JRENG!
Sekali-sekali gak ngeprog dan ngerock ah .. tapi ini masih masalah kita .. masalah pitung-puluhan. Dan …
saya jujur aja bukan jagonya membicarakan artis yang satu ini karena dulu termasuk yang saya cuekin. Ceritanya, saat saya lagi suka2nya lagu gedumbrangan ala classic rock seperti Led Zepp, Deep Purple, Black Sabbath, Yes, ELP, Pink Floyd dsb, kakak saya (mas Henky) membeli kaset gambar bayi bertajuk “Nyanyian Fajar” dari Konser Rakyat Leo Kristi. Sampulnya sih jan ndak prog blas, apalagi ngerock. Tapi ya karena di rumah kami di Madiun yang namanya tape deck (ha ha ha…istilah “tape deck” ini jaman dulu keren banget, sualnya belum ada yang namanya CD Player tuh …) cuman satu. Jadi ya kadang mas Henky yang nyetel tape deck tersebut. Ternyata .. satu lagu di album tersebut yaitu di side A lagu pertama bener2 energetik meskipun dengan gaya folk. Liriknya sangat nuansamatik nostalgik kemlitik cuantik pol:
Hmmmm ….berbondong-bondong nelayan ke laut …
Hmmmm ….berbondong-bondong nelayan ke laut …
Apa yang kan terjadi aku tak tahu
Apa yang kan terjadi aku tak tahu
Biyuh ,…. energetik pol lagunya. Kontan ini lagu jadi kesukaan saya. Sebetulnya gak cuman lagu ini, ada lagu di side A nomer 3 “Di Deretan Rel Rel” yang liriknya asik banget …
Pagi masih sunyi seperti hatiku
Ketika kududuk dibangku peron
Tiada seorangpun menemani
Majalah dan Koran pagi tak banyak menolongku
Dan hati mulai bernyanyi
Olalai olai oleiei…oleilei oleieioleiei…
Olalai olai oleioi…oleilei oleoleioi…
Becek hujan turun semalaman
Menambah dinginnya pagi
Dengan seratus rupiah di kantong
Dapatkan rokok keretek , kopi panas dan goreng pisang
Di kedai pak guru tua
(Bayangkan .. tahun 1975, duit cepek bisa beli rokok, kopi & pisang goreng …hmm …sekarang kita kasih cepek ke tukang ngamen aja tersinggung!) Uediyan jaman normal yah .. uang masih ada harganya. Sekarang duit wis gak mbejaji blaszzz!!)
Olalai..olai oleioi…oleilei oleoleioi…
Olalai olai oleioi…oleilei oleoleioi…

Kasetnya masih muluszzz ...
Kaset ini saya peroleh masih mulus dari kolektor kelas wahid, Ali Gunawan, yang dengan baik hatinya menghibahkan koleksinya ke saya dan sekarang saya rawat dengan baik, masih mulus kemlunyus kinyus kinyus mbekunyus …..
Gimana dengan Anda? Sempat kenal album ini gak? Kalo generasi pitung-puluhan ya mestinya kenal lah ya .. meski mungkin ndak maniak pol …seperti saya.
Salam,
G
Terbit : 1975
October 3, 2008 at 9:47 am |
Kalau tidak salah itu album pertama. Beberapa lagu mirip lagu2nya Paul Simon & Garfungkel…wadjar..mungkin masih mencari bentuk. Album berikutnya ‘Nyanyian tanah merdeka’ ….nah…….lepas deh..dari pengaruh siapapun.
Satu kali pernah saya nonton….lagi2 di TIM Jkt, tahunnya lupa, tapi djelas th 1970-an. Kesan saya…penyanyi ini sangat heroik, baik lyric maupun tampilannya dipanggung, saat menyanyi wadjahnya sangat ekspresif ………………..
October 3, 2008 at 4:55 pm |
Betul mas .. orangnya ekspresif banget. Saya pernah nonton tapi di tahun 200oan, di GKJ. Keren. Modal gitar akustik dan urat leher tapi gegap gempita.
