Archive for August, 2009

Musik Kontemplatif

August 27, 2009

Yes RelayerAssalamualaikum wr. wb.

Menurut pak Alfie, salah satu pengunjung setia blog ini, mengenal atau mendekati Tuhan itu bisa dengan banyak cara. Karena saya sejak kecil sudah hidup dengan musik terutama prog rock, mari kita bahas saja musik-musik yang menurut Anda kontemplatif sebagai salah satu saran mendekatkan diri ke Sang Pencipta. Postingan ini juga dibuat karena diskusi hangat di postingan sebelumnya, yaitu Puasa, Golf dan Musik Rock. Silakan Anda berkomentar di box komentar dibawah dan nantinya komentar Anda saya posting di postingan ini juga. Sebutkan tidak hanya lagunya saja tapi juga mengapa bagi Anda musiknya kok kontemplatif. Untuk memancing, saya mulai dari saya ya:

”Close To The Edge” – YES

Mengingatkan pada sakaratul maut. Mampukah kita mengucapa “La ilaha ilallah”?

“Epitaph” – King Crimson

Meragukan apakah kita bisa masuk surga? “But I fear tomorrow I’ll be crying ….”

“Firth of Fifth” – Genesis

Pada akhirnya kita akan kembali ke tanah bercampur dengan cacing. “The scene of death is lying just below”

“Awaken” – YES

“High vibration go on …” mengingatkan pada kegetaran menghadap Allah swt. Mampukah kita menjawab pertanyaanNya kelak di Hari Kebangkitan? Interlude keyboardnya sangat kontemplatif buat pengantar tilawah Quran.

“Time” – Pink Floyd

Mengingatkan kepada surat Al Ashr. “Demi masa….”

“The Post War Dream” – Pink Floyd

”Tell me true, tell me why was Jesus crucified?”

”Hairless Heart” – Genesis

Mengingatkan kepada hati yang bersih yang dituntut dari seorang yang beriman dan bertakwa. Komposisinya sangat kontemplatif untuk menembus dimensi dunia yang lain.

”The Revealing Science of God” – YES

Mengingatkan kepada Sang Pencipta yang menciptakan dasar laut yang begitu indahnya disertai ekosistemnya.

“Money” – Pink Floyd

Menyemangati untuk membenci dunia karena hanya tipuan yang memperdaya. “Money is a gas!”

“The Prophets Song” – Queen

Paduan suaranya mengingatkan kecintaan kepada nabi dan rasul.

“Toccata” – ELP

Suara kibor yang seperti suara air mendidih mengingatkan pada siksa neraka yang pedih.

“Gates of Delirium” – YES

Mengingatkan kepada Perang Uhud dimana ada pesan moral pasukan muslim yang turun dari bukit (melanggar komando Rasul) karena tertarik pampasan perang (harta, dunia).

“Signal To Noise” – Peter Gabriel

Komposisinya sangat miris nunjek ulu ati, sangat bagus buat kontemplasi. Bisa diartikan sebagai sensitivitas kita dalam antisipasi perbuatan maksiat (noise of life).

“To Be Over” – YES

Coba kita ibaratkan kehidupan ini bak perjalanan melalui perahu layar dengan segara rintangan yang merupakan batu ujian mencapai tujuan hakiki kita pada akhirnya nanti. Pada akhir perjalanan, jiwa kita akan berserah “pasrah” kepada Ilahi dan bergegaslah untuk dicintai oleh Rabb mu ….. (Wah indahnya lagu ini, apalagi liriknya juga sangat puitis ….)

After all your soul will still surrender

After all don’t doubt your part

Be ready to be loved

“Homeworld” – YES

Meretas jalan kembali ke fitrah.

“Isfahan” – Al Di meola

Musiknya mengingatkan saya ke kisah Salman Al Farisi yang berjiwa besar dan rendah hati ke sesama manusia, rendah diri di haribaan Allah. Seorang Gubernur mosok kok mau jadi kuli karena tidak mau digaji sebagai gubernur. Opo tumon? Apa ada gubernur jaman sekarang seperti Salman Al Farisi?

Silakan dilanjut lagi …..

Wass,

G

Ini komentar dari temen2 yang mampir di blog ini:

  1. Noviar Says:
    August 27, 2009 at 9:10 am | Reply edit“Supper’s Ready” Genesis

…your supper’s waiting for you….

mengingatkan kita yang sedang puasa untuk menahan diri dari hidangan yang telah tersedia, juga godaan-godaan yang ada di depan kita

Ada Allah dan bismillah di sana.

Firth Of The Fifth
Gabriel menyanyikannya dengan penuh perasaan seperti orang bawa dosa besar

Epitaph
Liriknya bikin merinding

Revealing Science of God
ini lagu benar benar buat saya ketiduran dari mulai remaja hingga kini( kaya Ashabul Kahfi aj..) saya ga pernah merasa bosan semuanya perfect.

Awaken
baru dengar piano pembukanya aj dah merinding apalagi liriknya.

