Minggu, 16 Mei 2010, salah satu legenda rock dan metal dunia, Ronnie James Dio, meninggal dunia. Meninggalnya orang yang memperkenalkan simbol devil horn ini membuat terhenyak para penggemar musik cadas di dunia.
Berikut komentar mereka :
Mike Portnoy – Drummer (Dream Theater):”This is one of the saddest days in metal ever.
Ralph Santolla – Guitarist (Obituary):”There’s not a person in metal today that doesn’t owe something to Ronnie James Dio
Scott Ian – Guitarist (Anthrax):”He always had a kind word and a smile and he LOVED the Yankees
David Coverdale – Vocalist (Whitesnake):”So very sad to hear of Ronnie’s passing… My thoughts, prayers and condolence to his family and friends.
Sebastian Bach – Vocalist (ex-Skid Row):”Dio died this morning and he was a major, major part of my life. I got to do shows with him and work with him and I loved Dio my whole life
Twisted Sister:”Ronnie was one of the most supportive and gracious members of the music community”
Apapun komentar mereka, bagi saya pribadi Dio telah berjasa dalam memberikan warna tersendiri dalam kehidupan masa remaja saya. Makanya begitu mendengar dia meninggal, ingatan saya langsung flashback di akhir 70an tepatnya saat2 SMA. Masih jernih di benak saya pertama kali denger Dio ya dari kaset Perina yg merekam album Ritchie Blackmore’s Rainbow punya kakak saya, mas Jokky. Sering banget “The Temple of The King” diputer saat itu oleh mas Jokky.
Kepergian Dio kali ini saya peringati dengan memutar “Catch The Rainbow” yg liriknya bagus dan musiknya manis, sweet rock. Saya suka lagu ini terutama liriknya yg mengingatkan saya pada saat menyiapkan ujian masuk perguruan tinggi (Perintis 1) di tahun 1979. Saat itu tiap malam saya begadang memecahkan soal2 masuk ITB hingga sampe jam 3 atau 4 pagi, hampir tiap hari. Saya selalu belajar bersama teman dekat, Gatot Djatmiko, sambil memutar kaset2 rock atau radio pemancar gelap Dji Sam Soe. Catch The Rainbow sudah pasti masuk dalam playlist.
When evening falls,
She’ll run to me.
Like whispered dreams,
Your eyes transcieve.
Soft and warm,
She’ll touch my face.
A bed of straw
Against the rays.
Lirik pembuka tersebut memberi gambaran tibanya senja, saatnya menyiapkan diri dengan buku2, soal2 yang mana yang akan dipelajari dan dikerjakan malam itu. Biasanya diawali dengan Maghrib dan makan malam . Gatot Djatmiko kadang-kadang datang ke rumah di Jl Sumatra 26 Madiun saat saya dan ibu sedang makan malam. Kadang dia bergabung ikut makan juga. Setelah itu pertunjukan dimulai: belajar mati-matian buat menembus ujian saringan. Saya dan Gatot biasanya belajar di kamar depan dengan jendela dibuka lebar dan lampu belajar dinyalakan terang benderang. Musik rock mengalun menemani kita belajar. Paling sering ya nyetel radio Dji Sam Soe dengan penyiarnya, mas Pri dan Itok, yang setia memutar lagu-lagu rock. Kalau malem2 laper, kita ke warung kopi Pak Tuk di Setasiun (gak jauh dari rumah) sekaligus makan sego pecel. Nikmat. Jam 3 pagi biasanya kami selesai belajar dan kemudian baru shalat Isya disambung tahajjud.
Bagian chorus dari lagu ini lebih menyentuh lagi:
We believed
We’d catch the rainbow -
Ride the wind
To the sun.
Sail away
On ships of wonder.
But life’s not a wheel
With chains made of steel,
So bless me!
Come the dawn!
Come the dawn!
Come the dawn!
Come the dawn!
Ini jelas menggambarkan suatu optimisme menggapai pelangi, meraih keberhasilan meskipun menyadari bahwa kehidupan tak sekedar hubungan kausal garis lurus: bila bekerja keras pasti berhasil. Banyak dijumpai justru sebaliknya, orang merasa frustrasi karena kerja kerasnya tak membuahkan hasil. Ini karena hidup bukan seperti roda yg terdiri dari komponen2 baja belaka. Di sinilah puncak perenungan bahwa ada “invisible hands” yang maha mengatur seluruh kehidupan ini. Dialah Allah SWT. Skenario kehidupan ini sepenuhnya ada di Dia Yang Maha Kuasa. Manusia bisa merencanakan kehidupannya sesuai yang diinginkannya, namun Allah mengetahui apa yang terbaik baginya yg seringkali tak sesuai dengan yang diharapkannya. Di sinilah ketaqwaan kita diuji, mampukah kita menjalani ujian ini? Bukankah kegagalan maupun kesuksesan ini hanya masalah label saja? Artinya, kita atau manusia juga yang memberikan label bahwa sesuatu itu berhasil atau gagal. Kita sering tidak bisa melihat bahwa apa yang kita beri label gagal justru itu yang terbaik bagi kita karena Allah tak pernah memberikan yang setengah-setengah. Allah selalu memberikan yang terbaik bagi kita.
Catch The Rainbow ini saya putar berulang-kali mengenang Ronnie James Dio, meskipun secara musikal saya lebih cenderung ke musik prog ketimbang yang straight rock seperti Rainbow. Suara Dio sangat khas dan sulit dicari tandingannya. Yang paling saya suka justru pada saat dia membawakan “Stargazer” di album kedua Rainbow “Rising”.
Meski tak fenomenal, bagi saya Dio tetap merupakan vokalis yang mengesankan dan sekaligus mewarnai kehidupan saya, terutama masa remaja. Saya juga tak mengikuti perkembangan karirnya kecuali sampai di Black Sabbath dan tak serius menyimak album solonya.
Long live rock’n'roll! Keep on proggin’ …!!!
Salam,
G
Pembahasan sebelumnya:
Review album Rainbow lainnya di ProgArchives: