Archive for November, 2008

We Believe in the Light, We Believe in Love …

November 29, 2008

Sudah seminggu ini saya takjub dengan album lama keluaran 1994 dari Roine Stolt (gitaris prog rock dari Swedia) bertajuk “The Flower King”. Keseluruhan album memang hebat ini album: kuat dalam komposisi, kaya dengan solo gitar dan permainan drum yang dinamis dengan bunyi snare yang mendekati punya Bill Bruford. Nama album inilah yang kemudian menjadi nama band bentukan Roine Stolt dengan tambahan “s” di belakangnya .. menjadi THE FLOWER KINGS yang telah mengeluarkan album banyak sekali (tiap tahun 1 album). Penggemar Genesis dan Yes kudu menyimak grup ini. Uediyannn!!!

Roine StoltThe Flower King  album cover

Di dalam debut album ini ada lagu instrumental yang bertajuk The Pilgrims Inn. Wah … uediyan ini lagu bener2 jagal.Lho? Iya ..soalnya melodinya miris sekali. Perpaduan bunyi gitar dan klarinet dengan nada yang menyentuh disertai raungan gitar miris maut nunjek sanubari merupakan kekuatan tersendiri album ini. Sambil pasang album ini saya SMSan sama mas Pur yang juga nyetel album ini. Menurut mas Pur mngomentari lagu ini: “Pas di situ gitarnya ngiris banget. Kayak pisau steakyang lagi ngiris daging sirloin yang padet …”. Memang!

Ini lagu pembuka dari album debut Stolt tersebut : (liriknya sungguh menyentuh)

THE FLOWER KING

Falling out of the sky, falling into a dream.
All I need is the heart where it all can begin
It’s just a matter of time, it’s just a matter of trust
It’s just a matter of faith when we all sleep in the dust.

Don’t deny, just verify the genius of it all
It’s the cycle of all living thing, hear the children
hear the children call !

“We believe in the light, we believe in love every precious little thing
We believe you can still surrender you can serve the Flower King”

Going out into the grey, into purple and red
see, all the beautiful shapes flowing out of my head
It’s just a matter of time, it’s just a matter of trust
It’s just a matter of faith when we all sleep in the dust.

Don’t deny, just verify the genius of it all
It’s the cycle of all living, hear the children
hear the children call !

“We believe in the light, we believe in love every precious little thing
We believe you can still surrender you can serve the Flower King”

“We believe in the heart, we believe in healing in a house where angels sing
we’ll unite the divided and the fallen one will serve the Flower King”
“We believe in the heart, we believe in healing in a house where angels sing
we’ll unite the divided and fallen one will serve the Flower King

———–

Review album secara lengkap sudah pernah saya ulas di ProgArchives:
http://www.progarchives.com/Review.asp?id=71464

Blood, Sweat & Tears … Masih Ingat?

November 25, 2008
Kesulitan Likuiditas akibat Penjualan Turun

Minggu, 23 November 2008 | 08:33 WIB

Washington, Sabtu – Raksasa otomotif nomor satu dunia, General Motors, yang pada September lalu berusia 100 tahun, sedang mempertimbangkan untuk menyatakan diri bangkrut. Pilihan bangkrut ini berkenaan dengan kesulitan likuiditas yang sedang dialami GM akibat krisis keuangan yang melanda Amerika Serikat dan dunia.

Ya ..ya ya … saya yakin sebagian dari kita baca artikel tersebut di hari Minggu lalu karena merupakan headline dari Kompas Minggu. Memprihatinkan, sebuah perusahaan raksasa yang telah berusia satu abad merencanakan buat bangkrut. Tapi begitulah kenyataannya … Life is like a wheel .. kadang di atas, kadang di bawah …. Sedih sih melihat angka pengangguran yang bakalan membengkak, termasuk di negeri kita.

Bicara mengenai GM memang tidak lepas dengan nuansa tujuh-puluhan. Apa hubungannya? Ada. Sabar bentar. Bagi yang hidup di alam pitung-puluhan pasti kenal dong brass rock band sejenis Chicago Transit AUthority (kemudian menjadi Chicago), Chase, Tower of Power dan Blood, Sweat & Tears (BS&T). Saya ingat sekali kaset rekaman BASR (Semarang) yang rekamannya terkenal bagus dengan tajuk Blues Selection dan lagu pembukaannya adalah “Blue Jean Blues” dari ZZ Top. Di situ ada lagu blues legendaris nuansamatik tanpa rheumatik karya BS&T yang terkenalnya gak kalah ama Since I’ve Been Loving You nya Led Zeppelin. Judulnya I Love You More Than You’ll Ever Know yang nunjek banget bluesnya itu. Tahu gak? Kalo gak tahu, udah deh kagak usah dilanjut lagi bacanya, klik situs lain aja .. tengok FB mu ajalah! (ha ha ha …mutung!). Kebangetan kalo berani kunjungi blog ini tapi gak tahu lagu itu .. ha ha ha ha ha …!!!

Coba klik ini dah sambil baca blog.

Pokoke lagunya gini:

Theung ..thiut thiut thung thung …(bunyi gitar blues) ….dheng dheng thak (bunyi bass dan drum) .. terus bunyi vokalnya gini:

If I ever leave you …(thet thet dhet dheng dheng…biyuh! khas banget musiknya!)

Terus ntar ada bunyi brass section dari nada atas ke bawah:

Threeeetttttt…….

Thet thet thet thret teeeetttt …..

Tet tet te tet tet teeeeeeeeeeeettt ….

(Wis pokoke seru lah! Temen saya si Rustam pernah nonton Gipsy di Bugs Cafe bawain lagu ini, kita berdua bertereak histeris pas bagian brass section nuansamatik ini! ha ha ha ha.. bener gak tam????)

