Archive for January, 2009

Kisah Bocah Yang Suka Rock

January 31, 2009

Ini postingan dari milis i-rockmusik@googlegroups.com dari salah satu anggotanya yang saya kenal: Kai Dvil. Postingan ini layak disebar-luaskan karena gokil abis, ngerock abisz! Membacanya begitu nikmat, seperti membaca perjalanan hidup saya dengan musik rock. Nuansanya keren abisz! Silakan baca …. KipOnRokin’ …!!!

————

Semua di awali dengan sebuah rasa yang begitu indah, ketika seorang
anak kecil yang berumur 10 tahun memulai sebuah rasa akan keindahan
dari berbagai lagu yang melintas di telinganya, lagu demi lagu berlalu
tanpa jeda memasuki sanubari dengan indah, lagu – lagu oriental yang
di suarakan di sebuah tape tua merek JVC itu begitu mempesona, ketika
orang tuanya mendengarkan lagu – lagu tersebut, sang anakpun mau tak
mau ikut mendengarkan berbagai melodi yang merasuk di relung hati. Si
anakpun tersentak secara tiba-tiba, merasakan sebuah getaran yang
begitu menyiksa hatinya jika melodi itu senyap. Namun tiba-tiba
datanglah keponakan dari orang tua si anak itu yang mulai memasang
berbagai macam kaset yang isinya merupakan lagu – lagu asal negara-
negara barat sana. Berbagai artis maupun band awal 70an mulai
terdengar di telinga, sebuah musik yang sangat asing di telinga, namun
sang anak tak menyerah, diapun terus mendengar dan mendengar, alunan
suara dan melodi yang juga begitu gila mengalun, suara dari sang
maestro ABBA, Boney M, Rod Stewart, Aphrodite Child, Bee Gees dan
masih banyak lagi mulai sedikit demi sedikit merasuk kedalam belahan
jiwa sang anak itu. Dan sang anakpun memberi respon dengan baik, lagu
- lagu tersebut di dengar berulang – ulang walau dia tidak mengerti
apa yang di katakan di dalam lirik oleh sang artis. Namun tetap saja
di dengarkan  dengan baik.

Semua lagu di dengarkan dengan seksama, semua begitu indah terdengar.
Lama kelamaan musik menjadi sebuah santapan sehari hari yang tidak
bisa tidak harus ada di hadapan sang anak. Musimpun berganti si anak
mulai mencari sesuatu yang baru untuk di perdengarkan, kehausan akan
melodi baru begitu membuatnya menderita, seketika juga dia mulai
menyentuh sebuah tombol di tape tua itu untuk mendengarkan siaran
radio di sebuah jalur bernama mw, dan sebuah babak baru di mulai,
ketika lagu – lagu berirama dansa patah mulai terdengar. Bam bam bam
sebuah rasa menyentakkan hatinya irama berirama stabil dengan suara
bas yang begitu menyentak mulai terdengar. Tak puas dengan suara di
radio tersebut, dia mulai mengajak kakaknya untuk mengunjungi sebuah
toko kaset di dekat rumahnya, dan semuanya pun di mulai, sebuah toko
yang begitu banyak berisikan musik musik gila mulai di lihat di kornea
matanya. Dan dia meminta sang kakak untuk mencarikan sebuah kaset yang
berisikan lagu-lagu dansa patah, dan akhirnya cita-citanya tercapai
sebuah kaset yang berisikan berbagai band super edan bermain di arena
musik beat – beat bulat mulai di dengar, band seperti Firefox,
Nucleus, Jean Michel Jarre dengan Zoo Look, Chris Taylor dengan
reckless nya mulai membahana di udara rumahnya. Walau tak bisa
berdansa namun musiklah yang di carinya, dengan berbagai cara dia
mulai merasakan energi yang begitu hebat dari lagu – lagu yang ada di
kaset tersebut.

