I’ll See You On The Dark Side of The Wall (5/9)

By Gatot Widayanto

Tiga Mengapa

Orang bijak mengatakan bahwa kunci keberhasilan bukan terletak pada bagaimana kita menjawab pertanyaan kehidupan, namun pada bagaimana kita membuat pertanyaan yang tepat (boso Jowone: ‘asking the right question’ ngono lah pokoke …). Nah ..pada minggu ini ada tiga pertanyaan mendasar yang menurut pakar competitive strategy, Michael Porter dan CK Prahalad, harus kita tanyakan pada diri kita masing-masing:

Mengapa Pink Floyd?

  • Band legendaris yang telah mempengaruhi ratusan juta manusia di dunia ini melalui album-album dahzyat yang laku sepanjang masa;
  • Situs progrock terbesar di dunia, www.progarchives, menyatakan bahwa Pink Floyd telah mendominasi deretan tangga Top 10 Prog Albums of All Time, dan merupakan satu-satunya band yang dominan;
  • Musik Pink Floyd telah membantu mengentaskan keterbelakangan pendidikan karena banyak lagu-nya yang merangsang urat syaraf secara positip sehingga pelajar dan mahasiswa di seluruh dunia bisa belajar secara efektif (simak lagu ‘The Great Gig In The Sky’, ‘Time’, atau ‘Comfortably Numb’ …);
  • Di Jakarta jarang tuh menampilkan Pink Floyd dengan konsep yang matang ….

Mengapa Kamasutra?

  • Kita semua tahu bahwa kalau lagi konser, Pink Floyd selalu menomorsatukan kedahsyatan sound system sehingga musik yang dibawakan menjadi terdengar kolosal dan megah membahana. Pokoke sound system di Kamasutra ini jan JUEGLERR JUEGLERRR …sehingga suara gemericik air yang biasa keluar dari musik Pink Floyd bisa dihasilkan dengan Total Harmonic Distortion yang optimal (embuh, opo kuwi kamsude)
  • Ruangannya lega, luas dan akustiknya juga keren sehingga pada saat intro “Shine on You Crazy Diamond” yang sunyi itu, detil suara kibor Edi Daromeh terdengar bak seperti bulu ayam yang terbang di udara (puitis kali!!!!);
  • Lokasi strategis banget! Apalagi jam mulainya 20:00 setelah jam ‘tiga-dalam-satu’ udah berakhir. Bisa shalat Isya berjamaah di masjid sebelah Plasa Semanggi, terus ke hotel Crowne Plaza, atau …di musholla hotel juga pas di lantai bawahnya Kamasutra. Nyaman to?

Mengapa menjadi member i-Rock! ?

  • Karena Anda ingin Mink-Ployd malam itu;
  • Karena sebagai proggers / rockers Anda merasa menjadi suku terasing, makanya perlu temen sosial yang bisa diajak ngomong dan ‘nyambung’ soal prog atau rock – dan i-Rock! adalah tempat berkomunitas paling asik, tiada duanya dah!
  • i-Rock! udah berpengalaman mengelola event dahzyat di ranah rock dan prog. Jangan lupa lho, dua bulan lalu i-Rock! sukses menggelar ‘An Evening of Yes Music Plus’ dan bulan lalu ‘Weekend Metal Battle’ (Slayer / Iron Maiden), serta puluhan event rock yang sebelumnya digelar.

No event like it ...! You got to be "on the run" to get in!!

Terus, ada temen yang tanya, kenapa gak ada satu lagi: “Mengapa ELPAMAS”? Saya jawab: Lho ..buat apa ditanyakan lagi, lha wong di Indonesia ini dalam sejarah musik rock .. belum ada tuh band yang bisa bawain Pink Floyd selain ELPAMAS dan sudah menjadi PUBLIC INFO (pembokat gw di rumah aja juga tahu). Jadi, mengapa di “Mengapa” kan?