Time
ya itu sama aja dengan Wal Asr

  • Tom_Crimson Says:
    August 27, 2009 at 2:05 pm | Reply edit“Come Sail Away” – STYX
    Sebuah peringatan bahwa sesungguhnya manusia itu ‘kecil’ di hadapan Allah SWT, bagaikan kapal yg terombang-ambing di lautan…

“Awake And Nervous” – IQ
Sebuah lagu tentang kegundahan seseorang… terbangun dari mimpi dan mengalami suatu kebingungan….. pencarian ‘dzat’ yang maha mulia…..

“Praise The Lord!” – HELLOWEN
Liriknya bicara tentang ‘dzat’ maha pemberi
…..Who gives everyone life, because he loves us!
…..Oh God of mine,
You live all-powerful,
You are always kind, you love us!
…..Our father in the heavens
Rules the whole world
And defeats wicked fear
Of all men

Puasa, Golf & Musik Rock

August 21, 2009

Assalamualaikum wr. Wb.

Seorang teman kemarin menanyakan ke saya kapan bulan Ramadhan 1430H dimulai. Saya jawab bahwa kemungkinan hari Sabtu, 22 Agustus 2009. Kemudian ia bilang bahwa pas hari itu jadwal dia main golf. Terus dia komentar: ”Wah gak enak nih puasa, mengganggu jadwal golf aja ..”

Perkataan dia ini membuat saya tersentak. Astaghfirullah! Bukan .. bukan saya menyalahkan teman saya ..bukan. Tapi, saya justru merasa tertampar dengan perkataan dia yang menurut saya merupakan muhasabah terbaik sepanjang hari kemarin. Kenapa? Setidaknya saya harus introspeksi, jujur kepada diri sendiri: Ikhlaskah saya menyambut Ramadhan 1430H ini? Benarkah memang saya menunggu bulan penuh berkah ini, atau saya masih menyangsikannya? Apa tolok ukurnya bahwa saya benar-benar ikhlas dan bersuka-cita menyambut datangnya Ramadhan 1430H ini?

Sebagai manusia yang tak pernah luput dari dosa dan maksiat, saya harus akui bahwa saya masih jauh dibilang suci. Istighfar saya tak sebanyak Rasul Muhammad saw yang sekurangnya dalam sehari beliau ber istighfar minimum 70 kali. Padahal jelas, beliau ini manusia paling sempurna dan tauladan kita semua, dan dijamin masuk surga. Belum lagi Abu Hurairah yang sehari beristighfar 6000 (enam ribu!) kali. Konon, beliau ingin Allah swt mengampuni dosa-dosa maksiatnya selama hidupnya. Subhanallah! Saya sungguh masygul …betapa dho’ifnya saya … Jauh sekali dengan apa yang dilakukan umat terdahulu.

Tiba-tiba teringat masa kecil saya … Saat Ramadhan, karena libur sekolah, saya sering membawa tape recorder Nasional Panasonic (waktu itu belum ada walkman) dan beberapa kaset rock (Santana, Uriah Heep, Lucifer’s Friend, ELP, Deep Purple, Grand Funk) ke suatu tempat di bawah pohon. Santai sekali saya tidur2an di bawah pohon tanjung di samping rumah di Jl Sumatra 26 Madiun atau kadang-kadang di bawah pohon tanjung di rumah Minangkabau milik pak Gondo, ayahnya Hermano (teman saya). Kadang-kadang juga di bawah pohon trembesi di sekolah SPG Jalan Sumatra. Itulah surga dunia, kenikmatan hidup paling top markotop bagi saya saat itu… Sambil ngabuburit menunggu ’bleng’ bunyi bom tanda berbuka suara, saya leyeh2 sambil kadang-kadang tereak melantunkan lagu-lagu yang keluar dari suara tape recorder:

’I got nobody..’ (jreng!) ‘..no one to depend on ..’ (thak dug jreng!)

(No One To Depend On nya Santana)

atau

‘My woman from Tokaiyo …’

(Woman From Tokyo nya Deep Purple)

atau

‘Uaaaaa …aaaa…aaaa….’ (3x)

(Immigrant Song nya Led Zeppelin)

atau

‘We’re an American band ….’

(We are an American Band nya Grand Funk Railroad)

atau

‘He was the wizard of a thousand kings ..’

(The Wizard nya Uriah Heep)

Begitulah kaset berulang-kali saya puter bersama teman-teman saya satu jalan (tetangga) antara lain: Bagus Sudaryanto, Hermano, Anton Yuliono, Anung, Agus… Nikmat sekali rasanya ..puasa gak terasa.

Tilawatil Quran? Gak kepikir sama sekali saat itu. Pokoknya yang dipikir cuma: kapan ya buka puasa? Kapan ya puasa ini berakhir? Kapan dapet uang lebaran? Memang sih sesekali kami pergi ke madrasah di musholla sekitar Oro-Oro Ombo untuk ngaji, tapi nawaitunya tetep: membunuh waktu, bukan mencari keridhaan Allah. Ya Allah ..ampuni dosa-dosaku ……!!!

