Archive for June, 2009

I’ll See You On The Dark Side of The Wall (5/9)

June 17, 2009

Tiga Mengapa

Orang bijak mengatakan bahwa kunci keberhasilan bukan terletak pada bagaimana kita menjawab pertanyaan kehidupan, namun pada bagaimana kita membuat pertanyaan yang tepat (boso Jowone: ‘asking the right question’ ngono lah pokoke …). Nah ..pada minggu ini ada tiga pertanyaan mendasar yang menurut pakar competitive strategy, Michael Porter dan CK Prahalad, harus kita tanyakan pada diri kita masing-masing:

Mengapa Pink Floyd?

  • Band legendaris yang telah mempengaruhi ratusan juta manusia di dunia ini melalui album-album dahzyat yang laku sepanjang masa;
  • Situs progrock terbesar di dunia, http://www.progarchives, menyatakan bahwa Pink Floyd telah mendominasi deretan tangga Top 10 Prog Albums of All Time, dan merupakan satu-satunya band yang dominan;
  • Musik Pink Floyd telah membantu mengentaskan keterbelakangan pendidikan karena banyak lagu-nya yang merangsang urat syaraf secara positip sehingga pelajar dan mahasiswa di seluruh dunia bisa belajar secara efektif (simak lagu ‘The Great Gig In The Sky’, ‘Time’, atau ‘Comfortably Numb’ …);
  • Di Jakarta jarang tuh menampilkan Pink Floyd dengan konsep yang matang ….

Mengapa Kamasutra?

  • Kita semua tahu bahwa kalau lagi konser, Pink Floyd selalu menomorsatukan kedahsyatan sound system sehingga musik yang dibawakan menjadi terdengar kolosal dan megah membahana. Pokoke sound system di Kamasutra ini jan JUEGLERR JUEGLERRR …sehingga suara gemericik air yang biasa keluar dari musik Pink Floyd bisa dihasilkan dengan Total Harmonic Distortion yang optimal (embuh, opo kuwi kamsude)
  • Ruangannya lega, luas dan akustiknya juga keren sehingga pada saat intro “Shine on You Crazy Diamond” yang sunyi itu, detil suara kibor Edi Daromeh terdengar bak seperti bulu ayam yang terbang di udara (puitis kali!!!!);
  • Lokasi strategis banget! Apalagi jam mulainya 20:00 setelah jam ‘tiga-dalam-satu’ udah berakhir. Bisa shalat Isya berjamaah di masjid sebelah Plasa Semanggi, terus ke hotel Crowne Plaza, atau …di musholla hotel juga pas di lantai bawahnya Kamasutra. Nyaman to?

Mengapa menjadi member i-Rock! ?

  • Karena Anda ingin Mink-Ployd malam itu;
  • Karena sebagai proggers / rockers Anda merasa menjadi suku terasing, makanya perlu temen sosial yang bisa diajak ngomong dan ‘nyambung’ soal prog atau rock – dan i-Rock! adalah tempat berkomunitas paling asik, tiada duanya dah!
  • i-Rock! udah berpengalaman mengelola event dahzyat di ranah rock dan prog. Jangan lupa lho, dua bulan lalu i-Rock! sukses menggelar ‘An Evening of Yes Music Plus’ dan bulan lalu ‘Weekend Metal Battle’ (Slayer / Iron Maiden), serta puluhan event rock yang sebelumnya digelar.

No event like it ...! You got to be "on the run" to get in!!

Terus, ada temen yang tanya, kenapa gak ada satu lagi: “Mengapa ELPAMAS”? Saya jawab: Lho ..buat apa ditanyakan lagi, lha wong di Indonesia ini dalam sejarah musik rock .. belum ada tuh band yang bisa bawain Pink Floyd selain ELPAMAS dan sudah menjadi PUBLIC INFO (pembokat gw di rumah aja juga tahu). Jadi, mengapa di “Mengapa” kan?

Salam,

G

I’ll See You on The Dark Side of The Wall (4/9)

June 17, 2009

Ngapain sih kok musti jadi member i-Rock! ???

