Archive for November, 2009

Jethro Tull “Bursting Out”

November 21, 2009

JRENG!

Saya memang sedang ada program memindahkan semua CD koleksi saya ke format MP3 dengan bitrate 320 dengan alasan kepraktisan, biar bisa dibawa kemana aja dengan hard disk atau iPod. Sudah dua weekend ini saya belum selesai juag rip koleksi CD Jethro Tull saya saking banyaknya, rasanya sekitar 30 keping CD. Sabaaarrr …

Hari ini, sambil ngerip CD2 Jethro Tull, saya pasang di komputer saya album live “Bursting Out” yang nuansamatix dan merupakan “Seconds Out” atau “Yessongs” atau “Playing A Fool” nya Jethro Tull. Masih ingat saya pertama kali beli kaset ini di pusatnya Yess Jl Veteran Bandung, kaset ini menjadi favorit saya dan tiap hari saya puter terus. Maklum saat itu saya baru tahun pertama di ITB dan belum lahir yang namanya Marillion. Pada saat liburan ke Madiun pun saya bawa juga kaset ini bersama dengan Genesis “Duke”. Memang dari segi kualitas auidio rekaman, kaset ini gak begitu bagus, tidak “ulem” bahkan suaranya “kemlothak” (keras, ndak empuk – red.). Namun nuansa live nya jan uediyan tenan! Apalagi lagu2nya tergolong sudah familiar banget di pangsit saya, baik pangsit kanan maupun pangsit kiri. Emang ada pilihan buat menikmati musik pake pangsit kiri saja atau kanan saja? Ya, kalo mau sih .. Itupun kalo ndak ada kerjaan. Lha wong aneh, menikmati musik kok pake satu pangsit, padahal punya dua pangsit sejak lahir. Ya ndak? Wis embuh kok dadi ngalor ngidul!

Saking melekatnya kaset ini di sanubari saya, waktu saya menulis review di progarchives, saya ceritakan juga lho pengalaman nuansamatik saya dengan kaset ini. Saya tuh terkesan dengan kata2 pembuka dari MC yang bilang “…sit back relaxed ….” terus mbuengok “JETHRO TULL …!!! JETHRO TULL …!!!” wah begitu nama band ini disebutkan dengan lantang sambil mbuengok maka langsung “njegrag” lah ulu ati saya. Apalagi Ian Anderson langsung menghunjam dengan suara flute disertai dentuman bunyi drum mengawali “No Lullaby” yang begitu gagahnya sebagai pembuka album. Wis jan uediyan pol lah jal! Gendhenk tenan iki Ian Anderson. Udah gitu nyanbung ke “Sweet Dream” yang riff-nya menggelegak jiwa merontokkan sukma itu .. aduh biyuuuuung Gusti Alloh nyuwun ngapuro! Terus waktu Ian Anderson ngomong: “Martin on marimba …Martin on marimba …Horaaayyy!!” kueren pol jal!

Pokoknya semua lagunya bener2 bagus dan performance nya juga keren. Thick As A Brick nya aja meski hanya 12 menit namun selama dua belas menit itu kita disuguhi dengan musik yang indah sekali. Terus, siapa sih yang jantungnya ndak gogrok atau paru2nya jadi menggelinjang menikmati riff sedap dari “Cross-eyed Mary”? Tak normal lah manusia kalo ndak tersentuh menikmati lagu ini apalagi versi live ini. Belum “Locomotive Breath” maupun “Aqualung” nya…!!! Wis pokoke ditanggung ngguweblak lah! Gak percaya? Dengerin aja ndiri!