Salam,

G

7 Responses to “I’ll See You On The Dark Side of The Wall (5/9)”

  1. Igor Firdauzi Says:

    ini bukan masalah mengapa, tapi ini adalah keharusan!
    sebuah kewajiban bagi orang yang ingin tahu kenapa pinkerton a.k.a pinky bertindak aneh

    apakah ini karena dibesarkan oleh ibu, sebagai orang tua tunggal, yang terlalu melindungi?

    apakah ini sebuah balas dendam dari perasaannya akibat ayahnya meninggal di medan perang?

    lalu apakah menjadi seorang sepursetar (meminjam istilah Johny Gudhel) malah menjadi \’random precision\’ dalam hal percakapan dengan kawan sebaya seperjuangan?

    apakah ternyata semua pengorbanan sia-sia dengan hasil yang didapat, menukar rumput hijau dengan baja tajam, pahlawan dengan hantu, tapi semua ternyata fatamorgana

    juga mengapa waktu berdenting, gelapnya bulan serta lengkingan wanita itu selalu menghantui, bahkan setelah puluhan tahun; apakah aku telah edian sebelum atau setelah mendengar ini?

    apakah, aku bisa nonton, wong aku nang luar kota?
    asem tenan, ora iso ndelok tewel gitaran!

  2. Andy Says:

    @mas gatot
    Elpamas memang oke bgt….I-Rock jg oke, apalagi mas Gatot….wah… pokoknya penjaga gawang progrock lah disamping IPS tentunya he.he satu catatan, 3 bulan kemaren di bandung jg diadakan tribute to Pink Floyd with Ballerina @CRC bandung, jg trbt to Marillion dan Rush.

  3. The Tutorial Machine Says:

    Menonton Dark Side of The Wall – Elpamas :

    Kesan saya setelah menontonnya adalah LUMAYAN. Wajar, karena diawal saja sudah dikemukakan bahwa Toto(k) belum-belum sudah mengaku gugup kemudian diungkapkan hanya latihan 2 (dua) kali saja.
    Kelebihannya :
    1. adalah bahwa akustik ruangan lebih baik daripada Marios Place – Menteng.
    2. vokalis baru sekaligus gitaris – Didi – begitu menghayati lirik lagu dan suara yang prima, demikian juga halnya Baruna (lead vocal), pengucapan lafal yang baik demikian pula pada bagian ad libitum… sampai-sampai terdengar suara anak kecil di balkon nyeletuk “daddy’s roxx” :) )))
    3. Suara bas gitar (‘gak tau siapa namanya) yang dalam juga empuk walaupun dalam volume & gain yang tinggi.

    Kekurangannya :
    1. Minimnya alat pengeras suara yang digunakan – hanya terlihat satu Marshall Amplifier + Speaker. Menurut saya konfigurasi loud speaker KamaSutra dirancang untuk musik disko, house/techno dan sebangsanya , bukan untuk menggelar musik Pink Floyd. Diawal lagu kedua saja, baru dipetikan gitar pertama loudspeaker sudah terdengar sember dan dalam beberapa lagu selanjutnya suara keyboard pun demikian halnya.
    2. Pada 4 (empat) lagu pertama, sound engineer betul-betul tidak paham musik Pink Floyd sehingga tidak tahu kapan harus melakukan panning, echo, maupun reverb dlsb pada saat vokalis menjauhkan/mendekatkan mikrofon maupun pada chord-chord tertentu.
    3. Pemain drum sayangnya tidak diberi drum set berkualitas yang baik.
    4. Tidak dipisahkannya amplifier untuk para penyanyi latar sehingga suara terdengar tumpang tindih.
    5. Totok Tewel memang gugup, terlihat beberapa kali dia jengkel menginjak pedal effect dan menggeser Marshall-nya…. pada kemana nih roadies ?

    Kesimpulan, seandainya saja Elpamas ini didukung oleh peralatan yang memadai, juru suara dan mixer yang piawai dan latihan yang (mesti) lebih dari cukup niscaya penampilan mereka akan sempurna.

  4. adi Says:

    sayang gak bisa dateng, lg keluar kota. tp oom g msh mau temenan sama saya kan? :D

  5. Gatot Widayanto Says:

    Ha ha ha …bro ADi …kalau mau keluar kota musti liat blog ini, ada jadwal ngeprog gak .. Kalau ada, ya keluar kotanya DITUNDA. Lebih penting ngeprog atau ngeWORK? Ha ha ha ha ha ….

    Salam,
    G

  6. adi Says:

    wah cilaka. saya jd tambah binun ini, pilih ngeprog ato ngework ya? tp krn bekerja adalah ibadah sedang ibadah lbh penting dr ngeprog, ya apa boleh buat hehehehe ………

  7. pelintas Says:

    Selamat sukses buat pak G.
    Untuk ke dua kalinya saya jadi orang yang merugi,untuk kedua kalinya juga saya mengeluh : kenapa sih gak malem sabtu / minggu sehingga saya bisa pulang ninggalin work , untuk bisa ngeprog.
    Mohon laen kali dipertimbangken pleaseee.

Leave a Reply