Yang trenyuh sekarang adalah bagian lirik ini:

I could be president of General Motors baby, heh
or just a tiny little grain of sand

Lha …kalo GMnya bangkrut …apa dong makna lirik tersebut?

Sedih gak seh?????

Saya sih sedih …..

Tapi tetep aja saya mau puter lagi lagu nuansamatik tersebut …..

Salam,

G


Viva Koes Bersaudara, long live Koes Plus…

November 22, 2008

Judul di atas bukan saya yang nulis, karena itu bener2 dari cut & paste postingan Bang Ijal pada komentar di woro-woro Koes Bersaudara di Kick Andy (postingan di bawah ini). Mengapa saya kok ndak kreatif bikin

Djon, Nomo, Yok & Yon di Kick Andy

Djon, Nomo, Yok & Yon di Kick Andy

judul? Ada dua alasan: 1.) Bang Ijal ini orangnya analitikal alias kritis dan sekaligus dia ini penggila Koes Bersaudara & Koes Plus abis! Makanya ndak salah dong kalau dia yang memebri judul artikel ini. Ada yang protes? Kalau protes, ntar tak kenalin orangnya langsung dah …dijamin jatuh cinta pada kutbah2 prog nya .. ha ha ha ha … 2.) Ngapain kerja dua kali wong sudah ada yang memberi judul. Boso Jowone rak ngene to cah: “WHy reinventing the wheel if it’s already spinning …???!” wis embuh artine opo, takoko Embahe Sangkil kono .. aku ora ngerti blas!

Lha saya ini termasuk orang paling males nontok TV. Bener2 gak pernah nonton kecuali abis subuhan di mesjid sebelah, kalo ndak ngantuk saya ya nontok Aa’ dan Mama Dede ..ba’da Subuh guna memperdalam ilmu agama. Selebihnya, saya gak nonton. Bahkan Empat Mata yang konon dahsyat, saya nontonnya ya saat tertentu, antara lain kalo ada Koes Plus, begitu. Nah .. Kick Andy juga selalu saya lewatkan …gak tahu kenapa…rasanya mending pasang kaset Marillion “Script for A Jester’s Tear” tinimbang nonton Kick Andy meski konon hebat. Tapi ya kalah to sama Marillion, meski cumak kaset doang. Namun hari Jumat itu lain. Saya sengaja pulang dari Bandung agak sore biar bisa sampe rumah jam 21:30 karena mau nonton grup kesayangan saya Koes Bersaudara dan Koes Plus.

Yon masih energik menyanyi ...

Yon masih energik menyanyi ...

Ternyata ..memang dahzyat sekali acara Kick ANdy hari Jumat malam (tadi malem) ini. bener2 nuansamatik kemlitik menukik hati sanubari. Saya melihat mereka rasanya sudah seperti bagian dari hidup saya meski saya yakin tidak ada satupun anggota Koes Bersaudara / Plus yang kenal saya. Tapi gak masalah …saya sudah menganggap mereka seperti saya sendiri jadi ya anggap saja mereka tentunya kenal saya. Saya sungguh mbrebes mili selama acara ini berlangsung. Beberapa hal yang saya ingat dan nuansamatik nostalgik adalah:

  1. Djon Koeswoyo yang bijak dan bertindak sebagai KATALISATOR buat adik2nya dengan membuat grup band supaya adik2nya dikenal masyarakat luas. Bijak sekali bapak berusia 76 tahun yang merupakan saudara paling tua dari Koes Bersaudara dan hanya sekali main saja di album pertama, setelahnya dia mundur. Saya suka waktu beliau bilang: “Saya hanya mengantarkan adik2 saya agar dikenal masyarakat melalui musik ..”. Wah hebat top markotop sentolop kemlotop tenaaannn!!!
  2. Prinsip Koes Bersaudara adalah “menghibur masyarakat” sebagai prinsip utama. Bayaran main gak menjadi yang utama. Duh ..bijak sekali. Saya jadi inget lagu Padi yang yang menjadi favorit saya dan merupakan lagu terbaik grup Padi “Sang Penghibur”. Apa hubungannya? Ya karena liriknya bertutur profesi penghibur.
  3. Meski sudah tua, Yon dan Yok masih dahzyat duetnya. Nomo juga keren tuh suaranya.
  4. Terharu saya dengan kisah dibalik lagu NUSANTARA yang menggambarkan ekspresi kegirangan bisa hidup di alam bebas Orde Baru …(meski hanya Orde Baru). “Kuharap kau tidak akan cemburu, melihat tingkahku …” wah .. doahzyat tenan!
  5. Lagu KEMBALI yang merupakan favorit saya juga dibahas dengan indahnya.
  6. Nomo Koeswoyo berkomentar tentang kepemimpinan di negeri ini dengan sikap positif.
  7. Yang juga seneng adalah kenyataan bahwa Koes bersaudara sebetulnya tidak pecah, namun Yok udah kecapaian kalau main / naik panggung lagi.
  8. Saya terharu saat Why Do You Love Me dinyanyikan karena saya lihat mata Yok berkaca-kaca sambil berduet dengan Yon.
  9. Acara ini jauh lebih bagus daripada yang pernah dibahas oleh Tukul di Empat Mata. Kelemahan mendasar Empat Mata adalah Tukul-centic dan gayanya njelehi banget, sehingga aspek Koes Plus nya ndak digarap dengan baik. Gak salah acara ini dibubarkan. he he he …
  10. Dengan 93 album dan 900 lagu, kelompok ini tak tertandingi di Indonesia dan bahkan mungkin di dunia.
  11. Saya juga prihatin terhadap sakit yang diderita Murry – one of Indonesian best drummers!