Saya sekarang mempertanyakan diri saya: benarkah menyambut Ramadhan ini dengan ikhlas dan menganggapnya sebagai ladang amal? Jangan-jangan setan dan iblis telah memperdaya saya untuk lebih mencintai dunia ketimbang akhirat?

  • Kegemaran saya bersepeda apa membuat saya merasa ‘terganggu’ dengan hadirnya bulan suci ini?
  • Bagaimana dengan kegiatan saya yang suka menikmati musik prog rock? Apa kehadiran Ramadhan ini membuat kenikmatan saya mendengarkan musiknya IQ ’Frequency’ atau The Dear Hunter ’Act III: Life And Death’ menjadi terusik?
  • Bagaimana dengan pentas musik rock yang sering saya hadiri bahkan kadang-kadang saya selenggarakan? Adakah rasa penyesalan saya mengapa musti puasa padahal banyak musik rock menarik yang bakal dipentaskan?

Kepada Allah saya mohon ampun bila jiwa saya masih dikotori dengan hal-hal yang hanya fokus ke duniawi. Semoga Allah swt membimbing saya dan kita semua agar kita selalu di jalan yang lurus menuju kuatnya iman dan taqwa. Amin.

Sementara itu, di sisi lain, ada keluarga yang menyambut Ramadhan ini dengan sangat gembira. Bahkan di halaman depan rumahnya, keluarga ini memasang banner sebagai ungkapan suka cita menyambut datangnya Ramadhan 1430H ini, seperti di foto ini:

Banner di depan rumah yang menyambut Ramadhan 1430H

Banner di depan rumah yang menyambut Ramadhan 1430H

Saya sangat berterima kasih sama teman saya yang menggemari golf. Karena ucapannya akhirnya saya berusaha melakukan muhasabah. Tulisan ini memang oto kritik buat saya. Semoga Allah swt berkenan merahmati kita di bulan Ramadhan 1430H ini. Selamat menunaikan ibadh-ibadah di bulan Ramadhan 1430H ini. Mohon maaf atas segala kekhilafan saya.

Wass,

G

“Proclamation” by Gentle Giant

August 17, 2009

Hari ini konon kita sudah enam puluh empat tahun merdeka. Sebagai ritual tahunan, saya selalu memasang ‘Proclamation’ nya Gentle Giant pada hari kemerdekaan dan disertai ‘Negriku Cintaku’ yang dilantunkan Keenan Nasution.

Benarkah kita sudah merdeka? Ini bisa jadi perdebatan panjang. Satu hal yang pasti, kita masih dijajah teroris. Noor Din M Top masih saja sakti bak belut yang sulit ditangkap.  Larik lirik ‘You may not have all you want or you need‘ cuocok menggambarkan situasi ini. Makanya, nyetel lagu ini membuat hati ini terhibur, kita nikmati hari kemerdekaan ini dengan ngeprog-ria bersama Gentle Giant. Musiknya memang keren nih band. Kalau ngaku 70an gak tahu lagu ini sih sebaiknya kalau jalan menundukkan kepala .. he he he …

Gentle Giant The Power And The Glory  album cover

1.

You may not have all you want or you need
all that you have has been due to my hand,
it can change, it can stay the same,
who can say, who can make their claim.

2.
The situation we are in at this time
neither a good one, nor is it so unblest
it can change, it can stay the same,
I can say, I can make my claim.
Hail …….. Hail …….. Hail.

3.
Unity’s strength and all must be as one,
confidence in you hope will reflect in me
I think everyone not as my nation for
you are my people and there must be no change.
It can change, it can stay the same
I will say, I will make my claim.
Hail …….. Hail …….. Hail.
Hail to Power and to Glory’s way.
Hail to Power and to Glory’s way.
Hail to Power and to Glory’s way.
Hail to Power and to Glory’s way.
Day by day.

(repeat verses 1 & 3)

Komik dan Musik 70an

August 15, 2009

Woaduh biyung …! Pagi ini tersentak memoriku dan langsung menerawang ke masa-masa masih SD di akhir 60an – pertengahan 70an gara2 baca kompas hari ini di rubrik Sosok halaman 16 bertajuk Erlina, Bertahan Dengan Komik Lama. Kisahnya sungguh mengingatkan saya saat tiap hari nangkring nebeng baca buku di undak-undakan rumah paviliun di Jl Sumatra 26, Madiun. Ya, rumah kami ada Paviliunnya dan ditempati oleh keluarga Paklik Djajadi (purnawirawan) yang memiliki lima orang anak, semuanya putri. Waktu itu saya terbilang dekat dengan mbak Wati (kira2 dua tahun di atas saya) yang merupakan anak kedua dari Paklik / Bulik Djajadi. Nah, keluarga ini paling suka koleksi buku2 komik wayang karya RA Kosasih, yaitu Mahabarata, Barata Yudha dan Parikesit. Saya rutin membaca komik-komik tersebut terutama Mahabarata dan Barata Yudha yang kisahnya sangat menyentuh hati dan membekas sampe sekarang. Pernah juga saya curhatkan di blog gemblunk ini: The Cats dan Mahabarata.