JRENG! JRENG! JRENG! JRET! JRET! (seperti riff nya Locomotive Breath)

Salam,

G

Ini review hamba di progarchives:

Jethro Tull “Bursting Out” by GW

 

Live, released in 1978

Songs / Tracks Listing
Track listing of 2004 re-issue:

CD1
1. Intro by Claude (0:50)
2. No Lullaby (4:47)
3. Sweet Dream (6:30)
4. Skatin’ Away On The Thin Ice Of A New Day(4:30)
5. Jack-in-the-Green (3:12)
6. One Brown Mouse (3:53)
7. New Day Yesterday (2:27)
8. Flute Solo Improvisation / God Rest Ye Merry 9. Gentlemen / Bourée(6:08)
9. Songs From The Wood (2:40)
10. Thick As A Brick (12:26)

CD2
1. Intro by Ian (0:42)
2. A Hunting Girl (5:44)
3. Too Old To Rock ‘n’ Roll: Too Young To Die (3:56)
4. Conundrum? (6:57)
5. The Minstrel in the Gallery (5:41
6. Cross Eyed Mary (3:58)
7. Quatrain (1:33)
8. Aqualung (8:37)
9. Locomotive Breath (5:34)
10. The Damnbuster’s March / Medley (3:28)

Lyrics

Search JETHRO TULL Live – Bursting Out lyrics

Music tabs (tablatures)

Search JETHRO TULL Live – Bursting Out tabs

Line-up / Musicians

- Ian Anderson / flute, vocals, acoustic guitar
– Martin Barre / electric guitar, mandolin, marimba
– Barriemore Barlow / drums, glockenspiel
– John Glascock / bass, guitar, vocals
– John Evans / piano, organ, accordion, synthesizers
– David Palmer / portative organ, synthesizers

The Perception of Johny Punter

November 17, 2009

Nyuwun sewu kalo Fish belum juga hengkang dari ruang dengar hamba sampe tadi pagi bersepeda ke kantor klien pun pasih memasang serentetan lagu2 Fish pilihan mulai dari “Forgotten Sons” (Marillion) yang dibawakan Fish di double CD “For Whom The Bells Toll”, “ShadowPlay” hingga “The Perception of Johny Punter”.

The Perception of Johny Punter : Wah …ini bener2 revolusi dalam musical style dari Fish. Mengapa? Di lagu ini Steven Wilson (of Porcupine Tree fame) berperan dalam produksi dan main gitar. Dari tajuk lagunya saja saya sudah terkesima kok lucu judul lagu kok pake “persepsi” segala. Lha terus Johny Punter iku yo sopo ngono lho jal? Opo yo ono hubungane karo Djoni Gudel? Wis jan Fish iki ono2 wae …! Lagu ini diawali dengan riff halus dari gitar yang dimainkan Steven Wilson. Seperti biasa, karya Wilson selalu menampilkan nuansa ambient mengawang siap mabuk gitu …(tanpa harus minum khamr karena itu haram!). Wuah uediyan tenan sentilan gitar Steven Wilson ini kalo iman kita gak kuat, bunyi adzan pun bisa-bisa kita lewatkan karena nikmatnya sentilan gitar di awal lagu ini. Audzubilla min dzalik! Amit2 ye .. meskipun kita ini ngeprog jangan sampe tuh musik bikin kita gile dan lupe ame Allah SWT yang nyiptain kite semue …!!! Amit amit ….

Balik ke lagu itu tadi, kemudian Fish masuk vokalnya dengan gagah:

Just another nigger, a spooky piece of white trash,
Just another jewboy, spic, mick, yid,
raghead motherf****r
living on the planet.

Wuih! edaaaan … Fish menunjukkan keahliannya dalam olah vokal di sini. Musik kemudian mengalun dengan gagahnya dengan rhythm section yang didominasi rif-rif gitar indah dari Mr Wilson. “Living on the planet …” wesszzz …jan ngguajak tenaaaannn ….sumprit aku pengen ngguweblak tapi gimana wong tadi pagi lagi nggowes di atas semanggi, bisa ditutul metro mini ntar bokongku …

Asik banget dah pokoknya nyepedah ditemani “The Perception of Johny Punter” sampe akhirnya sampe kantor ..nyarap nasi uduk dulu ….