Koes Plus memamng sudah tidak bisa dipisahkan dari kehidupan saya. Rasanya saya masih menjadi remaja saja menikmati Koes Plus.

Salam,

G

Koes Plus di Kick Andy 21Nov08

November 17, 2008

Salam kenal mas G dan rekan2 lainnya.

Mohon maaf sebelumnya, sekalian mau numpang promosi dan semoga nyambung dengan harapan rekan2 untuk bisa melihat Koes Bersaudara/ Plus di Kick Andy. Semoga harapan Anda2 semua akan kesampaian, untuk melihat Koes Bersaudara tampil bersama lagi satu panggung dan menyanyi bareng di edisi spesial Kick Andy (2 jam!) nanti pada Jumat 21 November 2008 pk 21.30 – 23.30 WIB.

Terima kasih banyak,

Salam

Eko

Majalah Aktuil dan Musik Rock Dalam Kehidupan Saya

November 8, 2008

Sep 15th, 2008 | By manh5 | Category: Testimoni

Sebuah Curhat Nuansamatik
oleh: Gatot Widayanto

 

Sebuah Curhat Nuansamatik

 

JRENG! Majalah Aktuil telah menjadi bagian “penting” dalam kehidupan saya terutama pada saat majalah ini heboh sekali di seputar awal 70an hingga pertengahan 70an. Saya tidak tahu tepatnya tahun kapan mulai mengenal majalah ini. Yang jelas, waktu itu saya tinggal di Madiun, Jatim, bersama ibu dan kakak saya yang nomer dua, Henky. Saya anak bungsu dan saat mengenal Aktuil masih duduk di bangku SMP karena mas Henky inilah yang rajin sekali membeli majalah ini. Aktuil bisa dikatakan sebagai trendsetter kehidupan anak muda saat itu. Masih ingat sekali saya setiap hari menghabiskan setiap halaman berita musik sambil menunggu edisi selanjutnya terbit. Ada empat hal yang selalu saya tunggu pada edisi berikutnya dari majalah Aktuil: Pertama, poster apa yang akan disertakan dalam edisi tersebut; kedua, berita utama (cover story) nya apa; ketiga, ada bonus sablonan buat kaos apa tidak, dan keempat ada stiker atau tidak. Tentu, selain keempat hal tersebut saya juga mengharapkan ulasan-ulasan menarik dan informatif mengenai perkembangan musik rock saat itu.

Meskipun saya di Madiun, saya selalu “updated” dengan perkembangan musik rock karena adanya majalah Aktuil ini. Ingat, pada saat itu belum ada istilah www dotcom sama sekali, bahkan membayangkan adanya komputer saja tidak pernah terlintas sama sekali. Bisa dibayangkan begitu sulitnya mendapatkan informasi aktuil mengenai perkembangan musik rock. Memang sejak usia SD saya sudah sangat terobsesi dengan musik rock terutama setelah mendengarkan album ”Demons and Wizards” nya Uriah Heep yang merupakan kaset rekaman Starlite C-60 yang dibeli mas Henky. Setelah itu saya mengenal ”Fools” nya Deep Purple dan ”I Can Feel Him In The Morning” nya Grand Funk Railroad saat saya berlibur ke indekosan kakak saya yang sulung, mas Budi, di Tebet Jakarta. Wuah, sejak itu saya mengokohkan minat saya terhadap musik rock. Luar biasa sekali musik ini karena bisa menciptakan mood semangat yang tinggi dan memacu adrenalin untuk selalu semangat. Yeah! Apalagi setelah saya tahu Yes album ”Fragile” rekaman dari PH, dari mas Henky yang saat itu sudah jadi penyiar di Yogya.

Pada saat mas Henky kuliah di UGM, Yogya, saya terpaksa harus merengek ke ibu untuk membelikan majalah Aktuil. Masih ingat saya pada saat beberapa hari sebelum terbit saya mengunjungi kios majalah ”Toko Kaji” yang terletak di Jl. Sumatra pojokan Jl. Pahlawan, Madiun, untuk mengecek apakah edisi terbaru sudah keluar atau belum. Terus setelah keluar pun, saya hanya mampu melirik-lirik sampulnya saja karena sering kali saya tidak tega meminta uang ke ibu untuk beli majalah ini. Ibu saya saat itu sudah menjanda karena ayah meninggal dunia saat saya sekolah TK, dan berprofesi sebagai penjahit. Saya harus menunggu kapan ibu sudah menerima bayaran jahitan dari pelanggan-pelanggannya. Sering kali saya dibelikan oleh ibu, tapi kadang kala saya terlewat edisi tertentu karena pada saat saya ”mampu” beli (pakai uang ibu saya) edisi tersebut sudah ludes di Toko Kaji. Saya gigit jari. Catatan: Sambil menulis ini (20 Mei 2007), saya menitikkan air mata (mbrebes mili) sungguhan, mengingat begitu sulitnya saat itu dan juga sekaligus perasaan betapa indah dan damainya masa kecil / remaja saya dulu. Inilah hebatnya Aktuil! Bisa menghidupkan masa lalu begitu eloknya meskipun saat ini saya sedang memasang musik cadas dari album Dream Theater paling anyar ”Systematic Chaos” di laptop saya.