http://4.bp.blogspot.com/_4YTVtMhY-n0/R6izlfscyqI/AAAAAAAAA-Y/hU2YrhFryMI/s400/Cats+-+1970+-+Take+Me+With+You.jpgSatu hal yang menarik adalah nuansa 70annya yang serba kere (gak punya apa2) lha wong cuman buku komik aja lho kok ya ndak mampu beli. AKhirnya ya nebeng baca di rumah tetangga dan dibacanya juga di rumah Paviliun itu, di undak-undakannya, bukan dibawa pulang. Komiknya pun dipelihara rapi oleh keluarga Djajadi karena disampulin pake sampul kertas warna coklat yang jadul itu. Dulu kita nyebutnya kertas minyak. Memang asiknya baca komik itu sambil pasang kaset The Cats (Lea, I Got To Know What’s Going On, Scarlet Ribbons, dsb), ‘Jesamine’ nya The Casuals, ‘Hang On Sloopy’, ‘Venus’ (Shocking Blue), ‘He Ain’t Heavy He’s My Brother’, ‘Warm and Tender Love’ (Percy Sledge). Lha? Kok gak ada rocknya? Memang saat itu saya belum mengenal Deep Purple sama Led Zeppelin rasanya. Tapi nuansanya itu lho …hmmm sungguh dahzyat. Damai. Tenteram. Gemah Ripah Loh Jinawi Sodatanya Haji Nawi .. wis jan muanteb kumleteb pol!

Bagian ‘Bagawat Ghita’ di Mahabarata sungguh menyentuh dan ternyata kok pas ya sama http://www.sulekha.com/mstore/innervoice/albums/default/krishna_arjuna_81.jpgliriknya ‘I Got To Know What’s Going On’ yang kira2 merupakan dialog Kresno kepada Ardjuno. Wuih jan top tenan!

Pengembaraan komik sebenernya gak terhenti di Mahabarata saj namun sampe ke Si Buta Dari Gua Hantu karya Ganesh TH disertai nonton pelemnya di gedung bioskop Lawu, Jl Pahlawan (depan Hotel Merdeka). Di Madiun dulu (masa kecil) hanya ada dua gedung bioskop aja, yang lainnya adalah Ardjuno yang berlokasi di Alun Alun. Masih ingat saya begitu takutnya saya lihat Sapu Jagad dengan rantai dan bola besinya .. ha ha ha ha …

Wis jan nuansamatik pol …

Untung Nonton Discus Hari Itu

August 14, 2009

JRENG!

Hari Rabu lalu saya ‘rencananya’ nonton DFA. Segala sesuatu udah saya siapkan buat nonton. Sesuai undangan (jam 21:00 sd 23:00), pada jam 20:30 saya sudah di Plasa EX dan liat2 CD dulu di Beatz (depan HR Cafe). Akhirnya jam 21:00 saya masuk HR Cafe, belum ada tanda apa2. Jam 21:30 acara dimulai tapi ternyata yang main band pembuka dulu. Njelehi banget mainnya .. mereka main selama 50 menit. Abis itu ada lagi band lain (bukan DFA) yang main. Gak sabar menunggu, jam 22:30 saya pulang dengan kekecewaan karena udah buang2 waktu memenuhi undangan yang tak tepat waktu. Ternyata, kata temen, DFA baru on stage jam 23:30 dan selesai sekitar jam 01:00 dini hari. Opo tumon? Wong prog kok molor gak sesuai janji di undangan?

Saya merasa dirugikan karena gak pernah tahu acaranya campur sari gak hanya prog music dan malam itu adalah malam BBW (buang buang waktu) bagi saya. Saya heran, wong prog kok molor gini ya? Untung, saya siang harinya (sebelum acara DFA) nonton Discus live yang memuaskan ..

Salam,

G

DISCUS Live @ DepBudPar, 12 Aug 09

August 12, 2009

JRENG!

Siang tadi, 12 Agustus 2009, tepatnya jam 14:00 saya dapat kabar mendadak bahwa Discus sedang main di Departemen Kebudayaan dan Pariwisata dalam rangka persiapan mereka main di Jerman di acara ZAPPAnele minggu depan. Wah dapet durian runtuh …gak nyangka bisa nonton Discus lagi. Keren banget mainnya, apalagi akustik di Balairung DepBudPar juga asik. Formasi kali ini adalah: Anto Praboe (clarinet, sax), Krisna Prameswara (keyboards), Kiki Caloh (bass, vox), Yuyun (female vox), Iwan Hasan (guitar, vox), Rama Moektio (drums), Eko Partitur (biola) dan Kompyang (gamelan). Duduk di kursi undangan front row terasa nikmat sekali. Mereka main rapi dan Rama Moektio bermain drums menggantikan Iyoen yang berhalangan bisa memainkan dengan baik karya-karya rumit Discus. Lumayan, dapet 3 lagu dengan lagu terakhir kesukaan saya ‘System Manipulation’.