Wong cumak mau nontok musik band hebat sak ndonya yang namanya Pink Floyd aja lho .. kok musti repot-repot ndaptar jadi member i-Rock! Kayak orang gak punya kerjaan aja!! Emang siapa tuh i-Rock!? Enak aja nyuruh-nyuruh ..maksa-maksa jadi anggotanya segala .. kayak udah paling top ajah! Huh! Kesel! Sing penting aku pengen nonton Pink Floyd! Gitu ajah!

Lha monggo mbakyu, menawi penjenengan ngersakaken mirsani Totok “Gilmour” Young Jackfruit (baca: “Tewel”. Biar Keminggris kita sebut Young Jackfruit. Lho? Iyo .. bahasa Inggrisnya nongko kan Jackfruit. Tapi bahasa Inggrisnya Tewel kan susah …makanya Young Jackfruit aja yah .. OK gak? Lagian ..nama Totok Tewel itu kan dulu saat ia masih usia belasan. Kalau sekarang kan udah jadi ‘nongko’ juga dia .. ha ha ha ha ….) bersama bandnya ELPAMAS membawakan repertoire dahzyat Pink Floyd, ndak usah repot2 ..kirim aja email ke rizanovara@gmail.com dengan menyertakan data diri. Abis itu cumak tinggal transfer BCA aja kok …ndak usah dibikin rumitlah …..

Nah .. setelah Anda melakukan itu, maka Anda akan mendapatkan:

  1. Sebuah pin unik Pink Floyd “The Dark Side of The Wall” (special edition)
  2. Undangan untuk hadir di i-Rock! Private Party tgl 23 Juni 2009, jam 20:00 sd 23:00 di Kamasutra, Crowne Plaza
  3. Membership Card yang didesain ngerock banget …!! Kalah deh desainnya kartu kredit keluaran manapun ..lha wong ada ukiran gitar Gibson lho! Apa ndak bikin mertua tambah mencintai Anda? So pasti!
  4. Jaminan buat mendapatkan First Drink saat acara berlangsung
  5. Mendapatkan perlakuan khusus dari panitia karena Anda telah mendaftarkan nama Anda ke komunitas ini.

Secara visual, ini lho yang bakal Anda dapatkan: (the REAL thing)

Membership Card, Pin & Invitation

Membership Card, Pin & Invitation

Kalau masih ragu dengan siapa i-Rock! ?

Think of yourself! Don’t think about i-Rock! Lho? Iya …pastinya Anda mengalami menjadi suku bangsa terasing lantaran menggemari musik rock to? Apalagi progresip! Pasti sulit dapet temen!! Coba deh Anda jujur pada diri Anda sendiri dah .. betapa sulitnya cari temen yang suka rock dan prog. Makanya ..pikirkan ..renungkan …(sambil memakai melodi God Bless di lagu “Kehidupan”) betapa Anda itu sendiri dalam keramaian. Ya nggak? (3x ..sambil alis mata naik turun). Mulane to … Anda itu perlu temen sosial, gak hanya temen kantor..tapi temen sosial ..yang sealiran selera musik sama Anda … Jadi, ya secara ‘alami’ Anda itu memerlukan i-Rock! …udah pasti itu…

Lagian, coba deh tanya temen2 Anda gimana kiprah i-Rock! di ranah rock dan prog rock. Tiap bulan selalu aja ada acara ngerock dan ngeprog. Tanggal 23 APril kita gelar “An Evening of Yes Music Plus” terus tanggal 23 Mei kita gelar sukses kemarin “Weekend Metal Battle” (Slayer, Iron Maiden) dan bulan ini kita angkat Pink Floyd, tanggal 23 Juni pulak. Wis pokoke tanggal 23 jadi keramat dah .. ha ha ha ha ha ….

Semuanya terserah penjenengan lah .. mau ngeprog’n’ngerock gak? Kalo gak ya ..ngapain baca tulisan ini .. BBW!