Perjalanan panjang pun dimulai, kali ini dengan teman temannya di
sekolahan, dia mulai menanyakan musik apa yang di dengarkan oleh
mereka di rumah, banyak temannya yang bercerita namun hampir semuanya
sama dengan yang di dengarnya, namun ada seorang temannya yang agak
berbeda dengan yang lain, dia bercerita tentang sebuah musik gila nan
indah yang bernama Metalllllllllllllllll. Sang teman kemudian berjanji
untuk membawakan sebuah kaset metal bagi sang anak. Dan janjinya
memang di tepati, sebuah kaset dengan label rockshotpun ada di
genggamannya, sebuah band yang bernama sangat aneh terbaca di bagian
bawah kaset tersebut, Iron Maiden – number of the beast. Si anak
kemudian bertanya kepada temannya kaset apaan nih, Dan sang teman
berkata dengarkan saja dululah baru tahu rasanya. Dengan hati yang
begitu penasaran sang anak kemudian pulang kerumahnya dengan membawa
kaset tersebut. Langsung di setel di tape tuanya. …….It is a human
number and the number is six hundred and sixty six………i leftIron MaidenThe Number Of The Beast album cover
alone, my mind was blank…..mulai di dengar di panca inderanya.
Hatinya begitu terusik dengan lagu yang di dengarnya, tanpa terasa
waktu berlalu dan kasetpun habis di dengarnya dengan seksama. Dan
akhirnya……kaset tersebut kembali di putar balik, terus sampai dia
merasa dapat mencerna isi lagu lagu di kaset tersebut, hal ini
dilakukan sampai tiga hari berturut turut, hingga akhirnya sebuah rasa
mulai timbul di hatinya, ahhhhhhh musik yang begitu bergelora seperti
api yang menjilati matahari.

Dan dimulailah kegilaan, hampir setiap hari dia mendengarkan berbagai
kaset yang merupakan pinjaman dari sang teman, sampai akhirnya semua
kaset sang teman habis di lalapnya dengan kegilaan yang begitu
bergelora. Tak puas dengan hal tersebut mulailah sang anak mendatangi
toko kaset itu lagi, hanya sekarang musik yang berbeda yang di
carinya, hingga mulailah sebuah babak baru di mulai di hatinya. Hampir
setiap minggu sang anak mendatangi toko tersebut untuk bertanya
rilisan baru dari musik metal yang tersedia, Tyrant, Vampyr, Castle
Blak, Helloween. Namun sang anak tak juga puas dengan hal ini. Walau
setiap minggu dia mendatangi toko tersebut namun tetap hati masih
kehausan, berbagai cara dia lakukan untuk dapat mendengar lagu, sampai
akhirnya dia menemukan sebuah harta yang tersimpan di sebuah rumah
yang merupakan rumah seorang paman dari temannya. Sang paman yang
begitu menyukai musikpun diperkenalkan oleh teman sang anak. Pertemuan
tersebut begitu membekas di hatinya, ketika sang paman mulai membuka
berbagai rak yang ada di kamarnya, dan sang anak mulai terkagum kagum
melihat berbagai macam kaset dari berbagai artis yang tersimpan rapi
di rak tersebut, dan satu namapun tak di kenalnya. Sang anak melihat
kaset Led Zeppelin, Deep Purple, Cream, Blind Faith, Pink Floyd, The
Stooges, Gentle Giant dan banyak banyak lagi. Dengan mata yang
berbinar sang anak mulai merayu sang paman untuk meminjamkan kasetnya
barang satu atau dua buah. Dan rupanya sang paman adalah orang yang
Deep PurpleMachine Head album coversungguh baik, di pinjamkan 2 buah kaset kepada sang anak, Led Zeppelin
Iv dan Deep Purple – machine head. Dengan hati yang gembira sang anak
kemudian pulang kerumahnya. Dan mulailah kaset Led di masukkan ketape
tua orang tuanya. Kemudian….kemudian… it’s been a long time gotta
rock n roll….. let me get back let me get back. Ah hati sang anak
kembali berdegup keras, sebuah rasa yang berbeda di hatinya mulai
terasa, bagaimana sebuah musik yang lain terdengar di di telinganya,
dengan kesederhanaan melodi serta suara dapat menghasilkan sebuah lagu
yang begitu hebat dan eduan. Setelah habis satu kaset kemudian di
lanjutkan dengan kaset Deep P, sampai kemudian terdengar……. i am a
highway star……Sebuah lagu super edan yang patut di beri bintang 20
buah.

