aware of it) projects. When the projects that I facilitated reached a stumbling block – the team had a lot of ideas but failed to formulate a robust recommendation to the business – the music of this album has helped me a lot to rediscover myself on reformulating the course of actions that I should take to “rejuvenate” the team. I listened to it during off-duty hours – in the evening – while sipping a cup of coffee. It’s not only this album, sometimes Marillion first 4 albums. I don’t know why, I always found new ideas while listening to this kind of music; and I brought it back to the team the next day. You know what? The two projects that I facilitated won the no. 1 and no. 2 prizes of that year project accomplishment. Hey, it’s the team that made it happen, not me – because I was just a facilitator . But, the music of this kind had helped me a lot to regain my spirit to facilitate my team. It’s a true story of how prog has created impacts to life .indirectly (of course).

AKA – The Unforgetable Legend (3/3)

July 18, 2010

AKA

The Unforgetable Legend (3/3)

Oleh : MH Alfie Syahrine

Ucok Harahap Master of Chaos

Kerusuhan juga terjadi di pertunjukan musik Malam Show Duel Anti Narkotika tanggal 8 Juni 1974. Pertunjukan ini menampilkan group musik AKA dan Giant Step. Kekacauan berawal dari jam pertunjukan yang terlambat dan dipicu oleh jalannya pertunjukan yang tidak lancar. Para penonton yang berada di belakang berusaha maju ke depan panggung, sementara pertunjukan berjalan terus. Keributan penonton juga berlangsung terusban denda benda mulai beterbangan seperti; sendal, korek,sandal,sepatu bahkan sampai kursi besi pun ikut melayang ke arah panggung dan penonton sendiri. Akibatnya Sonatha Tandjung dan Tony  crew dari AKA terpaksa dirawat di rumah sakit karena terkena lemparan batu dan potongan besi serta kayu dari penonton. Belum lagi pertunjukan musik AKA di Taman Remaja Surabaya pada awal Juli 1975 yang seharusnya dapat berlangsung lebih lama terpaksa dihentikan karena penonnton yang tidak tertampung di tempat tersebut merusak bangku-bangku panjang serta melemparkannya ke segala penjuru, sehingga membuat lebih dari sepuluh orang luka-luka.AKA kemudian meninggalkan panggung walaupun penonton berteriak meminta AKA untuk tampil lagi. Pada waktu pertunjukan AKA di Taman Remaja Surabaya pada awal Juli 1975 yang seharusnya dapat berlangsung lebih lama terpaksa dihentikan karena penonnton yang tidak tertampung di tempat tersebut merusak bangku-bangku panjang serta melemparkannya ke segala penjuru, sehingga membuat lebih dari sepuluh orang luka-luka. AKA kemudian meninggalkan panggung walaupun penonton berteriak meminta AKA untuk tampil lagi.

Namun anehnya terkadang Ucok tampil biasa saja dalam pertunjukan musiknya. Seperti saat tampil bareng dengan group musik Ternchem asal Solo di Gelora Pancasila Surabaya pada Maret 1973. AKA membuat surprise di hadapan fans fanatiknya dengan tidak menonjolkan aksi-aksi yang eksentrik dan gila-gilaan seperti sebelumnya. Bahkan, pembawaan Ucok terlihat kaku, berbeda dari Arthur Kaunang, Syeh  Jefry Abidin dan Sunatha Tanjung yang justru lincah bergaya dalam aksi panggungnya saat itu . Namun,  usut punya usut ternyata aksi kalem Ucok ini ada latar belakangnya. Rupanya, Ucok seringkali mendapat surat teguran dari pihak berwenang dan acara tersebut dihadiri juga pejabat kepolisian setempat, namun lama kelamaan penonton merasa kecewa dengan sikap Ucok. AKA yang tampil biasa-biasa saja tanpa peti mati dan tiang gantungan diperlihatkan juga ketika mereka pentas di Taman Hiburan Rakyat Surabaya tahun 1975.