Suatu edisi tertentu, Aktuil telah membuat inovasi luar biasa (menurut kacamata saya saat itu) yaitu dengan menerbitkan ”bonus” berupa sablonan kaos dengan cara menyetrika sablonan ke kaos. Luar biasa! Karena saya punya kaos (T Shirt) warna merah polos, saat itu sablonannya warna hitam dengan tulisan sablonan yang saya tak akan pernah lupakan : I’m Young and I’m Proud! Waduh … kereeeeennn abiss!!!! Langsung saya setrika dengan hati-hati dan penuh perasaan. Hasilnya? Jreng! Luar biasa ….!!! Saya punya sablonan dari majalah paling top di Indonesia saat itu di kaos saya. Yes! Sorenya langsung saya pake ”nyengklak” (naik) sepeda jengki Forever warna hijau keliling Madiun. Saya mengayuh sepeda dari Jl. Sumatra (tempat tinggal kami), menyusur Jl. Pahlawan, Tugu, Pasar Gede, Jl. Dr. Sutomo dan kembali ke Jl. Sumatra. Rasanya, hari itu saya jadi ”Superstar” karena menjadi orang Madiun pertama yang menggunakan sablonan paling keren sejagad itu!

Aktuil memang sering menambah bonus sablonan setrika tersebut dengan tulisan yang berragam. Saya tidak ingat semua, karena sudah sekitar 35 tahun yang lalu. Kalau tidak salah, pernah juga yang simbol telunjuk tangan tampak muka ala Grand Funk Railroad yang kesohor itu. Namun yang paling berkesan bagi saya ya ”I’m Young and I’m Proud”. Mengapa? Karena saya waktu itu ingin banget jadi ”muda” karena sebetulnya saya masih kecil (paling kelas 2 SMP) dan belum masuk kategori ”muda” yang notabene anak SMA begitu.

Syahdan, pas mas Henky liburan kuliah di Fakultas Ekonomi UGM, dia pulang ke Madiun. Pas saya lagi duduk-duduk mendengakan ”No One To Depend On” nya Santana, dia tahu2 menghampiri saya sambil bilang: ”Kamu dengarkan kaset ini sambil baca artikel ini!”. Wah, gaya ngomongnya itu lho yang gak tahan, instruksional banget. Memang sih, waktu saya kecil, saya ini takut sekali sama mas Henky karena jarak umur kami cukup jauh: 7 tahun. Yang dia sodorkan adalah: Kaset Genesis rekaman Pop Discotic dengan side B nya adalah Kayak, dan majalah Aktuil yang saat itu mengulas Genesis. Pertama, saya heran, kok ada kaset rekaman Pop Discotic, apakah ini lagu disco? Padahal saya tahu mas Henky ini ngerock banget dan juga penyiar di Radio Geronimo Yogya. Dugaan saya salah, ternyata itu hanya merek usaha rekaman bajakan yang biasa terjadi saat itu dengan nama berragam: Peony, Sinar Djaja, Scorpio, Aquarius, Perina, King’s, Yess, Lolita, Hins Collection, Contessa, Rover, Nirwana, Starlite, Apple, Monalisa. Dan ternyata, Genesis itu rock.

Masih ingat saya putar kaset itu dan daftar lagunya adalah ”The Musical Box”. Luar biasa musiknya, dimulai dengan bebunyian piano dengan nuansa 70an yang kental sekali : ”teng teng teng teng …. Play me Old King Cole / That I may join with you, / All your hearts now seem so far from me / It hardly seems to matter now……….” wuih dahsyat sekali! Seperti biasa, jaman dulu kaset tidak ada judul albumnya dan belakangan saya tahu dari Aktuil bahwa ini adalah album Genesis ”Nursery Cryme”. Kontan, saya menyukai lagu berjudul ”The Return of Giant Hogweed” dari Genesis. Karena side B nya adalah Kayak, saya langsung cinta dengan lagu “Woe and Allas”. Indahnya masa remaja dulu … Musik-musik seperti ini melekat dengan kuat di ingatan saya, hingga kini saat format sudah menjadi cakram padat (CD), saya tetap mengoleksinya.

Di artikel Genesis tersebut, Aktuil mengulas habis era Peter Gabriel terutama saat album awal hingga Nursery Cryme. Di situ juga ada foto Peter Gabriel dengan dandanannya yang terkenal teatrikal seperti bisa dilihat di sampul album Genesis ”Live”. Jubah hitam, topi segitiga / piramid dengan tekstur warna biru tua dan pink menyala di bagian tengah. Wah, ini foto sangat mengesankan. Saya menyebutnya dengan istilah “nuansamatik” (sesuatu yang bisa menciptakan suasana klasik saat musik rock pada awalnya bergulir dan sangat digemari banyak orang di tahun 70an itu). Istilah ini memang saya buat untuk menggambarkan situasi saja, dan sudah sering saya gunakan di milis m-claro, i-Rock!, maupun prog-rock.

Tidak hanya Genesis saja saya mengenal grup kaliber dunia dari Aktuil. Ada puluhan (mungkin ratusan) band yang saya tahu dari majalah ini, baik grup internasional maupun nasional. Salah satu yang sangat ”membekas” hingga kini adalah ulasan Aktuil tentang band baru bernama Angel. Waduh, Aktuil mengulas band ini begitu lengkap dan sangat detil disertai wawancara dengan personel band ini di London. Luar biasa! Adalah almarhum Deni Sabri yang bertanggung-jawab meracuni saya dengan kelompok baru bernama Angel ini. Pokoknya kalau Anda melihat sampul muka Aktuil ada gambar foto personil grup ini pasti akan tertarik karena bagus sekali fotonya: rambut gondrong, poni, muka manis dan kostumnya putih semua. Uediyan! Itulah umpatan saya waktu itu tentang ulasan menarik Aktuil ini. Setelah baca ulasan Angel di Aktuil, saya tersiksa. Lho? Iya, karena saya kesulitan sekali mendapatkan kasetnya di Madiun. Wah .. tambah penasaran saja. Setelah cukup lama cari, akhirnya saya dapat juga kaset ini dijual di toko Duta Irama Madiun, harganya Rp. 500,- Begitu saya setel, lagu pertamanya adalah ”Long Time” … biyuh .. langsung nggeblak saya menikmati lagu yang komposisinya begitu indah ini. Luar biyasa! Bahkan di bagian interlude musiknya ada bebunyian flute segala. Belum lagi lagu ”Tower” yang gahar dan ”Mariner” yang melankolis sekali. Hebatnya Aktuil juga mengeluarkan stiker logo Angel yang langsung saya tempelkan di gitar akustik saya. Saya langsung cari chords nya Mariner dan sering saya mainkan dengan gitar akustik. Keren! Tidak salah memang, Aktuil selalu memberikan reportase yang benar-benar ”aktuil” dan ”pas” dengan kenyataan. Buktinya, Angel ini saya baca ulasannya jauh sebelum saya dengar musiknya, dan begitu dapat kasetnya langsung ”bleng” masuk telinga dan hati dengan indahnya. Di jaman digital ini, saya juga sudah membeli format CD nya dan album ini menjadi album kesayangan saya, karena sangat nuansamatik bagi saya.