Dan akhirnya sang anakpun mempunyai jadwal yang padat untuk
mendengarkan lagu baru yang di dapat dari membeli kaset di toko dan
berbagai macam kaset yang di pinjam dari sang paman. Hari harinya
begitu padat mendengarkan musik, tiada hari tanpa musik nan keren,
cadas, keras, kasar dan yang pasti gila. Sampai pada suatu hari sang
pemilik toko yang baik tersebut bertanya kepada sang anak, “bagaimana
kalau kamu kerja di toko ini setiap malam minggu?”. Sang anak tak bisa
menjawab dengan langsung. Dia membawa pulang pesan itu kerumah untuk
meminta ijin kepada orang tuanya. Dengan merengek akhirnya ijinpun di
berikan sang mama kepada anak tersebut. Dan akhirnya di mulailah
sebuah babak baru lagi dalam hidup sang anak, dimana di toko tersebut
dia dengan bebas dapat mendengarkan musik apa saja yang terdengar oleh
telingannya. Dia melengkapi hidupnya dengan berbagai musik, dangdut,
qasidah, jazz, pop, new wave, new age, classics, ….sampai wayang
golek atau apapun jenis musiknya dia dengar dengan lahapnya. Hingga
musik apapun yang dia dengarkan akan di beri penghargaan dengan baik,
walau tetap terpatri metal adalah segalanya, namun mendengar musik
lain akan memberikan sebuah nuansa yang lain. Dengan berbagai lagu
yang di dengarnya maka apapun musik yang di tawarkan maka pasti di
dengarnya, tanpa sebuah makian, ejekan, benci atau apapun. Karena yang
di rasakan musik di buat oleh manusia untuk manusia, hingga seperti
hati untuk hati.

Terima kasih akan di lanjutkan mungkin >>>>>
Hati ini sedikit lega dengan menulis tulisan ini.
Karena musik adalah hati, darah dan jiwa.
Hingga menjelekkan musik adalah juga membenci sebuah hati, setetes
darah dan sebuah jiwa.

Hailz
Kai

Matt Mullenweg

January 31, 2009
KOMPAS/PEPIH NUGRAHA / Kompas Images

Sabtu, 31 Januari 2009 | 04:22 WIB

Kompas hari ini memuat artikel sosok dibalik WordPress. Saya perlu post berita ini di sini karena atas jasanya maka blog Music for Life ini bisa terwujud dan kita bisa ketemuan di blog gemblunk ini.

Yang menarik dari Matt ini adalah:

  • Orangnya santun dan rendah hati, ndak sombong.
  • Semangat berbaginya luar biasa sehingga WordPress dikembangkan oleh banyak sukarelawan karena berbasis open source
  • Tidak mata duitan, karena kata dia hidup gak hanya masalah uang …

Dan ternyata WordPress merupakan situs paling progressive di dunia. Nah lo ..cocoklah dengan semangat ngeprog kita …. Ya nggak? (bilangnya sambil alis mata naik turun 3x).

Oh ya ..ternyata bahasa Indonesia merupakan bahasa terbesar ketiga yang digunakan di WordPress seluruh dunia setelah Inggris dan Spanyol. Wah ini pasti gara2 komentar Anda2 semua di blog prog gemblunk ini ..ha ha ha ha ….