Sejak saat itu AKA tidak lagi  menampilkan peti mati, kulit sapi, tengkorak, dan lain-lainnya dalam pertunjukan karena ada larangan dari pemerintah. Oleh karena itu AKA hanya mengadakan pertunjukan ala kadarnya saja. Memang bagi AKA sendiri hal itu sangat tidak menguntungkan. Selain di pulau Jawa,  bukan hanya Ucok Harahap dan AKA-nya tapi juga Mickey  masuk black list  di Bali. “Hampir setiap pertunjukan musik AKA, terutama di daerah yang masyarakatnya belum terlalu terbuka, selalu  dijaga ketat dan diawasi. Sebetulnya bukan masyarakatnya yang menolak AKA, tetapi penguasa setempat”. Cerita Ucok suatu sa’at.

Perpecahan Internal

Namun sayang kugiran cadas yang dahsyat ini pada akhir tidak bisa lepas dari perpecahan internal yang berkepanjangan, mereka bukannya merapatkan barisan menghadapi pesaing-pesaing baru yang handal seperti Rollies, Freedom of Rhapsodia,God Bless dan Giant Step tapi Ucok malah asyik dengan membuat group untuk proyek rekaman yang berbau jazz  bernama LSG alias Love Sweet Gentle dimana dia menggandeng Beny Mustafa, Tjipto,Hengky danEddy serta Ucok sendiri sebagai keyboardist  namuntangapanmasyarakat kurang begitu bagus lalu dia membuat Ucok and His Gangs (Uhisga) dimana disana dia  Cassanova

yang dikelilingi oleh banyak wanita cantik nan sexy yang mana hal ditentang oleh teman-temannya di AKA dengan alasan itu akan bisa merusak citra AKA sebagai band yang ber trade mark underground yang sudah terbentuk. Karena seringnya ditegur oleh teman-temannya akhirnya Ucok-pun menjadi gerah pula berada di group yang membesarkannya itu, lalu dia hengkang dan menjelang akhir 1975 AKA-pun tammat riwayatnya dengan dengan meninggalkan kesedihan dan kekecewaan dihati para fansnya.

Ucok diusia senja dalam suatu pertemuan di KPMI

Hari -Hari Terakhir Sang Super Star

Beberapa saat sebelum wafat Ucok masih saja sempat tampil sebagai rocker    yang

Sejati serta masih mampu berjungkir-balik dilantai sambil menyanyikan beberapa lagu Deep Purple dalam sebuah acara musik rock di TVRI stasiun Bandung yang disiarkan juga oleh TVRI stasiun Jakarta.

Sebagai seorang dari keluarga Muslim yang baik dimasa tuanya Ucok kembali ke qitohnya, menurut kabar yang sampai ke KPMI diusia senjanya dia beralih profesi sebagai seorang Ustadz yang mengajarkan penduduk disekitar lereng sebuah gunung di Jawa Timur untuk belajar mengaji tetapi karena dia seorang perokok berat maka kesenangannya itu menggerogoti kesehatannya hari demi hari penyakit paru-parunya bertambah parah, dokter mendapati bahwa Ucok terkena kanker paru-paru kronis.Disaat kritisnya Ucok didampingi oleh isterinya yang setia dan salah seorang anaknya yang dikenal sebagai penyiar TV yang cantik. Masa-masa kritisnya sangat mengharukan banyak kerabat, rekan serta para penggemarnya berdatangan dari berbagai penjuru Tanah Air untuk membesuknya, namun akhirnya sang rocker yang dahsyat itu-pun berpulang menghadap Haliq-nya dalam kondisi yang sangat mengenaskan.