Salam,

G

Demam Fish & Marillion

November 16, 2009

Fish Sunsets On Empire album coverIni gara-gara sebuah SMS dari seorang teman yang bernama Yulianto Dewata yang sedang gandrung (lagi) sama lagu2 Fish. Di status FB nya malah beliau naruh “Np. The Perception of Johny Punter”. Wah langsung ulu ati saya njegrag siap meluncurkan adrenalin ke udara …. Kebayang indahnya riff gitar yang gahar dari Steven Wilson (Porcupine Tree) di lagu pembuka dari album “Sunsets on Empire” (1997). Well, bisa dibilang lagu pembuka ini tanpa cacat dan mengalun indah dan gahar dari awal sampe pok lagu entek. Wis jan uediyan tenan iki lagu! Saya hanya bisa membayangkan aja saat baca status FB dia karena CD di rumah dan belum sempat saya rip ke iPod. Kontan akhir pekan lalu saya langsung rip semua album Fish ke hard disk dengan bit rate puncak: 320 kbps.

Hari Minggu kemarin saya keratjunan Fish lagi … Saya putar semua album dari Vigil (1990) hingga “Raingods with Zippos” (1999). Album terakhir “13th Star” udah sering diputar beberapa bulan lalu jadi kemarin ndak diputar. wah memamng jan ngelangut tenan menikmati alunan musik Fish ini. Menurut saya lebih bagus dari Marillion dengan vokal Hogarth.

Album Vigil aja banyak yang huenak-huenak lagunya mulai dari pembuka “Vigil” yang keren banget dimana Fish membuka dengan mendesah:

Listen to me just hear me out, if I could have your attention
just quieten down for a voice in the crowd.
I get so confused I don’t understand
I know you feel the same way you’ve always wanted to say
but you don’t get the chance, just a voice in the crowd.

Terus tiba2 dia mbengok memecahkan kesunyian:

I don’t know the score anymore; it’s not clear anymore
I can’t tell right from wrong anymore; I just don’t understand.

Terus musiknya masuk seperti gaya psikedeliknya Pink Floyd dan merasuk sukma banget, dibarengi lirik …

I was sitting here thinking of exchanging a new world for old
like changing channels on the tv, or the dirt we stand in to
gold.

Wah edan guemblunk tenan pas bagian ini terasa mendengarkan Pink Floyd tapi yang nyanyi Fish ..opo tumon? Opo Fish Vigil In A Wilderness Of Mirrors album coverRoger waters ora tersinggung? Wis embuh lah .. Pokoke bagian ini kelas musiknya sama dengan Marillion jamannya Fish masih bergabung.

Terus interludenya di bagian setelah Fish nyanyi :

for all that we see is not what it seems, am I blind?..

bener2 megah sekali interludenya, ada kibor solo yang melodinya seperti musik Timur. Wuah gagah tenan jek! Pas bagian ini volume amplifier saya tambah … wuuiihhhhh…ngguweblaaaaaakkk…!!!

Ada lagi lagu lainnya yang dahzyat dan setara dengan Marillion “Misplaced Childhood” kualitasnya, yaitu track pembuka di album keduanya “Internal Exile” yang bertajuk ShadowPlay. Ck ck ck ck .. kok ada musik indah seperti ini ya????

Musiknya diawali dengan gemuruhnya bebunyian semua instruments terutama vibraphone dengan energi dinamis dan tempo riang gembira, mengingatkan pada lagu “Waterhole (Expresso Bongo)” dari Marillion “Misplaced Childhood”. Tiba2 sunyi dan Fish nyanyi dengan kecepatan lidah bak silhoutte, saking cepetnya di lirik pembuka:

Hunched foetal in the corner of my soul
My fingernails are bleeding
From climbing up the wall
This time you really hurt me right down to the core
And I’m desperately trying to find a reason
To forgive you for it all

(wah uediyaaaannn .. mana ada vokalis bisa bernyanyi menyebut lirik dengan kecepatan lidah seperti orang berkumur sambil mendesah keren seperti Fish ini …bener2 kereeennn!!!)

Setelah itu musiknya mengalun indah dengan lirik:

I saw your life as a shadowplay
In a trance I was held by the shadowplay
In the spell of the shadowplay
From Celtic illumination
I see the Celtic illumination
The Celtic

Pokoke yen ora nggeblak pasti bukan penggemar prog tulen! Acung LIMA JEMPOL buat Kopstuk Fish dalam hal ini ..!!! (jempol satunya pinjem tetangga sebelah ya ..)