Berita lengpanya klik aja di Kompas sini.

Dream Theater Nite @ Hard Rock Cafe

January 29, 2009

Meski wiken kemarin cukup padat dengan acara keluarga, akhirnya saya paksakan juga hadir di acara Dream Theater Nite (25 Januari 2009) dengan main performer The Miracle yg sudah tak asing lagi, piawai dalam membawakan repertoire Dream Theater. Saya berangkat dengan temen baik saya, mas Keli Rachmat, dengan putranya, Wibi (14). Kami janjian ketemu di citos dan tepat 19:25 kita take-off dr citos menuju HRC dg mobil mas Keli. Krn waktu Isya udah tiba, kita shalat dulu di masjid Antasari. Prog rockers harus shalat lah. Lha wong yang gak suka ngerock aja shalat, apalagi yang mrog-rock …hukumnya super duper wajib pol buat shalat BMW (berjamaah di masjid pada awal waktu). Apalagi Isya! Malu kalo dibilang Baginda Rasul termasuk golongan munafik krn gak Isya BMW. Ngaku muslim kok ninggalin Isya BMW. Opo tumon?! Ha ha ha ha ….

Sepanjang perjalanan Wibi pasang CD Systematic Chaos. Pemanasan. Sampai di HRC langsung disambut hangat oleh jo Icann yang ternyata memasukkan saya dalam Guest List. Waduh, tersanjung pol! Malu juga, nonton metal kok gratis. Ha ha ha ….Tapi ya gimana lagi, masak ditolak? Gak enak dong. Ya nggak 3x (sambil ngomong ini alis mata naik turun 3x juga. Kebayang gak? Kalo gak, ya gak prog blas Anda!). Kami akhirnya ber delapan karena ketemu juga dengan mas Ary Prasetyo dengan putranya, juga dua orang remaja belum punya KTP, kelas 2 SMA, namanya Lauda dan temennya Agung. Selain itu di lantai atas ketemu ama barisan i-Rockers: Rya, Peggy, Dessy, Riza, Nero, NaRa, mas DananG (gak tahu kenapa G nya huruf besar .. maunya beliau gitu..)… Juga disamperin ama Jo Icann dan Reza. Dan akhirnya ada juga Purnomo Dheglenk (mas Puy), Igun , Oyok Tasik Prog (thanks bingkisan CD Paramedis nya)…terus David Tansen, Arman Gang Wolu … seru dah pokoke!

Sebelum acara dimulai saya ketemu Yessi The Miracle dan langsung diseret ke ruang artis dimana personil The Miracle ngumpul menunggu giliran. Whoaaa…seneng banget disambut hangat sama personil The Miracle. Semuanya kumplit bahkan saya didaulat foto bareng sebelum mereka main. Wah seneng banget dah, mereka ramah2. Reza penampilannya metal abis dengan rambut panjangnya dan juga Chemmy rambut cepak tapi gondrong …he he he …

The Spirit Carries On ...

The Spirit Carries On ...

Faisal Petrucci did a great job on guitar department ...

Faisal Petrucci did a great job on guitar department ...

