JRENG!
Ini sekedar curhat aja. Sebetulnya buat konsumsi pribadi sih, sebagai catatan doang. Tapi ya ditulis di blog, Anda boleh tahu juga. Kalo ndak mau tahu ya ndak pa pa, ndak usah dibaca, lha wong ini buat curhat pribadi aja kok … Ini tentu kaitannya dengan acara sukses yang digelar tanggal 23 April 2009 yang lalu di Mario’s Place, Jakarta. Acara ini udah lama saya idam2kan karena setelah menggelar “An Appreciation for Genesis” pada awal Februari 2007, saya langsung terpikir kenapa gak sekalian ditindak-lanjuti dengan Yes yang seangkatan? Pada 30 April 2008 saya menulis posting di blog ini dengan tajuk Sarasehan Musik YES . Maksud saya ya ingin tahu animo dari Yes ada gak. Bukan apa2, Yes ini terkenal musiknya rumit sehingga kemungkinan penggemarnya ndak banyak di Indonesia. Saat menulis di blog ini sebenernya saya sudah bicara dengan Krisna Prameswara, namun tetep aja belum yakin bisa menggelar. Apalagi sang gitaris Noldy Howe sudah sangat sibuk main di televisi. Jadinya tertunda terus. Animo dari temen2 di blog gemblunk ini cukup seru…banyak yang semangat, namun akhirnya isu mengusung Yes jadi terhempas ditimpa angin mamiri yang mampir di jalan kemiri, parkir di pojokan sebelah kiri menunggu kiriman wangsit …..ha ha ha ha ….
Terinspirasi Genesis Nite
Pada saat Genesis Nite di Kamasutra (bulan Februari 2009 ya?) saya semakin tertantang … Mengapa selalu Genesis

yang di tributkan? Kenapa gak Yes? King Crimson? ELP? Kansas? Van der Graaf Generator? Gentle Giant? Padahal kontribusi Yes terhadap musik prog dunia cukup kental, gak kalah dengan Genesis. Dan, jangan salah lho …saya ini penggemar Genesis lho. Kalo ndak percaya, tanya tuh temen2 kuliah saya di Teknik Industri ITB angkatan 79 (ih ..udah tuwir banget ya saya? Yo ben!)… Dulu kalo kuliah saya paling suka pake kaos Genesis dan paling konsisten sampe Marillion muncul dengan Script for A Jester’s Tear, Genesis lantas tak lepeh karena kesel ama lagu macem “Who Dunnit?” “Keep It Dark” yang jan ndak nGenesisi blas ..babar pisan! Kalo kurang yakin, tanya temen2 saya di Marching Band ITB Waditra Ganesha …saya paling suka ngomongin Genesis. Namun, saya juga cinta Yes dan grup progresip lainnya.
Syahdan …suatu malam dalam perjalanan ke rumah kontrakan di Setra Duta Bandung, masih di dalam mobil ..bareng sama temen2 tim konsultan yang sedang ada proyek di Bandung, saya nelpon temen prog saya, namanya Rizal B Prasetijo (aka Bang Ijal). Intinya, saya “kemropok” (panas – red.) mengapa Genesis doang yang di “nite” kan beberapa kali di Jakarta. Kok ndak pernah YES gitu? Terus saya jual “koyok” ke Bang Ijal bahwa Yes itu prog markoprog lebih rumit dari Genesis. Penngemar Genesis belum tentu suka Yes karena lebih rumit. Tapi penggemar Yes lebih mudah mencerna Genesis karena lebih simple musiknya. Saya tahu Bang Ijal ini jatuh cinta sama Eyang Chris Squire karena teknik permainan bass yang bi-amping (opo kuwi?) itu … Saya bilang aja kalo bikin tribut Yes, kita akan pilih pemain bass yang top markotop. Eh ..tanpa mikir panjang sepanjang lagu Siberian Khatru, mungkin hanya sepanjang Excerpts from Firebird Suite ..bang Ijal setuju dan menyebutkan angka “X” (gak sopan disebutin) buat mendanai proyek ini. Wah udah ada dua orang….maka tinggal cari seorang yang bisa nambahin sehingga “XYZ” (udah kayak proyek selingkuhan Squire, White & Jimmy Page aja yah ..??? ha ha ha ha …). Tak pikir panjang, malam itu langsung saya hubungi kang Tatan Taufik (penggemar Led Zeppelin yang menggilai prog juga). Beliau juga setuju sehingga terkumpullah dana sebagai working capital menggelar proyek Yes ini. Yeah!