Salam,
G
October 5, 2008 at 10:58 am |
He-he-he…, saya sudah menduga tentu Mas G nyimpen juga album Leo Kristi, karena di tahun tujuh-puluh-sekianan termasuk album yang wajib dimiliki, terlebih era-nya folk-song/vocal group sedang mewabah saat itu.
Mas G, sebelum Leo Kristi mengeluarkan album resmi. Saya sempat menonton pertunjukannya di Gd. Merdeka pas acara ulang tahunnya aktuil. Salah satu lagu yang berkesan adalah ‘di deretan rel-rel’ ini karena dibawakan dengan ‘nada bertutur’ tetapi puitis dan tetap melodius. Saat itu acaranya direlay oleh salah satu station radio, lupa radionya mungkin Oz atau Bonkenk (sekarang Ardan) teman saya merekam penuh satu kaset dan saya sering memutar lagu itu bolak-balik sampai hafal kata-2nya.
Yang saya amati ada lirik yang sedikit dirubah, aslinya:
Dengan seratus rupiah di kantong
‘kudapatkan rokok keretek, kopi panas dan ROTI KERING.
Pada saat lagu itu diangkat ke pita rekaman oleh aktuil, ROTI KERING diganti menjadi GORENG PISANG…, mungkin alasannya roti kering ini terlalu kebarat-baratan dan kurang pas untuk semangat kerakyatannya seorang trobadour nasional (wallahu a’lam).
Di saat rindu dengan suasana ‘folk-song’ saya suka memutar John Barleycorn Must Die – Traffic. Petikan gitar dan vocal Steve Winwood serta tiupan flute Chris Wood melambungkan kita ke….. jaman normal:
There were three men came out of the West,
Their fortunes for to try,
And these three men made a solemn vow:
John Barleycorn must die…..
Salam,
Happy Eid Mubarak
/eds
October 5, 2008 at 2:05 pm |
Kang Edwin .. aduh .. ceritanya kang Edwin ini nuansamatik, menohok sukma, menusuk ulu ati paling dalem sampek aku mbrebes mili!
“Di Deretan Rel Rel” itu memang mengesankan sekali secara masa kecil saya suka sekali main ke setasiun sepur yang letaknya ndak jauh dari rumah kami di Madiun. Salah satu kegiatan saya di stasiun itu ya mengamati sepur lansir maju mundur koyok wong edan, padahal gak jalan jauh, mau pindah rel. Lha stasiun Madiun itu kan memang stasiun yang menjadi bengkel besar utama perkereta-apian, jadi ya semua kereta yang direparasi kudu ke Madiun.
Selain itu, saya sering bermain di pinggir rel, deket jembatan desa Winongo sambil bawa paku besar. Paku besar itu saya taruh di rel kereta dan menunggu kereta lewat. Setelah kereta melewati paku, maka paku tersebut jadi gepeng kayak kerisnya Empu Gandhrink. Kalo kurang tajam, di taruh lagi nunggu segerombolan kereta lewat lagi. Begitulah kerjaan saya masih kecil ..bermain di pinggir rel kereta sambil dendang lagunya Koes Plus “Bunga Di Tepi Jalan”. Opo tumon? Dipinggir rel kok nyanyi bunga di tepi jalan? Begitulah jiwa prog … ha ha ha ha ha …
Nah …lirik dari Leo Kristi yang dengan uang cepek bisa beli kopi, rokok dan gorpis itu jelas mengena banget dengan situasi saya. Karena saya sering ke stasiun (di peron) menjemput saudara atau kakak saya yang pulang ke Madiun dari Jakarta. Mas Jokky dan Mas nDoet kaka saya dulu tinggal di Jakarta dan saya masih di Madiun sehingga sering saya menjemput di peron. Di situ ada tukang kopi juga yang saya yakin kalau dengan seratus perak juga bisa beli seperti yang dilantunkan Leo Kristi, bahkan lebih .. karena Madiun kan kota kecil… Sayangnya saat itu (dan sampai kini, ALhamdulillah) saya gak merokok karena saya tidak mau masuk ke “golongan yang merugi” (lha duwik kok dibong? Opo tumon? Kuwalat kuwi karo Gusti Alloh … Aku wedi ngrokok, soalnya sama aja dengan ngebong duwik .. hua ha ha ha ha …).