Tidak hanya grup asing yang saya kenal dari Aktuil. Banyak grup Indonesia yang saya kenal dari Aktuil. Saat itu marak sekali berita musik (rock maupun pop) dibahas di Aktuil dengan grup2 Indonesia saat itu: AKA, Giant Step, Harry Roesli and The Gank, Rawe Rontek, Micky Bentoel, Hookerman, Yeah Yeah Boys, The Mercy’s, Gembel’s, Rollies, Trenchem, Sylvia Saartje, Super Kid, Freedom of Rhapsodia, Rasela (Rajawali Selatan), Pretty Sisters, God Bless, D’Loyd, The Favourites, De Hands, Koes Plus, NoKoes, dan masih banyak lagi grup maupun penyanyi nasional lainnya. Rasanya semua yang diulas di Aktuil, saya hafal.

Kamar tidur saya saya saat itu sangat besar (6 M x 6M) dan tinggi plafonnya 5 M karena rumah kami di Jl. Sumatra no. 26, adalah peninggalan jaman Belanda. Hebatnya, kamar tersebut semua dindingnya penuh dengan poster dari Aktuil. Ada Raquel Welch (tidak ada hubungannya dengan rock sih, tapi nuansamatik), Rod Stewart, Ekseption, Kayak, Uriah Heep (era David Byron), Deep Purple, Black Sabbath, Suzy Quatro (dengan kostum kulitnya), Led Zeppelin. Tidak ada sejengkalpun dari dinding kamar saya yang tidak dipenuhi poster.

Aktuil juga pernah mengeluarkan kompilasi lagu-lagu rock yang namanya ”Rock Vibrations” ,maupun lagu pop ”Easy Listening”. Sekali lagi, saya takjub dengan Aktuil karena melalui kaset kompilasi ini saya semakin merasa kecil karena ternyata banyak sekali grup yang namanya sangat ”asing” bagi saya. Contoh ekstrimnya adalah ada grup namanya Popol Ace yang di kaset kompilasi itu ada salah satu lagunya berjudul ”Music Box”. Wow! This song has become one of great songs I have ever heard in my life! Arensemen lagu ini luar biasa! Dimulai dengan petikan gitar akustik yang manis sekali diikuti untaian lirik yang indah melalui vocal : “I’m sitting in a music box , making songs I wanna know what for? Is there really more to tell , or haven’t you really had before? Oh … uuuhhhh … who can tell? Oh .. in the end it won’t make us different.”. waduh! Rasanya saya mau menangis kalau mendengarkan lagu ini! Ingat masa remaja yang indah dan ingat Aktuil!

Selain Popol Ace, saya juga jadi kenal musiknya Nektar yang di situ ada lagunya ”Fidgety Queen”.

Majalah Aktuil juga pernah menciptakan sejarah luar biasa dengan mendatangkan Deep Purple untuk main di Jakarta. Pada saat itu di Aktuil sedang santer dibicarakan betapa bedanya permainan Tommy Bolin, gitaris baru, terhadap Ritchie Blackmore, gitaris lama. Banyak orang yang tidak begitu menyambut dengan anthusias kehadiran Tommy Bolin di Deep Purple. Namun, begitu majalah ini mengumumkan akan mendatangkan Deep Purple, tetap saja anthusiasme pembaca masih meluap tinggi sekali. Saya masih ingat betapa saya ”menderita” karena konsernya nun jauh di Jakarta dengan tiket yang luar biasa mahalnya bagi ”wong ndeso” (orang kampung) seperti saya, yaitu Rp. 7.500,-. Saya cukup puas mendengarkan kaset album terbarunya saja ”Come Taste The Band” yang memang sangat saya suka sekali.

Herannya, prestasi sekolah saya malah meningkat baik walaupun saya ”menggilai” musik rock dan berita-berita musik rock di Aktuil. (Selain Aktuil, kadang-kadang saya juga baca majalah musik TOP dan Muzik Ekspres dari Belanda). Mungkin karena saya selalu belajar sambil memasang kaset rock atau mendengarkan radio Australia atau radio gelap ”GM” (singkatan: Gombal Mukio) di Madiun yang konsisten mengudarakan lagu2 rock. Saya ingat sekali Aktuil membahas grup Toto dan kemudian sore harinya saya pasang radio merek Ralin ke gelombang SW Radio Australia siaran Indonesia, ada lagu ”Hold The Line”. Wow! What a great time! Masih ingat saya, waktu kelas 2 SMP, ibu guru Bahasa Inggris saya, Ibu Hera yang cantik, pernah memuji saya di depan kelas tentang prestasi gemilang saya mendapatkan angka 9 (tertinggi) dalam mata pelajaran Bahasa Inggris. Tentu saja, lha wong saya rocker, tiap hari dijejali lirik-lirik bahasa Inggris seperti ”He was the wizard of a thousand kings .. And I chance to meet him …dst.” yang merupakan lirik “The Wizards” nya Uriah Heep yang merasuk sekali di otak saya. Karena seringnya diputar kaset ini, ibu saya (sekarang 81 tahun) juga menyukai Uriah Heep. Beberapa saat lalu (tahun 2007) saya putar CD album ini, ibu saya masih ingat bahwa ini lagunya Uriah Heep. Luar biasa beliau ini.