Sekitar 21:30 mereka mulai JRENG! Dengan narasi di awal album Scene From a Memory. Wah edan. Mereka menepati janjinya. Dua hari sebelumnya Reza memang sms saya meminta maaf gak bias membawakan rikues saya untuk “Stream of Consciousness” dan sekaligus memberi kabar bahwa album SfaM akan dibawakan secara penuh, in its entirety! Whoooooooooaaaaaaaaaaa!!! Gembiralah hati ini akan melihat alunan dari tembang “Regression” hingga “Finally Free”. Pasti mantab banget nih! Saya langsung ngacir ke barisan di depan panggung …mosok nonton metal kok duduk .. opo tumon? Di situ saya berbaur dengan mas Puy, Igun, Wibi (yang selalu nyanyi, hafal liriknya), Oyok Tasik Prog, Rya, Peggy ..wis pokoke seru dah….juga Arman Gang Wolu dan nyonya yang sibuk motret kelakuan suami yang metal abis…ha ha ha. Permainan mereka begitu kompak, baik alunan kibor Yessi yang begitu lincah memainkan nada2 rumit diimbangi dengan raungan gitar Faisal yang semakin sempurna mainnya. Vedy dengan baby face nya mencabik six-string bass guitar dengan lincahnya. Karena saya berdiri di depan Vedy, saya sering melihat bagaimana jari jemarinya menari di atas enam dawai bass guitarnya. Saya sempet berpikir, gila ya, sepertinya mainnya ngawur tapi kok pas terus ya..?? Ha ha ha ..memang Vedy top markotop dah! Reza dengan lincahnya memainkan drum set, meski single bass drum namun dia tak kalah gesit mengimbangi permainan temen2 lainnya. Bahkan permainan Reza sepanjang konser merupakan hiburan tersendiri. Reza sering menyapa ramah penonton dengan nggebug drum sambil berdiri seperti yang sering dilakukan Portnoy. Bedanya, sepanjang konser Reza tak pernah spitting (meludah – red.) seperti yang sering dilakukan Portnoy. Nggilani (disgusting – red.) si Portnoy ini. Chemmy juga melantunkan vokalnya dengan jernih penuh tenaga, lari kesana kemari meski panggung kecil.

Double bass players .. Something that Dream Theater has never done it. The Miracle did!

Double bass players .. Something that Dream Theater has never done it. The Miracle did!

Scenes From A Memory adalah album konsep yang dahsyat dan setiap segmen musiknya begitu indah mengalun dari yang sederhana, rumit dan kembali sederhana, kemudian rumit lagi. Yang paling saya tunggu adalah lagu yg merupakan track 5 dari album ini berjudul “Fatal Tragedy” terutama di bagian interlude yang dimulai pada menit ke 3:52. Puncak kenikmatan paripurna adalah pada menit ke 4:32 …dimana mengingatkan saya ke “Presto Vivace and Reprise” dari grup UK di tahun 1979. Wah bagian ini paling rumit dan dahsyat dimana kombinasi bass, gitar, kibor dan drum sahut menyahut secara staccato. Vedy, Faisal, Yessi dan Reza bermain kompak sekali dan nyaris tanpa cacat. Luar biasa! Wah uediyaaaaaaaannn …! Jiwa saya menggelinjang ..nggeblak! (sebetulnya mau nggulung koming ping kopang kaping ..tapi ndak enak, lantainya terbatas dan saya paling tuwek di jajaran penonton berdiri .. malu ah .. ha ha ha …metal kok malu?!)

Yessi Ruddes and Faisal Petrucci ..Great interlude at "Fatal Tragedy"

Yessi Ruddes and Faisal Petrucci ..Great interlude at "Fatal Tragedy"

Lagu demi lagu dalam episode Scenes ini mengalir nikmat dengan sedikit cacat saja, namun gak masalah.. Dream Theater aja kadang salah kok di live nya. Pas bagian “The Spirit Carries On” Chemmy sang vokalis mengumumkan bahwa lagu ini diperuntukkan buat Robin Hutagaol (drummer band metal Noxa yang baru saja meninggal dunia) dan juga buat vokalis The Miracle yang sebelumnya. Menyentuh sekali lagu ini dibawakan …dan semua penonton ikut menyanyi. Yang asik, di layer lebar ditampilkan foto Robin (1974 – 2009). Membuat suasana makin miris. “If I die tomorrow, I’ll be alright because I believe .. after I’ve gone ..the spirit carries on ..”. Wah menghentak kalbu, nunjek sukma, nohok ulu ati banget dah!