Bravo Discus! Selamat main di Zappanele! Sukseskan nama bangsa melalui prog rock … Bangsa ini bukan bangsa teroris …!!!

Salam,

G

Discus bermain prima di DepBudPar 12 Aug 09

Discus bermain prima di DepBudPar 12 Aug 09

Uriah Heep “Salisbury”

August 12, 2009

JRENG!

Namanya juga blog gemblunk .. jadi ya postingannya gemblunk juga. He he .. Maksudnya…kalau ada permintaan dari pembaca mengulas sesuatu ya udah di posting aja dulu, biar saling bisa bagi pengalaman. Lha kalo Uriah Heep ini kan udah ndak asing lagi to sama kita-kita semua. Apalagi sekarang udah bulan Agustus, jadinya ya bisa nyanyi ini: “There I was on a July morning…Thet thet thet .. I was looking for love …thet thet thet …” (halah! Hari gini kok masih cari cinta yo??? Ha ha ha ha ha …).

Nama Uriah Heep pertama kali saya kenal saat rumah kami di Jl Sumatra no 26, Madiun baru memiliki sebuah tape recorder merek National Panasonic gara2 saya dapet hadiah sunatan sebesar Rp. 27.000,- Saya lupa harga tape recordernya berapa, tapi yang jelas dibeli di Pasar Kawak, Jl. Bogowonto, Madiun. Langsung setelah beli tape recorder itu mas Henky (kakak saya nomer 2 yang suka meratjoeni saya musik classic rock saat itu) beli juga enam buah kaset di toko foto Miraco di Jl Pahlawan Madiun. Rekaman kasetnya Nirwana dan Starlite seharga Rp. 500,- per keping. Kalau gak salah kaset-kaset itu termasuk diantaranya Uriah Heep ‘Demons & Wizards’, Deep Purple ‘Who Do You Think You Are”, Santana yang ada ‘No One To Depend On’. Itulah pertama kali kami memiliki koleksi kaset dan pertama kali memiliki pemutar kaset, gara2 sunatan. Nuansamatik tenan.

Lucunya, kaset Uriah Heep rekaman Starlite ini side A nya album ‘Demons & Wizards’ dan side B nya ada 2 lagu dari Lucifer’s Friend album ‘Where The Groupies Killed The Blues’ dan dua lagu dari Khan ‘Space Shanty’. Inilah uniknya jaman bajakan .. kita mengenal band dari side B nya band terkenal. Masih inget saya, Lucifer’s Friend nya ada lagu berjudul ‘Hobo’ dan Khan nya ada lagu ‘Space Shanty’ yang legendaris itu.

Kaset Uriah Heep ini sontak menjadi menu utama keluarga dalam hal memutar kaset sehingga ibu saya pun jadi kenal dan sayang sama Uriah Heep. Lagu ‘The Wizards’ itu menjadi kebanggaan di rumah kami di Madiun ..’He was the wizard of a thousand kings …’ wuaduuuhhh nunjek ulu ati banget tuh lagu. Belum lagi ‘Traveller in Time’ dan ‘Easy Livin’ ,,… whoooaaa.. uediyaaaannn ….

Beberapa tahun kemudian barulah saya mengenal album ‘Salisbury’ nan dahzyat itu ….

Kami pernah dinner sama Uriah Heep lho di Jakarta, 2005:

Trevor Bolder (bass) & G, Sari Kuring JKT, 14 Feb 2006

Trevor Bolder (bass) & G, Sari Kuring JKT, 14 Feb 2006

Bagaimana pengalaman Anda dengan Uriah Heep ini?

Salam,

G

Uriah Heep Salisbury album cover

4 stars Somewhere in your eyes / That very special glow / Something drawing me / To where I do not know / I never really thought / That I would lose myself / Now I’m going faster / Than anybody else . – Uriah Heep “Salisbury”

This album is I think “the” reason why Uriah Heep is reviewed here in this website. Through this album the band worked toward composing an album that blends strong elements of heavy metal drive with the complexity of prog rock. When this album was released it was kind like scaling down their debut “Very Eavy Very Umble ..” because in terms of song structure and arrangements the band had demonstrated a much mature music compared to debut. This what I would say as progression because the music moved forward into a stronger direction in what later be called as progressive rock. Highlights on the album include “Bird of Prey” which has a powerful chord-fueled verses with keyboard-drenched interlude part. A folk-based acoustic song “Lady In Black” that brings us into a throbbing rocker with stunning and crunching guitar riffs. The album also features a touchy ballad-oriented song “The Park” that sparks the powerful voice of David Byron combined with etheral keyboard and acoustic guitar. This was really the track that color the days of my childhood and we used to sing along the melody, emulating Byron’s lyrical verses. The harmonies produced from Byron’s unique vocal and Hensley keyboard is truly awesome.