Kemaren jadinya semangat banget kerja di rumah. Buka laptop sambil bikin report, amplifier disetel kenceng masang album2 solonya Fish …..Gak terasa Minggu pagi kemarin bisa bekerja dengan penuh semangat selama tiga jam berturut-turut (kena breah shalat Zhuhur BMW tentunya). Tentu ditemani juga kopi tubruk .. wah jan klop tenaaannn .. What a life!!!!

Pokoke Fish jan top tenan. Lirik2nya juga asik. Coba simak ini:

THE COMPANY

Where beggars take cheques and children steal credit cards
From the pockets of wrecks that lie the road.
I came to in my future and that was just yesterday,
Unsure of my past that’s a knot in my gut.

You buy me a drink then you think that you’ve got the right
To crawl in my head and rifle my soul.
You tell me I’m free then you want me to compromise
To sell out my dreams you say you’ll make it worthwhile.

Oh, boys would you drink to me now
Here on the hill, half way up, half way down
Oh, boys would you drink to me now
Here on the hill, half way up, half way down

You tell me I’m drunk then you stand back and smug a while
Convinced that you’re right that you’re still in command of your senses.
I laugh at your superior attitude
Your insincere plattitudes make me throw up.

The sooner you realise I’m perfectly happy
If I’m left to decide the company I choose.

Oh, boys would you drink to me now
Here on the hill, half way up, half way down
Oh for the company born to the company
Live for the company until I die.

The sooner you realise I’m perfectly happy
If I’m left to decide the company I choose
The company I choose is solidly singular
Totally trustworthy, straight and sincere
Polished, experienced, witty and charming
So why don’t you push off, this company’s my own.

Oh, boys will you drink to me now
Here on the hill, half way up, half way down
Oh, boys will you drink to me now
Here on the hill, half way up, half way down

Oh for the company, dream of the company
Live for the company until I die.
Oh for the company, dream of the company
Drink to the company until we die
Until we die
Until we die.

Sore harinya, saya menjemput Dian (bungsu) dari ikut Bimbel, pas lagi berhenti di masjid Pejaten menunggu Ashar BMW saya setel “Forgotten Sons” volume kenceng. Malamnya nyetel “Script” sama “Misplaced”. Puwaszzzz …!!!!

How long do we keep it family business?

Salam,

G

Tadi Malem Nglutching …Huenak Tenaaan!!!

November 12, 2009

Tadi malem pulang kerja telat, terus gak tahu kenapa kok pengen nyetel Marilion “Clutching At Straw”. Whoooaaa… baru track pembuka “Hotel Hobbies” aja emosiku terkoyak-koyak menderita kepuasan paripurna. Langsung perasaan itu saya curhatkan di FB. Ini cut and paste nya:

Gatot Widayanto

otw home playing “Hotel Hobbies” (Marillion). Maaann … Can’t believe human beings created this wonderfully-crafted composition!! The song moves smoothly from an ambient nuance utilizing keyboard effects and vibraphones that set a very nice entrance for Fish vocal line with his charismatic style entering his first lyrical verse: “Hotel Hobbies paddling down hollow corridors …” oh maaaan … what a ciamik shot here!!!

Agus Sulaiman

Agus Sulaiman

Om G, Kapan irock buat acara tribute pink floyd lagi.
Today at 8:49pm · Delete
Gatot Widayanto

Gatot Widayanto

The music turns into a heavy rockin’ style in fast tempo led by Rothery’s howling guitar sounds while Trewavas delivers his solid and crispy basslines backed with jaw-dropping drumwork by Mosley ….yeeeaaah mannnn….!!! This is an adrenaline-exploding music that definitely elevates your emotion, pumping-up your spirit. This song really blow me away man ….!!! Let’s Marillionize our life!!!
Today at 8:58pm · Delete
Gatot Widayanto