And  Then They Were Three

Bagaimana dengan Syeh Jefry Abidin sang drummer yang pada era keemasannya sering disebut-sebut sabagai John Bonham-nya Indonesia?, kegiatannya sekarang sebagai  seorang Ustadz dan pengusaha, Syeh tinggal di Jakarta dengan keluarganya yang harmonis, bakat musiknya diwariskan kepada anaknya yang ganteng yang mempunyai group band juga sedangkan Sunatha Tandjung yang dahulu  yang disebut-sebut sebagai Jimmy Page-nya Indonesia itu, kini dia lebih suka tinggal di Surabaya kota yang membesarkan dan melambungkan namanya sebagai seorang gitaris rock kelas wahid. Tetapi kini dia tidak pernah lagi mau kembali kedunia musik hangar binger itu karena faktor usia dan jaman yang sudah berbeda, kini Sunatha  sangat aktif sebagai seorang Pendeta dimana setiap hari-nya dia disibukan dengan pekerjaannya sebagai pelayan Tuhan, baginya tiada hari tanpa melayani jema’atnya, dan bagaimana pula dengan si pencabik bass dan keyboardist dahsyat Arthur Kaunang yang pada era keemasannya sering diasosiasikan sebagai Keith Emerson-nya Indonesia? kegiatannya kini sebagai seorang pendeta juga dan pembuat lagu lagu rohani.

Album AKA

  1. Do What You Like (IndraRecords1971)
  2. Reflection (Indra Records 1971)
  3. Crazy Joe (Indra Records 1972)
  4. Sky Rider (Indra Records 1973)
  5. Cruel Side Of  Suez War (Indra Records 1974)
  6. Shake Me (Indra Records 1975 )
  7. Mr Bulldog (Indra Records 1976)
  8. Bertemu Untuk Berpisah (Indra Records 1976)
  9. AKA Volume 7 (Remaco1973)
  10. Pop Melayu (Remaco 1974)
  11. Pop Melayu Jawa (Remaco 1974)
  12. Qasidah Modern (Remaco 1974)
  13. Pucukku Mati (IramaTara 1977)
  14. Forever In Rock (Golden Hand 1978)
  15. Puber Kedua (Metrotama 1997)

AKA – The Unforgetable Legend (2/3)

July 18, 2010

AKA

The Unforgetable Legend (2/3)

Oleh : MH Alfie Syahrine


AKA ” Track On The Stages.

1.  April 1972 Tasikmalaya, AKA VS Rhapsodia

2.  Juli 1972 Istora Senayan, AKA VS The Rollies vs Trio The Kids
Jakarta AKA VS Delima Puspita vs Rhapsodia

3.  Maret 1973 Gelora Pancasila,AKA VS Ternchem
Surabaya

4.  April 1973 Taman Remaja, AKA VS starlight(UsBros)
Surabaya

5.  Juni 1973 Gdg Bola Basket, AKA VS Freedom
jl. Tenun Malang

6.  Oktober 1973 Sport Hall, Malam Dana Fak Pertanian UNSRI
Palembang

7.  Oktober 1973 Gelora Pancasila, AKA VS The Rollies vs God Bless
Surabaya

8.  November 1973 TIM Jakarta, AKA VS Gigi Girls(Korea)

9.  Desember 1973 Std Teladan Medan, AKA VS Freeman

10. April 1974 Gelora Pancasila, AKA VS Trenchem
Surabaya

11. Juni 1974 Gd Kridosono Jogyakarta, AKA VS Giant Step

12. Agustus 1974 Gelora Pancasila, AKA VS Freedom
Surabaya

13. Januari 1975 Istora Senayan, AKA + Koes Plus + D’Lloyd
Jakarta

Memang aksi yang  paling “gokil” dalam pertunjukan musik panggung  saat itu hanya dimiliki oleh AKA dengan Ucok Harahap sebagai mascotnya yang semenjak tahun 1969 sudah nampak mulai memperlihatkan gaya-gayanya yang konyol dan gila-gilaan.Ucok sering mendemonstrasikan atraksi-atraksi bak orang yang kesurupan dengan rela dicambuk badannya oleh algojo, menyanyi sambil berlari-lari, bermain organ sambil berlaku seperti bersenggama yang lalu mengelepar gelepar di lantai panggung, memanjat tembok atau atap ke sana dan ke sini serta dimasukkan ke dalam peti mati sebagai  bagian atraksi panggungnya.

Biasanya Ucok dalam pertunjukan di atas panggung menyambut para penonton cukup dengan sikap lengan ke atas, tanpa ada secercah senyuman di wajahnya. Komunikasinya dengan penonton tidak begitu harmonis dan Ucok hanya memperlihatkan kebolehannya saja, di samping raut mukanya yang keras dan jarang sekali tersenyum Baginya tidak perlu berbasa-basi dan itu sudah merupakan prinsip Ucok untuk mendapatkan predikat disegani.