Mengenai Aktuil merubah lirik menjadi gorpis, itu juga yang dilakukan AKTUIL terhadap HARRY ROESLI rock opera Ken ARok. Saya juga punya rekaman kaset konser mereka di Bandung yang aslinya:
Uang Delapan Ratus tidak sedikit
Coba jika uang itu aku jajakan di Jalan TAMBLONG (pelacuran – red.)
Come On baby ….
diubah menjadi:
Coba jika uang itu aku jajakan rujak asinan ..
Come On baby (tetep)
Jadi lucu kan? He he he he …. Wong mangan rujak asinan kok pake “come on baby” … ha ha ha …
Kang Edwin juga MENGADUK emosi saya dengan menyebut lagu JOHN BARLEYCORN MUST DIE. Ini lagu kalo saya menikmati bisa nggeblak mbrebes mili ndak karuan. Melodinya indah, nuansanya sedih pol! Saya kenal lagu ini dari kaset rekaman Aquarius hitam putih berjudul FOLK SONG 2 (yang lagu pembukanya “Please Mr Please” nya Olivia Newton John).
Pas udah jaman digital, saya beli CD dari album Traffic ini hanya karena ingin mendengarkan lagi lagu tersebut. Lirik yang membuat saya KO nggeblak nggulung koming ping kopang kaping ya bagian ini kang:
And little Sir John and the nut-brown bowl,
And he’s brandy in the glass;
And little Sir John and the nut-brown bowl,
Proved the strongest man at last.
(terus nyambung petikan gitar akustik yang menohok ulu ati paling dalem … diyampooooeeeetttttttt!!! semapoet aku …!!!!!) NDHREDEGHHHHH …!!!
Sayang, saat ini saya gak bawa CD nya dan lagi mobile nih ..ntar mau aku rip ah ke MP3 buat dibawa kemana-mana …. Markotob tenan!!!
Salam,
G
October 5, 2008 at 11:34 pm |
He-he-he…, Mas G rupanya pengalaman masa kecil kita 11-12. Urusan melindas paku di rel kereta saya ngalamin juga. Tempat main saya waktu SD dulu di rumah teman Jl. Gudang Utara (kompleks tentara) di pinggir rel kereta api. Biasanya dari beberapa paku yang dijejer setelah dilindas kereta diambil yang bentuknya paling simetris untuk difinishing dengan memakai kikir sehingga hasilnya betul-2 mengkilap dan ujungnya tajam. Test ketajamannya itu jika dilempar ke batang pisang dijamin nancep…!
Betul Mas G, lirik lagu “di deretan rel-rel” itu meskipun bertutur apa adanya dan kata katanya lugas tetapi jika dibawakan dengan serius jadinya membawa kita ke suasana yang coba disajikan penyanyinya. Coba kita simak lanjutan liriknya yang dengan jujur memotret bagaimana hebohnya suasana di dalam kereta:
Saat pulang kini telah tiba
Kereta pagi berangkat siang hari
Satu gerbong seratus penumpang
Di sela-sela tumpukan keranjang dan karung-karung
Perempuan berteriak ribut
Bayi-bayi menangis
Hmmmm…jalan menuju kota gaduh selalu….
Mas…., kalau mau me rip lagu-lagu folk, jangan lupa ada satu grup Irlandia yang asyik juga untuk dikenang: Tir Na Nog. Ada dua lagu di album ‘a tear and a smile’ yaitu Hemisphere dan Two White Horses. Paduan vocal Leo O’Kelly dan Sonny Condell mengingatkan kita akan Paul Simon dan Art Garfunkel…., tapi hati-2 jika dengernya sambil nyetir mobil bisa bikin ngantuk.