The title track “Salisbury” was my first introduction to this album and finally I bought the Monalisa cassette format right after the ilegal rock radio station called Blue Jean Racing in Bandung frequently aired this song. This long duration song has become my all time Heep favorite track. This 16-minute plus track occupies the largest space in this album. This prog epic starts off with a relative long exploration of brass and woodwinds work that would later characterize the main body of the whole epic. The music begins in relatively quite and slow passage and as the falsetto voice of Byron enters the scene the music moves into a crescendo with strong emphasize on brass section. The keyboard solo during instrumental break has an excellent combination of jazz and rock style during long instrumental break. The overall flow of this track contains segments with high and low amplification to accentuate the song’s message. Segments where Byron enters the music at beginning of bar have a very nice and well positioned entry point. As a result it produces terrific experience for my listening pleasure. When I finally purchased the remastered CD version sometime in 2000 I have had a habit of repeating this track at least for the second time; including this time when I put some words about this track. It’s truly a masterpiece song – for my personal taste. Great harmonies, great orchestral arrangements, great insertion of keyboard and rocking guitar solo that’s Mick Box’s unique and powerful compositions (structure and arrangement).

Other tracks featured in this album: “Time To Live” and “High Priestess” are another Heep’s style excellent rock music. I have upgraded this album to the Sanctuary’s 2003 and 2004 reissues of Salisbury with newly remastered, featured expanded artwork and slipcase packaging, and included alternate versions, B-sides, and BBC sessions. The reason is because I like Uriah Heep – be it a prog or non-prog music; it does not really matter to me because music is emotion. These gentlemen have stirred my emotion and this album is recommended!

Progressively yours,

GW


Studio Album, released in 1971

Songs / Tracks Listing

Side A
1. Bird Of Prey (4:05)
2. The Park (5:38)
3. Time To Live (4:02)
4. Lady In Black (4:33)

Side B
1. High Priestess (3:39)
2. Salisbury (16:02)

Total Time: 37:59
BONUS TRACKS ON 1996 REMASTERED CD:
1. Simon The Bullet Freak (3:27) originally single b-side, also on North American versions of ‘Salisbury’ (1971)
2. High Priestess (3:13) edited version released as a single

BONUS TRACKS ON 2003 EXPANDED DE-LUXE CD:
1. Simon The Bullet Freak – single b-side (=US album version)
2. Here Am I – out-take, previously unreleased version
3. Lady In Black – edit, previously unreleased version
4. High Priestess – alternate version
5. Salisbury – edit, previously unreleased version
6. The Park – alternate version, previously unreleased
7. Time To Live – alternate version, previously unreleased

Line-up / Musicians

- David Byron / lead vocals
– Ken Hensley / organ, piano, slide & acoustic guitars, harpshicord, vibes and vocals
– Mick Box / lead guitar, acoustic guitar, vocals
– Paul Newton / bass guitar, vocals
– Keith Baker / drums
– John Fiddy / brass and woodmind on “Salisbury”

Releases information

1971 UK: Vertigo 6360028, re-released 1971 as Bronze ILPS 9152
Re-published by Castle Communication PLC CLACD106 (1988)

DFA Live @ Hard Rock Jkt, Aug 12, 2009!

August 11, 2009

JRENG!

Ini adalah band prog Italia. Rencananya band ini akan manggung dengan detil ini:

Hari / tanggal  : Rabu, 12 Agustus 2009

Waktu                  : 21:00 – 23:00

Tempat               : Hard Rock Cafe, Plaza Ex, Jakarta

Tiket                    : Rp. 100.000,- saja udah nonton band prog international!

Jadi, gimana? Kita jadikan ini sebagai ajang ProgRing besok malam? Hayo .. siapa mo nonton?

Gak tahu musiknya? Ndak masalahlah .. Italian Prog itu huenak huenak lho … Paling tidak kan Anda kenal PFM to? Saya sendiri gak lengkap CD nya (gak pa pa..ntar beli di Hard Rock aja)… Tapi saya punya satu albumnya dan pernah review di ProgARchives. Ini dia:

DFA “Lavori In Coroso” (1997)

4 stars I knew Duty Free Area (D.F.A.) for the first time through couple of songs aired at a progressive rock program in Jakarta’s classic rock radio sometime in 2000. And I only have this CD, which I accidentally found in used CD market for a relatively cheap price (US$ 7). What a great deal! Well, actually I don’t know why people sold this excellent album to a secondary market. So, my knowledge about the band is very limited. But from my experience with this “Lavori in Corso” I was impressed the first time I spun the CD. The music of the band gave me an impression of a blend of music from Gryphon, Island, PFM and King Crimson with some early Genesis style in some symphonic transition pieces. What truly amazed me is actually the musicianship demonstrated by each member of the band. Heavily dominated with the sound of keyboard, synthesizer and mellotron in most of rhythm section, however, the composition allows sufficient time for each instrument to perform the solo. From this standpoint, I can see clearly the virtuosity of each member of this four-piece band. Overall, the musical composition of this album is music-orientated that demonstrates marriages of sounds (and effects) produced by each instrument used. All songs are deceptively complex but the create excellent harmony.