Tantangan selanjutnya, karena kita bertiga termasuk orang sibuk (khusus untuk saya, sibuknya ngeprog sama nulis di blog, nulis review prog .. ha ha ha …), kita musti cari partner eksekutor nih … Gimana ndak sibuk ya, lha wong bang Ijal ini CEO dari JP Morgan dan kang Tatan ini adalah Penasehat Direksi (bidang Treasury) dari sebuah perusahaan tambang besar. Maka, tak banyak pikir .. malam itu juga (udah di rumah Setra Duta Bandung) saya talipun (boso Malaysia iki rek!) Bro Riza Novara, sang Ketua i-Rock! Lha, kenapa i-Rock! ? Bukan karena saya wong i-Rock! lho ..tapi pemilihan eksekutor ini memenuhi syarat pokok. Pertama, pengalamannya dalam memanage (uih gaya banget!) event musik rock dan metal. Kedua, crowd i-Rock! yang cukup banyak. Ketiga, partner bisnis yang bisa dipercaya. Maka, langsung malam itu juga DEAL. Bro Riza berkomentar: “Om G, kita usahakan event ini sukses…setidaknya balik modal lah begitu.”. Saya jawab singkat aja “Amin”.
Masjid Nuansamatik
Tantangan selanjutnya adalah mencari band dan venue yang pas. Saat itu langsung aja kepikir Krisna Prameswara yang dulu sukses main Yes di Hard Rock Cafe. Setelah beberapa kali komunikasi lewat SMS dan tatap muka, akhirnya disepakati band yang akan main Yes dibentuk. Saya happy banget dengan format band nya. Langsung kita deal dengan line-up yang diusulkan. Salut buat Krisna yang cepet membuat keputusan dan mengumpulkan kembali band lamanya. Top dah! You really prog man! I love you …(hush! Tapi gw bukan homo man!). Lucunya, band ini belum ada nama dan saya minta Krisna nyebut satu nama. Ujug2 dia nyebut “Parallels” .. langsung saya “YES” kan. (baru ketahuan belakngan dari Igun i-Rock! bahwa di Inggris ada band prog yang memainkan Yes dengan nama Parallels juga .. Yo wis lah ndak apa2).
Krisna menyusun setlist dan saya di email, langsung setuju karena nggeblak liat lagu2 yang mau dibawakan. Yes asli aja kagak mungkin dalam konsernya membawakan lagu2 yang dibawakan Parallels. Lha mana mungkin Jon Anderson gelem (mau – red.) menyanyikan “Machine Messiah”? Ora mungkin lah rek! Potong kupingku yen tego awakmu! Iki wong siji rak ego ne jan dhuwur banget! Masih mendingan Eyang Steve Howe yang mau nggitar “Owner of a Lonely Heart”. Yen Jon iku wis jan mokong tenan uwonge ….! Ha ha ha …yang gak ngerti, silakan nyanyi aja “Nu som du soleil …”…ha ha ha ..tambah bingung rek!
Yang seru, penanda-tanganan kontrak antara i-Rock! (diwakili saya) dengan Parallels Band (diwakili Krisna Prameswara) justru dilakukan di masjid Nurul Hidayah, Brawijaya, kebayoran Baru, tepatnya pada ba’da Magrib tanggal 28 Maret 2009. Kesan bahwa pemusik suka ngaret kalau janji, tidak saya jumpai pada diri seorang Krisna. Malahan, justru saya yang ngaret karena pas saya datang (bersepeda tentunya!) shalat maghrib berjamaahnya sudah masuk rakaat kedua. Setelah shalat usai, saya lihat justru bro Krisna sudah dateng duluan dan shalat di shaf pertama! (subhanallah!). Jadi, jangan percaya tuh bahwa musisi suka ngaret, buktinya kagak tuh. Lucu juga, setelah shalat kita ngomongin musik prog di dalam masjid. Setahu saya sih belum ada yang mengharamkan yah, proggin’ in the mosque? He he he …

Kontrak dengan PARALLELS Band ditandatangani di masjid ini.
Menaksir YES Crowd
Yang paling susah adalah menaksir jumlah crowd nya Yes. Mengingat musik Yes cukup rumit, maka saya tidak berani menaksir siapa saja penggemar Yes di Indonesia (Jakarta). Akhirnya ide gila saya muncul. Saya buka aja PDA saya, langsung saya lihat teman2 saya yang suka atau “mungkin” suka Yes. langsung saya buat daftarnya. Eh lumayan, ada 76 nama yang saya kenal dengan baik (ada nomer HP nya) dan beberapa pernah sama2 nontok Yes di Singapore tahun 2003. Langsung saya memakai Geurilla Marketing Strategy (katanya bapak pemasaran Phillip Kotler). Saya buat program tiap hari menelpon sekurangnya lima orang, mengundang mereka buat hadir di YES Nite tanggal 23 April 2009. Alhamdulillah, responsnya baik ..banyak yang semangat 45 dan langsung menanyakan kapan tiket bisa dipesan. Bisa dikatakan 95% dari list 76 orang itu menyatakan diri pengen hadir karena pengen menyaksikan apa ada band Indonesia yang bisa bawain Yes. Paulo Coelho, seorang penulis novel dari Brazil yang kondang dengan bukunya “The Alchemist” bilang begini: “If you have a compelling desire, all the universe will conspire to help you achieve it ..“. Itu bener2 saya alami ….