October 6, 2008 at 8:40 am |
Bagaimana kalau lagu2 di album tersebut di remaster dan di CD kan buat kita2 yang kangen sama lagu2nya mas leo…kalo setuju aq usahakan pake digital sound processing…
October 6, 2008 at 9:47 am |
Kang Edwin … ha ha ha … sama juga ya, suka bikin keris empu gandhrink? ha ha ha .. iya dilempar ke “gedebog” pisang dijamin nancep!
Wah saya ndak tahu ada grup TIR NA NOG tuh … mesti dicoba ya?
Mas Ronny …saya sih setuju banget. Cuman gimana caranya? Apa ya ada produsen yang mau?
Salam,
G
October 9, 2008 at 6:54 am |
barusan denger ‘nyanyian fajar’ dengan teliti tadi pagi saya rasa kok agak ‘absurd’ juga. metafor ‘fajar di hati’ itu lho yg cukup ‘absurd’ mana ada sisipan pidato Pak Harto lagi
. tapi secara keseluruhan oke juga, jd pengin denger satu album penuh nih pak
October 9, 2008 at 9:08 am |
Ha ha ha … keren juga ada sisipan pidato klompencapir …ha ha …ntar aku denger juga ah …
October 13, 2008 at 1:39 am |
Boleh dikata kami sekeluarga pada era tahun 1977-1980 an, amat suka dengan lagu-lagu “Leo Kristi” khususnya alm. kakak sy RH Henry Mandagi, sangat terobsesi pada lagu-lagu beliau, hingga untuk setiap ada kesempatan untuk tampil almarhum senantiasa meng-apresiasi musik bersama teman sekolah dan teman mudika-nya lagu leo kristi tak pernah ketinggalan khususnya “Salam Dari Desa” dan banyak lagi … Kami sangat menunggu Album Bung “Leo Kristi” dibuat khususnya LEGAL. Kami tunggu “Salam dari kami tuk Bung Leo Kristi.”
November 7, 2008 at 1:49 pm |
dimana ya bisa saya dapat kaset/CD Leo Kristi?
May 21, 2009 at 3:00 pm |
mas Andreas…, pesen aja CD sama Mba Firda menajernya Bung Leo Kristi.
Malah ada Album yang belum sempat direkam untuk dipasarkan.
January 30, 2009 at 1:19 pm |
Sejak di bangku SMP aku sudah ‘gandrung’ dengan lagu-lagu mas Leo. Itu lantaran karena seringnya kakakku memutar lagu-lagu dalam album “Nyanyian Fajar”.
Eidan tenan! Lagunya amat dahsyat! Saya benar-benar terkagum dengan karya-karya seorang Leo Imam Sukarno. Nyanyian Maria dan Nyanyian Musim adalah lagu-lagu yang membuat saya begitu menggandrungi karya Leo Krisiti. Waktu itu saya sempat berpikir, mas Leo ini memang “brilian” dengan syair dan lagu-lagunya. Liriknya selalu menyentuh, kadang menyentil tetapi dengan perasaan sangat halus, bahkan kadang yang disentil pun tidak merasa kalau dirinya sedang disentil.
Lagu-lagu mas Leo semua kukoleksi dengan baik, bahkan kadang ada yang sempat kubeli sampai 2 atau 3 kali, lantaran kaset yang terdahulu sudah “nglokor” , “bendet” atau rusak karena terlalu seringnya aku putar.
Tulisan-tulisan tentang mas Leo juga sempat aku kliping dan aku simpan sampai ketika aku kuliah.
Dari album pertama “Nyanyian Fajar” sampai album terakhir yang bermain bersama Ian Antono dalam album “Catur Paramitha” kami koleksi dengan baik.