The album opener “Work Machine (Industry)” (7:09), written by De Grandis and Bonomi, kicks off with a relatively complex arrangements dominated by repetitive keyboard sounds followed with Italian vocal. The music turns quieter in ambient spacey style followed with duo-vocal and returns back to original form with keyboard dominating the rhythm section as well as some short solo work. Stunning guitar solo is presented right after the middle of the track. It’s an excellent opener.

“Collage” (7:06), witten by De Grandis and Bonomi, has a more upbeat tempo than the opening track and this time guitar provides excellent soft riffs and rhythm section. The music turns into softer volume and suddenly returns back in upbeat tempo with stunning guitar work. The guitar sound reminds me to Steve Hackett and Robert Fripp. The music sounds symphonic with keyboard onslaught and jaw-dropping drum work. The Hammond organ at the back gives a nuance of seventies music like ELP’s. The combination of guitar and mellotron/keyboard work at the ending part of this track is truly awesome!

“Pantera” (8:48), written by Minella and Bonomi, represents the band’s exploration to jazz-influenced music featuring swing style with flute solo. This gives a kind of break from previous two songs for a while because what it turns out the music returns back into complex arrangements when vocal enters. Again, I observe excellent harmony between guitar and Hammond organ. Oh man . I really love the relatively long guitar solo – followed with Hammond organ solo; they are so stunning! This song has a very tight composition with frequent abrupt changes in tempo and style. It’s truly a progressive rock tune! A masterpiece!

“La Sua Anima” (4:04) starts off excellently with acoustic guitar work, exploratory in nature, featuring flute with no drum and bass. Keyboard fills the music in symphonic style accentuated with electric piano. Everything is performed in relatively slow tempo.

“Trip on Metro” (6:33), written by De Grandis, brings the music back into complex arrangements with some repetitive opening that reminds me to King Crimson. This instrumental piece gives keyboard and bass guitar present so obvious at the opening part with guitar plays as rhythm section. Guitar solo takes its opportunity to perform at approx minute 2:00 with Fripp style. There are frequent abrupt changes in tempo throughout the song with keyboard provides inventive work at background.

“Space Ace Man” (9:47), written by all members of the band, is a symphonic rock instrumental music which starts with guitar solo overlaid on top of long sustain keyboard sound. This song presents something different than previous tracks. Composed with symphonic approach the song still gives an impression of complex music. The style changes frequently through the passage of musical segments. As the title implies this track features spacey music.

“La Via” (16:19), written by Bonomi and De Grandis, serves like an epic as duration-wise is relatively long. It starts off with bass guitar notes and moves slowly with soft entrance of long sustain keyboard work; it gives an ambient style. Vocal enters in mellow style. Guitar gives its shot in between vocal and gradually moves the music in crescendo with an upbeat and complex arrangements, combined with keyboard solo. Overall style of this last track is mellow with symphonic rock elements and some spacey nuance.

I would recommend this album to those of you who enjoy relatively complex composition. This album is an excellent addition to any prog rock collection. Keep on proggin’ ..!

Peace on earth and mercy mild – GW

D.F.A. - Lavori In Corso CD (album) cover


Studio Album, released in 1997

Songs / Tracks Listing

1. Work machine (7:09)
2. Collage (7:06)
3. Pantera – Pantera / La sua anima (12:46)
4. Trip on Metro (6:33)
5. Space age man (9:47)
6. La via (16:19)

Total Time: 60:09

Line-up / Musicians – Luca Baldassari / bass
– Alberto Bonomi / Hammond, mellotron, flute and vocals
– Alberto De Grandis / drums and vocals
– Silvio Minella / guitars

Babe Ruth (1975)

August 10, 2009

JRENG!

Mari kita landjoetkan …perjalanan meretas memori masa silam dengan Babe Ruth… Ada yang masih ingat? Hayo silakan dimulai …. Saya gak nulis apa2, yang penting ingatan Anda dulu tentang band ini .. Ada kesan gak?

Babe Ruth Babe Ruth album cover

Studio Album, released in 1975

Songs / Tracks Listing

1. Dancer (6:01)
2. Somebody’s Nobody (3:06)
3. A Fistful Of Dollars (2:40)
4. We People Darker Than Blue (4:47)
5. Jack-O-Lantern (3:25)
6. Private Number (3:40
7. Turquoise (3:11)
8. Sad But Rich (3:56)
9. The Duchess Of Orleans (5:02)

Total Time: 35:48

Line-up / Musicians

- Steve Gurl / keyboards
– Janita Haan / lead vocals
– Dave Hewitt / bass
– Alan Shacklock / guitars, vocals, percussion
– Ed Spevock / drums