Strategi gerilya ala Panglima Besar Sudirman (gak seheroik beliau lah …wong saya ndak perlu keluar masuk hutan seperti Jendral Sudirman kok ..) ternyata membuahkan hasil. Banyak yang pesen tiket dan sekali pesen bisa 10 sampai 20 tiket. Wah, saya langsung kelabakan takut kalau Mario’s Place gak muat. Atas kebaikan bro Riza, akhirnya tiket dengan desain khusus yang YES banget dicetak. Wah ..luar biasa, ternyata animo penggemar Yes sangat dahzyat dan di luar dugaan.
Promosi Gembloenk dan Ndlosor di Studio
Kesibukan saya memang lebih banyak fokus ke menyusun konsep acara dan sekaligus promosi yang harus berbeda. Maklum..saya sadar, penggemar Yes ini pini sepuh (manula – red.) bahkan ada beberapa udah punya cucu. Segmen seperti ini gak bisa hanya sekedar diberi tahu, tapi musti ada coaching process and dialogues (mulai dah pake boso konsultan ..ha ha ha ..). Mereka perlu dibimbing …bahwa menikmati musik prog, meski tidak merupakan keutamaan dalam menjalani kehidupan ini (dan lebih baik ngaji, tilawah Quran), namun …sometimes are neccessary to motivate yourself …to see brighter future. (Lha future opo maneh, wong wis sepuh kabeh?). Lumayanlah prosesnya berjalan lancar karena banyak yang tertarik dan langsung pesen tiket.
Dari segi konsep, saya menginginkan acara ini tidak hanya menggelar musik “thok” tapi harus ada informasi yang disampaikan, tanpa ada maksud menggurui. Makanya ada talkshow yang menampilkan tiga narasumber: mbak Didy, Mita Hapsari dan Rizal B Prasetijo. Hasilnya baik karena mas Ilham dari the Jakarta Alternative Station mengomentari bahwa narasumbernya memberikan “pencerahan” bagi yang hadir malam itu. Terima kasih mas Ilham! Selain itu, sebelum lagu dimainkan Parallels, saya ingin ada sedikit ulasan mengenai lagu tersebut, seperti acara siaran di radio FM begitulah. Respons nya juga positif, karena sehari setelah acara, saya ketemu temen saya senagkatan di ITB, Chairul Hakim, yang mengatakan bahwa dengan diberi ulasan orang menjadi tahu latar belakang lagu. Dia nilai ini hal yang bagus. Wah, saya bangga ternyata ada temen saya satu angkatan yang bener2 progressive pemikirannya. Bener2 anak ITB tulen….he he he …
Ini juga terkait dengan promosi yang saya lakukan gencar, dibantu bro Riza yang membuat event page di FB. Salah satu yang saya sasar adalah alumni ITB. Kenapa? Bagi saya, bagi alumni ITB yang tidak suka musik prog, sudah pasti kuliahnya dulu tidak bener. Pasalnya, progressive rock itu ada di salah satu mata kuliah yang nilai kreditnya 2 SKS, sama dengan Konsep Teknologi yang diajarkan di TPB (Tahun Pertama Bersama). Mengapa progrock ada di ITB? Simpel… motto ITB kan “In Harmonia Progressio” yang artinya berpikiran progresif namun berjalan secara harmonis. Lha, musik YES kan juga begitu, prog namun harmonis kayak The Gates of Delirium. Strategi ini ampuh, ternyata ada 34 alumni ITB yang hadir malam itu ..ternasuk Bpk Ary Hudaya, CEO nya Bumi Resources. Juga termasuk tiga temen saya dari TI 79 yang hadir selain Chairul: Bowo dan Coki. Saya senang sekali masih banyak teman seperguruan yang masih istiqomah di jalur progresip.
Karena saya fokus dalam menyusun konsep acara, saya jarang nonton Parallels Band latihan. Bagi saya, menjaring massa dan memposisikan event ini ke pikiran segmen yang dituju lebih penting dari pada mengontrol band yang udah jelas top markotop kualitasnya. Namun, akhirnya saya sempet melihat latihan mereka juga, dua kali. Saya ndhlosor kepuasan saat mereka bawain Machine Messiah di studio Jl. Gandaria. Saya makin yakin band ini pasti “jadi” lah ….
Penutup
Akhirnya event berlangsung sukses dengan jumlah penonton yang cukup membuat MP sesak. Band nya main sangat bagus, liat ulasan di bawah. Komentar dari penonton juga sangat positif. Meski ada beberapa kekurangan disana-sini, saya puas dengan event ini. Terima kasih buat temen2 yang sudah terlibat baik itu penonton, Mario’s Place, bang Ijal, kang Tatan, mbak Didy, Mita, bro Riza, P Setiawan, Dessy, Bro Zul, Om Mamak, i-Rock! dan juga kepada Parallels band.
Disamping kegembiraan saya, ada juga satu kesedihan mendalam yang saya alami dan saya tulis di sini.