Sebagai temen, saya hanya bisa menyarankan: Kalau ada acara lain selain majelis taklim atau karena istri melahirkan, batalkan! Hadiri acara dahzyat kumazyat di tanggal 23 Juni 2009 nanti .. Pokoke bumi gunjang ganjing pring reketeg gunung gamping ambleg!

Salam,

G

Np. “High Hopes” – Pink Floyd

I’ll See You On The Dark Side of The Wall (3/9)

June 17, 2009

Pink Floyd Dominasi Top 10 Albums

Menurut situs progressive rock terbesar di dunia, ProgArchives (http://www.progarchives.com) tiga album Pink Floyd menduduki deret Top 10 Prog Albums of All Time. Ini detil urutannya:

1.    “Close to the Edge” – Yes
2.    “Wish You Were Here” – Pink Floyd
3.    “Selling England By The Pound” – Genesis
4.    “Dark Side Of The Moon” – Pink Floyd
5.    “Thick As A Brick” – Jethro Tull
6.    “Foxtrot” – Genesis
7.    “In The Court Of The Crimson King” – King Crimson
8.    “Animals” – Pink Floyd
9.    “Red” – King Crimson
10.    “Moving Pictures” – Rush

Pink Floyd Animals album coverKelompok lain hanya menduduki dua posisi saja, seperti King Crimson maupun Genesis. Ini menunjukkan bahwa Pink Floyd jauh lebih dikenal dibandingkan kelompok lainnya. Makanya tak heran peminat acara “The Dark Side of The Wall” yang akan diselenggarakan i-Rock! pada tanggal 23 Juni 2009 yang akan datang telah diminati jauh lebih banyak pemesan dibandingkan Yes yang baru lalu. Pertanyaannya, sudahkah Anda mendaftar sebagai member i-Rock! untuk mendapatkan undangan ke Private Party ntar?

Lagian, Anda udah membuktikan dengan mata kepala sendiri kan, kalau i-Rock! bikin acara, mana pernah tanggung-tanggung sih? Liat tuh .. posisi puncak Top 10 album siapa tuh? YES! Tanggal 23 April lalu i-Rock! kan udah menggelar eventnya dengan sukses dan megah ??? So pasti i-Rock! kalau menggelar acara yang PILIHAN punya, kagak asal comot atau ngawur … Semuanya penuh perhitungan.  Masak Anda ndak mafhum sih???

Mulane to .. gek ndang cepet ndaftar …gampang banget kok! Yen ora ndaftar, opo sampeyan tego gak dadi koncoku??? Aku wae ora tego kok mosok sampeyan mentolo to?

Salam,

G

I’ll See You On The Dark Side of The Wall (2/9)

June 16, 2009

The Story of JOKERS WILD

Kalau Anda tahu David Gilmour adalah bukan pendiri Pink Floyd, itu udah kabar umum dan sangat keterlaluan kalau Anda ndak tahu. Tapi kalau Anda belum tahu JOKERS WILD, itu lumrah …karena memang masih jarang yang tahu. Ini adalah band David Gilmour sebelum ia bergabung dengan Pink Floyd. Cikal bakal band ini adalah tahun 1963 saat David Gilmour membentuk band The Ramblers bersama Clive Welham (drums) dan John Gordon (rhythm guitar). Kemudian mereka mengajak pemain bass Tony Santi dan pemain kibor (juga gitar dan saxophone) benrnama John Altham. Band ini selanjut berganti nama menjadi JOKERS WILD.

http://musicalstewdaily.files.wordpress.com/2008/07/183426294_68acddc39f_o.jpg?w=390&h=562

Karena semua anggota band adalah penyanyi maka mereka memfokuskan band mereka dalam harmoni vocal dengan membawakan lagu-lagu The Beach Boys dan The Four Seasons. Lucu memang ..kalau Anda perhatikan, jaman 60an nama band selalu pakai “The” di depannya. Nostalgik nuansamatik tenan…. ha ha ha …

David Gilmour sering mendapatkan tugas menyanyi di Jokers Wild dengan favorit lagunya Wilson Pickett bertajuk ”In The Midnight Hour”.