Ada beberapa memang, musik mas Leo yang mirip (atau sengaja meniru?) lagu-lagu ‘Spanyol’, ‘China’ dan beberapa penyanyi luar, tetapi mas Leo tetap hebat. Dia tetap bisa menyulap ‘genjrengan Spanyolan’ menjadi genjrengan dengan nafas rakyat Indonesaia. Sederhana, untuk ukuran sebuah konser rakyat.
Untuk mas Leo, kapan ngluarin album sedahsyat “Nyanyian Tanah Merdeka” atau “Nyanyian Tambur Jalan”? Kan kutunggu sepanjang hari…
kita makan bersama-sama, di gubug sudut dari desa…
Catatan Untuk mas Adi dan mas Gatot:
Sayang, anda mengenal lagu mas Leo ketika lagu tersebut sudah di daur ulang. Lagu tersebut menurut saya kurang menarik, dibanding album yang orisinilnya. Dalam lagu daur ulang tersebut, mas Leo (maaf) sudah agak rada kemayu, nyanyinya sudah terlalu dibuat-buat. Karakter vokal aslinya yang “ampuh” sudah ditinggalkan. Kalau ga salah, pidato Bung Karno dan Pak Harto dalam lagu tsb. cuma merespon atau meniru (sekali lagi maaf) dari Kelompok Kampungan dari Jogjakarta yang ngluarin album “Mencari Tuhan” dalam lagunya “Bung Karno”. Dalam lagu tersebut Kelompok Kampungan menyertakan pidato Bung Karno dengan tepat, dan bisa menyatu dengan lagunya itu sendiri.
Untuk mas Leo yang menyertakan pidato BK dan P Harto, terlalu dipaksakan! Lagu itu, tanpa pidato tsb. sudah sangat menarik dan indah sekali (seperti lagu aslinya yang tanpa pidato), begitu menyentuh dan menggugah semangat. “Bangun, Ayo Bangun! Nyanyikan di Timur Matahari…”
Mas Adi dan mas Gatot, coba deh cari lalgu-lagu Leo Kristi yang masih orisinil. Anda akan berdecak kagum!
Menurut saya, mas Leo Kristi is the best. Di Indonesia belaum ada yang bisa menandingi dia.
Itu saja.
February 1, 2009 at 10:27 am |
Mas Felix:
Terima kasih banyak udah mampir di blog gemblunk ini. Yang lebih penting lagi, terima kasih udah menorehkan komentar panjang lebar yang saya sangat menyukainya karena tingkat apresiasi Anda yang begitu tinggi terhadap karya anak bangsa ini. Saya sendiri hanya memiliki kaset ini aja yang orisinil meski saya memiliki koleksi rekaman digital dari semua album Leo Kristi. Habis, gak bisa lagi cari kaset atau CD nya ..kecuali ada label yang mau merekam CD nya …
Lirik dari musik mas Leo memang tematik dan asik banget.
Salam,
G
February 20, 2009 at 11:25 pm |
SOLUS AEGRETI SUPREMA LEXES
February 20, 2009 at 11:41 pm |
Angin malam yang berbisik padaku..mengapa sendiri
bintang bintang yang berkedip padaku..mengapa bersedih
kau pergi dan takkan pernah kembali…tepat janji
burung malam kini terbang..melintasi langit kelam
Lampu lampu pelabuhan jelang dini berselimut kabut
Kapal kapal mulai turun..mulai turun membongkar sauh
laut kelam..kaki langit cintaku berlabuh
May 21, 2009 at 2:55 pm |
katanya syairnya ada yang kurang dikit..
burung malam kini terbang, melintasi langit kelam,
memekikkan kesunyian hati…………….
sayup…sayup terdengar suara kapal berlabuh……
February 24, 2009 at 9:29 pm |
kalau ke kota esok pagi
sampaikan salam rinduku
katakan padanya
tebu-tebu telah kembang
putih-putih seluas padang
roda lori berputar-putar
siang malam
tapi bukan kami punya
anak-anak kini telah pandai
menyanyikan gema merdeka
nyanyi-nyanyi bersama-sama
………
February 24, 2009 at 9:38 pm |
pagi itu
di empat lima
kami semua
menyanyikan lagu
padamu negri
…………..