Yang juga asik adalah akhir dari album konsep ini dimana “Finally Free” yang merupakan kesukaan saya dibawakan secara sempurna oleh The Miracle. Irama lagu ini begitu miris sekali. Bagian yang menggunakan kibor sebagai tekstur musik disertai alunan piano klasikal membuat indahnya lagu ini. Dan .. yang paling asik adalah bagian akhirnya dimana Reza memukul drumnya dengan dinamis seolah seperti drum solo yang bener2 memikat. Wuuuuaaaaaaaaaaah .. huebiyat tenaaaaaaaaannn!!! Di sini saya hampir aja semaput lantaran imegahnya bagian akhir ini … Salute to The Miracle! You are great!!

The Miracle jan pancen top markotop kemlotop barokotop ...!!! Guendhenk!!! I was comfortably numb during the show man ... That was it!

The Miracle jan pancen top markotop kemlotop barokotop ...!!! Guendhenk!!! I was comfortably numb during the show man ... That was it!

Usai membawakan Scenes, mereka break 15 menit dan dilanjut dengan set kedua yang lebih panas lagi. Di awalnya mereka membawakan dua lagu karya mereka “Matahari” dan “Dosa” yang dibawakan jauh lebih bagus daripada versi studio atau versi saat mereka main di Prog Nite beberapa bulan yang lalu. Saya berharap “Bebas” karangan Vedy dibawakan juga, tapi gak. Ya udah gak pa pa. Setelah itu mereka tancap dengan semua repertoire Dream Theater dengan mengambil satu lagu di setiap album. Diawali dengan “Ytse jam”, nyambung ke “Pull Me Under”. Di lagu dari album “Images and Words” inilah terjadi perubahan menarik dalam line-up dimana drum diawaki oleh adik kandung Reza dan bass diganti dengan pemain lama The Miracle sebelum Vedy masuk. Pull Me Under juga kesukaan saya (lha kok semuanya suka, gimana seh?). Wah, saya totally orgasm menikmati lagu ini dibawakan. Kemudian nyambung “The silent man”. Yang mengagetkan adalah epic “A Change of Seasons” yang durasinya 20 menit lebih itu dibawakan penuh! Wong uwediyan tenan! Salut dah.

Selanjutnya adalah ballad “Hollow Years” yang dibawakan apik dengan versi Live in Budokan. Gitar solo Faisal bener2 menghanyutkan. Penonton bener2 hanyut ikut nyanyi bersama. Yang agak kurang bagus adalah “Solitary Shell” karena intronya kok rasany kurang pas, selain saya ndak begitu suka (alhirnya ada juga ya?!) lagu ini. Selanjutnya “Vacant” ,,….dan saya udah GR “Stream of Consciousness” bakalan dibawain ..siap2 ndlosor ..namun gak jadi ternyata. Yang dibawakan kemudian adalah “”I walk beside you” yang membuat penonton makin jingkrak jingkrak. “Constant motion” menyusul dan ditutup secara rancak dengan “Metropolis pt. 1”. The Miracle melakukan satu hal that is fatally great Dream Theater has never done it before in their show: double bass guitar players!

Reza Portnoy sekali waktu berdiri ngedrumnya .. bener2 keren ...

Reza Portnoy sekali waktu berdiri ngedrumnya .. bener2 keren ...

Wah edaaaaaannn …jam 1:30 baru usai! Rasanya puwas banget dan badan lemes banyak jingkrak2. Pulang sama mas Keli diantar.. Di dalam mobil Wibi kehabisan suara gak bisa ngomong lagi. Sampe rumah jam 2:15 ..tidur jam 2:32 …jam 3:45 bangun lagi mau sahur buat sahum Senin-Kemis … Jam 4:25 jalan ke mesjid dengan gontai (mestinya sambil denger lagunya Roxx ya?) dan kantuk berat. Pulang dari shalat Subuh berjamaah di masjid udah jam 5:10 .. langsung tancap gas buat moloooooooooooooooooorrrr …baru bangun jam 10:00 dengan menderita kepuasan paripurna karena The Miracle. Great show! Thanks a lot guys! Langsung pasang CD Dream Theater “Scenes From A Memory” mengingat kedahzyatan The Miracle membawakan album ini. The Miracle pancen tob markotob kemlotob barokotob! You really prog to the bone man!!!