Mengenai kapabilitas musikal dari David Gilmour, anggota Jokers Wild berkomentar mengakuinya. ”Dave selalu mengungkapkan pendapatnya tentang sesuatu, dengan cara menyenangkan dan secukupnya,” ujar Welham. Lebih jauh ia menambahkan :”Aset terbesar yang dimiliki oleh Gilmour adalah ketajamannya terhadap ’feel’ dan ’timing’. [Bisa dipahami kalau Anda menyimak lagu ”Shine on You Crazy Diamond” dimana ’feel’ dan ’timing’ memegang peranan kunci di lagu indah ini – red.].

[jok+wild.jpg]

Pada tahun 1964 dan 1965 band ini memprioritaskan untuk masuk dalam peta pop di Inggris seperti yang telah dilakukan The Beatles and The Rolling Stones. Mereka beberapa kali menjadi opening act dari pertunjukan The Animals dan Zoot Money. Jokers Wild akhirnya memproduksi sendiri sebuah album berisi lima lagu yang hanya memenuhi satu sisi piringan hitam (PH). Album mini ini dicetak sendiri sejumlah beberapa ratus biji saja dan didistribusikan ke rekan dekat saja. Dua puluh tahun kemudian, PH Jokers Wild ini dijual seharga 400 poundsterling!

No event like it ...! You got to be "on the run" to get in!!

Salam,

G

I’ll See You On The Dark Side of The Wall (1/9)

June 16, 2009

http://aftermathnews.files.wordpress.com/2006/07/pink_floyd_wideweb.jpg?w=270&h=227PINK FLOYD bisa dibilang merupakan salah satu band prog rock legendaris tujuhpuluhan seperti kita mengenal Yes, Genesis, ELP, King Crimson, maupun Gentle Giant. Formasi awal mereka terdiri dari Syd Barrett (alm), pemain bass merangkap vokalis Roger Waters, penggebug drum Nick Mason dan pemain kibor Rick Wright (alm). Awal karir musik kelompok ini lebih ditentukan oleh kepiawaian  Syd Barrett yang menulis, memainkan gitar dan menyanyi, sekaligus sebagai figure sentral kelompok ini. Album awal mereka “The Piper At The Gates Of Dawn” (1967) sarat dengan musik pop manis sekaligus berisi beberapa nomor instrumental bernuansa eksperimental. Pink Floyd menelorkan single yang masuk dalam UK Top-20 melalui lagu “Arnold Layne”. Karena ketidak stabilan mental disebabkan terlalu banyak mengkonsumsi LSD akhirnya Syd Barrett digantikan oleh David Gilmour (gitar, vokal) pada 1968. Di tahun 1970 Pink Floyd merekam musik untuk film Zabriskie Point termasuk versi alternative dari ‘Careful With That Axe, Eugene’ yang di Indonesia dikenal, pada saat itu, melalui kaset keluaran Yess Bandung dalam album “Ummagumma”.

Puncak kematangan bermusik grup ini dibuktikan melalui peluncuran ”Dark Side of The Moon” (DOSTM) pada tahun 1973 yang sebagian kritisi musik menyebutnya sebagai cosmic rock, diproduseri oleh seorang sound engineer bernama Alan Parsons. Sebelumnya Pink Floyd memang sudah dikenal sebagai kelompok yang memainkan musik beraliran psychedelic prog rock melalui album “Meddle” (1971) dan “Obscured by Clouds” (1972) yang meruoakan soundtrack dari film ”La Vallée” (“Obscured By Clouds”).  DSOTM disebut sebagai tonggak bersejarah dalam musik prog rock dunia yang kemudian disusul dengan album selanjutnya yang juga dahzyat ”Wish You Were Here”. Di album ini ada sebuah epic yang ditujukan kepada sahabat mereka, Syd Barrett, yaitu ”Shine On You Crazy Diamond”. Album “Animals” kemudian menyusul dengan fokus pada isu kemanusiaan.