pagi ini
di simpang jalanan
seorang gelandangan
menyanyikan lagu
bagimu negeri
………..
syair lagu dari mas leo yang menggugah semangat nasionalisme
February 25, 2009 at 2:45 pm |
Bro Penk …Thanks udah mengunjungi dan berkomentar …
May 21, 2009 at 2:50 pm |
Wuah…mas salut aku kalo masih nyimpen “barang antiq” yang dah sulit dicari. Aku selalu ngikuti “show” cak Leo dari tahun 80an, dan terakhir malah gratis-tis aja plus dijamu makan prasmanan atas sponsor Mas Siapa (maaf lupa) sang owner “the Lavande residences”. Pokoknya top markotop (minjem istilahe Pak Bondan mak nyusss).
Makane tolong ya mas siapa aja kalo-kalo ada info tentang tampilnya Cak Leo, mbo aku dikabari lewat emailku ini. Yang jelas musike arek sang pengembara itu, emang ngangeni. Dan yang aku sualut-lut…. KONSISTENNYA bermusisi dan gigihnya berprofesi itu, kayaknya belum kita temui di bumi pertiwi ini.
Oh ya, btw aku dah ngga punya sama sekali koleksi lagu-lagunya cak Leo. Sebenernya mba Firda juga trima order CD satu set lengkap, tapi aku blum sempat pesen he.he… Malah ada satu album yang belum pernah sempat diorbitin lewat rekaman komersiil lho..
Pokoknya sukses deh buat cak Leo…
Salam dari desa
June 7, 2009 at 3:29 am |
Saya tunggu info dari teman² yang suka koleksi … dan kalau ada MP3 dari albumnya “LEO KRISTI” … tolong kirim Infonya ke E-mail saya di leonardo_mandagi@yahoo.co.id, Salam dari Desa … tuk semua…
June 11, 2009 at 8:02 am |
Kalau ingat lagu – lagu Leo Kristi, jadi inget teman – teman sekolah di STM Malang,
Jika di kelas , pas Gurunya tidak masuk atau kasih catatan , salah satu teman , sambil bawa bendera menyanyikan lagu Leo Kristi di depan kelas
Kita yang duduk , bersorak – sorak sambil mengikuti lagu yang dinyanyikan terutama hitam putih
salam
July 11, 2009 at 3:22 am |
Jika Cermin tak lagi punya arti..
pecahkan berkeping-keping
kita berkaca diriak gelombang sambil sebut satu kata….Hakku
Leo sang featuris dengan realis sosialnya
Biarlah Bung Leo membentuk “batu kasar” manusia Indonesia menjadi “batu kubus” demi bangunan nusantara kelak
Mahardika!!!
July 11, 2009 at 8:51 pm |
Leo memang pakar dalam menulis lirik puitis
August 3, 2009 at 4:43 pm |
SENANDUNG BARA HATI, DIRGAHAYU IBU NEGERI
Panitia 64 tahun Indonesia Merdeka dan 60 Tahun Leo Kristi
mengundang jiwa-jiwa patriotik bangsa untuk menghadiri
Peringatan 64 Tahun Kemerdekaan Indonesia
dalam pegelaran KONSER RAKYAT LEO KRISTI
yang akan diselenggarakan
Hari : Senin, 17 Agustus 2009
Jam : 19.00 – selesai
Tempat : Graha Bakti Budaya , TIM
Pertunjukan ini GRATIS, tidak perlu reservasi
dengan kapasitas gedung 800 kursi
” Ayo nyalakan api hatimu
Seribu Letupan pecah suara
Sambut dengan satu kata : M e r d e k a !!! ”
Silahkan sebarkan seluas-luasnya !