Gatot Widayanto

For me personally, the orgasmic part of this song is the ‘short’ interlude right after Fish sings ” ..a pilgrimage to a happy hour …” Then the music balsts off like crazy “JRUOOOZZZZ!!!” – followed with highly dynamic music in a fast tempo giving chance to Rothery to perform his rock talents wildly …!!! Oh maaaan … What a brilliant musical … Read Morepiece here! My mind is totally paralyzed and cannot afford to build up my consciousness really …!!! Ngguweblaklah pokoke jal …!!! Juangkrik tenaaaan ….!!!
11 hours ago · Delete
Iman Santoso

Iman Santoso

Uedddan tenan…I can feel it, Mas
11 hours ago · Delete
Benny Soebardja

Benny Soebardja

Yeah…..
11 hours ago · Delete
Din Nasrudin

Din Nasrudin

Wah jadi pingin dengerin juga neh..
about an hour ago · Delete

Marillion Clutching at Straws  album cover

Kaset Memory Heavy Hits 4 (Yess)

November 10, 2009

Jreng!

Let’s ber-jadul-ria lagi …. Kali ini kita angkat topik agak ringan aja yah…tentang kaset bertajuk “Memory Heavy Hits 4″ keluar Yess. Lho, katanya agak ringan tapi kok topiknya “heavy”? Opo tumon?!!! Ya begitulah orang prog suka aneh2 kalo kasih nama. Lha ini maksudnya apa – apakah “memori”nya yang heavy atau “hits” nya yang heavy? Begitulah jaman kaset bajakan.

Kompilasi ini dulu saya kejar gara-gara ada lagu “Fanfare” karya Earth & Fire. Ceritanya, dulu saya pinjam kaset telanjang dari Bagus Sudaryanto waktu di Madiun. Mustinya kaset itu bertajuk Triumvirat. Di kaset tersebut ada lagu “Fanfare” yang tadinya saya gak tahu lagunya siapa. Saya pikir lagunya Triumvirat karena pake synthesizer. tapi kok vokalny rada suara cewek gitu? Usut punya usut ternyata ini aadalah lagu Earth & Fire. Makanya saya suka pol dengan kaset kompilasi ini. Sulit dielakkan bagi manusia normal untuk tidak menyukai “Fanfare” karena nadanya melodik banget, sedih lagi! Musiknya mengalun mendayu-ndayu seperti mengiringi pemakaman orang meninggal dunia begitu. Namun asik banget!

Yang juga ngetop adalah adanya lagu Mott The Hoople “All The Young Dudes” nan nuansamatix itu. Juga ada Spooky Tooth bawain lagu The Beatles “I Am The Walrus”.  Yang juga bikin mbrebes mili tuh lagunya Three Man Army “Space Is The Place” (jan huenak pol!) dan lagu legendaris dari Ursa Majors “In My Darkest Hour”.

Udahlah pokoknya kaset ini nuansamatix kemlitix ketindih itik …ih gak nyambung! Yo ben!

Salam,

G

Rick Wakeman “Silent Nights”

November 7, 2009

Jangan remehkan album ini. Enak lho. Memang gak prog banget, tapi ciri khas Wakeman nya bener2 keren banget. Saya sih suka album ini. Bisa dibilang semua lagunya enak2.  Tadi pagi saya nyetel album ini tanpa terasa semua track saya puter, alias satu album FULL saya puter dan nikmatdsz ….

Kaset rekaman Yess nomer seri 553

Penggalan lirik di “Opening Line” ini asik:

Taking a chance on the opening line
Losing the impact, everyday time
Saving the friendship, holding a view
Out of perspective, never adieu

atau ini di The Ghost of a Rock’nRoll Star:

He grumble he was as big as Jimi Hendrix
Now the only thing that grumbles is his grumbling appendix
Lots of children he’s got, well he was on the road a lot
He’s the ghost of a rock and roll star
Now the groupies ain’t there…and nor is his hair
He’s the ghost of a rock and roll star

 

Studio Album, released in 1985

Songs / Tracks Listing

1. Tell ‘Em All You Know (3:25)
2. The Opening Line (3:43)
3. The Opera (6:25)
4. Man’s Best Friend (4:20)
5. Glory Boys (3:15)
6. Silent Nights (3:54)
7. Ghost of a Rock’n’Roll Star (3:30)
8. The Dancer (3:15)
9. Elgin Mansions (5:20)
10. That’s Who I Am (4:15)