http://losangeles.diarystar.com/images/the-australian-pink-floyd-show1.JPG

Album konsep yang kemudian meledak adalah “The Wall” (1979) yang disajikan dalam bentuk rock opera. Di era akhir 70an Roger Waters memegang kendali musikal dan lirik Pink Floyd hingga “The Final Cut” (1983) yang pada dasarnya lebih merupakan proyek pribadi Waters yang selalu bercerita tentang perang.  Sayang grup ini pecah dan menyebabkan Roger Waters keluar di tahun 1983. Yang terjadi kemudian adalah perseteruan antara Waters dan Gilmour. Usaha Waters membubarkan Pink Floyd setelah ia meninggalkan grup ini selalu gagal dan kelompok ini terus eksis. Pado konser Live Aids beberapa tahun lalu mereka kembali tampil satu panggung untuk terakhir kalinya membawakan repertoire mereka antara lain “Money”. Tawaran untuk tur grup ini secara lengkap ditolak mentah oleh Waters dan Gilmour. Saat ini mustahil merealisasikan reuni mereka karena tahun lalu Rick Wright meninggal dunia. Meski band ini sudah tidak aktif lagi, namun musiknya masih melegenda dan memberikan pengaruh kuat ke grup-grup prog rock generasi ketiga seperti Porcupine Tree, RPWL, Riverside, dan masih banyak lagi.

No event like it ...! You got to be "on the run" to get in!!

Salam,

G

Merajut Makna Melalui Prog Rock (23 of 99)

June 14, 2009

Whoooaaaa… !!! Abis Subuhan pagi ini kagak tidur, ngejagain acara di TV lantaran konon kabarnya anak sulung, Endro Alkaula, bersama band barunya ORENS mau masuk TV …. Sambil nunggu, saya pasang Pink Floyd “The Final Cut” melalui iPod dengan bitrate 320 kbps, menggunakan Sennheiser PX-100 headphone. Album ini begitu spesial buat saya meskipun ini bukan album masterpiece dari kelompok ini.

Tell me true tell me why was Jesus crucified?
is it for this that daddy died?

Lirik di atas membuka opening track “The Post War Dream” dari album ini. Suara vokal Roger Waters begitu indah membahana dengan suara bariton rendah namun dengan aksentuasi yang tegas menawan. Memang album ini bisa dibilang merupakan requiem bagi Waters yang ditinggal ayahnya karena perang. Secara musikalitas, bisa dikatakan album ini miskin bebunyian instrumen namun menekankan pada kekuatan lirik sosial politik menyindir perang. Satu hal yang kuat dalam album ini adalah kekuatan soundscapes melalui bebunyian berupa tereakan orang atau suara derap sepatu yang begitu indah terdengar di telinga, apalagi dengan headphone buatan Sennheiser. Wah wis jan mak bleng tenan suaranya…..

Pink Floyd Final Cut, The  album cover

Emosi saya seperti dikocok melalui frase-frase musik yang dilantunkan melatar-belakangi kekuatan vokal Waters, mulai dari bagian menyedihkan yang membuat mbrebes mili sampe ke bagian girang-gumirang, namun dengan nuansa yang masih terjaga dengan baik. Kekuatan melodi dari album ini juga sangat kuat bahkan di bagian dimana Waters musti tereak “..and how long to a dream?” yang disaut liukan indah suara saxophone yang dimainkan oleh Raphael Ravenscorft dengan indahnya. Tidak hanya itu, aksentuasi vokal di bagian “boom boom ..bang bang!” juga begitu memikat. Uediyan tenan iki Pink Floyd! (tepatnta Roger Waters!).

Tanpa terasa… lagu demi lagu saya lalui sampai album ini saya nikmati sepenuhnya (in its entirety)! Puas sekali. Sekaligus kontemplasi mengingat kesamaan nuansa karena ayah saya juga meninggal dunia saat usia saya masih 5 tahun. Jadi ya serupa dengan Roger Waters. Sayang saya bukan pemusik. Kalau iya, sudah pasti saya membuat musik sejenis untuk mengenang ayah saya yang saat masih hidup, sebelum berangkat kerja selalu membagi sesendok atau dua telor ayam kampung setengah matang kesukaannya. Kepiluan ibu saya sejak ditinggal ayah juga terekam begitu kuatnya di otak saya. Ibu yang kemudian membanting tulang dengan menjahit untuk menyambung hidup menyekolahkan empat anaknya, dan saya paling kecil. Atas karunia Allah swt juga lah kami semua (ibu dan tiga kakak saya) masih hidup hingga kini. Alhamdulillah!