Pelajaran matematika saya juga melesat tinggi dan pernah menduduki juara kelas dan saya masuk dalam kelas “unggulan” di SMP Negeri I Madiun dimana saat itu Kepala Sekolahnya Bapak Maryono. Saya masih ingat, kelas unggulan itu adalah kelas IID, isinya bocah-bocah berprestasi. Pokoknya hidup saya penuh semangat sekali, meskipun uang sangat sulit saat itu. Untung saya punya temen sesama rocker di SMP I Madiun, namanya Didik Rudiono, yang bercita-cita ingin menjadi Doktor. Benar, dia telah mencapai gelar Doktor dalam bidang peternakan dan saat ini mengajar di Universitas Lampung. Didik juga masuk kelas IID dan rocker. Kesimpulannya, rocker pasti cerdas. Ah…. saya tidak mau takabur. Saya dan Didik sering tukar-menukar kaset karena tidak mampu beli semua kaset.

Belakangan ini saya berpikir, apa hubungannya antara matematika dan musik rock? Akhirnya saya ketemu juga. Kalau matematika itu kan berarti kepastian, presisi, bukan ”perkiraan”. Sedangkan musik rock itu cirinya adalah juga presisi. Maksud saya, kalau ada band lokal yang membawakan lagu Led Zeppelin ”Kashmir” namun tidak persis, pasti akan dicela. Artinya, musik rock perlu presisi tinggi. Mungkin itu penyebabnya nilai prestasi saya di pelajaran matematika tinggi. Ini kemudian menurun ke anak saya, Dian Widayanti, yang saat ini kelas 3 SMP dan nilai matematika dan bahasa Inggrisnya selalu juara. Sayangnya, Dian ”belum” suka musik rock. Tidak masalah, suatu saat pasti suka.

Salah satu puncak prestasi saya adalah ketika saya bisa tembus masuk ITB pada tahun 1979. Dan, jangan salah, peran musik rock sangat besar dalam mengantarkan saya menjadi mahasiswa ITB. Kelas 3 SMA saya habiskan dengan belajar banting tulang sampai jam 4 dinihari (istilah Jawanya: ”begadang nganti dur”), tiap hari, sambil memasang musik Triumvirat (Spartacus, Old Loves Die hard), SNAFU, Led Zeppelin, Yes, ELP, Pink Floyd, Genesis, dan semua grup yang dibahas di Aktuil. Hari pertama saya menginjak kota Bandung untuk pendaftaran masuk ITB, sorenya saya nyetel kaset Rush ”Farewell To Kings” rekaman Yess Bandung. What a great time man! Setelah resmi sebagai mahasiswa ITB, sebelum perkuliahan dimulai, saya kembali ke Madiun menjalankan kaul sakral saya (bila diterima di ITB) untuk ngamen. Didik Rudiono, sahabat ngerock saya, ikut ngamen sama saya. Kita tetapkan daerah ngamennya adalah Ponorogo (28 KM selatan Madiun). Ya, hari itu kita gelar ”Road Concert 79” dengan saya main gitar, vokal, dan harmonika; Didik main bass dan temen saya Wowok sebagai kru. Lumayan, dapat uang Rp. 2,500,- yang kemudian Rp. 500,- kita pakae buat makan sate Ponorogo sampai kenyang. Karena kami rockers, setlistnya pun banyak lagu rock, termasuk The Beatles ”While My Guitar Gently Weeps”.

Saya tidak tahu persis kapan Aktuil akhirnya bubar. Namun, ”roh” Aktuil masih hidup di saya hingga saat ini. Pada saat saya mulai karir saya sebagai reviewer di situs progressive terbesar dan kondang www.progarchives.com di tahun 2004, saya tulis majalah Aktuil sebagai ”influence” saya dalam menggemari dan menikmati musik rock dan progressive rock. Kalau tidak ada Aktuil, bagaimana saya bisa menikmati nada-nada keriting dari Yes, Genesis, ELP, Gentle Giant? Atau musik spacey seperti Hawkwind? Itulah hebatnya Aktuil! The magazine can be gone but the spirit carries on til today! Saat saya menulis ini, saya sudah mengulas 1,002 album progressive rock di situs internasional tersebut dan mendududuki peringkat no 2. Dari sekian banyak ulasan saya, saya juga menyebut majalah Aktuil. Salah satu pengulas tersebut adalah mas Purwanto Setiadi dari Koran Tempo. Beliau juga mengatakan di situs tersebut bahwa Aktuil lah yang memperkenalkan beliau ke musik rock. Sampai sekarang saya masih berkomunikasi intens dengan mas Purwanto melalui milis i-Rock! maupun lewat SMS.