Sejak saat itu-lah AKA mendulang sukses yang luar biasa, saat itu nyaris tiada hari tanpa show jadwal manggung mereka sangat penuh nyaris overloaded.Hampir dari seantero Tanah Air order manggung  berdatangan bukan hanya dari Jakarta ,Surabaya, Malang Medan dll tetapi juga dari Singapura.

AKA,The Unforgetable Legend

Tetapi adakalanya Ucok tampil bak seperti seorang priyayi yang kalem seperti sewaktu pertunjukan AKA dan Freemen  di Stadion Teladan Medan pada tanggal 3 dan 9 Agustus 1974. Dalam pertunjukan ini sebenarnya tidak ada yang berbeda dari yang pernah mereka sajikan kepada penonton-penontonnya di kota lain yang pernah mereka kunjungi. Akan tetapi dalam pertunjukannya kali ini Ucok sama sekali tidak memperlihatkan gerakan-gerakan ‘gokil’ seperti masturbasi atau bersenggama yang kerapkali dipertunjukan pada penonton, penampilannya biasa-biasa saja mungkin dia segan karena menganggap Medan adalah kampung halamannya dan barangkali pula dia malu kepada opung atau namborunya yang mungkin menontonnya saat itu.

Benda-benda Udara Beterbangan

Namun tidak semua aksi panggung yang ditampilkan AKA mendapatkan respon positif dari penonton. Seperti dalam pertunjukannya di Malang, Ucok Harahap lagi-lagi mendemonstrasikan aksi adegan bersenggama. “Do you know sex ?”, tanya Ucok beberapa kali kepada penonton. Kemudian ia mengeliatkan-geliatkan tubuhnya di lantai dan di atas organ yang dimainkannya, seperti orang yang sedang melakukan perbuatan senggama. Pertunjukkannya yang dinilai jorok itu bukannya  mendatangkan pujian tetapi malah pokok kayu dan batu serta sandal beterbangan karena selera arek-arek malang saat  itu sangat kritis dan mereka bisa berubah menjadi sangat sangar manakala ada hal-hal yang tidak berkaitan dengan musik apalagi berkaitan dengan hal-hal yang dianggap jorok.Mereka hanya akan memberikan sambutan hangat bilamana pementasan band itu berkualitas bukan atraksi model senggama atau masturbasi ala Ucok yang dianggap sangat vulgur dan tidak ada konteks musikalnya.

Begitu juga ketika diawal AKA mulai popular mereka tampil di kota Tasikmalaya  bersama group Rhapsodia pada Juni 1972, di kota ini gaya panggung Ucok dan kawan-kawan tidak disukai oleh pecinta musik rock.disana karena saat itu walaupun kawula mudanya suka musik cadas yang hangar binger  tetapi mereka masih ketat memegang adat dan tata karma kesundaanya.Meskipun para penonton meneriaki mereka dengan caci maki dengan bahasa Sunda dan Indonesia, namun pertunjukan tidak berakhir dengan kerusuhan atau pelemparan batu karena group Rhapsodia, yang tampil sesudah AKA berhasil meredam dan menjinakkan para penonton dengan lagu-lagu ala Santana, Deep Purple, STYX serta lagu-lagu lokal.

Kejadian yang sama juga berulang kembali sewaktu AKA tampil bersama Giant Step pada bulan Juli 1974 di Gedung Kridosono Yogyakarta rupanya atraksi gantung sembelih dan masuk peti mati telah berulangkali di lakukan oleh Ucok yang mana telah menimbulkan kebosanan bagi para penonton, mereka bukan hanya memaki-maki  tetapi juga merusak gitar Arthur. Ucok sendiri kepalanya benjut tertimpa lemparan bangku dan nasib serupa terkena juga pada Sunatha Tandjung yang terluka parah akibat kena lemparan kayu dan besi yang dilakukan oleh penonton yang sudah tidak bisa dikendalikan lagi kesal dan amarahnya, ketiganya sampai dirawat di RS Panti Rapih Yogyakarta.