Salam Perjuangan,
Panitia
July 19, 2009 at 8:49 pm |
Wuah…wuah,salam hormat sama mas gatot yang koleksinya rapih. Sudah luaaaama sekali saya pengin bergabung dalam omong-omong perihal bung leo. Semoga kembali lagi gelora hidup ini. Jadi ingat pada waktu itu, bung leo mencipta pojok cafe simpang lima……..kaki nini, semarang. Rasanya ingin mainkan lagu itu,moga-moga masih bisa. Kalau boleh tahu, bagaimana caranya mendapatkan lagi koleksi lagunya?
August 4, 2009 at 8:16 am |
Wah seru sekali nih animo teman2 sekalian … Ini malah ada undangan tanggal 17 Agustus. Seru juga ya kalo nonton. Kalo ada yg nonton kontak sms ke hp saya ya: 0811931175. Mudah2an saya bisa nonton.
Mas krisw …koleksi lagu2 Bung Leo sebenernya ada dalam bentuk digital. Namun ini ilegal dan saya pernah denger bahwa Bung Leo gak suka versi digital ini. Makanya saya sulit buat mengumumkan …Kaset saya terbatas sekali mas .. Gimana ya? Tapi versi digitalnya saya lengkap.
Salam,
G
August 29, 2009 at 3:21 am |
LEO KRISTI + konser rakyat = EDAAAAN !
September 22, 2009 at 7:46 am |
Mas G yang saya hormati, dimanakah saya bisa dapatkan kaset-kaset Mas Leo ? Koleksi saya : Nyanyian Fajar, Nyayian Malam, Nyanyian Tanah Merdeka, Nyanyian Cinta, Nyanyian Tambur Jalan, Lintasan Hijau Hitam, dll …. hilang. bisakah Anda membantu saya memberikan informasi ? Terima kasih sebelumnya, Salam Fajar.
September 22, 2009 at 4:47 pm |
Mas Adian,
Kalau Anda ke Bandung, coba ke toko kaset di Dipati Ukur no 68. Rasanya saya pernah melihat …
Semoga masih ada ya mas …
Salam Fajar!!
G
October 20, 2009 at 2:36 pm |
Kenangan terhadap leo imam soekarno dengan konser rakyat leo kristi tak akan pernah sirna dari ingatan saya sebagai fans beratnya. Beberapa karya saya terilhami keberadaannya kokoh tak lapuk zaman. Anak bangsa yang cinta terhadap indonesia dengan segala nuansanya. Sayapun sejalan rasa dan pemikiran serta tindakan dalam karya nada. Jabat tanganku-jabat tanganmu adalah karya lagu pertama saya di th 81 tapi belum sempat dipublisir sampai sekarang dan sudah 70 lagu kucipta. Selanjutnya : nyanyian pagi muda, gema hari merdeka, semarak merdeka, ode, sirkuit kudatuli, sampai terbaru 2009 kemerdekaan sejati dan indonesia negeriku.
Ada juga lagu cinta : petualang cinta, pangeran enjoy, menara kasih, saat memuncak rinduku, aku bisa menjadi, jika bukan lagi kau, cinta selaras hati, di atas nama cinta, dll
Juga ada lagu religi : ampunkan aku, demi Alloh, bukan malam biasa, jalan Tuhan, Lebaran (lega bagi perasaan) Siapa mau jadi produsernya ? Joint yuuk. Lagu2nya keren n komersial abis gak kalah ma ungu, raja, naff, st12, dsb oke tertarik blz ke email or phone 0858-5078-0808 dgn prigandaru. Salam Fajar Sayur Asam Kacang Panjang Biru Emas Bintang Tani Beludru Sutra Dusunku Lengganglenggong Badai Lautku. MERDEKA.
October 22, 2009 at 8:15 am |
Wah mas Pri .. kayaknya menarik nih karya Anda. Hayo siapa minat???
November 1, 2009 at 6:45 pm |
Salute buat mas Gatot dengan Blog-nya . . . saya suka merinding kalau dengerin dan bawain lagu2nya troubadour yang satu ini. Syair dan melodi-nya indah bahkan chord lagu yang paling sederhana sekalipun.
Forever Konser Rakyat Leo Kristi !!!