JRENG!
Saya memang sedang ada program memindahkan semua CD koleksi saya ke format MP3 dengan bitrate 320 dengan alasan kepraktisan, biar bisa dibawa kemana aja dengan hard disk atau iPod. Sudah dua weekend ini saya belum selesai juag rip koleksi CD Jethro Tull saya saking banyaknya, rasanya sekitar 30 keping CD. Sabaaarrr …
Hari ini, sambil ngerip CD2 Jethro Tull, saya pasang di komputer saya album live “Bursting Out” yang nuansamatix dan merupakan “Seconds Out” atau “Yessongs” atau “Playing A Fool” nya Jethro Tull. Masih ingat saya pertama kali beli kaset ini di pusatnya Yess Jl Veteran Bandung, kaset ini menjadi favorit saya dan tiap hari saya puter terus. Maklum saat itu saya baru tahun pertama di ITB dan belum lahir yang namanya Marillion. Pada saat liburan ke Madiun pun saya bawa juga kaset ini bersama dengan Genesis “Duke”. Memang dari segi kualitas auidio rekaman, kaset ini gak begitu bagus, tidak “ulem” bahkan suaranya “kemlothak” (keras, ndak empuk – red.). Namun nuansa live nya jan uediyan tenan! Apalagi lagu2nya tergolong sudah familiar banget di pangsit saya, baik pangsit kanan maupun pangsit kiri. Emang ada pilihan buat menikmati musik pake pangsit kiri saja atau kanan saja? Ya, kalo mau sih .. Itupun kalo ndak ada kerjaan. Lha wong aneh, menikmati musik kok pake satu pangsit, padahal punya dua pangsit sejak lahir. Ya ndak? Wis embuh kok dadi ngalor ngidul!
Saking melekatnya kaset ini di sanubari saya, waktu saya menulis review di progarchives, saya ceritakan juga lho pengalaman nuansamatik saya dengan kaset ini. Saya tuh terkesan dengan kata2 pembuka dari MC yang bilang “…sit back relaxed ….” terus mbuengok “JETHRO TULL …!!! JETHRO TULL …!!!” wah begitu nama band ini disebutkan dengan lantang sambil mbuengok maka langsung “njegrag” lah ulu ati saya. Apalagi Ian Anderson langsung menghunjam dengan suara flute disertai dentuman bunyi drum mengawali “No Lullaby” yang begitu gagahnya sebagai pembuka album. Wis jan uediyan pol lah jal! Gendhenk tenan iki Ian Anderson. Udah gitu nyanbung ke “Sweet Dream” yang riff-nya menggelegak jiwa merontokkan sukma itu .. aduh biyuuuuung Gusti Alloh nyuwun ngapuro! Terus waktu Ian Anderson ngomong: “Martin on marimba …Martin on marimba …Horaaayyy!!” kueren pol jal!
Pokoknya semua lagunya bener2 bagus dan performance nya juga keren. Thick As A Brick nya aja meski hanya 12 menit namun selama dua belas menit itu kita disuguhi dengan musik yang indah sekali. Terus, siapa sih yang jantungnya ndak gogrok atau paru2nya jadi menggelinjang menikmati riff sedap dari “Cross-eyed Mary”? Tak normal lah manusia kalo ndak tersentuh menikmati lagu ini apalagi versi live ini. Belum “Locomotive Breath” maupun “Aqualung” nya…!!! Wis pokoke ditanggung ngguweblak lah! Gak percaya? Dengerin aja ndiri!
JRENG! JRENG! JRENG! JRET! JRET! (seperti riff nya Locomotive Breath)
Salam,
G
Ini review hamba di progarchives:
Jethro Tull “Bursting Out” by GW
Live, released in 1978
Songs / Tracks Listing
Track listing of 2004 re-issue:
CD1
1. Intro by Claude (0:50)
2. No Lullaby (4:47)
3. Sweet Dream (6:30)
4. Skatin’ Away On The Thin Ice Of A New Day(4:30)
5. Jack-in-the-Green (3:12)
6. One Brown Mouse (3:53)
7. New Day Yesterday (2:27)
8. Flute Solo Improvisation / God Rest Ye Merry 9. Gentlemen / Bourée(6:08)
9. Songs From The Wood (2:40)
10. Thick As A Brick (12:26)
CD2
1. Intro by Ian (0:42)
2. A Hunting Girl (5:44)
3. Too Old To Rock ‘n’ Roll: Too Young To Die (3:56)
4. Conundrum? (6:57)
5. The Minstrel in the Gallery (5:41
6. Cross Eyed Mary (3:58)
7. Quatrain (1:33)
8. Aqualung (8:37)
9. Locomotive Breath (5:34)
10. The Damnbuster’s March / Medley (3:28)
Lyrics
Search JETHRO TULL Live – Bursting Out lyrics
Music tabs (tablatures)
Search JETHRO TULL Live – Bursting Out tabs
Line-up / Musicians
- Ian Anderson / flute, vocals, acoustic guitar
- Martin Barre / electric guitar, mandolin, marimba
- Barriemore Barlow / drums, glockenspiel
- John Glascock / bass, guitar, vocals
- John Evans / piano, organ, accordion, synthesizers
- David Palmer / portative organ, synthesizers