AKA – The Unforgetable Legend (1/3)

July 17, 2010

JRENG! Redaksi mendapat kehormatan untuk posting artikel panjang tentang AKA dan SAS dari pengunjung setia blog ini yaitu Bpk. Muhamad Hidayat Alfie Syahrine. Rupanya belakangan ini jarang mengunjungi blog ini karena sedang bertapa menulis sejarah grup rock legendaris dari Indonesia. Selain AKA dan SAS tentunya banyak lagi lainnya. Kita tunggu saja dari Pak Alfie. Tulisan AKA ini akan dimuat dalam 3 bagian. Selamat membaca dan sekaligus komentar. Untuk Pak ALfie, redaksi Music for Life mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Kiponrokin’. JRENG!

———

AKA

The Unforgetable Legend

Oleh : MH Alfie Syahrine

Sejarah Sang Pendobrak

Inilah band yang terbentuk pada tanggal 23 Mei 1967 dan dicukongi oleh Pemilik Apotik Kali Asin  ayah-nya Ucok Andalas Datuk Oloan  Harahap alias Ucok Harahap. Awalnya mereka terdiri dari Ucok Harahap (vocal) Syeh Jefry Abidin (drum), Soenatha Tandjung (gitar), Peter Wass (bass ) yang kemudian diganti oleh Lexy Rumagit lalu pada tahun 1969 Arthur Kaunang menggantikan kedudukan Lexy sebagai pemain bass dan pada formasi inilah mereka benar- benar solid. AKA dengan mascotnya Ucok yang saat itu dianggap sangat urakan disebabkan keesentrikannya sebagai sang pendrobrak kemapanan dalam kasanah pertunjukan musik panggung di Republik ini, AKA membuat trend baru didalam dunia pertunjukan panggungnya dengan mengusung salib,algojo dan peti mati diatas pentas spesial untuk Ucok sang vokalis nyentrik yang oleh majalah Aktuil saat itu dianggap sebagai pelopor musik underground di Indonesia .

Diatas pentas,AKA sering  menyanyikan lagu -lagu seperti ; Immigrant Song, Sex Machine, Crazy Joe, We’ve Got To Work It Out,Shake Me, Do What You Like, The Land Is Mine, Breakdown dll.Aksi Ucok Harahap dipanggung ditopang oleh permainan gitar Sunatha Tandjung yang dahsyat dan gebukan drum yang prima dari Syeh Jefry Abidin serta cabikan bass yang garang dari Arthur Kaunang maka jadilah AKA salah satu band yang dinobatkan sebagai Super Group Rock kelas wahid di Tanah Air dan selalu saja membuat hysteris para penontonnya.

Di awal tahun 1970  hingga 1976 merupaka era keemasan business musik rock  yang larisnya bukan dari dunia rekaman  tetapi pada pertunjukan panggung. Bila ada satu group rock yang berani tampil beda baik kualitas aksi panggung maupun musiknya maka sudah dapat dipastikan untuk pertunjukan berikutnya secara otomatis para penonton menjadi salesnya, begitu pula popularitas AKA tidak lepas dari keberhasilan fans fanatiknya yang menyebar luaskan kehebatan band itu dari mulut ke mulut disamping peranan majalah Aktuil yang tidak sedikit kontribusinya didalam membesarkan nama AKA karena Aktuil mewakili selera kaum remaja dalam life style termasuk dalam hal musik.