Foto bersama anggota The Miracle. (Taken from Facebook, tanpa permisi …maaaaappp …..).

Salam,

G

Review lainnya ada di Benny The Great

Haggard dan Dream Theater

January 24, 2009

Gak sih, keduanya kagak ada hubungannya meski sub-genre mereka sama2 mengandung unsur “metal” (Haggard bisa dikatakan symphonic power metal sedangkan Dream Theater disebut progressive metal). Namun keduanya sangat jauh berbeda musiknya. Tapi yang jelas keduanya masuk dalam play-list saya hari ini.

Haggard memang sudah saya dengarkan selama 3 minggu ini dan sudah tak terhitung berapa kali saya putar album ini, mungkin sudah lebih dari 20 kali saya putar penuh. Pagi ini saya ulang lagi sambil bersepeda-ria. Whoooaaaa…memang keren nih musik Haggard album “Tales of Ithiria”. Mulai dibuka dengan narasi dengan suara rendah yang berat, benar2 membuat nuansa film perang bak nonton dolby-stereo cinema. Narasinya saja udah indah. Selain itu string section-nya yang terdiri dari cello dan biola sunggung menusuk ati komposisinya, apalagi dibalut dengan bunyi piano klasik.

Keseluruhan album terasa seperti cerita perang menyeluruh, lengkap dengan segala macam pernik perangnya. HaggardTales Of Ithiria album coverMemang album ini saya kenal pas perang Gaza sedang berkecamuk. Nuansa musiknya gelap dengan growling yang elegan dan vokal wanita yang melengking melankolis. Perpaduan keduanya begitu pas membangun nuansa Gaza. Growling seperti mengesankan “kemarahan” warga sipil Palestina yang sedang ditindas zionis tak berperikemanusiaan. Sedangkan suara penyanyi ceweknya seolah meredam kemarahan sang suami dengan alunan melodi merdu dibalut string section dan piano klasik. Sungguh, ini merupakan perpaduan sangat harmonis meski dasarnya mereka berbeda timbre suara. Inilah kehebatan Haggard karena justru growlingnya sangat unik dan .. jujur, saya sendiri selalu menunggu kapan growling akan masuk ke lagu lagi. Bener2 keren abis! Setiap menikmati album ini, saya selalu menyimak dari awal hingga tuntas. Bener2 hebat nih album. Keren dalam membangun nuansa ..yang pas sekali dengan perang Gaza. Meskipun album ini bercerita fiksi belaka.

Dream TheaterScenes From A Memory Metropolis Part II  album coverSedangkan Dream Theater saya putar karena besok ada rencana mau nonton a Tribute to Dream Theater di Hard Rock Cafe, dimainkan oleh The Miracle. Saya tahu, The Miracle ini kalo membawakan repertoire Dream Theater memang top markotop! Hari ini saya simak “Scenes from a Memory” yang merupakan album konsep. Keren .. apalagi udah lama gak puter album ini. Wah .. kalau keseluruhan album ini dimainkan The Miracle besok, pasti keren mukeren muke lu kek peceren … ha ha ha ha ….

Haggard dan Dream Theater memang keren … Puas dah hari ini muter dua album keren …

Salam,

G

RIP: Rawe Rontek’s Frontman

January 22, 2009

Dari postingan di milis:

dapat kabar dr teman, Bahtiar, frontman Rawerontek telah meninggal
dunia, pd tgl 21 Jan 2009 di Bandung.
semoga amal ibadah nya di terima Allah SWT.