Kontemplasi say tak terhenti sampai di sini…. Seusai The Final Cut, saya lanjut dengan Roger Waters “Amused to Death” yang musikalitasnya sejenis. Pagi nan indah ….. Biar gak sedih, di akhir kontemplasi saya pasang Metallica “Enter Sandman” nyambung ke orkestra S&M “The Ecstasy of Gold” terus ke “The Call of The Ktulu” …. Abis prog kok metal, opo tumooooonnn…???

Ditulis di Resto Jakarta, Hotel Dharmawangsa, Minggu 14 Juni 2009

Salam,

G

—–

Ini review saya di ProgArchives beberapa saat yang lalu, cukup lama:

3 stars Personally, I love this album. It’s not a plethora of credentials the band has earned with its previous albums but it’s more on the music per se. If I was not given any information that this is a Pink Floyd album I still love this one. Two reasons that support my opinion: 1. I like the energy the singer sings throughout the album which basically has less music than vocal line. 2. The music is thematic even without knowing what’s the story line of the album. In fact, I purchased this album in cassette version but I got trouble with the noise level that became obvious because this album has many silent parts. So, couple of years later I purchased the CD format. The result is remarkably different: now I can hear clearly the sighs and silent sound effects in its subtleties especially if I listen to it using earphones or decent stereo set at home.

The opening track “Post War Dream is a requiem after the war. Eevn if I put off the war context I can still use this track to contemplate for other life issues facing most of us on daily basis. The stream continues nicely with “The Possible Pasts” , “One of The Few” to “The Hero’s Return”. In “The Gunner’s Dream” I like the accentuated vocal by Waters whereby the peak happens when he screams “And hold on to your dreams!” with daunting music that continues with saxophone solo. Oh . what a great part, my friend! Not the sax solo per se but the time when he starts screaming the lyrics, it’s really cool.

As I mentioned before, I personally like this album. So, despite bad reviews about this album, I still recommend you to have this album in your collection. If you doubt it, borrow the CD from your neighbor, play the first five tracks only. If it blows you, it definitely the whole album would blow you! Keep on proggin’ ..!

Peace on earth and mercy mild – GW

Studio Album, released in 1983

Songs / Tracks Listing

1. The Post War Dream (3:00)
2. Your Possible Pasts (4:21)
3. One of the Few (1:26)
4. The Hero’s Return (2:58)
5. The Gunners Dream (5:04)
6. Paranoid Eyes (3:49)
7. Get Your Filthy Hands Off My Desert (1:19)
8. The Fletcher Memorial Home (4:10)
9. Southampton Dock (2:05)
10. The Final Cut (4:53)
11. Not Now John (5:03)
12. Two Suns in the Sunset (5:17)

Total Time: 43:25

Line-up / Musicians

- David Gilmour / guitars, vocals
– Nick Mason / drums
– Roger Waters / bass, vocals

WITH:
– Andy Brown / Hammond organ
– Ray Cooper / percussion
– Michael Kamen / piano, harmonium
– Andy Newmark / drums (12)
– Raphael Ravenscroft / tenor sax “The National Philharmonic Orchestra”

————

Pink Floyd “The Dark Side of The Wall”

June 8, 2009

JRENG!

i-Rock! proudly presents

Rock The Nite

THE DARK SIDE OF THE WALL

Music of Pink Floyd

Performed by ELPAMAS

This event is a Private Party, you have to join an i-Rock! membership program to get an invitation of this event

To Join i-Rock Member Program:

1) Send your personal information:
– name
– sex
– id no
– address
– date&place of birth
– email address
– hp number:

send to rizanovara@http://www.facebook.com/l/;gmail.com

2) pay idr 125,000 to BCA account 0657 222 775 (Setiawan Muhsin)

And you will get a one year i-rock! membership card, a souvenir of the event and an invitation to this event.