Kesuksesan  Fenomenal Yang Penuh Sensasi

AKA mendulang sukses luar biasa bukan hanya di dalam negeri tetapi di luar negeri juga dimana lagu lagu mereka seperti. Glenmore, Crazy Joe, Shake Me, Do What You Like dan We’ve Got To Do Work It Out sempat masuk TOP Chart radio Australia

Untuk menarik perhatian penonton dan menjaga popularitasnya ,berbagai macam ulah panggung selalu ditampilkan oleh Ucok, salah satunya sewaktu AKA manggung di TIM pada tanggal 9-10 Novermber 1973 dimana Ucok cs tampil bersama Gigi Girls dari Taiwan.Ucok tampil mengagetkan penonton dalam suatu atraksinya, sambil menyanyikan lagu Crazy Joe tiba-tiba dia menaiki pagar tembok theater terbuka TIM lalu berlari-lari diatas genting yang kemudian tahu-tahu  dia sudah muncul di panggung kembali bak orang kesurupan dia dicambuk,diikat kakinya dan digantung  lalu ditikam oleh  seorang algojo serta dimasukan ke peti mati, atraksi ini sontak mendapat sambutan yang sangat meriah tapi anehnya dibalik panggung Ucok benar benar seperti orang kemasukan jin  dia mengelepar-gelepar bak ikan yang kepanasan didarat, untung saja saat itu ada Remy Silado yang segera menyiraminya dengan seember air yang mana membuat Ucok gelagapan seperti orang kebingungan. Dalam salah satu aksi pertunjukan “euidan” yang lainnya, Ucok beraksi sambil membawakan lagu yang berjudul Sex Machine, dia seakan-akan kesurupan dan memperagakan adegan bersenggama diatas organnya. Kemudian dia keluar dari panggung, memanjat tembok dan ke atas genteng. Ketika muncul lagi di pentas, ia langsung membuka baju. Membiarkan dirinya “dihajar” dua algojo, kakinya diikat dan digantung. Setelah “ditusuk” dengan pedang, dia dimasukkan ke dalam peti mati.  Di era 70-an Ucok Harahap tercatat sebagai  rocker yang paling “gokil” atraksi panggungnya dan selalu mengundang sensasi serta kegaduhan.

Hal ini terlihat dalam salah satu pertunjukan yang dihadiri tidak kurang 5000 penonton di Gedung Gelora Olahraga 10 November Surabaya. Kejutan  lain yang diperlihatkan oleh Ucok adalah ketika AKA bertemu Rollies di panggung Stadion Gelora10 November pada tanggal 8 Juli 1972. Ketika Rollies membawakan lagu-lagu Gone Are The Song of Yesterday, I Had To Leave You, dan sebuah lagu dari Iron Butterfly berjudul A Gadda Da Vida, tiba-tiba muncul seorang kakek tua yang brjslsn sambil terbungkuk bungkuk dari kerumunan penonton menuju ke depan panggung sambil memegang tongkat. Penonton gemuruh dan bersorak karena orang itu adalah Ucok Harahap yang sengaja berada di antara penonton menyaksikan Rollies serta banyak lagi perilaku unik yang di lakukan oleh sang Superstar itu dimana semua itu bermuara kepada sensasi guna untuk mendongkrak populeritasnya.

Renaissance S/T (1969)

July 12, 2010

JREnG!

Ngomongin 70an, bahkan akhir 60an, rasanya gak klop kalo belum memasukkan RENAISSANCE ke dalam pokok bahasan karena bagaimanapun juga band ini adalah sempalan sari The Yardbirds juga. Setelah Yardbirds bubar di awal 68, drummer Jim McCarty dan gitaris / vokalis Keith Relf membentuk TOGETHER, sebuah kelompok akustik. Dalam tempo singkat TOGETHER berubah nama menjadi RENAISSANCE pada tahun 1969 awal dengan tambahan musisi John Hawken (kibor), Louis Cennamo (bass) dan Jane Relf (vokal). Debut album ini menentukan arah musik RENAISSANCE selanjutnya….

Renaissance Renaissance album cover

Studio Album, released in 1969

Songs / Tracks Listing

1. Kings And Queens (10:55)
2. Innocence (7:05)
3. Island (5:57)
4. Wanderer (4:00)
5. Bullet (11:24)

Total Time: 39:21
… Bonus tracks on Repertoire and Renaissance cd releases:
6. Island (single)
7. The sea

… Bonus tracks on Mooncrest cd:
6. The Sea
7. Island (single)
8. Prayer for light
9. Walking away
10. Shining where the sun has been
11. All the falling angels

Lyrics

Search RENAISSANCE Renaissance lyrics

Music tabs (tablatures)