Total Time: 42:58

Lyrics

Search RICK WAKEMAN Silent Nights lyrics

Music tabs (tablatures)

Search RICK WAKEMAN Silent Nights tabs

Line-up / Musicians

- Rick Wakeman / keyboards, synthesizers, lead vocals (10)
+ Bimbo Acock / saxophone (7-10)
– Tony Burrows / backing vocals (2-3-6-7-9-10
– Alan Carvell / backing vocals (3)
– Chas Cronk / bass
– Rick Fenn / guitars (except on 2)
– Tony Fernandez / drums, percussion
– Sue Glover / backing vocals (1-7)
– John Kirby / backing vocals (1)
– Sonny Leslie / backing vocals (1)
– Val McKenna / backing vocals (9)
– Gordon Neville / lead vocals (1 to 4,6-7-9) backing vocals (1-2-4-5-6-9-10)

Releases information Lp. President P-7551 / Lp/Cd. President RW-1 (1987)

 

Review saya di progarchives silakan KLIK.

Merajut Makna Melalui Prog Rock (24 of 99)

November 7, 2009

Ah, sudah lama tak menulis seri ini … Saatnyalah. Kali ini sekali waktu boleh dong musik Indonesia meski gak prog rock amat sih. Tapi it’s OK lah .. toh orang menyebut “After Glow” nya Genesis dalam kategori progrock juga to?

Pagi tadi meretas jalan musik jadul dengan memutar (berulang-kali) lagu bertajuk “Adakah” dari album pertama Chrisye “Sabda Alam”. Nuansa musik di album ini memang kentara banget pengaruh musisi prog dari Genesis maupun nuansa dari musik Refugee (Patrick Moraz). Lagu Adakah yang berada di track 9 dari album perdana Chrisye ini sarat dengan balutan kibor dan piano. Sejak album ini dirilis saat saya masih SMA di Madiun, saya langsung menyukai track no 9 ini meski lagu-lagu lainnya juga enak.

ADAKAH

Dalam Semesta Damai Dan Bisu
Dilingkaran Beku Mega Berpadu
Menatap Kelam Di Lapisan Biru
Dalam Desah Bayu

Lama Kutatap Guratan Jari
Hampa Yang Tergaris Di Hidup Ini
Nyata Terpentang Lukisan Diri
Yang Terpencil Sunyi

Reff;
Tumpuan Hati Nurani
Terlengah Di Ruang Mimpi
Berlari Mencari Suci
Meniti Tepian Hari
Bersama Karma Hidup
Yang Membayangi
Adakah… Sinar Abadi?

Apa yang ada di benak Anda bila mengikuti lirik yang serba kiasan tersebut?

http://4.bp.blogspot.com/_FUbkO7Bb8jo/SXdT32C3QvI/AAAAAAAAAE8/nWEPVVHSG1I/s320/chrisye_sabda.jpgBagi saya penuh makna, terutama dalam penelusuran jati-diri tentang betapa lemah dan kecilnya kita, yang namanya manusia ini, dibandingkan Sang Pencipta. Nuansa dan liriknya begitu pas untuk kontemplasi mengenal siapa diri kita dan bagaimana “positioning” kita di semesta ini. Konsep “karma” dikaitkan dengan perjalanan hidup memberikan suatu makna mendalam tentang bagaimana kita menyikapi untuk apa sebenarnya kita ini diciptakan oleh Nya? Seberapa besar kita menganggap penting (atau tidak penting) tentang tujuan kita diturunkan di bumi ini. Sadarkah kita akan karma, yang dalam hal ini adalah balasan terhadap sikap kita terhadap tujuan hidup kita di alam kemudian? Ini tentunya tidak harus karma dalam arti sempit, yaitu balasan di dunia, tapi juga mencakup balasan di akhirat pada akhirnya.