This event is supported by:

Value Quest
GMCM hair & makeup
Rock E-bulletin

Keep on rockin’….keep on proggin’ …!!!

No event like it ...! You got to be "on the run" to get in!!

No event like it ...! You got to be "on the run" to get in!!

Quo Vadis Prog Rock?

June 5, 2009

Di sebuah milis prog sedang dibahas tentang prog rock yang memudar. Saya gak sependapat dan ini jawaban saya:

Sebetulnya prog bukan malah memudar, tapi makin berkibar mengingat begitu banyaknya band prog baru yang secara IQ Dark Mattermusikalitas bener2 mumpuni. Memang tidak bisa dipungkiri pengaruh dari band 70an ke band2 baru ini..tapi ya itu mah gak usah diperdebatkan karena kalau dirunut lagi semua band prog juga ada kaitannya dengan The Beatles bahkan beberapa, seperti Yes, meng-cover lagu2 The Beatles.
Meski di milis ini ngomongin The Beatles pernah diricuhkan, tapi tetep saja kita semua harus akui bahwa pengaruh The Beatles begitu kuat.

Gak bisa dipungkiri juga bahwa grup2 belakangan ini terpengaruh band lama. Tapi harus diakui, mereka tak semena-mena MENJIPLAK seperti kasus Huma Di Atas Bukit, misalnya. Contoh: Citizen Cain yang diklaim meniru Genesis, eh .. di lagunya bertajuk JUNK AND DONUTS dia membuat komposisi dahzyat mirip dengan garis musik Genesis era Gabriel TAPI ditambahi lagi unsur JETHRO TULL. Kalo mas Teguh denger lagu ini pasti mengira ini musik Gensis, namun kagak ada satu bar pun notasinya yang nyomot punya Genesis. Juga di lagu SOMEWHERE BUT YESTERDAY yang durasinya 25 menit, mengingatkan saya ke The Battle of Epping Forest maupun Suppers Ready, tapi tak menjiplak sama sekali.

Marillion AssassingKemudian adalagi THE WATCH (dulu The Night Watch) yang format musiknya Genesis Gabriel POL tapi nikmat karena seperti Gensis Gabriel bikin album baru. Adalagi ANGLAGARD, SINKADUS, HAMADRYAD (terpengaruh Yes, Genesis dan Gentle Giant), adalagi ET CETERA (Gentle Giant pol), RPWL (yang nanggung niru Pink Floyd – saya kurang suka band ini), PORCUPINE TREE (Pink Floyd tapi lebih strong lagi di soundscape dan space music). Belum lagi THE TANGENT yang merupakan generasi penerus Canterbury macem NATIONAL HEALTH, KHAN, etc. Pokoknya buanyak banget grup prog bermutu yang saya sendiri kewalahan mengikuti karena keterbatasan waktu buat menikmati karena terlalu banyaknya band baru dengan musik bermutu.

Mungkin kalao dibilang musiknya pembaruan adalah band seperti BEARD FISH, THE DEAR HUNTER. Jujur, saya salut sekali sama band2 baru ini. Bisa dikatakan mereka tergolong yang “pushing the envelope” karena musiknya sangat segar dari kacamat jenis dan warna musiknya. Beard Fish mungkin masih ada oengaruh Gentle Giant tapi gak juga. PAIN OF SALVATION juga cukup fresh musiknya karena olah musiknya tidak hanya menekankan dari sendatan musik tapi juga gaya nyanyi Gildenlow yang fully accentuated. Aksentuasi vokalnya sangat distinctive sehingga kita segera mengenali keunikannya. Sperti dulu kita denger suara Jon ANderson, Gildenlow ya unik juga…