St.Bahtiar Taher (1951-2009)

We Will Not Go Down (Song for Gaza)

January 17, 2009

Lagu ini saya tahu dari siaran malam di TV One. Liriknya sungguh menggugah. Lagunya juga enak, akustikan. Silakan liat di YouTube.

WE WILL NOT GO DOWN (Song for Gaza)
(Composed by Michael Heart)
Copyright 2009

A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Detil lanjut tentang lagu ini bisa di klik di sini. Silakan download juga. Free of charge.

Salam,

G

Gak nge-Prog, Prihatin Gaza …

January 11, 2009

Perselisihan Timur Tengah sudah berlangsung 60 tahun, namun baru kali ini saya benar2 ikut merasakan kepedihan luar biasa. Mungkin baru kali ini iblis yang selama ini nyumpelin kuping, mata dan hati saya untuk mematikan ikut merasakan apa yang diderita bangsa Palestina, terutama sekali warga sipil, agak lelah dengan pekerjaannya. Ini bermula dari ba’da Subuh setelah saya menikmati acara Mama Dedeh & Aa’ di Indosiar sekitar dua minggu silam.

Coba Anda bayangkan … [mudah-mudahan ini tidak benar-benar terjadi bagi Anda] … Pada suatu waktu rumah Anda roboh, Anda terjebak di dalam rumah tersebut. Anda melihat adik Anda yang berusia 12 tahun sedang mengerang kesakitan karena tertimpa balok kayu. Ayah Anda berteriak minta tolong karena kakinya tergencet puing dinding rumah yang jatuh. Sementara itu adik Anda yang 16 tahun juga merintih lirih (karena tenaganya sudah habis) dari salah satu lokasi di rumah Anda yang ANda tidak bisa melihat karena gelap. Dan … oh ya .. ibu ANda …!!! Orang yang selama sembilan bulan sepuluh hari tersiksa mengandung Anda ..kok saat ini tidak terdengar suaranya. Kemanakah beliau? Semoga beliau dalam keadaan selamat berada di luar bangunan rumah. Kemuadian Anda beranjak (meski kepala Anda menetes darah segar) hendak menolong ayah dan kedua adik Anda. Baru setengah langkah Anda maju, “BOOM”! terdengar bunyi dahsyat yang membuat semuanya tak nampak karena debu bertebaran yang merupakan bagian dari puning2 rumah Anda … Setelah itu Anda tahu2 baru sadar bahwa Anda sedang berada di tandu kelompok penyelamat.

Kejadian di atas benar2 terjadi di Gaza! Sebuah rumah berisi 110 orang, oleh pasukan Israel digempur habis dengan bom udara dan dilindas tank perang! Dilaporkan 30 orang mati seketika. Padahal, sebelumnya pasukan Israel menyebarkan selebaran yang menyatakan agar setiap penduduk berlindung di rumah, jangan keluar rumah, agar aman. Namun, ternyata dibantai juga ….

Sungguh memprihatinkan. Ini adalah tragedi kemanusian yang luar biasa.

HaggardTales Of Ithiria album cover

Belakangan ini memang saya terbilang jarang nyetel musik meski kadang kontemplasi sambil senandung “Gates of Delirium” (Yes), “The Battle of Epping Forest” (Genesis), “Civil War” (Guns & Roses). Meskipun belakangan ini saya cukup jarang ngeprog, namun kemarin saya menemukan album Haggard terbaru “Tales of Ithiria” yang ternyata sangat pas buat kontemplasi kedaan perang di Gaza ini. Musiknya memang ada unsur dark metal nya ..tapi unsur klasikal nya sangat kuat dengan biola dan cello nya yang membangun nuansa dengan baik. Meski ceritanya fiksi, namun cukuplah buat membangun nuansa gelap keadaan di Gaza. Sejak mendengar album ini, saya langsung jatuh cinta dan nyetel berulang kali sambil kontemplasi merenungi Palestina yang merana. Semoga Allah melindungi kaum yang tertindas. Amin.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 129 other followers