Saking intens nya saya dipengaruhi oleh majalah ”gila” ini, sampai sekarang saya masih kadang2 menggunakan istilah jadul seperti ”blantika musik rock”. Jika anak sekarang, generasi metal, sering menyebut peta musik yang mereka sukai dengan ”metal scene”, kalo dalam ranah musik rock, saya masih suka dengan istilah ”blantika” yang memang pastinya diprakarsai oleh Aktuil. Bahkan, saya baca referensi di internet belakanagan ini, ternyata istilah ”dangdut” itu juga berasal dari majalah Aktuil. Apa iya? Kalo iya, memang benar majalah ini sangat berpengaruh. Saya masih ingat dulu ada istilah ”duel antara rock dan dangdut” antara Benny Subardja (Giant Step) dan Soneta (Rhoma Irama). Kalau ingat berita ini, saya geli sendiri. Lha opo tumon? Mosok beda aliran mau duel, bagaimana ceritanya? Ada-ada saja. Saya yakin mas Beny maupun bang Rhoma kalau ingat masa lalu tentang hal ini pasti ketawa terpingkel-pingkel. Tapi ya itulah fenomena jadul.

Satu fenomena lagi yang terjadi saat itu selain musik adalah film. Memang saya sebetulnya tidak menyukai film tapi ya kadang-kadang saya ikut-ikutan nonton juga di bioskop Lawu atau Arjuna Madiun, bahkan Madiun Theater setelah saya SMA. Masih ingat saya film-film yang cukup mengesankan saya: ”Ratapan Anak Tiri” (aktor: Faradilla Sandy), ”Heintje”, ”Eyewitness” (aktor: Mark Lester), ”The Day of The Jackal”, ”Cassandra Crossing”, ”G Man Go”, ”Si Buta Dari Goa Hantu”, dan juga film di TV seperti ”Mission Impossible” maupun ”The Saint”.

Pada saat saya dan teman-teman membentuk komunitas i-Rock! tahun lalu, saya dan Mamak (penggila Deep Purple) yang mempertahankan supaya orientasi musik 70an tetap diberi porsi yang cukup selain glam rock (80an) dan metal. Benar saja, i-Rock! telah menggelar beberapa event dengan aliran classic rock seperti ”Ruby Thursday” dengan tribute Rolling Stones dan Led Zeppelin, Jam Session yang menampilkan metal dan classic rock, maupun progressive rock dengan Sarasehan Musik membahas Genesis beberapa bulan yang lalu. Semangat dari Aktuil tetap mengalir, melestarikan musik jadul 70an.

Beberapa saat yang lalu saya dihubungi oleh Pak Andy Julias, salah satu guru saya dalam musik progressive, yang mengatakan bahwa penyelenggaraan Progressive Nite yang baru saja digelar berlangsung sangat 70an karena ada pemutaran film dokumenter Aktuil. Terus saya juga dengar dari SMS Blast dari mas Tatan A Taufik (American Express), dan mas Rizal B Prasetio (JP Morgan) bahwa Aktuil akan membuat buku memoar. Terus, saya teringat kenalan yang baru saya kenal sekitar 3 tahun lalu dan beliau bilang dulu sempat aktif di Aktuil. Beliau adalah Bapak Billy Muditojaya yang langsung saya kontak karena saya senang sekali bahwa majalah ini akan dibukukan. Beliau menyambut antusiasme saya dengan semangat dan menyarankan saya menulis tentang kesan terhadap majalah ini dan menghubungi pak Odang. Terima kasih untuk Pak Odang yang mendorong saya untuk menulis artikel ini. Tentu saya senang sekali diberi kesempatan karena majalah ini ”sangat” mempengaruhi semangat saya dalam menempuh kehidupan, terutama tentang musik rock yang sangat bersemangat. Maka, jadilah uraian ini, yang lebih bisa dikatakan sebagai ”curhat nuansamatik” dan saya lakukan dengan sangat gembira ria. Mungkinkah majalah ini terbit lagi? Kenapa tidak? Majalah Classic Rock saja sekarang masih laku dan juga membahas kelompok jadul. Semoga bisa hidup kembali. Karena .. Aktuil itu TOP MARKOTOP! Sekian. Keep on rockin’ …! Keep on proggin’ ..! JRENG!

Jakarta, 20 Mei 2007

Dengan Semangat Kebangkitan Nasional

Gatot Widayanto – Salah satu (dari jutaan) ”korban” Aktuil

Cerita lengkapnya ada di sini.

Discus Live at Salihara: Awesome!

November 6, 2008

I remember vividly that on September 25, 2003 – five years ago – I flew from, Jakarta to Singapore for one single purpose: see the band that I had been a fan for nearly 30 years to play live “YesSecond Leg Tour“. And that was the first time I was in Yes concert and it was a great experience that I would never forget the rest of my life. Last night, I did not need to fly to Singapore to gain the same experience because it required me to do just an inbound transport to reach the new Salihara Concert Hall at Pejaten, South Jakarta, Indonesia to see the best Indonesian true progressive band, Discus, plays live. I planned to see the concert weeks ago from Fadhil (keyboard) and Krisna (keyboard) Face Books. Unfortunately at the day of the concert, I was swamped the whole day until late afternoon in my Client’s office discussing strategic issues of my current consulting engagement. The meeting was so important and time consuming as so many thoughts provoking discussions going on. As the time approaching to 8 PM I was so afraid that I would miss the show. But I kept telling myself that “I choose to go, no matter what!”. Well, life is about priority and in my view proggin’ is more important than consulting. Don’t you agree with me? So, I decided to go for the show and postponed the consulting work for tomorrow because I do really want to see Discus! Proggin’ matters to me, really!

I reached the venue – oh man …it’s a great venue, indeed! – at 8:20 PM when Discus already played their music. Jreng! The first impression: awesome! The stage was actually at the same level with the main entrance floor. There was no raised floor that determines the stage boundary. It’s good, I believe, because the performers (bands, dancers, poets, etc.) can set their own stage boundary-less. Well, of course, there was front row seat that limit the stage, but it’s quite huge for a any band or dance company to perform. I saw Anto Praboe (clarinet, sax, flute, trompet penca, growl, etc) at the right-most corner of the stage and Iwan Hasan (guitar, harp, vocal) at his left side. Krisna Prameswara (keyboards) stood behind Iwan and Hayunaji (drums) is at the back center of the stage. At the same position as Iwan but at the left wing was Eko Partitur (violin) and behind him was Fadhil Indra (keyboards, electronic percussion). Kiki Caloh with his bass guitar (was it Rickenbaker?) stood mobile at front stage, sometime in the middle of left wing, closed to Eko Partitur. The female vocal, Yuyun, moved around the stage and she sometimes performed dancing while the music played.