Saya termasuk yang SANGAT BAHAGIA dengan perkembangan musik prog. Hadirnya Dream Theater juga membantu ARENA The Visitorsaya mempromosikan PROG ke generasi muda. Makanya saya punya jaringan teman yang mereka usianya di bawah 20 tahun seperti: Mitha, Lody, Sesar, Lauda, dan masih ada beberapa orang lagi. Mereka pantasnya jadi anak saya .. ha ha ha .. tapi mereka prog abis. Lody malahan tergila-gila sama Van Der Graaf dan gak suka yang ada metal nya.
Sebetulnya konsep musik Dream Theater juga berakar dari 70an yaitu album pertama UK (Bruford, Wetton, Jobson, Holdsworth) tapi DT membuatnya lebih intensif dan ekspresif. Coba Anda setel lagu pendek “Vesto, Vivace & Reprise” dengan staccato style nya. Itulah musik DT! Tapi DT memang canggih mengolahnya lebih lanjut. Juga Symphony X.

Dari ngobrol2 & kopdar dengan prog friends, saya menyimpulkan begini:

  1. Banyak temen saya yang terlalu terpaku dengan format musik 70an dan “berharap” keemasan “Thick AS A Brick”, “Close To The Edge”, “Foxtrot”, “Free Hand”, “Dark Side of The Moon”, “In The Court of CK” terulang kembali. Mereka ini menganggap musik sesudahnya adalah pengulangan. Saya kurang sependapat karena justru 80an ke atas yang terjadi adalah “pengkayaan” dari yang sudah ada bahkan ada yang baru jadinya seperti The DEAR HUNTER atau BEARDFISH. Banyak yang bilang MARILLION adalah copy cat GENESIS. Kalau saya bilang: SO WHAT? Liatlah tahun 80an, apa ada yang bikin musik bagus seperti MARILLION, IQ, PALLAS? Kagak ada! Genesis “Abacab” secara progressive-meter jauh dibawah Script for a Jester’s Tear. Apalagi “Invisible Touch” yang udah meninggalkan koridor prog. (Tentu, ini semua subyektif karena bicara musik pasti ada faktor subyektif. Gak mungkin bicara melulu obyektif).Kalau gak ada Marillion tahun 83, kagak mungkin prog akan bertahan sampai sekarang tergerus oleh “Never Mind The Bollocks” nya Bedil Seks.
  2. Ada pula temen2 saya yang terbuka dengan ranah prog generasi baru seperti neo prog ala Marillion, prog metal ala DT, Symphony X,atau crossover prog yang kedengarannya seperti musik pop yang melayang-layang. Temen2 yang suka musik prog gaya baru ini memang selalu mengasosiasikan dengan prog 70an, namun mereka menikmati dan salut dengan band2 baru ini. Band2 baru yang sering dibicarakan termasuk:

ARENA
IQ
PALLAS,
PENDRAGON
ANEKDOTEN
ANGLAGARD
PAIN OF SALVATION
SPOCK’s BEARD
FROST
SATELLITE
GLASSHAMER
WOBBLER
UNIFAUN (saya sih kurang suka band ini)
CITIZEN CAIN
AGENT OF MERCY
THE FLOWER KINGS
THE TANGENT (ini band tuobsszz biyanget!)
PORCUPINE TREE
KARMAKANIC (album barunya Who Is The Boss In The Factory ..top banget!)
BEARDFISH
THE DEAR HUNTER
DEVIL’s DOLL
SYLVAN
PRESTO BALLET
SINKADUS
dan .. masih buanyak lagi …

Yang menarik lagi ada proyek namanya REWIRING GENESIS dimotori penggebug drum Genesis (dua lagu di Calling ALl Stations) Nick D Virgilio (juga penggebuk drum dan vokal dari band Spock’s Beard). Wah edan .. The Lamb Lies Down diinterpretasikan secara non electrik dengan violin, cello, brass, piano .. wis jan keren pol!!! RECOMMENDED!

Pokoke PROG will never die .. believe me!

Kalo berharap prog jadi disukai banyak orang, ya susah …musiknya aja bikin kita mikir .. ha ha h aha ….

Salam,
G

http://gwmusic.wordpress.com/


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 145 other followers