Merajut Makna Melalui Prog Rock (24 of 99)

By Gatot Widayanto

Ah, sudah lama tak menulis seri ini … Saatnyalah. Kali ini sekali waktu boleh dong musik Indonesia meski gak prog rock amat sih. Tapi it’s OK lah .. toh orang menyebut “After Glow” nya Genesis dalam kategori progrock juga to?

Pagi tadi meretas jalan musik jadul dengan memutar (berulang-kali) lagu bertajuk “Adakah” dari album pertama Chrisye “Sabda Alam”. Nuansa musik di album ini memang kentara banget pengaruh musisi prog dari Genesis maupun nuansa dari musik Refugee (Patrick Moraz). Lagu Adakah yang berada di track 9 dari album perdana Chrisye ini sarat dengan balutan kibor dan piano. Sejak album ini dirilis saat saya masih SMA di Madiun, saya langsung menyukai track no 9 ini meski lagu-lagu lainnya juga enak.

ADAKAH

Dalam Semesta Damai Dan Bisu
Dilingkaran Beku Mega Berpadu
Menatap Kelam Di Lapisan Biru
Dalam Desah Bayu

Lama Kutatap Guratan Jari
Hampa Yang Tergaris Di Hidup Ini
Nyata Terpentang Lukisan Diri
Yang Terpencil Sunyi

Reff;
Tumpuan Hati Nurani
Terlengah Di Ruang Mimpi
Berlari Mencari Suci
Meniti Tepian Hari
Bersama Karma Hidup
Yang Membayangi
Adakah… Sinar Abadi?

Apa yang ada di benak Anda bila mengikuti lirik yang serba kiasan tersebut?

http://4.bp.blogspot.com/_FUbkO7Bb8jo/SXdT32C3QvI/AAAAAAAAAE8/nWEPVVHSG1I/s320/chrisye_sabda.jpgBagi saya penuh makna, terutama dalam penelusuran jati-diri tentang betapa lemah dan kecilnya kita, yang namanya manusia ini, dibandingkan Sang Pencipta. Nuansa dan liriknya begitu pas untuk kontemplasi mengenal siapa diri kita dan bagaimana “positioning” kita di semesta ini. Konsep “karma” dikaitkan dengan perjalanan hidup memberikan suatu makna mendalam tentang bagaimana kita menyikapi untuk apa sebenarnya kita ini diciptakan oleh Nya? Seberapa besar kita menganggap penting (atau tidak penting) tentang tujuan kita diturunkan di bumi ini. Sadarkah kita akan karma, yang dalam hal ini adalah balasan terhadap sikap kita terhadap tujuan hidup kita di alam kemudian? Ini tentunya tidak harus karma dalam arti sempit, yaitu balasan di dunia, tapi juga mencakup balasan di akhirat pada akhirnya.

Chrisye memang tidak secara telak mengangkat isu tauhid – mengesakan Allah SWT. Namun dalam untaian liriknya ini kita bisa memaknai bahwa karma dalam konteks kehidupan ini selalu membayangi kita tentunya bagi mereka yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. Tanpa tauhid, seseorang tak perlu merasa “terbayangi” dengan karma hidup. Semua hal yang dilakukan ya berlaku begitu saja tanpa ada karma sama sekali. Andaikan ia mendholimi orang lain, tak ada yang namanya ‘dosa’ karena konsep ini jelas absurd bagi yang tak mengenal tauhid. Dengan cerdas Chrisye mengakhiri liriknya dengan pertanyaan mendasar: adakah sinar abadi?

Uediyannnn ..nunjek ulu ati dan kalbu nih lagu …. Muantabszz!!! Bikin jiwa ngguweblak!

Salam,

G

4 Responses to “Merajut Makna Melalui Prog Rock (24 of 99)”

  1. A Mufti Says:

    Aku suka bacanya Mas.

  2. Gatot Widayanto Says:

    Matur nuwun bro Mufti. Sialakan berdiskusi dengan penggemar prog di sini. Banyak yang suka Genesis kok di sini .. jangan takuut .. he he he …

    Salam,
    G

  3. Saiful Rizal Says:

    Pencipta liriknya siapa mas, kalo di album ‘Sabda Alam’, sepertinya Djunaedi Salat, tapi ada juga Guruh Soekarnoputra

Leave a Reply