Chrisye memang tidak secara telak mengangkat isu tauhid – mengesakan Allah SWT. Namun dalam untaian liriknya ini kita bisa memaknai bahwa karma dalam konteks kehidupan ini selalu membayangi kita tentunya bagi mereka yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. Tanpa tauhid, seseorang tak perlu merasa “terbayangi” dengan karma hidup. Semua hal yang dilakukan ya berlaku begitu saja tanpa ada karma sama sekali. Andaikan ia mendholimi orang lain, tak ada yang namanya ‘dosa’ karena konsep ini jelas absurd bagi yang tak mengenal tauhid. Dengan cerdas Chrisye mengakhiri liriknya dengan pertanyaan mendasar: adakah sinar abadi?

Uediyannnn ..nunjek ulu ati dan kalbu nih lagu …. Muantabszz!!! Bikin jiwa ngguweblak!

Salam,

G

Tiga Puluh Satu Detik Yang Mematikan

November 7, 2009

JRENG!

Maaf ini bukan terkait dengan gempa bumi. Kalaupun iya, saya rasa dalam waktu tiga-puluh-satu detik bumi diguncang gempa skala 8 SR sudah pasti rata dengan tanah saking besar dan lamanya. Namun apalah artinya 31 detik dari sebuah lagu progresip rok. Supper’s Ready nya Genesis aja lebih dari 20 menit, belum Thick As A Brick nya Jethro Tull. Apalah artinya dengan ‘hanya’ 31 detik!!

Tapi lain ceritanya kalau ini dikemas begitu cantik penuh penghayatan seperti dilakukan Jurgen Fritz di pembukaan lagu The History of Mistery (Part 1). Wah, begitu mendengar dentingan indah bebunyian piano dari jemari lincah Jurgen Fritz rasanya saya terbang dan ulu ati saya diaduk seperti terkena topan lesus kenceng banget .. Pokoknya dahzyat banget dah. Notasi yang digunakan juga sangat melodik menyayat ati sejak tuts piano dimainkan lincah. Sejak detik NOL aja lagu ini sudah mendebarkan secara saya sudah berharap bunyi piano nan indah … Notasi melodik dari bnyi piano ini dibalut nuansa musik klasik yang sangat kental sehingga ulu ati ini dibawa naik turun jet coaster, begitu nohok jiwa banget. Saya memang menyukai lagu ini sejak pertama kali denger album “Old Loves Die Hard” rekaman Perina Aquarius warna kuning yang merupakan kaset penjeman dari temen saya Bagus Sudaryanto (sekarang petinggi di Pertamina, seorang Doktor yang pinter banget). Lha jelas pinterlah Bagus lha wong musik yang dia nikmati aja yang cerdas kayak Triumvirat ini …

Kaset rekaman Yess no seri 344

Gara-gara provokasi pak Alfi, bro Adi, bro Rully, bro Kristanto, bro Apec dan lainnya …di tret Triumvirat “Spartacus” maka hari ini saya obrak-abrik semua CD koleksi saya dari kelompok Triumvirat ini. Hari ini saya setel “The History of Mistery” Part 1 sampai lebih dari sepuluh kali karena begitu terkesimanya … Kagak ada bosennya lah … Simak aja lantunan vokal Barry Palmer setelah tiga puluh satu detik yang mematikan:

Give me a chance
To see through my reason
Wasting my time
While life is still so young?
Have I lost faith
In things we believed in

All the answers are lost, everyone

(addduuuhhh…Gusti Alloh nyuwun ngapuro … pas bagian vokal diiringi piano ini sungguh begitu indah sekali melodinya … membawa ke nuansa yang mengajak kita menjadi orang shalih ….nikmatsdz pol!!!)

Sebetulnya, semua lagu di album Old Loves Die Hard ini enak semua … Namun yang paling asik ya itu tadi, setidaknya dari segi melodi yang nunjek… The History of Mistery ….

Studio Album, released in 1976

Songs / Tracks Listing

1. I believe (7:51)
2. A day in a life (8:09)
a) Uranus’ dawn (2:57)
b) Pisces at noon (3:51)
c) Panorama dusk (1:21)
3. The history of mystery (11:49)
4. A cold old worried lady (5:50)
5. Panic on 5th Avenue (10:31)
6. Old loves die hard (4:26)

Total Time: 48:36

//


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 145 other followers