Releases information LP Harvest SHSP 4039
LP Capitol ST 11367
CD One Way OWCD 56845 (????)
CD Beat Goes On BGOCD 491 (2000) (along with “Stealin’ Home” as two LP’s on one CD)

The Sensational Alex Harvey Band

August 9, 2009

Tahu band ini ndak? Ini tergolong band pitung-puluhan (70an) yang mungkin gak banyak dikenal seperti Deep Purple, Led Zeppelin atau Black Sabbath. Sayapun juga ndak punya kasetnya kok di jaman kaset bajakan dulu. Namun temen saya, Bagus Sudaryanto (seorang Doktor dlm bidang Teknik Perminyakan yang sekarang menjabat posisi kunci di Pertamina), waktu kami SMP pernah meminjamkan kasetnya ke saya. Bagus ini tetangga saya di Jalan Sumatra, Madiun, putranya Dokter Sudaryo yang menempati rumah dinas sekitar empat blok dari rumah saya di Jl Sumatra 26 (sekarang 28) Madiun. Bagus juga yang meracuni saya dengan ELP dan Return To Forever.

The Sensational Alex Harvey Band

The Sensational Alex Harvey Band

Kaset Sensational Alex Harvey Band (SAHB) punya Bagus ini adalah rekaman BASR (Semarang) yang terkenal rekamannya bersih banget. Kalau gak salah SAHB punya Bagus ini adalah side B dari Status Quo yang ada lagu Black Water. Karena pinjaman, maka memori saya mengenai band ini sebatas pada kaset BASR tersebut. Namun satu hal yang memikat saya adalah gaya nyanyi penuh aksentuasi ala Alex Harvey di lagi N.E.X.T yang dengan eksentrik dia lantunkan dengan latar belakang mini orkestra. Waj lagunya bener2 menarik dan membuat saya sering putar berulangkali. Rekaman BASR sangat bersih sehingga kaset ini saya rekam ke kaset saya. Kasihan ya, masak ngerekam kaset sumbernya kaset? Maklum jaman sulit banget dulu itu …apalagi ortu saya kan penjahit, bukan dokter seperti bokapnya Bagus. Wong dia aja punya mobil dan di rumahnya ada telpon. Rumah kami adanya telpon2an pake tutup bedak merek Rita disambungkan benang layangan .. kuak kak kak kak kak kak kak kak …. Sambil nyanyi “Telephone Line” karya ELO jan cuocok tenaaaannn .. ha ha ha ha ha…

CD yang nemu di JalSur itu ...

CD yang nemu di JalSur itu ...

Kembali ke SAHB ..Jujur aja saya kagum sama band ini karena memang musiknya keren. Rock nya gak sekedar rock tapi ada sedikit sentuhan opera juga. Lagu lainnya yang saya kenal adalah “Faith Healer” yang saat itu sering diputer dai radio pemancar gelap Dji Sam Soe di Madiun. Lagu ini belakangan juga dinyanyikan oleh Fish nya Marillion di album solonya “Raingods with Zippos”. Selain itu juga ada lagu “Teenage Idols” yang dibawakan energik sama SAHB.

Gak tahu ngimpi apa, pada bulan Mei yang lalu, tepatnya saat i-Rock! menggelar acara “Weekend Metal Battle” di Mario’s Place tanggal 23 Mei 2009 (Sabtu), saya bersepeda menuju Mario’s Place Cikini. Karena udah lama gak mampir Jl Surabaya, maka saya sempatkan mampir ke pasar loak CD tersebut. Sapa nyana, saya menemukan barang langka berupa CD kompilasi bertajuk “All Sensations” dari SAHB!!! Wah saya kaget njumbul mbrebes mili pol karena semua lagu yang pernah menghiasi masa remaja saya (dari kasetnya Bagus) kok ada di ‘the best’ ini …langsung hamba terharu tersedu-sedu .. memang Allah swt itu baik dana Maha Pemurah menemukan lagu2 emas jaman remaja saya dari lapak CD bekas dengan harga bersahabat .. cukup Rp. 70 ribu saja …tapi puwaszzznya bukan kepalang! Seolah saya menemukan masa remaja saya kembali .. sontak muda! (inget jamannya sekolah pake tas ransel tipis dicoretin semua nama2 band rock 70an, ada simbol “peace”, ditulis pake sepidol Artline 70; ke sekolah pake sepatu Big Boss kayak Bruce Lee main silat begitu .. ha ha ha ha ha …).

Track list nya ....

Track list nya ....

Segera setelah saya bayari CD ini, sesampainya di rumah langsung di rip ke iPod dan sampai sekarang masih di iPod karena nuansamatix kemlitix pol CD ini …uediyan! Langsung NEXT saya puter berulang kali. Ternyata semua lagu yang ada di CD ini asik .. termasuk Delillah nya Tom Jones itu .. ha ha ha ha … Pokoke jadul jumadul pancen gundal gandul gumandulan tenaaaaaaaaaaannn ….!!!! Bravo jadoel!

Salam,

G


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 150 other followers