Search RENAISSANCE Renaissance tabs

Line-up / Musicians

- Keith Relf / vocals, guitar, harmonica
– Jim McCarty / percussion, vocals
– John Hawken / piano, harspichord
– Louis Cennamo / bass guitar
– Jane Relf / vocals, percussion

Releases information

CD Renaissance RMED 00167 (USA 1997)

Review GW di progarchives:

5 stars Following the break-up of The Yardbirds in early 1968 drummer Jim McCarty and guitarist/vocalist Keith Relf formed TOGETHER, an acoustic based group. This short lived then became RENAISSANCE in early 1969 with the addition of John Hawken (keyboard), Louis Cennamo (bass) and Jane Relf (vocal). So, this is the PRE ANNIE HASLAM period of the band. Musically, I would say this debut album has significant contribution in laying strong foundation of progressive rock music altogether with King Crimson, ELP, Yes, Genesis and Pink Floyd. RENAISSANCE has its own identity than the others. This debut album sets an important milestone for RENAISSANCE music direction in the future.

The opening track “Kings and Queens” proves to be the landmark for future releases of the band. The structural composition of this song is of relevance with later releases compositions. This track is heavily influenced by classical music through its piano sound at intro part. It’s a wonderful and dynamic piano play at intro. The drumming section enters nicely altogether with acoustic guitar fills. When the drumming style change to a jazzy kind of beat it reminds me to JON LORD’s solo album “Sarabande”. (Hey, this album should be in Progarchives page. It’s definitely prog!). You may observe and compare it on the musical segment just before the male vocal enters the scene. I like the drumming style and piano when they accompany vocals. So dynamic. One other thing is that this track is melodious. This track is really prog to the corner! Yeah, it’s a beautifully crafted song, I think!

“Innocence” has simpler composition than the first track. Piano still dominates the music. It has some jazz and blues component in its composition. Are you aware of Dutch’s blues band CUBY + THE BLIZZARDS? If so, this track is composition-wise similar to the works of CUBY. I like the piano solo in the middle of this track. Excellent! (This piece has influenced the music of my home country band BADAI). The end part of this track reminds me to the musical nuances of King Crimson’s “Lizards”.

“Island” is again an acoustic guitar and piano based song with female vocal of JANE RELF as lead with male vocal as backing. The bass guitar play is dynamic throughout the track. Stunning. The inclusion of piano solo in classical style has made this track more attractive. “Wanderer” is a more uplifting track with great piano and harpsichord sounds. I like the melody of harpsichord just before and during the singing of JANE RELF. It reminds me to the kind of RICK van DER LINDEN of TRACE music. It’s not the same, but the musical nuances are similar. This track has great melody!

The album is concluded fabulously with an epic track “Bullet” with 11:24 minutes duration. Again, the band gives a wonderfully crafted composition. This time the opening sound of piano is set to welcome the latin-like voices. KEITH RELF takes the lead vocal function backed with jazzy piano and drumming style. The overall composition of this song is more of in an avant-garde music, I think. It has high and low points with some musical exploration of sounds at the end of the track. I think this album is a masterpiece. My CD is a Repertoire version with two additional tracks: “The Sea” and “Island”. Sonic quality is of 70s recording. I highly recommend you to purchase this CD.

Gatot Widayanto, Indonesia.

ProgRing #6: Nobar DVD RUSH terbaru

July 10, 2010

Rush - Beyond the Lighted Stage [2 DVD]

Nah …selagi ada Bro Apec di Jakarta, gimana kalo kita nobar DVD Rush terbaru ini? Insya Allah DVD nya udah nyampe minggu ini, jadi kita bisa progring ke 6 sekalian:

Hari : Minggu, 18 Juli 2010

Jam : 18:15 (ba’da Maghrib)

Tempat: Rumah Mas Tatan Taufik, Jl Intan RSPP 16C, Cilandak (d/h Dapur Susu)

Ayo mas Kris, mas Yuddi, mas Apec kita kopi darat. Mas Edigimo dan mas Boncu ayo ke Jakarta …kita nobar RUSH yuk …

Salam,

G


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 145 other followers