Ini gara-gara sebuah SMS dari seorang teman yang bernama Yulianto Dewata yang sedang gandrung (lagi) sama lagu2 Fish. Di status FB nya malah beliau naruh “Np. The Perception of Johny Punter”. Wah langsung ulu ati saya njegrag siap meluncurkan adrenalin ke udara …. Kebayang indahnya riff gitar yang gahar dari Steven Wilson (Porcupine Tree) di lagu pembuka dari album “Sunsets on Empire” (1997). Well, bisa dibilang lagu pembuka ini tanpa cacat dan mengalun indah dan gahar dari awal sampe pok lagu entek. Wis jan uediyan tenan iki lagu! Saya hanya bisa membayangkan aja saat baca status FB dia karena CD di rumah dan belum sempat saya rip ke iPod. Kontan akhir pekan lalu saya langsung rip semua album Fish ke hard disk dengan bit rate puncak: 320 kbps.
Roger waters ora tersinggung? Wis embuh lah .. Pokoke bagian ini kelas musiknya sama dengan Marillion jamannya Fish masih bergabung.






Let’s ber-jadul-ria lagi …. Kali ini kita angkat topik agak ringan aja yah…tentang kaset bertajuk “Memory Heavy Hits 4″ keluar Yess. Lho, katanya agak ringan tapi kok topiknya “heavy”? Opo tumon?!!! Ya begitulah orang prog suka aneh2 kalo kasih nama. Lha ini maksudnya apa – apakah “memori”nya yang heavy atau “hits” nya yang heavy? Begitulah jaman kaset bajakan.

Bagi saya penuh makna, terutama dalam penelusuran jati-diri tentang betapa lemah dan kecilnya kita, yang namanya manusia ini, dibandingkan Sang Pencipta. Nuansa dan liriknya begitu pas untuk kontemplasi mengenal siapa diri kita dan bagaimana “positioning” kita di semesta ini. Konsep “karma” dikaitkan dengan perjalanan hidup memberikan suatu makna mendalam tentang bagaimana kita menyikapi untuk apa sebenarnya kita ini diciptakan oleh Nya? Seberapa besar kita menganggap penting (atau tidak penting) tentang tujuan kita diturunkan di bumi ini. Sadarkah kita akan karma, yang dalam hal ini adalah balasan terhadap sikap kita terhadap tujuan hidup kita di alam kemudian? Ini tentunya tidak harus karma dalam arti sempit, yaitu balasan di dunia, tapi juga mencakup balasan di akhirat pada akhirnya.