I was impressed with the sound quality and acoustic standard of the hall which to my ears sounded excellent. I stood at the entrance pathway, at the right side of the stage and took pictures from this position. Theoretically, it’s not a strategic position to enjoy the show .. but the sound was excellent. Well, sometimes Iwan Hasan’s sound quality produced more uncontrolled distortion in some musical segments but overall it’s OK for my ears.

As I rolled into the venue, I was not quite sure what the band was playing because recently I have rarely played Discus CDs due to many new prog albums I have been listening to recently so I got lost on track titles even though I knew from which album the music was. But they did not play only those on the albums because some new tracks (previously unreleased) were also played by Discus. For sure, when I entered the concert hall, they played “Breathe” because I am familiar with Anto’s growling vocal. Even though I was just at the end of the track, I found their performance was awesome. They produced balanced sound on nearly every single instrument even though not quite heavy on keyboards department. It’s truly a progressive music live performance as it produced complexity, even though at the expense of catchy melody. The brilliant approach taken by the band is their composition that features excellent interlude from sax, flute, clarinet or sometimes interjected by dazzling violin work, rude guitar distortion and dynamic drumming. So, it’s simply to say that I don’t mind not getting catchy melody – remember, my background is basically more towards symphonic prog with great melody – as long as I can get great combination of solos of multiple instruments. And, Discus has done brilliant job in this matter. I can think of their music is much more sophisticated than the most complex composition Frank Zappa has ever made. I am not exaggerating it being the fact that I am truly a proud Indonesian. (Do you know a prog band called Frogg Café? Discus music, without ethnic insertion, is probably similar to Frogg Café’s).

Multiple Musical Orgasms

After some chit chats by Iwan Hasan – because the concert was conducted in relaxed way – they then played the bonus track of their second album, “…Tot Licht!” called the “Misfortune Lunatic” with heavy tinge on jazz-fusion type of thing. I enjoyed the track, really. Next was my favorite ethnic-based composition from their debut “Lamentation and Fantasia Gamelantronique”. Looking at the title, it’s a self-indulgent bombastic name, I believe you might say. But hey …turn your ears and open your mind, play this tune! I am pretty damn sure you will be amazed with how geniuses the boys in the band have ever composed the music that I believe any western band can make. It’s a fabulous composition and it’s awesome being performed live! Oh man … I found myself having peak musical orgasm when this song was played. I like the great combination of traditional music characterized by the melody delivered by flute with avant-garde style and …jaw dropping drum work by Hayunaji. Oh my God …! He’s a fabulous drummer at par excellent with Bill Bruford, I believe. His strokes are truly wonderful and complex. I said to Lody (my young prog mate who stayed closed to me during the show) that Hayuniaji is really the best progressive (in real term! Not crossover prog or the like!) that Indonesia has ever had. No one can match his dynamic drumming really.

I thought I already reached my peak during Lamentation, but it was not because the next track after they played acoustic (which I do not like, actually) with “Condisonance – Music for 5 Players”, they did another fabulous performance that made me nggeblak! (my mind being stunned and paralyzed) due to the beauty of the composition and brilliant live performance. I think the title was “Jazzdance of The Equatorial Winds” which has never been recorded before. It started with something in percussive nuances through the use of traditional instruments like rindik, being played by almost all musicians. Nuance-wise it reminded me to the interlude part of “I’m A Man” by Chicago Transit Authority. Throughout this song the band demonstrated their fullest potentials as every individual musician contributed their best performance. Throughout the show I had been watching how Kiki Caloh played his bass guitar dynamically and through this song he was given a chance to feature his bass guitar solo, for a while. Fadhil Indra performed great electronic percussion that I though something like a vibraphone. I was amazed when he played solo on this. Krisna Prameswara sometimes played his keyboard like Chick Corea. Anto Praboe also played his solo trumpet penca (well, I don’t know really the name of the instrument but it seemed like it. It’s typically used also with our traditional Reog Ponorogo). Iwan also performed his solo. Eko Partitur maneuvered his violin work brilliantly. And, again .. I was extremely amazed with Hayunaji drumwork – it’s fabulous! Hayunaji rules!

Overall, I was totally satisfied with Discus performance last night and I really hope that they release their third album soon. To summarize the show, it was an excellent combination of brilliant composition, dynamic performance and balanced sound quality. I have seen Discus live many times but last night performance is really their best performance ever! Having experienced this, I am really proud being an Indonesian because Indonesia has these top notch musicians under the banner of Discus. Bravo Discus! ..and keep on proggin’ for all of you who read this damn long review (I can’t help it, I can’t make it shorter ….and I do not need to apologize because this is the world of PROG! It’s truly your mistake why you have engaged your eyes reading this meaningless review … Shame on you man!).

Peace on earth and mercy mild – GW (i-Rock! Music Community)

Discus Live at Festival Salihara

Jakarta, November 5, 2008-11-06

Setlist: (informed by Fadhil Indra)

  • Verso Kartini
  • Breathe
  • Misfortune Lunatic
  • Lamentation and Fantasia Gamelantronique
  • Condissonance / Music for 5 Players (acoustic)
  • Jazzdance of The Equatorial Winds
  • Fantasia of 2 Makassar
  • Anne
  • System Manipulation

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 141 other followers